You are on page 1of 73

ANALISIS DAN SIMULASI KONDISI CUACA DI BALI DAN

NUSA TENGGARA KAITANNYA DENGAN SIKLON TROPIS


RUSTY (PERIODE 22-28 FEBRUARI 2013)

SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat


memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan

Oleh:
MERY ANGI
NPT . 14.13.0017

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA


SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
TANGERANG SELATAN
2014
i

Skripsi dengan judul:


ANALISIS DAN SIMULASI KONDISI CUACA DI BALI DAN
NUSA TENGGARA KAITANNYA DENGAN SIKLON TROPIS
RUSTY (PERIODE 22-28 FEBRUARI 2013)
Disusun oleh:
MERY ANGI
NPT. 14.13.0017
Diuji pada hari dan tanggal,
Senin, 28 Agustus 2014
Dinyatakan lulus pada hari dan tanggal,
Senin, 28 Agustus 2014

Oleh Tim penguji skripsi,


Ketua/Pembimbing

: Drs. Mulyono R Prabowo, M.Sc

.................

Anggota

: Drs. Suyatim,M.Si.

................

Anggota

: Heri Ismanto, M.Si

.................

Ketua Program Studi DIV Meteorologi

Drs. Suyatim, M.si

Tangerang Selatan, 04 September 2014


Ketua STMKG

Dr. Suko Prayitno Adi, M.si

ii

PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya, Mery Angi, NPT. 14.13.0017, menyatakan bahwa skripsi dengan judul
Analisis dan Simulasi Kondisi Cuaca di Bali dan Nusa Tenggara Kaitannya
dengan Siklon Tropis (Periode 22-28 Februari 2013) merupakan karya asli.
Seluruh ide yang ada dalam skripsi ini, kecuali yang saya gunakan sebagai
kutipan, merupakan pendapat yang saya susun sendiri. Selain itu, tidak ada
bagian dari skripsi ini yang telah saya gunakan sebelumnya untuk memperoleh
gelar atau sertifikat akademik.

Jika pernyataan di atas terbukti sebaliknya, maka saya bersedia menerima sanksi
yang ditetapkan oleh Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Tangerang Selatan, 28 Agustus 2014


Penulis,

Mery Angi
NPT. 14.13.0017

iii

ABSTRAK
ANALISIS DAN SIMULASI KONDISI CUACA
DI BALI DAN NUSA TENGGARA KAITANNYA DENGAN
SIKLON TROPIS RUSTY
(PERIODE 22-28 FEBRUARI 2013)
Siklon tropis Rusty merupakan siklon tropis dengan masa hidup yang
cukup singkat yaitu 5-7 hari (22 Februari sampai 28 Februari 2013) namun
dampak tidak langsung yang di timbulkan cukup besar seperti curah hujan dan
angin kencang di beberapa wilayah seperti Bali dan Nusa Tenggara yang
mengakibatkan banjir dan kerugian materi maupun korban jiwa. Kajian ini di
lakukan untuk membuktikan seberapa besar pengaruh siklon tropis Rusty terhadap
kondisi cuaca buruk tersebut. Dengan melihat kondisi curah hujan yang
dibandingkan dengan kondisi normalnya serta menganalisis beberapa parameter
cuaca lainnya seperti angin, tekanan udara, kelembaban udara dan perawanan.
Selain itu juga di lakukan prediksi dengan data GFS yang di jalankan
menggunakan model Weather Research Forecasting Advanced Research WRF
(WRF-ARW) pada tanggal 23 Februari 2013 - 00 UTC sampai 28 Februari 2013
00 UTC dengan domain wilayah 30 km dengan data keluaran setiap 12 jam.
Semua data output WRF di bandingkan dengan data real dan observasi di stasiun.
Secara keseluruhan, output model WRF-ARW cukup mendekati keadaan
sebenarnya dalam memprediksi terutama dalam membuat simulasi prediksi jalur
siklon tropis, perawanan dan arah angin yaitu dengan koefisien korelasi sebesar
0,67. Hasil analisis juga membuktikan bahwa kondisi cuaca buruk yang terjadi
adalah dampak tidak langsung dari kejadian siklon tropis Rusty
Kata kunci : Siklon Tropis, Curah Hujan, WRF

iv

ABSTRACT
ANALYSIS AND SIMULATION OF WEATHER CONDITIONS IN
BALI AND NUSA EAST CONNECTION WITH TROPICAL
CYCLONE RUSTY (PERIOD FEBRUARY 22-28, 2013)
Tropical cyclone Rusty was the tropical cyclone with short life span of 5-7
days (22-28 February 2013). However, its indirect impact was quite large, such
as rainfall and strong winds in some areas in Bali and Nusa Tenggara resulting
flood causing loss of property and life. This study is to find out how much
influence of tropical cyclone Rusty to the bad weather conditions. By looking at
the rainfall conditions compared with its normal conditions as well as analyzing
some other weather parameters such as wind, air pressure, air humidity and
cloudiness. In addition, prediction is also conducted using GFS data run in GFS
Weather Research Forecasting model- Advanced Research WRF (WRF-ARW), for
23 February 2013, 00.00 UTC until 28 February 2013, 00.00 UTC with domain
area of 30 km in resolution, with the output data of each 12 hours. All WRF
output data are compared to the real observation data at stations. Overall, the
WRF ARW model output is adequite to approach its real situation in predicting
especially in making the simulation of tropical cyclone track prediction,
cloudiness and direction of the wind with coeffisient correlation of 0,67. While the
results of the analisys indicated that the adverse weather conditions that occur
was an indirect impact of tropical cyclone Rusty.
Keywords: Tropical cyclone, Precipitation,WRF

KATA PENGANTAR
Segala Puji syukur hanya bagi Tuhan Yesus Kristus, karena atas semua
Anugerah dan pertolongan-Nya yang begitu besar sehingga penulis mampu
menyelesaikan skripsi yang berjudul: Analisis dan Simulasi Kondisi Cuaca di
Bali dan Nusa Tenggara Kaitannya dengan Siklon Tropis Rusty (Periode 2228 Februari 2013) Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam
menyelesaikan studi tingkat Sarjana Terapan di Program Studi Meteorologi,
Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jakarta.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan Terima kasih
kepada Bapak Dr.Andi Eka Sakya, M.Eng sebagai Kepala BMKG, Bapak Dr.
Suko Adi Prayitno, M.Si. selaku Direktur STMKG, Bapak Drs. Mulyono R
Prabowo, M.Sc sebagai Dosen Pembimbing, Bapak Dr.Indra Gustari,M.Si yang
telah memberi saran dan masukan yang sangat berguna, Bapak Wisnu
Sanjaya,M.si sebagai Bintal Kelas DIV Meteorologi dan Bapak-ibu dosen
STMKG. Terima kasih serta penghargaan juga dihaturkan kepada kedua Orang
tua dan kakak tercinta atas segala doa, dukungan, nasehat dan n suri teladan yang
telah diberikan juga rekan-rekan Sarjana Sains Terapan Jurusan Meteorologi
Angkatan I dan angkatan Meteorologi 42 serta seluruh pihak yang telah
membantu penulis selama proses penelitian namun namanya tidak dapat penulis
cantumkan satu-persatu.
Penulis menyadari adanya kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena
itu, segala kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan di masa yang akan
datang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan seluruh pembaca
Tangerang Selatan,

Agustus 2014

Penulis,
Mery Angi

vi

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM.......................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................

ii

PERNYATAAN ORISINALITAS..............................................................

iii

ABSTRAK....................................................................................................

iv

KATA PENGANTAR...................................................................................

vi

DAFTAR ISI.............................. .................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR..................................................................................

xi

BAB I. PENDAHULUAN............................................................................

1.1. Latar Belakang..............................................................................

1.2. Perumusan Masalah......................................................................

1.3. Tujuan Penelitian..........................................................................

1.4. Kegunaan Penelitian.....................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................

2.1.1 Fenomena Siklon Tropis.....................................................

2.1.2 Syarat Terbentuknya Siklon Tropis....................................

vii

2.1.3 Kawasan Tumbuhnya Siklon Tropis................................

10

2.1.4 Tahap Pembentukan Siklon Tropis....................................

10

2.1.5 Pengaruh Siklon Tropis terhadap Curah Hujan...............

13

2.1.6 Klasifikasi Hujan Berdasarkan Penyebabnya...................

15

2.2 Landasan Teori ...........................................................................

17

2.2.1 Karakteristik Siklon Tropis...............................................

20

2.2.2 Sifat Curah Hujan..............................................................

20

2.2..3 Kategori Nilai dBZ...........................................................

21

2.2.3 Koefisien Korelasi.............................................................

21

2.3 Hipotesis Penelitian.....................................................................


BAB III.METODE PENELITIAN.............................................................
3.1. Bahan dan Alat Penelitian..........................................................

23
24
24

3.1.1. Bahan Penelitian................................................................

24

3.1.2. Alat Penelitian...................................................................

25

3.1.2.1. Model WRF-ARW V.3.1.1..........................................

25

3.1.2.2. WRF Domain Wizard....................................................

25

3.1.2.3. Grid Analysis and Display System (GrADS)...............

26

3.2. Cara Penelitian...........................................................................

26

viii

3.2.1. Pemilihan Daerah Penelitian............................................

26

3.2.2. Data yang Dikumpulkan...................................................

29

3.2.3. Cara Pengumpulan Data...................................................

30

3.2.4. Cara Pengolahan Data......................................................

31

3.2.5. Cara Analisis Data............................................................

32

3.2.6 Diagram Alir Langkah Kerja.............................. ...............

33

BAB IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...........................

34

4.1 Kondisi Curah Hujan....................................................................

34

4.1.1 Jumlah Curah Hujan Tiap Stasiun......................................

35

4.1.2 Jumlah Curah Hujan Terhadap Normalnya.........................

35

4.2 Pergerakan dan Karakteristik Siklon Tropis Rusty .................

36

4.3. Dampak Siklon Tropis Rusty terhadap beberapa parameter cuaca

39

4.3.1. Kondisi Tekanan Udara................... ................................

39

4.2.3.Kondisi Kelembaban Udara...............................................

40

4.2.3.1 Sebelum Periode Siklon Tropis......................................

40

4.3.2.2 Saat Terjadi Siklon Tropis.............................................

41

4.3.2.3 Setelah Periode Siklon Tropis.......................................

42

4.4 Interpretasi dan Validasi Output WRF menggunakan Data GFS........

43

ix

4.4.1 Perbandingan Data Observasi dan Hasil Simulasi Track Siklon


Tropis Rusty.....................................................................

43

4.4.2 Verifikasi Kondisi Angin Gradien .....................................

45

4.4.2.1 Kondisi Sebelum Periode Siklon Tropis........................

45

4.4.2.2 Kondisi Saat terjadi Siklon Tropis................. ...............

46

4.4.2.3 Kondisi Setelah Periode Siklon Tropis..........................

48

4.4.3 Perbandingan Kondisi Cakupan Awan Hasil Keluaran model WRFARW dengan Citra Satelit MTSAT 2 IR-1...........................

49

4.4.4 Perbandingan Jumlah Curah Hujan Output WRF-ARW dan


TRMM...................................................................................

51

4.4.4.1 Sebelum periode siklon tropis.........................................

51

4.4.4.2 Saat Periode Siklon Tropis ............................................

53

4.4.4.3 Setelah periode siklon tropis............................................

54

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN......................................................

56

5.1 Kesimpulan....................................................................................

56

5.2 Saran.............................................................................................

58

DAFTAR PUSTAKA................................................................................

59

LAMPIRAN..............................................................................................

61

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.1 Dampak Angin kencang di Labuan Bajo

Gambar 2.1 Struktur Siklon

Gambar 2.2 Diameter Siklon Tropis

Gambar 2.3 Track Siklon Tropis Rusty

12

Gambar 2.4 Siklon Tropis Rusty

14

Gambar 2.5 Hubungan Jari jari Siklon Tropis dengan tekanan udara
permukaan

18

Gambar 2.6 Hubungan Suhu dengan ketinggian siklon tropis

20

Gambar 3.1 Peta Bali dan Nusa Tenggara

27

Gambar 3.2 Lintasan dan Tahapan Kejadian Siklon Tropis Rusty

29

Gambar 3.3 Domain Lokasi Penelitian

31

Gambar 4.1 Jumlah Curah Hujan selama periode Siklon Tropis Rusty

34

Gambar 4.2 Pergerakan Siklon Tropis Rusty

37

Gambar 4.3 Pergerakan Siklon Tropis Rusty

38

Gambar 4.4 Pola Mean Sea Level Pressure pada periode Siklon Tropis Rusty 39
Gambar 4.5 Kelembaban Udara Lapisan 850 hPa,700 hPa dan 50 hPa,

41

Tanggal 22 Februari 2013


Gambar 4.6 Kelembaban Udara Lapisan 850 hPa,700 hPa dan 50 hPa,

42

Tanggal 26 Februari 2013

xi

Gambar 4.7 Kelembaban Udara Lapisan 850 hPa,700 hPa dan 50 hPa,

42

Tanggal 28 Februari 2013


Gambar 4.8 Lintasan Siklon Tropis Rusty Database Track TCWC dan Perth,
Simulasi Australia output data GFS setiap 12 jam

44

Gambar 4.9 Pola garis angin (streamline) data BoM Australia dan Vektor
dan kecepatan angin Tanggal 22 Februari 2013

45

Gambar 4.9 Pola garis angin (streamline) data BoM Australia dan Vektor
dan kecepatan angin Tanggal 26 Februari 201

47

Gambar 4.9 Pola garis angin (streamline) data BoM Australia dan Vektor
dan kecepatan angin Tanggal 28 Februari 2013

48

Gambar 4.12 Cakupan awan Citra Satelit MTSAT 2 IR-1 Kochi University
dan dBZ Output model WRF-ARW

49

Gambar 4.13 Curah Hujan hasil keluaran WRF-ARW dan


Data TRMM tanggal 23 Februari 2013 00.00 UTC dan
12.00 UTC

52

Gambar 4.14 Curah Hujan hasil keluaran WRF-ARW dan


Data TRMM tanggal 26 Februari 2013 00.00 UTC dan
12.00 UTC

53

Gambar 4.15 Curah Hujan hasil keluaran WRF-ARW dan


Data TRMM tanggal 28 Februari 2013 00.00 UTC

55

xii

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Peraturan Kepala BMKG No.Kep 009/2010 Tentang Prosedur
Standar Operasional Pelaksanaan Peringatan Dini, Pelaporan dan Diseminasi
Informasi Cuaca Ekstrim Pasal 1 (1-4) cuaca adalah kondisi atmosfer yang terjadi
pada waktu dan tempat tertentu dan cuaca ekstrim merupakan keadaan cuaca yang
tidak normal, tidak lazim, yang dapat mengakibatkan kerugian terutama
keselamatan jiwa dan harta. Sedangkan siklon tropis adalah sistem tekanan rendah
dengan angin berputar siklonik yang terbentuk di lautan wilayah tropis dengan
kecepatan angin minimal 34,8 (tiga puluh empat koma delapan) knots atau 64,4
(enam puluh empat koma empat) kilometer (km)/jam disekitar pusat pusaran.
(www.bmkg.go.id). Tipe cuaca ekstrim sendiri sangat bergantung pada lintang
tempat, ketinggian, topografi dan kondisi atmosfer dan salah satu cuaca ekstrim di
laut yang sangat berdampak pada kehidupan manusia yaitu siklon tropis. Siklon
tropis ini menyebabkan kerusakan terutama yang diakibatkan oleh angin kencang,
gelombang badai (storm surge) dan tumbuhnya awan awan konvektif yang dapat
mendatangkan hujan sedang sampai lebat. (Tjashyono,2004)

Pergerakan badai tropis selalu menjauhi lintang ekuator, sehingga kecil


kemungkinan melintasi daratan Indonesia, walaupun demikian wilayah Indonesia
dapat terkena pengaruh tidak langsung dari badai tersebut antara lain berupa angin
kencang, gelombang tinggi, dan hujan lebat pada daerah-daerah yang dekat
dengan tempat timbulnya badai. Adapun dampak yang ditimbulkan cukup besar
bahkan menimbulkan korban jiwa, seperti pada tanggal 26 Februari 2013 menurut
beberapa media cetak maupun online mengabarkan angin kencang melanda
wilayah Desa Karampi, Desa Waduruka, Desa Rompo dan Desa Tanjung Mas,
Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Bencana ini menyebabkan 1 korban
tewas, 15 orang korban luka luka dan 75 rumah rusak. Menurut pengakuan
seorang warga kejadian berlangsung pukul 13.00 wita. (http://www.tempo.co).
Juga angin puting beliung merusak sedikitnya 218 rumah di tiga kabupaten
di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (28/2), musibah tersebut mengakibatkan
648 warga mengungsi ke rumah warga lainnya yang luput dari angin kencang,
seperti di Labuan Bajo, Manggarai Barat, akibatnya sejumlah pohon di beberapa
tempat tumbang dihempas angin kencang bahkan ada yang menimpa gedung
perkantoran, kapal ferry penyeberangan Labuan Bajo - Sape pun terpaksa untuk
sementara tidak berlayar (Metrotvnews.com).

Gambar 1.1 Akibat kejadian angin kencang di Stasiun Meteorologi Labuan


Bajo Tanggal 25 Februari 2013 (Sumber : Dokumen pribadi)

Ribuan rumah di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur terendam banjir akibat
badai Rusty yang melanda wilayah itu selama sepekan , di Sumba Timur, banjir menewaskan
tiga orang. Di Ende, banjir memutuskan ruas jalan Trans Flores. Banjir terparah terjadi di
Kabupaten Belu yang merendam sedikitnya 2.507 rumah dan warga mengungsi,kata Kepala
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) NTT, Tini Thadeus kepada Tempo kemarin.
(Koran Tempo, 1 Maret 2013)

Namun pengaruh badai ini tidak mutlak selalu terjadi. Timbulnya hujan
lebat dan angin kencang karena dipengaruhi oleh posisi dan besarnya (intensitas)
badai, tergantung pula pada faktor sirkulasi udara di wilayah Indonesia.
Terkadang ketika ada indikasi tumbuh badai, pada beberapa wilayah
kecenderungan cuacanya terlihat memburuk. Tetapi ketika badai itu sudah matang
atau sudah diberi nama, yang timbul di Indonesia justru hanya angin kencang dan
gelombang tinggi (kecuali daerah yang mempunyai radius 500 km dari pusat
badai yang lebih sering mengalami hujan lebat). Kemudian di saat badai tersebut

sudah menjauhi wilayah Indonesia atau ketika intensitasnya sudah melemah justru
cuaca bagian Selatan cenderung banyak hujan lebat. Hal ini tidak mutlak terjadi
akan tetapi tergantung dari sirkulasi udara di atas wilayah Indonesia. (Aldrian,
dkk., 2006).
Sehingga diperlukan kajian temporal dan spasial yang lebih mendalam
mengenai karakteristik siklon, pergerakannya dan dampak serta hubungannya
dengan kondisi cuaca yang terjadi pada tanggal 22 - 28 Februari 2013 di Bali dan
Nusa Tenggara ini. Apakah sepenuhnya disebabkan oleh siklon tropis Rusty yang
sedang berlangsung atau juga karena karakteristik keadaan cuaca di daerah
setempat, mengingat pada bulan Februari merupakan bulan terjadi monsun barat
di wilayah Indonesia, yang mana angin baratan sedang giat bergerak membawa
massa udara dari Asia yang menyebabkan terjadinya hujan sedang sampai lebat
dan juga angin kencang yang menyebabkan gelombang tinggi di wilayah timur
Indonesia ini. Oleh karena itu dengan mengacu pada tulisan A. Fachri Radjab
(2003) yaitu dengan membandingkan intensitas curah hujan yang terjadi pada saat
siklon terhadap normalnya, di harapkan dapat diketahui apakah penyebab cuaca
buruk yang terjadi adalah di sebabkan oleh siklon tropis atau bukan. Selain itu
penulis juga membuat simulasi track kejadian siklon tropis Rusty menggunakan
Weather Research Forecasting Advanced Research WRF (WRF-ARW) untuk
membandingkan hasil olahan data Global Forecasting System (GFS) tersebut
dengan kejadian sebenarnya yang mengacu pada tulisan L. Juneng et al, 2007.
Adapun pada tanggal 22 - 28 Feburari 2013 tersebut terjadi angin kencang,
4

gelombang tinggi dan hujan yang terjadi hampir merata dan bersamaan di
sepanjang wilayah Bali sampai Nusa Tenggara. Alasan pemilihan daerah kajian di
karenakan wilayah wilayah tersebut

yang mengalami dampak yang cukup

signifikan di bandingkan daerah lainnya dan salah satu di antaranya yaitu Labuan
Bajo yang masih jarang dijadikan daerah kajian oleh peneliti.
1.2 Perumusan Masalah
1. Bagaimana sifat curah hujan di Bali dan Nusa Tenggara terhadap
normalnya dan kaitannya dengan siklon tropis Rusty pada tanggal 22-28
Februari 2013?
2. Bagaimana karakteristik dan pergerakan siklon tropis Rusty?
3. Adakah pengaruh siklon tropis rusty terhadap kondisi tekanan udara dan
kelembaban di wilayah Bali dan Nusa Tenggara ?
4. Apakah model cuaca numerik WRF-ARW dapat digunakan untuk
memprediksi pergerakan siklon tropis dan kondisi beberapa unsur cuaca
yang ada?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan di lakukan penelitian ini antara lain :

1. Mengetahui sifat curah hujan di Bali dan Nusa Tenggara terhadap


normalnya dan kaitannya dengan siklon tropis Rusty pada tanggal 22-28
Februari 2013?
2. Memahami karakteristik dan pergerakan siklon tropis Rusty.
3. Mengetahui dampak siklon tropis Rusty terhadap kondisi tekanan udara
dan kelembaban udara dan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara
4. Mengetahui sejauh mana keakuratan model cuaca numerik WRF-ARW
untuk memprediksi pergerakan siklon tropis Rusty dan beberapa unsur
cuaca yang ada.
1.4 Kegunaan Penelitian
Dengan menganalisa dan mensimulasi kejadian badai tropis yang terjadi
serta kaitannya dengan kondisi cuaca di beberapa wilayah sekitarnya, diharapkan
dapat diperoleh pemahaman mengenai pergerakan badai tropis tersebut serta
memahami dampak yang bisa ditimbulkan. Yang nantinya diharapkan dapat
digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menginformasikan kejadian cuaca
ekstrim yang akan terjadi, sehingga dapat di lakukan upaya antisipasi dini untuk
mencegah kerugian yang lebih besar apabila terdapat siklon tropis di sekitar
wilayah Indonesia khususnya wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka


2.1.1 Fenomena Siklon Tropis
Siklon tropis merupakan sistem tekanan rendah yang terbentuk di atas
perairan tropis yang hangat, memiliki pola angin siklonik dengan kecepatan angin
maksimum rata rata di dekat pusatnya mencapai sekurang kurangnya 34 knot
(63 km/jam) [Zakir, et al. 2010].

Gambar 2.1 Struktur Siklon (www.bom.gov.au)

Dalam Meteorologi Siklon berarti angin yang berputar, Siklon berasal dari
kata Yunani kyklos yang berarti lingkaran atau roda atau ular yang melingkar
secara meteorologi siklon tropis merupakan suatu sistem tekanan udara rendah
yang terbentuk secara umum di daerah tropis yang kemunculannya diawali oleh
tahapan-tahapan tertentu, sifat sistem bertekanan rendah yang merupakan bagian

dari sirkulasi atmosfer. yang memindahkan panas dari daerah khatulistiwa menuju
garis lintang yang lebih tinggi. Gambar dibawah merupakan contoh siklon yang
disebut siklon Katrina yang muncul tanggal 26 Maret 2004 [wikipedia]
Siklon tropis ditandai dengan adanya isobar tertutup yang biasa disebut
depresi, tekanan udara dipusat siklon umumnya mencapai 950 mb, kadang-kadang
sangat ekstrim hingga mencapai 920 mb pada level permukaan laut.

Gambar 2.2 Diameter Siklon Tropis


Sumber : http://indonesiarayanews.com

Siklon tropis mempunyai diameter antara 500 sampai 800 km. bahkan
beberapa diantaranya dapat mencapai kisaran lebih besar, tergantung energi atau
kekuatan pada sistem tersebut, sistem ini terdiri dari beberapa badai konvektif,
dibutuhkan hempasan vertikal untuk menyediakan kondisi yang ideal untuk
pembentukan dan pertumbuhan siklon tropis dengan nilai minimal 100 m/s.
2.1.2 Syarat Terbentuk Siklon Tropis

Siklon tropis umumnya tumbuh dan berkembang di perairan tropis yang


hangat, dengan beberapa syarat dan kondisi yang harus terpenuhi, yaitu :
-

Suatu lautan luas homogen yang terletak antara 10 - 20 baik LU


atau LS.

- Suhu muka lautnya di atas 27C.


- Beda antara suhu muka laut dan suhu udara di atasnya sekitar 2C.
- Kelembaban udara tinggi.
- Adanya gangguan misalnya pusaran dan Gelombang Timuran.
[Soerjadi, 1995]
Siklon tropis juga mula mula muncul sebagai gangguan tropis, tetapi jika :
- kecepatan angin meningkat menjadi sekitar 20 knot, dan terdapat
satu isobar tertutup maka gangguan menjadi depresi tropis.
- kecepatan angin meningkat antara 32 knot sampai 64 knot, dan
terdapat beberapa isobar tertutup disekitar mata, maka depresi
menjadi badai tropis
- kecepatan angin melebihi 64 knot, maka badai meningkat menjadi
siklon tropis dan suhu muka laut diatas 26C [Tjashyono, 2004]

2.1.3 Kawasan Tumbuhnya Siklon Tropis


9

Badai Tropis terjadi diluar lintang 5 N sampai dengan 5 S. sebagian


besar siklon tropis tejadi di kawasan antara 10-20 dari ekuator, dan sedikit sekali
yang muncul pada lintang 22. Siklon tropis tidak muncul disekitar ekuator karena
faktor rotasi bumi atau gaya coriollis, daerah pembentukan siklon tropis
mencakup Atlantik Barat, Pasifik Timur, Pasifik Utara Bagian Barat, Samudera
Hindia Utara, dan Selatan, Australia serta Pasifik Selatan. Sedangkan daerah yang
bebas dari siklon tropis antara lain sekitar Lautan Atlantik Bagian Selatan dan
Pasifik Selatan Bagian Timur.
Siklon tropis dikenal dengan nama berbeda bergantung pada lokasi
kejadiannya. Di Teluk Benggala, dan Laut Arab disebut Siklon, di Atlantik
Utara, Laut Karibia, Teluk Meksiko, dan Pasifik bagian Timur

disebut

Hurricanesebuah nama, di Pasifik bagian barat dikenal dengan Typhoon, di


Samudera Hindia Barat Daya, Australia Utara, dan Pasifik Selatan disebut WillyWilly, sedangkan di Filipina disebut Baguio sebuah nama yang berasal dari
kota Baguio dimana curah hujan dalam periode 24 jam di bulan Juli 1911
mencapa 1168 mm.

2.1.4 Tahap Pembentukan Siklon Tropis


Menurut WMO, angin pada badai tropis dapat dibagi berdasarkan tingkat
atau intensitas kecepatannya, antara lain:
1. Tropical Depression

: Memiliki kecepatan angin < 34 knots

2. Moderate Tropical Storm : Memiliki kecepatan angin 43-47 knots


10

3. Severe Tropical Storm


4. Hurricane

: Memiliki kecepatan angin 48-63 knots


: Memiliki kecepatan angin >64 knots

Menurut Perjanjian Internasional, siklon tropis dapat dibagi tingkatannya


sesuai dengan intensitasnya (Dari data citra liputan awan satelit cuaca) yaitu :
1. Depresi Tropis : merupakan masa hidup siklon tropis yang di tandai
dengan struktur awan yang belum terbentuk, kecepatan angin hingga 17
m/s dan tekanan udara di pusatnya mencapai 1008 mb. Tahap ini bisa
terjadi di awal dan akhir siklon tropis.
2. Badai Tropis : merupakan tahap kelanjutan depresi tropis yang di tandai
dengan kecepatan angin antara 17 sampai 32 m/s. Tekanan udara di
pusatnya antara 1002 sampai 1000 mb dan struktur awan sudah terpola
3. Siklon Tropis : merupakan tahap puncak yang di tandai dengan
kecepatan angin bisa lebih dari 32 m/s. Tekanan di pusatnya kurang dari
1000 mb, serta struktur awan tampak bulat seperti piringan cakram
dengan tepinya yang rata.

11

Gambar 2.3 Track Siklon Tropis Rusty


( Sumber : www.bom.gov.au )

Waktu hidup siklon tropis mulai dari beberapa jam sampai dapat bertahan
hingga 2 minggu, dengan rata-rata 6 hari sejak badai tersebut mulai terbentuk
sampai memasuki daratan atau membelok kearah subtropis dimana siklon
tersebut punah.
Dalam proses pertumbuhannya, siklon tropis akan melalui 4 (empat) tahap
sebagai berikut:
1. Tahap tumbuh
Tahap ini dimulai dengan adanya gangguan pada arus angin sehingga
terbentuk semacam bulatan dekat pusat gelombang. Kemudian terbentuk
vortex dan titik netral secara bersamaan. Pada saat vortex tumbuh, titik
netral menjauhi vortex tetapi masih pada batas terluar dari sirkulasi
vortex. Pada saat ini mulai terjadi penurunan tekanan udara secara
perlahan hingga mencapai 1000 mb.

12

2. Tahap belum matang


Pada tahap ini pusaran arus makin tampak jelas hingga di bawah 1000
mb. Aktifitas pusaran dan kecepatan angin bertambah, sedangkan di
pusat siklon kecepatan angin relatif lemah. Awan-awan Cumuliform
jumlahnya terus bertambah disertai dengan hujan yang tidak teratur.
3. Tahap matang
Tekanan udara terus turun dan kecepatan angin makin bertambah. Isobar
makin mengembang hingga diameternya mencapai 200 mil. Aktifitas
cuaca buruk makin meluas, tapi pada pusat siklon cuaca tetap baik.
4. Tahap punah
Tahap ini biasanya dicapai pada saat siklon mencapai laut yang dingin
atau pun memasuki daratan. Hal ini terjadi karena jumlah uap air makin
berkurang, maka sumber energi pada panas laten makin kecil,
intensitasnya makin melemah dan akhirnya mati.
Waktu yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dari satu tahap ke tahap
berikutnya sangat bervariasi tergantung kepada kondisi atmosfer disekitarnya.
Waktu rata-rata yang dibutuhkan sebuah siklon tropis dari mulai tumbuh hingga
punah adalah sekitar 7 hari, namun variasinya bisa mencapai 1 hingga 30 hari.

2.1.5 Pengaruh Siklon Tropis terhadap Curah Hujan


Siklon tropis dapat menghasilkan angin kencang, hujan lebat, penurunan
tekanan udara dan kenaikan pasang maupun gelombang laut. Dalam sebuah siklon
13

tropis hujan tersebar di sekitar siklon tropis tersebut dalam sebuah spiral sabuk
awan yang mengarah ke pusat siklon. Sabuk awan ini menghasilkan angin potong
(cross wind) dengan arah ke kiri belahan bumi utara dan ke arah kanan di belahan
bumi selatan. [ Fachri, 2003]

Gambar 2.4 Siklon Tropis Rusty


(Sumber : www.bom.gov.au )

Beberapa kejadian curah hujan terbesar di daerah lintang rendah


dipengaruhi oleh siklon tropis yang bergerak secara perlahan, siklon tropis
bergerak yang bergerak dengan cepat akan mengurangi lamanya hujan yang pada
akhirnya akan mengurangi akumulasi curah hujan yang terukur. Disekitar pusat
siklon, dimana sabuk awan menyatu, curah hujan tinggi, namun demikian di pusat
siklon justru tidak terjadi hujan [Byers dalam Fachri,2003].

14

Lianshou Chen dalam Zakir,[2010] membagi hujan lebat yang diakibatkan


siklon tropis menjadi 4 (empat) kategori :
1. Core Heavy rains, adalah hujan lebat yang terjadi dalam cincin yang
mengelilingi pusat siklon, dimana terjadi updraft maksimum dan hujan
yang lebat pada radius sekitar 15 50 km dari pusat siklon
2. Spiral Rainband, adalah hujan lebat yang terjadi di wilayah yang tertutup
oleh sabuk perawanan melingkar (spiral cloudband) siklon tropis
3. Outer heavy rains, yaitu hujan lebat yang terjadi di wilayah shearline yang
berasosiasi atau terbentuk oleh adanya siklon tropis
4. Remote heavy rains. Adalah hujan lebat yang mungkin terjadi di wilayah
yang terpisah ribuan km dari pusat siklon tropis dalam kondisi cuaca
tertentu, misalnya ketika hujan lebat terjadi di depan through baratan
disebelah utara typhoon (enam stasiun berjarak 1000 km dari pusat
typhoon mencatat curah hujan 100 mm dalam 12 jam dan 60 mm dalam 6
jam [Jiang, 1983], pada saat typhoon Thelma memasuki propinsi Fuji di
Cina sebelah selatan pada 26 Juli 1977.

2.1.6 Klasifikasi Hujan berdasarkan Penyebabnya


Hujan baik jatuhnya maupun jumlahnya adalah hasil akhir dari perpaduan
berbagai faktor yaitu : kelembaban udara, topografi, arah dan kecepatan angin,
suhu serta hadapan lereng [Sandy, 1996]. Berdasarkan penyebab dan proses
terjadinya, tipe hujan [Bayong, 2006] dibagi menjadi 3 macam, antara lain :
15

1. Hujan Konvektif
Hujan ini terjadi akibat adanya pemanasan radiasi matahari dan proses
thermal sehingga menyebabkan udara permukaan mengalami pemuaian dan naik
kelapisan atas. Pada lapisan atas, udara tersebut mengalami pengembunan dan
berkondensasi. Hujan konvektif ini biasanya deras dan disertai badai guntur yang
berlangsung dalam waktu yang singkat dikarenakan awan Cb yang terbentuk
umumnya mencakup daerah yang sempit.

2. Hujan Orografi
Disebabkan oleh kondensasi dan pembentukan awan udara lembap yang
dipaksa naik oleh barisan pegunungan. Di Indonesia, pembentukan curah hujan
orografik sering dibantu proses konveksi. Setelah terjadi kondensasi, tumbuh
awan pada lereng di atas angin (windward side) dan hujannya disebut hujan
orografik, sedangkan pada lereng di bawah angin (leeward side), udara yang turun
akan mengalami pemanasan dengan sifat kering, dan daerah ini disebut daerah
bayangan hujan. Curah hujan orografik terbatas pada pegunungan berbeda dengan
curah hujan siklonik yang dapat bergerak seperti pada siklon tropis.

3. Hujan Frontal (Siklonik)


Jika ada konvergensi pada arus udara horizontal dari massa udara yang
besar dan tebal, maka akan terjadi gerakan ke atas. Kenaikan udara di daerah
konvergensi dapat menyebabkan pertumbuhan awan dan hujan. Jika dua massa
16

udara yang konvergen horizontal mempunyai suhu dan massa jenis berbeda, maka
massa udara yang lebih panas akan dipaksa naik diatas massa udara dingin.
Bidang atas antara kedua massa yang berbeda sifat fisisnya disebut front. Contoh
hujan siklonik adalah dalam siklon tropis dimana proses gabungan arus siklonik
dan konveksi menghasilkan curah hujan lebat. Curah hujan siklonik dapat
mencapai area yang luas, karena selama hidupnya (1-8 hari) siklon tropis bergerak
ratusan sampai ribuan kilometer.

2.2

Landasan Teori

2.2.1 Karakteristik Siklon Tropis


Siklon tropis secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi
fluktuasi unsur-unsur cuaca. Adapun karakteristik pengaruhnya adalah sebagai
berikut :
a.

Sebaran Kelembaban dan Endapan


Distribusi kelembaban nisbi (RH) ditentukan oleh gerak vertikal. Dalam

radius 400 km gerak vertikal rata rata adalah ke atas sehingga RH >70%
terdapat hampir diseluruh troposfer. Intensitas hujan yang lebat di dalam siklon
tropis disebabkan oleh adanya lapisan udara lembab yang tebal, sumber uap air
yang banyak dari lautan yang hangat, dan konvergensi medan angin horizontal
yang kuat. Intensitas hujan semakin kecil secara cepat jika menjauhi pusat badai,
karena berkurangnya konvergensi uap air.

17

b.

Tekanan Udara
Pada peta sinoptik, Siklon tropis ditandai dengan sistem isobar tertutup.

Jarak isobar ini makin ke dalam makin rapat, hal ini menunjukkan bahwa tekanan
makin ke pusat makin rendah.

Gambar 2.5 Hubungan jari-jari siklon tropis dengan tekanan udara


permukaan (Royal Observatory Hongkong).
Keberadaan pada grafik diatas menyebabkan angin bervariasi sesuai
dengan variasi gradien tekanan dan maksimum dekat pusat. Jadi gradien
tekanannya merupakan fungsi dari jari-jari siklon, memenuhi persamaan gradien
berikuit :

V 2 1 p
+
+ f V = 0 (2.1)
r
p r
Dengan

V = Kecepatan angin gradien


r

= Jari-jari Siklon

= Efek corioli

18

1 p
= gradien tekanan terhadap kerapatan udara
p r

c.

Medan Suhu
Distribusi Suhu secara horizontal dari siklon tropis menunjukkan bahwa di

dekat mata siklon adalah lebih tinggi dari sekitarnya. Hal ini akibat pengaruh
konvergensi pada lapisan bawah dan adanya pelepasan panas latent akibat
kondensasi, sedangkan pada lapisan paling bawah suhunya hampir sama ke arah
luar.
Suhu potensial udara permukaan pada siklon tropis bertambah ke arah
dalam menurut lintasan trajektori. Jika kelembaban spesifik bertambah maka
tinggi dasar awan yang terbentuk berkisar dari beberapa ratus kaki sampai 1000
kaki. Jadi ada hubungan antara suhu potensial dengan kelembapan spesifik selama
proses pergerakan udara. Oleh Herbert Riehl : "ada variasi suhu potensial dan
kelembaban spesifik selama terjadi pengembangan isotermal, untuk udara
permukaan yang terangkat 20 mb, pada keadaan ini sudah akan mencapai lapisan
kondensasinya.

19

Gambar 2.6 Hubungan suhu dengan ketinggian siklon tropis


(www.aims.gov.au)
d. Kondisi Angin
Kecepatan angin dari siklon tropis adalah merupakan fungsi dari jari-jari
siklon tropis. Kecepatan angin yang berbahaya dalam siklon tropis terutama oleh
angin maksimum yang terdapat di dekat pusatnya. Tetapi, dipusatnya sendiri
kecepatan anginnya calm yang dikenal dengan mata siklon, dan semakin jauh dari
pusat siklon kecepatan anginnya semakin berkurang.

2.2.2 Sifat Curah Hujan


Sifat curah hujan selama periode siklon tropis didapat dengan cara
membandingkan curah hujan rata rata dengan curah hujan saat terjadi siklon
tropis dan kemudian diklasifikasikan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Atas normal bila curah hujan periode siklon tropis 115% atau lebih
dari curah hujan normal

20

2. Normal bila curah hujan periode siklon tropis 85% - 115% dari curah
hujan normal
3. Bawah normal bila curah hujan periode siklon tropis kurang dari 85%
dari curah hujan normal
[Sumber : Fachri Radjab, 2003]

2.2.3 Kategori Nilai dBZ


Mengacu pada tulisan Michael Dixon dan Gerry Wiener, 1993, adapun
nilat T sebagai hasil refleksifitas pada RADAR yang digunakan untuk
mengidentifikasi tipe atau jenis awan konvektif yang memungkinkan terjadinya
badai, digolongkan sebagai berikut :
1. Konvektif Sel Tunggal dengan T = 40-50 dBZ,
2. Badai Konvektif dengan Tz = 30-40 dBZ,
3. Konvektif skala meso kompleks dengan T = 25-30 dBZ,
4. Snow bands dengan T = 15-25 dBZ.

2.2.4 Koefisien Korelasi


1.

Koefisien Korelasi
Koefesien korelasi ialah pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara

dua variabel. Besarnya koefisien korelasi berkisar antara +1 s/d -1. Koefesien
korelasi menunjukkan kekuatan (strength) hubungan linear dan arah hubungan
dua variabel acak.
21

r ( x, y) =

(n xy) ( x y)
(n x 2 x 2 ) (n y 2 y 2 )....(2.2)

Dimana :
r

= Tingkat korelasi

= Banyak data

= Parameter Meteorologi

= Jarak siklon tropis dari stasiun pengamatan

Jika koefesien korelasi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan


searah. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan tinggi pula.
Sebaliknya, jika koefesien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai
hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan
menjadi rendah (dan sebaliknya). Untuk memudahkan melakukan interpretasi
mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel penulis memberikan kriteria
sebagai berikut (Sarwono,2006) :
o

: Tidak ada korelasi antara dua variabel

>0 0,25

: Korelasi sangat lemah

>0,25 0,5

: Korelasi cukup

>0,5 0,75

: Korelasi kuat

>0,75 0,99

: Korelasi sangat kuat

: Korelasi sempurna

22

2.3 Hipotesis Penelitian


Pembentukan siklon tropis diawali dengan terbentuknya daerah tekanan
rendah di perairan tropis yang hangat dan membentuk pola angin siklonik. Suhu
muka laut yang hangat menyebabkan terbentuknya daerah tekanan rendah, daerah
tekanan rendah mengakibatkan pergerakan massa udara menuju pusat tekanan
rendah tersebut atau terjadinya konvergensi, lalu kelembaban udara yang tinggi
dan terbentuknya awan awan konvektif. Pelepasan panas kondensasi oleh awan
konvektif dalam badai merupakan sumber utama siklon tropis. Kumpulan awan
awan konvektif tersebut akan akan mengakibatkan gangguan cuaca buruk di
wilayah wilayah yang dilalui massa udara tersebut seperti angin kencang, hujan
lebat juga gelombang badai. Akan tetapi hal ini juga bergantung pada topografi,
orografi dan posisi wilayah tersebut.

23

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

BAHAN DAN ALAT PENELITIAN

3.1.1 Bahan Penelitian


Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
1) Data observasi permukaan beberapa stasiun meteorologi di Bali dan Nusa
Tenggara dari beberapa parameter cuaca antara lain data curah hujan
harian tanggal 22 28 Februari selama 10 tahun ( 2001 2010), tekanan
udara, sebelum, sesaat dan setelah terjadi siklon tropis Rusty (tanggal 22
28 Februari 2013).
2) Data Koordinat, Track dan Tekanan di Pusat Siklon tropis Rusty dari
TCWC Perth, Australia.
3) Data Angin Gradien
Data garis angin ini digunakan untuk mengetahui arah angin dominan,
daerah konvergensi/divergensi, dan lain lain.
4) Data NWP
Data Re-analysis dari NCEP ( National Centers for Environmental
Prediction) untuk mendapatkan nilai kelembaban udara pada lapisan 850
mb, 700 mb dan 500 mb.

24

5) Data GFS (Global Forecast System)


Merupakan data input untuk model WRF berupa data prakiraan dengan
resolusi spasial 0.5(55 km) dan resolusi temporal 3 jam. Data ini
digunakan sebagai output WRF untuk verifikasi keakuratan model dalam
pembuatan prakiraan.

3.1.2 Alat Penelitian


Adapun alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
3.1.2.1 Model WRF-ARW V.3.1.1
Model WRF-ARW V.3.1.1 merupakan versi terbaru dari model WRFARW yang dirilis pada bulan April 2009. NOAA dan AFWA menjadi
pengembang utama model ini yang dibantu oleh National Science Foundation
(NSF). Model ini juga merupakan model cuaca yang gratis dan sangat populer
digunakan oleh para peneliti meteorologi dan prakirawan di seluruh dunia.
3.1.2.2 WRF Domain Wizard
WRF Domain Wizard adalah program berbasis Java dengan tampilan user
bergambar buatan sekelompok ilmuan NOAA. Aplikasi ini digunakan untuk
menentukan domain model dengan memilih secara grafis pada peta atau citra
bumi. Bahkan penggunanya dapat dengan mudah melakukan proses pemilihan
domain yang lebih kecil jarak horizontalnya dengan menggunakan nests editor.
3.1.2.3 Grid Analysis and Display System (GrADS) 2.0.0

25

GrADS adalah sebuah program tools interaktif yang digunakan untuk


memudahkan akses, manipulasi, dan visualisasi data ilmu bumi. GrADS memiliki
dua model data untuk menangani data grid dan stasiun. GrADS mendukung
banyak format file data, termasuk biner (stream atau sequential), grib (versi 1 dan
2), NetCDF, HDF (versi 4 dan 5), dan BUFR (untuk data stasiun). GrADS telah
digunakan di seluruh dunia pada berbagai sistem operasi yang umum digunakan
seperti Windows, Linux, dan Macintosh serta didistribusikan secara bebas.
Software GrADS ini di gunakan untuk mengolah dan menampilkan data citra
satelit Feng Yun IR-1 dan data Re-Analysis dari NCEP.

3.1

CARA PENELITIAN

3.2.1 Pemilihan Daerah Penelitian


Penelitian ini dilakukan di beberapa wilayah di Daerah Bali dan Nusa
Tenggara dengan menggunakan data beberapa paramater cuaca yang diambil dari
beberapa Stasiun Meteorologi untuk mewakili dan yang ada di wilayah tersebut.
Adapun alasan pemilihan lokasi penelitian, di karenakan beberapa wilayah
tersebut secara geografis terletak cukup dekat dengan lokasi terjadinya siklon
tropis Rusty dan merupakan beberapa wilayah yang terindikasi terkena dampak
tidak langsung dari kejadian siklon tropis Rusty tersebut antara lain :

1.

Bali
26

Secara astronomis, Bali terletak


terl
di 82523 LS dan 1151455
55 BT yang
membuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.
lain Berdasarkan
relief dan topografi ditengahditengah tengah pulau Bali terbentang pegunungan yang
memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan itu terdapat gugusan
gunung api. Untuk lokasi penelitian digunakan data dari Stasiun Meteorologi
Ngurah Rai Bali yang terletak pada koordinat : 8.75
8.75 LS 115.17 BT.

Gambar 3.1 Peta Bali dan Nusa Tenggara


(www.wikitravel.org )
2.

Nusa Tenggara Barat


Letak dan Keadaan Alam Nusa Tenggara
Tenggara Barat yang terdiri dari Pulau

Lombok dan Pulau Sumbawa, memiliki luas wilayah 20.153,15 km2.Terletak


antara 115 46' - 119 5' Bujur Timur dan 8 10' - 9 g 5' Lintang Selatan. Sebagai
daerah tropis, NTB mempunyai rata-rata
rata rata kelembaban yang relatif tinggi, yaitu
antara 48 - 95 %. Untuk lokasi penelitian digunakan data dari Stasiun Meteorologi
M.Salahuddin Bima yang terletak pada koordinat : 8.55 LS 118.70 BT.

27

3.

Nusa Tenggara Timur


Merupakan provinsi yang didominasi oleh kepulauan, tiga pulau utama di

wilayah ini adalah Flores, Sumba, dan Timor Barat. Secara astronomis terletak
pada 1110'-730' LS dan 118 30' - 125 20' BT. Mempunyai topografi
bergelombang dan berombak dengan kemiringan 27-50 % dan berbukuti-bukit
bergunung dengan kemiringan lebih besar dari 50 %. Untuk lokasi penelitian
menggunakan data dari beberapa stasiun pengamatan antara lain :
1) Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo
Terletak pada koordinat : 8.63 LS - 119.90 BT
2) Stasiun Meteorologi Wai Oti Maumere
Terletak pada koordinat : 8.63 LS 122.25BT
3) Stasiun Meteorologi Waingapu
Terletak pada koordinat : 9.67 LS - 120.33BT
4) Stasiun Meteorologi Eltari Kupang
Terletak pada koordinat : 10.17 LS - 123.67BT
5) Stasiun Meteorologi Tardamu Sabu
Terletak pada koordinat : 10.50 LS - 121.83BT

28

Gambar 3.2 Lintasan dan Tahapan Kejadian Siklon Tropis Rusty


(Sumber : http://australiasevereweather.com)

3.2.2 Data yang dikumpulkan


Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut :
1) Data observasi permukaan beberapa stasiun meteorologi di Bali dan
Nusa Tenggara dari beberapa parameter cuaca antara lain data curah
hujan harian tanggal 22 28 Februari selama 10 tahun ( 2001 2010),
tekanan udara, arah dan kecepatan angin serta kelembaban udara
periode siklon tropis Rusty (tanggal 22 28 Februari 2013).
2) Data Koordinat, Track dan Tekanan Siklon tropis Rusty
3) Data Angin Gradien
Data garis angin ini digunakan untuk mengetahui arah angin dominan,
daerah konvergensi/divergensi, dan lain lain.

29

4) Data NWP
Data Re-analysis dri NCEP ( National Centers for Environmental
Prediction) untuk mendapatkan nilai kelembaban udara pada lapisan
850 mb, 700 mb dan 500 mb.
5) Data Global Forecast System (GFS)
Yaitu data ouput prediksi model global (GFS-Global Forecast System)
tanggal 22 Februari 2013 (12 UTC) sampai 28 Februari 2013 (12 UTC).
Yang akan digunakan untuk memprediksi lintasan (track) siklon tropis
Rusty, tekanan, awan dan curah hujan.

3.2.3 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a. Pengumpulan data instansional yaitu dengan mengajukan permohonan
permintaan data observasi permukaan (F Klim 71) ke stasiun - stasiun
meteorologi terkait dan data siklon topis di TCWC BMKG.
b. Interpretasi citra penginderaan jauh yang datanya diambil dari Bidang
Pengelolaan Citra Inderaja BMKG
c. Mengumpulkan data Re-analysis dari NCEP (National Centers for
Environmental Prediction) untuk mendapatkan nilai kelembaban udara
pada lapisan 850 mb, 700 mb dan 500 mb.Dengan mengunduh pada
situs http://rda.ucar.edu/datasets/ds083.2/index.html
30

d. Mengunduh data GFS melalui situs http://nomads.ncdc.noaa.gov

3.2.4 Cara Pengolahan Data


Cara pengolahan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Mencari rata rata data curah hujan harian normal selama 10 tahun (2001
2010) menggunakan rata rata hitung dan membuat grafiknya.
2) Mengolah data Re-analysis menggunakan software Grads 2.0.0 untuk
mendapatkan nilai kelembaban udara lapisan 850, 700 dan 500 mb.
3) Merunning (menjalankan program) WRF-ARW, mengolah data GFS dan
menganalisa hasil keluaran dari WRF-ARW yang di jalankan dalam 1
(satu) domain yang meliputi wilayah 5.5866 LS - 25.4622 LS dan
106.853 BT - 134.331BT dengan resolusi spasial 30 km.

Gambar 3.3 Domain Lokasi Penelitian

31

3.2.5 Cara Analisis Data


Adapun metode analisa data yang di lakukan penulis antara lain, analisis
komparatif spasial dan temporal yang dilakukan dengan membandingkan sifat
curah hujan normal 10 tahun di setiap stasiun Meteorologi dengan sifat curah
hujan pada saat terjadi Siklon Tropis Rusty. Kemudian analisis deskriptif untuk
menggambarkan keadaan data unsur unsur cuaca yang ada secara umum dalam
bentuk grafik maupun gambar (peta dan citra satelit) dan analisis statistik dalam
bentuk teknik analisis korelasional yaitu analisis hubungan antara dua variabel
dalam hal ini korelasi antara tekanan di pusat siklon dengan tekanan di wilayah
penelitian, maupun pengaruhnya terhadap paramater cuaca yang lain. Serta
analisis komparatif yaitu membandingkan dan memverifikasi hasil output WRFARW berupa hasil prediksi dengan data observasi, adapun data unsur cuaca yang
dibandingkan antara lain :
Tabel 3.1 Data Observasi dan Data Output WRF-ARW yang digunakan
dalam analisis komparatif
NO.
1.

2.

DATA OBSERVASI

OUTPUT DATA GFS

Track Siklon Tropis TCWC Perth, Track Siklon Tropis Output


Australia

WRF-ARW

Pola Angin Gradien BoM

Vektor dan Kecepatan Angin

Australia
3.

Citra Satelit MTSAT 2 IR-1

dBZ

4.

TRMM

Curah Hujan

32

3.2.6 Diagram Alir Langkah Kerja

33

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Curah Hujan


4.1.1 Jumlah Curah Hujan tiap Stasiun
Selama periode Siklon Tropis Rusty, hasil pengolahan grafik di bawah ini
menunjukan jumlah curah hujan di beberapa Stasiun Meteorologi di Bali dan
Nusa Tenggara cukup tinggi. Namun demikian hujan yang terjadi turun pada
waktu yang tidak bersamaan. Di wilayah Denpasar terjadi jumlah curah hujan
tertinggi yaitu 94 mm pada tanggal 22 Februari 2013 (terjadi sebelum periode
siklon).

Jumlah Curah Hujan (mm)

Curah Hujan Harian


100
Denpasar

80

Bima

60

Labuan Bajo

40

Waingapu

20

Maumere

0
22

23

24

25
Tanggal

26

27

28

Kupang
Sabu

Gambar 4.1 Grafik Jumlah Curah Hujan selama periode Siklon Tropis Rusty
Jumlah curah hujan tertinggi yang terjadi pada saat periode siklon terbentuk yaitu
pada tanggal 25 Februari 2013 terdapat di Waingapu, Maumere, Kupang dan
34

Labuan Bajo. Sedangkan wilayah Sabu, jumlah curah hujan tertinggi terjadi pada
saat setelah periode siklon (siklon mulai punah).
Hal ini menunjukan bahwa dampak siklon tropis Rusty terhadap curah hujan di
berbagai wilayah khususnya di sekitar Bali dan Nusa Tenggara, terjadi pada
waktu yang berbeda beda, tidak selamanya pada saat periode siklon tersebut
terbentuk.

4.1.2 Jumlah Curah Hujan terhadap Normalnya


Dari hasil pengolahan data curah hujan terlihat bahwa sifat curah hujan
pada periode siklon tropis Rusty menunjukan bahwa pada umumnya terjadi
penyimpangan jumlah curah hujan dari kondisi normalnya. Dapat dilihat pada
Tabel 4.2 di bawah, bahwa dari 7 (tujuh) stasiun pengamatan, 6 (enam) stasiun di
antaranya yaitu Denpasar, Bima, Labuan Bajo, Waingapu, Maumere dan Kupang
mempunyai jumlah curah hujan di atas normal sedangkan Sabu jumlah curah
hujannya berada di bawah normal. Hal ini terjadi baik pada sebelum, sesaat
maupun setelah periode siklon Rusty tersebut terjadi.

35

SIFAT CURAH HUJAN


Jumlah Curah Hujan (mm)

250
200
150
100

NORMAL
SIKLON
TROPIS RUSTY

50
0

Gambar 4.2 Grafik Sifat Curah Hujan selama periode Siklon Tropis Rusty
Hal ini menunjukkan bahwa siklon tropis Rusty mempunyai dampak yang
cukup signifikan terhadap terjadinya curah hujan di beberapa wilayah di Bali dan
Nusa Tenggara, disamping pada saat bersamaan wilayah-wilayah tersebut sedang
pada saat periode musim penghujan.

4.2 Pergerakan dan Karakteristik Siklon Tropis Rusty


Pada tanggal 22 Februari 2013 pukul 1200 UTC mulai teridentifikasi
adanya daerah tekanan rendah (low pressure) sebesar 1000 hPa di perairan
sebelah barat laut wilayah Kurt Bay, Australia yaitu sekitar 15.7 LS dan 117.9
BT. Kemudian pada tanggal 23 Februari 2013 pukul 00.00 UTC mulai terbentuk
tropical low yang bergerak ke arah barat barat laut Kota Cape Lavegue, Australia

36

yang berada pada 320 mil (590 km) selatan barat daya Sabu dengan tekanan udara
sebesar 996 mb.
Tropical low ini terus bergerak sampai pada tanggal 24 Februari 2013
pukul 00.00 UTC dengan kecepatan gerak 4 knots (8 km/jam), kecepatan angin
maksimum 25 knots (45 km/jam) dan tekanan udara 990 hPa, menuju sebelah
barat Cape Lavegue. Baru kemudian tumbuh menjadi siklon tropis Rusty kategori
1 pada tanggal 24 Februari 2013 pukul 12.00 UTC dengan tekanan udara di pusat
siklon sebesar 985 hPa dan kecepatan angin maksimum 45 knots (85 km/jam).
Siklon tropis Rusty meningkat menjadi kategori 2 di hari yang sama pada pukul
12.00 UTC.

Gambar 4.2 Pergerakan Siklon Tropis Rusty


(Sumber : TCWC Perth, BOM Australia)

Terlihat pada gambar 4.2, siklon tropis Rusty ini mencapai kategori 4 atau
severe tropical cyclone pada tanggal 27 Februari 2013 pukul 00.00 UTC dengan
posisi di perairan sebelah barat Australia dekat kota Port Hedland, Australia
dengan tekanan di pusat siklon sebesar 945 hPa dan kecepatan angin maksimum
37

sebesar 90 knots (165 km/jam). Dan akhirnya punah saat memasuki daratan pada
tanggal 28 Februari 2013 pukul 12.00 UTC di sebelah barat kota Newman yaitu
sekitar 24.5LS dan 119 BT dengan tekanan sebesar 991 hPa dan kecepatan
angin 15.4 knots.

Gambar 4.3 Pergerakan Siklon Tropis Rusty


(Sumber : TCWC Perth, BOM Australia)
Jika di perhatikan siklon tropis Rusty ini mempunyai masa hidup yang
cukup singkat yaitu dari saat tumbuh sampai punah hanya sekitar 5 (lima) hari dan
apabila dibandingkan dengan kebanyakan siklon tropis yang terjadi, rata - rata
mempunyai masa hidup 1-2 minggu. Akan tetapi meskipun mempunyai masa
hidup yang relatif singkat dampak tidak langsung yang disebabkan oleh siklon ini
cukup besar dan signifikan.

38

4.3 Dampak Siklon Tropis Rusty terhadap beberapa parameter cuaca


4.3.1 Kondisi Tekanan Udara
Periode sebelum terbentuknya siklon tropis Rusty pada tanggal 22
Februari 2013 terlihat kondisi Mean Sea Level Pressure yaitu terdapat tropical
storm di Belahan Bumi Selatan dan sirkulasi antisiklonik di sebelah barat laut
Kalimantan. Sedangkan di wilayah Belahan Bumi Selatan sendiri terdapat banyak
sekali daerah pusat tekanan rendah (low pressure) sehingga dengan demikian
mengganggu sistem keadaan cuaca di sekitarnya.

Gambar 4.4 Pola Mean Sea Level Pressure pada periode Siklon Tropis Rusty
Tanggal 22 dan 25 februari 2013 (atas) dan 26 dan 28 Februari 2013 (bawah)
(www.bom.gov.au)

39

Kemudian pada tanggal 25 sampai 26 Februari 2013 saat puncak


terbentuknya siklon ini tekanan mencapai 957 hPa dengan kecepatan 75 knot,
juga terdapat beberapa daerah tekanan rendah di sekitarnya antara lain di sebelah
barat laut perairan Laut Jawa, sebelah timur Australia dan sebelah tenggara Papua.
Sedangkan periode setelah terjadi siklon atau menjelang punahnya siklon
tersebut yaitu saat memasuki daratan wilayah Australia terjadi pada tanggal 28
Februari, terlihat pada gambar 4.4 (bawah-kanan) tekanan di pusat siklon
meningkat menjadi 982 hPa dan kecepatan angin menurun mencapai 45 knot dan
semakin pelan memasuki daratan. Tapi terlihat masih terdapat banyak daerah
tekanan rendah di sekitar Laut Jawa, sekitar wilayah Australia dan tenggara
Papua.

4.3.2 Kondisi Kelembaban Udara


4.3.2.1 Sebelum Periode Siklon Tropis
Dari hasil olahan data NCEP ( National Centers for Environmental
Prediction), pada Gambar 4.5 di bawah terlihat kondisi kelembaban udara
sebelum terbentuk siklon tropis Rusty pada tanggal 22 Februari 2013, di wilayah
Bali dan Nusa Tenggara pada lapisan 850 mb sampai 500 mb cukup lembab yaitu
sekitar 70- 90% .

40

Gambar 4.5 Kelembaban Udara Lapisan 850 hPa (a), 700 hPa (b)
dan 500 hPa(c) Tanggal 22 Februari 2013

Hal ini menunjukan peluang terbentuk awan konvektif besar yang dapat
mengakibatkan curah hujan yang cukup tinggi di wilayah tersebut dan hal ini
justru terjadi pada periode sebelum terjadi siklon tropis Rusty. Hal ini berarti
bahwa sebelum terjadi atau pada saat menjelang terbentuknya siklon tropis Rusty,
telah terjadi cuaca buruk di wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

4.3.2.2 Saat Terjadi Siklon Tropis


Pada kondisi saat terjadi siklon tropis Rusty pada tahap matang atau tahap
puncaknya, kondisi kelembaban udara pada lapisan 850 mb sampai 500 mb di
wilayah Bali dan Nusa Tenggara sekitar 60-80%, nilai tersebut lebih rendah di
bandingkan dengan kondisi sebelumnya.

41

Gambar 4.6 Kelembaban Udara Lapisan 850 hPa (a), 700 hPa (b)
dan 500 hPa(c) Tanggal 26 Februari 2013
Hal ini menunjukan bahwa kondisi saat terbentuk siklon tropis Rusty
mempunyai dampak yang tidak cukup signifikan terhadap kondisi kelembaban
udara di wilayah Bali dan Nusa Tenggara di bandingkan periode menjelang
terbentuknya.
4.3.2.2 Setelah Periode Siklon

Gambar 4.7 Kelembaban Udara Lapisan 850 hPa (a), 700 hPa (b)
dan 500 hPa(c) Tanggal 28 Februari 2013

42

Kondisi kelembaban udara setelah terjadi siklon tropis atau saat punahnya,
terlihat pada gambar 4.7 di atas, di wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada lapisan
850 mb dan 500 mb cukup tinggi yaitu sekitar 70 90% sedangkan pada lapisan
700 mb terlihat cukup rendah yaitu sekitar 45 55%. Hal ini menunjukan bahwa
kelembaban udara pada lapisan atas tidak sepenuhnya mendukung pertumbuhan
awan konvektif yang akan memberi peluang terjadinya cuaca buruk. Atau dengan
kata lain setelah punahnya siklon tropis Rusty tidak ada keadaan cuaca buruk atau
yang signifikan terjadi di sekitar wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

4.4 Interpretasi dan Validasi Output WRF menggunakan Data GFS


4.4.1 Perbandingan Data Observasi dan Hasil Simulasi Track Siklon Tropis
Rusty
Dari hasil running WRF-ARW menggunakan output data GFS yang di plot
bersama sama dengan posisi yang diamati dari pusat siklon pada interval 12 jam
dari database siklon tropis Rusty TCWC Perth Australian Goverment Buraeu of
Meteorology di peroleh Gambar 4.9 di atas. Dimana posisi simulasi siklon di
peroleh dengan cara mengamati posisi pusat tekanan rendah menggunakan data
output tekanan permukaan (Mean Sea Level Pressure). Setiap titik menggunakan
data per 12 jam yaitu mulai tanggal 23 februari 2013 pukul 00.00 UTC sampai 28
Februari 2013 Pukul 00.00 UTC.

43

Gambar 4.8 Lintasan Siklon Tropis Rusty Database Track TCWC Perth,
Australia dan Simulasi output data GFS setiap 12 jam
Terlihat bahwa hasil simulasi prediksi jalur siklon tropis Rusty seperti
pada gambar 4.9 pada umumnya mempunyai pola yang hampir sama dengan data
jalur siklon dari TCWC Perth, namun terdapat beberapa perbedaan pada posisi
lintang dan bujurnya. Terlihat pada 00.00 UTC tanggal 24 Februari hasil simulasi
terletak lebih sedikit ke arah barat dari lokasi sebenarnya, demikian juga posisi
siklonpada tanggal 27 Februari 12.00 UTC yang mana sebagai posisi pendaratan,
hasil simulasi bergerak sedikit menyimpang yaitu agak lebih jauh dan dalam ke
arah barat daya daratan Australia di banding jalur sebenarnya yang langsung
mendarat di tepi barat daratan Australia tepatnya di kota Port Hedlan. Adapun
perbedaan jarak kedua titik tersebut sekitar 310.8 km.

44

Walaupun jika dilihat dari jaraknya mempunyai perbedaaan yang cukup


jauh akan tetapi secara keseluruhan dan di lihat dari polanya hasil output WRFARW sudah dapat memberikan prediksi pergerakan siklon yang cukup mendekati
keadaan sebenarnya.

4.4.2 Verifikasi Kondisi Angin Gradien


4.4.2.1 Kondisi Sebelum Periode Siklon Tropis

(a)

(b)

Gambar 4.9 Pola garis angin (streamline) data BoM Australia (a) dan Vektor
dan Kecepatan angin output model WRF-ARW (b) Tanggal 22 Februari 2013
pukul 12.00 UTC

Pada tanggal 22 Februari pukul 12.00 UTC terlihat pada Gambar 4.10 (a)
terdapat beberapa daerah tekanan rendah antara lain di sebelah barat daya Laut
Jawa dan Samudera Hinda, terdapat jet stream dan palung di sepanjang Samudera
Hindia sampai sebelah tenggara

papua dan juga front di wilayah Australia.

Dengan adanya daerah tekanan rendah tersebut maka terjadi konvergensi yaitu
dimana massa udara bergerak, mengumpul dan terdapat penurunan kecepatan

45

angin di daerah tersebut yang menyebabkan daerah yang dilalui maupun berada di
sekitarnya terdapat pembentukan awan tebal dan memungkinkan terjadi cuaca
buruk.
Demikian pula dengan hasil keluaran WRF, Gambar 4.10 (b)
menggunakan data GFS menunjukan hasil simulasi prediksi pola garis angin
(streamline) yang sama dengan analisis angin gradien dari BoM Australia.
Terlihat angin bergerak dari barat ke timur melewati wilayah Bali dan Nusa
Tenggara kemudian berbelok di sebelah utara Australia membentuk konvergensi
dan mengumpul di Samudera Hindia dan sebelah barat laut Australia dimana
terdapat daerah tekanan rendah. Juga kecepatan angin maksimum di prakirakan
35-45 knot di sekitar daerah tekanan rendah tersebut sedangkan di pusat tekanan
rendahnya sendiri sebesar 0-5 knot (calm) dan hal ini sesuai dengan data observasi
yang sebenarnya.

4.4.2.2 Kondisi Saat terjadi Siklon Tropis


Pada tanggal 26 Februari 12.00 UTC sampai 27 Februari 00.00 UTC
merupakan saat puncak terjadinya siklon tropis Rusty, dimana terlihat pada
gambar 4.11(a) tekanan mencapai 945 hPa dan kecepatan maksimum 90 KT yaitu
termasuk dalam golongan severe tropical cyclone tingkat 4 menurut Skala
Intensitas dan Kategori Siklon Tropis dari Bureau of Meteorology Australia.
Sehingga dengan demikian beberapa daerah di sekitar siklon tropis tersebut pun

46

mengalami penurunan tekanan, terlihat ada beberapa daerah tekanan rendah di


Samudera Hindia maupun di sebelah timur daratan Australia.

Gambar 4.10 Pola garis angin (streamline) data BoM Australia (a) dan
Vektor dan kecepatan angin output model WRF-ARW (b) Tanggal 26 Februari
2013 pukul 12.00 UTC dan Tanggal 27 Februari pukul 00.00 UTC

Sedangkan jika dilihat dari hasil prediksi simulasi data GFS, gambar
4.11(b) terlihat bahwa hasil model WRF-ARW ini dapat memprediksi dan
menggambarkan kondisi yang hampir persis sama dan mendekati keadaan
sebenarnya, baik itu posisi siklon tropis maupun besarnya kecepatan angin pada
saat itu.

47

4.4.2.3 Kondisi Setelah Periode Siklon Tropis

Gambar 4.11 Pola garis angin (streamline) data BoM Australia (a) danVektor
dan kecepatan angin output model WRF-ARW (b) Tanggal 28 Februari 2013
pukul 00.00 UTC

Pada gambar 4.12 (a) terlihat pada kondisi menjelang punahnya siklon
tropis Rusty tekanan udara perlahan meningkat dan kecepatan angin semakin
menurun atau pergerakannya semakin melambat saat memasuki daratan sebelah
barat Australia, namun masih dalam kategori tropical low sehingga masih terdapat
banyak daerah tekanan rendah disekitarnya.
Demikian pula dengan output keluaran WRF memprediksi kondisi yang
sama pada saat itu yaitu terlihat siklon tropis Rusty mulai memasuki daratan di
sebelah barat Australia dan dengan kecepatan angin yang semakin menurun.

48

4.4.3 Perbandingan Kondisi Cakupan Awan Hasil Keluaran model WRFARW dengan Citra Satelit MTSAT 2 IR-1

26/02 12.00 UTC

28/02 12.00 UTC

WRF-ARW

MTSAT 2 IR-1

23/02 12.00 UTC

Gambar 4.12 Cakupan awan Citra Satelit MTSAT 2 IR-1 Kochi University
(atas) dan dBZ Output model WRF-ARW (bawah)
Dari data citra satelit infra merah

pada Gambar 4.13 (atas) terlihat

kumpulan awan tebal di beberapa wilayah yaitu di sekitar wilayah Bali, Nusa
Tenggara, Laut Timor, perairan Samudera Hindia sebelah barat Australia pada
12.00 UTC tanggal 23 Februari yaitu periode sebelum siklon tropis Rusty
terbentuk dan hal ini menunjukan aktivitas konvektif yang kuat di wilayah
tersebut. Sedangkan dari hasil keluaran WRF-ARW, kumpulan awan hanya

49

terlihat di sebagian kecil perairan Samudera Hindia dengan cakupan yang tidak
luas selain itu terlihat nilai T sekitar 30-40 dBZ yang mengindikasikan peluang
adanya badai konvektif (convective storms), mengacu pada tulisan Michael Dixon
dan Gerry Wiener,1993.
Kemudian pada tanggal 26 Februari 12.00 UTC saat terbentuk siklon
tropis Rusty terlihat awan konvektif yang membentuk pusaran yang jelas di
perairan Samudera Hindia sebelah barat laut Australia sedangkan di wilayah Bali
dan Nusa Tenggara kumpulan awan tidak setebal hari sebelumnya dan lebih
terkonsentrasi di pusat siklon tersebut. Artinya bahwa pada saat puncak
terbentuknya siklon tropis Rusty kemungkinan terjadi cuaca buruk di wilayah Bali
dan Nusa Tenggara sangat kecil karena kurangnya cakupan awan di wilayah
tersebut. Dibandingkan dengan output data GFS dapat dilihat memiliki pola awan
yang membentuk pusaran yang sama walaupun cakupan awannya tidak seluas
pada citra satelit dan menunjukan nilai 40-50 dBZ yang mengindikasikan adanya
konvektif sel tunggal (individual convective cells).
Selanjutnya di saat sistem ini mulai melemah dan punah pada 12.00 UTC
28 Februari terlihat pusaran mulai bergerak memasuki daratan di sebelah barat
Australia, terdapat konsentrasi awan konvektif yang cukup banyak di sebagian
besar wilayah Australia dan juga membentuk jalur di sepanjang wilayah Jawa,
Bali dan Nusa Tenggara. Namun kemudian kumpulan awan tersebut mulai
tersebar dan meninggalkan berkas berkas dan hanya terdapat beberapa
kumpulan awan konvektif yang tidak menebal dan dalam jumlah yang sedikit di
50

beberapa titik saja seperti di wilayah Bali dan sebagian kecil wilayah Australia.
Walaupun secara umum wilayah Bali dan Nusa Tenggara masih tertutup awan
meskipun dengan volume yang lebih kecil di bandingkan beberapa hari
sebelumnya.
Sedangkan nilai T

pada output WRF-ARW sebesar 30-40 dBZ yang

mengindikasikan adanya badai konvektif (convective storms) di sekitar bagian


selatan sampai barat daratan Australia, menunjukan pola yang sama dengan citra
satelit hanya perbedaannya hampir tidak terdapat awan di sekitar wilayah Bali dan
Nusa Tenggara, hanya sedikit terlihat cakupan awan di atas wilayah Kupang,
Nusa Tenggara Timur.

4.4.4 Perbandingan Jumlah Curah Hujan Output WRF-ARW dan TRMM


4.4.4.1 Sebelum periode siklon tropis
Output data GFS menunjukan hasil prediksi jumlah curah hujan pada saat
sebelum terbentuk siklon tropis Rusty terlihat pada gambar 4.14 (a), disekitar
pusat siklon curah hujan mencapai 140 160 mm yaitu di sekitar perairan sebelah
barat laut Australia, Samudera Hindia dan Laut Jawa. Sedangkan di wilayah Bali
dan Nusa Tenggara terlihat hampir tidak terjadi hujan hanya sebagian kecil di
sebelah Utara Labuan Bajo dan sebagian besar di Laut Flores dan Laut Bali
sebesar 40 80 mm

51

Gambar 4.13 Curah Hujan hasil keluaran WRF-ARW (a) dan


Data TRMM (b) tanggal 23 Februari 2013 00.00 UTC dan 12.00 UTC

Sedangkan

keluaran data TRMM pada gambar 4.14 (b) menunjukan

jumlah curah hujan yang lebih sedikit yaitu sekitar 100-120 mm dan wilayah
cakupannya pun tidak seluas output WRF yaitu hanya sebagian kecil di perairan
Samudera Hindia, barat laut Australia, Laut Flores dan juga di wilayah Bali dan
Nusa Tenggara Timur dalam hal ini daerah Labuan Bajo. Hal ini dapat di
simpulkan bahwa output data GFS memberikan hasil yang over estimated
terhadap kondisi sebenarnya.

52

4.4.4.2 Saat Periode Siklon Tropis


Pada puncak periode siklon tropis Rusty terjadi terlihat hasil keluaran
WRF pada gambar 4.15 (a) memprediksi hujan tertinggi hanya terjadi di wilayah
sekitar pusat siklon yaitu tepatnya di Samudera Hindia dan perairan sebelah Barat
sampai Barat Laut Australia dan juga di sebagian besar Laut Flores dengan
intensitas yang cukup besar yaitu sekitar lebih dari 160 mm sedangkan di wilayah
Bali dan Nusa Tenggara sendiri tidak terjadi curah hujan.

Gambar 4.14 Curah Hujan hasil keluaran WRF-ARW (atas) dan


Data TRMM (bawah) tanggal 26 Februari 2013 00.00 UTC dan 12.00 UTC

53

Sedangkan dari data observasi TRMM pada gambar 4.15 (b) menunjukan
bahwa pada saat puncak terbentuk siklon tropis Rusty, curah hujan juga terjadi di
wilayah yang sama dengan hasil keluaran data GFS yaitu sebagian besar terjadi di
Samudera dan Perairan sedangkan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara maupun
Australia hampir tidak terjadi hujan. Akan tetapi di lihat dari jumlah curah hujan,
data TRMM mempunyai perbedaan nilai yang cukup jauh dari hasil prediksi
model WRF-ARF yaitu curah hujan tertinggi hanya sekitar 100-120 mm dan
dengan cakupan yang hanya di sekitar pusat siklon, tidak seperti keluaran WRFARW yang cakupan wilayahnya sangat luas.

4.4.4.3 Setelah periode siklon tropis


Kondisi curah hujan setelah terjadi siklon tropis Rusty pada tanggal 28
Februari 2013, hasil output WRF-ARF pada gambar 4.16 (a) memprediksi masih
terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi yaitu di atas 160 mm dan
dengan cakupan wilayah yang cukup luas antara lain sebagian besar Samudera
Hindia, Laut Flores dan perairan sebelah barat Australia dan juga sebagian kecil
daratan Austrlia dan Nusa Tenggara Timur bagian barat.
Akan tetapi jika dibandingkan dengan data TRMM terlihat perbedaan yang cukup
jauh, hal ini dapat di lihat pada gambar 4.16 (b) yang menunjukan bahwa hampir
tidak terlihat adanya curah hujan yang terjadi, hanya sebagian kecil daratan
Australia dengan intensitas ringan yaitu hanya sekitar 40-60 mm.

54

Gambar 4.15 Curah Hujan hasil keluaran WRF-ARW (a) dan


Data TRMM(b) tanggal 28 Februari 2013 00.00 UTC

Hal ini menunjukan bahwa hasil prediksi data GFS keluaran model WRFARW menghasilkan prediksi yang melampaui keadaan sebenarnya atau di sebut
over estimated.

55

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat di peroleh dari hasil dan pembahasan di atas
antara lain sebagai berikut :
1.

Kondisi curah hujan: hasil pengolahan data curah hujan pengamatan dari 7 (
tujuh) stasiun pengamatan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara menunjukan
bahwa curah hujan yang terjadi selama periode sebelum, sesaat dan setelah
siklon Tropis Rusty, sebagian besar berada di atas normal (Denpasar, Bima,
Labuan Bajo, Waingapu, Maumere dan Kupang) dan hanya daerah Sabu yang
berada di posisi normal, sehingga dapat di simpulkan bahwa curah hujan yang
terjadi di beberapa tempat di wilayah Bali dan Nusa Tenggara tersebut bukan
saja karna musim hujan tapi juga dampak tidak langsung dari siklon tropis
Rusty.

2.

Karakteristik Siklon Tropis Rusty: mempunyai beberapa ciri khas yang cukup
unik antara lain mempunyai lintasan yang tidak terlalu panjang dan masa
hidup yang tidak lama yaitu hanya sekitar kurang lebih 6 hari (22 Februari
2013 sampai 28 Februari 2013) dengan masa puncak 2 hari.

3.

Dampak siklon tropis Rusty: terhadap kondisi tekanan udara dan kelembaban
udara cukup signifikan yaitu terdapat banyak daerah tekanan rendah terutama

56

periode sebelum dan sesaat terjadi siklon tropis Rusty. Saat kejadian siklon
tropis, kelembaban udara pada lapisan 850, 700 dan 500 mb mempunyai nilai
yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabakan berkumpulnya massa udara
basah di beberapa area dan terjadinya konvergensi yang memungkinkan
terbentuknya awan awan konvektif yang dapat menyebabkan cuaca buruk
dan turunnya hujan yang dapat berdampak lebih lanjut mengakibatkan banjir
dan angin kencang yang merusak di sebagian besar wilayah Bali dan Nusa
Tenggara.
4.

Hasil keluaran model WRF-ARW menggunakan data GFS:


a. Hasil prediksi lintasan siklon tropis Rusty memberikan hasil dan pola yang
hampir mendekati data sebenarnya dengan nilai koefisien korelasi kuat yaitu
sebesar 0,67.
b. Hasil prediksi kondisi cakupan awan dan streamline memiliki pola yang
mirip dengan keadaan sebenarnya.
c. Hasil prediksi jumlah curah hujan, output model WRF-ARW memberikan
hasil yang overestimate bila dibandingkan dengan data TRMM.
Akan tetapi secara keseluruhan dari hasil interpretasi output model
WRF-ARW bahwa pada periode masa hidup siklon tropis Rusty, beberapa
unsur cuaca mendukung adanya cuaca buruk dan signifikan yang terjadi
khususnya di sekitar wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

57

4.2 Saran
Adapun terdapat beberapa saran yang ingin penulis sampaikan antara lain :
1.

Untuk pengolahan data GFS menggunakan model WRF- ARW dapat di coba
dengan menggunakan berbagai parameterisasi sehingga dapat di ketahui
parameter apa yang paling cocok untuk digunakan dalam menganilisis dan
memprediksi kejadian siklon tropis sehingga bisa di peroleh output yang lebih
akurat

2.

Dapat dilakukan asimilasi data untuk meminimalisir error dan mendapatkan


output yang tidak over estimate.

3.

Menggunakan semakin banyak data pendukung untuk menganilisis kejadian


siklon tropis yang terjadi dapat semakin memberikan analisis yang akurat dan
lebih jelas.

58

DAFTAR PUSTAKA

Aldrian, E dan Zakir Achmad. 2008. Meteorologi Laut Indonesia. Pusat Penelitian
Dan Pengembangan BMKG, Jakarta.
Khotimah Mia Khusnul. 2012. Pengaruh Siklon Tropis Carlos Terhadap Kondisi
Curah Hujan di Wilayah Nusa Tenggara Timur dan Sekitarnya. Buletin
Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara, Geofisika dan Lingkungan.
Megasains Vol.3 No.1/April 2012. BMKG, Jakarta.
Metrotvnews.com. Puting Beliung Terjang 218 Rumah di NTT[online].
(http://www.metrotvnews.com/metronews/read.htm, diakses tanggal
07 Oktober 2013)
Michael, D dan Gerry Wiener. 1993. TITAN: Thunderstorm Identification,
Tracking, Analysis, and Nowcasting-A Radar-based Methodology. Journal
of Atmospheric and Oceanic Technology. Volume 10 no.6. Research
Applications Program, National Center for Atmospheric Research
Boulder, Colorado
OS. Ummul Choir. Nn. 2012. Siklon Tropis di Selatan Indonesia dan Dampaknya
terhadap Curah Hujan di Beberapa Wilayah Indonesia. Prosiding Scientific
Jurnal Club Edisi ke 7 . Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG,
Jakarta.
Peraturan Kepala BMKG Tentang Prosedur Standar Operasional Pelaksanaan
Peringatan Dini, Pelaporan dan Diseminasi Informasi Cuaca Ekstrim
No.Kep 009/2010 Pasal 1 (1-4).
Prasetya Yosef L. D. 2013. Analisis Siklon Tropis Molave dan Conson terhadapa
Kondisi Cuaca di Kalimantan Barat (Bulan Juli 2009 &2010). Buletin
Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah II Ciputat. Vol.3 No.8
Agustus 2013. BBMKG II, Jakarta.
Pusat Data dan Informasi BNPB. Siklon Rusty Sebabkan 8 Kabupaten di NTT
Banjir dan Angin Kencang. [online], (www.bnpb.go.id , diakses tanggal 10
Oktober 2013)

59

Radjab, Fachri A. 2003. Analisis Curah Hujan di Nusa Tenggara Timur Selama
Periode Siklon Tropis Vance, 18-22 Maret 1999. Jurnal Meteorologi
dan Geofisika, Vol. 4 No.1 Januari Maret 2003. BMKG, Jakarta.
Sandy, I.M. 1996. Republik Indonesia, Geografi Regional. Jurusan Geografi
FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta.
Tjasyono, Bayong. 2004. Klimatologi. Penerbit FIKTM - Institut Teknologi
Bandung, Bandung.
Tjasyono, Bayong dan Harijono, Sriworo B. 2004. Meteorologi Laut Indonesia.
Penerbit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika , Jakarta.
Tempo.co, 2013. Satu Tewas di Bima Akibat Puting Beliung [online],
(http://www.tempo.co/read/news.htm, diakses tanggal 7 Oktober 2013)

Zakir Achmad, Sulistya Widada dan Khotimah K. Mia. 2010. Perspektif


Operasional Cuaca Tropis. Pusat Penelitian Dan Pengembangan BMKG,
Jakarta.
.........., 2002. About Tropical Cyclone. Australian Bureau of Meteorology.
( http://www.bom.gov.au/cyclone/?ref=ftr, diakses tanggal 02 Oktober
2013)

http://indonesiarayanews.com di akses tanggal 17 November 2013

60