You are on page 1of 13

PERANAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN

SOSIAL DALAM PROSES MENCERDASKAN
KEHIDUPAN BANGSA DAN MEMAJUKAN
KEBUDAYAAN NASIONAL MELALUI
DISELENGGARAKANNYA SATU SISTEM
PENDIDIKAN NASIONAL
19 Nov
Oleh,
Prof. DR. H. Soedijarto, MA

Pendahuluan

Kalau kita cermati tonggak-tonggak sejarah pergerakan nasional dari Kebangkitan Nasional,
Sumpah Pemuda sampai Proklamasi Kemerdekaan hakekatnya adalah upaya
membangun kebudayaan nasional Indonesia baru penghuni Nusantara yang sejak runtuhnya
Imperium Majapahit yang terbelah menjadi ratusan kerajaan sehingga dengan mudah
dikuasai oleh kekuasaan asing, bahkan hanya kekuatan organisasi perdagangan, para
pemimpin pergerakan nasional dan para pendiri republik dari Wahidin Sudiro Husodo
dan R.A. Kartini sampai Soekarno dan Hatta, yang menjadi cerdas karena “pendidikan
sekolah”, akhirnya menetapkan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan
kebudayaan nasional adalah tujuan utama perjuangan dan pembangunan bangsa. Dan untuk
mendukung proses mencerdaskan kehidupan bangsa yang dalam deklarasi kemerdekaan
(Pembukaan UUD 1945) ditetapkan sebagai salah satu misi penyelenggaraan Negara, para
pendiri repubik melalui pasal 31 UUD 1945 mewajibkan pemerintah untuk “mengusahakan
dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional” (sistem pendidikan nasional) serta
memajukan kebudayaan nasional (pasal 32 UUD 1945). Atas dasar pemahaman penulis
hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan kebudayaan (peradaban) nasional,
memilih pokok bahan tentang peranan pendidikan IPS dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa dan memajukan kebudayaan nasional, dan melestarikan kebudayaan nasional. Untuk
itu tulisan ini akan berturut-turut membahas (1) makna mencerdaskan kehidupan bangsa dan
memajukan kebudayaan nasional; (2) penyeleggaraan pendidikan nasional untuk memajukan
kebudayaan nasional; (3) sekolah satuan pendidikan sebagai pusat pembudayaan; (4)
kedudukan IPS dalam menunjang tercapainya mencerdaskan kehidupan bangsa dan
memajukan kebudayaan nasional; dan (5) catatan penutup.
I.
Makna Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Memajukan Kebudayaan
Nasional

melainkan umumnya pada tingkat pelaksanaan. adalah suatu transformasi budaya. Maknanya adalah membawa masyarakat bangsa Indonesia menuju masyarakat modern abad ke-20.235 orang siswa S M P (MULO). Dalam kaitan ini Bung Karno menyatakan bahwa kita menghadapi “A summing up of many revolution in one generation”. 4. dalam pandangan penulis. bahkan oleh para penyusun konsep sistem politik itu sendiri. Ini adalah akibat sedikitnya jumlah orang Indonesia yang dapat mengikuti pendidikan tinggi. dan hubungan politik internasional sepenuhnya dilandasi oleh peradaban yang dalam bahasa St. suatu tatanan penyelenggaraan negara yang belum pernah dialami oleh rakyat bangsa Indonesia. yang hakekatnya berakar dari budaya Helenik empat abad sebelum masehi dan berkembang pesat sejak Renaissance. 206 orang siswa gymnasium (lycea). dan yang menekankan hak-hak manusia dan sebagainya”[2] Dalam menghadapi dunia yang sepenuhnya dikuasai oleh kebudayaan modern. 552 orang siswa HBS. Dalam administrasi penyelenggaraan negara dan pengelolaan modal serta perdagangan. menurut pandangan penulis. Pada 1940 hanya ada 37 orang Indonesia yang lulus perguruan tinggi. dan Sjahrir tampaknya sadar bahwa perkembangan peradaban dunia yang dicapai pada pertengahan abad ke-20 adalah basil evolusi yang revolusioner sejak Renaissance di segala bidang kehidupan. Para pendiri Republik seperti Soekarno. dua orang ekonom bergelar doktor dan seorang fisikawan. dan itu pun kesempatan bagi orang Indonesia sangat terbatas. teknologi. Hatta. dengan UUD 1945 kita menganut sistem demokrasi dalam susunan negara yang berbentuk Republik. ekonomi.[4] pada 1949. menurut penulis. jumlah orang Indonesia yang mengikuti pendidikan yang sepenuhnya berlandaskan kebudayaan modern sangatlah terbatas. apalagi dalam dunia industri. ekonomi. Takdir Alisahbana sebagai “kebudayaan modern yang rasional. Revolusi dalam pandangan Bung Karno. Sementara itu universitas tertua telah berdiri pada abad ke-11 dan 12 (di Bologna dan Paris). empat tahun setelah merdeka. 8. teknologi. baru sebagian kecil anggota masyarakat Indonesia yang mengenal. sedangkan jumlah mahasiswa hanyalah 157 orang. Membawa masyarakat Indonesia menuju masyarakat modern. jumlah anak Indonesia yang masuk sekolah dasar yang sepenuhnya berorientasi pada kebudayaan modern hanyalah 93. yaitu dengan berdirinya Technische Hoogeschool.416 orang (HIS dan HCS). berdasarkan kemajuan ilmu. sedangkan pada tingkat sekolah menengah 922 orang siswa AMS. 150 dokter gigi. hanya sebagian kecil rakyat Indonesia yang terlibat. Indonesia baru memiliki 35 orang insinyur. Indonesia baru mengenal perguruan tinggi pada 1920. perdagangan dunia. itu pun bukan pada tingkatan manajer.Kalau kita simak kondisi masyarakat dunia setelah berakhirnya Perang Dunia ke II. Di dunia pertanian. bukan hanya perubahan radikal saja. teknologi. dan politik.200 dokter. sebagain rakyat bangsa Indonesia adalah petani tradisional Melihat perkembangan Indonesia pada saat proklamasi dan tatanan dunia yang dihadapi oleh Indonesia yang baru merdeka.[3] Di samping itu menurut catatan Bruce Glassburner. dan menghayatibudaya tersebut. melainkan perubahan radikal yang evolusioner. baik ilmu pengetahuan. Pada 1940. tampak betapa dunia. Pada periode sebelum pendudukan Jepang. 1. telah mendorong para pendiri Republik menempatkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan kemerdekaan kebangsaan Indonesia.034 ELS. baik di bidang politik. Bahkan lebih daripada itu. Di dunia politik. menguasai. Peradaban dunia modern telah disumbang oleh pemikir-pemikir seperti . Presiden Soekarno memandangnya sebagai suatu revolusi multidimensi.

Thomas Jefferson di bidang sosial budaya politik. dan rentan solidaritas dan ketahanan nasional. serta aspek sosial budaya dan lainnya. baik dalam karya nyata maupun pembahasan simbolisnya”. Maxwell. penulis menganut pemahaman kebudayaan sebagai “way of acting and ways of orienting” (Talcot Parson). belum mapannya sistem ekonomi nasional. yang hidup ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka. bukan karena belum diadakannya berbagai lembaga politik atau belum tersedianya infrastruktur politik seperti partai politik dan media pers. Yang terjadi sekarang ini bahkan adalah krisis multidimensi. II. Berangkat dari pemahaman ini. baik ilmu pengetahuan dan teknologi maupun kebudayaan.[6] atau dalam pengertin Mangunwijaya “kebudayaan sebagai seluruh totalitas aktivitas serta galaksi pengentalan seluruh ikhtiar manusia untukmenjawab tantangan kehidupannya. dan banyak pemikir dan penemu lainnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan menjunjung tinggi HAM. Iptek. demokratis. Dalam kaitan dengan memajukan kebudayaan nasional yang wahananya adalah pendidikan nasional.[7] Berangkat dari pemikiran ini penulis berpegang pada pengertian kebudayaan nasional sebagai keseluruhan cara memandang dan cara bertindak masyarakat bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan baik politik.John Lock. mengolahnya. dan sosial budaya. UUD 1945 Pasal 31 dan Pasal 32 menetapkan perlunya diselenggarakan satu sistem pengajaran nasional dan kewajiban pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Bahkan jika dirunut lebih jauh lagi. penulis memandang bahwa hal ini terjadi tidak lain karena pendidikan yang kita selenggarakan belum bermakna sebagai transformasi budaya menuju mantapnya kehidupan negara bangsa Indonesia. ekspresif/afektif. bisa sampai pada periode Plato atau Aristoteles. Sistem Pendidikan dan Upaya Memajukan Kebudayaan Nasional Tampaknya banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa sampai sekarang kita masih jauh dari berhasil dalam tugas mewujudkan suatu tata kehidupan negara bangsa Indonesia yang merdeka. tetap rendahnya produktivitas dan etos kerja nasional. dan memberi makna kepadanya. Karena itu. berke-Tuhan-an yang Maha Esa. penyegaran dirinya secara integral. berkeadilan sosial. ekonomi. dalam pengertian kebudayaan ini termasuk di dalamnya dimensi kognitif. menurut pandangan saya. Galileo. serta Adam Smith dan Marx di bidang ekonomi. Ken yataan yang kita hadapi adalah suatu proses transisi yang kurang jelas arah dan sasarannya. Belum mantapnya sistem politik. ekonomi. Issac Newton. Rousseau Montesque. Sebagai pelajar pendidikan dan pengamat perkembangan masyarakat negara. dan juga bukan karena belum adanya lembaga-lembaga ekonomi dan berbagai lembaga kebudayaan lainnya seperti lembaga riset dan kajian. baik di bidang politik. yang hidup ribuan tahun sebelum Indonesia merdeka. Hertz.[5] atau “culture as the total and distinctive way of life of a people or society”(Marshall Sahlin). penulis memandang demikian strategic kedudukan sistem pendidikan nasional dalam proses memajukan kebudayaan nasional sebagai fondasi perkembangan negara kebangsaan Indonesia. modern. belum adanya suatu pola budaya nasional yang andal. Sadar akan sifat perubahan secara radikal evolusioner itulah. dan normatif. Einstein. Copernikus. melainkan karena belum .

dan lembaga kebudayaan lainnya. mengidentifikasikan bahwa selama abad ke-20 terdapat 70 negara yang gagal melaksanakan sistem politik demokrasi. and this is harder to learn. Thus the image of democratic polity that is conveyed to the elites of the new nations is obscure and incomplete and heavily stressed on ideology and legal norms.M. Inggris. 2 Tahun 1989 tidak diupayakandalam proses pembelajaran maupun proses sosialisasi di lembaga-lembaga pendidikan. antara lain. interest group. men have argued that only in wealthy society in which relatively few citizens lived in the level of real poverty could there be a situation in which the mass of the population intelligently participate in politics and develop the self. Perancis. bukan masalah formalitas ideologi. S.nilai budaya politik demokrasi dalam suatu masyarakat bangsa. terlaksananya sistem politik demokrasi antara lain ditentukan oleh ada tidaknya “belief in democracy”.tertanamnya di dalam diri setiap warga negara nilai-nilai budaya modern. Tentang gagalnya sistem politik demokrasi.” Berdasarkan pemikiran para ahli tersebut penulis memandang bahwa belum mantapnya pelaksanaan politik demokrasi di Indonesia berakar pada belum membudayanya nilai-nilai budaya politik demokrasi dalam masyarakat Indonesia. Robert Dahl (1998). “weak cultural pluralism”. Mereka menyimpulkan bahwa masalah utama pelaksanaan sistem demokrasi politik adalah masalah sikap dan perasaan. Kesimpulan tersebut sesungguhnya telah ditemukan oleh Almond dan Verba (1966) dalam studi perbandingan berbagai lima negara demokrasi (Amerika Serikat. Lipset.[10] . Dalam kaitan ini penulis ingin menyajikan kesimpulan seorang ahli sosiologi politik terkemuka dari UC Berkeley. ekonomi. dan s i k ap ya n g d i p e rl u k a n b a gi k eh i d u p an d a l am Ne ga ra b angsa Indonesia yang modern. seperti tertuang dalam UU No. Whatmust be learned about democracy is a matter of attitude and feeling. Hal ini telah diteliti oleh para ilmuwan politik. sosiologi.restraint necessary to avoid succumbing to the appeals of irresponsible demagogues. Almond dan Verba mengemukakan:[9] “The complex infrastructure of the democratic polity-political parties. yang intinya adalah masalah adanya budaya politik yang serasi dengan politik yang dianutnya. Ini terjadi.[8] seorang ilmuwan politik. dan antropologi. Mantapnya kehidupan politik maupun ekonomi suatu bangsa ditentukan bukan semata-mata oleh ada tidaknya lembaga-lembaga politik. A society divided between a large improvised mass and a small favored elite result either in oligarchy (dictatorial rule of small upper stratum). Jerman. 20 Tahun 2003 yang menetapkan satuan pendidikan sebagai pusat pembudayaan. and social psychological preconditions are only now being realized in the West. melainkan oleh tingkat terinternalisasinya nilai. dan Italia). yang menyampaikan kesimpulannya dalam kalimat berikut: “From Aristotle down to the present. Di samping itu perlu disadari bahwa instabilitas politik demokrasi di Indonesia juga dipengaruhi oleh masih belum majunya perkembangan ekonomi Indonesia. lembaga-lembaga ekonomi. baik sekolah maupun luar sekolah. nilai. maupun UU No. Menurut dia. serta adanya “modern society and economy”. karena berbagai ketentuan pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan. or tyranny (popular based dictatorial). and the media of communication-and the understanding of their inner working operating norms.

special apparatus (of which text are important part). a curriculum. Perancis. these world views tend to become more secular. seorang antropolog: “By a school I mean an institution devoted to instruction. vokasionalisasi. Koentjaraningrat pada 1969 telah menyadarkan kita akan hal tersebut dalam karyanya Hambatan Mental Pembangunan. muncul bersamaan dengan proses industrialisasi yang mengakibatkan terjadinya urbanisasi. and open to change. orangtua tidak memiliki waktu untuk mendidik anakanaknya. For reasons discussed earlier. nilai. we refer to a sistem of common basic values that help shape the behavior of the people in a given society. the culture of virtually all preindustrial societies are hostile to social mobility and individual economic accumulation. berbagai studi menyimpulkan adanya pengaruh kebudayaan terhadap keberhasilan pembangunan ekonomi. Britania Raya. this value sistem takes form of religion and change very slowly. melainkan school education: “the entire school education is under the supervision of the state (Pasal 7 UUD Jerman). Untuk keperluan itulah sekolah didirikan. Jerman. seperti yang disajikan oleh Ronald Inglehart dalam Modernization and Post Modernization. Karena itu penulis tambah yakin betapa strategisnya pendidikan yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan menumbuhkan nilai dan sikap yang serasi dengan tuntutan pembangunan dan kehidupan negara bangsa Indonesia yang modern. membatasi pengertian sistem pendidikan pada sistem persekolahan. serta mendorong orangtua meninggalkan anak untuk bekerja. Untuk itu mereka sejak awal pembangunan bangsa telah mengalokasikan sekurangkurangnya 5 persen dari GDP untuk pendidikan. but with industrialization and accompanying processes of modernization.Dalam pada itu. In most preindustrial societies.”[12] Karena itu penulis akan menganalisis mengapa sekolah merupakan lembaga pendidikan yang paling strategis untuk membudayakan berbagai kemampuan.[13] . yang termasuk pemegang moto “to build nation build schools”. with specialized personnel. 1. Akibatnya.” Prof. yang kemudian menjadi negara maju seperti AS. and rationally defined manifest objectives”. Karena itulah diperlukan suatu lembaga pendidikan yang khusus menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tuntutan baru masyarakat modern. Cohen. Inglehart menyampaikan pengertiannya tentang kebudayaan yang mempengaruhi pembangunan ekonomi:[11] “By culture. adalah negara-negara yang telah mendudukkan pendidikan sebagai bagian terpadu dari pembangunan bangsanya. Bahkan UUD Jerman tidak menyebut sistem pendidikan. sebagai lembaga sosial. Sekolah/Satuan Pendidikan Sebagai Pusat Pembudayaan Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat massal. permanent physical structure. formal and stereotyped means of instruction. III. Negara-negara yang penulis sebut di atas. dan Jepang. dan sikap. Dalam bukunya ini. Sejarah dunia juga membuktikan bahwa negaranegara kebangsaan di dunia. Sekolah yang dimaksud di sini adalah seperti yang dianut oleh Yehudi A. Sosiolog seperti Talcot Parson dan Alex Inkeles pun ikut menyoroti peranan pendidikan dalam pembangunan bangsa AS. spesialisasi.

buku pelajaran sangat terbatas. Sedangkan dalam hal tujuan yang harus dicapai. Dalam hal metode pembelajaran. serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. yang secara formal telah memenuhi syarat. Dalam hal sumber belajar. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. perangkat kurikulum.” Dan pendidikan menengah. dan tujuan-tujuan pendidikan yang harus dicapai. sukar diharapkan bahwa fungsinya yang strategis dapat . Kurikulum sangat sarat materi yang tidak mengutamakan yang esensial. dan Jerman? Jawabannya: pertama. sukar untuk dapat mendukung tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan nasional. berilmu. setiap elemen sekolah yang disebut kondisinya jauh dari standar.sekolah kita tetap dalam kondisi demikian. metode pembelajaran. sehat. Karena itu ukuran keberhasilan seorang lulusan menggunakan Ebtanas atau UAN. antara yang seharusnya dan dalam praktik jaraknya demikian jauh. laboratorium baik IPA maupun bahasa umumnya tidak ada atau tidak difungsikan. Dengan kata lain. kreatif. nilai. yaitu adanya tenaga khusus (guru). dalam Pasal 15 Ayat (1). Jaminan kesejahteraan seorang guru agar dapat berkonsentrasi melakukan fungsinya sebagai pengajar dan pendidik belum sepenuhnya memadai.” Apalagi jika kita membaca ketentuan pasal 3 UU No. cakap. gedung permanen. 20 Tahun 2003 yang tertulis “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. fungsional. dan relevan. Dari kajian di atas jelaslah betapa sekolah yang kedudukannya sangat strategis sampai sekarang belum dapat berfungsi secara optimal untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berbunyi: “Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial. dalam kenyataan belum mampu melaksanakan fungsinya seperti yang terjadi di AS. mandiri. Bandingkan tujuan pendidikan dasar seperti yang tercantum dalam Pasal 13 Ayat (1) yang berbunyi: “Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk dapat hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. Namun mengapa lembaga pendidikan sekolah kita. Dalam hal fasilitas gedung sekolah. kebun botani tidak ada. semuanya hanya terbatas pada dimensi tertentu dari ranah kognitif. kalau sekolah.Sesungguhnya secara formal sekolah-sekolah kita telah memenuhi syarat seperti yang dimaksudkan oleh Cohen. Inggris. perlengkapan belajar. dan sikap yang dituntut oleh masyarakat Indonesia yang sedang membangun kehidupan negara bangsa modern. berakhlak mulia. pada umumnya gedung sekolah kita hanya berupa ruang kelas tanpa halaman. budaya dan alam sekitar. serta tanpa ruang kerja guru. kondisinya sangat tradisonal karena tidak ada penunjang. tanpa ruang perpustakaan. tanpa lapangan olahraga.

Padahal UU No.terlaksana. dan mengingat dengan diakhiri ulangan/ujian dalam bentuk pilihan ganda. ekonomi.”‘ Dari kalimat itu jelas bahwa kalau hanya menghafal konsep peserta didik tidak akan meningkat keingintahuannya. yang secara keseluruhan adalan nilai budaya. Ini berarti bahwa setiap mata pelajaran/mata kuliah berperan sebagai wahana untuk membudayakan kemampuan nilai. Knowledge of methods makes it possible for a person to continue learning and undertake inquiries on his own. Peranan Pendidikan IPS dalam Menunjang Proses Memajukan Kebudayaan Nasional Seperti telah disinggung pada bagian terdahulu bahwa salah satu misi penyelenggaraan pemeerintahan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa suatu misi yang menurut penulis bermakna proses transformasi budaya dari budaya tradisional menjadi budaya modern baik politik. yang menjadi peranan adalah model pembelajaran seperti yang dapat bermakna proses pembudayaan? Jelas bukan model pembelajaran yang hanya mendengar. dan dari feodal ke demokratik. 20 Tahun 2003 telah menetapkan 8 standar dan PP 19 Tahun 2005 telah menetapkan standar tersebut tetapi sampai tahun 2012 mayoritas sekolah kita belum cukup memenuhi standar yang ditetapkan. . dan IPTEK. budaya ekonomi dan budaya IPTEK. learning to be[15]. dan sikap. Dalam hubungan ini Philip Phenix menyatakan dalam kalimat berikut: “It is more important for the student to become skillful in the ways of knowing than to learn about any particular product of investigation.dan bukan langsung menghafal teori. Karena itu. learning to do learning to live together. dan eksperimen untuk sampai kepada kesimpulan. IV. Kelima elemen sekolah yang ideal pun tidak dengan sendirinya dapat bermakna tanpa dirancang suatu strategi pembelajaran yang relevan dengan tujuan dan fungsi pendidikan sekolah. Untuk itu memasuki abad ke-21. seperti digariskan dalam UU No. dan bukan hanya meneperoleh pengetahuan dalam bahasa Israel Scheffer pilar ini hakekatnya terkait dengan relevansi epistemologi suatu metode pembelajaran yang memungkinkan peserta didik terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji dalam lengkap Israel Scheffer seperti dikutip dibawah ini. Perlu diketahui IPS adalah wilayah ilmu empiris[14]. Dalam kaitan ini jelaslah bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang meliputi Sosiologi. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional sekolah ditetapkan sebagai pusat pembudayaan. Dan untuk dapat terlaksananya proses transformasi budaya tersebut pendiri republik menetapkan kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional dan memajukan kebudayaan nasional. disamping nilai-nilai moral. Karena itu sebagai obyek belajar peserta didik perlu menghayati proses sampai suatu konsep atau teori ditemukan . Politik. UNESCO merekomendasikan ditetapkannya empat pilar belajar learning to know. satuan wilayah ilmu yang teori concept dan generalisasinya didasarkan atas observasi . mencatat. Proses pembelajaran learning to know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik/mahasiswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan. Pertanyaan yang selanjutnya yang akan diulas adalah bagaimana melaksanakan pendidikan IPS yang dapat mendukung proses memajukan kebudayaan nasional? bagian berikut akan berusaha menganalisisnya. Antropologi. 1. Ekonomi. dan Sejarah harus berperan memajukan kebudayaan yang meliputi budaya politik demokrasi.

”[17] Sengaja penulis mengutip pandangan Scheffler demikian panjang karena dari sudut pandang pendidikan tinggi. Ini berarti pula bahwa untuk melahirkan generasi baru yang intelligent dalam bekerja. Habits of practical diagnosis. ada baiknya penulis kutipkan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis: “Thought according to widely prevalent doctrine is problem oriented.”[16] Selanjutnya dia menguraikan pengkajian dalam kalimat berikut: “Theoretical inquiry. Dalam kaitan ini dia menyatakan: Proses pembelajaran pilar kedua learning to dobagaimana dengan pilar kedua learning to dolKalau pilar pertama. Students should be encouraged to employ the information and technique of disciplines in analysis. pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi sangatlah diperlukan. Dengan kata lain. yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. karena bagi mereka mode of inquiry disiplin ilmu adalah bentuk yang paling tertinggi dari berpikir. contrary to recent emphases. not immersion in the phenomenal and conceptual given. conflict. critique and execution upon responsible inquiry need the supplement theoretical attitude and disciplinary proficiencies in the training of the young. menyiapkan anggota masyarakat memasuki dunia kerja yang dalam technology knowledge based economy. monitoring. Scheffler memandang pentingnya pilar learning to know untuk berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan. bekerjasama dengan orang lain. independently pursued has the most powerful potential for the analysis and transformation of practice. organizing. sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tercapai keseimbangan dalam penguasaan Iptek di antara negara-negara di dunia. It requires not contact but criticism. Dalam kaitan ini. human energy is released into overt channel set by habit and custom. maintaining. reordering. Seperti halnya Phenix.pekerjaan seperti controlling. pandangannya tentang relevansi pendidikan sangat terkait dengan learning to know pada tingkat pendidikan tinggi. exhausted in a concern for inquiry within the structure of several disciplines. The blocking of conduct either through . ‘An education that fosters criticism and conceptual flexibility transcends its environment and by erecting a mythical substitue for this world but rather striving for a systematic and penetrating comprehension of it. belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas pada penguasaan keterampilan yang mekanistis. sasaran pilar kedua adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. and expanding the given. Dalam kaitan dengan learning to do perlu dikaitkan dengan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis maupun doktrin Whitehead tentang hakikat pendidikan sebagai upaya penguasaan seni menggunakan pengetahuan. designing. melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi. The functions is to overcome obstacles to the smooth flow of human activities. Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan keterampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan. It originates in doubt. and difficulty. The bearing of inquiry upon practice is moreover of the greatest educational interest. Such interest is not.Epistemological relevance in short requires us to reject both myth and mystic union. criticism. When action is coherent and well adapted to its circumstances. and alteration of their practical outlook. learning to know. but the flexibility of mind capable of transcending. serta mengelola dan mengatasi konflik.

Kegiatan camping yang berlangsung mingguan dengan sasaran bersama yang harus dicapai oleh seluruh peserta merupakan salah satu model gperlu ditempuhl Model sekolah berasrama dan kampus.internal conflict on environment hidrance. tends to give priority to the competitive spirit and individual success. and exacerbating historic rivalries. turns its energy inward. dan tenggang rasa. Proses pembelajaran pilar ketiga learning to live togetherkemajuan di bidang Iptek dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antaramanusia. Such competition now amounts to ruthless economic warfare and to a tension between rich and poor that is dividing nations and the world. serta bebas dari prasangka. antar-agama dan antar-si kaya dan si miskin. Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk pada saat yang sama memberi peserta didik pengetahuan dan kesadaran bahwa hakikat manusia adalah beragam. dan antarnegara. Bangsa kita sendiri memiliki landasan Pancasila yang hakikatnya adalah membangun negara kebangsaan yang demokratis. within and above all between nations. Suatu prinsip yang memerlukan suasana belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai toleransi saling bergantung. . pengertian. since people very naturally tend overvalue their own qualities and those of their group and to harbour prejudices against others. prinsip relevansi sosial dan moral yang disarankan oleh Israel Scheffler sangat memadai. dan tanpa prasangka. namun dalam keragaman itu terdapat persamaan. dan menggalang persatuan dan persaudaraan bukan hanya antarwarga bangsa. mengandung makna atau berimplikasi tentang perlunya pendidikan profesional yang bermuara pada paradigma pemecahan masalah. “It is difficult task. melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi. toleransi dan saling pengertian. berbagai deklarasi telah dijadikan dasar penyelesaian r konflik. yang memungkinkan seorang mahasiswa mengintegrasikan pemahanan konsep serta penguasaan keterampilan teknis dan intelektual guna memecahkan masalah dan dapat berlanjut pada inovasi dan improvisasi. Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. ber-Ketuhanan yang Maha Esa.”[19] Latar belakang kenyataan dalam masyarakat yang digambarkan oleh komisi di atas menuntut pendidikan tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai Iptek dan kemampuan bekerj a serta memecahkan masalah. Furthermore. Komisi Internasional untuk Pendidikan Abad ke-21 mengakui sulitnya menciptakan kerukunan. melainkan dengan seluruh umat manusia seperti dinyatakan dalam kalimat “ketertiban dunia yang didasarkan kemerdekaan. yaitu terjadinya konflik antarmanusia yang didasarkan pada prasangka. yang merupakan kawasan tersendiri. Padahal sejak berakhirnya Perang Dunia II. kerjasama.”[18] Dalam kaitan ini. baik antarras. the general climate of competition that is at present characteristic of economic activity. keadilan sosial dan perdamaian abadi”. merupakan pendekatan yang ditempuh Inggris dan AS dalam membangun bangsa yang bersatu. berkeadilan sosial. seperti Deklarasi HAM dan Piagam PBB. pada tingkat pendidikan tinggi. Dalam hubungan ini. Pendidikan untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antarmanusia dan saling ketergantungan tidak dapat ditempuh lewat pendidikan dengan pendekatan tradisional. Kiranya bangsa Indonesia perlu belajar dari negara lain. transforming its into thought. Yang terjadi akhir-akhir ini bahkan sebaliknya. antarsuku.

V. terus menerus. dan obyektif. Pelaksanakan empat pilar belajar tersebut tidak akan bermakna tanpa didukung oleh sistem evaluasi yang komprehensif terus menerus dan obyektif. atau dalam kamus psikologi disebut memiliki emotional intelligence. Bahwa IPS sebagai mata pelajaran/mata kuliah dalam satuan pendidikan (sekolah IPS) harus dirancang untuk menjadi wahana proses pembudayaan. Bahan pelajaran harus diambil dari discplined of inquiry. dan toleran terhadap perbedaan. Bahan pelajaran mengutamakan mode of inquiry. Bahwa makna mencerdaskan kehidupan bangsa adalah melakukan transformasi budaya dari tradisional ke modern. Beberapa Catatan Penutup Dari serangkaian ulasan terdahulu dapatlah ditarik beberapa catatan berikut: 1. yangdapat mengendalikan dirinya. . Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya. Untuk itu disarankan pokok materi yang dipilih haruslah memenuhi kriteria berikut: 1. 5. 2. yang dalam bahasa UU No.Proses pembelajaran pilar keempat learning to be Tiga pilar pertama ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu mencari informasi dan/atau menemukan ilmu pengetahuan dan mampu memecahkan masalah. 4. 4. Bila model pembelajaran IPS menempuh empat pilar belajar tersebut muatan kurikulum haruslah selektif. Bahwa sekolah dirancang untuk menjadi wahana atau pusat pembudayaan yaitu membudayakan kemampuan nilai dan sikap. Bahwa pendidikan nasional dirancang diselenggarakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. yang mengenal dirinya. Inilah kurang lebih makna learning to be. 3. Demikian pokok pikiran yang penulis ajukan untuk menjadi bahan diskusi. dan dari feodal ke demokratis. yaitu menjadi muara akhir tiga pilar belajar. Bahan pelajaran harus dapat mendorong peserta didik berfikir imajinatif. 2. bertenggang rasa. 2 Tahun 1989 adalah manusia yang berkepribadian mantap dan mandiri. 3. Bahwa agar IPS dan PAT secara relevan dan efektif dapat menjadi wahana pembudayaan perlu diterapkan model pembelajaran yang menetapkan empat pilar belajar dan sistem evaluasi yang komprehensif. yang konsisten dan yang memiliki rasa empati (tepo seliro). mampu bekerjasama. Bahan pelajaran harus diambil dari konsep-konsep utama suatu disiplin. 1. Manusia utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual.

H. Dr.Jakarta. “Sejarah Kebudayaan Indonesia Masuk Globalisasi Umat Manusia”. Lima Puluh Tahun Perkembangan Pendidikan Indonesia. Negeri Jakarta. 1996. Diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPS Univ. 1 Th. MA Guru Besar UNJ Ketua Dewan Direktur CINAPS Ketua Dewan Pakar PPA GMNI Ketua Dewan Pembina ISPI Anggauta Dewan Pembina PB PGRI Anggauta Forum Konstitusi Wakil Ketua Yayasan Indonesia – Jerman Ketua Dewan Pakar PPA GMNI [1] Disajikan dalam Seminar “Pendidikan IPS untuk Melestarikan Budaya Bangsa”. hIm. makalah Kongres Kebudayaan 1991. . dalam Majalah Kebudayaan No. Takdir Alisahbana. Jakarta 20 Oktober 2012 [2] St. 1991 Vol. Oktober 2012 Penulis Prof. 13. Soedijarto. 63-68. [3] Wardiman Djojonegoro.

Economic and Political Change in 43 [12] Lihat Parson. Toward a General Theory of Action. Paris. Double Day Co. No. Harper Thorcbook. Myers. [6] “Our Creative Diversity: Report of the Commision on Culture”.M. dalam F. Modernization and Post Moderenization: Cultural. 1/02. 21. 1963. 31. [11] Ronald Inglehart. [8] Robert Dahl. 1998.[4] Bruce Olassburner.. dalam SENI. Th. “Menghadapi Fase Budaya Pasca Nasional”. “High Level of Manpower for Economic Development: The Indonesian Experience”. 1. Unesco. 1962. On Democracy. 1965. Anchor Books. Mc. 1994. Mangunwijaya.Yale University Press. hlm. Political Man: The Social Bases of Politics.B. New York. Graw Hill Book Co. Almond dan Sydney Verba. Harbison & CH. Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni. [9] Gabriel A. him. 1991. hlm. [5] Tarlcot Parson. Manpower and Education.. Civic Culture: Political Attitude and Democracy [10] S. New Haven. New York. “School class as a social sistem . [7] Y. Theoretical for Social Science. Lipset.

“School and Civilization States”. hlm. op. [18] Israel Schaffer. [14] Philip Phenix. 112.92. cit. University of Illionis Press. Learning : The Treasure Within [16] israel Scheffer. Curriculum: Readings in the Philosophy of Education. hlm. 1971. Realms of Meaning : A Philosophy of curriculum for General Education [15] Jacque Delors. Urbana. hlm 117. [17] Ibid. [19] Jacque Delors et. dalam Joseph Fischer. al. Cohen. dalam Martin Levit. The Social Science and the Comparative Study of Education Sistem.[13] Y. 112. ibid.A. . ed. “Reflection on Educational Relevance”. hlm.