You are on page 1of 14

KRITERIA BAHAYA BAHAN KIMIA BERDASARKAN

GLOBALLY HARMONIZED SYSTEM OF CLASSIFICATION
AND LABELLING OF CHEMICALS (GHS)
Adrian Ferrariski Putra, 1406601113
Tugas 1, Cluster Kelas B Semester Pendek 2016

A. Bahaya Fisik
1. Explosives (Bahan Mudah Meledak)
a. Simbol

b. Definisi
Zat padat atau cair (atau campuran zat-zat) yang dengan sendirinya
melalui reaksi kimia mampu memghasilkan gas pada suhu dan tekanan
tertentu dengan kecepatan yang dapat menimbulkan kerusakan bagi
lingkungan sekitar. Zat-zat piroteknik juga termasuk ke dalam zat-zat yang
mudah meledak meski tidak menghasilkan gas.
Zat Piroteknik dirancang untuk menghasilkan suatu efek akibat panas,
cahaya, suara, gas, asap, atau kombinasinya sebagai hasil dari reaksi kimia
eksotermik yang dapat berlangsung tanpa bantuan dari luar.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Divisi 1.1: Dapat menyebabkan ledakan dahsyat.
2) Divisi 1.2: Dapat menyebabkan ledakan besar.
3) Divisi 1.3: Dapat menimbulkan api dan letupan minor.
4) Divisi 1.4: Tidak memiliki bahaya ledakan yang signifikan
5) Divisi 1.5: Dapat menyebabkan ledakan dahsyat namun sangat tidak
sensitif (kemungkinan meledaknya sangat kecil).
d. Contoh Senyawa
Ammonium nitrat, nitroselulosa, 2,4,6-trinitro toluena (TNT)

2. Flammable Gases (Gas-gas Mudah Terbakar)
a. Simbol

b. Definisi
1) Flammable gas adalah gas yang memiliki daerah mudah terbakar
dengan udara pada suhu 20oC dan tekanan standar 101,3kPa.
2) Pyrophoric gas adalah gas yang memiliki kemampuan untuk menyala
secara spontan di udara pada suhu ≤ 54oC.
3) Chemically unstable gas adalah gas yang dapat bereaksi secara
eksplosif meski tanpa kehadiran udara atau oksigen.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Katagori 1: Gas-gas pada suhu 20oC dan tekanan standar 101,3kPa:
a) Dapat menyala dalam konentrasi ≤ 13% (v/v) dalam
campurannya di udara; atau
b) Memiliki wilayah flammable dengan udara ketika setidaknya
konentrasinya 12% tanpa memperhatikan limit bawah
flammablenya.
2) Katagori 2: Gas-gas selain pada katagori 1 yang pada suhu 20oC dan
101,3kPa masuk ke dalam wilayah flammable saat tercampur dalam
udara.
d. Contoh Senyawa
Butana, propana, aseton, benzena
3. Aerosol
a. Simbol
Beberapa aerosol yang bersifat mudah terbakar memiliki simbol yang
sama dengan flammable.

b. Definisi
Gas yang dicairkan, atau dilarutkan di bawah tekanan dengan atau tanpa
cairan, pasta, atau bubuk, yang memenuhi ruang dan dapat dikeluarkan
sebagai partikel-partikel padatan atau cairan dalam suspensi berupa busa,
pasta, bubuk, atau dalam bentuk cair/gasnya.
c. Kriteria Klasifikasi
Kriteria klasifikasinya termasuk ke golongan flammable bila aerosol
mengandung > 1% komponen (m/m).
4. Oxidizing Gases (Gas-gas Oksidator)
a. Simbol

b. Definisi
gas yang memiliki kemampuan lebih dari udara, umumnya dengan
menyediakan oksigen, menyebabkan atau memberikan kontribusi pada
pembakaran bahan lain.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Katagori 1: Gas apapun yang dapat menyebabkan atau memberikan
kontribusi

pada

pembakaran

bahan

lain

(umumnya

menyediakan oksigen).
d. Contoh Senyawa
Bromin, klorin.
5. Gases Under Pressure (Gas-gas di Bawah Tekanan)
a. Simbol

dengan

b. Definisi
Gas-gas yang disimpan dalam wadah bertekanan 200kPa (terukur) atau
lebih pada 20oC, atau dicairkan dan dapat juga dicairkan lalu didinginkan.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Gas terkompresi: Gas yang ketika dikemas di bawah tekanan
sepenuhnya memiliki fase gas pada -50°C; termasuk semua gas dengan
suhu kritis ≤ -50°C.
2) Gas dicairkan: Gas yang ketika dikemas di bawah tekanan, sebagian
cair pada suhu di atas -50°C. Gas yang dicairkan dibagi menjadi
beberapa jenis lagi, yaitu:
a) Gas dicairkan bertekanan tinggi; gas dengan suhu kritis
antara -50°C dan +65°C.
b) Gas dicairkan bertekanan rendah; gas dengan suhu kritis di
atas +65°C
d. Contoh Senyawa
Nitrogen cair yang disimpan di dalam wadah tertutup bertekanan tinggi.
6. Flammable Liquids (Cairan Mudah Terbakar)
a. Simbol

b. Definisi
Cairan yang memiliki titik nyala tidak lebih dari 93 ° C.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Katagori 1: Titik nyala < 23°C dan titik didih awal ≤ 35°C.
2) Katagori 2: Titik nyala < 23°C dan titik didih awal > 35°C.

3) Katagori 3: Titik nyala ≥ 23°C dan ≤ 60°C.
4) Katagori 4: Titik nyala ≥ 60°C dan ≤ 93°C.
d. Contoh Senyawa
Benzena, 2-propanol.
7. Flammable Solids (Padatan Mudah Terbakar)
a. Simbol

b. Definisi
Padatan yang mudah terbakar, atau dapat menyebabkan atau memberikan
kontribusi untuk api melalui gesekan.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Zat atau campuran selain bubuk logam yang:
a)

Zona basah tidak menghentikan api.

b)

Waktu pembakaran < 45s atau laju pembakaran > 2,2mm/s

Bubuk logam: Waktu pembakaran ≤ 5 menit.
2) Zat atau campuran selain bubuk logam yang:
a)

Zona basah menghentikan api setidaknya dalam 4 menit.

b)

Waktu pembakaran < 45s atau laju pembakaran > 2,2mm/s

Bubuk logam: Waktu pembakaran > 5 menit dan ≤ 10 menit.
d. Contoh Senyawa
Logam-logan hidrida tertentu, logam natrium, logam kalium.
8. Self-Reactive Substances and Mixtures (Zat atau Campuran yang Reaktif
secara Intrinsik)
a. Simbol
Dapat dapat memiliki simbol yang sama dengan golongan explosive atau
flammable.

b. Definisi
Zat cair atau padat yang tidak stabil secara termal dan cenderung untuk
terdekomposisi secara eksotermis dengan kuat meski tanpa partisipasi oksigen
(udara). Definisi ini tidak mencakup zat atau campuran yang diklasifikasikan
dalam GHS sebagai peledak, peroksida organik, atau sebagai pengoksidasi.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Tipe A: Dapat meledak secara cepat meski saat dikemas.
2) Tipe B: Memiliki sifat-sifat peledak dan saat dikemas tidak dapat
meledak secara cepat namun mampu menghasilkan ledakan termal
dalam kemasan.
3) Tipe C: Memiliki sifat-sifat peledak dan saat dikemas tidak dapat
meledak secara cepat atau menghasilkan ledakan termal dalam
kemasan.
4) Tipe D: Zat-zat atau campuran yang:
a) Meledak secara parsial namun tidak cepat dan tidak
menunjukkan efek yang ganas saat dipanaskan di ruang
tertutup.
b) Tidak meledak sama-sekali dan tidak menunjukkan efek yang
ganas saat dipanaskan di ruang tertutup.
c) Tidak meledak sama-sekali dan tidak menunjukkan efek
sedang saat dipanaskan di ruang tertutup.
5) Tipe E: Tidak meledak sama-sekali dan hanya menunjukkan efek yang
ringan atau tidak ada efeknya sama sekali saat dipanaskan di ruang
tertutup.
6) Tipe F: Tidak meledak sama-sekali dan hanya menunjukkan efek yang
ringan atau tidak ada efeknya sama sekali saat dipanaskan di ruang
berongga.
7) Tipe G: Tidak meledak sama-sekali dan hanya menunjukkan efek yang
ringan atau tidak ada efeknya sama sekali saat dipanaskan di ruang
tertutup yang telah dikondisikan stabil secara termal.
d. Contoh Senyawa
Sodium fosfid, kalium fosfid.

9. Pyrophoric Liquids (Cairan Piroforik)
a. Simbol

b. Definisi
Cairan yang, bahkan dalam jumlah kecil, mampu memicu nyala api
dalam waktu lima menit setelah kontak dengan udara.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Katagori 1: Cairan terbakar dalam 5 menit saat ditambahkan ke zat
pembawa yang inert dan dilepas ke udara atau cairan dapat
mengarangkan kertas saring saat kontak dengan udara dalam 5 menit.
d. Contoh Senyawa
Difosfan, trietil boran, tert-butil litium.
10. Pyrophoric Solids (Padatan Piroforik)
a. Simbol

b. Definisi
Padatan yang, bahkan dalam jumlah kecil, mampu memicu nyala api
dalam waktu lima menit setelah kontak dengan udara.
c. Kriteria Klasifikasi
1) Katagori 1: Padatan terbakar dalam 5 menit saat kontak dengan udara.
d. Contoh Senyawa
Fosfor putih, reagen grignard, plutonium.
11. Self-Heating Substances and Mixtures
a. Simbol

b. Definisi
Zat padat atau cair, selain zat piroforik di mana akibat reaksi dengan
udara dan tanpa pasokan energi, mampu untuk melaksanakan self-heat; zat ini
berbeda dari zat piroforik di mana zat ini hanya akan menyala ketika dalam
jumlah besar (kilogram) dan setelah jangka waktu yang lama (jam atau hari).
c. Contoh Senyawa
Dietil timah.
12. Substances and Mixtures which, In Contact with Water, Emits Flammable
Gases
a. Simbol

b. Definisi
Zat padat atau cair atau campuran di mana ketika berinteraksi dengan air,
mampu menjadi mudah terbakar secara spontan atau melepaskan gas yang
mudah terbakar dalam jumlah yang berbahaya.
c. Contoh Senyawa
Kalsium karbida.
13. Oxidizing Liquids (Cairan-cairan Oksidator)
a. Simbol

b. Definisi
Cairan yang, sementara itu sendiri belum tentu mudah terbakar, namun
umumnya

dengan

menghasilkan

oksigen

dapat

menyebabkan

atau

berkontribusi pada proses pembakaran bahan lainnya.
c. Contoh Senyawa
Kalsium perklorat, hidrogen peroksida, amonium nitrat.
14. Oxidizing Solids (Padatan-padatan Oksidator)
a. Simbol

b. Definisi
Padatan yang, sementara itu sendiri belum tentu mudah terbakar, namun
umumnya

dengan

menghasilkan

oksigen

dapat

menyebabkan

atau

berkontribusi pada proses pembakaran bahan lainnya.
c. Contoh Senyawa
Dikromat dan permanganat.
15. Organic Peroxide (Peroksida Organik)
a. Simbol

b. Definisi
Zat organik cair atau padat yang berisi struktur bivalen -O-O- dan dapat
dianggap sebagai turunan dari hidrogen peroksida, di mana salah satu atau
kedua atom hidrogen telah digantikan oleh radikal organik. Istilah ini juga
mencakup formulasi peroksida organik (campuran).
c. Contoh Senyawa
2-butanon peroksida dan etil metil keton peroksida.

16. Corrosive to Metals (Korosif terhadap Logam)
a. Simbol

b. Definisi
Zat atau campuran yang dengan diberikannya tindakan kimia akan
merusak atau bahkan menghancurkan logam.
c. Contoh Senyawa
Asam sulfat, asam klorida, amoniak, natrium hidroksida.
17. Desensitized explosives
a. Simbol

b. Definisi
Bahan peledak padat atau cair atau campuran yang dapat menekan sifat
peledak mereka sedemikian rupa sehingga tidak dapat menghasilkan ledakan
massal dan tidak membakar terlalu cepat dan karena itu digolongkan berbeda
dari bahan peledak.
c. Contoh Senyawa
Amonium pikrat dibasahi dengan ≥ 10% air (w/w)

B. Bahaya Kesehatan
Tipe Bahaya

Deskripsi General
Produk ini fatal, beracun, atau berbahaya jika
terhirup, terkena kontak dengan kulit, atau tertelan.

Acute Toxicity

Tingkat toksisitas akut mengacu pada efek yang terjadi

(Toksisitas Akut)

setelah kontak dengan kulit atau paparan melalui proses
pencernaan untuk dosis tunggal, atau beberapa dosis yang
diberikan dalam waktu 24 jam, atau paparan inhalasi
selama 4 jam.
Efek toksisitas akut dapat disebabkan dari paparan
produk itu sendiri atau produk yang setelah kontak
dengan

air

melepaskan

suatu

gas

yang

dapat

menyebabkan keracunan akut.
Skin
corrosion/irritation
(Korosi/iritasi Kulit)

Tipe bahaya ini mencakup produk yang dapat
menyebabkan luka bakar yang parah pada kulit
(misalnya, korosi) dan produk yang menyebabkan iritasi
kulit.

Serious eye
damage/eye irritation
(Kerusakan/iritasi

Tipe bahaya ini mencakup produk yang menyebabkan

mata)

kerusakan serius pada mata (misalnya, korosi) dan
produk yang menyebabkan iritasi mata.

Respiratory or skin

Mencakup produk yang dapat menyebabkan gejala alergi

sensitization

atau asma atau sulit bernapas bila terhirup. sensitizer
kulit adalah produk yang dapat menyebabkan reaksi
alergi pada kulit.

Germ cell
mutagenicity

Mencakup produk yang dapat menyebabkan atau diduga
menyebabkan kerusakan genetis (perubahan permanen
(mutasi) ke sel-sel tubuh yang dapat diwariskan kepada
generasi mendatang).

Carcinogenicity

Mencakup produk yang dapat menyebabkan atau diduga
menyebabkan kanker.

Reproductive toxicity

Mencakup produk yang dapat merusak atau diduga
merusak kesuburan atau bayi yang belum lahir.
Catatan: Ada kategori tambahan yang mencakup produk
yang dapat membahayakan anak-anak yang diberi ASI.
Specific target organ

Mencakup produk yang menyebabkan atau dapat

toxicity – single

menyebabkan kerusakan organ (misalnya, hati, ginjal,

exposure

atau darah) setelah paparan tunggal.
Kelas ini juga mencakup produk yang menyebabkan
iritasi pernapasan atau mengantuk serta pusing.

Specific target organ
toxicity – repeated
exposure

Mencakup produk yang menyebabkan atau dapat
menyebabkan kerusakan organ (misalnya, hati, ginjal,
atau darah) setelah paparan berkelanjutan atau berulangulang.

Aspiration hazard

Kelas bahaya ini adalah untuk produk yang dapat
berakibat fatal jika tertelan dan memasuki saluran udara.

C. Bahaya Lingkungan
Tipe Bahaya

Deskripsi General
Toksisitas akuatik akut berarti sifat intrinsik dari zat

Hazardous to The
Aquatic Environment

menjadi berbahaya bagi organisme dalam paparan jangka
pendek untuk zat tersebut.

Toksisitas air kronis berarti sifat-sifat potensial atau
aktual zat untuk menimbulkan efek buruk bagi organisme
air selama paparan yang ditentukan dalam kaitannya
dengan siklus hidup organisme.
Hazardous to The
Ozone Layer

Ozone Depleting Potential (ODP) adalah kuantitas
integratif, yang berbeda untuk setiap spesies sumber
halocarbon, yang mewakili tingkat penipisan ozon di
stratosfer. Definisi formal dari ODP adalah rasio
gangguan terintegrasi total ozon, untuk emisi massa
diferensial dari senyawa tertentu relatif terhadap emisi
CFC-11.
Data toksisitas akut untuk organisme darat yang
berbeda biasanya akan ditentukan menggunakan EC50

Hazardous to The

atau LC50 untuk makro-organisme yang tinggal di

Terrestrial

tanah/lumpur, seperti invertebrata dan tanaman (Pedoman

Environment

Tes OECD 207, 208, dan 217 atau setara), LC50 untuk
invertebrata dedaunan dan/atau penyerbuk (PPI OECD
213 dan 214 atau setara), dan/atau LD50 untuk vertebrata

seperti burung dan mamalia (Pedoman Tes OECD 223,
401, 420, 423, dan 425 atau setara).
Ketersediaan data toksisitas kronis lebih sedikit dari
data yang akut dan berbagai prosedur pengujian juga
kurang terstandardisasi. Untuk mikro-organisme, EC50
(PPI OECD 216 dan 217 atau setara) dapat diterapkan.
Data yang dihasilkan (NOEC) sesuai dengan Pedoman
Tes OECD 220 dan 222 dapat diterima untuk vertebrata
penghuni tanah/lumpur. Data toksisitas kronis (NOAEL)
untuk vertebrata dapat diperoleh dari tes terhadap burung
dan mamalia yang digunakan dalam risk assessment (PPI
OECD 206, 407-409, 414 -417, 421, 422, 452, dan 453).
Tes

yang

telah

divalidasi

dan

diterima

secara

internasional lainnya juga dapat digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
United

Nations.

2015.

GLOBALLY

HARMONIZED

SYSTEM

OF

CLASSIFICATION AND LABELLING OF CHEMICALS (GHS). New
York & Geneva: United Nations
United Nations. 2006. ENVIRONMENTAL HAZARDS: Classification criteria
for the terrestrial environment. United Nations