You are on page 1of 50

Tata Cara Pemulasaran Jena

zah
Orang Dengan HIV dan AIDS

Komisi Penanggulangan AIDS
Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2012

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan
Yang Maha
Esa yang telah melimpahkan rahmat serta ridhoN
ya, sehingga
buku Tata Cara Pemulasaraan Jenazah bagi Orang
Dengan HIV
dan AIDS (ODHA) dapat diselesaikan dan diterbitkan.
Kami
Tata

menyambut

gembira

terbitnya

buku

Cara

Pemulasaraan Jenazah ODHA sebagai acuan dan tu
ntunan cara
perawatan jenazah ODHA bagi masyarakat luas.
Masih

adanya

stigma

dan

diskriminasi

masyarakat
terhadap ODHA, berdampak pula ketika ODHA menin
ggal dunia,
sehingga tidak mendapatkan perawatan sebagaiman
a mestinya.
Bahkan

masih

banyak

tidak

berani

memandikan
litian,

jenazah

masyarakat

ODHA.

Dari

yang
hasil

pene

bahwa

jenazah ODHA aman untuk dimandikan dan virusn
ya turut mati
setelah

empat

Masyarakat

jam dari

waktu meninggalnya.

sebenarnya tidak perlu khawatir akan tertular vir
us HIV saat
memandikan jenazah ODHA. Penularan virus HIV
hanya bisa
melalui darah, sperma dan cairan vagina, sehingga
orang yang
menyentuh jenazah ODHA selama proses peraw
atan jenazah
tidak perlu takut tertular HIV.
Setelah mempelajari buku Tata Cara Pemulasar
an Jenazah
ODHA
n

ini,

diharapkan

masyarakat

mendapatka

tambahan

pengetahuan dan pengertian yang benar tentang pe
nularan dan
pencegahan HIV & AIDS. Melalui pengetahuan
tambahan ini
masyarakat

melaksanakan

dapat

memperoleh

diri

untuk

tata

cara

kesadaran

perawatan

jenazah

ODHA tanpa
memiliki rasa takut tertular virus HIV.
Terbitnya buku ini tentu tidak lepas dari kerja k
eras semua
pihak, sehingga bisa diselesaikan sesuai harapan ki
ta bersama.

Semoga buku ini dapat menjadi pedoman dalam p
emulasaraan
jenazah ODHA. Amiin.

Semarang, Oktober
2012
Wakil Gubernur Jawa
Tengah
Selaku
Ketua Pelaksana H
arian
Komisi Penanggulang
an AIDS
Provinsi Jawa Ten
gah,

Dra. Hj. Rustriningsi
h, M.Si
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ...............................................................
..
v

DAFTAR ISI ........................................................................
...
vii

BAB I

PENDAHULUAN

......................................................
1
BAB II

HIV dan AIDS ......................................................

.....
4

2.1. Cara Penularan HIV ........................................
...........
5

2.2. Perjalanan HIV & AIDS ..................................
......... .
7

2.3. Tahapan/fase/derajat infeksi HIV ....................
...........
8

2.4. Pemeriksaan Diagnostik .................................
........ .
9

. ............ 16 .................... 15 4....... .........2............ ............................ Ketentuan Umum ....... Pencegahan Diri terhadap HIV & AIDS .......................... .1............2. . Prinsip Pemulasaraan Jenazah ODHA ….. 12 3.............................. ..5..... ................... 15 4. Tahap Persiapan Psikologis ....... 13 BAB IV PEMULASARAAN JENAZAH ODHA ................... 10 BAB III PERAWATAN ODHA MENGHARAPI MASA TERMINAL ....... 12 3...2........... .1........................................ Tahap Persiapan Fisik ..

............ Kewaspadaan Universal ....... 16 4..... Perawatan Jenazah ODHA di Luar Jenazah ODHA ..................................... 29 DAFTAR PUSAKA ............3. Perawatan Jenazah ODHA di Sarana Keseh atan ......... ...........5..................................... 28 LAMPIRAN ................................ 32 BAB I PENDAHULUAN Pengidap HIV di Jawa Tengah dilaporkan pertama kali tahun 1993 di Kabupaten Pemalang yang terdet eksi di Jawa ...................... 17 4........................4.........4.. ...... ................................ 21 BAB V PENUTUP ......

379 orang dalam fase AIDS sert a 642 orang diantaranya telah meninggal dunia dan tidak ada Kab upaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah yang terbebas dari HIV & AI DS.Barat dan meninggal sebagai kasus AIDS pad a tanggal 14 Oktober 1995. Adanya tubuh penurunan kekebalan daya tahan pada seseorang yang terinfeksi oleh infeksi HIV akan diikuti penyerta/ikutan (opportunistik) yang akan meningka tkan angka kematian patuh pada dalam ODHA terlebih apabila tidak .922 orang terinfeksi HIV dan 2.301 orang dengan rincian 2. Data kumulatif HIV & AIDS sejak kasus pertama ditemukan tahun 1993 sampa i dengan 30 Juni 2012 berjumlah 5. Dan selanjutnya setiap tahun dilapor kan adanya kasus HIV & AIDS di Jawa Tengah.

se hingga tetap berpotensi menular pada orang disekelilingnya m elalui cairancairan yang keluar dari dalam tubuhnya. baik dari cairan darah maupun hal cairan kelamin. Apakah bisa tertular bila memegang. s alah satunya . Sehubungan dengan tersebut kepada orang-orang yang merawat jenazah ODHA harus tetap waspada guna menghindari penularan. Virus HIV tidak mudah ditaklukkan. Belum semua masyarakat memahami penul aran HIV & AIDS dari satu orang ke orang lain secara benar.meminum obat Anti Retroviral (ARV). menyentuh. atau berdek atan dengan jenazah ODHA? Kekhawatiran masih adanya viru s HIV yang melekat pada jenazah ternyata bisa diantisipasi. bahkan sampai pengidap meninggalpu n virus HIV masih tetap aktif selama kurang lebih empat jam.

hal ini mengingat kemungkinan adanya kuman/bibit penya kit menular . acuan dalam sebagai pelaksanaan perawatan jenazah ODHA. termasuk penggunaan kesiapan alat pelindung diri dan penatalaksanaan peralatan. maka KPA P Jawa Tengah memandang perlu disusun buku tentan g Tata Cara Pemulasaraan Jenazah ODHA. untuk tetap menjaga kewaspadaan univ ersal. agar prosesn ya berjalan baik dan lancar dari segi agama maupun dari segi kes ehatan. tetapi dihimbau kepada mas agar berhati-hati dalam proses melaksanakan pemulasara an jenazah ODHA.dengan memahami mengenai tata cara perawatan je nazah oleh karena penyakit ini. Berdasarkan rovinsi hal tersebut. Virus HIV pada jenazah ODHA bukan anc aman utama dalam yarakat penularan.

infeksi penyerta/ikutan (opportunistik). BAB II HIV DAN AIDS HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem an kemudian kekebalan tubuh manusia d .lainnya yang tidak kita ketahui. meng kafani (bagi muslim dan bagi non muslim disesuaikan dengan kete ntuan yang diberlakukan) sampai dengan memakamkannya. akan lebih aman jika para pelaksana perawatan jenazah m embaringkan/ mengistirahatkan jenazah terlebih dahulu di te mpat jenazah selama kurang lebih 4 (empat) jam. memandikan jenazah. Setelah beberapa saat ODHA meninggal dunia. dari membuka pakaian. Baru setelah 4 (empat) jam perawatan/ pemulasaraan jenazah sudah dapat d ilaksanakan.

menimbulkan AIDS (Depkes. HIV menyeran g salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas mena ngkal infeksi. 1997). berikut beberapa kondisi yang dapat mempermudah enularan dan penyebaran HIV dan AIDS antara lain : 1. Peningkatan industri seksual komersial. Sedangkan AIDS (Acquired Immun e Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh HIV (Depkes. HIV tergolong dalam kelomp ok retrovirus yaitu kelompok mpuan virus yang mempunyai kema untuk mengkopi cetak materi genetik di dalam materi g enetik sel-sel yang ditumpanginya. Sel darah putih tersebut termasuk sel T-4 atau sel THelper atau disebut juga sel CD-4. HIV & AIDS merupakan virus yang dapat ditular kan. 1997). p . HIV dapa t mematikan sel-sel CD-4. Melalui proses ini.

Hubungan seksual secara vaginal. yaitu : 1. Proses urbanisasi yang cepat. 5. 4.1.2. epitel mukosa mudah seksual anus relatif tipis dan terluka dibandingkan epitel dinding vagina. Hubung an seksual yang beresiko menularkan HIV antara lain : a. Terjadinya hubungan seksual secara berganti-ganti pasangan. Pemakaian kondom rendah. Cara Penularan Ada tiga jalur penularan HIV. 2. b. 3. Prevalensi penyakit kelamin tinggi. Wanita lebih beresiko aput lendir daripada pria karena sel . Melalui hubungan seksual dengan ses eorang yang telah terinfeksi HIV tanpa memakai pengaman/pelindung (kondom). Hubungan karena secara anal.

Perilaku ber esiko tinggi adalah berhubungan seksual yang tidak aman. c airan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina sehingga kesempatan HIV untuk mas uk ke aliran darah menjadi lebih tinggi. p roduk darah . Melalui yang tranfusi darah atau alat-alat telah terpapar HIV. Selain itu.vagina cukup rapuh. termasuk tanpa kondom. berganti-ganti jarum suntik atau alatalat lain yang kontak ng lain dengan cairan tubuh ora dan memperoleh tranfusi darah yang tidak d ites HIV. 2. Cara penularan HIV melalui darah : a. Secara langsung (tranfusi darah. berganti-ganti pasangan.

Secara tidak langsung atau melalui alat -alat (jarum suntik. dll) yang terinfeksi HIV dan tidak disterilkan dahulu. peralatan dokter. kemungkinan bayi terinfeksi sebesar 20%-35%.atau ng transplantasi organ tubuh ya terinfeksi HIV). Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepad a janin yang dikandungnya pada saat persalinan atau k epada bayi yang disusuinya. jarum tatto. b. 3. penggunaan narkoba suntik secara ber gantian. belum Bila ada gejala AIDS. j arum tindik. sedangkan jika gejala AIDS sudah jel as pada ibu . Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan ibu baru terinfeksi HIV dan (in-utero).

Semakin makin lama proses persalinan. lama persalinan dipersingkat dengan secti o caesarea. Perjalanan HIV & AIDS Perjalanan HIV & AIDS dapat dibagi menjadi 4 (empat) stadium : 1. Stadium pertama: HIV . Oleh karena itu.2. Transmisi e lain terjadi selama period menyusui. se besar kemungkinan bayi terinfeksi HIV. 2. Risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu ya ng terinfeksi atau ibu positif HIV adalah 10%. Penularan juga terjadi pada saat persalinan melalui tranfusi fetom aternal atau kontak antara kulit atau mukosa membrane bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan.kemungkinannya 50%.

Stadium ketiga: Pembesaran Kelenjar Limf a Ditandai dengan pembesaran kelenjar l imfa secara . Keadaan ini berlangsung rata-rata 5 – 10 tahun. Stadium kedua: Asimtomatik Di tubuh dalam tubuh terdapat HIV tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala. Rentang waktu sejak HIV mas uk ke dalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut window period (masa jen dela). Lama window period antara 1 – 3 bulan. 2. Cairan tubuh OD HA ini dapat menularkan HIV kepada orang lain.Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologic ketika antibodi terhadap virus tersebut dari negatif beru bah menjadi positif. 3.

4. Gejala mayor (2 dari 3 gejala utama): .Bercak-bercak gatal di seluruh tubuh.Penurunan berat badan lebih dari 1 0% dalam 3 bulan. 2.Demam berkepanjangan lebih dari 3 b ulan. . Gejala klinis pada stadium AIDS : a. Tahapan/Fase/Derajat Infeksi HIV .Munculnya herpes zoster berulang. . b.3. .Batuk kronis selama lebih dari 1 bulan .menetap dan merata (Persistent Generalized Lymphadenopathy) yang tidak hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari sat u bulan.Diare kronis lebih dari 1 bulan berul ang ataupun terus menerus. Stadium keempat: AIDS Keadaan ini disertai berbagai macam peny akit. Gejala minor (1 dari 5 gejala minor): . .

cairan tubuh atau organ tubuh yang dipakai untuk memastikan . HIV dengan defisiensi imun sedang ( CD-4 200 500/µL). Pada saat jumlah CD-4 dibawah 500/ µL.Tahapan/fase/derajat infeksi HIV. Infeksi Oportunistik (IO) infeksi yang adalah menyerang orang yang kekebalan tubuh nya rendah. HIV dengan defisiensi imun dini (CD-4 > 500/µL). dikelompokk an atas 4 (empat) yaitu: 1. 2. 2. 3. Pemeriksaan Diagnostik Tes HIV adalah suatu tes terhadap darah. Infeksi HIV primer. HIV dengan defisiensi imun berat (CD4 < 200/ µL) disebut dengan AIDS. 4.4.

Memastikan persediaan darah di bank darah tidak terinfeksi HIV. Tes lain yang digunakan untuk mengkonfirmasi Western hasil biasa ELISA Blot. Prosedur tes HIV : 1. Indirect Immunofluoresence atau adalah Assay (IFA) Radio Immuno Precipitation Assay.apakah seseorang telah terinfeksi HIV ata u tidak. yaitu : 1. Tes HIV digunakan terutama untuk 3 hal. Tes skrining yang digunakan untuk mendiagnosis HIV adalah ELISA. Menilai risiko diri seseorang terhadap HIV & AIDS. 2. . Untuk mengetahui secara dini status HIV seseorang. Untuk menggambarkan besarnya masal ah epidemik HIV & AIDS di masyarakat. 3.

Ada beberapa upaya yang dapat . 2. Pencegahan Diri Terhadap HIV & AIDS Mengingat belum adanya obat dan vaksin HIV. maka satu-satunya cara penanggulangan HIV dan AIDS dilakukan dengan cara mencegah terjadi nya perilaku yang beresiko terhadap penularannya. Status HIV disampaikan secara langsung dan pribadi dalam konseling pasca tes oleh konselor y ang sama. 6. Dengan sukarela bersedia dites darah dengan membuat pernyataan tertulis (informed con cern). Pencegahan virus HIV harus dikaitkan d engan caracara penularannya. 4. Konseling pre-test dengan konselor.5.2. Pelaksanaan tes darah. Mempertimbangkan untuk melakukan tes HIV. 5. 3.

e.1. Education (pengetahuan dan pend idikan yang benar tentang HIV & AIDS). terutama narkoba suntik). d. Don’t an Drugs (tidak menggunak narkoba. c. Pencegahan penularan HIV melalui h ubungan seksual : a. Abstinence (tidak berhubungan se ks sebelum menikah). Be faithful (tidak berganti-ganti pa sangan dan saling setia kepada pasangannya). pada setiap hubungan sek s berisiko).dilakukan seseorang dalam mencegah tert ularnya HIV. Condom (melakukan hubungan secara aman seksual termasuk menggunakan kondom. b.5. antara lain sebagai berikut : 2. .

Jangan memakai jarum suntik at au alat yang menembus tian kulit secara bergan dengan orang lain. nak Pencegahan penularan dari Ibu ke A Seorang ibu yang terinfeksi HIV. Pencegahan penularan melalui alat -alat yang terinfeksi HIV : 1.5. 2. pisau c ukur) harus disterilkan dengan cara yang benar. jarum tattoo.3. Resiko itu akan semakin besar bila ibu telah . 2.5.2. risiko penularan terhadap janin yang dikandungnya atau sar bayinya kemungkinan sebe 30-40%.2. Semua alat yang menembus kuli t dan darah (jarum suntik.

terkena atau menunjukkan gejala AIDS. bagi ibu yang sudah t erinfeksi HIV dianjurkan untuk periksa dan kon sultasi guna perencanaan kehamilan. sehingga dianju rkan setiap ibu hamil untuk mengikuti progra m Prevention from Mother To Child Transmissi on (PMTCT) atau Program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak. BAB III PERAWATAN ODHA MENGHADAPI MASA TERMI NAL Masa mi terminal seseorang adalah masa yang diala . Risiko prose s menyusui pada Ibu hamil yang terinfeksi HIV terhadap bayinya cukup besar. Oleh karena itu.

Membantu menemui ajal dengan tenang. b. 3. Menjaga kebersihan diri ODHA. Perawatan yang yang diberikan kepada seseorang sedang menghadapi masa terminal dapat dibagi menjadi 2 (dua) tahap. . Tujuan perawatan pada ODHA yang sedang menghadapi kematian. Mengurangi rasa tidak nyaman yang sedang diha dapinya. Tenaga kesehatan atau ke luarga yang terdekat dengan ODHA perlu mempersiapkan agar ODHA yang sudah berada pada masa terminal dapat menghad api kematian dengan damai. Tahap Persiapan Fisik : a.1. yaitu : 3. 2. Memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis.sebelum datang ajalnya. yaitu : 1. Membantu ODHA melakukan kegiatan sehari -hari sesuai kebutuhan.

Menciptakan lingkungan yang aman dan nyam an.c. Angry (Marah)  Memberikan kesempatan pada ODHA untuk mengekspresikan kemarahannya. c.  Memahami kemarahan ODHA. Tahap Persiapan Psikologis : a. agar mampu menghada pi kematian dengan tenang. Bargaining (Tawar Menawar Dengan Keadaa n) . d.  Mendorong ODHA. Denial (Penyangkalan)  Mengidentifikasi persepsi terhadap kematia n. Membantu mengurangi rasa nyeri dengan tek nik relaksasi dan dukungan emosional serta memberik an obat-obat sesuai dengan instruksi yang diberikan. Membimbing ODHA. 3. untuk mengekspresika n rasa takut menghadapi kematian. b. e.2.

 Memotivasi ODHA agar mau beribadah se suai dengan keyakinannya. Depression (Tertekan)  Sediakan waktu untuk ODHA.  Menyediakan waktu dan tempat untuk beri badah. Mendorong an ODHA untuk mendiskusik perasaan kehilangan dan rasa takut menghadapi kem atian. e. d. .  Membantu menghilangkan rasa bersalah. kalau perlu datangkan pemuka agama.  Mendorong ukan ODHA agar mau melak aktivitas sehari-hari sesuai kondisinya. Acceptance (Penerimaan)  Sentuhan tangan sebagai komunikasi yang sangat berarti.  Mendorong ODHA untuk menggunakan kel ebihan yang ada pada dirinya.

darah dan jaringan . hidup dan mati. karena kematian merupakan bagian dari siklus kehi dupan. 4. Memberikan bimbingan keagamaan sesu ai keyakinan ODHA.1. termasuk HIV & AIDS. Namun kita tetap mempertimbangkan saran dari kala ngan medis yaitu kewaspadaan universal. Prinsip Dalam Pemulasaraan Jenazah ODHA : 1. Selalu menerapkan Kewaspadaan Universal (memperlakukan setiap cairan tubuh. Masyarakat dan keluarga terdekat tidak perlu k hawatir dan takut akan terjangkit penyakit menular. yaitu lahir. BAB IV PEMULASARAAN JENAZAH ODHA Seseorang leh yang meninggal disebabkan o penyakit menular seperti HIV & AIDS adalah suatu kematian yang wajar.

Ketentuan Umum Penanganan Jenazah : 1. Tindakan petugas mampu mencegah penulara n. Semua petugas/keluarga/masyarakat yang menangani jenazah sebaiknya telah mendapatkan vaksinasi Hepatitis-B sebelum melaksanakan pemulasaraan jenazah (catatan: efektivitas vaksinasi Hepatiti s-B selama 5 tahun). Tidak yang mengabaikan budaya dan agama dianut keluarga. 2. Ini perlu atian dilakukan untuk memastikan kem seluler (matinya seluruh sel dalam tubuh). Pastikan jenazah sudah didiamkan selama ku rang lebih 4 (empat) jam sebelum dilakukan perawatan jenazah. 4. . 3.2. 4.tubuh manusia sebagai bahan yang infeksius) .

8. Hindari kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lainnya. Luka dan bekas suntikan pada jenazah diberikan desinfektan. 4. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh di buka lagi. 4. ditutup kasa absorben dan diplester kedap air. 3. Semua lubang-lubang dengan tubuh. 6.3. Dalam hal tertentu autopsi hanya dapat dilaku kan setelah mendapat persetujuan dari pimpinan Rumah S akit. kecuali oleh petugas khusus. 5. 7. Badan jenazah harus bersih dan kering.2. Kewaspadaan Universal Petugas/Keluarga/Masya rakat Kewaspadaan Universal (Universal Preca ution adalah . Jenazah tidak boleh disuntik dibalsem atau untuk pengawetan atau autopsi.

Secara umum. 7. Kewaspadaan Universal meliputi : 1. Pengelolaan alat kesehatan habis pakai. Pemakaian a alat pelindung diri. 2. Penanganan Alat-Alat Yang Terkontaminasi Dengan Cairan Tubuh ODHA : Sudah ya . Cuci tangan dengan sabun guna mencegah in feksi silang. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan. misalny pemakaian sarung tangan untuk mencegah kontak d engan darah serta cairan infeksius yang lain. 4. 6. Desinfeksi ng dan sterilisasi untuk alat digunakan ulang.tindakan pengendalian infeksi sederhana yan g digunakan oleh seluruh petugas kesehatan/keluarga/masyar akat dalam rangka mengurangi resiko penyebaran infeksi. 5. 3. Pengelolaan uk jarum dan alat tajam unt mencegah perlukaan. 4.4. Pengelolaan linen.

Alat kes ehatan yang digunakan direndam dalam larutan desin fektan yaitu chlorine 0.4. Dekontaminasi alat-alat Dekontaminasi akan adalah suatu tind yang dilakukan agar alat-alat kesehatan dap at ditangani secara aman oleh petugas pembersih alat medis. sarung tangan dan peralatan kesehatan lain yang terkont aminasi oleh cairan anaan tubuh ODHA setelah pelaks suatu prosedur atau tindakan medis. D ekontaminasi peralatan yang tidak bisa direndam misalnya permukaan meja.5% selama 10 – 30 menit.1. meja operasi. dengan dapat dilakukan . alat-alat bedah. Alat kesehatan yang dimaksud adalah meja p emeriksaan.4.

Sterilisasi fisik .menggunakan lap yang dibasahi desinfekt an.Pemanasan kering. Digu nakan untuk . 4. yaitu melalui oven. . pembakar.4. untuk koagulasi dan denaturasi protein.2.4. Pencucian dan pembilasan Pencucian alat-alat kesehatan adalah proses secara fisik untuk menghilangkan darah. Sterilisasi Macam-macam sterilisasi yang biasa dilakukan : a. sinar infra merah.Pemanasan basah. Dilakukan pad a suhu 121 derajat Celcius selama 20 – 30 menit. alat kesehatan dibi las dengan air bersih. c airan tubuh atau benda-benda asing (debu atau kotoran). Setelah dicuci dengan deterjen. 4.3.

. Pemanasan dila kukan pada suhu 150 – 170 derajat Celcius selam a 30 menit. Kedua karena zat ini tidak dianjurkan dapat mengiritasi kulit. kabel. spuit disposable dan alat infuse. b.4.Glutaraldehyde 2% untuk merendam alat kesehatan 8 – 10 jam dan form aldehyde 8%.membunuh spora.Radiasi sinar gamma. plastik. Digunakan untuk alat yang tidak tahan panas (contoh : karet. Biaya sangat mahal dan hanya digunakan pada industri bes ar misalnya jarum suntik. merupakan beracun.4. mata dan saluran naf as. Sterilisasi kimiawi . .Gas gas etiline oxide. dll) 4. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) .

Cara melakukan DTT: . ke pet . . 2.Merebus dalam air mendidih selama 20 menit. Meminimalkan risiko penularan virus HIV dan penyakit menular lainnya dari jenazah ugas/keluarga/ masyarakat yang menangani. Tujuan Kewaspadaan Universal Pemulasaraan Jenazah ODHA : 1.Rendam dalam desinfektan kimiawi.Desinfeksi tingkat tinggi adalah suatu p roses yang menghilangkan sebagian besar mikro organisme namun tidak dapat membunuh endos pora dengan sempurna seperti tetanus dan gas gangren . Agar prosedur pemulasaraan jenazah de ngan HIV & AIDS berjalan dengan baik dan teratur.

Jika didapatkan luka terbuka atau borok pada tangan atau kaki. Kenakan gaun pelindung. Setelah jenazah selesai dimandikan. Periksa ada atau tidaknya luka terbuka pada tangan atau kaki petugas yang akan memandikan je nazah. siram meja tempat . Memberikan rasa aman lingkungan tempat pada dirawatnya jenazah. Prosedur Kewaspadaan Pemulasaraan Universal Jenazah : 1. 3. petugas tidak boleh memandikan jenaza h. Kenakan masker pelindung mulut dan hidung.3. 6. Kenakan sepatu boot dari karet. Kenakan celemek plastik. 5. Memberikan rasa petugas/keluarga/ aman pada masyarakat. 4. Kenakan kacamata pelindung. 7. 8. 2. 4. Kenakan sarung tangan karet.

5%. lalu b ilas dengan sabun dan air mengalir.5%.5%. buang ke te mpat sampah medis. Rendam tangan mengenakan yang masih sarung tangan karet dalam larutan klorin 0. 9. 12. lalu re larutan klorin 0. 13. Lepaskan gaun pelindung. Lepaskan ndam dalam kacamata pelindung. buang ke tem pat sampah medis.5%. Lepaskan celemek plastik. Celupkan bagian luar sepatu pada lautan klorin 0. Lepaskan masker pelindung.5%. lalu bilas dengan air mengalir. 14. lalu lepaskan .memandikan jenazah dengan larutan klori n 0. rendam pada l arutan klorin 0. bilas sepatu dengan air bersih dan letakkan di tempat semula. 11. 10.

5. 4.5 Perawatan Jenazah di Sarana Kesehatan Perawatan jenazah di sarana kesehatan meliputi : a. buang lepaskan sarung tangan plastik ke tempat sampah medis. Perawatan/pengelolaan jenazah di kamar jena zah. Terakhir . b.15. 4. c.1 Perawatan awatan dan Jenazah di Ruang Per Pemindahan Jenazah ke Kamar Jenazah Persiapan: . Perawatan jenazah di ruang perawatan dan pemindahan jenazah ke kamar jenazah. Persiapan pemakaman/ke rumah duka.

h Gambar 1. kasa absorben dan pembalut Kantong jenazah kedap air Wadah bahan infeksius Wadah barang berharga Brankart jenazah . Perlengkapan Pemulasaran Jenasa 1. 3. 7. 4. 10. Gaun pelindung Kain bersih penutup jenazah Klem dan gunting Plester kedap air Kapas. 9. 5. Sarung tangan latex 2. 6. 8.

2. Memakai sarung tangan. 5. Tutup kelopak mata dengan kapas lembab. masker. Bekas luka diplester kedap air. gaun. Lepas selang infus dll. . 7. 6. Petugas Yang Sudah Menggunakan Gaun Peli ndung Prosedur : Petugas/orang yang menangani jenazah harus : 1. 8. 3. Letakkan handuk kecil di belakang kepala. tutup telinga dan mulut dengan kapas/kasa. Cuci tangan. buang pada wadah infeksius.Gambar 2. 4. Bersihkan jenazah. Lepaskan pakaian dan tampung pada w adah khusus lekatkan kasa pembalut pada perineum (b agian antara lubang dubur dan alat kelamin) dengan plest er kedap air Letakkan jenazah pada posisi terlentang.

11. Beritahu petugas kamar bahwa pasien mayat. 10. buang bahan yang sekali pakai p ada tempat khusus. Cuci tangan dan lepas gaun untuk di rendam pada tempatnya. Tutup jenazah dengan kain bersih disaksikan keluarga. Pasang label sesuai kategori di pergelangan kaki/ibu jari kaki. 12. Tempatkan jenazah ke dalam brankart tertutup dan dibawa ke kamar mayat. 14. meninggal adalah penderita penyakit menular. Masukkan jenazah ke dalam kantong jenaza h. Alat pelindung petugas: sarung tangan k aret sampai .9. Persiapan Pemulasaraan/ Perawatan Jenazah di Kamar Jenazah : 1. 13.

5%) dan sabun. Plester kedap air. 4. gaun. 2. Brankart jenazah. Siapkan larutan Klorin 0. waskom berisi air. Kantong jenazah/plastik. an tidak diperbolehkan memandik jenazah dengan dipangku. sisir. Lepaskan semua baju yang dikenakan jenazah. . Washlap. 3. (larutan klorin 0. Kenakan pakaian yang memenuhi standar kewaspadaan universal. desinfektan handuk. 2. celemek plastik dan masker.5%. Prosedur Pemulasaraan/Perawatan di Kamar Jen azah: 1. 3. sepatu boot dari karet. Tempat memandikan jenazah. Kacamata pelindung. 4. Pindahkan jenazah ke meja tempat memandikan jenazah. 6. 7. pewangi. kapas pembalut. 5.siku.

Bungkus jenazah dengan kain kafan atau p embungkus lain sesuai dengan agama/kepercayaannya. tubuh dan kaki. Mandikan jenazah dengan sabun dan air mengalir. kemudian tunggu hingga 1 0 menit. Bilas jenazah dengan air mengalir. 12. Keringkan jenazah dengan handuk. masukkan jenazah di ke dalam kantong plastik dengan ketebalan tert entu. 8. Siram seluruh tubuh jenazah dengan l arutan klorin 0.5% secara merata keseluruh tubuh mul ai dari selasela rambut. lubang telinga. 10. mulut. Sumbat semua jenazah yang lubang tubuh mengeluarkan cairan dengan kapas. Selesai ritual keagamaan. lubang hi dung. 6. 11. 9.5. Pindahkan jenazah langsung peti jenazah ke . 7.

disaksikan peti pihak keluarga. Pemulasaraan Jenazah di Luar Sarana K esehatan Tata cara perawatan jenazah de ngan HIV AIDS baiknya & di tetap luar sarana kesehatan se . 4. Jenazah enazah diangkut ke dalam mobil j untuk diantarkan ke rumah duka.5. Lepaskan perlengkapan kewaspadaan universal (sesuai protap pemakaian kewaspadaan uni versal). 13. Siram azah meja tempat memandikan jen dengan larutan klorin 0. kemudian ditutup kembali (peti jenazah disesuaikan dengan k emampuan dan adat istiadat masyarakat atau agama y ang dianut).5% dan bilas dengan air me ngalir. 15.2. 14.

2. Memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di lingkungan tempat dirawatnya jenazah. Hepatitis. Tujuan: 1. Prinsip: Pada prinsipnya sama dengan prosedur pemulasaraan jenazah di sarana kesehatan. Tuberculosis dan Kolera. misalnya: HIV & AIDS. BAB V PENUTUP . Mencegah risiko menular dari penularan penyakit jenazah.dilakukan oleh petugas kesehatan ataupu n kelompok masyarakat yang sudah dengan terlatih tetap memperhatikan faktor-faktor penularan penyakit yang mungkin ditularkan oleh jenazah.

and Treatment beserta (CST) KPA Provinsi Jawa Tengah Tim Penyusun dengan memperoleh pencermatan dari pakar serta masukan dari para stakeholder terkait dan pendukung terselesaikannya buku ini. t pada jenazah ODHA. Meskipun buku ini disusun melalui proses p anjang. Support.Tata Cara Pemulasaraan Jenazah ODHA y ang disusun dalam buku ini sebagai bentuk dukungan upaya pena nggulangan HIV & AIDS secara komprehensif dari Pokja Care. tidak menutup kritik dan saran demi kesempurnaan buku ini di waktu yang akan datang. LAMPIRAN I . Buku ini diharapkan d apat menjadi acuan masyarakat dan penyedia layanan dalam meningkatkan upaya erutama pencegahan penularan HIV & AIDS.

bungkus dengan kain tersebut dengan mengi kat keempat ujung-ujungnya. Tim Penyusun : .5% 1. Siapkan 25 liter air dalam bak besar. 2. 4. Letakkan kaporit di atas selembar kain berukura n 40x40 cm.PROSEDUR PEMBUATAN LARUTAN KLORIN 0. satu tempat untuk memandikan jenazah nnya dan satu tempat lai untuk dekontaminasi alat. Siapkan 175 gram kaporit 70% atau 200 gram kap orit 60%. remas remas untuk melarutkan hingga larut rata. Haluskan kaporit dengan pemukul. 6. Larutan klorin dibagi menjadi dua tempat. 3. Masukkan kaporit terbungkus kain tersebut dala m air. 7. Kenakan sarung tangan karet yang tebal. 5. Catatan : Kaporit sebagai bahan dasar pemb uatan larutan klorin ini dapat diperoleh di toko-toko kimia.

Biro Bina Sosial Setda Prov. SKM. Djoko Mardiyanto. KPTI 4. Jateng) 7. Jateng (Drs.PH) 6. SKM. Dr. Jateng (Ngestiono.Psi) Draft disiapkan oleh : Didik Swarsono.S. Jateng (Sigit Setya Boedi. M. dr. Kus Sularso) 9. Didik Suwarsono.PD. KPA Prov. Jateng) 8. SKM.Kes) 11. M. SKM. SH 3. SKM. Puji Lestari. Muchlis Akhsan U. Arif Rahman Sadat. MH. PKBI Jawa Tengah (Elizabeth. Tim HIV & AIDS RSUP Dr. Dinsos Prov. MH. Sp.Kes (BKPM Prov.1. MSc. SKM.Kes/ Koordinator Tim Monev KPA Prov. Dr. Pokja CST KPA Provinsi Jawa Tengah 10. Edi Purwanto.Kes & Ridha Citra Turyani. Kariadi Semarang 2. Dinkes Prov. PPO GF-ATM Prov.F. Jateng/ Ketua PKVHI Jawa Tengah) Pendukung : . Aji Prakoso/ Ko ordinator Tim Asistensi KPA Prov. S. Jateng (dr. Jateng (dr. M.Kes 5. Sp.

Kanwil Kemenkumham Provinsi Jateng 4. Pimpinan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semar ang 11. Pengelola Kamar Jenazah Wiloso Citarum RS Panti Semarang 16. Pengelola Kamar Jenazah RS Roemani Semarang 12. Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah 7. Kanwil Kementrian Agama Kota Semarang 3. Majelis Ulama Indonesia Cabang Semarang 8. Pengelola Kamar Jenazah RSUD Kota Semarang 15.1. Pengelola Kamar Jenazah RSUD Tugurejo Semar ang 14. Pengelola Kamar Jenazah RSUP Dr. Pengelola Kamar Jenazah RSI Sultan Agung Sem arang 13. Tim AIDS Lapas Wanita Kota Semarang 5. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Jawa Tengah 9. Tim AIDS Lapas Kedung Pane Semarang 6. Kariadi Sem arang . Kanwil Kementrian Agama Provinsi Jawa Tengah 2. Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Provinsi Jaw a Tengah 10.

F SH. 4. Standar Operasional Prosedur Pemulasaraan Jenazah ODHA. Dokumen Kegiatan Pelatihan Pemulasaraan Jenazah ODHA.DAFTAR PUSTAKA 1. 2010. RENSTRA KPA Provinsi Jawa Tengah. Didik Suwarsono. Kariadi Semarang. Forum Konselor dan Manajer Kasus HIV Semarang (FKMKS). Dr. . 2009. RS Dr. Arif Rahman Sadat Sp. Soetomo Surabaya. Kerangka Acuan Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Pada ODHA. 2010. 5. Standar Operasional Prosedur Pemulasaraan Jenazah ODHA.2009. 2009. Pelatihan Pemulasaraan Jenasah. 2. RS Dr. 3. 6.