You are on page 1of 88

Tugas Penelitian dan Evaluasi Program

Disusun oleh :
Rani Fitria Anggraini

112014334

Pembimbing :
dr. Melda Suryana, M.Epid

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 20 Juni 2016 – 03 September 2016

Tugas Penelitian
1. Alasan Dibuat Suatu Penelitian
Berdasarkan tujuan umumnya, penelitian dibedakan menjadi : penelitian eksploratif,
penelitian pengembangan, dan penelitian verifikatif.
a. Penelitian eksploratif, adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk
mengekplorasi fenomena yang menjadi sasaran penelitian.
b. Penelitian pengembangan (developmental research), adalah penelitian yang dilakukan
untuk mengembangan suatu konsep atau prosedur tertentu.
c. Penelitian verifikatif, merupakan penelitian yang dilakukan dengan tujuan
membuktikan kebenaran suatu teori pada waktu dan tempat tertentu.1
2. Perbedaan Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Penelitian
Tujuan umum (ultimate objective) dinyatakan tujuan akhir penelitian. Tujuan umum biasanya
mengacu pada aspek yang lebi luas, atau tujuan jangka panjang penelitian, tidak terbatas pada
hal-hal yang langsung diteliti atau diukur. Tujuan khusus dinyatakan dalam kaliamat pasif.
Tujuan khusus disebut secara jelas dan tajam hal-hal yang akan langsung diukur, dinilai,
diperoleh dari penelitian. Tujuan khusus dinyatakan dalam kalimat aktif.2
3. Hubungan Tinjauan Pustaka  Kerangka TeoriKerangka Konsep
Tinjauan pustaka dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (bukan
sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan
variabel yang diteliti.3
Kerangka teori adalah kemampuan seorang peneliti dalam mengaplikasikan pola pikirnya,
dalam menyusun secara sistematis teori-teori yang mendukung permasalahan penelitian.4
Kerangka konsep: kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
4. Metode Penelitian
a. Cross seksional  penelitian yang melakukan determinasi terhadap paparan (exposure)
dan hasil (disease outcome) secara simultan pada setiap subjek penelitian. Ini berarti bahwa
exposure dan outcome atau cause dan effect dilihat pada waktu yang sma atau dikenal dengan

snapshot of the population. Definisi lainnya menyebutkan bahwa cross-seksional study
design adalah penelitian yang mendesain pengumpulan data dilakukan pada satu titik waktu
( at one point in time): fenomena yang diteliti adalah selama satu periode pengumpulan data.
Dlam penelitian cross seksional, seorang peneliti umumnya melakukan langkah-langkah
sistematis, yang mencakup: menetukan populasi penelitian, selnjutnya menentukan besar
sampel, memilih teknik sampling (cara pengambilan sampel), mentukan mana variable (cause
ans effect). Selanjutnya pada setiap subjek atau sampel dipastikan apakah yang bersangkutan
memiliki faktor risiko atau tidak, memiliki effect atau tidak, jadi cause and effect atau
variable dependen dan independen dikur pada waktu yang sama untuk setiap subjek
penelitian. Berikut adalah gambara mengenai penelitian cross seksional.1

Keuntungan cross seksional:
-

Peneliti tidak perlu menunggu effect dari fari risiko. Dengan demikian makan

-

penelitian akan cepat dan inexpensive, ini berate no loss to follow-up
Hasil penelitian deskripstif dapat dilanjutkan dengan penelitian cohort maupuan

-

experimental study.
Menungkinkan untuk dilakukan penelitian pada beberapa faktor atau outcomes pada

-

satu titik waktu.
Bagus untuk membantu program perencanaan, budgeting dan lain-lain.

Kelemahan:
-

Data observasional yang dikumpulkan dalanm a cross-sectional time frame.
Impractical untuk penelitian dengan kasus atau penyakit yang jarang atau langka
terjadi.5

b. Kasus control  salah satu studi analitik yang digunakan untuk mengetahui faktor risiko
atau masalah kesehatan yang diguga memiliki hubungan erat dengan poenyakit yang terjadi
di masyarakat. Studi kasus control sangat bermanfaat untuk kasus penyakit yang jarang
dijumpai dan berkembang secara laten di masyarakat. Odds Ratio menunjukkan berapa besar
peran faktor resiko yang diteliti terhadap terjadinya penyakit (efek).
Nilai OR = 1 menunjukkan bahwa faktor yang diteliti merupakan faktor risiko.
Nilai OR > 1 menunjukan faktor yang diteliti merupakan faktor risiko
Nilai OR < 1 menunjukkan faktor tersebut merupakan faktor protektif.
- Case control retrospektif  menelusuri ke belakang penyebab - penyebab yang dapat
menimbulkan suatu penyakit di masyarakat. Studi kasus control membandingkan antara
kelompok studi, yaitu orang-orang yang menderita penyakit dan kelompok control yaitu
orang-orang yang tidak menserita penyakit tetapi memiliki karakteristik yang sama dengan
orang-orang yang menderita penyakit atau kelompok studi. Dari hasil penelitian antara
kelompok studi dan kelompok control didapatkan nilai rasio, yaitu proporsi antara orang sakit
yang memiliki fraktor risiko dan orang sehat 9tidak sakit) yang memiliki faktor risiko. Rasio
tersebut adalah estimasi risiko relative atau odds ratio.1

- Kasus kontrol prospektif  adalah mengamati outcome seperti perkembangan dari
penyakit, selama masa studi dan menghubungkan hal ini dengan factor-faktor lain yang
diduga sebagai factor risiko atau factor pencegah.5
Kelebihan penelitian case control :
a.

Tidak menghadapi kendala etik, seperti halnya penelitian kohort dan eksperimental.

b.

Pengambilan kasus dan kontrol pada kurun waktu yang bersamaan.

peneliti menentukan suatu kelompok yang terpapar faktor risiko (exposed group) dan satu kelompok yang tidak terpapar (nonexposed group) kemudian dilakukan follow up terhadap kedua kelompok tersebut dengan membandingkan insiden penyakitnya. perlu dilengkapi dengan uraian mengenai cara memperopleh data secara lengkap. c. . c. Apabila data tersebut adalah data sekunder. misalnya pemeriksaan laboratorium klinis. Tidak perlu intervensi waktu. roentgenologi. anamnesis sebaiknya dilengkapi data penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Tidak diketahuinya efek variable luar oleh karena keterbatasan teknis yaitu variable yang tidak ikut dikenakan waktu matching. Adanya pengendalian faktor risiko sehingga hasil penelitian lebih tajam. dan imunologis. Kadang-kadang untuk memilih kontrol dengan matching kita mengalami kesulitan oleh karena banyaknya faktor risiko dan/atau sedikitnya subyek penelitian.c. Kelemahan pengukuran variable secara retrospektif adalah obyektivitas dan reliabilitasnya sehingga untuk faktor-faktor risiko yang tidak jelas informasinya dari anamnesis maupun data rancangan sekunder sangat berisiko bila menggunakan rancangan mengatasinya. d. d. Bias penelitian akibat tidak dilakukan pengukuran oleh peneliti dengan tanpa mengetahui yang harus diukur (blind measurement). b. Kohort  Pada penelitian kohort (cohort study). mikrobiologis. lebih ekonomis sebab subyek bias dibatasi. Kekurangan penelitian case control : a.

c.Pada penelitian dengan studi kohort yang sangat umum diukur atau dicari adalah nilai RR yang perhitungannya dapat dilakukan dengan membagi risk (expose) dengan risk (unexposed) dengan rumus: Keterangan a. b. Penelitian ini umumnya membutuhkan waktu yang panjang untuk mengetahui efek dari faktor risiko terhadap penyakit. d. Prospektif kohort disebut juga concurren cohort atau longitudinal study. . Positif expose danpositif disease Positifexpose dannegatifdisease Negatifexpose danpositif disease Negatifexpose dannegatif disease Studi kohort dapat dibagi menjadi dua desain studi: a.

Dalam penelitian ini. Retrospektif disebut juga histori tical cohort study. peneliti mengikuti kelompok tersebut dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2028. Kelebihan . Selanjutnya peneliti menentukan populasi penelitian.Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa peneliti memulai penelitiannya di tahun 2008. Kemudian memilih kelompok yang terpapar dan tidak terpapar secara non-random. Penelitian ini menggunakan rentan waktu mulai dari paparan dan diikuti sampai efek terjadi. namun waktunya sudah lewat. Setelah kedua kelompok tersebut ditentukan. masing-masing kelompok terpapar dan tidak terpapar) lalu diidentifikasi apakah outcome-nya positif disease atau negatif disease sehingga nantinya dapat dihitung RR nya. Penelitian ini dimaksudkan untuk menasiasati kelemahan dari prospective sstudi yang embutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menyelesaikan penelitian. b. peneliti tetap membandingkan kolompok terpapar dan yang tidak terpapar.

Studi kohort dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari suatu  factor resiko tertentu. 1 d. Penelitian terhadap hal yang sama harus dapat diulang dalamk ondisi yang sama 3. Jadi penelitian eksperimen dalam pendidikan adalah kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment tindakan itu jika dibandingkan dengan tindakan lain. Eksperimental Definisi dari beberapa ahli tersebut. Peneliti harus dapat memanipulasi (mengubah. mengontrol) variabel yang diteliti sesuai dengan yang dikehendakinya 4. dapat dipahami bahwa penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian suatu treatment atau perlakuan terhadap subjek penelitian. Studikohort yang baik dalam menerangkan hubungan antara factor-faktor  resiko dengan efek secara temporal. Karena pengamatan dilakukan secara kontinyu dan longitudinal. Studi kohort merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan  progesif. Wilhelm Wundt dalam Alsa (2004) mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian eksperimental yaitu: 1. Diperlukan kelompok pembanding diberiperlakukan (experimental group) (control group) selain kelompok yang . studi kohort memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang makin meningkat Kelemahan  Studi kohort biasanya memerlukan waktu yang lama  Sarana dan biaya biasanya mahal  Studi kohort sering kali rumit  Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang  terjadi Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan  atau factor resiko dapat mengganggu analisis hasil Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan subyek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan subyek. Peneliti harus dapat menentukan secara sengaja kapan dan di mana ia akan melakukan penelitian 2. Studi kohort merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insidens dan  perjalanan penyakit atau efek yang diteliti.

Eksperimen quasi  Desain penelitian eksperimen semu berupaya mengungkap hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok ekperimen tetapi pemilihan kedua kelompok tersebut tidak dilakukan secara acak (Nursalam. limitation of recall ? 6. Statistik Parametrik dan Non Parametrik Statistik parametric  Ilmu statistik yang mempertimbangkan jenis sebaran atau distribusi data. Kedua kelompok tersebut ada secara alami.Pretest-post tes  adalah termasuk eksperimen murni. Desain penelitian jenis ini dapat digambarkan sebagai berikut. dll. jika data tidak menyebar normal. yaitu apakah data menyebar secara normal atau tidak. 3. Ciri-ciri statistic parametrik : . 2003 : 89). Dalam desain ini terdapat dua grup yang dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui perbedaan keadaan awal antara group eksperimendan group kontrol. Hasil pretest yang baik adalah jika nilai group eksperimen tidak berbeda secara signifikan. maka data seharusnya dikerjakan dengan metode statistik non-parametrik. atau setidak-tidaknya dilakukan transformasiter lebih dahulu agar data mengikuti sebaran normal. 4. 5. 2. Perancangan percobaan (one or two-way anova parametrik). Contoh metodes tatistik parametrik : 1. sehingga bisa dikerjakan denganstatistik parametrik. Pada umumnya. Uji-z (1 atau 2 sampel) Uji-t (1 atau 2 sampel) Korelasipearson. data yang akan dianalisis menggunakan statistic parametric kharus memenuhi asumsi normalitas. Dengan kata lain. Bias recall  adalah sebuah kesalahan sistematik dalam responden mengingat dan melaporkan faktor risiko/paparan yang telah diaalami.

1. Variabel-variabel yang diteliti harus dapat diukur setidaknya dalam skala interval. Kelemahan : 1. 3. Syarat-syarat parameter dari suatu populasi yang menjadi sampel biasanya tidak diuji dan dianggap memenuhi syarat. Uji-uji pada statistic nonparametric dapat diterapkan jika kita menghadapi keterbatasan data yang tersedia. dan harus merupakan kombinasi linear dari efek-efek yang ditimbulkan. Untuk memahami konsep-konsep dan metode-metodenya tidak memerlukan dasar  matematika serta statistika yang mendalam. Uji statistic nonparametriki  adalah suatu uji statistik yang tidak memerlukan adanya asumsi-asumsi mengenai sebaran data populasi. Jika pengujian data menunjukkan bahwa salah satu atau beberapa asumsi yang mendasari uji statistic parametrik. Uji statistic ini disebut juga sebagai statistic bebas sebaran (distribution free). misalnya jika data telah diukur menggunakan skala pengukuran yang lemah (nominal atau ordinal). Populasi harus memiliki varian yang sama. 2. Statistik nonparametric dapat digunakan untuk menganalisis data yang berskala nominal atau ordinal karena pada umumnya data berjenis nominal dan ordinal tidak menyebar normal. sehingga  hasil penelitian segera dapat disampaikan. Dalam analisis varian ditambahkan persyaratan rata-rata dari populasi harus normal dan bervarian sama. (misalnya mengenai sifat distribusi data) tidak terpenuhi. pada umumnya statistic nonparametric digunakan untuk data berjumlah kecil (n<30) Keunggulan Statistik Nonparametrik  Asumsi dalam uji-uji statistic nonparametric relative lebih longgar. Observasi bebas satu sama lain dan ditarik dari populasi yang berdistribusi normal serta memiliki varian yang homogen. Statistik nonparametric tidak mensyaratkan bentuk sebaran parameter populasi berdistribusi normal. pengukuran terhadap data dilakukan dengan kuat. Data dengan skala interval danrasio 2. Perhitungan-perhitungannya dapat dilaksanakan dengan cepat dan mudah. Dari segi jumlah data. . Data menyebar/berdistribusi normal Keunggulan dan kelemahanstatistik parametrik : Keunggulan : 1. 2. maka statistic  nonparametric lebih sesuai diterapkan dibandingkan statistic parametrik.

6. o Variabel independen o Menguji perbedaan bila chi square 2 x 2 nominal antar proporsi tidak dapat o Variabel dependen dipergunakan o Rumus umum : tabel ordinal umum ( R by C ) o Rumus khusus : tabel 2x2 Syarat: Tabel 2 x 2 . Perbedaan chi-square. 4. Macam-macam Uji Nonparametik 1. dll. tingkat efisiensi nonparametric relative lebihr endah dibandingkan dengan metode parametrik. Kolmogorov Smirnov test.Tidak ada sel yang nilai expected nya < 5 . 5. Uji tanda (sign test) Rank sum test (wilcoxon) Rank correlation test (spearman) Fisher probability exact test. uji sampel atau lebih independen asosiasi o Sampel bersifat o Khusus untuk sampel o Alternatif Chi Square independen kecil untuk tabel 2 x n bila syarat Chi Square o Bisa untuk sampel o Merupakan uji asosiasi tidak dipenuhi kecil o Merupakan alternatif. Jika jumlah sampel besar. Chi-square test. 2. Keterbatasan Statistik Nonparametrik. Sampel kualitatif kualitatif independen o Dapat untuk satu o Sampel bersifat o Untuk sampel kecil. 3. fisher.Tabel R x C .Tidak ada sel yang . Efisiensi statistic nonparametric lebih tinggi dibandingkan dengan metode parametric untuk jumlah sampel yang sedikit.n > 20 .  Jika asumsi uji statistic parametric terpenuhi.6 7. akan menyebabkan pemborosan informasi. penggunaan uji nonparametric meskipun  lebih cepat dan sederhana. Kolmogoropv Smirnov Chi square Fisher Exact test Kolmogoropv Smirnov o Untuk jenis data o Untuk jenis data o Data kualitatif.

h. Dalam: Sastroasmoro S. Jakarta. 3-29 Available from: https://ebekunt. Jakarta: Sgung Seto.wordpress. h.pdf 2. 146-65.files. 4. 3. Usulanpenelitian. 5th ed. Wahidiyat I. Jakarta: Sgung Seto. Available https://moudyamo. Siahaan CM. Sudiyanto. Kadri N. Ismael S. kerangka teori. Setyaningsih I. Boedjang RF. Jakarta: Sgung Seto. Monintja HE. Metodelogi penelitian. kerangka konsep dan hipotesis [internet]. Dalam: Sastroasmoro S. Sastoasmoro S. Ismael S.- nilainya 0 Sel nilai yang expected nya < 5 harus < dari 20% Daftar Pustaka 1. Dasar- dasarmetodologipenelitianklinis. 31-65. 2014. Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 5th ed. Penelitian dalam bidang kedokteran dan kesehatan. 1-12. Bahan ajar Metlid: Tinjauan pustaka. Studikasus-kontrol. Soedibjo S.com/2016/02/01/bah-ajar-metlid-tinjauan-pustaka/ from: . Ismael S. 5th ed. Dasar-dasarmetodologipenelitianklinis. Djami MEU. [cited 2016 Jun 9].wordpress. Pudjiarto PS. 5. Garamedia. 2014.com/2009/04/metodologi-penelitian. Gatot D. Suradi R. 2009. 2014. Kuntjojo.h. h. Dalam: Sastroasmoro S.

bakteri ini bisa tumbuh hingga 109 sampai 110 per gram jaringan. Agent Mycobakterium Lepra. Soedjarwo SR. pada percobaan infeksi melalui binatang armadillo. (Ghazali MV. 130-44. 31-65. Jakarta: Sgung Seto. Tes lepromin adalah prosedur . Sastoasmoro S. h. Gatot D. Pramulyo HS. h. 2014. 5th ed.6. 5th ed. Dasar-dasarmetodologipenelitianklinis. Dasar- dasarmetodologipenelitianklinis. Usulanpenelitian. 2014. Dalam: Sastroasmoro S. Kadri N. Ismael S. Studicross-sectional. Ismael S. Organisme ini belum bisa dibiakkan pada media bakteri atau kultur sel. Bateri ini dapat dibiakkan pada jaringan telapak kaki tikus dengan jumlah mencapai 106 per gram jaringan. Sastromihardjo S. Pudjiarto PS. Host Kelangsungan dan tipe penyakit lepra sangat tergantung pada kemampuan tubuh untuk membentuk “cell mediated“ kekebalan secara efektif. Soelaryo T. Dalam: Sastroasmoro S. Lepra/Lepra A.) Tugas Evaluasi Program 1. B. 7. Jakarta: Sgung Seto.

Ulkus kulit pada penderita lepra lepromatusa dapat menjadi sumber penyebar basil. Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung pada penderita lepra tipe lepromatosa yang tidak diobati. ada tidaknya indurasi dalam 28 hari setelah penyuntikan disebut dengan reaksi Mitsuda. Reservoir Sampai saat ini manusia merupakan satu-satunya yang diketahui berperan sebagai reservoir. Diduga secara alamiah dapat terjadi penularan dari armadilo kepada manusia. dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari pada lendir hidung yang kering. Penularan lepra secara alamiah ditemukan terjadi pada monyet dan simpanse yang ditangkap di Nigeria dan Sierra Lione. C. Angka hasil tes yang positif akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Cara Transmisi Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas penularan di dalam rumah tangga dan konta/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan.1 . pada orang dewasa normal. Pada kasus anak-anak dibawah umur satu tahun. lepra dan terbentuknya antibodi spesifik terhadap M. Di Lusiana dan Texas binatang armadillo liar diketahui secara alamiah dapat menderita penyakit yang mempunyai lepra seperti pada percobaan yang dilakukan dengan binatang ini. Sebagai tambahan tingginya prevalensi transformasi limfosit yang spesifik terhadap M. D. Karena tes ini hanya mempunyai nilai diagnosis yang terbatas dan sebagai pertanda adanya imunitas. Reaksi Mitsuda negatif pada lepra jenis lepromatosa dan positif pada lepra tipe tuberkuloid. Organisme kemungkinann masuk melalui saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang terluka. Lepra yang telah mati kedalam kulit. Komite Ahli Lepra di WHO menganjurkan agar penggunaan tes lepromin terbatas hanya untuk tujuan penelitian. penularannya diduga melalui plasenta. lepra diantara orang yang kontak dengan penderita lepra menandakan bahwa penularan sudah sering terjadi walaupun hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menunjukan gejala klinis penyakit lepra.penyuntikan M.

Bila diperlukan dapat dilakuakan kegiayan penemuan aktif lainnya 2. Untuk penderita lepra. karena basil bakteri juga terdapat pada kelenjar keringat 6. 4. Penemuan pasien. . Segera melakukan pengobatan sejak dini secara rutin terhadap penderita lepra. 4. Tidak bertukar pakaian dengan penderita. Melakukan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai mekanisme penularan lepra dan informasi tentang ketersediaan obat-obatan yang efektif di puskesmas. 5. karena basil bakteri masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet. dengan cara berolahraga dan meningkatkan pemenuhan nutrisi. 10. Memisahkan alat-alat makan dan kamar mandi penderita lepra. 8. 9. Pemeriksaan POD (Prevention of Disability) dilakukan oleh petugas di PRK/RSUD. usahakan tidak meludah sembarangan. 2. hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya. Kriteria Kasus Kejadian Luar Biasa Kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) Menurut Permenkes 1501 Tahun 2010 adalah : 1. 7. Melakukan vaksinasi BCG pada kontak serumah dengan penderita lepra. Meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh. Untuk penderita yang sudah mendapatkan pengobatan tidak menularkan penyakitnya pada orang lain. Menghindari atau mengurangi kontak fisik dengan jangka waktu yang lama. dilaksanakan secara pasif diikuti dengan penanganan daerah focus yaitu pemeriksaan kontak keluarga dan tetangga.E. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah. regimen pengobatan diberikan oleh petugas PRK/RSUD/wasor. Pemantauan pengobatan dilakukan oleh petugas puskesmas non PRK dan pasien harus mendapatkan informasi penting berkaitan dengan pengobatan 5. 2. Lima Langkah Awal Ketika Penemuan Kasus Lepra 1. agar bakteri yang dibawa tidak dapat lagi menularkan pada orang lain.3 F. Diagnosis ditegakkan oleh petuhas PRK/RSUD/Wasor. 3. 1 G. Biala puskesmas non PRK menemukan suspek. Cara Pencegahan Penyebaran Penyakit Lepra 1. harus dirujuk ke PRK/ RSUD/wasor untuk konfirmasi diagnosis atau sebaliknya 3. Meningkatkan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan.1. Pengobatan. Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam. Isolasi pada penderita lepra yang belum mendapatkan pengobatan.

frekuensi dan faktor-faktor yang menentukan kejadian penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan pada masyarakat dan aplikasinya dengan pengendalian masalah tersebut. Kuman ini mempunyai masa inkubasi rata-rata 2-5 tahun. hanya sedikit orang yang akan terjangkit lepra setelah kontak dengan pasien lepra.1. sampai saat ini hanya manusia satusatunya yang dianggap sebagai sumber penularan walaupun kuman lepra dapat hidup pada armadillo.3. 6. Epidemiologi Penyakit Lepra Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari distribusi. sumber penularan.4 H. 7. atau minggu menurut jenis penyakitny 4.lepra yang utuh (hidup) keluar dari tubuh pasien dan masuk ke dalam tubuh orang lain. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang lama dengan pasien. kuman (agent) dan lingkungan (environment) melalui suatu proses yang dikenal sebagai rantai penularan yang terjadi dari 6 komponen yaitu: penyebab. simpanse dan pada telapak kaki tikus yang tidak mempunyak kelenjar tymus. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam. Timbulnya penyakit adalah interaksi dari baerbagai fakrtor penyebab yaitu : pejamu (host). hal ini disebabkan oleh kekebalan tubuh. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan dalam tahun sebelumnya. 5. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama. Penularan terjadi apabila M. Kuman lepra banyak ditemukan dimukopsa hidung manusia. .1. Sumber Penularan Lepra Penyebab penyakit lepra yaitu Mycobacterium lepra. akan tetapi dapat juga bertahun-tahun. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya. hari.3 I.

832). cara masuk ke pejamu dan pejamu. Distribusi Penyakit Lepra Berdasarkan Data WHO 2012 Jumlah kasus baru lepra pada tahun 2011adalah sekitar 219. Gamber 1.075. Tabel dibawah ini menggambarkan penemuan kasus baru dan prevalensi lepra.cara keluar dari sumber penularan. cara penularan. Dengan diketahuinya proses terjadinya infeksi atau penularan penyakit maka intervensi yang sesuai dapat dilakukan untuk memutuskan mata rantai penularan tersebut. regional Afrika (12. dari jumlah tersebut paling banyak terdapat di regional Asia Tenggara (160.123) diikuti regional Amerika (36.673) dan sisanya berada di regional lainnya. .

jarak antara satu kasus dengan kasus. kemuadian dipelajari proses terjadinya infeksi maka dapat dilakukan intervensi yang sesuai dengan terapi lepra di tempat-tempat yang masih memiliki angka kejadian baru dan prevalens sehingga dapat memutuskan mata rantai penularan lepra dan angka prevalensi akan menurun. Berdasarkan sifat wabah terbagi menjadi 2 jenis.Setelah diketahui distribusinya. Adapun Common Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum.1. selanjutnya hanya dalam hitungan jam. polusi kimia di udara terbuka. tidak ada angka serangan ke dua.3 K. Common Source Epidemic (Point Source Epidemic) Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Kejadian Luar Biasa Tipe Endemik Kejadian luar biasa adalah kejadian atau peristiwa dalam masyarakat atau wilayah dari suatu kasus penyakit tertentu yang secara nyata melebihi dari jumlah yang diperkirakan.2. yaitu : 1. Ciri-ciri Epidemik . biasa pada letusan keracunan makanan. menggambarkan satu puncak epidemi.1 J.

Kegiatan ini memerlukan biaya yang rendah namun memiliki efektifitas yang tinggi sehingga wajib dilakukan. Dengan kata lain. masa inkubasi yang pendek.dll. dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri. 3 L. Metode rehabilitasinyang terdiri dari rehab medis. jarak rumah ke puskesmas/sarsna kesehatan yang jauh. rehab sosial. Metode pemberantasan dan pengobatan 2. melalui kegiatan-kegiatan seperti: a. dan logos ~ ilmu pengetahuan. diamana tahap pertama diadakan sesuai dengan tanggal yang ditetapkan dan dilakuakn penyuluhan dan diskusi mengenai . epidemi berasal dari bahasa Yunani yaitu epi ~ pada atau tentang. epidemi adalah wabah yang terjadi secara lebih cepat daripada yang diduga. b. 2. dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. Rapid Village Survey: terdiri dari dua tahap. dll b. 4 M. Adapun yang menjadi cirri-ciri: timbulnya gejala penyakit cepat. pelayanan yang tidak mengakomodasi kebutuhan klien. demos ~ penduduk. Penemuan secara sukarela/pasif: adalah pasien yang ditemukan karena datang ke puskesmas/sarana kesehatan lainnya atas kemauan sendiri atau saran orang lain. Aspek dari penyedia layanan kesehatan: ketidakmampuan mengenali tanda lepra dan mendiagnosis. episode penyakit merupakan perinstiwa tunggal dan waktu munculnya penyakit jelas. Aspek dari sisi pasien: tidak mengerti tanda dini lepra. tidak tahu bahwa ada obat gratis dipuskesmas. malu datang ke puskesmas. Pemeriksaan kontak: kegiatan penemuan pasien dengan melalukan kunjungan ke rumah pasien yang baru ditemukan kasus (kasus indeks). Dalam epidemiologi. Langkah-Langkah Penanggulangan Lepra 1. Teknik Penemuan Pasien Lepra Penemuan pasien lepra secara garis besar terdiri dari penemuan aktif dan penemuan pasif. 1. Faktor-faktor yang menyebabkan pasien terlambat berobat: disebabkan oleh aspek: a. rehab karya. Penemuan aktif:pasien yang ditemukan secara aktif. maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar tersebut.Epidemik istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang.

buku petunjuk. 4. leaflet.lepra. Tahap ke dua dilakuakan pemeriksaan seluruh desa untuk mencari subjek yang dijaring dan dibuatkan kartu untuk diberikan pengobatan serta penyuluhan yang mendalam. Tingkat pusat membuat pedoman umum dan petunjuk pelaksanaan operasional program PPM. Case survey: kegiatan penemuan pasien lepra secara aktis dengan mengunjungi wilayah tertentu berdasrkan informasi dari berbagai sumber tentang keberadaan suspek lepra di daerah tersebut. Penyuluhan  Memeberikan penyuluhan pada penderita lepra.1. Persiapan  Alat yang harus dibawa : buku. Dan mendistribusikan sarana ke tingkat puskesmas. keluarga dan masyarakat diwilayah kerjanya tentang penyakit lepra (materi penyuluhan ada pada selebaran lepra.1 N. 2. 4. Pemeriksaan anak SD dan sederajat: kegiatan ini diprioritaskan pada wilayah yang terdapat kasus anak. Pencatatan dan pelaporan . menyediakan sarana antara lain obat-obatan. kapas. Pengobatan penderita 5. Special Action program for Elimination Leprosy (SAPEL). blangko pencatatan. 3. Penemuan penderita  Membantu petugas kesehatan pemerikksaan kontak serumah. Tingkat propinsi mengadakan pelatihan petugas tingkat kabupaten dan melakukan pembinaan sesuai dengan petunjuk pusat ke tingkat kabupaten dan puskesmas dan mendistribusikan kebutuhan sarana program ke tingkat kabupaten Tingkat kabupaten mengadakan pelatihan tenaga kesehatan tingkat puskesmas dan kader. buku kader) 3.4 O. Tugas Kader 1. mencacat tersangka penderita lepra di lingkungannya. formulir dan lai-lainnya. jarum. Leprasy Elimination Campaign (LEC) 6. Teknik Penyuluhan 1. 2. obat DDS. catatan. supaya lebih efisisen sebaiknya kegiatan ini diintegrasikan dengan usaha kesehatan sekolah (UKS) 5. buku lepra bergambar.

Pasca posyandu  Mengadakan pertemuan dengan kader untuk membicarakan masalah dan usul perbaikan pelaksanaan program antara lain pengertian dan tugas yang diberikan pada kader. Kebijakan program P2 kusta dan pengendalian penyakit kusta Penemuan penderita kusta (case finding) Diagnosis dan klasifikasi penyakit kusta Pengobatan.1. Pertemuan berkala di desa  Dilaksanankan sebulan sekali. Wisata karya 7. 7. Pertemuan berkala dipuskesmas 4. Penyegaran Dilakukan 6 bulan sekali 6. Perlombaan  Perlombaan antar desa binaan tentang materi yang berkaitan dengan program.Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam usaha peningkatan peran kader dengan pembinaan : 1. 6.1. Dsini juga dibahas kegiatan koordinasi dan evaluasi pelaksanaan program. 8. Isi Kegiatan dan Evaluasi Program Kegiatan program kusta: A. Forum pemecahan masalah  penghargaan dan stimulasi. 5. Pelayananpasien  penemuansuspek  diagnosis  penentuan regimen danmulaipengobatan  pemantauanpengobatan  pemeriksaankontak  konfirmasikontak  diagnosis &pengobatanreaksi  penentuandanpenangananreaksi  pemantauanpengobatanreaksi  POD &perawatandiri . 3.2 Q. 2.3 P. 5. 3. 2. Tatalaksanapasien a. 4. pengendalian. Pelatihan Kader 1. dan pemantauan pengobatan pada penderita kusta Pencegahan cacat dan perawatan diri Penanganan penderita reaksi Promosi pengendalian penyakit kusta Monitoring dan evaluasi program P2 kusta.

000 penduduk Angkacacattingkat 2: angkakasusbaru yang telahmengalamicacattingkat 2 per  100. Indikatorutama  Angkapenemuankasusbaru : jumlahkasusbaru yang ditemukanpadaperiodesatutahun  per 100. Angkaprevalensiadalahjumlahkasuskustaterdaftar PB dan MB padasuatusaattertentu per 10. B. Evaluasi program: A. Tatalaksana program  Rapid village survey  Intensifikasi pemeriksaan konak serumah dan lingkungan  Pemeriksaan laboratorium pada pasien dengan diagnosis meragukan  Penyuluhan. advokasi  Pelatihan petugas puskesmas dan RS  Pelatihan wasor kabupaten dan provinsi  Suervisi  Pencatatan dan pelaporan  Monitoring dan evaluasi  Stock logistic MDT  Rehabilitasi medik sosial eonomi  Seminar denga FK/Perdoski  Seminar dengan sekolah calon tenaga kesehatan lain. menentukanbebankerjadansebagaialatevaluasi. Prevalensiadalahjumlahkasusterdaftarpadasuatusaattertentu. Penyuluhanperorangan b.  Proporsikasusanak (0-14 thn)  Proporsi MB  Proporsiperempuan C. Pendukung pelayanan  Stok MDT  Pengisian kartu pasien  Register kohort pasien  Pelaporan  Penanggung jawab program B.000 penduduk. .000 penduduk. Indicator tatalaksanakasus  Proporsi kasus baru yang didiagnosis dengan benar  Proporsikasus defaulter: jumlahkasus yang tidakmenyelesaikanpengobatantepat. Indikator lain yang bermanfaat  Proporsicacattingkat 2: menunjukkanketerlambatanantarakejadianpenyakitdanpenegakkan diagnosis. Angkakesembuhan: angkainisangatpentingdalamkualitastatalaksanaasiendankepatuhanpasiendalamminum  obat Prevalensidanangkaprevalensi: menunjukkanbesarnyamasalah di suatudaerah.

2.1. dan mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan. termasuk keluarganya. Dampak terhadap Kejadian Kusta Seseorang yang merasakan dirinya menderita penyakit kusta akan mengalami trauma psikis. Langkah-Langkah Perbaikan Program    Melantikdanmelatihkaderuntuktandadangejalakustasertagejalareaksikusta Melantikdanmelatih kader untuk pemantauan makan obat pasien kusta Penyuluhan berkala tentang kusta dan pencegahannya. Dengan segera mencari pertolongan pengobatan. tidak dapat diobati. Masalah terhadap diri penderita kusta Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri. (jadi pengemis. karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain 2. keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarat disekitarnya. berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional. maka penderita sulit untuk diterima di tengah-terigah masyarakat. gelandangan dsb). Keluarga menjadi panik. Masalah Terhadap Masyarakat. penyakit keturunan. berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat disekitarnya. c. 2 S. najis dan menyebabkan kecacatan. takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan. merasa takut dan menyingkirkannya. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan. Sebagai akibat dari trauma psikis ini.  Jumlahkasuskambuh Proporsikecacatanpadasaat RFT. kutukan Tuhan. apatis.3 . sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit yang sangat menular. si penderita antara lain sebagai berikut : a. takut mengahadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka yang kurang wajar. Segan berobat karena malu. Masalah Terhadap Keluarga. Oleh karena berbagai masalah. masyarakat menjauhi keluarga dari perideita. merasa tekan batin. b. Menyembunyikan (mengasingkan) diri dari masyarakat sekelilingnya. Sebagai akibat kurangnya pengetahuan/informasi tentang penyakit kusta. Mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu bahwa ia atau keluarganya menderita penyakit kusta. Pada umumnya masyarakat mengenal penyakit kusta dari tradisi kebudayaan dan agama. d. 3.5 R. Sebagai akibat dari hal-hal tersebut diatas timbullah berbagai masalah antara lain: 1. pada akhirnya si penderita bersifat masa bodoh terhadap penyakitnya.

Formulir registrer stok obat MDT . MDT-4 2. 1. dengan mengisi formulir a. Data pokok program eliminasi f.T. Puskesmas dan rumah sakit melaksakan pencatatan dengan menggunakan formulir a. Data pokok program P2 lepra c. Alur Pelaporan Kasus Lepra ke Pusat Pencatatan dan pelaporan merupakan salah satu elemen yang sangat penting untuk mendapat gambaran dan informasi kegiatan disemua tingkat pelakksana program penyakit lepra. Rekapitulasi laporan program P2 lepra kabupaten b. Kartu pasien b. Formulir pencatatan pencegahan cacat d. Kabuapaten/kota. Register kohort PD dan MB c. pencatatan hasil kegiatan program lepra di Dinas Kesehatan kabupaten/Kota menggunakan pencatatan dan pelaporan elektronik. Formulir permintaan MDT-3. Formulir evaluasi pengobatan reaksi berat e. Formulir register stok obat MDT g.

1. Pasien harus mengerti bnahwa pengobatan MDT dapat membunuh kuman lepra. Data pokok program P2 lepra c. Petuhas lepra harus memperhatikan pasien dengan cacat menetap dan menentukan tindakan perawatan diri apa yang perlu dilakukan pasien itu dengan menguupayakan penggunaan material yang mudaj diperoleh disekitar lingkungan pasien.1. Merawat diri - Untuk mencegah kerusakan mata . tangan dan kaki dari trauma fisik 3. Rekapitulasi laporan program P2 lepra kabupaten b. Melindungi mata. Prinsip pencegahan cacar dan bertambah beratnya cacat pada pasien dasarnya adalaj 3M yaitu: 1. Kegiatan pencegahan cacat di rumah Dilakukan sendriri oleh pasien. tetapi peragakan tindakan-tindakan yang harus dilakukan dan bantulah pasien supaya dapat melakukan sendiri. tangan dan kaki selalu teratur 2. puskesmas maupun unit pelayanan rujukan seperti rumah sakit umum atau rumah sakit rujukan. Petugas jangan hanya memberikan teori saya kepada pasien. Formulir register stok obat d.4 U. dinas kesehatan provinsi menggunakan formulir pencacatan sebagai berikut: a.d. Propinsi. Tetapi cacat mata. Akan efektif bila pasien sendiri yang bertanggungjawab atas kondisi tubuhnya. tangan atau kaki sudahj terlanjur terjadi akan tetap ada seumur hidupnya. Formulir permintaan MDT1 MDT 4. Pencegahan Penyakit Lepra Upaya-upaya pencegahan cacat dapat dilakukan baik di rumah. Kriteria Endemis di Daerah sporadic/ Daerah bebas V. Memeriksan mata. sehingga harus bisa melakukan perawatan diri dengan teratur agar cacatnya tidak bertambah berat. Formulir permintaan MDT1 MDT 4 3.

untuk mencegah lika pada tangan yang mati rasa dengan cara: a. Merawat diri: tetes mata mengandung saline. c. Melindungi: melindungi mata dari debu dan angin yang dapat melukai mata/mangeringkan mata. Memeriksa: sangatlah sering berhenti dan periksa tangan dengan teliti apakah ada luka atau lecet yang sekecil apapun. jika mata sangat kering waktu istirahat tutup mata dengan menggunakan sepotong kain basah . menggiling padi dan membakar sampah.Untuk mencegah kerusakan tangan a. b. Memeriksa: sering bercermin untuk melihat apakah ada kemerahan atau benda yang masuk ke mata. Untuk tangan yang mati rasa Tangan yang mati rasa dapat teluka.a. . dengan cara: memakai kaca mata. menghindari tugas-tugas dimana ada debu misalnya mencengkul.

b. Melindungi: melindungi kuli tangan dari benda-banda tajam yang budah menimbulkan luka c. Memeriksa: tangan secara rutin luka mungkin terjadiakibat penggunaan tangan dengan jari yang bengkok b. retak dan kulit pecah-pecah yang tidak terasa. sehingga selalu periksa kemungkinan kekeringan. Merawat: rendam selama 20 menit setiap hari dalam air. Merawat: sesering mungkin setiap hari memakai tangan lain untuk meluruskan sendi-sendi dan mencegah supaya jangan sampai terjadi kerusakan yang lebih berat. c. otot pergelangan kaki bagaian belakang akan memendek sehingga kaki itu tetap tidak bisa diangkat. Untuk pencegahannya: a. Mencegah: umumnya jika kulit tangan kering sudah disertai dengan mati rasa. c. Melindungi: lindungilah tangan dari benda yang panas. Melindung: menggunakan alat bantu untuk aktivitas sehari-hari yang dimodifikasi untuk digunakan oleh jari bengkok. sendi akan menjadi kaku dan otot akan memendek sehingga jari akan menjadi lebih kaku dan tidak dapat digunakan. . Untuk Mencegah Kerusakan Kaki Untuk kaki yang semper Kalau kaki simper dibiarkan tergantung. Memeriksa: apakah ada luka atau tidak? b. kasr ataupun tanjam dengan memakai kaos tangan tebal atau alas kain dan mencegah luka dengan membagi tugas rumah tangga supaya orang lain mengerjakan bagian yang berbahaya bagi tangan yang mati rasa. b. Untuk kulit Tangan yang Kering Kekeringan akan mengakibatkan luka-luka kecil yang mudah terinfeksi a. Melindungi: untuk mencegah agar kaki yang simper tidak bertambah cacat maka dianjurkan: . untuk mencegahnya: a.selalu memakai sepatu supaya jari-jari tidak terseret dan luka .pakai kain karet antara lutut dan sepatu guna mengangkat bagian kaki bagian dengan waktu berjalan. Merawat luka: jika luka. c. Untuk Jari Tangan yang Bengkok Kalau dibiarkan bengkok.mengangkat lutut tinggi waktu berjalan . rawatlah dan istirahatkan bagian tangan sampai sembuh. menggosok bangian kulit yang tebal kemudian langsung mengolesi minyak kelapa atau minyak lain yang dapat menjaga kelembaban kulit. memar atau lecet sekecilapaun.b.

Untuk luka borok/ulkus luka terjadi karena menginjak benda tajam. jika kelemahan saja yang terjadi. Untuk Kulit Kaki yang Kering Kulit yang kering akan mengakibatkan luka-luka kecil yang mudah terinfeksi a. seteleh dikeluarkan dari air. gosok bagian pnggiran luka yang menebal dengan batu apunh. Penanganan Lengkap . dan tarik tali karet itu dengan punggung kaki.1. balut lalu istirahatkan bagian kaki itu (jangan diinjakkan pada waktu berjalan. Perawatan yang tepat ialah bersihkan luka dengan sabun kemudian rendam kaki dalam air selama 20-30 menit. memilih alas kaki yang tepat yaitu: empuk di dalam. b.2 W. berjalanlah pincang pakai tongkat. latih kaki dengan mengikatkan karet pada tiang atau kaki meja. Cara merawat kaki rendam selama 20 menit setiap hari dalam air. Paiakilah kain panjang atau sarung yang disangkutkan pada baggian depan kaki itu dan tarik ke arah tubuh. Melindungi dan Merawat: melindungi kuli tangan dari benda-banda tajam yang budah menimbulkan luka. Kaki tetap dipakai untuk berjalan sementyara kaki menampung beban berat badan. keras di bagian bawahnya supaya benda tajam tidak dapat tembus. panas atau kasar atau memar yang tidak dihiraukan karena pasien tidak merasa sakit/mati rasa. beri minyak bagian kaki yang tidak luka. kruk atau sepeda). Memeriksa: sering berhenti dan memeriksa kaki dengan teliti apakah ada luka atau memar atau lecet yang kecil sekalipun. Merawat: cegah terjadinya luka dengan cara langsung raway dan istirahaykan kaki. Sebenarnya luka dapat sembuh sendiri selama beberapa minggu. menggosok bangian kulit yang tebal kemudian langsung mengolesi minyak kelapa atau minyak lain yang dapat menjaga kelembaban kulit. c.c. Merawat: kaki simper agar tidak makin parah dengan cara duduk atau dengan kaki lurus ke depan. lalu tahan beberapa saat dan kemudian ulangi beberapa kali. akibatnya luka tersebut semakin hancur /rusak. tidak mudah lepas. Untuk Kaki yang Mati Rasa untuk mencegah caranya: a. Melindungi: lindung kaki dengan selalu memakai alas kaki. b. Memeriksa: secara rutin apakah ada bagian kaki yang kering mengalami retak dan luka b. d. c.

WHO merekomendasikan pengobatan lepra dengan Multi Drug Therapy (MDT) untuk tipe PB dan MB. Pasien paisibasiler (PB) Dewasa Pengobatan bulanan: hari pertama (obat diminum di depan petugas) 2 kapsul rifammpisin @ 300 mh (600mg) 1 tablet dapson /DDS 100 mg Pengobatan harian: hari ke 2-28 1tablet dapson/DDS 2.1 . salah satunya rifampisin sebagai anti lepra yang bersifat bakterisidal kuat sengakan antilepra lain bersifat bakteriostatik 1. Pasien dewada multibasiler (MB) 2 kapsul rifammpisin @ 300 mh (600mg) 3 tablet lampren @100 mg (300 mg) 1 tablet dapson /DDS 100 mg Pengobatan harian: hari ke 2-28 1 tablet dapson/DDS 1 tablet lampren @100 mg. MDT adalah kombinasi dua atau lebih oabat lepra.

dikatakan bahwa apabila kuman Kusta tersebut masih utuh bentuknya maka memiliki kemungkinan penularan lebih besar daripada bentuk kuman yang telah hancur akibat pengobatan.4. Karena tidak semua sentuhan kulit ke kulit itu dapat menyebabkan penularan.6 Y. Walau tidak terdapat hukum-hukum pasti penularan Kusta ini.X. namun para ahli mengatakan bahwa penyakit Kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan juga melalui kulit. Sehingga. Penemuan Kontak Sampai saat ini penyebab penularan penyakit kusta yang pasti masih belum diketahui. namun berdasarkan beberapa sumber. Sampai saat ini masih belum ditemukan vaksinasi terhadap Kusta. Cara penularan lain yang umumnya diungkapkan adalah melalui kulit ke kulit. Insidensi dan Attack rate Lepra Prevalensi Lepra di Indonesia . namun dengan syarat tertentu. Namun ada beberapa artikel yang menyatakan bahwa penularan Kusta ini melalui sekret hidung penderita yang telah mengering dimana basil dapat hidup 2 -7 hari. perlu ditekankan bahwa pengobatan merupakan jalan untuk mencegah penularan penyakit Kusta ini. perlu diketahui bahwa jalan keluar dari kuman Kusta ini adalah melalui selaput lendir hidung penderita. Prevalensi.

Kabupaten Tegal. Untuk menurunkan lebih lanjut beban penyakit kusta dan mempertahankan kesinambungan kegiatan pemberantasan kusta sebagai acuan bagi negara-negara yang masih mempunyai masalah dengan penyakit ini.000 penduduk. dengan angka penemuan kasus baru lebih besar dari 10 per 100.Berdasarkan laporan badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2000 dari sejumlah negara melaporkan. Berdasarkan laporan yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa tengah. 2003). 2000).924 orang (WHO. Kota Pekalongan. sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu tentang: data tentang jumlah penderita baru. Kedelapan kabupaten atau kota endemis kusta itu yaitu Kabupaten Brebes. Sampai akhir 2008 tercatat 17. Berdasarkan laporan dari Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa tengah tahun 2003 menyatakan sebanyak delapan dari 35 kabupaten atau kota yang ada di Jawa Tengah dinilai endemis penyakit kusta (lepra).000 penduduk). Dari laporan tersebut dikawasan asia tenggara tercatat sebagai kawasan yang mempunyai prevalensi tertinggi yaitu 3. Blora.000 penduduk). Jepara dan Kudus (Dinkes. tahun 2002 terdapat angka kejadian penderita penyakit kusta sebanyak 1763 (0.44 per 10.7 Insidensi Lepra di Indonesia Adalah gambaran tentang frekwensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu di satu kelompok masyarakat.53 per 10.71 per 10.441 kasus baru kusta di Indonesia. angka kejadian (prevalensi) penyakit kusta didunia tercatat 2. pada tahun 2000 terdapat angka kejadian penderita kusta sebanyak 1404 (0.000 penduduk dengan sejumlah penderita sebanyak 641. Rembang.000 penduduk). Kabupaten Pekalongan. di Indonesia saat ini masih ada 14 Propinsi yang dengan beban kusta yang tinggi. dan Nepal (Depkes RI.8 per 10.000 penduduk atau penemuan kasus baru di atas 1.091 orang. Brazil. Menurut Prof Tjandra.000 penduduk). Angka prevalensi kusta di Indonesia saat ini adalah 2.000 penduduk). karena di daerah itu paling banyak ditemukan penderitanya.48 per 10.000 penduduk. tahun 2003 terdapat angka kejadian penderita kusta sebanyak 1915 (0. dimana jumlah penderitanya sebanyak 574.69 per 10.8 per 10. tahun 2004 terdapat angka kejadian penderita kusta sebanyak 1987 (0. tahun 2001 terdapat angka kejadian penderita kusta sebanyak 1493 (0. 2000). Untuk dapat menghitung angka insidensi suatu penyakit.000 kasus per tahun. pada tahun 2006 WHO mengeluarkan panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Leprosy Burden and Sustaining Leprosy Control .2 per 10. Dalam hal ini Indonesia menempati peringkat keempat terbesar yang mengidap penyakit kusta setelah India.

Petunjuk praktis bagi orang yang terkena kusta yang ingin mencegah kecacatan. Manfaat Attack Rate adalah : Memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu penyakit.2005 3.Activities (2006 . Departemen Kesehatan RI. Edisin-6. Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin. New Delhi: WHO. Jakarta. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Jakarta. Dalam panduan tersebut WHO menetapkan target angka cacat yang kelihatan (cacat tingkat-2) per 100. DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2012 2. FK-UI. 4. Direktorat Jenderal PPM&PLP. Kemudian pada 2009.2015)”. Peran Surveilans Dalam Upaya penanggulangan KLB Penyakit Menular dan keracunan.7 Attack Rate Yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama. A. Kusta. 2010. Saya bisa melakukannya sendiri. maka makin tinggi pula kemampuan Penularan Penyakit tersebut. WHO merilis panduan operasional “Global Strategy for Further Reducing the Disease Burden Due to Leprosy (2011 .2010)”. Kosasih. Makin tinggi nilai AR.1000 penduduk turun 35 % dari data tahun 2010. 2011 5. Buku pedoman nasional pengendalian penyakit kusta. Modul pelatihan komunikasi interpersonal dan advokasi P2 kusta. 2007 .

7.6. Insidens dengue berhubungan dengan cuaca yang hangat dan kelembaban tinggi. Hadilukito G. Menaldi SL. Ismiarto SP. Dalam: Daili ESS. dan demografi. 2000: 83-92. Pergeseran kelompok umur. faktor biologi. Demam Berdarah Dengue Epidemiologi Epidemik dari DD dan DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia sejak ditemukan pada tahun 1968. 2. Jakarta: FKUI. Wisnu IM. 2005. Pencegahan cacat kusta. Kusta. Edisi ke-2. yaitu faktor lingkungan. Epidemiologi DBD di indonesia telah berubah dengan meningkatnya jumlah kasus dari seluruh tiga puluh tiga propinsi. Nilasari H. editors.Epidemik dengue dipengaruhi beberapa faktor. faktor penentu sosial dan biologi dari . Kecacatan & pencegahan cacat bagi petugas pengelola program P2 kusta tingkat propinsi/kabupaten. penyebaran ke pedesaan. Modul 4. Suhu yang tinggi dapat merangsang perkembangbiakan vektor dan perilaku nyamuk menggigit. Pusat latihan kusta nasional Makassar.

Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti baik di dalam maupun   di luar rumah/bangunan. Setelah menemukan/menerima laporan adanya penderita DBD. ke-4 serotipe virus dengue menyebar di Karibia.2 Langka awal yang dilakukan jika menerima laporan demam berdarah (DBD)2 1. Nepal. 3. maka selain dilakukan di rumah PE juga  dilakukan di sekolah/tempat kerja penderita oleh puskesmas setempat. Di pantai Timur Afrika terdapat mulai dari Mozambik sampai ke Etiopia dan di kepulauan lepas pantai seperti Seychelles dan Komoro. Di Amerika.ras dan jenis kelamin yang rentan berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan. Kamboja. Menyiapkan peralatan survei.1 Berbagai serotipe virus Dengue endemis di beberapa negara tropis. dilakukan pemeriksaan kulit  (petekie). virus Dengue endemis di China Selatan. Pakistan. senter. Amerika Tengah. Paraguai dan Argentina. Bila penderita adalah siswa sekolah dan pekerja. petugas Puskesmas/ Koordinator DBD segera mencatat dalam Buku catatan Harian Penderita DBD. Bangladesh. Venezuela. formulir PE (penyelidikan epideiologi). Guyana. Tahun 1990 terjadi KLB di Meksiko. Ekuador. Thailand. dan uji torniquet. 2. India. Memberitahukan kepada Kades/Lurah dan Ketua RW/RT setempat bahwa di wilayahnya ada penderita DBD dan akan dilaksanakan PE. Pelaksanaan PE sebagai berikut  Petugas Puskesmas memperkenalkan diri dan selanjutnya melakukan wawancara dengan keluarga. Laos. Negara dengan endemisitas rendah di Papua New Guinea. Myanmar. Karibia. Filipina. untuk mengetahui ada tidaknya penderita DBD lainnya (sudah ada konfirmasi dari rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya). Kegiatan PE dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi tempat tinggal penderita. Bolivia. Masyarakat di lokasi tempat tinggal penderita membantu kelancaran pelaksanaan PE. dan 4 endemis di Afrika.3. Peru.2. Suriname. Brazil. 5. . Vietnam. Australia Utara. Hasil pemeriksaan adanya penderita DBD lainnya dan hasil pemeriksaan terhadap penderita demam (tersangka DBD) dan pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir PE. Sri Langka. Kolombia. Amerika Tengah dan Amerika Selatan hingga Texas (19771997). Malaysia dan Singapura. Hainan. Taiwan dan sebagian besar negara Pasifik. termometer. Saudi Arabia pernah melaporkan kasus yang diduga DBD. Serotipe Dengue 1. Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas. Di Asia. dan penderita demam saat itu dalam  kurun waktu 1 minggu sebelumnya. Pola peningkatan kasus infeksi dengue den-3 secara epidemiologi berhubungan dengan musim hujan karena penampungan air hujan akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. dan surat tugas. seperti: tensimeter. Virus Dengue sejak tahun 1981 ditemukan di Quesland. 4. Indonesia.

untuk tindak  lanjut lapangan dikoordinasikan dengan Kades/Lura Bila hasil PE positif (Ditemukan 1 atau lebih penderita DBD lainnya dan/atau ≥ 3 orang tersangka DBD. Penyuluhan. sehingga dapat menularkan kepada orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Dalam waktu kurang dari 7 hari orang tersebut menderita sakit demam berdarah dengue. namun tempat yang potensial bagi penyebaran penyakit adalah desa rawan dan tempat umum. dan ditemukan jentik (≥5%). Tetapi semuanya merupakan pembawa virus dengue selama 1 minggu. termasuk ke kelenjar liurnya. seluruh wilayah mempunyai risiko untuk kejangkitan penyakit demam berdarah dengue. Nyamuk ini mendapat virus dengue pada waktu mengisap darah penderita penyakit demam berdarah dengue atau orang tanpa gejala sakit yang membawavirus itu dalam darahnya (carier). Jika nyamuk ini menggit orang lain. Sumber Penularan2 Penyakit demam berdarah dengue umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (meskipun juga dapat ditularkan oleh Aedes albopictus yang hidup di kebun). Orang yang kemasukan virus dengue tidak semuanya akan sakit demam berdarah dengue. atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit. Selain itu mobilitas penduduk dikota pada umumnya. jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan. Virus dengue memperbanyak diri dan menyebar keseluruh tubuh nyamuk. maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. sedangkan bila negatif dilakukan Penyuluhan. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain sangat berdekatan sehingga memudahkan nyamuk penular Demam Berdarah Dengue (Aedes Aegypti) menyebarkan virus dengue dari satu orang ke orang lain yang ada disekitarnya (jarak terbang nyamuk Aedes aegypti biasanya tidak lebih dari 100 meter). Ada yang demam ringan yang akan sembuh dengan sendirinya.3 Pemastian KLB . Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan akan berada dalam darah selama 1 minggu. Mencegah penyebaran Penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue di daerah perkotaan lebih intensif dari pada di daerah pedesaan. Hasil PE segera dilaporkan kepada kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Hal ini disebabkan kepadatan jumlah penduduk yang tinggi didaerah perkotaan. PSN dan Larvasidasi selektif). 82 dilakukan penanggulangan fokus (Fogging. PSN dan larvasidasi selektif.

pengumpulan dan pemeriksaan spesimen serta peningkatan kegiatan surveilans kasus dan vektor. larvasidasi. dapat dilakukan analisis pola minimum-maksimum kasus DBD bulanan maupun mingguan dengan pembanding kasus DBD pada tahun-tahun sebelumnya. PSN DBD . Lokasi penyemprotan meliputi seluruh wilayah terjangkit yang menjadi sasaran yaitu rumah dan . maka peningkatan kasus pada setiap wilayah dapat dijadikan peringatan dini sebelum terjadi KLB. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukan kenaikan ≥ 2 kali bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya. dan tenaga lain yang telah dilatih.Pada unit pelayanan kesehatan dengan sistem informasi yang berjalan baik dan jumlah kasus DBD dapat dideteksi sesuai dengan wilayah administratif seperti desa atau kelurahan. 3. penyuluhan di seluruh wilayah terjangkit. a. 4. CFR suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menununjukan kenaikan 50% atau lebih di banding CFR periode sebelumnya. dan lain-lain. Pengobatan dan Perawatan Penderita Penderita DBD derajat 1 dan 2 dapat dirawat puskesmas yang mempunyai fasilitas perawatan. dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval 1 minggu). Beberapa penyakit khusus: kolera. seperti: pembentukan posko pengobatan dan posko penangggulangan. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukan kenaikan ≥ 2 kali dibandingkan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya. 8. Proposional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukan kenaikan ≥ 2 kali dibandingkan periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya. penyelidikan KLB. Selain dengan menetapkan pola maksimum-minimum. DHF/DSS daerah endemis (setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya) dan terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit tersebut. pada daerah desa atau kelurahan sebaiknya ditetapkan telah berjangkit KLB DBD apabila memenuhi satu kriteria sebagai berikut:4 1. 2. 7. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal. Peningkatan kejadian/kematian ≥ 2 kali dibandingkan dengan periode sebelumnya. b. 5. Pemberantasan Vektor  Penyemprotan insektisida (pengasapan / pengabutan) dengan pelaksananya yaitu petugas dinas kesehatan kabupaten/kota. puskesmas. Langkah-langkah pelaksanaan penanggulangan KLB2 Bila terjadi KLB/wabah. 6. Untuk memastikan bahwa peningkatan kasus adalah KLB atau bukan KLB. dan kegiatan penanggulangan lainnya yang diperlukan. sedangkan DBD derajat 3 dan 4 harus segera dirujuk ke Rumah Sakit.

tempat-tempat umum, alat yang digunakan yakni hot fogger/mesin pengabut atau ULV.

Fogging/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan interval satu minggu.
Pemberantasan sarang jentik/nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) dengan
pelaksana oleh masyarakat di lingkungan masing-masing. Lokasi meliputi seluruh
wilayah terjangkit dan wilayah sekitarnya yang merupakan satu kesatuan epidemiologis.
Sasarannya adalah semua tempat potensial bagi perindukkan nyamuk, tempat
penampungan air, barang bekas (botol aqua, pecahan gelas,ban bekas, dll) lubang
pohon/tiang pagar/pelepah pisang, tempat minum burung, alas pot, dispenser, tempat
penampungan air di bawah kulkas, dibelakang kulkas dsb, di rumah/bangunan dan tempat
umum. Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan kegiatan 3 M plus terdiri dari
menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air,
memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menjadi tempat
penampungan air, menaburkan bubuk larvasida, memelihara ikan pemakan jentik,
menanam pohon pengusir nyamuk (sereh, zodia, lavender, geranium), memakai obat anti

nyamuk(semprot, bakar maupun oles), menggunakan kelambu, pasang kawat kasa, dll.
Larvasidasi dilaksanakan dengan pelaksananya adalah tenaga dari masyarakat dengan
bimbingan petugas puskesmas atau dinas kesehatan kabupaten atau kota, lokasi meliputi
seluruh wilayah terjangkit atau wilayah KLB, sasarannya adalah tempat Penampungan

Air (TPA) di rumah dan Tempat-Tempat Umum.
c. Penyuluhan dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota bersama Puskesmas.

Upaya Pemberantasan penyakit demamberdarah
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Mencegah dengan melakukan PSN
Penemuan, pertolongan, dan pelaporan
Penyelidikan epidemiologi dan pengamatan penyakit
Penanggulangan seperlunya
Penanggulangan lain
Penyuluhan

Pencarian Kasus Demam Berdarah
Penemuan penderita
o

Penemuan penderita secara aktif dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi (PE)

o

dengan mencari penderita DBD lainnya.
Penemuan penderita secara pasif dilakukan oleh puskesmas atau unit pelayanan kesehatan
lainnya.

Tahapan penemuan penderita2
a. Keluarga yang anggotanya menunjukkan gejala penyakit demam berdarah dengue
memberikan pertolongan pertama (memberi minum banyak, kompres dingin dan dan obat

penurun panas yang tidak mengandung asam salisilat) dan dianjurkan segera memeriksakan
kepada dokter atau unit pelayanan kesehatan.
b. Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan, penentuan diagnosa dan pengobatan/perawatan
sesuai dengan keadaan penderita dan wajib melaporkan kepada puskesmas.
c. Kepala keluarga diwajibkan segera melaporkan kepada lurah/kepala desa melalui kader, ketua
RT/RW, Ketua Lingkungan/Kepala Dusun.
d. Kepala asrama, ketua RT/RW, Ketua Lingkungan, Kepala Dusun yang mengetahui adanya
penderita/tersangka diwajibkan untuk melaporkan kepada Puskesmas atau melalui
lurah/kepala desa.
e. Lurah/Kepala Desa yang menerima laporan, segera meneruskannya kepada puskesmas.
f. Puskesmas yang menerima laporan wajib melakukan penyelidikan epidemiologi dan
pengamatan penyakit..

Angka Kesakitan/Insiden Rate (IR)
IR adalah ukuran yang menunjukkan kecepatan kejadian (baru) penyakit populasi. IR
merupakan proporsi antara jumlah orang yang menderita penyakit dan jumlah orang dalam
risiko x lamanya ia dalam risiko.2
IR = Jumlah kasus baru penyakit X 100% Juml orang yang berisiko
Angka Kematian/Cured Fatality Rate (CFR)
CFR adalah angka kematian yang diakibatkan dari suatu penyakit dalam suatu waktu tertentu
dikalikan 100%.2
CFR = Jumlah kematian Jumlah kasus X 100%
Attack Rate
Ukuran epidemiologi pada waktu terjadi KLB, untuk menghitung kasus pada populasi
berisiko di wilayah dan waktu tertentu.2
AR = Jumlah kasus Jumlah populasi berisiko pada waktu tertentu
Mekanisme pelaporan2
a. Pelaporan dari Puskesmas
1. Setiap puskesmas melaporkan kasus suspek infeksi Dengue ke dinas kesehatan
kabupaten/kota. Puskesmas juga wajib melaporkan kasus infeksi dengue (DD, DBD dan
SSD) yang dapat didiagnosis di puskesmas dalam waktu 24 jam menggunakan form KDPKM DBD
2. Puskesmas dapat merujuk kasus (suspek infeksi dengue, DD, DBD dan SSD) yang tidak
dapat ditangani di puskesmas.

b. Pelaporan dari RS
1. Setiap unit pelayanan kesehatan yang menemukan kasus infeksi dengue (DD, DBD, SSD)
wajib segera melaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota setempat selambat-lambatnya
dalam 24 jam dengan tembusan ke puskesmas wilayah tempat tinggal penderita (KD-RS).
Laporan

tersebut

merupakan

laporan

yang

dipergunakan

untuk

tindakan

penanggulangannya.
2. Pelaporan kasus mingguan dan bulanan merupakan laporan rekapitulasi kasus (suspek
infeksi dengue DD, DBD dan SSD) yang dilaporkan setiap minggunya atau bulannya dari
puskesmas dan rumah sakit dengan menggunakan form W2.
c. Pelaporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi
1. Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan
2. Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB
3. Laporan STP
d. Pelaporan dari dinas kesehatan Provinsi ke pusat (Subdit Arbovirosis, Ditjen PP dan PL)
1. Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan
2. Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB.
3. Laporan STP

Tatalaksana2
Tatalaksana Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat simtomatis dan suportif, yaitu
mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan
sebagai akibat perdarahan. Pasien bermanifestasi ringan dapat berobat jalan sedangkan pasien
dengan tanda bahaya dirawat.
a. Tatalaksana Infeksi Dengue dengan manifestasi ringan Pasien dengan manifestasi ringan dapat


berobat jalan tetapi jika ada perburukan harus dirawat. Pasien rawat jalan dianjurkan
Tirah baring, selama masih demam.
Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan.
Untuk menurunkan suhu menjadi <39 oC dianjurkan pemberian parasetamol. Asetosal/salisilat
tidak dianjurkan (indikasi kontra) oleh karena dapat meyebabkan gastritis, perdarahan, atau

asidosis.
Dianjurkan pemberian cairan dan elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, disamping air putih,


dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 hari.
Monitor suhu, urin dan tanda-tanda bahaya sampai melewati fase kritis.
Monitor pemeriksaan laboratorium darah rutin berkala

Bila setelah demam turun didapatkan nyeri perut hebat, buang air besar hitam, atau terdapat
perdarahan kulit serta mukosa seperti mimisan, perdarahan gusi, apalagi bila disertai
berkeringat dingin, hal tersebut merupakan tanda kegawatan, sehingga harus segera dibawa
segera ke rumah sakit.
b. Tatalaksana DBD dan SSD

Tatalaksana DBD Patofisilogik utama DBD adalah kebocoran plasma karena adanya
peningkatan permeabilitas kapiler. Maka kunci tatalaksana DBD terletak pada deteksi secara
dini fase kritis yaitu saat suhu turun (the time of defervescence) yang merupakan fase awal
terjadinya kegagalan sirkulasi, dengan melakukan observasi klinis disertai pemantauan
kebocoran plasma dan gangguan hemostasis. Prognosis DBD terletak pada pengenalan tandatanda bahaya secara awal dan pemberian cairan Larutan garam isotonik atau kristaloid
sebagai cairan awal pengganti volume plasma sesuai dengan berat ringan penyakit. Perhatian
khusus pada kasus dengan peningkatan hematokrit yang terus menerus dan penurunan jumlah
trombosit yang cepat. Secara umum pasien DBD dapat dirawat di puskesmas perawatan atau
rumah sakit.

Fase Demam

Tatalaksana DBD fase demam tidak berbeda dengan tatalaksana DD, bersifat simtomatik dan
suportif yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak
dapat diberikan oleh karena tidak mau minum, muntah atau nyeri perut yang berlebihan,
maka cairan intravena rumatan perlu diberikan. Antipiretik kadang-kadang diperlukan, tetapi
perlu diperhatikan bahwa antipiretik tidak dapat mengurangi lama demam pada DBD.

Fase Kritis

Periode kritis adalah waktu transisi, yaitu saat suhu turun pada umumnya hari ke 3-5 fase
demam. Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan kadar hematokrit berkala merupakan pemeriksaan laboratorium yang terbaik
untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu menggambarkan derajat kebocoran plasma
dan pedoman kebutuhan cairan intravena. Hemokonsentrasi pada umumnya terjadi sebelum
dijumpai perubahan tekanan darah dan tekanan nadi. Hematokrit harus diperiksa minimal
satu kali sejak hari sakit ketiga sampai suhu normal kembali. Bila sarana pemeriksaan
hematokrit tidak tersedia, pemeriksaan hemoglobin dapat dipergunakan sebagai alternatif
walaupun tidak terlalu sensitive.
Penggantian Volume Plasma Dasar patogenesis DBD adalah perembesan plasma,
yang terjadi pada fase penurunan suhu (fase afebris, fase krisis, fase syok) maka dasar
pengobatannya adalah penggantian volume plasma yang hilang. Walaupun demikian,
penggantian cairan harus diberikan dengan bijaksana dan berhati-hati. Kebutuhan cairan awal
dihitung untuk 2-3 jam pertama, sedangkan pada kasus syok mungkin lebih sering (setiap 30-

Perembesan plasma berhenti ketika memasuki fase penyembuhan.9%. berikan cairan kristaloid/ NaCI 0. diuresis setiap jam dan hematokrit serta trombosit setiap 6 jam. tidak mau minum. Apabila selama observasi keadaan umum membaik yaitu anak nampak tenang. saat terjadi reabsorbsi cairan ekstravaskular kembali ke dalam intravaskuler. Dekstrosa 5% dalam larutan ringer asetat (D5/RA). Monitor tanda vital. dan jumlah volume urin. Bila terdapat asidosis. Dekstrosa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL). Larutan garam faali (GF). Albumin. tekanan nadi kuat. Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan elektrolit. kadar hematokrit. Cairan intravena diperlukan.  Fase Penyembuhan/konvalesen Pada fase penyembuhan. 1-2 ml/kgBB intravena bolus perlahan-lahan. Dekstrosa 5% dalam 1/2 larutan garam faali (D5/1/2LGF) (Catatan: Untuk resusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA tidak boleh larutan yang mengandung 2.60 menit). diberikan natrium bikarbonat 7. Apabila dalam observasi selanjutnya tanda vital tetap stabil.45%. tekanan darah stabil. dianjurkan cairan glukosa 5% di dalam larutan NaCI 0. Kristaloid: Larutan ringer laktat (RL). Nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala. Apabila pada saat itu cairan tidak dikurangi. apabila: Anak terus menerus muntah.9% atau dekstrosa 5% dalam ringer laktat/NaCI 0. akan menyebabkan edema palpebra. gelafundin 2 Evaluasi program2 Evaluasi Pelaksanaan Penanggulangan KLB . 6-7 ml/kgBB/jam. edema paru dan distres pernafasan. Plasma. maka tetesan dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam.46%. ditakutkan terjadinya dehidrasi sehingga mempercepat terjadinya syok. Pada saat pasien datang. Tetesan berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda vital. dekstosa) Koloid: Dekstran 40. Jenis Cairan 1. diuresis cukup. dan kadar Ht cenderung turun minimal dalam 2 kali pemeriksaan berturut-turut. demam tinggi sehingga tidak mungkin diberikan minum per oral. Larutan ringer asetat (RA). tetesan dikurangi menjadi 3 ml/kgBB/jam dan akhirnya cairan dihentikan setelah 24-48 jam. Secara umum volume yang dibutuhkan adalah jumlah cairan rumatan ditambah 5-8%. Hidroksil etil starch 6%. Selanjutnya evaluasi 12-24 jam. ruam konvalesen akan muncul pada daerah esktremitas.

Kelurahan. Tetapi penduduknya padat. Kelurahan. Data-data tersebut digambarkan dalam grafik per mingguan atau bulanan dan dibandingkan pula dengan keadaan tahun sebelumnya pada periode yang sama dalam bentuk laporan.Penilaian epidemiologis dilakukan dengan membandingkan data kasus/ kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. larvasidasi dan penyuluhan. larvasidasi dan pemeriksaan jentik serta penyuluhan. Input  Tenaga  Dana  Sarana  Metode 2. Potensial Yaitu Kecamatan. menurunkan angka kematian menjadi <1%. Kelurahan. fogging fokus. larvasida selektif) 3. Kegiatan yang dilakukan adalah Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB). Proses yaitu dengan managemen program Perencanaan. Evaluasi Hasil penanggulangan KLB Penilaian ini ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD. menurunkan angka kesakitan 20/100. Endemis Yaitu Kecamatan. yang dalam 3 tahun terakhir tidak ada kasus DBD. Penilaian ini dilakukan dengan melakukan kunjungan rumah secara acak dan wilayahwilayah yang direncanakan untuk pengabutan. Program penanggulangan P2 DBD 1. yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD. mempunyai hubungan transportasi dengan wilayah lain dan .Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. angka bebas jentik >95%) 4. Dampak  Menurunkan angka kesakitan DBD  Menurunkan angka kematian DBD  Perubahan status KLB DBD Stratifikasi Daerah Rawan DBD3 Adapun jenis kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan stratifikasi daerah rawan seperti 1. pengorganisasian. Kegiatan yang dilakukan adalah fogging Sebelum Musim Penularan (SMP).000 penduduk. Output (Penderita yang ditangani 100%. pelaksanaan (penyelidikan epidemiologi. dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Pada kunjungan tersebut dilakukan wawancara apakah rumah sudah dilakukan pengabutan. Sporadis Yaitu Kecamatan. PJB. PSN. 3. yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD. PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M. Abatisasi selektif. Universitas Sumatera Utara 2. penyuluhan kesehatan. penyuluhan tetap dilakukan.

simulasi dan praktek lapangan pemantauan jentik berkala dan abatesasi. 4. 3M dan penyuluhan. pemberantasan nyamuk dengan metode fogging/penyemprotan yang meliputi gambaran fogging. Bebas Yaitu Kecamatan. Kegiatan yang dilakukan adalah PJB. Kelurahan yang tidak pernah ada kasus DBD. dengan ceramah dan tanya jawab.5 . syarat fogging. ketrampilan mengenai penggunaan bubuk abate untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan yang dilakukan adalah PJB. mengenai pengelolaan lingkungan disekitarnya yang berkaitan dengan pemutusan rantai penularan dan penyebaran DBD. Penyuluhan dilakukan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan tentang pemberantasan DBD. kelebihan dan kekurangan fogging. PSN. sehingga diharapkan pengetahuan tersebut dapat disebarluaskan pada masyarakat agar kasus penyakit DBD dapat dicegah sedini mungkin dan kalaupun terdapat kasus maka diharapkan penemuan dan penanganannya tidak terlambat. Penyuluhan dilakukan unttuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam penanggulangan penyakit DBD.persentase rumah yang ditemukan jentik > 5%. Ketinggian dari permukaan air laut > 1000 meter dan persentase rumah yang ditemukan jentik ≤ 5%. Peran kader Kader dapat mengenali secara dini adanya kasus DBD dan dapat secara dini mencegah penyebarannya. 3M dan penyuluhan. Berperan dalam kegiatan PJB (Pemantauan Jentik Berkala) dan dapat mengisi format pelaporan hasil PJB. PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) meliputi pengelolaan tempat-tempat penampungan air. PSN.

dan Darnoto S. . Perubahan epidemiologi demam berdarah dengue di Indonesia. Epidemiologi dan pemberantasan demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangan. Kusumawati Y.p161-3. Karyati M R. Kementrian kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jendral pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan 2011 Diunduh Juni 2016 dari: file:///C:/Users/user/Downloads/05_Pedoman%20DBD. 2. Hadinegoro S R. Modul pengendalian demam berdarah dengue. Sept 2008. Siregar F A.pdf 3. Pelatihan peningkatan kemampuan kader posyandu dalam penanggulangan demam berdarah dengue (DBD).p424-30.Daftar pustaka 1. Sumatra Utara: Univeritas Sumatra Utara: 2004.pdf 5.10(6).1-8 4. Diunduh Juni 2016 dari: file:///C:/Users/user/Downloads/permenkesno. Apr 2009.1501thn2010pmwabah. Jakarta: Sari Pediatri. WARTA.11(2).

cemar bakteri leptosipra. Leptospirosis ditularkan melalui kontak dengan air. Laporan insidens lepotospirosis sangat dipengaruhi oleh tersedianya perangkat laboratorium diagnostik. sapi dan lain-lain. Mud fever atau Swineherd Disease. buruh tambang. Penyakit ini sifatnya musiman. disertai : a. serta mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. indeks kecurigaan klinik dan insidens penyakit itu sendiri. peternakan ikan. serta lingkungan sebagai faktor resiko. Penularan pada manusia terjadi melalui paparan pekerjaan. tanah.sease. Definisi Kasus Ada 3 (tiga) kriteria yang ditetapkan dalam mendefinisikan kasus Leptospirosis yaitu : A. Canicola fever. Penyakit ini terjadi di seluruh dunia.5°C) dengan atau tanpa sakit kepala hebat.Malaise (lemah) . petugas laboratorium yang menangani tikus. pekerja kanal. tempat pemotongan hewan. peternakan. kucing. dan lumpur yang ter. Kasus Suspek 1) Demam akut (>=38. petani kebun dan pemotongan gula tebu. pengawas binatang buruan. pembersih septictank. Sementara pada negara tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan. Diperkirakan Leptospirosis sudah ada di 33 provinsi karena berkaitan dengan keberadaan binatang tikus (Rodent) sebagai reservoir utama disamping binatang penular lain seperti anjing. darah dan urine hewan yang terinfeksi. Sedangkan kontak tidak langsung penting bagi pekerja pembersih selokan. Hemorrhagic jaundice. maupun perkotaan. Penyakit ini disebut juga Weil di. rekreasi atau hobi dan bencana alam. baik di negara berkembang.3. Masyarakat Internasonal Pemerhati Leptospirosis (International Leptospirosis Society/ILS) menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan insiden Leptospirosis yang tinggi. pengawasan hewan pengerat. negara maju. Kontak langsung manusia dengan hewan terinfeksi di areal pertanian. prajurit. Di negara beriklim sedang puncak kasus cenderung terjadi pada musim panas dan musim gugur karena temperatur.Mialgia (pegal-pegal) b. Leptospirosis Leptospirosis adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri leptospira. kontak dengan organ. daerah pedesaan.

b. pekerja perkebunan. Terpapar seperti menyentuh hewan mati.hematuria  relatif neutrofilia (>80%) dengan limfopenia  trombosit < 100. menangani ternak seperti f. Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan hobby dan olah raga seperti: pendaki gunung. trilomba juang (triathlon) dan lain-lain. pekerja potong hewan. Kontak dengan air yang terkontaminasi kuman Leptospira/ urine tikus saat terjadi banjir. memancing. pemburu. Kasus Probable 1) Unit Pelayanan Kesehatan Dasar Kasus suspek disertai minimal dua dari gejala: a. hematoschezia) Iritasi meningeal Anuria / oligouria dan atau proteinuria Sesak napas Aritmia jantung Ruam kulit Jika ditemukan 2 dari gejala-gejala diatas. memerah susu. Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan pekerjaan seperti: dokter hewan.000 sel/mm  bilirubin > 2mg%. e. pembersih selokan. 2) Unit Pelayanan Kesehatan Rujukan II dan III Kasus suspek disertai dengan IgM positif berdasarkan tes diagnostik cepat Rapid Test Diagnostik (RDT). petani. mimisan. h. penderita segera dirujuk ke Rumah Sakit . anjing yang e. Kontak di persawahan atau perkebunan berkaitan dengan pekerjaan sebagai petani / pekerja perkebunan yang tidak mengunakan alas kaki. menyentuh bahan lain seperti placenta. g. lipase serum. d. B. berenang. Kontak dengan sungai. rakit bambu dan lain-lain c. arung jeram. petugas kebersihan di rumah sakit. kambing. perawat. mandi berkaitan pekerjaan seperti tukang perahu. kontak dengan cairan infeksius saat hewan berkemih. CPK) . piuria. g. amilase. Kontak erat dengan binatang lain seperti sapi. gusi berdarah. h. gangguan fungsi hati (SGPT. d. menolong hewan melahirkan dan lain-lain. f. c. Memegang atau menangani spesimen hewan/ manusia yang diduga terinfeksi Leptospirosis dalam suatu laboratorium atau tempat lainnya. dokter. cairan amnion. dengan atau tanpa minimal tiga kriteria laboratorium berikut:  pemeriksaan urin: proteinuria. tentara.pekerja tambak udang/ikan air tawar.c. Conjuctival suffusion 2) Ada riwayat kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi bakteri Leptospira dalam 2 minggu sebelumnya: a. danau dalam aktifitas mencuci. Nyeri betis (Calftenderness) Batuk dengan atau tanpa batuk darah Ikterus (kulit kuning) Manifestasi perdarahan (petekie. i. b. pekerja tambang. melena.

terjadi demam tinggi. myalgia. Fase immune ( 3 – 30 hari). domba. Fase Leptospiremia ( 3 – 7 hari). b. sapi. c. kambing.mual. Gambaran Klinis Leptospirosis terbagi menjadi 2 berdasarkan diagnosa klinik dan penanganannya : a. Sedangkan rubah dapat menjadi karier dari . Isolasi bakteri Leptospira dari spesimen klinik b. Leptospirosis anikterik: kasusnya mencapai 90% dari seluruh kasus leptopsirosis yang dilaporkan. nyeri kepala. Sero konversi MAT dari negatif menjadi positif atau adanya kenaikan titer 4x dari pemeriksaan awal d. b. Kasus Konfirmasi Kasus suspek atau kasus probable disertai salah satu dari berikut ini : a. conjuctiva suffusion. kuda. yaitu : a. nyeri perut. Titer MAT 320 (400) atau lebih pada pemeriksaan satu sampel Apabila tidak tersedia fasilitias laboratorium : Hasil positif dengan menggunakan dua tes diagnostik cepat (RDT) yang berbeda dapat dianggap sebagai kasus confirm. babi. meningitis aseptik. Leptospirosis ikterik. menghilangnya ikterus. anjing. terjadi demam ringan. kucing. nyeri kepala.Dengan atau tanpa Pemeriksaan serologi (MAT dengan titer ≥100/200 (80/160) pada pemeriksaan satu sampel) . tekanan darah normal. Fase Konvalesen (15 – 30 hari). produksi urine mulai normal. Biasanya penderita tidak berobat karena gejala yang timbul bisa sangat ringan dan sebagian penderita sembuh dengan sendirinya. serangga. PCR positif c. muntah. Sumber dan Cara Penularan Sumber penyakit Leptospirosis adalah tikus atau rodent. C. terjadi perbaikan kondisi fisik berupa pulihnya kesadaran. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh penyakit Leptospirosis terbagi menjadi 3 fase. burung dan insektivora. muntah. menyebabkan kematian 30-50% dari seluruh kematian yang dilaporkan karena leptospirosis.

host dan lingkungan. Terapi suportif dibutuhkan bila ada komplikasi: gagal ginjal. Bakteri leptospira masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir (mukosa) mata. Di Indonesia sejak tahun 1936 telah dilaporkan leptospirosis dengan mengisolasi serovar leptospira. Argentina. saluran kemih. Kasus probable: a. Australia. Secara klinis leptospirosis pada manusia telah dikenal sejak tahun 1892 di Jakarta oleh Van der Scheer. Penisilin Prokain 1. Indonesia . perdarahan organ (paru.5 juta unit im per 6 jam selama7 (tujuh) hari c. Namun isolasi . Spanyol. serebral). b. b. Ceftriaxon 1-2 gram iv per selama7 (tujuh) hari. Malaysia. Amerika Serikat. c. Israel. Ampisilin 4 x 1 gram iv per hari selama7 (tujuh) hari. Kasus suspek ( dapat ditangani di Unit Pelayanan Dasar): a. Namun masuknya kuman ini secara kuantitatif bergantung dari agent.atau 10-20mg/kgBB per 8 jam pada anak selama 7 (tujuh) hari. Pilihan: Doksisiklin 2x100mg selama7 (tujuh) hari kecuali pada anak. Afghanistan. saluran cerna. tanah (lumpur). Masuknya kuman ini secara kualitatif berkembang bersamaan dengan proses infeksi pada semua serovar. antara lain : Rusia. hidung atau kulit yang lecet dan kadang-kadang melalui saluran pencernaan dari makanan yang terkontaminasi oleh urine tikus yang terinfeksi bakteri leptospira. saat ini di Indonesia sumber penularan utama adalah tikus. Pengobatan Berdasarkan Expert Meeting Leptospirosis di Bandung bulan Juni 2011 cara pengobatan yang direkomendasikan adalah sebagai berikut : 1. limpa. baik dari hewan liar maupun hewan peliharaan. ini ditandai dengan perubahan patologis. Bila alergi Amoksisilin dapat diberikan Makrolid 2. syok dan gangguan neurologi. ginjal selama beberapa hari. Manusia terinfeksi Leptospira melalui kontak dengan air. Brasilia. tanaman yang telah dicemari oleh air seni hewan penderita leptospirosis.leptospira. Epidemiologi Leptospirosis tersebar luas diseluruh dunia. Alternatif (bila tidak dapat diberikan doksisiklin):Amoksisilin 3x500mg/hari pada orang dewasa. ibu hamil. atau bila ada kontraindikasi Doksisiklin. Kuman akan tinggal di hati. dan sebagainya.

pasang surut dan areal persawahan. Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan. Pada Tahun 2010 baru 7 provinsi yang melaporkan kasus suspek Leptospirosis yaitu Provinsi DKI Jakarta. Jawa Tengah. hardjo. Daerah yang rawan banjir. Bengkulu. pekerja rumah potong hewan dan militer. semaranga. Di desa/ kelurahan yang ada kasus Leptospirosis pencarian penderita baru berdasarkan gejala/tanda klinis setiap hari dari rumah ke rumah. tempat jajan atau daerah banjir. Pada tahun 1970 an. Intervensi lingkungan untuk mencegah munculnya sarang-sarang atau tempat persembunyaian tikus.baru berhasil dilakukan oleh Vervoort pada tahun 1922. Jawa Barat. 1) Penyelidikan Epidemiologi Penyelidikan epidemiologi dilakukan terhadap setiap laporan kasus dari rumah sakit atau laporan puskesmas. pekerja tambang / selokan.Bila ditemukan suspek dapat dilakukan pengambilan darah sebanyak 3-5 ml. Serum dibawa dari lapangan dengan menggunakan termos berisi es. di Sumatera Selatan. Pulau Bangka serta beberapa rumah sakit di Jakarta. kejadian pada manusia dilaporkan Fresh. peternakan memerlukan pengamatan intensif untuk mengontrol kejadian Leptospirosis di masyarakat. kemudian darah tersebut diproses untuk mendapatkan serumnya guna pemeriksaan serologis di laboratorium. perkebunan. pekerja perkebunan. Penyelidikan Epidemiologi dilakukan terhadap : a. Penyelidikan kasus Leptospirosis lain di sekitar tempat tinggal penderita. rachmati. icterohaemorrhagiae. DI Yogyakarta. Tahun 1986. ditemukan serovar pyrogenes. Vaksinasi hewan peliharaan terhadap leptospira. Terhadap manusianya : Penemuan penderita dengan melaksanakan pengamatan aktif. setelah sampai di sarana kesehatan disimpan di freezer 4° C sebelum dikirim ke Bagian Laboratorium Mikrobiologin untuk dilakukan pemeriksaan uji MAT (Microscopic Agglutination . javanica. tempat kerja. ballum dan tarasovi. Umumnya menyerang petani. juga dilaporkan hasil penyelidikan epidemiologi di Kuala Cinaku Riau. Kejadian Luar Biasa Penanggulangan KLB leptospirosis ditujukan pada upaya penemuan dini serta pengobatan penderita untuk mencegah kematian.

Metode relatif praktis dan cepat karena hanya memerlukan waktu 2. dan sebagainya. Tikus dibawa ke laboratorium lapangan dan pengambilan darah/ serum dan organ dengan member label dan nomer untuk diidentifikasi kemudian dikirim ke Balai Besar Veteriner (BBvet) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Test ini untuk mendeteksi antibodi aglutinasi seperti pada MAT. penyebaran kasus menurut waktu (minggu). Laporan penyelidikan epidemiologi sebaiknya dapat menjelaskan : a. Peta wilayah berdasarkan faktor risiko antara lain. Pemasangan perangkap dengan umpan dipasang pada sore hari dan pengumpulan perangkap tikus keesokan harinya pagi-pagi sekali. jenis RDT diantaranya :  Lepto Dipstick Assay RDT ini dapat mendeteksi Imunoglobulin M spesifik kuman Leptospira dalam serum. wilayah geografi (RT/RW. Hasil dibaca setelah 30 detik dan dinyatakan positif . daerah banjir. lebih cepat karena hasilnya bisa dilihat dalam waktu 30 detik. Setiap perangkap (metal live traps) harus diberi label/nomor. dan sebagainya. Pemeriksaan dilakukan dengan meneteskan 10 mL serum (dengan pipet semiotomatik) pada kartu aglutinasi dan dicampur dengan reagen. tempat kerja.Test) untuk mengetahui jenis strainnya. umur dan faktor lainnya yang diperlukan. Status KLB pada saat penyelidikan epidemiologi dilaksanakan serta perkiraan peningkatan dan penyebaran KLB. Rodent dan hewan lainnya. d. misalnya sekolah.1%. Hasil evaluasi multi sentrum pemeriksaan Leptodipstick di 22 negara termasuk Indonesia. desa dan Kecamatan). Di desa/kelurahan yang ada kasus.5 – 3 jam.  Leptotek Dridot Berdasarkan aglutinasi partikel lateks. Penegakan diagnosis kasus dapat dilakukan dengan Rapid Test Diagnostic Test (RDT) dengan mengambil serum darah penderita untuk pemeriksaan serologi. menunjukkan sensitifitas Dipstick mencapai 92. Pemasangan perangkap dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah selama minimal 5 hari berturut-turut. diagnosis KLB leptospirosis b. Serta rencana upaya penanggulangannya . secara bersamaan waktunya dengan pencarian penderita baru dilakukan penangkapan tikus hidup (trapping). b. sanitasi lingkungan. Spesimen serum tikus yang terkumpul lalu diperiksa secara serologis. pasar. c.

Munculnya kesakitan leptospirosis di suatu wilayah kecamatan yang selama 1 tahun terakhir tidak ada kasus.  Leptotek Lateral Flow Pemeriksaan dilakukan dengan dengan memasukan 5 mL serum atau10 mL darah. b. hari atau minggu berturut-turut menurut di suatu wilayah desa. 2) Penanggulangan KLB Penyediaan logistik di sarana kesehatan. hasil dibaca setelah 10 menit. dan 130 mL larutan dapar. dan gunakan alat-alat pelindung yang diperlukan apabila harus bekerja pada perariran yang tercemar.3% dan spesifitas 93. hari atau minggu di wilayah desa. Leptotek Lateral Flow cukup cepat. KLB Leptospirosis ditetapkan apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut : a. c. dan pemusing bila memakai serum. - Kenali tanah dan air yang berpotensi terkontaminasi dan keringkan air tersebut jika memungkinkan. relatif mudah. sarung tangan dan apron. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam.9% pada serum yang dikumpulkan dalam waktu 10 hari pertama mulai sakit. mendeteksi IgM yang menandakan infeksi baru. - Lindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang tercemar dengan perlindungan secukupnya dengan menyediakan sepatu boot. tidak memerlukan almari pendingin untuk menyimpan reagen. . penemuan dini penderita dan pelayanan pengobatan yang tepat di puskesmas dan rumah sakit melalui penyuluhan masyarakat tentang tanda-tanda penyakit.6%. d.8% dan spesifitas 93. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya di suatu wilayah desa.bila ada aglutinasi. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam. resiko kematian serta tatacara pencarian pertolongan. Metode ini mempunyai sensitifitas 72. Alat ini mempunyai sensitifitas 85. Jangan berenang atau menyeberangi sungai yang airnya diduga tercemar oleh leptospira. Upaya pencegahan terhadap penyakit Leptospirosis dengan cara sebagai berikut : - Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan penyakit ini. koordinasi dengan pemangku kepentingan dan sektor terkait. namun memerlukan pipet semiotomatik.

b. Vaksin harus mengandung strain domain dari leptospira di daerah itu. pekerja rumah potong hewan. - Pemberian imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat mencegah timbulnya penyakit. tempat penampungan pengungsi. - Doxycycline telah terbukti efektif untuk mencegah leptospirosis pada anggota militer dengan memberikan dosis oral 200 mg seminggu sekali selama masa penularan di Panama 3) Surveilans Pada KLB a) Pengamatan perkembangan jumlah kasus dan kematian leptospirosis menurut lokasi geografis dengan melakukan surveillans aktif berupa data kunjungan berobat. seperti petani. kebakaran. . pekerja perkebunan. baik register rawat jalan dan rawat inap dari unit pelayanan termasuk laporan masyarakat yang kemudian disajikan dalam bentuk grafik untuk melihat kecenderungan KLB. Pemantauan kolompok risiko lainnya. Perancis dan Israel. Spanyol. banjir c. hal ini dilakukan di Jepang. b) Memantau perubahan faktor risiko lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan habitat rodent (banjir. Sistem Kewaspadaan Dini KLB a. Itali. daerah rawa dan gambut). dan militer Peranan Kader dalam penanggulangan kasus leptospirosis: 1. - Imunisasi diberikan kepada orang yang karena pekerjaannya terpajan denganleptospira jenis serovarian tertentu. Pemantauan terhadap distribusi rodent serta perubahan habitatnya. tempat kerja dan tempat rekreasioleh urin hewan yang terinfeksi. Cina.- Berantas hewan-hewan pengerat dari lingkungan pemukiman terutama di pedesaan dan tempat-tempat rekreasi. - Pisahkan hewan peliharaan yang terinfeksi. tetapi tidak emncegah terjadinya infeksi leptospiruria. Bakar lading tebu sebelum panen. cegah kontaminasi pada lingkungan manusia. Pemantauan terhadap kesakitan dan kematian leptospirosis. pekerja pertambangan dan selokan.

Memberikan pertolongan pemantauan penyakit.melakukan percontohan.membahas pembagian tugas menurut jadwal kerja . memberikan informasi kepada masyarakat terkait penyakit leptospirosis dan cara pencegahannya 3. . .. 2.   Membantu mengumpulkan bahan pemeriksaan.  mendorong masyarakat untuk gotong royong membersihkan got-got dan tempat-tempat yang  dicurigai menjadi sarang hewan pembawa sumber penyakit. membahas hasil survei .menentukan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan terkait kasus leptospirosis bersama masyarakat.menyiapkan dan melaksanakan survey mawasdiri.menentukan masalah dan kebutuhan kesehatan masyarakat desa .

Alur pelaporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota terkait penemuan kasus/pasien leptospirosis .Bagan 1.

WHO. 2003.Grafik 1. Control of Communicable Disease Manual. USA. J. 4. 2011. Kemenkes RI. Situasi leptospirosis di Indonesia Tahun 2004-2011 Daftar Pustaka 1. surveillance and control. Pnemumonia . Human leptospirosis: guidance for diagnosis. 2. Jakarta. 3. Chin. Malta. 2000. Pedoman penyelidikan dan penanggulangan klb penyakit menular dan keracunan pangan.

Penyebab penyakit : Mycoplasma pneumoniae. Cara penularan : Menular dengan melalui percikan ludah yang dihirup oleh orang lain.Identifikasi Infeksi ini umum menyerang saluran pernafasan bagian bawah dengan gejala febris. sakit tenggorokan. batuk biasanya paroxysmal. kadang sakit pula didada kemungkinan pleuritis. Manusia. bakteri keluarga Mycoplasmatacea. basanya penyakit dengan gejala klinis yang jelas adalah pada anak usia sekolah atau dewasa muda. sporadis. Distribusi penyakit : Tersebar diseluruh dunia. Reservoir. Walaupun sangat jarang faringitis dapat berkembang menjadi bronkhitis dan berlanjut menjadi pneumonia. endemis dan kadang-kadang muncul sebagai wabah terutama menyerang anggota militeratau institusi tertentu. melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi atau dengan benda-benda yang tercemar dengan discharge hidung dan tenggorokan dari penderita akut dan penderita batuk. malaise. Penyakit ini dapat menyerang semua kelompok umur dan sangat ringan pada anak balita. . Perjalanan penyakit berlangsung secara graduli berupa sakit kepala.

Lamanya kekebalan bertahan tidak diketahui dengan pasti. dan sangat tergantung pada usia. perawat. Tanda klinik tersebut adalah: napas cepat. bidan. Gejala klinis bervariasi mulai dari faringitis ringan tanpa demam sampai dengan penyakit dengan gejala demam sebagai akibat infeksi menyerang saluran pernafasan bagian atas dan bawah. Cara pemeriksaan fisik yang digunakan adalah dengan mencari beberapa tanda klinik tertentu yang mudah dimengerti dan diajarkan tanpa penggunaan alat-alat kedokteran seperti stetoskop. radiologi ataupun pemeriksaan lainnya.Pneumoniae. pengelola Program P2 ISPA) dalam tatalaksana anak dengan batuk dan atau kesukaran bernapas. 2. pemeriksaan penunjang baik laboratorium. Klasifikasi merupakan suatu kategori untuk menentukan tindakan yang akan . tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK) dan suara napas tambahan (wheezing dan stridor). Masa penularan : Diperkirakan kurang dari 20 hari. Menilai anak batuk dan atau kesukaran bernapas Menilai berarti memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan anamnesis (mengajukan pertanyaan kepada ibu) dan pemeriksaan fisik Balita dengan cara melihat dan mendengarkan pernapasan. Dalam pedoman ini proses manajemen kasus disajikan dalam suatu bagan yang memperlihatkan urutan langkah-langkah cara pelaksanaannya.30% infeksi yang disebabkan oleh M.Masa inkubasi : Dari 6 sampai 32 hari. Membuat klasifikasi dan menentukan tindakan sesuai untuk 2 kelompok umur balita Membuat klasifikasi berarti membuat sebuah keputusan mengenai kemungkinan tingkat keparahannya. Kekebalan yang muncul setelah terjadi infeksi dikaitkan dengan terbentuknya antibodi humoralyang bertahan sampai dengan 1tahun. Kerentanan dan kekebalan: Pneumonia klinis terjadi pada 3% . Lima langkah penggunaan bagan tatalaksana anak batuk dan atau kesukaran bernapas adalah sebagai berikut: 1. 2 Pedoman ini digunakan untuk tenaga kesehatan (dokter. Pengobatan yang diberikan tidak dapat membasmi organisme dari saluran pernafasan dan bakteri ini dapat terus bertahan sampai 13 minggu.

Menentukan tindakan berarti mengambil tindakan pengobatan terhadap infeksi bakteri yang secara garis besar dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:  Rujuk segera ke rumah sakit  Beri antibiotik di rumah  Beri perawatan di rumah Pemilihan pengobatan dengan antibiotik disini lebih bersifat empiris. memberi anjuran pemberian makan yang baik serta kapan harus membawa anaknya kembali ke fasilitas kesehatan. Klasifikasi ini memungkinkan seseorang dengan cepat menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah suatu penyakit serius atau bukan. menjelaskan petunjuk perawatan di rumah bagi ibu/pengasuh. 4. 5. Memberikan pelayanan tindak lanjut Memberi pelayanan tindak lanjut berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak datang untuk kunjungan ulang. 3. apakah perlu dirujuk segera atau tidak. Memberikan konseling bagi ibu Memberi konseling bagi ibu berarti juga termasuk menilai cara pemberian makan Balita termasuk pemberian ASI. bukan berdasarkan diagnosis etiologis.diambil oleh tenaga kesehatan dan bukan sebagai diagnosis spesifik penyakit. Menentukan pengobatan dan Menentukan petunjuk pengobatan yang tepat berarti memiliki ketrampilan untuk pemberian antibiotik. 3 . pengobatan demam dan wheezing. Dalam membuat klasifikasi harus dibedakan menjadi 2 (dua):  Kelompok umur <2 bulan  Kelompok umur 2 bulan .<5 tahun.

Pencegahan pneumonia dapat dilakukan dengan cara : e. g. Pemereiksaan preventif primer ditujukan untuk mencegah gangguan kesehatan sebelum muncul. dan sifat alami penyakit.Pencegahan Pneumonia dapat dilakukan dengan cara hidup bersih dan sehat dan memberikan nutrisi yang baik pada balita. dokter harus berpengetahuan dasar tentang prinsip pencegahan. f. Pemeriksaan primer biasanya lebih berhasil jika pemeriksaan didasarkan pada pemahaman tentang etiologi. Memberikan vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Pencegahan tersier bertujuan untuk memperbaiki atau menghilangkan ketidakmampuan karena suatu penyakit Dokter dapat memerankan bagian integral dalam melindungi kesehatan anak pada tiga tingkat diatas yaitu: 1. 4. Perawatan kesehatan dan preventif merupakan suatu tindakan yang berkelanjutan yang meliputi pencegahan primer. h. Memberikan imunisasi pada anak sesuai waktunya. sebagai penyelenggara langasung dari jasa pencegahan klinis sebagai coordinator jasa sebagai pemimpin program untuk masyarakat sebagai penganjur bagi kesehatan anak. 3. pathogenesis. Agar dapat menjalankan peranan diatas dengan baik. perlu diberikan vaksin pneumokokus pada bayi dan anak sedini mungkin. pemahaman tentang epidemiologi dan menghargai proses perencanaan program fan pentingnya penyuluhan yang efektif . Menjaga daya tahan tubuh anak dengan cara cukup istirahat dan juga banyak olahraga. seringkali penekanan pada mereka yang beresikko tinggi untuk terkena penyakit. Pemeriksaan preventif sekunder adalah keadaan dimana kondisi atau pertanda telah terindentifikasi sejak awal dan dilakukan perawatan efektif untuk memulihkan kondisi sebelum berkembang atau untuk menghilangkan pertanda. 2. i. Disamping itu. Menjaga keseimbangan nutrisi anak. Mengusahakan agar ruangan tempat tinggal mempunyai udara yang bersih dan ventilasi yang cukup. sekunder dan tersier.

penyakit-penyakit yang bisa menunjukkan terjadinya KLB melalui satu kasus tunggal: kolera. Determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi. adalah pengelompokan masalah kesehatan menurut keadaan tertentu. lima kasus dalam seminggu atau lipat duan kasus selama tiga minggu menandakan terjadinya KLB c. demam berdarah karena virus b. malaria: ada definisi yang tidak terlalu spesifik. baik dalam banyaknya masalah atau frekuensi maupun proses penyebaran masalah kesehatan. Frekuensi yaitu besarnya masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.000/minggu. b. Pengelompokan ini berupa komunitas yang mengalami masalah kesehatan (orang/man). yaitu : 4 a. meningkatnya jumlah kasus lebih dari yang diduga selama jangka waktu tahun tertentu diantara penduduk tertentu disebuah wilayah tertentu bisa menandakan terjadinya KLB Dari beberapa pengertian diatas. c. Demam kuning. Namun demikian. ada 3 faktor pokok dalam epidemiologi. .000 orang: 15 kasus/100. ambang batas ini turun menjadi 10 kasus/100. meningitis meningokokus: untuk populasi diatas 30. Dengan mengetahui besarnya masalah. kita bisa mengetahui masalah mana yang harus mendapat penanganan terlebih dahulu. tempat (place) dan waktu (time) terjadinya masalah kesehatan. Penemuan penderita pneumonia Penemuan dan tatalaksana Pneumonia merupakan kegiatan inti dalam pengendalian Pneumonia Balita.000 orang/ minggu dalam satu minggu menunjukkan terjadinya KLB.Penentuan apakah terjadi KLB ridak selalu bias dilakukan begitu saja dan tidak ada definisi yang jelas mengenai ambag batas KLB untuk semua penyakit a. Dalam populasi penduduk kurang dari 30.0000. shigellla. Penyebaran atau distribusi. meskipun demikian dengan resiko kejadian KLB yang tinggi(yaitu tidak terjadi KLB selama lebih dari 3 tahun dan cakupan vaksinasi <80%). campal. Determinan adalah faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan.

Puskesmas Pembantu. maka dapat menggunakan data tersebut sebagai dasar untuk menghitung jumlah penderita pneumonia Balita. Namun jika provinsi. Rumah Sakit dan Rumah sakit swasta. Penemuan penderita secara pasif Dalam hal ini penderita yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatanseperti Puskesmas. Jumlah Balita di suatu daerah diperkirakan sebesar 10% dari jumlah total penduduk. kabupaten/kota memiliki data jumlah Balita yang resmi/riil dari pencatatan petugas di wilayahnya. Penemuan penderita secara aktif Petugas kesehatan bersama kader secara aktif menemukan penderita baru dan penderita pneumonia yang seharusnya datang untuk kunjungan ulang 2 hari setelah berobat. Penemuan penderita pasif dan aktif melalui proses sebagai berikut:  Menanyakan Balita yang batuk dan atau kesukaran bernapas  Melakukan pemeriksaan dengan melihat tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (TDDK) dan hitung napas. Perkiraan jumlah penderita Pneumonia Balita suatu Puskesmas didasarkan pada angka insidens Pneumonia Balita dari jumlah Balita di wilayah kerja Puskesmas yang bersangkutan.  Melakukan penentuan tanda bahaya sesuai golongan umur <2 bulan dan 2 bulan . Bila jumlah Balita sudah diketahui . Jika angka insidens pneumonia untuk suatu daerah belum diketahui maka dapat digunakan angka perkiraan (nasional) insidens pneumonia Balita di Indonesia yang dihitung 10 % dari total populasi balita.a. 5 Rumus perkiraan jumlah penderita pneumonia Balita di suatu wilayah kerja per tahun adalah sebagai berikut : c. pneumonia dan batuk bukan pneumonia. Pneumonia berat. b.<5 tahun  Melakukan klasifikasi Balita batuk dan atau kesukaran bernapas.

Insidens pneumonia Balita = 10% d. Penyuluhan bagi ibu 1.000 Balita Atau : e. baik anak yang akan dirujuk ke rumah sakit. pemberian dosis pertama di Puskesmas ini tidak perlu. misalnya di daerah perkotaan. Bila jumlah Balita belum diketahui Perkiraan jumlah Balita = 10% jumlah penduduk Contoh: Target penemuan penderita pneumonia Balita adalah jumlah penderita pneumonia Balita yang harus ditemukan/dicapai di suatu wilayah dalam 1 tahun sesuai dengan kebijakan yang berlaku setiap tahun secara nasional. oleh karena itu perlu dianalisis penyebab permasalahannya sehingga dapat diketahui pemecahan masalah dan dapat ditindaklanjuti untuk tahun berikutnya. saat ini merupakan kesempatan yang baik bagi . Apabila jarak ke rumah sakit rujukan sampai dengan mendapat pelayanan bisa ditempuh kurang dari satu jam. Berarti Puskesmas Melati tidak mencapai target 70%. Contoh:Jumlah Balita di Puskesmas Rembulan = 10.000 = 1.000 Balita Maka perkiraan jumlah penderita pneumonia Balita = 10% x 10. Jika anak dirawat oleh ibu di rumah. maupun yang akan meneruskan perawatannya di rumah. Ibu memberi dosis pertama pada anak Pemberian obat dosis pertama hendaknya dilaksanakan di Puskesmas.

walaupun anak sudah tampak sehat sebelum 3 hari. Air akan membuat tablet menjadi lebih lunak sehingga mudah digerus. Pemberian makanan pada bayi yang tidak bisa mengisap dengan baik. Mengatasi demam tinggi.petugas kesehatan untuk memberi contoh bagaimana cara pemberian obat yang benar. termasuk mengapa diberi   obat oral dan masalah apa yang diobati.Bersihkanlah lubang hidung dari ingus/lendir yang telah mengering dengan kain bersih yang dibasahi air supaya 0 hidung tidak tersumbat.Demam > 38. Ajarkan ibu untuk memeras ASI ke dalam mangkuk. Peragakan cara mengukur satu dosis Bila Saudara memberi tabletTunjukkan kepada ibu jumlah obat dalam satu dosis. Selesaikan pemberian sampai 3 hari penuh. Jelaskan kepada ibu bahwa ia harus memberikan antibiotik selama 3 hari. Bila Saudara memberi sirupPeragakan cara mengukur dosis dalam milimeter (ml) secara benar dengan menggunakan sendok takar obat atau sendok makan  (sendok rumah tangga) Amati cara ibu menyiapkan obat satu dosis 2. Usahakan pemberian makanan sesering . Bila tablet harus digerus sebelum diberikan.  Beritahukan ibu alasan pemberian obat kepada anak. tambahkan beberapa tetes air matang. Pemberian makanan pada anak yang muntah. Anak yang sering muntah bisa mengalami malnutrisi. Ibu harus memberikan makanan pada saat muntahnya reda. Jelaskan bahwa bakteri tetap berada dalam tubuh Waspadai gangguan pemberian makan pada anak: Bersihkan hidung agar tak mengganggu pemberian makanan.5 C bisa juga mengganggu pemberian makanan dan harus diobati dengan parasetamol. kemudian memberikan kepada anaknya dengan sendok. bila perlu peragakan cara membagi/membelah tablet. atau menyiapkan susu buatan yang baik. Stomatitis (radang dalam mulut) yang berat dapat mengganggu anak mengisap ASI dengan baik.Perlu diperhatikan pada kasus batuk rejan (pertusis) yang sering kali muntah pada akhir rentetan batuk. diamkan 1-2  menit. Gunakan bagan pengobatan untuk menentukan obat dan dosis yang sesuai. menjelaskan bahwa antibiotic yang diminum harus sesuai jadwal meskipun keadaan anak sudah membaik Berikan antibiotik cukup untuk 3 hari.

usahakan pemberian makanan tambahan setiap hari selama seminggu atau sampai berat badan anak mencapai normal. Pernapasan menjadi cepat. Dengan melihat umurnya. Tambahkan minyak untuk memperkaya energi. susu buatan. Tanda-tanda pneumonia yang bisa diamati oleh ibu ialah :     Pernapasan menjadi sulit. mengajari ibu untuk menggunakan bahan yang aman untuk meredakan batuk dirumah .Pada umumnya anak yang sedang sakit hanya bisa makan sedikit. Pemberian makanan setelah anak sembuh. Bawalah kembali ke petugas kesehatan bila anak tidak bisa makan dan berat badan menurun. Pemberian makanan selama anak sakit. Pemberian cairan Berilah minuman lebih banyak pada anak.mungkin selama sakit dan sesudah sembuh. sari buah dan sebagainya. Karena itu setelah sembuh. Bisa juga ditambahkan makanan dari susu dan telur.Anak dengan infeksi saluran pernapasan dapat kehilangan cairan lebih banyak dari biasanya terutama demam.Untuk anak berumur 6 bulan atau lebih.Bila anak belum menerima makanan tambahan apapun. Sakit anak tampak lebih berat. Kembali segera Lingkari tanda-tanda untuk kembali segera. air putih. Pemberian ASI. anjurkan ibunya untuk lebih sering memberikan ASI. berilah makanan dengan nilai gizi dan kalori yang tinggi. Mintalah ibu untuk mengamati kemungkinan timbulnya tanda-tanda pneumonia dan jika timbul mintalah segera membawa kembali anaknya ke petugas kesehatan. Hal ini akan mempercepat anak mencapai tingkat kesehatan semula serta mencegah malnutrisi. Malnutrisi akan mempermudah atau memperberat penyakit infeksi. Anjurkan ibunya untuk memberi cairan tambahan: lebih banyak memberi ASI. Berilah makanan pada anak selama anak masih menghendaki. atau tepung dengan daging atau ikan. Bila umur anak kurang dari 6 bulan atau belum mendapat makanan tambahan. anjurkan ibunya untuk memberikan ASI lebih sering daripada biasanya. berilah campuran tepung dengan kacang-kacangan. Anak tidak mau minum.

yaitu : alat penimbangan bayi. codein dan turunannya atau alkohol. Tugas kader di posyandu. Menyiapkan alat dan bahan. yaitu menentukan pembagian tugas diantara kader posyandu baik untuk persiapan maupun pelaksanaan kegiatan 2)Melaksanakan pelayanan 5 meja. kader mengajarkan ibu untuk memberikan rangsangan dirumah Memberikan penyuluhan sesuai dengn kondisi pada saat itu . Selain itu obat-obat tersebut juga mempengaruhi kemampuan anak untuk mengeluarkan lendir dari paru-paru. kecuali tetes hidung yang hanya mengandung larutan garam. bumil. Obat tetes hidung juga harus dihindari penggunaannya. Jika ditemukan keterlambatan.  Meja 1: Pendaftaran bayi. yaitu menyampaikan rencana kegiatan kepada kantor desa Melaksanakan pembagian tugas. menyusui dan PUS. 1)Persiapan hari buka posyandu. Jangan menggunakan obat batuk yang mengandung bahan-bahan berbahaya seperti: atropin.Hindari penggunaan bahan yang membahayakan.  Meja 2: Penimbangan balita dan mencatat hasil penimbangan  Meja 3: Mengisi buku KIA / KMS  Meja 4: Menjelaskan data KIA / KMS berdasarkan hasil timbang Menilai perkembangan balita sesuai umur berdasarkan buku KIA. alat pengukur LILA. balita. Bahan-bahan tersebut dapat menurunkan kesadaran anak sehingga mengganggu jadwal makan anak. alat peraga dll Mengundang dan menggerakkan masyarakatuntuk datang ke posyandu Menghubungi pokja posyandu. KMS.

PPL. 3). Tugas kader setelah hari buka posyandu. anak balita. ibu nifas dan ibu menyusui Pemberian Fe / pil tambah darah. PLKB.Memberikan rujukan ke Puskesmas. Penentuan diagnosa ISPA (pneumonia Balita) . apabila diperlukan Meja 5: Bukan merupakan tugas kader. vitamin A (kader dapat membantu pemberiannya). Penemuan penderita ISPA (pneumonia Balita) b. juru imunisasi dan sebagainya. perawat. kapsul yodium dan obat-obatan lainnya X Untuk meja 1-4 dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja 5 dilaksanakan oleh petugas kesehatan diantaranya dokter. bidan. ibu hamil. - Memindahkan catatan dalam KMS ke dalam buku register atau buku bantu kader Mengevaluasi hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan dari posyandu yang akan datang Melaksanakan penyuluhan kelompok (kelompok dasa wisma) Melakukan kunjungan rumah (penyuluhan perorangan) bagi sasaran posyandu yng bermasalah antara lain : 1 Tidak berkunjung ke posyandu karena sakit 2 Berat badan balita tetap Selama 2 bulan berturut turut 3 Tidak melaksanakan KB padahal sangat perlu 4 Anggota keluarga sering terkena penyakit menular Meliputi: a. antara lain : Pelayanan imunisasi Pelayanan KB Pemeriksaan kesehatan bayi. melainkan pelayanan sector yang dilakukan oleh petugas kesehatan.

Rujukan penderita ISPA (pneumonia Balita) e. Penyuluhan ISPA (pneumonia Balita) f. Peran serta masyarakat melalui pelatihan dan pendidikan kader g. Tujuan: Peserta latih memahami dan mampu melaksanakan kegiatan promosi pengendalian Pneumonia Balita melalui penyampaian informasi Pneumonia yang benar kepada orang tua/pengasuh Balita dan masyarakat umum. Dilakukan 1x/ tahun. Sasaran: • Kader a. sedang dan berat berdadarkan perhitungan frekuensi napas denganmenggunakan sound timer atau jam tangan. Dengan tujuan memberikan pengetahuan kepada para kader berupa pengenalan mengenai gejala penyakit ISPA ringan. Pengobatan penderita ISPA (pneumonia Balita) d. TOGA dan sebagainya) maupun dalam menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan sarana dan pelayanan kesehatan.c. 6 Pelatihan Pengendalian ISPA Bagi Tenaga non Kesehatan Keberhasilan Pengendalian ISPA untuk Pengendalian Pneumonia Balita sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat baik untuk menggerakkan masyarakat dalam berperan untuk melaksanakan program (kader. serta usaha-usaha pencegahan ISPA. Pencatatan dan pelaporan mengenai kasus ISPA (pneumonia Balita). TOMA. TP PKK desa dan kecamatan . Dalam mengembangkan dan meningkatkan peranan masyarakat dalam Pengendalian ISPA dilaksanakan pelatihan Pengendalian ISPA bagi tenaga non petugas kesehatan.

TOGA Materi: d. 5. . Penguatan jejaring internal dan eksternal (LP/LS.b. dll). 4. 2. Penguatan kesiapsiagaan dan respon pandemi influenza melalui penyusunan rencanakontinjensi di semua jenjang. ormas. LSM. 3. Buku pemberdayaan kader Penyelenggaraan:  Jumlah peserta diupayakan maksimal: 30 orang per kelas  Rasio fasilitator dengan peserta diupayakan 1 : 10 Lama pelatihan: 1 hari Strategi Pengendalian ISPA di Indonesia adalah sebagai berikut : 7 1. TOMA c. lembaga internasional. Membangun komitmen dengan pengambil kebijakan di semua tingkat dengan melaksanakan advokasi dan sosialisasi pengendalian ISPA dalam rangka pencapaian tujuan nasional dan global. latihan (exercise). penguatan surveilans dan penyiapansarana prasana. 6. Peningkatan mutu pelayanan melalui ketersediaan tenaga terlatih dan logistik. swasta. perguruan tinggi. Peningkatan peran serta masyarakat dalam rangka deteksi dini pneumonia Balita danpencarian pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksanaan Autopsi Verbal Balita di masyarakat. Penemuan kasus pneumonia dilakukan secara aktif dan pasif. profesi. 7.

Puskesmas dan rumah sakit menggunakan instrumen supervisi (terlampir). kabupaten/kota.8. Cara penghitungan: a/b x 100% 2. Cakupan profilaksis massal pada penanggulangan episenter pandemi Supervisi dilakukan untuk menjamin pelaksanaan pengendalian ISPA berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan/ditetapkan dalam pedoman baik di provinsi. 9. Puskesmas yang: • pencapaian cakupan rendah • pencapaian cakupan tinggi namun meragukan • kelengkapan dan ketepatan laporan yang kurang baik Pelaksana supervisi:   Petugas pusat. Alat: Formulir (checklist) untuk supervisi mencakup aspek manajemen program (pencapaian . Evaluasi program dilaksanakan secara berkala Indikator luaran (Evaluasi) 1. Cakupan penemuan Pneumonia Balita Pembilang (a): Jumlah kasus Pneumonia Balita yang ditemukan di suatu wilayah kerja Puskesmas dalam 1 tahun. Supervisi dilakukan secara berjenjang difokuskan pada propinsi. kab/kota. Pencatatan dan pelaporan dikembangkan secara bertahap dengan sistem komputerisasi berbasis web. Monitoring dan pembinaan teknis dilakukan secara berjenjang. Penyebut (b):Perkiraan jumlah penemuan Pneumonia Balita di wilayah kerja Puskesmas tersebut dalam 1 tahun (10% dari jumlah Balita). terstandar dan berkala. 10. petugas provinsi. petugas Puskesmas. petugas kabupaten/kota. Jumlah Kasus dan CFR di rumah sakit 3.

ii. bulanan. dan laporan supervisi dan bimbingan teknis. Ketersediaan alat komunikasi baik untuk rutin maupun insidentil (KLB). logistik) dan aspek tatalaksana. ruang rawat intensif/ ICU dan ambulans sebagai penilaian core capacity penanggulangan pandemi influenza. Tenaga pengelola Pengendalian ISPA terlatih di kabupaten/kota dan provinsi b. triwulan). c. Evaluasi lebih menitikberatkan pada hasil atau keluaran/output yang diperlukan untuk koreksi jangka waktu yang lebih lama misalnya 6 bulan. Sarana dan Prasarana i. Sumber Daya Manusia i. Monitoring atau pemantauan pengendalian ISPA Apabila terdapat ketidaksesuain maka tindakan korektif dapat dilakukan dengan segera. Influenza Pandemi) yang memiliki ruang isolasi. tahunan dan lima tahunan. Logistik i. Monitoring hendaknya dilaksanakan secara berkala (mingguan. Tenaga Puskesmas terlatih dalam manajemen program dan teknis ii. Keberhasilan pelaksanaan seluruh kegiatan pengendalian ISPA akan menjadi masukan bagi perencanaan tahun/periode berikutnya. Obat: • Ketersediaan antibiotik . RS Rujukan (FB/AI. Beberapa komponen yang dapat dipantau/evaluasi adalah: a. target. Luaran dari kegiatan supervisi dan bimbingan teknis pengendalian ISPA adalah data umum        wilayah data pencapaian target program data pelatihan data logistik identifikasi masalah cara pemecahan masalah langkah tindak lanjut. pelatihan.

Pengolahan data SP2TP di kab/kota menggunakan perangkat lunak yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan 2. diolah. Tingkat Kabupaten/Kota 1. Laporan dari puskesmas pembantu dan bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di puskesmas 2. dll) ii. Pelaksana pelaksana merekapitulasi yang dicatat baik didalam maupun diluar gedung serta laporan yang diterima dari puskesmas ppembantu dan bidan di desa. Laporan SP2TP dari puskesmas yang diterima dinas kesehatan kab/kota disampaikan kepada pelaksana SP2TP untuk direkapitulasi / entri data. Alat: • Tersedianya ARI sound timer • Oksigen konsentrator • Ketersediaan APD untuk petugas RS. Pedoman (ketersedian dan kondisi sesuai standar) iv. untuk disampaikan kepada koordinator SP2TP 4. Hasil rekapitulasi dikoreksi. Puskesmas dan lapangan iii. serta dimanfaatkan sebagai bahan untuk umpan balik. 3. 3. Hasil rekapitulasi pelaksanaan kegiatan dimasukkan ke formulir laporan sebanyak dua rangkap. . laboratorium. Media KIE dan media audio visual v. Tersedianya formulir pencatatan dan pelaporan Mekanisme pelaporan Tingkat puskesmas 1.• Ketersediaan antiviral (oseltamivir) • Ketersediaan obat-obat penunjang (penurun panas. Hasil rekapitulasi pelaksanaan kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk tindak lanjut yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja kegiatan.

kemudian dikirimkan ke Dinkes Provinsi. kanwil depkes Provinsi dan Departemen Kesehatan. Tingkat Pusat Hasil olahan yang dilaksanakan Ditjen BUK paling lambat 2 bulan setelah berakhirnya triwulan tersebut disampaikan kepada pengelola program terkait dan Pusat Data Kesehatan untuk dianalisis dan dimanfaatkan sebagai umpan balik. bimbingan dan pengendalian. Hasil rekapitulasi disampaikan ke pengelola program tingkat provinsi untuk diolah dan dimanfaatkan serta dilakukan tindak lanjut. Tingkat Provinsi 1. Pengolahan dan pemanfaatan data SP2TP di provinsi mempergunakan perangkat lunak sama dengan kab/kota 2. 3. Hasil rekapitulasi data setiap 3 bualn dibuta dalam rangkap 3 (dalam bentuk soft file) untuk dikirimkan ke dinas kesehatan Dati I.bimbingan teknis ke puskesmas dan tindak lanjut untuk meningkat kinerja program. 4. diterima oleh dinas kesehatan provinsi dalam bentuk soft file dikompilasi / direkapitulasi. Pengobatan pneumonia 5 . Laporan dari dinkes kab/kota.

.

. Kematian pada Balita (berdasarkan Survei Kematian Balita tahun 2005) sebagian besar disebabkan karena pneumonia 23.6%.Angka kematian pneumonia balita Hingga saat ini Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Angka kesakitan pneumonia balita Selama ini digunakan estimasi bahwa insidens pneumonia pada kelompok umur Balita di Indonesia sekitar 10-20%. dengan jumlah kasus yang . sebagai berikut: Di Indonesia.420 (Profil Kesehatan Indonesia 2007). Cakupan penemuan pneumonia pada tahun 2007 adalah 21. Angka Kesakitan Pneumonia menurut SDKI 1991-2003 dan Survei Morbiditas ISPA 2004 melaporkan data persentase anak yang menderita batuk dengan napas cepat dalam dua minggu sebelum survei. Jumlah ini meningkat pada tahun 2010 dimana cakupan penemuan pneumonia pada balita pada tahun 2010 adalah sebesar 23 %. angka kesakitan pneumonia juga cukup tinggi.52% dengan jumlah kasus 477.

Insiden pneumonia berada pada rentang 2. Prevalensi tertinggi adalah provinsi Gorontalo (13. prevalens pneumonia (berdasarkan pengakuan pernah didiagnosis pneumonia oleh tenaga kesehatan dalam sebulan terakhir sebelum survei) pada bayi di Indonesia adalah 0. Jumlah ini meningkat pada tahun 2011.5% pada balita. yaitu jumlah penderita pneumonia balita yang diobati dibagi dengan total populasi balita di wilayah program dikali seratus persen.9%).259 kasus (Profil Kesehatan Indonesia 2010).2 hingga 4.9 pada tahun 2000 hingga 2009 (Gambar. Tingginya angka morbiditas juga disertai dengan tingginya angka mortalitas.2%) dan Bali (12. Namun bila dilihat dari kelengkapan laporan yang masih kurang.9%). Sedangkan pneumonia menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah diare pada bayi dan balita yaitu dengan prevalensi 23% pada bayi dan 15. Survei Kesehatan Nasional 2011 mencatat sekitar 27.6). Bila dilihat berdasarkan pembagian kategori tinggi rendahnya insidens pneumonia. Berdasarkan Riskesdas 2007.6% balita di Indonesia meninggal karena pneumonia. sedangkan provinsi lainnya di bawah 10% Gambaran persebaran kasus diperoleh berdasarkan data insiden pneumonia balita berobat. maka rata-rata insidens nasional berada pada daerah kuning (insidens 1-4%) kecuali pada tahun 2001 dan 2004 masuk dalam kategori merah/tinggi (>4%).2%.76% dengan rentang antar provinsi sebesar 0-13.ditemukan sebanyak 499. 6 Menurut data Riskesdas 2007. maka terdapat kemungkinan data insidens ini masih lebih rendah dari yang sebenarnya. 4 . penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah gangguan pernapasan (35.

Enteng. Pusat data dan surveilans epidemiologi.15 wib 4. http://kesehatan. Kolera . Arvin. 2009. (2003). Behrman. com/read/2009/09/12/13191250/Jangan. Modul tatalaksana standar pneumonia.2006. Pneumonia balita.Pneumonia. Jakarta.di akses tanggal 4 juni 2010 jam 19. ilmu kesehatan anak. Kementerian kesehatan republic Indonesia direktorat jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan 5. Posyandu dan Kader Kesehatan. Kementerian kesehatan republic Indonesia direktorat jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan 2012. Pedoman pengendalian infeksi saluran pernapasan akut. Theresia. Zulkifli. halaman 23.kompas. Jangan Anggap Enteng Pneumonia.Anggap. Kementerian kesehatan republik Indonesia 7.Daftar pustaka 1. edisi 15. Pelaksanaan Program Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita di Posyandu. 2006 2. Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak. 6. Depkes RI. Jakarta: EGC. Hal 3. Kliegman.

Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Melaksanakan penyuluhan serta mendorong kewaspadaan KLB di puskesmas pembantu . Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera. 3. hindari memakan ikan dan kerang yang dimasak setengah matang. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau . Peningkatan kegiatan surveilans untuk deteksi dini KLB dengan penyelengaraan pemantauan wilayah setempat penyakit berpotensi KLB di puskesmas dan puskesmas pembantu. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di sterilisasi.2 Kriteria KLB Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Kegiatan surveilans dimaksud adalah pelaksanaan pemantauan wilayah setempat kondisi rentan KLB diwilayah puskesmas. terutama penyiapan tim penyelidikan dan penanggulangan KLB puskemas yang merupakan bagian dari tim penyelidikan dan penanggulan KLB puskesmas yang merupakan bagian dari tim penyelidikan dan penanggulangan KLB kabupaten / kota. Pemberian vaksinasi kolera dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita. 2. Penyelidikan lebih luas terhadap dugaan adanya KLB 4. 5 langkah awal yang diterima laporan 1. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. sebaiknya diisolasi dan secepatnya mendapatkan pengobatan. Kesiapsiagaan menghadapi KLB .1 Cara mencegah penyebaran Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan prinsip sanitasi lingkungan.Sebagai dokter puskesmas. cuci sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan). rumah sakit . cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik. 949/MENKES/SK/VII/2004. Peningkatan kegiatan surveilans dan penyelidikan lebih luas terhadap kondisi rentan KLB dan mendorong upaya-upaya pencegahan KLB. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu. 5. klinik dan masyarakat .

tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam. sesuai dengan Permenkes RI No. Menurut Masykuri (1997).1 Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. hari. bulan. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam.(Konfirmasi kolera) yang sebelum-nya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah. untuk menentukan apakah jumlah kasus yang ada melampaui jumlah yang diharapkan biasanya dilakukan dengan membandingkan jumlah yang ada saat ini dengan jumlah beberapa minggu atau beberapa bulan sebelumnya atau dengan jumlah yang ada pada periode waktu yang sama di tahun-tahun sebelumnya. hari. 1501/MENKES/PER/2010:  Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagai-mana dimaksud pada pasal 4 Permenkes RI No. hari.1 Untuk kriteria KLB diare. minggu) 3. Menurut aturan itu.  Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam.  Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam. tahun). minggu. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya. . 1501/MENKES/PER/2010. suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur :1 1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal 2. 451/91. atau minggu berturut turut. hari atau minggu.meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. 4.

 Angka kematian kasus (CFR) dalam 1(satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus pada suatu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.3 Epidemiologi Diare merupakan salah satu penyebab angka kematian dan kesakitan tertinggi pada anak . terutama pada anak berumur kurang dari 5 tahun ( balita ). atau pandemik. KlB diare menunjukkan fluktuasi baik frekuensi kejadian dan jumlah penderitanya maupun case fatality rate nya. Bakteri Vibrio cholerae berkembang biak dan menular melalui feses manusia. Berdasarkan data hasil survey rumah tangga.9% pada tahun 1980.4% tahun 1986 hingga 13% tahun 2001 dari semua kasus kematian. Misal minum air atau makan makanan yang telah terkontaminasi bakteri kolera seperti makanan laut terutama kerang.3 .  Rata rata jumlah kejadian kesakitan perbulan selama 1(satu) tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata rata jumlah kejadian kesakitan perbulan pada tahun sebelumnya.3 Selama 2003 – 2010 .6 juta kematian pada tahun 1982 menjadi 2 juta kematian pada tahun 2003 . remis. Di begara berkembang. sebesar 2 juta anak meninggal tiap tahun karena diare. Berdasarkan laporan WHO. Di Indonesia. epidemik. bila kotoran yang mengandung bakteri ini mengkontaminasi air sungai dan sebagainya. maka orang lain yang kontak dengan air tersebut beresiko terkena penyakit kolera juga. angka kematian diare juga telah menurun tajam. 26.1 Sumber penularan Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik. kematian karena diare di negara berkembang diperkirakan sudah menurun daru 4. tiram. dimana sebagian kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih di-bandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya. kematian karena diare diperkirakan menurun dari 40% pada tahun 1972 hingga 26. KLB diare terjadi hamper di seluruh wilayah Indonesia.

Bagaimanapun juga identifikasi faktor risiko lingkungan sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit: 3 1. Penyelidikan epidemiologi Telah terjadi KLB diare pada suatu wilayah tertentu apabila memenuhi salah satu kriteria : .3 Ciri-ciri epidemic Bila menyerang suatu daerah yang baru sama sekali.4 Langkah penanggulan Upaya penanggulangan KLB diarahkan terutama mencegah terjadinya dehidrasi dan kematian. kelompok Jemaah haji . hari atau minggu berturut-turt menurut jenis penyakitnya .KLB diare sering terjadi di daerah yang mengalami kekeringan. yang sebelumnya belum pernah mengenal kolera.2 Akan menyebar dengan cepat di tempat yang tidak mempunyai penanganan pembuangan kotoran dan pengolahan air minum yang memadai karena pada wabah (epidemic) kolera. Apabila diagnosis etiologi dapat teridentifikasi dengan tepat. insidens pada wania dan anak-anak akan meningkat. sanitasi buruk.Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 yang - sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal dalam suatu daerah. Penegakkan system rujukan dari keluarga – pos pelayanan kesehatan dilakukan dengan cepat dan menjangkau semua penderita. biasanya tinja orang yang telah terinfeksi menjadi sumber kontaminasi. baik disebabkan karena buruknya sanitasi dan peyediaan air bersih. maka insidens paling tinggi terjadi pada laki-laki dewasa muda. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama tiga kurun waktu dalam jam. rendahnya kebersihan perorangan. kemarau panjang. Tetapi ketika penyakit sudah mulai menjadi endemic. maka pemberian antibiotika dapat mempercepat penyembuhan dan sekaligus menghilangkan sumber penularan dengan cepat. KLB diare juga sering terjadi pada sekelompok orang yang sedang mengadakan perjalanan. pengungsi dan sebagainya. status gizi dan kondisi kesehatan menurun.

petugas kesehatan menanyakan setiap pengunjung unit pelayanan kesehatan tentang kemungkinan adanya peningkatan sejumlah penderita penyakit yang disuga KLB pada lokasi tertentu b. e.- Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode - sebelumnya dalam kurun waktu jam. gambaran epidemiologi dan hasil pemeriksaan laboratorium. Diunit pelayanan kesehatan . Di unit pelayanan kesehatan . Pada penyelidikan KLB juga dapat menggambarkan hubungan epidemiologi kasus-kasus dan faktor risiko tertentu. distribusi gejala. Kurva epidemic dibuat dalam bentuk harian dan mingguan kasus dan atau kematian. sanitasi dan sebagainya yang sangat diperlukan dalam upaya pencegahan perkembangan dan penyebaran KLB diare. Disamping penegakkan diagnosis KLB . Hubunga kasus-faktor risiko tidak selalu diperoleh berdasarkan hubungan asosiasi. umur dan jenis kelamin atau karakteristik lain. Rata-rata jumlah kesakitan per bulan selama 1 tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun - sebelumnya. Angka kematian kasus suatu penyakit ( case fatality rate ) dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama. Membuka pos pelayanan dilokasi yang diduga terjadi KLB dan menganalisis data penderita berobat untuk mengetahui kemungkinan adanya peningkatan penyakit yang dicurigai. c.3 Bagaimana teknik pencarian kasus1 a. d. kepala asrama dan setiap orang yang mengetahui keadaan masyarakat tentang adanya peningkatan penderita penyakit yang diduga KLB. tetapi dapat diperkirakan dari pola penyebaran kasus dan pola sanitasi daerah KLB dalam suatu peta atau grafik. . penyelidikan KLB diare dapat menggambarkan kelompok rentan dan penyebaran kasus yang memberikan arah upaya penanggulangan.at penderita . hari. atau minggu menurut jenis penyakitnya. Mengunjungi rumah-rumah penderita yang dicurigai atau kunjungan dari rumah ke rumah tehadap semua penduduk tergantung pilihan tim penyelidikan. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau - lebih dibandingkan dengan angka ratar-rata perbulan dalam tahun sebelumnya. Petugas kesehatan mewawancarai kepala desa. petugas kesehatan meneliti register rwat inap dan rawat jalan terhadap kemungkinan adanya pepeningkatan kasus yang dicurigai pada lokasi tertentu berdasarkan ala. Penengakkan diagnosis KLB berdasarkan gambaran klinis kasus.

karena semua kegiatan manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. penyuluhan segera berobat bagi setiap penderita dan bahkan secara aktif mencari kasus sedini mungkin. maka untuk alternative pemecahan masalah juga diawali identifikasi berbagai alternative pemecahan masalah. Perencanaan Perencanaan merupakan inti kegiatan manajemen. Dari berbagai alternative masalah tersebut kemudian ditetapkan alternative pemecahan masalah yang paling  prioritas . lisolisasi bahan dan pakaian dan lantai. Pada KLB kolera dapat dilakukan kaporisasi sumber air minum yang digunakan oleh penduduk daerah yang terjangkit KLB diare. Dalam menyusun perencanaan untuk pengendalian KLB penyakit menular dan keracunan makanan dapat mengikuti tahapan penyusunan perencanaan sebagai berikut:  Lakukan analisis masalah Mempelajari dengan cermat permasalahan yang ada terkait dengan  pengendalian KLB yang selama ini terjadi disuatu wilayah. Upaya ini bekerjasama dengan para guru. petugas puskesmas. Menyusun dokumen perencanaan . maka  tugas selanjutnya adalah menetapkan prioritas masalah.3 Monitoring program Sebagaimana pada umunya . pengamanan makanan dari pencemaran. petuga desa atau kelurahan.Penyuluhan Tim penanggulangan KLBmenyelenggarakan penyuluhan untuk melakukan perawatan dini dan mencermati tanda-tanda dehidrasi. Penetapan masalah prioritas Setelah diketahui daftar masalah dengan berbagai penyebabnya. pelaksanaan dan monitoring/evaluasi:3 a. Dengan perencanaan tersebut para pengambil keputusan dan majer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil guna dan berdaya guba. Penduduk juga mendapat penyuluhan memasak air minum. suatu program harus mengikuti siklus manajemen yang mencangkup perencanaan . Inventarisasi alternative pemecahan masalah Seperti halnya identifikasi masalah dan penyebabnya.

Dokter. Nahkoda kendaran air dan udara. Supervisi dilakukan bukan berarti tidak percaya kepada penanggung jawab kegiatan namun semata-mata untuk memastiana bahwa seluruh kegiatan benar-benar dilaksanakan sesuai dengan dokumen perencanaan. RW. orang dewasa yang tinggal serumah dengan penderita atau tersangka penderita. atau kepala kecamatan. kepala asrama. Setiap kegiatan harus dilakukan supervises secara rutin dan berkesinambungan. dokter hewan yang memeriksa  hewan tersangka penderita.3 Langkah perbaikan program  Menjalin kerjasama lintas program dan sektoral bagi meningkatkan kesadaran masyarakat  tentang pencegahan diare Mengevaluasi pelaksanaan program apabila tidak membaiknya pasien diare atau jumlahnya  meningkat/terjadi KLB Melantik dan melatih kader untuk mengenal tanda dehidrasi berat serta penanganannya 3 Alur pelaporan ke puskesmas laporan kewaspadaan terhadap tersangka penderita atau penderita penyakit menular disampaikan oleh:5  Orang tua penderita atau tersangka penderita. kepala unit kesehatan pemerintah dan swasta. pimpinan perusahaan. sehingga terjadi koordinasi dan kerjasama yang optimal. Pengendalian ( monitoring/supervise) Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang dapat mengancam pencapaian tujuan dari perencanaan tersebut maka diperlukan kegiatan monitoring secara kontinyu selama kegiatan berlangsung. Oleh karena itu pada tahap pelaksanaan yang terpenting adalah menggerakkan seluruh komponen perencanaan. ketua RT. Kepala stasiun kereta.3 c. b. . agar setiap orang dapat memahami dengan mudah dari isi perencanaan tersebut. Menngoordinasikan semua pihak/orang-orang yang bertanggung jawab dari setiap kegiatan. Pelaksanaan Pada prinsipnya tahap pelaksanaan adalah tahap implementasi dari dokumen perencanaan.Dokumen perencanaan sebaiknya ditulis secara detail/rinci. kepala keluarga. kepala  sekolah. sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan. petugas kesehatan yang memeriksa penderita. kepala  dukuh. kepala terminal kendaraan bermotor.

dan alat komunikasi lainnya. radio. Laporan kewaspadaan tersebut selanjutnya harus diteruskan kepada kepala puskesmas setempat. maupun tertulis. Penyampaian lisan dilakukan dengan tatap muka.Laporan kewaspadaan disampaikan kepada lurah atau kepala desan dan atau fasilitas kesehatan terdekat selambat-lambatnya 24 jam sejak mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita(KLB). melalui telepon. Upaya pencegahan penyakit Upaya pencegahan dilakukan sesuai dengan hasil penyelidikan terhadap populasi berisiko dan faktor risikonya. baik dengan cara lisan. faksimili. dan sebagainya. Penyampaian seara tertulis dapat dilakukan dengan surat. Isi laporan kewaspadaan antara lain:5      Nama penderita atau yang meninggal Golongan umur Tempat dan alamat kejadian Waktu kejadian Jumlah yang sakit dan meninggal. Secara umum. pada KLB kolera pemberian antibiotic pada penderita dapat sekaligus memutus mata rantai penularan .

3 Pada KLB kolera dapat dilakukan kaporisasi sumber air minum yang digunakan oleh penduduk didaerah terjangkit KLBd diare. diagnose ( sebagaimana terlampir ) Mengatur logistic dan obat-obatab Memberikan penyuluhan kepada penderita dan keluarga Memberikan pengobatan preventif terhadap kontak serumah pada kasus / KLB kolera. Upaya ini bekerjasama dengan para guru. Tetapi ketika penyakit sudah mulai menjadi endemic. Penduduk juga mendapat penyuluhan memasak air minum . umur . J Kedokter Trisakti. penyuluhan segera berobat bagi setiap penderita dan bahkan secara aktif mencari kasus sedini mungkin. pemberian kaporit dan pengamanan makanan. Perkembangan mutakhir infeksi kolera. maka insidens paling tinggi terjadi pada laki-laki dewasa muda. pada area epidemic kolera dimana diare cair akut dengan atau tanpa muntah pada pasien. Menurut WHO (1999). yang sebelumnya belum pernah mengenal kolera. 23(3): 101-9) Tatalaksana . Membuat laporan harian kepada puskesmas Tim penanggulangan KLB menyelenggarakan penyuluhan untuk melakukan perawatan dini dan mencermati tanda-tanda dehidrasi . insidens pada wania dan anak-anak akan meningkat.3 Kriteria endemis dan daerah sporadic/ daerah bebas Bila menyerang suatu daerah yang baru sama sekali. alamt lengkap. Melakukan registrasi pencatatan nama. Upaya penanggulangan didukung oleh system surveilans selama periode KLB yang dapat menuntun arah dan evaluasi upaya penanggulangan. memasak air sebelum diminum. deskripsi kasus klinis kolera terdiri dari kasus yang terjadi di area yang tidak terdapat penyakit kolera dimana dehidrasi berat atau kematian karena diare cair akut pada seorang pasien berusia 5 tahun atau lebih. pada area endemis kolera dimana diare cair akut dengan atau tanpa muntah pada seorang pasien berusia 5 tahun atau lebih.3 Tugas utama pos kesehatan dan pusat rehidrasi (RR) adalah :3 - Merawat dan memberikan pengobatan diare sesuai bagan tatalaksana diare sssuai derajat - dehidrasinya ( sesuai standar ). pengamanan makanan dari pencemaran . gejala. petugas desa atau kelurahan petugas puskesmas lainnya.dan diikuti dengan distribusi air bersih.2 (Lesmana. 2004 Juli-September. tanggal berobat dan waktu - mulai sakit. lisolisasi bahan atau pakaian dan lantai.

dia beberapa negara tidak ada sediaan untuk anak-anak. Tetracycline merupaka obata pilihan utama.Antibiotika yang digunakan dalam pengobatan kolera anak-anak3 Antibiotika (diberikan selama 3 hari) Doxycycline 4 mg/kgBB/hari Dosis tunggal Tetracycline 12. Doxycline adalah antibiotic pilihan untuk orang dewasa ( kecuali wanita hamil ) karena hanya  dibutuhkan dosis tunggal TMP-SMX adalah antibiotika pilihan untuk anak-anak .3 Daftar pustaka: . Chloramfenicol adalah antibiotika pilihan utama wabita hamil ( trimester 1 dan 2) . Tetracycline sama efektifnya namun  begitu.cholerae 01 resisten  terhadap antibiotika diatas.5 mg/kgBB 4 x sehari Trimethoprin ( TMP ) TMP 5 mg/kgBB Sulfamethoxazole (SMX) Dan 2 x sehari SMX 25 mg/kg Antibiotika yang digunakan dalam pengobatan kolera dewasa3 Lini pertama Tetracycline 4 x 500 mg selama 3 hari 4 x sehari Doxycycline 300 mg Dosis tunggal Lini kedua Trimethoporin (TMP) TMP 160 mg Sulfamethoxazole (SMX) Dan 2 x sehari Ciprofloxacin SMX 800 mg/kg 1000 mg Dosis tunggal  Chloramphenicol mungkin dapat digunakan bila antibiotika yang dianjurkan diatas tidak tersedia bila antibiotic yang dianjurkan diatas tidak tersedia bila V.

Perkembangan mutakhir infeksi kolera. %201501%20ttg%20Jenis%20Penyakit%20Menular%20Tertentu%20Yang %20%20Menimbulkan%20Wabah. Herlena karneli. 1501 tentang jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan uaya penanggulangan [internet]. 4. [cited 2016 Jun9]. . Lesmana.2011. Control CD.gov/disasters/tsunamis/translations/cholerabasaha.hukor. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2: 21-5. Buku pedoman penyelidikan dan penanggulangan kejadian luar biasa penyakit menular dan keracunan pangan. Jakarta. Handito agus. Edisi 2011.go. 2004 Juli-September. 3.Availablefrom:http://www. PMKRI No. J Kedokter Trisakti. 11.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.pdf.depkes. Menteri Kesehatan RI.cdc. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Susanto hermawan dkk. Tsunamis [internet]. 2011.74-80. 23(3): 101-9.h. Kementerian Kesehatan RI. Subiyantoro haris. 2. [cited 2016 Jun 9].1. 5.pdf. Fatchanuraliyah. Available from : https://emergency. Situasi diare di indonesia.