You are on page 1of 13

INVAGINASI KEPERAWATAN ANAK I

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN
INVAGINASI
KEPERAWATAN ANAK I

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nida hidayati
Nofia Putri Handayani
Nomika Sanjani
Novia Rizki
Nur Isniani Ningsih
Nurul Khashinah
Penti Sari Ningsih

DOSEN PEMBIMBING :
Ati Badi’ah
MAHASISA / MAHASISWI :
(201110201111)
(201110201114)
(201110201115)
(201110201116)
(201110201117)
(201110201118)
(201110201119)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AISYIYAH YOGYAKARTA
TA. 2013-2013
BAB I
TINJAUAN TEORI
A. LATAR BELAKANG
Intususepsi merupakan salah satu bentuk dari obstruksi usus. Obstruksi usus terdapat dua
jenis yaitu ileus paralitik yang disebabkan pengaruh toksin dan obstruksi mekanik dimana
terdapat obstruksi intralumen. Dalam hal ini intususepsi tergolong dalam obstruksi mekanik
yaitu adanya invaginasi usus ke dalam bagian usus di bawahnya.
Sehingga akan mengakibatkan terjadinya suatu sumbatan pada lumen usus.
Intususepsi merupakan penyebab paling sering dari obstruksi usus pada usia 2 bulan – 6
tahun. Walaupun sebagian kecil intususepsi dapat terlepas spontan namun pada kebanyakan
kasus bila tidak diobati akan berakibat kematian.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Bayi/anak dengan
Intususepsi adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui gangguan saluran pencernaan pada bayi dan anak yang disebabkan oleh
obstruksi pada usus yaitu intususepsi.

BAB II KONSEP DASAR A. hemoragi akibat . Ileo-colica berarti ileum sebagai intussusceptum dan colon sebagai intussuscipiens. (Nettina. sebagian usunya menerobos (invaginasi) ke dalam disktal yang berdektan. misalnya ileo-ileal menunjukkan invaginasi hanya melibatkan ileum saja. Biasanya bagian proksimal masuk ke distal. invaginasi ileum masuk ke dalam kolon desendens). jarang terjadi sebaliknya. paling jarang tipe appendical Colica. Invaginasi ialah suatu keadaan. Invaginasi pada anak biasanya bersifat idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Pada penderita invaginasi / intususepsi. Oleh karena itu. 1999). colocolica dan appendical-colica. Invaginasi atau intususepsi sering ditemukan pada anak dan agak jarang pada orang dewasa. Ketika terjadi invaginasi segmen usus. Kebanyakan ditemukan pada kelompok umur 2 – 12 bulan. Invaginasi ini menyebabkan edema. peristalsi mendorongnya disepanjang usus. ileo. (Nelson. Ileo-colica yang paling banyak ditemukan (75%). Segmen yang menerima disebut intutsusipien. invaginasi disebut juga intussusception. lain-lain 10%. Kombinasi lain dapat terjadi seperti ileo-ileo colica.ileo colica 15%. sebagian usus masuk ke dalam usus berikutnya. dan lebih banyak pada anak laki – laki. Intusussepsi bisa fatal. 2002) Suatu invaginasi atau intususepsi terjadi bila sebagian saluran cerna terdorong sedemikian rupa sehingga sebagian darinya akan menutupi sebagian lainnya hingga seluruhnya mengecil atau memendek ke dalam suatu segmen yang terletak di sebelah kaudal. PENGERTIAN Invaginasi atau intususepsi adalah masuknya bagian usus ke dalam perbatasan atau bagian yang lebih distal dari usus (umumnya. Mengetahui dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dan bayi dengan gangguan obstruksi usus intususepsi. Pemberian nama invaginasibergantung hubungan antara intussusceptum dan intussuscipiens. Bagian usus yang masuk di-sebut intussusceptum dan bagian yang menerima intussuscepturn dinamakan intussuscipiens. sehingga lebih banyak menarik bagian usus bersama dengannya.2. terutama jika usus yang mengalami strangulasi terlambat ditangani.

PADA BAYI. KLASIFIKASI Klasifikasi berdasarkan pada lokasi invaginasi: 1. 3. D. Colocolic : colon masuk ke dalam colon. bercak jaringan limfoid yang membengkak dapat merangsang timbulnya gerakan peristaltic usus dalam upaya untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan intususepsi. ANAK DEMAM DAN PERUT MENGEMBUNG 6. 4. suatu polip usus.bercak peyeri yang banyak terdapat di dalam ileum mungkin berhubungan dengan keadaan tersebut. inkaserasi dan obstruksi. MENDADAK. 3. Ileocaecal : ileum masuk ke dalam colon ascendens pada katub ileocaecal. seperti divertikulum meckeli terbalik. Intususepsi paling sering menyerang bayi dan tiga kali lebih banyak terjadi pada pria dari pada wanita. disertai rangen. Pada puncak insidens penyakit ini.penyebab yang dikenali. NYERI PERUT HEBAT. saluran cerna bayi juga mulai diperkenalkan dengan bermacam bahan baru. B. 2. Secara jarang. ANAK CEPAT KONSTIPASI MARAH. DAN . sekitar 70% dari anak-anak ini berusia 4-11 tahun. ANAK SERING MUNTAH DAN BAB BERCAMPUR DARAH DAN LENDIR. 2. Suatu intususepsi pasca pembedahan jarang dapat didiagnosis. PADA DEHIDRASI. ETIOLOGI Penyebab dari kebanyakan intususepsi tidak diketahui. 4. NAFAS DANGKAL.vena yang penuh dan membengkak. intususepsi-intususepsi ini bersifat iloileal. DAN HILANG TIMBUL DALAM WAKTU BEBERAPA DETIK HINGGA MENIT DENGAN INTERVAL WAKTU 515 MENIT. duplikasi atau limfosarkoma. Pasien biasanya akan mengalami stangulasi usus. syok. Bercak . NYERI KOLIK BERAT DISERTAI DENGAN TANGISAN YANG KERAS. perforasi dan bisa juga meninggal. Sekitar 78% anak-anak penderita invaginasi berusia kurang dari 2 tahun. keadaan ini akan mempersulit purpura Henoch-Schonlein dengan sutau hematom intramural yang bertindak sebagai puncak dari intususepsi. C. Ileo-ileo : usus kecil masuk ke dalam usus kecil. MUKA PUCAT DAN LEMAH 5. MENDENGKUR. Pada sekitar 5% penderita dapat ditemukan penyebab . Terdapat hubungan dengan infeksi infeksi virus adeno dan keadaan tersebut dapat mempersulit gastroenteritis. Ileocolic : ileum (akhir dari usus kecil ) masuk ke dalam colon. TANDA DAN GEJALA 1.

sehingga obstruksi komplit kadang-kadang tidak terjadi pada intususepsi (Tumen 1964). terjadi edema. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada dewasa pada intinya adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu bagian usus yang bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang bebas dibandingkan bagian lainnya. keadaan lainnya karena suatu disritmik peristaltik usus. karena arah peristaltik adalah dari oral keanal sehingga bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal. Pembengkakan ddari intisuseptum umumnya menutup lumen usus. . Adanya bendungan menimbulkan perembesan (ozing) lendir dan darah ke dalam lumen. RASA KANTUK ANTARA SERANGAN SAKIT DI PERUT 11. Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun total dan strangulasi (Boyd. DISERTAI PUCAT. Akan tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent. Edema dan pembengkakan dapat terjadi. TINJA SEOERTI JELI KISMIS YANG MENGANDUNG CAMPURAN DARAH DANMUKUS 9. dan juga karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya mesenterium. Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum. ANAK SERING MENARIK KAKI KE ATAS PERUT DIKARENAKAN NYERI YANG DIDERITA. Ulserasi pada dindidng usus dapat terjadi. 8. MEMUNTAHKAN KONTEN LAMBUNG (PADA WALNYA). NYERI ABDIOMINAL YANG INTERMITEN YANG PARAH. Pembengkakan dapt sedemikian besarnya sehingga menghambat reduksi. pada keadaan khusus dapat terjadi sebaliknya yang disebut retrograd intususepsi pada pasien pasca gastrojejunostomi . 1956). Akibatnya terjadi perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi invaginasi.7. Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Gangren dapat berakibat lepasnya bagian yang mengalami prolaps. DIAPHORESIS DAN KEMUNGKINAN NAFAS SEPERTI MENDENGKUR 10. MEMUNTAHKAN MATERIAL BERCAMPUR EMPEDU DAN FEKAL (SELANJUTNYA) E. Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobil menyebabkan usus tersebut masuk ke lumen usus distal. ANDOMEN MENGALAMI DISTENSI DAN MELUNAK. Usus bagian distal yang menerima (intussucipient) ini kemudian berkontraksi. Perubahan pada intususeptum ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari intususepien. JIKA DIRABA AKAN TERASA GUMPALAN BERBENTUK SOSI DI KUADRAN KANAN-ATAS 12. Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya akan menyebabkan dinding usus yang terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah menurun dan keadaan akhir adalah akan menyebabkan nekrosis dinding usus. Sebagai akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren.

sebab didalam lumen usus 2. stricture 10. sebab diluar dinding usus (Meingot’s 90) Menurut tinggi rendahnya dibagi : obstruksi usus halus letak tinggi . Bayi menangis kesakitan saat serangan dan kembali normal di antara serangan. Terdapat muntah berisi makanan/minuman yang masuk dan keluarnya darah bercampur lendir (red currant jelly) per rektum. 82). Adhesion 2. benda asing 7. Aethiologi obstruksi usus halus menurut Schrock 88 adalah : 1. Berdasarkan waktunya dibagi : 1. Pada tahap awal muncul gejala strangulasi berupa nyeri perut hebat yang tiba-tiba. sedangkan massa intraabdomen sulit teraba lagi. Acut super exposed on cronik Sekitar 85 % dari obstruksi mekanik usus terjadi di usus halus dan 15 % terjadi di usus besar (Schrock. sebab pada dinding usus 3. Pada palpasi abdomen dapat teraba massa yang umumnya berbentuk seperti pisang (silindris). MANIFESTASI KLINIK Umumnya bayi dalam keadaan sehat dan gizi baik. obstruksi usus halus letak rendah dan obstruksi usus besar. Bailey 90). imflamasi 9. batu empedu 8. yaitu distensi abdomen dan muntah hijau fekal. Bila invaginasi panjang hingga ke . Intussusception 5. Neoplasma 4. cystic fibrosis 11. Volvulus 6. Menurut etiologinya ada 3 keadaan : 1. Hernia 3. Dalam keadaan lanjut muncul tanda obstruksi usus. Cronik intestinal obstruksi 3.Intestinal obstruksi terdapat dua bentuk yaitu : mekanik obstruksi dan neurogenik obstruksi paralitik (Meingot’s 90 . Acuta intestinal obstruksi 2. hematoma F.

2.daerah rektum. Barium enema di bawah fluoroskopi menunjukkan tampilan coiled spring pada usus. d. H. disebut pseudoporsio. Ultrasonogram dapat dilakukan untuk melokalisir area usus yang masuk. Plat datar dari abdomen menunjukkan pola yang bertingkat (invaginasi tampak seperti anak tangga). Pengkajian lakukan pengkajian fisik secara rutin a. 5. Jika dilanjutkannya suatu ileostomi. Observasi pola defekasi dan perilaku praoperasi dan pasca operasi . 3. Rutin b. Dilanjutkannya cairan intravena e. terutama deskripsi keluarga tentang gejala b. Jika intususepsi tidak dapat direduksi. drainase penyedotan dikenakan pada tuba ileostomi hingga kelanjutan dari lambung dipulihkan. Metode ini tidak sering dikerjakan selama terdapat suatu resiko perforasi. 4. maka diperlukan reseksi dan anastomosis primer. Foto setelah pemberian enema barium memperlihatkan gagguan pengisisan atau pembentukan cekungan pada ujung barium ketika bergerak maju dan dihalangi oleh intususepsi tersebut. Pemberian oksigen d. Antibiotika f. dan tidak terdapat jaminan dari penurunan yang berhasil. Penurunan dari intususepsi dapat dilakukan dengan suntikan salin. g. G. Observasi fungsi vital I. Perawatan prabedah: 1) Rutin 2) Tuba naso gastrik 3) Koreksi dehidrasi (jika ada) b. Perawatan inkubator untuk bayi yang kecil c. udara atau barium ke dalam kolon. Reduksi intususepsi dengan penglihatan langsung. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. walaupun demikian kecil. Pada sarung tangan terdapat lendir dan darah. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Penatalaksanaan pasca bedah: a. c. Foto polos abdomen memperlihatkan kepadatan seperti suatu massa di tempat intususepsi. 2. Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat. Reduksi bedah : a. PRINSIP PENGOBATAN DAN MANAGEMEN KEPERAWATAN 1. Plasma intravena harus dapat diperoleh pada kasus kolaps. 3. pada pemeriksaan colok dubur mungkin teraba ujung invaginat seperti porsio uterus. Ini juga membantu penurunan edema. menjaga usus hangat dengan salin hangat.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi. Konflik pengambilan keputusan berhubungan dengan kurang informasi yang relevan. Post operasi Nyeri akut berhubungan dengan prosedur invasif. Diangnosa Pre operasi 1.   e. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi berlebih. 5. 2. 1. krisis situasional. 10. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. 6. 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri. 2. 8. . prostasi dan tanda-tanda lain peritonitis Observasi adanya manifestasi intususepsi yang lebih kronis: Diare Anoreksia penurunan berat badan muntah (kadang-kadang ) nyeri periodic nyeri tanpa gejala lain ( pada anak yang lebih besar ) 2. 7.c. 9. d. mengabsorbsi makanan karena faktor biologi. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kelainan absorbsi cairan. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri. Koping tidak efektif berhubungan dengan tingkat kontrol persepsi tidak adekuat. mencerna. Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi. Resiko konstipasi berhubungan dengan obstruksi usus. - Observasi perilaku anak Observasi adanya manifestai intususepsi: Nyeri abdomen akut tiba-tiba Anak berteriak dan menarik lutut ke dada Anak tampak normal dan nyaman selama interval di antara episode nyeri Muntah Letargi Keluarnya feses seperti jeli merah ( feses bercampur darah dan mucus ) Abdomen lunak ( pada awal penyakit ) Nyeri tekan dan distensi abdomen ( penyakit lanjut ) Massa berbentuk sosis yang dapat diraba dikuadran kanan atas Kuadran kanan bawah kosong ( tanda dance ) Demam. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi. Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi 4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam memasukkan. 4.

Pola tidur Kualitas tidur Tidur tidak terganggu Kebiasaan tidur Thermoregulation perencanaan Menejemen nyeri Berikan pereda nyeri dengan manipulasi lingkungan (missal ruangan tenang. c. Jam tidur 5. 2. b. Sedang.d nyeri a. b.d proses penyakit. c. Temperature regulation . Cemas berhubungan dengan krisis situasional. Cegah adanya gerakan yang mengejutkan seperti membentur tempat tidur. 3. 1. 5. Seiakan barang-barang milik pasien yang dapat mendukung pasien untuk tidur (guling. Gangguan tujuan Setelah dilakukan tindakan asuhan a. antara lain penurunan nyeri pada tingkat yang dapat diterima anak. kepeawatan selama 3 x 24 jam. nyeri. mengalami nyeri. 4. Skala : Ekstream. d. Gangguan pola tidur b. 2. Anak tidak menunjukkan tandatanda nyeri Nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak. Kaji pengaruh tindakan pengobatan terhadap pola tidur. d. 3. Berikan analgesia sesuai ketentuan. Kriteria hasil : e. Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. e. tidur pasien adekuat (10 jam / hari). NCP Post operasi No. Diagnosa 1. Cegah peningkatan TIK Kompreskan air hangat pada dahi Sleep Enhancement Kaji pola tidur pasien. Pasien diharapkan tidak b. Ajarkan teknik relaksasi. Kriteria hasil : 4. 3. a. Berat. batasi pengunjung). Ringan. Tidak Ada. Pasien diharapkan Kebutuhan 3.5. Gangguan rasa nyaman nyeri b. Ciptakan lingkungan yang nyaman. boneka. x 24 jam. dll). kepeawatan selama 3 2.

Memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi Monitor suhu minimal tiap 2 jam sekali. tindakan asuhan b. diharapkan dapat melakukan mobilitas. imobilisasi / sangga bagi tubuh yang terkena). c. Pasien c. Mobility level Setelah dilakukan a. d. hindari penempatan puntung amputasi pada posisi fleksi. Nadi dan RR dalam rentang normal c. Pasien 3. Menverbalisasikan e. perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah. Kriteria hasil : a. RR. . Setelah dilakukan 1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri a. merasa nyaman. jika diperlukan. b. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing. menunjukkan peningkatkan suhu badan secara berlebihan. Dukung latihan ROM aktif. Suhu badan pasien normal 36-37ºC. mengalami 5. d. diharapkan tidak 4. x 24 jam. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi. kepeawatan selama 3 x 24 jam.peningkatan suhutubuh berhubungan dengan proses inflamasi 4. Monitor warna dan suhu kulit. tindakan asuhan kepeawatan selama 3 2. Kriteria hasil : Klien meningkat dalam aktivitas fisik Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas. Perubahan Posisi Pantau ketepatan pemasangan traksi Letakkan matras / tempat tidur terapeutik dengan benar Atur posisi pasien dengan postur tubuh yang benar Letakkan pada posisi terapeutik ( misal . tinggikan baian tubh yang terkena. Monitor TD. Suhu tubuh dalam rentang normal b. N. Ajarkan pada pasien cara untuk mencegah keletihan akibat panas.

pada tingkat yang dapat 4. Keseimbangan posisi tubuh Skala : 1.e. Nyeri berhubungan dengan prosedur invasif. frekuensi. diagnosa 1. mandiri Post operasi No. diterima anak Kriteria hasil : Anak tidak 5. durasi. 3. diharapkan tidak mengalami nyeri. batasi pengunkung). a. dapat melakukan sendiri dengan bantuan 5. menunjukkan tandatanda nyeri Nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak Skala : Ekstream Berat Sedang Ringan Tidak Ada Perencanaan Menejemen Nyeri Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi. 4. Tujuan Tingkat Nyeri Setelah dilakukan 1. dibantu total 2. Berikan pereda nyeri dengan manipulasi lingkungan (missal ruangan tenang. b. tindakan asuhan kepeawatan selama 3 x 24 jam. Berikan analgesia sesuai ketentuan Cegah adanya gerakan yang mengejutkan seperti membentur tempat tidur Ajarkan teknik relaksasi . 1. intensitas nyeri). memerlukan bantuan orang lain dan alat 3. Pergerakan tulang f. Pasien 2. 2. 5. memerlukan bantuan orang lain 4. antara lain penurunan nyeri 3.

d. tindakan asuhan 3. treatmen dan prognosis. b. 5. Knowledge: infection control 1. kepeawatan selama 3 x 24 jam. Pasien 4.d krisis situasional. Kriteria hasil : Monitor intensitas kecemasan Rencanakan strategi koping untuk mengurangi stress Gunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan Kondisikan lingkungan nyaman Infection control Pertahankan teknik isolasi Batasi pengunjung bila perlu Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain Tingkatkan intake nutrisi Enhancement Family Coping Sediakan informasi yang sesungguhnya meliputi diagnosis. cemas b. Kriteria hasil: Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi Jumlah leukosit dalam batas normal Menunjukkan perilaku hidup sehat Skala : Tidak pernah menunjukkan Jarang menunjukkan Kadang menunjukkan Sering menunjukkan Selalu menunjukkan Kontrol Cemas Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kecemasan hilang atau berkurang. d. diharapkan infeksi tidak terjadi (terkontrol). c. b. nyeri. 3.2. a. c. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi a. Tetap damping pasien dan keluarga untuk menjaga keselamatan pasien dan mengurangi ansietas Keluarga Instruksikan kepada keluarga untuk melakukan ternik relaksasi Bantu keluarga mengidentifikasi situasi yang menimbulkan ansieta . Setelah dilakukan 2.

2002) Jika anak mengeluhkan rasa sakit pada perutnya setelah mengalami diare. terlebih lagi jika anak terus menangis menahan sakit. Jika kondisi anak tidak terlalu parah. kemungkinan dokter akan memasukan udara ke perut anak melalui anusnya. Biasanya dokter akan memberikan anak obat penenang agar anak bisa istirahat dan membuat ususnya lebih tenang. Jalan yang bisa ditempuh jika usus anak sudah luka adalah jalan pembedahan. . sebaiknya anak segera dibawa ke dokter untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut. invaginasi ileum masuk ke dalam kolon desendens). BAB III PENUTUP A. Namun tidak jika usus anak sudah mengalami luka atau kerusakan lainnya. KESIMPULAN Invaginasi atau intususepsi adalah masuknya bagian usus ke dalam perbatasan atau bagian yang lebih distal dari usus (umumnya. (Nettina.Skala : Tidak pernah dilakukan Jarang dilakukan Kadang-kadang dilakukan Sering dilakukan Selalu dilakukan. Anak yang terus menangis ketika sedang mengalami invaginasi akan membuat usus semakin tegang dan semakin kuat terjepit.

Michael John & George L. Wong. EGC: jakarta . EGC: Jakarta Donnal. Kedokteran Darurat.DAFTAR PUSTAKA http://www.html http://meladianmaulidah. Rujukan Cepat Pediatrik dan Kesehatan Anak.html Lippincott Williams &wilkins. 2004.id/2010/04/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan_18. Helen.dkk.blogspot.com/2012/06/invaginasi-pada-invaginasi-disebut-juga. EGC:Jakarta Brought. edisi 6. Sterbach.blogspot.web. 2006.blogspot. Indeks : Jakarta Bresler.html http://wwwderyrisna. 2008.com/2007/12/infaginasi-intususepsi. Keperawatan Pediatrik.html http://dr-zapra. 2011. Memahami berbagai mavam penyakit.nurseid.com/2010/09/askep-anak-dengan-invaginasi.