You are on page 1of 35

BAB I

PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guinensis) merupakan salah satu tanaman komoditas

yang mengalami perluasan lahan paling pesat di dunia. Indonesia merupakan salah
satu negara yang menjadikan kelapa sawit sebagai tanaman komoditas utamanya
saat ini. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia Sebagian besar menggunakan
hutan hujan tropis dan telah menutupi lebih dari 13 juta ha daratan. (Sunarko,
2007).
Kalimantan Tengah merupakan urutan ke empat luas perkebuan kelapa
sawit dengan luas 1,5 juta ha setelah Riau, Sumatera Utara, dan Jambi (Sunarko,
2007). Salah satu wilayah Kalimantan Tengah yang memiliki titik perkebunan
kelapa sawit paling banyak yaitu berada di Kecamatan Mantangai Kabupaten
Kapuas salah satunya berada di Desa Babugus yang dikelola oleh perusahaan PT.
Sakti Mait Jaya Langit (SMJL) dengan luas 10.000 ha (komunikasi pribadi,
Riswandi, 2014). Menurut (Jumar, 2000) konversi hutan menjadi perkebunan
kelapa sawit biasanya menghasilkan kawasan yang mempunyai areal hutan yang
kecil dan terfragmentasi bagi sebagaian hewan terutama anggota serangga seperti
kupu-kupu.
Kupu-kupu pada umumnya dapat dijumpai hampir di semua habitat mulai
dari dataran rendah sampai dengan dataran tinggi dengan ketinggian 1500-1800
meter di permukaan laut, karena kupu-kupu merupakan serangga yang bersifat
kosmopolitan. Keberadaan kupu-kupu tidak terlepas dari daya dukung habitatnya

yang memiliki penutupan vegetasi perdu dan pohon yang berakar kuat, serta
adanya sungai-sungai yang mengalir. Habitat yang berbeda merupakan salah satu
faktor penyebab perbedaan kupu-kupu yang hidup di dalamnya. Kelangsungan
hidup kupu-kupu dalam suatu habitat sangat bergatung pada keberadaan tanaman
inang baik yang berfungsi sebagai sumber makanan untuk fase dewasa maupun
fase larvanya.
Menurut Suprapto, 2007 (Utami, 2012) keberadaan kupu-kupu dapat
digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan yang baik, karena kupu-kupu
merupakan hewan yang sangat cepat reaksinya terhadap lingkungan, adanya
sedikit perubahan dalam suatu lingkungan akan berakibat menurunnya populasi
kupu-kupu. Kupu-kupu juga merupakan pollinator yang ideal dalam membantu
penyerbukan tanaman. Secara ekologis turut berperan dalam mempertahankan
keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati. Menurut
Syaputra, et al., 2009 (Rahayu, 2012) nilai estetika dari warna dan corak kupukupu bisa menjadi obyek wisata yang menarik serta dapat digunakan sebagai
sarana pendidikan (Dendang, 2009).
Kupu-kupu, sama seperti serangga lain yang tergolong holometabola sejati
yaitu mempunyai metamorfosis lengkap dan sempurna dengan siklus hidup
melalui stadium telur, larva, pupa, dan imago. Kupu-kupu termasuk dalam ordo
Lepidoptera dan sub ordo Rhopalocera, dimana ordo Lepidoptera merupakan ordo
terbesar dalam kelas serangga (Borror et al., 1992). Keragaman kupu-kupu di
Indonesia sangat banyak, dari 17.000 spesies yang ada di dunia, sekitar 18.000
spesies kupu-kupu terdapat di Indonesia (Peggie, 2008 dalam Rahayu et al., 2013)

Studi penelitian dan informasi mengenai jenis kupu-kupu yang terdapat di


perkebunan kelapa sawit sebagai sumber belajar materi keanekaragaman hayati
masih belum ada, dari latar belakang diatas maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui keanekaragaman jenis kupu-kupu pada perkebunan kelapa sawit yang
berada di Desa Babugus Kabupaten Kapuas, dimaksudkan sebagai kegiatan
mencari, mengumpulkan, dan meneliti jenis kupu-kupu yang terdapat di
perkebunan kelapa sawit. Penelitian keanekaragaman kupu-kupu pada perkebunan
kelapa sawit di Desa Babugus Kabupaten Kapuas akan menghasilkan produk
berupa data hasil penelitian, data keanekaragaman jenis, koleksi dan foto
spesimen kupu-kupu. Koleksi spesimen dapat dijadikan media insektarium,
sedangkan foto spesimen dan deskripsi dari hasil penelitian dapat disusun menjadi
booklet sebagai sumber belajar materi keanekaragaman hayati.
1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1)

Keanekaragaman Jenis kupu-kupu apa saja yang terdapat di perkebunan

2)

kelapa sawit PT. Sakti Mait Jaya Langit?


Bagaimana pemanfaatan kupu-kupu di perkebunan kelapa sawit sebagai
sumber belajar dalam pembuatan Booklet berdasarkan hasil penelitian
inventarisasi jenis kupu-kupu?

1.2 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam penelitian ini dibatasi pada :
1) Penelitian dilakukan di area perkebunan kelapa sawit PT. Sakti Mait Jaya
Langit.
2) Penelitian dilakukan pada pagi dan sore, dimulai dari pukul (pukul 08.0012.00) dan sore (pukul 14.00-17.00).
3) Penangkapan kupu-kupu dilakukan dengan cara penangkapan langsung
menggunakan jala serangga (insect net).
4) Penelitian ini mengidentifikasi jenis kupu-kupu yang diperoleh dari hasil
tangkapan pada area penelitian sampai tingkat yang memungkinkan dengan
melihat ciri-ciri yang tampak pada kupu-kupu.
5) Keanekaragaman jenisnya, sehingga metode pengukuran
yang digunakan meliputi indeks keanekaragaman, kekayaan
jenis, indeks kemerataan dan indeks dominansi.
6) Semua jenis kupu-kupu yang diperoleh dari penelitian ini dibuat menjadi
insektarium dan hasil identifikasi didokumentasikan menjadi Booklet.
1.3 Tujuan Penelitian
1) Mengetahui jenis kupu-kupu apa yang terdapat di perkebunan kelapa sawit
PT. Sakti Mait Jaya Langit.
2) Mengetahui pemanfaatan jenis kupu-kupu dari hasil penelitian inventarisasi
di perkebunan kelapa sawit PT. Sakti Mait Jaya Langit sebagai sumber
belajar biologi dalam pembuatan Booklet.

1.4 Manfaat Penelitian


1) Manfaat bagi pendidikan

Guru dapat mengetahui potensi lingkungan sekitar, khususnya perkebunan


kelapa sawit sebagai sumber belajar bagi siswa SMA, selain itu juga
memberi alternatif bahan ajar yang inovatif sehingga dapat memotivasi guru
serta mendorong munculnya kreatifitas-kreatifitas baru yang terkait Materi
yang dapat dipelajari melalui pemanfaatan perkebunan kelapa sawit dapat
diketahui dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga mempermudah
siswa dalam belajar serta memotivasi siswa untuk aktif dalam proses
pembelajaran.
2) Manfaat bagi peneliti
Peneliti memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian dan mencoba
memberi rekomendasi pengembangan sumber belajar dalam bentuk bahan
ajar sehingga mampu meningkatkan keterampilan dirinya.
3) Manfaat ilmiah
Manfaat penelitian ini secara ilmiah yaitu tersedianya data
ilmiah dan informasi mengenai keanekaragaman jenis kupukupu pada kawasan perkebunan kelapa sawit PT. Sakti Mait Jaya
Langit, diharapkan data tersebut dapat menjadi masukan dan
pertimbangan bagi instansi tertentu, yakni BKSDA, yang
terkait dalam penentuan kebijakan pengelolaan kawasan
konservasi habitat alami dan kupu-kupu di Desa Babugus
Kabupaten Kapuas.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
5

Kabupaten Kapuas adalah salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah


dengan ibu kota terletak di Kuala Kapuas. Secara Geografis terletak pada 00 8
48 - 30 27 00 LS dan 1130 2 36 - 1140 44 00 BT. Kabupaten Kapuas pada
umumnya termasuk daerah beriklim tropis dan lembab dengan temperatur
berkisar antara 210 230 Celsius dan maksimal mencapai 360 Celsius. Intensitas
penyinaran matahari selalu tinggi dan sumber daya air yang cukup banyak
sehingga menyebabkan tingginya penguapan yang menimbulkan awan aktif atau
tebal. Curah hujan terbanyak jatuh pada bulan Desember, sedangkan bulan
kemarau jatuh pada bulan Juni sampai dengan September. Dominasi morfologi di
Kabupaten Kapuas memperlihatkan bentuk morfologi daratan berelief rendah
dengan ketinggian 14 meter diatas permukaan laut (BPS Kabupaten Kapuas,
2014).
Luas Wilayah administrasi Pemerintahan Kabupaten Kapuas secara umum
yaitu 14.999 Km2 atau 9,77% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.
Kabupaten Kapuas yang meliputi 17 kecamatan, 17 kelurahan, 231 desa. Batasbatas wilayah Kabupaten Kapuas secara administratif diantaranya sebelah utara
berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Murung Raya dan
Kabupaten Barito Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa dan
Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan, sebelah barat berbatasan
dengan Kabupaten Pulang Pisau, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten
Barito Selatan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Barito Kuala Provinsi
Kalimantan Selatan (BPS Kabupaten Kapuas, 2014).

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Kapuas


Sumber: BPS Kabupaten Kapuas, 2014.
Kabupaten Kapuas memiliki beberapa kawasan budidaya, kawasan yang
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia dan sumber daya buatan. Kawasan budidaya di Kabupaten Kapuas
diantaranya kawasan pariwisata, kawasan industri, kawasan permukiman,
kawasan perikanan, kawasan hutan rakyat, kawasan hutan produksi, kawasan
pertambangan, kawasan pertanian, kawasan perkebunan, dan kawasan peruntukan
lainnya (BPS Kabupaten Kapuas, 2014).
PT. Sakti Mait Jaya Langit (SMJL) adalah salah satu perusahaan kelapa
sawit yang berkembang di Kabupaten Kuala Kapuas. Lokasi PT. Sakti Mait Jaya
Langit berada di Desa Babugus Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas. PT.
Sakti Mait Jaya Langit berdiri pada tahun 2009 dan luas lahan perkebunan kelapa

sawit 10.000 ha. Kecamatan Mantangai berada pada wilayah dengan ketinggian
100-500 meter diatas permukaan laut (BPS Kabupaten Kapuas, 2014)..
2.2 Kelapa Sawit
2.2.1 Habitat Kelapa Sawit
Habitat asli tanaman kelapa sawit adalah daerah semak. Kesuburan tanah
bukan merupakan syarat mutlak bagi perkebunan kelap sawit. Tanaman kelapa
sawit dapat tumbuh diberbagai jenis tanah yaitu daerah yang tidak tergenang air
saat musim hujan dan tidak kekeringan saat musim kemarau dan membutuhkan
iklim dengan curah hujan stabil rata-rata 2000-2500 mm/tahun. Kelapa sawit
dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis, pada ketinggian 500-1000 m diatas
permukaan laut dengan kelembaban 80-90% (Sastrawahyono, 2003). Kelapa sawit
termasuk kedalam famili Aracaceae, genus Eleaeis, dan merupakan speseis
Elaeis Guineensis Jacq. Tanaman kelapa sawit dibedakan atas 2 bagian yaitu
bagian vegetatif dan generatif. Bagian vegetatif tanaman kelapa sawit meliputi
akar, batang dan daun. Bagian generatif tanaman kelapa sawit meliputi bunga dan
buah (Sunarko, 2007).
Kelapa sawit diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda
pada tahun 1848, pada saat itu ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa
dari Muritis dan Amsterdam dan ditanam di Kebun Raya Bogor. Tanaman kelapa
sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911.
Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet, seorang
Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. budi daya yang
dilakukannya diikuti oleh K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa

sawit di Indonesia. Sejak saat itu perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai
berkembang (Sastrawahyono, 2003).
Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera
(Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunannya mencapai 5.123 ha. Indonesia mulai
mengekspor minyak sawit pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke negara-negara
eropa, kemudian pada tahun 1923 mulai mengekspor minyak inti sawit sebesar
850 ton. Tahun 1997, luas areal lahan kelapa sawit mencapai 2,9 juta ha dengan
laju perluasan areal 5-7% per tahun dan produksi minyak mentah sebesar 5,2 juta
ton yang menyumbang 1,39% GDP seluruh sektor (Sastrawahyono, 2003). Tahun
2007 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 6,6 juta ha
(Anonimus, 2007).
2.3 Kupu-Kupu
2.3.1 Morfologi Kupu-Kupu
Tubuh kupu-kupu sama juga seperti tubuh serangga yang lain, terdiri dari
tiga bagian yaitu kepala, dada, dan perut (Morgan, 2007 dalam Utami, 2012).
Menurut Sastrodiharjo, 1989 (Lutfiana, 2013) kepala kupu-kupu berbentuk bulat
kecil, terdapat sepasang antena, mata majemuk, dan alat penghisap nektar
(haustellate) dalam bentuk probosis yang dapat digulung pada saat tidak
digunakan.
Sepasang antena pada serangga merupakan organ penerima rangsang
seperti bau, rasa, raba dan panas. Antena serangga terdiri dari 3 ruas. Ruas dasar
disebut scope, ruas kedua disebut pedisel dan ruas ketiga disebut flagellum
(Jumar, 2000). Menurut Noerdjito dan Aswari, 2003 (Lutfiana, 2013) pada
beberapa famili kupu-kupu memiliki antena bagian ujung membesar (clubbed),

berbentuk gada. Menurut (Jumar, 2000) antena bentuk gada dibedakan menjadi
empat macam yaitu clavate, capitate, lamellate, dan flabelate. Antena bentuk
clavate dan capitate terdapat pada kupukupu, sedangkan antena bentuk lamellate
dan flabellate terdapat pada kumbang. Antena kupu-kupu dapat dilihat pada
gambar 2.2.

Gambar 2.2 Antena kupu-

kupu (a. clavate; b.

capitate)
Sumber: Jumar, 2000.

Kupu-kupu

mempunyai mata yang

cukup tajam terutama untuk

jarak dekat, sehingga

kupu-kupu mampu terbang

di

antara

pepohonan

(Suhara, 2009). Kupu-kupu mempunyai dua mata majemuk yang besar dengan
6000 omatidium dan dua mata mata tunggal atau oceli (Purnomo & Haryadi, 2007
dalam Rahayu, 2012). Mata majemuk atau mata facet terdiri atas sejumlah (bisa
sampai beberapa ribu) satuan-satuan individual yang dinamakan omatidia (Jumar,
2000). Mata majemuk berfungsi untuk melihat karena terdapat omatidia yang
merupakan lensa-lensa dan berfungsi untuk membentuk bayangan, sedangkan
mata tunggal tidak berfungsi membentuk bayangan tetapi untuk mengetahui

10

perubahan intensitas cahaya (Purnomo & Haryadi, 2007 dalam Rahayu, 2012).
Mata Kupu-kupu dapat dilihat pada gambar 2.3.
Menurut (Jumar, 2000) Probosis terbentuk dari sepasang galea (bagian dari
maksila). Saluran makanan terletak diantara galea, sedangkan saluran ludah
khusus tidak ada. Labrum tereduksi menjadi sklerit kecil melintang pada bagian
tepi bawah frons. Mandibel dan hipofaring tidak ada. Palpus maksila biasanya
tereduksi atau tidak ada, tetapi palpus labium biasanya berkembang sempurna.
Pada tipe alat mulut ini tidak terdapat alat untuk menusuk, sehingga untuk
mengambil makanan berupa cairan dilakukan dengan cara menghisapnya melalui
probosis. Pada saat digunakan, probosis terjulur dan memanjang akibat adanya
tekanan darah dan dapat tergulung kembali akibat elastisitasnya. Probosis kupukupu dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Mata kupu-kupu dan probosis kupu-kupu


Sumber: Jumar, 2000.

Tungkai atau kaki kupu-kupu terdiri atas koksa, trokhanter, femur, tibia
dan tarsus. Tarsus biasanya 5 ruas yang dilengkapi dengan sepasang cakar (Lilies,
1991 dalam Yustitia, 2012). Jumlah dari ruas-ruas tarsus ini sangat bervariasi
tergantung jenis kelaminnya. Kaki depan kupu-kupu biasanya sangat sensitif,
sangat berguna dalam mengenali adanya nektar, bunga, atau pasangannya. Kaki

11

kupu-kupu kadang-kadang dilengkapi dengan cakar yang berguna untuk


membantu berjalan (Sutrisno & Darmawan, 2010 dalam Maulida,

2011).

Kebanyakan Lepidoptera mempunyai sayap depan agak segitiga dan sayap


belakang agak membulat, tetapi banyak yang mempunyai sayap-sayap lebih
memanjang (Boror et al., 1992). Sayap merupakan organ yang terpenting bagi
pergerakan kupu-kupu berupa selaput tipis dan dilengkapi dengan vena-vena
sehingga memperkuat melekatnya sayap pada toraks (Noerdjito & Aswari, 2003
Maulida, 2011). Kupu-kupu mempunyai 2 pasang sayap, sayap belakang sedikit
lebih kecil dari sayap depan, sayap ditutupi dengan sisik (Lilies, 1991 dalam
Yustitia, 2012). Sisik-sisik ini membuat sayap kupu-kupu menjadi berwarnawarni. Warna yang terlihat pada kupu-kupu bukan hanya hasil pigmentasi pada
rambut dan sisik, tetapi juga dari struktur punggung dan refleksi dari differensiasi
lapisan cahaya yang mengakibatkan timbulnya warna (Elzinga, 1987 dalam
Lutfiana, 2013). Sisik kupu-kupu dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Sisik kupu-kupu


Sumber: biologigonz.blogspot.com, 2008.
Toraks merupakan bagian tengah kupu-kupu yang berfungsi sebagai alat
penggerak, tempat kaki dan sayap menempel. Toraks terdiri dari tiga segmen yang
disebut segmen toraks depan (protoraks), segmen toraks tengah (mesotoraks) dan

12

segmen toraks belakang (metatoraks) (Hadi et al., 2009 dalam Rahayu, 2012).
Menurut Suhara (2009) pasangan kaki depan menempel pada protoraks, sedang
kaki tengah dan pasangan sayap depan melekat pada mesotoraks. Metatoraks
tempat melekatnya pasangan kaki belakang dan pasangan sayap belakang. Ruas
toraks kedua dan ketiga (meso dan metatoraks) merupakan pendukung kuat dari
kedua pasangan sayap kupu-kupu. Disamping adanya kaki dan sayap, di kedua
belah sisi toraks dilengkapi dengan 2 pasang lubang spirakel, yang berfungsi
sebagai lubang pernafasan.
Abdomen terdiri dari 7 segmen, segmen terakhir merupakan organ
reproduksi. Segmen ujung merupakan alat kelamin kupu-kupu, pada alat kelamin
jantan terdapat aedeagus (alat penyalur spermatozoa) dan sepasang alat pembantu
berbentuk penjepit (klasper), sedangkan pada betina segmen tersebut berubah
menjadi spermateka (bagian yang menerima dan mennyimpan spermatozoa) dan
ovipositor atau alat untuk meletakkan telur (Sastrodiharjo, 1989 dalam Lutfiana,
2013). Di dalam abdomen ini terdapat alat pencernaan, jantung, organ ekskresi
dan organ reproduksi, serta sistem otot yang kompleks (Suhara, 2009). Morfologi
kupu-kupu dapat dilihat pada Gambar 2.5.

13

Gambar

2.5 Morfologi

Kupu-

kupu
Sumber: Jumar, 2000.

2.3.2 Taksonomi Kupu-Kupu


Menurut (Borror et al. 1992), kupu-kupu termasuk ke dalam filum
Arthropoda, dari kelas Insekta, dan ordo Lepidoptera. Ordo Lepidoptera berasal
dari kata lepido yang berarti sisik dan ptera yang berarti sayap. Sisik ini yang
memberi corak dan warna pada sayap, seranga-serangga ini umum dan dikenal
oleh setiap orang. Ordo lepidoptera berdasarkan bentuk tubuh dan aktivitasnya
memiliki tiga sub ordo yaitu Frenatae (ngengat), dan Jugatae (kupu primitif),
Rhopalochera (kupu-kupu).
Kupu-kupu jumlahnya di dunia tidak pasti dan banyak ahli membuat
perkiraan tentang jumlah kupu-kupu tersebut. Menurut Gillot, 2005 (Rahayu,
2012), lepidoptera yang sudah dideskripsikan di dunia sekitar 230.000 spesies,
11.000 spesies dari Amerika Utara, 10.000 spesies dari Australia, dan 2.000
spesies dari Inggris. Menurut Gullan dan Craston, 2005 (Rahayu, 2012), ada
sekitar 150.000 spesies lepidoptera yang sudah dideskripsikan. Lebih dari 900

14

spesies kupu-kupu sudah dideskripsikan di Malaya (Tweedie & Longmans, 1953


dalam Rahayu, 2012).
Di Indonesia, belum ada data yang pasti mengenai jumlah jenis kupukupu. Di Pulau Sumatera diperkirakan terdapat tidak kurang dari 1.000 spesies
kupu-kupu, walaupun data tentang keanekaragaman kupu-kupu di Sumatera
belum lengkap, di Taman Nasional Way Kambas terdapat 77 spesies, Taman
Nasional Bukit Barisan Selatan 185 spesies, dan Taman kupu-kupu Gita Persada,
Gunung Betung Lampung 107 (Soekardi, 2007 dalam Rahayu, 2012). Penelitian
Dahelmi et al. 2012 melaporkan bahwa di Sumatera Barat tercatat sekitar 325
spesies kupu-kupu, hulu Provinsi Riau terdapat 150 spesies kupu-kupu, Taman
Nasional Kerinci Seblat Jambi terdapat 230 spesies kupu-kupu (Dahelmi et aL,
2012).
Kupu-kupu yang umum ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan
diantaranya adalah Famili Papilionidae, Piaridae, Lycaenidae, Libytheidae,
Nymphalidae, Satyridae, dan Danidae (Jumar, 2009).
1) Famili Papilionidae
Kupu-kupu ekor burung walet dan Parnassiae: Dua subfamili Papilionidae
dan Parnassiae ini kadang-kadang diberikan tingkat famili. Papilionidae
(Kupu-kupu ekor burung walet) berukuran besar, biasanya kupu-kupu yang
berwarna gelap yang mempunyai radius pada sayap depan lima cabang dan
biasanya mempunyai satu atau lebih perpanjangan seperti ekor pada sisi
belakang dari sayap belakang. Parnassiae berukuran sedang dan biasanya
putih atau abu-abu dengan tanda-tanda yang gelap; radius pada sayap depan

15

bercabang empat; dan tidak ada perpanjangan seperti ekor pada sayap-sayap
belakang. Famili Papilionidae dan venasi sayap dapat dilihat pada Gambar
2.6 dan Gambar 2.7.

Gambar 2.6 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Papilionidae


Sumber: Borror et,al., 1992 & White, 1970.

Gambar 2.7 Jenis Kupu-kupu Papilionidae


Sumber: http://gogobd.blogspot.com, 2008.
2) Famili Pieridae
Kupu-kupu ujung orange, kupu-kupu putih, kupu-kupu belerang: Pieridae
adalah kupu-kupu berukuran sedang sampai kecil, biasanya putih atau

16

kekuning-kuningan dengan tanda-tanda hitam pada tepi sayap. Radius pada


sayap depan biasanya bercabang tiga atau empat (jarang lima cabang pada
beberapa kupu-kupu orange), tungkai-tungkai depan bagus berkembang, dan
kuku-kuku tarsus terbelah dua, krisalid memanjang sempit dan ditautkan oleh
kremaster oleh satu sabuk sutera sekitar tengah badan. Pieridae sangat umum
dan kupu-kupu yang banyak dan kadang-kadang terlihat dalam migrasi masal.
Famili Papilionidae dan venasi sayap dapat dilihat pada Gambar 2.8 dan
Gambar 2.9.

Gambar 2.8 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Pieridae


Sumber: Borror et,al., Borror et,al., 1992 & White, 1970.

17

Gambar 2.9 Jenis Kupu-kupu Pieridei


Sumber: http://delias-hyparete.com, 2008.
3) Famili Lycaenidae
Kupu-kupu tembaga, kupu-kupu bergaris rambut, kupu-kupu beri, kupu-kupu
pemanen, dan kupu-kupu tanda logam: ini adalah kupu-kupu yang kecil, dan
seringkali berwarna cemerlang. Tubuh ramping, sungut-sungut biasanya
dilingkari dengan warna putih, dan terdapat sebuah garis sisik-sisik putih
yang mengelilingi mata. Radius pada sayap depan tiga atau empat cabang
(tiga cabang pada Thechlinae, empat cabang pada subfamili lainnya).
Tungkai-tungkai normal pada yang betina tetapi lebih pendek dan tidak
mempunyai kuku-kuku tarsus pada yang jantan. Larva Lycaenidae, gepeng
dan seperti siput, mengeluarkan embun madu yang menarik semut-semut dan
beberapa hidup di dalam sarang-sarang semut. Krisalid cukup halus dan
ditempelkan oleh kremaster dengan sebuah sabuk sutera kira-kira ditengah
tubuh. Lycaenidae yang dewasa adalah penerbang-penerbang yang cepat.
Famili Papilionidae dan venasi sayap dapat dilihat pada Gambar 2.10 dan
Gambar 2.11.

18

Gambar 2.10 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Lycaenidae


Sumber: Borror et,al., 1992 & White, 1970.

Gambar 2.11 Jenis Kupu-kupu Lycaenidae


Sumber: http://zenithkawaii1.blogspot.com, 2011.
4) Famili Libytheidae
Kupu-kupu bermoncong: adalah kupu-kupu kecil kecokelat-cokelatan dengan
palpus panjang yang menjulur. Kupu-kupu jantan mempunyai tungkaitungkai panjang yang menyusut, hanya dengan tungkai-tungkai tengah dan
belakang yang dipakai berjalan, sedangkan yang betina mempunyai tungkaitungkai depan lebih panjang dan digunakan mereka untuk berjalan. Jenis

19

Libytheana bachmanii adalah umum dan sangat luas tersebar. Libytheidae ini
adalah kupu-kupu cokelat kemerah-merahan dengan bintik-bintik putih pada
bagian ujung sayap-sayap depan dengan tepi bagian luar sayap-sayap depan
agak berlekuk sangat dalam. Famili Papilionidae dan venasi sayap dapat
dilihat pada Gambar 2.12 dan Gambar 2.13.

Gambar 2.12 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Libytheidae


Sumber: Borror et,al., 1992 & White, 1970.

Gambar 2.13 Jenis Kupu-kupu Libytheidae


Sumber: http://zenithkawaii1.blogspot.com, 2011.

20

5) Famili Nymphalidae
Kupu-kupu berkaki sikat: adalah satu kelompok yang cukup besar dan
mencakup banyak kupu-kupu yang umum. Nama umum dari famili ini
merujuk pada fakta bahwa tungkai-tungkai depan sangat menyusut dan hanya
tungkai-tungkai tengah dan belakang dipakai untuk berjalan. Famili
Papilionidae dan venasi sayap dapat dilihat pada Gambar 2.14 dan Gambar
2.15.

Gambar 2.14 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Nymphalidae


Sumber: Borror et,al., 1992 & White, 1970.

Gambar 2.15 Jenis Kupu-kupu Nymphalidae


Sumber: http://zenithkawaii1.blogspot.com, 2011.

21

6) Famili Satyridae
Kupu-kupu satyridae, adalah kupu-kupu nimfa kayu, dan kupu-kupu Arctic:
kupu-kupu ini berukuran kecil sampai sedang, biasanya keabu-abuan atau
coklat, dan biasanya mempunyai bintik-bintik seperti mata pada sayap.
Radius pada sayap-sayap depan lima cabang, dan beberapa rangka sayap pada
sayap-sayap depan (terutama Sc) sedikit menggembung di dasar. Krisialis
biasanya ditautkan oleh kremaster pada daun-daun dan obyek-obyek lain.
Famili Papilionidae dan venasi sayap dapat dilihat pada Gambar 2.16 dan
Gambar 2.17.

Gambar 2.17 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Satyridae


Sumber: Borror et,al., 1992 & White, 1970.

22

Gambar 2.18 Jenis Kupu-kupu Satyridae


Sumber: www.bvo.zadweb.biz.com, 2012.
7) Famili Danaidae
Kupu-kupu gulma susu: adalah kupu-kupu yang besar dan berwarna orange
cerah biasanya dengan tanda-tanda hitam dan putih. Tungkai-tingkai depan
sangat kecil, tanpa kuku-kuku, dan tidak dipakai untuk berjalan. Radius pada
sayap depan bercabang lima, sel diskal tertutup oleh rangka-rangka sayap
yang berkembang baik; dan terdapat rangkap sayap anal ketiga yang pendek
pada sayap depan. Larva memakan gulma susu. Krisalid tergantung oleh
kremaster pada daun-daun atau obyek-obyek lainnya. Kupu-kupu dewasa
dilindungi oleh cairan-cairan tubuh yang tidak enak. Jenis yang paling umum
dalam kelompok ini adalah kupu-kupu raja Danaus plexippus L. yang
terdapat diseluruh Amerika Serikat dan sebagian besar dari sisa dunia. Famili
Papilionidae dan venasi sayap dapat dilihat pada Gambar 2.19 dan Gambar
2.20.

23

Gambar 2.19 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Danaidae


Sumber: Borror et,al., 1992 & White, 1970.

Gambar 2.20 Venasi Sayap Kupu-kupu Famili Danaidae


Sumber: http://www.uni.illinois.edu, 2011.
2.3.3 Siklus Hidup Kupu-Kupu
Kupu-kupu termasuk serangga holometabola yaitu serangga yang
mengalami proses metamorfosis yang sempurna, mengalami perubahan stadia
mulai dari telur, larva, pupa, dan imago (Jumar, 2000). Telur kupu-kupu biasanya
diletakkan tersembunyi oleh kupu-kupu betina (induk) misalnya, di bagian bawah
24

daun pada tanaman inang yang cocok untuk makanan larvanya., agar terhindar
dari terik matahari dan musuh-musuh alaminya (Amir dkk, 2003 dalam Maulida,
2011).

Gambar 2.10 Metamorfosis Kupu-kupu


Sumber: Science Library, How Animals Live, 2004.
Telur yang sudah menetas akan menjadi larva, terkadang sering terjadi
kanibalisme, hal ini disebabkan larva kupu-kupu muda yang baru keluar sudah
mulai membutuhkan makanan. Larva yang baru muncul dari telur, biasanya akan
menggerombol di suatu tempat untuk makan yang disediakan oleh induknya.
Larva memiliki kaki yang pendek, luwes dan di bagian bawahnya terdapat kaitkait yang memungkinkan mereka dapat makan walaupun dalam keadaan posisi
terbalik diantara dedaunan. Kait-kait tersebut digerakkan oleh otot-otot penggerak
yang kuat (Amir dkk, 2003 dalam Maulida, 2011).
Larva yang baru menetas dari telur berukuran sangat kecil, panjangnya
sekitar 2-3 mm. Stadium ini dikenal dengan stadium makan yang intensif,
sebagian besar pertumbuhan badan kupu-kupu terjadi pada stadium ini. Larva
mengalami pergantian kulit, kulit lama akan dilepaskan dan diganti dengan kulit
baru yang ukurannya sesuai. Stadium larva umumnya mengalami lima pergantian
kulit, tergantung pada jenis dan kesehatan larvanya. Metabolisme tubuh larva
25

tergantung pada kondisi lingkungan, peningkatan suhu tubuh mengarah ke


peningkatan laju respirasi (Suhara, 2009).
Kualitas makanan sangat berpengaruh terhadap metabolisme serangga
khususnya kupu-kupu dan produksi senyawa sekunder oleh jaringan tanaman
mempengaruhi perkembangan larva (Efendi, 2009 dalam Febrita 2014). Larva
kupu-kupu mempunyai alat perlindungan dari serangan predator atau pengganggu
lain, yakni mengeluarkan Osmeterium semacam zat beracun yang berbau tidak
enak melalui suatu alat seperti antena pada bagian kepala dari larva tersebut.
Larva yang mencapai umur 12-39 hari akan berhenti makan dan mulai memasuki
stadium kehidupan pupa. Larva akan mengalami perubahan bentuk, pada saat itu
berkembang pula organ tubuh yang digunakan pada waktu menjadi dewasa. Organ
tubuh tersebut dapat berupa antena, kaki, mata majemuk, sayap, dan organ genital
(Amir dkk, 2003 dalam Maulida, 2011).
Pupa tidak mempunyai kaki yang berfungsi untuk bergantung pada waktu
kulit larva dilepaskan. Sebelum menjadi pupa, larva tersebut membuat landasan
sutera di ujung abdomennya atau semacam kait, hal ini dilakukan untuk
menopang atau bergantungnya badan pupa selama masa pupa selesai. Pupa
tersebut robek dan keluar tubuh kupu-kupu yang masih basah oleh cairan pupa.
Kupu-kupu yang baru keluar dari pupa tersebut masih lemah dan warna tubuhnya
juga belum terlihat keindahannya. (Allen dkk, 2005 dalam Utami, 2012).
Ketika kupu-kupu muncul dari pupa, kupu-kupu tidak mampu untuk
terbang. Kupu-kupu akan menggantung terbalik pada cangkang pupa kosong atau
pada cabang terdekat atau daun. kupu-kupu perlu waktu untuk memompa cairan
tubuhnya agar sayap dapat mengembang, hal ini dapat memakan waktu hingga

26

satu jam, setelah sayap meningkat dan mengeras kupu-kupu akan terbang jauh
untuk mencari makanan dan pasangan (Glassberg, 2001 dalam Utami, 2012).
Proses pertumbuhan kupu-kupu, terjadi proses pergantian kulit yang
dikenal dengan istilah ecdysis dan molthing, sisa kulit yang ditinggalkan disebut
exuviae. Selama pertumbuhan berlangsung akan mengalami beberapa kali
pergantian kulit dan bentuk kupu-kupu antara dua masa pergantian kulit disebut
instar (Jumar, 2000).
Molthing dan metamorfosis kupu-kupu dikontrol oleh beberapa hormon
efektor diantaranya (Achmad, 2002 dalam Maulida, 2011):
1) Juvennil hormon, disekresikan oleh corpora allata. Sel sekretori corpora
allata aktif selama larva molthing. Selama hormon juvennil terbentuk
hidrosi Ecdysone menstimulasi molthing dan menghasilkan larva instar yang
baru. Juvennil hormon juga berfungsi untuk mencegah perubahan induksi
Ecdysone pada ekspresi gen yang penting saat terjadi metamorfosis.
2) Ecdysone, berfungsi untuk menginisiasi, mengkoordinir atau mengatur tiap
tahapan molthing serta regulasi perubahan ekspresi gen yang terjadi selama
metamorfosis melalui proses ecdysis.
3) Prothoracicotropic (PTIH), adalah hormon peptida yang menstimulasi
ecdysone dari kelanjar prothoracic. Proses molthing diinisasi di otak, sel
neurosekretori menghasilkan hormon Prothoracicotropic yang merespon
neural, hormonal, atau sinyal lingkungan.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian

27

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan


metode survei. Penelitian ini merupakan upaya pengumpulan informasi dari
sebagian populasi yang dianggap dapat mewakili populasi tertentu, untuk
memperoleh fakta dan mencari keterangan secara faktual. Langkah-langkah dalam
penelitian deskriptif ini adalah menginventarisasi, mendeskripsi, mengidentifikasi,
dan mengklasifikasi (Nuraedi, 2010).
3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 minggu pada bulan Februari 2017.
Tempat atau lokasi penelitian adalah area perkebunan kelapa sawit PT. Sakti Mait
Jaya Langit yang berada di Desa Babagus Kecamatan Mantangai Kabupaten
Kapuas.
3.3 Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Jaring serangga
(insect net) kandang jaring serangga (insect cage), kotak insektarium, jarum paku,
kertas label, sprayer, penggaris, gabus, kamera canon tipe 60D, dan lup. Bahan
yang digunakan antara lain: Alkohol 70% dan kamper.
3.4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu
menjelajah daerah yang terdapat spesies kupu-kupu pada area perkebunan kelapa
sawit PT. Sakti Mait Jaya Langit dengan cara penangkapan langsung
menggunakan jaring serangga (insect net). Biasanya teknik survei ini bertujuan
untuk memperoleh suatu karakteristik dari ukuran populasi, sehingga metode
pengukuran yang digunakan meliputi indeks keanekaragaman,
28

kekayaan jenis, indeks kemerataan dan indeks dominansi (Nuraedi,


2010).
3.5 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah jenis kupu-kupu yang terdapat di area
perkabunan kelapa sawit PT. Sakti Mait Jaya Langit. Sedangkan sampel dalam
penelitian ini diambil dari semua jenis kupu-kupu yang tertangkap menggunakan
jaring serangga (insect net) di lokasi penelitian area perkabunan kelapa sawit PT.
Sakti Mait Jaya Langit.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan jaring serangga
(insect net). Penangkapan menggunakan jaring serangga dilakukan di tempat yang
biasanya di kunjungi kupu-kupu seperti di sekitar tumbuhan pakan, di area
terbuka, dan disekitar sumber air. Teknik ini merupakan yang paling umum dan
sering dilakukan oleh para kolektor untuk mencari dan mengumpulkan serangga.
3.7 Metode Analisis Data
1) Indeks Keanekaragaman Jenis
Nilai indeks keanekaragaman jenis ditentukan dengan menggunakan rumus
indeks keanekaragaman Shanon-Wiener (Maguran, 1988).
ID=H ' = Pi ln Pi

dimana

Keterangan:
ni
= jumah individu tiap jenis kupu-kupu
N

= jumlah total seluruh jenis kupu-kupu

29

Pi=

ni
N

H ' = indeks keanekaragaman Shanon-Wiener


Pi

= indeks kemelimpahan

2) Indeks Kekayaan Jenis


Kekayaan jenis setiap kupu-kupu terdapat dalam suatu komunitas dapat
diketahui dengan indeks kekayaan jenis. Indeks kekeyaan jenis dihitung
menggunakan indeks Margalef (Maguran, 1988).
DMg =( S1)
ln N
Keterangan:
DMg
= indeks kekayaan jenis Margalef
S
N

= jumah jenis individu


= jumlah total individu dalam sampel

3) Indeks Kmerataan (E)


Kemerataan penyebaran

jenis

kupu-kupu

dalam

suatu

komunitas dapat diketahui dengan indeks kemerataan.


Indeks kemerataan dihitung dengan menggunakan rumus
indeks Evenness (e) (Magurran, 1988).
H'
E=
H ' max adalah ln S
H max dimana
Keterangan:
E
= indeks kemerataan nilai (nilai antara 0-1)
H'
S

= indeks keanakeraman Shanon-Weiener


= jumlah jenis kupu-kupu (individu)

4) Indeks Dominasi
Penentuan jenis kupu-kupu yang dominan di dalam kawasan
penelitian, ditentukan dengan menggunakan rumus Indeks
Dominansi Simpson (Magurran, 1988).

30

D= Pi 2

Pi=

dimana

ni
N

Keterangan:
D
= indeks dominasi Simpson suatu jenis kupu-kupu
ni
= jumlah individu suatu jenis
N

= jumlah individu dari seluruh jenis

5) Analisis Penyebaran Kupu-kupu


Analisis penyebaran jenis
melihat

penyebaran

kupu-kupu

kupu-kupu

secara

digunakan
spasial

untuk
dengan

menggunakan nilai frekuensi ditemukannya jenis kupu-kupu


dalam stasiun sensus pengamatan. Rumus yang digunakan
(Fachrul 2007) adalah sebagai berikut:

Frekuensi Jenis ( F )=

Frekuensi Relatif ( FR ) =

stasiun sensus ditemukannya suatu jenis


Seluruh stasiun sensus

Frekuensi Jenis
x 100
Frekuensi Seluruh Jenis

3.8 Prosedur Penelitian


1) Penentuan Lokasi Penelitian
Berdasarkan hasil survei, maka area penelitian ditentukan terlebih dahulu
dan dibuat denah area lokasi penelitian. Lokasi penelitian terbagi menjadi 3
(tiga) stasiun yaitu pada lokus B12, C8, dan C9 divisi 1 berdasarkan lokasi
yang belum pernah terkena insektisida. Selanjutnya penangkapan kupukupu dapat dilakukan di lokus manapun apabila terdapat kupu-kupu diluar
lokus yang ditentukan, dengan catatan tetap dalam lokasi perkebunan
31

kelapa sawit PT. Sakti Mait Jaya Langit. Sketsa kawasan lokasi penelitian
dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Sketsa Kawasan Lokasi Penelitian


Sumber: Dokumen Pribadi
2) Penangkapan Kupu-Kupu
Penangkapan kupu-kupu dalam penelitian ini yaitu menggunakan jaring
serangga (insect net) dengan menyusuri lokus B12, C8, dan C9 divisi 1
berdasarkan lokasi yang belum pernah terkena insektisida yang telah
ditentukan pada pagi hari (pukul 08.00-12.00) dan sore (pukul 14.00-17.00).
Kupu-kupu yang berhasil ditangkap dengan jaring kemudian ditempatkan di
dalam kandang jaring serangga (insect cage) sebagai tempat sementara.
3) Identifikasi Kupu-kupu
Identifikasi kupu-kupu dilakukan dengan mengamati bagian-bagian tubuh
kupu-kupu menggunakan acuan Buku Identifikasi Borror et,al., (1992) dan
White, R.E (1970) untuk identifikasi tingkat famili dan untuk identifikasi
tingkat spesies dilakukan dengan cara membandingkan bagian-bagian tubuh
kupu-kupu dan corak yang terdapat pada sayap kupu-kupu menggunakan
acuan kunci identifikasi Schulze, C.H (2005).
4) Klasifikasi Kupu-Kupu
Jenis kupu-kupu yang telah diidentifikasi dan dideskripsikan, selanjutnya
diklasifikasikan (dikelompokkan) sesuai dengan takson ciri morfologi yang
terdapat pada kupu-kupu.
5) Pembuatan Insektarium Kupu-Kupu

32

Pembuatan insektarium kupu-kupu yaitu diawali dengan menekan bagian


torak dari kupu-kupu untuk mematikan kupu-kupu selanjutnya kupu-kupu
disemprotkan menggunakan alkohol 70%. Proses pengeringan kupu-kupu
cukup dilakukan dalam ruangan pada suhu kamar kemudian menempatkan
kupu-kupu di atas gabus (sterofom) dengan posisi sayap direntangkan, kupukupu disimpan dalam kotak insektarium yang tertutup rapat yang sudah
dibersihkan menggunakan alkohol 70% dan diberi kamper untuk
menghindari semut.
6) Dokumentasi
Semua kegiatan yang dilakukan selama proses penelitian dan hasil
penangkapan kupu-kupu didokumentasikan dan dijadikan sebagai bukti dan
hasil data penelitian yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Aedi, N. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Penulisan Proposal dan Laporan
Penelitian. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Anonimous. 2012. Lokasi Kecamatan
/BPS/MO_99/, (03 Desember 2014).

Mantangai

http://168.143.107.22

Andri. 2014. Tinjauan Tentang Inventarisasi. http://kasingkabotan.blogspot. com/


2014/02/ tinjuan-tentang-inventarisasi.html?m=1.
Borror D.J, Triplehorn C.A, Johnson N.F. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga.
Edisi Keenam. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Terjemahan
dari: Introduction to the Study of Insect. Sixth Edition.

33

BPS Kabupaten Kapuas. 2014. Kabupaten Kapuas dalam Angka 2014. Kapuas :
BPS Kabupaten Kapuas.
Dahelmi., Salmah., Novri Sea Mega Sutra. 2012. Spesies Kupu-Kupu
(Rhopalocera) di Tanjung Balai Karimun Kabupaten Karimun Kepulauan
Riau. Jurnal Biologi Vol. 9 No. 1:19-21. Padang: Universitas Andalas.
Fachrul MF. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi
Aksara.
Febrita, E., Yustina., Dahmania. 2014. Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu di
Kawasan Wisata Hapanasan Rokan Hulu Sebagai Sumber Belajar Pada
Konsep Keanekaragaman Hayati. Jurnal Biogenesis, Vol. 10, Nomor 2
Riau: Universitas Riau Pekanbaru.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.
Lutfiana, N. 2013. Inventarisasi Kupu-Kupu (Lepidoptera) Di Perkebunan Durjo
Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember. Skripsi. Jember: Universitas
Jember.
Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement.
New Jersey:
Pricenton University Press.
Maulida, N.A. 2011. Media Peletakkan Telur dan Siklus Hidup Graphium
agamemnon L. (Lepidoptera: Papilionidae) pada Tanaman Glodokan di
Kampus I Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi.
Jakarta: Universitas Islam Negeri Jakarta.
Rahayuningsih, M., R. Oqtariana., B. Priyono M. 2012. Keanekaragaman Jenis
Kupu-Kupu Superfamili Papilionoidae di Dukuh Banyuwindu Desa
Limbangan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Jurnal Penelitian
MIPA Vol.35 No.1: 11-20. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Rahayu, E.S., Hawa Tuarita. 2013. Struktur Komunitas Kupu-kupu pada Area
Wana Wisata Air Terjun Coban Rais di Batu. Jurnal Penelitian Biologi
Sains Lingkungan dan Pembelajarannya Vol.9 No.1: 9-20. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Rahayu, S.E. 2012. Keanekaragaman Spesies dan Distribusi Kupu-kupu
Lepidoptera; Rhopalochera di Beberapa Tipe Habitat di Hutan Kota
Muhammad Sabki Kota Jambi. Skripsi. Jawa Barat: Universitas Indonesia.
Sastrawahyono, 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
34

Schulze, C.H. 2005. Identification guide For butterflies of West Java Families
Papilionidae, Pieridae and Nymphalidae.
Suhara. 2009. Ornitophtera goliath Si Cantik dari Papua. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Sunarko, 2007. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengelolaan Kelapa Sawit.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Utami, E.N. 2012. Komunitas Kupu-kupu Ordo Lepidoptera: Papilionidae di
Kampus Universitas Indonesia Depok Jawa Barat. Skripsi. Jawa Barat:
Universitas Indonesia.
White, R.E., Donald J. B. 1970. Insects. Houghton Mifflin Company: New York.
Yustitia, S. 2012. Keanekaragaman dan Kelimpahan Kupu-kupu di Kebun Botani
UPI Bandung. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

35