You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
Katarak merupakan penyebab utama berkurangnya penglihatan pada usia 55 tahun atau
lebih. Secara umum dianggap bahwa katarak hanya mengenai orang tua, padahal katarak dapat
mengenai semua umur dan pada orang tua katarak merupakan bagian umum pada usia lanjut. Makin
lanjut usia seseorang makin besar kemungkinan menderita katarak.
Katarak adalah kekeruhan lensa. Katarak memiliki derajat keparahan yang sangat bervariasi
dan dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kelainan bawaan, kecelakaan, keracunan obat, tetapi
biasanya berkaitan dengan penuaan. Sebagian besar kasus bersifat bilateral, walaupun kecepatan
perkembangannya pada masing-masing mata jarang sama. Pembentukan katarak secara kimiawi
ditandai oleh penurunan penyerapan oksigen dan mula-mula terjadi peningkatan kandungan air
diikuti oleh dehidrasi. Kandungan natrium dan kalsium meningkat, sedangkan kandungan kalium,
asam askorbat dan protein berkurang. Pada lensa yang mengalami katarak tidak ditemukan
glutation.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya katarak seperti usia lanjut, kongenital,
penyakit mata (glaukoma, ablasi, uveitis, retinitis pigmentosa, penyakit intraokular lain), bahan
toksis khusus (kimia dan fisik), keracunan obat(eserin, kotikosteroid, ergot, asetilkolinesterase
topikal), kelainan sistemik atau metabolik (DM, galaktosemi, distrofi miotonik), genetik dan
gangguan perkembangan, infeksi virus dimasa pertumbuhan janin. Faktor resiko dari katarak antara
lain DM, riwayat keluarga dengan katarak, penyakit infeksi atau cedera mata terdahulu,
pembedahan mata, pemakaian kortikosteroid, terpajan sinar UV dan merokok.

dimana penglihatan seperti tertutup air tejun. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu hal yang dapat dipastikan timbulnya dengan bertambahnya usia penderita. yaitu usia di atas 50 tahun. Katarak yang terjadi akibat proses penuaan dan bertambahnya umur disebut katarak senilis. Katarak senilis adalah kekeruhan lensa baik di korteks. Katarak senilis sangat sering ditemukan pada manusia. nuklearis tanpa diketahui penyebabnya dengan jelas.2 B. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula ( zonula Zinnii) yang menghubungkan dengan korpus siliare. Tidak ada serat nyeri.2 Lensa terdiri dari enam puluh lima persen air. Sesuai dengan bertambahnya usia. dan muncul mulai usia 40 tahun. DEFINISI Katarak berasal dari bahasa Yunani katarrhakies. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa.1 C. Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeabel yang dapat dilewati air dan elektrolit. avaskular tak berwarna dan transparan. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. 35% protein. serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. 1 Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Inggris cataract dan Latin cataracta yang berarti air terjun. Disebelah anterior lensa terdapat humos aquos dan disebelah posterior terdapat vitreus. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. sedangkan Barth menemukan bahwa 96% dari individu di atas usia 60 tahun mempunyai kekeruhan lensa yang dapat terlihat jelas pada pemeriksaan slitlamp. Dalam bahasa indonesia disebut bular. dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Jaringan ini berasal dari ectoderm permukaan pada lensplate. ANATOMI LENSA Lensa adalah suatu struktur bikonveks. selain kasusnya . Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. EPIDEMIOLOGI Katarak senilis terjadi pada usia lanjut. denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya. Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular. sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastic.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Di negara berkembang katarak merupakan 50-70% dari seluruh penyebab kebutaan. Horlacher mendapatkan bahwa 65% dari seluruh individu antara usia 51-60 tahun menderita katarak. Di Afrika katarak senile merupakan penyebab utama kebutaan. pembuluh darah atau pun saraf di lensa. Insidensi katarak di dunia mencapai 5-10 juta kasus baru tiap tahunnya.

dan kalsium. fosfor. atau hepatosplenomegali pada ibu hamil. galaktosemia. 2. dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsular dan katarak Polaris.1 Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus. inklusi sitomegalik. katarak setelah usia 50 tahun 1 1. homosisteinuri. Bila katarak disertai uji reduksi pada urine yang positif.2% dengan kebutaan katarak sebesar 0.banyak dan munculnya lebih awal. lensa ektopik. keratokonus. dan tahun 1996 angka kebutaan meningkat 1. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental.dan histoplasmosis. tetani. Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakainan obat selama kehamilan. dan megalokornea. aniridia. D. Di Indonesia tahun 1991 didapatkan prevalensi kebutaan 1. koloboma iris. Hampir 50 % katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pupil bayi yang . Kadang-kadang terdapat riwayat kejang. ikterus. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat. iris heterokromia. Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau umum.47%. toksoplasmosis. Katarak lentikular. Kapsulolentikular. katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun 3. Katarak juvenile. katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun 2. penyakit lain yang menyertai katarak kongenital biasanya berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus. Katarak kongenital. KLASIFIKASI Klasifikasi katarak berdasarkan usia : 1.1 Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubela. displasia retina. mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. KATARAK KONGENITAL Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak senil. Katarak kongenital digolongkan dalam katarak : 1.67%. termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks atau nukleus saja.

) Katarak diabetika dan galaktosemik (gula) b. koloboma. heterokromia iridis) b.) Kelainan kongenital dan herediter (siklopia.Katarak piramidalis atau Polaris anterior . Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi berupa nistagmus dan strabismus. Dikenal bentuk-bentuk katarak Kongenital : . Katarak traumatic 4.Katarak piramidalis atau Polaris posterior .menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria.) Katarak aminoasiduria (termasuk sindrom Lowe dan homosistinuria) e.) Katarak hipokalsemik (tetanik) c. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.Katarak zonularis atau lamelaris .) Katarak defisiensi gizi d. aniridia. seperti Wagner dan . yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Pemeriksaan leukokoria dilakukan dengan melebarkan pupil. Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya seperti: 1. Otot Distrofi miotonik (umur 20-30 tahun) 3.Katarak pungtata dan lain-lain 2.1 Pada katarak kongenital penyulit yang dapat terjadi adalah makula lutea yang tidak cukup mendapat rangsangan. KATARAK JUVENIL Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda. Katarak metabolic a.) Penyakit Wilson f. pembuluh hialoid persisten.) Katarak berhubungan dengan kelainan metabolik lain 2. Pada setiap leukokoria perlu pemeriksaan yang lebih teliti untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Katarak komplikata a. mikroftalmia. Makula tidak akan berkembang sempurna hingga walupun dilakukan ekstraksi katarak maka visus biasanya tidak akan mencapai 5/5.) Katarak degeneratif (dengan miopia dan distrofi vitreoretinal). Hal ini disebut ambliopia sensoris (ambyopia ex anopsia).

klorpromazin. tulang (disostosis kraniofasial. miotik. berubah dari jernih menjadi kuning sampai coklat. sindrom tertentu. antikholinesterase. dan neoplasma) c. Biasanya mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun dan progresivitasnya cepat. kortikal dan subkapsularis posterior. penglihatan merasa silau. Katarak ini menyebabkan kesulitan membaca. disertai kelainan kulit (sindermatik).retinitis pigmentosa. Biasanya mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun dan progresivitasnya lambat. Banyak pada penderita DM. ergot.) Lain-lain kelainan kongenital. besi) e. 3. sulit menyetir pada malam hari . Katarak Subkapsular Posterior atau Kupuliformis Bentuk ini terletak pada bagian belakang dari kapsul lensa. terutama warna biru dan ungu. yaitu : katarak nuklear. Katarak Kortikal Katarak menyerang lapisan yang mengelilingi nukleus atau korteks. busulfan. klorpromazin. silau. 1) Katarak Nuklear Katarak yang lokasinya terletak pada bagian tengah lensa atau nukleus. 2.) Katarak anoksik d. dinitrofenol. triparanol (MER-29). Bentuk ini merupakan bentuk yang paling banyak terjadi. Biasanya mulai timbul sekitar usia 60-70 tahun dan progresivitasnya lambat.) Toksik (kortikosteroid sistemik atau topikal. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna. khondrodistrofia kalsifikans kongenita pungtata). Keluhan yang biasa terjadi yaitu penglihatan jauh dan dekat terganggu. dan kromosom f. naftalein. KATARAK SENIL Berdasarkan letaknya dikenal ada 3 bentuk katarak senilis. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat (pandangan baca).) Katarak radiasi 3. . Terdapat wedge-shape opacities/cortical spokes atau gambaran seperti ruji. pandangan kabur pada kondisi cahaya terang. bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik. Katarak subkapsularis posterior lebih sering pada kelompok usia lebih muda daripada katarak kortikal dan katarak nuklear. Bentuk ini lebih sering menyerang orang dengan diabetes. osteogenesis inperfekta. obesitas atau pemakaian steroid jangka panjang. Nukleus cenderung menjadi gelap dan keras (sklerosis).

katarak imatur. sehingga uji bayangan iris negatif. Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. mendorong iris ke depan. Bentuk ini kadang menetap untuk waktu yang lama. Proses degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil disintegrasi melalui kapsul. Katarak Imatur Pada katarak imatur terjadi kekeruhan yang lebih tebal. Katarak Insipien Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur. Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia yang disebabkan oleh indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. katarak senilis digolongkan menjadi 4 stadium: Katarak insipien. maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar. Katarak Matur Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni. katarak matur. 1. Pada keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior dan posterior.dan katarak hipermatur . Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau shadow test. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. maka akan terlihat bayangn iris pada lensa. tampak seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi dangan dasar di perifer dan daerah jernih di antaranya. Katarak Hipermatur Merupakan proses degenerasi lanjut lensa. mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma sekunder. Uji bayangan iris memberikan . tetapi belum mengenai seluruh lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa.Berdasarkan stadium perjalanan penyakitnya. sehingga masa lensa yang mengalami degenerasi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa. maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu dengan nukleus yang terbenam di korteks lensa. 4. 3. Tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh. Lensa menjadi mengecil dan berwarna kuning. sehingga lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal. 2. sehingga hasil uji shadow test (+).

PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan pembedahan. . DIAGNOSIS Selama pemeriksaan diagnostik. Cairan / protein lensa yang keluar dari lensa tersebut menimbulkan reaksi inflamasi dalam bola mata karena di anggap sebagai benda asing. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk menghambat proses katarak adalah vitamin dosis tinggi.gambaran pseudopositif. iodium tetes. kalsium sistein. Gejala umum gangguan katarak meliputi : • Penglihatan tidak jelas. Pengobatan yang diberikan biasanya hanya memperlambat proses. ukuran dan kesehatan umum mata untuk menentukan apakah Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Karena itu. GAMBARAN KLINIS Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak.1 E. Daya penglihatan baru terpengaruh setelah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun. • Peka terhadap sinar atau cahaya. • Kesulitan untuk dapat membaca. karena umumnya katarak tumbuh sangat lambat dan tidak mempengaruhi daya penglihatan sejak awal. termasuk pemeriksaan dengan slit lamp  USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan G. Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah:  Pemeriksaan mata standar. tetapi tidak menghentikan proses degenerasi lensa. • Dapat melihat ganda pada satu mata. seperti terdapat kabut menghalangi objek. pasien katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis. Katarak terjadi secara perlahan-perlahan sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur. Akibatnya dapat timbul komplikasi uveitis dan glaukoma karena aliran melalui COA kembali terhambat akibat terdapatnya sel-sel radang dan cairan / protein lensa itu sendiri yang menghalangi aliran cairan bola mata. • Lensa mata berubah menjadi buram F. seorang ahli mata (ophthalmologist) akan mengukur secara hati-hati bentuk.

Pembedahan katarak dapat dilakukan dengan beberapa cara : a. Operasi katarak ini adalah merupakan tehnik operasi untuk katarak Imatur/matur yang nukleus atau intinya keras sehingga tidak memungkinkan dioperasi dengan tehnik fakoemulsifikasi. edema kornea. yaitu mengeluarkan lensa bersama dengan kapsul lensa. katarak intumesen. yaitu mengeluarkan isi lensa (korteks dan nukleus) melalui kapsul anterior yang dirobek (kapsulotomi anterior) dengan meninggalkan kapsul posterior. kebocoran luka pos operasi. Karena kapsul posterior yang utuh. sehingga dapat dilakukan penanaman lensa intraokular (IOL). Insisi ICCE yang lebih luas yaitu 160-180o (12-14 mm). hipermatur dan katarak luksasi. b. dislokasi/subluksasi lensa. Mengurangi resiko CME dan edema . inkarserasi iris dan vitreus. Komplikasi pasca operaasi adalah cystoid macular edema (CME). dapat dilakukan operasi katarak. lensa yang menginduksi glaukoma. Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK) Ekstraksi katarak ekstrakapsular. lensa yang menginduksi uveitis. Indikasi medis : Kondisi katark harus dioperasi diantaranya katarak hipermatur. karena lensa seluruhnya sudah diangkat. Insisi kornea lebih kecil daripada ICCE (kira-kira 5-6mm) sehingga proses penyembuhan lebih cepat sekitar seminggu. Kontraindikasi relatif adalah miopia tinggi. 2. operasi dapat dilkukan meskipun tidak dapat mengembalikan penglihatan. benda asing intraretikuler.Tindakan pembedahan dilakukan dengan indikasi: 1. Keuntungan pembedahan ICCE ini adalah: tidak akan terjadi katarak sekunder. vitreus prolaps dan endoftalmitis. tetapi leukokoria yang diakibatkan katarak tidak dapat diterima pasien. seperti: penyembuhan yang lama. EKIK (Ekstraksi Katarak Intrakapsular) Ekstraksi katarak intrakapsular. Indikasi optik : pasien mengeluh gangguan penglihatan yang mengganggu kehidupan sehari-hari . retinopati diabetik. berhubungan dengan beberapa resiko. ICCE masih sangat bermanfaat pada kasus-kasus yang tidak stabil. Kontraindikasi absolut ICCE adalah katarak pada anak-anak dan dewasa muda dan ruptur kapsul akibat trauma. Indikasi kosmetik : Jika kehilangan penglihatan bersifat permanen karena kelainan retina atau saraf optik. ablasio retina atau patologi segmen posterior lainnya. ICCE juga masih lebih dipilih pada kasus dimana zonula zini tidak cukup kuat sehingga tidak memungkinkan menggunakan ECCE. cenderung menimbulkan astigmatisme. 3. Kerugian ICCE dibanding ECCE sangat signifikan. Komplikasi selama operasi dapat terjadi trauma pada endotel kornea. sindrom Marfan dan katarak morgagni.

Tekanan intraokuler yang terkontrol sehingga prolaps iris. sukar dipelajari oleh pemula. katarak sekunder. peningkatan tekanan intraokular. Untuk lensa lipat (foldable lens) membutuhkan insisi sekitar 2. Fakoemulsifikasi adalah tehnik operasi katarak terkini. trauma iris. sedangkan untuk lensa tidak lipat insisi sekitar 6 mm. Getaran ultrasonik akan digunakan untuk menghancurkan katarak.kornea. dislokasi lensa kebelakang. yang memungkinkan dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. tidak mempunyai penyakit endotel. waktu operasi yang relatif labih cepat. Insisi yang dilakukan kecil sehingga insiden terjadinya astigmat berkurang dan edema dapat terlokalisasi. Komplikasi juga dapat diakibatkan pasca operasi . katarak sekunder. akan pulih dengan sendirinya. sehinnga mendorong iris dan terjadi blokade aliran aqueus humor. c. Kerugiannya berupa dapat terjadinya katarak sekunder sama seperti pada teknik EKEK. bilik mata dalam. Penyulit pada teknik ini berupa adanya ruptur kapsul posterior. Fakoemulsifikasi Ekstraksi lensa dengan fakoemulsifikasi. pupil harus terus dipertahankan lebar. dengan sayatan 3 mm pada sisi kornea. Sebuah lensa Intra Ocular (IOL) yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. suara berfrekuensi tinggi.8 mm. prolaps badan kaca. mudah dilakukan pada katarak hipermatur. sinekia posterior. Kerugiannya berupa membutuhkan alat yang lebih sukar dibandingkan ICCE. Prosedurnya dengan getaran yang terkendali sehingga insiden prolaps menurun. dan dapat juga terjadi uveitis fakotoksi. luksasi atau subluksasi lensa. ablasio retina. maka tidak diperlukan jahitan. endotel ’loss’ yang besar. Karena insisi yang kecil untuk foldable lens. prolaps badan kaca. pupil dapat dilebarkan hingga 7 mm. hifema. rehabilitasi pasca bedahnya cepat. yaitu teknik operasi katarak modern menggunakan gel. alat yang mahal. Pada stadium imatur dapat terjadi glaukoma sekunder akibat lensa yang mencembung. H. Indikasi teknik fakoemulsifikasi berupa calon terbaik pasien muda dibawah 40-50 tahun. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada katarak tergantung stadiumnya. selanjutnya mesin phaco akan menyedot massa katarak yang telah hancur tersebut sampai bersih. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3 mm) di kornea. Penyulit pasca bedah berupa edema kornea. endofthalmitis. perdarahan ekspulsif jarang. Sedangkan pada stadium hipermatur dapat terjadi glaukoma sekunder akibat penymbatan kanal aliran aquous humor oleh masa lensa yang lisis. Penyulit berat saat melatih keterampilan berupa trauma kornea. Kontraindikasinya berupa tidak terdapat hal – hal salah satu diatas.

Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini. BAB III . seperti ablasio retina. dan lainnya.katarak. Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat. glaukoma. perdarahan. astigmatisma. endoftalmitis. PROGNOSIS Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. I. uveitis.

mata berair (-). .LAPORAN KASUS 3. Pandangan kabur seperti berkabut. keluar kotoran air mata (-). D Umur : 66 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Petani Alamat : Halaban.Pasien menggunakan kacamata baca sejak ± 4 tahun yang lalu.1. gatal (-). Riwayat Penyakit Dahulu . pasien selalu kontrol ke dokter atau puskesmas.Riwayat menggunakan obat-obatan dalam jangka waktu lama disangkal. dan melihat seperti pelangi disekitar cahaya (-). . semakin lama semakin kabur dan mengganggu aktivitas. . Anamnesis Keluhan Utama: Penglihatan mata kiri kabur sejak ± 2 tahun yang lalu.Riwayat operasi mata sebelumnya disangkal.  Penglihatan mata kanannya juga kabur sejak 1 tahun yang lalu namun pasien masih dapat melihat. dan silau jika melihat cahaya terang. melihat ganda (-). .Riwayat trauma pada mata disangkal. . Identitas Pasien Nama : Tn.  Kedua mata merah (-). nyeri (-). Solok Tgl. minum obat teratur hingga sekarang namun pasien tidak mengetahui nama obatnya.Riwayat hipertensi disangkal. Riwayat Penyakit Sekarang  Penglihatan mata kiri kabur sejak ± 2 tahun yang lalu. saat melihat dekat dan jauh. perlahan-lahan.  Penglihatan mata kiri kabur dirasakan terus menerus sepanjang hari.2. Masuk RS : 18 Mei 2016 3.Riwayat penyakit diabetes mellitus sejak ± 1 tahun yang lalu. pasien mengaku penglihatannya menjadi sangat kabur dalam 3 bulan terakhir. .

Riwayat keluarga menderita penyakit diabetes melitus ada (adik pasien). murmur(-). wh-/- : Tidak tampak membuncit. .Riwayat hipertensi dalam keluarga disangkal. Status Generalisata Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : compos mentis kooperatif Vital sign: Tekanan Darah : 120/60 mmHg Nadi : 82 x/menit Nafas : 19 x/menit Temperatur : 36. . narkoba dan merokok disangkal 3. gallop (-) Inspeksi : gerak nafas simetris kanan dan kiri : fremitus taktil kanan = kiri Perkusi : sonor pada kedua lapangan paru Auskultasi : Vesikuler +/+. tidak terdapat deformitas Inspeksi Palpasi : JVP 5-2 cmH2O : Kelenjar tiroid tidak teraba membesar Kelenjar Getah Bening tidak teraba membesar Thorak: Jantung Inspeksi Palpasi Pulmo Palpasi Abdomen : Ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V Perkusi : Batas jantung normal Auskultasi : BJ I-II Reguler.Tidak ada anggota keluarga pasien yang sakit seperti ini.Riwayat Penyakit Keluarga . Riwayat kebiasaan Konsumsi alkohol. nyeri tekan (-). bising usus (+) N .8 0C Kepala Leher : Normocephal.3. supel. Rh-/-. Pemeriksaan Fisik a.

Reflek Fisiologis (+/+).Ekstremitas : Hangat. Reflek Patologis (-/-) b. Status Oftalmologis Gambar 9 : Pre Operasi (Mata Kanan dan Mata Kiri) Gambar 10 : Post Operasi (Mata Kiri) . edema (-/-).

proyeksi benar Tidak dilakukan - - - - - - - - - Visus Tajam penglihatan Koreksi Reflek fundus Silia/ Supersilia Madarosis Trikiasis Krusta/skuama Distikiasis Palpebra superior Ptosis/ pseudoptosis Epikantus Hordeolum Kalazion Abses Tumor Xantelasma Nevus Edem Blefarokalasis Ekteropion Enteropion Palpebra inferior Hordeolum Kalazion Abses Tumor Nevus Edem Blefaritis Meibomitis Ekteropion Enteropion Apparatus lacrimalis Hiperlakrimasi Obstruksi Epifora Dakriosistitis Dakriostenosis Konjungtiva tarsalis Folikel Papil Lithiasis Hiperemis Sikatrik Membran Pseudomembran .OD OS 2/60 Tidak dilakukan - 1/~ .

4. Pemeriksaan Penunjang .Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva Injeksi siliar Pterigium Pinguekula Konjungtiva forniks Kemosis Perdarahan Sklera Warna Kornea Infiltrat Sikatrik Ulkus Edema Neovaskularisasi Arkus kornea Kamera Okuli Anterior Kedalaman Flare Hipopion Hifema Pigmen Iris Warna Rugae Atrofi iris Coloboma Sinekia Pupil Bentuk - - - - Putih Putih - - Cukup dalam - Cukup dalam - Coklat + - Coklat + - Bulat. reguler + + Keruh sebagian - Keruh total - Tidak dilakukan Pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan Tidak dilakukan pemeriksaan Tekanan bulbus okuli Normal (P) Normal (P) Gerakan bulbus okuli Bebas kesegala arah Bebas kesegala arah Orthophoria Orthophoria Reflek pupil langsung Reflek pupil tak langsung Lensa Bening/keruh Kelainan letak Korpus vitreus Bening/keruh Funduskopi Posisi bulbus okuli 3. sentral. reguler + + Bulat . . sentral.

Diabetes melitus 3.7 % c. Pemeriksaan laboratorium darah a. Pemeriksaan glukosa darah Glukosa puasa : 125 mg% 2 jam PP : 183 mg% 3. g.000 /uL e.4 g/dL b.5. Diagnosis Kerja Katarak senilis stadium immatur OD Katarak senilis stadium matur OS 3.1.7. Hemoglobin : 14. CT : 330 menit BT :130 menit f. Penatalaksanaan .600 /uL d. Hematokrit : 42. Leukosit : 13.6. Biometri 3. Diagnosis Banding Katarak metabolik ec. Trombosit : 337. Keratometri 2. Tonometri 4.

Memberitahu kepada pasien untuk mengganti perban setiap hari .Jangan kontak dengan air .Memberitahu kepada pasien cara pemberian obat tetes .8. Edukasi . Tindakan operatif Rencana ekstraksi katarak ekstra kapsular (ECCE) dan pemasangan Intra Ocular Lens (IOL) b.Kontrol ke poliklinik mata 3. Terapi farmakologi post op Polydex eye drop 6 kali sehari 1 tetes OS Floxa eye drop 6 kali sehari 1 tetes OS c. Prognosis Quo ad visam : dubia ad bonam Quo ad vitam : bonam Quo ad sanam : dubia ad bonam Quo ad cosmetic : bonam .a.Jangan mengangkat beban yang terlalu berat .