You are on page 1of 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tonsilitis diartikan sebagai peradangan pada tonsil palatina yang ditandai
dengan peradangan tonsil, sakit tenggorok, gangguan menelan, dan pembesaran
ringan kelenjar limfe leher. Peradangan biasanya meluas hingga ke adenoid
maupun tonsil lingual (tonsilitis jaringan limfoid di dasar lidah, melibatkan cincin
Waldeyer) dan seringkali bersamaan dengan faringitis, yang dinamakan
tonsilofaringitis. Penyebaran infeksi ini ditransmisikan melalui udara (air borne
droplets), tangan dan ciuman.7
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus didalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil
faringeal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya
membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Adenoid (tonsilla faringeal)
mempunyai struktur limfoidnya tersusun dalam lipatan, sedangkan tonsilla
palatina mempunyai susunan limfoidnya sekitar pembentukan seperti kripta.
Sistem kripta yang kompleks dalam tonsilla palatina mungkin bertanggung jawab
pada kenyataan bahwa tonsilla palatina lebih sering terkena penyakit daripada
komponen cincin limfoid lainnya. 1
Tonsillitis merupakan salah satu dari penyakit THT yang sering
dikeluhkan pasien ketika berobat ke dokter. Banyak aspek yang harus diperhatikan
dalam penanganan tonsillitis ini.

1

Dari sisi penyakitnya, terapinya, tindakannya, akibat – akibat yang
ditimbulkan baik dari penyakitnya sendiri maupun dari terapi atau tindakan yang
dilakukakan.

B. Tujuan
Tujuan umum dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk lebih
mendalami dan memahami kasus tentang tonsillitis. Tujuan khususnya adalah
sebagai pemenuhan tugas laporan kasus kepaniteraan stase THT.

2

BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama

: Ny. A

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 35 tahun

Alamat

: Kp. Mekarjati

No. RM

: 75 21 xx

Tanggal berobat

: 30 Juli 2016

Anamnesis
1. Keluhan utama :
Nyeri tenggorokan 3 bulan yang lalu

2. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan nyeri tenggorokkan 3 bulan yang lalu sebelum
masuk rumah sakit. Pasien merasa nyeri saat menelan makanan. Pasien merasa
ada yang mengganjal pada tenggorokan. Pasien juga merasa sering napas bau
akhir-akhir ini. Keluhan demam kadang ada ditemukan. Keluhan lain seperti
batuk dengan dahak warna putih, sakit kepala, pegal-pegal, sakit pinggul dan sakit
kaki juga kadang dirasakan oleh pasien. Keluhan pilek, nafsu makan menurun,
mual dan muntah serta keluhan pada telinga tidak ditemukan pada pasien

3

3. Riwayat penyakit dahulu :
o Pasien belum pernah merasakan keluhan seperti ini
o Riwayat sakit gigi 1 tahun yang lalu

4. Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada keluhan yang sama di keluarga

5. Riwayat alergi :
Riwayat alergi makanan, debu, cuaca dan obat-obatan disangkal

6. Riwayat pengobatan :
Pasien belum pernah berobat dan minum obat sebelumnya

7. Riwayat Psikososial :
Pasien seorang ibu rumah tangga, sehari-hari pasien sering mengkonsumsi
makanan yang pedas dan berminyak. Pasien jarang membersihkan gigi dan mulut
serta sering mengkonsumsi minuman dingin seperti es. Pasien tidak merokok dan
tidak mengkonsumsi alkohol

Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum

: Sakit sedang

2) Kesadaran

: Composmentis

3) Berat badan

: 48 Kg

4

4) Tanda Vital
- Tekanan darah

: 110/80 mmHg

- Penafasan

: 20 x/menit, teratur

- Nadi

: 80 x/menit, teratur, kuat angkat

- Suhu

: 36.8°C

Status Generalis
1) Kepala : Normocephal (+), rambut berwarna hitam (+), distribusi rata (+)
2) Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+/+),
isokor Ɵ 3mm
3) Telinga : Lihat status lokalis
4) Hidung : Lihat status lokalis
5) Mulut : Mukosa bibir lembab, sianosis (-), stomatitis (-)
6) Tenggorok : Lihat status lokalis
7) Leher : Lihat status lokalis
8) Thorax
Inspeksi : Kedua hemithoraks tampak simetris
Palpasi : Vocal fremitus sama dengan kedua lapang paru
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
9) Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS 5 linea midclavicularis sinistra

5

Perkusi : Batas jantung relatif dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)
10) Abdomen
Inspeksi : Simetris, cembung
Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (-), nyeri tekan 4 kuadran (-)
Perkusi : Timpani pada seluruh kuadran abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal
11) Ekstremitas
Superior : Akral hangat, edema (-/-), CRT < 2 detik
Inferior : Akral hangat, edema (-/-), CRT < 2 detik

B. Status lokalis THT
1. Telinga
Tabel 1. Pemeriksaan Telinga

6

AD
2.

AS

Normotia, hematoma (-),

Aurikula

Normotia, hematoma (-),

perikondritis (-), helix

perikondritis (-), helix

sign (-), edema (-)

sign (-) edema (-)

Peradangan (-), pus (-),

Preaurikula

Peradangan (-), pus (-),

nyeri tekan (-),

nyeri tekan (-),

Pembesaran KGB (-)

Pembesaran KGB (-)

Peradangan (-), pus (-),

Retroaurikula

Peradangan (-), pus (-),

nyeri tekan (-),

nyeri tekan (-),

Pembesaran KGB (-)

Pembesaran KGB (-)

Hiperemis (-), udem (-),

MAE

Hiperemis (-), udem (-),

serumen (-), sekret (-),

serumen (-), sekret (-),

massa (-)

massa (-)

Hiperemis (-), udem (-),

Hiperemis (-), udem (-),

serumen (+) kering,

KAE

sekret (-), massa(-)

serumen (+) kering,
sekret (-), massa(-)

Membran
Intak, refleks cahaya (+)

Intak, refleks cahaya (+)

di jam 5, hiperemis (-),

di jam 7, hiperemis (-),

retraksi (-)

retraksi (-)
timpani
+

Uji Rinne

Lateralisasi (-)

Uji Weber

Sama dengan pemeriksa

Uji

Schwabach
Interpretasi : Tidak ada kelainan berarti
Hidung

+
Lateralisasi (-)
Sama dengan pemeriksa

a. Rinoskopi Anterior
Tabel 2. Pemeriksaan Hidung

7

Dextra
Hiperemis (-)
Hipertrofi (-)
Deviasi (-)
(-)
Normal
b. Sinus paranasal
-

Rhinoskopi anterior
Mukosa
Sekret
Konka inferior
Septum
Massa
Passase udara

Sinistra
Hiperemis (-)
Hipertrofi (-)
Deviasi (-)
(-)
Normal

Inspeksi : Pembengkakan kedua pipi (-), kemerahan kelopak mata
bawah mata (-), pembengkakan kelopak mata atas (-)

-

Palpasi : Nyeri tekan pipi (-), nyeri ketuk pipi (-), nyeri tekan medial
atap orbita (-), nyeri tekan kantus medius (-)

c. Tes penciuman
-

Kanan : 30 cm dengan kopi, 20 cm dengan teh

-

Kiri : 30 cm dengan kopi, 20 cm dengan teh

-

Kesan : Normosmia cavum nasi dekstra dan sinistra

d. Transiluminasi
-

Sinus maksilaris : Normal terang, berbentuk seperti bulan sabit

-

Sinus frontalis : Normal terang, berbentuk seperti sarang tawon

-

Kesan : Tidak ada kelainan yang berarti

3. Tenggorok
Tabel 3. Pemeriksaan Nasofaring

8

Rhinoskopi posterior  Tidak dapat dinilai karena tonsil membesar
Konka superior
tidak dilakukan
Torus tubarius
tidak dilakukan
Fossa Rossenmuller
tidak dilakukan
Plika salfingofaringeal
tidak dilakukan
Tabel 4. Pemeriksaan Orofaring
Pemeriksaan
Dextra

Orofaring

Sinistra

Hiperemis (-)
Simetris (+), bersih(+)
Simetris (+), bersih(+)
Karies (+)
Di tengah (+)
Tonsil
Hiperemis (+)

Mukosa mulut
Lidah
Palatum molle
Gigi geligi
Uvula

Hiperemis (-)
Simetris (+), bersih(+)
Simetris (+), bersih(+)
Karies (+)
Di tengah (+)

Mukosa

Hiperemis (+)

TIII

Besar

Mulut

Tes Pengecapan
Manis (+) Normal
Asin

(+) Normal

Asam (+) Normal
Pahit (+) Normal
Tabel

5. Pemeriksaan Laringofaring
9

Laringoskopi indirect  Tidak dapat dinilai karena tonsil membesar
Epiglotis
tidak dilakukan
Plika ariepiglotika
tidak dilakukan
Plika ventrikularis
tidak dilakukan
Plika vokalis
tidak dilakukan
Rima glotis
tidak dilakukan
4. Maksilofasial
Tabel 6. Pemeriksaan Maksilofasial
Dextra

Nervus

Sinistra

I. Olfaktorius
Normosmia (+)

Penciuman
II. Optikus

Normosmia (+)

(+)

Daya penglihatan

(+)

(+)

Refleks pupil

(+)

III. Okulomotorius
(+)

Membuka kelopak mata

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke superior

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke inferior

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke medial

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke laterosuperior
IV. Troklearis

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke lateroinferior
V. Trigeminal

(+)

Tes sensoris
(+)

Cabang oftalmikus (V1)

(+)

(+)

Cabang maksila (V2)

(+)

(+)

Cabang mandibula (V3)
VI. Abdusen

(+)

(+)

Gerakan bola mata ke lateral
VII. Fasial

(+)

(+)

Mengangkat alis

(+)

(+)

Kerutan dahi

(+)
10

(+)

Menunjukkan gigi

(+)

(+)

Daya kecap lidah 2/3 anterior
VIII. Akustikus

(+)

Normal (+)

Tes garpu tala
IX. Glossofaringeal

Normal (+)

(+)

Refleks muntah

(+)

(+)

Daya kecap lidah 1/3 posterior
X. Vagus

(+)

(+)

Refleks muntah dan menelan

(+)

(-)

Deviasi uvula

(-)

Simetris (+)

Pergerakan palatum
XI. Assesorius

Simetris (+)

(+)

Memalingkan kepala

(+)

(+)

Kekuatan bahu
XII. Hipoglossus

(+)

(-)

Tremor lidah

(-)

(-)

Deviasi lidah

(-)

5. Leher
Tabel 7. Pemeriksaan Kelenjar Tiroid dan Kelenjar Getah Bening (KGB)
Dextra

Pemeriksaan

Sinistra

Pembesaran & nyeri (-)
Pembesaran & nyeri (-)

Tiroid
Kelenjar submental

Pembesaran & nyeri (-)
Pembesaran & nyeri (-)

Pembesaran & nyeri (-)

Kelenjar submandibula

Pembesaran & nyeri (-)

Pembesaran & nyeri (-) Kelenjar jugularis superior
Pembesaran & nyeri (-) Kelenjar jugularis media

Pembesaran & nyeri (-)
Pembesaran & nyeri (-)

Pembesaran & nyeri (-)

Kelenjar jugularis inferior

Pembesaran & nyeri (-)

Pembesaran & nyeri (-)

Kelenjar suprasternal

Pembesaran & nyeri (-)

Pembesaran & nyeri (-)

Kelenjar supraklavikularis

Pembesaran & nyeri (-)

C. Resume

11

Seorang perempuan usia 35 tahun dating dengan keluhan nyeri tenggorokan 3
bulan yang lalu disertai dengan nyeri saat menelan seperti ada rasa mengganjal
dan napas bau akhir-akhir ini. Keluhan lain seperti batuk berdahak warna putih,
sakit kepala, pegal-pegal, sakit pinggul dan kaki dirasakan oleh pasien. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan pembesaran pada tonsil kanan (T3) dan kiri (T3)

D. Diagnosis Banding
1. Tonsillitis kronik hipertrofi
2. Abses peritonsiller bilateral
3. Tumor tonsil bilateral

E. Diagnosa Kerja
Tonsillitis kronik hipertrofi

F. Pemeriksaan Penunjang
o Kultur swab tenggorok
o Hematologi rutin : Hemoglobin, leukosit, hematokrit, trombosit, waktu
perdarahan, dan waktu pembekuan

G. Penatalaksanaan
1. Nonmedikamentosa
o Edukasi penyakit dan pemberian obat kepada pasien
o Datang kembali untuk control, setelah 5 hari pengobatan
12

o Makan makanan 4 sehat 5 sempurna
o Menjaga kebersihan (higienitas) mulut
o Menghindari minum es, makan makanan pedas, manis dan berminyak
2. Medikamentosa
o Coamoksiklav tablet 500 mg 2 x 1
o Parasetamol tablet 500 mg 2 x 1 (bila perlu)
o Ambroksol 30 mg 2 x 1
o Cetirizine 10 mg 1 x 1
o Curcum 2 x 1
3. Rencana Tindakan
o Tonsillektomi diseksi (Indikasi relatif operasi)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Faring

13

Gambar 1. Potongan sagital rongga hidung, rongga mulut, faring, dan laring.

Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong,
yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari
dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi vertebra servikal ke-6.
Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan
berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan
laring di bawah berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan
dengan esofagus. Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa kurang
lebih 14 cm; bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang.1
Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam ke luar) selaput lendir, fasia
faringobasiler, pembungkus otot, dan sebagian fasia bukofaringeal. Faring terbagi
atas nasofaring, orofaring, dan laringofaring (hipofaring). Unsur-unsur faring
meliputi mukosa, palut lendir (mucous blanket) dan otot.1
14

1. Mukosa
Bentuk mukosa faring bervariasi, tergantung pada letaknya. Pada
nasofaring karena fungsinya untuk saluran respirasi, maka mukosanya bersilia,
sedamng epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet. Di bagian
bawahnya, yaitu orofaring dan laringofaring, karena fungsinya untuk saluran
cerna, epitelnya berlapis gepeng dan tidak bersilia. Di sepanjang faring dapat
ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang terletak dalam rangkaian jaringan ikat
yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial. Oleh karena itu, faring dapat
disebut juga daerah pertahanan tubuh terdepan. 1
2. Palut lendir (mucous blanket)
Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernapasan yang diisap melalui
hidung. Di bagian atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak di atas
silia dan bergerak sesuai dengan arah gerak silia ke belakang. Palut lendir ini
mengandung enzim lysozyme yang penting untuk proteksi. 1
3. Otot
Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan
memanjang (longitudinal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari m. Konstriktor
faring superior, media, dan inferior. Otot-otot ini terletak di sebelah luar.1
Otot-otot ini berbentuk kipas dengan tiap bagian bawahnya menutup
sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Di sebelah depan, otot-otot ini
bertemu satu sama lain dan di belakang bertemu pada jaringan ikat yang disebut
“rafe faring” (raphe pharyngis). Kerja otot konstriktor untuk mengecilkan lumen

15

faring. Otot-otot ini dipersarafai oleh n.Vagus (n.X). Otot-otot yang longitudinal
adalah m.Stilofaring dan m. Palatofaring. Letak otot-otot ini di sebelah dalam.
M.Stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan menarik laring, sedangkan
m.palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan menaikkan bagian bawah
faring dan laring. Jadi kedua otot ini bekerja sebagai elevator. Kerja kedua otot itu
penting sewaktu menelan. M. Stilofaring dipersarafi oleh n.IX sedangkan m.
Palatofaring dipersarafi oleh n.X. Pada palatum mole terdapat lima pasang otot
yang dijadikan satu dalam satu sarung fasia dari mukosa yaitu m. Levator veli
palatini, m. Tensor veli palatini, m. Palatoglosus, m. Palatofaring, dan m. Azigos
uvula.1
a. M. Levator veli palatini membentuk sebagian besar palatum mole dan
kerjanya untuk menyempitkan ismus faring dan memperlebar ostium tuba
Eustachius. Otot ini dipersarafi oleh n. X
b. M. Tensor veli palatini membentuk tenda palatum mole dan kerjanya
untuk mengencangkan bagian anterior palatum mole dan membuka tuba
Eustachius. Otot ini dipersarafi oleh n. X
c. M. Palatoglosus membentuk arkus anterior faring dan kerjanya
menyempitkan isthmus faring. Otot ini dipersarafi oleh n. X
d. M. Palatofaring membentuk arkus posterior faring. Otot ini dipersarafi
oleh n. X
e. M.Azigos uvula merupakan otot yang kecil, kerjanya memperpendek dan
menaikkan uvula ke belakang atas. Otot ini dipersarafi oleh n. X

16

Gambar 2. Rongga mulut
Pendarahan
Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak
beraturan. Yang utama berasal dari cabang a. Karotis eksterna (cabang faring
asendens dan cabang fasial) serta dari cabang a. Maksila interna yakni cabang
palatina superior.1
Persarafan
Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus daring
yang ekstensif. Plesksus ini dibentuk oleh cabang faring dari n.Vagus, cabang dari
n. Glososfaring dan serabut simpatis. Cabang faring dari n. Vagus berisi serabut
motorik. Dari pleksus faring yang ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otototot faring kecuali m. Stilofaring yang dipersarafi langsung oleh cabang n.
Glosofaring (n.IX).1
Kelenjar getah bening
Aliran limfe dari dinding faring dapat melalui 3 saluran, yakni superior,
media, dan inferior. Saluran limfa superior mengalir ke kelenjar getah bening
retrofaring dan kelenjar getah bening servikal dalam atas. Saluran limfa media
17

mengalir ke kelenjar getah bening jugulo-digastrik dan kelenjar servikal dalam
atas, sedangkan saluran limfa inferior mengalir ke kelenjar getah bening dalam
bawah.1
Pembagian faring

Gambar 3. Pembagian nasofaring

Berdasarkan letaknya faring dibagi atas :
1. Nasofaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian bawah
adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke
belakang adalah verrtebra servikal.1
Nasofaring yang relatif kecil, mengandung serta berhubungan dengan
beberapa struktur penting, seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding
lateral faring dengan resesus faring yang disebut fosa Rosenmuller,
kantong Rathke, yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis
serebri, torus Tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan
18

kartilago tuba Eustachius, koana, foramen Jugulare, yang dilalui oleh n.
Glosofaring, n.Vagus, dan n.Asesorius spinal saraf kranial dan v.Jugularis
interna, bagian petrosus os.Temporalis dan foramen laserum, dan muara
tuba Eustachius.1
2. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring, dengan batas atanya adalah palatum
mole, batas bawah adalah tepi atas epiglotis, ke depan adalah rongga
mulut, sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal. Struktur yang
terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterio faring, tonsil palatina,
fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual,
dan foramen sekum.1
3. Laringofaring (hipofaring)
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas epiglotis, batas
anterior ialah laring, batas inferior ialah esofagus, serta batas posterior
adalah vertebra servikal. Bila laringofaring diperiksa dengan kaca
tenggorok pada pemeriksaan laring tidak langsung atau dengan
laringoskop pada pemeriksaan laring langsung, maka struktur pertama
yang tampak di bawah dasar lidah adalah valekula.1
Bagian ini merupakan dua buah cekungan yang dibentuk oleh ligamentum
glosoepiglotika medial dan ligamentum glosoepiglotika lateral pada tiap
sisi. Valekula disebut juga “kantong pil” (pill’s pocket), sebab pada
beberapa orang, kadang-kadang bila menelan pil akan tersangkut disitu. Di
bawah valekula terdapat epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk omega

19

dan pada perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang-kadang
bentuk infantil (bentuk omega) ini tetap sampai dewasa. Dalam
perkembangannya, epiglotis ini dapat menjadi demikian lebar dan tipisnya
sehingga pada pemeriksaan laringoskopi tidak langsung tampak menutupi
pita suara. Epiglotis berfungsi juga untuk melindungi (proteksi) glotis
ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus tersebut
menuju ke sinus piriformis dan ke esofagus. Nervus Laring superior
berjalan di bawah dasar sinus piriformis pada tiap sisi laringofaring. Hal
ini penting untuk diketahui pada pemberian analgesia lokal di faring dan
laring pada tindakan laringoskopi langsung. 1

B. Fisiologi Faring
Fungsi faring yang utama ialah untuk respirasi, pada waktu menelan,
resonansi suara, dan untuk artikulasi. 1,7
1. Fungsi menelan
Terdapat 3 fase dalam proses menelan yaitu fase oral, fase faringeal, dan
fase esofageal. Fase oral (voluntary), bolus makanan dari mulut menuju ke
faring.1
Fase faringeal (involuntary) yaitu pada waktu transpor bolus makanan
melalui faring. Fase esofagal (involuntary) yaitu pada waktu bolus
makanan bergerak secara peristaltik di esofagus menuju lambung.1
2. Fungsi faring dalam proses bicara

20

Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot
palatum dan faring. Gerakan ini antara lain berupa pendekatan palatum
mole ke arah dinding belakang faring. Gerakan penutupan ini terjadi
sangat cepat dan melibatkan mula-mula m. Salfingofaring dan m.
Palatofaring, kemudian m. Levator veli palatini bersama-sama m.
Konstriktor faring superior. Pada gerakan penutupan nasofaring m.
Levator veli palatini menarik palatum mole ke atas belakang hampir
mengenai dinding posterior faring. Jarak yang tersisa ini diisi oleh tonjolan
Passavant pada dinding belakang faring yang terjadi akibat 2 macam
mekanisme, yaitu pengangkatan faring sebagai hasil gerakan m.
Palatofaring (bersama m. Salfingofaring) dan oleh kontraksi aktif
m.Konstriktor faring superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak
pada waktu yang bersamaan. Ada yang berpendapat bahwa tonjolan
Passavant ini menetap pada periode fonasi, tetapi ada pula pendapat yang
mengatakan tonjolan ini timbul dan hilang secara cepat bersamaan dengan
gerakan palatum. 1

C. Anatomi Tonsil
Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang
terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus
didalamnya, bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan

21

dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil
palatina, dan tonsil lingual yang membentuk lingkaran yang disebut cincin
Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara kedua pilar fausium dan
berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini. Tonsil palatina yang biasanya
disebut tonsil saja terletak didalam fosa tonsil. Fosa tonsil dibatasi oleh arkus
faring anterior dan arkus faring posterior. Arkus faring anterior dibentuk oleh
muskulus Palatoglosus yang kerjanya menyempitkan ismus faring, otot ini
dipersarafi oleh nervus Vagus (N.X). Sedangkan arkus faring posterior dibentuk
oleh muskulus palatofaring, otot ini juga dipersarafi oleh nervus Vagus (N.X).
Batas lateral fosa tonsil adalah muskulus Konstriktor faring superior. Pada batas
atas yang disebut kutub atas (upper pole) terdapat suatu ruang kecil yang
dinamakan fosa supra tonsil. Fosa ini berisi jaringan ikat jarang dan biasanya
merupakan tempat nanah memecah keluar bila terjadi abses. Fosa tonsil diliputi
oleh fasia yang merupakan bagian dari fasia bukofaring, dan disebut kapsul yang
sebenarnya bukan merupakan kapsul yang sebenarnya. Pada kutub atas tonsil
seringkali ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa kantong faring yang
kedua. Kutub bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah. Permukaan medial
tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah yang disebut kriptus.
Epitel yang melapisi tonsil adalah epitel skuamosa yang juga meliputi kriptus.1
Didalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang
terlepas, bakteri dan sisa makanan. Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia
faring yang sering juga disebut kapsul tonsil. Kapsul ini tidak melekat erat pada
otot faring, sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsillektomi. Tonsil

22

mendapat darah dari arteri Palatina minor, arteri Palatina asendens, cabang tonsil
arteri Maksila eksterna, arteri Faring asendens dan arteri Lingualis dorsal.1

Gambar 5. Cincin Waldeyer
Tonsil lingual terletak didasar lidah dan dibagi menjadi 2 oleh ligamentum
glosoepiglotika. Digaris tengah, disebelah anterior massa ini terdapat foramen
sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papila sirkumvalata. Tempat
ini kadang-kadang menunjukkan penjalaran duktus tiroglosus dan secara klinik
merupakan tempat penting bila ada massa tiroid lingual (lingual thyroid) atau
kista duktus tiroglossus. Tonsil diperdarahi oleh beberapa cabang pembuluh darah,
yaitu : 1
o Palatina ascenden, cabang A. Fasialis, memperdarahi daerah posteroinferior
o A. Tonsilaris, cabang A. Fasialis, memperdarahi daerah antero-inferior
o A. Lingualis dorsalis, cabang A. Maksilaris interna, memperdarahi daerah
antero-media

23

o A. Faringeal ascenden, cabang A. Karotis eksterna, memperdarahi daerah
postero-superior
o A. Palatida descenden dan cabangnya, A. Palatina mayor dan A. Palatina
minor, memperdarahi daerah antero-superior
Daerah vena dialirkan melalui pleksus venosus perikapsular ke V.
Lingualis dan pleksus venosus faringeal, yang kemudian bermuara ke V. Jugularis
interna. Pembuluh darah vena tonsil berjalan dari palatum, menyilang bagian
lateral kapsula dan selanjutnya menembus dinding faring.1

Gambar 6. Vaskularisasi tonsil
Tonsil tidak mempunyai sistem limfatik aferen. Aliran limfe dari parenkim
tonsil ditampung pada ujung pembuluh limfe eferen yang terletak pada trabekula
yang kemudian membentuk pleksus pada permukaan luar tonsil dan berjalan
menembus M. konstrikstor faringeus superior, selanjutnya menembus fasia
bukofaringeus dan akhirnya menuju kelenjar servikalis profunda yang terletak
sepanjang pembuluh darah besar leher, dibelakang dan di bawah arkus
mandibula.1
Kemudian aliran limfe ini dilanjutkan ke nodulus limfatikus daerah dada,
untuk selanjutnya bermuara ke duktus toraksikus.1

24

Gambar 7. Aliran limfe tonsil
Inervasi tonsil terutama melalui N. Palatina mayor dan minor (cabang N.
V2) dan N. Lingualis (cabang N. IX). Nyeri pada tonsillitis sering menjalar ke
telinga, hal ini terjadi karena N. IX juga mempersarafi membran timpani dan
mukosa telinga tengah melalui Jacobson’s nerve. Peranan tonsil dalam mekanisme
pertahanan tubuh masih diragukan meskipun fungsinya memproduksi sel-sel
limfosit. Berdasarkan penelitian, ternyata tonsil memegang peranan penting dalam
fase-fase awal kehidupan, terhadap infeksi mukosa nasofaring dari udara
pernafasan sebelum masuk kedalam saluran nafas bagian bawah. Hasil penelitian,
mengenai kadar antibodi tonsil menunjukkan bahwa parenkim tonsil memang
mampu memproduksi antibodi. Penelitian terakhir menyatakan bahwa tonsil
memegang peranan dalam memproduksi IgA, yang menyebabkan jaringan lokal
resisten terhadap organisme patogen. Sewaktu baru lahir tonsil secara histologis
tidak mempunyai ‘centrum germinativum’, biasanya berbentuk kecil. Setelah
antibodi ibu habis, barulah mulai terjadi pembesaran tonsil dan adenoid, yang
pada permulaan kehidupan masa kanak-kanak dianggap normal dan dipakai
sebagai indeks aktifitas sistem imun.1
Pada waktu pubertas atau sebelum masa pubertas, terjadi kemunduran
fungsi tonsil yang disertai proses involusi. Organisme-organisme patogen yang
terdapat pada flora normal tonsil dan faring tidak menimbulkan peradangan,

25

karena pada daerah ini terdapat mekanisme pertahanan dan hubungan timbal balik
antara berbagai jenis organisme. 1

D. Tonsillitis
Tonsillitis adalah inflamasi pada tonsila palatina yang disebabkan oleh
infeksi virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui
hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter (penyaring) menyelimuti
organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan
memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang
akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau
virus tersebut maka akan timbul tonsillitis.3
1. Tonsilitis akut
a. Etiologi
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus β
hemolitikus, Pneumokokus, Streptokokus viridans, dan Streptokokus
pyogenes. Hemophylus influenzae  penyebab tonsillitis akut supuratif. 3

Gambar 8. Tonsillitis akut
b. Patofisiologi
Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi
lapisan epitel, kemudian bila kuman ini mengikis maka jaringan limfoid
26

superficial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi
leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Detritus ini
merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas.
Secara klinis detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai bercak
kuning. Bentuk tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis
folikularis. Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk aluralur maka akan terjadi tonsillitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat
melebar sehingga terbentuk membran semu (pseudomembrane) yang
menutupi tonsil. 2,3
c. Manifestasi klinik
Gejala dan tanda-tanda yang ditemukan dalam tonsillitis akut ini meliputi
demam dengan suhu tubuh yang tinggi, nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu
menelan, nafas yang berbau, rasa lesu, rasa nyeri di persendian, tidak nafsu
makan, dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Rasa nyeri ditelinga ini karena
nyeri alih (referred pain) melalui saraf n.Glosoaringius (n.IX).3
Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak, hiperemis, dan
terdapat detritus berbentuk folikel, lacuna atau tertutup oleh membrane
semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan. 3

d. Komplikasi
Otitis media akut (pada anak-anak), abses peritonsil, abses parafaring,
toksemia, septicemia, bronchitis, nefritis akut, miokarditis, dan arthritis. 3
e. Pemeriksaan
27

Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang
ada dalam tubuh pasien merupakan bakteri grup A, karena grup ini disertai
dengan demam reumatik, glomerulonefritis. 3
Pemeriksaan penunjang
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan. 3
f. Perawatan
Tindakan operasi hanya dilakukan jika sudah mencapai tonsillitis yang
tidak dapat ditangani sendiri. 3
Perawatan sendiri  Apabila penderita tonsillitis diserang karena virus
sebaiknya biarkan virus itu hilang dengan sendirinya. Selama satu atau dua
minggu sebaiknya penderita banyak istirahat, minum minuman hangat.
Antibiotik  Jika tonsillitis disebabkan oleh bakteri maka antibiotic yang
akan berperan dalam proses penyembuhan. Antibiotik oral perlu dimakan
selama setidaknya 10 hari.
Tindakan operasi  Tonsillektomi biasanya dilakukan jika pasien
mengalami tonsillitis selama tujuh kali atau lebih dalam setahun, pasien
mengalami tonsillitis lima kali atau lebih dalam dua tahun, tonsil
membengkak dan berakibat sulit bernafas, adanya abses.
2. Tonsilitis Membranosa
Tonsillitis membranosa adalah radang akut tonsil disertai pembentukan selaput
atau membrane pada permukaan tonsil yang dapat meluas kesekitarnya. Bila
eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang bengkak menyerupai membran.

28

Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih
kekuning-kuningan. 3

3. Tonsillitis difteri
Frekuensi penyakit ini sudah menurun berkat keberhasilan imunisasi pada
bayi dan anak. Penyebab tonsillitis difteri ialah kuman Coryne bacterium
diphteriae, kuman yang termasuk dalam gram positif dan hidung disaluran
nafas bagian atas yaitu hidung, faring, dan laring. Tonsillitis difteri sering
ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan frekuensinya tertinggi
pada usia 2 – 5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita
penyakit ini. 3
a.

Gejala dan Tanda
Dibagi kedalam tiga golongan: 3
-

Gejala umum, sama seperti dengan gejala infeksi lainnya seperti;
kenaikan suhu, tidak nafsu makan, badan lemah, nyeri kepala, nyeri
menelan, dan nadi melambat.

-

Gejala Lokal, tampak tonsil membengkak ditutupi oleh bercak putih
kotor yang semakin lama semakin meluas dan membentuk membrane
semu, kemudian meluas hingga palatume mole, uvula, nasofaring,
laring, trakea, dan bronkus yang dapat menghambat saluran nafas. Bila
penyakit ini berkembang terus kelenjar limfe leher akan membengkak
dan disebut dengan bull neck ( leher sapi ).

29

-

Gejala akibat eksotoksin, yang dikeluarkan oleh kuman yang dapat
menimbulkan kerusakan jaringan tubuh seperti jantung menjadi
miokarditis sampai dekompensasi kordis, kemudian mengenai safar
cranial yang dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otototot pernafasan dan ginjal menimbulkan albuminuria.

b.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemerikasaan
refarat kuman yang diambil dari permukaan membrane semu dan
didapatkan kuman Corynebacterium diptheriae. 3

Gambar 9. Tonsillitis difteri
c.

Terapi 3
-

Antibiotik Penisilin / Eritromisin 25 – 50 mg/ kgBB dalam 3
dosis selama 14 hari

-

Kortikosteroid 1,2 mg/kgBB per hari

Anti difteri serum (ADS) diberikan tanpa menunggu hasil kultur
dengan dosis 20.000 sampai dengan 100.000 ribu unit, tergantung dari
umur dan berat penyakit

d.

Komplikasi
Dapat terjadi laryngitis difteri dengan cepat, membrane semu menjalar ke
laring dan menyebabkan sumbatan. Makin muda usia pasien makin cepat
30

timbul komplikasi. Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata akomodasi,
otot faring serta otot laring. Albuminemia sebagai akibat komplikasi ke
ginjal. 3

4. Tonsilitis Septik
Penyebab tonsillitis septik adalah Streptococcus hemoliticus yang terdapat
dalam susu sapi sehingga dapat timbul epidemic. Oleh karena di Indonesia
susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum. Gejalanya
antara

lain demam tinggi, sakit sendi, malaise, nyeri kepala, mual dan

muntah. Tanda klinis yaitu mukosa faring dan tonsil hiperemis, bercak putih,
edema sampai uvula, mulut bau. Terapi yaitu pemeberian antibiotic dan terapi
simptomatik. 3

Gambar 10. Tonsillitis septik

5. Angina Plaut Vincent ( Stomatitis Ulsero Membranosa )
Penyebabnya adalah bakteri spinochaeta atau triponema yang didapatkan pada
penderita dengan hygiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. 3
a. Gejala
Demam sampai 39˚ C, nyeri kepala, badan lemah, gangguan pencernaan,
nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah. 3
31

b. Pemeriksaan
Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan
diatas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveoluris, mulut
berbau dan kelenjar sub mandibula membesar. 3

Gambar 11. Angina plaut vincent
c. Terapi
Antibiotika spectrum luas selama 1 minggu. Memperbaiki hygiene mulut.
Vitamin C dan vitamin B kompleks.3

6. Penyakit Kelaianan Darah
Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina agranulositosis dan infeksi
mononucleosis timbul difaring atau di tonsil yang tertutup membrane semu.
Kadang – kadang terdapat perdarahan di selaput lender dan mulut dan faring
serta pembesaran submandibula. 3
o Leukemia Akut

32

Gejala pertama berupa epistaksis, perdarahan di mukosa mulut, gusi dan di
bawah kulit sehingga bercak kebiruan. Tonsil bengkak ditutupi membrane
semu tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebat di tenggorok. 3
o Angina Agranulositosis
Penyebabnya adalah akibat keracunan obat dari golongan amidopirin,
sulfa dan asren. Pada pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan
faring serta di sekitar ulkus tampak gejala radang. Ulkus ini juga dapat
ditemukan di genitalia dan saluran cerna. 3

Gambar 12. Angina agranulositosis
o Infeksi Mononukleosis
Pada penyakit ini terjadi tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral.
Membran semu yang menutupi ulkus mudah diangkat tanpa timbul
perdarahan. Terdapat pembesaran kelenjar limfa leher, ketiak dan
regioinguinal. Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit mononukleus
dalam jumlah besar. Tanda khas lain adalah kesanggupan serum pasien
untuk beraglutinasi terdapat sel darah merah domba (reaksi Paul Bunnel).3

33

Gambar 13. Infeksi mononukleosis
7. Tonsilitis kronis
a. Etiologi
Bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut ,
namun terkadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram
negatif. 3
b. Faktor predisposisi
Higien mulut yang buruk, pengobatan tonsillitis akut yang tidak
adekuat, rangsangan kronik karena rokok maupun makanan. 3
c. Patofisiologi
Karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan jarinagan
limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid
diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga
ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini
meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan
dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. 3
d. Pemeriksaan
o Terapi
34

Terapi mulut (terapi lokal) ditujukan kepada higien mulut dengan
berkumur atau obat isap. Terapi radikal dengan tonsillektomi bila
terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala sumbatan serta
curiga neoplasma. 3
o Faktor penunjang
Kultur dan uji resistensi kuman dari sedian apus tonsil.

Gambar 14. Tonsilitis kronik
e. Komplikasi
Timbul

rhinitis

kronis,

sinusitis

atau

otitis

media

secara

perkontinuitatum, endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis,
iridosiklitus, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis. 3
f. Indikasi Tonsillektomi
Tonsilektomi menurut American Academy of Otolaryngology (AAO): 3
o Indikasi Absolut
-

Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran
napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi
kardiopulmoner.
35

-

Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan
medis dan drainase.

-

Tonsillitis yang menimbulkan kejang demam.

-

Tonsillitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan
patologi anatomi

o Indikasi Relatif
-

Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan
terapi antibiotik adekuat.

-

Halitosis akibat tonsillitis kronik yang tidak membaik dengan
pemberian terapi medis.

-

Tonsillitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang
tidak membaik dengan pemberian antibiotik β-laktamase
resisten

g. Teknik-Teknik Tonsillektomi
Guillotine
Tonsilektomi caraguillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke
19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk
mengangkat tonsil. Namun tidak ada literatur yang menyebutkan kapan
tepatnya metode ini mulai dikerjakan. Tonsilotom modern atau
guillotine dan berbagai modifikasinya merupakan pengembangan dari
sebuah alat yang dinamakan uvulotome. Uvulotome merupakan alat
yang dirancang untuk memotong uvula yang edematosa atau elongasi.5

36

Kepustakaan lama menyebutkan beberapa keuntungan teknik ini yaitu
cepat, komplikasi anestesi kecil, biaya kecil. 5
Diseksi
Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Di
negara-negara Barat, terutama sejak para pakar bedah mengenal
anestesi

umum

dengan

endotrakeal

pada

posisi

Rose

yang

mempergunakan alat pembuka mulut Davis, mereka lebih banyak
mengerjakan tonsillektomi dengan cara diseksi. Cara ini juga banyak
digunakan pada pasien anak. Walaupun telah ada modifikasi teknik dan
penemuan peralatan dengan desain yang lebih baik untuk tonsillektomi,
prinsip dasar teknik tonsillektomi tidak berubah. Pasien menjalani
anestesi umum (general endotracheal anesthesia). Teknik operasi
meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis tengah, insisi
membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil dan
mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati. Lalu dilakukan
hemostasis dengan elektokauter

atau ikatan. Selanjutnya dilakukan

irigasi pada daerah tersebut dengan salin. Bagian penting selama
tindakan adalah memposisikan pasien dengan benar dengan mouth gag
pada tempatnya. Lampu kepala digunakan oleh ahli bedah dan harus
diposisikan serta dicek fungsinya sebelum tindakan dimulai.Mouth gag
diselipkan dan bilah diposisikan sehingga pipa endotrakeal terfiksasi
aman diantara lidah dan bilah.5

37

Mouth gag paling baik ditempatkan dengan cara membuka mulut
menggunakan jempol dan 2 jari pertama tangan kiri, untuk
mempertahankan pipa endotrakeal tetap di garis tengah lidah. Mouth
gag diselipkan dan didorong ke inferior dengan hati-hati agar ujung
bilah tidak mengenai palatum superior sampai tonsil karena dapat
menyebabkan perdarahan. Saat bilah telah berada diposisinya dan pipa
endotrakeal dan lidah di tengah, wire bail untuk gigi atas dikaitkan ke
gigi dan mouth gag dibuka.Tindakan ini harus dilakukan dengan
visualisasi

langsung

untuk

menghindarkan

kerusakan

mukosa

orofaringeal akibat ujung bilah. Setelah mouth gag dibuka dilakukan
pemeriksaan secara hati-hati untuk mengetahui apakah pipa endotrakeal
terlindungi adekuat, bibir tidak terjepit, sebagian besar dasar lidah
ditutupi oleh bilah dan kutub superior dan inferior tonsil terlihat. Kepala
di ekstensikan dan mouth gag dielevasikan. Sebelum memulai operasi,
harus dilakukan inspeksi tonsil, fosa tonsilar dan palatum durum dan
molle. Mouth gag yang dipakai sebaiknya dengan bilah yang
mempunyai alur garis tengah untuk tempat pipa endotrakeal (ring
blade). Bilah mouth gag tersedia dalam beberapa ukuran. Anak dan
dewasa (khususnya wanita) menggunakan bilah no. 3 dan laki-laki
dewasa memerlukan bilah no. 4. Bilah no. 2 jarang digunakan kecuali
pada anak yang kecil.Intubasi nasal trakea lebih tepat dilakukan dan
sering digunakan oleh banyak ahli bedah bila tidak dilakukan
adenoidektomi. 5,6

38

Electrosurgery (Bedah listrik)
Awalnya, bedah listrik tidak bisa digunakan bersama anestesi umum,
karena mudah memicu terjadinya ledakan.Namun, dengan makin
berkembangnya zat anestetik yang nonflammable dan perbaikan
peralatan operasi, maka penggunaan teknik bedah listrik makin meluas.
Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik (energi
radiofrekuensi) untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio
yang digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0.1
hingga 4 MHz. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah
terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung. Pada teknik ini
elektroda tidak menjadi panas, panas dalam jaringan terbentuk karena
adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini.Teknik ini menggunakan
listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik (electrical
pathway).4,5 Teknik

bedah listrik yang paling paling umum adalah

monopolar blade, monopolar suction, bipolar dan prosedur dengan
bantuan mikroskop. Tenaga listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40
W untuk memotong, menyatukan atau untuk koagulasi.Bedah listrik
merupakan satu-satunya teknik yang dapat melakukan tindakan
memotong dan hemostase dalam satu prosedur. Dapat pula digunakan
sebagai tambahan pada prosedur operasi lain. 5
Radiofrekuensi
Pada teknik radiofrekuensi, elektroda disisipkan langsung ke jaringan.5,6

39

Densitas baru di sekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuat
kerusakan bagian jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode
4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil dan total volume
jaringan berkurang. Pengurangan jaringan juga dapat terjadi bila energi
radiofrekuensi diberikan pada medium penghantar seperti larutan
salin.Partikel yang terionisasi pada daerah ini dapat menerima cukup
energi untuk memecah ikatan kimia di jaringan. Karena proses ini
terjadi pada suhu rendah (40° C - 70° C), mungkin lebih sedikit jaringan
sekitar yang rusak. Alat radiofrekuensi yang paling banyak tersedia
yaitu alat Bovie, Elmed Surgitron system (bekerja pada frekuensi 3,8
MHz), the Somnus somnoplasty system (bekerja pada 460 kHz), the
ArthroCare coblation system dan Argon plasma coagulators. Dengan
alat ini, jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya, ablasi sebagian atau
berkurang

volumenya.Penggunaan

teknik

radiofrekuensi

dapat

menurunkan morbiditas tonsilektomi.Namun masih diperlukan studi
yang lebih besar dengan desain yang baik untuk mengevaluasi
keuntungan dan analisa biaya dari teknik ini. 5,6
Skalpel harmonic
Skalpel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong
dan mengkoagulasikan jaringan dengan kerusakan jaringan minimal.
Teknik ini menggunakan suhu yang lebih rendah dibandingkan
elektrokauter dan laser.5,6

40

Dengan elektrokauter atau laser, pemotongan dan koagulasi terjadi bila
temperatur sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat memecah sel
tersebut (biasanya 150° C – 400° C), sedangkan dengan skalpel
harmonik temperatur disebabkan oleh friksi jauh lebih rendah (biasanya
50° C - 100° C). Sistem skalpel harmonik terdiri atas generator 110
Volt, handpiece dengan kabel penyambung, pisau bedah dan pedal kaki.
Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang
bergetar dengan frekuensi 55,5 kHz sejauh lebih dari 80 µm (paling
penting), dan hasil dari pergerakan maju mundur yang cepat dari ujung
pemotong saat kontak dengan jaringan yang menyebabkan peningkatan
dan penurunan tekanan jaringan internal, sehingga menyebabkan
fragmentasi berongga dan pemisahan jaringan. Koagulasi muncul ketika
energi mekanik ditransfer kejaringan, memecah ikatan hidrogen tersier
menjadi protein denaturasi dan melalui pembentukan panas dari friksi
jaringan internal akibat vibrasi frekuensi tinggi. Dibandingkan dengan
teknik diseksi standar dan elektrokauter, teknik ini mengurangi nyeri
pascaoperasi. 5,6
Coblation
Teknik coblation juga dikenal dengan nama plasma-mediated tonsillar
ablation, ionised field tonsillar ablation; radiofrequency tonsillar
ablation; bipolar radiofrequency ablation; cold tonsillar ablation. 5

41

Teknik ini menggunakan bipolar electrical probe untuk menghasilkan
listrik radiofrekuensi (radiofrequency electrical) baru melalui larutan
natrium klorida. Keadaan ini akan menghasilkan aliran ion sodium
yang dapat merusak jaringan sekitar. Coblationprobe memanaskan
jaringan sekitar lebih rendah dibandingkan probe diatermi standar (suhu
60° C (45 - 85° C) dibanding lebih dari 100° C). National Institute for
clinical excellence menyatakan bahwa efikasi teknik coblationsama
dengan teknik tonsilektomi standar tetapi teknik ini bermakna
mengurangi rasa nyeri, tetapi komplikasi utama adalah perdarahan. 5
Intracapsular partial tonsillectomy
Intracapsular tonsillectomy merupakan tonsilektomi parsial yang
dilakukan dengan menggunakan mikrodebrider endoskopi. Meskipun
mikrodebrider endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk
tindakan tonsillektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai
ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil
tanpa melukai kapsulnya. Pada tonsillektomi intrakapsular, kapsul tonsil
disisakan untuk menghindari terlukanya otot-otot faring akibat tindakan
operasi dan memberikan lapisan “pelindung biologis” bagi otot dari
sekret. Hal ini akan mencegah terjadinya perlukaan jaringan dan
mencegah terjadinya peradangan lokal yang menimbulkan nyeri,
sehingga mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat waktu
pemulihan. Jaringan tonsil yang tersisa akan meningkatkan insiden
tonsillar regrowth.5

42

Tonsillar regrowth dan tonsilitis kronis merupakan hal yang perlu
mendapat

perhatian

khusus

dalam

teknik

tonsilektomi

intrakapsuler.Tonsilitis kronis dikontraindikasikan untuk teknik ini.
Keuntungan teknik ini angka kejadian nyeri dan perdarahan pasca
operasi lebih rendah dibanding tonsilektomi standar.Tetapi masih
diperlukan studi dengan desain yang baik untuk menilai keuntungan
teknik ini. 5

43

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Tonsillitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman
Streptococcus beta hemolyticus, Streptococcus viridians, Streptococcus pyogenes,
Pneumococcus, Haemophylus influenzae dan Staphylococcus, dapat juga
disebabkan oleh virus.Tonsillitis kronik merupakan hasil dari serangan tonsillitis
akut yang berulang. Kuman-kuman penyebab menginfiltrasi lapisan epitel dan
terjadi reaksi jaringan limfoid superfisial. Terdapat pembendungan radang dengan
infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Proses ini tampak sebagau detritus pada
korpus tonsil. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang
terlepas, suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis folikularis, bila
bercak detritus berdekatan menjadi satu maka terjadi tonsillitis lakunaris.
Manifestasi klinik tonsillitis akut berupa sakit tenggorokan, sakit saat
menelan, muntah, tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri
pada seluruh badan, sakit kepala dan sakit pada telinga. Pada tonsillitis dapat
mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan
tonsil. Komplikasi dapat berupa abses peritonsil, otitis media akut, mastioditis,
laryngitis, sinusitis, rinitis, endokarditis bakterialis, arthritis reumatoid, GNAPS
dan lain-lain. Penatalaksanaan tonsilitis akut dapat diberikan obat-obat
simpotamatis dan antibiotic. Sedangkan tonsilitis kronis dapat diberikan
coamoxiclav dan antipiretik-analgesik paracetamol.

44

Terdapat dua indikasi tonsillektomi, yaitu indikasi yang bersifat relatif dan
absolut. Sedangkan terdapat 8 buah metode tonsilektomi.

B.

Saran
Tonsillitis seringkali menyebabkan gangguan menelan, umumnya pada
anak-anak. Sebagai dokter, maka perlu diberikan penjelasan tentang penyakit,
komplikasi, serta pilihan terapi baik dengan obat maupun tindakan pembedahan.
Dokter juga harus memberikan informasi tentang hal-hal yang dapat
menyebabkan kambuhnya penyakit ini.

45

DAFTAR PUSTAKA

1. Rusmarjono, Bambang Hermani. Nyeri Tenggorok. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ketujuh. Jakarta:
FKUI, 2014. h. 192 dan h.198 – 203
2. Standar Pelayanan Medis 10 Penyakit Terbanyak. RSHS Bandung. 2004. h. 68 –
69
3. Adam, Goerge L.1997. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring dalam:
Boeis Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. EGC. Jakarta
4. Ballenger JJ. Diseases of the oropharynx. In: Otorhinolaryngology head and the
neck surgery. 15th Ed. Lea Febiger Book. Baltimore, Philadelphia, Hongkong,
London, Munich, Sydney, Tokyo, 1995:236-44
5. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, dan
Tenggorok. Edisi III. RSUD Dr. Soetomo. Surabaya. 2005. h. 46 – 47
6. Ganong, Williem S. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. 2003
7. Tanto, Chris. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Ed 4. Jakarta : Media
Aesculapius. 2014.

46