You are on page 1of 12

BAB II

ISI
2.1 STATUS PASIEN
Sdr. Joko Afriyanto, 22 tahun, belum menikah. Tinggal di Jalan Dukuh Putat
Gede no 41, Surabaya, saat ini sedang menjalani program pengobatan rawat inap di
ruang Kenari RSJ Menur Surabaya dengan diagnosa Skizophrenia Hebefrenik
Episodik Berulang.
Pada hari minggu, 29 November 2015 pukul 09.00 WIB telah dilakukan
kunjungan oleh dokter muda ke tempat tinggal pasien yang terletak di Jalan Dukuh
Putat Gede no 41, Surabaya. Letak rumah pasien berada di dalam gang dengan
lingkungan yang padat rumah, kebersihan lingkungan cukup, suasana lingkungan
tidak begitu ramai, warga sekitar tampak ramah. Disana kami lakukan anamnesis dan
penilaian terhadap keluarga pasien.
2.2 IDENTITAS PASIEN
Nama

: Sdr. Joko afriyanto

Nomor register

: 04.39.61

Umur

: 22 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

: SMP

Status perkawinan

: Belum menikah

Alamat

: Jalan Dukuh Putat Gede no 41,RT/RW: 02/04 Kecamatan
Sukomanunggal, Surabaya

Diagnosa

: Skizofrenia Hebefrenik Berulang (F20.13)

Pasien tinggal serumah bersama ayah kandung dan ibu tiri

Pasien berubah sejak tahun 2012 saat kenaikan kelas 2 SMA

2

dengan keadaan tenang. pasien menjawab tidak tahu kemudian pasien bercerita bahwa pasien dibawa ke RSJ Menur oleh ibu. Ketika ditanya mengapa pasien menunjukkan kemaluan (telanjang) di muka umum.  Pasien ditanya. apa yang membuat pasien diajak ke RSJ Menur Surabaya oleh ibunya.  Kunjungan rumah diterima dengan baik oleh ibu dan ayah yang tinggal di rumah yang sama dengan pasien.  Pertama pasien ditanya tentang identitas pasien sekaligus untuk mengetahui fungsi orientasi pasien dan pasien bisa menjawab dengan benar. Heteroanamnesis (Dari ibu dan ayah pasien yang tinggal serumah) Kesan Penerimaan  Sikap keluarga terhadap dokter muda sangat baik dan terbuka. Autoanamnesis ( November 2015)  Pasien dalam ruang perawatan Kenari. Pasien sering marah-marah terhadap ibu. Pasien mengetahui dan berorientasi baik waktu. Keluhan Utama : Mengamuk 3 . tempat dan orang. Dan keluar rumah tanpa tujuan yang jelas dan berjalan kaki keliling kampung pada malam hari.3 ANAMNESIS A. bersih tidak bau. B.  Ibu pasien menceritakan semua perihal kehidupan pasien dan riwayat sakitnya dengan baik dan terbuka.2. pasien merasa gerah da nada bisikan yang menyuruh untuk telanjang  Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ke pasien dijawab dengan afek emosi yang dangkal. Pasien merasa diikuti makhluk bersayap yang sering menyuruh pasien marah. tampak gelisah dan cukup kooperatif.

 Menurut keterangan keluarga pasien mulai sering marah marah kepada orang tua dengan memukul ibunya padahal tidak ada penyebab yang jelas.  Selanjutnya pasien rajin kontrol setiap 1 bulan sekali dan pasien minum obat. Selain memukul ibunya. Oleh karena itu pasien dibawa berobat ke RSJ Menur.Sejak Juni tahun 2012 saat pasien selesai libur kenaikan kelas pasien tiba tiba tidak mau masuk sekolah lagi dikarenakan merasa minder karena tidak dibelikan motor oleh ibunya karena tidak memiliki uang sehingga hanya dibelikan sepeda. minta es tapi pasien tidak sampai memukul.teriak tidak jelas sambil mondar mandir dalam rumah. Pasien mulai menunjukan gejala aneh seperti tertawa sendiri dan bicara.Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengamuk kepada ibu sejak 2 hari SMRS. Pasien marah dan memukul ibunya. 4 .  Sejak saat itu pasien menjadi lebih diam dan menutup diri. suka mengurung dirinya didalam kamar.bicara sendiri. Gejala Tambahan :  Pasien selama 1 minggu ini suka keluyuran ke sekitar rumah pasien tanpa sebab pada malam hari  Pasien sering terlihat berbicara sendiri.  Pasien sering ketawa – ketawa sendiri  Pasien menunjukkan kemaluan (telanjang) di muka umum sambil keluyuran Kronologis  . pasien juga marah sambil berteriak. Pasien mengamuk karena meminta ibunya pindah dari tempat tidur yang ingin pasien tempati. Dan 4 bulan kemudian pasien dibawa ke RSJ Menur kembali karena penyebab yang sama. sejak 1 bulan pasien sering marah jika keinginnanya tidak dipenuhi seperti meminta rokok. MRS selama 1 bulan di ruang Gelatik. Sebelumnya. Aktivitas pasien sendiri hanya main Play station dan menonton TV didalam kamar.

Pasien marah dan mau memukul ibunya. pasien mengamuk karena meminta ibunya pindah dari tempat tidur yang ingin pasien tempati. ADL:  Makan – minum o Sebelum sakit : Pasien makan dan minum 3x/hari tanpa disuruh. Ibadah o Sebelum sakit : pasien sering beribadah. Selain memukul ibunya pasien juga marah sambil berteriak. o Setelah sakit  : Pasien tidak mau membantu pekerjaan rumah. Riwayat Penyakit Dahulu  Kejang  Demam tinggi  Trauma Kapitis : (-)  NAPZA : (-)  Alkohol : (-) : (-) : (-) 5 . terkadang pasien suka berendam di bak kamar mandi pada malam hari.  Mandi o Sebelum sakit : Pasien mandi 2x/hari dan selalu ganti baju. Oleh karena dianggap membahayakan. o Setelah sakit : Pasien makan dan minum 2x/hari dengan jam tidak teratur dan porsi yang lebih sedikit.teriak. o Setelah sakit : pasien tidak pernah beribadah. Namun 2 hari yang lalu.gejala mulai berkurang. o Setelah sakit : Pasien mandi lebih dari 3x/hari. keluarga membawa pasien ke IGD RSJ Menur Surabaya.  Pekerjaan rumah o Sebelum sakit : Pasien masih bekerja dan mau membantu pekerjaan rumah.

 Riwayat Pendidikan Pasien tidak menyelesaikan pendidikan saat kelas 2 SMA karena pasien merasa minder dengan teman teman sekolahnya. balita. berjalan. maupun penyakit serius. tengkurap.  Masa Natal Pasien lahir normal di bidan pada umur kandungan sembilan bulan. dan . Museum Tiri Ibu Hubungan pasien dengan keluarga baik. dan anak-anak pasien tidak pernah mengalami kejang. Ayah pasien (Tn. Pasien merupakan anak yang disayangi oleh kedua orang tuanya. Prestasi belajar pasien masih bagus.  Masa Post-natal Tumbuh kembang pasien seperti menyangga leher. berdiri. Sarminto )menikah lagi dengan perempuan lain (Ny. No Nama Sex Umur 1 Sarminto L 70 th 2 Maryam P 60 th Pendidikan Terakhir Taman Status Menikah Siswa Tidak Bersekolah Menikah Pekerjaan Tidak bekerja Keterangan Sakit Pegawai Sehat. Rokok : (+) 1 bungkus perhari Riwayat Hidup Pasien  Masa Prenatal Sewaktu hamil ibu pasien tidak mengalami kelainan maupun penyakit fisik. Saat bayi. N) 6 tanpa diketahui Ny. Ayah pasien tidak ingat pasti berapa berat lahir pasien. Maryam. merangkak.  Riwayat Keluarga Pasien anak pertama merupakan anak tunggal.. dan berbicara dalam batas normal dan tidak ada kelainan. panas.

Sejak usia 0-2 tahun . sedikit teman. Dari rumah pasien. terdapat fasilitas publik yang dapat dijangkau dengan mudah masjid. Kondisi jalan menuju rumah pasien sudah beraspal.  Faktor Organik : Tidak ditemukan  Faktor Lingkungan : Tidak ditemukan  Faktor Keturunan : Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini. Perjalanan dari RSJ Menur untuk menuju rumah dapat ditempuh dalam waktu 50 menit dengan mengendarai mobil. Ibu tiri pasien sibuk bekerja sebagai karyawan museum Empu Tantular dari pagi sampai sore sedangkan ayah pasien sudah berhenti bekerja.A diasuh oleh ibu kandungnya dan pada usia 2 tahun  Riwayat pernikahan Pasien belum menikah Faktor-faktor yang mempengaruhi  Faktor Premorbid : Pendiam. Tn. Gambaran Lingkungan Tempat Tinggal Kami berkunjung ke rumah pasien pada hari Minggu 29 November 2015 pukul 12.4 OBSERVASI LINGKUNGAN A. Rumah pasien masuk gang dan berjarak ± 200 meter dari jalan besar dan ± 50 meter dari gang. J.J. 7 .A.menghasilkan keturunan yang bernama Tn. 2.  Faktor Sosial Ekonomi : Keluarga pasien merupakan keluarga yang dengan sosial ekonomi rendah. dan beberapa pertokoan.00 WIB. tertutup. Lokasi rumah atau tempat tinggal pasien terletak di jalan dukuh putat gede.

Kamar mandi terbuat dari semen berkeramik. Keterangan rumah:  Rumah mempunyai dua kamar tidur. satu kamar di depan pintu masuk 8 . Gambaran Tempat Tinggal 10 m Sumur Dapur Kamar Tidur Kamar Mandi Ruang Tamu Kasur 15 m Teras Rumah Bangunan rumah : Ukuran rumah : 10 meter x 15 meter (150 m2) Status rumah : Rumah milik keluarga Dinding rumah terbuat dari tembok permanen. rumah berlantai ubin.C.

 Lingkunganya tenang namun kumuh. Pasien tinggal bersama ibu tiri (istri pertama bapaknya) dan bapak kandungnya dalam satu rumah. E. satu ruang tamu. Keadaan lingkungan:  Rumah pasien terletak di dalam gang. Kamar tidur pasien dan ibu nya bersebelahan. Cara Penerimaan Keluarga Tehadap Pasien Keluarga pasien sangat mendukung proses penyembuhan pasien. Gambaran Status Sosial Pasien merupakan anak dari istri kedua bapaknya. Mereka bersedia membantu baik dengan memberikan dukungan moril maupun materil untuk membantu kesembuhan pasien. Sejak sakit pasien jarang keluar rumah dan malas melakukan pekerjaan rumah lainnya. hanya satu kamar mandi yang terletak disamping kamar pertama.  Ventilasi dan pencahayaan sangat kurang. Sehari-hari hanya dirumah.  Rumah tampak kumuh dan kurang rapi. 2.5 OBSERVASI FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT Faktor keluarga dan lingkungan yang membantu kesembuhan pasien antara lain : 9 . dan juga terdapat kasur bertingkat tempat pasien dan keluarga biasanya tidur. D.rumah. banyak barang-barang bekas diluar rumah. Keluarga pasien juga mengingatkan dan bersedia mengantarkan disaat pasien harus kontrol dan juga minum obat serta memotivasi agar penderita selalu bersemangat untuk sembuh. Di bagian depan rumah terdapat pagar terbuat dari kayu. dan satu dapur di belakang ruang tamu. Tidak terdapat sofa.  Tembok tidak tampat bercat terang dan tampak hanya sebatas tembok tidak bercat. Pasien tidak bekerja.  Di ruang tamu terdapat kursi kayu dan meja televisi serta lemari kayu.

akral hangat (+) 2. 3. Lingkungan sekitar yang selalu dapat menerima pasien tanpa mempersoalkan penyakit yang diderita pasien. Whz -/- 6. H/L ttb 7. Keadaan Umum : Compos mentis 3. Leher : Pembesaran KGB (-) 5. 2. Vital sign  T : 120/80 mmHg  N : 84 x/m  t ax : 36. Thorax : S1S2 tunggal. serta selalu siap membantu dalam proses terapi pasien. Kesadaran : GCS 456 2. Reflek fisiologis :  BPR : +2/+2 10 . 2. Abdomen : Supel.0 C  RR : 18 x/m 2. Faktor keluarga yang menghambat kesembuhan pasien antara lain : 1. Meningeal sign : kaku kuduk (-) 3. Extremitas : edema (-). Pasien terkadang tidak mau minum obat setiap hari. obat kadang dibuang dan disembunyikan. 2. Keluarga kurang mengawasi pasien dalam hal minum obat.6 Status Interna 1. Dukungan dari pihak keluarga secara terus menerus terhadap pengobatan pasien. Kepala : A/I/C/D -/-/-/- 4.1. Rh -/-. BU (+) N. Pasien berasal dari keluarga yang mampu secara ekonomi.7 Status Neurologis 1.

Psikomotor : menurun 12.8 Status Psikiatri (Saat pasien MRS di ruang Kenari 26/11/2015) 1. Kontak : verbal/lancar/relevan 3. Proses Berfikir : Arus : Asosiasi Longgar Isi : Pikiran tidak memadai Bentuk : Non realistis 9. Mood dan Afek : labil/ dangkal 10. kurang rapi. Kesan Umum : laki-laki. : cukup Intelegensi 7. Insight :I 13. Kemauan : menurun 11. Orientasi : Waktu/Tempat/Orang : +/+/+ 5. Persepsi : halusinasi A/V +/+ 8.9 Diagnosis Multiaksial Aksis I Aksis II : F 20. wajah sesuai usia. tidak bau. kesan gizi cukup. 2. Reflek patologis :  Babinsky : -/-  Chaddock : -/-  Hoff/trom : -/- 2. Kesadaran : berubah 4. kurang bersih. tertutup. KPR : +2/+2  TPR : +2/+2  APR : +2/+2 4. Daya Ingat : cukup 6.13 ( Skizophrenia Hebefrenik episode Berulang) : Pendiam. tidak mudah bergaul 11 . 2.

12 . Memberikan mitivasi agar pasien mau melakukan shalat ibadah agar hatinya merasa tenang. dan keluarga. Memberikan informasi tentang penyakit pasien sejelas – jelasnya kepada keluarga pasien dan memberi motivasi kepada pasien untuk minum obat secara teratur.11 Intervensi yang diberikan Pada home visite yang pertama ini. 4.Aksis III : belum ditemukan Aksis IV : belum ditemukan Aksis V : GAF scale 30 – 21(Disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai. kami memberikan beberapa intervensi kepada pasien. Menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi bahwa dirinya masih berguna dan bisa bekerja serta masih bisa hidup berkeluarga.10 Terapi di RS  Observasi di ruang rawat inap  Somatoterapi : o Clozapine 2 x 50 mg o Haloperidol 2 x 5 mg  Psikoterapi o Terapi kelompok 2. 3. 2. Adapun beberapa intervensi yang kami berikan antara lain :  Pasien Intervensi yang dilakukan kepada pasien antara lain : 1. Menyarankan pasien agar mau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan ikut serta berbagai kegiatan yang ada supaya pasien tidak merasa rendah diri atau dikucilkan dari masyarakat. tidak mampu berfungsi hampir semua bidang) 2.

Saat pasien rawat jalan. 2. antara lain: 1. selalu menanyakan perkembangan aktivitas pasien. Keluarga ikut serta membantu atau segera mengantarkan pasien ke RS bila gejala gangguan jiwa pasien kambuh. Keluarga disarankan untuk selalu mengajak pasien diskusi dalam segala hal. 3. Keluarga Peran serta keluarga terhadap pasien yang bertujuan untuk memperlancar atau mempercepat perbaikan kondisi kejiwaan pasien. 13 . mau mendengarkan keluh kesah pasien. sehingga diharapkan tidak ada masalah yang akhirnya menjadi beban pada pikiran pasien. Saat pasien masih rawat inap seperti sekarang. 4. tidak membiarkan pasien sendiri. Keluarga ikut berperan aktif sebagai pengawasan langsung minum obat dan selalu memberitahuakn kegunaan obat dan efek kalau tidak minum obat sehingga pasien sadar dengan sendirinya bahwa minum obat untuk kepentingan dirinya sendiri dan bukan keterpaksaan. keluarga hendaknya tetap menjenguk atau menghubungi pasien sehingga pasien tidak merasa terbuang dan menjadi lebih semangat untuk sembuh.