You are on page 1of 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pengobatan tradisional telah banyak digunakan sebagai pengobatan
alternatif. Sejak zaman dahulu penggunaan suatu sediaan obat yang berasal dari
tanaman obat tradisional hanya dalam bentuk sediaan yang dibuat secara
sederhana dan penggunaan yang sederhana pula sehingga kurang disukai.
Misalnya obat tradisional yang mempunyai khasiat untuk pengobatan hanya
digunakan dalam bentuk rebusan dari bagian tanaman (daun, akar, batang, buah,
biji, dan lain-lain) sehingga kurang praktis. Oleh karena itu perlu adanya
pengolahan suatu tanaman obat menjadi bentuk sediaan yang mudah digunakan
sehingga ini akan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap penggunaan
obat yang berasal dari alam, sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat (Goreti, 2000).
Obat herbal atau obat tradisional untuk pemeliharaan kesehatan
masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit juga direkomendasikan oleh
WHO karena secara umum dinilai lebih aman dari penggunaan obat modern atau
kimiawi. Obat herbal memiliki efek samping lebih sedikit dibanding obat
modern. Tidak heran jika obat herbal sampai saat ini masih disukai karena
terbukti mampu memberikan 2 hasil yang memuaskan untuk pasien. Untuk itu,
WHO mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari
obat tradisional (Anderson, 2004).
Salah satu tanaman yang selama ini digunakan sebagai bahan ramuan
obat tradisional adalah tanaman mengkudu (Morinda citrifolia L). Setiap bagian
dari tanaman mengkudu ini dapat digunakan untuk mengobati jenis penyakit,
antara lain sebagai obat pegal linu, sakit perut, sakit pinggang karena masuk
angin, badan sakit sehabis melahirkan, kencing manis, tekanan darah tinggi.
1

Buahnya untuk mengobati batuk, batuk rejan, radang amandel, diuretik, sakit
liver, sariawan, luka terpukul, eksim, tekanan darah tinggi, cacar air, beri-beri,
kencing manis, tekanan darah tinggi, sembelit, kulit kasar dan ketombe. Akarnya
digunakan untuk disentri, eksim dan luka terpukul. Kulit batang untuk demam
malaria, disentri, luka dan eksim (Goreti, 2000).
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak berbentuk rata
atau cembung rangkap, umumnya bulat, mengandung satu jenis obat atau tanpa
zat tambahan (Anief, 2002: 92). Dalam proses pembuatan tablet diperlukan
beberapa zat tambahan untuk membantu agar tablet yang diperlukan sesuai
dengan apa yang diinginkan.
Bahan tambahan Avicel PH 101 dan Amprotab digunakan dalam
penelitian ini karena Avicel PH 101 dapat digunakan sebagai bahan pengisi.
Kelebihan dari Avicel PH 101 adalah memiliki kompresibilitas baik, dapat
meningkatkan atau mempercepat waktu hancur tablet, sifat alir baik,
menghasilkan tablet yang cukup keras dengan sedikit pengempaan. Kekurangan
dari Avicel PH101 adalah harga cukup mahal bila digunakan sebagai pengisi
dengan kadar tinggi oleh karena itu sering dikombinasikan dengan zat lain, serta
tidak larut dalam air. Amprotab digunakan sebagai bahan pengering. Kelebihan
dari Amprotab adalah harganya murah. Sedangkan kekurangannya adalah akan
menurunkan kompresibilitas bila konsentrasinya besar, sifat alir jelek (Sulaiman,
2007: 100).
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh variasi Avicel PH 101 sebagai bahan pengisi dan
Amprotab sebagai bahan penghancur terhadap sifat fisik tablet kombinasi
ekstrak buah mengkudu ?
2. Bagaimana komposisi Avicel PH 101 dan Amprotab yang optimum
dalam tablet kombinasi ekstrak buah mengkudu ?
C. Tujuan Penelitian
2

2. 3 . Manfaat Penelitian Agar masyarakat dapat mengetahui khasiat dari penggunaan bahan alam pada buah mengkudu sebagai obat dan diharapkan formulasi dalam bentuk sediaan tablet ini dapat diterima. Mengetahui komposisi Avicel PH 101 dan Amprotab yang optimum dalam tablet kombinasi ekstrak buah mengkudu.1. Mengetahui pengaruh variasi Avicel PH 101 sebagai bahan pengisi dan Amprotab sebagai bahan penghancur terhadap sifat fisik tablet kombinasi ekstrak buah mengkudu. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai obat yang diformulasikan dari bahan alam sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang farmasi dan umumnya dalam bidang kesehatan dapat dikembangkan. D. E.

2002:3) Gambar 1. Kingdom : Plantae Superdivisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (Dikotil) Subkelas : Asteridae Famili : Rubiaceae Genus : Morinda Spesies : Morinda citrifolia L. dan kegunaan tanaman yang digunakan dalam penelitian.) 1.). morfologi buah. Mengkudu (Morinda citrifolia L. Tanaman Mengkudu (Morinda citrifolia L. (Waha.) 3.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Nama Daerah 4 . Klasifikasi Tumbuhan tropis dikenal berkhasiat untuk pengobatan. kandungan kimia. penyebaran tanaman. yaitu mengkudu (Morinda citrifolia L. Sebagai salah satu negara tropis. Tinjauan Botani Tinjauan botani meliputi klasifikasi. Indonesia memiliki kekayaan berupa keanekaragaman tumbuhan yang bermanfaat untuk kesehatan. nama daerah. 2.

neteu (Mentawai). seperti pace. makudu (Nias).4. kemudu. Penyebaran Tanaman 5 . Buah matang berwarna putih transparan dan bertekstur lunak. bangkudu. Di Hawaii mengkudu ini lebih dikenal dengan sebutan noni.) 7. mengkudu lebih dikenal dengan nama lokal. Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L. keumud (Aceh). bengkudu. 2002:7). Bangsa barat menjuluki Morinda citrifolia ini dengan istilah queen of the morinda. bengkudu (Melayu). 2002:4). cangkudu (Sunda). di Tahiti nonu atau nono. Gambar 2. Bijinya banyak dan kecilkecil terdapat dalam daging buah. 5. rewonang (Kalimantan) (Tadjoedin dan Iswanto. 2002:4). kondhuk (Madura). Di Indonesia. mengkudu (Jawa). Buah berwarna hijau mengkilat dan berwujud buah buni berbentuk eklips dengan variasi trotol-trotol. pamarai (Sumatera). Permukaan buahnya seperti terbagi ke dalam sel-sel poligonal yang berbintik-bintik dan berkutil (Haryanto. Daging buahnya mulai mengandung banyak air dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (Waha. bentis. Buah yang masih muda berwana hijau.. semakin tua warnanya berubah menjadi kuning. Morfologi Buah 6. wungkudu. tibah (Bali). 2009:329. dan Waha..

pelembut kulit. Buah mengkudu digunakan untuk menghilangkan hawa lembab pada tubuh. dan pada umumnya belum dibudidayakan secara intensif (Aini. tanaman mengkudu tumbuh subur disemua wilayah. Hawaii. kencing manis. Istilah maseration berasal dari bahasa 6 . pembersih darah. 11. Kegunaan 12. antiseptik. dapat mengobati tekanan darah tinggi. pembasmi cacing (antelmintik). asperulosida. hidup secara liar. peluruh haid. Tanaman mengkudu berasal dari daratan Asia Tenggara. 14-asam eksatrinoat. 2011:6). 1-butanol. asam butanoat. peluruh kencing (diuretik). antrakuinon. etil benzen. Australia dan negara-negara beriklim tropis termasuk kepulauan Polonesia. kemudian menyebar ke beberapa negara lain. dan sakit jantung (Aini.8. Afrika. etil oktanoat. 2002:19). xeronin. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi bahan baku yang ditetapkan (Dirjen POM. Salah satu metode ekstraksi adalah maserasi. asam elaidat. Florida. meningkatkan kekuatan tulang. protein. 2011:6). etil dekanoat. anti radang. pereda batuk (antitusif). 13. etil heksanoat. 9. pencahar. 1995:7). Kandungan Kimia 10. Ekstrak Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang Asesuai. proxeronine. Cina. asam benzoat. Maserasi merupakan cara eksrtraksi yang sederhana. scolopetin. glukosa. Buah mengkudu mengandung alkaloid terpenoid. Kuba. asam kaprilat. Fiji. asam dekanoat. eugenol. Filipina. dan damnacanthal (zat anti kanker) (Waha. asam asetat. Di Indonesia. diantaranya India.

etanol dapat 7 . ampas diperas. Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan penyari adalah air. sambil berulang-ulang diaduk. 1989). terlindung dari cahaya. Pada ampas ditambah cairan penyari secukupnya. melarut (Ansel. 1989). Maserasi biasanya dilakukan pada temperatur 15o-20o C dalam waktu selama 3 hari sampai bahan-bahan yang larut . ditutup dan dibiarkan selama 5 hari. kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas. Larutan yang konentrasinya tinggi akan terdeak keluar dan diganti oleh pelarut dengan konsentrasi redah (proses difusi). pelaut akan masuk kedalam sel tanaman melewati dididing sel. netral. Jadi masserasi dapat diartikan sebagai proses dimana obat yang sudah halus dapat memungkinkan untuk direndam dalam mesntrum sampai meresap dan melunakan susunan sel. etanol-air atau eter. Prinsip maserasi adalah ekstraksi zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada temperature kamar terlindung dari cahaya.laitin macere. Pada umumnya maserasi dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan derajat kehalusan yang cocok. yang artiya merendam jadi. 1989). Peristiwa tersebut akan berulang sampai terjadi keseimbangan antara larutan didalam sel dan larutan diluar sel (Ansel. sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut (ansel. diaduk dan diserkai sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup dan dibiarkan ditempat sejuk. Etanol dipertimbangkan seba gai penyari karena lebih selektif. terlindung dari cahaya. dimasukan kedalam bejan kemudian dituangi dangan 75 bagian cairan penyari. Setelah 5 hari diserkai. etanol. absorbsinya baik. selama 2 hari kemudian endapan dipisahkan. tidak beracun. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didala sel dengan diluar sel.

bentuk. dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet 1. tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah. Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran. antara lain mudah digunakan oleh pasien. Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang mempunyai beberapa keuntungan. 1995:4). Keuntungan dan Kerugian Tablet 3. dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan. Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. 2. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Berdasarkan metode pembuatan. Maserator B. 8 . Definisi tablet Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Gambar 3.bercampur dengan air pada segala perbandingan dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit. Kepadatan tablet bergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan (Depkes RI.

dkk. bahan pengisi (diluen). harganya harus cukup murah. harus stabil secara fisik dan kimia baik dalam kombinasi dengan berbagai obat atau komponen tablet lain. Bahan Pengikat (Binder) 7.tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan khusus seperti pelepasan di usus atau produk lepas lambat. 4. 5. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. zat Warna. kalium fosfat dibase. Bahan Pengisi (Diluen) Berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. zat aktif yang kurang larut dalam air sulit diformulasi atau memberikan ketersediaan hayati yang rendah (Lachman. dkk. secara fisiologis harus inert/netral. Bahan pengikat berfungsi memberi daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi. Bahan pengikat ditambahkan dalam bentuk kering atau cairan 9 . Bahan pengisi harus memenuhi beberapa kriteria yaitu harus non-toksik. bahan pengikat (binder). Perasa Dan Pemanis. dan Lachman. tidak boleh mengganggu bioavailabilitas obat. bahan pelican (lubrikan). tidak boleh saling berkontraindikasi. bahan penghancur (disintegran). pati. tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling kompak. tidak boleh menggangu warna.. Misalnya laktosa. 6. 1986:698).. tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menelan tablet atau kondisi yang tidak sadar. Komponen Tablet Komponen atau formulasi tablet kempa terdiri atas zat aktif. dan selulosa mikrokristal (Syamsuni. harus tersedia dalam jumlah yang cukup. 1986:645 – 646). 2006:172. Disamping itu tablet mempunyai beberapa kerugian. antara lain beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak tergantung pada keadaan amorfnya.

Zat warna Perasa dan Pemanis 13. dkk. 10. (Syamsuni. 2006:172. Fragmen-fragmen tablet itu sangat mungkin menentukan kelarutan selanjutnya dari obat dan tercapainya bioavailabilitas yang diharapkan. 1986:702). 1986:703). sehingga dapat menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet.. CMC Na. amprotab. minyak nabati terhidrogenasi. Bahan pewarna berfungsi untuk menutupi obat yang kurang baik. Misalnya gom akasia. asam stearat. pati dan selulosa yang dimodifikasi secara kimia. identifikasi hasil produksi dan membuat suatu produk menjadi lebih 10 . dan Lachman. Bahan pelicin dapat berfungsi untuk mengurangi gesekan antara dinding tablet dengan die pada saat tablet ditekan ke luar. Umumnya lubrikan bersifat hidrofob. dan talk..selama granulasi basah untuk membentuk granul atau meningkatkan kekompakan kohesi bagi tablet yang dicetak langsung. Bahan penghancur ditambahkan untuk memudahkan pecahnya atau hancurnya tablet ketika berkontak dengan cairan saluran pencernaan. dan Lachman. dkk. metilselulosa. dan untuk memacu aliran serbuk atau granul dengan jalan mengurangi gesekan diantara partikel-partikel.A 12. 2006:172. povidon. Misalnya pati. dan povidon sambung silang (Syamsuni. mengembangkan dan menyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian. dkk. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. 2006:172. Bahan Pelicin (Lubrikan) 11. 8. Bahan penghancur memliki beberapa fungsi antara lain menarik air kedalam tablet. untuk mengurangi melekat atau adhesi bubuk atau granul pada permukaan punch atau dinding die. sukrosa. asam alginate. 1986:701). selulosa mikrokristal. selulosa mikrokristal (Syamsuni. dan Lachman. pasta pati terhidrolisis. gelatin. Bahan Penghancur (Disintegran) 9..

yaitu kempa langsung. Kempa Langsung Metode kempa langsung adalah proses pembuatan tablet dengan cara mengempa langsung zat aktif dan eksipien tanpa penanganan pendahuluan baik granulasi basah maupun kering. kalium iodide. granulasi kering. 1989:271). granulasi basah. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik. 11 . 1986:704).menarik. 2006:175). ammonium klorida dan metenamin memiliki sifat mudah mengalir sebagai mana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering (Ansel. Metode Pembuatan Tablet Tablet dapat dibuat dengan tiga metode. 1. Beberapa granul bahan kimia seperti kalium klorida.. dkk. C. Pada umumnya zat pemberi rasa yang larut dalam air jarang dipakai dalam pembuatan tablet karena stabilitasnya kurang baik (Lachman. yang merupakan jenis warna untuk bahan pembuat granul. Ada dua macam zat warna yang sudah dipergunakan dalam pembuatan tablet yaitu zat warna FD & C serta zat warna D & C yang dipergunakan dalam bentuk larutan. Bahan pemberi rasa biasanya dibatasi pada tablet kunyah atau tablet hisap yang ditujukan untuk larut didalam mulut. Kempa langsung dilakukan jika jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. dan zat khasiat berbentuk Kristal (Syamsuni.

2006:174). shingga menjadi tablet besar (slug) yang tidak berbentuk baik. dan zat penghancur serta jika perlu ditambahkan zat pengikat dan zat pelicin hingga menjadi massa serbuk yang homogeny. sedangkan kerugiannya adalah menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibandingkan cara granulasi basah (Syamsuni. 2006:175). 2. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. 12 . alat yang digunakan lebih sederhana dibandingkan dengan granulasi basah.Gambar 3. Metode kempa langsung (Ansel. 1989:262). yaitu tidak diperlukan panas dan kelembapan. zat pengisi. Keuntungan granulasi kering. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan (Syamsuni. Granulasi Kering Metode granulasi kering dilakukan dengan mencampurkan zat berkhasiat. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi.

Gambar 4. Granulasi basah. zat pengisi. 2006:174). jika perlu ditambah bahan pewarna. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan pelican (lubrikan) kemudian dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. suspensi yang mengandung pengikat yang biasa ditambahkan ke campuran serbuk (Lachman. Teknik ini membutuhkan larutan. penggilingan dan pencampuran) yang sama seperti kempa langsung dan granulasi basah. dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. dkk.. 1989:262) 3. 1986:690). Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lebih lama dibanding cara granulasi kering (Syamsuni. Granul dibentuk dengan jalan meningkat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan. dan zat penghancur sampai homogeny. Setelah itu diayak menjadi granul. Metode granulasi kering (Ansel. Granulasi Basah Teknik ini juga memerlukan persiapan dan langkah-langkah akhir (pengayak. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat. dan dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40°-50°C (tidak lebih dari 60°C). 13 .

dengan badan tablet menempel pada permukaan die. Permasalahan Dalam Pembuatan Tablet Produksi tablet cacat atau tidak sempurna dapat menciptakan masalah yang mengganggu sampai serius yang timbul dari formulasi sampai penyetelan mesin dan atau perkakas yang tidak tepat. Metode granulasi basah (Ansel. Lamination adalah pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih lapisan berbeda. 14 .Ga mbar 5. 7. Capping (Kaping) 2. Picking (Pengelupasan) 8. 1989:262) D. Permasalahan dalam pembuatan tablet antara lain: 1. Sticking (Pelekatan) 6. Sticking adalah keadaan dimana massa tablet menempel pada dinding die. Picking adalah pengelupasan dan pengangkatan dari permukaan tablet oleh punch.A 5. Capping adalah pemisahan sebagian atau keseluruhan bagian atas atau bawah tablet dari badan tablet. Lamination (Laminasi) 4. 3.

keseragaman bobot. 11. Kekerasan tablet erat hubungannya dengan ketebalan tablet. Kekerasan Tablet Pengukuran kekerasan tablet digunakan untuk mengetahui kekerasannya. 1995:6). Evaluasi Tablet Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas tablet sebelum dipasarkan dan memenuhi persyaratan. 2010:256-259). Evaluasi tablet yang dilakukan meliputi organoleptis. bobot tablet. Keseragaman Bobot Jika zat aktif merupakan bagian terbesar dari tablet dan jika uji keseragaman bobot dianggap cukup mewakili keseragaman kandungan. dan waktu hancur tablet. Keseragaman bobot bukan merupakan indikasi yang cukup dari keseragaman kandungan jika zat aktif merupakan bagian kecil dari tablet atau jika tablet bersalut gula. dan uji waktu hancur. friabilitas. Syarat pada uji kekerasan tablet kecil 4 kg/cm2. Molting (Bercak-bercak atau warna tidak homogen) 10. kekerasan tablet. 13. lebih sering dibagian atas-tengah (Siregar. Chipping (Potongan) 12. 1. Persyaratan keseragaman bobot atauAkeseragaman kandungan terletak antara 85-115% dari yang tertera dari etiket. agar tablet tidak mudah terlalu rapuh atau terlalu keras. Cracking (Retak) 14. Molting adalah keadaan dimana distribusi zat warna pada permukaan tablet tidak merata.9. Chipping adalah keadaan dimana badan tablet terpotong atau tercuil. Alat yang digunakan untuk pengukur kekerasan tablet adalah hardness tester (Syamsuni. Cracking adalah keadaan dimana tablet retak atau pecah. 2006:179). E. 2. 15 . dan simpangan baku lebih kecil ≤ 6% (Depkes RI.

16 .3. 1995:6). Tablet yang baik memiliki friabilitas < 1%. Dalam banyak hal kecepatan disolusi dapat dikorelasikan dengan ketersediaan hayati zatAaktif. Waktu yang diperlukan untuk menghancurkan ke 6 tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet yang tidak bersalut (Syamsuni. Untuk obat yang kelarutan dalam air terbatas. Uji disolusi seperti yang dipersyaratkan dalam sejumlah monografi tablet . Penentuan keregasan atau kerapuhan tablet dilakukan terutama pada wakatu tablet akan dilapis. 4. 2006:179). sedangkan friksibilitas adalah persen bobot yang hilang setelah terjadi gesekan antar tablet. Alat yang digunakan disebut friabilator (Syamsuni. Uji Waktu Hancur Waktu hancur penting dilakukan jika tablet diberikan peroral. Friabilitas dan Friksibilitas Friabilitas adalah persen bobot yang hilang setelah tablet diguncang. dan Depkes RI. 2006:179. kecuali tablet yang harus dikunyah sebelum ditelan beberapa jenis tablet lepas lambat dan lepas-tunda. disolusi akan lebih berarti dari pada waktu hancur.

pipet tetes.28 mg 20.95 mg 7. talk. Ekstraksi 17 . gelatin 10%. batang pengaduk.56 mg 0. Prosedur 1. gelas ukur. Mg Stearat. C.54 mg 1. dan etanol D. Formula I 271 mg 197 mg 8. oven. aluminium foil.22 mg Alat Alat yang digunakan adalah beaker glass. amprotab.42 mg Formula II 271 mg 610 mg 16. Bahan Bahan yang digunakan meliputi ekstrak etanol buah mengkudu. maserator.31 mg Formula III 271 mg 175 mg 175 mg 11. Fromulasi Penggunaan tiga formulasi ditujukan untuk dilakukan perbandingan terhadap pengaruh varias dan komposisi Avicel PH 101 dan Amprotab sebagai bahan penghancur terhadap sifat fisik tablet kombinasi ekstrak buah mengkudu.01 mg 1. avicel ph101. Bahan Ekstrak etanol buah mengkudu Avicel PH 101 Amprotab Talk Mg Stearat Gelatin 10% B.BAB III METODE PENELITIAN A. rotary evaporator.77 mg 8.

2. Uji Keseragaman Bobot 18 . Pembuatan Tablet 3.

Uji Kerapuhan Tablet 6.4. Uji Waktu Hancur Tablet 19 . Uji Kekerasan Tablet 5.

20 .

9 3. Jadi semua formula tersebut memenuhi persyaratan keseragaman bobot yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia III.30 1. Uji Kerapuhan Tablet Formula (%) Replikasi FI F II F III 1 0.96 0. 2.5 0. 4.3 0.16 6. Uji Waktu Hancur Tablet 21 . Sedangkan formula yang tidak memenuhi persyaratan adalah formula I dan II.17 3 0.16 : Tablet dicetak pada tekanan kompresi maksimal Tablet yang memenuhi syarat kekerasan tablet yang ditetapkan yaitu 4 – 8 kg adalah formula III dengan kombinasi Avicel PH 101 dan Amprotab.21 1.0 6.16 2 0.2 3.24 Pada tabel diatas yang memenuhi syarat kerapuhan tablet yaitu tidak melebihi 1 % adalah formula I dan formula III. Sedangkan formula II tidak memenuhi persyaratan karena kerapuhannya melebihi 1 %.39 Rata-rata 0.4 3.18 2.1 2.13 1.20 0. Uji Kekerasan Tablet Replikasi 1 2 3 4 5 Rata-rata Keterangan Kekerasan (kg) FI FII FIII 3.0 2.1 2.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.4 2.0 6. Uji Keseragaman Bobot Keseragaman bobot tablet ekstrak etanol buah mengkudu tidak ada yang menyimpang dari bobot rata-ratanya sebesar 5% dan 10%. 3.3 2.0 3.3 6.4 6.1 5. Hasil 1.3 3.25 0.

36 03.21 13.90 12. 1995: 6).56 03. Uji kekerasan tablet didefinisikan sebagai uji kekuatan tablet yang mencerminkan kekuatan tablet secara keseluruhan. Jadi semua formula tersebut memenuhi persyaratan keseragaman bobot yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia III (Depkes RI.86 Pada tabel diatas menunjukkan bahwa ketiga formula tersebut telah memenuhi persyaratan waktu hancur tablet yaitu tablet tidak bersalut harus mempunyai waktu hancur <15 menit. 2007: 198).14 Rata-rata 05. bila tablet yang dihasilkan memiliki bobot yang seragam akan memiliki kadar yang seragam pula (Sulaiman.96 04.38 04. Hal tersebut berlaku apabila zat aktifnya merupakan bagian besar (50% atau lebih besar) dari bobot tablet.Waktu Hancur (menit) Replikasi FI FII FIII 1 05. Sedangkan formula yang tidak memenuhi persyaratan adalah formula I dan II. B.02 12. Keseragaman bobot tablet dapat menjadi indikator awal keseragaman kadar atau kandungan zat aktif dengan asumsi bahwa kita mempunyai campuran massa yang akan dikempa menjadi tablet. Tablet yang memenuhi syarat kekerasan tablet yang ditetapkan yaitu 4 – 8 kg adalah formula III dengan kombinasi Avicel PH 101 dan Amprotab.48 13.06 3 05. 2007: 2003). 22 . Pembahasan Keseragaman bobot tablet ekstrak etanol buah mengkudu tidak ada yang menyimpang dari bobot rataratanya sebesar 5% dan 10%. keseragaman bobot cukup mewaikili keseragaman kandungannya (Depkes RI.38 2 05. yang diukur dengan memberi tekanan terhadap diameter tablet kekuatan tablet diberi skala dalam kilogram (Sulaiman. 1979:7) yaitu tablet dengan bobot lebih dari 300 mg tidak ada satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 10 % dan tidak lebih dari 2 tablet yang bobotnya lebih besar dari 5%.

2007: 200). 23 . Semakin besar harga persentase kerapuhan.5 % hingga 1 % (Lachman dkk. Hasil uji kerapuhan tablet telah memenuhi syarat yaitu tidak melebihi 1 % adalah formula I dan formula III sedangkan formula II tidak memenuhi persyaratan karena kerapuhannya melebihi 1%. 1995 : 223). 1979:27). 1995: 223). Kerapuhan sebaiknya tidak melebihi 0. Kerapuhan dinyatakan dalam persen sebagai massa seluruh partikel yang dilapaskan dari tablet akibat adanya beban penguji mekanis yang mengacu pada massa tablet awal sebelum pengujian (Voight.Kerapuhan merupakan parameter yang menggambarkan kekuatan permukaan tablet dalam melawan berbagai perlakuan yang menyebabkan abrasi pada permukaan tablet (Sulaiman. Untuk tablet tidak bersalut waktu yang diperlukan untuk menghancurkan semua tablet dalam alat tidak lebih dalam 5 menit (Depkes RI. 1979 : 7). Uji waktu hancur dilakukan untuk mengetahui lama atau waktu yang dibutuhkan oleh tablet untuk dapat hancur dalam suatu cairan yang diibaratkan sebagai cairan gastrointestinal. 0. Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa ketiga formula tersebut telah memenuhi persyaratan waktu hancur tablet yaitu tablet tidak bersalut harus mempunyai waktu hancur <15 menit (Depkes RI. 1994 :654). maka semakin besar massa tablet yang hilang.8 % (Voigt. Uji kerapuhan tablet ini bertujuan untuk mengetahui obat yang hilang akibat perlakuan yang diberikan terhadap tablet. Walaupun tidak selamanya hasil uji waktu hancur yang baik menjamin bioavaibilitas yang baik pula.

semakin besar kerapuhan dan waktu hancur lebih cepat. kekerasan tablet semakin rendah. kekerasan tablet semakin rendah. semakin kecil kerapuhan dan waktu hancur semakin cepat.BAB V PENUTUP A. Penambahan 24 . sehingga waktu alir yang dihasilkan lebih efektif. Kesimpulan Penambahan Avicel PH 101 menyebabkan granul lebih mudah mengalir. Penambahan Amprotab yang semakin besar pada formula II menghasilkan granul dengan partikel lebih kecil sehingga waktu alir semakin lama.

variasi pengering Avicel PH 101 dan Amprotab menyebabkan granul lebih mudah mengalir sehingga waktu alir yang dihasilkan baik. Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa ketiga formula tersebut telah memenuhi persyaratan waktu hancur tablet yaitu tablet tidak bersalut harus mempunyai waktu hancur <15 menit (Depkes RI. 1979 : 7). kekerasan tablet semakin tinggi. kerapuhan semakin kecil dan waktu hancur lama tetapi masih memenuhi syarat. 25 .

Universitas Islam Bandung.) Dan Dalam Jus Kombinasi Yang Dibuat Dengan Blender Dan Juicer Menggunakan Spektrofotometer Sinar Tampak [Skripsi].C. H. 703. M. Aprianti. K. Backer. Farmakope Indonesia. 680.Edisi III. Wortel (Daucus carota L.. 6.1994. 1997.) Terhadap Stabilitas Kandungan Vitamin C [Skripsi]. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Gajah Mada University Press: Yogyakarta. 684. A. (2011). 19. Tomat (Lycopersion esculentum Mill. 1965. UI Press. (2011). C. Lachman. Jakarta hal 5. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. 683. I-II.). 3-4. 351. 1995. 274275. 2000. 681. 652. Farmakope Indonesia. M. vol. 682. M. R. 2004. Edisi ketiga. Sehat Dengan Mengkudu. 27. Pengaruh Komposisi Formula Terhadap Uji Hedonik Dan Lama Penyimpanan Obat Tradisional Potio Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Hal. N.P. Jakarta hal 7. Analisis Kandungan Vitamin C Dalam Juice Tunggal Apel (Molis domestica Borkh.A. Joseph. 701.DAFTAR PUTAKA Aini. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Universitas Islam Bandung. 686. 515 _______.V.591 _______. Anief. MSF Group. 698. (1989). Farmakope Indonesia.Jakarta hal 20 – 21 Goreti. 1979. 658. Bandung. S. Bandung.C. Jakarta.. 26 . Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.Edisi IV. 211 Ansel. 654. Noordhoof Groningen: The Netherland Depkes RI. 349-350.).B. L & Herbert. UI Pres Jakarta Hal 161. Van Den Brink. Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. L. Flora of Java. 71. 29-30.

G. Jakarta. Handbook Of Pharmaceutical Excipient 6 th ed. Kedokteran EGC. M..J. Yogyakarta : Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada press.. T. R.N.S. Jakarta. P. Rowe. AgroMedia Pustaka.P. L. dan Bangun. (2002).P. 161. Syamsuni. P. The Pharmaceutical Press.A.Lachman. Sulaiman. Sheskey. Tadjoedin. 2007...A. Siregar. Kedokteran EGC. M. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet. 27 . Hal 81. (2009). Lieberman H.J. R. T. Waha.J. Dan Iswanto. London. Jakarta.. Jakarta. Jakarta. H. The Pharmaceutical Press.. REN Media. dan Quinn.L. C. B. Kanig. London. (2002).E. A. Mengebunkan Mengkudu Secara Intensif. (2002). Ilmu Resep. AgroMedia Pustaka. P. 108. H.J. 137.H. Jakarta. Sehat Dengan Mengkudu. Khasiat & Manfaat Mengkudu. Sarwono. (2007). J. (2002). Sheskey. 100. Teori dan Praktek Farmasi Industri edisi ketiga. Handbook Of Pharmaceutical Excipient 4 nd ed.C. 86.C. dan Weller. UI Press. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. (1986). (2010). Rowe.