FIQIH

GALAK GAMPIL
Menggali Dasar Tradisi Keagamaan
Muslim ‘ala Indonesia

1

Judul:
Fiqih Galak Gampil Edisi Revisi
Menggali Tradisi Keagamaan Muslim ‘Ala Indonesia
Penyusun:
Santri Madrasah Diniyah Mu’allimin Mu’allimat Darut Taqwa Pondok
Pesantren Ngalah Periode 1430/1431 H
Koordinator:
Ahmad Muhtadin, S.Psi.
Dewan Pentashih:
H. M. Afif Dimyati
Ghozali, S.Ag, S.Pd.
M. Faidlus Syukri
Ainul Mufid, S.PdI.
M. Fauzi al-Bangkalany
Abd. Rahman, M.Pd.
Tata Letak:
Ibnu Utsman, A.Z.
Desain Cover&Lay Out:
Ach Nailul Ulum, S.Sos.
Dicetak Oleh:
Yudharta Advertising
Jl. Yudharta No. 07 Telp. 0343-611186 Sengonagung Purwosari
Pasuruan 67162
Penerbit:
Madrasah Diniyah Mu’allimin Mu’allimat Darut Taqwa
Jl. Pesantren Ngalah No. 16 Pandean Sengonagung Purwosari Pasuruan
67162
Telp. (0343) 614084 Fax. (0343) 614405
E-mail:daruttaqwa02@gmail.com

2

KATA PENGANTAR

ِ ‫ن الّر‬
ْ ‫سم ِ اللهِ الّر‬
ْ ِ‫ب‬
ِ ‫حي ْم‬
ِ ‫ح ٰم‬
َ َ ‫جع‬
َ ‫مد ُ للهِ ال ّذِيْ َقا‬
‫ن‬
َ ‫ما‬
َ ْ ‫ا َل‬
ْ ‫ل عَل َي ْك ُل‬
َ َ‫ل – و‬
ْ ‫ح‬
ِ ْ ‫م فِللى ال لد ّي‬
ٍ‫ملد‬
ِ ّ ‫سلي‬
ِ
َ ‫م‬
َ ‫ن‬
ُ َ ‫سلل‬
َ ‫م عَل َللى‬
ّ ‫صلل َةُ َوال‬
ّ ‫ح‬
ُ َ ‫دنا‬
ّ ‫ َوال‬- ‫ج‬
ْ ‫مل‬
ٍ ‫حلَر‬
،‫ه‬
ً ‫ملل‬
ِ ِ ‫حب‬
ِ َ ‫ة ل ِل َْعللال‬
ِ ْ‫مب ُْعللو‬
ْ ‫صلل‬
ْ ‫ث َر‬
َ ‫ح‬
َ ْ ‫ا َل‬
َ َ‫ وَعََلللى آِلللهِ و‬،‫ن‬
َ ْ ‫مي‬
َ
َ ٍ ‫سللا‬
: ُ ‫مللا ب َعْلد‬
ْ ِ ‫م ب ِا‬
َ ‫ح‬
ّ ‫ أ‬،‫ن‬
ْ ُ‫ن ل َه‬
َ ْ ‫َوالّتاب ِعِي‬
ِ ْ ‫ن ا ِلللى ي َلوْم ِ اللد ّي‬
َ
ّ
َ
ّ
َ
‫م‬
‫ل‬
‫ل‬
‫س‬
‫و‬
‫ه‬
‫ل‬
‫ي‬
‫ل‬
‫ع‬
‫ه‬
‫ل‬
‫الل‬
‫لى‬
‫ل‬
‫ص‬
‫د‬
‫ل‬
‫م‬
‫ح‬
‫م‬
‫ة‬
‫ع‬
‫ي‬
‫ر‬
‫ل‬
‫ش‬
‫ن‬
‫مأ‬
َ
َ
ِ
ٍ
ْ
َ
َ
ْ
ّ
َ
َ
ُ
ّ ُ
ْ ‫َواعْل َل‬
َ
َ
ِ
َ ‫ت‬
‫ن‬
ٌ َ ‫مع‬
ٌ َ ‫سع‬
ٌ َ‫شرِي ْع‬
ِ ‫جا‬
ِ ‫ة َوا‬
َ ‫ة‬
َ
ْ ِ ‫مَقام ِ ا ْل‬
َ ْ ‫سل َم ِ وَا ْل ِي‬
َ ِ‫ة ل‬
ْ ‫جاَء‬
ِ ‫ما‬
َ
‫ن‬
ِ ٍ‫حد‬
َ ‫ضي ّقَ فِي َْها عََلى أ‬
َ َ ‫ج وَل‬
َ ‫حَر‬
َ َ ‫ وَإ ِن َّها ل‬،‫ن‬
ْ ِ ‫وَا ْل‬
َ ‫ح‬
َ ‫م‬
ِ ‫سا‬
َ ‫شلهِد َ ٰذل ِل‬
ُ َ‫ك فِي ْهَللا ف‬
َ ‫ن‬
ِ ِ ‫س لل‬
ٌ‫شلهُوْد ُهُ ت ُن َط ّلع‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ و‬،‫ن‬
ُ ْ ‫ال‬
ْ ‫مل‬
َ ْ ‫مي‬
.‫ن‬
ٌ ‫وَب ُهَْتا‬
Alhamdulillah, kami memuji Allah dengan segala pujian, yang
telah menganugrahkan rahmat dan pertolongan-Nya, sehingga
buku Galak Gampil Edisi Revisi ini dapat terbit. Salawat serta
salam semoga tetap dilimpahkan Allah Swt. kepada Sayyidina
Muhammad Saw. serta kepada keluarga, para sahabat dan
pengikutnya sampai hari ahir.
Dalam edisi revisi kali ini kami telah melakukan koreksi dan
perbaikan dari buku Galak Gampil edisi ke-2 dan edisi ke-3. Hal ini
kami lakukan, tentunya karena masih banyak kekurangan dan
kesalahan pada edisi ke-2 dan ke-3.
Harapan kami, semoga kehadiran edisi revisi ini dapat lebih
memuaskan para pembaca. Dan kritik yang membangun serta
saran para pembaca tetap kami nantikan. Sesungguhnya tiada
yang sempurna kecuali Allah Swt. Mudah-mudahan Allah ‘Azza

3

Wa Jalla menjadikan upaya ini sebagai amal saleh, dan usaha
yang diterima serta bermanfaat bagi semuanya. Amin.
Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan semesta alam.
Pon-Pes
2010

Ngalah,

09

April

Penyusun

4

SEKAPUR SIRIH
ROMO KYAI SHOLEH BAHRUDDIN

5

SAMBUTAN
Kepala Pondok Pesantren Ngalah
Sengonagung Purwusari Pasuruan

‫م عَل َللى‬
ِ َ ‫ب ال ْعَللال‬
ّ ‫م لد ُ لل لهِ َر‬
َ ْ ‫ا َل‬
ُ َ ‫س لل‬
ّ ‫ص لل َةُ َوال‬
ْ ‫ح‬
ّ ‫ن َوال‬
َ ْ ‫مي‬
ْ َ‫ا‬
‫ه‬
ِ ‫م لدٍ وَعَل َللى أل ِل‬
ِ ّ ‫سي‬
َ ‫م‬
ِ ‫شَر‬
َ ‫ن‬
َ ‫مْر‬
ّ ‫ح‬
ُ َ ‫دنا‬
ُ ْ ‫ف ا ْل َن ْب َِياِء َوال‬
َ ْ ‫سل ِي‬
َ
: ُ ‫ما ب َعْد‬
ْ ‫حب ِهِ أ‬
ْ ‫ص‬
ّ َ ‫ ا‬.‫ن‬
َ ‫ج‬
َ َ‫و‬
َ ْ ‫معِي‬
Puji syukur kami haturkan kepada Allah Swt. atas nikmat
dan karunia-Nya. Semoga rahmat ta’dhim serta salam semoga
senantiasa terlimpahkan pada Rasulullah Saw. keluarganya,
semua sahabatnya, dan semua pengikutnya sampai ahir zaman.
Kami sangat bergembira atas terbitnya buku Fiqih Galak
Gampil Edisi Revisi. Buku ini merupakan wujud dari usaha dan
upaya perbaikan atau pembenahan dari buku Galak Gampil edisi
sebelumnya.
Merupakan kebanggaan yang sangat besar bagi Pondok
Pesantren Ngalah, teman-teman santri telah mampu menuangkan
pikirannya dalam karya nyata, seperti dengan terbitnya buku ini,
karena hal ini menunjukkan sebuah keberhasilan bagi anak didik
dan juga lembaga pendidikan yang telah mendidiknya. Dan
Pondok Pesantren akan lebih bangga apabila semua santri juga
mampu menerapkan keilmuannya di tengah-tengah masyarakat,
terutama bagi orang tua dan keluarganya.
Akhirnya kami berharap buku ini bisa bermanfaat bagi kita
semuanya, menjadi solusi pada setiap permasalahan dalam
6

menjalani hidup sehari-hari, dan semoga keberhasilan ini tidak
berhenti sampai di sini saja, akan tetapi harus diupayakan dan
ditingkatkan lagi.
Sengonagung, 13 April 2010
Kepala Pondok Pesantren Ngalah

M. Mufid, S.PdI.

7

SAMBUTAN
Kepala Madrasah Diniyah Mu’allimin Mu’allimat Darut
Taqwa
Sengonagung Purwusari Pasuruan

َ ‫ة اللهِ وَب ََر‬
‫ه‬
ُ ‫م‬
ْ ‫م وََر‬
ُ َ ‫سل‬
ّ ‫َال‬
ُ ُ ‫كات‬
َ ‫ح‬
ْ ُ ‫م ع َل َي ْك‬
ُ
‫ملوْرِ اللد ّن َْيا‬
ِ َ ‫ب ال ْعَللال‬
ّ ‫ملد ُ لللهِ َر‬
َ ْ ‫ا َل‬
ْ َ ‫ن وَِبلهِ ن‬
ُ ‫ن ع ََللى أ‬
ْ ‫ح‬
ُ ْ ‫سلت َعِي‬
َ ْ ‫مي‬
َ
َ
ْ ‫م ع ََلى أ‬
‫ن‬
ِ ‫شَر‬
ُ ‫سَل‬
َ ‫مْر‬
ّ ‫صل َة ُ َوال‬
ُ ْ ‫ف اْلن ْب َِياِء َوال‬
ّ ‫ َوال‬،‫ن‬
َ ْ ‫سل ِي‬
ِ ْ ‫َوالد ّي‬
َ
َ
.‫د‬
ُ ْ‫ما ب َع‬
ْ ‫حب ِهِ أ‬
ْ ‫ص‬
ّ ‫ أ‬.‫ن‬
َ ‫ج‬
َ َ‫وَع ََلى آل ِهِ و‬
َ ْ ‫معِي‬
Puji syukur kehadirat Allah Swt. atas hidayah dan inayahNya, proses revisi buku Galak Gampil edisi ke-II dan III telah
rampung dan selesai dikerjakan.
Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada
nabi Muhammad Saw. yang telah mengajarkan syariat dengan
keteladanan kepada siapa saja yang mengharap keselamatan dan
kebahagiaan.
Buku Galak Gampil edisi revisi ini merupakan upaya
pembetulan dan penyempurnaan atas kekurangan atau kesalahan
penulisan dari edisi Galak Gampil yang sudah dipublikasikan. Di
samping itu, Galak Gampil edisi revisi tersebut merupakan wujud
respon atas aspirasi, saran, dan kritik konstruktif dari masyarakat.
Dinamika kehidupan masyarakat yang majemuk tentunya
sangat kompleks, sehingga tidak jarang dan bahkan sering kali
kita menemukan persoalan yang tak kunjung menemukan titik
terang.
Sebagian
orang
merasa
bahwa
dirinya
atau
kelompoknyalah yang benar dan yang paling benar dengan tanpa
malu atau sungkan menyalahkan serta menghinakan yang lain.
Berprinsip dalam mengikuti ajaran, sifat egois dan fanatisme
kadang bisa membius seseorang sehingga memungkinkan ia lalai
terhadap kewajiban lain yang mestinya dikerjakan, seperti
keharusan
menjaga
kerukunan
dan
kedamaian,
saling
menghormati satu sama lain, dan lain sebagainya.
8

Maka dari itulah, sikap saling teposeliro, toleran, moderat,
menghargai perbedaan, dan jiwa rahmatan lil ‘alamin sangatlah
penting untuk diaktualisasikan dan dipupuk bersama agar
wawasan keilmuan akan bertambah luas terutama dalam masalah
fiqhiyah waqi’iyah yang kontekstual.
Semoga kehadiran buku edisi revisi ini bisa memenuhi
harapan bagi umat yang menginginkan adanya alternatif solusi
dalam menyelesaikan persoalan dengan tanpa menambah
permasalahan. Akhirnya semoga bermanfaat.

َ ‫ة اللهِ وَب ََر‬
‫ه‬
ُ ‫م‬
ْ ‫م وََر‬
ُ َ ‫سل‬
ّ ‫َوال‬
ُ ُ ‫كات‬
َ ‫ح‬
ْ ُ ‫م ع َل َي ْك‬
Sengonagung, 14 April 2010
Kepala Madrasah Diniyah
Mu’allimin Mu’allimat Darut Taqwa

Durrotun Nasikhin, S.PdI.

9

DAFTAR ISI
Tim Penyusun ii
Kata Pengantar  iii
Sekapur Sirih Romo Kyai Sholeh Bahruddin  v
Sambutan-sambutan
1.
Kepala Pondok Pesantren Ngalah  vi
2.
Kepala Madrasah Diniyah Mu’allimin Mu’allimat
Darut Taqwa  viii
Daftar Isi  x

2.
3.

I. AHLU AL-SUNNAH WA AL-JAMA’AH  1
1.
Pengertian Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah  1
Tiga Sendi Utama Ajaran Islam  4
Aswaja dan Perkembangan Sosial Budaya  7
II. BID’AH  11
III. PENERAPAN HUKUM FIQIH  14
IV. HUKUM BERPINDAH-PINDAH MADZHAB  16

V. KESUCIAN  18
1.
Junub  18
2.
Bagian Anggota Tubuh yang Terlepas bagi Orang
yang Hadats Besar  18
3.
Sengaja Memotong Bagian Anggota Badan
pada saat
Sedang Hadats Besar  19
4.
Hukum Orang Junub Membaca al-Qur’an  20
5.
Tidur yang Tidak Membatalkan Wudlu’  22
10

6.
Minyak Beralkohol  23
7.
Media Tayammum  25
8.
Hukum Sesuatu yang Terbuat dari Kotoran atau Benda
Najis (Studi Kasus Biogas)  26
VI. ADZAN DAN IQOMAH  29
1.
Membaca Taswib saat Adzan Shubuh  29
2.
Adzan dan Iqomah untuk Bayi yang Baru Dilahirkan  30
VII. SHALAT  32
1.
Macam-macam Shalat Sunnah  32
2.
Bilangan Rakaat Shalat Tarawih  36
3.
Pujian Menjelang Shalat Berjama’ah  38
4.
Hukum Jama’ah Perempuan Ketika Berada di Samping
Barisan Jama’ah Laki-laki  39
5.
Makmum Shalat Beda Niat dengan Imam  40
6.
Bacaan Basmalah dalam Shalat  41
7.
Shalat Berjama’ah Dilakukan dengan Cepat  43
8.
Hukum Membaca Do’a Qunut ketika Shalat Shubuh  45
9.
Mengusap Wajah setelah Salam ketika Shalat  48
10.
Tata Cara Sujud  49
11.
Sujud Syukur  49
12.
Membaca Wiridan setelah Shalat  50
13.
Hukum Menerjemahkan Bacaan dalam Shalat  51
14.
Cara Mendirikan Shalat di Pesawat  52
15.
Shalat ‘Ied Lebih Utama di Masjid atau di Lapangan  54
VIII. SHALAT JUM’AT  56
1.
Pembagian Golongan Ahli Shalat Jum’at  56
2.
Shalat Jum’at bagi TNI, POLRI, Satpam dan Banser yang
Sedang Bertugas  57
3.
Hukum Shalat Jum’at bagi Wanita  58

11

4.

Hukum Mendirikan Shalat Jum’at di Dua Masjid dalam Satu
Desa  59
5.
Mendirikan Jama’ah Shalat Jum’at Kurang dari 40 Orang 
60
6.
Hukum Adzan Dua Kali Sebelum Shalat Jum’at  62
7.
Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah Jum’at  64
8.
Khatib Jum’at Memegang Tongkat  65
9.
Hikmah Memegang Tongkat Waktu Menyampaikan Khutbah
 67
10.
Mengulang Bacaan Alhamdulillah dalam Khutbah  67
11.
Menterjemahkan Khutbah dengan Bahasa Indonesia  68

1.
2.
3.
4.
5.
6.

IX. DZIKIR DAN DO’A  70
Dzikir  70
Dzikir Fida’  71
Tahlil  72
Do’a  74
Do’a Bersama Umat Beragama  75
Berdo’a dengan Tawassul  78

X. KESAHIHAN DALIL BUDAYA SELAMETAN 1-7 HARI, 40
HARI, 100 HARI, DAN HAUL BAGI ORANG YANG TELAH
MENINGGAL  81
1.
Pengertian Selamatan atau Haul  81
2.
Perbedaan Pendapat Para Ulama’ Tentang Hukum
Selametan 1-7 Hari, 40 Hari, 100 Hari dan Haul bagi Orang yang
Telah Meninggal  82
3.
Rangkaian Acara Selametan atau Haul  87
XI. WAKAF DAN MASJID  92
1.
Hukum Menjual Barang Wakaf  92
2.
Uang Kotak Amal  93
3.
Kewenangan Takmir  94
12

Uang Masjid untuk Bisyarah Khatib Shalat Jum’at  95
Menghiasi Masjid  95
Hukum Makan di Dalam Masjid  96
XII. ZAKAT  97
1.
Pengertian Zakat  97
2.
Tujuan Zakat  97
3.
Pembagian Zakat  99
4.
Zakat Fitrah  99
5.
Pengertian Sabilillah dalam Zakat  100
6.
Zakat Fitrah untuk Guru Ngaji dan Kyai  101
7.
Zakat Diberikan kepada Santri  102
8.
Hukum Zakat untuk Masjid dan Pesantren  103

4.
5.
6.

XIII. PUASA  105
1.
Penetapan Awal dan Akhir Bulan Ramadlan  105
2.
Waktu Niat  106
3.
Puasa Sunnah dengan Niat Qadla’ Ramadlan  108
4.
Mengqodlo’ Puasa dan Haji untuk Orang yang Telah
Meninggal  109
5.
Hukum Merokok ketika Sedang Berpuasa  110
XIV. HAJI DAN UMRAH  113
1.
Tasyakuran Haji  113
2.
Macam-Macam Thawaf dan Hukumnya  114
3.
Hukum Thawaf dalam Kondisi Hadats  115
4.
Hukum Bermalam di Mina  116
5.
Waktu Melempar Jumrah Ula, Wustho, dan Aqobah pada
Hari Tasyrik  116
XV. PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN
PERNIKAHAN  119

13

Sebab-Sebab Perempuan yang Haram Dinikah  119
Iddah  121
Urutan Wali Nikah  121
4.
Akad Nikah bagi Tuna Wicara  122
5.
Menikah Lagi bagi Perempuan yang Cukup Lama Ditinggal
Pergi Suami  123
6.
Hukum Kado Pernikahan (Amplop Buwuhan) 124
7.
Hukum Jihaz (Cincin Tunangan dan Sejenisnya)  125
8.
Menjamak Shalat ketika Hajatan  127
9.
Hukum KB  128
1.
2.
3.

XVI. MAKANAN  133
1.
Kotoran Ikan  133
2.
Hukum Mengkonsumsi Hewan Amphibi (hidup di dua alam)
 133
3.
Makan Sebelum dan Sesudah Melaksanakan Shalat Ied 
134
4.
Hukum Merokok  135
XVII. TOLERANSI DALAM PLURALITAS AGAMA  139
1.
Hukum Toleransi dalam Pergaulan Antar Umat Beragama
 139
2.
Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim
 140
3.
Hukum Mengucapkan Salam Menggunakan Selain
Bahasa Arab  142

XVIII.
1.
2.
3.

BUDAYA DAN ETIKA  144
Panggilan Sayyidina  144
Berdiri untuk Menghormati Seseorang  145
Jabat Tangan dengan Dicucup atau Dicium  146
14

4.
Mahal al-Qiyam, (Berdiri Ketika Membaca Barzanji)  148
5.
Hukum Membaca Manaqib Syeh Abdul Qodir atau Manaqib
yang Lainnya  150
6.
Hukum Berjabat Tangan dengan Ghoiru Mahrom 
151
7.
Macam-Macam Batasan Aurat  152
8.
Pornografi  158
9.
Hukum Pergaulan Bebas  158
10.
Hukum Onani atau Masturbasi  159
11. Hukum Menyemir Rambut  161
12. Hukum Pria Memakai Perhiasan Emas  163
13. Hukum Tindik bagi Laki-Laki  165
14. Hukum Tato  166
15.
Hukum Wanita Memakai Celana Ketat  168
16.
Hukum Wanita Kerja pada Malam Hari  169
17. Hukum Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an bagi Wanita di
Hadapan Khalayak Umum  171
18.
Hukum Jual Beli Kucing  172
XIX. HUKUM HIBURAN DAN PERMAINAN (Nyanyian,
Orkesan, Musik, Tarian, Ludruk, Wayang dll)  174
1.
Pengertian Hiburan dan Permainan  174
2.
Hukum Hiburan dan Permainan  174
XX. PERDUKUNAN  182
1.
Berobat dengan Suwuk  182
2.
Batasan Praktik Orang-orang Pintar (Dukun)  184
XXI. PEMAKAMAN  185
1.
Macam-macam Orang Mati Syahid  185
2.
Talqin Saat Naza’ (Sakaratul Maut)  187
3.
Posisi Jenazah Ketika Dishalati  188

15

4.
5.
189
6.

8.
9.
10.
11.
12.
13.
201
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

Shalat Jenazah bagi Wanita  188
Hukum Melaksanakan Shalat Jenazah Tanpa Wudlu 
Kesaksian Terhadap Jenazah  190
7. Mengantar Jenazah Sambil Mengucap Lafadz Laa Ilaha
Illallah  192
Talqin Mayit  193
Menyiram Kuburan dengan Air Bunga  195
Hukum Shalat Jenazah di Atas Kuburan  197
Shalat Ghaib untuk Mayit  198
Qadla’ Shalat untuk Mayit  200
Fidyah sebagai Ganti Puasa yang Ditinggal oleh Mayit 

Ziarah Kubur  204
Keutamaan Ziarah Qubur  205
Ziarah Kubur bagi Perempuan  207
Mengharap Barokah  208
Membakar Kemenyan di Kuburan  210
Hukum Membangun Kuburan  211
Hukum Memindah Kuburan  212
Membongkar Kuburan  213
22. Nonmuslim Meninggal sebelum Baligh Masuk Sorga
atau Neraka  214
23.
Adzan dan Iqomah saat Mayit Dibaringkan dalam Liang
Lahat  216
XXII. SIKAP DAN KEPRIBADIAN SEORANG SUFI  217
1.
Definisi Sufi yang Dikemukakan oleh Para Ulama’  217
2.
Ciri-Ciri Kepribadian dan Perilaku Seorang Sufi  218
XXIII. PENUTUP  220
16

BAB I
AHLU AL-SUNNAH WA AL-JAMA’AH

1. Pengertian Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah
Konsep aswaja (ahlu al-Sunnah wa al-jama’ah) selama ini
masih belum dipahami secara tuntas sehingga menjadi “rebutan”
setiap golongan, semua kelompok mengaku dirinya sebagai
penganut ajaran aswaja dan tidak jarang label itu digunakan
untuk kepentingan sesaat. Jadi, apakah yang dimaksud dengan
aswaja itu sebenarnya? bagaimana pula dengan klaim itu,
dapatkah dibenarkan?
Aswaja merupakan singkatan dari istilah ahlun, al-Sunnah wa
al-Jama’ah, dan dari situ ada tiga kata yang membentuk istilah
tersebut;
1.
Ahlun berarti keluarga, golongan atau pengikut.
2.
Al-Sunnah yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan
oleh Rasulullah Saw. meliputi perkataan, perbuatan dan
ketetapannya.
3.
Al-Jama’ah yakni apa yang telah disepakati oleh para
sahabat pada masa al-Khulafa’ al-Rasyidin (Khalifah Abu
Bakar as-Shiddiq Ra., Sayyidina Umar bin Khattab Ra.,
Sayyidina Utsman bin Affan Ra., dan sayyidina Ali bin Abi
Thalib Krw).
Sebagaimana telah dikemukakan oleh Syekh ‘Abdul Qadir alJailany dalam kitab al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, juz I,
hal.80

ُ ْ ‫س لو‬
,‫م‬
ُ ّ ‫سللن‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ُ ‫ه َر‬
َ ‫ملا‬
ّ ‫َفال‬
َ ّ ‫سلل‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ ّ ‫سلن‬
َ ‫ة‬
َ ِ‫ل اللله‬
‫ه‬
َ ّ ‫ما ا ِت‬
ُ َ ‫ماع‬
ُ ‫حا‬
َ ‫صل‬
َ ْ ‫َوال‬
ُ ‫ب َر‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
َ ‫ة‬
َ ‫ج‬
َ ِ‫ل اللله‬
ْ َ ‫فقَ ع َل َْيلهِ ا‬
ِ ْ‫سلو‬
َ
َ
‫ن‬
َ َ ‫خل‬
ُ ْ ‫م لةِ ا ْلْرب َعَ لةِ ال‬
ِ ‫ي‬
ِ ‫فللاِء الّرا‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
ّ ِ ‫خل َفَ لةِ ا ْلئ‬
َ ّ ‫سل‬
َ ْ ‫ش لد ِي‬
ْ ِ‫م ف‬
‫ن )الغنية لطالب طريق‬
ُ ‫م‬
ْ َ‫م ا‬
ْ ‫ن َر‬
َ ‫ج‬
ْ ِ‫ة اللهِ ع َل َي ْه‬
َ ‫ح‬
ُ ْ ‫ا َل‬
َ ْ ‫معِي‬
َ ْ ‫مهْد ِّيلي‬
( 80 ‫ ص‬1 ‫الحق جز‬
17

Yang dimaksud dengan al-Sunnah adalah apa yang telah
diajarkan oleh Rasulullah Saw. (meliputi ucapan, perilaku serta
ketetapan beliau). Sedangkan pengertian al-Jama’ah adalah
segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat
Rasulullah Saw. Pada masa al Khulafa’ al Rasyidin yang empat
yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah Swt. memberi
rahmat pada mereka semua). al-Ghunyah li Thalibi Thariqi alHaqq juz I hal.80.
Selanjutnya, Syaikh Abi al-Fadhl bin ‘Abdus Syakur
menyebutkan dalam kitab al-Kawakib al-Lamma’ah:

ُ ْ‫ا َه‬
‫ة‬
َ ْ ‫ى وَط َرِي‬
‫ة الن ِّبلل‬
َ ‫قل‬
َ ّ ‫سلن‬
َ ْ ‫سن ّةِ َوال‬
ُ ‫وا‬
ّ ‫ل ال‬
ُ ِ‫ن ل َز‬
َ ‫ج‬
ْ ‫مل‬
َ ْ ‫ماع َةِ ال ّلذ ِي‬
ّ
َ
‫ق‬
َ َ‫حاب َةِ فِللى ْالع‬
ْ َ ‫ل ال ْب َد َن ِي ّلةِ وَا ْل‬
َ ‫صل‬
َ ْ ‫قللائ ِد ِ الد ّي ْن ِي ّلةِ وَا ْلع‬
ّ ‫ال‬
ِ ‫مللا‬
ِ َ ‫خل‬
( 9-8 ‫قل ْب ِي ّةِ ) الكواكب اللماعة ص‬
َ ْ ‫ال‬

Yang disebut Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah orang-orang
yang selalu berpedoman pada sunnah Nabi Saw. dan jalan para
sahabatnya dalam masalah aqidah keagamaan, amal-amal
lahiriyah serta akhlaq hati. (al-Kawakib al-Lamma’ah hal. 8-9)
Jadi Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan ajaran yang
mengikuti semua yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
dan para sahabatnya. Sebagai pembeda dengan yang lain ada
tiga ciri khas kelompok ini, yakni tiga sikap yang selalu diajarkan
oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, ketiga prinsip tersebut
adalah al-tawassuth yaitu sikap tengah-tengah, sedang-sedang,
tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan, prinsip al-tawazzun
(seimbang dalam segala hal termasuk dalam penggunaan dalil
aqli dan dalil naqli) dan al-I’tidal (tegak lurus). Ketiga prinsip
tersebut dapat dilihat dalam masalah keyakinan keagamaan
(teologi), perbuatan lahiriyah (fiqih) serta masalah akhlaq yang
mengatur gerak hati (tasawuf). Dalam praktek keseharian, ajaran
ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah dibidang teologi tercerminkan
dalam rumusan yang digagas oleh Imam al-Asy’ari dan Imam alMaturidzi, sedangkan dalam masalah perbuatan badaniyah
terwujud dengan mengikuti madzhab empat, yakni madzhab
Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hambali, dan
18

dalam tasawuf mengikuti rumusan Imam Junaidi al-Baghdadi dan
Imam al-Ghazali.
Salah satu alasan dipilihnya ulama’-ulama’ tersebut oleh
salafuna al-shalih sebagai panutan dalam ahlu al-Sunnah wa alJama’ah karena mereka telah terbukti mampu membawa ajaranajaran yang sesuai dengan intisari agama Islam yang telah
digariskan oleh Rasulullah Saw. beserta para sahabatnya dan
mengikuti hal tersebut merupakan suatu kewajiban bagi
ummatnya. Rasulullah Saw. Bersabda:

‫ن‬
ِ ‫س‬
ِ َ ‫سل‬
ْ ‫ن ع َب ْد ِ الّر‬
َ ‫ه‬
ّ ‫رو ال‬
ُ ّ ‫ى ا َن‬
ْ َ‫ن ع‬
َ َ ‫معَ ال ْعِْربا‬
َ ْ‫ض ب‬
ْ َ‫ع‬
ٍ ‫م‬
ْ ‫م‬
ِ ْ‫ن ب‬
ِ ‫حم‬
َ َ ‫ل وَع‬
ُ ْ ‫س لو‬
َ ‫سارِي ّةِ قَللا‬
‫م‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ُ ‫ظنلا َ َر‬
َ
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
َ ِ‫ل اللله‬
َ
َ
ْ
َ
‫ن‬
ُ ‫سلن ّةِ ال‬
ِ ‫خلفلاِء الّرا‬
ِ ‫م‬
ُ َ‫ى و‬
ُ ‫ن‬
ْ ُ ‫ما ع ََرفْت‬
َ ِ‫م ب‬
ْ ُ ‫فَعَلي ْك‬
َ ْ ‫شلد ِي‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫سّنتـل‬
( 16519 ‫ن )مسند احمد بن حنبل ص‬
ُ ْ ‫ا َل‬
َ ‫مهْد ِّيـي‬
Dari Abd Rohman bin Amr al-Sulami, Sesungguhnya ia
mendengar al-Irbadh bin Sariyah berkata, Rasulullah Saw.
menasehati kami, Kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku
(apa yang aku ajarkan) dan perilaku al-Khulafa’ al-Rasyidin yang
mendapatkan petunjuk). (Musnad Ahmad Bin Hambal, 16519)

Karena itu, sebenarnya ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah
merupakan Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh
Rasulullah Saw. dan sesuai dengan apa yang telah digariskan dan
diamalkan oleh para sahabatnya. Ketika Rasulullah Saw.
menerangkan bahwa umatnya akan terpecah-belah menjadi 73
golongan, dengan tegas Rasulullah Saw. menyatakan bahwa yang
benar adalah mereka yang tetap berpadoman pada apa yang
telah diperbuat oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya pada
waktu itu (maa ana ‘alaihi waashkhabii).

َ
َ ‫سللَراِئي‬
,‫ة‬
َ َ‫ل ت‬
ً ‫مّللل‬
ِ ‫ن‬
ّ ِ ‫وَإ‬
َ َ‫ن و‬
ْ ِ ‫ن ب َِنللي إ‬
ْ ‫فّرَقلل‬
َ ‫سللب ِْعي‬
ِ ‫ت ع َلللى ث ِن ْت َْيلل‬
ُ
‫م فِللي الن ّللار إ ِّل‬
ْ َ ‫وَت‬
ً ّ ‫مل‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫مِتي ع ََلى ث ََل‬
َ َ‫ث و‬
ْ ‫ك ُّله ل‬, ‫ة‬
ّ ‫فت َرِقُ أ‬
َ ‫سب ِْعي‬
َ
َ ‫ل الل ّهِ ؟ َقلا‬
َ ‫سو‬
‫ملا أَنلا‬
ِ ‫ة َوا‬
ً ّ ‫مل‬
ِ
ُ ‫ي َيا َر‬
َ :‫ل‬
َ : ‫ َقاُلوا‬, ً ‫حد َة‬
َ ِ‫ن ه‬
ْ ‫م‬
19

َ
‫ باب من‬, ‫حاِبي " )تهذيب سنن أبي داود وايضاح‬
َ ‫ص‬
ْ ‫ع َل َي ْهِ وَأ‬
(330 ‫ ص‬2 ‫اطلع في بيت الجزء‬
Maka, ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah sesungguhnya bukanlah
aliran yang baru muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang
menyimpang dari ajaran haqiqi agama Islam, ahlu al-Sunnah wa
al-Jama’ah justru berusaha untuk menjaga agama Islam dari
beberapa aliran yang akan mencabut ajaran Islam dari akar dan
pondasinya semula. Setelah aliran-aliran itu semakin merajalela,
tentu diperlukan suatu gerakan untuk menyosialisasikan dan
mengembangkan kembali ajaran murni Islam, sekaligus
merupakan
salah
satu
jalan
untuk
mempertahankan,
memperjuangkan, dan mengembalikan agama Islam agar sesuai
dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. dan para
sahabat beliau. (Khittah Nahdliyyah, 19-20)
Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku dirinya
termasuk ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, maka mereka harus
membuktikannya dalam praktik keseharian bahwa ia benar-benar
mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Saw. dan para
sahabatnya. Abu Said al-Khadimi berkata;

َ ْ‫عى ا َِلها ً ا َه‬
ّ ُ‫ل ك‬
َ ْ ‫ن قِي‬
‫ماع َةِ ) قُل َْنا‬
َ ْ ‫ل فِْرقَةٍ ت ُد‬
َ ْ ‫سلن ّةِ َوال‬
ْ ِ ‫فَا‬
ّ ‫ل ال‬
َ ‫ج‬
َ ‫ل َوذال ِل‬
َ ِ ‫ذال‬
ْ َ ‫وى ب‬
‫ك‬
َ ‫ق لةِ ْال‬
َ ْ ‫ل ب ِت َط ْب ِي‬
ِ ْ ‫ل َوال‬
ُ ْ‫ك ل َي َك ُو‬
ِ ‫فعْ ل‬
ِ ْ ‫ق لو‬
َ ْ ‫ن ِبالد ّع‬
‫ث‬
َ ْ ‫ن ب ِت َط ْب ِي‬
ِ ْ ‫حللاد ِي‬
َ َ ‫ح ا ْل‬
َ ‫صل‬
ّ ‫ِبال‬
ْ ُ ‫مللا ي‬
َ ّ ‫ماِنن لا َ ا ِن‬
َ ‫ى َز‬
َ ِ ‫ق لة‬
ُ ‫مك ِل‬
ِ ‫حا‬
َ ‫سن ّةِ ِال‬
ّ ‫ب ال‬
‫ى‬
َ َ‫م لع‬
َ ْ ‫ش لي‬
ِ ‫مللا‬
ْ ِ‫ي ا‬
َ ‫ج‬
َ ُ‫ن وَغ َي ْرِه‬
ِ ‫ن ْالك ِت َللا‬
ِ ُ ‫ك َك ُت‬
ْ ‫ب ال ّت ِل‬
َ ‫مل‬
َ ‫عل ل‬
ِ ْ ‫خي‬
(112-111 ‫ )البريقة شرح الطريقة ص‬. َ ‫َوثا َقَِتها‬
(Jika ada yang bertanya) semua kelompok mengaku dirinya
sebagai golongan ahlu al sunnah wa al-jama’ah itu bukan hanya
klaim semata, namun harus diwujudkan (diaplikasikan) dalam
perbuatan dan ucapan. Pada zaman kita sekarang ini perwujudan
itu dapat dilihat dengan mengikuti apa yang tertera dalam haditshadits yang shahih, seperti shahih al-Bukhori, Shahih Muslim dan
kitab-kitab lainnya yang telah disepakati validitasnya. (al-Bariqah
Syarh al-Thariqah, hal.111-112)
20

‫‪Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan bahwa‬‬
‫‪Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan ajaran yang sesuai‬‬
‫‪dengan Rasulullah Muhammad Saw. dan para sahabatnya, dan itu‬‬
‫‪tidak bisa hanya sebatas klaim semata, namun harus dibuktikan‬‬
‫‪dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.‬‬
‫‪2. Tiga Sendi Utama Ajaran Islam‬‬
‫‪Seperti yang sering dijelaskan, bahwa ada tiga pedoman‬‬
‫‪ajaran yang menjadi standar ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah, yakni‬‬
‫‪tauhid (aqidah), fiqih dan tasawuf, ini seolah-olah ingin‬‬
‫‪mengatakan bahwa inti ajaran dalam agama Islam adalah tiga hal‬‬
‫?‪tersebut. Bagaimanakah hal tersebut‬‬

‫خ ّ‬
‫ه َقا َ‬
‫ن ال ْ َ‬
‫ن ِ‬
‫ب َر ِ‬
‫عن ْلد َ‬
‫ما ن َ ْ‬
‫ل ب َي ْن َ َ‬
‫ه ع َن ْ ُ‬
‫ى الل ُ‬
‫ن عُ َ‬
‫طا ِ‬
‫حل ُ‬
‫عَ ْ‬
‫ض َ‬
‫مَر اب ْ ِ‬
‫ل الل ّهِ ‪-‬صلى الله عليه وسلم‪َ -‬‬
‫ت ي َوْم ٍ إ ِذ ْ ط َل َعَ ع َل َي َْنا‬
‫َر ُ‬
‫ذا َ‬
‫سو ِ‬
‫َ‬
‫ج ٌ‬
‫واد ِ ال ّ‬
‫ب َ‬
‫ل َ‬
‫ه‬
‫شلعْرِ ل َ ي ُلَرى ع َلي ْل ِ‬
‫ش ِ‬
‫ش ِ‬
‫َر ُ‬
‫ديد ُ َ‬
‫ض الث َّيا ِ‬
‫س َ‬
‫ديد ُ ب ََيا ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫جل َ َ َ‬
‫ى ‪-‬صلللى‬
‫س َ‬
‫ه ِ‬
‫حّتى َ‬
‫حد ٌ َ‬
‫مّنا أ َ‬
‫أث َُر ال ّ‬
‫فرِ وَل َ ي َعْرِفُ ُ‬
‫س إ ِلى الن ّب ِ ّ‬
‫َ‬
‫ه‬
‫ضلعَ ك َ ّ‬
‫فْيل ِ‬
‫سلن َد َ ُرك ْب َت َْيلهِ إ َِللى ُرك ْب َت َْيلهِ وَوَ َ‬
‫الله عليه وسلم‪ -‬فَأ ْ‬
‫قللا َ‬
‫خذ َي ْهِ وََقا َ‬
‫ل‬
‫م‪ .‬فَ َ‬
‫م لد ُ أ َ ْ‬
‫ع ََلى فَ ِ‬
‫م َ‬
‫ن ال ِ ْ‬
‫ح ّ‬
‫ل ي َللا ُ‬
‫س لل َ َ ِ‬
‫خب ِْرن ِللى ع َل ِ‬
‫سو ُ‬
‫ن تَ ْ‬
‫ش لهَد َ‬
‫مأ ْ‬
‫س لل َ ُ‬
‫ل الل ّهِ ‪-‬صلى الله عليه وسلللم‪ » -‬ال ِ ْ‬
‫َر ُ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫سللو ُ‬
‫ص لل َةَ‬
‫ل الل ّلهِ وَت ُ ِ‬
‫مل ً‬
‫م َ‬
‫ه وَأ ّ‬
‫أ ْ‬
‫دا َر ُ‬
‫قي ل َ‬
‫ح ّ‬
‫ن ُ‬
‫ه إ ِل ّ الل ّل ُ‬
‫ن ل َ إ ِل َ َ‬
‫م ال ّ‬
‫ى الّز َ‬
‫ت‬
‫حل ّ‬
‫ن وَت َ ُ‬
‫ضللا َ‬
‫م َ‬
‫صو َ‬
‫نا ْ‬
‫س لت َط َعْ َ‬
‫ج ال ْب َي ْل َ‬
‫م َر َ‬
‫كاة َ وَت َ ُ‬
‫ت إَِ ِ‬
‫وَت ُؤ ْت ِ َ‬
‫سِبي ً‬
‫ت‪َ .‬قا َ‬
‫ل‪َ .‬قا َ‬
‫ه‪.‬‬
‫ه يَ ْ‬
‫إ ِل َي ْهِ َ‬
‫ص لد ّقُ ُ‬
‫س لأل ُ ُ‬
‫جب ْن َللا ل َل ُ‬
‫ل فَعَ ِ‬
‫صد َقْ َ‬
‫ه وَي ُ َ‬
‫ل َ‬
‫َقا َ َ‬
‫َ‬
‫ن‪َ .‬قا َ‬
‫ه‬
‫ل فَأ ْ‬
‫مل َئ ِك َت ِل ِ‬
‫ن ت ُؤ ْ ِ‬
‫ل»أ ْ‬
‫ن ب ِللالل ّهِ وَ َ‬
‫لي َ‬
‫م َ‬
‫ما ِ‬
‫نا ِ‬
‫خب ِْرِنى ع َ ِ‬
‫خي ْلرِهِ وَ َ‬
‫شلّرهِ «‪.‬‬
‫ن ِبال ْ َ‬
‫قلد َرِ َ‬
‫سل ِهِ َوال ْي َوْم ِ ال ِ‬
‫خرِ وَت ُؤ ْ ِ‬
‫وَك ُت ُب ِهِ وَُر ُ‬
‫م َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ن‪ .‬قَللا َ‬
‫ت‪َ .‬قا َ‬
‫َقا َ‬
‫ل فَأ ْ‬
‫ن ت َعْب ُلد َ‬
‫ل»أ ْ‬
‫ن ال ِ ْ‬
‫ح َ‬
‫صد َقْ َ‬
‫ل َ‬
‫سا ِ‬
‫خب ِْرِنى ع َ ِ‬
‫َ‬
‫ه ي َلَرا َ‬
‫ه ك َأن ّل َ‬
‫ك «‪ .‬قَللا َ‬
‫ل‬
‫ك ت َلَراه ُ فَلإ ِ ْ‬
‫ن ت َلَراه ُ فَلإ ِن ّ ُ‬
‫ن ل َل ْ‬
‫الل ّل َ‬
‫م ت َك ُل ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫سُئو ُ‬
‫ة‪َ .‬قا َ‬
‫ن‬
‫خب ِْرِنى ع َ‬
‫فَأ ْ‬
‫م ِ‬
‫ساع َ ِ‬
‫م ْ‬
‫ن ال ّ‬
‫ل ع َن َْها ب ِأع ْل َ َ‬
‫ما ال ْ َ‬
‫ل» َ‬
‫ملل َ‬
‫ِ‬
‫السائل «‪َ .‬قا َ َ‬
‫َ‬
‫خبرِنى ع َ َ‬
‫َ‬
‫ماَرت َِها‪َ .‬قا َ‬
‫ة‬
‫مل ُ‬
‫ل»أ ْ‬
‫ن ت َل ِلد َ ال َ‬
‫نأ َ‬
‫ْ‬
‫ل فَأ ْ ِ ْ‬
‫ّ ِ ِ‬
‫‪21‬‬

َ
َ َ ‫شاِء ي َت‬
ّ ‫عاَء ال‬
‫ن‬
َ ‫ح‬
َ ِ‫ة ر‬
َ َ ‫فاة َ ال ْعَُراة َ ال َْعال‬
َ ‫طللاوَُلو‬
ُ ْ ‫ن ت ََرى ال‬
ْ ‫َرب ّت ََها وَأ‬
َ ‫م َقا‬
َ ‫ َقا‬.« ‫ن‬
‫ل ِلللى » َيللا‬
ّ ُ ‫مل ِّيا ث‬
َ ‫ت‬
ُ ْ ‫م ان ْط َل َقَ فَل َب ِث‬
ّ ُ‫ل ث‬
ِ ‫ِفى ال ْب ُن َْيا‬
َ
َ
َ ‫ قَللا‬.‫م‬
ُ ِ ‫سائ‬
»‫ل‬
ُ ‫ه وََر‬
ّ ‫ن ال‬
ُ َ ‫ه أع ْل‬
ُ ُ ‫سول‬
ُ ّ ‫ت الل‬
ُ ْ ‫ قُل‬.« ‫ل‬
َ ‫مُر أت َد ِْرى‬
َ ُ‫ع‬
ِ ‫م‬
َ
ُ ‫ري‬
1 ‫ )صحيح مسلم الجزء‬.«‫م‬
ْ ُ ‫م ِدين َك‬
ْ ُ ‫مك‬
ُ ّ ‫م ي ُعَل‬
ْ ُ ‫ل أَتاك‬
ِ ‫ه‬
ُ ّ ‫فَإ ِن‬
ِ ْ ‫جب‬
(9 ‫رقم‬
Dari Umar bin Khattab ra., dia berkata: Pada suatu hari kami
berada bersama Rasulullah Saw., tiba-tiba datang kepada kami
seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat
hitam, sama sekali tidak nampak pada dirinya tanda-tanda kalau
dia telah melakukan perjalanan jauh, dan tak seorang pun dari
kami yang mengenalnya.
Kemudian laki-laki itu duduk di hadapan Nabi Saw. sambil
menempelkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah Saw.,
sedangkan kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha
Rasulullah Saw., laki-laki itu bertanya: “ Wahai Muhammad,
beritahukan kepadaku tentang Islam”. Rasulullah Saw. menjawab,
“Islam adalah kamu bersaksi tiada Tuhan selain Allah Swt.dan
bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah Swt. dan hendaklah
kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa
pada bulan Ramadlan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah
jika kamu telah mampu melaksanakannya”. Laki-laki itu pun
menjawab, “Kamu berkata benar”, Umar berkata, tentu saja kami
merasa heran kepada orang itu, sebab dia yang bertanya dan dia
sendiri yang malah membenarkan (jawaban Rasululah).
Kemudian laki-laki itu kembali bertanya, beritahukanlah
kepadaku
mengenai
iman!,
Rasulullah
Saw.
menjawab
“Hendaklah kamu beriman kepada Allah Swt., para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan
juga kepada qadar-Nya yang baik dan yang buruk”. Laki-laki itu
pun menjawab, “kamu berkata benar”, kemudian laki-laki itu
bertanya lagi “beritahukan kepada diriku mengenai ihsan”,
Rasulullah Saw. menjawab “Hendaknya kamu menyembah Allah
22

Swt. seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa merasa
melihat-Nya, maka hendaklah kamu merasa dilihat-Nya (Allah
Swt. melihatmu). Laki-laki itu bertanya lagi “beritahukanlah
kepadaku tentang hari kiamat!” Rasulullah menjawab, “tidaklah
orang yang ditanya lebih mengetahui dibanding orang yang
bertanya,. Laki-laki itu berkata “kalau begitu beritahukanlah
tentang tanda-tandanya saja!” Rasulullah Saw. Berkata “kalau
sudah sudah ada budak melahirkan tuannya, kalau kamu telah
menyaksikan orang yang tidak beralas kaki dan tidak berbusana
dari kalangan orang-orang melarat penggembala domba saling
berlomba-lomba mendirikan bangunan yang tinggi.”
Umar berkata “kemudian orang itu pergi. Setelah itu aku
(Umar) diam beberapa saat, kemudian Rasulullah Saw. bertanya
kepadaku, “Wahai Umar, tahukah dirimu siapakah laki-laki yang
datang bertanya tadi? Aku menjawab, Hanya Allah Swt. dan
Rasul-Nya saja yang mengetahui. Rasulullah Saw. lalu bersabda;
sesungguhnya laki-laki itu adalah Jibril As. Ia datang kepada
kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian semua. (Shahih
Muslim, bab Ma’rifatil Iman wal Islam juz 1 hal 28)
Memperhatikan hadits di atas, maka ada tiga hal penting yang
menjadi inti dari agama yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.,
yakni Islam, Iman dan Ihsan. Ketiga hal ini merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan
yang lainnya, dalam pengalaman kehidupan beragama tiga
perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa melakukan
pembedaan, seorang muslim tidak diperkenankan hanya terlalu
mementingkan aspek Iman dan Islam dan begitu juga sebaliknya,
sebagaimana firman Allah Swt.

َ
ْ ‫ة وَل َ ت َت ّب ِعُللوا‬
َ ِ ‫س لل ْم‬
ُ ْ ‫مُنللوا ْ اد‬
ً ‫كآفّ ل‬
ِ ‫َياأي َّهللا اّللل‬
ّ ‫خل ُللوا ْ فِللي ال‬
َ ‫نآ‬
َ ‫ذي‬
َ ْ ‫شي‬
ّ ‫ت ال‬
(208) ‫ن‬
ُ
ِ ‫وا‬
ّ ّ‫م ع َد ُو‬
ْ ُ ‫ه ل َك‬
ُ ّ ‫ن إ ِن‬
ٌ ‫مِبي‬
ِ ‫طا‬
َ ُ ‫خط‬
23

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu menuruti langkah-langkah
syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
(QS. Al-Baqarah: 208)
Dan dari dalil di atas dapat kita ketahui bahwa inti ajaran
Islam adalah iman, islam dan ihsan yang harus diamalkan secara
kaffah (menyeluruh) dan dari perjalanan sejarah, secara keilmuan
berkembang dan dikolaborasi menjadi ilmu tauhid, fiqih,dan
tasawuf.
3. Aswaja dan Perkembangan Sosial Budaya
Manusia merupakan mahluk yang diciptakan Allah Swt.dalam
bentuk yang paling sempurna (Fii ahsani taqwim, al-Thin:4)
dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lainnya. Manusia
diberi akal budi dan hati nurani untuk mengemban fungsi kekhalifahan yaitu mengatur kehidupan untuk mewujudkan
kemakmuran di muka bumi (al-Baqarah: 30-34, al-An’am:165).
Sejarah
kehidupan
yang
dibangun
manusia
telah
menghasilkan peradaban, kebudayaan dan tradisi sebagai wujud
karya dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan dan
tuntunan hidup yang dihadapi dalam lingkungan negara atau
wilayah tertentu. Suatu bangsa atau suku membangun
kebudayaan serta peradabannya sesuai dengan prinsip dan nilainilai sosial serta pandangan hidup yang diperoleh dari ajaran
agama atau faham yang dianut, budaya atau tradisi itu selalu
mengalami
perubahan
baik
berupa
kemajuan
maupun
kemunduran yang semuanya ditentukan atas dasar relevansinya
dengan kehidupan dan kemanusiaan. Pertemuan antara berbagai
peradaban, kebudayaan dan tradisi merupakan kenyataan dan
dialektika sejarah yang menyebabkan terjadinya saling
mempengaruhi, percampuran, serta perbenturan yang sesuai
dengan daya tahan dan daya serap masing-masing, sebagai
contoh adalah peradaban Islam di Indonesia yang muncul sejak
24

awal abad ke-7 masehi sampai perkembangannya merupakan
salah satu kenyataan sejarah tersebut.
Salah satu faktor penentu berkembangnya peradaban Islam
adalah faham golongan ahlu al-Sunnah wa al-jama’ah, ahlu alSunnah wa al-Jama’ah sebagai paham dengan metode yang
komperehensif, memadukan antara wahyu dan akal yang
mencakup seluruh aspek kehidupan yang mengandung prinsip
moderat (tawasuth), menjaga keseimbangan (tawazun) dan
toleransi (tasamuh). Metode pemahaman dan pemikiran (manhaj
al-fikr) ini lahir dari proses dialektika sejarah pemikiran dan
gerakan yang intens dengan mengikuti tuntunan wahyu dan
tuntunan akal secara proporsional yang sesuai dengan fitrah
kemanusiaan dan hukum kehidupan (sunnatullah). Ahlu al-Sunnah
wa al-Jama’ah menghindari pertentangan politik dan fanatisme
kelompok yang masuk dalam pemahaman keagamaan, dengan
prinsip dan watak dasarnya itulah ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah
dapat diterima dan berkembang di semua lapisan masyarakat
serta ikut berperan memajukan kehidupan yang penuh
kedamaian dalam wahana kebangsaan dan kenegaraan bersama
peradaban, kebudayaan,dan tradisi lain.
Sebagai metode pemahaman dan pemikiran keagamaan yang
fitri, ahlu al-sunnah wa al Jama’ah mengaktualisasikan diri dalam
pengembangan peradaban, kebudayaan dan tradisi yang
konstruktif (al-amru bi al-ma’ruf) serta mencegah perubahan yang
destruktif (al nahy mabadi’ al khamsah: hifzh al-din, hifzh al-nafs,
hifzh al-aql, hifzh al-nasl, hifzh al-mal) demi terwujudnya
kemaslahatan di muka bumi.
Dengan prinsip menyebarkan rahmat kepada seluruh alam
semesta (rahmat li al-‘alamin) ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah
memandang realitas kehidupan secara inklusif (semua,
menyeluruh) dan substansif (independen, hakiki). Secara mutlak
ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah tidak mau terjebak dalam klaim
kebenaran dalam dirinya juga tidak dalam kelompok-kelompok

25

lain (tidak membedakan suku, ras dan budaya) karena mengaku
atau mengklaim kebenaran hanya miliknya sendiri dan
memandang pihak lain salah apalagi memaksakan pendapatnya
kepada orang lain adalah merupakan sikap otoriter dan pada
gilirannya akan mengakibatkan perpecahan, pertentangan dan
konflik yang membuat kerusakan dan kesengsaraan.
Pluralitas (kemajemukan) dalam kehidupan ini adalah
merupakan rahmat yang harus dihadapi dengan sifat ta’aruf,
membuka diri dan melakukan dialog secara kreatif untuk menjalin
kebersamaan dan kerjasama dengan saling menghormati dan
saling membantu.
Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah sebagai metode pemahaman
dan pemikiran yang dirumuskan dalam wacana keagamaan dalam
penjabaran secara praktis masih banyak terjadi khilafiyah dan
mengalami distorsi (pemutarbalikan fakta atau kenyataan) baik
oleh para penganutnya maupun dikalangan orang luar.
Pemahaman yang memadukan antara wahyu dan akal, teori
kasab, serta tekanan ajaran zuhud (‘uzlah), qana’ah dan
sebagainya telah disalahfahami yang kemudian diasumsikan
menjadi penyebab kemunduran karena tumbuhnya sikap
determinasi dan kepasrahan dalam kehidupan keduniaan,
padahal ajaran akidah itu lebih bersifat penataan hubungan
hamba dengan Tuhan. Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah mendorong
manusia untuk menjadi pribadi muslim yang saleh, kreatif,
dinamis dan inovatif agar mampu menjalankan fungsi
kekhalifahan dengan tulus demi pengabdian dan kebudayaan
yang maju, memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia
dengan mendayagunakan potensi intelektualitas dan intuisinya
secara maksimal dan bertanggung jawab sebagai amal saleh
yang menentukan nilai dirinya dihadapan Allah Swt.
Prinsip ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam mengembangkan
kebudayaan dan peradaban didasari sikap yang seimbang,
menjaga kesinambungan antara hal-hal baik yang sudah ada dan
mengambil hal-hal baru yang lebih baik (al-mukhafazhah ‘ala al26

qadim al-shalih wa al-akhdzu bil jadid al-ashlah) dan dengan
dasar itulah ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah memandang
peradaban dan kebudayaan modern yang baru muncul atau baru
lahir sebagai hasil inovasi dan kreatifitas manusia atas dasar
rasionalisme dalam menjawab tantangan yang dihadapi dalam
bentuk nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kata
lain ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah memandang peradaban dan
kebudayaan modern dapat dimanfaatkan sepanjang tidak
mengakibatkan bahaya dan tidak bertentangan dengan sendisendi dasar akidah dan syariat Islam, lagi pula semua yang ada
dalam peradaban dan kebudayaan modern baik berupa etos
kerja, kedisiplinan, orientasi ke depan, dorongan penggunaan
teknologi canggih merupakan warisan kemanusiaan yang
membawa manfaat untuk kesejahteraan hidup manusia.

27

BAB II
BID’AH
Belakangan ini semakin gencar tudingan bid’ah pada
seseorang atau kelompok tertentu, yang satu menyatakan bahwa
kelompok yang tidak sefaham dengannya sebagai ahlu bid’ah
sehingga mereka tersesat dan berhak masuk neraka, sementara
kelompok lain juga menuding kelompok yang lainnya lagi
mengembangkan bid’ah. Saling tuding seperti inilah kemudian
menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam. Apa
sebetulnya makna bid’ah itu? dan apakah memang benar bid’ah
itu selalu berkonotasi negatif sehingga harus dihilangkan dari
muka bumi ini?
Menurut al-Imam Abu Muhammad ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam,
bid’ah adalah:

ُ ْ‫ة فِع‬
‫ه‬
ُ َ ‫اَل ْب ِد ْع‬
ُ ‫صرِ َر‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ْ َ ‫ما ل‬
َ ‫ل‬
َ ِ‫ل اللله‬
ْ َ‫ي ع‬
ِ ْ ‫س لو‬
ْ ِ‫م ي ُعْهَد ْ ف‬
‫ ص‬2 ‫ ج‬. ‫م ) قواعد الحكام فللي مصللالح النللام‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
( 172
Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal
(terjadi) pada masa Rasulullah Saw. (Qawa’id al-Ahkam fi
Mashalih al-Anaam, juz II hal. 172)
Dalam khazanah pemahaman literatur fiqih, bid’ah secara
garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu
bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (jelek), sebagaimana
yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i;

َ
َ
ً ‫ة أ َوْ أ ََثرا‬
َ ‫َقا‬
َ ُ‫ث ي‬
ً ّ ‫سن‬
ُ ِ ‫خال‬
َ َ ‫حد‬
ِ ‫ف‬
ْ ‫ما أ‬
َ ‫ت‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م‬
ُ ْ‫كتَابا ً أو‬
َ ‫ن‬
ُ َ ‫دثا‬
ُ ْ ‫ل ا َل‬
ِ َ ‫ضْربا‬
َ
َ
َ ‫خي ْلرِ ل‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ َ ‫ح لد‬
ُ ‫ماع ًللا َفهلذ ِهِ ب ِد ْع َل‬
ِ ‫ث‬
ْ ‫مللا أ‬
ّ ‫ة ال‬
ْ ِ ‫أوْإ‬
َ َ‫ل و‬
َ ‫ج‬
َ ‫مل‬
ِ َ ‫ضلل‬
َ ‫ن ذِلل‬
َ ‫ف‬
‫ملةٍ انتهلى‬
َ ُ‫ي‬
ُ ِ ‫خال‬
ِ ً ‫شْيئا‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫مو‬
ُ ْ ‫مذ‬
َ ‫حد ََثلةٌ غ َْيلُر‬
ُ ِ‫ك فََهلذ ِه‬
ْ ‫مل‬
(1. ‫ ص‬17 ‫ ج‬, ‫)فتح البارى‬
Sesuatu yang diada-adakan itu ada dua macam. Pertama,
sesuatu yang baru itu menyalahi al-Qur’an, sunnah Nabi
Saw., atsar sahabat atau ijma’ ulama’, hal ini disebut
28

dengan bid’ah dhalalah. Dan kedua, jika sesuatu yang baru
tersebut termasuk kebajikan yang tidak menyalahi sedikit
pun dari hal itu (al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’), maka
perbuatan tersebut tergolong perbuatan baru yang tidak
dicela. (Fathu al-Bari, juz 17 hal.10)
Sedangkan dalam Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-An’am, Juz
I, hal. 173 telah dijelaskan lebih lanjut secara terperinci bahwa
sebagian besar ulama’ membagi bid’ah menjadi lima macam:
1.
Bid’ah Wajibah, yakni bid’ah yang dilakukan untuk
mewujudkan hal-hal yang diwajibkan oleh syara’ seperti
mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah, dengan alasan
karena hanya dengan ilmu-ilmu inilah seseorang dapat
memahami al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad secara
sempurna.
2.
Bid’ah Mandubah, yakni segala sesuatu yang baik
tapi tak pernah dilakukan pada masa Rasulullah Saw.
misalnya, shalat tarawih secara berjama’ah, mendirikan
madrasah dan pesantren.
3.
Bid’ah Mubahah, seperti berjabat tangan setelah
shalat dan makan-makanan yang lezat.
4.
Bid’ah Muharramah, yakni bid’ah yang bertentangan
dengan syara’ seperti madzhab Jabariyah dan Murji’ah.
5.
Bid’ah Makruhah, seperti menghiasi masjid dengan
hiasan yang berlebihan.
Dari sini dapat diketahui bahwa bid’ah terbagi menjadi dua,
pertama bid’ah hasanah yakni bid’ah yang tidak dilarang dalam
agama karena mengandung unsur yang baik dan tidak
bertentangan dengan ajaran agama, masuk dalam kategori ini
adalah bid’ah wajibah, bid’ah mandubah dan bid’ah mubahah,
salah satu contoh dalam konteks ini seperti perkataan Sayyidina
Umar bin Khattab ra. tentang jama’ah shalat tarawih yang beliau
laksanakan:

29

( 231 ‫ة ٰهذ ِهِ )الموطأ رقم‬
ُ َ ‫ة ْالب ِد ْع‬
ُ ‫م‬
َ ‫ِعْن‬
Sebaik-baik bid’ah adalah ini (yakni shalat tarawih dengan
berjama’ah). (al-Muwatha’ [231])
Contoh bid’ah hasanah antara lain adalah khutbah yang
diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, membuka suatu acara
dimulai dengan membaca basmalah dibawah seorang komando,
menambah bacaan subhanahu wata’ala yang disingkat dengan
Swt. setiap ada kalimat Allah Swt. dan sallaAllahu alaihi
wasallama yang diringkas Saw. setiap ada kata Muhammad,
berkendara ke tempat atau majlis terpuji dengan naik mobil
Alphard, mengendara sepeda motor ke sekolah, melihat acara
pengajian dengan televisi, membuat buku Galak Gampil dengan
sarana komputer, mesin cetak, mengabadikan momen-momen
tertentu dengan kamera digital, makan es krim, serta masih
banyak lagi perbuatan lainnya yang belum pernah ada pada masa
Rasulullah Saw. yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Bid’ah yang kedua adalah Bid’ah Sayyi’ah atau bid’ah
dhalalah, yaitu bid’ah yang mengandung unsur negatif dan dapat
merusak ajaran dan norma agama Islam. Bid’ah Muharromah dan
Makruhah dapat digolongkan pada bagian yang kedua ini, dan
inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi Muhammad Saw:

َ
َ ‫سللو‬
َ ِ ‫عائ‬
‫صلللى الللله‬- ِ‫ل الل ّله‬
َ ‫ن‬
َ ‫ش‬
ِ ‫ َر‬- ‫ة‬
ّ ‫ه ع َن َْها أ‬
ُ ‫ن َر‬
ُ ‫ى الل‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫ض‬
َ
َ ‫م‬
َ ‫ َقا‬-‫عليه وسلم‬
‫و‬
ِ َ‫ن ع‬
ْ ‫س ع َل َي ْلهِ أ‬
َ َ‫ل ع‬
َ »‫ل‬
َ ‫مل ً ل َي ْل‬
َ ‫مُرن َللا فَهُل‬
ْ ‫م‬
.« ّ ‫َرد‬
Dari Aisyah ra, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah Saw.
Bersabda: Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tiada
perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak. (Sahih Muslim, bab
Idza Ijtahada al-Amal)

30

Dengan adanya pembagian ini dapat disimpulkan bahwa tidak
semua bid’ah itu dilarang dalam agama, sebab yang tidak
diperkenankan
adalah
perbuatan
yang
dikhawatirkan
menghancurkan sendi-sendi agama Islam, sedangkan amaliyah
yang akan menambah syiar dan daya tarik agama Islam tidak
dilarang, bahkan untuk saat ini sudah waktunya umat Islam lebih
kreatif untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan
zaman.

BAB III
PENERAPAN HUKUM FIQIH
Setiap muslim mukallaf dituntut melaksanakan semua
perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya, namun kita
sadari bahwa pada setiap masa masing-masing orang mempunyai
kekuatan dan kelemahan baik dari sisi fisik maupun
keimanannya, bagaimanakah sikap agama melihat kenyataan
seperti itu?
Allah Swt. memang menciptakan manusia sesuai dengan
kadarnya masing-masing, dari sisi hukum syari’at terdapat dua
tingkatan yaitu hukum yang berat dan yang ringan, dengan
demikian qoul yang berat untuk mereka yang kuat dan yang
ringan untuk mereka yang lemah. Hal ini sesungguhnya telah
dijelaskan di dalam kitab al-Mizan al-Kubra hal.3;

َ
َ َ‫و‬
‫ف‬
ْ ‫ملعَ ا‬
ِ َ ‫خت ِل‬
َ َ ‫ن فِْيما‬
ُ َ ‫كما َ ل َي‬
َ ‫ت ب ِلهِ ا ْلن ِْبيلا َُء‬
ْ َ ‫جللائ‬
ُ ْ‫جوُْز َلنا َ َالط ّع‬
َ
َ َ‫م ف‬
َ ِ ‫كذل‬
َ
‫ة‬
ُ ‫مل‬
ُ َ ‫ك ل َي‬
ْ ‫مللا ا‬
ّ ِ ‫ه ا ْلئ‬
ُ َ ‫سلت َن ْب َط‬
َ ْ ‫ن فِي‬
ْ ِ‫شَرائ ِعِه‬
ُ ‫جوُْز ل ََنا َالط ّعْل‬
َ
ْ
َ
ْ
َ
َ ‫ك ذِللل‬
َ ‫حل‬
‫ك‬
ُ ‫ض‬
َ ْ‫ن وَي ُو‬
ْ ِ ‫ست‬
ْ ِ ‫ق ال‬
ْ ‫ن ب ِطرِي‬
َ ْ‫جت َهِد ُو‬
ْ ‫م‬
َ ‫ح‬
ْ ِ ‫جِتهاد ِ وَال‬
ُ ْ ‫ا َل‬
ِ ‫سا‬
ِ
َ
َ
َ
ّ ‫ن ال‬
‫م لرِ َوالن ّهِللى‬
ُ ْ ‫حي‬
َ َ‫شرِي ْع‬
ِ َ ‫م َياأ‬
ِ ‫ت‬
َ ‫ن‬
َ ‫ة‬
ّ ‫ىأ‬
ْ ‫أ‬
ْ ‫ث ا ْل‬
ْ َ ‫جائ‬
َ َ ‫ن ت َعْل‬
ْ ‫م‬
ْ ‫خ‬
ْ َ ‫ف وَت‬
‫مللا‬
َ َ ‫شلد ِي ْد ٌ ل‬
َ
ِ ‫مْرت َب َلةٍ َوا‬
ٌ ْ ‫في‬
ِ ‫ح‬
ْ َ‫ى ت‬
َ َ ‫حلد َةٍ ك‬
َ ‫ى‬
َ ‫ى‬
َ ‫علل‬
ْ ‫مْرت ََبتـ‬
َ ‫عل‬
31

ْ
َ‫ن ل‬
ِ ّ ‫مك َل‬
ِ ‫ج‬
ِ ْ ‫ه ِفللى ال‬
َ ‫ن‬
ّ ِ ‫ن َفللا‬
ُ ‫ضللا‬
َ ْ ‫ى ا ِي‬
َ
ُ ْ ‫مْيللعَ ال‬
ُ ‫ح‬
َ ‫فْيلل‬
ِ ‫مْيللَزا‬
ْ ِ ‫سللي َأت‬
ْ ُ‫ي‬
ُ ْ ‫حي‬
ٌ ْ ‫ضعِي‬
ِ ‫ف‬
ِ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ن‬
َ َ‫ قَوِيّ و‬: ‫ن‬
َ ْ ‫جو‬
ُ ِ‫خر‬
ْ ‫ق‬
َ ْ ‫ث ا ِي‬
َ ‫س‬
ْ‫مللان ِهِ ا َو‬
ْ ‫م‬
ِ ْ ‫مي‬
ِ َ‫ن ع‬
ّ ُ‫ي ك‬
‫ب‬
ُ ‫م‬
ِ َ‫ن قَ لوِي‬
ِ ‫س‬
َ ِ ‫خ لوْط‬
ْ ‫ج‬
ْ ‫من ْهُ ل‬
َ َ‫ ف‬, ‫ن‬
َ ‫صرٍ وََز‬
ِ
ْ َ‫ل ع‬
ْ ‫مل‬
ٍ ‫مللا‬
ْ ِ ‫مه ِ ف‬
َ
ْ
ْ
ْ ّ ‫ِبالت‬
‫ب‬
ُ ‫م‬
ْ ‫شللد ِي ْد ِ وَال‬
َ َ‫ضللع‬
ِ ‫ف‬
َ ِ ‫خللوْط‬
َ ‫ن‬
ْ ‫من ُْهلل‬
َ َ‫خللذ ُ ِبللالعََزائ ِم ِ و‬
ْ ‫ملل‬
َ
( 3 ‫ص )الميزان الكبرى ص‬
َ ‫خذ ُ ِبالّر‬
ْ ‫ف وَا ْل‬
ْ ّ ‫ِبالت‬
ِ ‫خ‬
ِ ْ ‫في‬
ِ ‫خ‬
Sebagaimana tidak diperbolehkan mencela perbedaan di antara
syari’at-syari’at yang dibawa para Nabi, begitu juga tidak
diperbolehkan mencela pendapat-pendapat yang dicetuskan para
imam Mujtahid, baik dengan metode ijtihad maupun istihsan.
Saudaraku! Lebih jelasnya engkau perlu mengerti, bahwa syari’at
itu dilihat dari perintah dan larangannya dikembalikan pada dua
kategori yaitu ringan dan berat. Lebih jelasnya hal itu
dicantumkan pada ‘al-Mizan. Dengan demikian orang-orang
mukallaf itu dipandangkan dari segi keimanan dan fisiknya, dalam
setiap zamannya, tidak terlepas dari dua kategori yaitu orang
yang lemah dan orang yang kuat, dan barang siapa tergolong
kuat, maka ia mendapatkan khitob berupa qoul yang galak, dan
barang siapa yang tergolong lemah maka ia mendapatkan khitob
berupa qoul yang gampil. (Al-Mizanu al-Kubra, hal. 3)
Dari keterangan tersebut di atas maka dalam menerapkan
suatu hukum harus sesuai dengan syari’at ajaran Islam yang di
dalamnya tidak ada kekerasan dan paksaan.

32

BAB IV
HUKUM BERPINDAH-PINDAH MADZHAB
Bagaimanakah hukum berpindah-pindah dalam mengikuti
pendapat madzhab, semisal penganut madzhab Syafi’i memilih
atau mengikuti qoul yang ringan dari qoul atau pendapat selain
dari madzhab Imam Syafi’i atau sebaliknya?
A. Fasiq, apabila untuk mencari kemudahan-kemudahan hukum
saja. Keterangan kitab Fatkhu al-Mu’in halaman 138

ّ ‫ه وَإ ِل‬
َ ‫س‬
َ ِ ‫ة( إ‬
َ َ‫واف‬
ٌ َ ‫)َفائ ِد‬
ِ ‫ك ْالَعا‬
ّ ‫م‬
ُ ُ ‫قلللت‬
ُ ‫ه‬
ُ ‫م‬
َ ِ‫ب ل َز‬
َ ‫يب‬
َ َ ‫ذا ت‬
ٍ َ‫مذ ْه‬
َ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ
‫م‬
ِ ‫ن‬
ّ ‫معَي‬
َ ُ‫مذ ْه‬
ّ ‫ن ا ْلْرب َعَ لةِ ل َ غ َي ْرِهَللا ث ُل‬
َ ‫ب‬
َ ِ‫ب ب‬
َ َ ‫ه الت‬
ُ ‫م‬
َ ِ‫ل َز‬
ٍ َ‫مذ ْه‬
َ ‫م‬
ٍ
َ َ ‫ل ا ْل ِن ِْتقا‬
َ ‫م‬
‫ى غ َي ْلرِهِ با ِل ْك ُل ّي َلةِ أ َوْ فِللي‬
‫ل ِإلل‬
‫ل ب ِا ْل َو‬
ِ َ‫ن ع‬
ْ ِ ‫ه وَإ‬
ُ َ‫ل‬
ِ
ّ
َ
ْ
َ
َ
ّ ‫ن ك ُل‬
َ ِ‫ل ب‬
‫ل‬
ُ ‫ن ي َأ‬
َ ‫ن ل َ ي َت َت َب ّعَ الّر‬
ِ َ ‫خ لذ‬
ٍ ‫شْر‬
ْ ‫ص ب ِأ‬
ْ ‫طأ‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫خ‬
ْ ‫مل‬
ِ ِ ‫سائ‬
َ
َ
‫ه‬
ْ َ ‫ه فَي‬
ِ ‫ج‬
ِ ‫ل‬
َ ْ‫سقُ ب ِهِ ع ََلى ا ْلو‬
ُ ‫ف‬
ْ ‫ب ب ِا ْل‬
ُ ْ ‫من‬
َ
ٍ َ‫مذ ْه‬
ِ َ ‫سه‬
(Faidah) jika orang awam berpegang teguh pada suatu
madzhab maka wajib mengikutinya, jika tidak atau
berpindah madzhab maka wajib mengikuti madzhab yang
jelas dari salahsatu madzhab empat (madzhab Hanafi, Maliki,
Syafi’i dan Hambali) tidak kepada madzhab yang lainnya,
jika orang awam yang sudah mengikuti madzhab yang awal
menginginkan berpindah ke madzhab yang lain (hukumnya
boleh) dengan syarat harus mengikuti pendapat madzhab
tersebut satu rumpun atau satu qodhiyah secara utuh, atau
hanya ikut dalam beberapa jenis masalah saja dengan syarat
tidak mengambil atau memilih pendapat yang ringan dari
setiap madzhab yang lebih mudah, jika begitu (hanya
memilihi yang ringan-ringan saja) maka termasuk perbuatan
fasik (menurut pendapat yang terpecaya).

B. Boleh secara mutlak, dalam artian berpindah madzhab untuk
suatu kebutuhan tertentu atau berpindah-pindah madzhab

33

hanya untuk mencari suatu kemudahan saja, asalkan tidak
melakukan talfiq. Talfiq adalah menghimpun atau bertaqlid
dengan dua imam madzhab atau lebih dalam satu perbuatan
yang memiliki rukun, bagian-bagian yang terkait satu dengan
lainnya yang memiliki hukum yang khusus, kemudian
mengikuti satu dari pendapat yang ada. Hal ini diterangkan
dalam kitab I’anah al-Thalibin juz 4 halaman 217

َ
َ ‫خ قَللا‬
ْ ‫ه ا ِل َل‬
‫ل‬
َ ْ ‫ن ال‬
ُ َ‫م ي‬
َ ‫ج‬
ُ ‫جلوُْز ل َل‬
ّ ُ ‫ه ( أيْ ث‬
ُ َ‫م ل‬
ّ ُ‫ه ث‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
ِ ‫ملا‬
ُ ‫ل ا ِب ْل‬
َ
َ ّ َ ‫) إع ْل َم ( أ‬
َ ‫ن‬
ّ ‫كال‬
‫ن‬
ّ ‫مت َلأ‬
ِ ‫ح‬
ّ ‫صل‬
ُ ْ ‫ن ك َل َم ِ ال‬
ْ ِ
َ ‫ن ا ْل‬
َ ْ ‫خرِي‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫خ ا ِب ْل‬
ِ ْ ‫شلي‬
َ
ْ
ُ ‫قا‬
‫ب‬
َ ِ ‫جوُْز ال ِن ْت‬
ِ ‫ل‬
ُ َ‫ه ي‬
َ ‫ح‬
َ
َ ‫ى‬
َ ‫ن‬
ُ ّ ‫جرٍ وَغ َي ْرِهِ أن‬
ٍ َ‫م لذ ْه‬
ٍ َ‫م لذ ْه‬
ْ ‫م‬
َ ‫ب ِإل ل‬
َ ‫قل‬
َ ّ ‫جّرد ِ الت‬
َ ‫م‬
‫ل‬
َ ِ ‫واٌء ا ِن ْت‬
ِ
َ ‫م‬
َ ‫شّهى‬
ُ ِ ‫مد َوّن َةِ وَل َوْ ب‬
ُ ْ ‫ب ا َل‬
َ ‫ن ْال‬
ِ ِ ‫ذاه‬
َ ‫سل‬
َ ‫م‬
َ
َ
َ
َ ‫مل‬
‫ل‬
ِ َ ‫م وَع‬
َ ْ‫ى أو‬
ْ ِ ‫حاد ِث َلةِ وَإ‬
َ ْ ‫ض ال‬
َ ‫حك َل‬
ْ ِ‫د ََواما ً أوْ ف‬
َ ‫ن أفْللت‬
ِ ‫ي ب َعْل‬
4 ‫في ْقُ اهل )اعانة الطالبين ج‬
ِ ِ‫ب‬
ِ ْ ‫ه الت ّل‬
ِ ‫م‬
ْ ‫م ي َل َْز‬
ُ ْ ‫من‬
ْ َ ‫خل َفِهِ ما َ ل‬
(217 ‫ص‬
Ibnu Jamal berkata “ketahuilah sesungguhnya qoul yang lebih
sahih menurut pendapat ulama’ periode akhir seperti Syekh
Ibnu Hajar dan yang lainnya, beliau berpendapat
“sesungguhnya boleh berpindah dari madzhab satu ke
madzhab yang lainnya walaupun dengan keinginan untuk
mencoba, baik itu berpindah selamanya atau berpindah
dalam keadaan tertentu, jika orang awam menfatwakan atau
memberikan hukum dan mengamalkan dengan sebaliknya
hukumnya boleh selagi tidak menetapkan talfiq”.

34

BAB V
KESUCIAN
Junub
Junub adalah kondisi hadats yang menyebabkan seseorang
dilarang untuk melakukan ibadah pada Allah Swt., seperti;
mendirikan shalat, membaca al-Qur’an, masuk masjid dan lain
sebagainya. Adapun sebab-sebab junub:
1. Melakukan senggama
2. Keluar air sperma
3. Haid
4. Nifas
5. Melahirkan
6. Meninggal dunia
Cara bersuci dari hadats ini adalah dengan cara mandi besar
dengan niat tertentu.

Bagian Anggota Tubuh yang Terlepas bagi Orang yang
Hadats Besar
Ketika seseorang yang sedang dalam keadaan hadats besar
(junub) dan belum bersuci, sementara sebagian anggota tubuh
ada yang lepas dari tubuhnya seperti rambut, kuku atau yang
lainnya, apakah anggota tubuh yang putus tersebut wajib
disucikan bersama dengan membasuh anggota badan yang sudah
lepas seperti rambut, kuku dan lain-lain yang terlepas pada saat
dalam kondisi hadats besar?:
a. Menurut Imam Ghazali, sebaiknya membasuhnya, karena
bila anggota badan tersebut tidak dibasuh maka di akhirat
akan dikembalikan dalam keadaan hadats.

35

َ
ُ ْ‫ما قَو‬
ِ ‫صا‬
ِ‫ب ت َُرد ّ ا ِل َي ْه‬
ُ ْ ‫جزا َ ال‬
ْ ‫سائ ُِر أ‬
ْ ِ ‫ب ا ْل‬
ُ ‫ح‬
َ َ‫حيا َِء و‬
ّ َ ‫وَا‬
ِ ُ ‫جن‬
َ ‫ل‬
ً ‫جُنبا‬
َ ْ ‫ل قَب‬
َ ْ ‫ماا ُزِي‬
ِ َ ‫ِفي ا ْل‬
ُ ‫ل‬
ْ ُ‫ل ْالغ‬
َ ْ‫خَرةِ فَي َعُوْد ُ ا َى‬
ِ ‫س‬

Imam ghozali berpendapat: bagian-bagian anggota tubuh
(yang terlepas) yang masih menanggung junub diakhirat
akan dikembalikan dalam kondisi menanggung junub
(hadats). (al-Qulyubi, juz I, hal. 67)

b. Menurut syekh Zainuddin bin Abdil Aziz al-Malibari, tidak
wajib membasuh anggota badan yang sudah lepas, hanya
diwajibkan pada anggota yang dzahir atau yang melekat
saja.,

ْ َ ‫حللتى ( ا ْل‬
َ (‫م‬
‫ظف لا ََر‬
ِ ْ‫ما ) ت َع‬
ُ ْ ‫مي‬
َ ِ‫) وَ ( ثا َن ِي ْه‬
ٍ َ ‫ظاه ُِر ) ب َلد‬
ّ َ ‫ن‬
َ ‫ف َوملا‬
َ ( ‫شعَْر‬
ّ ‫حَتها َ وَ ) ال‬
َ ‫ن ك َث ِل‬
ِ َ ‫ظاه ًِرا َوبا‬
ْ ِ ‫طنلا ً وَإ‬
ْ َ ‫َوما َ ت‬
َ ‫سِلها‬
َ ْ ‫ت قَب‬
َ ‫ت‬
ِ َ ‫من ْب‬
ِ ‫ظ َهََر‬
ْ َ‫ن ن‬
ْ َ‫ل غ‬
ْ َ ‫شعَْرةٍ َزال‬
َ ِ ‫حو‬
ْ ‫م‬
Syarat yang kedua yaitu meratakan air pada seluruh
anggota dzohir badan hingga kuku dan di bagian
bawahnya, rambut bagian luar dan dalam, yakni tempat
tumbuhnya rambut yang telah lepas sebelum mandi. (Fath
al-Mu’in, hal. 10)

Sengaja Memotong Bagian Anggota Badan
pada saat
Sedang Hadats Besar
Bagaimana hukumnya orang yang sedang junub (hadats
besar), kemudian sengaja memotong rambut, kuku atau anggota
tubuh yang lainnya?
a. Makruh hukumnya bagi orang yang mempunyai hadats
besar sengaja memotong bagian anggota badan, karena di
akhirat nanti bagian yang dipotong akan dikembalikan
dalam keadaan hadats besar. (I’anah at-Thalibin, juz I,
hal.79)
36

َ ‫خ ( قَللا‬
‫حي َللاِء َل‬
ْ ‫وا إَِل‬
ْ ‫زْيُل‬
ِ ‫ن ل ََي‬
ْ َ‫ي أ‬
ْ ‫ه َوَيْنبَِغ‬
ُ ‫وُل‬
ْ َ‫) ق‬
ْ ِ ‫ل فِللي اْل‬
َ‫خ لرج دمللا أو‬
َ
َ
َ
َ
َ ُ‫ن ي‬
ِ َ ‫س لت‬
ْ َ ‫م أوْ ي‬
ْ ‫ي َن ْب َِغي أ‬
ْ َ ‫حل ِلقَ أوْ ي‬
ً َ َ ِ ْ ُ ‫حد ّ أوْ ي‬
َ ّ ‫قل‬
ْ
‫ائر‬
ِ ‫سل‬
َ ‫ه‬
ِ ‫ردّ ِإَليْل‬
َ ‫ب إِْذ يُل‬
ْ َ‫ن ن‬
ُ َ‫جلْزًءا و‬
ِ ‫ف‬
ِ ‫ن‬
ٌ ‫جُنل‬
ُ َ‫هلو‬
ُ ِ‫سله‬
ْ ‫م‬
َ ّ ‫ي ُب َي‬
ٍ‫شلْعرَة‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ن كُل‬
ّ ِ‫ل إ‬
ُ َ‫بلا َوُيقلا‬
ً ُ‫جن‬
ُ ‫وُد‬
ْ ‫ة فََيُع‬
ِ ‫ر‬
َ ‫لخ‬
ِ ْ‫ه ِفي ا‬
ِ ‫ائ‬
ِ َ‫جز‬
ْ ‫َأ‬
‫ناَبِتَها اهل‬
َ ‫ج‬
ِ ‫ب ِب‬
ُ ‫ال‬
ِ َ‫ُتط‬
b. Boleh hukumnya melakukan hal di atas dalam kondisi
hadats besar.

ً َ ‫ل‬
َ ‫ن ل ّ ي ُزِْيل‬
ٌ ‫س‬
ِ‫ن َبلد َن ِه‬
ِ ‫شلي ْأ‬
ْ َ‫ه ا‬
َ ُ‫ل ي‬
ْ ُ‫ه غ‬
ُ َ‫ن ل‬
ُ ‫م‬
َ ِ‫ن ل َز‬
َ ‫َو‬
ْ ‫مل‬
ّ ‫س‬
ْ ‫م‬
َ
َ
َ
ّ ‫ن ك ُل‬
ُ ‫سل‬
َ ْ‫ما أو‬
ٍ‫جلْزء‬
َ َ ‫شلعًْرا أوْظ‬
ِ ْ‫حت ّللى ي َغ‬
ُ ‫ل‬
ّ ‫ل ِل‬
َ ‫فلًرا‬
ً َ ‫وَل َوْد‬
َ ‫ه قَب ْل‬
‫ه‬
ِ َ ‫ه ِفى ا ْل‬
ِ ‫ل ع َللاد َ ع َل َي ْل‬
ْ ُ‫ل ْالغ‬
ُ َ ‫خَرةِ فَل َوْ إ َِزل‬
ُ َ ‫ي َعُوْد ُ ل‬
ِ ‫سل‬
ّ ‫ث ا ْل َك ْب َُر ت َب ْك ِْيتا ً ِلل‬
(31 ‫ )نهاية الزين ص‬. ‫ص‬
ْ ‫ش‬
ُ َ ‫حد‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ‫خ‬

Hukum Orang Junub Membaca al-Qur’an
Pada saat acara lomba tilawatil Qur’an lintas asrama dalam
rangka Haflah Akhirus Sanah Pondok Pesantren Ngalah XVII 2006
seorang santri putri Pondok Pesantren Ngalah sedang mengikuti
acara tersebut, hingga pada tahapan final dia mengalami
keraguan untuk tampil, ketika ditanya ternyata dia sedang datang
bulan (haid). Bagaimanakah hukum seseorang dalam kondisi
junub/hadats besar membaca al-Qur’an?
a. Menurut Syafi’iyah; haram bagi orang yang junub dengan
sengaja membaca al-Qur’an meskipun satu huruf.

َ ُ ‫ة قلا َل ُوا يحلرم ع َل َللى ال ْجنلب قلراَءة ُ ْال‬
ّ ‫َال‬
‫ن‬
ُ ّ ‫شللافِعِي‬
ُ ُ ْ َ ْ
ِ ‫قلْرأ‬
َ ِ ِ ُ ُ
... ‫ه‬
ِ ‫حْرًفا َوا‬
ِ َ ‫ن قا‬
ً ‫ص‬
َ َ ‫ن كا‬
ْ ِ ‫دا ا‬
ً ‫ح‬
َ ْ‫وَل َو‬
ُ ُ ‫دا ت ِل َوَت‬

Menurut ulama’ Syafi’iyah bagi orang junub diharamkan
membaca al-Qur’an meskipun satu huruf dengan sengaja

37

‫‪membacanya, dan seterusnya. (Madzahib al-Arba’ah, Juz I,‬‬
‫)‪hal. 112‬‬

‫ملل َ‬
‫ب‬
‫)َفللْر ٌ‬
‫ي ِقللَراَءةِ ال ْ ُ‬
‫ب ْالعُل َ َ‬
‫ي َ‬
‫جُنلل ِ‬
‫ذاه ِ ِ‬
‫مللاِء ِفلل ْ‬
‫ع( ِفلل ْ‬
‫ْ َ‬
‫ض‬
‫م َ‬
‫ب َوال ْ َ‬
‫ى ال ْ ُ‬
‫ه يَ ْ‬
‫حلُر ُ‬
‫مذ ْهَُبنا َ ا َن ّل ُ‬
‫ض‪َ :‬‬
‫جن ُل ِ‬
‫حللائ ِ ِ‬
‫علل َ‬
‫َوالحائ ِ ِ‬
‫ض آي َلةٍ وَب ِهَللذا َ‬
‫قَِراَءة ُ ْال ُ‬
‫ن قَل ِي ْل َُها وَك َث ِي ُْرهَللا َ‬
‫ى ب َعْل َ‬
‫قْرآ ِ‬
‫حللت ّ‬
‫قا َ َ‬
‫ماِء‬
‫ل ا َك ْث َُر ْالعُل َ َ‬
‫‪Menurut madzhab ulama’ (syafi’iyah) bagi orang junub dan‬‬
‫‪bagi orang haid haram membaca al-Qur’an baik sebagian‬‬
‫‪ayat maupun banyak dan pendapat ini yang lebih banyak‬‬
‫)‪(kuat). (al-Majmu’ juz II, hal. 178‬‬
‫‪b. Menurut Imam Dawud; Boleh bagi orang junub membaca‬‬
‫‪sedikit maupun banyak dari ayat al-Qur’an meskipun‬‬
‫‪membacanya dengan disengaja.‬‬

‫ض قَِراَءة ُ ك ُل ّ‬
‫َوقا َ َ‬
‫ن‬
‫ل ْال ُ‬
‫ب َوال ْ َ‬
‫جوُْز ل ِل ْ ُ‬
‫داوُد ُ ي َ ُ‬
‫ل َ‬
‫جن ُ ِ‬
‫ق لْرآ ِ‬
‫حائ ِ ِ‬
‫ب قللا َ َ‬
‫ل‬
‫هللذا َ َ‬
‫وَُروِىَ َ‬
‫م َ‬
‫ن ال ْ ُ‬
‫سللي ّ ِ‬
‫علل ْ‬
‫س َواْبلل ِ‬
‫ن ع َّبللا ٍ‬
‫ن ا ِْبلل ِ‬
‫َ‬
‫ْال َ‬
‫مللا َوا ْ‬
‫قا ِ‬
‫خت لا ََرهُ‬
‫صللبا َِغ وَغ َي ُْرهُ َ‬
‫ن ال ّ‬
‫ى أب ُوْ الط ّي ّ ِ‬
‫ب َواب ْل ُ‬
‫ض ّ‬
‫كي ْ ُ‬
‫من ْذ ِرِ َوقا َ َ‬
‫ة‬
‫سلي َْر ِ‬
‫ت ا َل ْي َ ِ‬
‫ب ْاليلا َ ِ‬
‫جُنل ُ‬
‫قلَرأ ا َل ْ ُ‬
‫مال ِ ٌ َ‬
‫ل َ‬
‫ن ال ْ ُ‬
‫ا ِب ْ ُ‬
‫ق لرأ ُ‬
‫ْ َ‬
‫حل َ‬
‫ه اَ َ‬
‫داهُ َ‬
‫ن ع َن ْل ُ‬
‫ما ت َ ْ َ‬
‫ض رَِواَيت لا َ ِ‬
‫ِللت ّعَ لوّذ ِ وَفِللى الح لائ ِ ِ‬
‫ةي ْ ُ‬
‫قرأ ُ وقا َ َ َ‬
‫ة‬
‫حن ِي ْ َ‬
‫ض آَيلل ٍ‬
‫جن ُ ُ‬
‫قَرأ ال ْ ُ‬
‫ف َ َ‬
‫ل أب ُوْ َ‬
‫ب ب َعْ َ‬
‫ي ل َ تَ ْ َ َ‬
‫َوالّثان ِ ْ‬
‫جلوَّز‬
‫وَل َ ي َ ْ‬
‫ه رَِواَيل ٌ‬
‫قَرأ ُ آَيل ً‬
‫ن َ‬
‫حَتل ّ‬
‫ملذ ْهَِبنا َ * َوا ْ‬
‫ج َ‬
‫ة كَ َ‬
‫ة وََلل ُ‬
‫مل ْ‬
‫َ‬
‫عائ ِ َ‬
‫صّلى‬
‫ث َ‬
‫ش َ‬
‫ة َر ِ‬
‫حد ِي ْ ِ‬
‫ه ع َن َْها أ ّ‬
‫مط َْلقا ً ب ِ َ‬
‫ى الل ُ‬
‫ُ‬
‫ي َ‬
‫ن الن ّب ِ ّ‬
‫ض َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫ى كُ ّ‬
‫ه‬
‫ه ت ََعالى َ‬
‫حيان ِ ِ‬
‫لأ ْ‬
‫م كا َ‬
‫ه ع َلي ْهِ وَ َ‬
‫ن ي َذ ْك ُُر الل َ‬
‫سل َ‬
‫الل ُ‬
‫عل َ‬
‫صل َ‬
‫م‬
‫وا َوال ْ ُ‬
‫ن ذ ِك ْلٌر وَِل َ ّ‬
‫قلْرآ ُ‬
‫ل ع َ لد َ ُ‬
‫م ْ‬
‫س لل ِ ٌ‬
‫َرَواه ُ ُ‬
‫ن ا ْل َ ْ‬
‫م قَللال ُ ْ‬
‫حرِي ْم ِ ‪ .‬المجموع الجزء ‪ 2‬ص ‪. 178‬‬
‫الت ّ ْ‬
‫‪38‬‬

Menurut Imam Dawud bagi orang junub dan wanita haid
boleh membaca seluruh al-Qur’an hal ini diriwayatkan dari
ibnu Abbas dan ibnu Musayyab, Qadhi Abu Tayyib, Ibnu
Shabbah, dan yang lain, dan pendapat ini dipilih oleh Ibnu
Mundzir. Malik berkata orang junub boleh membaca ayatayat pendek karena meminta perlindungan. Dan bagi
orang yang haid ada dua pendapat,yang pertama boleh
yang kedua tidak boleh. Abu Hanifah berpendapat: “orang
junub boleh membaca sebagian ayat dan tidak boleh
membaca satu ayat penuh” dan baginya satu riwayat
seperti madzhab kita. Dan orang yang membolehkan
secara mutlak itu berdasarkan kepada hadits Siti A’isyah,
sesungguhnya Nabi selalu berdzikir kepada Allah Swt. pada
setiap saat, HR. Muslim, mereka berpendapat al-Qur’an
tersebut adalah merupakan dzikir dan karena pada asalnya
tidak ada keharaman. (al-Majmu’, juz II, hal.178)

Tidur yang Tidak Membatalkan Wudlu’
Banyak hal-hal yang menyebabkan batalnya wudlu’, namun
bagaimanakah dengan orang yang tidur apakah wudlu’nya
menjadi batal?
Imam Madzahib al-Arba’ah mempunyai pandangan yang
berbeda.
a. Menurut Imam Malik: Apabila tidurnya pulas (sekiranya
orang tidur tidak merasakan peristiwa-peristiwa di
sekitarnya) maka tidur seperti ini membatalkan wudlu’.
b. Menurut Imam Syafi’i: Apabila orang tersebut menetapkan
pantatnya pada tempat duduk maka tidur seperti itu tidak
membatalkan wudlu’.
c. Menurut Imam Abu Hanifah: Apabila tidurnya dalam
keadaan berdiri, duduk/sujud (seperti tingkah shalat) maka
tidak membatalkan shalat, bila selain keadaan seperti itu

39

(tidur berbaring, tengkurap) maka tidur tersebut
membatalkan wudlu’.
d. Menurut Imam Ahmad: Apabila tidurnya dengan posisi
duduk/berdiri tidak membatalkan wudlu’ dan bila tidur
selain kedua kondisi tersebut maka membatalkan wudlu’.

ٌ ِ ‫ضوِْء بِالن ّوْم ِ فَن َظ ََر ما َل‬
‫ك‬
ْ َ‫ى ن‬
ْ ‫َوا‬
َ َ ‫خت َل‬
ُ ُ‫ض ْالو‬
َ َ ‫ف َالْعُل‬
ِ ‫ق‬
ْ ِ‫ماُء ف‬
َ ‫قي ْل ً ) وَهُلوَ ا َل ّلذ ِىْ ل‬
َ َ ‫فةِ الن ّلوْم ِ َفقلا‬
َ ‫ص‬
ِ َ‫ن ث‬
ِ ‫ا َِلى‬
َ َ ‫ن ك لا‬
ْ ِ‫ل ا‬
َ َ‫ما فَع‬
‫ن‬
َ َ ‫ضَرت ِهِ ( ن‬
ِ ‫صا‬
ِ َ‫ي‬
ْ ِ ‫ضلوُْء وَا‬
ُ ُ‫ض ا َل ْو‬
ْ ‫ح‬
َ ِ‫ل ب‬
َ ِ‫ه ب‬
ُ ُ ‫حب‬
َ ‫قل‬
َ ‫س‬
ّ ‫ح‬
ّ ‫ وَن َظ َلَر َال‬. َ ‫فْيفلا ً فَل‬
َ ‫صل‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ى ا ِل َللى‬
ِ ‫شل‬
ِ ‫خ‬
َ َ ‫ك لا‬
ِ ‫فةِ الن ّللائ ِم‬
ّ ِ‫فع‬
ْ َ ‫ملل‬
ّ ‫م‬
َ َ ‫َفقللا‬
‫ض‬
ُ ْ ‫ض ل َي َن‬
ِ ‫ه‬
ْ ِ‫ل ا‬
َ ‫ن َنللا‬
ُ َ ‫مقَْعللد َت‬
َ ً ‫كنللا‬
َ ‫م‬
ُ ‫م‬
ُ ‫قلل‬
ِ ‫ن ال َْر‬
َ َ ‫ َوق لا‬. ‫ض‬
‫م ع َل َللى‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ َ ‫ضؤ ُه ُ وَا ِل ّ ا ِن ْت‬
َ ‫فل‬
ْ ِ‫ة ا‬
َ ْ‫ل ا َب ُلو‬
ُ ُ‫و‬
َ ‫ن ن َللا‬
َ ‫قل‬
َ
‫دا‬
ِ َ ‫م قا َِئملا ً ا َوْ قا‬
ِ ٍ‫حال َة‬
ً ‫عل‬
ْ ‫صلل َةِ )ك َلأ‬
ْ َ‫ن ا‬
َ
َ َ ‫ن ن لا‬
ّ ‫ل ال‬
ِ ‫وا‬
َ ‫حل‬
ْ ‫مل‬
َ َ ‫ َوقا‬. ‫ض‬
َ َ ‫ضوُْء وَا ِل ّ ن‬
ُ ْ ‫م ي َن‬
ُ ‫م لد‬
ْ َ‫ل ا‬
ُ ُ‫ض ا َل ْو‬
ً ‫ج‬
َ ْ‫ا َو‬
َ ‫ح‬
ْ َ ‫دا ( ل‬
ِ ‫سا‬
َ ‫ق‬
ْ ‫ق‬
‫ض‬
َ َ ‫ض لوُْء وَا ِل ّ ن‬
ُ ْ ‫م ي َن‬
ِ َ ‫م قا‬
ُ ُ‫ض ا َل ْو‬
ً ‫ع‬
َ َ ‫ِاذا َ نا‬
ْ ‫مللا ل َل‬
ً ِ ‫دا ا َْوقا َئ‬
َ ‫قل‬
ْ ‫قل‬
.124 ‫ ص‬1 ‫ابانة الحكام ج‬.
Para ulama’ berselisih pendapat mengenai apakah tidur itu
bisa membatalkan wudlu’? imam Malik lebih memandang
kepada sifatnya tidur itu sendiri, beliau mengatakan:
apabila tidur tersebut kategori tidur pulas (sekira orang
yang tidur tidak merasakan peristiwa-peristiwa yang terjadi
di depannya), maka tidur seperti ini membatalkan wudlu’,
dan apabila tidur tersebut termasuk kategori ringan, maka
tidaklah membatalkan wudlu’. Sedangkan Imam al-Syafi’i
lebih memandang kepada sifatnya orang tidur tersebut.
Beliau mengatakan: apabila orang tersebut tidur dengan
menetapkan pantatnya pada bumi, maka tidur seperti ini
tidaklah
membatalkan
wudlu’,
dan
apabila tidak
menetapkan pantatnya, maka batAllah Swt. wudlu’nya.
Abu Hanifah berkata: apabila seorang tidur dengan
40

keadaan
seperti
tingkahnya
orang
yang
sedang
mengerjakan shalat (sambil berdiri, duduk atau sujud),
maka
tidaklah
membatalkan
wudlu’
dan
apabila
keadaannya tidak seperti itu, maka tidur tersebut
membatalkan wudlu’. Imam Ahmad berkata: Apabila
seseorang tidur dengan duduk atau berdiri, maka tidaklah
membatalkan wudlu’, dan jika tidak sambil duduk atau
berdiri, maka tidur tersebut membatalkan wudlu’. (Ibanah
al-Ahkam, juz I, hal.124)

Minyak Beralkohol
Banyak sekali ditemukan minyak yang dicampur dengan
campuran alkohol, hal ini dilakukan karena berbagai fungsi,
antara lain untuk menekan udara dalam botol minyak.
Bagaimanakah hukum minyak wangi yang dicampur dengan
alkohol?
a. Menjadi najis, minyak yang dicampur alkohol, sebab
alkohol itu termasuk cairan yang memabukkan, dan
cairan yang memabukkan dihukumi najis.

َ
َ ُ ‫) قَول‬
َ
َ ‫ما‬
َ ‫حا‬
‫ل‬
َ ‫مائ ًِعا‬
َ ‫كا‬
ً ْ ‫ه أي‬
َ ‫ن‬
َ َ‫ما ( أيْ ف‬
َ ِ‫صل ِه‬
ُ ْ
ْ ‫ضا ن َظ ًَرا ِل‬
َ ‫ما‬
َ ِ‫كارِه‬
َ ‫س‬
َ ‫حللا‬
‫ل‬
ِ ‫جا‬
َ ‫دا‬
ً ‫م‬
َ ‫ن‬
َ ‫كا‬
َ ‫ن‬
ْ ِ ‫ وَإ‬، ‫سا‬
َ ‫كا‬
ً ‫ج‬
ْ ‫إ‬
َ َ ‫مد َ و‬
َ ‫ج‬
ِ َ‫ن ن‬
َ ‫ن‬
َ َ ‫مللاع‬
ُ َ ‫كارِ ي‬
َ ‫سلل‬
‫ش‬
ِ ‫ح‬
َ ْ ‫كال‬
ْ ِ ‫ وَإ‬، ‫طللاه ًِرا‬
ُ ‫كللو‬
ْ ِ ‫اْل‬
َ ْ ‫ن ان‬
ِ ‫شللي‬
َ َ‫ب و‬
َ ‫حللا‬
ْ ِ ‫كال ْك‬
َ ‫م‬
‫مللوِده )شللرح‬
ُ ‫ل‬
َ ِ‫س لك ِر‬
ِ ‫شل‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ج‬
ُ ْ ‫ك ال‬
ُ ْ ‫ال‬
ِ ‫ذا‬
(170 ‫ ص‬1 ‫الجمل على المنهاج الجزء‬

b. Tidak najis, sebab tidak memabukkan dan campurannya
hanya untuk menjaga kebaikan komposisi minyak.

َ َ ‫ست‬
ُ ِ ‫ث الّثال‬
ُ ‫ح‬
ْ ‫ف‬
ُ ُ ‫ف ال ْك‬
ِ ْ ‫ث ِفى ت َعْرِي‬
َ ْ ‫مب‬
ْ ِ ‫ل ال ّذ ِيْ ا‬
ُ‫دنا َه‬
َ ْ ‫ا َل‬
ِ ْ ‫حو‬
‫ع‬
ْ َ ‫ه ال ّذ ِيْ ي‬
ِ ْ ‫ه ال‬
ُ ِ‫ن ي َعْر‬
ِ ‫ح‬
ِ
َ ‫مل‬
َ ‫ف‬
َ ‫س‬
ُ ُ ‫قب َل‬
ُ َ ‫قي ْقَت‬
َ ِ ‫ن ك َل َم‬
ّ ‫حل‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ُ ‫صلُر ب‬
ِ ‫ت‬
ِ َ ‫ن ا َل‬
ِ ُ ‫ما َرا َْينا َه‬
ُ ‫ج لد‬
ِ َ ‫خللارٍ ي‬
َ
ُ ْ ‫صلَناع َت ِهِ وَهُلوَ ع ُن‬
ْ ‫م‬

41

ْ َ ‫ن اْل‬
َ َ ‫مت‬
ِ‫ج لوْد ِه‬
ِ َ ‫شرِب‬
ِ ‫ت‬
ِ ‫سك َِرا‬
ِ ‫مَرا‬
ُ ُ‫ فَب ِو‬.‫ة‬
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫ت ال‬
ّ ‫خ‬
ُ ْ ‫ِفى ال‬
َ ‫م‬
َ ‫س‬
ُ ‫ص‬
َ َ ‫جد ُ ه‬
‫ضللا فِللى‬
ً ْ ‫ل ا َي‬
ُ ُ ‫ذا ال ْك‬
َ ْ‫كاُر وَي ُو‬
ْ َ ‫فِي َْها ي‬
ْ ِ ‫ل اْل‬
ُ ‫ح‬
ِ ْ ‫ح لو‬
ْ
ْ
ْ َ ‫غ َي ْرِ اْل‬
‫مللاِر‬
َ َ ‫مت‬
ِ َ‫ت ن‬
ِ ‫م لَرا‬
ِ ِ‫شرِب َة‬
َ ْ ‫قي ْلِع ال َْزهَ لرِ وَال َث‬
ّ ‫خ‬
ُ ‫ن‬
ْ ‫مل‬
ُ ْ‫مع‬
َ ّ ‫ذى ي ُت‬
ِ‫ق لوْد‬
ِ ُ ‫ج لد‬
ِ ‫ال ّ ل‬
َ ْ‫مللا ي ُو‬
َ ‫ن‬
َ َ ‫خ لذ ُ ط ِي ْب ًللا وَغ َي ْلُره ُ ك‬
ْ ‫مل‬
َ
َ ‫هلل‬
َ ‫خ‬
‫خْيللُر‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫ال‬
ِ َ ‫ذا اْل‬
َ َ‫صللةٍ و‬
ٍ ‫ب ِبللأَل‬
َ ‫ت‬
َ ٍ‫حد ِي ْد ِّيللة‬
َ ْ‫صو‬
ُ ‫خ‬
ِ ‫شلل‬
َ
‫ج لد ُ فِللى‬
ُ َ‫ض لع‬
ِ ‫واه ُ ال ّل‬
َ ْ‫ذى ي ُو‬
ّ َ ‫مللا ا‬
ُ ُ ‫ف ال ْك‬
ْ ‫أ‬
َ َ‫ل ك‬
َ ‫ن ا َقْ ل‬
ِ ْ ‫ح لو‬
( ‫ ) المباحث الوفية للسيد عثمان البتاوي‬.‫ب‬
ِ َ ‫ال ْعِن‬
Pengertian alkohol sebagaimana yang kami dapatkan
dari pernyataan orang yang mengetahui hakekatnya
serta yang kami lihat dari peralatan
industri
pembutannya adalah merupakan sesuatu unsur yang
dapat menguap yang terdapat pada minuman yang
memabukkan. Keberadaannya akan mengakibatkan
mabuk. Alkohol ini juga terdapat pada selain minuman,
seperti pada rendaman air, bunga dan buah-buahan yang
dibuat untuk wewangian dan lainnya, sebagaimana juga
terdapat pada kayu-kayuan yang diproses dengan
mempergunakan peralatan khusus dari logam. Dan yang
terakhir ini merupakan alkohol dengan kadar paling
rendah sedangkan yang terdapat pada perasa anggur
merupakan alkohol dengan kadar tinggi. (al-Mabahits alWafiyyah Bab Najasah)

‫ة ال ّت ِللى‬
ُ ْ‫مع‬
ُ ‫سل‬
ِ ‫وا‬
ِ ْ‫من َْها ا َى‬
ِ َ‫و‬
َ ّ ‫ت الن‬
َ ‫ج‬
ُ ‫مائ ِعَللا‬
َ ْ ‫ ال‬. ‫ت‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ف‬
َ ‫م‬
ْ
َ ُ ‫ضا‬
‫ه‬
ِ ‫صَل‬
َ ُ‫ت‬
ُ ّ ‫حَها فَإ ِن‬
ْ َ ‫ح ال ْعِط ْرِي ّةِ ِل‬
ِ ِ ‫ف ا ِلى ال َد َوِي َةِ َوالّرَوائ‬
‫سللا ع َل َللى‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ْ‫ي ُع‬
ُ ‫ص لَل‬
ً ‫ح قَِيا‬
ْ ِ ‫ق لد ْرِ ال ّلذ ِيْ ب ِلهِ ا ْل‬
ِ ‫فللى ع َل‬
.‫ن‬
َ ‫ف‬
ِ ْ ‫اْل َن‬
َ ْ ‫حةِ ل ِل‬
َ َ ‫صل‬
َ ْ ‫خة ِ ا ل‬
ْ ‫م‬
ِ ْ ‫جب ِي‬
Termasuk najis yang dima’fu (ditoleransi) adalah, cairancairan najis yang dicampurkan untuk komposisi obatobatan dan parfum, cairan tersebut bisa ditoleransi
42

dengan kadar yang memang diperlukan untuk komposisi
yang seharusnya. Karena hal itu diqiaskan dengan usus
babat yang digunakan untuk menambahkan kualitas
mentega. (Al-Fiqhu ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, juz I,
hal.25)
Media Tayammum
Dalam literatur fiqih dapat difahami bahwa tayamum adalah
bersuci dengan menggunakan selain air. Hal ini diperbolehkan
sebagai alternatif bersuci karena beberapa faktor, misalnya
kesulitan menemukan air, madlarat yang ditimbulkan oleh air
terhadap bagian tubuh misalnya:ketika sakit, dan lain-lain.
Adapun media tayammum menurut para ulama’ adalah:
a. Menurut
Imam
Syafi’i
dan
Imam
Hambali,
menggunakan debu.
b. Menurut Madzhab Maliki dan madzhab Hanafi adalah
segala sesuatu yang termasuk bagian dari bumi,
misalnya; debu, tanah, salju, batu kapur. (Al-Mizan alKubra juz I, hal.132)

َ
َ ‫ن ذِٰللل‬
‫م‬
ُ َ ‫خت َل‬
ْ ‫مللا مللَاا‬
ِ َ‫وا فِْيللهِ ف‬
ُ ‫مللا‬
َ ِ ‫ه ا ْل‬
ُ ُ ‫ك َقللوْل‬
ّ ‫وَأ‬
ْ ‫ملل‬
ْ ‫ف‬
َ
ّ ‫ال‬
‫ب‬
ُ ِ‫صعِي ْد َ ِفى ا ْل َي َة‬
ُ ‫هللوَ الّتللَرا‬
ّ ِ ‫مد ُ إ‬
ْ ‫ى وَأ‬
َ ‫ح‬
ّ ‫ن ال‬
ّ ِ‫شافِع‬
َ
‫ه‬
ِ ‫ فِي ْل‬, ‫ل‬
ُ َ ‫فَل َ ي‬
ْ ‫ب ط َللاه ِرٍ أوْ ب َِر‬
ُ ‫م‬
ّ َ ‫جوُْز الت ّي‬
ٍ ‫م إ ِل ّ ب ِت ُلَرا‬
ٍ ‫مل‬
َ
ُ
‫س‬
ْ َ ‫صعِي ْد ُ هُوَ ن‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫ف‬
ٍ ِ ‫مال‬
َ ‫ي‬
َ َ‫ة و‬
َ ‫غبا ٌَر‬
ُ ‫ف‬
ّ ‫ك ال‬
ْ ِ ‫معَ قَوْل ِهِ أب‬
َ
َ ْ
َ ْ
‫و‬
ِ ‫ج‬
ْ ‫مي ْلِع أ‬
َ ِ‫م ب‬
ُ َ ‫ض فَي‬
ُ ‫مل‬
ّ َ ‫ج لوُْز الت ّي‬
ْ ‫ض وَل َل‬
ِ ‫ج لَزاِء الْر‬
ِ ‫الْر‬
ُ َ‫ل ل‬
‫غب لا ََر فِي ْلهِ )الميللزان‬
َ ‫جرٍ ل َت َُرا‬
َ ‫ح‬
َ ِ‫ب‬
ْ ‫ب ع َل َي ْلهِ وََر‬
ٍ ‫مل‬
(132 :1 : ‫الكبرى‬

Namun demikian madzhab empat (Syafi’i, Hambali, Maliki
dan Hanafi), sepakat bahwa tayammum tidak sah bila
menggunakan benda yang telah dimasak atau diproses, seperti
arang kayu dan plastik.

43

Hukum Sesuatu yang Terbuat dari Kotoran atau Benda
Najis (Studi Kasus Biogas)
a.

Boleh (dihukumi suci)
Menurut Syekh Abi Abdul Mukti atau Imam Nawawi alBantani al-Jawi dalam kitabnya “Kasyifah al-Saja” halaman
21, bahwasanya hukum biogas yang dihasilkan dari benda
najis (seperti kotoran manusia atau kotoran hewan) adalah
diperbolehkan dan dihukumi suci, dengan alasan karena
biogas adalah termasuk bukhor (istilah Arab) yang berarti
uap.

َ ‫من ْهَللا ل‬
َ ُ ‫سة ِ ب‬
َ ُ ‫ج ب ِد‬
َ َ‫و‬
ِ ‫صا‬
َ ‫خاُر‬
ِ ُ ‫عد‬
َ ّ ‫ن الن‬
َ ‫خَر‬
َ ‫جا‬
ُ ْ ‫ها وَهُوَ ال‬
َ َ ‫مللت‬
ِ ‫خا‬
ْ
َ
َ
‫ن‬
َ ‫ح ال‬
ِ ‫ج‬
ِ َ‫سللطةِ َنللارٍ فَُهللوَ طللاه ٌِر و‬
ِ ‫وا‬
ُ ِ‫خللار‬
ُ ‫ه الّرْيلل‬
ُ ‫مْنلل‬
َ ‫ملل‬
َ ِ‫ب‬
َ
َ
َ َ‫ن اللد ّب ُرِ فَُهلو‬
ُ ْ ‫ال‬
‫ة‬
ٌ ‫ه قِْرَبل‬
ِ ‫مل َأ‬
ِ ْ‫ف أو‬
ِ ‫كلُنل‬
ُ ‫مْنل‬
َ ْ‫طلاه ٌِر فََللو‬
َ ‫م‬
‫ه‬
ّ ‫ص‬
َ َ‫و‬
ُ ُ ‫صل َ تـ‬
ْ ‫ح‬
َ ‫ح‬
َ ‫ت‬
َ ‫صّلى ب َِها‬
َ َ‫مل ََها ع ََلى ظ َهْرِهِ و‬

Tidak termasuk dalam asapnya benda najis, yaitu uap dari
benda najis yang tidak disebabkan oleh api, maka uap ini
adalah suci. Demikian halnya dengan angin yang keluar dari
jamban (sapiteng) atau kentut yang keluar dari dubur juga
dihukumi suci. Bahkan seandainya qirbah (sejenis wadah air
atau susu yang terbuat dari kulit) berisi penuh dengan angin
atau uap tersebut, kemudian seseorang shalat dengan
membawa qirbah tersebut di atas punggungnya, maka
shalatnya dihukumi sah. (Kasyifah al-Saja hal. 21)

 Menurut Imam al-Bujairami, uap atau angin (biogas) yang
dihasilkan dari benda najis termasuk suci menurut qoul yang
rajih (unggul), karena angin tersebut berasal dari asap benda
najis yang tidak menggunakan perantara atau media api.

َ
َ ) :‫ه‬
‫ن‬
ِ ‫ه‬
ِ َ‫طاه ًِرا ( و‬
ُ ‫ه الّري‬
ُ ‫ح ؛ ِلن ّل‬
ِ ‫ح ع َل َللى الّرا‬
ُ ْ ‫من‬
ُ ُ ‫قَوْل‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫جل‬
‫ص م ر ع ََلللى‬
َ ُ‫ب‬
ِ ‫سةِ ب ِغَي ْرِ َوا‬
َ ّ ‫خارِ الن‬
َ ‫جا‬
ّ َ ‫ وَن‬. ‫سط َةِ َنارٍ ق ل‬
َ
َ ‫ وَك َل‬، ‫ف ط َللاه ٌِر‬
‫ح‬
َ ْ ‫خللاَر ال‬
َ ُ ‫ن ال ْب‬
ِ ‫ج‬
ُ ‫ذا الّري ل‬
ِ ‫ن ال ْك َِني ل‬
َ ِ‫خللار‬
ّ ‫أ‬
ْ ‫مل‬
44

َ
َ
َ ِ‫ن الد ّب ُر‬
َ ‫ج‬
‫ن‬
ّ ‫ح‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ‫ه‬
ِ ‫ج‬
َ َ ‫م ي َت‬
ُ ْ ‫كال‬
ُ ِ‫خار‬
ُ ‫قلقْ أّنل‬
ْ ‫ه ل َل‬
ُ ‫شاِء ؛ ِلن ّل‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫م‬
َ
ُ َ‫ن ت‬
‫ة‬
ُ ‫ريَهلل‬
ُ ‫حلل‬
َ ِ ‫ن الّرائ‬
َ ‫كللو‬
ْ ‫وازِ أ‬
َ ِ ‫سللةِ ل‬
َ ّ ‫ن الن‬
َ ‫جا‬
َ ‫جلل‬
ِ َ ‫ة ال ْك‬
ِ ‫ع َْيلل‬
َ
َ
. ‫ن ع َي ْن َِها‬
ِ ‫ه‬
َ ّ ‫جاوََرةِ الن‬
َ ‫م‬
ُ ْ ‫مو‬
َ ‫جا‬
ُ ّ ‫سةِ ل أن‬
ُ ِ ‫جود َة ُ ِفيهِ ل‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ‫م‬

Qoul Kyai mushonnif, (suci) uap atau angin termasuk suci
menurut qoul yang rajih (unggul), karena angin tersebut
berasal dari asap benda najis yang tidak menggunakan
perantara atau media api (Imam Qoffal). Dan Imam Ramli
juga menegaskan bahwa asap yang keluar dari WC atau
kandang ternak itu suci, begitu juga angin yang keluar dari
dubur atau anus seperti serdawa (perut mual) karena belum
tentu serdawa tersebut berasal dari benda (ain) yang najis,
dan kemungkinan bau busuk atau menjijikkan yang ada di
dalamnya itu disebabkan karena dekatnya dengan najis
bukan dari benda najisnya. (Hasyiyah al-Bujairami ‘ala alKhatib juz 1 hal 202-203)
b.

Tidak Boleh (tetap dihukumi najis)

 Menurut pendapat Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya
“Hasyiyah al-Jamal” pada bab al-Najasati Waa Izalatiha juz 1
hal 179 dijelaskan sebagai berikut:
Termasuk kategori asap yaitu benda atau angin yang
dihasilkan dari pembakaran kotoran hewan hingga menjadi
bara api (mowo) yang tidak berasap, akan tetapi uap atau
asap yang keluar dari proses pembakaran kotoran tersebut
dihukumi najis, karena melalui perantara api. Dan apabila
ada sesuatu yang disulutkan dari bara api ini seperti tangan
anda dan tempat tinta (tabung asap), akhirnya ada
kelembaban (basah) disalah satu sisi keduanya, sampaisampai benda yang suci menjadi najis karenanya, maka asap
yang naik atau muncul itu hukumnya najis, bila tidak maka
sebaliknya”.

45

‫ها ك َذ َل ِ َ‬
‫ك إل َ ْ‬
‫ق‬
‫ملا ي َ َ‬
‫ه وَب ُ َ‬
‫خاُر َ‬
‫قلعُ ِ‬
‫خ ( ‪ ،‬وَ ِ‬
‫ن َ‬
‫ه َ‬
‫من ْ ُ‬
‫) قَوْل ُ ُ‬
‫مل ْ‬
‫حلْر ِ‬
‫ه‬
‫مًرا َل د ُ َ‬
‫ص لعَد ُ ِ‬
‫حّتى ت َ ِ‬
‫خا َ‬
‫صيَر َ‬
‫جل ّةِ َ‬
‫ال ْ ُ‬
‫من ْل ُ‬
‫ج ْ‬
‫ن يَ ْ‬
‫ن ِفي لهِ ل َك ِل ْ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫ه بُ َ‬
‫بُ َ‬
‫وا ِ‬
‫سلط َةِ ن َللارٍ ‪ ،‬وَل َلوْ أوقِلد َ‬
‫س ؛ ِلن ّ ُ‬
‫خاٌر فَهُوَ ن َ ِ‬
‫ج ٌ‬
‫خللاٌر ب ِ َ‬
‫ن َ‬
‫مرِ َ‬
‫ن هَ َ‬
‫ن‬
‫دك وَد ََواةِ د ُ َ‬
‫يٌء ك ََيل ِ‬
‫ِ‬
‫كلا َ‬
‫ن ‪َ ،‬فلإ ِ ْ‬
‫ذا ال ْ َ‬
‫ج ْ‬
‫خلا ٍ‬
‫شل ْ‬
‫م ْ‬
‫َ‬
‫ك ُر ُ‬
‫هُن َللا َ‬
‫س ب ِهَللا‬
‫حي ْل ُ‬
‫طوب َل ٌ‬
‫ة ِ‬
‫ث ي َت َن َ ّ‬
‫ن بِ َ‬
‫ح لد ِ ا ل ْ َ‬
‫نأ َ‬
‫جل ُ‬
‫مل ْ‬
‫جللان ِب َي ْ ِ‬
‫سللا وَإ ِّل فََل ا هل ل‬
‫ن ال لد ّ َ‬
‫صللا ِ‬
‫خا ُ‬
‫الط ّللاه ُِر ك َللا َ‬
‫ج ً‬
‫عد ُ ن َ ِ‬
‫ن ال ْ ُ‬
‫مت َ َ‬
‫زيزِيّ ‪) .‬حاشية الجمل على المنهللاج بللاب النجاسللة‬
‫عَ ِ‬
‫وازالتها الجزء ‪ 1‬ص ‪(179‬‬
‫‪ Menurut ulama’ madzhab Syafi’i bahwa asap dari benda najis‬‬
‫‪bila terbakar maka ada dua pendapat:‬‬
‫‪a. Najis, karena termasuk bagian yang terurai dari‬‬
‫‪najis, seperti abu yang keluar dari suatu benda najis.‬‬
‫‪b.‬‬
‫‪Tidak najis, karena asap tersebut adalah asap dari‬‬
‫‪suatu benda najis, seperti angin kentut yang keluar dari‬‬
‫‪perut. Hal ini diterangkan dalam kitab al-Majmu’ Syarah‬‬
‫‪al-Muhadzab juz 2 hal 533.‬‬

‫َ‬
‫َقا َ‬
‫سة ِ إ ِ َ‬
‫ذا‬
‫ما د ُ َ‬
‫ف َر ِ‬
‫صن ّ ُ‬
‫ن الن ّ َ‬
‫خا ُ‬
‫جا َ‬
‫ه الله * ] وَأ ّ‬
‫م ُ‬
‫ح َ‬
‫ل ا َل ْ ُ‬
‫م َ‬
‫َ‬
‫ج لَزاءٌ‬
‫ت فَ ِ‬
‫س ل َن ّهَللا ا َ ْ‬
‫ن اَ َ‬
‫في ْهِ وَ ْ‬
‫أ ْ‬
‫ه نَ ِ‬
‫ما ا َن ّ ُ‬
‫حد ُهُ َ‬
‫حَرقَ ْ‬
‫ج ٌ‬
‫جَها ِ‬
‫سلةِ فَهُلوَ َ‬
‫س‬
‫حل ّل َل ٌ‬
‫ة ِ‬
‫ن الن ّ َ‬
‫مت َ َ‬
‫جا َ‬
‫كالّر َ‬
‫ُ‬
‫مللاد ِ َوالث ّللاِنى ل َي ْل َ‬
‫مل َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ج‬
‫خللارِ اللذ ِىْ ي َ ْ‬
‫سلةِ فَهُلوَ كالب ُ َ‬
‫ه بُ َ‬
‫خلُر ُ‬
‫خاُر ن َ َ‬
‫ب ِن َ َ‬
‫جا َ‬
‫س لن ّ ُ‬
‫ج ٍ‬
‫ف [ * )المجمللوع شللرح المهللذب ج ‪ 2‬ص‬
‫ِ‬
‫جو ْ ِ‬
‫ن ال ْ َ‬
‫م َ‬
‫‪(533‬‬

‫‪46‬‬

BAB VI
ADZAN DAN IQOMAH
Adzan adalah seruan pemberitahuan masuknya waktu shalat
serta ajakan melaksanakan shalat. Sedangkan iqomah adalah
panggilan untuk melaksanakan shalat.
Membaca Taswib saat Adzan Shubuh
Bacaan taswib dalam adzan shubuh adalah seruan:
Asshalatu khoirum minan naum, awal mula seruan ini adalah dari
sahabat Bilal ra. atas perintah Rasulullah Saw. Sebagaimana
keterangan di bawah ini:

َ ‫ل ل َل‬
َ َ َ ‫أ َن بل‬
َ ‫قي ْل‬
ِ‫ه ع َل َي ْله‬
ِ َ‫ح ف‬
ّ ‫هأ‬
َ ّ ‫ل أذ‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ
ِ ّ
َ ‫ي‬
ّ ‫ن ِلل‬
ّ ‫ن الّنـللب‬
ِ ْ ‫صب‬
َ
َ ‫م ع َل َْيل‬
َ َ ‫ َفقا‬،‫م‬
ُ ‫مل‬
ِ‫ة اللله‬
ْ ‫ي وََر‬
ُ َ ‫سلل‬
ّ ‫ل َال‬
َ َ‫و‬
َ ‫ح‬
ٌ ِ ‫م نا َئ‬
َ ّ ‫سل‬
ّ ‫ك أّيهلا َ الّنـلب‬
َ َ ‫ن الن ّوْم ِ َفقا‬
:‫م‬
َ ُ ‫صل َة‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
ّ ‫خي ٌْر‬
ُ ُ ‫وَب ََركا َت‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ه َال‬
َ ‫م‬
َ ِ ‫ي ت َأ ْذ ِي ْن‬
‫ )اعانة الطالبين فصل في الذان‬.‫ح‬
ْ ِ‫ا‬
ُ ْ ‫جعَل‬
ّ ‫ك ِلل‬
ْ ِ‫ه ف‬
ِ ْ ‫صب‬
(236 ‫ ص‬1 ‫والقامة ج‬
Bahwasanya sahabat bilal setalah melakukan adzan shubuh, ia
diberitahu bahwa Nabi sedang tidur, lalu ia menghampiri beliau
seraya mengucapkan Semoga keselamatan, rahmat dan barokah
Allah Swt. tetap atas engkau wahai Nabi, shalat itu lebih baik dari
pada tidur. Kemudian Nabi bersabda: wahai bilal, jadikanlah
ucapan itu (al-shalatu khoirun min al-naum) dalam adzan
shubuhmu.

َ َ ‫ع َن الزهْري ع َن سال ِم ع َن أ َبيه َقا‬
ُ ْ ‫سو‬
‫ص لّلى‬
ِ ِْ ْ ٍ َ ْ
ُ ‫مَر َر‬
َ ‫لأ‬
َ ِ‫ل الله‬
ّ ِ ّ ِ
َ
ٌ ‫ن وََزاد َ ب َِل‬
‫ة‬
ِ ‫ص لَل‬
ِ ‫م ب َِلل َ ب ِل‬
َ ‫ل فِللي ن ِل‬
َ ّ ‫ فَ لأذ‬.‫ه‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫الل‬
َ ‫داِء‬
47

َ
ُ ْ ‫سو‬
‫ه‬
َ ُ ‫صَلة‬
َ ‫ن الن ّوْم ِ فَأقَّر‬
ِ ‫خي ٌْر‬
َ َ‫ال ْغ‬
ُ ‫ها َر‬
ُ ‫صّلى الل ل‬
َ ِ‫ل الله‬
ّ ‫داِء َال‬
َ ‫م‬
(233 ‫ ص‬1 ‫ )سنن ابن ماجه ج‬.‫م‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
Dari Zuhri dari Salim dari ayahnya, ia berkata: Nabi telah
memerintahkan Bilal untuk melakukan adzan. Kemudian sahabat
Bilal menambahkan (as-shalatu khairun minan naum)lalu
Rasulullah menetapkan kalimat tersebut. (Sunan Ibnu Majah, juz I,
hal.233)

Dengan demikian membaca taswib dalam adzan shubuh
hukumnya adalah sunnah (ketetapan Nabi).

Adzan dan Iqomah untuk Bayi yang Baru Dilahirkan
Anak merupakan karunia yang diberikan oleh Allah Swt.
kepada semua keluarga, namun anak juga merupakan amanah
Allah Swt. yang mesti dijaga, dirawat serta dididik oleh kedua
orang tuanya. Mendidik anak harus dimulai sebelum anak itu
mulai lahir tidak hanya dilakukan setelah ia besar. Salah satu
bentuk pendidikan terhadap anak tersebut ketika ia dilahirkan.
Sang ayah atau salah satu dari keluarga, membacakan adzan di
telinga kanan sang jabang bayi yang baru dilahirkan dan
membacakan iqomah di telinga kiri bayi. Bagaimanakah hukum
melakukan hal tersebut, Apakah pernah dilakukan oleh Rasulullah
Saw.?
Ulama’
sepakat
bahwa
sunnah
hukumnya
mengumandangkan adzan dan iqomah pada saat bayi yang
terlahir kedunia berdasarkan hadits Nabi:

َ ‫ع َن ع ُبيد الله ب‬
ُ ْ ‫سو‬
َ ‫ن أ َب ِي ْهِ َقا‬
‫صللّلى‬
ِ َْ ْ
ُ ‫ل َر‬
َ ِ‫ل الله‬
ْ َ ‫ي َرافٍِع ع‬
ْ ِ ‫ن أب‬
ِ ْ ِ
ُ
َ ّ ‫الله ع َل َيه وسل‬
‫ه‬
ِ ‫ي‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ّ ‫م أذ‬
َ ‫ح‬
ُ ْ ‫ن وَل َلد َت‬
َ َ َ ِ ْ
ُ
َ ‫حي ْل‬
ّ ِ ‫ن ع َل‬
ِ ُ ‫ن ِفي أذ‬
ِ ْ‫ن ب‬
ِ ‫س‬
َ
(4441 ‫م‬
ُ ‫م‬
َ ‫ي‬
ُ ) ِ‫صَلة‬
ُ ْ‫داوُد َ َرق‬
َ ِ ‫َفاط‬
ّ ‫ة ِبال‬
ْ ِ ‫ن أب‬
ُ َ ‫سن‬
48

Dari ubaidillah Bin Abi Rafi’ ra. Dari ayahnya, ia berkata ; aku
melihat Rasulullah Saw, mengumandangkan adzan ditelinga
Husain Bin Ali ra. Ketika Siti Fatimah melahirkannya (yakni)
dengan adzan shalat. (Sunnan Abi Dawud, [444])
Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Majmu’ Fatawi wa
Rasail, hal.112 tentang fadilah dan keutamaannya adzan untuk
bayi yang baru lahir.

ُ
َ
ُ ّ‫ا َْل َو‬
‫مَنلى‬
ِ ِ ‫موُْللوْد‬
ْ ُ ‫ن ال ْي‬
َ ْ ‫ن ال‬
ُ َ ‫ل فَعَل‬
ِ ُ ‫عْنلد َ وَِلد َِتلهِ ِفلي أذ‬
ِ َ ‫ه ِفي أذ‬
ُ
َ ‫سَرى وَهَ ل‬
‫ب‬
َ ُ‫ص ف‬
ْ ُ ‫ن ال ْي‬
َ ْ ‫قهَللاُء ال‬
َ ‫َواْل َِقا‬
ِ َ‫م لذ ْه‬
ّ ‫ذا قَ لد ْ ن َل‬
ِ ُ ‫مةِ ِفي أذ‬
َ
ُ ‫مل‬
ِ‫صللارِ ب َِل ن َك ِي ْلرٍ وَفِي ْله‬
َ َ‫ع ََلى ن َد ْب ِهِ و‬
ْ ‫مللاِء اْل‬
َ َ ‫ل ع ُل‬
َ َ ‫جَرى ب ِلهِ ع‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫ش لي‬
ّ ‫ة ل ِط َْرد ِ ال‬
‫م‬
ُ ُ ‫موْل ُلوْد ِ وَل ِن‬
ٌ ‫م‬
ٌ َ ‫سب‬
َ ‫مَنا‬
ْ ِ ‫ف لوْرِه‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫ة َتا‬
ُ
ِ ‫طا‬
ِ ‫ن ب ِلهِ ع َل‬
َ
َ ‫ن اْل‬
‫ي‬
ِ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ‫ما‬
ّ ‫جاَء فِللي ال‬
ُ ‫ج‬
َ ) ِ‫س لن ّة‬
َ َ‫ن ك‬
ْ ِ ‫وَفَِرارِه‬
ْ ِ‫م لوْع ُ فَت َللاو‬
ِ ‫ذا‬
َ ‫م‬
َ ِ ‫سائ‬
.(112 ،‫ل‬
َ ‫وََر‬
Yang pertama mengumandangkan adzan ditelinga kanan anak
yang baru lahir lalu membacakan iqomah di telinga kiri. Ulama’
telah menetapkan bahwa perbuatan ini tergolong sunnah. Mereka
telah mengamalkan hal tersebut tanpa seseorang pun
mengingkari. Perbuatan ini ada relevansi, untuk mengusir syaitan
dari anak yang baru lahir tersebut. Karena syaitan itu akan lari
terbirit-birit ketika mereka mendengar adzan sebagaimana ada
keterangan di dalam hadits (Majmu’ Fatawi Wa Rasail, hal.112).

49

BAB VII
SHALAT
Shalat nawafil (sunnah) disyariatkan oleh ajaran Islam,
karena shalat sunnah di pandang perlu dan penting, sebagaimana
tubuh yang membutuhkan makanan pokok, vitamin, mineral serta
zat-zat lain agar tetap sehat dan bugar. Shalat maktubah sebagai
makanan pokok bagi jiwa sedangkan shalat sunnah sebagai
tambahan vitamin atau suplemennya.
Macam-macam Shalat Sunnah
Shalat sunnah secara garis besar terbagi menjadi dua:
1. Shalat sunnah yang mengiringi shalat Fardhu, seperti:
shalat sunnah Qobliyah dan Ba’diyah (Rawatib)
2. Shalat sunnah yang tidak mengiringi shalat Fardhu, antara
lain:
- Shalat Ba’da Wudlu’ (Lissyukril wudhu’), yaitu shalat
sunnah 2 rakaat yang dikerjakan setelah membaca do’a
wudlu’. Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
ُ ّ‫ة ل‬
ْ َ ‫سلت‬
ً ّ ‫سن‬
ِ‫قب َْللةِ ل ِّلله‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ُ ُ‫شك ْرِ ال ْو‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ‫ضوِْء َرك ْعَت َْيل‬
‫ت ََعاَلى‬

- Shalat Tahiyatal Masjid; yaitu shalat sunnah dengan jumlah
2 raka’at yang dilakukan ketika memasuki masjid sebelum
duduk. Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫ه‬
ْ َ ‫س لت‬
َ ّ ‫حي‬
ِ َ‫ة ت‬
ً ّ ‫سن‬
ِ ‫قب ْل َلةِ ل ِل ّل‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫ة ال‬
َ ‫أ‬
ِ ‫جد ِ َرك ْعَت َي ْل‬
‫ت ََعاَلى‬

- Shalat Taubat, yaitu shalat sunnah yang dilakukan untuk
memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan.
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
ً ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫ة ِللت ّوْب َةِ َرك ْعَت َي‬

50

- Shalat Liidaf’il Bala’; yaitu shalat sunnah 2 rakaat yang
bertujuan agar kita terhindar dari segala mara bahaya.
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ْ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
ً ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫ة ل ِد َفِْع الب َلِء َرك ْعَت َي‬

- Shalat Tasbih, yaitu shalat sunnah 4 raka’at dengan dua
salam yang di dalamnya terdapat bacaan tasbih pada
setiap raka’at. Cara mengerjakannya: ketika selesai
membaca al-Fatihah dan surat pada tiap-tiap raka’at lalu:
1.
Membaca tasbih sebanyak 15 kali
2.
Membaca tasbih sebanyak 10 kali ketika ruku’
3.
Membaca tasbih sebanyak 10 kali ketika i’tidal
4.
Membaca tasbih sebanyak 10 kali ketika sujud
5.
Membaca tasbih sebanyak 10 kali ketika
duduk diantara dua sujud
6.
Membaca tasbih sebanyak 10 kali ketika sujud
kedua
7.
Membaca tasbih sebanyak 10 kali ketika
duduk istirahat
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

َ ‫ة التسلبي‬
ُ
َ ِ ‫قب‬
‫ه‬
ْ َ ‫س لت‬
ِ ‫قب ْل َلةِ ل ِل ّل‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ٍ ‫ح أْرب َلعَ َرك َعَللا‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ت‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ِ ْ ّ َ ّ ‫سن‬
‫ت ََعاَلى‬

- Shalat Liqadhail Hajat, yaitu shalat yang bertujuan untuk
memohon agar hajat/kebutuhan kita segera dicukupi oleh
Allah Swt. Cara mengerjakannya: pada sujud terakhir
setelah membaca tasbih, kemudian berdo’a meminta apa
hajat kita, tapi dengan catatan harus di dalam hati tidak
boleh dilafadzkan, karena kalau dilafadzkan di lisan akan
membatalkan shalat. Shalat ini berjumlah 2 raka’at, adapun
niat shalatnya adalah sebagai berkut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
ْ َ ‫سلت‬
َ ِ‫ة ل‬
ً ّ ‫سن‬
ِ‫قب ْل َلةِ ل ِل ّله‬
ِ ْ ‫ل ال‬
َ ‫حا‬
َ ْ ‫ضاِء ال‬
َ ‫ق‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ‫جةِ َرك ْعَت َي ْل‬
‫ت ََعاَلى‬
51

- Shalat Tahajjud, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan pada
waktu malam hari dengan jumlah rakaat paling sedikit 2
raka’at dan paling banyak tak terbatas. Waktu
pelaksanaannya adalah setelah shalat isya’ sampai shubuh,
dan lebih utama dilakukan setelah bangun tidur di malam
hari. Adapun waktu mengerjakannya ada 3:
1. Sepertiga pertama, yaitu dari jam 7-10 malam
(waktu utama)
2. Sepertiga kedua, yaitu dari jam 10-1 malam (waktu
lebih utama)
3. Sepertiga ketiga, yaitu dari jam 1 malam sampai
masuknya waktu shubuh (waktu yang paling utama).
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
ً ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ّ َ‫ة ل ِت ّه‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫جد ِ َرك ْعَت َي‬

- Shalat Tsubutul Iman, yaitu shalat sunnah yang bertujuan
agar diberi kekuatan iman. Shalat ini berjumlah 2-6 raka’at.
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
ْ َ ‫س لت‬
ً ّ ‫سن‬
ِ‫قب ْل َلةِ ل ِل ّله‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ِ ْ‫ة ل ِث ُب ُو‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ْ ‫ت اْل ِي‬
َ ‫أ‬
ِ ‫ما‬
ِ ‫ن َرك ْعَت َي ْل‬
‫ت ََعاَلى‬

- Shalat Istikharah, yaitu shalat sunnah yang dilakukan untuk
meminta petunjuk kepada Allah Swt. Atas segala
kebingungan, pertanyaan atau ketidaktahuan. Shalat ini
lebih utama dikerjakan pada waktu malam hari sebanyak 2
raka’at. Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
َ ِ ‫ست‬
َ ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ْ ِ ‫ة اْل‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫خاَرةِ َرك ْعَت َي‬

- Shalat Tarawih, yaitu shalat sunnah yang hanya dilakukan
pada bulan ramadlan, baik dilakukan sendiri maupun
secara berjama’ah. Adapun mengenai jumlah raka’atnya
ulama’ berbeda pendapat, keterangan perbedaan pendapat
ulama’ mengenai jumlah rakaat shalat tarawih kami
terangkan setelah ini. Niat shalatnya adalah sebagai
berikut:
52

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
َ ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫ح َرك ْعَت َي‬
ِ ْ ‫ة الت َّراوِي‬

- Shalat Dhuha, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan pada
waktu matahari terbit (waktu dhuha) atau sekitar pukul
07.00 sampai pukul 11.00 WIB. Yang dikerjakan sekurangkurangnya 2-12 raka’at. Adapun niat shalatnya adalah
sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
َ ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
َ ‫ض‬
ّ ‫ة ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫حى َرك ْعَت َي‬

- Shalat Awwabin, yaitu shalat sunnah yang dikerjakan
antara waktu Maghrib dan waktu isya’ dengan jumlah
rakaat sebanyak 2-20 rakaat. Adapun niat shalatnya adalah
sebagai berikut:

َ َ ّ ‫أ ُصّلي سن‬
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ
ُ ‫ن‬
َ
َ ْ ‫ة اْلوّب ِي‬
ِ ْ ‫ن َرك ْعَت َي‬

- Shalat ketika pulang dari bepergian, shalat sunnah 2 rakaat
yang dikerjakan setelah kita kembali dari bepergian.
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
ْ َ ‫س لت‬
َ ‫س‬
ُ ِ‫ة ل‬
ً ّ ‫سن‬
ِ‫قب ْل َلةِ ل ِل ّله‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ّ ‫قد ُوْم ِ ال‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ‫فرِ َرك ْعَت َي ْل‬
‫ت ََعاَلى‬

- Shalat Ba’da Akad Nikah, yaitu shalat sunnah 2 rakaat yang
dikerjakan setelah selesai melaksanakan akad nikah bagi
pengantin baru, agar nikahnya diridloi oleh Allah Swt..
Adapun niat shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
ْ َ ‫سلت‬
ْ َ‫ة ل ِع‬
ً ّ ‫سلن‬
ِ‫قب ْل َلةِ ل ِل ّله‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ‫ح َرك ْعَت َي ْل‬
ِ ‫قلد ِ الن ّك َللا‬
‫ت ََعاَلى‬

- Shalat Sunnah Mutlak, yaitu shalat sunnah 2 rakaat yang
dikerjakan kapanpun dan dimanapun. Adapun niat
shalatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ْ ُ ْ ‫ة ال‬
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
َ ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ‫ن‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫ق َرك ْعَت َي‬
ِ ‫مطل‬
53

- Shalat Witir, yaitu shalat sunnah dengan raka’at ganjil. (111 raka’at) yang biasanya dikerjakan shalat tarawih.
Adapun niatnya adalah sebagai berikut:

ُ
َ ِ ‫قب‬
‫قب ْل َةِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ْ َ ‫ست‬
َ َ‫ة َرك ْع‬
ً ّ ‫سن‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫صّلي‬
ُ ِ‫ة ال ْوِت ْر‬
َ ‫أ‬

Dan masih banyak lagi shalat sunnah yang lain.

Keterangan tentang shalat-shalat sunnah ini diambil
dari kitab Tanwirul Qulub, hal.200-206 dan kitab Nihayatuz
Zain, hal. 98-116.
Dalam setiap shalat sunnah yang telah disebutkan di atas,
disunnahkan berdo’a kepada Allah Swt. dalam hati ketika sujud
terakhir, karena waktu itu merupakan waktu yang mustajabah,
namun tidak diperkenankan berdo’a dengan bersuara karena bisa
menyebabkan batalnya shalat. Dalil yang menjelaskan tentang
kesunnahan berdo’a ketika sedang sujud adalah sebagai berikut:

‫مللا‬
ِ ‫ص‬
ِ ‫س َر‬
ْ ‫م‬
َ ُ‫ه ع َن ْه‬
ُ ‫ي الل ل‬
ُ ‫ح‬
َ ) ‫َروَي َْنا ِفي‬
َ ‫ض‬
ٍ ‫ن ع َّبا‬
ِ ْ ‫ن اب‬
ِ َ ‫م(ع‬
ٍ ِ ‫سل‬
ِ ْ ‫حي‬
َ
َ
َ ‫م قَللا‬
َ ْ ‫سو‬
ُ‫مللا الّرك ُلوْع‬
ّ ‫أ‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫ل فَأ‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ل الله‬
َ
‫عاِء‬
َ ّ ‫جت َهِ لد ُْوا فِي ْلهِ ِبال لد‬
ْ ‫جوْد ُ َفا‬
ُ ‫سل‬
ّ ‫وا فِي ْهِ ال لّر‬
ّ ‫مللا ال‬
ّ ‫ب وَأ‬
ُ ّ ‫فَعَظ‬
ْ ‫م‬
َ ‫فَقم‬
(45 ‫ )الذكار النووى ص‬.‫م‬
َ ‫جا‬
َ َ ‫ست‬
ْ ‫نأ‬
ْ ُ‫ن ي‬
ْ ُ ‫ب ل َك‬
َ ْ ِ
Kami meriwayatkan dalam shahih muslim dari ibn Abbas bahwa
Rasulullah Saw. Bersabda: Ketika ruku’ agungkanlah Tuhan dan
ketika sujud bersungguh-sungguhlah dengan berdo’a, maka
niscaya Dia mengabulkan do’amu. (al-Adzkar al-Nawawi, hal. 45)

Bilangan Rakaat Shalat Tarawih
Mengenai bilangan jumlah shalat tarawih ulama’ berbeda
pendapat:
a. Menurut Imam Syafi’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad,
dan Imam Dawud sebanyak 20 raka’at dengan 10
salaman selain witir dan setiap 4 rakaat 2 salaman
54

melakukan istirahat. Berdasarkan riwayat Imam Baihaqi
dan lainnya dengan sanad yang sahih.
b. Menurut al-Qadhi ‘Iyadh dari jumhur ulama’
diceritakan sesungguhnya sahabat al-Ashwat bin Mazid
mengerjakan shalat tarawih sebanyak 40 raka’at dan
shalat witir sebanyak 7 raka’at.
c. Menurut Imam Malik sebanyak 36 raka’at selain witir
dengan alasan karena ahli madinah mengerjakan shalat
tarawih dengan bilangan ini.
d. Menurut Imam Nafi’ sebanyak 39 raka’at (36 raka’at
shalat tarawih dan 3 shalat witir).
Keterangan dalam kitab al-Majmu’ Syarah Muhadzab
bab Shalat at-Tathawu’, Juz 4, hal.38, keterangan
mengenai khilaf bilangan shalat tarawih ini juga
diterangkan dalam kitab al-Mizan al-Kubra, juz I, hal.
184.

َ ‫ي ع َ لد َد ِ َر‬
َ ‫مل‬
‫ت‬
ٌ ‫)فَ لْر‬
ِ َ ‫كع لا‬
َ ِ ‫ذاه‬
َ ‫ي‬
ْ ‫ب ال ْعَُلم لا َِء فِ ل‬
ْ ‫ع( فِ ل‬
ْ َ‫ة ب ِع‬
ْ ‫ع‬
‫ر‬
ً ‫ن َرك َْعلل‬
ِ َ ‫مللذ ْهَُبنا َ أ َّنهللا‬
َ ْ‫شللُرو‬
َ *‫ح‬
ِ ‫شلل‬
ِ ‫الت َّراوِْيلل‬
َ ‫ت غ َْيللُر اْلللوِت ْرِ وَذ َِللل‬
‫ت‬
َ ‫ك‬
ٍ ‫حللا‬
ٍ َ ‫سللل ِْيما‬
َ ْ ‫س ت َْروِي‬
ْ َ‫ت‬
ْ ‫خ‬
ُ ‫ملل‬
ْ ‫ة أ َْرب َعُ َر‬
ُ ‫ح‬
ِ‫مذ ْهَُبنا َ وَب ِه‬
ٍ َ ‫كعا‬
َ ْ ‫َوالت ّْروِي‬
ْ َ ‫ت ب ِت‬
َ ‫ن هذا‬
َ ْ ‫سل ِي‬
ِ ْ ‫مت َي‬
َ
َ
َ َ َ ‫قا‬
‫م‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫فل‬
َ َ ‫م لد ُ و‬
ْ ‫ه وَأ‬
َ ‫صل‬
َ ْ‫ل أب ُلو‬
ْ ‫داوُد ُ وَغ َي ُْرهُ ل‬
َ ‫ح‬
ُ ُ ‫حاب‬
ْ ‫ة وَأ‬
‫ى‬
َ َ ‫وَن‬
ِ ‫ضي‬
ِ َ ‫ه اْلقا‬
ُ َ‫مللاِء و‬
ُ ‫ن‬
َ َ ‫مهُوْرِ ال ْعُل‬
ْ ‫ج‬
ُ َ ‫قل‬
ٌ َ ‫عيا‬
ْ َ‫ض ع‬
َ ‫حك ِل‬
َ
َ
‫ة‬
ُ َ‫ن ي‬
ً ‫ن َرك ْعَ ل‬
َ َ ‫مزِي ْلد ٍ ك لا‬
ّ ‫أ‬
ُ ْ ‫ق لو‬
ْ َ ‫ن ا ْل‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫م ب ِلأْرب َعِي‬
َ ‫س لوَد َ ب ْل‬
ٌ ‫ماِلل‬
َ َ ‫سب ٍْع َوقا‬
‫ت‬
ٍ َ ‫سلعُ ت َْروِْيحلا‬
ُ ‫ك َالت َّراوِْيل‬
ْ ِ‫ح ت‬
َ ِ ‫وَي ُوَت ُّر ب‬
َ ‫ل‬
َ
َ ْ‫ن أ َه‬
‫ل‬
ً َ‫ن َرك ْع‬
ٌ ّ ‫ست‬
ِ ‫ى‬
ّ ‫ج ب ِأ‬
ّ َ ‫حت‬
ْ ‫ة غ َي َْر ْالوِت ْرِ َوا‬
َ ْ‫ة وَث َل َث ُو‬
َ ِ ‫وَه‬
َ َ َ ‫ وع َلن نلا َفع قلا‬. ‫ذا‬
َ ‫فعَل ُوْن ََها هَك َل‬
‫ت‬
ْ َ ‫مد ِي ْن َةِ ي‬
ُ ‫ل أد َْرك ْل‬
َ ْ ‫ال‬
ْ
َ
ٍ ِ
‫ة‬
ُ َ‫م ي‬
ٍ ‫ن َرك َْعلل‬
َ ‫ضا‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫مو‬
ْ ِ ‫ن ب ِت‬
َ ‫ن َر‬
ُ ْ ‫قو‬
ْ ُ‫س وَه‬
َ ‫الّنا‬
َ ‫سٍع وَث َل َث ِْيلل‬
َ ‫ي لوترون منهللا بث َل َث * واحت ل‬
ٍ
َ ‫صل‬
ّ َ ْ َ
ُ‫مللا َرَواه‬
َ ِ ‫حاب َُنا ب‬
ِ َْ ِ َ ْ َُّ ُ
ْ ‫جأ‬

55

‫ح ) المجموع شرح‬
ِ ‫ص‬
ِ َ‫ْالب َي ْه‬
ْ ِ ‫ى وَغ َي ُْره ُ ب ِا ْل‬
ّ ‫سنا َد ِ ال‬
ِ ْ ‫حي‬
ّ ‫ق‬
( 38 ‫ ص‬4 ‫المهذب باب صلة التطوع الجزء‬
Lebih lanjut dalam kitab Subul al-Salam ada salah satu
hadits Nabi yang berbunyi:

َ َ ‫ع َن ابن ع َباس َقا‬
َ ْ ‫سو‬
‫ه‬
ِ ‫ه ع َل َي ْل‬
ّ ‫لأ‬
ُ ‫ن َر‬
ُ ‫ص لّلى الل ل‬
َ ِ‫ل الله‬
ٍ ّ ِ ْ ِ
َ ‫م‬
ْ ‫ع‬
‫ر‬
ً َ‫ن َرك ْع‬
ِ ‫ن‬
َ ‫ضا‬
َ ‫م‬
َ ‫كا‬
َ َ‫و‬
َ ‫صّلي ِفي َر‬
َ ّ ‫سل‬
َ ُ‫ن ي‬
َ ْ ‫شرِي‬
ِ ْ ‫ة َوال ْوِت‬

Diceritakan dari ibnu Abbas ra.: sesungguhnya Ibnu Abbas
berkata: Rasulullah Saw. mengerjakan shalat tarawih 20 raka’at
dan shalat witir di bulan Ramadlan. (Subul al-Salam, juz II, hal. 10)

َ ‫ع َن مال ِك ع َن يزيد بن رومللا‬
َ ‫ه قَللا‬
‫س‬
َ ‫ل ك َللا‬
َ َ ْ ُ ِ ْ ِ ِْ َ ْ
ٍ َ ْ
ُ ‫ن أن ّل‬
ُ ‫ن الن ّللا‬
‫ن‬
ُ َ‫ي‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ضللا‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫مو‬
َ ‫ب فِللي َر‬
َ ُ‫ن ع‬
َ ‫ن ِفي َز‬
ُ ْ‫قو‬
ِ ‫خط ّللا‬
ِ ‫مللا‬
ِ ‫ملَر ب ْل‬
ْ ‫ع‬
.‫ة‬
ً َ‫ن َرك ْع‬
ِ َ‫ث و‬
ٍ ‫ب ِث ََل‬
َ ْ ‫شرِي‬

Diceritakan dari Malik dari Yazid bin Rumman. Dia berkata:
Manusia di masa Umar bin Khattab telah melakukan shalat
(tarawih) dengan 23 rakaat di bulan Ramadlan. (Tanwir alHawalik, hal.138)
Dengan demikian shalat tarawih sunnah dilaksanakan
dengan berjama’ah, jumlah rakaatnya menurut kebanyakan
ulama’ adalah 20 raka’at (10 salam) ditambah 3 rakaat shalat
witir.
Pujian Menjelang Shalat Berjama’ah
Pujian-pujian kepada Allah Swt. yang dilakukan antara adzan
dan iqomah dalam shalat maktubah merupakan syi’ar sebagai
tanda akan didirikannya shalat jama’ah dan juga untuk menunggu
berkumpulnya para jama’ah. Bagaimanakah hukum pujian
sebelum shalat tersebut?
a. Dilarang, apabila mengganggu orang yang sedang shalat
dan mempunyai niat pamer.
b. Sunnah (dianjurkan), karena pujian itu bisa diambil
manfaatnya bagi pembaca dan pendengarnya, akan lebih
56

baik dibaca keras selagi tidak mempunyai niat riya’
(pamer), tidak mengganggu orang yang shalat atau orang
yang tidur.
(al-Umm juz 1 hal. 108., Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 48
dan al-Fatawi al-Fiqhiyah al-Kubra bab Ahkami al-Masajidi)

ْ
َ
َ‫ذا فََرغ‬
َ ‫ذا إ‬
َ َ‫مَر به‬
ّ ‫) قال ال‬
ِ ُ ‫ي ( وَأ‬
ْ ‫مام ِ أ‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫ن ي َأ‬
َ ِ ‫ب ل ْل‬
ّ ِ‫شافِع‬
ْ
َ
َ
َ ‫ه في أ‬
َ ‫نأ‬
ِ‫س ع َل َي ْله‬
ِ ‫ن‬
ْ ِ ‫ذان ِهِ وَإ‬
ُ ّ ‫مؤ َذ‬
ُ َ ‫ن َقال‬
ُ ْ ‫ال‬
َ ‫ذان ِلهِ فََل ب َلأ‬
ْ ‫م‬
َ َ ‫ف اْل‬
َ ‫ه هل‬
ْ ُ ‫مللا ي‬
َ ِ ‫وَإ‬
‫من َللافِِع‬
َ ‫ذا‬
َ ‫خل ْل‬
ِ ‫ن‬
َ ‫ن‬
ُ ِ ‫ش لب‬
َ ِ‫م ب‬
َ ‫ذا ت َك َل ّل‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫ذا‬
ْ
َ َ ‫م في اْل‬
‫ت‬
ِ ُ ‫س وََل أ‬
ّ ‫ح‬
َ ‫ب ال ْك ََل‬
َ ْ ‫ما ل َي‬
ْ ‫س‬
َ ِ‫ن ب‬
َ ‫س فََل ب َأ‬
ِ ‫ذا‬
ِ ‫الّنا‬
َ
َ ِ ‫ذان ًللا وَك َلذ َل‬
َ ‫كإ‬
َ ‫م ي ُعِد ْ أ‬
‫ذا‬
َ ْ ‫من‬
ٌ َ‫فع‬
ْ ِ ‫ة وَإ‬
ْ ‫م َلل‬
َ ّ ‫ن ت َك َل‬
َ ‫س‬
ِ ‫فِي ْهِ ِللّنا‬
ٍ‫ملة‬
َ ‫ن ع َل َي ْلهِ إ ِع َللاد َة ُ إَقا‬
ْ َ ‫ه وَل‬
ُ ُ ‫مةِ ك َرِهْت‬
َ ‫ي اْل َِقا‬
َ ّ ‫ت َك َل‬
ْ ُ ‫م ي َك‬
ْ ِ‫م ف‬
( 108 ‫ ص‬1 ‫)الم ج‬
‫ت‬
ِ َ‫ت َوالرَّوايللا‬
ِ َ‫ب ِبص لَرِْيحِ ْاليللا‬
ٌ ‫و‬
ْ ‫مطْ ُل ل‬
َ ‫ة‬
ِ َ‫راء‬
َ ‫ق‬
ِ ‫لذْكرُ كللاَْل‬
ّ ‫َا‬
‫عَلى نَحْللو‬
َ ْ‫وِش‬
َ ‫م ُي‬
ْ ‫ياءً َوَل‬
َ ‫ف ِر‬
ْ ‫خ‬
ِ ‫م َي‬
ْ ‫ث َل‬
ُ ‫حْي‬
َ ‫ه‬
ِ ‫ر ِب‬
ِ ‫الجَْه‬
ْ ‫َو‬
ّ ‫ش‬
ُ ُ‫ضْيَلت‬
‫ه‬
ِ َ‫دى ف‬
ِ ْ‫ل فِي‬
َ ‫م‬
َ ‫ن الَْع‬
ّ ‫ ِلَأ‬، ‫ل‬
ُ ‫ض‬
َ ْ‫ل أَف‬
ّ ‫ص‬
َ ‫م‬
ُ
ّ َ‫ َو ت َت َع‬، ٌ‫ه َأْكَثر‬
َ
ُ ِ‫ه ُيوق‬
‫ه إل َللى‬
َ ْ ‫ب ال‬
ِ ‫ام‬
ِ ‫لس‬
ّ ‫ِل‬
ْ َ ‫ئ وَي‬
َ ْ ‫ظ قَل‬
ُ ‫مل‬
ّ َ‫ملعُ ه‬
َ ‫ج‬
ُ ّ ‫ وَِلن‬، ‫ع‬
ِ ِ‫قار‬
ْ َ ‫ه إل َْيللهِ وَي‬
ْ ‫ف‬
ُ ِ‫صللر‬
ِ ْ ‫ال‬
ُ ‫زيللد‬
َ ْ‫طللُرد ُ الّنللو‬
َ ‫ف‬
ُ َ‫مع‬
ْ ‫سلل‬
ْ َ ‫كللرِ وَي‬
ِ َ ‫م وَي‬
َ ‫شا‬
َ ّ ‫الن‬
( 48 ‫ط ) بغية المسترشدين ص‬
Hukum Jama’ah Perempuan Ketika Berada di Samping
Barisan Jama’ah Laki-laki
Tata cara shalat berjama’ah bagi kaum perempuan yaitu
bertempat di belakang barisan laki-laki. Akan tetapi karena
kendala tempat, terkadang makmum perempuan dalam shalat
berjama’ah berada di sebelah kiri atau sebelah kanan barisan
laki-laki seperti yang terdapat di beberapa musholla dan masjid.
Lantas bagaimana shalat jama’ah perempuan tersebut?

57

Dalam hal ini terjadi perbedaan pandangan:
a. Perempuan yang ikut shalat berjama’ah di selain tempat
belakang itu tidak mendapatkan fadilah jama’ah.

َ
َ َ‫ل و‬
َ ‫ن َقا‬
َ ‫كلل‬
‫مللَرأ َة ٌ أ َْو‬
ُ ‫ق‬
ِ َ‫ن ي‬
ِ َ ‫وَي‬
ْ ‫ىأ‬
ْ ِ ‫ذا ا‬
ْ َ ‫ف الذ ّك َُر ع‬
َ ‫مي ْن ِهِ ِإل‬
َ
ٌ ‫جل‬
‫ل‬
َ ْ ‫خل‬
ُ َ ‫م أوْ ي‬
ُ َ ‫سوَة ٌ ت‬
َ ‫ن‬
ُ ‫ه َر‬
َ ‫ح‬
َ ‫ن‬
ْ ِ ‫ه وَا‬
ُ ْ ‫قو‬
ْ ِ‫ن‬
ُ ‫معَ ل‬
َ ‫ض لَر‬
ُ ‫فل‬
ْ ‫ق‬
َ ‫مل‬
َ
َ
ْ
ْ
ُ ‫ج‬
‫ل‬
َ ُ ‫مْرأة‬
َ ‫خل‬
ِ َ‫ن ي‬
َ ‫ف الّر‬
ُ ‫م الّر‬
َ ‫مَرأة ٌ َقا‬
َ ‫مي ْن ِهِ وَال‬
ْ ِ ‫وَا‬
ِ ‫جا‬
ْ َ‫ل ع‬
َ
َ
َ‫ه ل‬
ّ ُ ‫ل "وَك‬
َ ‫ن َقا‬
َ َ ‫خللال‬
َ ‫م‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫س لت‬
ْ ‫ىأ‬
ْ ‫م‬
ُ ُ ‫فت‬
ُ َ‫ب و‬
ُ ‫مللا ذ ُك ِلَر‬
َ ‫ل‬
َ ‫إل‬
ُ ‫ه ل َ ت ُب ْط ِل‬
ُ ِ ‫ت ُب ْط‬
(‫ة‬
َ َ ‫خللال‬
َ ‫م‬
َ َ ‫صلل‬
َ َ ‫صلل‬
ُ ُ ‫فت‬
ُ َ‫ه و‬
ُ ُ ‫ة" )قَلوْل‬
ّ ‫ل ال‬
ّ ‫ل ال‬
‫ى‬
ُ َ‫ة ت‬
َ ِ‫ماع َلة‬
ُ َ ‫ض لي ْل‬
ٌ ‫مك ُْروْهَ ل‬
ِ َ‫ت ب ِهَللا ف‬
َ ْ ‫ة ال‬
َ ‫ج‬
ُ ْ ‫ف لو‬
َ ‫ل َك ِن ّهَللا‬
َ ‫عل ل‬
.‫ل ب َِها‬
َ ْ ‫معَ ال‬
َ ْ‫ه وَل َو‬
ُ َ‫مع‬
َ ‫ن‬
َ ‫مام ِ و‬
َ ِ ‫ا ْل‬
ِ ْ ‫جه‬
ْ ‫م‬
Dan orang laki-laki berdiri di sebelah kanan imam dan
seterusnya, begitu juga seorang atau beberapa wanita
berdiri di belakang imam. Dan apabila laki-laki dan
perempuan berjamaah secara bersamaan, maka seorang
laki-laki itu berdiri di sebelah kanan, sedangkan
perempuan berada di belakang laki-laki, hal tersebut
disunnahkan, apabila tidak sesuai dengan tatanan shaf
di atas maka hal itu tidak membatalkan shalat (akan
tetapi
hukumnya
makruh
yang
menghilangkan
keutamaan jama’ah atas imam dan makmumnya
walaupun karena tidak tau. (al-Mahalli, Juz I, Hal. 238239)

b. Mendapat fadilahnya jama’ah, akan tetapi tidak
mendapatkan fadilahnya tertib shof, karena sebenarnya
shof perempuan itu berada di barisan paling belakang.
Sebagaimana diterangkan dalam kitab Hasyiyah I’anah
al-Thalibin juz 2 hal. 24 dan dalam kitab Hasyiyah alJamal juz 1 hal. 547:

َ ‫وََقا‬
ّ ‫ ت َب ًَعا ِلل‬،‫ي‬
‫ن‬
َ ْ ‫ل م ر ِفي ال‬
ّ ِ ‫ إ‬،‫ي‬
ِ ‫شللَر‬
َ ْ ‫ف ال‬
ْ ِ‫مَنللاو‬
ْ ِ‫فَتاو‬
‫ة‬
ُ ‫صللل‬
َ ْ ‫ال‬
ُ َ ‫ضلللي ْل‬
ِ َ ‫ضلللي ْل‬
ِ َ‫ ل َ ف‬،‫ف‬
ِ َ‫ ف‬:‫م‬
ِ ْ ‫فو‬
ْ ‫ت ع َل َي ِْهللل‬
َ ِ ‫فلللائ‬
ّ ‫ة ال‬
َ ‫ما‬
َ ‫ي‬
،‫مل ِللي‬
ِ َ ‫ماع‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ‫ح الّر‬
َ ‫ل ع ش إ َِلى‬
َ َ‫ و‬.‫ة‬
َ ‫ج‬
ْ ‫مللا فِل‬
ِ ‫شلْر‬
58

ّ ‫مللا فِللي ال‬
َ ِ‫ه إ‬
‫ح‬
َ ّ ‫ما فِي ْهِ وَغ َي ْرِهِ قُد‬
َ ‫م‬
َ ‫ض‬
ُ ّ ‫ِل َن‬
َ ‫ذا ت ََعاَر‬
ِ ‫شلْر‬
(24 ‫ ص‬2 ‫ )حاشية اعانة الطالبين ج‬.‫ي‬
ِ ‫جي َْر‬
َ ُ ‫ ب‬.‫اه‬
ْ ‫م‬
ْ
َ
ُ
‫مللا‬
ِ ْ ‫موم ٍ ان‬
َ ‫فلَراد ٌ ( أيْ اب ْت ِل‬
ً ‫داًء وَد ََوا‬
ُ ‫م لأ‬
َ ِ ‫ه وَك ُلرِه َ ل‬
ُ ‫) قَلوْل‬
ْ ‫عللةِ َبلل‬
‫ة‬
َ ُ ‫ه َل ت‬
َ ‫ما‬
ُ َ ‫ضلليل‬
َ َ ‫ضلليل‬
ِ َ‫ل ف‬
ِ َ‫ت ف‬
َ ْ ‫ة ال‬
َ ‫ج‬
ُ ّ‫فللو‬
ُ ‫وَك ََراهَُتلل‬
‫ ص‬1 ‫ ج‬, ‫ )حاشللية الجمللل‬، ‫م‬
ِ ‫ف‬
ّ ‫صل‬
ِ ْ‫عن ْلد َ ب َع‬
ْ ِ ‫ض له‬
ّ ‫ال‬
(546
Makmum Shalat Beda Niat dengan Imam
Ahmad adalah salah satu santri yang selalu aktif mengikuti
shalat berjama’ah. Pada suatu hari ia terlambat shalat berjama’ah
di masjid. Kemudian ia menghampiri seseorang yang sedang
shalat untuk menjadi makmum. Setelah shalat, ternyata diketahui
bahwa sang imam sedang melaksanakan shalat sunnah ba’diyah.
Bagaimanakah hukum shalatnya makmum yang beda niat dengan
imamnya?
Hukum shalat makmum tersebut itu boleh meskipun niatnya
beda dengan imamnya, tetap sah shalatnya, dan tetap
mendapatkan fadilahnya jama’ah. Keterangan kitab Tuhfah alHabib ‘Ala Syarhi al-Khatib, bab kitab al-Shalat juz 2 hal 346,
keterangan yang sama terdapat dalam kitab Jamal ‘Ala Minhaj, Juz
I, hal. 562-563 dan Khasyiyah al-Bujairami.

ْ ْ ‫ ) وَل يضر اختَلف نية اْلمام وال‬: ‫قَول ُه‬
َ
ُ ‫مللأ‬
َ َ ِ َِ ِ ِّ ُ ِ ْ ّ ُ َ َ
ُ ْ
ِ ‫موم ِ ( أيْ ل َِعللد َ َم‬
ّ
َ
ْ
َ ‫مللا وَهَ ل‬
‫ن‬
َ ‫خال‬
َ ‫م‬
ّ ‫حت َلَرُز قَ لوْل ِهِ الظللاه َِرة ُ ِل‬
ْ ‫م‬
ْ ُ‫ف‬
ُ ‫ذا‬
َ ِ‫ف لةِ ِفيه‬
ُ ‫ش ال‬
ِ ‫ح‬
َ َ‫ي ف‬
ٌ ‫ي فِْعل‬
‫ب‬
ْ ‫اِل‬
َ ‫خت َِل‬
ِ ‫مَنا‬
ِ َ‫ف هَُنا ِفي الن ّّيلةِ و‬
ُ ‫سل‬
َ ‫كلا‬
ُ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫ل قَل ِْبل‬
َ ‫هل‬
‫ )تحفة الحبيب على شرح الخطيللب البللاب كتللاب‬. َ‫ريع‬
ْ ّ ‫الت‬
ِ ‫ف‬
( 346 ‫ ص‬2 ‫الصلة ج‬
Bacaan Basmalah dalam Shalat

59

Masalah membaca Basmalah dalam fatihah shalat
merupakan salah satu masalah besar dalam agama Islam karena
menyangkut sah atau tidaknya shalat. Bagaimanakah hukum
membaca basmalah dalam surat al-Fatihah ketika shalat? Dan
kalau wajib, apakah harus dikeraskan bacaannya?
Membaca Basmalah merupakan ibadah yang paling besar
sesudah tauhid, demikian dikatakan oleh Imam Nawawi dalam
kitab al-Majmu juz III, hal.334.
a.
Menurut
Madzhab
Syafi’i,
hukum
membaca
Basmalah dalam al-Fatihah ketika shalat adalah wajib,
karena bacaan Basmalah itu salah satu ayat dari al-Fatihah
yang menjadi rukun shalat itu sendiri.

َ ‫قد ْ آت َي َْنا‬
:‫م )الحجر‬
ُ ْ ‫مَثاِني َوال‬
َ َ ‫وَل‬
َ ‫ك‬
َ ْ ‫قْرآنَ ال ْعَظ ِي‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫سب ًْعا‬
َ ‫م‬
.(87
Dan sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu (hai
Muhammad) tujuh yang berulang-ulang dan al-Qur’an yang
agung. (QS. Al-Hijr: 87)
Imam Syafi’i berkata:

َ ‫َقللا‬
ّ ‫ل ال‬
‫ة‬
ُ ‫حْيللم ِ ْالَيلل‬
ِ ‫ن الّر‬
ْ ‫سللم ِ اللللهِ الّر‬
ْ ِ ‫ ب‬:‫ي‬
َ ‫ح‬
ّ ِ‫شللافِع‬
ِ ‫ملل‬
َ
‫ي‬
ُ ‫جلزِهِ الّرك ْعَل‬
ُ َ‫ساب ِع‬
ْ ُ‫م ت‬
َ ْ‫ن ت ََرك ََها أوْ ب َع‬
ْ ِ ‫ة فَإ‬
ّ ‫ال‬
ْ ‫ضلَها ل َل‬
ْ ‫ة ال ّت ِل‬
‫ت ََرك ََها فِي َْها‬
Imam syafi’i berkata, Bismillahirrahmanirrahim adalah
termasuk ayat tujuh dari fatihah, kalau ditinggalkan
semuanya atau sebagiannya tidaklah cukup rakaat shalat
yang tertinggal membaca bismillahirrahmanirrahim dalam
rakaat itu. (al-Umm, juz I, hal. 107).

َ َ‫ع‬
‫ه‬
ِ ‫ن أِبي هَُري َْرة َ َر‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الن ّب ِل‬
َ ‫ض‬
ْ
ِ ‫ه ع َل‬
َ
َ
ّ
َ ِ‫ه إ‬
َ ‫س ا ِفْت َت َل‬
ّ ُ ‫ذا قََرأ وَهُوَ َيلؤ‬
ْ ِ ‫ح ب ِب‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
ُ ّ ‫م أن‬
َ ‫سل‬
َ ‫م الن ّللا‬
ِ ‫سلم‬
.ِ ‫حي ْم‬
ِ ‫ن الّر‬
ْ ‫اللهِ الّر‬
َ ‫ح‬
ِ ‫م‬
60

Apabila Nabi membaca (surat al-Fatihah) dan menjadi imam
manusia, maka Nabi memulai (bacaan surat al-Fatihah)
dengan bacaan basmalah.
(Diriwayatkan dari Dar al-Quthni dalam kitab al-Majmu’, juz
III, hal. 34).

َ َ‫ع‬
‫ه‬
َ ‫ه‬
ِ ‫ن أِبي هَُري َْرة َ َر‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الن ِّبل‬
َ ‫ض‬
ْ
ِ ‫عل‬
َ
ْ
ّ
َ ‫ه َقا‬
َ ِ ‫ إ‬:‫ل‬
‫ملد ُ لللهِ فَللاقَْرؤ ُْوا‬
َ ‫م ال‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
ْ ‫ح‬
ُ ‫ذا قََرْء ت ُل‬
ُ ّ ‫م أن‬
َ ‫سل‬
ُ
ُ
َ
‫ب‬
ُ ْ ‫م ال‬
ِ ‫ن الّر‬
ْ ‫سم ِ اللهِ الّر‬
ّ ‫ن وَأ‬
ّ ‫حي ْم ِ أن َّها أ‬
ْ ِ‫ب‬
َ ‫ح‬
ِ ‫م ال ْك َِتللا‬
ِ ‫قْرآ‬
ِ ‫م‬
َ
ْ
ِ ‫ن الّر‬
ُ ‫ح لد‬
َ ‫حي ْلم ِ أ‬
ْ ‫س لم ِ الل لهِ الّر‬
ْ ِ ‫مث َللاِني وَب‬
ّ ‫َوال‬
َ ‫ح‬
َ ‫س لب ْعُ ال‬
ِ ‫مل‬
.‫آيا َت َِها‬
Dari Abu Hurairah ra, Nabi bersabda: Apabila kalian
membaca surat al-Fatihah, maka bacalah basmalah.
Sesungguhnya surat al-Fatihah adalah ummul qur’an,
ummul kitab dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulangulang), sedangkan basmalah adalah termasuk satu ayat dari
surat al-Fatihah. (Diriwayatkan oleh Dar al-Quthni dalam
kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal. 34)

َ
َ َ‫ع‬
َ ْ ‫سو‬
‫ه‬
ِ ‫ي ع َّباس َر‬
ّ ‫ما أ‬
ُ ‫ن َر‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ُ‫ه ع َن ْه‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ل‬
َ ‫ض‬
ْ ِ ‫ن أب‬
ْ
ّ
‫ن‬
ْ َ‫ن ي‬
ْ ‫سلم ِ الللهِ الّر‬
ُ ‫فت َت ِل‬
َ ‫م ك َللا‬
ْ ِ ‫صلل َة َ ب ِب‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ‫ح‬
َ ‫سل‬
ّ ‫ح ال‬
ِ ‫مل‬
.‫م‬
ِ ‫الّر‬
ِ ْ ‫حي‬
Diceritakan dari Ibnu Abbas, Bahwasannya Rasulullah itu
memulai shalat dengan bacaan basmalah. (Diriwayatkan
oleh al-Tirmidzi dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal.
47)
Dari keterangan di atas Basmalah termasuk salah satu
ayat dari surat al-Fatihah. Membaca surat al-Fatihah dalam
shalat termasuk rukunnya shalat. Bagi yang ber’itiqad kalau

61

basmalah itu bukan salah satu ayat dari al-Fatihah maka
shalatnya tidak sah dan batal.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah
merupakan sebagian surat dari al-Fatihah, sehingga harus
dibaca manakala membaca al-Fatihah dalam shalat. Dan
juga basmalah disunnahkan untuk dikeraskan sebagaimana
sunnahnya mengeraskan al-Fatihah dalam shalat jahriyyah
(shalat yang disunnahkan untuk mengeraskan suara).
b.
Menurut Madzhab Maliki, bahwa basmalah bukan
merupakan satu ayat dari surat al-Fatihah bahkan bukan
merupakan satu ayat dari al-Quran. Hal ini berdasarkan
hadits nabi yang diriwayatkan ‘Aisyah Ra. (Diriwayatkan oleh
Dar al-Quthni dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam, juz I, hal. 35)

ُ ْ ‫سو‬
ْ َ‫م ي‬
َ‫صلَلة‬
ُ ‫فت َت ِل‬
َ ‫كَا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫ن َر‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل‬
ّ ‫ح ال‬
َ ِ‫ل الله‬
‫ن‬
ِ َ ‫ب ال َْعال‬
ِ ْ ‫ِبالت ّك ْب ِي ْرِ َوال‬
ّ ‫مد ُ ل ِل ّهِ َر‬
َ ْ ‫قَراَءةِ ِبال‬
ْ ‫ح‬
َ ْ ‫مي‬

Berdasarkan keterangan tersebut, maka tidak wajib
membaca basmalah pada waktu fatihahnya shalat baik sirri
atau keras.

Shalat Berjama’ah Dilakukan dengan Cepat
Para ulama’ seringkali menekankan agar menjalankan shalat
dengan khusyu’, karena khusyu’ merupakan syarat diterimanya
shalat kita di sisi Allah Swt. Akan tetapi banyak diantara golongan
yang ketika shalat berjama’ah baik shalat fardhu maupun shalat
sunnah dilakukan dengan cepat, terutama ketika shalat tarawih
pada waktu bulan Ramadlan. Bagaimanakah hukum shalat
berjama’ah yang dilakukan dengan cepat?
a. Tidak sah, apabila kehilangan tuma’ninah atau sampai
menghilangkan huruf-huruf surat al-Fatihah.

َ ‫قا‬
َ ‫ب ا ْل ِْر‬
َ
ُ ‫داد‬
ّ ‫حل‬
َ ‫وي ْال‬
ُ ْ ‫ل قُط‬
َ ِ ‫شاد‬
ُ ْ ‫سي ّد َُنا ع َب ْد ُ اللهِ ب‬
ِ ‫ن ع َْلل‬
‫ي‬
ْ ‫م‬
ْ ّ ‫ن الت‬
ِ ِ‫فلر‬
ِ ‫خ‬
ِ ‫حلذ َْر‬
ِ ‫في ْل‬
ْ َ ‫ح وَل ْي‬
ُ ‫ف ْال‬
َ ّ ‫ي الن‬
ْ ِ ‫ط ال ّلذ‬
َ ‫مل‬
ِ ‫فل‬
ِ ِ ‫صللائ‬
62

‫ص ل َِ‬
‫ى‬
‫ي َعَْتاد ُه ُ ك َِثيٌر ِ‬
‫ح َ‬
‫ن ْال َ‬
‫لتهِ ْ‬
‫ي َ‬
‫م َ‬
‫جهَل َلةِ ف ل ِ‬
‫حللت ّ‬
‫م ِللت َّراوِي ْل ِ‬
‫ل بِ َ‬
‫ت‬
‫ما َ ي َ َ‬
‫ي ا ْل ِ ْ‬
‫جب َللا ِ‬
‫يٍء ِ‬
‫قعُوْ َ‬
‫ن بِ َ‬
‫وا ِ‬
‫ُرب ّ‬
‫ن ْال َ‬
‫مل َ‬
‫ش ْ‬
‫خل َ ِ‬
‫سب َب ِ ْهِ ف ِ‬
‫ّ‬
‫ك‬
‫ِ‬
‫جوْد ِ وَت َلْر ِ‬
‫سل ُ‬
‫مث ْلللِ ت َلْر ِ‬
‫ي الّرك ُلوِْع َوال ّ‬
‫ك الط َ‬
‫مأن ِي ْن َلةِ ْفل ِ‬
‫ب‬
‫قَِراَءةِ ْال َ‬
‫حة ِ َ‬
‫جهِ ال ّلذ ِيْ ل َ ب ُلد ّ ِ‬
‫ى ال ْلوَ ْ‬
‫فات ِ َ‬
‫ه بِ َ‬
‫من ْل ُ‬
‫س لب َ ِ‬
‫عل ل َ‬
‫َ‬
‫فللاَز‬
‫ص لّلى فَ َ‬
‫م ِ‬
‫جل َةِ فَي َ ِ‬
‫ص لي ُْر أ َ‬
‫ْالعَ َ‬
‫حلد ُهُ ْ‬
‫عن ْلد َ الل لهِ ل َ هُلوَ َ‬
‫ب وَل َ هُوَ ت َلَر َ‬
‫ن‬
‫ف ِبالت ّ ْ‬
‫ك فَللاع ْت ََر َ‬
‫م ِ‬
‫ق ِ‬
‫صلليْر وَ َ‬
‫س لل ّ َ‬
‫وا ِ‬
‫مل َ‬
‫ِبالث ّ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ن أع ْ َ‬
‫م َ‬
‫مللا أ ْ‬
‫ب وَ َ‬
‫كاِيللدِ‬
‫شللب َهََها ِ‬
‫ا ْل ِع ْ َ‬
‫ظللم ِ َ‬
‫هللذ ِهِ وَ َ‬
‫جللا ِ‬
‫ملل ْ‬
‫َ‬
‫شي ْ َ‬
‫مل َ‬
‫ن ي ُب ْط ِل ُ‬
‫ال ّ‬
‫م‬
‫ل ِ‬
‫ل ْالَعا ِ‬
‫من ْهُل ْ‬
‫ل عَ َ‬
‫لي ْ‬
‫مل ِ‬
‫م لا َ ِ‬
‫ن لهْل ِ‬
‫طا ِ‬
‫ل اْ ِ‬
‫ن ذ َل ِل َ‬
‫ه‬
‫حذ َُرْوا ِ‬
‫عَ ِ‬
‫ل َفا ْ‬
‫وا ل َل ُ‬
‫معَ فِعْل ِهِ ل ِل ْعَ َ‬
‫ه َ‬
‫مل َ ُ‬
‫ك َوتن َب ّهُل ْ‬
‫مل ْ‬
‫م ِ‬
‫ن وَإ ِ َ‬
‫ن‬
‫ش لَر ا ْل ِ ْ‬
‫ح وَغ َي َْرهَللا ِ‬
‫مَعا ِ‬
‫م الت َّرِواي ْل َ‬
‫ص لل ّي ْت ُ ْ‬
‫َ‬
‫ذا َ‬
‫مل َ‬
‫وا ِ‬
‫خل َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫جوَْد‬
‫ل‬
‫س‬
‫وال‬
‫ع‬
‫و‬
‫ل‬
‫ك‬
‫ر‬
‫وال‬
‫ة‬
‫َ‬
‫ء‬
‫را‬
‫ق‬
‫ال‬
‫و‬
‫م‬
‫يا‬
‫ق‬
‫ال‬
‫وا‬
‫م‬
‫أت‬
‫ف‬
‫ت‬
‫وا‬
‫ل‬
‫ص‬
‫ال‬
‫ّ َ ِ‬
‫ِ َ َ َ ِ َ َ َ ّ ْ َ َ ّ ُ‬
‫ّ ْ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫سللائ َِر الْر َ‬
‫ب وَل َ‬
‫خ ُ‬
‫وَْال ُ‬
‫ن وَال َ‬
‫ح ُ‬
‫شللوْع َ وَال ُ‬
‫ضللوَْر وَ َ‬
‫دا ِ‬
‫كللا ِ‬
‫سللل ْ َ‬
‫شللي ْ َ‬
‫ن ع َل َي ْ ُ‬
‫وا ِلل ّ‬
‫ه‬
‫تَ ْ‬
‫م ُ‬
‫س َللل ُ‬
‫طاًنا َفللإ ِن ّ ُ‬
‫كلل ْ‬
‫ه ل َْيلل َ‬
‫طا ِ‬
‫جعَُللل ْ‬
‫س لل ْ َ‬
‫ن‬
‫م ي َت َوَك ّل ُلوْ َ‬
‫طا ُ‬
‫ُ‬
‫وا وَع َل َللى َربهِّ ل ْ‬
‫نآ َ‬
‫من ُل ْ‬
‫ن ع َل َللى ّال لذ ِي ْ َ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫ن‬
‫وا ِ‬
‫ما ُ‬
‫ن ي َت َوَلوْن َ ُ‬
‫سلطان ُ ُ‬
‫م ِإن ّ‬
‫من ْهُ ْ‬
‫ه َوالذ ِي ْ َ‬
‫ه ع َلى الذ ِي ْ َ‬
‫فَكوْن ُ ْ‬
‫م ْ‬
‫م اهل )اعانة الطالبين‬
‫وا ِ‬
‫شرِك ُوْ َ‬
‫من ْهُ ْ‬
‫م ب ِهِ ُ‬
‫هُ ْ‬
‫ن فَل َ ت َك ُوْن ُ ْ‬
‫ج ‪ 1‬ص ‪( 265‬‬
‫‪Quthbu al-Irsyad sayyidina Abdullah bin Alwi mengatakan‬‬
‫‪di dalam kitab al-Nashaa’in, “Hindarilah pelaksanaan shalat‬‬
‫‪dengan amat cepat seperti yang biasa dilakukan‬‬
‫‪kebanyakan orang yang bodoh dalam melakukan shalat‬‬
‫‪tarawih, yang karena sangat cepatnya mungkin mereka‬‬
‫‪melewatkan sebagian rukun, seperti tanpa thuma’ninah di‬‬
‫‪dalam ruku’ dan sujud, atau membaca surat al-Fatihah‬‬
‫‪tidak dengan sebenarnya karena tergesah-gesa, sehingga‬‬
‫‪shalat salah seorang di antara mereka tidak dinilai oleh‬‬
‫‪Allah Swt. Sebagai shalat yang berpahala, tetapi mereka‬‬

‫‪63‬‬

tidak dianggap meninggalkan shalat. Orang tersebut salam
(menutup
shalat)
dengan
bangga
(karena
bisa
melaksanakannya secara cepat). Hal itu dan sejenisnya
termasuk tipu daya syetan yang paling besar kepada orang
yang beriman untuk merusak amal ibadah yang ia
kerjakan. Karena itu, berhati-hatilah dan waspadalah wahai
saudara-saudaraku. Apabila anda melaksanakan shalat
tarawih dan shalat yang lain maka sempurnakanlah
berdirinya, bacaan fatihahnya, ruku’nya, sujudnya,
khusu’nya, hudhur-nya, rukun-rukunnya dan adabnya.
Janganlah anda menjadikan setan sebagai penguasa diri
anda, karena setan tidak mampu mengusai orang-orang
yang beriman yang bertawakkal kepada Allah Swt., maka
beradalah di dalam kelompok mereka, karena setan itu
mampu menguasai orang-orang yang menolongnya dan
orang-orang yang menyekutukan Allah Swt. Janganlah
anda termasuk orang-orang ini. (I’anah al-thalibin juz 1
halaman 265)

b. Sah, selama masih memenuhi syarat dan rukun shalat itu
sendiri, misalnya terpenuhi
dengan hadits Nabi;

unsur tuma’ninah.

Sesuai

َ
ُ ْ‫س وَأ َط ُلو‬
‫س‬
َ ً ‫صل َة‬
َ َ‫ن أ‬
ّ ‫خ‬
َ ‫كا‬
َ ‫س‬
ِ ‫ل الن ّللا‬
ِ ‫ى الن ّللا‬
َ ‫عل ل‬
ِ ‫ف الّنا‬
(100 ‫ ص‬2 ‫س )الجامع الصغير الجزء‬
َ
ِ ‫ن الّنا‬
ِ َ ‫صل َة ً ع‬
Nabi Saw. Itu orang yang paling cepat shalatnya ketika
mengimami manusia dan orang yang paling lama ketika
shalat sendiri. (al-Jami’ al-Shaghir, juz II, hal. 100)
Dan dalam kitab Bujarami ‘Ala al-Khatib juz 2
halaman 126 disebutkan: disunnahkan bagi imam untuk
mempercepat shalat dengan tetap menjaga sunnah ab’ad
dan sunnah hai’at.

64

َ
َْ
.‫ت‬
ّ ‫خ‬
َ ُ‫ن ي‬
َ ‫ف‬
ِ ‫ض َوال ْهَي َْئا‬
ْ ‫بأ‬
ُ َ ‫وَي ُن ْد‬
ُ ‫ما‬
َ ‫م‬
َ ِ ‫ف اْل‬
ِ ْ‫معَ فِع‬
ِ ‫ل الب ْعَللا‬
)126 ‫ ص‬2 ‫) بجيرامى على الخطيب الجزء‬
Hukum Membaca Do’a Qunut ketika Shalat Shubuh
Ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa membaca
do’a qunut ketika shubuh adalah tidak sunnah. Bahkan haram
hukumnya, karena Rasulullah Saw. tidak melaksanakannya.
Bagaimanakah sebenarnya hukum membaca do’a qunut dalam
shalat shubuh? Apakah benar Rasulullah tidak melaksanakannya?
a. Pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal
mereka berpendapat bahwa shalat shubuh itu tanpa qunut
karena Rasulullah tidak melakukan hal tersebut.

َ ‫سعْد ِ ب ْن‬
َ ‫ه َقا‬
ْ َ ‫ق اْل‬
‫ت‬
ِ ‫ي َر‬
َ ‫ش‬
َ ‫ن‬
ُ ْ ‫ل قُل‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ض‬
ّ ِ‫جع‬
ْ َ‫ع‬
ٍ ِ‫طار‬
ِ
َ
َ
َ ّ ‫ت إ ِن‬
‫ه‬
َ ‫ت‬
َ ْ ‫خل‬
ِ َ ‫ِل َِبي يا َ أب‬
ُ ‫ف َر‬
ُ ‫صّلى الللل‬
َ ْ ‫صل ّي‬
َ ِ‫ل الله‬
َ ْ ‫ك قَد‬
ِ ْ ‫سو‬
َ
َ
‫وا‬
ُْ ‫ي أفَك َللان‬
َ ‫مللا‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ْ ‫م لَر وَع ُث‬
َ ُ ‫م وَأب ِللي ب َك َلرٍ وَع‬
َ ّ ‫سل‬
ّ ‫ن وَع َل ِل‬
َ َ ‫فجر؟ َقا‬
‫ة‬
ْ َ‫ي‬
َ ْ ‫ث )َرَواه ُ ال‬
ُ ‫سل‬
ٌ َ ‫حد‬
ْ ‫م‬
َ ْ‫قن ِت ُو‬
َ ‫م‬
ْ ‫خ‬
ُ ‫ي‬
ّ َ ‫ل أيْ ب ُن‬
ِ ْ َ ْ ‫ن ِفي ال‬
َ
‫ح‬
ُ ْ ‫ن ال‬
ِ ْ‫قن ُو‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
ِ َ‫د( ف‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ُ‫داو‬
َ ‫إ ِّل أَبا‬
ّ ‫ت ِفي ال‬
ُ ْ‫ث َالن ّه‬
َ ‫م‬
ِ ْ ‫صب‬
ِ َ‫ي ع‬
َ َ ‫فل‬
َ
‫ ص‬1 ‫ ج‬،‫م‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ َ ‫وَب ِلهِ أ‬
ُ ‫ )إ َِبان َل‬.‫د‬
ْ َ ‫ة اْل‬
ُ ‫مل‬
ْ ‫ة وَأ‬
َ ْ‫خلذ َ أب ُلو‬
َ ‫ح‬
ِ ‫حك َللا‬
(431
Dari Said bin Thariq al-Asyja’i ra, ia berkata; aku pernah
bertanya kepada ayahku wahai ayah! Sesungguhnya engkau
pernah mengerjakan shalat di belakang Rasulullah Saw, Abu
Bakar, Umar, Usman, Ali. Apakah mereka semua berdo’a
qunut ketika shalat shubuh? Ayahku menjawab qunut itu
termasuk perkara yang baru datang (HR. Khamsah kecuali
Abu Dawud) dari hadis tersebut tercetuslah hukum berupa
larangan qunut shubuh, seperti yang dipegang Abu Hanifah
dan Imam Ahmad. (Ibanah al-Ahkam, juz I, hal. 431)

65

b. Ulama’ Syafi’iyah berpendapat bahwa hukum membaca
qunut pada shalat shubuh termasuk sunnah ab’ad (apabila
ditinggalkan maka sunnah melakukan sujud sahwi).
Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi;

َ ً ‫قنوت فيها س لواٌء نزل َلت نازل َل‬
َ
‫م‬
َ َ َ َ َ ْ ِ ُ ْ ُ ُ ْ ‫ب ال‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫ست‬
ْ ‫ةأ‬
ْ ُ‫ه ي‬
ُ ّ ‫مذ ْهَب َُنا أن‬
َ
ِ َ ْ
َ
َ
َ ‫ذا َقا‬
ْ ‫م ت َن َْز‬
َ َ‫ل وَب ِه‬
‫م أوْ ك َث ِي ْلٌر‬
ِ َ ‫س لل‬
ّ ‫ل أك ْث َُر ال‬
ْ ُ‫ن ب َعْ لد َه‬
َ َ‫ف و‬
ْ َ‫ل‬
ْ ‫مل‬
َ
َّ ‫م َوم‬
ّ ‫خ‬
َ ‫ن َقا‬
‫ب‬
َ ْ ‫ن ال‬
ِ
َ ُ ‫ق وَع‬
ْ ُ‫من ْه‬
ِ ‫طللا‬
ّ ‫ل ب ِهِ أب ُوْ ب َك ْرٍ ال‬
ُ ْ ‫مُرب‬
ْ ‫م‬
ِ ْ ‫صد ّي‬
‫ه‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ب َر‬
َ ‫عاَز‬
ُ ‫ما‬
ُ ‫ي الل‬
َ ْ ‫وَع ُث‬
َ ‫ض‬
ُ ْ ‫س َوال ْب َّراُء ب‬
ُ ْ ‫ي َواب‬
ّ ِ ‫ن وَع َل‬
ٍ ‫ن ع َّبا‬
(504 ‫ ص‬3 ‫موْع ُ شرح المهذب ج‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ج‬
َ ْ ‫م )ا َل‬
ْ ُ‫ع َن ْه‬
Dalam madzhab kita (madzhab Syafi’i) disunnahkan
membaca qunut dalam shalat shubuh, baik ada bala’
(bencana, cobaan, adzab dan lain sebagainya) maupun tidak,
inilah pendapat kebanyakan ulama’ salaf dan setelahnya.
Diantaranya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab,
Usman, Ali, Ibn Abbas dan al-Barra’ bin Azib ra. (al-Majmu’, Juz
I, hal. 504)
Dalil yang bisa dibuat acuan adalah hadits Nabi Saw:

َ َ‫ع‬
ُ ْ ‫س لو‬
َ ‫ماَزا‬
َ ‫ك َقا‬
‫ه‬
ٍ ِ ‫مال‬
ُ ‫ل َر‬
ُ ‫ص لّلى الل ل‬
َ ‫ل‬
َ ‫ن‬
َ ِ‫ل الل له‬
ْ ِ‫س ب‬
ْ
ٍ َ ‫ن أن‬
َ ْ ‫ت ِفي ال‬
ْ َ‫م ي‬
ُ ‫سلن َد‬
َ ِ‫جر‬
ْ ‫ف‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
ُ ) ‫ى فَللاَرقَ اللد ّن َْيا‬
ُ ُ ‫قن‬
َ ّ ‫سل‬
ّ ‫حت‬
َ
َ َ ‫حن ْب‬
(12196 ‫م‬
َ ‫ن‬
ْ ‫أ‬
ٌ ْ‫ل َرق‬
َ ‫ح‬
ِ ْ ‫مد َ ب‬
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. Beliau berkata;
Rasulullah Saw. Senantiasa membaca qunut ketika shalat
sampai beliau wafat. (Musnad Ahmad bin Hanbal, [12196])
Larangan qunut tersebut di atas dikomentari oleh Imam
al-Sathi, dia berkata: Dasar hadis yang kemudian dikatakan
bahwa qunut itu perkara yang baru datang, tidak bisa

66

dijadikan sebagai alasan untuk melarang qunut. Hal ini sesuai
dengan kaidah usul fiqih:

ْ ِ ‫دة‬
ْ ‫ت ع ََلى الن ّللاِفى ِل‬
ْ َ‫ي‬
َ ‫مال ِهِ ع َل َللى زِي َللا‬
ُ ُ ‫قد‬
َ ِ ‫شلت‬
ُ ِ ‫مث ْب‬
ُ ْ ‫م ال‬
ٍ ‫عللم‬
َ )
(475 ‫ ص‬2 ‫مِع ج‬
ِ ‫وا‬
َ ْ ‫مِع ال‬
َ ِ ‫ح ن َظ ْم‬
ُ ‫شْر‬
ْ ‫ج‬
َ ‫ج‬
Dalil yang menjelaskan adanya (terjadinya) suatu perkara,
didahului oleh dalil yang menyatakan bahwa perkara tersebut
tidak ada. Sebab adanya penjelasan pada suatu dalil,
menunjukkan adanya pemberitahuan (ilmu) yang lebih pada
dalil tersebut. (Syarah Nadzam Jam’ul Jawami’, juz II, hal. 475)
Dengan demikian membaca qunut dalam shalat shubuh
merupakan hal yang disunnahkan dan tidak bertentangan
dengan syari’at.
Mengusap Wajah setelah Salam ketika Shalat
Salah satu tradisi yang sering kita lihat setiap selesai shalat,
orang-orang mengusap wajah dengan telapak tangan kanannya.
Bagaimanakah hukumnya, apakah benar hal ini perbuatan bid’ah?
Di sunnahkan mengusap wajah dengan kedua telapak
tangan setelah shalat karena shalat dari segi bahasa berarti do’a,
sehingga orang yang melaksanakan shalat itu juga bisa dikatakan
berdo’a kepada Allah Swt. Oleh karena itu sebenarnya mengusap
wajah setelah salam dalam shalat bukanlah hal yang bisa
dikatakan bid’ah ataupun hal yang tidak dibenarkan dalam ajaran
Islam.
Imam al-Nawawi berpendapat;

َ
َ ‫ة( قَللا‬
(‫ن‬
ٌ َ ‫َفائ ِد‬
ِ ‫ل الن ّلوَوِيّ فِللي ا ْلذ ْك َللارِ وََروَي ْن َللا فِللي ك ِت َللا‬
ِ ‫ب اب ْل‬
َ َ ‫السنى ع‬
ِ‫ه ع َل َي ْله‬
ِ ‫س َر‬
َ ‫ه ك َللا‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ ‫ه ع َن ْل‬
ُ ‫ي الل ل‬
َ ‫ن‬
َ ‫ضل‬
ْ
ٍ ‫ن أن َل‬
67

َ ‫م قَللا‬
َ ِ‫م إ‬
‫ل‬
ْ َ‫ح و‬
َ ‫س‬
َ َ‫ذا ق‬
َ ‫م‬
َ َ‫و‬
ّ ‫من َللى ث ُل‬
ْ ُ ‫ه ب ِي َلد ِهِ ال ْي‬
ُ ‫جه َ ل‬
َ ‫ه‬
ُ َ ‫صل َت‬
َ ّ ‫سل‬
َ ‫ضى‬
َ
ْ َ‫أ‬
‫م‬
ِ ‫ن الّر‬
ْ ‫ه إ ِل ّ هُوَ الّر‬
ْ ‫شهَد ُ أ‬
ّ ‫ب ال ْهَ ل‬
ّ ‫م َالل ّهُ ل‬
ُ ‫حي ْل‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫ن ل َ إ ِل‬
ِ ‫م اذ ْهَ ل‬
ُ ‫م‬
185-184.‫ ص‬،1.‫ ج‬،‫ )إعانة الطالبين‬.‫ن‬
َ ‫حَز‬
َ ْ ‫)َوال‬
(Faidah) Imam Nawawi dalam (kitabnya) al-Adzkar; Kami
meriwayatkan (hadits) dalam kitabnya Ibn al-Sunni, dari sahabat
Anas ra., bahwa Rasulullah Saw. Apabila selesai melaksanakan
shalat, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Lalu
berdo’a saya bersaksi tiada tuhan kecuali dzat yang maha
pengasih dan penyayang. Ya Allah Swt., hilangkanlah dariku
kebingungan dan kesusahan. (I’anah al-Thalibin, juz I, hal.184185)
Dalam sebuah hadist disebutkan, setiap selesai berdo’a,
Rasulullah Saw. Selalu mengusap wajahnya dengan kedua
tangannya.

َ
َ ‫عل‬
ِ‫ه ع َل َْيله‬
ّ ‫ن أب ِْيلهِ أ‬
ّ ‫ن ال‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
َ ‫ي‬
ِ ِ ‫سائ‬
ّ ‫ن الن ِّبل‬
ْ َ َ ‫ن ي َزِي ْد‬
ِ ْ‫ب ب‬
ِ َ‫ع‬
َ ‫م‬
َ ِ‫ن إ‬
‫ )سللنن‬.‫ه‬
َ َ ‫ذا د‬
ِ ْ ‫ه ب ِي َلد َي‬
ْ َ‫ح و‬
َ ‫س‬
َ ‫كا‬
َ ‫م‬
َ َ‫و‬
ُ ‫جه َ ل‬
َ َ‫عا فََرفَعَ ي َد َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
( 1 ‫أبي داود باب الدعاء الجزء‬
Dari Saib bin Yazid dari ayahnya: Apabila Rasulullah Saw.
Berdo’a, beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu
mengusap wajahnya dengan kedua tangannya (Sunan Abi Dawud
bab al-Do’a juz 1).
Tata Cara Sujud
Sujud merupakan salah satu dari rukun shalat yang
dilakukan dengan cara meletakkan tujuh anggota tubuh, yaitu:
1. Kening
2. Telapak tangan kanan
3. Telapak tangan kiri
4. Ujung lutut kanan
5. Ujung lutut kiri
6. Ujung telapak kaki kanan
68

7. Ujung telapak kaki kiri
Kening dan kedua telapak tangan harus langsung
bersentuhan dengan alas tempat sujudnya. (al-Bujairimi ‘Ala alKhatib, juz I, hal. 35)

‫ن‬
ّ َ‫ن ك‬
ِ َ‫في ْلهِ و‬
ِ َ‫ن ُرك ْب َت َي ْهِ و‬
ِ ‫جْزٍء‬
ُ ُ‫ضع‬
ْ َ‫ب و‬
ُ ‫ج‬
ِ َ ‫وَي‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
ِ ِ ‫ن ب َللاط‬
ِ ِ ‫ن َباط‬
َ
ُ
َ
ّ ‫خب َلرِ ال‬
‫ن‬
َ ْ ‫شلي‬
َ ِ ‫جود ِ ل‬
ِ ‫}أ‬:‫ن‬
ْ ‫ملْرت أ‬
ُ ‫سل‬
ّ ‫مي ْهِ فِللي ال‬
َ َ ‫صاب ِِع قَد‬
َ ‫أ‬
ِ ْ ‫خي‬
َ
َ
ْ
،‫ن‬
َ ْ ‫ ال‬: ٍ ‫سب ْعَةِ أع ْظ ُم‬
ُ ‫س‬
َ ‫جد َ ع ََلى‬
ْ ‫أ‬
ِ ‫ َوالّرك ْب َت َي ْل‬، ‫ن‬
ِ ْ ‫ َوالي َلد َي‬، ِ‫جب ْهَة‬
َ
ْ ‫فَها ب َل‬
ْ َ ‫ل ي ُك ْلَره ُ ك‬
ْ َ‫ب ك‬
‫ف‬
ُ ‫شل‬
َ ْ ‫ف ال‬
ُ ‫شل‬
ُ ‫جل‬
ِ ‫وَأط َْرا‬
ِ َ ‫ وََل ي‬. { ‫ن‬
َ َ ‫قد‬
ِ ْ ‫مي‬
ُ
‫م‬
ّ ‫ص ع َل َي ْهِ ِفي اْل‬
َ َ‫ن ك‬
ّ َ ‫ما ن‬
ِ ْ ‫الّرك ْب َت َي‬
Sujud Syukur
Sujud syukur merupakan sujud yang dilakukan ketika
mendapatkan kenikmatan dan kebahagian dari Allah Swt.
Lafadz niatnya adalah:

ّ ‫جوْد ِ ال‬
‫شك ْرِ ل ِل ّهِ ت ََعاَلى‬
ً ّ ‫سن‬
ُ ‫س‬
ُ ِ‫ة ل‬
ُ ‫ت‬
ُ ْ ‫ن َوَي‬

Dalam sujud syukur yang dibaca;
1. Tasbih 10 kali:

‫ه‬
َ ْ ‫ن اللهِ َوال‬
َ ‫حا‬
َ ْ ‫سب‬
ُ
ُ ‫ه َوالل‬
ُ ‫ه إ ِّل الل‬
َ َ ‫مد ُ ل ِل ّهِ وََل إ ِل‬
ْ ‫ح‬
‫أ َك ْب َُر‬
2. Shalawat 10 kali:

ٍ ‫مد‬
َ ‫م‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫ه ع ََلى‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ

3. Do’a sapu jagat 10 kali;

‫ة‬
ً َ ‫سن‬
ِ ‫ة وَ ِفي اْل‬
ً َ ‫سن‬
َ ِ‫خَرة‬
َ ‫َرب َّنا آت َِنا ِفي الد ّن َْيا‬
َ ‫ح‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫وَقَِنا ع‬
‫ب الّناِر‬
َ ‫ذا‬
Membaca Wiridan Setelah Shalat
Sudah menjadi kebiasaan kaum
melaksanakan shalat mereka membaca

69

muslimin, setelah
wirid, baik secara

berjama’ah maupun sendirian. Apakah amaliyah tersebut ada
dasar hukumnya?
Wirid merupakan bentuk dzikir yang berupa bacaan kalimat
thayyibah yang dilakukan setiap saat dengan harapan untuk
mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan mendapat ridha serta
ampunan-Nya. Di kalangan Nahdliyin, wiridan setelah shalat itu
dilakukan secara bersama-sama yang diakhiri dengan do’a. Hal ini
sesuai dengan perintah Allah Swt. yang berbunyi:

َ
ً‫حوْه ُ ب ُك ْلَرة‬
ُ ّ ‫سلب‬
َ َ‫ه ذ ِك ْلًرا ك َث ِْلًرا و‬
َ ‫وا اذ ْك ُلُروا اللل‬
َ ‫نآ‬
ْ ‫من ُل‬
َ ْ ‫ي َأي َّها ال ّذ ِي‬
َ
(32-31 :‫صي ْل ً )الحزاب‬
ِ ‫وّأ‬
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah Swt.
Dengan berdzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepadanya, pagi
dan sore. (Qs. Al-Ahzab: 31-32)

ُ ْ ‫سو‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫ن ال ْب ََراِء َقا‬
‫ن‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫م‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ل الله‬
ْ ‫ملل‬
ِ َ‫ع‬
ً ‫لث لا‬
ً
َ َ‫ه ث‬
َ َ ‫صل َةٍ ث‬
ّ ُ ‫ي د ُب ُرِ ك‬
ِ ‫ح‬
َ َ‫ن و‬
َ ّ ‫سب‬
َ
َ ‫م لد َ الل ل‬
َ ‫ل‬
َ ‫لث لا وَث َل َث ِي ْل‬
ْ ِ‫ح للهِ ف‬
َ
ْ
ً
َ
ّ
َ
َ
َ
َ
َ ‫ن وََقا‬
‫ه‬
ِ ‫م ال‬
ُ ‫ما‬
ُ ‫ه إ ِل الل ل‬
َ ‫مللائ َةِ ل إ ِل ل‬
َ َ‫ل ت‬
َ ْ ‫ن وَكب َّر ث َلثا وَث َلث ِي‬
َ ْ ‫وَث َلث ِي‬
ُ ‫مل ْل‬
َ ْ ‫شرِي‬
ّ ‫ملد ُ وَهُلوَ ع َل َللى ك ُل‬
َ َ ‫حد َه ُ ل‬
‫ل‬
َ ْ ‫ه ال‬
ْ َ‫و‬
ْ ‫ح‬
ُ ‫ك وَل َل‬
ُ ْ ‫ه ال‬
ُ ‫ه ل َل‬
ُ ‫ك ل َل‬
ْ
َ
َ ‫ن‬
َ ْ ‫مث‬
َ
.‫ر‬
َ ‫ت‬
ِ ‫ت‬
ِ ُ ‫يٍء قَد ِي ْرٍ غ‬
ْ َ ‫ل َزب َد ِ الب‬
ْ ِ ‫خطاَياه ُ وَإ‬
ْ َ ‫كان‬
ْ ‫فَر‬
ْ ‫ش‬
ِ ‫ح‬
Dari Bara’i, Nabi bersabda: Barang siapa (membaca) tasbih 33
kali, hamdalah 33 kali dan takbir 33 kali, lalu menyempurnakan
(hitungan)100 kali dengan membaca kalimat:

ُ ْ ‫مل‬
َ ْ ‫شرِي‬
َ َ ‫حد َه ُ ل‬
‫و‬
َ ْ ‫ه ال‬
ْ َ‫ه و‬
ْ ‫ح‬
ُ َ ‫ك وَل‬
ُ ْ ‫ه ال‬
ُ َ‫ه ل‬
ُ َ‫ك ل‬
ُ ‫ه إ ِل ّ الل‬
َ َ ‫ل َ إ ِل‬
َ ُ‫مد ُ وَه‬
ّ ُ ‫ع ََلى ك‬
َ ‫ل‬
‫يٍء قَد ِي ٌْر‬
ْ ‫ش‬

(Tiada tuhan selain Allah Swt., Dia sendirian, tidak ada yang
menandingi-Nya, Dia memiliki kerajaan, Dia memiliki segala puji
dan Dialah yang berkuasa atas sesuatau). (Irsyad al-‘Ibad, hal. 19.
Sunan Abi Dawud)
70

Dengan demikian wiridan setelah shalat itu adalah hal yang
sangat baik untuk dilakukan karena di dalamnya mengandung
pujian-pujian kepada Allah Swt.
Hukum Menerjemahkan Bacaan dalam Shalat
Shalat merupakan bentuk ibadah kepada Allah Swt. Yang
telah diajarkan oleh Nabi kepada umatnya mulai dari bentuk
gerakan sampai ketentuan do’a yang dibaca. Surat al-Fatihah
merupakan ayat yang wajib dibaca dalam shalat. Do’a dan ayat
yang berbahasa arab kadang menjadi kendala bagi beberapa
orang untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya.
Sehingga kemudian muncul inisiatif untuk menerjemahkan ke
dalam bahasa selain Arab. Bagaimanakah pandangan ulama’
mengenai bacaan dalam shalat yang bacaannya diterjemahkan
dalam bahasa selain Arab?
Dalam persoalan ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan
ulama’:
a. Menurut pendapat Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad,
dan Imam Dawud, shalat yang dilakukan baik bagi yang
paham bahasa Arab maupun yang tidak paham, artinya
dengan cara menerjemahkan ke bahasa selain Arab
hukumnya tidak boleh dan shalatnya tidak sah.

َ ‫َقلللا‬
‫ن‬
ُ ْ ‫ن قَلللَرأ َ ال‬
ِ ‫ف َر‬
ُ ّ ‫صلللن‬
َ ‫قلللْرآ‬
ْ ِ ‫ )وَا‬:‫ه‬
ُ ‫ه اللللل‬
ُ ‫مللل‬
َ ‫ح‬
ُ ْ ‫ل ال‬
َ ‫م‬
ُ ‫ف‬
‫ظ‬
ْ ّ ‫ن الل‬
ُ ْ ‫ن ال‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫ِبال‬
ِ َ ‫صوْد‬
ِ ِ‫جز‬
ِ ِ‫فار‬
ّ َ ‫ ِل‬،‫ه‬
ْ ُ‫م ت‬
َ ْ ‫ن ال‬
ْ َ ‫سي ّةِ ل‬
ُ ‫ق‬
ِ ‫قْرآ‬
َ ‫م‬
َ
َ ِ ‫وَذ َل‬
ّ ‫جد ُ ِفي غ َي ْرِهِ َال‬
‫جلوُّز‬
َ ُ ‫ه َل ي‬
ُ ‫شْر‬
َ ْ‫ك َل ي ُو‬
ُ ‫ملذ ْهَب َُنا أن ّل‬
َ (‫ح‬
َ
‫ي‬
ُ ْ ‫قَِراَءة َ ال‬
َ ‫ب‬
َ ِ ‫ن ب ِغَي ْرِ ل‬
ُ َ ‫مك َن‬
ْ ‫واٌء أ‬
ِ ‫ن ال ْعََر‬
ّ ِ ‫ه ا َل ْعََرب‬
َ ‫س‬
ِ ‫سا‬
ِ ‫قْرآ‬
َ
َ
َ
َ ‫هلل‬
‫ذا‬
َ ،‫م َل‬
ِ ْ ‫سللنَ ال‬
ْ ‫واٌء أ‬
َ َ ‫أوْ ع‬
ْ ‫قللَراَءةِ أ‬
َ ‫ح‬
َ ،‫جللَز ع َن َْهللا‬
َ ‫سلل‬
َ ٌ ‫ل مِال‬
‫ ) مذاهب الربعللة‬.‫د‬
ُ ُ‫داو‬
َ َ‫ و‬،‫د‬
ُ ‫م‬
ْ ‫ك وَأ‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫ وَب ِهِ َقا‬،‫مذ ْهَب َُنا‬
َ
( 269 .‫ ص‬،1 .‫ج‬

71

b. Menurut pendapat Imam Abu Yusuf dan Muhammad adalah
harus diperinci.
Shalatnya tidak sah bagi yang mampu baca al-Qur’an dan
sah bagi yang tidak mampu baca al-Qur’an.

َ َ ‫وَقللا‬
‫قللاد ِِر‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫سلل‬
َ ْ‫جزِ د ُو‬
ُ َ ‫ ي‬:ُ‫مللد‬
َ ‫م‬
ُ ْ‫ل أُبللوْ ي ُو‬
ِ ‫جللوُْز ل ِل َْعللا‬
ّ ‫ح‬
ُ َ‫ف و‬
َ
(28 ‫ ص‬2 ‫)البجيرمي ج‬
c. Pendapat Imam Abu Hanifah shalatnya sah secara mutlak.

َ َ ‫وقَللا‬
‫قللا‬
ً َ ‫مط ْل‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫فل‬
ِ َ ‫جلوُْز وَت‬
ّ ‫صل‬
ُ َ ‫ ت‬:‫ة‬
َ ْ‫ل أب ُلو‬
ُ ُ ‫صلل َة‬
ّ ‫ح ِبلهِ ال‬
َ
َ
َ
َ ‫ه‬
‫ي‬
َ ِ‫ة ب‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫ف‬
َ ‫ج لِبي‬
َ َ ‫حت‬
ْ ‫َوا‬
ُ ‫ل اللل‬
ْ ‫شلهِي ْد ٌ ب َي ْن ِل‬
ِ ُ‫قوْل ِهِ ت ََعالى"ق‬
ُ
ُ
َ َ‫ي ه‬
‫وا‬
ُ ْ ‫ذا ال‬
ِ ْ‫م وَأو‬
ِ ‫م ب ِل‬
ُ ‫ق لْرآ‬
ْ ُ ‫ن لن ْلذ َِرك‬
ْ ُ ‫وَب َي ْن َك‬
ْ ُ ‫ه" قَللال‬
ّ َ ‫ي إ ِل‬
َ ‫ح‬
َ ‫ن ا ْل ِْنللل‬
‫ وَِفلللي‬.‫ة‬
ٍ ‫مللل‬
ِ ْ‫م ل َ ي َع‬
َ ‫ذاَر إ ِل ّ ب ِت َْر‬
َ ْ‫قُللللو‬
َ َ‫َوال ْع‬
َ ‫ج‬
ُ ‫جللل‬
َ
َ ‫م قَللا‬
:‫ل‬
ِ ‫ص‬
ِ ‫ي‬
ّ ‫ أ‬:‫ن‬
َ ْ ‫حي‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫ص لّلى الل ل‬
ّ ‫ال‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
ِ ْ ‫حي‬
َ
َ ِ‫"أ ُن ْز‬
.‫ ) المجمللوع ج‬."‫ف‬
ُ ْ ‫ل ال‬
ٍ ‫حلُر‬
ْ ‫سلب ْعَةِ أ‬
ُ ‫قلْرآ‬
َ ‫ن ع َل َللى‬
( 330 .‫ ص‬، 3
Cara Mendirikan Shalat di Pesawat
Setiap muslim mukallaf, di manapun dan kapanpun
diwajibkan untuk melaksanakan shalat lima waktu. Termasuk
pada saat berada di dalam pesawat terbang, adapun pelaksanaan
shalat di dalam pesawat terbang ada beberapa cara (kaifiyah):
1.
Bagi yang masih suci (berwudlu), ada dua cara:
a. Apabila dalam keadaan bisa melaksanakan dengan posisi
berdiri, maka dilaksanakan dengan cara berdiri.
b. Apabila dalam keadaan tidak bisa dengan cara berdiri,
maka dilaksanakan dengan cara duduk. (al-Majmu’
syarah al-Muhadzab, juz II, hal. 276)

ِ‫لعلا َد َة‬
ِ ْ‫ب ا‬
ُ ُ‫ي و‬
ْ ِ‫ن ا‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ َ ‫وَذ َك ََر ِإما‬
َ ‫حَر‬
ِ ْ ‫ج لو‬
ْ ‫حِتملا َل ً فِل‬
ِ ‫مي ْل‬
‫ي‬
ِ َ ‫صلّلى قا‬
ً ‫عل‬
ُ ْ ‫ع َل َللى ال‬
َ ‫م‬
ْ ‫دا ل ِن ُلد ُوْرِهِ وَذ َك َلَر ال ْب َغَلوِيّ فِل‬

72

‫وجوب ا ْلعا َدة ع َل َيهم ك ُل ّهم قَول َين وقللا َ َ َ‬
‫ما‬
‫ِ َ ِ‬
‫صلل ّ‬
‫حه ُ َ‬
‫ِْ ْ‬
‫لأ َ‬
‫ُ ُ ْ ِ‬
‫ِ ْ ْ ْ ِ َ‬
‫ه‬
‫ه ِبل ِ‬
‫ن ي ُوَ ّ‬
‫ج ُ‬
‫ضلئ ُ ُ‬
‫جد ُ َ‬
‫ماٌء َل ي َ ِ‬
‫ه َ‬
‫معَ ُ‬
‫جزِ ال ّذ ِىْ َ‬
‫ب كا َْلعا َ ِ‬
‫تَ ِ‬
‫م ْ‬
‫ح‬
‫صلل ِ‬
‫حي ْ ُ‬
‫مللذ ْهَ ُ‬
‫صللّلى وَي ُعِْيللد ُ َوال ْ َ‬
‫ملل ُ‬
‫ه ي َت َي َ ّ‬
‫َفللإ ِن ّ ُ‬
‫ب ال ّ‬
‫م وَي ُ َ‬
‫ش لهور م لا َ قَ لدمت َ‬
‫َ‬
‫م‬
‫م ِلن ّهُ ل ْ‬
‫ه ل َ ِاع لا َد َة َ ع َل َي ْهِ ل ْ‬
‫ه أن ّل ُ‬
‫ّ ْ ُ ُ‬
‫ال ْ َ‬
‫م ْ ُ ُْ‬
‫م غ َي ْلُر ن لا َد ٍِر‬
‫جُزوْ َ‬
‫س ع ُ لذ ْرِه ِ ْ‬
‫ل وَ ِ‬
‫ع لا َ ِ‬
‫جن ْل ُ‬
‫ن فِللي اْلح لا َ ِ‬
‫ي‬
‫بِ ِ‬
‫خل َ ِ‬
‫ف ما َ قا َ َ‬
‫س ع َل َي ْهِ ال ْب َغَوِ ّ‬
‫‪2.‬‬
‫’‪Bagi yang hadats dan tidak ada air untuk berwudlu‬‬
‫‪serta tidak ada media tayamum, maka caranya sebagai‬‬
‫‪berikut:‬‬
‫‪a. Melaksanakan niat shalat untuk menghormati waktu‬‬
‫‪(Likhurmatil Waqti) dan wajib i’adah (mengulang‬‬
‫‪shalatnya) setelah menemukan alat untuk bersuci.‬‬

‫ّ‬
‫ن(‬
‫) وَع ََلللى َفاِقللد ِ ( ال ْ َ‬
‫مللاِء َوالّتللَرا ِ‬
‫ب ) الط َُهللوَري ْ ِ‬
‫ح ّ‬
‫ي‬
‫س ِفيهِ َوا ِ‬
‫م ِ‬
‫حد ٌ ِ‬
‫ما ) أ ْ‬
‫م ْ‬
‫من ْهُ َ‬
‫س بِ َ‬
‫كَ َ‬
‫ن يُ َ‬
‫ل ل َي ْ َ‬
‫صللل ّ َ‬
‫حُبو ٍ‬
‫َ‬
‫ت ) وَي ُِعيد َ ( إ َ‬
‫ما‪.‬‬
‫ال ْ َ‬
‫مةِ ال ْوَقْ ِ‬
‫جد َ أ َ‬
‫ذا وَ َ‬
‫ض ( لِ ُ‬
‫حد َهُ َ‬
‫حْر َ‬
‫فْر َ‬
‫)حاشية الجمل على المنهاج الجزء ‪ 1‬ص ‪(229‬‬

‫‪b. Menunda pelaksanaan shalat jika ada harapan‬‬
‫‪ditemukannya salah satu alat bersuci, seperti yang telah‬‬
‫‪dikatakan oleh Imam Al-Adhra’i.‬‬

‫شلت ََر ُ‬
‫ت َبل ْ‬
‫وََل ي ُ ْ‬
‫ملا‬
‫ضليقُ اْللوَقْ ِ‬
‫صلَلت ِهِ ِ‬
‫ط لِ ِ‬
‫صل ّ‬
‫ل إن ّ َ‬
‫حة ِ َ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫ما‬
‫جو أ َ‬
‫م ي َْر ُ‬
‫ما َ‬
‫دا َ‬
‫ن كَ َ‬
‫صَلة ُ َ‬
‫يَ ْ‬
‫مت َن ِعُ ع َل َي ْهِ ال ّ‬
‫حد َ الطُهوَري ْ ِ‬
‫َ‬
‫هر‪) .‬شللرح الجمللل علللى‬
‫ه اْلذ َْر ِ‬
‫ي وَهُ لوَ ظ َللا ِ‬
‫قَللال َ ُ‬
‫عل ّ‬
‫المنهاج الجزء ‪ 1‬ص ‪(230‬‬

‫‪Shalat ‘Ied Lebih Utama di Masjid atau di Lapangan‬‬
‫‪Pada hari raya idul fitri dan idul adha, umat islam‬‬
‫‪disunnahkan untuk melaksanakan shalat ‘Ied (shalat hari raya),‬‬

‫‪73‬‬

sehingga banyak di antara mereka yang melaksanakan shalat
tersebut di masjid dan ada pula yang melaksanakan di lapangan
terbuka. Manakah yang lebih utama?
a. Shalat di Masjid lebih utama
Firman Allah Swt.;

ُ
َ
‫ن‬
ْ ّ ‫س ع َل َللى الت‬
ُ َ‫ل َ ت‬
ِ ‫وى‬
ً َ ‫م فِي ْهِ أب‬
ّ ‫جد ٌ أ‬
ْ ‫م‬
ِ ‫سل‬
َ ّ ‫دا ل‬
ْ ‫ق‬
َ ‫سل‬
ْ ‫مل‬
َ ‫قل‬
َ
َ
َ
َ
ٌ ‫جللا‬
‫ن‬
ُ َ‫ن ت‬
ِ ُ‫ل ي‬
ْ ‫نأ‬
َ ْ‫حب ّلو‬
َ ِ‫ فِي ْهِ ر‬, ِ‫م فِي ْه‬
ْ ‫حقّ أ‬
َ ‫ل ي َوْم ٍ أ‬
َ ْ ‫قو‬
ِ ّ‫أو‬
(108) ‫ن‬
ِ ُ‫ه ي‬
ّ ‫ح‬
ُ ْ ‫ب ال‬
ُ ّ ‫ي َت َط َهُّروا ْ َوالل‬
َ ‫ري‬
ِ ّ‫مط ّه‬
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selamalamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar
taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu shalat di dalamnya. Di dalam mesjid itu ada orang-orang
yang ingin membersihkan diri. Dan Sesungguhnya Allah Swt.
Menyukai orang-orang yang bersih. (QS. Al-Taubah:108)

Lebih lanjut dijelaskan lagi;

َ
ُ ‫ض‬
َ ِ‫ل ل‬
‫قهِ )فتللح‬
ِ ْ ‫ضي‬
َ َ ‫شَرفِهِ إ ِل ّ ل ِعُذ ْرٍ ك‬
َ ْ‫جد ٍ أف‬
ْ ‫م‬
ِ ‫س‬
َ ِ ‫وَفِعْل َُها ب‬
(83 .‫ ص‬،‫الوهاب‬
Mengerjakan shalat ‘Ied di masjid itu lebih utama
(daripada di lapangan) karena kemulyaanya, kecuali ada
halangan, seperti masjidnya sempit (tidak menampung
jama’ah). (Fathu al-Wahab, hal. 83)
b. Boleh mengerjakan shalat ‘Ied di lapangan, karena
mengikuti Rasulullah yang mengerjakan shalat ‘Ied di
lapangan. Namun hal itu bukan tanpa alasan, beliau
melakukannya karena masjid yang dibangun oleh beliau
itu sempit sehingga tidak bisa menampung para jama’ah
shalat ‘Ied. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tuhfah
al-Muhtaj;
74

َ
َ
ُ ‫ض‬
َ ْ ‫وَقِي‬
‫صللّلى‬
ْ ‫ص‬
َ ْ‫خَراِء أف‬
ُ ّ ‫ل ِلـل ِت َْباِع وََرد َ أن‬
َ ‫ه‬
ّ ‫ل فِعْل َُها ِبال‬
‫ه‬
َ ‫مللا‬
ِ ِ ‫جد‬
ِ ِ ‫ج إ ِل َي ْهَللا ل‬
َ ‫خلَر‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ِ ‫سل‬
َ ِ‫صلغَر‬
َ ّ ‫م إ ِن‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫الل‬
(27.‫ ص‬،3 .‫ج‬،‫)تحفة المحتاج‬
Ada yang mengatakan bahwa shalat ‘Ied di lapangan itu
lebih utama, karena ittiba’ (ikut perbuatan Nabi). Namun
pernyataan ini dapat dibantah, karena sesungguhnya
Nabi SAW melakukannya karena masjid yang beliau
bangun terlalu kecil (sehingga tidak bisa menampung
para jama’ah). (Tuhfah al-Muhtaj, juz III, hal.27)
Dengan demikian selama tidak ada hal yang bisa
menyebabkan shalat ‘Ied dilaksanakan di lapangan, maka lebih
utama melaksanakan shalat ‘Ied di masjid. Kecuali kalau memang
masjid itu tidak dapat menampung para jama’ahnya, sehingga
lebih utama shalat ‘Ied dilaksanakan di lapangan.

75

BAB VIII
SHALAT JUM’AT
Pembagian Golongan Ahli Shalat Jum’at
Orang muslim dalam masalah kesempurnaan shalat Jum’at
terbagi menjadi 6 macam golongan, yaitu:
1. Orang yang wajib mengikuti shalat jum’at, serta sah dan
mengesahkan shalat jum’at orang lain. Yang dimaksud
pada golongan ini adalah shalat jum’atnya orang-orang
yang memenuhi syarat wajib shalat jum’at (Islam, baligh,
berakal, merdeka, mukim, laki-laki, sehat).
2. Orang yang wajib mengikuti shalat jum’at, akan tetapi tidak
bisa mengesahkan shalat jum’at orang lain. Yang dimaksud
golongan ini adalah shalat jum’at orang-orang yang
bermukim tetapi tidak menetap (berpindah-pindah).
3. Orang yang wajib mengikuti shalat jum’at, akan tetapi
shalatnya tidak sah dan tidak bisa mengesahkan shalat
jum’at orang lain, yaitu orang murtad.
4. Orang yang tidak wajib shalat jum’at, shalatnya tidak sah
dan tidak bisa mengesahkan shalat jum’at, yaitu shalat
jum’atnya orang kafir.
5. Orang yang tidak wajib shalat jum’at, sedangkan shalat
jum’at sah tapi tidak bisa mengesahkan shalat jum’at orang
lain, yaitu shalat jum’at anak kecil yang tamyiz, budak,
wanita, banci, musafir.
6. Orang yang tidak wajib shalat jum’at, tetapi shalat
jum’atnya sah dan bisa mengesahkan shalat jum’at orang
lain, yaitu shalat jum’at orang sakit dan orang yang udzur.
(I’anah al-Thalibin, juz I, hal.54)

َ ُ ‫) واع ْل َم ( أ َن الناس في ال ْجمعة سلت‬
‫سلام ٍ أ َوّل َُهلا‬
ّ ِ ِ َ ْ ُ
ِ َ ّ ّ
َ ْ‫ة أق‬
ْ
َ
َ
ّ
‫ت‬
ِ ‫ح‬
ِ َ ‫قد ُ ب ِهِ وَت‬
ِ َ‫ب ع َلي ْهِ وَت َن ْع‬
ّ ‫ص‬
ُ ‫ج‬
ْ ‫ن ت َلوَفَر‬
َ َ‫ه وَهُو‬
ُ ْ ‫من‬
ِ َ‫ن ت‬
َ
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
ُ ْ‫شُرو‬
ّ ‫فِي ْهِ ال‬
‫ه‬
ِ ‫قد ُ ِبل‬
ِ َ‫ب ع َل َي ْهِ وَل َ ت َن ْع‬
ُ ‫ج‬
ِ َ‫ن ت‬
َ ‫ط ك ُل َّها َوثا َن ِي َْها‬
ْ ‫م‬
‫ع‬
ِ ‫سل‬
ِ ‫م‬
ِ ‫ح‬
ِ َ ‫وَت‬
َ ‫م‬
ّ ‫ص‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ن و‬
ُ ْ ‫م غ َي ْلُر ال‬
ُ ْ ‫قي‬
ُ ْ ‫ه وَهُوَ ال‬
ُ ْ ‫من‬
ْ ‫مل‬
ِ ِ ‫سلت َوْط‬
76

‫ب ع َل َْيللهِ‬
‫ج ُ‬
‫م َ‬
‫داَء ال ْ ُ‬
‫نِ َ‬
‫ن تَ ِ‬
‫حل َِها َوثا َل ِث َُها َ‬
‫س بِ َ‬
‫ج ْ‬
‫معَةِ وَهُوَ ل َي ْ َ‬
‫م ْ‬
‫ب ع َل َي ْلهِ‬
‫ح ِ‬
‫قد ُ ب ِهِ وَل َ ت َ ِ‬
‫وَل َ ت َن ْعَ ِ‬
‫جل ُ‬
‫ص ّ‬
‫مْرت َلد ّ فَت َ ِ‬
‫ه وَهُلوَ ال ْ ُ‬
‫من ْل ُ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ص َ‬
‫قو ْ ُ‬
‫ح‬
‫معَْنى أن َّنا ن َ ُ‬
‫معَ ُ‬
‫ة وَإ ِل ّ فَل َ ت َ ِ‬
‫ص ّ‬
‫ل ال ْ ُ‬
‫هأ ْ‬
‫ج ْ‬
‫سل َ َ‬
‫ل لَ ُ‬
‫بِ َ‬
‫م وَ َ‬
‫ب‬
‫ه وَل َ ت َن ْعَ ِ‬
‫ِ‬
‫جلل ُ‬
‫قد ُ ب ِهِ وَهُوَ با َقٌ ب ِ َ‬
‫ن ل َ تَ ِ‬
‫حال ِهِ وََراب ِعَُها َ‬
‫من ْ ُ‬
‫ملل ْ‬
‫َ‬
‫ي‬
‫ح ِ‬
‫قد ُ ب ِهِ وَل َ ت َ ِ‬
‫ع َل َي ْهِ وَل َ ت َن ْعَ ِ‬
‫ص ّ‬
‫من ْ ُ‬
‫ه وَهُ لوَ ْالك لا َفُِر ا ْل ْ‬
‫ص لل ِ ّ‬
‫ه‬
‫مللى ع َل َْيلل ِ‬
‫مّيللزِ ِ‬
‫م ْ‬
‫مغْ َ‬
‫ن وَ َ‬
‫صللغِي ْرٍ وَ َ‬
‫م َ‬
‫وَغ َْيللُر ال ْ ُ‬
‫ن َ‬
‫جُنللوْ ٍ‬
‫ملل ْ‬
‫ب‬
‫ن ِ‬
‫عن ْد َ ع َلد َم ِ الت ّعَلد ّيْ َوخا َ ِ‬
‫جل ُ‬
‫م ُ‬
‫وَ َ‬
‫ن ل َ تَ ِ‬
‫س لَها َ‬
‫مل ْ‬
‫سك َْرا ٍ‬
‫مي ّلُز‬
‫ح ِ‬
‫ع َل َي ْهِ وَل َ ت َن ْعَقِلد ُ ب ِلهِ وَت َ ِ‬
‫صل ّ‬
‫م َ‬
‫ي ال ْ ُ‬
‫من ْل ُ‬
‫ه وَهُلوَ ال ّ‬
‫صلب ِ ّ‬
‫ر‬
‫سللاٍء وَ ُ‬
‫َوالّرقِي ْقُ وَغ َي ُْر ال لذ ّك َرِ ِ‬
‫م َ‬
‫ن نِ َ‬
‫خن َللاَثى َوال ْ ُ‬
‫مل ْ‬
‫سللافِ ِ‬
‫و‬
‫ح ِ‬
‫قد ُ ب ِهِ وَت َ ِ‬
‫ب ع َل َي ْهِ وَت َن ْعَ ِ‬
‫ص ّ‬
‫ج ُ‬
‫ساد ِ ُ‬
‫وَ َ‬
‫من ْ ُ‬
‫ن ل َ تَ ِ‬
‫سَها َ‬
‫ه وَهُ َ‬
‫م ْ‬
‫َ‬
‫علل َ‬
‫ة‬
‫مَر ّ‬
‫ن ا ْل ْ‬
‫صلل ِ‬
‫ه ع ُذ ٌْر ِ‬
‫حوُه ُ ِ‬
‫ض وَن َ ْ‬
‫ذارِ ال ْ ُ‬
‫ن لَ ُ‬
‫م ّ‬
‫ال ْ َ‬
‫خ َ‬
‫مرِي ْ ُ‬
‫م َ‬
‫م ْ‬
‫معَةِ )إعانة الطالبين‪ ،‬ج ‪ 1‬ص ‪(54‬‬
‫ك ال ْ ُ‬
‫ي ت َْر ِ‬
‫ج ْ‬
‫فِ ْ‬
‫‪Shalat Jum’at bagi TNI, POLRI, Satpam dan Banser yang‬‬
‫‪Sedang Bertugas‬‬
‫‪TNI dan Polisi adalah perangkat negara yang betugas‬‬
‫‪menjaga keamanan negara dan masyarakat, namun dalam‬‬
‫‪menjalankan tugasnya terkadang ia harus meninggalkan hal-hal‬‬
‫‪yang diwajibkan agama seperti tidak dapat melaksanakan shalat‬‬
‫‪jum’at. Bagaimanakah hukum meninggalkan shalat jum’at karena‬‬
‫?‪tuntutan tugas‬‬
‫‪Tidak diwajibkan mengikuti shalat jum’at bagi aparat‬‬
‫‪keamanan baik Polisi, TNI, Satpam ataupun Banser pada saat‬‬
‫‪menjalankan tugas untuk menjaga keamanan harta benda atau‬‬
‫‪menjaga keamanan seseorang yang sedang terancam.‬‬

‫ن‬
‫ف ع َل َللى ن َ ْ‬
‫ب ع ََلى ال ْ َ‬
‫ف ِ‬
‫خللائ ِ ِ‬
‫ج ُ‬
‫سلهِ ا َوْ َ‬
‫وَل َ ت َ ِ‬
‫مللال ِهِ ِلم لا ّ َرَوى ا ِب ْل ُ‬
‫س لو ْ َ‬
‫ه‬
‫ه ع َل َي ْل ِ‬
‫س َر ِ‬
‫ه اَ ّ‬
‫ن َر ُ‬
‫صلّلى اللل ُ‬
‫ه ع َن ْل ُ‬
‫ي اللل ُ‬
‫ل الللهِ َ‬
‫ضل َ‬
‫ع َّبا ٍ‬
‫م َقا َ‬
‫ن‬
‫ه ا ِل ّ ِ‬
‫س ِ‬
‫معَ الن ّ َ‬
‫ن َ‬
‫وَ َ‬
‫ص لل َة َ ل َل ُ‬
‫جب ْ ُ‬
‫م يُ ِ‬
‫داَء فَل َ ْ‬
‫ل َ‬
‫سل ّ َ‬
‫ه فَل َ َ‬
‫مل ْ‬
‫م ْ‬
‫‪77‬‬

َ ‫ما ال ْعُذ ُْر ؟ َقا‬
َ ْ ‫سو‬
.‫ض‬
َ ‫ل‬
ٌ ْ‫خو‬
ُ ‫وا َياَر‬
َ ْ‫ف ا َو‬
َ َ‫ل اللهِ و‬
ٌ ‫مللَر‬
ْ ُ ‫ع ُذ ْرٍ َقال‬
. 178 ‫ ص‬1 ‫المهذب ج‬
Tidak diwajibkan shalat jum’at bagi orang yang khawatir pada
keamanan diri dan hartanya, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas ra.
Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda “Barang siapa
mendengarkan adzan dan dia tidak menjawabnya maka tidak
dianggap shalat baginya, kecuali karena udzur”. Sahabat
bertanya, “Apakah udzurnya Ya Rasulallah Swt.? Rasulullah
menjawab” Udzurnya adalah khawatir atau sakit”. (al-Muhadzab,
juz I, hal.109)
Hukum Shalat Jum’at bagi Wanita.
Selain shalat lima waktu, umat Islam juga diwajibkan untuk
melaksanakan shalat jum’at. Tetapi apakah kewajiban itu juga
berlaku bagi wanita?
Bagi laki-laki yang baligh, berakal, bukan budak wajib
hukumnya melaksanakan shalat jum’at sesuai dengan rukun dan
syarat tertentu. Akan tetapi bagi wanita boleh melaksanakan
shalat jum’at, namun tidak menjadikan wajib bagi mereka seperti
halnya orang laki-laki yang berpergian dan yang berstatus budak.

‫ص لّلى‬
ُ َ‫مع‬
ُ ْ ‫ه ال‬
ُ ‫َي‬
َ ‫م‬
ْ ِ ‫سافِرٍ ا َوْ ا‬
ُ َ‫ة ك َعَب ْد ٍ و‬
ْ ‫ج‬
ُ ‫م‬
ُ ‫ن ل َ ت َل َْز‬
َ ِ ‫جوُْز ل‬
َ ُ ‫م لَرا َةٍ ي‬
ْ ‫م‬
ٌ ‫ض‬
ْ َ‫ه ب‬
‫ض‬
َ َ‫مع‬
َ ْ‫ي ا َف‬
ْ ُ ‫ن الظ ّهْرِ وَي‬
ُ ْ ‫ال‬
ُ ُ ‫جزِئ‬
ْ ‫ج‬
ٌ ‫ل ل َن َّهللا َفللْر‬
َ ِ‫ل ه‬
ِ َ ‫ة ب َد َل ً ع‬
ُ ‫ت‬
‫شلُروْط َُها‬
َ ِ ‫جوُْز ا‬
ُ ‫حي ْل‬
َ ُ ‫عاد َت َُها ب َعْلد‬
ُ َ ‫ل وَل َ ت‬
ْ ‫مل َل‬
ُ َ‫ث ك‬
َ َ ‫ل ال ْك‬
ِ ‫ما‬
ِ ْ‫ِل َه‬
. 79-78 ‫ ص‬,‫)بغية المسترشدين فى باب الصلة الجمعة‬
(‫و فى المهذب وموهبة ذى الفضل‬
Diperkenankan bagi wanita yang tidak berkewajiban jum’at
seperti budak, musafir, dan wanita untuk melaksanakan shalat
jum’at sebagai pengganti Dzuhur, bahkan shalat jum’at lebih
baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sudah
sempurna memenuhi syarat dan tidak boleh diulangi dengan
shalat Dzuhur sesudahnya, sebab semua syarat-syaratnya sudah
78

terpenuhi secara sempurna. (Bughyah al-Mustarsyidin bab shalat
jum’at hal.78-79, dan dalam kitab al-Muhadzab, dan Mauhibah
Dzi al-Fadhal).
Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa bagi
wanita, musafir dan budak laki-laki tidak wajib melaksanakan
shalat jum’at namun boleh memilih untuk melaksanakan shalat
jum’at sebagai ganti shalat dhuhur atau melaksanakan shalat
dhuhur tanpa shalat jum’at.
Hukum Mendirikan Shalat Jum’at di Dua Masjid dalam Satu
Desa
Dalam satu desa bagi umat Islam wajib mendirikan jama’ah
shalat jum’at. Namun kadang dalam satu desa terdapat dua atau
tiga masjid untuk pelaksanaan shalat jum’at. Bagaimanakah
hukum mendirikan shalat jum’at di dua masjid dalam satu desa?
Ulama’ berbeda pendapat tentang shalat jum’at yang
dilaksanakan di dua masjid dalam satu desa:
a. Tidak boleh mendirikan shalat jum’at lebih dari satu
tempat dalam satu desa.

ّ ‫ن ال‬
‫ة‬
َ ُ ‫قَها وَل َي‬
َ ِ ‫ساب‬
ٌ ‫معَ ل‬
ُ ِ ‫الثّال‬
ِ ْ‫شُرو‬
ِ ‫ث‬
ُ ‫قارِن َهَللا‬
ْ َ‫ط ا‬
َ ُ ‫ن ل َي‬
ْ ‫ج‬
َ ‫م‬
َ ‫ن‬
‫ه‬
َ ُ ‫جد‬
ً ‫م‬
ْ ِ ‫ي ب َل ْد َت َِها وَا‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ها ل َن ّل‬
ِ ‫سل‬
َ ‫ت‬
ْ ‫ة وَك َث َُر‬
َ ْ ‫ت ع َظ ِي‬
ْ َ ‫كان‬
ْ ِ‫ف‬
َ
َ
ْ
ّ
َ
ّ
‫وا‬
َ ‫خل‬
ُ ‫م َوال‬
ِ ُ‫م ي‬
ِ ‫فاَء‬
َ َ‫ه ع َلي ْهِ و‬
ُ ْ ‫قي‬
ْ ‫ن ب َعْد ِهِ ل‬
َ ‫سل‬
ُ ‫صلى الل‬
َ
ْ ‫ملل‬
ْ ‫م‬
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
ّ
َ ‫ن َقا‬
َ ِ ‫ل ا ِل ا‬
ِ ‫معَةٍ َوا‬
ِ‫ذا كب َُر ايّ الب َلللد‬
ِ
ْ ‫حد َةٍ ا ِلى ا‬
ُ ‫وى‬
ْ ‫ج‬
َ ‫س‬
ٍ ‫جد‬
ِ َ‫م ي‬
ْ ‫س لَر ا‬
ْ ‫م‬
ُ َ ‫وَع‬
ِ ‫سل‬
َ ‫ن‬
َ ‫ي‬
ْ ُ‫مللاع ُه‬
َ ِ ‫جت‬
ِ ‫مك َللا‬
ْ ‫قي ْن ًللا ع َللاد َة ً فِ ل‬
.‫ه‬
ِ ِ‫ا َوْغ َي ْر‬
Syarat yang ketiga adalah tidak boleh mendahului dan
bersamaan pelaksanaan shalat jum’at satu sama lain
dalam satu desa. Karena Nabi dan orang-orang
setelahnya tidak pernah mendirikan jum’at yang lain
dalam satu desa, kecuali daerahnya memang luas yang
pasti menyebabkan kesulitan berkumpul dalam satu
masjid. (Nihayah al-Muhtaj, juz II, hal.289)

79

b. Boleh mendirikan shalat jum’at lebih dari satu masjid
dalam suatu desa apabila satu masjid sudah tidak bisa
menampung para jama’ah, masyarakatnya tidak dapat di
persatukan lagi dan wilayah desanya luas.

c.

َ َ ‫ل من ك َل َم ا ْل َئ ِمة أ‬
‫ها‬
َ ِ ‫وازِ ت َعَ لد ّد‬
ِ ‫حا‬
َ ‫ب‬
َ ‫س لَبا‬
ّ ِ ّ
َ ْ ‫وَال‬
ْ ‫نأ‬
َ ‫جل‬
ْ ِ ُ ‫ص‬
ِ
‫ن‬
ُ ْ ‫حي‬
ٌ َ ‫ث َل َث‬
ِ َ ‫جت‬
ْ ‫م‬
َ ِ ‫صل َةِ ب‬
َ ‫م‬
َ :‫ة‬
َ َ‫ث ل َ ي‬
ُ ْ ‫سلعُ ال‬
َ ُ‫ضي ّق‬
ّ ‫ل ال‬
َ ‫معِي ْل‬
ِ ‫ح‬
َ ‫ل َهَللا‬
ُ ‫قت َللا‬
َ ِ‫ن ب‬
ِ ْ ‫ن ال‬
ِ ْ ‫ َوال‬، ً ‫غاِلب لا‬
َ ‫ وَب َعُ لد‬، ِ‫ش لْرط ِه‬
َ ‫ل ب َي ْل‬
ِ ‫فئ َت َي ْل‬
َ
َ ‫ن‬
، ‫داِء‬
ُ ‫أ َط َْرا‬
ِ ُ‫مع‬
َ ‫ه الن ّل‬
َ ‫م‬
َ ‫كا‬
ْ ‫ف ْالب َل َد ِ ب ِأ‬
ْ َ‫ل ل َ ي‬
ُ ‫من ْل‬
َ ‫سل‬
َ ِ‫ن ب‬
ٍ ‫ح‬
َ
َ ‫ إ ِذ ْ ل‬، ‫م ي َلد ْرِك َُها‬
َ ْ ‫ه ب َعْد َ ال‬
َ ْ‫ل ل َو‬
ِ ‫ج‬
ْ ‫ف‬
َ ‫خَر‬
َ ‫م‬
ْ ‫ج لرِ ل َل‬
ُ ْ ‫من‬
َ ِ ‫أوْ ب‬
ٍ ‫ح‬
.‫جرِ اهل‬
َ ْ ‫ي إ ِل َي َْها إ ِل ّ ب َعْد َ ال‬
ْ ‫ف‬
ّ ‫ه ال‬
ُ ‫م‬
ُ ‫ي َل َْز‬
ُ ْ‫سع‬

Boleh secara mutlaq, namun menurut imam Ismail alZain jumlah jama’ah tidak kurang dari 40 orang.

َ ‫ل الزين ا َمام‬
َ ‫قَا‬
ُ ْ ‫شي‬
ّ ‫ل ال‬
ُ َ ‫سأل‬
ِ ‫ما‬
ِ‫معَلة‬
ُ ْ ‫ة ت َعَد ّد ُ ال‬
ْ َ ّ ُ ْ ّ ُ ْ ‫عي‬
ْ ِ‫خ ا‬
ْ ‫ج‬
َ ‫س‬
ّ ‫َفال‬
َ ِ ‫واُز ٰذل‬
َ ِ ‫قا ب‬
َ ْ ‫ن ل َ ي ُن‬
ً َ ‫مط ْل‬
ِ ‫شْر‬
ُ ‫ص ع َد َد‬
ْ َ‫ط ا‬
َ ‫ظاه ُِر‬
ُ ‫ك‬
ُ ‫ق‬
َ ‫ج‬
ً ‫ج‬
ّ ُ‫ك‬
.‫ل‬
ُ ‫ن َر‬
َ ْ ‫ن ا َْرب َعِي‬
ْ َ‫ل ع‬
Menurut syaikh Ismail
pelaksanaan shalat jum’at
(terlepas dari faktor-faktor
(jama’ahnya) tidak kurang
laki. (Qurrah al-Aini, hal.83,

al-Zain, masalah bilangan
diperbolehkan secara mutlak
penyebabnya) dengan syarat
dari empat puluh orang lakiMizan al-Kubra, juz I, hal 209)

Mendirikan Jama’ah Shalat Jum’at Kurang dari 40 Orang.
Dalam suatu desa pelaksanaan shalat jum’at ada yang
dilakukan kurang dari 40 orang. Bagaimanakah hukum
mendirikan shalat jum’at dengan jama’ah yang kurang dari 40
orang?
Para ulama’ berbeda pendapat mengenai bilangan jama’ah
shalat jum’at, adapun pendapat mereka secara terperinci adalah
sebagai berikut:
a. Menurut Imam an-Nakha’i dan Ahli Dhahiri, cukup 2
orang muslim mukallaf, (seperti halnya shalat jama’ah
biasa).
80

b. Menurut Abi Yusuf, Imam Muhammad dan al-Laits, 2
muslim mukallaf, dengan imam.
c. Menurut Imam Abi Hanifah dan Sufyan al-Tsaury, 3
orang muslim mukallaf dengan imam.
d. Menurut Ikrimah, 7 orang muslim mukallaf.
e. Menurut Rabi’ah, 9 orang muslim mukallaf.
f. Menurut Rabi’ah, 12 orang muslim mukallaf,
diriwayatkan Imam malik juga berpendapat demikian.
g. Menurut Imam Ishaq, 12 orang muslim mukallaf
selain imam (12 orang makmum dan 1 orang imam= 13
orang).
h. Menurut riwayat Ibnu Habib dari Imam Malik, 20
orang.
i. Menurut Imam Malik, harus ada 30 muslim mukallaf.
j. Menurut Imam Syafi’i, harus 40 muslim mukallaf
(pendapat yang lebih unggul).
k. Menurut Imam Syafi’i, Umar bin Abdul Aziz dan
sebagian golongan, harus 40 muslim mukallaf, selain
imam.
l. Menurut Imam Ahmad, harus 50 muslim mukallaf.
m. Menurut Imam al-Maziri, 80 orang muslim mukallaf.
n. Menurut sebagian golongan ulama’ Malikiyah tanpa
batasan hitungan.
Diterangkan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami ‘Ala alKhatib bab Syurutu Sikhati Shalat Al-Jum’at juz 2
halaman 190.

َ
َ
َ ‫ل مللع أ َنهلل‬
ْ ‫ملل‬
َ ‫هلل‬
‫ن‬
َ ْ ‫ذا ال‬
َ ‫ل‬
ّ ‫مُعللوا ع ََلللى أ‬
ْ ‫مأ‬
َ ‫ج‬
ْ ُ ّ َ َ َ ْ‫قللو‬
ّ ‫وَت َأ‬
ٌ ‫شْر‬
َ ‫ش‬
ْ ‫م‬
َ ‫ما ِفي‬
َ ‫ة‬
‫ة‬
َ َ ‫ماع‬
ِ ‫كا‬
ِ ْ ‫ح ال‬
ِ ‫ط ِفي‬
ّ ‫ص‬
َ ْ ‫ال‬
َ َ ‫حت َِها ك‬
َ ‫ج‬
ِ ‫شْر‬
َ
‫ه‬
ِ َ‫جرٍ و‬
ِ ‫ه ع َل َْيلل‬
َ ‫ح‬
َ ‫ن‬
ُ ّ ‫صّلى الل‬
ُ ُ ‫عَباَرت‬
َ ِ‫ وَِفيهِ أيْ قَوْل ِه‬: ‫ه‬
ِ ْ ‫ِلب‬
ّ ُ ‫ب ع ََلى ك‬
‫سل ِم ٍ ِفللي‬
ُ َ‫مع‬
ٌ ‫ج‬
َ ‫ة‬
ُ ْ ‫ } ال‬: ‫م‬
ْ ‫م‬
َ َ‫و‬
ُ ‫ل‬
ِ ‫حقّ َوا‬
ُ ‫ج‬
َ ّ ‫سل‬
َ
ٌ ‫شللْر‬
َ ‫ة‬
‫و‬
َ ‫ما‬
َ ‫ما‬
ُ َ‫حت َِها و‬
َ ‫علل‬
ِ ‫ط ِفللي‬
ّ ‫صلل‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫عللةٍ { أ‬
َ
َ ‫ج‬
َ ‫ج‬
َ ‫هلل‬
81

‫صل ُ‬
‫خت َل َ ُ‬
‫ما ا ْ‬
‫ل ب ِلهِ‬
‫فللوا فِللي ال ْعَلد َد ِ ال ّل ِ‬
‫ذي ت َ ْ‬
‫إ ْ‬
‫ماع ٌ وَإ ِن ّ َ‬
‫ج َ‬
‫ح ُ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ن َ‬
‫ن‬
‫كا ِ‬
‫ه َل ب ُد ّ ِ‬
‫مذ ْهَب َُنا أن ّ ُ‬
‫وَ َ‬
‫ن ‪.‬الّثاِني ‪ :‬اث َْنا ِ‬
‫مِلي َ‬
‫ن أْرب َِعي َ‬
‫م ْ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ماع َلللةِ وَهُلللوَ قَلللوْ ُ‬
‫ر‬
‫ل الن ّ َ‬
‫كال َ‬
‫ج َ‬
‫ي وَأهْللل ِ‬
‫خعِللل ّ‬
‫ل الظلللاه ِ ِ‬
‫َ‬
‫سل َ‬
‫مام ِ ِ‬
‫‪.‬الّثال ِ ُ‬
‫م لد ٍ‬
‫م َ‬
‫عن ْد َ أِبي ُيو ُ‬
‫ح ّ‬
‫ف وَ ُ‬
‫معَ اْل ِ َ‬
‫ن َ‬
‫ث ‪ :‬اث َْنا ِ‬
‫َ‬
‫ن‬
‫سل ْ‬
‫حِني َ‬
‫ف َ‬
‫ه ِ‬
‫ث ‪.‬الّراب ِعُ ‪ :‬ث ََلث َ ٌ‬
‫َوالل ّي ْ ِ‬
‫عن ْد َ أِبي َ‬
‫ة وَ ُ‬
‫معَ ُ‬
‫ة َ‬
‫فَيا ٍ‬
‫س‪:‬‬
‫الث ّوْرِيّ ‪.‬ال ْ َ‬
‫مل َ‬
‫عن ْد َ ِ‬
‫ة ِ‬
‫سب ْعَ ٌ‬
‫خا ِ‬
‫ة ‪.‬ال ّ‬
‫س‪َ :‬‬
‫عك ْرِ َ‬
‫سلاد ِ ُ‬
‫م ُ‬
‫سللاب ِعُ ‪ :‬اث ْن َللا ع َ َ‬
‫ة‬
‫عن ْلد َ َرِبيعَ ل َ‬
‫ش لَر ِ‬
‫عن ْد َ َرِبيعَ َ‬
‫ة ِ‬
‫سعَ ٌ‬
‫ة ‪.‬ال ّ‬
‫تِ ْ‬
‫َ‬
‫ن‪ِ :‬‬
‫ك ‪.‬الّثا ِ‬
‫مال ِ ٍ‬
‫أي ْ ً‬
‫ه غ َي ْلُر اْل ِ َ‬
‫مث ْل ُل ُ‬
‫ضا ِفي رَِواي َةٍ وَ َ‬
‫م ُ‬
‫مللام ِ‬
‫ع ْ‬
‫ن‬
‫س لعُ ‪ِ :‬‬
‫ِ‬
‫حاقَ ‪.‬الّتا ِ‬
‫ش لُرو َ‬
‫سل َ‬
‫عن ْلد َ إ ِ ْ‬
‫ن فِللي رَِواي َلةِ اب ْل ِ‬
‫ن ك َلذ َل ِ َ‬
‫ي‬
‫ك ‪.‬ال َْعا ِ‬
‫ك ‪.‬ال ْ َ‬
‫شُر ‪ :‬ث ََلث ُللو َ‬
‫مال ِ ٍ‬
‫َ‬
‫ن َ‬
‫حِبي ٍ‬
‫حللاد ِ َ‬
‫ب عَ ْ‬
‫َ‬
‫مللام ِ ال ّ‬
‫عَ َ‬
‫و‬
‫مام ِ ِ‬
‫شَر ‪ :‬أْرب َُعو َ‬
‫عن ْد َ اْل ِ َ‬
‫ن ِباْل ِ َ‬
‫ي وَهُ ل َ‬
‫شللافِعِ ّ‬
‫َ‬
‫مد ُ ‪.‬الّثاِني ع َ َ‬
‫مللام ِ ِ‬
‫عن ْلد َ‬
‫ش لَر ‪ :‬أْرب َعُللو َ‬
‫ن غ َي ْلُر اْل ِ َ‬
‫معْت َ َ‬
‫ال ْ ُ‬
‫َ‬
‫ضللا ‪ ،‬وَب ِلهِ قَللا َ‬
‫ال ّ‬
‫ز‬
‫ي أي ْ ً‬
‫ل عُ َ‬
‫م لُر ب ْل ُ‬
‫شافِعِ ّ‬
‫زي ل ِ‬
‫ن ع َب َْلد ِ ال ْعَ ِ‬
‫وَ َ‬
‫ث عَ َ‬
‫ملد َ فِللي‬
‫طائ ِ َ‬
‫شلَر ‪َ :‬‬
‫ن ِ‬
‫ة ‪.‬الّثال ِ َ‬
‫ف ٌ‬
‫عن ْلد َ أ ْ‬
‫سللو َ‬
‫م ُ‬
‫ح َ‬
‫خ ْ‬
‫ع‬
‫زيلزِ ‪.‬الّراب ِل َ‬
‫رَِواي َةٍ وَ ُ‬
‫ن عُ َ‬
‫حك ِي َل ْ‬
‫ت ع َل ْ‬
‫ن ع َب ْلد ِ ال ْعَ ِ‬
‫ملَر ب ْل ِ‬
‫س عَ َ‬
‫عَ َ‬
‫ش لَر ‪:‬‬
‫مللازِرِيّ ‪.‬ال ْ َ‬
‫خللا ِ‬
‫ن َ‬
‫ماُنو َ‬
‫حك َللاه ُ ال ْ َ‬
‫شَر ‪ :‬ث َ َ‬
‫م َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫صرٍ ‪.‬وَل َعَ ّ‬
‫ل هَ َ‬
‫ن‬
‫ذا اْل ِ‬
‫حَها ِ‬
‫ج ُ‬
‫خيَر أْر َ‬
‫معٌ ك َِثيٌر ب ِغَي ْرِ َ‬
‫َ‬
‫ج ْ‬
‫ح ْ‬
‫مل ْ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ح الب َللاِري ا هلل حاشللية‬
‫حي ْ ُ‬
‫َ‬
‫ل قَللال ُ‬
‫ث اللد ِّلي ِ‬
‫ه فِللي فَت ْل ِ‬
‫البجيرمللى علللى الخطيللب البللاب شللروط صللحة‬
‫الصلة الجمعة ج ‪ 2‬ص ‪. 190‬‬
‫‪Keterangan yang sama juga terdapat dalam kitab I’anah‬‬
‫‪al-Thalibin, juz II, hal.57 dan Bughyah al-Mustarsyidin,‬‬
‫‪hal.81).‬‬
‫‪Hukum Adzan Dua Kali Sebelum Shalat Jum’at‬‬
‫‪Pelaksanaan shalat jum’at umumnya diawali dengan adanya‬‬
‫‪adzan pertama sebagai tanda masuknya waktu dhuhur dan adzan‬‬
‫‪kedua mengiringi khutbah. Bagaimanakah dasar pelaksanaan dua‬‬
‫?‪adzan sebelum shalat jum’at tersebut‬‬
‫‪82‬‬

Dalil yang menerangkan adzan jum’at dalam al-Qur’an surat alJumu’at ayat 9;

َ
َ ِ ‫وا إ‬
‫ة‬
ِ ‫معَ ل‬
ِ ِ‫ص لل َة‬
ُ ْ ‫ن ي َلوْم ِ ال‬
ُ ‫ج‬
َ ‫نآ‬
ّ ‫ذا ن ُلوْد ِيَ ِلل‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫من ُل‬
َ ْ ‫ي َللا أي ّهَللا ال ّلذ ِي‬
ُ ‫ن‬
‫م‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫م إ‬
ْ ‫َفا‬
ْ ُ ‫كلْنل لت‬
ْ ُ ‫خي ٌْر ل ّك‬
ْ ُ ‫وا إ َِلى ذ ِك ْرِ الل ّهِ وَذ َُروا ال ْب َي ْعَ ٰذل ِك‬
ْ َ‫سع‬
(9) ‫ن‬
َ ‫مو‬
ُ َ ‫ت َعْل‬
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan
shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah
Swt. dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui. (Al-Jumu’at ayat 9)

Dua adzan yang dilaksanakan sebelum shalat jum’at
pertama kali dilaksanakan pada zaman sahabat Utsman ra.,
karena pada saat itu semakin bertambahnya jumlah penduduk
dan jarak pemukiman penduduk dengan masjid yang jauh serta
aktifitas perdagangan yang semakin pesat, sehingga adzan yang
semula satu kali (dikumandangkan saat imam di atas mimbar)
menyebabkan banyak dari mereka ketinggalan shalat jum’at.
Dengan pertimbangan di atas, kemudian sahabat Utsman
menambah adzan lagi di tempat lain yang tinggi (menara). Hal ini
diterangkan dalam kitab shahih Bukhari;

َ ‫رى َقا‬
‫ه‬
ِ ‫ن ي َزِي ْد َ َر‬
ِ ‫س‬
َ ِ ‫سائ‬
ّ ‫ت ال‬
َ ‫ل‬
ُ ‫ه ع َن ْل‬
ُ ‫ى الل ل‬
ُ ْ‫مع‬
ِ ْ‫ن الّزه‬
َ ‫ض‬
ِ ْ‫ب ب‬
ِ َ‫ع‬
َ ِ‫معَة‬
ُ ْ‫قو‬
َ َ ‫ن ا ْل‬
‫م‬
ُ َ‫ي‬
ِ ‫ه‬
ْ َ‫ن ي‬
َ ‫كا‬
ُ ْ ‫م ال‬
َ ‫ذا‬
ّ ِ‫ل ا‬
ُ ‫مللا‬
َ ْ‫ن ي َو‬
َ ِ ‫س ا ْل‬
ُ ُ ‫ن ا َوّل‬
ْ ‫ج‬
ُ ‫جل ِل‬
َ ‫حي ْل‬
َ
ّ
ْ
َ
ْ
‫ه‬
ِ ‫ه ع َلي ْل‬
ِ ‫معَةِ ع َلى ال‬
ُ ‫م ال‬
َ ْ‫ي َو‬
ُ ‫ص للى الل ل‬
ْ ‫ج‬
َ ‫ى‬
ّ ‫من ْب َرِ ِفى ع َهْ لد ِ الن ّب ِل‬
‫ن فِللى‬
ِ ‫مرٍ َر‬
َ ‫مللا ك َللا‬
َ َ‫و‬
ّ َ ‫مللا فَل‬
َ ُ‫ه ع َن ْه‬
ُ ‫ي الل ل‬
َ ُ ‫م وَا َِبى ب َك ْرٍ وَع‬
َ ّ ‫سل‬
َ ‫ضل‬
‫م‬
ِ
ِ ‫ن َر‬
ُ ‫مللا‬
َ ‫مللا‬
َ ْ‫ن ي َلو‬
َ ْ ‫ملَر ع ُث‬
َ َ ‫ه وَك َث َلُرْوا ا‬
ُ ‫ه ع َن ْل‬
ُ ‫ي اللل‬
َ ْ ‫خل َفَلةِ ع ُث‬
َ ‫ضل‬
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ْ
َ ‫معَةِ ب ِال‬
‫ملُر‬
ِ ِ ‫ن الّثال‬
َ ّ ‫ث فَأذ‬
ُ ‫ال‬
ْ َ ‫ت ال‬
َ ‫ن ب ِهِ ع َلللى اللّزوَْراِء فَث َب َل‬
ْ ‫ج‬
ِ ‫ذا‬
َ ِ ‫ع ََلى ذ َل‬
(916 ‫ رقم‬315 ‫ ص‬1 ‫ك )صحيح البخاري الجزء‬
Dari al-Zuhri, ia berkata; saya mendengarkan dari Saib bin
Yazid ra. Beliau berkata . sesungguhnya pelaksanaan adzan pada

83

hari jum’at pada masa Rasulullah Saw, sahabat Abu Bakar dan
Umar hanya satu kali, yaitu dilakukan ketika imam duduk di atas
mimbar. Namun ketika masa khalifah utsman dan kaum muslim
semakin banyak, maka beliau memerintahkan agar diadakan
adzan yang ketiga. Adzan tersebut dikumandangkan di atas
Zaura’ (nama pasar) maka tetaplah perkara tersebut sampai
sekarang. (Shahih al-Bukhari, juz 1 halaman 315 hadits nomor
916)
Dengan demikian disunnahkan adzan dua kali sebelum
shalat jum’at, yakni adzan pertama sebelum khatib naik mimbar
dan adzan kedua pada saat khatib sudah naik mimbar. Hal ini
merupakan
hasil
ijtihad
sayidina
Utsman
ra.
dengan
pertimbangan supaya tidak ada yang tertinggal dalam shalat
jum’at. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Fathu al-Mu’in.

َ ‫حلد ٌ قَْبل‬
َ َ‫ن ا‬
‫ن‬
َ ْ ‫ل ال‬
َ َ ‫جلرِ وَا‬
ِ ‫ح َوا‬
ْ ‫ف‬
َ ُ ‫وَي‬
ُ ِ‫ن ل‬
ِ ِ ‫خلُر ب َْعلد َه ُ َفلا‬
ِ ‫ذاَنلا‬
ّ ‫سل‬
ٍ ْ ‫صلب‬
َ َ ‫صَر فَا ْل َوَْلى ب َعْد َه ُ وَا‬
ِ‫ص لعُوْد‬
َ َ ‫معَ لةِ ا‬
ُ ْ ‫ن ل ِل‬
َ ُ‫ح لد ُه‬
ْ ‫ج‬
ُ َ ‫ما ب َعْ لد‬
َ َ ‫اقْت‬
ِ ‫ذاَنا‬
(15 ‫ه )فتح المعين‬
َ َ ‫من ْب ََر وَا ْل‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ّ ‫خُر ال‬
ِ ْ ‫ب ال‬
ُ َ ‫ذى قَب ْل‬
ِ ْ ‫خط ِي‬

Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat shubuh, yakni
sebelum fajar dan setelahnya. Dan jika hanya mengumandangkan
satu kali, maka yang utama dilakukan setelah fajar. Dan sunnah
adzan dua kali untuk shalat jum’at. Yang pertama setelah khatib
naik ke mimbar dan yang ke dua sebelumnya. (Fathu al-Mu’in,
hal.15)
Kesimpulannya adalah bahwa adzan dua kali pada hari
jum’at itu bukan merupakan bid’ah, sebab perbuatan itu memiliki
landasan atau dalil yang kuat dari salah satu sumber hukum
Islam, yakni ijma’ para sahabat.
Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah Jum’at
84

Setiap sebelum dan sesudah shalat maktubah di anjurkan
untuk melaksanakan shalat sunnah, yang disebut shalat qobliyah
dan ba’diyah, lalu bagaimanakah dengan shalat sunnah sebelum
dan sesudah shalat jum’ah (shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah
jum’at) adakah dasar hukumnya?
Hadits Nabi Saw.;

َ ‫ل‬
َ ‫صلل َة َ قَْبل‬
ُ ‫طيل‬
َ ‫ن َنافٍِع َقا‬
ِ‫مَعلة‬
ِ ُ ‫ملَر ي‬
ُ ْ ‫ل ال‬
َ ‫كلا‬
ُ ‫ج‬
َ ُ‫ن ع‬
ّ ‫ل ال‬
ُ ‫ن اْبل‬
ْ َ‫ع‬
َ
َ ‫سللو‬
ُ ّ ‫ح لد‬
َ َ ‫صّلى ب َعْلد‬
ِ‫ل الل ّله‬
ّ ‫ثأ‬
َ ُ ‫ن فِللى ب َي ْت ِلهِ وَي‬
ُ ‫ن َر‬
َ ُ ‫وَي‬
ِ ‫ها َرك ْعَت َي ْل‬
َ -‫صلى الله عليه وسلم‬َ ‫ل ذ َل ِل‬
ُ َ‫فع‬
‫ )سللنن ابللى داود‬.‫ك‬
ْ َ‫ن ي‬
َ ‫كا‬
(953 ‫رقم‬

Dari Nafi’, ia berkata: Ibnu Umar memperpanjang shalat
sebelum shalat jum’at, lalu mengerjakan shalat dua rakaat
setelah shalat jum’at di rumahnya kemudian ia menceritakan
bahwa hal itu dilakukan oleh Rasulullah Saw. (Sunan Abi Dawud,
[953])

ُ ‫سلو‬
َ ‫ل َقلا‬
َ ‫ن أ َِبى هَُرْيلَرة َ َقلا‬
‫صللى اللله عليله‬- ِ‫ل الّلله‬
ُ ‫ل َر‬
ْ َ‫ع‬
َ
َ
ْ
ْ
ّ
ّ ‫ص‬
َ ِ ‫ » إ‬-‫وسلم‬
.« ‫ها أْرب ًَعللا‬
َ َ ‫ل ب َْعللد‬
َ َ‫مع‬
ُ ‫م ال‬
َ ‫صلى أ‬
ُ ‫ج‬
ُ ُ ‫حد ُك‬
َ ُ ‫ة فَلي‬
َ ‫ذا‬
(1457 ‫)صحيح مسلم رقم‬
Dari Abi Hurairah beliau berkata: Rasulullah bersabda:
Apabila salah satu diantara kamu shalat jum’at, maka hendaklah
melakukan shalat sunnah empat rakaat sesudahnya. (Shahih
Muslim, [1457])

َ ‫صلّلى قَْبل‬
‫ها‬
َ َ ‫مَعلةِ ا َْرب ًَعلا وَب َْعلد‬
ُ ْ ‫ل ال‬
َ َ ‫سلعُوْد ٍ كلا‬
ْ ‫م‬
ْ ‫ج‬
َ ‫ن‬
َ ُ‫ن ي‬
ْ َ‫ع‬
ِ ‫ن اْبل‬
(481 ‫ا َْرب ًَعا)رواه الترمذى رقم‬

Ibnu Mas’ud berkata: Bahwasannya Rasulullah Saw.
melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum shalat jum’at dan 4 rakaat
sesudah shalat jum’at. (Sunan al-Tirmidzi, [481])

85

Berdasarkan keterangan hadits di atas maka sunnah
melaksanakan shalat qobliyah dan ba’diyah jum’at. Sebagaimana
perkataan Imam an-Nawawi;

‫ها‬
ٌ ‫فَْر‬
َ َ ‫ن قَب ْل َهَللا وَب َعْلد‬
َ َ ‫معَةِ ب َعْلد‬
ُ ْ ‫سن ّةِ ال‬
َ ُ ‫ ت‬:‫ها وَقَب ْل َهَللا‬
ُ ‫ي‬
ْ ‫ج‬
ّ ‫سل‬
ْ ِ‫ ف‬,‫ع‬
َ
ُ ‫مل‬
‫ع‬
َ َ ‫ن ب َعْ لد‬
ٌ ‫ل ا َْرب َل‬
َ ْ ‫ها وَا ْل َك‬
َ
ِ َ ‫ن قَب ْل َهَللا وََرك َْعت لا‬
ِ َ ‫صل َة ٌ وَأقَل َّها َرك َْعتا‬
(9 ‫ص‬4 ‫دها َ )المجموع ج‬
َ ْ‫قَب ْل ََها وَا َْرب َعٌ ب َع‬
(Bagian) menerangkan tentang sunnah shalat jum’at,
setelah dan sebelumnya. Sebelum dan setelahnya di sunnahkan
melakukan shalat sunnah. Paling sedikit 2 roka’at, sebelum dan
sesudahnya. Dan lebih sempurna, 4 raka’at sebelum dan
sesudahnya. (Al-Majmu’, juz IV, hal.09)

Maka menjadi jelas bahwa dianjurkan melakukan shalat
sunnah sebelum dan sesudah shalat jum’at sama halnya dengan
shalat Dhuhur.
Khatib Jum’at Memegang Tongkat
Di kalangan NU pelaksanaan khutbah jum’at selalu terlihat
tongkat di tangan khatib selama khutbah dibacakan, berbeda
dengan sebagian golongan yang tidak memakai tongkat. Apakah
ada dalil dari tradisi penggunaan tongkat saat khotib
membacakan khotbah dan apakah ada hikmahnya?
Dasar hadits dalam kitab sunan Abi Dawud, bab al-Rajul
Yahtubu ‘ala Qouts:

‫ح لد ّث َِنى‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫ح لد ّث ََنا‬
َ ‫ش‬
ُ ‫ش لَها‬
َ ٍ‫صور‬
َ
َ ‫حد ّث ََنا‬
َ ‫ن‬
ُ ْ ‫من‬
ُ ‫ب ب ْل‬
ُ ْ ‫سِعيد ُ ب‬
ٍ ‫خ لَرا‬
ّ ‫ن ُرَزي ْق ال‬
َ ‫ى َقا‬
ُ
‫ة‬
ٌ َ ‫حب‬
ِ ِ ‫طائ‬
ْ ‫صل‬
ُ ‫ت إ َِلى َر‬
َ ‫ل‬
ُ ْ ‫شعَي‬
ْ َ ‫جل‬
ُ َ‫ل ل‬
ُ ‫س‬
ُ ‫ه‬
ٍ ‫ج‬
ُ ْ‫ب ب‬
ّ ‫ف‬
ٍ
ُ ‫قا‬
‫ن‬
َ ُ ‫ ي‬-‫صلى الله عليه وسلم‬- ِ‫ل الل ّه‬
ِ
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ‫ن َر‬
ُ َ ‫حك‬
ُ َ‫ل ل‬
ُ ْ‫م ب‬
ِ ‫سو‬
ْ ‫م‬
َ
َ
ّ
َ
َ
ْ
ُ
َ ‫حلد ّث َُنا قَللا‬
َ ْ ‫ى فَأن‬
‫ه‬
ِ ‫ل اللل‬
ِ ‫ن الكل‬
َ ُ ‫شأ ي‬
َ
ُ ‫ت إ ِلللى َر‬
ُ ْ ‫ل وَفَلد‬
ِ ‫سللو‬
ٍ ‫حْز‬
ّ ‫ف‬
َ
‫خل َْنا‬
َ َ ‫سعَةٍ فَ لد‬
ِ ‫سب ْعَةٍ أوْ َتا‬
ْ ِ ‫سعَ ت‬
َ َ‫ساب ِع‬
َ -‫صلى الله عليه وسلم‬َ
َ ‫ل الل ّهِ ُزْرَنا‬
َ ‫سو‬
‫مَر ب َِنا‬
ُ َ‫ع َل َي ْهِ ف‬
َ ِ ‫ه ل ََنا ب‬
ُ ‫قل َْنا َيا َر‬
َ ‫خي ْرٍ فَأ‬
َ ّ ‫ك َفاد ْع ُ الل‬
َ
ْ
َ َ
َ ‫ذا‬
َ ْ ‫ن إ ِذ‬
ّ ‫مرِ َوال‬
َ ِ ‫مَر ل ََنا ب‬
‫مَنا ب ِهَللا‬
ِ ‫ىٍء‬
ٌ ‫دو‬
ُ ‫ك‬
ُ ‫شأ‬
ْ َ‫ن فَأق‬
ْ ّ ‫ن الت‬
َ ‫أوْ أ‬
َ ‫م‬
ْ ‫ش‬
86

‫َ‬
‫ما َ‬
‫ل الل ّهِ ‪-‬صلللى الللله عليلله‬
‫معَ َ‬
‫شهِد َْنا ِفيَها ال ْ ُ‬
‫معَ َر ُ‬
‫ة َ‬
‫ج ُ‬
‫أّيا ً‬
‫سو ِ‬
‫َ‬
‫ه وَأ َث َْنللى‬
‫وسلم‪ -‬فَ َ‬
‫ح ِ‬
‫س فَ َ‬
‫قا َ‬
‫مد َ الل ّل َ‬
‫م ُ‬
‫مت َوَك ًّئا ع ََلى ع َ ً‬
‫صا أوْ قَوْ‬
‫ٍ‬
‫َ‬
‫م قَللا َ‬
‫ل » أي ّهَللا‬
‫في َ‬
‫ت َ‬
‫مَباَرك َللا ٍ‬
‫ت ط َي ّب َللا ٍ‬
‫فللا ٍ‬
‫خ ِ‬
‫مللا ٍ‬
‫ت ث ُل ّ‬
‫ت ُ‬
‫ع َل َي ْلهِ ك َل ِ َ‬
‫ُ‬
‫َ‬
‫فعَُلوا ك ُ ّ‬
‫ن‬
‫ن تَ ْ‬
‫طي ُ‬
‫ما أ ِ‬
‫ن تُ ِ‬
‫مْرت ُ ْ‬
‫ل َ‬
‫س إ ِن ّك ُ ْ‬
‫الّنا ُ‬
‫م ب ِهِ وَل َك ِ ْ‬
‫قوا أوْ ل َ ْ‬
‫م لَ ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫داوُد َ قَللا َ‬
‫شلُروا «‪ .‬قَللا َ‬
‫ل‬
‫سل ِ‬
‫دوا وَأب ْ ِ‬
‫ت أب َللا َ‬
‫سد ّ ُ‬
‫ى َ‬
‫َ‬
‫معْ ُ‬
‫ل أب َُللو ع َل ِل ّ‬
‫َ‬
‫ث َب ّت َِنى ِفى َ‬
‫ن‬
‫ن ان ْ َ‬
‫قط لعَ ِ‬
‫ىٍء ِ‬
‫حاب َِنا وَقَ لد ْ ك َللا َ‬
‫صل َ‬
‫من ْ ُ‬
‫ضأ ْ‬
‫ه ب َعْ ُ‬
‫مل َ‬
‫ش ْ‬
‫ال ْ ِ َ‬
‫س‪.‬‬
‫قْرطا ِ‬
‫;‪Dari hadits ini, Shan’ani mengatakan‬‬

‫ث د َل ِي ْ ٌ‬
‫مللاد ُ ع َل َللى‬
‫ب ل ِل ْ َ‬
‫حد ِي ْ ِ‬
‫ه ي ُن ْد َ ُ‬
‫وَِفى ال ْ َ‬
‫ب ا ْل ِع ْت ِ َ‬
‫ل ع ََلى ا َن ّ ُ‬
‫خط ِي ْ ِ‬
‫خط ْب َت ِهِ )سبل السلم‪,‬ج ‪ 2‬ص ‪(59‬‬
‫ت ُ‬
‫ف ا َوْن َ ْ‬
‫سي ْ ٍ‬
‫َ‬
‫حوِهِ وَقْ َ‬
‫‪Hadits tersebut menjelaskan tentang kesunnahan khatib‬‬
‫‪memegang pedang atau semisal (tongkat) pada waktu‬‬
‫)‪menyampaikan khutbahnya. (Subul al-Salam, Juz II, hal. 59‬‬

‫‪Jumhur ulama’ mengatakan bahwa sunnah hukumnya bagi‬‬
‫‪khotib untuk memegang tongkat pada saat membaca khutbah.‬‬
‫‪Hal di jelaskan oleh Imam Syafi’i di dalam kitab al-Umm juz I.‬‬
‫‪Hal.272.‬‬

‫سو ْ َ‬
‫قَا َ‬
‫ل ال ّ‬
‫ه‬
‫ي َر ِ‬
‫ه وَب َل َغَْنا ا َ ّ‬
‫ن َر ُ‬
‫صّلى الل ُ‬
‫م الل ُ‬
‫مك ُ ُ‬
‫ح َ‬
‫ل اللهِ َ‬
‫شافِعِ ّ‬
‫صللا وَقَ لد ْ قِي ْل َ‬
‫ن اِ َ‬
‫ل‬
‫ذا َ‬
‫خط َل َ‬
‫م ك َللا َ‬
‫ع َل َي ْهِ وَ َ‬
‫ب ا ِع ْت َ َ‬
‫سل ّ َ‬
‫م لد َ ع َل َللى ع َ ً‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ل ذ َل ِل َ‬
‫س وَك ُل ّ‬
‫َ‬
‫مللاد ٌ‬
‫م ً‬
‫خط َ َ‬
‫ك ا ِع ْت ِ َ‬
‫مت َعَ ّ‬
‫ب ُ‬
‫دا ع َلى ع ََنلَزةٍ وَع َلى قَوْ ٍ‬
‫ي َقا َ‬
‫خب َْرَنا الّرب ِي ْعُ َقا َ‬
‫خب َْرَنا ال ّ‬
‫ن‬
‫م َ‬
‫ل اَ ْ‬
‫ل اَ ْ‬
‫اَ ْ‬
‫خب َْرَنا ا ِب َْراه ِي ْ ُ‬
‫علل ْ‬
‫شافِعِ ّ‬
‫ن عَ َ‬
‫سو ْ َ‬
‫ن‬
‫ل َي ْ ٍ‬
‫طاٍء ا َ ّ‬
‫ه ع َل َي ْهِ وَ َ‬
‫ن َر ُ‬
‫س لل ّ َ‬
‫صّلى الل ُ‬
‫ل اللهِ َ‬
‫م ك ِللا ِ‬
‫ث عَ ْ‬
‫اَ َ‬
‫دا )الم ج ‪ 1‬ص ‪(272‬‬
‫ذا َ‬
‫ب ي َعْت َ ِ‬
‫ما ً‬
‫خط َ َ‬
‫مد ُ ع ََلى ع ََنلَزت ِهِ ا ِع ْت ِ َ‬
‫‪(Imam Syafi’i ra berkata) mudah-mudahan Allah Swt.‬‬
‫‪memberikan rahmat kepada beliau, dan telah sampai kepada‬‬
‫‪kami (berita) bahwa ketika Rasulullah Saw. berkhutbah, beliau‬‬

‫‪87‬‬

berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau
berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah.
Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan).
Al-Rabi’ mengabarkan dari imam Syafi’i dari Ibrahim, dari Laits
dari ‘Atha’, bahwa Rasulullah Saw. jika berkhutbah beliau
memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan tumpuan. (AlUmm, juz I, hal.272)
Dari penjelasan tersebut sudah jelas bahwa khutbah sambil
memegang tongkat mempunyai dasar yang kuat, namun
masihkah hal ini diklaim sebagai perbuatan bid’ah?

Hikmah
Khutbah

Memegang

Tongkat

Waktu

Menyampaikan

ً ِ ‫ك َراب‬
َ ِ ‫ى ٰذل‬
‫ث‬
َ ْ ‫طا ل ِل‬
َ ِ‫ب وَل ِب ُعْد ِ ي َد َي ْه‬
ُ ‫م‬
ِ ْ ‫َاول‬
ِ ‫ن ال ْعَْبلل‬
ّ ِ‫ة ا‬
َ ْ ‫حك‬
ِ ْ ‫قل‬
ِ ‫علل‬
ْ ِ‫ن ف‬
(59 ‫ ص‬2 ‫)سبل السلم ج‬
Hikmah dianjurkannya memegang tongkat itu untuk
mengikat hati (agar lebih konsentrasi) dan agar tidak
mempermainkan tangannya. (Subul al-Salam, juz II, hal.59)
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa dalam
pelaksanaan penyampaian khutbah jum’at, bagi seorang khatib
disunnahkan membawa tongkat seperti yang pernah dilakukan
oleh Nabi Muhammad Saw. Dan dimaksudkan agar khatib lebih
khusyu’ dan konsentrasi pada khutbah yang disampaikannya.
Mengulang Bacaan Alhamdulillah dalam Khutbah
Sering kita mendengar saat khatib membaca alhamdulillah
diulang dua kali dalam khutbahnya, hal ini biasanya terdapat di
kalangan masjid-masjid NU. Bagaimanakah pendapat tentang
pengulangan bacaan tersebut?
Salah satu rukun khutbah adalah membaca hamdalah.
Adapun mengulang bacaan alhamdulillah itu dianggap sah karena
sama dengan mengulangi di antara rukun khutbah yang
88

hukumnya tidak dilarang. Dari keterangan asy-Syarqawi bab
Jum’at.

َ ‫ن‬
َ َ ‫َكو‬
‫ضا‬
َ َ ‫كما َ ي‬
ً ْ ‫ن ا َي‬
َ ‫قعُ ا ْ ٰل‬
ُ َ ‫ذا ل َي‬
ِ َ ‫ض ا ْل َْركا‬
ِ ْ‫ضّر ت َك ْرِي ُْر ب َع‬
( 267 ‫ ص‬1 ‫)الشرقاوى ج‬

Demikian pula boleh mengulang-ulang sebagian rukunrukunnya sebagaimana yang terjadi sekarang ini. (al-Syarqawi
bab jum’at juz 1 halaman 267)
Menterjemahkan Khutbah dengan Bahasa Indonesia
Khutbah merupakan rukun shalat jum’at yang dilakukan
dengan tujuan untuk mengajak kepada para jama’ah untuk selalu
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.
sehingga perlu adanya pemahaman pada para jama’ah tentang isi
yang akan disampaikan. Bagaimanakah menerjemahkan khutbah
dengan bahasa Indonesia selain rukun khutbah tersebut?
Dalam hal ini terjadi perbedaan pandangan
a. Sebagian ulama’ memandang khutbah jum’at yang
disampaikan dengan bahasa Indonesia (selain bahasa
Arab) dianggap tidak mencukupi keabsahannya karena
dinilai sebagai laghwun bahkan dianggap memutus
rukun-rukun khutbah.
b. Ulama’
Syafi’iyah
sepakat
bahwa
diperbolehkan
menerjemahkan selain rukun khutbah, asal tetap pada
prinsip mengajak kepada kebaikan dan tidak keluar dari
tujuan khutbah sebagaimana diterangkan dalam alBujairimi, juz I, hal.389.

َ ‫لَو كا َن ما بي‬
َ َ ‫ضْر قا‬
‫لم‬
ُ َ‫م ي‬
ْ َ ‫ما ب ِغَي ْرِ ال ْعََرب ِي ّةِ ل‬
َ ِ‫ن أْركا َن ِه‬
َ َْ َ َ
ْ
ُ ‫ص‬
ْ ِ ‫م ي ُط‬
َ ِ ‫ه ما َ إ‬
‫ضّر‬
َ ‫ل ال‬
َ ّ ‫ل ب ِغَي ْرِ ال ْعََرب ِي َةِ وَإ ِل‬
َ ‫م‬
ْ َ ‫ذا ل‬
ُ ُ ‫حل‬
َ ‫ر‬
ْ ‫ف‬
َ
َ ِ‫وال َة‬
َ ‫ذا ط َللا‬
َ ِ‫ن إ‬
‫ل‬
ْ ِ ‫ِل‬
ِ ْ‫سلك ُو‬
ّ ‫كال‬
ُ ْ ‫خل َل ِهِ ِبلال‬
ِ َ ‫ن ا ْلْركلا‬
َ ‫ت ب َي ْل‬
َ ‫م‬
89

َ
‫ي‬
ِ ‫جا‬
ّ َ ‫ب ِل‬
ُ ‫س‬
ْ ُ ‫ي ل َغْوٌ ل َ ي‬
ّ ‫مٍع أ‬
َ ِ‫ب‬
َ ‫ح‬
ّ ِ ‫ن غ َي َْر ال ْعََرب‬
ّ ِ ‫ن غ َي َْر ال ْعََرب‬
‫ي فَهُلوَ ل َغْلوٌ سللم‬
ُ ْ ‫ملعَ ال‬
ْ ُ‫ل َ ي‬
َ ‫زىُء‬
ّ ‫قلد َْرةِ ع َل َللى ال ْعََرِبل‬
ِ ‫ج‬
‫ن‬
ْ ُ ‫قللا وَي‬
ً َ ‫مط ْل‬
ِ ْ ‫َوال‬
ّ ‫م ال‬
ُ َ ‫س ع َ لد‬
ُ ‫ف لَرقُ ب َي ْن َل‬
ُ ِ‫ض لَرر‬
ُ َ ‫قي لا‬
َ ‫ه وَب َي ْل‬
َ
ُ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ضلا‬
ِ‫خط َْبلة‬
ِ ْ‫سلك ُو‬
ِ ْ‫سك ُو‬
ً ‫ت إ ِع َْرا‬
ّ ‫ت ِبلأ‬
ّ ‫ن ِفلي ال‬
ّ ‫ال‬
ِ ‫عل‬
‫ن فِي ْلهِ وَع ْظ ًللا فِللي‬
ِ ِ ‫ِبال ْك ُل ّي َلةِ ب‬
ّ ِ ‫ي ف َ لإ‬
ِ َ ‫خل‬
ّ ‫ف غ َي ْلرِ ال ْعََرب ِل‬
َ ِ ‫ج ب ِذ َل‬
‫خط َْبللةِ ع ش‬
ُ ْ ‫ن ال‬
ْ َ ‫مل َةِ فَل َ ي‬
ِ ِ‫ن ك َوْن ِه‬
ُ ‫خُر‬
ُ ْ ‫ال‬
ْ ‫ج‬
َ ‫م‬
ْ َ‫ك ع‬
(389 ‫ ص‬1 ‫) حاشية البجرمي ج‬
Yakni
seandainya
antara
rukun-rukun
khutbah
memggunakan selain bahasa Arab boleh saja, (Imam
Ramli berpendapat) selama pemisahan dengan selain
bahasa Arab itu tidak panjang. Jika pemisahan tersebut
panjang maka tidak boleh karena dapat merusak
ketersambungan khutbah sama seperti diam dalam
waktu
yang
lama
di
antara
rukun-rukunnya.
Sesungguhnya khutbah selain bahasa Arab itu dianggap
gurauan yang tidak punya nilai, karena khutbah dengan
selain bahasa Arab tidak mencukupi selama ia (khotib)
mampu berbahasa Arab. Menurut hukum qiyas
penggunaan selain bahasa arab itu diperkenankan secara
mutlak, dan perbedaan khutbah selain bahasa arab
dengan diam adalah sesungguhnya dalam diam itu
menunjukkan berpaling dari khutbah secara keseluruhan,
sedangkan khutbah selain bahasa arab mengandung
nasehat maka tidak keluar dari pengertiannya sebagai
khutbah. (Al-Bujairimi, juz I, hal.389)

90

BAB IX
DZIKIR DAN DO’A
Dzikir
Dzikir artinya mengingat atau menyebut. Dzikir kepada Allah
berarti: mengingat atau menyebut nama Allah Swt.
Dzikir kepada Allah secara berjamaah sudah menjadi
kebiasaan umat Islam khususnya di Indonesia, kalimat-kalimat
dzikir banyak sekali, diantaranya membaca lafadz Allah. Dzikir
hukumnya sunnah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an;

َ
ُ ّ ‫سلب‬
َ َ‫( و‬41) ‫ه ذ ِك ْلًرا ك َث ِي ْلًرا‬
ُ‫حوْه‬
َ ‫مُنوا اذ ْك ُُروا الل ّل‬
َ ‫نآ‬
َ ْ ‫َيا أي َّها ال ّذ ِي‬
َ
(42) ً ‫صي ْل‬
ِ ‫ب ُك َْرة ً وَأ‬

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama)
Allah Swt., zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya diwaktu pagi dan petang. (al-Ahzab:41-42)

َ
ْ َ ‫ي‬
‫ق‬
ُ ْ ‫ب ال‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫س لت‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫ست‬
ْ ُ ‫ب الذ ّك ُْر ي‬
ْ ُ ‫ما ي‬
َ َ‫ه ك‬
ُ ّ ‫أن‬
ُ ْ‫جل ُلو‬
ْ ‫س فِ ل‬
ِ ‫حل ل‬
َ َ ‫وَقَد ْ ت‬
َ ِ ‫ة ع ََلى ٰذل‬
‫ )الذكار النللووى ص‬، ‫ك‬
ُ ّ ‫ت ا َْل َد ِل‬
ْ ‫ظاهََر‬

‫م‬
ْ َ ‫اِع ْل‬
، ِ‫أ َهْل ِه‬
(8

Ketahuilah sebagaimana disunnahkan dzikir, begitu juga
disunnahkan duduk dalam lingkaran orang-orang yang berdzikir,
karena banyak dalil-dalil yang menyatakan hal itu. (al-Adzkar alNawawi, hal. 08)
Bagi warga Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah bahwa membaca
dzikir dan do’a adalah suatu ibadah yang sangat tinggi pahalanya
di hadapan Allah Swt. Oleh sebab itu, ciri khas ummat Islam
Indonesia yang menganut faham Ahluu Sunnah Wal Jama’ah
sangat rajin berdzikir dan berdo’a pada setiap setelah shalat atau
pada waktu-waktu tertentu bahkan disetiap hembusan nafasnya
selalu berdzikir kepada Allah dalam hatinya, selalu mengingat
Allah dalam setiap aktifitasnya yaitu: ketika duduk, berdiri,

91

berjalan, makan, minum, bekerja dan apapun yang dikerjakan
oleh anggota dhahirnya, tetapi hatinya tidak pernah luput dari
mengingat Allah.
Dzikir Fida’
Dzikri Fida’ merupakan dzikir penebusan, yaitu menebus
kemerdekaan diri sendiri atau orang lain dari siksaan Allah Swt.
dengan membaca: Laa Ilaha Illallah. sebanyak 71.000 (tujuh
puluh satu ribu).
Dengan demikian, dzikir fida’ adalah upaya untuk
memohonkan ampunan kepada Allah Swt. atas dosa-dosa orang
yang sudah meninggal. Diterangkan dalam hadits dari Siti Aisyah:

ُ ْ ‫س لو‬
َ َ ‫ت ق لا‬
َ ِ ‫عائ‬
‫ص لّلى‬
َ ‫ن‬
َ ‫ش‬
ِ ‫ة َر‬
ُ ‫ل َر‬
ْ َ ‫ه ع َن َْها َقال‬
ُ ‫ى الل‬
َ ِ‫ل الل له‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫ض‬
ّ ِ‫ه ا‬
َ َ ‫ن ق لا‬
‫فللا‬
ً ْ ‫ن ا َل‬
َ َ‫ه ا‬
َ َ ‫ح لد َ و‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫لاللل‬
َ ‫ل ل َِإلل‬
َ ‫م‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫الل‬
َ ْ ‫سلب ْعِي‬
ْ ‫م‬
ّ ‫جل‬
َ ‫ل وَك َل‬
ْ ِ‫ا‬
‫ )خزينللة‬.‫ه‬
ِ ِ‫ه ل ِغَي ْلر‬
ِ ِ‫شت ََرى ب ِه‬
َ َ‫ن الللهِ ع َلّز و‬
ُ ‫ذا فَعَل َل‬
َ ‫م‬
(1884 ‫السرا‬
Diriwayatkan dari Aisyah ra. Ia berkata; Rasulullah bersabda:
barang siapa yang membaca laa ilaaha illah sebanyak tujuh puluh
satu ribu maka berarti ia menebus (siksaan) dengan bacaan
tersebut dari Allah ‘Azza Wajalla dan begitu juga hal ini bisa
dilakukan untuk orang lain. (Khazinah al-Asrar, hal.188)
Adapun dzikir fida’ ini yang selanjutnya disebut dzikir
‘ataqah, oleh para ulama’ dibagi dua macam yakni ‘ataqah sughra
yaitu membaca laa ilaaha illah sebanyak 70 ribu kali atau 71 ribu
kali dan ‘ataqah kubra yaitu membaca surat al-Ikhlas sebanyak
100 ribu kali. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Syarh alFutuhat al-Madaniyah.

َ
َ ْ ‫شي‬
ّ ‫ن ال‬
َ ‫ن‬
ِ َ ‫مال‬
َ َ ‫ي كا‬
ّ َ ‫َوُروِىَ ا‬
َ ‫ى‬
َ ْ ‫خ َابا َ الّرب ِي ِْع ا َل‬
ّ ‫ق‬
ٍ ‫مائ ِد َةِ طَعللام‬
َ ‫عل‬
‫م‬
َ ‫ن ا َل ْل‬
َ َ ‫ملّرةٍ َوك لا‬
َ َ ‫َوكا‬
َ ‫ه‬
ْ ‫معَهُل‬
َ ‫ن‬
َ ‫ف‬
ُ ‫ه ا ِل ّ الل‬
َ ‫ن قَد ْ ذ َك ََر ل َِال‬
َ ْ ‫سب ْعِي‬
ْ َ ‫ل ال ْك‬
َ ِ‫مائ ِد َة‬
‫ى‬
َ
ِ َ‫ف ف‬
ِ ‫ب‬
ِ ‫شل‬
ٌ ‫شا‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ى ال‬
َ ‫حي ْل‬
ِ ْ‫ن ا َه‬
ْ ‫م‬
َ ‫م لد ّ ي َلد َه ُ ِال ل‬
َ ‫عل‬
92

ّ ‫ال‬
َ َ ‫طعا َم ِ ب‬
َ ‫قللا‬
‫م‬
َ َ‫ن الط ّعَللام ِ ف‬
ِ ‫حا‬
ِ َ‫مت َن َع‬
َ ْ‫ضلُرو‬
َ ْ ‫ه ال‬
َ ‫ن ل ِل‬
ُ ‫ل ل َل‬
ْ ‫كى َوا‬
َ ‫م‬
َ ‫ قَللا‬.‫ى فِي ْهَللا‬
َ َ ‫كى؟ َفقا‬
ُ ْ ‫شلي‬
ّ ‫ل ال‬
‫و‬
ِ ْ ‫ت َب‬
َ ‫ل ا ََرى‬
ّ ُ ‫م وَا ََرى ا‬
َ ّ ‫جهَن‬
ْ ‫خ ا َب ُل‬
ْ ‫مل‬
َ ُ ‫ك ت َعْل َل‬
َ ‫م ا ِن ّل‬
‫ت‬
ْ َ‫ى ن‬
ُ َ‫ ف‬:‫الّرب ِي ِْع‬
ِ ‫ف‬
ُ ‫ى قَ لد ْ هَل ّل ْل‬
ّ ُ‫ى َالل ّه‬
ُ ْ ‫قل‬
ْ ‫م ان ّل‬
ْ ‫س‬
ْ ِ‫ت ف‬
َ ‫قا‬
ّ ‫ذا ال‬
َ َ‫م ه‬
‫ل‬
َ َ‫ن الّنارِ ف‬
ِ ‫جعَل ْت َُها‬
ِ ‫ب‬
ّ ‫شا‬
َ ْ ‫ن ا َْلفا ً وَقَد‬
ّ ُ ‫عت ْقَ ا‬
َ
َ ‫م‬
َ ْ ‫سب ْعِي‬
ُ
َ
ّ ‫ال‬
‫ى‬
َ ْ ‫ى قَد‬
ِ ‫ت‬
َ ‫خَر‬
َ ْ ‫ب ا َل‬
ّ ‫شا‬
َ َ‫ن الّنارِ و‬
ْ ‫ج‬
ّ ‫مد ُ ل ِل ّهِ أَرى أ‬
ْ ‫ح‬
ْ ِ‫مللا ا َد ْر‬
َ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ َ ‫ج وَا َك‬
َ َ‫جع‬
َ ‫ وَهَ ل‬.‫ة‬
‫ذا‬
ُ ‫ب‬
ِ َ ‫ماع‬
َ ْ ‫معَ ال‬
ُ ِ‫ل هُوَ ي َب ْت َه‬
َ َ‫جَها و‬
ُ َ ‫سب‬
َ َ ‫ما‬
َ ‫ج‬
َ ‫ل‬
ِ ْ‫خُرو‬
ُ ْ ‫الت ّهْل ِي‬
َ ‫ل ِبه‬
َ ‫مى‬
َ‫س لوَْرة‬
َ ‫عتا َقَ ل‬
ّ َ ‫مللا ا‬
ُ ‫ن‬
َ ُ ‫ذا ال ْعَد َد ِ ي‬
َ َ ‫ص لغَْرى ك‬
ّ ‫س‬
ّ ‫ة ال‬
‫ة‬
َ َ ‫عات‬
َ ‫مى‬
َ ‫قل‬
َ َ ‫مللائ‬
ِ ‫ت‬
ِ ‫ة ا َل ْل‬
َ ُ ‫ملّرةٍ ت‬
ّ ‫سل‬
َ ‫ف‬
ْ َ‫ت وَب َل َغ‬
ْ َ ‫مد ِي ّةِ ِإذا َ قُرِئ‬
ّ ‫ص‬
ّ ‫ال‬
ُ ‫ش لت ََر‬
ْ ُ ‫وال َة َ ل َت‬
‫ اهل ل‬.‫ط‬
ِ ‫ي‬
ّ ِ ‫ن ع َد ِي ْلد َةٍ فَلا‬
ُ ْ ‫ن ال‬
َ ‫مل‬
َ ْ ‫سن ِي‬
ْ ِ‫ك ُب َْرى وَل َوْ ف‬
(24 ‫)شرح الفتوحات المدنية بهامش نصائح العباد ص‬
Diriwayatkan bahwa syekh Abu al-Robi’ al-Malaqi, berada di
jamuan makanan dan beliau telah berdzikir dengan mengucapkan
Laa Ilaha Ilallah 70 ribu kali. Di jamuan tersebut terdapat seorang
pemuda ahli kasyaf. Ketika pemuda itu akan mengambil makanan
tiba-tiba ia mengurungkan mengambil makanan itu, lalu ia
ditanya oleh para hadirin mengapa kamu menangis? ia
menjawab, saya melihat neraka jahanam dan melihat ibu saya di
dalamnya. Kata syekh Abu al-Rafi’, saya berkata di dalam hati,
“Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa saya telah
berdzikir
Laa
Ilaha
Ilallah
70
ribu
kali
dan
saya
mempergunakannya untuk membebaskan ibu pemuda ini dari
neraka”. Setelah itu pemuda tersebut berkata, “Alhamdulillah,
sekarang saya melihat ibu saya telah keluar dari neraka, namun
saya tidak tahu apa sebabnya”. Pemuda itu merasa senang dan
kemudian makan bersama dengan para hadirin. Dzikir Laa Ilaha
Ilallah 70 ribu kali dinamakan ataqoh sughroh (pembebasan kecil
dari neraka), sedangkan surat al-Ikhlas jika dibaca 100 ribu kali
dinamakan ataqoh kubro (pembebasan besar dari neraka)

93

walaupun waktu membacanya beberapa tahun, karena tidak
disyaratkan berturut-turut. (Syarah al-Futukhat al-Madaniyah
Bihamisyi Nasha’ih al-Ibad, hal.22)
Tahlil
ً ‫هل ِي ْل‬
ُ ّ ‫هل‬
َ ّ ‫هل‬
Tahlil berasal dari kata
َ yang berarti
ْ َ‫ل – ت‬
َ ُ‫ ي‬- ‫ل‬
membaca kalimat
‫ لاللله ال الللله‬. Sedangkan tahlil menurut
pengertian yang berkembang di masyarakat adalah membaca
kalimat thayyibah (shalawat, tahlil, istighfar, fatihah, surat ikhlas,
mu’awwidzatain, dan lain-lain) yang pahalanya ditujukan kepada
arwah keluarga yang bersangkutan.

‫وان ِن َللا‬
ُ َ‫م ي‬
ْ ِ ‫ن َرب ّن َللا اغ ْفِلْر ل َن َللا وَِل‬
ِ ْ‫جاُءو‬
ِ ّ ‫َوال‬
َ ْ‫قوْل ُلو‬
َ ‫ن‬
ْ ِ ‫ن ب َعْلد ِه‬
َ ‫خ‬
ْ ‫م‬
َ ْ‫ذي‬
ْ َ‫جع‬
‫وا‬
ُ َ ‫سب‬
ْ َ ‫ن وَل َ ت‬
َ ‫ن‬
َ ‫نآ‬
َ ْ ‫قوَْنا ب ِا ْل ِي‬
ْ ُ ‫من‬
َ ْ ‫ي قُل ُوْب َِنا ِغل ّ ل ّل ّذ ِي‬
ْ ِ‫ل ف‬
ِ ‫ما‬
َ ْ ‫ال ّذ ِي‬
َ ّ ‫َرب َّنا إ ِن‬
(10) ‫م‬
ِ ‫ف ّر‬
ٌ ْ‫ك َرؤ ُو‬
ٌ ْ ‫حي‬
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Anshor), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami,
dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguh
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". QS. Al-Hasyr ayat
10

َ ‫م َقا‬
‫ن‬
َ ْ ‫في‬
َ ‫ن‬
ِ ‫خ‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ِ ‫ل ) ك َل‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ‫ي‬
ِ َ ‫فت لا‬
ِ َ ‫مت لا‬
ّ ‫ن الّنـب‬
ِ َ‫ع‬
‫ن‬
َ
ِ ْ ‫ن فِللي ال‬
ِ َ‫ن ث‬
ْ ‫ى الّر‬
َ ‫ن‬
َ ّ ‫ى الل‬
ِ َ ‫حب ِي َْبت لا‬
ِ ‫مي ْلَزا‬
ِ َ ‫قي َْلتا‬
ِ ‫سا‬
ِ ‫ح ٰم ل‬
َ ‫ن ِإل ل‬
َ ‫عل‬
ْ
‫ رواه البخللارى‬. (‫م‬
َ َ ‫سْبحا‬
َ ِ ‫ن اللهِ وَب‬
َ َ ‫سْبحا‬
ُ ِ‫مد ِه‬
ُ
ْ ‫ح‬
ِ ْ ‫ن اللهِ العَظ ِي‬
(‫)احاديث مخترة من الصحيحين‬
Rasul bersabda: dua kalimat yang ringan bagi lisan dan berat
(timbangan kebijakannya) di Mizan (timbangan amal akhirat), dan
dicintai oleh Dzat yang mempunyai belas kasih adalah kalimat
Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil adzim. HR. Bukhari
dalam kitab Akhadits Muhtar Min Al-Shahihain

94

َّ
ْ
َ
ّ
َ
ُ ْ ‫سو‬
َ َ‫قا‬
‫ي‬
‫م‬
‫ل‬
‫ا‬
‫ا‬
‫م‬
‫م‬
‫ل‬
‫س‬
‫و‬
‫ه‬
‫ي‬
‫ل‬
‫ع‬
‫ه‬
‫الل‬
‫لى‬
‫ص‬
َ
ِ‫ت ِفى قَب ْرِه‬
ِ
ّ
ْ
َ
ُ ‫ل َر‬
ُ َ
َ
ُ
َ ِ‫ل الله‬
َ
َ
َ
َ
َْ
‫ه‬
ُ ‫ح‬
ِ ‫ن أب ِْيللهِ أوْ أ‬
ِ ‫خْيلل‬
ِ ‫ه‬
ِ ّ‫مت َغَو‬
َ ْ ‫ث ي َن ْت َظ ُِر د َع ْوَة ً ت َل‬
ُ ‫ق‬
َ ْ ‫ق ال‬
ْ ‫م‬
ِ ْ ‫إ ِل ّ كالغَرِي‬
َ َ ‫قته كا‬
َ
َ ِ ‫ه فَإ‬
‫مللا فِي ْهَللا‬
ِ َ ‫ذا ل‬
ِ ِ‫ب إ ِل َي ْه‬
ّ ‫ح‬
َ ‫نأ‬
َ
َ َ‫ن الد ّْنيا َ و‬
ُ ْ َ ‫ح‬
ُ َ‫ق ل‬
َ ْ‫أو‬
َ ‫م‬
ِ ْ ‫صد ِي‬
َ
‫ست ِْغفا َُر‬
ِ ‫وا‬
ّ ‫ت َال‬
ْ َ ‫دايا َ ا ْل‬
َ َ‫ن ه‬
ّ ِ ‫وَإ‬
ْ ِ ‫دعا َُء وَا ْل‬
ْ ‫حيا َِء ل ِْل‬
َ ‫م‬

Rasulullah Saw. Bersabda: tiada seorang pun dari mayit dalam
kuburnya kecuali dalam keadaan seperti orang tenggelam yang
banyak meminta tolong, dia menanti doa dari ayah dan saudara
atau seorang teman yang ditemuinya, apabila ia telah
menemukan doa tersebut, maka doa itu menjadi sesuatu yang
lebih dicintai dari pada dunia dan seisinya, dan apabila orang
yang masih hidup ingin memberikan hadiah kepada orang yang
sudah meninggal dunia adalah dengan doa dan istighfar’. (Ihya’
Ulum al-Din, Juz IV, hal.476)
Dengan demikian tahlil yang berisi doa, istighfar, bacaan alQur’an, tasbih, bacaan Laa Ilaha Ilallah dan kalimat thoyyibah
lainnya merupakan hadiah dari orang yang masih hidup kepada
orang yang telah mati.
Kesimpulannya, selamatan dan tahlil atau melakukan do’a
bersama memohon keselamatan, baik bagi yang masih hidup
maupun yang sudah meninggal adalah memiliki dasar dan tidak
bertentangan dengan syariat agama.
Do’a
Berdo’a atau memohon kepada Allah Swt. merupakan inti
ibadah bagi umat Islam dengan tidak memandang derajat dan
pangkat. Semuanya diperintahkan supaya memperbanyak
berdo’a
kepada
Allah,
memohon
ampunan,
memohon
keselamatan dunia akhirat, kesehatan jasmani dan rohani, dll.

95

Orang yang berdo’a seolah-olah munajat (berbicara),
berbisik dengan Allah SWT., dengan memakai bahasa yang sopan,
yang merendah. Orang yang tidak mau berdo’a adalah orangorang yang sombong, yang menganggap dirinya lebih tinggi, lebih
pandai, lebih mampu, bahkan lebih kaya dari Allah Swt.
Kedudukan do’a adalah sangat tinggi dalam ibadah. Karena itu
berdo’a dengan khusyu’ dan tawadhu’ sangat dianjurkan oleh
agama.

َ ِ ‫ل ربك ُم ادع ُون‬
‫ن‬
َ ْ‫ست َك ْب ُِرو‬
ّ ِ‫م إ‬
ْ ‫ج‬
ْ َ‫ن ي‬
ْ ‫يأ‬
ْ ُ ‫ب ل َك‬
ِ َ ‫ست‬
ْ ‫ن عَ ل‬
َ ْ ‫ن ال ّذ ِي‬
ْ ْ ْ ُ ّ َ َ ‫وََقا‬
(60) ‫ن‬
ُ ْ ‫سي َد‬
ِ ‫دا‬
ِ
َ ‫م‬
َ ‫ن‬
َ ْ‫خل ُو‬
َ ‫ي‬
َ ّ ‫جهَن‬
َ ْ ‫خرِي‬
ْ ِ ‫عَباد َت‬
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk
neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". (QS. al-Mu’min: 60)
[1326] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah
berdoa kepada-Ku.

(55) ‫ن‬
ْ ‫خ‬
ُ َ‫عا و‬
ً ‫ضّر‬
ُ ْ ‫اُد‬
ِ ُ‫ه ل َ ي‬
ً َ ‫في‬
ّ ‫ح‬
َ َ‫م ت‬
ُ ْ ‫ب ال‬
ُ ّ ‫ة إ ِن‬
ْ ُ ‫عوا ْ َرب ّك‬
َ ْ ‫معْت َد ِي‬

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang
lembut. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyukai orang-orang
yang melampaui batas[549]. (QS. al-A’rof: 55)
[549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan
cara meminta.

َ ‫م ِاذا‬
ُ ْ ‫سو‬
َ َ ‫مَر قا‬
َ
َ َ ‫ل كا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ُ ‫ن َر‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل ل‬
َ ُ‫ن ع‬
َ ِ‫ل الله‬
ْ ‫ع‬
.‫ه‬
َ ّ ‫مد ّ ي َد َي ْهِ ِفى الد‬
ْ َ‫ما و‬
َ ‫س‬
َ ‫ما‬
َ ‫م‬
ُ َ ‫جه‬
َ ِ‫ح ب ِه‬
ْ َ ‫حّتى ي‬
َ ُ‫م ي َُرد ّه‬
ْ َ ‫عاِء ل‬
َ َ‫ا‬

Apabila Nabi mengangkat kedua tangannya dalam berdo’a, Nabi
tidak akan mengembalikan kedua tangannya sehingga
mengusapkan pada wajahnya. (Bulugh al-Maram, hal.347)

96

‫ن‬
ِ َ‫ن ب‬
ّ ِ‫م ا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سللل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ‫ى‬
ِ َ ‫ن الن ّْعما‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
ِ َ ‫شي ْرٍ ع‬
ِ ْ‫ن ب‬
ِ َ‫ع‬
.‫ة‬
َ ّ ‫الد‬
ُ َ ‫عاَء هُوَ ال ْعَِباد‬
Dari Nu’man bin Basyir dari Nabi Saw. Sesungguhnya do’a
merupakan ibadah. (Bulughul Maram, hal.347)
Do’a merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt.
Orang yang enggan berdo’a maka termasuk orang-orang yang
sombong. Berdo’a kepada Allah mempunyai kode etik atau tata
krama, salah satunya adalah dengan mengangkat kedua tangan
lalu mengusapkannya pada wajah ketika selesai seperti yang
telah disyari’atkan Nabi.
Do’a Bersama Umat Beragama
Berkumpul melakukan do’a bersama antar umat beragama,
seperti yang telah dipelopori oleh Kyai Sholeh Bahruddin, beliau
mengumpulkan tokoh-tokoh dari 6 agama yang berada di
Indonesia, baik dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan
Konghucu, mereka semua berkumpul di Ponpes Ngalah dan
berdo’a bersama. Bagaimanakah pandangan agama?
Dalam hal ini, terjadi beberapa pendapat di kalangan ulama’:
a. Tidak boleh, karena do’anya non muslim tidak diterima
serta dilarangnya tawasul dengan mereka. Diambil dari
keterangan Kitab Hasyiyah al-Jamal:

ْ ‫ل َيجوز َالتأ‬
‫ل‬
ْ ‫م‬
‫عل‬
‫ن‬
‫ي‬
‫م‬
َ
ِ
ّ ُْ ُ َ
ّ ‫ى ال‬
ْ
َ ‫ه غ َي ُْر‬
ُ ّ ‫دعا َِء اْلكا َفِرِ ل َن‬
ٍ ْ‫قُبللو‬
ُ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
ّ
‫ل‬
َ ِ‫ل‬
َ ‫ى‬
ٍ ‫ض لل‬
َ ْ ‫ق لوْل ِهِ ت َعَللالى َوم لا د ُع َللاءُ الك لافِرِي‬
ْ ‫ن ا ِل فِ ل‬
(119 ‫ ص‬2 ‫)حاشية الجمل ج‬

Dan tidak boleh mengamini do’a orang kafir karena
do’anya tidak diterima sesuai dengan firman Allah Swt.
dan do’a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanya sia-sia
belaka. (Hasyiyah al-Jamal, Juz II, hal. 119)

97

Dan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam alRauyani dalam kitab Mughni al-Muhtaj:

َ
َ ُ َ ‫ما َقال‬
‫ن‬
َ
َ ُ ‫ن ع ََلى د‬
ّ َ ‫ى ِل‬
ْ َ ‫جوُْز ا‬
ُ َ‫ل ي‬
َ َ‫م ك‬
ْ ِ‫عائ ِه‬
ّ َ ‫ن ي ّؤ‬
َ ‫م‬
ْ ِ ‫ه الّرْويان‬
‫ل )مغني المحتاج باب صلة‬
ْ ‫م‬
ُ
َ ‫دعا ََء اْلكا َفِرِ غ َي ُْر‬
ٍ ْ‫قب ُو‬
(438 ‫ ص‬1 ‫ ج‬, ‫الستسقاء‬
Tidak boleh mengamini do’a mereka (orang kafir)
sebagaimana pendapat yang dianut oleh Imam alRauyani, karena do’a mereka tidak akan diterima.
(Mughni al-Muhtaj, bab Shalat Istisqo’ juz I, hal.438)

َ
ّ ُ ‫ج ْالك‬
ْ ِ ‫وَي ُك َْره ُ إ‬
ِ‫م ا َع ْللدا َُء الل له‬
ُ ‫خَرا‬
ْ ِ ‫ست‬
ْ ِ ‫فارِ لْل‬
ْ ‫سقا َِء ِلن َهُ ل‬
َ ‫س‬
‫مّيلُزْوا‬
َ ‫ح‬
َ ‫ن‬
ْ ِ ‫م إ ِل َي ْهِ فَإ‬
ْ َ ‫جوُْز ا‬
ُ َ ‫فَل َ ي‬
ّ َ‫ن ي َت َو‬
َ َ ‫ضلُرْوا وَت‬
ْ ِ‫ل ب ِه‬
َ
‫ )المجموع‬.‫ق‬
َ ‫م‬
ْ ُ‫وا لن ّه‬
ْ ُ‫م ي‬
ْ َ‫ل‬
ِ َ ‫ي ط َل‬
ْ ِ‫جاُءْوا ف‬
ْ ُ‫من َع‬
ِ ‫ب الّرْز‬
(69 ‫ ص‬5 ‫ج‬
Dimakruhkan keluarnya orang-orang kafir untuk ikut
shalat istisqo’ (meminta hujan) mengingat mereka adalah
musuh-musuh Allah, maka tidak diperkenankan untuk
bertawassul dengan mereka. Jika mereka ikut hadir dan
keberadaan mereka berbeda dengan umat Islam, maka
mereka tidak perlu dilarang karena mereka datang untuk
mencari rizqi. (al-Majmu’, juz V, hal.69)
b. Makruh, jika perkumpulan tersebut berada di dalam
musholla/masjid apalagi berbaurnya tersebut dilandasi
hanya sekedar berkumpul tanpa ada tujuan yang positif.

ُ ْ‫ن ( أ َه‬
‫ر‬
ْ َ ‫) وَل َ ي‬
ِ ‫م‬
َ ْ‫خت َل ِط ُو‬
َ ‫ن‬
ْ ‫مةِ وَل َ غ َي ُْرهُل‬
ّ ّ ‫ل الذ‬
ْ ‫مل‬
ِ ِ ‫سللائ‬
َ ‫خرو‬
ْ
ّ ‫ص‬
ّ ُ ‫ال ْك‬
ِ َ ‫لنا َ وَل‬
ُ‫ج أيْ ي ُك ْلَره‬
ُ ‫ي‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫فارِ ) ِبنا َ ( ف‬
َِ ْ ُ ُ ‫عن ْد َ ا َل‬
َ ِ ‫ذل‬
ْ َ‫ك ب‬
َ ‫ن‬
ِ‫داُء الل له‬
َ ‫م أع ْل‬
َ ْ‫مي ُّزو‬
ْ ‫ن ِلن ّهُل‬
َ ‫ي‬
َ َ ‫ل ي َت‬
ٍ َ ‫مك لا‬
ْ ِ‫عنا ّ ف‬
َ ‫ص لي َْبنا‬
ّ ‫حل‬
َ ‫م ع َل‬
ْ ُ ‫ب ب ِك‬
ِ ُ ‫م فَي‬
ٌ ‫ذا‬
ُ َ ‫ت َعَللاَلى إ ِذ ْ قَلد ْ ي‬
ْ ‫فرِه ِل‬
ْ ‫ل ب ِهِل‬
(323 ‫ ص‬1 ‫ ج‬.‫)مغنى المحتاج‬
98

Orang kafir, baik dzimmi maupun orang kafir selain dzimi,
itu tidak diperbolehkan menjadi satu majlis peribadatan
kita, demikian halnya ketika kita keluar. Percampuran
tersebut makruh, dan mereka harus berbeda dengan kita
umat islam ketika berada dalam suatu tempat. Hal ini
karena mereka musuh-musuh Allah Swt. yang suatu saat
mereka akan ditimpa suatu adzab dengan kekufuran
mereka itu dan adzab tersebut akan mengenai kita pula.
(Mughni al-Muhtaj, juz I, hal.323)

َ
ُ ‫مي ْل‬
‫ل‬
ُ ‫حب ّل‬
َ ‫م‬
ْ َ‫ ) ت‬: ‫ه‬
ُ ‫حُر‬
َ ْ ‫ة َوال‬
َ ْ ‫ملوَد ّة ُ ال ْك َللافِرِ ( أيْ ال‬
َ ‫م‬
ُ ُ ‫قَوْل‬
َ
ّ ‫ة ال‬
.‫ة‬
َ ْ ‫ب ِلللال‬
َ ‫م‬
ٌ ‫مك ُْروهَللل‬
ُ ‫ظاه ِرِي ّللل‬
ُ ‫خال َط َللل‬
َ َ‫ة ف‬
ُ ْ ‫ملللا ال‬
ّ ‫ب وَأ‬
ِ ْ ‫قل‬
(291 ‫ ص‬4 ‫)البجيرمي على الخطيب ج‬
Haram mencintai orang kafir yakni adanya rasa suka dan
kecenderungan hati kepadanya. Sedangkan sekedar
bergaul secara lahir saja maka hukumnya makruh. (AlBujairami ‘ala al-Khatib, juz IV, hal.291)
c.

Boleh, mengamini atau memimpin do’a bersama non
muslim bahkan sunnah jika caranya tidak bertentangan
dengan syari’at Islam dan isi do’anya memohon hidayah,
pertolongan dan menjalin hubungan baik di dunia serta
bermanfaat demi kemaslahatan umat atau untuk
mencegah timbulnya sesuatu madharat yang tidak
diinginkan.

ْ ‫واْلللوجه ج لواز الت لأ‬
ْ ‫ن ب َل‬
َ ‫هإ‬
‫ه‬
ْ َ ‫ذا د َع َللا ل ِن‬
‫ي‬
‫م‬
ِ ‫سل‬
ِ ‫ف‬
ِ
ّ ُ َ َ ُ ْ َ َ
ْ
ُ ُ ‫ل ن َلد ْب‬
ِ
ً
‫ )تحفللة المحتللاج فللي‬.‫مث َل‬
َ ِ‫ِبال ْه‬
َ ِ‫ص لر‬
ْ ّ ‫داي َةِ وَل َن َللا ِبالن‬
‫ ص‬3 ‫شرح المنهللاج بللاب صلللة الستسللقاء الللزء‬
. (553

Menurut salah satu pendapat: Boleh mengamini do’a
orang kafir, bahkan sunnah jika ia berdo’a agar dirinya

99

mendapatkan
hidayah
dan
kita
mendapatkan
pertolongan. (Tuhfah Al-Muhtaj Fii Syarhi al-Minhaj bab
shalat istisqo’ juz 3 hal. 553)
Keterangan yang sama terdapat dalam kitab Hasyiyah alJamal, juz II, hal.119)

َ ‫ل فِللى اللد ّْنيا‬
َ ‫مَبا‬
َ ‫م‬
ُ ‫خال ِط َل‬
ِ ‫ج‬
َ ْ ‫شلَرة ُ ِبال‬
ُ ْ ‫ة( ا َل‬
ُ ْ ‫َوثا َن ِي َْها )ا َل‬
ِ ‫مي ْل‬
ّ ‫ب ال‬
َ ِ ‫ظاه ِرِ َوذل‬
‫من ُوٍْع )تفسللير المنيللر ج‬
َ ِ‫ب‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م‬
َ ‫ك غ َي ُْر‬
ِ ‫س‬
(94 ‫ ص‬1
Yang kedua, tidak dilarang untuk bergaul (dengan orangorang kafir) dengan pergaulan yang baik di dunia. (Tafsir
Munir Lin Nawawi, juz I, hal.94)

َ ‫ل منه‬
َ
َ ‫مَعا‬
‫فٍع‬
ْ َ‫ب ن‬
َ ْ‫م أو‬
ْ َ ‫ضَررٍ ي‬
َ ‫م ل ِد َفِْع‬
ْ ُْ ِ ُ ‫ص‬
ْ ُ‫شَرت ُه‬
ُ ‫ما‬
ّ ‫أ‬
ِ ْ ‫جل‬
ُ ‫ح‬
‫)البجيرمللي‬. ‫ة ِفيللهِ ا هللل ع ش ع ََلللى م ر‬
َ ‫ملل‬
ُ ‫فََل‬
َ ‫حْر‬
(291 ‫ ص‬4 ‫على الخطيب ج‬
Adapun bergaul dengan mereka untuk mencegah
timbulnya madlarat yang mungkin dilakukan oleh
mereka, ataupun mengambil sesuatu manfaat dari
pergaulan tersebut, maka hukumnya tidak haram. (AlBujairami ‘ala al-Khatib, juz IV, hal.291)
Berdo’a dengan Tawassul
Tawassul artinya perantaraan. Kalau kita tidak sanggup
menghadap langsung, kita perlu seorang perantara. Seperti
contoh: kalau kita ingin menyampaikan aspirasi kita kepada
presiden akan tetapi kita tidak bisa langsung bertemu dengan
presiden maka kita menyampaikan aspirasi lewat menteri, apabila
kita tidak bisa langsung lewat menteri kita menyampaikan
aspirasi kita lewat sesneg atau lewat ajudan. Begitu juga kalau
kita ingin menyampaikan suatu keinginan kepada Allah, apabila
kita tidak bisa langsung ke Allah, maka kita mohon dengan
100

perantaraan kekasih-Nya, para nabi, para syuhada’ dan orangorang shaleh.
Sebagian orang mengatakan bahwa berdo’a dengan
tawassul adalah syirik, serupa menyembah atau meminta kepada
selain Allah, seperti yang telah dilakukan oleh banyak golongan
yang meng-klaim, mengkafirkan umat Islam yang bertawassul
ketika berdo’a. Sebenarnya bagaimanakah hukum tawassul ketika
berdo’a, apakah ada dalil atau dasarnya?
Tawassul kepada Nabi, para sahabat dan orang-orang shaleh
adalah merupakan salah satu cara atau perantara ketika berdo’a
agar cepat diijabahi atau dikabulkan oleh Allah Swt.
Hukum tawasul adalah boleh bahkan di sunnahkan, karena
para sahabat Nabi juga melakukan doa dengan tawassul,
sebagaimana keterangan di bawah ini:

َ
ْ ‫دوا‬
ُ ّ ‫مُنوا ْ ات‬
َ َ ‫سي ْل‬
ِ ‫جا‬
ِ َ‫ه َواب ْت َُغوا ْ إ ِل َي ْهِ ال ْو‬
ُ ‫هلل‬
َ َ‫ة و‬
َ ّ ‫قوا ْ الل‬
َ ‫نآ‬
َ ْ ‫َيا أي َّها ال ّذ ِي‬
(35) ‫ن‬
ْ ُ‫م ت‬
َ ‫حو‬
ُ ِ ‫فل‬
َ ‫ِفي‬
ْ ُ ‫سب ِي ْل ِهِ ل َعَل ّك‬
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah,
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan
berjihadlah
pada
jalan-Nya,
supaya
kamu
mendapat
keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35)

َ
َ
ْ ‫م إ ِذ‬
ِ ‫سل َْنا‬
ُ ‫ن ّر‬
َ ‫ما أْر‬
ْ ‫ن الل ّلهِ وَل َلوْ أن ّهُل‬
َ َ‫و‬
ِ ْ ‫ل إ ِل ّ ل ِي ُط َللاع َ ب ِلإ ِذ‬
ٍ ْ ‫س لو‬
ْ ‫م‬
َ
َ ْ‫جللآؤ ُو‬
‫م‬
َ ْ‫سلت َغ‬
َ ْ‫سلت َغ‬
ُ ْ ‫مللوا ْ أن‬
َ ‫م‬
ْ ‫ه َوا‬
ْ ‫ك َفا‬
َ ‫ف‬
ُ ‫فَر ل َهُل‬
َ ‫فُروا ْ الل ّل‬
ْ ُ ‫س له‬
ُ َ ‫ظ ّل‬
ُ ْ ‫سو‬
(64) ‫ما‬
ِ ‫واًبا ّر‬
ُ ‫ج‬
َ َ‫ل ل َو‬
ُ ‫الّر‬
ً ْ ‫حي‬
َ ّ ‫دوا ْ الل‬
ّ َ‫ه ت‬

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk
ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika
Menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun
kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang. (Q.S. al-Nisa’: 64)

10
1

Para sahabat Nabi juga melakukan tawassul ketika berdo’a,
berikut ini dalil-dalil yang menerangkannya:

َ َ ‫قا‬
‫ي‬
ِ َ ‫ست‬
ِ ‫صَرا‬
ِ ْ ‫ن ت َي‬
َ ْ ‫ن ال‬
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫ط ال‬
ّ ‫مي ّةِ ِفي ال‬
ّ ‫حل‬
َ ‫قي ْم ِ وَل َفَ لْرقَ ب َي ْل‬
ُ ْ ‫ل ا ِب‬
َ ‫ت‬
‫ه‬
َ َ‫م ف‬
ِ ّ ‫مي‬
ّ ‫ص‬
ُ ْ‫م ب َع‬
ُ ‫صللحا َب َةِ ا َن ّل‬
ْ ُ ‫ضه‬
َ َ ‫كما َ َزع‬
َ ْ ‫َوال‬
ّ ‫ض ال‬
َ ْ ‫قد‬
ْ َ‫ح ع‬
ِ ْ‫ن ب َع‬
َ ‫ا ُمر بعض ال ْمحتا َجي‬
‫م‬
ْ ‫نأ‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ّ َ‫ن ي َت َو‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫وا ب ِه‬
ُ َْ َ ِ
ْ ُ ‫سل‬
َ ْ ِ ْ ُ
َ ‫سل‬
‫ه‬
ِ ‫ي‬
ِ ‫ل ب ِل‬
ِ ‫ن َر‬
َ ‫مللا‬
ّ َ‫ه فَت َو‬
ُ ‫ه ع َن ْل‬
ُ ‫ي اللل‬
َ ْ ‫خل َفَلةِ ع ُث‬
َ َ ‫ب َعْد‬
َ ‫ضل‬
ْ ِ‫موْت ِهِ ف‬
ّ
.‫ى‬
ُ َ‫ف‬
ِ ‫ق‬
َ َ ‫ت حا‬
َ َ‫ه ك‬
ُ ُ ‫جت‬
ْ َ ‫ضي‬
ّ ِ ‫ما ذ َك ََره ُ الطب َْران‬
Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitabnya Shirat al-Mustaqim:
Tak ada perbedaan antara orang yang masih hidup dengan orang
yang sudah mati, seperti yang diasumsikan sebagian orang.
Sebuah hadits sahih menegaskan: Telah diperintahkan kepada
orang-orang yang memiliki hajat di masa khalifah Utsman untuk
bertawassul kepada Nabi setelah beliau wafat. Kemudian, mereka
bertawassul kepada Nabi, dan hajat mereka pun terkabul.
Demikian diriwayatkan oleh ath-Thabrany. (Al-Kawakib alDurriyah juz 2 halaman 6)

َ ِ ‫ع َن أ َنس بن مال‬
‫ه‬
َ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫ب َر‬
ّ ‫كأ‬
ٍ َ ِ ْ ِ َ ْ
ُ ‫ه ع َن ْل‬
ُ ‫ي الل ّل‬
َ ُ‫ن ع‬
ِ ‫خط ّللا‬
َ ‫ضل‬
َ ‫مَر ب ْل‬
ْ
ُ ‫ح‬
َ
َ ‫قللا‬
َ ِ‫ن إ‬
‫ل‬
َ َ‫ب ف‬
َ ‫س‬
َ َ‫ذا ق‬
َ ‫كا‬
ْ َ ‫ست‬
ْ ‫طوا ا‬
ُ ْ ‫ن ع َب ْد ِ ال‬
ِ ‫مط ّل ِل‬
ِ ْ‫س ب‬
ِ ‫قى ِبالعَّبا‬
َ ‫ل إ ِل َي ْل‬
َ ْ ‫ل إ ِل َي‬
ُ ‫سل‬
ُ ‫س‬
‫ك‬
ِ ‫س‬
ّ َ‫قي َْنا وَإ ِن ّللا ن َت َو‬
ْ َ ‫ك ب ِن َب ِي َّنا فَت‬
ّ َ‫م إ ِّنا ك ُّنا ن َت َو‬
ّ ُ‫الل ّه‬
َ ‫قَنا َقا‬
. ‫ن رواه البخارى‬
َ ‫س‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫قو‬
ْ ُ ‫ل فَي‬
ْ ‫م ن َب ِي َّنا َفا‬
ّ َ‫ب ِع‬

Dari sahabat anas, ia mengatakan: pada zaman Umar bin
Khaththab pernah terjadi musim paceklik. Ketika melakukan
shalat istisqa’ Umar bertawassul kepada paman Rasulullah, Abbas
bin Abdul Muththalib: Ya Tuhan, dulu kami, mohon kepada-Mu
dengan wasilah Nabi-Mu dan Engkau menurunkan hujan kepada
kami, sekarang kami mohon kepada-Mu dengan tawassul paman
Nabi-Mu, turunkanlah hujan kepada kami. Allah pun segera
menurunkan hujan kepada mereka (HR. al-Bukhari).
Hadits ini diterangkan di berbagai kitab hadits antara lain yaitu:
1. Shahih al-Bukhary, bab sual an-Naas al-Imam Juz I, hal.128.
2. Musnad al-Shakhabah fii al-Kitab al-Tis’ah, bab musnad
Umar bin Khaththab.
3. Jumhurah al-Ajzaa’ juz 1 hal 78.
4. Kanzu al-Amal Fii Sunani al-Aqwaal.
102

5. Musnad Abi ‘Uwanah, bab Ziyadaats Fii al-Istisqo’
6. Al-Akhad Wa al-Matsany, bab Dzikru Ahli Badrin Wa
Fadhailihim Wa ‘Adadihim juz 1 hal.296.
Orang yang melakukan tawassul kepada orang yang shalih
atau dengan seorang rasul itu bukan berarti menyembahnya akan
tetapi untuk meminta bantuan (sebagai perantara) kepada Allah
melalui kekasih-Nya. Dengan demikian tawassul dalam berdo’a
membantu cepat terkabulnya do’a dan tidak bertentangan
dengan syara’.

10
3

BAB X
KESAHIHAN DALIL
BUDAYA SELAMETAN 1-7 HARI, 40 HARI, 100 HARI, DAN
HAUL BAGI ORANG YANG TELAH MENINGGAL

1. Pengertian Selamatan atau Haul
Kata ”haul” berasal dari bahasa Arab yang berarti telah
lewat atau berarti tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya ”khol
utowo selametane wong mati” (haul atau selamatan untuk
mendo’akan orang yang sudah meninggal) yaitu: suatu upacara
ritual keagamaan untuk memperingati meninggalnya seorang
Ulama’ (tokoh agama, kyai) atau salah satu dari anggota
keluarga.
Dalil mengenai haul adalah berdasarkan hadits yang
menerangkan bahwa junjungan kita Sayyidina Muhammad Saw.
setiap tahun telah melakukan ziarah kubur pada syuhada’ uhud
(para sahabat yang gugur waktu peperangan uhud) yang
kemudian diikuti oleh sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman pada
setiap tahun. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi
dari al-Waqidi;

َ :‫ل‬
ّ ‫ي ك ُل‬
َ ‫دى َقا‬
ُ ‫ى َيلُزوُْر‬
‫ل‬
ِ ِ‫واق‬
ُ ُ ‫داَء ا‬
َ َ ‫ش له‬
َ ‫كا‬
ْ ‫ح لد ٍ ف ِ ل‬
َ ‫ن ْال‬
ّ ‫ن الن ِّبل‬
ِ َ‫ع‬
ُ ْ ‫م ع َل َي‬
ُ ْ‫قللو‬
َ ِ ‫ل وَا‬
‫ما‬
ُ َ ‫ه فَي‬
َ
ٌ َ ‫سللل‬
َ :‫ل‬
َ ‫م بللل‬
ْ ‫كلل‬
ُ ‫وتـلل‬
َ َ‫ذا ب ََلللغَ َرَفللع‬
ْ ‫ص‬
ٍ ْ‫حللو‬
َ
َ ِ ‫ل ٰذل‬
َ ْ ‫مث‬
ُ َ‫فع‬
‫م‬
ْ ‫م اب ُوْ ب َك ْرٍ َيل‬
ْ ُ‫م ع‬
ِ ‫ل‬
ّ ‫قَبى ال‬
ّ ُ‫ك ث‬
ّ ُ ‫ ث‬. ِ‫دار‬
َ ْ‫م َفلن ِع‬
ْ ‫صب َْرتـ‬
َ
(‫ن )رواه البيهقى‬
ُ ‫ما‬
َ ْ ‫م ع ُث‬
ّ ُ ‫مُر ث‬
َ ُ‫ع‬
Al-Waqidy berkata: “Nabi Muhammad Saw. berziarah ke makam
syuhada’ uhud pada setiap tahun, apabila telah sampai di makam
syuhada’ uhud beliau mengeraskan suaranya seraya berdo’a:
keselamatan bagimu wahai ahli uhud dengan kesabarankesabaran yang telah kalian perbuat, sungguh ahirat adalah
tempat yang paling nikmat/sebaik-baik rumah peristirahatan.
104

Kemudian Abu Bakar pun melakukannya pada setiap tahun begitu
juga Umar dan Utsman. HR. Baihaqi. (Mukhtashar Ibnu Katsir, Juz
2 hal. 279)
Sedangkan selametan pada hari ke 1 sampai hari ke 7
setelah kematian adalah tradisi orang jawa kalau ada keluarga
yang meninggal, tradisi atau budaya selametan tidaklah
bertentangan dengan syara’, budaya tersebut berdasarkan pada
hadits di bawah ini;

َ ‫َقا‬
‫وا‬
ْ ُ ‫موَْتى ي‬
َ ْ‫فت َن ُو‬
ّ ِ ‫ إ‬:‫س‬
َ ‫م‬
ْ ِ ‫ن ِفى قُب ُوْرِه‬
َ ْ ‫ن ال‬
ُ ُ‫ل طا َو‬
ْ ُ ‫س لْبعا ً فَك َللان‬
َ
َ
َ
َ ‫م ت ِل ْل‬
َ ‫ن قَللا‬
‫ن‬
ْ ‫ىأ‬
ْ ‫نأ‬
َ ْ‫حب ّو‬
َ َ ‫ست‬
َ ّ ‫ك ا ْلي لا‬
ْ ُ‫ي‬
ْ ُ‫وا ع َن ْه‬
ُ ِ‫ن ي ُط ْع‬
ْ ‫ل ع َل‬
ْ ‫م‬
َ ‫م ِإل ل‬
َ
ْ
َ
َ ‫مي ْرٍ َقا‬
‫ن‬
ِ ْ ‫م لؤ‬
ِ ْ ‫م لؤ‬
ُ ‫ َر‬:‫ل‬
ُ ‫مللا ال‬
ّ ‫منلافِقٌ فَأ‬
ُ َ‫ن و‬
ُ ‫ن‬
َ ُ‫ن ع‬
ُ ‫م‬
ٌ ‫م‬
ِ َ ‫جل‬
ِ َ ْ ‫ع ُب َي ْد ِ اب‬
‫ جللز‬،‫ ) الحوى إلى فتللوى للسلليوطي‬.‫صَباحًا‬
ْ ُ ‫فَي‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ن أرب َعِي‬
ُ َ ‫فت‬
(178 ‫الثاني ص‬
Imam Thawus berkata: Seorang yang mati akan memperoleh
ujian dari Allah Swt. dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu,
sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan sebuah
jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut.
(Sampai kata-kata) Dari sahabat Ubaid Ibn Umair, dia berkata:
Seorang mukmin dan seorang munafik sama-sama akan
mengalami ujian dalam kubur. Bagi seorang mukmin akan
beroleh ujian selama 7 hari, sedang seorang munafik selama 40
hari di waktu pagi. (Al-Haway Ilaa Fatawa Lii al-Suyuty, juz 2 hal
178)

2. Perbedaan

Pendapat Para Ulama’ Tentang Hukum
Selametan 1-7 Hari, 40 Hari, 100 Hari dan Haul bagi
Orang yang Telah Meninggal
Mengenai hukum haul dan selametan, terjadi perbedaan
pendapat di kalangan ulama’, tetapi mayoritas ulama’ dari empat

10
5

madzhab berpendapat bahwa pahala ibadah atau amal shaleh
(seperti: selametan) yang dilakukan oleh orang yang masih hidup
bisa sampai kepada orang yang sudah meninggal. Namun di sini
akan kami paparkan seputar khilaf para ulama’ mengenai hal ini
baik
yang
memperbolehkan
maupun
yang
tidak
memperbolehkannya.
Adapun
berbagai
pendapat
ulama’
madzhab beserta dalil-dalilnya adalah seperti di bawah ini;
a. Pendapat yang memperbolehkan
1. Menurut Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Taqiyuddin Muhammad ibnu Ahmad ibn
Abdul Halim (yang lebih populer dengan julukan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah dari madzhab Hambali) dalam kitab
Majmu’ al-Fatawa: juz 24 halaman 314-315, menjelaskan
sebagai berikut ini:

‫ق‬
َ ‫فعُ ب ِهَللا ِباّتلل‬
ُ َ‫صلد َق‬
ِ ‫ه ي َْنلَتلل‬
ِ ‫مي ّل‬
ُ ّ ‫ت َفـللان‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ َ‫ا‬
ّ ‫مللا ال‬
ِ ‫فا‬
ِ ‫ة ع َل‬
َ ِ ‫ت ب ِل ٰذل‬
‫صلّلى الللله‬
ِ ِ ‫سل‬
ْ ‫م‬
ْ َ ‫ وَقَد ْ وََرد‬.‫ن‬
ُ ْ ‫ال‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الن ّب ِل‬
َ ْ ‫مي‬
ِ ‫ك ع َل‬
ُ ‫مث ْل‬
‫سلعْد ٍ ) ي َللا‬
ٌ ‫ح‬
ِ ‫صل‬
ُ ‫حا د ِي ْل‬
ِ ‫ة‬
َ ْ ‫حي‬
َ َ‫م ا‬
َ ‫ل‬
َ َ‫ُع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
َ ‫ث‬
ِ ْ ‫ل ق َ لو‬
َ ْ‫سللو‬
‫و‬
ْ َ‫ت ن‬
َ ‫سللَها وَا ََرا‬
ّ ِ ‫ل اللللهِ ا‬
ُ ‫ف‬
ُ ‫َر‬
ْ ‫ي ا ُْفتـِلتـلل‬
ّ ُ‫ن ا‬
ْ ‫هللا َللل‬
ْ ‫ملل‬
َ
َ
ّ
ْ ‫ت فَهَل‬
‫صد ّقَ ع َن ْهَللا ؟‬
َ ‫ل ي َْنل‬
ْ ‫فللعَُها ا‬
ْ َ‫صد ّق‬
ْ ‫م‬
َ ‫َتلك َل‬
َ ‫ن اَتلل‬
َ َ‫ت ت‬
َ ِ ‫ وَك َ ٰذل‬, ‫م‬
َ ‫قا‬
‫ة‬
َ ‫ك َيلْنل‬
َ َ‫ف‬
ُ َ ‫حي‬
ِ ‫ضل‬
ْ ُ ‫ه وَا ْل‬
ّ ‫حل‬
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ‫ج ع َن ْل‬
ُ ُ‫فل لع‬
ْ َ‫ َنلع‬:‫ل‬
‫ن‬
َ ‫سِتـغ‬
َ ّ ‫ه َوالد‬
ْ ِ ‫عاُء وَا ْل‬
ُ َ ‫فاُر ل‬
ُ ْ ‫ه َوال ْعِت ْقُ ع َن‬
ُ ْ ‫ع َن‬
َ ‫ه ب ِل َ ِنزا ٍَع ب َْيلل‬
َ
. ِ ‫مة‬
ّ ِ ‫ا ْلئ‬
“Adapun sedekah untuk mayit, maka ia bisa mengambil
manfaat berdasarkan kesepakatan umat Islam, semua itu
terkandung dalam beberapa hadits shahih dari Nabi Saw.
seperti
perkataan
sahabat
Sa’at
“Ya
Rasulallah
sesungguhnya ibuku telah wafat, dan aku berpendapat jika
ibuku masih hidup pasti ia bersedekah, apakah bermanfaat
jika aku bersedekah sebagai gantinya?” maka Beliau
menjawab “Ya”, begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji,
qurban, memerdekakan budak, do’a dan istighfar
106

kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para
imam”.
Ibnu Taimiyah juga menjelaskan perihal diperbolehkannya
menyampaikan hadiah pahala shalat, puasa dan bacaan alQur’an kepada mayit dalam kitab Fatawa: juz 24 halaman
322 sebagai berikut ini:

َ ِ ‫جاَز ذ َل‬
َ ِ ‫فَا‬
‫ك‬
ِ ‫ب‬
ٍ ّ ‫مي‬
َ ٍ‫صل َةٍ ا َوْ قَِرئ َة‬
ُ ‫وا‬
َ ِ ‫ذا ا ُهْد ِيَ ل‬
َ ْ‫صيا َم ٍ ا َو‬
َ َ‫ت ث‬
Artinya: “jika saja dihadiahkan kepada mayit pahala puasa,
pahala shalat atau pahala bacaan (al-Qur’an/kalimah
thayyibah) maka hukumnya diperbolehkan”.

2. Menurut Imam Nawawi
Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Ibn al-Syarof, dari
madzhab Syafi’i yang terkenal dengan panggilan Imam
Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz
5 hal. 258 menegaskan;

‫ة‬
َ ‫ى ْال‬
َ ‫سا‬
َ ‫ث‬
ً ‫عل ل‬
َ ُ ‫مك‬
ْ َ‫ب ا‬
ّ ‫ح‬
َ ‫سلَتل‬
َ ‫ن‬
ْ ُ‫ي‬
ْ ‫ن َيل‬
ِ ْ‫قب ْرِ ب َعْ لد َ ال لد ّف‬
َ ‫عل‬
ّ ‫ص ع َل َي ْهِ ال‬
َ ّ ‫ى َوات‬
ِ ْ‫ست َغ‬
ِ ّ ‫مي‬
ْ َ ‫ت وَي‬
َ‫فق‬
ُ َ ‫فُرل‬
َ ْ ‫ي َد ْع ُوْ ل ِل‬
ّ ‫ َنل‬.‫ه‬
ّ ِ‫شافِع‬
َ ُ ‫عن ْد َه‬
‫ئ‬
ْ ‫ن َيل‬
ِ َ ‫قَرأ‬
ٌ ْ ‫شي‬
ْ َ‫ب ا‬
ّ ‫ح‬
َ ‫سلَتل‬
ُ ‫حا‬
َ ‫ص‬
ْ ُ ‫ ي‬:‫وا‬
ْ َ ‫ع َل َي ْهِ ا ْل‬
ُ ‫ب َقال‬
َ
َ
ُ ‫ضللل‬
.‫ل‬
ُ ‫وا ْال‬
ُ ‫ن ْال‬
َ ‫ن‬
ِ
َ ْ‫ن ا َف‬
َ ‫ن ك َلللا‬
َ ‫قلللْرأ‬
ْ ِ ‫ن وَا‬
ُ َ ‫خت‬
ْ ‫مللل‬
ِ ‫قلللْرأ‬
َ ‫مللل‬
(258 ‫ ص‬5 ‫)المجموع جز‬
“Disunnahkan untuk diam sesaat di samping kubur setelah
menguburkan mayit untuk mendo’akan dan memohonkan
ampunan kepadanya”, pendapat ini disetujui oleh Imam
Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan pengikut
Imam Syafi’i mengatakan “sunnah dibacakan beberapa
ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan lebih utama
jika sampai menghatamkan al-Qur’an”.

10
7

Selain paparannya di atas Imam Nawawi juga memberikan
penjelasan yang lain seperti tertera di bawah ini;

‫ن‬
َ ‫م‬
َ ‫م‬
ْ َ ‫ب ِللّزائ ِرِ ا‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫سلت‬
َ ُ‫ن ي‬
ْ ‫وَُيل‬
َ ِ ‫قاب ِرِ وَي َد ْع ُوْ ل‬
َ ‫ى ْال‬
َ ّ ‫سل‬
ْ ‫م‬
َ ‫عل‬
َ
ْ
ْ
َ
ُ ‫ضل‬
‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫قب َلَر‬
ِ ‫ج‬
َ ْ‫ن ي َك ُلو‬
ْ ‫لا‬
َ ْ‫ وَال َف‬.‫ة‬
َ ِ ‫ي َلُزوُْره ُ وَل‬
َ ‫ل ال‬
ِ ‫مي ْلِع اهْ ل‬
‫ن‬
َ ّ ‫م َوالد‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
ِ ‫ت‬
ْ َ‫ب ا‬
ّ ‫ح‬
َ ‫سلَتل‬
َ ‫ن ْال‬
ُ َ ‫سل‬
ْ ُ ‫ث وَي‬
ّ ‫ال‬
َ ‫ما َثبـ‬
َ ِ ‫عاُء ب‬
َ ‫م‬
َ
‫ص‬
ُ ‫ن ْال‬
ْ َ‫ي‬
ِ َ‫م ع‬
ِ ‫قَرأ‬
ّ َ ‫ما ت َي‬
ْ ‫سلَر وَي َلد ْع ُوْ ل َهُل‬
َ ‫ن‬
ّ ‫قب َهَللا وَن َل‬
ِ ‫قْر ٰأ‬
َ ‫م‬
ْ
َ
َ
ّ ‫ع َلي ْهِ ال‬
‫ )المجموع جز‬.‫ب‬
َ ّ ‫ى َوات‬
ُ ‫حا‬
َ ‫ص‬
ْ َ ‫فقَ ع َلي ْهِ ال‬
ّ ِ‫شِافع‬
(258 ‫ ص‬5
“Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan
salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada
mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur,
salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama
jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau
diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan
pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri
dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh
Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh
pengikut-pengikutnya”.
3. Menurut Imam Ibnu Qudamah
Al-‘Allamah al-Imam Muwaffiquddin ibn Qudamah dari
madzhab Hambali mengemukakan pendapatnya dan
pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab karyanya
al-Mughny juz 2 hal. 566.

ْ
َ ‫َقا‬
‫ن‬
َ ‫عن ْلد َ ْال‬
ِ ِ‫قرا ََءة‬
ِ ْ ‫س ِبال‬
َ ‫ وَل َ ب َأ‬:‫ل‬
ْ ‫ وَقَ لد ْ ُروِيَ ع َ ل‬. ِ‫قب ْلر‬
َ ‫ه َقللا‬
‫ة‬
َ ‫م‬
َ َ ‫ ِاذا َ د‬:‫ل‬
َ ‫وا َايـلل‬
ْ َ‫ا‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ ‫خْلتلل‬
ُ ‫مللد َ ا َّنللل‬
َ ‫ح‬
ْ ُ ‫قللاب َِر ا ِْقللَرئ‬
ُ ‫ْال‬
ْ ُ‫م ق‬
ْ ُ‫مَراٍر وَق‬
‫م‬
‫س‬
َ َ ‫ى ث َل‬
ِ ‫ث‬
ِ ‫كـر‬
َ َ ‫ل هُوَ الله ا‬
ّ ‫ل َالل ُّهلل‬
ّ ُ ‫حد ٌ ث‬
ّ
َ َ ‫ضل‬
. ِ‫قاب ِر‬
َ ‫م‬
ّ ِ‫ا‬
َ ْ ‫ل ال‬
ُ ْ َ‫ن ف‬
ِ ْ‫ه له‬

Artinya “al-Imam Ibnu Qudamah berkata: tidak mengapa
membaca (ayat-ayat al-Qur’an atau kalimah tayyibah) di
108

samping kubur, hal ini telah diriwayatkan dari Imam
Ahmad ibn Hambal bahwasanya beliau berkata: Jika
hendak masuk kuburan atau makam, bacalah Ayat Kursi
dan Qul Huwa Allahu Akhad sebanyak tiga kali kemudian
iringilah dengan do’a: Ya Allah keutamaan bacaan tadi aku
peruntukkan bagi ahli kubur.

4. Menurut golongan dari madzhab Syafi’i dalam kitab alAdzkar al-Nawawi hal 150. dijelaskan lebih spesifik lagi
seperti di bawah ini:

‫ة‬
ٌ ‫ماع َل‬
ٌ َ ‫ماع‬
ِ ‫ة‬
َ َ‫مللاِء و‬
َ َ‫ل و‬
َ ‫ن‬
ْ َ‫ب ا‬
َ َ‫وَذ َه‬
َ ‫ج‬
َ َ ‫ن ْالعُل‬
َ ‫ج‬
َ ‫ح‬
َ ‫م‬
ٍ َ ‫حن ْب‬
ُ ‫مد ُ ب‬
ُ ‫ص‬
ّ ‫ب ال‬
‫خِتلللَياُر‬
ْ ِ ‫ َفللا ْل‬. ‫ل‬
ِ ‫ه ََيل‬
ِ
َ ‫ص‬
ُ ّ ‫ى َانل‬
ِ ‫حا‬
ْ َ‫ن ا‬
ْ ‫م‬
َ ‫شِافـعى ِال‬
َ
ّ
َ
ْ
ْ ‫ص‬
َ ْ ‫قو‬
‫مللا‬
َ ‫ل ال‬
ُ ‫ن َيل‬
ِ ْ‫م او‬
ِ ‫قارِئُ ب َعْد َ فَِراِغ‬
َ ‫وا‬
ْ َ‫ا‬
َ ‫ب‬
ّ ُ‫ الله‬:‫ه‬
َ ‫ل َثل‬
ْ
‫م‬
ُ َ ‫ َوالله ا َع ْل‬. ‫ن‬
ُ ‫َقلرأ تـ‬
ٍ َ ‫ه ا َِلى فُل‬
Artinya: Imam Ahmad bin Hambal dan golongan ulama’
dan sebagian dari sahabat Syafi’i menyatakan bahwa
pahala do’a adalah sampai kepada mayit. Dan menurut
pendapat yang terpilih: “Hendaknya orang yang membaca
al-Qur’an setelah selesai untuk mengiringi bacaannya
dengan do’a:

َ
ْ
ْ ‫ص‬
‫ن‬
ِ ْ‫م ا َو‬
َ ‫وا‬
ُ ‫ما َقلرأ تـ‬
َ ‫ب‬
ّ ُ‫َالل ّه‬
ٍ َ ‫ه ا َِلى فُل‬
َ ‫ل َثل‬

Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaan al-Qur’an yang
telah aku baca kepada si fulan (mayit)”.

5. Menurut Fuqaha’ (Ulama’ ahli Fiqih) Ahlussunnah wal
Jama’ah
Menurut jumhur fuqoha’ ahlussunnah wal jama’ah seperti
yang telah diterangkan oleh al-‘Allamah Muhammad

10
9

al-‘Araby mengutip dari
sahabat Abu Hurairah ra.

hadits

Rasulullah

Saw.

dari

ُ ْ ‫س لو‬
َ ‫ل قَللا‬
َ ‫ه قَللا‬
‫ل‬
ِ ‫ن ا َِبلى هَُري َْرة َ َر‬
ُ ‫ل َر‬
ُ ‫ى الله ع َن ْل‬
ْ َ ‫وَع‬
َ ‫ض‬
َ ‫خ‬
‫م َقللَرأ‬
َ ‫م‬
َ َ‫ن د‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬
ّ ُ ‫قاب َِر ث‬
َ ْ ‫ل ال‬
َ ‫م‬
َ ّ ‫سل‬
َ ِ‫الله‬
ْ ‫م‬
َ ّ ‫م الت‬
ْ ُ‫ب وَق‬
‫م‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫والله ا‬
َ ِ ‫ََفات‬
ّ ُ ‫ ث‬, ‫كاث ُْر‬
ُ ُ ‫ وَا َل َْهاك‬, ٌ ‫حد‬
ِ ‫ة ْالك َِتا‬
َ ُ‫ل ه‬
ْ
َ َ ‫مل‬
َ ‫َقا‬
‫ل‬
ِ َ ‫ن ك َل‬
ِ ‫ت‬
َ ‫وا‬
َ ‫ ِانّلى‬:‫ل‬
ُ ‫ما قَ لَرأ‬
َ ‫ب‬
ُ ْ ‫جعَل‬
ِ ‫ك لهْ ل‬
ْ ‫مل‬
َ َ‫ت ث‬
ُ ‫وا‬
‫ه‬
َ ‫شل‬
َ ‫ْالـم‬
ِ ‫مَنا‬
ِ ْ ‫مؤ‬
ِ ْ ‫مؤ‬
ِ ِ‫قاب ِر‬
ُ ‫فَعاَء ل َل‬
ُ ‫ن وَْال‬
ُ ‫ن ْال‬
ْ ُ ‫ت ك َللان‬
َ ْ ‫من ِي‬
َ ‫م‬
َ
.‫ى‬
َ ‫ا ِلى اللهِ ت ََعال‬

Artinya: Dari Abi Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw.
bersabda: “Barang siapa berziarah ke makam/kuburan
kemudian membaca al-Fatikhah, Qul Huwa Allahu Akhad,
dan
Al-Hakumuttakatsur,
kemudian
berdo’a
“sesungguhnya aku hadiahkan pahala apa yang telah
kubaca dari firmanmu kepada ahli kubur orang mukmin
laki-laki dan mukmin perempuan, maka pahala tersebut
bisa mensyafaati si mayit di sisi Allah Swt”.
b.
Pendapat yang tidak memperbolehkan
1. Menurut golongan Madzhab Syafi’i
Pendapat masyhur dari golongan madzhab Syafi’i bahwa
pahala membaca al-Qur’an tidak bisa sampai pada mayit,
hal ini diterangkan dalam kitab al-Adzkar al-Nawawi, hal
150.

َ ُ ‫ف ْالعل َمللاُء ف لي وص لول ث َلواب قللرا ََءة ْال‬
‫ن‬
ْ ‫َوا‬
ِ
ِ ِ َ
َ ُ َ َ ‫خت َل‬
ِ ‫ق لْرأ‬
ِ ْ ُ ُ ْ ِ
ُ ‫صلل‬
ّ ‫ب ال‬
ْ ‫م‬
‫ل‬
ِ َ ‫ه ل َي‬
ِ ‫شهُوُْر‬
َ َ‫شافِِعى و‬
ُ ّ ‫ماع َةٍ ا َن‬
َ ‫ج‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫َفال‬
ِ َ‫مذ ْه‬
ْ ‫م‬
.‫م‬
ُ َ ‫َوالله ا َع ْل‬,
Artinya: “Ulama’ berbeda pendapat dalam masalah
sampainya pahala bacaan al-Qur’an kepada mayit, maka
menurut pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i
dan golongan ulama’ menyatakan tidak bisa sampai
kepada mayit, dan Allah lah yang lebih mengetahui.

110

2.
Menurut Imam Malik
Menurut pendapat sebagian ulama’ pengikut madzhab
Maliki dan Syafi’i bahwasanya pahala puasa, shalat sunnah
dan bacaan al-Qur’an adalah tidak bisa sampai kepada
mayit. Keterangan kitab Majmu’ al-Fatawa, Juz 24 hal. 314315, yang berbunyi:

َ ُ ‫وا َماالصليام ع َنه وصل َة ُ التط َوع ع َنه وقراَءة ُ ْال‬
‫ن‬
ّ َ
َ َ ُ ْ ُ َ ّ
ِ ‫قللْرأ‬
َ ِ َ ُ ْ ِ ُ ّ
َ
َ
ْ
َ ‫ه ف َ ٰه‬
‫و‬
ِ ‫ َيلْنلَتل ل‬:‫ما‬
َ ‫ ا‬:‫ماِء‬
َ ُ‫ح لد ُه‬
َ ‫ن ل ِلعُل‬
ُ ْ ‫ع َن‬
َ ‫فعُ ب ِلهِ وَهُ ل‬
ِ َ ‫ذا قَوْل‬
َ
‫ب‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫فل‬
َ ‫صل‬
َ ‫ى‬
ْ َ‫ب ا‬
ُ َ‫مذ ْه‬
َ ِ ‫ة وَغ َي ْرِه‬
َ ‫ح‬
َ
ِ ‫حا‬
ْ َ‫ض ا‬
ُ ‫مللا وَب َعْل‬
ْ ِ ‫مد َ وَأب‬
َ
َ
َ
ُ
ّ
ّ ‫ال‬
‫و‬
ُ َ‫صللل ا ِلْيلللهِ و‬
ِ َ ‫ لت‬:‫ى‬
ِ ِ‫شللافِِعى وَغي ْر‬
ْ ‫هلل‬
َ ‫هلل‬
ْ ِ ‫م َوالثللان‬
ّ ‫ك َوال‬
ْ ‫م‬
.‫شافِِعى‬
ِ ‫شهُوُْر‬
ٍ ِ ‫مال‬
َ ‫ب‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ا َل‬
ِ َ‫مذ ْه‬
ْ ‫م‬
Artinya: Adapun puasa, shalat sunnah, dan membaca alQur’an untuk mayit ada dua pendapat salah satunya;
Mayit bisa mengambil manfaat dengannya, pendapat ini
menurut Imam Ahmad, Abu Hanifah dan sebagian sahabat
Syafi’i yang lain, dan yang kedua; tidak sampai kepada
mayit, ini menurut pendapat yang masyhur dalam
madzhab Imam Malik dan Imam Syafi’i.

3. Rangkaian Acara Selametan atau Haul
Dalam acara selamatan atau haul biasanya dirangkai
dengan beberapa rangkaian acara sebagai berikut:
1. Khotmul Qur’an, yaitu membaca al-Qur’an 30 juz (mulai
dari juz 1 s/d juz 30). Menurut Imam Nawawi di dalam kitab
al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 5 hal. 258 menegaskan
bahwa disunnahkan untuk membacakan al-Qur’an untuk si
mayit;

11
1

‫ة‬
َ ‫ى ْال‬
َ ‫سا‬
َ ‫ث‬
ً ‫عل ل‬
َ ُ ‫مك‬
ْ َ‫ب ا‬
ّ ‫ح‬
َ ‫سلَتل‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ُيل‬
ْ ‫ن َيل‬
ِ ْ‫قب ْرِ ب َعْد َ ال لد ّف‬
َ ‫عل‬
ّ ‫ص ع َل َي ْلهِ َال‬
‫ى‬
ِ ْ‫سلَتللغ‬
ِ ‫مي ّل‬
ْ َ ‫ت وَي‬
ُ ‫فُر ل َل‬
َ ْ ‫ي َد ْع ُوْ ل ِل‬
ّ ‫ َنلل‬.‫ه‬
ّ ِ‫شللافِع‬
َ ‫قرأ‬
َ ّ ‫َوات‬
ْ َ‫ب ا‬
ّ ‫ح‬
َ ‫سلَتل ل‬
ُ ‫حا‬
َ ‫صل‬
ْ ‫ ُيل‬:‫وا‬
ْ َ ‫فقَ ع َل َي ْلهِ ا َل‬
َ ْ ‫ن َيل ل‬
ُ ‫ب قَللال‬
َ
َ
َ ُ ‫عن ْلد َه‬
‫ن‬
ُ ‫وا ْال‬
ُ ‫ن ْال‬
َ ‫ن‬
ِ
ِ ‫ئ‬
ٌ ْ ‫ش لي‬
َ ‫ن ك َللا‬
َ ‫ق لْرأ‬
ْ ِ ‫ن وَا‬
ُ َ ‫خت‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫ق لْرأ‬
َ ‫مل‬
ُ ‫ض‬
.258 ‫ ص‬5 ‫ جز‬:‫ المجموع‬. ‫ل‬
َ ْ‫ا َف‬
Artinya; “Disunnahkan untuk diam sesaat di samping
kubur setelah menguburkan mayit untuk mendo’akan dan
memohonkan ampunan kepadanya”. Pendapat ini disetujui
oleh Imam Syafi’i dan pengikut-pengikutnya, dan bahkan
pengikut Imam Syafi’i mengatakan: “Sunnah dibacakan
beberapa ayat al-Qur’an di samping kubur si mayit, dan
lebih utama jika sampai menghatamkan al-Qur’an”.
2.
Tahlilan, Ibnu Taimiyah menegaskan masalah tahlil
dengan keterangannya sebagai berikut:

ّ ‫فلا ا َوْا ََقل‬
َ ّ ‫ذا هَل‬
َ َ ‫ن ٰهك‬
َ ِ‫إ‬
‫ل ا َوْ ا َك َْثلَر‬
ً ْ ‫ن ا َل‬
َ ْ‫سلب ْعُو‬
ُ ‫سا‬
َ :‫ذا‬
َ ْ ‫ل ا ْل ِن‬
َ ِ ‫ه ب ِ ٰذ ل‬
.‫ك‬
َ ‫ت ا ِل َي ْهِ َنل‬
ُ ‫ه الل‬
ُ ‫فلَعل‬
ْ َ ‫وَا ُهْد ِي‬

Artinya; “Jika seseorang membaca tahlil sebanyak 70.000
kali, kurang atau lebih dan (pahalanya) dihadiahkan
kepada mayit, maka Allah memberikan manfaat dengan
semua itu”. (Fatawa, 24/323)

3. Do’a yang dihadiahkan kepada si mayit, Syeh Sayyid Sabiq
menjelaskan bahwa ulama’ telah sepakat mengenai
sampainya do’a dan istighfar (memohonkan ampunan)
untuk mayit sebagaimana dalil di bawah ini:

َ ‫فاُر وَ ٰهل‬
َ ِ ‫ملعٌ ع َل َي ْلهِ ل‬
َ ‫سِتلْغلل‬
َ ّ ‫َاللد‬
ِ‫ل اللله‬
ْ ‫م‬
ْ ِ ‫عاُء وَا ْل‬
َ ‫ج‬
ُ ‫ذا‬
ِ ْ ‫ق لو‬
َ ‫فْر َلنا‬
ُ َ‫م ي‬
ِ ْ ‫ن َرب َّنا اغ‬
ِ ْ‫جاُءو‬
َ ْ‫قوْل ُو‬
َ ‫ن‬
ْ ِ ‫ن ب َعْد ِه‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫ )َوال ّذ ِي‬:‫ى‬
َ ‫ت ََعال‬
َ ‫ي قُل ُوِْبن لا‬
ْ َ‫جع‬
ُ َ ‫سب‬
ْ ِ ‫وَِل‬
ْ َ ‫ن وَل َت‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ونا َ ب ِا ْل ِي‬
ْ ‫ل فِ ل‬
ِ ‫ما‬
ْ ‫ق‬
َ ْ ‫واِننا َ ال ّذ ِي‬
َ ‫خ‬
َ
َ ‫وا َرب َّنا ا ِن ّل‬
ُ ْ ‫م ق َ لو‬
‫ل‬
َ َ ‫م( وَت‬
ِ ‫ف ّر‬
ٌ ْ‫ك َرؤ ُو‬
َ ّ ‫ق لد‬
ٌ ‫حي ْل‬
َ ‫نأ‬
ْ ُ ‫من‬
َ ْ ‫ِغل ّ لل ّذ ِي‬
112

‫ى‬
َ ‫م‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫الّر‬
ْ ُ ‫صل ّي ْت‬
َ ّ ‫سل‬
َ َ ‫م )وَِاذا‬
َ ِ‫ل َالله‬
ِ ْ ‫سو‬
َ ‫عل ل‬
َ ‫ف‬
‫ل‬
َ ّ ‫ه َالد‬
ْ ‫ت فَأ‬
ِ ‫ظ‬
ِ ‫ح‬
ِ ّ ‫مي‬
ُ َ‫عاَء( و‬
ُ ‫ن د ُع َللاِء َر‬
ُ َ ‫وال‬
َ ‫ْال‬
ُ ِ ‫خل‬
ِ ْ ‫س لو‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫ص‬
‫حي َّنللا‬
ِ ‫م ْاغ‬
َ ِ ‫فللْر ل‬
َ َ‫ه ع َل َْيللهِ و‬
ّ ‫م )َالل ُّهلل‬
َ ّ ‫سللل‬
ُ ‫صللّلى الللل‬
َ ِ‫الللله‬
َ
َ ‫مّيلِتل لَنا( وَل ََزا‬
‫ت‬
َ ْ ‫ف َوال‬
ُ ‫خل َل‬
ُ َ ‫س لل‬
ِ ‫وا‬
َ ْ‫ف ي َلد ْع ُو‬
ّ ‫ل َال‬
ْ ‫ن ل ِْل‬
َ َ‫و‬
َ ‫مل‬
َ
َ ْ ‫ن ا ِن‬
.‫د‬
ْ ُ‫ة وَْالغ‬
ُ ‫م‬
ٍ ‫ح‬
ِ ٍ‫كار‬
َ َ‫ن ا‬
َ ْ‫ن د ُو‬
ُ ‫فَرا‬
ْ ‫م الّر‬
َ ْ‫سأل ُو‬
ْ َ ‫وَي‬
َ ‫ح‬
ْ ُ‫ن ل َه‬
ْ ‫م‬
Artinya; “Do’a dan memohonkan ampun untuk mayit,
pendapat ini telah menjadi kesepakatan Ulama’, hal ini
berdasarkan firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surah alHasyr ayat 10 (Dan orang-orang yang datang setelah
mereka muhajirin dan anshar berdo’a: Ya Tuhan kami,
ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah
mendahului kami dengan iman, dan jangan engkau
jadikan hati kami “mempunyai sifat” dengki kepada orangorang yang beriman, Ya Tuhan kami sesungguhnya
Engkau Maha penyantun dan Maha penyayang). Dan telah
disebutkan sebelumnya sabda Rasulullah Saw. Jika kamu
menyalati mayid, maka ikhlaslah dalam berdo’a. Dan juga
do’a Rasulullah Saw. Ya Allah, ampunilah orang-orang
yang hidup dan yang meninggal kami (umat Nabi). Ulama’
salaf dan khalaf
selalu mendo’akan orang-orang
meninggal dan mereka memohonkan kepadanya rahmat
dan ampunan, tanpa seorang pun mengingkarinya”.

4. Pengajian

Umum, yang kadang dirangkai dengan
pembacaan secara singkat sejarah orang yang dihauli,
yang mencakup nasab, tanggal lahir dan wafat, jasa-jasa,
serta keistimewaan yang patut diteladani. Hal ini sesuai
dengan keterangan di bawah ini:

11
3

َ ‫مت َلوَّفى وَ ٰذل ِل‬
‫ن‬
ْ َ ‫سل لت‬
ُ ِ‫من َللاق‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ك‬
ُ ْ ‫ب ال‬
َ ِ‫وَقَد ْ ي ُذ ْك َُر فِي ْله‬
ٌ ‫س‬
‫مللا فِللى‬
َ ْ ‫ك ط َرِي‬
َ ‫ث‬
ّ ‫حل‬
ْ ‫م‬
ِ ْ‫س لل ُو‬
َ ْ ‫ل ِل‬
ُ ‫ى‬
َ َ ‫م لوْد َةِ ك‬
ُ ‫ح‬
َ ْ ‫قت ِلهِ ال‬
َ ‫عل ل‬
ّ
......‫وى ْالك ُب َْرى‬
َ ‫ن ْال‬
ِ ‫ى‬
ُ ْ ‫ال‬
َ َ ‫فت‬
َ ‫م‬
ْ ِ ‫جْزِء الثان‬

Terkadang dituturkan juga manaqib (biografi) orang yang
telah meninggal, cara ini baik untuk mendorong orang lain
agar mengikuti jalan (perilaku) terpuji yang telah
dilakukan si mayit, sebagaimana telah diterangkan dalam
kitab Fatawa al-kubra juz II.

5. Sedekah, diberikan kepada orang-orang yang berpartisipasi
pada acara selametan, atau diserahkan langsung ke rumah
tetangga (adat jawa: ater-ater atau weh-weh/saling
memberi). Hal ini berdasarkan pada perintah Nabi dalam
kitab Durratu al-Nasihin yang berbunyi:

َ ‫س‬
َ ‫ص‬
َ َ ‫َوقا‬
‫م‬
ُ ‫ن َانـ‬
ِ ‫فل‬
ّ ‫ص‬
ّ ‫لة َوال‬
ْ ُ ‫سك‬
َ َ ‫ )ت‬: ‫لم‬
ّ ‫ل ع َل َي ْهِ ال‬
ْ َ ‫دقوُا ْ ع‬
ُ ِ ‫م وَل َوْ ب‬
‫قد ُِرْوا ع ََلللى‬
ْ ‫م َتل‬
ْ ِ ‫ماٍء َفلا‬
ْ َ‫ن ل‬
َ ِ‫شْربـة‬
ْ ُ ‫وتا َك‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ْ َ ‫وَع‬
ً
َ
َ
َ
َ ِ ‫ٰذل‬
َ ‫وا‬
‫ن‬
ِ ‫شلْيللأ‬
ِ ‫ن‬
ِ ٍ‫ك َفلِبل ٰاي َة‬
ْ ِ ‫ب اللهِ فَا‬
ُ ‫م ت َعْل‬
ْ ‫ن لل‬
ِ ‫كتا‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
‫م‬
َ َ ‫م لة ِ ف‬
ِ ْ‫مغ‬
ِ
ْ ‫فَرةِ َوالّر‬
ْ ‫ق لد ْ وَع َ لد َ ك ُل‬
َ ‫ح‬
َ ْ ‫واِبال‬
ِ َ ‫كتا‬
ْ ُ ‫ب اللهِ َفاد ْع‬
.(‫ة‬
ِ َ ‫جاب‬
َ ِ ‫ب ِا ْل‬
Rasulullah Saw. bersabda: “bersedekahlah kamu sekalian
untuk dirimu sendiri dan untuk ahli quburmu walau hanya
dengan seteguk air, jika kamu sekalian tidak mampu
bersedekah dengan seteguk air maka bersedekahlah
dengan satu ayat dari kitab Allah, jika kamu tidak
mengetahui/tidak mengerti sesuatu dari kitab Allah, maka
berdo’alah dengan memohon ampunan dan mengharap
rahmat Allah, maka sesungguhnya Allah Swt. telah berjanji
akan mengabulkan”. (Durratu al-Nasihin, hal. 95)
Imam Nawawi berpendapat bahwa;

114

َ َ ‫ى ا َن ّهَللا ت‬
َ َ ‫مللاع‬
ُ َ‫صلد َق‬
ُ‫قلع‬
ْ ِ ‫ى َالن ّوَوِىّ ا َل‬
َ ْ ‫ وَقَد‬:‫ة‬
َ ‫ج‬
ّ ‫َال‬
َ ‫علل‬
َ ‫حك‬
َ
َ ‫واٌء‬
‫ن‬
ِ ْ‫ن وَل َلد ٍ أو‬
ِ ‫ت‬
ِ َ ‫ت وَي‬
ِ ّ ‫مي‬
َ ‫ه ث َوَب َُها‬
ْ َ ‫كان‬
ُ ُ ‫صل‬
َ ‫ن ْال‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫م‬
َ ‫س‬
ِ َ‫ع‬
َ ْ ‫مللا ع َل‬
‫ى‬
ْ َ ‫ما َرَواه ُ ا‬
ْ ‫م‬
َ ُ‫م وَغ َي ُْره‬
ٌ ِ ‫س لل‬
ُ َ ‫مد ُ و‬
َ ‫ح‬
َ ‫ ِلل‬. ِ‫غ َي ْرِه‬
ْ ‫ن اِبل ل‬
َ ِ ‫ ا‬:‫ل ِللنل لبى‬
َ ‫ت وَت َلَر‬
‫ك‬
َ ‫هَُري َْر‬
ّ
ُ ‫ن َر‬
ّ ِ ‫ ا‬:‫ة‬
َ ‫مللا‬
َ ‫ي‬
ْ ‫ن أِبل ل‬
ْ ِ ّ َ ‫جل ً قَللا‬
ْ َ‫ص فَه‬
‫ه؟‬
ّ َ ‫ل ي ُك‬
ْ َ‫ه ا‬
ُ ‫صد ّقَ ع َن ْل‬
ُ ‫فـللر ع َن ْل‬
ْ َ ‫ملال ً وَل‬
َ
َ ‫ن َاتـل‬
ِ ْ‫م ي ُو‬
َ ‫َقا‬
.‫م‬
ْ ‫ َنلَعل‬, ‫ى‬
ْ ‫ل الّنـب‬
Sedekah (shadaqah) itu dapat diambil manfaatnya oleh
mayit dan pahalanya pun sampai kepadanya, baik
sedekah dari anaknya (keluarga) maupun selain anak
(orang lain), dan ini sudah menjadi kesepakatan Ulama’,
karena hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam
Muslim dan lainnya. Dari Abi Hurairah ra.: Seorang laki-laki
bertanya kepada Nabi Saw.: Bapak saya telah meninggal,
dia meninggalkan harta dan tidak meninggalkan wasiat.
Apakah dapat menebus dosanya jika aku bersedekah
sebagai gantinya?. Nabi menjawab: Ya, bisa. (Kitab
Peringatan Haul hal. 23-26)

11
5

BAB XI
WAKAF DAN MASJID
Hukum Menjual Barang Wakaf
Sebelum membahas tentang hukum menjual barang wakaf,
perlu kita ketahui pengertian wakaf terlebih dahulu, pengertian
wakaf adalah sebagai berikut:

َ َ‫س و‬
‫ل‬
ْ ّ ‫ل ِللن‬
ً ‫شْر‬
ً َ‫ف ل ُغ‬
ُ َ‫اَل ْوَق‬
َ ‫عا‬
َ ْ ‫ة ا َل‬
َ ‫س‬
ُ ‫حب ْل‬
ُ ْ ‫حب‬
ِ ‫قل‬
ٍ ‫ن َقاب ِل‬
ِ ‫مللا‬
ٍ ‫ل ع َي ْل‬
.‫ه‬
َ َ ‫قاِء ع َي ْن ِهِ ت‬
َ َ ‫معَ ب‬
َ ِ ‫ن اْل ِن ْت‬
ِ ‫قّربا ً ا َِلى الل‬
َ ِ‫فاع ُ ب ِه‬
ْ ُ‫ي‬
ُ ِ ‫مك‬

Wakaf secara bahasa mempunyai arti menahan. Sedangkan
menurut istilah adalah menahan bentuk harta yang dapat
dipindah, diambil manfaatnya serta tetap bentuk barangnya yang
dikerjakan karena Allah Swt.
Barang waqaf haruslah dimanfaatkan sesuai dengan
keinginan waqif (orang yang mewaqafkan), namun terkadang
terjadi kebingungan dalam mengelola barang waqafan yang
sudah rusak atau kurang memberikan manfaat.
Para ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum barang
wakaf, apakah barang wakaf boleh dijual karena sebab-sebab
tertentu dan kemudian hasil penjualan itu dibelanjakan dengan
barang lain?
Dalam masalah ini ada tiga pendapat:
a. Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i: Barang wakaf tidak
boleh dijual.
b. Menurut Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Abu Hanifah:
Boleh menjual barang wakaf dan kemudian membelanjakan
hasil dari penjualannya dengan barang yang semisal atau
barang lain yang lebih bermanfaat.
c. Menurut Imam Muhammad: Barang wakaf tersebut
dikembalikan kepada pemiliknya yang pertama.
Diterangkan dalam kitab Rahmat al-Ummah fi Ikhtilaaf alUmmah, hal 186 dan dalam kitab Jawahir al-‘Uqud juz 1
hal.254.

116

َ
ٌ ‫ص‬
َ ِ‫ه إ‬
‫م ي َُعللد ْ إ َِلللى‬
ُ ‫ف‬
َ ّ ‫ َوات‬:‫ل‬
َ ‫ذا‬
ُ ْ‫ب ال ْوَق‬
َ ِ‫خر‬
ْ َ‫ف ل‬
ُ ّ ‫وا ع ََلى أن‬
ْ ‫َف‬
ْ ‫ق‬
‫ه‬
ُ َ ‫خت َل‬
ْ ‫ما‬
ِ ِ ‫من‬
ِ ِ‫وازِ ب َي ْع‬
ِ
ِ ‫صْر‬
َ ‫ي‬
ِ ِ‫واق‬
ِ ْ ‫مل‬
َ َ‫ف ث‬
ّ ُ ‫ ث‬.‫ف‬
َ َ‫ و‬،‫ه‬
َ ‫ج‬
ْ ِ‫وا ف‬
ْ ‫ف‬
َ ْ ‫ك ال‬
َ
ٌ ‫مال ِل‬
َ ‫قللا‬
ّ ‫ك َوال‬
:‫ي‬
َ َ‫ ف‬.‫دا‬
ِ ِ ‫مث ْل‬
ِ ‫ي‬
ً ‫ج‬
َ ‫ن كا‬
ْ ِ ‫ وَإ‬،‫ه‬
ْ ‫م‬
َ ‫ل‬
ِ ‫س‬
َ ‫ن‬
ّ ِ‫شللافِع‬
ْ ِ‫ف‬
َ
َ َ ‫ َوقلا‬.‫ع‬
‫ه‬
َ ْ ‫ي َب‬
ُ َ ‫قللى ع َل َللى حلا َل ِهِ فَل َ ُيبلا‬
ُ َ ‫ ي‬:‫د‬
ُ ‫مل‬
ْ ‫لأ‬
ُ ‫جلوُْز ب َي ْعُل‬
َ ‫ح‬
َ َ‫ و‬.‫ه‬
َ‫ن ل‬
َ ِ ‫كذل‬
َ ِ ‫جد ِ إ‬
ُ ‫صْر‬
ِ ِ ‫مث ْل‬
ِ ‫ي‬
َ َ ‫ذا كا‬
ْ ‫م‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫ي ال‬
َ َ‫ف ث‬
َ َ‫و‬
ْ ِ‫ك ف‬
ْ ِ‫من ِهِ ف‬
َ
َ
َ
‫ف‬
َ ْ ‫حن ِي‬
ْ ‫ص فِي َْها َوا‬
َ ‫خت َللل‬
َ ‫ف‬
ِ ‫س‬
َ ‫ي‬
َ ‫ي ُْر‬
ُ ُ ‫جى ع َوْد‬
ّ َ‫ة ن‬
َ ْ ‫ وَلي‬.‫ه‬
ْ ِ ‫عن ْد َ أب‬
َ
َ ‫ وَقَللا‬.‫ع‬
َ ‫قا‬
َ َ‫حَباه ُ ف‬
ُ َ ‫ ل َ ُيبا‬:‫ف‬
َ ‫س‬
ِ َ ‫صا‬
ُ ‫ ي َعُلوْد‬:‫د‬
ُ ‫مل‬
َ ‫م‬
ُ ْ‫ل أب ُوْ ي ُو‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫ل‬
(254 ‫ ص‬1 ‫ )جواهر العقود ج‬.‫ل‬
ِ ّ‫إ َِلى ما َل ِك ِهِ ا ْل َو‬
Diterangkan dalam kitab Ahkamul Fuqaha’, juz 2 hal 74;

َ
ْ َ‫ه‬
‫ن‬
‫جوُْز ل ِن َللاظ ِرِ ا ْل َْر‬
ُ َ‫ل ي‬
ْ ‫م‬
ِ ‫سل‬
َ ْ ‫موْقُوْفَ لةِ ع َل َللى ال‬
َ ْ ‫ض ال‬
ِ ‫جد ِ أ‬
ِ
ُ
َ
ُ
َ ِ ‫ست َب ْد‬
‫ن ا ْلوْل َللى‬
َ ْ ‫من‬
ْ ‫ل ل ََها ب ِأ‬
ِ ٍ‫فعَلة‬
ْ َ‫ي‬
َ ‫ي أك ْث َلُر‬
َ ‫مل‬
َ ِ ‫خَرى ال ِّتى ه‬
َ
ْ ُ ‫دا‬
َ ْ‫أ َو‬
‫جوُْز‬
ُ َ ‫موْقُوْفَةِ وَي‬
َ ْ ‫ست ِب‬
ْ َ ‫ ي‬:‫ل؟ الجواب‬
ُ ‫حُر‬
ْ ِ‫م إ‬
َ ْ ‫ض ال‬
ِ ‫ل الْر‬
َ ‫ن‬
‫فًعا إهلل )احكام الفقهاء ج‬
ْ َ ‫ت أ َك ْث ََر ن‬
ِ
ِ َ ‫حن‬
ْ ِ ‫في ّةِ إ‬
َ ْ ‫عن ْد َ ال‬
ْ َ ‫كان‬
(74 ‫ ص‬2
Artinya: Bolehkah bagi pengelola tanah waqafan untuk
masjid, menukar tanah tersebut dengan tanah lain yang
lebih banyak manfa’atnya? Jawab “Haram menukar barang
atau tanah waqaf. Dan menurut madzhab hanafiyah boleh
menjualnya jika lebih banyak manfa’atnya”.

Uang Kotak Amal
Apakah uang hasil dari kotak amal jariyah di masjid-masjid
itu termasuk barang wakaf?
Uang dari hasil kotak amal bukan termasuk barang wakaf,
karena uang tersebut tidak termasuk dalam kategori barang yang
boleh diwakafkan, yakni tidak Baqa’ul ‘Ain (habis setelah

11
7

dibelanjakan), juga tanpa adanya sighat wakaf. Sebagaimana
keterangan sebagai berikut ini:

َ
َ ِ‫جائ ٌِز ب ِث ََلث َة‬
‫جائ ٌِز‬
ُ ْ‫خ ا َل ْوَق‬
ُ ْ‫وَال ْوَق‬
َ ‫ف‬
َ ‫ف‬
َ ّ ‫ض الن‬
ِ ‫س‬
ِ ْ‫شَرائ ِط وَِفى ب َع‬
ُ ‫ة‬
َ َ ‫مللا ي ُن ْت‬
ُ ْ‫موْقُو‬
َ ُ ‫حد‬
ُ َ ‫ه ث ََلث‬
ِ‫ف لعُ ب ِله‬
ِ ‫ف‬
ٍ ْ‫شُرو‬
َ ْ‫ن ي َك ُو‬
ْ َ ‫ها ا‬
َ َ‫ط ا‬
ّ ‫م‬
َ ْ ‫ن ال‬
ُ َ ‫وَل‬
( 42 ‫ ص‬2 ‫ء ع َي ْن ِهِ )فتح القريب هامش الباجورى ج‬
ِ ‫قا‬
َ َ ‫معَ ب‬
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ
‫ن‬
ِ ‫ب‬
َ ‫ص لي ْغَةِ كللا‬
ْ ِ ‫ل ال‬
ْ ‫ملك ِل‬
ْ ِ ‫وَا‬
َ ‫ن‬
ّ ‫ن غ َي ْلرِ ال‬
ِ ‫وا‬
ْ ‫مل‬
َ ‫ج اوِ الث ّل‬
ِ ‫ج‬
ِ ‫حت َِيا‬
ْ ‫ق‬
(144 ‫ ص‬3 ‫ط )اعانة الطالبين ج‬
َ َ‫ة ف‬
ً َ‫صد َق‬
َ
َ ِ ‫معَي َّنللةِ ب‬
ُ ْ ‫ل ال‬
َ ْ ‫مللَراد ُ ِبال‬
ُ ْ ‫َوال‬
ِ ‫مللا‬
ِ ‫ى غ َْيللُر الللد َّراه ِم‬
ْ ‫شللْرط َِها ال ِّتلل‬
َ ْ ‫صلْرفَِها فََلي َب‬
ٌ‫جلوْد َة‬
ُ ْ‫مو‬
ُ ِ ‫َوالد َّنان ِي ْرِ ِل َن َّها ت َن ْعَلد‬
َ ‫ن‬
َ ِ‫م ب‬
ٌ ‫قللى ل َهَللا ع َي ْل‬
( 157 ‫ ص‬3 ‫) اعانة الطالبين ج‬
Kewenangan Takmir
Takmir adalah orang yang mengabdikan dirinya untuk
merawat masjid dan melayani kebutuhan orang yang ada
kaitannya dengan fasilitas masjid demi kenyamanan para jama’ah
dalam melaksanakan ibadah, sehingga dibutuhkan tenaga takmir
secara rutin untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
diperlukan dalam masjid, maka dari itu sudah layak kalau takmir
masjid mendapatkan bisyarah dari kinerjanya tersebut.
Bagaimana hukum takmir masjid yang mengeluarkan uang masjid
untuk kepentingan bisyarah ta’mir atau nadhir?
Jawaban permasalahan ini ditafsil sebagai berikut:
a. Tidak boleh, jika tidak mendapat izin dari hakim atau
masyarakat.

َ ّ ‫وا َل ّذي يظ ْهر أ َنه َل يجوز للناظر أ َن يستق‬
‫خذ ِ مللا‬
ْ ‫ل ب ِأ‬
ِ َ ْ َ ْ ِ ِ ّ ِ ُ ُ َ
ُ ّ ُ َ َ ِ َ
َ ِ‫شر‬
ُ
‫ه‬
ُ َ‫ط ل‬
( 278 ‫ ص‬3 ‫) الفتوى الكبرى الفقهية ج‬

b. Boleh, jika jumlahnya di bawah upah minimum/shadaqah.
118

َ ِ ‫ذال‬
ُ ‫قَل‬
َ ‫ل ب ِل‬
‫ر‬
ْ ِ ‫سلت‬
‫ن ال‬
‫وَا َْفت‬
ِ ‫ك‬
ْ ‫ى اب‬
ْ ِ ‫ه ا َْل‬
ُ ّ ‫صبا َِغ ب ِا َن‬
ّ
ْ ‫مل‬
ُ
ِ ‫ن غ َي ْل‬
َ
َ
َ ِ ‫ذال‬
ّ ‫خلذ ِ اْل ََقل‬
ُ ‫قَل‬
َ ‫ل ِبل‬
‫ل‬
ْ ِ ‫سلت‬
ْ ‫ك ( ا َىْ ب ِأ‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ِ ‫ه ا َْل‬
ُ ُ ‫حاك ِم ِ ) قَوْل‬
‫ ص‬3 ‫مث ْل ِلهِ ) اعانللة الطللالبين ج‬
َ ‫ف‬
َ َ‫ن ن‬
ِ ِ‫جلَرة‬
ِ
ْ ُ ‫قلةٍ وَا‬
ْ ‫م‬
(186
Uang Masjid Untuk Bisyarah Khatib Shalat Jum’at
Bagaimana hukum membelanjakan uang dari kotak amal
jariyah masjid untuk kebutuhan finansial, (misal, untuk bisyaroh
khatib).
Boleh mengalokasikan sebagian hasil kotak amal jariyah
masjid untuk orang yang berkhotbah (khatib) yang bersangkutan,
karena hal ini termasuk membelanjakan untuk kepentingan
masjid, seperti membeli lampu, membayar biaya listrik, pengeras
suara, dan lain sebagainya.

َ ‫)م‬
َ
‫ي‬
َ ْ ‫س ِللّناظ ِرِ ال َْعام ِ وَهُوَ ال‬
ٌ َ ‫سأل‬
ِ ‫قا‬
ْ َ
َ ْ ‫ ل َي‬: (‫ ي‬: ‫ة‬
ّ ِ ‫وال‬
َ ‫ي أوِ ْال ل‬
ّ ‫ضل‬
َ
َ
َ
ْ
ْ
‫ر‬
ُ ُ‫معَ و‬
ِ ‫مرِ الوَْقا‬
َ ‫م‬
َ ِ ‫جد‬
ِ ‫سا‬
َ ‫ل ال‬
ْ ‫ف وَأ‬
ْ ‫يأ‬
ِ ‫وا‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫الن ّظ ِرِ ف‬
ِ ِ ‫جوْد ِ الّنللاظ‬
َ
‫ه‬
َ ْ ‫ال‬
ِ َ‫ ف‬، ‫ل‬
ّ ‫مت َأ‬
ْ َ ‫مللا ي‬
ُ َ ‫س وَي ُْبللذ ِل ُوْن‬
ُ ‫مُعلل‬
َ ‫ج‬
َ َ‫حي ْن َئ ِذ ٍ ف‬
ُ ْ ‫ص ال‬
ُ ‫ه الّنللا‬
ّ ‫خللا‬
ِ ‫هلل‬
َ
‫ن ب ِي َلد ِ الن ّللاظ ِرِ أ َْو‬
ْ ‫م‬
ِ ْ‫قب ُو‬
ْ َ ‫ل ِِعما ََرت َِها ب ِن‬
َ ٍ‫صد َقَة‬
َ َ‫حوِ ن َذ َرٍ أوْ ه ِب َةٍ و‬
َ ْ ‫ضي‬
َ ِ‫وَك ِي ْل ِه‬
، ُ ‫جد‬
ِ ‫سا‬
ْ ‫م‬
ّ ‫كال‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ُ ‫مل ِك‬
ْ َ ‫ن الّناظ ِرِ ي‬
َ ِ‫عي ِفي ال ْع‬
ِ ْ ‫ماَرةِ ب ِإ ِذ‬
‫ة‬
ِ ‫شللَراِء ْالَللل‬
ِ َ‫مللاَرة َ ِبال َْهللد ْم ِ َوال ْب َِنللاِء و‬
َ ِ‫وَي َُتللوَّلى الّنللاظ ُِر ا َل ْع‬
( 65 ‫ )بغية المسترشدين ص‬، ِ‫جار‬
َ ْ ‫ست ِئ‬
ْ ِ ‫وَا ْل‬
Menghiasi Masjid
Seringkali kita menemukan hiasan-hiasan di dinding masjid
seperti hiasan yang berbentuk kaligrafi yang sengaja dibuat atau
ditempel untuk menghias dan menambah keindahan masjid, akan
tetapi sangat disayangkan terkadang dalam kondisi shalat mata
kita tanpa sengaja terpesona melihat hiasan tersebut sehingga
membuat konsentrasi pikiran dan kekhusyukan hati menjadi

11
9

terganggu. Dari fenomena tersebut, bagaimanakah hukum
menghiasi masjid?
a. Makruh, apabila hiasan tersebut dapat mengganggu
kekhusyukan orang yang shalat.
b. Boleh, apabila hiasan tersebut tidak mengganggu
kekhusyukan orang yang shalat. Keterangan kitab alMajmu’ juz 3 hal. 180:

َ ْ ِ‫ه ل‬
ُ ‫ق‬
‫ث‬
ْ َ ‫جد ِ وَن‬
ْ ‫وَي ُك ْلَره ُ ُز‬
ُ ‫خرِقَ ل‬
ِ ْ ‫لح لا َد ِي‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ه وَت َزِي ْن ُل‬
ُ ‫شل‬
ِ ‫سل‬
َ ْ ‫ة ال‬
َ
ُ ِ‫شت َغ‬
ْ َ ‫ه ل َت‬
ْ ‫م‬
‫س اهلل‬
َ ‫ل قَل ْل‬
ُ ْ ‫ب ال‬
ُ ّ ‫شهُوَْرةِ وَِلن‬
َ ْ ‫ال‬
ُ ‫صلّلى َالن ّللا‬
َ ‫م‬
( 180 ‫ ص‬3 ‫) المجموع شرح المهذب جز‬
Menghiasi masjid hukumnya makruh, karena bisa
mengganggu ketenangan orang shalat. (al-Majmu’ Syarah
al-Muhadzab, juz III, hal. 180)

Hukum boleh dalam masalah ini, diambil dari mafhum
mukhalafah dalil di atas yaitu: Apabila hiasan untuk masjid tidak
mengganggu orang yang shalat maka hukum menghiasi masjid
adalah boleh.
Hukum Makan di Dalam Masjid
Di kalangan warga nahdliyin berkembang beberapa budaya
yang sering dilakukan, seperti halnya selamatan, tasyakuran
dalam rangka memperingati maulid nabi Muhammad Saw.
(mauludan) dan acara-acara yang lain. Dalam hal ini masjid sering
dipilih sebagai tempat untuk melaksanakan acara tersebut,
sehingga setelah acara selesai, para jama’ah menyajikan
makanan dan minuman lalu mereka menyantapnya di dalam
masjid. Bagaimanakah hukum makan dan minum di dalam
masjid?
a.
Tidak boleh, apabila berkeyakinan atau mempunyai
perkiraan akan mengotori masjid.
b.
Boleh, dengan syarat tidak sampai mengotori masjid.
120

ّ
َ ْ
ُ ّ ‫ضي‬
ُ ْ‫جد ِ اْلبا َد ِي َةِ ي َك ُلو‬
َ ّ ‫وَالت‬
ْ ‫م‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫ف ِفى ال‬
ِ ‫ن ب ِا ِطع لام ِ الطعَللام‬
ّ
ّ َ ‫قذ ًّرا‬
َ ‫ن‬
َ ‫ف‬
ّ ‫ح وَا ِل‬
َ ‫م‬
ِ ‫الّنا‬
َ ‫كا‬
ْ ِ ‫مرِ ل َ ا‬
ِ ‫ش‬
ُ ‫ن‬
ْ ّ ‫كالت‬
ِ ْ ‫ح َوالب ِطي‬
ِ ْ ‫كالطب‬
ْ
ُ ‫جعَل‬
‫ب‬
ْ ‫س‬
ُ ‫حي ْل‬
ُ ‫ث ي َغْل ِل‬
َ ِ ‫ت ال ِن َللاِء ب‬
ْ َ‫ل ت‬
ْ ُ ‫فَرةٍ ت‬
ْ َ ‫م ا ِل ّ ب ِن‬
َ
َ ‫حُر‬
ُ ِ ‫حو‬
َ ‫حل‬
َ
ّ
ّ
َ
‫م‬
َ ‫م‬
ُ َ‫ه ي‬
ْ ّ ‫م الت‬
َ ‫قللا‬
ُ ْ ‫ق لو‬
ُ َ ‫ن ع َ لد‬
َ ‫م‬
ُ ‫ق لذ ِي ْرِ َفالظللاه ُِر ان ّل‬
ّ ‫ع َلى الظ ل‬
‫ف )فتللاوى العلمللة الشلليخ حسللين ابراهيللم‬
ِ ‫الّنا‬
ِ ‫شلل‬
( ‫المقري فى فصل أحكام المساجد‬
Penjamuan dalam masjid di pedesaan dengan menyuguhkan
makanan kering seperti kurma hukumnya boleh, dan
diharamkan jika bisa mengotori masjid seperti makanan
basah semisal semangka, kecuali jika menggunakan alas
(bejana) yang sekiranya kuat dugaan tidak akan mengotori
masjid. Dalam hal ini sama dengan makanan yang kering
(hukumnya boleh). (Fatawi al-Allamah al-Syaikh Husain
Ibrahim al-Muqarri dalam Fasal Ahkami al-Masajidi)

12
1

BAB XII
ZAKAT
Pengertian Zakat
Zakat adalah mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan
pada yang berhak menerima zakat. Dalam literatur fiqih pada bab
zakat para ulama’ madzhab sepakat bahwa golongan orang-orang
yang berhak menerima zakat ada delapan, antara lain:
1. Fakir, yaitu orang yang selalu tidak mampu memenuhi
kebutuhan makan dalam sehari.
2. Miskin, yaitu orang yang kurang bisa memenuhi kebutuhan,
tetapi masih bisa mengusahakan.
3. Amil, yaitu orang yang diberi tugas untuk mengelola zakat.
4. Mu’alaf, yaitu orang yang baru masuk Islam.
5. Budak, yang melakukan penebusan dirinya untuk merdeka.
6. Ghorim, yaitu orang yang terbebani banyak hutang
melebihi jumlah hartanya.
7. Sabilillah, yaitu orang yang berperang di jalan Allah,
meskipun kaya.
8. Ibnu Sabil, yaitu orang yang kehabisan bekal selama dalam
perjalanan dengan tujuan baik.
Hal ini diterangkan dalam kitab Tanwir al-Qulub halaman
226.
Tujuan Zakat
Zakat disamping sebagai rukun Islam yang ke tiga juga
merupakan ibadah malliyah (yang berhubungan dengan harta).
Serta dapat dijadikan sebagai jalan seorang hamba untuk
mendekatkan dirinya kepada sang khalik. Sebagaimana
dijelaskan dalam kitab Fiqih Wadlhih;

ْ
ّ ‫جل‬
َ ِ ‫ل ف َ لإ‬
‫ذا‬
َ َ ‫ة ي َت‬
ٌ َ ‫مال ِي‬
ِ ُ ‫َالّزكا َة‬
ِ ِ ‫ى خا َل‬
َ َ‫قهِ ع َّز و‬
َ ٌ ‫عبا َد َة‬
َ ‫قّرب َُها العَب ْد ُ ِال‬
‫مب ْت َغِي ّللا‬
ْ َ ‫ة ب ِهَللا ن‬
ً َ ‫ضي‬
ِ ‫ص‬
ً َ ‫مل‬
َ ‫دا‬
ِ ‫ح َرا‬
ِ َ ‫ها كا‬
ُ ْ ‫حي‬
ْ َ‫ة ع ََلى و‬
َ َ‫ا‬
ُ ‫ف‬
ُ ‫س لَها‬
ّ ‫جهَِها ال‬
‫ه‬
ِ ِ ‫جات‬
َ َ ‫سَببا ً ِفى ن‬
َ َ ‫س كا‬
ْ َ‫ب َِها و‬
َ ‫ن‬
ُ ‫ه َرب ّهِ ت ََعاَلى غ َي َْر‬
َ ‫ج‬
َ ‫مَراٍء ب َِها الّنا‬

122

َ ‫ة‬
َ ‫عل‬
‫ت‬
ُ ُ ‫ب الّنلارِ وَد‬
َ ‫ن‬
َ ‫جن ّل‬
ِ
َ ‫صلَر‬
َ ْ ‫خلوْل ِهِ ال‬
ُ ‫ت ب ِهَللا ا ْل َي َللا‬
ْ ‫ح‬
َ َ ‫كملا‬
ِ ‫ذا‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫ة وَا‬
‫ ) الفقلله الواضللح مللن الكتللاب‬.‫ة‬
ُ ‫ْال‬
ُ ‫ث الن ّب َوِي ّل‬
ُ ْ ‫لحا َد ِي‬
ُ ّ ‫قْرا َن ِي‬
(464 ‫ ص‬1 ‫ ج‬,‫والسنة‬
Zakat merupakan ibadah malliyah yang dapat dijadikan oleh
seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada sang khalik azza
wajalla. Jika seorang hamba menunaikannya dengan sempurna,
sesuai dengan aturan yang benar, ikhlas dan hanya mencari ridla
Allah Swt., tidak ada maksud ingin dipuji orang, maka akan
menjadi sebab terbebasnya dari adzab api neraka, dan masuk ke
dalam surga, sebagaimana telah ditegaskan ayat al-Qur’an dan
hadits Nabi. (Al-Fiqih al-Wadlhih Min al-Kitab Waa al-Sunnah , juz
I, hal.464)
Dan juga dijelaskan dalam hadits Sahih Bukhari;

َ
ِ‫ه ع َل َي ْله‬
ِ ‫س َر‬
ّ ‫ما أ‬
ُ ‫صّلى اللل‬
َ ُ‫ه ع َن ْه‬
ُ ‫ى الل‬
َ ‫ي‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫ض‬
ٍ ‫ن ع َّبا‬
ِ ْ ‫ن ا ِب‬
َ ‫م َقا‬
‫م‬
ِ ‫ل‬
َ ‫ن‬
َ َ‫و‬
ْ ُ ‫مه‬
ْ َ ‫ َفاع ْل‬: ‫ن‬
َ َ ‫ه إ َِلى ْالي‬
ُ َ ‫ما َ ب َعَث‬
َ ‫حْين‬
ُ ِ‫ل ل‬
َ ّ ‫سل‬
ٍ َ ‫جب‬
ِ ‫م‬
ِ ْ ‫مَعاذ ِ ب‬
َ
َ
َ
َ
َ
‫م فَت َُرد ّ ع َلى‬
َ ْ ‫ة ت ُؤ‬
ً َ‫صد َق‬
ِ ُ ‫خذ‬
ّ ‫أ‬
ْ ِ‫ن اغ ِْنيائ ِه‬
ْ ِ‫ض ع َلي ْه‬
َ ‫ن الل‬
َ ‫م‬
َ ‫ه ا ِفْت ََر‬
ْ ‫م‬
(1308 ‫ )صحيح البخاري رقم‬.‫م‬
َ ُ‫ف‬
ْ ِ‫قَرائ ِه‬
Diriwayatkan dari Ibnu Abas bahwa Nabi bersabda kepada
Mua’adz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman (Wahai Mu’adz)
beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Swt. mewajibkan
kepada mereka untuk mengeluarkan zakat yang diambil dari
orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orangorang fakir diantara mereka. (Sahih Bukhari,[1308])
Dengan demikian dapat kita pahami bahwa zakat adalah
sebagai sarana untuk membangun hubungan rohani dengan Allah
Swt. (hablun min Allah) dan juga terdapat aspek sosial (hablun
min an-nas) yang terletak pada semangat kepedulian sosial yang

12
3

menjadi misi utama ibadah ini, yakni zakat diwajibkan kepada
orang-orang yang memiliki harta lebih dan diperuntukkan bagi
orang-orang yang membutuhkan.

Pembagian Zakat
Zakat ada dua macam:
1.
Zakat mal (zakat harta)
2.
Zakat fitrah
Jenis barang yang wajib dikeluarkan zakatnya ada 5 macam:
1. Hewan ternak, seperti kambing, sapi, unta
2. Emas dan perak
3. Hasil pertanian, seperti padi, kedelai, kacang dan
lain lain
4. Hasil pertanian, Seperti jenis buah-buahan
5. Harta yang diperdagangkan.
Zakat Fitrah
Syarat wajib zakat fitrah:
1. Islam.
2. Merdeka.
3. Memiliki kelebihan biaya untuk dirinya beserta
keluarganya dan dari biaya pembayaran hutang, diwaktu
hari raya.
Diterangkan dalam kitab Nihayah al-Zain halaman 173.

‫ن‬
ِ ْ ‫ب ال‬
ُ ‫فط ْلَرة ُ ع َل َللى‬
ُ ‫ج‬
ّ َ ‫ب ل َي ْل َلةِ فِط ْلرٍ ع‬
ِ َ ‫) وَت‬
ِ ْ‫حلّر ب ِغُلُرو‬
ْ ‫مل‬
َ ‫ض‬
‫ه‬
َ ‫ف‬
َ َ‫ه ن‬
ً ّ ‫جعِي‬
ِ ْ‫ن قُو‬
َ َ‫ن ف‬
ْ ِ‫ة إ‬
ْ ‫ه وَل َوْ َر‬
ُ ‫ن ( َللل‬
ُ ‫م‬
َ ‫ت‬
ُ ُ ‫قت‬
ُ ‫م‬
ُ ‫ت َل َْز‬
ٍ ْ ‫مو‬
ْ َ‫ل ع‬
‫جرٍ ت َب َعًللا‬
ِ ‫م‬
َ ‫ح‬
َ ‫ن‬
َ ْ‫) ي َو‬
َ َ ‫ما اع ْت‬
َ َ‫ن ( ك‬
ُ ْ ‫مد َه ُ ا ِب‬
ْ َ ‫عي ْد ٍ وَل َي ْل َت ِهِ وَع‬
ٍ ْ ‫ن د َي‬
‫ب‬
َ َ ‫ماوَْرد ِيّ ك‬
ِ َ ‫ن ْالد‬
َ ْ ‫جو‬
ُ ُ‫من َعُ و‬
َ ْ ‫مام ِ ال‬
ْ َ‫ي ي‬
َ ‫حَر‬
َ ِ‫ل إ‬
َ ْ ‫ل ِل‬
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫ن د َي‬
ِ ْ ‫قو‬
ِ ْ ‫مي‬
َ
‫ نهاية‬. ِ‫فط َْرة‬
َ ّ ‫فط َْرةِ ِباْل ِت‬
ْ ُ ‫ما ي‬
ِ ْ ‫ه فِي َْها ( أيْ ا َل‬
ِ ْ ‫ال‬
ُ ِ‫خر‬
ُ ‫ج‬
َ َ‫ق ) و‬
ِ ‫فا‬
173 ‫الزين ص‬
124

Adapun barang yang digunakan untuk berzakat adalah
berupa makanan pokok di daerah masing-masing, misalnya
beras, gandum, sagu dan lain sebagainya. Ukuran barang
yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah 1 sha’ (4 mud)
atau 2,5 kg atau lebih.

َ ُ ‫ع( وهُو أ َربعل‬
ِ ْ ‫ي( ا َىْ َزكا َة ُ ال‬
ّ ‫ملد‬
َ ‫مل‬
َ َ ْ َ َ ً ‫صا‬
ُ ْ ‫داد ٍ َوال‬
ْ ‫ةأ‬
َ ) ِ‫فط ْر‬
َ ِ ‫)وَه‬
َ
ٌ ْ ‫رِط‬
ٌ ُ ‫ل وَث ُل‬
ٍ ّ‫ب قُوّت ِهِ أوْ قُو‬
ِ ُ‫جزِئ‬
ّ ‫ملؤ َد‬
ْ ُ ‫ث فَل َ ت‬
ُ ‫ت‬
ِ ِ ‫ن غ َي ْرِ غا َل‬
ْ ‫م‬
َ ِ ‫س ل ِذ َل‬
َ َ ‫أ َوْ ب َل َد ِهِ ل ِت‬
(50 : ‫ك )فتح المعين‬
ُ ّ ‫ف الن‬
ِ ّ‫شو‬
ِ ْ ‫فو‬
ّ ‫ب ال‬
‫ن‬
َ َ ‫س ل َي ْل‬
ِ ‫ب َزكا َة ُ ْال‬
ُ ‫ج‬
َ ‫ة ْالعِي ْد ِ ع ََلى‬
ْ ‫ش‬
ِ ‫ُت‬
ِ ْ‫فط ْرِ ب ِغُُرو‬
ْ ‫ملل‬
ِ ‫م‬
َ
َ
ْ ِ ‫م لد ّ ر‬
َ ‫مَللل‬
ٌ ‫طلل‬
‫ث‬
ً ‫صللا‬
ٌ ‫ل وَث ُُللل‬
ُ ‫هللوَ أْرب َعَلل‬
ُ َ‫ و‬- ‫عا‬
َ ‫مل‬
ُ ْ ‫داد ٍ َوال‬
ْ ‫ةأ‬
َ
َ ‫ك‬
( 73 ‫ ص‬1 ‫) التذكرة الباب فصل زكاة الفطر الجوء‬
Pengertian Sabilillah dalam Zakat
Termasuk al-Ashnaf al-Tsamaniyah (delapan golongan yang
berhak menerima zakat) yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah
golongan Fii sabilillah. Apakah yang dimaksud Fii sabilillah dalam
ayat itu?
Mengenahi permasalahan ini ada beberapa pandangan;
a. Mereka yang berperang membela agama Allah.
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir al-Jalalain hal.
420

‫ي لَء‬
َ ْ ‫ه( أ َيْ ا َل‬
ِ ِ ‫جَهاد‬
ِ ِ ‫قائ‬
ِ ‫ل الل‬
َ ‫ى‬
ّ ‫م‬
ِ ْ ‫ن با ِل‬
ْ َ‫ن ل َ ف‬
ْ ‫مل‬
َ ْ ‫مي‬
ِ ْ ‫سب ِي‬
ْ ِ‫)وَف‬
‫م وَل َوْ أ َغ ْن َِياَء‬
ْ ُ‫ل َه‬
( 162 ‫ ص‬60 ‫ سورة التوبة اية‬,‫)تفسير الجللين‬
Fisabilillah artinya adalah orang-orang yang melaksanakan
jihad/berperang (peperangan membela agama Allah. Yakni
orang-orang yang tidak mendapatkan harta fai’ (harta

12
5

yang diperoleh dari rampasan perang) meskipun tergolong
kaya-raya. (Tafsir al-Jalalain hal.162)
b. Menurut ulama’ ahli fiqih yang dikutip oleh Imam Qoffal,
yang dimaksud sabilillah adalah mencakup kepada semua
bentuk kebaikan. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab
Tafsir al-Munir juz I, hal.44

َ ‫قهللاِء أ َنهل‬
ُ ‫فا‬
َ ‫ق‬
‫ف‬
ُ ْ ‫ض ال‬
ّ ‫ق‬
َ ْ ‫ل ال‬
َ َ ‫وَن‬
َ ‫صلْر‬
ْ ُّ
َ ‫م أجلا َُزْوا‬
َ َ ‫ف‬
ْ َ‫ل ع‬
ِ ْ‫ن ب َع‬
‫ى‬
َ ْ ‫جوْهِ ال‬
ِ ْ ‫ن ت َك‬
ِ : ِ‫خي ْر‬
ِ ‫ج‬
ِ َ ‫دقا‬
ُ ُ‫مي ِْع و‬
َ ‫ت إ َِلى‬
َ ‫ص‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫ال‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ‫وت‬
ِ ْ ‫في‬
ََ
‫ى‬
ِ َ‫ن و‬
ّ َ ‫جد ِ ِل‬
ُ ْ ‫وَِبنا َِء ال‬
ْ ‫م‬
ُ ُ ‫ن قَوْل‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫ماَرة َ ال‬
َ ‫ع‬
ُ ‫ح‬
ِ ْ ‫صو‬
ْ ‫ه َتعالى ِفلل‬
ّ ‫م ِفى ْالك ُل‬
‫ ص‬1 ‫ ج‬: ‫ )تفسلير المنيللر‬.‫ل‬
ٌ َ ‫ل اللهِ عا‬
َ
ِ ْ ‫سب ِي‬
(344
Menurut sebagian ulama’ ahli Fiqih yang dikutip oleh alQoffal bahwa sesungguhnya mereka itu memperbolehkan
pentasarufan zakat untuk semua bentuk kebaikan, seperti
untuk mengkafani mayit, membangun benteng dan
memperbaiki masjid, karena firman Allah Swt. Fii sabilillah
itu umum bisa mencakup semuanya. (Tafsir al-Munir, juz I,
hal.344)

Zakat Fitrah untuk Guru Ngaji dan Kyai
Tradisi di kampung biasanya zakat masyarakat sekitar
diberikan kepada kyai dan guru ngaji. Bagaimana hukumnya?
Sebagaimana dijelaskan bahwa yang berhak menerima zakat
hanya terbatas pada delapan golongan saja, sementara yang lain
tidak boleh menerimanya. Dalam hal ini terdapat perincian:
a. Tidak boleh menerima zakat apabila tergolong orang yang
mampu.
b. Boleh menerima zakat bagi guru ngaji yang tidak mampu
dikarenakan waktunya dihabiskan untuk mengajarkan
ilmunya, sebagaimana diterangkan dalam kitab I’anah alThalibin, juz II, hal. 189.
126

َ
َ َ ‫مللا ت‬
ْ ‫ف‬
َ ‫من َلعُ ْال‬
ِ ‫ق لَر‬
ُ‫من َلع‬
ّ ‫م(أ‬
َ ّ ‫ق لد‬
ْ َ‫م ل َ ي‬
ّ ‫م‬
ْ َ ‫ن م لا َ ل َ ي‬
ْ ‫) َواع ْل َل‬
َ َ ‫ال ْمسكن‬
‫مللا‬
ِ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
َِ ْ ِ
َ ُ‫من َعُه‬
ْ َ ‫مللا ل َ ي‬
ّ ‫م‬
ُ ْ ‫مّر َالت ّن ْب ِي‬
َ ‫ما‬
َ َ ‫ة أْيضا ً ك‬
َ‫ق لرآن أو‬
ْ
ُ
َ
ْ ِ ‫أ َْيضا ً ا‬
ْ ‫ح‬
ِ ِ‫ه ب‬
ِ ‫فل‬
ِ ‫ح‬
ْ َ‫ب ي‬
ْ َ‫ن ك‬
ُ ُ ‫س لن‬
ُ ‫شِتغال‬
ٍ ‫سل‬
ْ ِ ْ ُ ‫ظ ال‬
ْ ‫ه ع َل‬
َ
َ
َ ِ ‫ة ل ِلذ َل‬
‫ك‬
ْ ّ ‫قهِ أ َوْ ِبالت‬
ْ ‫ف‬
ٌ ‫ن آل َل‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
ِ ‫ف‬
ِ ْ ‫ِبال‬
َ َ ‫ث أوْ م لا َ ك لا‬
َ ْ ‫سي ْرِ أوِ ال‬
َ
َ ْ‫ك فَي ُع‬
َ ِ ‫ه ذ َل‬
َ َ ‫طى ل ِي َت‬
ِ ‫ح‬
ِ ‫ن ي ُت َأّتى‬
ْ َ ‫فّرغ َ ل ِت‬
َ َ ‫َوكا‬
ُ ُ‫صي ْل ِهِ ل ِع‬
ُ ْ ‫من‬
ِ ‫موْم‬
2 ‫ج‬,‫ة )اعانة الطالبين‬
َ ِ‫ض ك‬
ْ َ‫ن‬
ٍ َ ‫فاي‬
ُ ‫فعِهِ وَت َعْد ِي ْهِ وَك َوْن ِهِ فَْر‬
(189 ‫ص‬
Termasuk sesuatu yang tidak mencegah keduanya (status
fakir dan miskin) adalah seseorang yang meninggalkan
pekerjaan yang dapat memperbaiki ekonominya karena
waktunya hanya tersita untuk menghafal al-Qur’an,
memperdalam ilmu fiqih, tafsir atau hadits, atau ia sibuk
melaksanakan sesuatu yang menjadi wasilah tercapainya
ilmu tersebut. Maka orang-orang tersebut dapat diberi
zakat, agar mereka dapat melaksanakan usahanya itu
secara optimal. Sebab manfaatnya akan dirasakan serta
mengena kepada masyarakat umum, disamping itu
perbuatan itu juga merupakan fardhu kifayah. (I’anah alThalibin, juz II, hal. 189)
c. Boleh menerima zakat meskipun kaya raya, karena guru
ngaji atau kyai adalah termasuk orang yang berjuang di
jalan kebaikan, maka termasuk kriteria Fii sabilillah,
sebagaimana pendapat sebagian ulama’ Fiqih.

َ ‫قهللاِء أ َنهل‬
ُ ‫فا‬
َ ‫ق‬
‫ف‬
ُ ْ ‫ض ال‬
ّ ‫ق‬
َ ْ ‫ل ال‬
َ َ ‫وَن‬
َ ‫صلْر‬
ْ ُّ
َ ‫م أجلا َُزْوا‬
َ َ ‫ف‬
ْ َ‫ل ع‬
ِ ْ‫ن ب َع‬
‫ى‬
َ ْ ‫جوْهِ ال‬
ِ ْ ‫ن ت َك‬
ِ : ِ‫خي ْر‬
ِ ‫ج‬
ِ َ ‫دقا‬
ُ ُ‫مي ِْع و‬
َ ‫ت إ َِلى‬
َ ‫ص‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫ال‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ‫وت‬
ِ ْ ‫في‬
َ
ََ
‫ى‬
ِ َ‫ن و‬
ّ ‫جد ِ ِل‬
ُ ْ ‫وَِبنا َِء ال‬
ْ ‫م‬
ُ ُ ‫ن قَوْل‬
ِ ‫س‬
َ ْ ‫ماَرة َ ال‬
َ ‫ع‬
ُ ‫ح‬
ِ ْ ‫صو‬
ْ ‫ه َتعالى ِفلل‬

12
7

ّ ‫م ِفى ْالك ُل‬
‫ ص‬1 ‫ ج‬: ‫ )تفسلير المنيللر‬.‫ل‬
ٌ َ ‫ل اللهِ عا‬
َ
ِ ْ ‫سب ِي‬
(344
Menurut sebagian ulama’ ahli Fiqih yang dikutip oleh alQoffal bahwa sesungguhnya mereka itu memperbolehkan
pentasarufan zakat untuk semua bentuk kebaikan, seperti
untuk mengkafani mayit, membangun benteng dan
memperbaiki masjid, karena firman Allah Swt. Fii sabilillah
itu umum bisa mencakup semuanya. (Tafsir al-Munir, juz I,
hal.344)
Zakat Diberikan Kepada Santri
Golongan yang berhak menerima harta zakat sebanyak
delapan macam golongan diantaranya adalah fii sabilillah, artinya
berjuang di jalan Allah Swt. Dari pemahaman ini bolehkah para
santri menerima zakat?
Ada perbedaan pandangan di kalangan ulama’ mengenai hal
ini, sebagaimana berikut:
a. Menurut Jumhur Ulama’: Santri tidak boleh menerima zakat
kalau atas nama Fii sabilillah.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Hasyi’ah alShawi

َ‫ي لء‬
َ ْ ‫ل اللهِ أ َيّ ال‬
ِ ِ ‫جَهاد‬
ِ ِ ‫قائ‬
َ ‫ى‬
ّ ‫م‬
ِ ْ ‫ن با ِل‬
ْ َ‫ن ل َ ف‬
ْ ‫مل‬
َ ْ ‫مي‬
ِ ْ ‫سب ِي‬
ْ ِ‫) وَف‬
َ
ْ َ ‫م وَل َوْ ا َغ ْن َِياَء ( وَ ي‬
‫ح وَ د َْرٍع‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫ه‬
ِ ْ‫شت َرِى‬
ُ َ ‫مْنها َ أل َت‬
ْ ُ‫ل َه‬
ْ ‫م‬
ٍ َ ‫سلل‬
‫ج‬,‫ ) حاشية الصاوى على تفسللير الجلليللن‬. ‫س‬
ٍ ‫وَ فََر‬
( 53 ‫ ص‬2
Dan (Zakat juga diberikan) kepada orang-orang yang
menegakkan agama Allah Swt. yakni mereka yang
melaksanakan perang di jalan Allah Swt. yaitu orang-orang
yang tidak mendapatkan harta fai’ (rampasan perang)
meskipun tergolong kaya raya. Dan zakat itu digunakan
untuk membeli peralatan perang, seperti: persenjataan,

128

perisai dan kuda. (Hasyiah al-Shawi’ Ala Tafsir al-Jalalain,
hal. 53)
b. Menurut Imam Malik: Santri boleh menerima zakat.
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Shawi:

َ
‫م‬
َ ‫ن ط َل َب َل‬
ّ ‫كأ‬
ٍ ‫ب ما َل ِل‬
ُ َ‫مذ ْه‬
ْ ‫ن فِي ْلهِ ل َهُل‬
ُ ْ ‫ة ال ْعِل ْلم ِ ا َل‬
َ َ‫و‬
َ ‫من ْهَك ّي ْل‬
َ
َ ِ ‫ن الّزكا َةِ وَل َوْ أغ ْن َِياَء ا‬
‫ت‬
ّ ‫ح‬
َ ‫ذا ْان‬
ْ َ ‫ا َْل‬
ِ ْ ‫ن ب َي‬
ِ ‫م‬
ِ ُ ‫خذ‬
َ َ‫قط َع‬
ْ ُ ‫قه‬
ْ ‫م‬
َ ‫م‬
َ
‫ن اهلل ) حاشلية الصلاوى عللى‬
َ ْ‫جاه ِلد ُو‬
َ ‫م‬
ُ ‫م‬
ْ ُ‫ ِلن ّه‬,‫ل‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ‫ما‬
( 53 ‫ ص‬2 ‫ج‬,‫تفسير الجللين‬
"Orang-orang yang memprioritaskan seluruh waktunya
untuk mencari ilmu, diperbolehkan menerima zakat,
meskipun mereka tergolong kaya raya. Dengan syarat
mereka sudah tidak mendapatkan jatah dari Baitul Maal.
Karena sesungguhnya mereka itu termasuk golongan para
pejuang". (Hasyiah al-Shawi ‘Ala Tafsir Jalalain, hal. 53)

Hukum Zakat untuk Masjid dan Pesantren
Hukum harta zakat dialokasikan pada pembangunan masjid,
pondok pesantren, sekolahan atau yang semacamnya:
a. Menurut mayoritas ulama’ tidak boleh memberikan kepada
selain delapan golongan.

َ ْ ‫م ا ِع‬
‫ه‬
ّ ‫ح‬
ْ َ ‫قَها ا‬
َ ‫طاُء‬
َ ُ ‫خذ‬
ِ َ ‫ست‬
ْ َ ‫ها وَي‬
ْ َ ‫وَي‬
ُ ‫حُر‬
ُ ‫حُر‬
ْ ‫م‬
ُ َ ‫ها ل‬
ُ ِ‫م ع ََلى غ َي ْر‬
( 227 ‫) تنوير القلوب ص‬

b. Menurut sebagian ulama’ ahli fiqih yang dikutip oleh Imam
Qoffal, mengalokasikan harta zakat untuk pembangunan
masjid, pondok pesantren atau semacamnya, hukumnya
boleh karena arti fii sabilillah bersifat umum, yaitu hal-hal
yang mempunyai nilai kebaikan.

12
9

َ ‫قهللاِء أ َنهل‬
ُ ‫فا‬
َ ‫ق‬
‫ف‬
ُ ْ ‫ض ال‬
ّ ‫ق‬
َ ْ ‫ل ال‬
َ َ ‫وَن‬
َ ‫صلْر‬
ْ ُّ
َ ‫م أجلا َُزْوا‬
َ َ ‫ف‬
ْ َ‫ل ع‬
ِ ْ‫ن ب َع‬
‫ى‬
َ ْ ‫جوْهِ ال‬
ِ ْ ‫ن ت َك‬
ِ : ِ‫خي ْر‬
ِ ‫ج‬
ِ َ ‫دقا‬
ُ ُ‫مي ِْع و‬
َ ‫ت إ َِلى‬
َ ‫ص‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫ال‬
ْ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ‫وت‬
ِ ْ ‫في‬
َ
َ
َ
ُ
ْ
ْ
َ
‫ى‬
ِ َ‫ن و‬
ّ ‫جد ِ ِل‬
ُ ‫وَِبناِء ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ن قَوْل‬
ِ ‫س‬
َ ‫ماَرة َ ال‬
َ ‫ع‬
ُ ‫ح‬
ِ ْ ‫صو‬
ْ ‫ه َتعالى ِفلل‬
ّ ‫م ِفى ْالك ُل‬
‫ ص‬1 ‫ ج‬: ‫ )تفسلير المنيللر‬.‫ل‬
ٌ َ ‫ل اللهِ عا‬
َ
ِ ْ ‫سب ِي‬
(344
Menurut sebagian ulama’ ahli Fiqih yang dikutip oleh alQoffal bahwa sesungguhnya mereka itu memperbolehkan
pentasarufan zakat untuk semua bentuk kebaikan, seperti
untuk mengkafani mayit, membangun benteng dan
memperbaiki masjid, karena firman Allah Swt. Fii sabilillah
itu umum bisa mencakup semuanya. (Tafsir al-Munir, juz I,
hal.344)

130

BAB XIII
PUASA
Penetapan Awal dan Akhir Bulan Ramadlan
Masih ada perbedaan di kalangan umat Islam tentang
penetapan awal dan akhir bulan Ramadlan. Sebagian
menggunakan ru’yah (melihat bulan) dan sebagian lain memakai
hisab (hitungan). Bagaimanakah sebenarnya cara yang tepat dan
sesuai dengan ajaran Nabi?
Ada dua cara yang disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama’
untuk menentukan awal dan akhir puasa, yakni:
a.Dengan melihat bulan
b.Dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban.
Sebagaimana keterangan dalam kitab Ghoyatu al-Maqshad
Fii Zawaidi al-Musnad bab Ru’yah al-Hilal, Sunan alDaruqutni bab kitabu al-Shiyam, Ithaaf al-Khairah al-Mahrah
bab Kitab Zakat, atau kitab-kitab hadits yang lain:

‫ن‬
ْ َ ‫ أ‬،‫سى‬
ِ ‫ن‬
َ ‫ن‬
َ ‫م‬
َ ‫س‬
َ
َ ‫عي‬
ْ ِ ‫حد ّث ََنا إ‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫خب ََرَنا‬
ْ ‫ ع َ ل‬،‫ر‬
ُ ْ ‫مد ُ ب‬
ُ ْ ‫حاقُ ب‬
ٍ ِ ‫جللاب‬
َ
ّ
ْ
َ
ُ ‫سو‬
َ ‫ َقا‬:‫ل‬
َ ‫ َقا‬،‫ه‬
‫ل اللهِ صلللى‬
ِ ‫ن أِبي‬
ُ ‫ل َر‬
ْ َ ‫ ع‬،‫ق‬
ٍ ‫ن طل‬
ِ ْ‫س ب‬
ِ ْ ‫قَي‬
َ
َ ‫جعَل‬
ّ ‫ج‬
‫ة‬
َ ‫ل هَلذ ِهِ اله ِل ّل‬
َ ‫ل‬
َ َ‫ه ع َّز و‬
ّ ِ ‫ "إ‬:‫الله عليه وسلم‬
َ ّ ‫ن الل‬
َ
‫ن‬
ِ ِ ‫ وَأفْط ُِروا ل ُِرؤ ْي َت‬،‫ه‬
ِ ِ ‫موا ل ُِرؤ ْي َت‬
ْ ِ ‫ فَ لإ‬،‫ه‬
ُ ‫صو‬
َ ‫واِقي‬
َ
ُ ،‫س‬
َ ‫م‬
ِ َ ‫ت ِللّنا‬
ْ
َ
ُ
.‫ة‬
َ ّ ‫موا العِد‬
ّ ِ ‫م فَأت‬
ْ ‫م ع َلي ْك‬
ّ ُ‫غ‬
Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Isa, Muhammad bin Jabir
telah memberitahuku, dari Qais bin Thalqin, dari ayahnya,
dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda sesungguhnya Allah
‘Azza Waa Jalla Menjadikan bulan-bulan sebagai batasan
waktu bagi manusia, maka berpuasalah karena melihatnya
(hilal), dan berbukalah karena melihatnya juga. Apabila
bulan tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungan

13
1

bulan sya’ban (30 hari). (Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi alMusnad bab Ru’yah al-Hilal)
Dan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 108
dijelaskan;

ّ ‫ن ال‬
‫ل أ َْو‬
ِ ِ‫ن ك َغَْيللرِه‬
ُ ‫ضللا‬
َ ‫م‬
َ ‫ت َر‬
ُ ‫ل َي َث ُْبلل‬
ِ َ ‫شللهُوْرِ ا ِل ّ ب ُِرؤ َْيللةِ ال ْهِل‬
َ ‫ملل‬
ْ ِ‫ا‬
‫ق‬
َ ْ ‫ل ْالعِد ّةِ ث َل َث ِي‬
ِ َ ‫كما‬
ٍ ‫ن ب ِل َفَْر‬

Bulan Ramadlan sama seperti bulan lainnya disepakati tidak
boleh ditetapkan kecuali dengan telah melihat hilal, atau
menyempurnakan bilangan menjadi 30 hari. (Bughyah alMustarsyidin, hal. 108)

Waktu Niat
Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang
membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya
matahari, misalnya makan dan minum dan lain-lain.
Para ulama’ sepakat bahwa puasa Ramadlan hukumnya
adalah fardhu ‘ain, karena termasuk rukun Islam. Akan tetapi
terdapat ikhtilaf tentang waktu pelaksanaan niat puasa
Ramadlan?
a. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hambal.
Niat puasa Ramadlan dilakukan setiap hari pada waktu
malam hari dan untuk puasa sunnah tidak wajib niat di
malam hari.

َ ُ ‫ك قَو‬
‫فت َقِ لُر‬
ْ َ‫ن ي‬
ِ َ‫و‬
َ ‫ضا‬
َ ‫م‬
ّ ِ ‫مةِ الث ّل َث َةِ إ‬
َ ْ‫صو‬
َ ‫م َر‬
ّ ِ ‫ل ا ْلئ‬
َ ‫ن‬
ْ َ ِ ‫ن ذَل‬
ْ ‫م‬
ّ ُ‫ك‬
‫ة‬
ٌ ‫في ْهِ ن ِي َل‬
ِ ْ ‫ه ي َك‬
ٍ َ ‫جّرد‬
ٍ ِ ‫مال‬
َ ‫م‬
ُ ّ ‫ك إ ِن‬
َ ‫ل‬
َ ‫ة‬
ُ ٍ‫ل ل َي ْل َةٍ إ َِلى ن ِي َة‬
ِ ْ‫معَ قَو‬
َ ‫حد ة ٌ م‬
ّ ‫ن ال‬
.‫ه‬
ِ ‫ج‬
ِ ٍ‫ل ل َي ْل َة‬
َ ‫م‬
ُ ْ‫صو‬
ُ َ‫مي ْع‬
ُ ّ ‫شهْرِ ا َن‬
ُ َ‫ه ي‬
َ ‫م‬
ِ َ‫ن أو‬
ْ ِ َ ِ ‫َوا‬
( 27 ‫ ص‬2 ‫) الميزان الكبرى ج‬

132

‫من ذلك قَو ُُ َ‬
‫ح‬
‫م الن ّ ْ‬
‫ل يَ ِ‬
‫صل ّ‬
‫مةِ الث ّل َث َةِ إ ِ ّ‬
‫صلوْ َ‬
‫ل ا ْلئ ِ ّ‬
‫ن َ‬
‫فل ِ‬
‫ْ‬
‫وَ ِ ْ‬
‫ب ِن ِي ّةٍ قَب ْ َ‬
‫ن‬
‫ح ب ِن ِي ّلةٍ ِ‬
‫ه ل َ يَ ِ‬
‫صل ّ‬
‫ل ما َل ِ ٍ‬
‫ك إ ِن ّ ُ‬
‫ل َ‬
‫مل َ‬
‫معَ قَوْ ِ‬
‫ل الّزَوا ِ‬
‫ب‬
‫وا ِ‬
‫ج ِ‬
‫الن َّهارِ كا َل ْ َ‬
‫) الميزان الكبرى ج ‪ 2‬ص ‪( 21‬‬
‫;‪Lafadz niatnya adalah‬‬

‫م غ َد ٍ ع َل ْ َ َ‬
‫ض َ‬
‫ن ه لذ ِهِ‬
‫صوْ َ‬
‫ش لهْرِ َر َ‬
‫‪َ ‬نوَي ْ ُ‬
‫ت َ‬
‫مض لا َ ِ‬
‫ن أداِء فَ لْر ِ‬
‫سن َةِ فَْرضا ً للهِ َتعا ََلى‬
‫ال ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ة للهِ َتعالى‬
‫سن ّ ً‬
‫م غ َد ٍ ِ‬
‫ج َ‬
‫ن َر َ‬
‫صوْ َ‬
‫ب ُ‬
‫‪َ ‬نوَي ْ ُ‬
‫ت َ‬
‫م ْ‬

‫‪b. Menurut Imam Malik‬‬
‫‪Niat puasa Ramadlan cukup satu kali pada awal bulan‬‬
‫‪Ramadlan yang dilakukan di malam hari.‬‬

‫ك قَو ُ َ‬
‫فت َقِ لُر‬
‫ن يَ ْ‬
‫وَ ِ‬
‫ضا َ‬
‫م َ‬
‫مةِ الث ّل َث َةِ إ ِ ّ‬
‫صوْ َ‬
‫م َر َ‬
‫ل ا ْلئ ِ ّ‬
‫ن َ‬
‫ن ذ َل ِ َ ْ‬
‫م ْ‬
‫كُ ّ‬
‫ة‬
‫في ْهِ ن ِي َل ٌ‬
‫ه ي َك ْ ِ‬
‫مال ِ ٍ‬
‫م َ‬
‫ك إ ِن ّ ُ‬
‫ل َ‬
‫جّرد َةٍ َ‬
‫ل ل َي ْل َةٍ إ َِلى ن ِي َةٍ ُ‬
‫معَ قَوْ ِ‬
‫حد ة ٌ م َ‬
‫ن ال ّ‬
‫ه‪.‬‬
‫ج ِ‬
‫ل ل َي ْل َةٍ ِ‬
‫م َ‬
‫صوْ ُ‬
‫مي ْعَ ُ‬
‫شهْرِ ا َن ّ ُ‬
‫ه يَ ُ‬
‫م َ‬
‫ن أوَ ِ‬
‫َوا ِ َ ِ ْ‬
‫) الميزان الكبرى ج ‪ 2‬ص ‪( 27‬‬
‫‪Begitu juga dengan puasa sunnah, seperti puasa di bulan‬‬
‫‪rajab menurut Imam Malik cukup niat satu kali yang‬‬
‫‪dilakukan pada malam hari.‬‬

‫من ذلك قَو ُُ َ‬
‫ح‬
‫م الن ّ ْ‬
‫ل يَ ِ‬
‫صل ّ‬
‫ملةِ الث ّل َث َلةِ إ ِ ّ‬
‫ص لو ْ َ‬
‫ل ا ْلئ ِ ّ‬
‫ن َ‬
‫فل ِ‬
‫ْ‬
‫وَ ِ ْ‬
‫ب ِن ِي ّةٍ قَب ْ َ‬
‫ن‬
‫ح ب ِن ِي ّلةٍ ِ‬
‫ه ل َ يَ ِ‬
‫صل ّ‬
‫ل ما َل ِ ٍ‬
‫ك إ ِن ّ ُ‬
‫ل َ‬
‫مل َ‬
‫معَ قَوْ ِ‬
‫ل الّزَوا ِ‬
‫ب ) الميزان الكبرى ج ‪ 2‬ص ‪( 21‬‬
‫وا ِ‬
‫ج ِ‬
‫الن َّهارِ كا َل ْ َ‬
‫;‪Lafadz niatnya adalah‬‬

‫‪13‬‬
‫‪3‬‬

َ َ ْ َ ‫شهْرٍ ع‬
َ ‫ض‬
َ ‫م‬
ِ‫ن هلذ ِه‬
َ ْ‫صو‬
َ ‫شلهْرِ َر‬
ُ ْ ‫ ن َوَي‬
َ ‫ت‬
ِ َ ‫مضلا‬
ِ ‫ن أداِء فَْر‬
‫سن َةِ فَْرضا ً للهِ َتعا ََلى‬
ّ ‫ال‬
َ ‫م‬
‫ة للهِ َتعا ََلى‬
ً ّ ‫سن‬
ِ ٍ‫شهْر‬
َ ‫ج‬
َ ‫ن َر‬
َ ْ‫صو‬
ُ ‫ب‬
ُ ْ ‫ ن َوَي‬
َ ‫ت‬
ْ ‫م‬
c. Menurut Imam Abu Hanifah
Sah, Niat puasa Ramadlan yang dilakukan pada waktu
malam maupun siang hari hingga waktu zawal (matahari
condong ke barat) dengan syarat niatnya disesuaikan
dengan puasa yang dikerjakan, misalnya puasa Ramadlan,
puasa Nadzar dan puasa-puasa yang lainnya. (Al-Mizan alKubra, juz II, hal.20)

َ ‫اَلّثاِني ملع قَلو‬
‫ى‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫فل‬
ُ ‫جل‬
َ ‫ى‬
َ َ
ِ َ ‫ه ل َي‬
ُ ‫ة إ ِن ّل‬
ْ َ‫ن ا‬
ُ ‫ب الت ّعْي ِي ْل‬
ِ ْ
ْ ‫ل أب ِل‬
ً ‫م ي َن ْلوِ ل َي ْل‬
ْ َ ‫ ب‬,‫ت‬
ُ ‫جوُْز الن ّي َل‬
ِ ‫ة‬
ْ ِ ‫ل ف َ لإ‬
ُ َ‫ل ت‬
ْ ‫ن ل َل‬
ُ ْ ‫الت ّث ْب ِي‬
ِ ‫ن الل ّي ْل‬
َ ‫مل‬
َ َ‫أ‬
َ ِ ‫ل وَك َللذل‬
‫م فِللي الن ّلذ ِْر‬
ُ َ ‫ه الّنلي‬
ْ
ْ ُ‫ك قَ لوْل ُه‬
ُ ْ ‫جَزأت‬
ِ ‫ة إ َِلى ال لّزَوا‬
.‫ن‬
ُ ْ ‫ال‬
ِ ّ ‫معَي‬
( 20:2: ‫) الميزان الكبرى‬
Puasa Sunnah dengan Niat Qadla’ Ramadlan
Terkadang seseorang dalam melakukan kewajiban berpuasa
Ramadlan ada udzur (hal-hal yang membolehkan untuk tidak
melaksanakannya), akan tetapi dia masih mempunyai kewajiban
untuk menggantinya di lain hari. Jika orang tersebut melakukan
qadha’ Ramadlan bersamaan dengan berpuasa sunnah dengan
niat mengqadla’ puasa Ramadlan, bagaimanakah hukum dari niat
tersebut?
Dalam masalah ini para ulama’ berpendapat sesuai dengan
kadar keyakinan seseorang yang meninggalkan puasa tersebut.
a. Tidak sah, puasa sunnah dengan diniati mengqadla’ puasa
Ramadlan, jika orang tersebut masih ragu bahwa dia
134

pernah meninggalkan puasa Ramadlan, jadi lebih baik
cukup diniati satu puasa sunnah saja.
b. Boleh dan Sah, puasa sunnah dengan diniati mengqadla
puasa Ramadlan. Kalau memang benar-benar pernah
meninggalkan puasa Ramadlan.

َ ‫ويؤ ْخذ ُ من م‬
ّ ‫شل‬
َ ْ‫ه ل َو‬
‫ه‬
ِ ‫ن ع َل َي ْل‬
ّ َ‫ك ا‬
ُ ُ‫سأل َةِ ْالو‬
ْ َ ْ ِ َ َُ
ُ ‫ضوِْء هذ ِهِ ا ِن ّل‬
‫ه‬
ّ ‫صل‬
َ َ ‫ن ك لا‬
ْ ِ ‫واه ُ ا‬
ُ ‫ت ن ِي ّت ُل‬
ْ ‫ح‬
َ ‫َقضا ٌَء‬
َ ٌ ‫ن وَا ِل ّ فَت َط َلوّع‬
َ ‫مث َل ً فَن َل‬
ْ ‫جلوْد ِهِ ب َل‬
َ ‫ص‬
‫ن‬
ْ َ ‫ضاُء ب ِت‬
َ ‫ه ْال‬
َ َ ‫ن ب لا‬
ْ ِ ‫ل وَا‬
ُ ُ‫قلد ِي ْرِ و‬
َ ‫ق‬
َ َ‫ا َْيضا ً و‬
ُ َ‫ل ل‬
َ ‫ح‬
ُ ‫صل‬
َ ‫صل‬
‫ل فِللى‬
ْ َ ‫مللا ي‬
َ ّ ‫ه ع َل َي ْلهِ وَا ِل‬
َ َ ‫ه الت ّط َلوّع ُ ك‬
ُ ‫ل ل َل‬
ُ ‫ا ِن ّل‬
ُ ‫ح‬
َ ‫ح‬
َ
َ ‫ض‬
َ ‫ن َقا‬
َ َ‫ وَب ِه‬: ‫ل‬
‫ل‬
َ ْ‫ن اْل َف‬
ّ َ‫م ا‬
ْ َ ‫ضوِْء ا َِلى ا‬
ُ ُ‫سأل َةِ ال ْو‬
ْ ‫م‬
ُ َ ‫ذا ي َعْل‬
َ
َ
َ
ْ
َ
ُ
‫ه‬
ِ ْ ‫ن ع َلي‬
َ ‫ن كا‬
ْ ِ‫ب ا‬
َ ‫ج‬
ْ ‫صوْم ِ ا‬
ِ ‫وا‬
ُ ِ‫ل‬
ّ ‫مرِي ْد ِ الت ّطوّع ُ ِبال‬
َ ‫ن ي َن ْوِىَ ال‬
َ
َ
َ
َ
َ ‫ص‬
‫ )الفتللاوى‬.‫ن‬
َ ‫ن ك لا‬
ْ ِ ‫ما ع َلي ْلهِ ا‬
ْ َ ‫وَا ِل ّ َفالت ّطوّع ُ ل ِي‬
َ ‫ه‬
ُ ‫لل‬
ُ ‫ح‬
(50 ‫ ص‬2 ‫الكبرى كتاب الصوم ج‬
Dapat dipahami dari masalah wudlu’ ini bahwasannya jika
ragu-ragu ia punya kewajiban yang harus diqadla’, maka
dia harus berniat mengqadla’nya. Jika tidak kemudian dia
shalat sunnah, maka niatnya tetap sah dan qadla’nyapun
terbayar bahkan seandainya jelas bahwa dia memang
mempunyai kewajiban qadla’, jika tidak, maka dia
memperoleh sunnah sebagaimana dalam masalah
wudlu’…. Dengan demikian diketahui, bahwa yang lebih
baik bagi orang yang ingin niat sunnah dalam puasanya,
maka dia berniat puasa wajib jika memang ada kewajiban
terhadapnya, jika tidak maka dia niat puasa sunnah agar
memperoleh apa yang menjadi kewajiban terhadapnya.
(Al-Fatawi al-Kubra, Bab Kitab al-shaum juz 2 halaman 50)
Mengqodlo’ Puasa dan Haji untuk Orang yang Telah
Meninggal

13
5

Mengqodlo’ puasa dan haji untuk orang yang telah meninggal,
yaitu melakukan puasa dan haji untuk orang yang sudah
meninggal ketika dia masih mempunyai tanggungan puasa dan
Haji. Seperti keterangan sebagai berikut:

َ ‫م َقا‬
َ ْ ‫سو‬
َ ِ ‫عائ‬
‫ن‬
َ ‫ن‬
َ ‫ش‬
ّ َ‫ة ا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫ن َر‬
َ ‫ل‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ل الله‬
ْ ‫ملل‬
ْ َ‫ع‬
َ
‫ه‬
ِ ِ‫ت وَع َلي ْه‬
َ ‫صا‬
ٌ ‫صَيا‬
ُ ّ ‫ه وَل ِي‬
ُ ْ ‫م ع َن‬
َ َ ‫ما‬
َ ‫م‬
Diceritakan dari Siti Aisyah, Rasulullah Saw. bersabda: Apabila
ada orang mati, sementara dia masih punya tanggungan puasa,
maka walinya harus berpuasa untuknya. (Shahih Muslim, juz II,
hal. 463, al-Jam’u Baina al-Sakhikhaini al-Bukhari, dan dalam
kitab-kitab hadits yang lainnya)

‫سلهِرٍ أ َب ُللو‬
َ ّ‫سعْد ِى‬
ْ ‫ح‬
ُ ‫ن‬
َ َ‫و‬
ْ ‫م‬
ّ ‫جرٍ ال‬
ُ ‫ن‬
ُ ‫ى ْبل‬
ُ ْ‫ى ب‬
ّ ِ ‫حد ّث ََنا ع َل‬
ّ ِ ‫حد ّث َِنى ع َل‬
ّ
َ َ ‫ن ع َب ْد ِ الل ّهِ ب ْن ع‬
‫ن‬
‫س‬
َ َ ‫ن ب َُري ْد َة‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫ح‬
ْ ‫علل‬
ْ َ ‫طاٍء ع‬
ْ َ‫ن ع‬
ِ ْ ‫ن ع َب ْد ِ اللهِ ب‬
ِ
ِ
َ
َ ‫ َقا‬- ‫ رضى الله عنه‬- ِ‫أ َِبيه‬
ِ ‫س‬
ِ‫ل الّللله‬
َ ‫ل ب َي َْنا أَنا‬
ُ ‫عن ْد َ َر‬
ٌ ِ ‫جال‬
ِ ‫سو‬
َ
‫ت‬
َ َ‫مَرأ َة ٌ ف‬
ُ ْ‫صللد ّق‬
ْ َ ‫قال‬
ْ ‫ها‬
ُ ْ ‫ إ ِذ ْ أت َت‬-‫صلى الله عليه وسلم‬َ َ ‫ت إ ِّنى ت‬
َ
ُ
َ ‫قا‬
َ ‫ َقا‬- ‫ت‬
‫ك‬
َ َ‫ ف‬- ‫ل‬
ِ ‫جللُر‬
ْ ‫بأ‬
َ ‫ج‬
َ َ‫ل » و‬
َ ِ ‫مى ب‬
ْ َ ‫مات‬
َ ‫جارِي َةٍ وَإ ِن َّها‬
ّ ‫ع ََلى أ‬
َ ‫ه‬
َ ‫سو‬
‫ن ع َل َي َْها‬
ُ ‫ميَرا‬
َ ّ ‫وََرد‬
ِ ْ ‫ك ال‬
َ ‫كا‬
ِ ْ ‫ها ع َل َي‬
ُ ‫ت َيا َر‬
ُ ّ ‫ل الل ّهِ إ ِن‬
ْ َ ‫ َقال‬.« ‫ث‬
َ
َ
َ
َ ‫م ع َن َْها َقا‬
َ ‫م‬
‫ت إ ِن َّهللا‬
ِ ‫صو‬
ُ ‫صو‬
ُ ْ ‫صو‬
ْ ‫ َقال‬.« ‫مى ع َن َْها‬
ُ »‫ل‬
ُ ‫شهْرٍ أفَأ‬
َ
َ
َ
ّ
َ ‫ج ع َن ْهَللا قَللا‬
‫ )صللحيح‬.« ‫جللى ع َن ْهَللا‬
ّ ‫ح‬
ُ »‫ل‬
ّ ‫حل‬
ُ ‫ج قَلط أفَأ‬
ّ ‫ح‬
ُ َ‫م ت‬
ْ َ‫ل‬
(‫مسلم‬
Telah bercerita kepadaku Ali bin Hujrin al-Sa’dy, telah bercerita
kepadaku Ali bin Mushir Abu al-Hasan dari Abdullah bin Ato’ dari
Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ra. beliau berkata: suatu hari
aku duduk di samping Nabi Saw. kemudian ada seorang
perempuan datang kepada Nabi dan ia berkata; sebenarnya aku
bersedekah untuk ibuku dengan seorang hamba, sedangkan
ibuku telah meninggal. Maka Nabi berkata: Pahalanya tetap
bagimu dan harta warisannya tetap kembali kepadanu.
Perempuan itu berkata lagi, Ya Rasulallah, sesungguhnya ibuku
136

mempunyai tanggungan puasa Ramadlan, bolehkan aku puasa
untuknya?. Rasul menjawab: Berpuasalah untuk ibumu. Kemudian
perempuan itu bertanya lagi sebenarnya ibuku belum
melaksanakan ibadah haji, bolehkan aku melakukan haji
untuknya? Rasul menjawab: Berhajilah untuk ibumu. (Sahih
Muslim)
Dengan demikian, haji yang belum ditunaikan dan puasa
yang telah ditinggalkan oleh mayit bisa diqodho’.
Hukum Merokok Ketika Sedang Berpuasa
Puasa adalah menahan makan dan minum yang dimulai sejak
fajar sampai masuknya waktu adzan maghrib, akan tetapi di
kalangan masyarakat kita terdapat beberapa persoalan tentang
bagaimana hukumnya orang yang sedang berpuasa tetapi dia
menghisap rokok?
Hal-hal yang dapat membatalkan puasa salah satunya adalah
masuknya sesuatu/’ain (seperti air, minuman atau makanan)
melalui beberapa lubang yang terdapat di dalam anggota tubuh
yang bisa sampai ke lambung. Begitu juga dengan asap dari
hisapan rokok, apabila seseorang sedang berpuasa dan dia
menghisap rokok, maka hukumnya adalah: Membatalkan
puasa, karena asap rokok itu mengandung nikotin dan nikotin
tersebut adalah termasuk kategori ‘ain. Diterangkan dalam kitab
Bughyah al-Mustarsyidin;

ُ ْ ‫صو‬
َ َ ‫م وَك‬
ّ ‫ح ِبال‬
‫ة‬
َ ْ ‫ن ال‬
ٌ َ ‫)َفائ ِد‬
ِ ‫ح‬
ِ ‫ذا‬
َ ِ‫م ك ََراء‬
ُ َ ‫ة( ل َ ي‬
ّ ‫ف‬
ّ ‫ش‬
ُ ُ‫ضّر و‬
َ ‫م‬
ِ ْ ‫ل الّري‬
َ
َ
ً ‫س ع َْين لا‬
ُ ُ ‫ال ْب‬
ْ ِ ‫ف وَا‬
ِ ْ ‫ج لو‬
َ ْ ‫خوْرِ أوْ غ َي ْرِهِ ا ِل َللى ال‬
ُ ‫م لد َه ُ ِلن ّل‬
ّ َ‫ن ت َع‬
َ ‫ه ل َي ْل‬
ُ َ ‫ن ي َعِْنى َالت ّْنبا‬
‫ه‬
َ َ‫و‬
َ ‫ن ك ََراِء‬
َ ‫خَر‬
ُ ‫ن الللل‬
َ َ‫ك ل َع‬
ٌ ْ ‫ج ب ِهِ ما َ فِي ْهِ ع َي‬
ِ ْ ‫حةِ الن ُت‬
13
7

َ ‫م‬
َ
‫ )بغية المسللتر‬.‫ه‬
ْ َ ‫حةِ فَي‬
َ ‫ن ْالب ِد ِْع ْال‬
ِ ِ ‫فط ُُر ب‬
ِ ‫ه‬
َ ْ ‫قب ِي‬
َ ‫نأ‬
ُ ّ ‫حد ِث ِهِ ِلن‬
َ ‫م‬
ْ ِ
(111 ‫شدين باب شروط الصوم ص‬
Tidak membatalkan puasa sampainya angin dengan indra
pencium, begitu juga menghirup angin atau asap melalui mulut
(tidak membatalkan puasa) walaupun disengaja, karena bukan
merupakan ‘ain (benda), dikecualikan hal yang ada ‘ainnya
seperti asap rokok (tembakau) yang dapat membatalkan puasa
karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga
termasuk bid’ah yang jelek. (Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut
al-Shaum. hal.111)
Memang sebelumnya Imam Zayyadi pernah berpendapat
bahwa merokok tidaklah membatalkan puasa, karena beliau
mengira asap yang dihasilkan dari rokok itu sama saja dengan
asap pada umumnya dan tidak termasuk kategori ‘ain, tetapi
setelah beliau mengetahui kenyataannya secara pasti bahwa
asap yang dihasilkan dari rokok tersebut ada kandungan
nikotinnya, maka Imam Zayyadi merevisi pendapatnya yang
pertama yaitu: Merokok tidak membatalkan puasa direvisi dengan
pendapatnya yang kedua yaitu: Merokok dapat membatalkan
puasa. Hal ini diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin,
bab Syurut al-Shaum. hal.111-112.

ُ ْ ‫صو‬
َ َ ‫م وَك‬
ّ ‫ح ِبال‬
َ ْ ‫ن ال‬
ٌ َ ‫)َفائ ِد‬
ِ‫حة‬
ِ ‫ذا‬
َ ِ‫م ك ََراء‬
ُ َ ‫ة( ل َ ي‬
ّ ‫ف‬
ّ ‫ش‬
ُ ُ‫ضّر و‬
َ ‫م‬
ِ ْ ‫ل الّري‬
َ
َ
ً ‫س ع َْين لا‬
ُ ُ ‫ال ْب‬
ْ ِ ‫ف وَا‬
ِ ْ ‫ج لو‬
َ ْ ‫خوْرِ أوْ غ َي ْرِهِ ا ِل َللى ال‬
ُ ‫م لد َه ُ ِلن ّل‬
ّ َ‫ن ت َع‬
َ ‫ه ل َي ْل‬
ُ َ ‫ن ي َعِْنى َالت ّْنبا‬
‫ه‬
َ َ‫و‬
َ ‫ن ك ََراِء‬
َ ‫خَر‬
ُ ‫ن الللل‬
َ َ‫ك ل َع‬
ٌ ْ ‫ج ب ِهِ ما َ فِي ْهِ ع َي‬
ِ ْ ‫حةِ الن ُت‬
َ
َ
َ
ُ ْ َ ‫حلةِ فَي‬
‫ى‬
َ ‫ن ْالب ِد ِْع ْال‬
ِ ‫ه‬
ِ
َ ْ ‫قب ِي‬
َ ‫نأ‬
ُ ّ ‫حد ِث ِهِ ِلن‬
َ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ‫ وَقَلد ْ أفْللت‬, ِ‫فطلُر ب ِله‬
َ َ ‫ بع لد أ َن أ َفْتللى ا َول ًَ بع لدم ْالفط ْلر قَب ل‬.‫ي‬.‫ز‬
‫ن ي َلَراه ُ اهل ل‬
ِ ِ َ َِ ّ
َ
ْ ‫لأ‬
ْ ِ
ْ َ َْ
‫ )بغيللة المسللتر شللدين بللاب شللروط الصللوم ص‬.‫ق‬.‫ش‬
(112-111
138

Tidak membatalkan puasa sampainya angin dengan indra
pencium, begitu juga menghirup angin atau asap melalui mulut
(tidak membatalkan puasa) walaupun disengaja, karena bukan
merupakan ‘ain (benda), dikecualikan hal yang ada ‘ainnya
seperti asap rokok (tembakau) yang dapat membatalkan puasa
karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga
termasuk bid’ah yang jelek. Dan sesungguhnya Imam zayyadi
telah memberikan fatwa seperti ini (merokok ternyata
membatalkan puasa) sesudah beliau memberikan fatwa pertama
yaitu tidak batalnya pusa karena merokok, sebelum beliau
mengetahui kenyataannya secara pasti.
(Bughyah alMustarsyidin, bab Syurut al-Shaum. hal.111-112).

13
9

BAB XIV
HAJI DAN UMRAH
Tasyakuran Haji
Setelah melaksanakan haji dan pulang ke rumahnya, jama’ah
haji biasanya mengadakan tasyakuran yang disebut walimatul
Naqi’ah yaitu: Walimah yang diadakan untuk selamatan orang
yang datang dari bepergian (walimah haji), bahkan seorang yang
telah melaksanakan haji disunnahkan untuk mengadakan
tasyakuran, yakni dengan menyembelih sapi atau unta. Apakah
walimah itu ada dasar hukumnya?
Dalam kitab al-Fiqih al-Wadlhih dijelaskan;

َ َ ‫مل ً ا َوْ ب‬
ً‫قَرة‬
ِ ‫جو‬
َ ‫حَر‬
َ ْ ‫ن ي َن‬
ْ َ ‫عهِ ا َِلى ب َل َد ِهِ ا‬
ُ ‫ج ب َعْد َ ُر‬
ّ ‫حا‬
َ ْ ‫ب ل ِل‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫ست‬
ْ ُ‫ي‬
َ ‫ج‬
ً ‫قّربا‬
ْ
ْ
ْ
ْ
َ ‫ح‬
َ َ‫ن ت‬
َ ‫ف‬
ُ ‫شاة ً ل ِل‬
ْ ِ ‫ن َوال‬
َ َ ‫ا َوْ ي َذ ْب‬
َ ‫م‬
ِ ‫ن َوال‬
َ ‫قَراِء َوال‬
ِ ‫وا‬
َ ‫خ‬
ِ ‫جي َْرا‬
ِ ْ ‫ساك ِي‬
َ ‫ل‬
َ َ‫كما َ فَع‬
ّ ‫ج‬
‫م‬
َ َ‫ى اللهِ ع َّز و‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫ص لّلى الل ل‬
َ ‫ي‬
ّ ِ ‫ل الن ّب‬
َ ‫ِال‬
(673 ‫ ص‬1 ‫ ج‬, ‫)الفقه الواضح من الكتاب والسنة‬
Disunnahkan bagi orang yang baru pulang haji untuk
menyembelih seekor onta, sapi atau menyembelih kambing
(untuk diberikan) kepada fakir, miskin, tetangga, saudara. (hal ini
dilakukan) sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah ‘Azza
Waa Jalla, Sebagaimana yang telah diamalkan oleh Nabi Saw. (AlFiqih al-Wadlhih Min al-Kitab wa al-Sunnah, Juz I, hal. 673)
Kesunnahan ini berdasarkan hadits Nabi;

َ
‫ه‬
ِ ‫ن ع َب ْد ِ اللهِ َر‬
ّ ‫ما أ‬
َ ‫ن‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ُ‫ه ع َن ْه‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ي‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
َ ‫ض‬
ْ َ‫ع‬
ِ ْ ‫جاب ِرِ ب‬
‫ ) صللحيح‬.‫ة‬
َ َ ‫جُزوًْرا ا َوْ ب‬
ً ‫قَر‬
َ َ ‫مد ِي ْن‬
َ ‫حَر‬
َ َ‫ة ن‬
َ ِ ‫ما قَد‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ْ ‫م ال‬
ّ َ‫م ل‬
َ ّ ‫سل‬
( ‫ باب الطعام عند القدوم‬, ‫البخاري‬
Dari Jabir bin Abdullah ra. Bahwa ketika Rasulullah Saw. Datang
ke Madinah (usai melaksanakan ibadah haji), beliau menyembelih
140

kambing atau sapi. (Shahih al-Bukhari, bab al-Tho’amu ‘Inda alQudum)
Namun di sebagian daerah, walimah haji itu tidak hanya
dilakukan setelah mereka pulang dari tanah suci, selamatan itu
juga dilakukan sebelum mereka berangkat ke tanah suci, atau
setelah mereka melunasi ONH-nya. Kalau melihat isinya, maka
walimah tersebut tujuannya tidak jauh berbeda dengan walimah
setelah haji.
Dari beberapa keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
mengadakan walimatul haji merupakan suatu ibadah sunnah
yang diajarkan oleh Nabi Saw.
Macam-Macam Thawaf dan Hukumnya
a. Thawaf Ifadhah, thawaf ini merupakan salah satu rukunnya
haji, jadi hukum melaksanakannya adalah wajib. Fathu alQadir bab al-Ihram juz 5 hal 234.

َ ‫َقا‬
َ َ‫ل ) وَه‬
‫و‬
ْ ‫م‬
ُ ‫وا‬
ّ ‫حل‬
َ ْ ‫ض فِللي ال‬
َ ْ ‫ف هُوَ ال‬
ُ ‫فُرو‬
َ ‫ج ( وَهُل‬
َ ّ ‫ذا الط‬
ْ ْ ‫كللن فيلله إذ ْ هللو ال‬
‫موُْر ِبللهِ ِفللي َقللوْل ِهِ ت ََعللاَلى‬
ِ ِ ٌ ْ ‫ُر‬
ُ ‫مللأ‬
َ َ ُ
ْ ِ ْ ‫} وَل ْي َط ّوّفُلللوا ب ِلللال ْب َي‬
‫ف‬
ُ ‫وا‬
َ ُ ‫ق { وَي‬
ّ ‫سللل‬
َ ‫مى ط َللل‬
ِ ‫ت العَِتيللل‬
‫حرِ ) فتح القللدير فللي بللاب‬
ُ ‫وا‬
ْ ّ ‫ف ي َوْم ِ الن‬
َ ‫اْل َِفا‬
َ َ ‫ضةِ وَط‬
( ‫الحرام‬

b. Thawaf Qudum, thawaf ini dilaksanakan ketika memasuki
Baitul Haram dan hukum untuk melaksanakannya adalah
sunnah. (Fathu al-Mu’in, hal. 62)

َ
‫ج أ َْو‬
ُ ّ ‫حي‬
ِ َ‫ه ت‬
ُ ‫وا‬
ِ ْ ‫ة ال ْب َي‬
َ ِ‫ن ل‬
َ ُ ‫ما ي‬
َ ّ ‫ت وَإ ِن‬
ُ ّ ‫م( لن‬
ّ ‫س‬
َ َ ‫)وَط‬
ٍ ْ‫ف قُد ُو‬
ٍ ‫حا‬
ُ ُ ْ ‫ت ِبال‬
َ ‫س وَل‬
َ ْ ‫ة قَب‬
ُ ‫خ‬
ُ َ ‫ف وَل َ ي‬
ُ ُ‫ن د‬
َ ّ ‫مك‬
ِ ْ‫ل ال ْوُقُو‬
َ ْ ‫فو‬
َ ‫ل‬
ٍ ِ‫قا َر‬
ِ ْ ‫جل و‬

14
1

ْ
:‫ة ) فتللح المعيللن‬
ُ َ ‫خي ْرِ نعللم ي‬
َ ‫ف ب ِعََرفَل‬
ِ ‫ب ِت َأ‬
ِ ْ‫ت ب ِللال ْوُقُو‬
ُ ْ ‫ف لو‬
( 62
c. Thawaf Wada’, thawaf ini juga bisa dikatakan thawaf
perpisahan, yaitu dilakukan ketika jama’ah haji hendak
pulang dari Tanah Suci. Adapun hukumnya khilaf:
- Qoul mu’tamad, termasuk wajib

‫ف ع َل َللى‬
ٌ ْ‫معْط ُلو‬
ُ ‫وا‬
َ َ‫ف ال ْلو‬
َ ‫داِع ( ب ِللالّرفِْع‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
َ ‫ه وَط َل‬
َ
َ
‫ج‬
ِ ‫جَبا‬
ِ ُ ‫ن ع َد ّه‬
ّ ‫حل‬
َ ْ ‫ت ال‬
ّ ‫تأ‬
ً ْ ‫حَرام ٍ أي‬
ْ ِ‫إ‬
ِ ‫ن َوا‬
َ ‫م‬
ْ ِ ‫ضا وَقَد ْ ع َل‬
ْ ‫م‬
َ
ْ
ّ ‫ق‬
‫ل )حاشللية‬
ٌ ْ ‫ضعِي‬
ِ َ ‫س لت‬
ٌ ‫ج‬
َ ٌ‫َرأي‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ب‬
ِ ‫ه َوا‬
ُ ّ ‫مد ُ أ ن‬
َ َ ‫معْت‬
ُ ْ ‫ف َوال‬
( 305 ‫ ص‬2 ‫اعانة الطالبين ج‬

- Menurut Imam Syafi’i sunnah untuk melaksanakannya
karena thawaf wada’ juga dilakukan pada tempat thawaf
qudum. (al-Inayah Syarhu al-Hidayah bab al-Ihram, juz 4,
hal.2)

‫واِو‬
َ ِ ‫داع ُ ب‬
َ ‫وا‬
َ َ‫داِع ( ال ْو‬
َ َ‫ف ال ْو‬
َ ُ ‫ه ) وَي‬
ّ ‫س‬
ُ ُ ‫وَقَوْل‬
َ ْ ‫ح ال‬
َ َ ‫مى ط‬
ِ ْ ‫فت‬
‫خَلًفللا‬
ِ ‫عن ْد ََنا‬
ِ ‫ب‬
ٌ ‫ج‬
َ َ ‫م ِللت ّوِْديِع ك‬
ْ ‫ا‬
ِ ‫سَلم ٍ وَك ََلم ٍ وَهُوَ َوا‬
ٌ ‫س‬
َ ٌ ّ ‫عن ْلد َه سلن‬
ّ ‫ِلل‬
‫ف‬
ِ ‫ه‬
ِ ‫وا‬
ُ ُ
َ ِ‫ه ب‬
ُ ‫ة ِلن ّل‬
ُ ّ ‫ي ( فَلإ ِن‬
َ ‫من ْزِل َلةِ ط َل‬
ّ ِ‫شافِع‬
( ‫ ) الناية شرح الهداية باب الحرام‬، ِ ‫دوم‬
ُ ْ ‫ال‬
ُ ‫ق‬

Hukum Thawaf dalam Kondisi Hadats
Bagaimanakah hukum thawaf yang dilakukan dalam kondisi
hadats?
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat;
a. Sebagian Ulama’, thawafnya tidak sah
b. Menurut Imam al-Muzani, thawafnya sah
Sebagaimana hal dijelaskan dalam kitab Hamisi Fathu alMu’in.

142

ُ ْ‫شُرو‬
ُ َ‫)و‬
‫ث‬
ٌ ّ ‫س لت‬
ٍ َ ‫ح لد‬
ِ (‫ف‬
َ ‫ن‬
ُ ‫حل‬
َ َ‫ة ا‬
ِ ‫وا‬
ْ ‫دها َ )ط ُهْ لٌر( ع َل‬
َ ّ ‫ط الط‬
َ ‫م لد ُ وََلن لا‬
َ ‫ث اهل فتح المعين ه‬
ُ َ‫و‬
ِ ‫ص‬
ٍ ُ ‫خب‬
ُ ْ ‫حي‬
َ َ ‫معْت‬
ُ َ ْ ‫ح ال‬
ّ ‫ذا هُوَ ال‬
ّ
ْ
َ
ٌ ْ‫قَو‬
‫ف‬
ْ ‫م‬
َ ‫وا‬
ٌ ْ ‫ضعِي‬
ّ ‫صرِهِ أ‬
َ ‫ل‬
ُ ‫ى ِفى‬
ُ ‫ف ذ َك ََره ُ ال‬
َ َ ‫خت‬
َ ‫ن الطلل‬
ْ ِ ‫مَزن‬
(61 ‫ ص‬,‫ث اهل )هامس فتح المعين‬
ِ َ ‫حد‬
ِ َ‫ي‬
َ ْ ‫معَ ال‬
ّ ‫ص‬
َ ‫ح‬
Syarat-syarat thawaf itu ada enam, salah satunya harus
suci dari hadats dan najis. Demikian ini menurut pendapat
shahih yang bisa dibuat pegangan. Dan kita pun
sebenarnya menjumpai qoul dlaif yang telah disebutkan
oleh al-Muzani dalam kitab mukhtasharnya yaitu: thawaf
itu dihukumi sah meskipun dalam keadaan berhadats.
(Hamisi Fath al-Muin, hal.61)

Hukum Bermalam di Mina
Ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum bermalam di
Mina:
a. Menurut mayoritas ulama’, bahwa bermalam di Mina
hukumnya wajib (karena termasuk wajib haji). Jadi ketika
jama’ah haji tidak bisa bermalam di Mina, maka ada denda
baginya. Hasyiyah al-Bajuri juz 1 hal. 322.

َ َ‫مَنى ه‬
‫ن‬
ِ ِ‫ب‬
َ ‫ح‬
ّ ‫ص‬
ُ ‫ح‬
َ ‫ذا‬
َ ‫ما‬
ْ ِ ‫ي ل َك‬
ّ ِ‫ه الّرافِع‬
‫ب ) حاشللية‬
َ ْ ‫ج لو‬
ُ ُ‫ض لةِ ال ْو‬
َ ْ‫ِزيا َد َةِ الّرو‬
( 322

‫ت‬
ّ ‫وَال‬
ُ ْ ‫مب ِي‬
َ ْ ‫س ال‬
ُ ِ ‫ساد‬
‫ي‬
َ ‫ح‬
ّ ‫ص‬
َ
ْ ِ‫واوِيّ ف‬
َ ّ ‫ح الن‬
‫ ص‬1 ‫الباجوري ج‬

b. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, ada dua pendapat: Yang
pertama wajib bermalam di Mina dan yang kedua
hukumnya sunnah, dengan catatan jika ditinggalkan tetap
diharuskan membayar dam.

14
3

َ ِ ‫شافعِي أ َظ ْهرهُما أ َنه واجب والّثان‬
‫ه‬
ُ ‫ي أّنلل‬
ْ
َ ٌ ِ َ ُ ّ َ ُ َ
ّ ِ ّ ‫ن ِلل‬
ِ َ ‫فِي ْهِ قَوْل‬
‫ ص‬2 ‫جب َّره ُ ب ِد َم ٍ )شرح المنهاج الجزء‬
ٌ ّ ‫سن‬
َ ‫ه‬
ْ ِ ‫ة فَإ‬
ُ
ُ َ ‫ن ت ََرك‬
( 470
Waktu Melempar Jumrah Ula, Wustho dan Aqobah pada
hari Tasyrik
Kapankah waktu yang tepat untuk melempar jumrah Ula,
Wustho dan Aqobah pada hari Tasyrik:
Ulama’ berbeda pendapat tentang kapankah waktu yang
tepat untuk melempar jumrah, pendapat mereka adalah sebagai
berikut:
a. Harus setelah dhuhur, kalau sesuai dengan hari yang
ditentukan, apabila tidak sesuai (molor/mundur) dari hari
yang sudah ditentukan maka boleh dilakukan sebelum
dhuhur.

ْ َ ‫ل إ ِل‬
‫س لب َةِ إ ِل َللى‬
ْ ّ ‫ي ِبالن‬
ْ ‫مت َعَل ّلقٌ ب َِر‬
ُ (‫خ‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
ِ ‫ه ب َعْد َ َزَوا‬
ٍ ‫مل‬
َ
‫ث‬
ِ َ ‫ت الث ّل‬
ِ ‫م لَرا‬
ِ ‫مَرا‬
َ ْ ‫ي إ ِل َللى ال‬
ُ ْ‫ت أيْ وَي َك ُلو‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫ج‬
ْ ‫ن الّر‬
َ ‫ج‬
ُ ‫مل‬
َ ‫ي قَْبلل‬
َ ‫هلل‬
‫ذا‬
َ َ‫ل و‬
ِ َ ‫ل فَل َ ي‬
ّ ‫صلل‬
ْ ‫ح الّر‬
ِ ‫ل الللّزَوا‬
ُ ‫ملل‬
ِ ‫ب َْعللد َ الللّزَوا‬
َ
‫ي‬
ِ ‫حا‬
َ ْ ‫ي ال ْي َلوْم ِ ال‬
ْ ّ ‫مللا ِبالن‬
ْ ّ ‫ِبالن‬
ْ ‫سلب َةِ ل َِر‬
ّ ‫ضلرِ أ‬
ْ ‫سلب َةِ ل َِر‬
ِ ‫مل‬
ِ ‫مل‬
َ
ُ ‫داَر‬
ْ ّ ‫قي ّةِ أي لا َم ِ الت‬
‫و‬
ِ َ‫ي ب‬
َ َ ‫ب فَي َت‬
ِ ِ ‫ال ْي َوْم ِ ال َْغائ‬
ْ ‫ق وَل َل‬
ْ ِ‫ك ف‬
ِ ْ ‫ش لرِي‬
َ ْ ‫ن قَب‬
‫ ص‬2 ‫ل ) حاشللية اعانللة الطللالبين ج‬
َ َ ‫كا‬
ِ ‫ل الّزَوا‬
( 306

Melempar jumrah Ula, Wustho, Aqobah, wajib dilakukan
setelah dhuhur. Maka tidak sah melempar sebelum dhuhur,
ini kalau dilakukan untuk lemparan pada harinya, akan
tetapi kalau untuk lemparan yang dilakukan tidak sesuai
dengan harinya maka boleh dilakukan sebelum dhuhur.
(Hasyiyah I’anah al-Thalibin bab haji juz 2 halaman 306)
b. Lebih utama dilaksanakan setelah masuk waktu dhuhur.
144

َ ُ َ ‫شريق ث َل َث‬
َ
َ
‫ت‬
ٍ ‫ة أوَْقا‬
ّ ‫م(أ‬
ُ ْ‫ت وَق‬
ْ ‫ن الّر‬
ْ َ ‫) َواع ْل‬
َ ‫م‬
ِ ْ ِ ْ ّ ‫ي أّيام ِ الت‬
2 ‫ل )حاشية اعانللة الطللالبين ج‬
ِ َ‫ف‬
ِ ‫ضي ْل َةٍ وَهُوَ ب َعْد َ الّزَوا‬
( 306 ‫ص‬
Ketahuilah sesungguhnya waktu melempar jumrah
mempunyai tiga waktu, dan waktu yang lebih utama
adalah setelah dhuhur. (Hasyiyah I’anah al-Thalibin bab
haji juz 2 halaman 306)
c. Menurut Imam Haromain dan Imam Rofi’i dan pengikutnya
Imam Asnawi, berpendapat bahwa melempar jumrah
sebelum masuk waktu dhuhur hukumnya mubah (boleh),
tetapi dengan syarat setelah keluarnya fajar. Diterangkan
dalam kitab I’anah al-Thalibin:

َ
ْ ‫ل ب َل‬
َ ‫واَزه ُ قَب ْل‬
‫ل‬
َ َ‫ضا و‬
ً ْ ‫واَزه ُ فِي َْها أي‬
َ ُ ‫مد‬
َ َ ‫معْت‬
ُ ْ ‫وَال‬
ِ ‫ل اللّزَوا‬
َ ‫جل‬
َ ‫ج‬
َ َ ‫س لن َوِىّ َوق لا‬
‫ف‬
ُ ْ‫معْ لُرو‬
َ
َ ‫جَز‬
ْ َ ‫ه ا ْل‬
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ‫ل ا ِن ّل‬
ُ ‫ى وَت َب ِعَ ل‬
ّ ‫م الّرفِعِ ل‬
ُ ‫خ‬
َ ‫ل ي َلوْم ٍ قَب ْل‬
ّ ‫مللى ك ُل‬
‫ل‬
ُ ْ ‫ل وَع َل َي ْلهِ فَي َلد‬
َ ِ‫ب‬
َ ‫وازٍ َر‬
ِ ‫ل ال لّزَوا‬
َ ‫جل‬
(307,2 ‫جرِ )إعانة الطالبين جز‬
َ ْ ‫ِبال‬
َ ‫ف‬
Menurut pendapat yang bisa dijadikan pedoman, bahwa
boleh melempar jumrah sebelum dhuhur sebagaimana
telah ditetapkan oleh imam Rofi’i dan diikuti oleh imam
Asnawi bahwa boleh melempar jumrah setiap hari sebelum
dhuhur dengan syarat setelah masuk waktu fajar. ( I’anah
al-Thalibin bab Haji juz 2 hal 307 )

14
5

BAB XV
PERMASALAHAN YANG TERKAIT DENGAN PERNIKAHAN

Sebab-Sebab Perempuan yang Haram Dinikah
Dalam al-Qur’an dijelaskan:

ُ ‫كلل‬
‫م‬
َ َ ‫م وَأ‬
ُ
ْ ُ ‫مللات ُك‬
ّ َ ‫م وَع‬
ْ ُ ‫وات ُك‬
ْ ُ ‫م وَب ََنللات ُك‬
ْ ُ ‫مَهللات ُك‬
ّ ‫مأ‬
ْ ُ ْ ‫ت ع َل َي‬
ْ ‫ملل‬
َ ‫حّر‬
َ ‫خلل‬
ُ
ُ
َ
‫م الل ِّتللي‬
‫ت ال‬
ْ ‫ت ال‬
َ َ‫و‬
ِ ‫خلل‬
ُ ُ ‫مَهللات ُك‬
ّ ‫ت وَأ‬
ُ ‫خ وَب ََنللا‬
ُ ‫م وَب ََنللا‬
ْ ُ ‫خللال َت ُك‬
ِ
ُ
َ
َ
ُ ُ ‫وات‬
‫م‬
َ ‫م وَأ‬
َ ‫ن الّر‬
َ ‫أْر‬
َ ِ‫ت ن‬
ْ ُ ‫سللآئ ِك‬
ُ ‫مَهللا‬
ّ ‫ضللاع َةِ وَأ‬
ّ ‫كم‬
ْ ُ ‫ضللعْن َك‬
َ ‫ملل‬
َ ‫خلل‬
ُ ِ‫جللور‬
‫م‬
َ َ ‫م الل ّت ِللي د‬
ُ ‫ح‬
ُ ‫م الل ِّتي ِفي‬
َ ّ‫ن ن‬
ْ ‫خل ْت ُل‬
ُ ُ ‫سللآئ ِك‬
ّ ‫كم‬
ُ ُ ‫وََرَبائ ِب ُك‬
ْ ‫مل‬
ُ ْ ‫ح ع َل َي‬
ُ َ‫م ت‬
ُ ِ ‫حل َئ‬
‫ل‬
َ َ ‫كوُنلوا ْ د‬
َ َ‫م و‬
َ ‫جَنلا‬
ُ َ ‫ن فَل‬
ْ ‫كل‬
ْ ‫خل ُْتل‬
ْ ‫ن فَِإن ّلل‬
ّ ‫م ب ِِهل‬
ّ ِ‫ب ِه‬
َ
َ
َ
ُ
َ
ْ
ّ
‫مللا‬
ْ ‫ن ال‬
ِ ‫ن‬
ْ َ‫ن ت‬
ْ ‫م وَأ‬
َ ّ ‫ن إل‬
َ ‫ج‬
ْ ُ ‫صل َب ِك‬
ُ ُ ‫أب َْنائ ِك‬
ْ ‫نأ‬
َ ْ ‫مُعوا ب َي‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫م الذ ِي‬
ِ ‫خت َي ْل‬
َ ‫ه‬
(23) ‫ما‬
ِ ‫ن غ َفُوًْرا ّر‬
َ َ ‫سل‬
َ ‫كا‬
ّ ِ‫ف إ‬
َ ْ ‫قَد‬
ً ْ ‫حي‬
َ ّ ‫ن الل‬

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu
yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan,
saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara
ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu,
saudara perempuan sesusu, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak
isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu
campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan
sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu menikahinya,
(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu
(menantu),
dan
menghimpun
(dalam
perkawinan)
dua
perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada
masa lampau, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Q.S. An-Nisa’ ayat 23)
[281] Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas.
Dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak
perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian
juga yang lain-lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan anak146

anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut jumhur
ulama’
termasuk
juga
anak
tiri
yang
tidak
dalam
pemeliharaannya.
Wanita-wanita yang haram dinikah dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
a. Sebab nasab ada tujuh macam:
1. Ibu sampai ke atas
2. Anak Perempuan ke bawah
3. Saudara perempuan
4. Saudara perempuan dari bapak
5. Saudara perempuan dari Ibu
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan)
7. Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan)
b. Sebab sesusu (tunggal suson) ada tujuh macam:
1. Ibu yang menyusui
2. Anak perempuan dari ibu yang menyusui
3. Saudara sesusuan
4. Saudara perempuan dari bapak (bapak disini adalah suami
ibu yang menyusui)
5. Saudara perempuan dari ibu yang menyusui
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki tunggal susu
7. Anak perempuan dari saudara perempuan tunggal susu
(keponakan). Dalam hadits dijelaskan:

َ ِ ‫عائ‬
َ ‫ن‬
َ ‫ش‬
ِ‫ه ع َل َْيلله‬
ِ ‫ة َر‬
ّ َ ‫ه ع َن َْها ا‬
ُ ‫صّلى الل‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ي‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
َ ‫ض‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫م َقا‬
.‫ة‬
ِ َ ‫ن ال ْوِل َد‬
ِ ‫م‬
ِ َ ‫ضاع‬
ِ ‫م‬
ْ َ ‫ما ي‬
َ ‫ن الّر‬
ْ َ‫ل ي‬
ُ ‫حُر‬
ُ ‫حُر‬
َ َ‫و‬
َ ‫ة‬
َ ّ ‫سل‬
َ ‫م‬
َ ‫م‬

c. Perempuan yang haram dinikahi sebab hubungan mertua,
itu ada empat:
1. Istrinya bapak (ibu mertua)
2. Istrinya anak laki-laki kandung (menantu perempuan)
3. Mertua ( ibu dari istri )
4. Anak Tiri Perempuan dari istri

14
7

d. Selain dari bagian-bagian di atas ada juga perempuan yang
haram dinikahi:
1. Mengawini
saudara
perempuan
kandung
istri
(menghimpun)
2. Menikahi perempuan yang bersuami atau perempuan yang
belum habis masa iddahnya.
Iddah
Iddah adalah masa penantian mantan istri (yang ditinggal
mati atau sebab dicerai oleh suami), yang bertujuan untuk
membersihkan rahim perempuan dalam waktu yang ditentukan.
Macam-macam iddah ada 2, yaitu:
1. Istri yang ditinggal mati suami, hal ini masa ‘iddahnya ada
2:
- Jika masih mengandung, masa ‘iddahnya adalah sampai
melahirkan
- Jika tidak mengandung, massa ‘iddahnya adalah 4 bulan
10 hari
2. Istri yang diceraikan oleh suami, hal ini masa ‘iddahnya
ada 3:
- Jika masih mengandung, masa iddahnya adalah sampai
melahirkan
- Jika dalam keadaan haid/nifas, maka iddahnya sampai
masuk pada masa haid yang ke 4
- Jika dalam keadaan suci, maka ‘iddahnya sampai
masuknya masa haid yang ke 3
Hukum Menjatuhkan thalaq pada istri ketika dalam keadaan
haid adalah haram, meskipun thalaqnya sah. Hal ini diterangkan
dalam kitab Al-Bajuri ‘Ala Ibni Qasim, Juz II, hal. 171)

ْ ْ ‫وَالط ّل َق فى ال ْحيض حرام ك َمللا ملر فَللالط ّل َق ال‬
ِ‫موُْر ب ِله‬
ِ ُ
ُ ‫م لأ‬
َ ُ
ّ َ َ ٌ َ َ ِ ْ َ
ّ
ْ
ّ
َ َ ‫ن ِفى الطهْلرِ ل ِت‬
‫ق‬
ِ ِ ‫حي ْن َئ ِذ ٍ ب‬
ِ ِ‫شلّرِع فِللي العِلد ّة‬
ِ َ ‫خل‬
ُ ْ‫ي َك ُو‬
ِ َ ‫ف الطل‬
ْ ُ ‫ض فَا ِن َّهلا ل َ ت‬
‫شلَرع ُ )البلاجورى عللى إبلن قاسلم‬
َ ْ ‫ِفلى ال‬
ِ ‫حْيل‬
(171 : ‫ ص‬2 ‫الجزء‬
148

Urutan Wali Nikah
Akad nikah tidak sah kecuali ada wali yang menikahkannya.
Urutan orang-orang yang berhak menikahkan perempuan adalah:
1. Ayah dari pihak perempuan
2. Kakek dari pihak perempuan
3. Saudara laki-laki kandung
4. Saudara laki-laki se ayah (tunggal bapak)
5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki se ayah (tunggal
bapak)
7. Paman tunggal kandung (dari bapak)
8. Paman tunggal bapak (dari bapak)
9. Anak dari paman tunggal kandung (dari bapak)
10.Anak dari paman tunggal bapak (dari bapak)
11.Orang yang memerdekakan budak
12.Hakim (apabila wali dari nasab tidak ada).
Hal ini diterangkan dalam kitab Fathu al-Qarib hal 44. Dan
keterangan yang lebih lengkap bisa dilihat dalam kitab Hasyiyah
al-Bajuri ‘Ala Ibni Qasim juz 2 halaman 105.

َْ
‫جلد ّ ا َب ُللو‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ َ ‫ج ا َْل‬
َ َ ‫وَ ا َوَْلى ال ْوَِلي َةِ ا َيْ ا‬
ّ ُ‫ب ث‬
ِ ْ ‫حقّ الوْل َِياِء ِبالت ّْزوِي‬
َ
َْ
َ ُ َ ‫خ ل ِْل َب واْل ُم ث ُلم اْل‬
َ
ُ َ ‫م اْل‬
‫ب‬
ّ َ ِ
ّ ‫ب ث ُل‬
ّ
ّ ‫ب ث ُل‬
ِ ‫خ ل ِْل‬
ِ ‫خ ل ِْل‬
ِ ‫اْل‬
ُ ‫م إ ِب ْل‬
ِ ‫ن ال‬
َ
َْ
ُ
َ ‫ه ع ََلى هَ ل‬
‫ب‬
ّ ‫َواْل‬
ُ ُ ‫م إ ِب ْن‬
ّ ُ‫م ث‬
ّ َ‫م ال ْع‬
ّ ُ‫ب ث‬
ّ ُ‫م ث‬
ِ ‫ذا الت ّْرت ِي ْل‬
ِ ‫خ ل ِْل‬
ُ ْ ‫م إ ِب‬
ِ ‫ن ال‬
‫ او حاشية الباجوري على ابن قاسم‬44 ‫)فتح القريب ص‬
( 105 ‫ ص‬2 ‫ج‬
Akad Nikah bagi Tuna Wicara

14
9

Tata cara akad nikah bagi orang normal adalah
sebagaimana biasanya yang telah kita ketahui bersama, namun
bagaimanakah tata cara akad nikah bagi tuna wicara (orang
bisu)?
a.
Tidak boleh dilakukan sendiri, tetapi harus
diwakilkan
kepada
seseorang
yang
mampu
untuk
mewakilinya

َ ْ ‫وَقِي‬
‫صللب ُِر‬
ِ َ‫ل ل َ ي َن ْع‬
ُ َ ‫قد ُ َالّنكا‬
ْ َ ‫صي ْغَةِ ال ْعََرب ِي ّةِ فَعَل َْيللهِ ي‬
ّ ‫ح إ ِل ّ ِبال‬
َ
َ ‫م أ َوْ ي ُوَك ّل‬
‫ل ) فتللح المعيللن فللى‬
ِ
ْ ‫جزِ إ ِّلى أ‬
ْ َ‫عن ْد َ ال ْع‬
َ ّ ‫ن ي َت َعَل‬
( ‫باب النكاح‬

Dikatakan, bahwa akad itu nikah tidak sah kecuali dengan
bahasa arab, maka hendaklah bersabar bagi orang yang
tidak mampu sampai dia belajar bahasa arab atau
mewakilkan kepada orang yang mampu. (Fathu al-Mu’in bab
Nikah)
b.
Cukup dengan mengunakan isyarah saja sudah
cukup dan sah nikahnya. Dalil yang menjelaskan hal ini
adalah sebagai berikut:

َ ّ ‫د( ا َيْ الن‬
َ ِ ‫ه ب ِإ‬
‫ة‬
ْ ‫م‬
ْ َ ‫شاَرةٍ ا‬
ٌ ‫م‬
ِ َ‫ه وَي َن ْع‬
ُ ‫كا‬
ُ ‫ق‬
َ ِ‫فه‬
ُ ‫س‬
ُ ُ ‫ح وَقَوْل‬
ُ ُ ‫)قَوْل‬
َ ‫خَر‬
َ ِ ‫قد ُ ن‬
َ ‫شلاَرت ِهِ ال ِّتلى ل‬
َ ِ ‫س ب ِإ‬
َ ‫ح‬
ْ َ ‫ح ا ْل‬
ِ
ِ َ‫فةِ وَي َن ْع‬
ُ ‫كلا‬
ْ ّ ‫عَباَرة ُ الت‬
َ ‫خلَر‬
َ َ ‫ن وَك‬
‫مللا‬
َ ْ ‫مَها ال‬
َ ِ‫ص ب‬
ْ َ‫ي‬
ِ َ ‫ذا ب ِك ِت َللاب َت ِهِ ب ِل‬
ِ ْ ‫فه‬
ٍ َ ‫خل‬
َ ‫ف ع َل َللى‬
ّ َ ‫خت‬
ُ َ ‫فط‬
ْ
(277 :‫ ص‬3 :‫موِْع )اعانة الطالبين الجزء‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ج‬
َ ‫ِفي ال‬
Akad nikah dihukumi sah dengan menggunakan isyarah
yang memahamkan bagi orang bisu, itu terdapat di dalam
kitab Tuhfah. Nikahnya orang bisu itu dihukumi sah dengan
menggunakan isyarah yang memahamkan, tidak ditentukan
hanya orang yang pandai memahami isyaroh tersebut. ”Juga
sah nikahnya orang yang bisu itu dengan tulisannya,
pendapat ini tidak ada khilaf, (keterangan kitab majmu’).
I’anah al-Thalibin juz 3 hal 277
150

Menikah Lagi Bagi Perempuan yang Cukup Lama Ditinggal
Pergi Suami
a. Tidak boleh karena masih dalam ikatan pernikahan.
b. Boleh, dengan syarat istri harus yakin kalau suaminya
sudah meninggal dunia atau yakin kalau suami sudah
menjatuhkan talaq.
c. Menurut Qoul Qodim: Istri boleh menikah lagi dengan
syarat tidak ada kabar dari suami selama 4 tahun.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab: Mughni alMuhtaj, juz III, hal. 105.

َ ‫ن‬
‫حت ّللى‬
َ ْ ‫ب َوان‬
َ َ‫قط َع‬
َ ‫ح‬
ٌ ‫جت ِلهِ ن ِك َللا‬
َ ْ‫س ل َِزو‬
َ ‫غا‬
َ َ‫و‬
َ ‫خب َلُره ُ ل َي ْل‬
ْ ‫م‬
َ
َ ‫قلن ملوت‬
‫ع‬
َ ْ ‫ وَِفلي ال‬، ‫ه‬
ِ ‫قل‬
َ ‫ص أْرَبل‬
ُ ‫ه أوْ ط ََلُقل‬
ُ ُ ْ َ َ ّ َ ‫ي ُت َي‬
ُ ‫ديم ِ ت ََرّبل‬
3 ‫ ) مغنلى المحتللاج ج‬،‫ح‬
ِ ْ ‫م ت َعْت َد ّ ل ِوََفلاةٍ وَت َن‬
ِ
ُ ‫كل‬
ّ ُ‫ن ث‬
َ ‫سِني‬
( 105 ‫ص‬

Keterangan yang sama bisa dilihat dalam kitab Al-Minhaj Lii
an-Nawawi bab Kitabu al-‘idadi juz 1 hal 372. dan Minhaj alThalibin juz 1 hal 116.
Hukum Kado Pernikahan (Amplop Buwuhan)
Di sebagian masyarakat terdapat suatu tradisi yang
menarik saat menyelenggarakan walimah/resepsi pernikahan
pengantin, khitanan atau ulang tahun, yang mana para tetangga
atau sahabat dan handai taulan mendatangi undangan acara
tersebut dengan membawa dan memberikan kado atau uang
buwuhan kepada kemanten atau penyelenggara. Bagaimanakah
hukum tradisi buwuhan yang terjadi di masyarakat dilihat dari
aspek hukum fikih?
Dalam hal ini ulama’ berbeda pendapat:
a. Hadiah, kado atau “buwuhan” statusnya sebagai Hibah.

15
1

‫معْت َللاد ِ فِللي‬
ُ ّ ‫ه فِللي الن‬
َ ‫ح‬
ِ
ِ ْ ‫ق لو‬
ِ ّ ‫فةِ َوال‬
ْ ّ ‫عَباَرة ُ الت‬
ُ ْ ‫ط ال‬
ُ ‫ج‬
ِ ّ ‫ذى ي َت‬
َ
َ
ْ
‫م‬
ٌ َ ‫ه ه ِب‬
ْ ِ ‫ف فِي ْلهِ ل‬
ِ ‫ة وَل َ أث ََر ل ِل ْعُْر‬
ْ َ ‫مللال‬
َ ِ‫ض لط َِراب ِه‬
ُ ّ ‫ح أن‬
ِ ‫ال َفَْرا‬
ً َ ُ ‫خذ ْه‬
َ ‫ص لد ُقُ فِللي ن ِي َلةِ ٰذل ِل‬
ْ ‫ق‬
‫ك‬
َ ْ ‫وى ال‬
ُ َ‫ي‬
ُ ‫ل‬
ْ َ ‫ض وَي‬
َ ‫قْر‬
ِ ْ ‫مث َل َ وَي َن‬
َ
َ
ُ ‫م‬
َ ‫ه وَع ََلى ٰه‬
‫ض‬
َ ُ‫ل إ ِط ْل َق‬
ْ ُ ‫ذا ي‬
ُ ‫ملٍع أن ّل‬
ْ ‫ج‬
َ ‫ح‬
ُ ُ ‫هُوَ أوَْوارِث‬
ٌ ‫ه قَلْر‬
َ
َ
َ ْ ‫ل ق َل و‬
َ ‫قل‬
.‫ل هَلؤ ُل َِء‬
َ َ ‫مللا ن‬
َ ْ‫ت ب َع‬
ُ ْ‫أى‬
َ ِ‫م ل‬
ْ ُ ‫ض له‬
ُ ‫م َرأي ْل‬
ّ ‫مللا ُثل‬
ً ْ ‫حك‬
َ
ُ ْ‫وَقَو‬
،3 ‫ الجللزء‬،‫ة )إعانللة الطللالبين‬
ٌ ‫ه ه ِب َل‬
ِ ْ ‫ل ال ْب ُل‬
ُ ّ ‫قي ِْنى أن‬
(51 ‫ص‬
Adapun ungkapan yang terdapat dalam kitab tuhfah yaitu:
pendapat yang dianggap kuat tentang hadiah perkawinan
(kado/buwuhan) adalah sebagai hibah (pemberian), dan
keumuman (urf) masyarakat yang menganggap bahwa
buwuhan itu hutang tidak ada pengaruh karena kebiasaan
masyarakat tidak tetap, selama dia tidak mengatakan
“ambillah” dan dia berniat menghutangi. I’anah al-Thalibin
juz 3 hal 51
b. Hadiah, kado atau “buwuhan” statusnya sebagai Hutang,
apabila memenuhi 3 (tiga) syarat sebagai berikut:
1. Memberikannya dengan ucapan contoh ”ambillah
uang ini”
2. Berniat menghutangi
3. Adanya kebiasaan atau tradisi di masyarakat untuk
mengembalikan uang buwuhan.
(I’anah At-Thalibin, Juz 3 hal 52.)

‫ر‬
ِ ‫حلللّرَر‬
َ َ‫ن ح‬
َ َ ‫َوال ّلللذ ِيْ ت‬
ْ ‫ن ك َل َم ِ الّر‬
ْ ‫مللل‬
ٍ ‫جللل‬
ِ ‫مل ِلللى َواب ْللل‬
َ
‫معَْتلاد ِ ِفلي‬
ُ ّ ‫جوْع َ ِفلي الن‬
ِ ْ‫قلو‬
ِ ‫وا‬
ُ ‫ه ل َُر‬
َ َ‫و‬
ُ ْ ‫ط ال‬
ُ ّ ‫ما أن‬
َ ِ‫شي ْه‬
َ ‫ح‬
َ ِ‫ه إ‬
‫ا ْل َفَْرا‬
ِ‫ه فِللي ي َلد‬
َ َ‫ذا و‬
ُ َ‫ض لع‬
ُ ُ ‫مللال ِك‬
َ ِ‫ج لعُ ب ِله‬
ِ ‫ح أى ل َي َْر‬
ِ
َ
َ ‫فر‬
ْ ِ ‫ح‬
ُ ِ ‫م لأ ْذ ُوْن ِهِ إ ِل ّ ب‬
‫ن‬
ِ ‫صا‬
ٍ ْ‫ش لُرو‬
ْ ‫ط ث َل َث َلةٍ أ‬
َ ِ ‫ح أوْي َلد‬
ََ
ِ َ َ ‫ب ال‬
َ
َ
َ
‫ق‬
ْ ‫ى ب ِل‬
ُ ‫ظك‬
ُ ِ ‫صد‬
ِ ‫ف‬
ُ ‫ن ي َن ْوِىَ الّر‬
ْ ‫حوِهِ وَأ‬
ْ َ ‫خذ ْ وَن‬
ْ َ ‫جوْع َ وَي‬
ِ ْ ‫َيأت‬
152

َ
َ
َ ِ ‫جللوْع َ فِْيللهِ وَإ‬
‫ذا‬
ُ
ُ ‫ن ي َعَْتللاد َ الّر‬
ْ ‫ه فِي َْهللا وَأ‬
ُ ‫هللوَ أوْ َوارُِثلل‬
َ
ّ ‫حللوه ُ أوْ فِللي ال‬
‫ة‬
ِ ‫سل‬
ُ ُ ‫ن وَن‬
َ َ‫و‬
َ ‫طا‬
ُ ْ ‫ه فِللي ي َلد ِ ال‬
ُ َ‫ض لع‬
ِ ‫مَزي ّل‬
ْ
َ
َ ِ ‫جعُ إ ِل ّ ب‬
‫ح‬
َ ‫ب ال‬
ُ ‫ح‬
َ ‫صا‬
ْ َ ‫ن إ ِذ‬
ِ ‫معُْروْفَةِ ل َي َْر‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫ن‬
ِ ‫فللَر‬
ِ ْ ‫شْرطي‬
َ ‫قه‬
َ َ‫و‬
‫خَنا ح ف إهل )اعانة‬
ّ ‫ق‬
ّ ‫ح‬
ُ ْ ‫شي‬
ِ ‫شْر‬
َ ‫ما‬
ُ ‫ط الّر‬
َ َ ‫جوِْع ك‬
(52 ‫ ص‬3 ‫الطالبين ج‬
Kesimpulan:
 Status hadiah, kado atau “buwuhan” sebagai hibah
apabila si pemberi hadiah, kado atau “buwuhan” tidak
berniat untuk menghutangi kepada penyelenggara walimah.

 Status hadiah, kado atau “buwuhan” sebagai hutang,
apabila si pemberi menyerahkan kepada yang di hiasi
(seperti penganten) atau ditempat yang disediakan dan
adanya adat atau kebiasaan uang hadiah, kado atau
“buwuhan” dikembalikan lagi.
Hukum Jihaz (Cincin Tunangan dan Sejenisnya)
Dalam menjalin hubungan pra nikah saat meminang
seseorang wanita di sebagian masyarakat terjadi tradisi yaitu lakilaki menyerahkan harta misalnya cincin atau sejenisnya. Yang
disebut Jihaz (pengikat).
Bagaimanakah status cincin atau sejenisnya itu
a.
Status harta Jihaz sebagai hadiah
b.
Status harta Jihaz sebagai mas kawin
Al-Fatawi al-Kubro, Juz 4 hal 44 ;

َ
َ
َ ‫خط َب إ‬
َ ِ ‫سئ‬
َ ‫م‬
‫ش لي ًْئا‬
َ ‫ن‬
َ ‫مَرأة ً فَأ‬
ُ َ‫)و‬
ْ ُ‫جاب ُوْه ُ فَأع ْط َللاه‬
ْ ِ َ
ّ َ ‫ل( ع‬
ْ ‫م‬
َ
ُ
ْ
ْ
َ
ْ
ُ ِ ‫مل‬
َ ْ‫ة أو‬
ْ َ‫جَهاُز ه‬
،‫ل‬
ْ ‫م‬
ُ ‫خطوَْبلل‬
ِ
َ ُ‫ل ي‬
َ ‫ه ال‬
ُ ‫كلل‬
ْ َ‫ل ت‬
ِ ‫مى ال‬
ّ ‫س‬
ِ ‫ن الما‬
َ ‫م‬
َ
َ
َ ‫وا ل َن َللا ذ َل ِل‬
‫ب‬
َ ْ ‫ة ال‬
ُ ‫ن ال ْعِب َلَرة َ بن ِي ّل‬
ّ ‫ب( ب ِلأ‬
َ َ ‫ج لا‬
َ ‫ك )فَأ‬
ِ ِ ‫خللاط‬
ْ ‫ب َي ّن ُل‬
َ
‫ة‬
ْ ‫م‬
ُ ‫خط ُوْب َل‬
ِ ‫ة أوْ ب ِن ِي ّل‬
ْ ِ ‫دافِِع فَإ‬
ّ ‫ال‬
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ْ ‫مل َك َت‬
َ ِ‫ن د َفْعَ ب ِن ِي ّةِ ال ْهَد ِي ّة‬

15
3

‫ر‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫ب‬
ِ ‫ح‬
ِ ِ‫سللبان ِه‬
َ ‫ن ك َللا‬
ْ ِ‫ه إ‬
َ ‫سل‬
ُ ِ‫مهْ لر‬
َ ‫ح‬
ُ ‫من ْل‬
َ ْ ‫ن ال‬
ْ ‫مل‬
َ ‫مل‬
ِ َ ‫ن غ َي ْل‬
َ
ْ ‫ص‬
َ ِ ‫جوِْع ب ِهِ ع َل َي َْها إ‬
ِ ‫س‬
ِ ْ ‫جن‬
ٌ ‫ل ُزّوا‬
ْ َ‫م ي‬
ُ ‫ أوْب ِن ِي ّةِ الّر‬،‫ه‬
ْ َ ‫ذا ل‬
ِ
ُ ‫ح‬
ْ‫ج أو‬
َ
َ
َ
‫جلعُ ب ِلهِ ع َلي ْهَللا )الفتللاوى‬
ٌ ّ ‫ه ن ِي‬
ِ ‫ه وَي َْر‬
ُ ‫مل ِك ْل‬
ْ َ‫م ت‬
ْ ‫ةل‬
ُ ‫نل‬
ْ َ‫ل‬
ْ ُ ‫م ي َك‬
( 44 ‫ ص‬4 ‫الكبرى ج‬
“Ditanyakan” tentang seorang laki-laki yang melamar
wanita lain lantas keluarganya menerima, kemudian lakilaki tersebut memberikan sesuatu harta yang dinamakan
dengan jihaz (pengikat) kepada mereka, apakah wanita
yang dipinang tersebut berhak memilikinya atau tidak?
Jawab ”Sesungguhnya yang dijadikan pedoman adalah dari
si pelamar tersebut, jika dia berniat memberikannya
sebagai hadiah maka wanita pinangamnya berhak
memilikinya, atau jika niatnya sebagai nilai dari maskawin
maka akan dianggap sebagai maskawin untuk wanita yang
dipinang. Jika pelamar berniat sebagai maskawin, namun
perkawinan itu gagal atau tidak ada niat sama sekali, jika si
pemberi jihaz berniat menarik kembali pemberiannya maka
si perempuan itu tidak bisa memilikinya dan barang itu
harus dikembalikan”.
Kesimpulan:

Apabila si pemberi jihaz ketika memberikannya berniat
atau bertujuan sebagai hadiah maka wanita yang dipinang
berhak untuk memiliki harta tersebut.

Apabila tujuan si pemberi jihaz sebagai nilai dari
maskawin maka dianggap sebagai maskawin dan wanita
berhak memilikinya, tetapi si pemberi jihaz (pelamar) juga
boleh menariknya kembali apabila perkawinan gagal dan
wanita yang dilamar harus mengembalikannya.
Menjamak Shalat ketika Hajatan
Ketika di rumah menyelenggarakan hajatan seperti acara
walimah pengantin, sering kali kesibukan menyita waktu banyak

154

sehingga kadang-kadang waktu shalat tanpa disadari berlalu
begitu saja.
Untuk menanggulangi kesibukan seperti itu dan demi
menjaga kewajiban menunaikan shalat, bolehkah menjama’
shalat ketika ada hajatan atau kerepotan yang lain?
a. Tidak boleh, menurut sebagian ulama’ karena shalat jama’
digunakan pada saat berpergian bukan pada saat berada
di rumah.
b. Boleh, menurut Ibnu Sirrin, Al-Qaffal, dan abu Ishaq alMarwazy, karena menjama’ shalat sebagai kemurahan
ketika dalam kondisi sibuk dan hal itu dilakukan bukan
sebagai kebiasan.
Hal ini diterangkan dalam kitab Syarah Muslim li anNawawi juz 5 hal 219.

َ
‫ملِع فِللي‬
ٌ ‫ماع َل‬
ِ ‫ة‬
َ ْ ‫وازِ ال‬
َ ‫م لةِ ا ِل َللى‬
َ ‫ب‬
َ ‫وَذ َهَل‬
ْ ‫ج‬
ّ ِ ‫ن ا ْلئ‬
َ ‫ج‬
َ ‫جل‬
َ ‫مل‬
ُ ْ‫خذ ُه ُ ع َللاد َة ً وَهُلوَ قَلو‬
‫ن‬
ِ ّ ‫ن ل َ ي َت‬
ِ ‫حا‬
َ ‫حا‬
َ ْ ‫ضرِ ل ِل‬
َ ْ ‫ال‬
َ ِ ‫جةِ ل‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ل اب ْل‬
َ ‫شهب م‬
َ
َ ‫خ‬
‫طللاِبي‬
َ ْ ‫حكا َه ُ ال‬
ِ ‫ص‬
ِ
َ َ‫ك و‬
ٍ ِ ‫مال‬
َ ‫ب‬
ِ ‫حا‬
ْ ‫نأ‬
ْ ِ ُ َ ْ ‫سي ْرِْين وَأ‬
َ
ْ
ْ
ّ ‫ب ال‬
ّ ‫ل َوال‬
‫شللافِِعى‬
َ ‫ق‬
َ ‫ن ال‬
ِ ِ‫شى الك َب ِي ْر‬
ِ ‫شا‬
َ ‫ص‬
ِ ‫حا‬
ْ ‫نأ‬
ْ ‫م‬
ِ ‫فا‬
ِ َ‫ع‬
َ
َ
‫ب‬
ِ ٍ‫ماع َة‬
َ ‫صلل‬
َ ‫ن‬
َ ‫س‬
ْ ِ ‫ن أِبى إ‬
َ ‫ج‬
َ ْ ‫حاقَ ال‬
ِ ‫حا‬
ْ ‫نأ‬
ْ ‫مل‬
ْ َ ‫مْروَِزى ع‬
ْ َ‫ع‬
َ ) ‫ذر‬
‫واِوى‬
ْ ‫ث َوا‬
ِ ْ ‫من‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
َ ‫شّر‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ‫م‬
ُ ِ ‫سللل‬
ُ ‫ح‬
ُ ْ ‫ن ال‬
َ ‫م ِللّنلل‬
ُ ْ ‫خَتاَره ُ اب‬
( 219 ‫ ص‬5 ‫صل َةِ ج‬
ِ َ ‫ِفي أ‬
َ ْ ‫وازِ ال‬
َ ِ‫خر‬
ْ ‫ج‬
ّ ‫ن ال‬
َ ْ ‫مِع ب َي‬
َ ‫ج‬
Artinya:
sejumlah
imam
berpendapat
tentang
diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada
keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai
kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirin, Asyhab, pengikut
Imam Malik, Al-Qoffal, Al-Syasyi, Al-Kabir dari kalangan
Asy-Syafi’i dan Abu Ishaq Al-Marwazi dari kalangan Ahli
Hadist. Pendapat ini di pilih oleh Ibnu Mundzir.

15
5

ٌ ْ‫ة( ل ََنا قَو‬
‫ر‬
َ ْ ‫فرِ ال‬
َ ‫سل‬
ٌ َ ‫)فَائ ِد‬
ِ ‫ق‬
َ ْ ‫وازِ ال‬
َ ِ‫ل ب‬
ّ ‫ي ال‬
ْ ‫ج‬
ْ ‫م لِع فِ ل‬
َ ‫ج‬
ِ ْ ‫ص لي‬
َ َ‫ي و‬
‫ي‬
ْ ِ‫إ‬
ِ ْ ‫ح لد ِي‬
َ ‫ث‬
َ ْ ‫ظاه ُِر ال‬
ِ ْ ‫خَتاَره ُ ال ْب َن ْد َن ِي‬
ْ ‫واَزه ُ وَل َلوْ فِ ل‬
َ ‫جل‬
ْ ‫ج‬
َ ‫ي‬
‫ن‬
َ ْ ‫حك َللى ال‬
َ َ‫سل ِم ِ و‬
َ ‫ح‬
َ
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫ح ال‬
َ َ ‫ضرٍ ك‬
ْ ‫ي ع َل‬
ْ ِ ‫خط ّللاب‬
ْ ِ‫ما ف‬
ِ ‫شْر‬
َ
‫ )بغيللة‬.‫ة‬
ِ ‫جل‬
َ ‫حا‬
َ ْ ‫ض لرِ ل ِل‬
َ ‫ح‬
َ ْ ‫واَزه ُ فِللي ال‬
َ ‫حاق‬
َ ‫سل‬
ْ ِ‫ي إ‬
َ ‫جل‬
ْ ‫أب ِل‬
(77 ‫ ص‬،‫المسترشدين‬
Menurut imam Al-Bandanijiy: Diperbolehkan menjamak
shalat ketika dalam bepergian walaupun dekat seperti
halnya yang dijelaskan dalam hadits diriwayatkan oleh AlKhottobi dari Abi Ishaq tentang diperbolehkannya
menjamak sholat ketika di rumah karena ada hajat.
Hukum KB

Pengertian KB
Keluarga Berencana dalam istilah Arab disebut: Tanzim
An-nasl yang berarti: pengaturan keturunan sebagai upaya
atau tindakan yang membantu pasutri untuk:
1. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
2. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
3. Mengatur jarak (interval) diantara kehamilan
4. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan
dengan umur suami istri
5. Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Jadi perlu di perhatikan pengertian KB bukanlah tahdid
an-nasl: pembatasan keturunan akan tetapi tanzim Annasl/pengaturan keturunan dengan metode kontrasepsi (cara
pencegahan pembuahan).
Tujuan KB
Untuk mengatur kesejahteraan ibu dan anak dalam
rangka mewujudkan keluarga bahagia yang menjadi dasar

156

terwujudnya masyarakat sejahtera dengan mengendalikan
kelahiran sekaligus dalam rangka menjamin terkendalinya
pertumbuhan pendidikan. Tujuan KB : GBHN, 1978.

Metode KB
1. Metode sederhana

Pantang berkala (sistem kalender)

Senggama terputus/coitus interuptus/’azal

Menggunakan alat kondom
2. Metode modern


1.

2.
3.
4.

15
7

Menggunakan Spiral/IUD. Dibagi menjadi 3 kelompok
Kontrasepsi hormoral misalnya ;
Pil Oral Kombinasi (POK)
Mini Pil, Suntikan dan Subkutia (implant)
Spiral/IUD (memasangnya harus dilakukan oleh
suami)
Sterilisasi: Tubektomi (pemotongan tuba falloppi)
dan Vasektomi (pemotongan vas deferens)
Kondom

Hukum KB
Bagaimana pandangan fiqih mengenai hukum keluarga
berencana (KB)
a. Haram
Apabila obat yang diminum atau metode dan alat
kontrasepsi
yang
digunakan
menyebabkan
tidak
berfungsinya rahim, seperti menggunakan metode
Sterilisasi dengan alasan bisa mengakibatkan:
• Pemandulan permanent
• Mengubah dan membunuh ciptaan Allah Swt.

• Dalam pelaksanaannya melanggar larangan syar’i
(melihat aurat mughallazhah)
b. Makruh
Apabila obat yang diminum atau metode dan alat
kontrasepsi yang digunakan bersifat menunda atau
mengatur kehamilan (tidak sampai merusak rahim).
Hukum haram dan makruh ini dijelaskan dalam kitab AlBajuri, Juz 2 hal 92 ;

َ ‫حب َل‬
ُ ‫ما‬
ّ ‫مَرأ َةِ ال‬
َ َ ‫وَك‬
‫ل‬
ُ ‫ذي ي ُب ْط ِل‬
ِ ‫يَء ال ّل‬
َ ْ ‫ئ ال‬
ْ ِ ‫ذا ا‬
ْ ِ ‫ل ا ْل‬
َ ْ‫ست ِع‬
ْ ‫شل‬
َ ‫قط َعله مل‬
َ
‫م فِللي‬
ْ َ ‫ل وَي‬
ُ ‫حلُر‬
ْ ‫نأ‬
ِ ّ‫صلل ِهِ فَي ُك ْلَره ُ فِللي ا ْلو‬
ْ ِ ُ ُ ْ َ ‫وَي‬
‫ )البللاجورى علللى فتللح القريللب فللي كتللاب‬. ‫الث ّللاِني‬
( 92 ‫ ص‬2 ‫النكاح جزء‬
Artinya: Demikian halnya wanita yang menggunakan
sesuatu (seperti obat atau alat kotrasepsi) yang dapat
memperlambat kehamilan, hal ini hukumnya makruh.
Sedangkan apabila sampai memutus keturunan maka
hukumnya haram.

c. Boleh

1.

Sebagian ulama’ fiqih berpendapat bahwa hukum
dari KB adalah boleh dalam arti tanzim (pengaturan)
bukan tahdid (pembatasan/ pemandulan), pendapat
mereka berdasarkan pada seruan:

• Al-Qur’an Surat an-Nisa’ ayat 9

ُ ‫ن ل َوْ ت ََر‬
‫ض لَعاًفا‬
َ ‫ن‬
ْ َ ‫وَل ْي‬
ً ‫م ذ ُّري ّل‬
ِ ‫ة‬
ِ ْ ‫خل‬
ِ ْ ‫كوا‬
ِ ّ ‫ش ال‬
ْ ‫فه ِ ل‬
َ ‫خ‬
ْ ‫م‬
َ ‫ذي‬
) ‫دا‬
ُ َ ‫ه وَل ْي‬
ُ ّ ‫م فَل ْي َت‬
َ
ِ ‫سلل‬
ً ‫دي‬
َ ً ‫قوُلوا ْ َقللوْل‬
َ ّ ‫قوا الل‬
ْ ِ‫خاُفوا ْ ع َل َي ْه‬
(9
Artinya; Dan hendaklah takut kepada Allah Swt. orangorang yang seandainya meninggalkan dibelakang
158

mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir
terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah Swt. dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
benar.
• Hadist Riwayat Abu Hurairah
“Sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli
warismu dalam keadaan berkecukupan daripada
meninggalkan mereka menjadi beban tanggungan
(meminta-minta) orang banyak”.

2. Mahmud Syaltut (ahli fiqih kontemporer dari mesir)
berpendapat hukum KB adalah boleh karena untuk
mengatur interval (jarak) kelahiran dengan alasan
untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, pendapatnya
tersebut berdasarkan Q.S. Al-Baqarah: ayat 233.

َ ‫وال ْوال ِدات يرضع‬
َ ِ ‫كلا‬
َ َ ‫ن‬
َ ‫ن‬
‫ن‬
َ ِ‫ن ل‬
ْ ‫مل‬
ّ ُ‫ن أوْل َد َه‬
َ ْ ِ ُْ ُ َ َ َ
ِ ْ ‫ملي‬
ِ ْ ‫حلوْلي‬
َ
َ
‫ن‬
َ َ ‫ضاع‬
َ ‫م الّر‬
ُ ‫موْل ُللود ِ ل َل‬
َ ْ ‫ة َوعَلى ال‬
ّ ِ ‫أَراد َ أن ي ُت‬
ّ ‫ه رِْزقُهُ ل‬
َ ‫سعََها ل‬
ْ َ‫ف ن‬
ُ ّ ‫ف ل َ ت ُك َل‬
ِ ‫معُْرو‬
ْ ُ‫س إ ِل ّ و‬
ْ ِ ‫وَك‬
َ ْ ‫ن ِبال‬
ٌ ‫ف‬
ّ ُ‫سوَت ُه‬
‫ه ب ِوَل َلد ِهِ وَع َل َللى‬
َ ِ ‫ضآّر َوال ِلد َة ٌ ب ِوَل َلد‬
َ ُ‫ت‬
ُ ‫موْل ُللود ٌ ل ّل‬
َ َ ‫ها وَل‬
َ ِ ‫ل ذ َل‬
ُ ْ ‫مث‬
........‫ك‬
ِ ‫ث‬
ِ ِ‫وار‬
َ ْ ‫ال‬
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama
dua
tahun
penuh,
yaitu
bagi
yang
ingin
menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah
memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan
menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan

15
9

seorang ayah Karena anaknya, dan warispun
berkewajiban demikian. Q.S. Al-Baqarah: ayat 233
Dan berdasarkan hadist riwayat Muslim:

َ
َ ِ ‫عائ‬
‫سلد ِي ّةِ أ َن ّهَللا‬
َ ‫ن‬
َ ‫م‬
َ ‫ش‬
ِ ‫ة ب ِن ْل‬
َ ‫ج‬
ُ ‫ن‬
َ ‫ب ال‬
َ ‫دا‬
ٍ ‫ت وَهْل‬
ْ َ‫ة ع‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫سلو‬
-‫صللى اللله عليله وسللم‬- ِ‫ل الّلله‬
ِ ‫سل‬
ُ ‫ت َر‬
َ
ْ َ‫مع‬
َ
َ
َ
ْ
َ
ُ ‫قو‬
‫حت ّللى‬
َ ‫ل»ل‬
ُ َ‫ي‬
َ ِ‫ن الِغيل لة‬
ْ ‫تأ‬
ُ ‫مل‬
ْ ‫م‬
َ َ ‫قد ْ ه‬
ِ ‫ن أن ْهَللى ع َل‬
َ
َ ‫ن ذ َل ِل‬
‫ض لّر‬
ُ َ ‫ك فَل َ ي‬
َ ‫صن َُعو‬
ّ ‫تأ‬
َ ‫ن الّرو‬
ُ ‫ذ َك َْر‬
ْ َ‫س ي‬
َ ِ‫م وََفار‬
َ
َ
َ ‫قللا‬
َ ‫ قَللا‬.« ‫م‬
‫ن‬
َ َ‫ف ف‬
َ ‫مللا‬
ٌ ‫خل َل‬
ْ ‫م‬
ّ ‫م وَأ‬
ٌ ِ ‫س لل‬
ُ ‫ل‬
ْ ‫أوْل َد َهُل‬
ْ ‫ل ع َل‬
َ َ ‫ذام‬
.‫ل‬
ِ ‫ص‬
ِ ّ ‫سد ِي‬
ّ ‫حَيى ِبال‬
ْ َ‫ه ي‬
ُ ‫حي‬
ُ
َ ‫ة ال‬
ُ َ ‫ما َقال‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫ج‬
ّ ‫ َوال‬.‫ة‬
ِ ‫دا‬
‫ أن يجللامع الرجللل امرأتلله‬: ‫ الغيلللة‬: ‫معانى بعض الكلمات‬
‫وهى ترضع‬
“Saya pernah menginginkan untuk melarang ghilah,
(yaitu berhubungan badan ketika istri dalam masa
menyusui), namun setelah itu saya melihat bangsa
Persia zaman romawi melakukannya dan anak-anak
mereka tidak mengalami bahaya kepada ghilah
tersebut”. Shahih Muslim bab Jawazu al-Ghilah.

3.

Hukum KB adalah boleh ketika ada bahaya,
seumpama jika seorang ibu terlalu sering/banyak
melahirkan anak yang menurut pendapat dokter yang
ahli dalam hal ini bisa membahayakan nyawa sang
ibu, maka hukumnya boleh dengan jalan apa saja
yang ada, karena untuk menyelamatkan.

َ َ‫و‬
ُ ‫ما‬
ّ ‫مللَرأ َةِ ال‬
َ ‫كلل‬
‫ئ‬
ُ ‫طلل‬
ِ ْ ‫ذي ي َب‬
ِ ‫يَء اّللل‬
ْ ِ ‫ذا ا‬
ْ ِ ‫ل ا ْل‬
َ ْ‫سللت ِع‬
ْ ‫شلل‬
َ ‫قط َعلله ملل‬
َ
ْ ُ ‫صللل ِهِ فَي‬
َ ‫حْبلل‬
‫ل‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ‫نأ‬
ِ ّ‫كللَره ُ ِفللي ا ْلو‬
ْ ِ ُ ُ ْ َ ‫ل وَي‬
‫ضلُروَْرةِ فَعَل َللى‬
ِ َ‫ و‬.‫م ِفي الث ِّني‬
ّ ‫جلوْد ِ ال‬
ُ ُ‫عن ْلد َ و‬
ْ ُ ‫وَي‬
ُ ‫حَر‬
َ ِ ‫قهِي ّةِ إ‬
‫ي‬
ْ ‫م‬
َ ‫ف‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ْ‫ن ُرو‬
ِ ‫قا‬
ِ ْ ‫عد َةِ ال‬
َ ‫ذا ت ََعاَر‬
َ ‫ف‬
َ ْ ‫ت ال‬
ْ ‫ض‬
َ ‫عل‬
ِ ‫سد ََتا‬
َ
َ ِ ‫ضَرًرا ِباْرت‬
‫س لد َةٌ إهللل ل‬
ْ ‫م‬
ّ ‫خ‬
َ َ‫ب أ‬
َ ‫ما‬
َ ‫ف‬
َ ‫مللا‬
َ ِ ‫فه‬
َ ُ ‫مه‬
ُ َ ‫أع ْظ‬
ِ ‫كا‬
160

‫)البجورى على فتح القريب في كتللاب النكلاح جلزء‬
( 93 ‫ ص‬2
Artinya: Demikian halnya wanita yang menggunakan
sesuatu (seperti obat atau alat kotrasepsi) yang dapat
memperlambat kehamilan, hal ini hukumnya makruh.
Sedangkan apabila sampai memutus keturunan maka
hukumnya haram, dan ketika dalam keadaan darurat
maka sesuai dengan qaidah fiqhiyah “Ketika terjadi
dua mafsadat (bahaya) maka hindari mafsadat yang
lebih besar dengan melakukan mafsadat yang paling
ringan”.

16
1

BAB XVI
MAKANAN
Kotoran Ikan
Seringkali kita memasak lauk pauk, misalnya ikan teri,
pindang, atau ikan lain yang belum dibuang dan dibersihkan
kotorannya. Bagaimanakah hukum mengkonsumsi ikan yang
tidak dibuang atau tidak bersih kotorannya?
a. Tidak boleh, karena ‘ainun najasah (kotorannya) masih
melekat.

َ
ْ ِ ‫ك‬
ُ ْ ‫ل أ َك‬
ّ ‫ح‬
‫ه‬
ِ َ ‫وََل ي‬
َ ‫ي‬
ِ ‫م‬
َ ‫ل‬
ُ ‫ج لوْفِهِ ِلن ّل‬
َ ْ ‫م ي ُن َْزع‬
ْ َ ‫ح وَل‬
َ ‫س‬
ْ ِ‫ما ف‬
ٍ ‫مل‬
َ
‫ة‬
ِ ‫سل‬
ِ ‫جوْفَِها‬
َ ّ ‫ن الن‬
َ ‫ي‬
َ ‫جا‬
ّ ‫ل ال‬
َ َ‫مع‬
َ ‫مك َةِ ك ُل َّها‬
َ ‫س‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫ما ف‬
ِ ْ ‫ِفي أك‬
( ‫)الفتاوى الكبرى الفقهية باب المسابقة والمناضلة‬
b. Boleh mengkonsumsinya, menurut qaul yang berpendapat
hewan yang halal dimakan, maka kotoran hukumnya suci.

ْ ْ ‫)مسئ َل َة ب( ذ َهب بعضهم اَلى ط َهارة روث ال‬
‫ل )بغيللة‬
ِ ْ ُ ُ َْ َ َ
ٌ ْ َ
ِ ْ َ ِ َ َ
َ
ِ ْ‫مأك ُو‬
(14 ‫المسترشدين ص‬
Sebagian ulama’ yang berpendapat terhadap kesucian
kotoran hewan yang halal dimakan… (Bughyah alMustarsyidin, hal.14)
Hukum Mengkonsumsi Hewan Amphibi (hidup di dua alam)
Hewan yang bisa hidup di dua alam yakni bisa hidup di
daratan juga bisa hidup di air dinamakan hewan amphibi.
Misalnya katak, kepiting, buaya, kura-kura dan lain-lain.
Bagaimanakah pandangan ulama’ tentang hukum mengkonsumsi
hewan sejenis amphibi?
a. Menurut Imam Haramain: Haram mengkonsumsi hewan
sejenis amphibi dengan alasan bisa hidup di dua alam.
b. Menurut Imam Baghawy: Halal mengkonsumsi hewan
sejenis amphibi kecuali katak.
162

c. Menurut Qoul Dha’if: Halal mengkonsumsi hewan sejenis
amphibi secara keseluruhan.

ً ‫مللاِء وَفِللى ال ْب َلّر أ َْيض لا‬
ُ ‫ضْر‬
ّ ‫َال‬
َ ْ ‫ش ِفى ال‬
ُ ْ ‫ى ما َ ي َعِي‬
ْ ِ ‫ب الّثان‬
ُ ْ ‫شي‬
ّ ‫ا َِلى قَوْل ِهِ وَع َد ّ ال‬
‫ن‬
ِ ‫ن‬
ِ َ ‫وحا‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ َ ‫ملدٍ وَِاملا‬
َ ‫حَر‬
ْ ‫مل‬
ْ ُ ‫خ ا َب‬
ِ ‫مي ْل‬
َ ‫ه‬
‫ى‬
ْ ‫ض‬
َ ‫ن‬
َ ‫م‬
ُ َ ‫سَرطا‬
ّ ‫ب َال‬
ّ ‫ذا ال‬
ّ ‫فد َع ُ َوال‬
ُ ‫ما‬
َ ُ‫ن وَه‬
ِ ‫ضْر‬
ِ َ ‫حّرما‬
َ ‫عل‬
ٌ ْ‫مللا قَلو‬
‫ل‬
ِ ‫صل‬
ُ ْ ‫ح وَب ِلهِ قَط َلعَ ال‬
َ ِ‫مهُلوُْر وَفِي ْه‬
ْ ‫ج‬
َ ْ ‫ال‬
ّ ‫ب ال‬
ِ َ‫مذ ْه‬
ِ ْ ‫حي‬
َ ٌ ‫ضعِي‬
َ ‫سَر‬
ٌ َ ‫حل‬
‫ن‬
َ َ‫ل و‬
َ ‫ما‬
ْ َ
ّ ‫حكا َه ُ ال ْب َغَوِيّ ِفي ال‬
َ ُ‫ف أن ّه‬
ِ ‫طا‬
ِ ‫ن ع َل‬
( 30 ‫ ص‬9 ‫ ) المجموع شرح المهذب ج‬.‫ى‬
ِ ْ ‫حل َي‬
ُ ْ ‫ال‬
ّ ‫م‬

Jenis yang kedua adalah hewan yang bisa hidup di air dan
juga di daratan, Abu Hamid mengkategorikan katak dan
kepiting termasuk jenis ini, keduanya hukumnya haram
menurut pendapat yang shahih dan menurut pendapat
yang dhaif hukumnya halal. Sedangkan al-Baghowi
mengecualikan katak. (al-Majmu’, Juz 9, hal. 30)

Makan Sebelum dan Sesudah Melaksanakan Shalat Ied
Pada saat sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri dan
sesudah shalat Idul Adha, para jama’ah disunnahkan untuk
makan terlebih dahulu, sebagaimana keterangan sebagai berikut:

ُ ْ‫سلو‬
َ َ ‫ن ا َب ِي ْهِ قلا‬
‫صلّلى اللله‬
َ َ ‫ل كلا‬
ُ ‫ن َر‬
َ ِ‫ل اللله‬
ْ َ ‫ن ب َُري ْد َةِ ع‬
ْ َ‫ع‬
ِ ْ ‫ن ا ِب‬
ْ
ْ
ْ
ْ
ّ
‫م‬
ْ َ ‫م ل َي‬
ِ ‫م ال‬
َ ِ‫فطر‬
ُ ‫خُر‬
َ ْ‫م ي َلو‬
َ ْ‫ج ي َو‬
َ َ‫ُع َل َي ْهِ و‬
َ ‫م وَل َي َطعَ ل‬
َ ‫حّتى ي َطعَ ل‬
َ ‫سل‬
‫صّلى‬
َ ‫حى‬
َ ‫ض‬
ْ َ ‫ا ْل‬
َ ُ ‫حّتى ي‬
Dari ibnu Buraidah dari ayahnya ia berkata, bahwasannya
Rasulullah pada hari raya Idul Fitri tidak akan keluar, sehingga
beliau makan. Dan beliau tidak akan makan pada hari raya Idul
Adha sehingga mengerjakan shalat Idul Adha. (Bulugh al-Maram,
hal. 105)

16
3

َ
َ ْ ‫فط ْرِ قَب‬
ُ ْ ‫ث د َل ِي‬
َ ‫ل ع ََلى‬
ِ ‫شْر‬
ُ ْ ‫حد ِي‬
ِ‫ص لل َة‬
ِ ‫م ْال‬
َ ْ ‫َوال‬
َ ْ‫ل ي َو‬
ّ ‫ل ال‬
ِ ْ ‫عي ّةِ ا ْلك‬
ْ
‫صل َةِ )سللبل السلللم ج‬
ِ ‫وَت َأ‬
َ ‫ض‬
ْ َ ‫م ا ْل‬
َ ْ‫خي ْرِهِ ي َو‬
َ ‫حى ا َِلى‬
ّ ‫ما ب َعْد َ ال‬
( 65 ‫ ص‬2
Hadits ini menunjukkan disyari’atkannya makan sebelum
pelaksanaan shalat Idul Fitri dan sesudah shalat Idul Adha. (Subul
al-Salam juz 2 hal.65)
Dengan demikian, makan sebelum berangkat shalat Idul
Fitri hukumnya sunnah. Adapun pada hari raya Idul Adha
disunnahkan makan sesudah shalat, seperti yang telah dikerjakan
oleh Rasulullah Saw.
Hukum Merokok
a. Haram
Menurut Syekh Abd. Aziz bin Abdillah bin Baz hukum
merokok itu haram secara syar’i karena bisa membahayakan
kesehatan (mendatangkan berbagai macam penyakit yang
bisa menyebabkan kematian seseorang). Diterangkan dalam
kitab: Hukmu Syurbu al-Dukhan Wa Imamati Man, Juz 1 hal. 13.

َ
ُ ‫ن‬
ّ ‫ة َال‬
‫ن‬
‫عل‬
َ َ‫ف‬
َ ّ ‫ب الد‬
َ ‫ة‬
ُ ّ ‫عي‬
ِ ‫شْر‬
ُ ّ ‫ت ا َل َد ِل‬
ِ ‫ن‬
َ ‫شْر‬
ّ ‫ىأ‬
ْ ّ ‫قد ْ د َل‬
َ ‫م‬
ِ ‫خا‬
َ
َ
ُ
َ ‫م‬
ْ ِ ‫ما ا‬
َ ِ ‫مة‬
، ِ‫ضَرار‬
ً ‫شْر‬
ِ ِ‫ل ع َل َي ْه‬
ْ ‫ن ا ْل‬
َ ‫م‬
َ َ ‫شلت‬
َ ِ ‫عا ل‬
َ ‫حّر‬
ُ ْ ‫موْرِ ا َل‬
ُ ‫ا ْل‬
َ ‫م‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫قا‬
‫م‬
ِ ُ ‫}وَي‬:‫ى‬
ِ ‫م الط ّي َّبا‬
َ ُ ‫ت وَي‬
ُ ‫حّر‬
ُ ِ‫م ع َل َي ْه‬
ُ ُ‫ل ل َه‬
َ ‫ل ت ََعال‬
ُ َ‫ وَي ُؤ َد ّي‬،‫ة‬
‫شْرب ََها‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ْ ‫ال‬
َ ِ ‫خَبائ‬
ِ ‫م‬
ِ ِ ‫خَبائ‬
ِ ‫ي‬
َ ‫م‬
َ ‫حّر‬
ُ ْ ‫ث ا َل‬
َ ‫م‬
َ ِ‫ث{ فَه‬
َ
َ ‫ وََقا‬،‫ت‬
‫صّلى الله‬
ِ ْ ‫مو‬
َ ْ ‫ى ال‬
ُ ‫ض‬
ْ ‫ىأ‬
َ ‫ل‬
َ ‫مت َعَد ّد َةِ ت ُؤ ْد ِيْ ِإل‬
َ ‫ِإل‬
ِ ‫مَرا‬
َ‫ فَالضرر بال ْجسم أو‬،«‫رار‬
ِ َ ‫ضَرَر وَل‬
َ َ ‫ »ل‬:‫م‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
َ َ ‫ض‬
ِ ِ ْ ِ ِ ُ َ ّ
ُ َ‫ ف‬،‫ه‬
‫ )كتاب‬.‫م‬
َ ‫ه‬
ْ ِ ‫ا ْل‬
ٌ ‫حَرا‬
ُ ُ‫ه وَب َي ْع‬
ُ ُ ‫شْرب‬
ُ ْ ‫ي ع َن‬
َ ِ‫ضَراُر ِبال ْغَي ْر‬
ٌ ِ‫من ْه‬
(3-1 ‫ ص‬1 ‫حكم شرب الدخان وامامة من جز‬

Dalil-dalil syar’i menunjukkan bahwa sesungguhnya merokok
itu termasuk perkara yang diharamkan karena mengandung
banyak bahaya. Allah berfirman “Dan (Allah) menghalalkan
164

bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi
mereka segala yang buruk”. Maka merokok termasuk perkara
buruk yang diharamkan, menghisapnya menyebabkan
penyakit yang menyebabkan kematian. Nabi bersabda:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”.
Maka membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang
lain itu dilarang, maka menghisap dan menjual rokok itu
haram.
Menurut Imam Al Bajuri merokok terkadang juga bisa
haram jika membelinya dengan uang jatah nafaqah yang
dibutuhkan keluarga atau berkeyakinan tentang bahaya
merokok. Diterangkan dalam kitab: Al-Bajuri, Juz 1 hal. 343.

َ ‫ذا‬
ْ َ‫ن ي‬
َ ِ‫ة ا‬
‫ه‬
ُ ‫م‬
ُ ‫حَتا‬
ْ َ ‫ما ي‬
َ ‫كا‬
َ ‫ وَقَد ْ ت َعْت َرِي ْهِ ْال‬....
ُ ‫ج‬
َ ِ ‫شت َرِي ْهِ ب‬
َ ‫حَر‬
:‫ ص‬1 ‫ )كتاب البجوري جز‬.‫ه‬
ّ َ ‫عَيال ِهِ ا َوْ ت َي‬
َ ‫ف‬
َ َ‫ن‬
ِ ‫ة‬
َ ‫ق‬
َ ‫ن‬
ُ ‫ضَرَر‬
َ ‫ق‬
(343
b. Makruh
Menurut Qaul Mu’tamad, seperti pendapat Imam Al
Bajuri, hukum merokok itu adalah makruh. Pendapat ini
diterangkan dalam kitab: Irsyad al-Ihwan fi Bayani Ahkami
Syurbi al-Qahwah Wa al-Dukhan hal. 37-38.

ُ ْ ‫ق لو‬
ُ ْ‫ه( ا َي‬
‫ل‬
ُ َ ‫مللا ي‬
َ ّ ‫ب ال لد‬
ُ ‫خا‬
ُ ‫ش لْر‬
َ َ ‫مك ْلُروْه ٌ ك‬
َ )‫ن‬
ُ ‫مد ُ ا َن ّل‬
َ َ ‫معْت‬
ُ ْ ‫)ا َل‬
‫ى‬
َ ْ‫جوِْرى ا َل َف‬
َ ِ‫شلي َة‬
ِ ‫حا‬
ِ ‫ب ال ْب ُي ُلوِْع‬
ِ (‫ه‬
َ ‫ن‬
ُ ‫ا َل َْبا‬
ُ ‫ق‬
ِ ‫ن ك ِت َللا‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫مل‬
َ ‫علل‬
َ ‫ملةِ وَ ٰهل‬
َ
‫ذا‬
َ ْ ‫ه ب َعْلد َ ذ ِك ْلرِ ال‬
‫شْر‬
ِ َ‫ و‬،‫ة‬
ِ َ ‫ح ْالَغاي‬
َ ْ ‫ل با ِل‬
َ ‫حَر‬
ُ ُ ‫عب َللاَرت‬
ِ ْ ‫ق لو‬
ِ
َ
َ
ُ ْ ‫ق لو‬
َ َ ‫ف وَك‬
.‫ه‬
َ ‫ذا ْال‬
ٌ ْ ‫ضعِي‬
ٌ ‫مب َللا‬
َ
ٌ ْ‫مك ْلُرو‬
َ ‫ه‬
ُ ‫م لد ُ أن ّل‬
َ َ ‫معْت‬
ُ ‫ح وَْال‬
ُ ‫ه‬
ُ ّ ‫ل ب ِلأن‬
‫ فللي بيللان احكللام شللرب القهللوة‬:‫) ارشللاد الخللوان‬
( 37 – 38 :‫ ص‬.‫والدخان‬
(Qoul yang mu’tamad) sesungguhnya merokok itu makruh
seperti yang dikatakan oleh Imam al-Bajuri dari kitab al-buyu’
dari hasyiyah syarah al-Ghoyah, perkataannya setelah

16
5

menyebutkan hukum haram, ini pendapat yang lemah, begitu
juga dengan perkataan bahwa hukumnya boleh, dan yang
mu’tamad hukumnya makruh.
c. Mubah
Menurut Syekh Ali al-Ujhuri al-Maliki, merokok dihukumi
sebagai sesuatu yang diperbolehkan, dan pendapatnya
tersebut juga di perkuat oleh pendapat al-‘Arif Abdul Ghani
an-Nablusy. Diterangkan di dalam kitab: Takmilah Hasyiah
Rad al-Muhtar, Juz 1 hal. 15.

ّ ‫مةِ ال‬
‫ة فِللي‬
ٌ َ ‫سللال‬
ْ ُ ‫ي اْل‬
ْ ‫شي‬
َ ِ‫ي ر‬
َ ْ ‫جهُللورِيّ ال‬
َ ‫وَل ِل ْعَّل‬
ّ ِ ‫مللال ِك‬
ّ ‫خ ع َل ِل‬
ِ
َ ‫حل ّه من يعتمد ع َل َي له م ل‬
َ ‫ل فيها أ َن‬
‫ة‬
َ َ ‫حل ّهِ ن‬
ِ
ِ ‫مل‬
ُ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ ِ ‫ه أفَْتى ب‬
ّ ِ ‫ن أئ‬
ُ ّ َ ِ َ ‫ق‬
ْ ِ ِ ْ
َ
َ
َ
ّ
ّ
ْ
ْ
ْ
َ ‫م‬
‫سلي ّد َُنا‬
ِ ‫ف ِفلي‬
َ ‫ وَألل‬:‫قُللت‬. ِ‫ب الْرب ََعلة‬
ً ْ ‫حللهِ أي‬
َ ‫ضلا‬
َ ‫ال‬
ِ ِ ‫ذاه‬
‫ح‬
َ ‫ما‬
ً َ ‫سللال‬
ُ ِ‫ال َْعار‬
ِ ُ ‫ي الّناب ْل‬
ُ ْ ‫ص لل‬
َ ‫ة‬
َ ِ‫ي ر‬
ّ ‫سل‬
ّ ‫ها ) ال‬
ّ ‫سل‬
ّ ‫ف ع َب ْد ُ ال ْغَن ِل‬
ُ ِ ‫حة‬
‫ه ِفللي‬
َ ّ ‫ب الد‬
ْ ِ ‫ن اْل‬
َ ‫ن ِفي إَبا‬
ُ َ‫ض ل‬
َ ‫ن ( وَت َعَّر‬
ِ ‫شْر‬
ِ ‫خا‬
ِ ‫وا‬
َ ‫خ‬
َ ْ ‫ب َي‬
ْ
‫ ) تكملللة حاشللية رد المختللار‬،‫ن‬
ِ ‫فه ِ ا ل‬
ِ ‫ن َتآِلي‬
ِ ٍ‫ك َِثير‬
َ ‫ح‬
ِ ‫سللا‬
ْ ‫م‬
( 15 ‫ ص‬1 ‫جز‬
d. Wajib
Menurut pendapat Imam al-Bajuri, hukum merokok itu
terkadang bisa wajib apabila akan terjadi bahaya jika
meninggalkannya. Hal ini diterangkan dalam kitab: al-Bajuri,
Juz 1 hal. 343.

ْ ‫ بـ‬....
.‫ه‬
ِ ‫ضلَرُر ب ِت َْرك ِل‬
ّ ‫م ال‬
ُ ْ ‫ج لو‬
ُ ُ‫ل قَد ْ ي َْعتـرِي ْهِ ْالو‬
ُ ‫مللا ي َعْل َل‬
َ َ‫ب ك‬
(343 ‫ ص‬1 ‫)كتاب البجوري جز‬
Al-Tommah al-Kubro berpendapat kalau menghukumi
haram atau makruh itu harus ada dalil karena keduanya itu
adalah hukum syar’i, sedangkan dalam masalah rokok ini
tidak ada dalil (al-Qur’an atau Hadits) yang menetapkannya
dengan hukum haram atau makruh, karena rokok tidaklah
membuat mabuk, tidak mengganggu pikiran juga tidak

166

membahayakan, bahkan ada beberapa manfaatnya sesuai
dengan qoidah “Al-Aslu Fil Asyyaai Al-Ibaakhah”, karena
sesuatu yang membahayakan bagi sebagian orang tidak bisa
menjadi sebab mengharamkan kepada setiap orang. Seperti
halnya madu!, pada satu sisi madu bisa membahayakan bagi
orang yang mengidap penyakit kuning dan memperparah
penyakitnya, tetapi di sisi lain madu bisa menjadi obat bagi
penyakit yang lain dengan keterangan yang pasti bahwa
madu adalah obat. Hal ini diterangkan dalam kitab Takmillah
Hasiyah Raddul Muhtar , Juz 1 hal. 15.

َ
َ
ّ ‫م ال‬
‫ة‬
َ ْ ‫ة ال ْك ُب َْرى ع ََلى ال‬
َ ‫م‬
ِ َ‫مةِ أوْ ِبال ْك ََراه‬
ُ ْ ‫ل ِبال‬
َ ‫وَأَقا‬
َ ‫حْر‬
ّ ‫طا‬
ِ ِ ‫قائ‬
َ ‫ل وََل د َِليل‬
َ ‫ن‬
‫ل‬
ِ ‫شْر‬
ِ ‫مللا‬
ُ ‫ما‬
َ ُ‫ن َل ب ُد ّ ل َه‬
َ ْ ‫حك‬
َ ُ‫فَإ ِن ّه‬
ٍ ‫ن د َِليل‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫عّيا‬
ِ ‫ما‬
َ ‫س‬
َ ِ ‫ع ََلى ذ َل‬
،‫ه‬
ْ َ ‫كاُره ُ وََل ت‬
ْ ‫فِتيُره ُ وََل إ‬
ْ ‫تإ‬
ُ ‫ضَراُر‬
ْ ُ ‫م ي َث ْب‬
ْ َ‫ه ل‬
ُ ّ ‫ك فَإ ِن‬
َ
ُ ‫صل‬
ٌ ‫خ‬
ْ َ‫ب‬
‫ل فِللي‬
ِ ‫ت َقا‬
ِ ‫دا‬
ْ َ‫ل ت‬
َ َ‫ فَهُو‬،‫ع‬
ُ ِ‫مَناف‬
َ ‫حل‬
َ ‫ه‬
ُ َ‫ت ل‬
َ َ ‫ل ث َب‬
ْ ‫علد َةِ اْل‬
َ ُ ‫شياِء اْلباح‬
ْ
‫ه‬
ِ ‫م‬
ْ ‫ضإ‬
ّ ‫ة وَأ‬
َ َِ
َ ْ َ ‫اْل‬
ُ ‫ض َل ي َل ْلَز‬
ُ ‫من ْل‬
َ ‫ن فَْر‬
ِ ْ‫ضَرارِهِ ل ِلب َع‬
َ
َ ّ ‫تحريمه ع َل َللى ك ُل‬
َ ‫سل‬
‫ب‬
َ ‫صل‬
ُ َ‫ل ي‬
ّ ِ ‫ ف َ ل إ‬، ٍ ‫ح لد‬
َ ‫لأ‬
َ َ‫ن ال ْع‬
ُ ُ ِ ْ َ
ِ ‫حا‬
ْ ‫ضلّر ب ِأ‬
َ
َ
‫ص‬
َ ‫شل‬
ْ ‫ص‬
ِ ‫ه‬
َ ‫مَر‬
ُ ‫ملعَ أن ّل‬
َ ‫م‬
ْ ُ‫ضله‬
ْ ‫ما أ‬
َ ّ ‫فَراِء ال َْغال ِب َةِ وَُرب‬
ّ ّ ‫فاٌء ِبلالن‬
ّ ‫ال‬
(15 ‫ ص‬1 ‫ )حاشية رد المختار ج‬.‫ي‬
َ ْ ‫ال‬
ّ ِ‫قط ْع‬

16
7

BAB XVII
TOLERANSI DALAM PLURALITAS AGAMA
Hukum Toleransi dalam Pergaulan Antar Umat Beragama
Manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain, oleh sebab itu
manusia disebut makhluk sosial yang saling membutuhkan satu
sama lain. Lebih-lebih kita hidup dalam negara yang penuh
keragaman, baik dari segi budaya, status sosial, suku, budaya
maupun agama. Untuk hidup damai dan berdampingan, tentu
dibutuhkan teposeliro (tenggang rasa) atau toleransi antara satu
dengan yang lainnya.
Hukum toleransi dalam pergaulan antar umat beragama
(pluralitas agama) adalah sebagai berikut:
a. Dilarang (haram), apabila dalam berhubungan, rela
(ridho) serta meyakini kebenaran aqidah agama lain.
b. Boleh, bergaul atau menjalin hubungan baik dalam
urusan dunia saja dengan sebatas dhohir.
c. Dilarang, tapi tidak menjadi kufur yaitu: Apabila tolong
menolong tersebut disertai rasa condong terhadap
keyakinan (akidah) agama lain yang disebabkan ada
hubungan kerabat atau cinta, tetapi tetap beri’tikad bahwa
agama mereka adalah bathil, dan apabila tolong menolong
yang disertai rasa condong itu dapat membuat rasa simpati
dan rela terhadap agama mereka maka bisa keluar dari
agama Islam.
d. Tidak dilarang, (bahkan dianjurkan) apabila bertujuan
untuk menghindari bahaya yang berasal dari mereka atau
untuk memperoleh kemanfaatan atau kemaslahatan.
Diterangkan dalam kitab: Tafsir Munir Lin Nawawi Juz : I Hal
: 94. Kitab Al-Bab Fii ‘Ulumi al-Kitab bab surat Ali Imran juz
5 hal.143. dan dalam Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib
pada Fasal Fii al-Jizyah juz 4 halaman 291-292:

168

‫مل ُ‬
‫ة‬
‫ل ث َل َث َل َ‬
‫حت َ ِ‬
‫مؤ ْ ِ‬
‫واِلي لا ً ل ِْلك لا َفِرِ ي َ ْ‬
‫ن ك َوْ َ‬
‫م اَ ّ‬
‫ن ُ‬
‫ن ال ْ ُ‬
‫َواع ْل َ ْ‬
‫م َ‬
‫م ِ‬
‫ه‬
‫ضلليا ً ب ِك ُ ْ‬
‫حد ُ َ‬
‫جل ِل ِ‬
‫ن َرا ِ‬
‫ف لرِهِ وَي َت َلوَل ّه ُ ِل َ ْ‬
‫ن ي َك ُوْ َ‬
‫ها ا َ ْ‬
‫جوْهٍ ا َ َ‬
‫ا َوْ ُ‬
‫هلل َ‬
‫فللٌر‪ .‬وََثان ِي َْهللا‬
‫فرِ ك ُ ْ‬
‫ضللى ِبللال ْك ُ ْ‬
‫وَ َ‬
‫ن الّر َ‬
‫مُنللوْع ٌ ِل َ ّ‬
‫م ْ‬
‫ذا َ‬
‫ب الظ ّللاه ِرِ وَذ َل ِل َ‬
‫مَعا َ‬
‫ك‬
‫مي ْل َ ُ‬
‫ج ِ‬
‫ة ِفى الد ّْنيا َ ب ِ َ‬
‫شَرة ُ ال ْ َ‬
‫ح َ‬
‫ال ْ ُ‬
‫سل ِ‬
‫ة‬
‫ن ا ِل َللى ال ْك ُ ْ‬
‫معُوْن َل ِ‬
‫من ُلوٍْع‪َ .‬وثا َل ُِثهلا َ الّرك ُلوْ ُ‬
‫فلرِ َوال ْ َ‬
‫م ْ‬
‫غ َي ْلُر َ‬
‫ع‬
‫مل َ‬
‫م َ‬
‫ب ْالقََراب َلةِ ا َوْ ب ِ َ‬
‫مللا ب ِ َ‬
‫حب ّلةِ َ‬
‫ب ال ْ َ‬
‫صَرةِ ا ِ ّ‬
‫سلب َ ِ‬
‫سلب َ ِ‬
‫َوالن ّ ْ‬
‫ه با َط ِل ٌ‬
‫ل فَهَل َ‬
‫ه‬
‫ب ال ْك ُ ْ‬
‫اع ْت ِ َ‬
‫ج ُ‬
‫قاد ٍ ا َ ّ‬
‫فلَر ا ِل ّ ا َن ّل ُ‬
‫ذا ل َ ُيلوْ ِ‬
‫ن د ِي ْن َل ُ‬
‫ة هَ ل َ‬
‫جلّره ُ ا ِل َللى‬
‫وال َل َ‬
‫معْن َللى قَلد ْ ت َ ُ‬
‫ه ِل َ ّ‬
‫ذا ال ْ َ‬
‫ن ال ْ ُ‬
‫ى ع َن ْ ُ‬
‫َ‬
‫م َ‬
‫من ْهِ ّ‬
‫ضى ب ِد ِي ْن ِهِ وَذ َل ِ َ‬
‫ن‬
‫ه َ‬
‫ك يَ ْ‬
‫ن ط َرِي ْ ِ‬
‫خُر ُ‬
‫قهِ َوالّر َ‬
‫ست ِ ْ‬
‫ا ْ‬
‫جلل ُ‬
‫حسا َ ِ‬
‫علل ِ‬
‫م‪ ) .‬تفسير المنير الجزء ‪ 1‬صحفة ‪( 94‬‬
‫ا ْل ِ ْ‬
‫سل َ ِ‬

‫‪Keterangan Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib pada Fasal‬‬
‫‪Fii al-Jizyah, sebagai berikut:‬‬

‫َ‬
‫مي ْل ُ‬
‫ل‬
‫حب ّل ُ‬
‫م َ‬
‫ه ‪ ) :‬تَ ْ‬
‫ح لُر ُ‬
‫ة َوال ْ َ‬
‫م لوَد ّة ُ ال ْك َللافِرِ ( أيْ ال ْ َ‬
‫م َ‬
‫قَ لوْل ُ ُ‬
‫َ‬
‫ة ال ّ‬
‫خال َ َ‬
‫ة‪---‬‬
‫ِبللال ْ َ‬
‫م َ‬
‫هلل ٌ‬
‫مك ُْرو َ‬
‫ظاه ِرِّيلل ُ‬
‫طلل ُ‬
‫ة فَ َ‬
‫مللا ال ْ ُ‬
‫ب وَأ ّ‬
‫قل ْ ِ‬
‫ل منه َ‬
‫ا ِل َ ْ َ‬
‫مَعا َ‬
‫ب‬
‫م أوْ َ‬
‫ضَررٍ ي َ ْ‬
‫م ل ِد َفِْع َ‬
‫ص ُ ِ ُْ ْ‬
‫شَرت ُهُ ْ‬
‫ما ُ‬
‫خ‪,‬أ ّ‬
‫جل ْ ِ‬
‫ح ُ‬
‫ة ِفي لهِ ا هل ل ع ش ع َل َللى م ر ‪ ) .‬حاشللية‬
‫نَ ْ‬
‫مل َ‬
‫فٍع فََل ُ‬
‫حْر َ‬
‫البجيرمى علللى الخللاطب ‪ ,‬فصللل فللى الجزيللة ج ‪4‬‬
‫ص ‪( 292-291‬‬
‫”‪Kata pengarang, “Haram mencintai non muslim‬‬
‫‪maksudnya, cinta, senang dan condong dengan hati.‬‬
‫‪Adapun berinteraksi dengan orang-non muslim dalam‬‬
‫‪urusan zhahir adalah makruh, sedangkan berinteraksi‬‬
‫‪dengan mereka untuk menghindari bahaya yang berasal‬‬
‫‪dari mereka atau untuk memperoleh manfaat maka tidak‬‬

‫‪16‬‬
‫‪9‬‬

dilarang. (Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib pada Fasal Fii
al-Jizyah, juz 4 halaman 291-292)
Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim
Yang dimaksud dengan non muslim adalah orang yang bukan
beragama Islam termasuk orang Yahudi, Nasrani, Kristen,
Katholik, Hindu, Budha, Konghucu dan lain-lain.
Dalam hal memberi salam kepada orang non muslim, para
ulama’ berbeda pandangan mengenai hal ini:
a. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa memberi salam
kepada orang non muslim itu tidak boleh.

َ ‫هلل‬
‫ب‬
ّ ُ ‫م ع ََلللى ال ْك‬
ُ ‫ذا‬
َ ،‫فللاِر‬
ُ َ‫مللذ ْه‬
ُ َ ‫َل ي‬
ُ َ ‫سللل‬
ّ ‫جللوُْز ال‬
َ ْ ‫هللوَ ال‬
‫ )المجمللوع شلللرح‬.‫مُهللوُْر‬
ِ ‫صللل‬
ُ ْ ‫ح وَِبللهِ قَط َلللعَ ال‬
ُ ْ ‫حي‬
ْ ‫ج‬
ّ ‫ال‬
(507 ‫ ص‬،4 ‫ ج‬،‫المهذب‬
Tidak diperbolehkan memberi salam terhadap orang-orang
kafir, menurut pendapat (madzhab) yang sahih yang
disepakati mayoritas ulama’. (Al-Majmu’ Syarh alMuhadzdzab, juz 4, hal. 507)

َ ْ َ ‫ن ا َب ِي ْهِ ع‬
َ ْ‫ل ب‬
َ‫ى هَُري َْرة‬
َ ‫ن‬
َ ‫ى‬
ْ َ‫ح ع‬
ْ َ ‫ُروِىَ ع‬
ْ ِ ‫ن اب‬
ٍ ِ ‫صال‬
ْ ِ ‫ن اب‬
ِ ِ ْ ‫سه‬
َ َ ‫م قللا‬
‫ل‬
ِ ‫َر‬
ّ َ‫ه ا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سللل‬
ُ ّ ‫صّلى الل‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ‫ى الل‬
َ ‫ى‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
َ ‫ض‬
ُ
َ
َ
ْ
‫م فِللى‬
ِ ‫سلل َم ِ وَِاذا ل‬
ّ ‫صللاَرى ِبال‬
ْ ‫قيت ُل‬
َ ّ ‫ل َ ت َب ْلد َأْوا الي َهُلوْد َ َوالن‬
ّ
‫قهِ )المجمللوع شللرح‬
ِ َ ‫ض لي‬
ْ َ ‫ضللط َّروْه ُ ا َِلللى ا‬
ْ ‫ق َفا‬
ِ ‫الطرِْيلل‬
(508 ‫ ص‬،4 ‫ ج‬،‫المهذب‬
Diceritakan dari sahal bin Abi shaleh, dari ayahnya, dari
Abu Hurairah ra. Bahwa Nabi bersabda: janganlah engkau
memberi salam kepada orang Yahudi dan orang Nasrani,
dan ketika kamu bertemu di jalan, maka bergeserlah ke
jalan yang lebih sempit. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab,
juz 4, hal. 508)
b. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa memberi salam
kepada orang non muslim hukumnya boleh.
170

َ
َ ‫ح‬
‫ما‬
َ ‫جهَي ْللن أ‬
ْ َ‫حللاِوي فِي ْلهِ و‬
َ ْ ‫مللاوَْرِدي فِللي ال‬
َ َ‫و‬
َ ُ‫حلد ُه‬
َ ْ ‫كى ال‬
َ ّ ‫م ِبال‬
ُ ْ ‫ق لو‬
َ َ‫ه‬
‫ل‬
ُ َ‫ن ي‬
َ ‫جلوُْز اب ْت ِل‬
ُ َ ‫ ي‬:‫ي‬
ْ ُ‫داؤ ُه‬
ْ ‫ ل َك ِل‬،‫م‬
ْ ِ ‫ َوالث ّللان‬،‫ذا‬
ِ ‫سلل‬
َ ْ ‫م ع َل َي‬
ُ ْ ‫قو‬
َ ‫ذا‬
َ ‫ وَهَل‬. ‫م‬
.‫ف‬
ُ َ ‫ وََل ي‬،‫ك‬
ٌ ْ ‫ضلعِي‬
َ ّ ‫شللاذ‬
ُ َ ‫سل‬
ّ ‫ال‬
ْ ُ ‫ل ع َل َي ْك‬
(507 ‫ ص‬،4 ‫ ج‬،‫)المجموع شرح المهذب‬
Dalam kitab Hawy Imam Mawardi menceritakan bahwa
memberi salam kepada orang non muslim ada dua
macam: yang pertama tidak boleh, kedua: boleh memberi
salam kepada orang non muslim, akan tetapi dengan
mengucapkan as-Salamu ‘Alaika. Jangan mengucapkan asSalamu ‘alaikum. Pendapat ini lemah dan langka.
(Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 507)

َ
َ ْ ‫ع َل‬
‫ن‬
ِ ٍ ‫ح لد‬
َ ‫ملّر ب ِأ‬
َ َ ‫ه ك لا‬
ُ َ ‫ن ل َي‬
ُ ‫ملةِ ْالب َللاه ِِلى اَن ّل‬
َ ‫ما‬
َ ُ‫ى ا‬
َ ‫مل‬
ْ ‫ن اب ِل‬
َ َ ‫م َوق لا‬
‫ل‬
ّ ‫صاَرى ا ِل ّ ب ِإ ِْفش لا َِء ال‬
ْ ‫س لل َم ِ ع َل َي ْهِ ل‬
َ ّ ‫ال ْي َُهوِدي َوالن‬
َ َ ‫علللى‬
ُ ْ ‫سو‬
َ ‫م‬
ُ ‫سَل‬
ّ ‫صل َة ُ َوال‬
ُ ‫مَرنا َ َر‬
َ َ‫ا‬
ّ ‫ل اللهِ ع َل َي ْهِ ال‬
ِ ‫سلللم‬
َ
ّ ُ‫ك‬
ٍ‫مَعاهَد‬
ْ ‫م‬
ُ َ‫سل ِم ٍ و‬
ُ ‫ل‬
Diceritakan dari Abi Umamah al-Bahali, sesungguhnya dia
tidak pernah berjalan bertemu orang yahudi kecuali
dengan memberi salam kepada mereka. Abu Umamah
berkata: Rasulullah memerintah kepada kita supaya
menebar salam kepada setiap orang Islam dan orang kafir
mu’ahad (orang kafir yang berjanji kepada pemerintah
akan tunduk dan patuh pada undang-undang Negara).

Hukum Mengucapkan Salam Menggunakan Selain Bahasa
Arab
Ucapan salam sering kita dengar di suatu acara atau setiap
kali bertemu sanak famili, teman maupun saudara, namun salam
yang diucapkan itu berbeda-beda, ada yang menggunakan
bahasa arab dan juga ada yang menggunakan bahasa selain
bahasa arab (selain ucapan Assalamu’alaikum Warahmatullahi

17
1

Wabarakatuh) seperti dengan bahasa Jawa (sugeng injing, sugeng
dalu), dengan bahasa Indonesia seperti selamat pagi, selamat
siang, selamat sore, selamat malam, salam kebangsaan, salam
damai, salam sejahtera atau dengan bahasa Inggris seperti hello,
good morning, good afternoon dan masih banyak lagi bahasa
yang lain.
Bagaimanakah pandangan fiqih mengenai hukum ucapan
salam selain bahasa arab tersebut?
Menurut imam Rafi’i ada tiga wajah:
a. Tidak cukup
b. Sudah mencukupi
c. Jika mampu menggunakan bahasa arab maka tidak
mencukupi, tetapi kalau tidak bisa bahasa arab maka sudah
mencukupi.
d. Sah dan wajib menjawab bagi orang yang disalami jika bisa
memahami maksudnya (pendapat yang shahih bahkan
benar).
Keterangan kitab Al-Majmu’, Juz 4 hal 505;

َ َ َ ‫كى الرافعِى في السل َم بال ْعجمية ث َل َث‬
َ ‫ح‬
‫ها‬
َ ُ ‫حللد‬
ِ ّ ِ َ َ ِ ِ ّ
ِ ّ ِ ّ
َ َ ‫جه ٍ ا‬
ُ ْ‫ة أو‬
َ
ُ ِ‫جز‬
ُ ِ‫جز‬
‫ة‬
ُ ِ ‫ئ َوالّثال‬
ِ ‫ن قَلد ََر ع ََللى ال ْعََرب ِّيل‬
ْ ِ‫ث إ‬
ْ ُ‫ي ي‬
ْ ُ‫ل َ ي‬
ْ ِ ‫ئ َوالّثان‬
‫ة‬
ُ ‫ح‬
ِ ‫صل‬
ِ ‫ب‬
ّ ‫صل‬
ُ ‫وا‬
ُ ْ ‫حي‬
ْ ُ ‫ه وَإ ِل ّ فَي‬
ْ ُ‫م ي‬
ُ ُ ‫جلزِئ‬
ُ ْ ‫جلزِئ‬
ْ َ‫ل‬
ّ ‫ل ال‬
ّ ‫ه َوال‬
َ ‫صل‬
ِ ‫ح ب َل‬
َ ِ ‫ب اللللّرد ّ ع َل َي ْلللهِ إ‬
‫ه‬
ِ ‫ج‬
ِ َ ‫سلللل‬
ُ ْ‫جلللو‬
ُ ُ‫مي ّلللةِ وَو‬
َ َ‫مهِ ِبال ْع‬
َ
ُ ‫مللل‬
َ ِ‫ذا فَه‬
َ
َ
ْ
َ
َ
‫ة‬
َ ‫م‬
ً ‫حي ّل‬
ِ َ ‫مى ت‬
َ ّ ‫ف العََرب ِي‬
َ ‫واٌء ع ََر‬
ُ ‫خاط‬
ْ ‫ةا‬
َ ُ‫ه ي‬
َ ‫ب‬
ّ ‫سل‬
ُ ّ ‫م ل لن‬
ُ ْ ‫ال‬
َ ‫س‬
‫م‬
َ ْ ‫م ن ُط‬
ً ‫قل‬
ِ َ ‫س لت‬
ْ َ ‫س لل َم ِ فَي‬
ّ ‫ة ِبال‬
ْ َ‫ن ل َ ي‬
َ َ‫و‬
ُ ِ ‫س لل‬
ُ ْ ‫قي‬
َ ‫ما‬
ّ َ ‫ وَا‬،‫ما‬
ً َ ‫سل‬
ْ ‫مل‬
َ
‫ضُروَْرة ٌ إهل ) المجموع شللرح‬
َ ّ ‫ه ب ِا ْل ِت‬
َ ْ ‫ك َي‬
َ ‫ه‬
ُ ّ ‫ق لن‬
ُ َ ‫مك َن‬
ْ َ‫ف ا‬
ِ ‫فا‬
505 ‫ ص‬4 ‫المهذب الباب صفة السلم واحكامه جزء‬
(
Artinya: Imam Rofi’i mengemukakan tiga pendapat tentang
salam dengan menggunakan bahasa selain bahasa arab, 1.
Tidak cukup, 2. Cukup, 3. Jika mampu menggunakan bahasa
arab maka tidak cukup, tetapi kalau tidak bisa maka cukup,
sedangkan pendapat yang shahih bahkan benar salam sah
172

menggunakan bahasa apa saja selain bahasa arab dan wajib
menjawab bagi orang yang disalami jika bisa dipahami
maksudnya baik yang mengucapkan salam bisa bahasa arab
atau tidak bisa, karena salam selain bahasa arab bisa
disebut sebagai penghormatan dan ucapan selamat,
sedangkan bagi orang yang tidak mampu mengucapkan
salam maka para ulama’ sepakat baginya tetap disunnahkan
salam sebisanya karena darurat.
Penjelasan:
Ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu”
adalah sebagai tanda penghormatan dan ucapan doa
selamat, demikian pula ucapan salam dengan menggunakan
berbagai bahasa yang bisa dimengerti, bahkan menurut
kesepakatan para ulama’ “bagi orang yang tidak mampu
mengucapkan salam dengan bahasa arab disunnahkan
mengucapkan salam dengan menggunakan bahasa selain
bahasa Arab yang mudah dimengerti atau mudah dipahami.
BAB XVIII
BUDAYA DAN ETIKA

Panggilan Sayyidina
Banyak cara dalam upaya memuliakan dan memberi
penghormatan pada orang lain misalnya panggilan gus atau mas
bagi putra kyai, raden ageng atau pangeran bagi keluarga
kerajaan. Begitu pula dengan panggilan sayyid artinya tuan besar.
Di kalangan masyarakat NU sering lafadz sayyidina diucapkan
tatkala menyebut nama Nabi dan para sahabatnya.
Penyebutan sayyidina pada Nabi Muhammad bertujuan
memberikan penghormatan, dan lebih bersopan santun kepada

17
3

Nabi Muhammad Saw. Dan hukumnya boleh, bahkan dianjurkan,
sebagaimana keterangan di bawah ini:

َ
ٌ ‫ق‬
‫ن‬
ْ ِ ‫حد ّث ََنا ه‬
َ ‫ح‬
َ ْ ‫حد ّث َِنى ال‬
َ
َ ‫مو‬
ُ ‫ن‬
ُ َ ‫حك‬
َ ‫سى أُبو‬
َ ‫ ي َعِْنى اْبلل‬- ‫ل‬
ُ ْ‫م ب‬
ٍ ِ ‫صال‬
َ
َ
ّ
‫ن‬
ِ ‫ن الوَْزا‬
َ ٍ‫مار‬
َ ‫ى‬
ّ َ ‫حد ّث َِنى أُبو ع‬
ُ ‫حد ّث َِنى ع َب ْلد ُ الل لهِ ب ْل‬
ّ ‫ع‬
ِ َ ‫ ع‬- ٍ ‫زَِياد‬
َ
ُ ‫سو‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫حد ّث َِنى أُبو هَُري َْرة َ َقا‬
َ ‫فَّرو‬
‫صلللى الللله‬- ِ‫ل الل ّله‬
َ ‫خ‬
ُ ‫ل َر‬
َ
َ
ُ ّ‫ملةِ وَأو‬
‫ن‬
ِ ْ ‫م ال‬
َ ْ‫م ي َلو‬
َ َ ‫سلي ّد ُ وَل َلد ِ آد‬
َ ‫ » أن َللا‬-‫عليه وسلللم‬
َ ‫ل‬
َ ‫قَيا‬
ْ ‫مل‬
َ
َ
ُ ّ‫شللافٍِع وَأو‬
ُ ّ‫قْبللُر وَأو‬
َ ‫م‬
َ ‫ل‬
َ ْ ‫ي َن‬
‫ )صللحيح‬.« ‫فٍع‬
ّ ‫شلل‬
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ‫ل‬
ُ ‫شللقّ ع َْنلل‬
( ‫ باب تفضيل نبينا على بعض‬,‫مسلم‬
Telah bercerita kepadaku al-Hakam bin Musa Abu Shalih,
telah bercerita kepadaku Hiql (yaitu Ibnu Ziyad) dari al-Auza’i,
telah bercerita kepadaku Abu Ammar, telah bercerita kepadaku
Abdullah bin Farrukh, telah bercerita kepadaku Abu Hurairah, dia
berkata “Rasulullah Saw. Bersabda: “Aku adalah sayyid bagi
manusia di hari kiamat dan orang yang pertama kali bangkit dari
alam kubur, pertama kali sebagai pemberi syafa’at dan yang di
syafa’ati”. (Shahih Muslim: bab Tafdhil Nabiyina ‘ala Jamii’)

َ
َ
ُ ْ‫سل ُو‬
َ ‫ض‬
‫ك‬
ِ َ ‫سيا َد‬
َ ْ‫ن ا ْل َف‬
ّ َ ‫ ل‬،‫ة‬
ً ‫م‬
َ ‫م‬
ّ ‫ه وَأ‬
ُ ‫ل‬
ّ ‫دا ا ْلوَْلى ذ ِك ُْر ال‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫ن‬
ُ ُ ‫وَقَوْل‬
( 156 ‫ ص‬1 ‫ )الباجورى على ابن قاسم ج‬.‫ب‬
ِ َ ‫ا ْل َد‬

Setiap kali menyebut nama Muhammad Rasulullah, yang lebih
utama adalah menambah dengan sayyidina, karena lebih utama
dengan jalan/cara sopan santun. (Al-Bajuri ala Ibni Qasim Juz 1,
hal. 156)
Dan dalam kitab Tafsir al-Baghawi, Imam Mujahid dan
Imam Qotadah berkata: Janganlah kamu sekalian memanggil
nama Nabi dengan namanya secara langsung (wahai
Muhammad), tetapi panggillah dengan penuh tawadhuk dan
lemah lembut. Misalnya memanggil dengan nama keagungan dan
kebesarannya: Wahai Rasulullah, dan lain-lain.

َ َ ‫َوقا‬
‫م‬
ُ َ ‫جاه ِد ٌ وََقتا َد‬
ِ ‫سل‬
َ ْ‫مللا ي َلد ْع ُوْ ب َع‬
َ ‫م‬
ْ ‫ ل َ ت َد ْع ُوْه ُ ِبا‬:‫ة‬
ْ ُ ‫ض لك‬
َ َ ‫مه ِ ك‬
ُ ‫ل‬
َ َ‫ملوْه ُ و‬
،‫ه‬
ّ َ‫ن ف‬
ِ ‫ يلا َ ع َب ْلد َ اللل‬،‫د‬
ُ ‫مل‬
َ ‫م‬
ً ْ‫ب َع‬
ُ ْ‫شلّرفُو‬
ُ ‫خ‬
ّ ‫ح‬
ُ َ ‫ يلا‬:‫ضلا‬
ْ ‫ وَل َك ِل‬،‫ه‬

174

َ ْ ‫ فِل‬،‫ه‬
َ ْ ‫س لو‬
‫ض لٍع‬
ُ َ‫ف‬
ِ ‫ل اللل‬
ِ ‫ي الل ل‬
ُ ‫وا‬
ُ ‫ ي لا َ َر‬،‫ه‬
َ َ ‫ن وَت‬
ّ ‫ يلا َ ن َب ِل‬:‫وا‬
ْ ُ ‫قوْل‬
ٍ ‫ي لي ّل‬
( 433 ‫ ص‬3 ‫) تفسير البغوى ج‬
Berdiri untuk Menghormati Seseorang
Sudah tidak asing lagi di kalangan pesantren dan
masyarakat apabila ada seorang kyai atau ulama’ lewat mereka
berdiri untuk menghormati kyai tersebut. Penghormatan ini
dilakukan untuk menghormati ilmu kyai tersebut. Bagaimanakah
hukum berdiri untuk penghormatan tersebut?
Mayoritas ulama’ membolehkan berdiri untuk menghormati
seseorang yang datang. Mereka berdalil dengan firman Allah Swt.

َ
َ ‫ذا قِي ْل‬
َ ِ ‫وا إ‬
‫س‬
َ َ‫م ت‬
ِ ّ ‫َيا أي َّها ال‬
َ ‫م‬
ُ ‫سل‬
ّ ‫ف‬
َ ْ ‫وا فِللي ال‬
ْ ‫ل ل َك ُل‬
َ ‫نآ‬
ْ ‫ح‬
ْ ‫من ُل‬
َ ‫ذي‬
ِ ِ ‫جللال‬
َ ْ ‫ذا قِي‬
ُ ْ ‫شُزْوا َفان‬
ُ ْ ‫ل ان‬
َ ِ ‫م وَإ‬
‫ش لُزْوا ي َْرفَ لِع‬
‫س‬
ْ َ ‫وا ي‬
ُ ‫س‬
َ ‫ف‬
َ ْ‫َفاف‬
ْ ُ ‫ه ل َك‬
ُ ّ ‫ح الل‬
ْ ‫ح‬
ِ
ُ ‫الل ّه ال ّذين آمنوا منك ُم وال ّذي‬
‫ما‬
ٍ ‫جا‬
َ ‫م د ََر‬
َ ِ‫ه ب‬
ُ ّ ‫ت َوالل‬
َ ْ ‫وا ال ْعِل‬
ُ
ْ ُ ‫ن أوْت‬
َ ِْ َ ْ ْ ِ ْ ُ َ َ ِ
ُ
( 11 ‫خِبيٌر ) المجادلة اية‬
َ ‫ن‬
َ ‫ملو‬
َ ْ‫ت َع‬
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. AlMujadalah:11)

َ ِ ‫قي َللام ِ ل ِْلقلا َد ِم ِ ا‬
‫ن‬
َ ‫ف‬
ُ ‫مهُلوُْر ْال‬
ِ ‫وازِ ْال‬
َ َ ‫ذا كلا‬
َ ‫قَهلاِء ا ِل َللى‬
ُ ‫ب‬
َ ‫ذ َهَل‬
ْ ‫ج‬
َ ‫جل‬
َ
َ
‫ن‬
َ ْ ‫ل ال‬
ِ ‫ما‬
ّ ‫جلهِ الت ّك ْرِْيلم ِ ِل‬
ْ َ‫ح ع ََللى و‬
ْ ‫ف‬
ْ ‫م‬
ً ِ ‫سل‬
ُ
ّ ‫ل َوال‬
ِ ‫ضل‬
ِ ْ‫ن أه‬
ْ ‫م‬
ِ َ ‫صلل‬
ْ
ْ
َ
‫و‬
ِ ‫ه‬
َ ‫ص لل‬
ٌ ‫ج‬
ْ ‫ا‬
َ ‫حت َِرا‬
ْ ‫م‬
ّ ‫م‬
ُ ‫ح‬
ُ ‫م‬
َ ْ ‫ب وَت َكرِي‬
ِ ‫سل ِم ِ َوا‬
ُ ‫م ال‬
َ َ‫ه ل ِد ِي ْن ِهِ و‬
ْ ُ ‫مللا ي َلد ْع‬
َ
َ
َ
ْ
ْ
ْ
َ ‫م لوَد ّةِ وَقَ لد ْ ق لا‬
ُ ْ ‫س لب ِي‬
‫ه‬
ِ ‫ل ع َلي ْل‬
َ ‫م‬
ُ َ ‫سل‬
َ ‫ه‬
ْ ِ ‫ا ِل َي ْهِ ال‬
َ ‫حب ّلةِ َوال‬
َ ‫ل ال‬
ُ ّ ‫م ِلن‬
17
5

ً َ ‫قرن من ال ْمعروف‬
َ
َ ‫خلا‬
‫ك‬
َ َ‫م أ‬
ْ ‫شلي ْأ وََللوْ أ‬
ِ ْ ُ ْ َ
ْ َ ‫م )ل َ ت‬
ُ َ ‫سل‬
ّ ‫ال‬
َ ‫ن ت َك َّلل‬
َ ِ ْ ِ َ ‫ح‬
َ
ٌ ‫س‬
َ ِ ‫جه‬
‫ )روائع البيان في تفسير ايات‬. (‫ك‬
ْ َ‫ط ا ِل َي ْهِ ب ِو‬
َ ّ ‫من َب‬
ُ ‫ت‬
َ ْ ‫وَأن‬
(454 ‫ ص‬2 ‫ ج‬,‫الحكام‬
Mayoritas ulama’ mengatakan bahwa boleh berdiri untuk
(menghormati) orang Islam yang mulia dan baik, dengan tujuan
untuk menghormatinya. Menghormati seseorang karena agama
dan kebaikannya, termasuk perbuatan yang sangat dianjurkan
oleh agama dan karena perbuatan itu merupakan jalan untuk
menambah rasa cinta dan kasih sayang. Nabi bersabda janganlah
kamu meremehkan perbuatan baik (yang dilakukan seseorang),
sekalipun (dalam bentuk) kamu berbicara kepada saudaramu
dengan wajah yang berseri-seri. (Rawaai’ al-Bayan Fii Tafsiri Ayat
al-Ahkam, juz II, hal.404)
Jabat Tangan dengan Dicucup atau Dicium
Sering kali kita melihat seseorang saat bertemu atau
berjumpa dengan temannya yang lain mereka saling berjabat
tangan, terutama di lingkungan pondok pesantren. Etika ini juga
dilakukan oleh santri saat berhadapan dengan orang tua, kyai,
atau guru mereka, namun tidak hanya berjabat tangan,
melainkan dengan mencium atau mencucup tangan mereka yang
dipandang mulia, bahkan ada sebagian dari santri yang mencium
kaki kyainya (sebagai wujud penghormatan kepada gurunya).
Namun terkadang hal ini dipandang sebelah mata oleh
sebagian orang sebagai upaya pengkultusan atau budaya patron
yang kurang baik. Bagaimanakah sebenarnya pandangan agama
terhadap perilaku jabat tangan dengan cara mencium, mencucup
tangan atau bahkan mencium kaki?
a.
Makruh, apabila dilakukan terhadap orang kaya
karena kekayaannya.

َ
َ‫ل ل‬
ْ َ ‫حَناِء وَت‬
ِ ْ ‫َوافَقَ الن ّوَوِيّ ب ِك ََراهَةِ ا ْل ِن‬
ْ ِ‫حوِ ي َد ٍ أوْ ر‬
ْ َ‫ل ن‬
ٍ ‫ج‬
ِ ْ ‫قب ِي‬
‫ب ث ُل َُثللا‬
ٍ ْ ‫حد ِي‬
ِ
َ َ‫ي ذ َه‬
َ ‫وا‬
َ ِ‫ي ل‬
ْ َ ‫ما ل ِن‬
َ ":‫ث‬
َ َ ‫سي‬
ّ ِ ‫ضعَ ل ِغَن‬
َ َ‫ن ت‬
ْ ‫م‬
ّ ِ ‫حوِ غ َن‬
176

َ ‫ب ذ َل ِل‬
َ ْ‫عل ْلم ٍ أ َو‬
‫ف‬
ِ ْ‫ح أ َو‬
ِ ‫د ِي ْن ِل‬
ٍ ‫ش لَر‬
ْ َ ‫ك ل ِن‬
ُ َ ‫ وَي ُن ْلد‬. "‫ه‬
َ ِ ‫ح لو‬
ٍ َ ‫ص لل‬
( 296 ‫)بغية المسترشدين ص‬
Imam Nawawi sepakat terhadap hukum makruh merunduk
dan mencium tangan atau kaki apalagi kepada orang kaya,
berdasarkan hadits “Barang siapa bertawadhu’ terhadap
orang kaya maka hilanglah 2/3 agamanya”. Dan
disunnahkan mencium atau merunduk kepada orang-orang
saleh, orang-orang yang berilmu dan orang-orang mulia.
(Bughya al-Mustarsyidin hal 296)
b.
Sunnah, apabila itu dilakukan kepada orang-orang
yang mulia dan orang yang sudah tua.

َ
َ‫ل ل‬
ْ َ ‫حَناِء وَت‬
ِ ْ ‫َوافَقَ الن ّوَوِيّ ب ِك ََراهَةِ ا ْل ِن‬
ْ ِ‫حوِ ي َد ٍ أوْ ر‬
ْ َ‫ل ن‬
ٍ ‫ج‬
ِ ْ ‫قب ِي‬
‫ب ث ُل َُثللا‬
ٍ ْ ‫حد ِي‬
ِ
َ َ‫ي ذ َه‬
َ ‫وا‬
َ ِ‫ي ل‬
ْ َ ‫ما ل ِن‬
َ ":‫ث‬
َ َ ‫سي‬
ّ ِ ‫ضعَ ل ِغَن‬
َ َ‫ن ت‬
ْ ‫م‬
ّ ِ ‫حوِ غ َن‬
َ
َ
ْ
َ ‫ب ذ َل ِل‬
َ ْ‫عل لم ٍ أو‬
‫ف‬
ِ ْ‫ح أو‬
ِ ‫د ِي ْن ِل‬
ٍ ‫ش لَر‬
ْ َ ‫ك ل ِن‬
ُ َ ‫ وَي ُن ْلد‬. "‫ه‬
َ ِ ‫ح لو‬
ٍ َ ‫ص لل‬
( 296 ‫)بغية المسترشدين ص‬
Imam Nawawi sepakat terhadap hukum makruh merunduk
dan mencium tangan atau kaki apalagi kepada orang kaya,
berdasarkan hadits “Barang siapa bertawadhu’ terhadap
orang kaya maka hilanglah 2/3 agamanya”. Dan
disunnahkan mencium atau merunduk kepada orang-orang
saleh, orang-orang yang berilmu dan orang-orang mulia.
(Bughya al-Mustarsyidin hal 296)
Menurut Imam al-Hafidz al-Iraqi ra.: Mencium badan, tangan
dan kaki orang-orang saleh atau orang-orang mulia dengan
niatan untuk mendapatkan berkah (tabarukan) adalah
perbuatan baik dan terpuji.

17
7

َ ُ ‫قبي ْل‬
ْ ِ‫حللاف‬
َ ‫وَقَللا‬
ّ ‫ن ال‬
َ ْ ‫ش لرِي‬
ِ‫فة‬
َ ْ ‫ل ا َل‬
َ ‫ل ا ْل‬
ِ ْ َ ‫ وَت‬: ‫ي‬
ْ ‫ظ ا َل ْعَِراقِ ل‬
ِ ِ ‫م َللاك‬
َ
‫ن‬
ِ ِ ‫صللال‬
َ ‫م‬
ُ ‫ن وَأْر‬
ِ ‫صد ِ الت ّب َّر‬
َ ‫ح‬
ْ ‫جل ِهِ ل‬
ّ ‫ك وَأي ْلد ِيْ ال‬
ْ َ‫ع ََلى ق‬
ٌ ‫سل‬
َ ْ ‫حي‬
‫ )بغيللة المسترشللدين‬.‫صد ِ َوالن ّي َةِ اهل‬
َ ْ ‫موْد ٌ ِباع ْت َِبارِ ال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ح‬
َ
ْ ‫ق‬
( 296 ‫ص‬
Imam Hafidz al-Iraqi Ra. berkata: Mencium badan, tangan
atau kaki orang-orang yang dianggap mulia dengan maksud
mendapatkan berkah, adalah perbuatan baik dan terpuji
berdasarkan tujuan dan niatnya. (Bughya al-Mustarsyidin hal
296)
Budaya mencium tangan ulama’, kyai, ahli zuhud dan orang
yang sudah tua, sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw.
seperti contoh: sahabat Abu Ubaidah mencium tangan
sahabat umar, sahabat Ali mencium tangan sahabat Abbas
dan sahabat ka’ab mencium kedua tangan dan lutut Nabi.
Sebagaimana keterangan berikut ini:

َ ‫ن ك َْعب لا ً قَب ّل‬
‫ه‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫ل ي َلد َي ْهِ وَُرك ْب َت َي ْلهِ ع َل َي ْل‬
ّ ِ‫ن ا‬
ِ ّ ‫حب لا‬
ُ ‫وََرَوى ا ِب ْل‬
‫ )بغيللة المسترشللدين‬.‫ه‬
ُ َ ‫سل‬
ّ ‫صل َة ُ َوال‬
ُ ُ ‫ت ت َوْب َت‬
ْ َ ‫ما ن ََزل‬
ّ َ‫م ل‬
ّ ‫ال‬
(638 ‫ ص‬1 ‫ج‬
Sesungguhnya Ka’ab mencium kedua tangan dan lutut Nabi.
(HR. Ibnu Hibban). (Bughya al-Mustarsyidin hal 638)
Mahal al-Qiyam, (Berdiri Ketika Membaca Barzanji)
Ketika membaca shalawat barzanji, ketika sampai bacaan
“Ya Nabi Salam ‘Alaika” biasanya orang-orang melantunkannya
sambil berdiri yang dikenal dengan istilah Mahal al-Qiyam. Ada
sebagian orang yang mengatakan bahwa berdiri ketika membaca
shalawat adalah bid’ah syayyiah sebab tidak ada dalil yang
membenarkannya,
benarkah
begitu?.
Dan
sebetulnya
bagaimanakah hukum berdiri ketika membaca shalawat?
178

Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
merupakan ibadah yang sangat terpuji. Tujuan membaca
shalawat itu adalah untuk mengagungkan Nabi Muhammad Saw.
Salah satu cara untuk mengagungkan seseorang adalah dengan
cara berdiri. Oleh karena itu boleh hukumnya berdiri ketika
membaca shalawat Nabi Saw. Sebagaimana diterangkan dalam
kitab al-Bayan Wa al-Ta’rif Fii Dzikri al-Maulid al-Nabawi, hal.2930:

ُ ْ‫قَوو‬
َ ‫من ْث ُلوْرِ ٰه ل‬
‫ن‬
ُ َ‫ي‬
ْ َ ‫ست‬
َ ‫ح‬
ْ ِ ‫ذا وَقَلد ْ ا‬
َ ْ ‫موْل ِلد ِهِ ال‬
َ ‫ى‬
ِ ْ ‫ل ا َل ْب َْرَزن‬
َ ‫سل‬
ْ ِ‫ى ف‬
ّ ‫ج‬
ْ ‫ة ا ِل َل‬
ّ ‫موْل ِد ِهِ ال‬
‫خ‬
ٌ ‫ وَرِوَي َل‬,‫ة‬
ِ ‫م‬
ٍ َ ‫مةِ ذ ُوْ رَِواي‬
ِ ْ ‫ال‬
ِ ْ ‫شرِي‬
ُ ‫قَيا‬
ّ ِ ‫ف ا َئ‬
َ ِ‫عن ْد َ ذ ِك ْر‬
‫ة‬
َ ‫م غا َي َل‬
َ َ ‫ن ك لا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ ‫مل‬
َ ْ ‫ن ت َعْظ ِي‬
َ ِ ‫فَط ُوَْبى ل‬
َ ‫ه‬
ْ ‫م‬
ّ ‫ن بِال‬
‫ه جلا َئ ًِزا‬
ُ ‫ئ‬
ِ ‫مَرا‬
ْ ِ ‫ست‬
َ ‫ح‬
ْ ِ ‫ي ِباْل‬
ُ ُ ‫هنا َ ك َوْن‬
َ َ ‫مه ِ و‬
َ
ِ ْ ‫شي‬
ِ ‫سا‬
ْ ِ ‫مْرما َه ُ وَن َعْن‬
ً
ُ
ْ
ُ
َ ‫ث‬
‫ه‬
ِ ‫وا‬
ُ ‫حْيلل‬
ُ ْ ‫حي‬
ِ ِ ‫عث‬
ِ ‫وبا‬
ِ
َ ‫ن‬
ً ْ ‫مو‬
ْ ‫م‬
َ ‫ن‬
َ َ‫دا و‬
ُ ‫ح‬
َ َ‫صل ِهِ و‬
ُ ‫ذات ِهِ وَا‬
َ ‫ث ِبلل‬
ْ ‫م‬
ْ ‫مطل‬
ْ ‫م‬
ََ ْ ‫م‬
ْ َ ‫واقِب ِهِ ا ِل‬
‫ه‬
ْ ِ‫ل ال ْف‬
ِ ‫قل‬
ُ ْ ‫ى ال‬
َ ْ ‫خ ل َ ِبال‬
ُ ُ‫ي ا‬
ِ ْ ‫ص لو‬
ْ ‫ح ع َل َي ْهِ فِ ل‬
َ َ ‫وَع‬
ِ ‫صطل‬
َ ‫مْعن‬
(30-29 ‫)البيان والتعريف فى ذكر المولد النبوى ص‬
Imam al-Barzanji dalam kitab maulidnya, yang berbentuk prosa
mengatakan sebagian ulama’ ahlu hadits yang mulia itu
mengaggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah
kelahiran Nabi. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan
Nabi Saw. Yang dimaksud dengan istihsan disini ialah jaiz (boleh)
dilihat dari aspek perbuatan itu sendiri serta asal usulnya, dan
dianjurkan dari sisi tujuan dan dampaknya. Bukan dari istihsan
dalam pengertian ilmu usul fiqh. (Al-Bayan Wa al-Ta’rif Fii Dzikri
al-Maulid al-Nabawi,, hal. 29-30)
Berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah
menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang berdiri untuk
menghormati benda mati. Misalnya setiap tanggal 17 Agustus,
maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih
dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka
seluruh peserta diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah

17
9

untuk menghormati Sang Saka Merah Putih dan mengenang jasa
para pejuang bangsa.
Jika dalam upacara bendera saja harus berdiri, maka berdiri
untuk menghormati Nabi tentu lebih layak dilakukan, sebagai
ekspresi dari bentuk penghormatan. Bukankah Nabi Saw. Adalah
manusia yang teragung yang lebih layak di hormati dari pada
yang lain. Oleh sebab itu Imam Nawawi berpendapat:

‫ه‬
َ ْ ‫ل ال‬
ِ ‫جللاَء فِي ْل‬
ِ ِ ‫م ل ِْلقلا َد ِم‬
ِ ْ ‫ا َل‬
َ ْ ‫ب وَقَلد‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫سلت‬
ْ ‫ف‬
ُ َ ‫قيا‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ل‬
ِ ‫ضل‬
ِ ‫ن ا َهْل‬
ْ ‫مل‬
َ ‫ه‬
‫ح )صللحيح‬
ٌ ْ ‫َاحا َد ِي‬
ٌ ْ ‫ش لي‬
ٌ ْ ‫صلرِي‬
ْ ‫صل‬
ُ ‫ى ع َن ْل‬
ْ َ ‫ث وَل‬
َ ‫ئ‬
َ َ‫م ي‬
ْ ‫ح فِللى الن ّهِل‬
( 80 ‫ ص‬12 ‫مسلم بشرح النووى رقم ج‬
Berdiri untuk (menyambut) kedatangan orang yang mempunyai
keutamaan itu dianjurkan. Ada banyak hadits yang menerangkan
hal tersebut. Tidak ada dalil yang secara nyata menyatakan
larangan berdiri itu. (Shahih Muslim Bi Syarh al-Nawawi, juz XII,
hal.80)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebagai salah satu bentuk
penghormatan, berdiri menyambut kedatangan orang terhormat
itu dianjurkan. Maka berdiri untuk menghormat Nabi ketika
membaca shalawat itu lebih dianjurkan.
Hukum Membaca Manaqib Syeh Abdul Qodir atau Manaqib
yang Lainnya
Di kalangan masyarakat Islam Indonesia seringkali kita
temukan adanya kegiatan pembacaan manaqib Syeh Abdul Qadir
al-Jilany. Bagaimanakah hukum tradisi tersebut?
Manaqib adalah sejarah atau biografi seorang ulama’ yang
mempunyai nilai-nilai yang patut untuk dijadikan suri tauladan
seperti halnya Syeh Abdul Qadir al-Jilany. Adapun pembacaan
manaqib beliau tidak lain adalah untuk mencari dan mendapatkan
berkah, terkabulnya do’a dan turunnya rahmat di depan para wali
baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Sebagaimana
diterangkan dalam kitab Jala’ al-Dzulam ‘Ala ‘Aqidah al-‘Awam.
180

ُ ِ‫ى ل‬
ّ ‫كلل‬
‫ن‬
َ ‫ب ْال‬
َ ْ ‫ل َوال‬
ِ ‫خي ْلَرا‬
ْ َ‫ت ا‬
ْ ‫ف‬
ُ ِ ‫سللل ِم ٍ ط َللال‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ل‬
ْ ‫ا ِع َْللل‬
ِ ‫ضل‬
ْ ‫م ي َن ْب َِغلل‬
‫ل‬
َ ّ ‫ت َوالن‬
ِ َ ‫فحللا‬
ِ َ ‫س ال ْب ََركللا‬
ِ َ ‫ي َل ْت‬
ّ ‫سللِتجا َب َةِ اللل‬
ْ ‫ت َوا‬
َ ‫ملل‬
ِ ْ‫دعا َِء وَُنللُزو‬
‫م‬
ِ ِ ‫جال‬
ِ ‫ضلَرا‬
ِ ‫ما‬
َ َ‫م و‬
َ ‫م‬
ْ ‫ح‬
َ ‫ت ِفى‬
ْ ‫الّر‬
ْ ‫معِهِل‬
ْ ‫ج‬
ْ ِ‫سله‬
َ ‫ت ال ْل َوِْليلا َِء ِفلى‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫م َوحلا‬
‫ملوِْع‬
ِ َ‫واتا ً و‬
ُ ْ ‫م وَك َْثلَرةِ ال‬
ْ َ‫ا‬
ُ ‫ج‬
ْ ‫ل ذ ِك ْرِه ِل‬
ْ ِ ‫عن ْد َ قُب ُوْرِه‬
ْ َ ‫حيا ًَء وَا‬
َ ‫م‬
ْ َ ‫م وَن‬
َ ‫مل‬
‫م )جلء‬
ِ َ‫م و‬
ِ ‫ذاك َِرا‬
ْ َ‫ت ف‬
ْ ِ‫من َللاقِب ِه‬
َ ِ‫ش لر‬
ْ ِ‫ض لل ِه‬
ُ َ ‫عن ْلد‬
ْ ِ‫ِزي لا ََرات ِه‬
(‫الظلم على عقيدة العوام‬
Ketahuilah! Seyogyanya bagi setiap muslim yang mencari
keutamaan dan kebaikan agar ia mencari berkah dan anugerah,
terkabulnya do’a dan turunnya rahmat di depan para wali, di
majelis-majelis perkumpulan mereka, baik masih hidup maupun
sudah mati, di kuburan mereka, ketika mengingat mereka, dan
ketika banyak orang berkumpul dalam berziarah kepada mereka,
serta ketika mengingat keutamaan mereka, dan pembacaan
riwayat hidup mereka. (Jala’u al-Dzulam ‘Ala ‘Aqidah al-‘Awam)
Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa pembacaan
manaqib orang yang shalih adalah diperbolehkan bahkan
dianjurkan.
Hukum Berjabat Tangan dengan Ghoiru Mahrom
a. Tidak Boleh
Menurut jumhur ulama’ hukum berjabat tangan antara lakilaki dengan wanita lain (ghoiru mahrom) adalah tidak
diperbolehkan. Hal ini diterangkan dalam kitab Tanwir alQulub hal. 199 dan Hasiyah al-Shawi ‘ala Syarhi al-Shaghir.

َ ْ ‫ة الرجل ل ِل‬
‫ل‬
ِ ِ‫جن َب ِي ّة‬
َ ِ‫ن غ َي ْلر‬
ْ َ ‫مْرأةِ ا ْل‬
َ َ‫صاف‬
ْ َ ‫وَت‬
ُ ‫حُر‬
َ
ُ ‫م‬
َ ‫م‬
ٍ ِ ‫حلائ‬
ْ ‫مل‬
ِ ُ ّ ُ ‫ح‬
ْ
ْ
ُ ْ ‫مي‬
َ َ ‫وَك‬
(199 ‫ل ) تنوير القلوب ص‬
ِ ‫ج‬
َ ‫مَراد ُ ال‬
ْ َ ‫ذا ال‬
َ
َ
َ
‫ة‬
َ ّ ‫جن َب ِي‬
ُ ‫ح‬
ْ ‫ أيْ اْل‬:[ َ ‫مْرأة‬
ُ ‫ة الّر‬
َ َ‫صاف‬
ُ َ ‫ ] وَل َ ت‬:‫ه‬
َ ْ ‫ل ال‬
ُ ‫جوُز‬
ُ ُ ‫قَوْل‬
َ ‫م‬
ِ ‫ج‬
َ ْ ‫ة بين ال‬
‫ل‬
ُ ‫ن َر‬
َ َ‫صاف‬
ْ َ ‫ست‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م‬
َ
ُ ْ ‫ن ال‬
ُ ْ ‫ما ال‬
َ ّ ‫وَإ ِن‬
َ ‫م‬
ٍ ‫جلل‬
َ ْ ‫ن َل ب َي‬
َ َْ ُ ‫ح‬
ُ ‫س‬
ِ ْ ‫مْرأت َي‬

18
1

َ َ
‫ ) حاشلللية الصلللاوى عللللى الشلللرح‬، ٍ‫جن َب ِي ّلللة‬
ْ ‫ملللَرأةٍ أ‬
ْ ‫َوا‬
( ‫الصغير‬
b. Makruh
Menurut Imam Ahmad bin Hambal, hukum berjabat tangan
antara orang laki-laki dengan perempuan lain adalah makruh.
Hal ini diterangkan dalam kitab Masail al-Imam Ahmad bin
Hambal

َ
َ ‫وك َره ا ْلما‬
َ َ‫ و‬،‫ساِء‬
‫حت ّللى‬
َ ‫ح‬
َ ً ‫ش لد ّد َ أْيض لا‬
َ َ‫صاف‬
ْ ‫مأ‬
ُ َِ َ َ َ
َ ّ ‫ة الن‬
ُ ُ ‫مد‬
َ ‫ح‬
َ ‫م‬
( ‫ ) مسائل المام احمد بن حنبل‬.‫م‬
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫ال‬
ِ ِ‫حر‬

c. Boleh
Menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, hukum berjabat
tangan antara orang laki-laki dan perempuan boleh tetapi
dengan syarat harus menggunakan satir seperti kaos tangan
atau yang lainnya.

َ ْ ‫ة الرجل ل ِل‬
‫ل‬
ِ ِ‫جن َب ِي ّة‬
َ ِ‫ن غ َي ْر‬
ْ َ ‫مْرأةِ ا ْل‬
َ َ‫صاف‬
ْ َ ‫وَت‬
ُ ‫حُر‬
َ
ُ ‫م‬
َ ‫م‬
ٍ ِ ‫حللائ‬
ْ ‫م‬
ِ ُ ّ ُ ‫ح‬
ُ ْ ‫مي‬
َ َ ‫وَك‬
(199 ‫ل ) تنوير القلوب ص‬
ِ ‫ج‬
َ ْ ‫مَراد ُ ال‬
ْ َ ‫ذا ا ْل‬

Dalam kitab Syarhu an-Nail Wasyifaul ‘alil juz 9 hal 436
dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda “Barang siapa berjabat
tangan dengan orang yang alim maka fadhilahnya adalah
seperti berjabat tangan denganku (Rasulullah)”. Dari sinilah
diperbolehkan berjabat tangan bagi orang perempuan, bocah
atau budak wanita kepada para alim yang betul-betul
menyatukan hatinya dengan Allah Swt.

ٌ ‫ص‬
‫حت ّللى ت َت َن َللاث ََر‬
ّ َ ‫فت َرِقُ ك‬
ْ َ‫ل " ل َ ت‬
َ ِ‫ن فِللي الل ّله‬
َ ِ‫صاف‬
ُ ‫فا‬
َ َ ‫مت‬
ْ َ‫ف‬
ِ ْ ‫حي‬
َ
َ ‫ما‬
َ ِ ‫ق " ُروِيَ ذ َل‬
‫مللا‬
‫كال ْوََر‬
َ ‫ح‬
َ َ‫صللاف‬
ً ِ ‫عال‬
َ "‫ه‬
ُ ّ ‫ وَأن‬، ‫ك‬
َ ُ‫ذ ُُنوب ُه‬
َ ‫ن‬
ْ ‫مل‬
ِ
َ
ُ
‫ن أن ْث َللى‬
ُ ‫ح‬
ْ ِ ‫حلد ٍ وَإ‬
ّ َ‫مو‬
َ َ‫صلاف‬
َ َ‫ و‬، " ‫حِني‬
َ َ‫صاف‬
ُ ‫ة‬
ُ ‫ت‬
ْ ‫جاَز‬
َ ّ ‫فَك َأن‬
َ ‫م‬
َ ‫ما‬
َ
‫ ) شللرح النيللل‬. ‫ن ك َب َللاٍغ‬
ً ‫ أ َوْ َرِقي‬، ‫صِغيًرا‬
ْ ‫قا إ‬
ْ ‫ن ل َل‬
َ ْ‫أو‬
ْ ‫م ي َك ُل‬
( ‫وشفاء العليل‬
182

Macam-Macam Batasan Aurat
A. Definisi Aurat
Aurat adalah bagian tubuh manusia yang tabu dan dosa
untuk diperlihatkan kepada orang lain kecuali terhadap
makhrom atau suami dan istri sendiri. Secara umum aurat itu
dibagi menjadi dua yaitu;
1. Aurat Ghalidhah (yaitu Qubul, lubang depan yang
biasanya disebut dzakar atau vagina dan dubur, yaitu
lubang belakang atau anus).
2. Aurat Khafifah yaitu seluruh anggota tubuh selain dari
qubul dan dubur. Keterangan dalam kitab al-Jauhar alNirah, Juz 1 hal. 189.

َ
ْ
َ ‫ة‬
‫ة‬
َ ‫في‬
ُ ْ ‫كال‬
َ َ‫ و‬، ِ‫ل َوالد ّب ُر‬
ٌ ‫ف‬
ٌ َ ‫ غ َِليظ‬:‫ن‬
ِ ‫خ‬
ِ ُ ‫قب‬
ِ ْ ‫العَوَْرة ُ ع َلى ن َوْع َي‬
‫ما‬
َ َ ‫ما ع‬
َ ُ‫داه‬
َ ‫ي‬
َ ِ ‫وَه‬
B. Kriteria Pembagian Batasan Aurat
Pendapat berbagai Ulama’ dalam membagi kriteria aurat
secara terperinci diuraikan di bawah ini:
1. Aurat Laki-Laki
a. Menurut pendapat madzhab Syafi’iyah, aurat orang lakilaki di dalam shalat dan di luar shalat adalah anggota
tubuh mulai dari pusar sampai dengan lutut.
Diterangkan di dalam kitab Hasyiyah al-Jamal juz 4 hal.
12-14 dan kitab I’anah al-Thalibin, Juz 1 Fasal Fii Syuruti
Al-Shalat.

ِ‫س لّرةِ إل َللى الّرك ْب َلة‬
ِ ُ ‫َوال ْعَوَْرة‬
ْ َ ‫ما ت‬
ُ ‫ن الّر‬
ّ ‫ت ال‬
َ ‫حل‬
َ ‫ل‬
ِ ‫ج‬
َ ‫م‬
‫ة‬
ُ ‫مل‬
ّ ‫ن ال‬
ّ ِ ‫سّرةِ َوالّرك ْب َةِ ( هُلوَ ت َت‬
َ ُ ‫ه َوال ْعَوَْرة‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
َ ْ ‫ما ب َي‬

18
3

َ ِ ‫ها ب‬
َ ِ‫صَلةِ وَغ َي ْر‬
ِ‫رين َة‬
ِ ‫دي‬
ِ ‫ح‬
َ ْ ‫ال‬
ُ ْ ‫ث َوال‬
ّ ‫مَراد ُ ال ْعَوَْرة ُ ِفي ال‬
ِ ‫ق‬
ّ ‫ح‬
‫مارِ ا هل‬
ْ ِ ‫ل اْل‬
َ ‫م‬
َ ‫ض‬
َ ‫اْل ِظ َْهارِ ِفي‬
b. Menurut Imam Zarkasyi, aurat pria di luar shalat dan
ketika berada di tempat yang sepi adalah hanya dubur
dan dzakar (alat kelaminnya) saja. Hal ini diterangkan
dalam kitab: Syarhu al-Bahjah al-Wardiyah, juz 3 hal.
467 dan kitab Tuhfah al-Muhtaj Fii Syarhi al-Minhaj, Juz
6 hal. 243.

َ ‫َقا‬
َ ْ ‫ها فِللي ال‬
َ ‫س لت ُْر‬
ِ‫خل ْلوَة‬
ِ َ ‫ل الّزْرك‬
ُ ‫ج‬
َ ‫ب‬
ِ َ ‫ي َوال ْعَوَْرة ُ ال ِّتي ي‬
ّ ‫ش‬
َ
ْ ‫ق‬
‫ل‬
َ َ‫ن ف‬
ِ ‫ط‬
ُ ‫ن الّر‬
ّ ‫ال‬
ِ ‫ج‬
َ ‫م‬
ِ ‫سوْأَتا‬
Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, aurat orang
laki-laki di luar shalat adalah hanya kubul dan dubur
saja. Diterangkan dalam kitab Bughya al-Mustarsyidin
bab Fii Syuruti al-Shalat hal 34.

َ ‫ َلنا َ وج‬: ‫قل َئ ِد‬
َ َ ‫ قا‬: ‫فائدة‬
‫ل‬
ِ َ ْ ‫ل ِفي ال‬
ُ ‫ن ع َوَْرة َ الّر‬
ّ ‫هأ‬
ٌ ْ َ
ِ ‫ج‬
ْ ‫ق‬
ُ ُ ‫قب‬
‫ن‬
َ َ‫ل َوالد ّب ُُر ف‬
ُ ْ ‫صل َةِ ا َل‬
ٌ َ ‫ط وَهُوَ رَِواي‬
ّ ‫ي غ َي ْرِ ال‬
ْ َ‫ة ع‬
ْ ِ‫ف‬
َ
‫مد َ اهل ) بغية المسترشدين باب شروط‬
ْ ‫ك وَأ‬
ٍ ِ ‫مال‬
َ ‫ح‬
َ
( 34 ‫الصلة ص‬

c. Dalam

kitab Hasyiah al-Jamal, Juz 1 hal. 411.
diterangkan bahwa aurat orang laki-laki di dalam shalat
hanyalah qubul (dzakar) dan dubur (anus) saja. Tetapi
pendapat ini hanya khusus untuk orang laki-laki saja
tidak berlaku bagi budak perempuan (amat).

ْ ‫قَول ُه أ َيضا بجامع أ َن رأ‬
ّ ُ‫س ك‬
‫مللا ل َي ْل‬
ٍ‫س ب ِعَ لوَْرة‬
ِ ‫ل‬
َ ُ‫من ْه‬
َ
َ
َ ّ ِ ِ َ ِ ً ْ ُ ْ
َ
َ
َ
‫ن‬
ْ َ‫م ي‬
ّ ‫جًهللا ِبللأ‬
ْ َ‫ن ل ََنا و‬
ّ ‫ن ِفي أ‬
ْ َ‫صَلةِ ن َع‬
ّ ‫ ِفي ال‬:‫ي‬
ِ ‫فت َرَِقا‬
ْ ‫أ‬
ُ ُ ‫قب‬
‫ري ِفي‬
ُ ْ ‫ل ال‬
َ ‫ل َوالد ّب ُُر‬
ً ‫ص‬
ْ َ ‫ة وَهُوَ َل ي‬
ُ ‫ع َوَْرة َ الّر‬
ّ ‫خا‬
ِ ‫ج‬
ِ ‫ج‬
َ
‫ة‬
ِ ‫م‬
َ ‫اْل‬
184

d. Dikatakan, Imam Malik juga berpendapat bahwa aurat
yang wajib ditutupi bagi orang laki-laki dan amat
(budak perempuan) adalah dua alat kelaminnya saja.
(Mughni al-Mukhtaj, Juz 1 hal. 256.)

َ ِ ‫ج ب ِذ َل‬
‫سلا ب ِعَلوَْرةٍ ع َل َللى‬
َ َ‫و‬
ُ ‫سلّرة ُ َوالّرك ْب َل‬
َ ‫خَر‬
َ ْ ‫ة فَل َي‬
ّ ‫ك ال‬
َ
َ ْ ‫سّرةِ وَقِي‬
َ ْ ‫ح وَقِي‬
‫ه‬
ُ َ ‫ل ال َّرك ْب‬
ِ ‫ة‬
َ ْ‫من َْها د ُو‬
ّ ‫ص‬
ُ ْ ‫ل ع َك‬
ّ ‫ن ال‬
ُ ‫س‬
َ ‫اْل‬
ْ ‫ق‬
ٌ ِ ‫مال‬
َ ‫ط وَب ِهِ َقا‬
َ ْ ‫وَقِي‬
.‫ة‬
َ َ‫ن ف‬
ٌ َ ‫ماع‬
َ َ‫ك و‬
ّ ‫ل َال‬
َ ‫ج‬
َ ‫ل‬
ِ ‫سوْا َ َتا‬
Dan menurut Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi perintah
menutupi aurat itu adalah bertujuan untuk memuliakan
dan menjaga kemaluan, tidak untuk merendahkan dan
menghinakannya, karena kemaluan adalah termasuk
barang yang tabu dan jijik apabila terbuka atau
telanjang dan tidak buruk secara dhahir dan hakikinya.
Barang yang harus ditutupi itu adalah qubul (dzakar
atau vagina) dan dubur (anus) sebagaimana dijelaskan
di dalam kitab: Hasyiah al-Shawi ‘ala Syarhi al-Shaghir,
Juz 1 bab Satru al-Aurat.

َ
‫ه‬
َ ِ ‫س لت ُْر ب‬
ِ ‫ست ْرِ ال ْعَ لوَْر‬
ّ ‫ح ال‬
ّ ‫ ال‬:(‫ة‬
َ َ‫ )و‬:‫ه‬
ُ ‫ن ِلن ّل‬
ُ ُ ‫قَوْل‬
ِ ‫سللي‬
ِ ‫فت ْل‬
َ
:‫ة‬
ُ ‫ َوال َْعللوَْر‬. ِ‫ست َت ُِر ب ِه‬
ْ َ ‫ما ي‬
ْ َ ‫ما ِبال ْك‬
َ َ‫سرِ فَهُو‬
ّ ‫ وَأ‬، ‫صد ٌَر‬
َ
ْ ‫م‬
َ
ْ
ْ
َ
ْ ‫حك‬
، ‫سلَها‬
ْ َ ‫فَها ل ن‬
ُ ِ‫ح ل‬
ُ ‫ وَهُلوَ ال‬، ِ‫ن العَلوَر‬
ِ ‫ف‬
ِ ‫شل‬
ِ
ُ ‫قب ْل‬
ْ ‫م‬
ِ ‫قب ْل‬
َ
َ ‫حّتى َقا‬
‫ر‬
ّ ‫حِيي ال ل‬
ْ ‫م‬
َ
َ ِ ‫م لُر ب‬
ْ ‫ اْل‬:‫ي‬
ُ ‫ل‬
ّ ‫ن ال ْعََرب ِل‬
ُ ‫ن ب ْل‬
ِ ْ ‫س لت‬
ِ ‫دي‬
َ
ْ
ْ
ْ َ ‫العَ لوَْرةِ ل ِت‬
– ‫مللا‬
ِ ِ ‫مهَللا ل ل‬
ِ ‫ري‬
ِ ‫ري‬
ّ ‫خ‬
َ ُ‫س لت َِها فَإ ِن ّه‬
ِ ُ ‫فَها وَت َك‬
ِ ‫شل‬
َ ُ ْ ‫ي َعْن ِللي ال‬
َ ْ ‫من‬
َ ْ ‫ش لأ الن ّلوِْع اْل ِن‬
ُ ْ ‫ي ال‬
َ -‫ن‬
ّ ِ ‫سللان‬
ِ ‫مك َلّرم‬
ِ ‫قب ُلي ْل‬
. ‫ ا هل‬.‫ل‬
َ ‫م‬
ّ ‫ف‬
ُ ْ ‫ال‬
ِ ‫ض‬

2. Aurat Wanita

18
5

a. Pendapat dari pengikut madzhab Syafi’iyah, bahwa
aurat wanita di luar shalat ketika bersama orang lakilaki lain adalah seluruh tubuhnya. Sebagaimana
diterangkan dalam kitab: Matan Safinah an-Najah, hal.
12.

.‫ن‬
ِ ِ ‫مة‬
ِ ‫ج‬
َ ‫ب‬
َ َ ‫عن ْد َ ا ْل‬
ُ ‫وَع َوَْرة ُ ْال‬
ّ َ ‫حّرةِ وَا ْل‬
ِ ِ ‫جا ن‬
ِ َ ‫مي ْعُ ال ْب َد‬
b. Aurat orang perempuan ketika shalat adalah seluruh
tubuhnya, kecuali wajah dan dua telapak tangan. Hal ini
diterangkan dalam kitab Hasyiah Bujairami, Juz 4 hal. 74
dan Hasyiah al-Jamal, Juz 4 halaman. 12-14.

‫ن( ظ َهْ لًرا وَب َط ْن ًللا‬
ّ َ ‫ج لهٍ وَك‬
َ
ْ َ‫حّرةٍ غ َي ْلُر و‬
ُ ) ُ ‫)و( ع َوَْرة‬
ِ ‫في ْل‬
ُ ْ ‫إَلى ال‬
‫ن إّل‬
َ ِ‫ن ل‬
ِ ‫}وَل َ ي ُب ْل‬:‫قوْل ِهِ ت َعَللاَلى‬
ّ ‫ن ِزين َت َهُ ل‬
َ ‫دي‬
ِ ْ ‫كوع َي‬
‫مللا‬
ّ َ ‫جهِ َوال ْك‬
َ ‫م‬
ِ ‫ما ظ َهََر‬
ْ َ‫سٌر ِبال ْو‬
ّ ‫ف‬
َ ّ ‫ن وَإ ِن‬
ُ َ‫من َْها{ وَهُو‬
َ
ِ ‫فْيلل‬
َ
َ
ْ
ُ
.‫ما‬
ُ ْ ‫ة ت َد‬
َ ‫ج‬
َ ‫حا‬
َ ‫ن ال‬
ّ ‫م ي َكوَنا ع َوَْرة ً ؛ ِل‬
َ ِ ‫عو إلى إب َْرازِه‬
ْ َ‫ل‬

c. Menurut Imam Muzani, telapak kaki orang perempuan
dalam shalat maupun di luar shalat adalah bukan
termasuk aurat. Diterangkan dalam kitab Mughni alMukhtaj, Juz 1 hal. 257.

َ ‫وفي قَول ِه ا َو وج‬
َ ‫س ب ِعَلوَْرة وَقَللا‬
‫ل‬
ّ ‫هأ‬
َ َ ‫ن قَد‬
ٌ ْ َ ْ ِ ْ ْ ِ َ
َ ‫مي َْها ل َي ْل‬
َ ِ ‫ن َباط‬
ً‫ن ع َوَْرة‬
َ ‫س ال‬
َ َ ‫قد‬
ُ ْ ‫ال‬
َ ْ ‫ي ل َي‬
ِ ‫ما‬
ْ ِ ‫مَزان‬
d. Dikatakan aurat orang perempuan ketika dalam
keadaan sendirian atau pada tempat yang sepi adalah
cukup menutupi sesuatu di antara pusar sampai dengan
lutut. Diterangkan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ala alMinhaj juz 1 hal 411.

َ ‫ل‬
َ ‫حللارِم ِ وَقِْيلل‬
‫ل‬
َ ْ ‫مللا ِفللى ال‬
ُ ‫كالّر‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫خْلللوَةِ َفكا َل‬
ّ َ ‫وَا‬
ِ ‫جلل‬
411 ‫ ص‬1 ‫) حاشية الجمل على شرح المنهاج ج‬
(
186

Imam al-Zarkasyi berpendapat dalam kitab Syarhu alBahjah al-Wardiyah, Juz 3 hal. 467. bahwa orang
perempuan ketika dalam keadaan sendirian atau pada
tempat yang sepi adalah cukup menutupi sesuatu di
antara pusar sampai dengan lutut.

َ ‫َقا‬
‫ها فِللي‬
َ ‫سلت ُْر‬
ِ َ ‫ل الّزْرك‬
ُ ‫جل‬
َ ‫ب‬
ِ َ ‫ي َوال ْعَلوَْرة ُ ال ّت ِللي ي‬
ّ ‫شل‬
َ
ْ ‫قلل‬
‫ن‬
َ َ‫ن ف‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ‫ط‬
ُ ‫ن الّر‬
ّ ‫خْلللوَةِ ال‬
َ َ‫ و‬,‫ل‬
َ ‫مللا ب َي ْل‬
ِ ‫جل‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫سللوْأَتا‬
َ ْ ‫السرة والرك ْبة من ال‬
ِ‫مْرأة‬
َ
ْ ِ ِ َ ّ َ ِ ّ ّ

e. Dalam kitab Matan Sulam al-Safinah, hal 12-13: aurat
orang perempuan adalah dari pusar sampai dengan
lututnya saja ketika bersama muhrimnya atau ketika
bersama dengan sesama wanitanya.

‫ن‬
ِ ِ ‫م لة‬
ِ ‫ج‬
َ ‫ب‬
َ َ ‫عن ْلد َ ا ْل‬
ُ ‫وَع َوَْرة ُ ْال‬
ّ َ ‫حّرةِ وَا ْل‬
ِ ِ ‫جللان‬
ِ َ ‫مي ْلعُ ال ْب َلد‬
.‫ة‬
ِ َ‫و‬
ِ َ ‫سّرةِ َوالّرك ْب‬
ِ ِ‫حار‬
َ ‫م‬
ّ ‫ن ال‬
َ ّ ‫مَها وَالنل‬
َ ‫ساِء‬
َ َ ‫عن ْد‬
َ ْ ‫ما ب َي‬

3. Aurat Budak atau Hamba Sahaya
a. Menurut penganut madzhab Syafi’i aurat budak ketika
shalat adalah seperti auratnya wanita khurri (wanita
merdeka) yaitu seluruh tubuhnya kecuali kepala, wajah
dan kedua telapak tangannya, diterangkan dalam kitab:
Hasyiah Qulyubi wa ‘Amirah, Juz 3 hal. 442. dan bisa
dilihat dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 46.

َ
ْ
َ
‫ي‬
ُ ‫م‬
ُ ْ ‫ة( ك َللال‬
َ ‫حّرةِ إّل َرأ‬
َ ‫َوالّثاِني ع َوَْرت َُها )أي ا ْل‬
ْ ‫ أ‬،‫س لَها‬
ْ
.‫س‬
ّ َ ‫ه َوال ْك‬
ْ َ‫دا ال ْو‬
َ َ ‫ما ع‬
َ ‫ج‬
َ ‫ع َوَْرت َُها‬
َ ‫ن َوالّرأ‬
ِ ْ ‫في‬

b. Menurut qoul yang lebih shahih seperti yang telah
diterangkan oleh Imam al-Baihaqi aurat budak ketika
shalat maupun di luar shalat adalah seperti auratnya
orang laki-laki yaitu antara pusar sampai dengan lutut.

18
7

‫‪Keterangan kitab Fathu al-Wahab, Juz 1 hal. 87 dan‬‬
‫‪kitab Hasyiah Qulyubi Wa ‘Umairah, Juz 3 hal. 442.‬‬

‫خل ْلوَةِ أ َْو‬
‫ص لّلى فِللي ال ْ َ‬
‫س لت ُْر ال ْعَ لوَْر ِ‬
‫)َو( َثال ِث ُهَللا ) َ‬
‫ة( َ‬
‫ن ت ََر َ‬
‫ه‬
‫ملعَ ال ْ ُ‬
‫غ َي ْرِ َ‬
‫م تَ ِ‬
‫صل ّ‬
‫ها‪َ ،‬فلإ ِ ْ‬
‫صلل َ ُتل ُ‬
‫قلد َْرةِ َلل ْ‬
‫ه َ‬
‫كل ُ‬
‫ح َ‬
‫َ‬
‫حّرا َ‬
‫ه‬
‫سللّرت ِ ِ‬
‫ن أوْ ع َب ْ ً‬
‫كا َ‬
‫ل( ُ‬
‫)وَع َوَْرة ُ الّر ُ‬
‫ن ُ‬
‫دا ) َ‬
‫ما ب َْيلل َ‬
‫ج ِ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ي‪ ،‬وَإ ِ َ‬
‫ه‬
‫دي ِ‬
‫حل ِ‬
‫وَُرك ْب َت ِ ِ‬
‫جأ َ‬
‫ذا َزوّ َ‬
‫ه( ل ِ َ‬
‫مت َل ُ‬
‫مأ َ‬
‫حلد ُك ُ ْ‬
‫ث الب َي ْهَقِل ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ملا‬
‫جيَره ُ فََل ت َن ْظ ُُر إَلى َ‬
‫علوَْرت ِ ِ‬
‫ه‪َ ،‬وال َْعلوَْرة ُ َ‬
‫ع َب ْد َه ُ أوْ أ ِ‬
‫َ‬
‫ة‪) ،‬وَك َ َ‬
‫ن‬
‫م ُ‬
‫سّرةِ َوالّرك ْب َ ِ‬
‫ن ال ّ‬
‫ة( ع َوَْرت َُها َ‬
‫ذا ا ْل َ‬
‫مللا ب َْيلل َ‬
‫ب َي ْ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫ل‪.‬‬
‫حاًقا لَها ِبالّر ُ‬
‫ح( إل َ‬
‫ص ّ‬
‫ال ّ‬
‫سّرةِ َوالّرك ْب َةِ )ِفي ال َ‬
‫ج ِ‬

‫‪kecuali‬‬

‫‪badan,‬‬

‫‪seluruh‬‬

‫)‪4. Aurat Karyawati (Wanita Karier‬‬
‫‪a. Aurat karyawati adalah‬‬
‫‪kepala.‬‬

‫مي ْلعَ ٰذل ِل َ‬
‫ق‬
‫ج ِ‬
‫ي َ‬
‫ن َ‬
‫ه اَ ّ‬
‫وَفِي ْلهِ وَ ْ‬
‫حل ّ‬
‫ك ع َلوَْرة ٌ ك َ َ‬
‫جل ٌ‬
‫مللا فِل ْ‬
‫ْ‬
‫س ) الشلرح الكللبير للرافعلى ج‬
‫حّرةِ ِ‬
‫ال ْ ُ‬
‫س َ‬
‫وى الّرأ ِ‬
‫‪(4‬‬
‫‪b. Aurat karyawati adalah seluruh badan, kecuali‬‬
‫‪anggota badan yang tampak dan terbuka ketika‬‬
‫‪bekerja, seperti kepala, leher, lengan tangan dan ujung‬‬
‫‪betis. Karena anggota tersebut butuh untuk dibuka dan‬‬
‫‪sulit untuk menutupnya.‬‬

‫شل ُ‬
‫)َوالّثان ِي ّل ُ‬
‫مهْن َلةِ‬
‫ل ال ْ ِ‬
‫دو وَي َن ْك َ ِ‬
‫ف فِِللي َ‬
‫مللا ي َب ْل ُ‬
‫ة( َ‬
‫حللا ِ‬
‫سللا ِ‬
‫س َوالّرقَب َل ُ‬
‫س ب ِعَوَْرةٍ ِ‬
‫عد ُ‬
‫ة َوال ّ‬
‫من َْها وَهُوَ الّرا ْ ُ‬
‫فَل َي ْ َ‬
‫ج ا ِل َللي ك َ ْ‬
‫سلُر‬
‫وَط َْر ُ‬
‫شل ِ‬
‫حت َللا ُ‬
‫ق ِل َن ّهَللا ت َ ْ‬
‫فهِ وَي َعْ ُ‬
‫ف ال ّ‬
‫سلا ِ‬
‫ست ُْره ُ ) الشرح الكبير للرافعى ج ‪( 4‬‬
‫ع َل َي َْها َ‬
‫ي‬
‫ما ي َظ ْهَُر ِ‬
‫عن ْلد َ ال ْ ِ‬
‫ج ِ‬
‫َثال ِث َت َُها َ‬
‫ن إ ِل ّ َ‬
‫مهْن َلةِ وَه ِل َ‬
‫مي ْعُ ال ْب َد َ ِ‬
‫ساِء ال ْ َ‬
‫ت )نهاية الزين ص ‪47‬‬
‫ع َوَْرت َُها ِ‬
‫كافَِرا ِ‬
‫عن ْد َ الن ّ َ‬
‫(‬
‫‪188‬‬

5. Aurat Khuntsa (orang yang mempunyai dua jenis kelamin)
a. Aurat khuntsa adalah semua badannya sebagaimana
wanita merdeka. (Hasyiyah Qulyubi bab Suruti al-Shalat
juz 1)

‫حلّر‬
ُ ْ ‫ َوال‬, ‫ف‬
ْ َ‫ق ل َ ت‬
ُ ْ ‫ع َوَْرة ُ ال‬
ُ ‫خت َل ِل‬
ُ ْ ‫خن ْث َللى ال‬
ِ ‫خن َْثى الّرقِي ْل‬
َ َ ‫عن ْلد‬
َ ‫داًء وَك َل‬
‫خَنا‬
ِ ْ ‫ش لي‬
ِ , ‫مللا‬
َ ِ ‫ ا ِب ْت‬, ِ‫حّرة‬
ُ ْ ‫ك َا ْل ُن َْثى ال‬
ً ‫ذا د ََوا‬
‫ب )حاشللية قليللوبى بللاب‬
َ َ ‫خللال‬
َ ْ ‫ه ال‬
َ َ‫ي و‬
ُ ‫خط ِي ْل‬
ُ ‫ف‬
ْ ‫الّر‬
ّ ِ ‫مل‬
( 1 ‫شروط الصلة ج‬

b. Aurat khuntsa adalah semua anggota badannya,
kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kepalanya.
Diterangkan dalam kitab Khawasyi al-Syarwani, Juz 2
hal 120.

ْ
َ
، ‫س لَها‬
ُ ْ ‫كال‬
َ ‫حّرةِ إّل َرأ‬
ْ
‫س‬
ّ َ ‫َوال ْك‬
َ ‫ن َوالللّرأ‬
ِ ‫فْيلل‬

َ
‫ح( ع َوَْرت َُها‬
ُ ْ ‫و َ ال‬
ّ ‫ص‬
َ ‫خن َْثى )ِفي ا ْل‬
َ
‫ه‬
َ ‫مللا‬
ْ َ‫دا اْلللو‬
َ ‫علل‬
َ ‫ج‬
َ ‫أيْ ع َوَْرت َُهللا‬
( ‫)حاشية الشروانى‬

Pornografi
Pornografi adalah bentuk gambar atau patung yang
menampilkan keindahan bagian tubuh yang dapat menimbulkan
syahwat bagi orang lain, baik yang terdapat pada media cetak,
elektronik, maupun pada perilaku seseorang, terutama yang
bersumber dari kaum wanita. Dan sangat disayangkan pada saat
ini di berbagai daerah di Indonesia makin banyak aksi-aksi porno,
baik penayangan dari media cetak, media elektronik maupun
langsung.
Dari fenomena tersebut kemudian memunculkan RUU APP.
Dan kemudian Pro dan kontra terhadap RUU itupun semakin
ramai dan menguat.

18
9

Bagaimanakah hukum melihat pornografi?
a. Haram melihat, apabila sampai menimbulkan syahwat dan
fitnah.

ْ
َ ‫ن الذ ّك َرِ ا َِلى‬
‫ن‬
ِ ‫ئ‬
ِ ‫ن َالن ّظ ُْر ب َِها‬
ِ ‫مَعا‬
ِ َ‫و‬
َ ‫ن‬
ٍ ْ ‫شي‬
ْ ‫ملل‬
َ ‫م‬
ْ ‫م‬
ِ ْ ‫صى العَي‬
َ
(‫ه‬
َ ْ ‫معَ ال‬
ِ ‫ص‬
ِ ‫جن َب ِّيا‬
ِ ٍ ‫حد‬
ِ ‫ج‬
ْ َ ‫ساِء ا ْل‬
َ ‫نأ‬
َ
َ ّ ‫ن الن‬
ٌ ‫ )ت َن ْب ِي ْل‬.‫د‬
َ ‫ت‬
ْ ‫ق‬
َ ‫م‬
ِ َ ‫مي ِْع ب َد‬
َ
ْ
ْ
َ ِ ‫جن َب ِي ّلةِ ب‬
‫ة‬
َ َ‫شلهْوَةٍ و‬
ٍ ‫ف فِت ْن َل‬
ِ ْ ‫خ لو‬
ْ ‫جلرِ ن َظلُر ال‬
ِ ‫ع َلد ّ فِللى الّزَوا‬
َ ِ ‫سَها ك َ ٰذل‬
(67 ‫ )اسعاد الرفيق ص‬. ‫ك‬
ُ ‫م‬
ْ َ ‫وَل‬
b. Boleh, asal tidak menimbulkan fitnah dan syahwat. (Tuhfah
al-Muhtaj, juz 9, hal. 20 - 21)

ِ ‫ما أ َفْت َللى ِبلهِ غ َي ْلُر َوا‬
ٍ ‫ح لد‬
ِ ِ ‫حو‬
ْ َ ‫م ن َظ َُره ُ ِفي ن‬
ْ َ ‫فََل ي‬
ُ ‫حُر‬
َ َ ‫مْرآةٍ ك‬
ْ ‫حَنلل‬
ِ‫ث ب ُِرؤ َْيللة‬
ْ َ‫م ي‬
ْ َ ‫م ل َوْ ع َل ّقَ الط َّلقَ ب ُِرؤ ْي َت َِها ل‬
ْ ُ‫وَي ُؤ َي ّد ُه ُ قَوْل ُه‬
َ
َ ِ ‫ل ذ َل‬
ّ ‫ح‬
‫و‬
َ
ُ ‫ما‬
َ ‫م ي ََر‬
ِ ِ ‫حو‬
َ ‫م‬
ْ َ ‫خَيال َِها ِفي ن‬
َ َ‫ك ك‬
َ َ‫ها و‬
ْ َ‫ه ل‬
ُ ّ ‫مْرآةٍ ؛ ِلن‬
َ ‫هلل‬
َ ‫ة وََل‬
‫من ْهَللا‬
ْ َ‫م ي‬
ً ‫ش فِت ْن َل‬
ُ ‫حي ْل‬
ِ ‫س‬
َ ‫ظ َللاه ٌِر‬
ْ ‫ث ل َل‬
َ ‫ش لهْوَة ً وَل َي ْل‬
َ ‫خل‬
َ ‫ة وَك َل‬
‫ذا‬
َ ‫ن‬
ٌ ‫ه فِت ْن َل‬
ِ ‫ي‬
ِ ‫خ‬
ْ ‫ه إّل إ‬
ْ َ ‫ت فََل ي‬
ُ ‫حُر‬
َ ‫م‬
ُ ‫من ْل‬
ُ ُ ‫ماع‬
َ ‫س‬
ُ ْ‫صو‬
ّ ‫ال‬
َ ‫ش‬
ْ
9 ‫ ج‬, ‫ )تحفللة المحتللاج‬.‫ي‬
ِ َ ‫ه الّزْرك‬
َ َ ‫ما ب‬
ْ ‫إ‬
ُ َ ‫حث‬
َ َ ‫ن الت َذ ّ ب ِهِ ك‬
ّ ‫شل‬
(21 - 20 ‫ص‬
Terlepas dari pro-kontra di atas, para ulama’ sepakat
melarang untuk mengeksploitasi keindahan tubuh di depan public
terutama bagi kaum hawa, hal itu menunjukkan bahwa agama
sebenarnya lebih menjunjung tinggi kehormatan manusia.
Hukum Pergaulan Bebas
Pada zaman sekarang memang lebih marak dengan yang
namanya pergaulan bebas, sehingga seakan-akan Negara kita
punya nilai kebebasan tanpa adanya moral, bahkan masyarakat
Indonesia yang biasa dikenal kental dengan adat ketimurannya,
sedikit demi sedikit mulai luntur, karena semakin hebatnya
pengaruh, transformasi budaya luar.
Pada suatu forum, misalnya acara ulang tahun atau pestapesta yang lain sering terlihat dalam acara tersebut banyak
bercampurnya antara laki-laki dan perempuan, yang notabene
190

adalah remaja. Sehingga para santri merasa sangat tabu akan hal
itu. Bagaimanakah hukum menghadiri suatu acara atau pesta
yang demikian itu?
Hukum berbaurnya laki-laki dan perempuan:
a. Haram dan berdosa apabila menghadiri acara tersebut
jika nantinya dapat menimbulkan fitnah. Keterangan
kitab Is’adul Rafiq:

َ ‫م‬
ُ َ ‫خت ِل‬
َ َ ‫ وَأ‬,‫ت‬
‫ط‬
ْ ِ‫ت إ‬
ِ ‫حظ ُلوَْرا‬
ِ ‫ملا‬
ْ ‫م‬
َ ‫م‬
َ ‫شلد ّ ْال‬
َ ‫حّر‬
ُ ْ ‫ح ال‬
ْ ِ
ِ ‫ن أقْب َل‬
َ
ْ
‫ب ع َلللى‬
ِ ‫موْع َللا‬
ُ ‫مللا ي َت ََرت ّل‬
ُ ‫ى ال‬
َ ‫الّر‬
َ ّ ‫ل َوالن‬
َ ِ‫ت ل‬
ُ ‫ج‬
ِ ‫ساِء ف‬
ِ ‫جا‬
َ ِ ‫ذ َل‬
‫حةِ )اسللعاد الرفيللق‬
َ ‫ن ْال‬
َ ‫م‬
ِ ‫سد ِ وَْال‬
ِ ‫فا‬
ِ ‫ك‬
َ ْ ‫قب ِي‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫م‬
ِ َ ‫فت‬
(67 ‫ص‬

Sebagian perkara yang sangat diharamkan dan
dikhawartirkan adalah bercampurnya laki-laki dan
perempuan dalam tempat perkumpulan yang dapat
menimbulkan fitnah. (Is’ad al-Rafiq hal. 67)
b. Makruh, bilamana menilai kehadirannya dalam acara
tersebut timbul rasa khawatir atau takut terkena
fitnah/berdampak negatif.

َ َ ‫قا‬
ِ‫ح ٰهل ذ ِه‬
ِ‫و‬
ِ ‫ل فى الّزَوا‬
َ ِ ‫ن ال ْك َب َللائ ِرِ ل‬
َ ‫مل‬
َ ‫ وَهُل‬:‫جلْر‬
ِ ْ ‫صلرِي‬
‫ملا‬
َ ‫واعلد َُنا‬
ِ ْ ‫حاد ِي‬
َ ‫ وَي َن ْب َِغى‬,‫ث‬
َ َ ‫ا ْل‬
َ ‫ى‬
ُ ُ ‫مل‬
ْ ‫ح‬
َ َ‫وافِلقَ ق‬
َ ُ ‫ه ل ِي‬
َ ‫علل‬
َ ُ ‫قلت الفتنل‬
ْ ‫خ‬
َ ِ‫إ‬
‫و‬
ّ ‫ح‬
َ ُ ‫جلّرد‬
ُ ‫ملا‬
َْ ِ
َ ‫م‬
َ َ ‫ذا ت‬
َ ّ ‫شلي َت َِها فَا ِن‬
ُ ‫ملا‬
ّ ‫ أ‬:‫ة‬
ْ َ ‫ق‬
َ ‫هل‬
َ َ‫ما هُو‬
.‫ظللاه ٌِر‬
َ ‫معَ ظ َن َّها‬
ٌ ‫حَرا‬
َ َ ‫م غ َي ُْر ك َب ِي َْرةٍ ك‬
َ َ‫ و‬,‫ه‬
ٌ ْ‫مك ُْرو‬
َ
(136:‫)اسعاد الرفيق ص‬

c.

19
1

Boleh menghadiri acara tersebut jika tidak menimbulkan
fitnah dan tentunya berdampak positif atau memberikan
hal yang lebih baik.
Berbaurnya
laki-laki
dan
perempuan
tidak
dipermasalahkan jika tidak melanggar aturan agama dan
norma-norma yang berlaku, sehingga pergaulan mereka

memang merupakan hal yang wajar. Sebagaimana
keterangan dalam kitab Is’adur Rofiq hal :136.
Hukum Onani atau Masturbasi
Onani adalah merangsang kemaluan sendiri untuk
mencapai orgasme (bagi laki-laki) dan bagi perempuan disebut
masturbasi.
Bagaimanakah hukum dari masturbasi atau onani?
a.
Haram, menurut Imam Malik, Imam syafi’i, dan Imam Abu
Hanifah
b.
Boleh, menurut Imam Ahmad bin Hambal tetapi dengan
tiga syarat:
1.
Khawatir akan melakukan perzina’an.
2.
Tidak mampu menikah (tidak punya
mahar untuk menikahi wanita)
3.
Dengan
menggunakan
tangannya
sendiri, tidak menggunakan tangan orang lain.
Hal ini dijelaskan dalam kitab as-Showi ‘ala Syarhi Tafsir alJalalain juz 3 halaman 112.

َ
‫ك‬
ِ ‫م‬
ٍ ‫مال ِل‬
َ َ‫منا َِء ِبال ْي َلد ّ أيْ فَهُ لو‬
ٌ ‫ح لَرا‬
ْ ِ ‫ه ك َا ْل‬
َ َ ‫عن ْلد‬
ْ ِ ‫س لت‬
ُ ُ ‫قَ لوْل‬
َ َ ‫قا‬
َ
ْ ‫حن ْب َل‬
ّ ‫َوال‬
‫ج لوُْز‬
َ َ‫ة ف‬
َ ْ ‫حن ِي‬
َ ‫ف‬
ُ َ‫ل ي‬
َ ‫ن‬
ْ ‫لأ‬
َ ‫ي‬
َ ‫ح‬
ُ ‫ملد ُ ب ْل‬
ْ ِ ‫ي وَأب‬
ْ ِ‫شافِع‬
َ‫ف الزنا َ وأ َن ل َ يجد مهر حرة أو‬
َ
ُ ِ‫ب‬
َ َ‫ن ي‬
ِ ْ‫شُرو‬
ْ َ
ّ َ ‫خا‬
ْ ‫ط ث َل َث َةِ أ‬
ْ ٍ ّ ُ َ ْ َ َ ِ َ
َ
َ
َ
َ
. ِ‫جن َب ِي ّلة‬
ْ َ‫ن ي‬
ْ َ ‫ي أوْ ا‬
ْ ‫ه ب ِي َلد ِهِ ل َ ب ِي َلد ِ أ‬
ْ ‫ملةٍ وَأ‬
ُ ‫فعَل َل‬
ّ ‫نأ‬
َ َ‫ث‬
ّ ‫جن َِللب‬
َ ‫م‬
112 ‫ ص‬3 ‫الصاوي على شرح تفسير الجللين جز‬

Hukum Menyemir Rambut
Semir rambut adalah zat kimia yang dapat merubah warna
rambut dari warna aslinya. Bagaimanakah hukum menggunakan
semir rambut tersebut untuk menyemir rambut?
1.
Hukum menyemir rambut dengan warna hitam
192

a. Tidak boleh menyemir rambut dengan warna hitam, baik
laki-laki maupun perempuan, karena hal tersebut ada
unsur merubah ciptaan Allah Swt. (Is’ad al-Rofiq, juz II,
hal.119)

َ ٍ‫لمَرأ َة‬
ْ ِ ْ‫واد ِ وَل َو‬
ّ ‫ب ِلل‬
‫ه‬
ْ ّ ‫مْنها َ الت‬
ِ ‫خ‬
ِ
ُ ْ ‫ضي‬
ّ ‫شعْرِ بِال‬
ُ َ ‫كم لا َ ق لا َل‬
َ ‫س‬
َ
َ
َ
ْ
ْ
َ ‫ن ق لا‬
‫ض‬
َ ‫ج ال‬
ِ ‫جلرٍ فِللى ال‬
ْ ‫قلوِي ْم ِ ا ِلللى ا‬
َ ‫ح‬
َ ‫ن‬
ُ ‫ل ب َعْل‬
ُ ْ ‫اب‬
ِ ‫من ْهَل‬
َ
ْ
َ ُ ‫حللُر‬
َ ‫ب‬
‫ر‬
َ ‫ى‬
ّ ‫مَتللأ‬
ُ ‫ضلل‬
ْ ‫خ‬
ْ َ‫ه ي‬
ُ ‫ن ا َّنلل‬
ُ ْ ‫ال‬
َ ْ ‫خرِي‬
ِ ْ‫ش لع‬
ْ ِ ‫م ع َلللى الللوَل‬
َ ِ ‫صب ِي ّةِ ا‬
‫ن‬
ِ ِ‫ما فِي ْه‬
ّ ‫ص‬
َ َ ‫ذا كا‬
ّ ‫ب ِبال‬
َ ِ ‫واد ِ ل‬
َ َ‫ن ا‬
ّ ‫ى َوال‬
ّ ‫ال‬
ْ ‫ملل‬
َ ‫س‬
ّ ِ ‫صب‬
ْ
ْ
ْ
َ ‫ى‬
‫م لذ ْهَب َُنا‬
َ ‫خل‬
ِ ‫ت َغْي ِي ْرِ ال‬
ْ ‫م‬
َ ّ‫س لل ِم ِ ِللن ّلوَوِى‬
ُ ‫ح ال‬
ِ ‫ش لْر‬
ْ ‫قةِ َوَفِ ل‬
ّ ‫ب ال‬
‫فَرةٍ ا َْو‬
ْ ‫ص‬
ِ ‫ب‬
َ ‫خ‬
ُ َ ‫حبا‬
ْ ِ ‫ست‬
ُ ‫ِللّر‬
ْ ِ ‫مْرأةِ ا‬
َ ْ ‫ل َوال‬
ُ ِ‫ب ب‬
ِ ْ ‫شي‬
ِ ‫ضا‬
ِ ‫ج‬
‫ح‬
َ ِ ‫واد‬
ِ ‫م‬
ّ ‫ص‬
َ ‫خ‬
ْ َ ‫مَرةٍ وَي‬
َ
ُ ‫حُر‬
ّ ‫ه بِال‬
ُ ُ ‫ضاب‬
ْ ‫ح‬
َ َ ‫ى ا ْل‬
َ ‫س‬
َ ‫عل‬

b. Makruh Tanzih, sama halnya dengan tidak mensyukuri
apa yang telah diberikan oleh Allah Swt. Karena itu lebih
baik diterima apa adanya dari pada merubah warna asli
rambut yang diberikan Allah kepada kita. (Is’ad al-Rofiq,
juz II, hal.119)

َ ْ ‫وَقِي‬
َ ِ‫م ل‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ل ي ُك َْره ُ ك ََراه‬
ِ‫قلوْل ِه‬
ْ ّ ‫ختلا َُر الت‬
ُ ‫حرِْيل‬
ُ ْ ‫ة ت َن ْزِْيهلا ً َوال‬
ِ‫واد‬
ْ ِ‫م ا‬
ّ ‫وا بِال‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ
َ ‫س‬
ْ ُ ‫جت َن ِب‬

c. Boleh menyemir rambut dengan warna hitam, bagi istri
yang mendapat izin dari suaminya. (Is’ad al-Rofiq, juz II,
hal.119)

َ ‫َقا‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ل ال‬
‫م‬
ُ ‫شَها‬
ْ ‫ح ن َظ ْلم ِ الّزب َلد ِ ن َعَل‬
ْ ‫ب الّر‬
ْ ‫ي فِ ل‬
ّ ‫مل ِل‬
ِ ‫شلْر‬
َ
َ
َ ‫م لْرأةِ ذ َل ِل‬
‫ه‬
َ ِ ‫س لي ّد‬
ّ ‫ها ِل‬
ُ َ‫ي‬
َ ْ‫جهَللا ا َو‬
ُ ‫ن ل َل‬
ِ ْ‫ن َزو‬
َ ْ ‫جوُْز ل ِل‬
ِ ْ ‫ك ب ِلإ ِذ‬
‫ي ت َْزي ِي ْن َِها‬
ً ‫غ ََر‬
ْ ِ‫ضا ف‬

2. Hukum menyemir rambut yang sudah beruban dengan semir
warna kuning atau merah (selain hitam)

19
3

Sunnah menyemir rambut yang sudah beruban
dengan semir warna merah atau kuning. (Is’ad al-Rofiq, juz
II, hal. 119)

َ
َ ‫ى‬
ِ‫ملْرأة‬
ُ ‫ملذ ْهَب َُنا ِللّر‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫ل َوال‬
َ ّ‫سل ِم ِ ِللن ّلوَوِى‬
ُ ْ ‫ح ال‬
ِ ‫جل‬
ِ ‫شْر‬
ْ ِ‫وَف‬
ّ ‫ب ال‬
‫م‬
ْ ‫صل‬
ِ ‫ب‬
ْ َ ‫ملَرةٍ وَي‬
َ ‫فَرةٍ ا َْو‬
َ ‫خ‬
ُ ‫حَبا‬
ْ ِ ‫ست‬
ُ ‫حلُر‬
ْ ِ‫ا‬
ْ ‫ح‬
َ ِ‫ب ب‬
ِ ْ ‫شلي‬
ِ ‫ضلا‬
ْ
‫ ص‬2 ‫ح )إسعاد الرفيق ج‬
َ ِ ‫واد‬
ِ
ّ ‫ص‬
َ ‫خ‬
ّ ‫ه بِال‬
ُ ُ ‫ضاب‬
َ َ ‫ى ال‬
َ ‫س‬
َ ‫عل‬
(119

Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi mengatakan ”Sunnah
bagi laki–laki dan perempuan menyemir rambut dengan
warna kuning atau merah dan haram menyemir rambut
dengan warna hitam menurut pendapat yang lebih shahih.”
(Is’ad al-Rofiq, juz II, hal. 119)

ْ
َ ّ ُ ‫يسن ل ِك‬
َ ‫ب‬
ْ ‫حلد ٍ إ َِلل‬
َ َ‫و‬... ‫خ‬
ِ‫حي َِتله‬
ِ ‫ب َرأ‬
ْ ِ ‫س له ِ و َ ل‬
ُ ‫ضل‬
ْ ‫خ‬
َ ‫لأ‬
ِ ْ ‫شلي‬
ّ َ ُ
َ
َ
َ
َ
‫م )إعانللة‬
َ ‫صل‬
ْ َ ‫مللا ب ِلهِ فَي‬
َ ِ‫ب‬
ُ ‫حلُر‬
َ ِ ‫فرٍ اىْ ل َب‬
ّ ‫واد ٍ ا‬
ْ ‫ح‬
ْ ‫ملَرةٍ اوْ ا‬
َ ‫سل‬
( 339 ‫ ص‬2 ‫الطالبين ج‬
Disunnahkan menyemir uban rambut kepala dengan warna
merah atau kuning yakni tidak dengan warna hitam karena
hal tersebut hukumnya haram. (I’anah al-Tholibin, juz II,
hal.339)

Hukum Pria Memakai Perhiasan Emas
Wanita akan tampak kelihatan anggun dan cantik apabila
memakai perhiasan (emas) yang tidak berlebihan, akan tetapi lain
halnya apabila pria yang memakainya. Bagaimanakah hukum pria
memakai perhiasan emas?
Dalam hal ini ada beberapa pandangan di kalangan ulama’:
a. Haram bagi pria memakai emas murni maupun
campuran

َ َ ‫وَك‬
‫م‬
ْ ّ ‫خَنللاَثى )َالت‬
ُ ْ ‫م ا َل‬
ِ َ‫ل و‬
ْ َ ‫ذا ي‬
ُ ‫حُر‬
ُ ‫خِتلل‬
ْ ُ‫مث ْل ُه‬
ِ َ ‫م ع ََلى الّرجا‬
َ ‫حي‬
َ
‫ص لّلى‬
َ ِ ‫ب( ل‬
َ ‫ي‬
ْ ِ ‫داوُد َ با‬
ُ ‫ح أن ّل‬
َ ‫ه‬
َ ٍ ‫سللنا َد‬
ِ َ‫ِبالذ ّه‬
ْ ِ ‫خب َرِ أب‬
ٍ ْ ِ ‫صل‬

194

‫ي‬
َ َ‫م ا‬
َ َ‫مي ْن ِهِ قَط ْع‬
ِ َ‫ي ي‬
َ ‫ة‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫الل‬
ْ ‫حرِْيللرٍ وَِفلل‬
ْ ِ ‫خذ َ ف‬
َ
َ ‫ وَقَللا‬.‫ب‬
َ ‫ل هَ ل‬
‫ما‬
َ َ‫مال ِهِ قَط ْع‬
ِ
ْ ِ ‫ن أيْ ا‬
َ ُ‫مال ُه‬
َ ْ‫س لت ِع‬
َ ‫ش‬
ٍ َ‫ة ذ َه‬
ِ ‫ذا‬
ُ
ُ
ُ
ْ
َ
َ
ّ ‫ح‬
‫حقَ بِالذ ّك ُوِْر‬
ِ ‫ وَأل‬,‫م‬
َ ‫ي‬
َ
ٌ ‫حَرا‬
ْ ِ‫ل ِلناث ِه‬
ّ ‫م ع َلى ذ ُك ُوْرِ أ‬
ْ ِ ‫مت‬
َ‫خاذ ُ أ َنف أو‬
ً
َ
ْ
َ ْ ‫ن ا ِت‬
ْ ّ ‫حت ََرَز ِبالت‬
ُ ‫ا َل‬
ْ ‫ َوا‬.‫حت َِياطا‬
ْ ِ ‫خناَثى ا‬
ْ ٍ ْ
ْ َ ‫خت ِم ِ ع‬
َ
َ
ُ ‫خا‬
‫ب ع ََلللى‬
َ ْ ‫م ا ِت‬
ِ َ ‫ذها‬
ِ ْ‫مل َةٍ أو‬
ِ ْ ‫أن‬
ْ ُ‫ه ل َ ي‬
ُ ‫حَر‬
ُ ّ ‫ن فَإ ِن‬
ٍ َ‫ن ذ َه‬
ْ ‫م‬
ّ ‫س‬
َ ‫عها وإ‬
‫)القنللاع‬. ِ‫ض لة‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫ن ا ِت‬
َ ُ ‫خاذ‬
ِ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫ها‬
ّ ‫ف‬
ْ ِ َ َ ِ ْ‫قط ُو‬
ْ ‫نأ‬
َ
َ ‫م‬
َ َ ‫مك‬
(172 ‫فى حال الفاظ ابى شجاع ص‬
Begitu juga bagi laki-laki, diharamkan memakai cincin
dari emas sedangkan bagi khuntsa hukumnya
disamakan dengan laki-laki karena adanya sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan
sanad shahih; Bahwa Rasulullah Saw. mengambil
sepotong sutra pada tangan kanannya dan sepotong
emas pada tangan kirinya. Beliau bersabda; sutra dan
emas ini, keduanya haram dipakai kaum laki-laki dari
umatku. Para khuntsa disamakan dengan laki-laki,
karena berhati-hati, dikecualikan dari haramnya
memakai cincin yaitu untuk membuat hidung, ujung jari
atau gigi palsu dari bahan emas. Demikian itu
diperbolehkan bagi orang yang organ-organnya tersebut
terpotong,
meskipun
masih
memungkinkan
membuatnya dari bahan perak. (Al-Iqna’ Fii Haali alFadzi Abi Syuja’, hal.172)

َ ّ ‫ملةِ الت‬
ِ ‫مهُلوُْر‬
َ ‫مللاِء ا ِل َللى‬
ُ ْ ‫ب ال‬
َ ‫ذ َهَل‬
َ ‫حَر‬
َ َ ‫ن ال ْعُل‬
ْ ‫ج‬
َ ‫مل‬
ِ ‫خت ّلم‬
3 ‫ )فقلله السللنة جللز‬.‫ساِء‬
َ ْ‫ل د ُو‬
َ ‫ب ِللّر‬
َ ّ ‫ن الن‬
ِ َ‫ِبالذ ّه‬
ِ ‫جا‬
(258 ‫ص‬

19
5

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwasannya haram
bagi laki-laki memakai cincin dari emas, bukan untuk
orang perempuan. (Fiqih as-sunnah, juz III, hal. 258)
b. Makruh bagi pria memakai perhiasan baik dari emas
murni maupun campuran. Sebagaimana dijelaskan
dalam kitab Fiqih al-Sunnah, juz III, hal.364

ْ ّ ‫مللاِء ا ِل َللى ك ََراهَلةِ الت‬
ٌ ‫ماع َل‬
ِ ‫ة‬
َ ‫ب‬
َ ‫وَذ َهَل‬
َ َ ‫ن ال ْعُل‬
َ ‫ج‬
َ ‫مل‬
ِ ‫خت ِلم‬
َ
َ
َ
َ ‫ل‬
‫ة‬
َ ‫ة ت َن ْزِي ْلهٍ وَل‬
ٌ ‫ماع َل‬
َ َ‫كراه‬
َ ‫ه‬
َ ‫ب ِللّر‬
َ ِ ‫قلد ْ لب‬
َ ‫ج‬
ُ ‫سل‬
ِ َ‫ِبالذ ّه‬
ِ ‫جا‬
‫ة‬
ُ ‫حل‬
ِ ِ‫حاب َة‬
ِ
َ ْ ‫ص وَط َل‬
َ ‫ص‬
َ ‫م‬
ْ ُ‫من ْه‬
ّ ‫ن ال‬
ْ ‫ن ا َِبل‬
ُ ‫سعْد ُ اْبل‬
َ ‫م‬
ٍ ‫ي وَقَللا‬
َ ْ ‫حذ َي‬
َ‫مَرة‬
ُ ‫فل‬
َ َ‫ة و‬
ُ َ‫ب و‬
ٌ ْ ‫ص لهَي‬
َ ‫ن‬
ْ ‫سل‬
ُ َ‫ن ع َب ْد ِ اللهِ و‬
ُ ‫جللاب ُِر ب ْل‬
ِ ْ‫ب‬
َ
ّ
َ
َ
ْ
‫ه‬
ِ ْ ‫ي ِللت ّْنلزِي‬
ّ ‫وا ا‬
َ ‫م‬
َ ‫ح‬
ْ ُ‫ب وَلعَله‬
ٍ ِ‫ن عاز‬
ّ ِ‫ن الن ّه‬
ْ ُ ‫سب‬
ُ ْ ‫َوالب َّراُء ب‬
(259 ‫ ص‬3 ‫)فقه السنة جز‬
Ada sebagian ulama’ yang memakruhkan laki-laki
memakai perhiasan emas, karena ada sebagian
sahabat yang memakainya, diantaranya adalah Said bin
Abi Waqhas dan Talhah bin Abdullah, Suhaib,
Hudzaifah, Jabir bin Samroh, Barra’ bin ‘Azib, mereka
mengira bahwa larangan itu adalah makruh tanzih.
(Fiqih al-Sunnah, juz III, hal.259)

Hukum Tindik bagi Laki-Laki
Sering terlihat di sebagian kalangan dan kadang menjadi
tradisi atau trend menindik (melubangi) hidung atau telinga guna
memasang anting atau sejenisnya baik laki-laki maupun
perempuan.
Bagaimanakah pandangan fiqih apabila orang laki-laki
menindik hidung atau telinga?
a. Haram
mutlak
bagi
anak
atau
orang
laki-laki
menindik/melubangi hidung atau telinganya, menurut
Ulama’ Syafi’iyah
196

ُ
َ
ً َ ‫مط ْل‬
ٍ‫صب ِي ّة‬
ِ ْ ‫م ت َث‬
ٍ ْ ‫ب( أن‬
ُ ْ ‫قي‬
َ َ‫)و‬
ٌ ‫حَر‬
ُ ‫ف‬
َ َ‫ي قَط ًْعا و‬
َ (‫ن‬
ّ ِ ‫صب‬
ِ ُ ‫قا )وَأذ‬
ْ َ ْ ‫جلهِ ل ِت َعْل ِي ْلق ال‬
‫ح ِبلهِ ال ْغََزال ِللى‬
َ ‫صلَر‬
ُ ْ‫ع َل َللى ا ْل َو‬
َ َ‫ق ك‬
َ ‫مللا‬
ِ ‫حلل‬
ِ
َ
‫ة‬
ُ ْ ‫م ت َد‬
ٌ ‫ج‬
َ ‫حا‬
َ ِ‫عو إ ِل َي ْه‬
ٌ َ ‫ه إ ِي ْل‬
ْ َ‫م ل‬
ُ ّ ‫وَغ َي ُْره ُ لن‬
Haram mutlak menindik (melubangi) hidung, para
ulama’ sepakat atas keharaman menindik telinga anak
laki-laki yang masih kecil guna memasang anting,
sedangkan pada anak perempuan yang masih kecil
menurut qoul aujah juga haram sebab hal itu menyakiti
sebelum ada keperluan. I’anah At-Thalibin, Juz 4 hal 175 –
178.
b. Makruh bagi anak laki-laki yang masih balita, menurut
sebagian Ulama’ Hambaliyah.

.‫ة‬
َ ‫وَِفي الّر‬
ِ ‫ض الّزي ْن َل‬
ُ َ ‫حَناب ِل َةِ ي‬
َ ْ ‫عاي َةِ ل ِل‬
ّ ‫جوُْز فِللي ال‬
ِ ‫ص لب ِي ّةِ ل ِغَلْر‬
‫ إهل‬. ‫ي‬
ّ ‫وَي ُك َْره ُ ِفي ال‬
ّ ِ ‫صب‬

Dalam kitab ri’ayah karangan pengikut madzhab Hambali
menyatakan boleh menindik anak perempuan yang masih
kecil, sebab bertujuan sebagai perhiasan, sedangkan pada
anak laki-laki yang masih kecil hukumnya makruh.
c. Boleh, menurut Imam Zarkasyi, melubangi telinga laki-laki
yang masih balita.

ُ
ّ َ ‫ست َد‬
‫م َزْرٍع فِللي‬
‫ش‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
ِ َ ‫جوُّزه ُ الّزْرك‬
َ ‫ما ِفي‬
َ َ‫و‬
ّ ‫ثأ‬
ْ ‫ى َوا‬
َ ِ‫ل ب‬
ّ
َ
‫ه‬
َ ْ ‫ضلي‬
ِ ‫صل‬
ِ َ ‫حللن‬
ِ ‫خان‬
ِ ‫ وَفِللي فَت َللاِوى َقا‬، ‫ح‬
َ ْ ‫ن ال‬
ُ ‫في ّةِ أن ّل‬
ّ ْ ‫ال‬
َ ‫مل‬
ِ ْ ‫حي‬
َ
َ ‫م‬
‫م ي َن ْك ِلُر‬
ْ َ ‫وا ي‬
َ ْ ‫ه ِفي ال‬
ْ ‫جاه ِل ِي ّلةِ فَل َل‬
ُ َ ‫فعَل ُوْن‬
ْ ُ‫س ب ِهِ لن ّه‬
َ ‫ل َب َأ‬
ْ ُ ‫كان‬
ُ ْ ‫سو‬
، ‫ل اللهِ صلى الله عليه وسلم‬
ُ ‫م َر‬
ْ ِ‫ع َل َي ْه‬
Imam Zarkasyi memperlobehkannya berdasarkan hadits
Ummi Zarin di dalam hadits Shahih. Fatwa-fatwa Syech
Qodikhon pengikut Madzhab Hanafi, menyatakan bahwa
tidak mengapa melakukan hal itu sebab pernah dilakukan

19
7

pada zaman jahiliyah,
mengingkarinya.

sedangkan

Nabi

Saw.

tidak

Menindik telinga bagi perempuan kebanyakan ulama’
tidak melarang karena hal itu ada hak baginya untuk
memperindah dan menghiasi dirinya. Asalkan saat menindik
tidak menimbulkan dampak negatif.

َ ْ
‫ج‬
ِ ‫دا‬
ِ ‫ب ِفي‬
ّ ‫ل هَذ ِهِ الّزي ْن َةِ ال‬
ُ ْ ‫َوالت ّعْذ ِي‬
ِ ْ ‫مث‬
ِ ‫عي َلةِ ل َِرغ ْب َلةِ ال َْزَوا‬
َ
ْ
ْ
َ ‫فٌر ل ِت ِل ل‬
َ ‫مل‬
ٌ ‫م‬
َ ِ‫سه‬
‫ل‬
ِ َ ‫مغْت‬
ِ َ ‫حت‬
َ ‫ص لل‬
ْ ‫م‬
َ ‫ن‬
ّ ‫ فَت َأ‬. ِ‫حة‬
َ ‫ك ال‬
ُ َ‫ل و‬
ُ ‫ل‬
ْ ‫م‬
ّ ِ‫إ ِل َي ْه‬
َ ِ ‫ذ َل‬
.‫م‬
ّ ِ‫مه‬
ُ ‫ه‬
ُ ّ ‫ك فَإ ِن‬
(178 – 175 :‫)إعانة الطالبين الجزء الرابع ص‬
Sedangkan menyakiti demi untuk perhiasan yang dapat
menimbulkan rasa cinta suami pada istrinya itu sangat
ringan dan tidak masalah sebab ada unsur kemaslahatan.
Keterangan tersebut di atas terdapat pada kitab I’anah AtThalibin, Juz 4 hal 175 – 178.

Hukum Tato
Di kalangan remaja sering kita jumpai banyak para remaja
yang bertato, menurut mereka tato merupakan style atau mode,
bahkan bagi sebagian dari mereka merasa ada suatu kebanggaan
tersendiri kalau bisa mentato tubuhnya, bahkan ada yang hampir
seluruh tubuhnya terlukis tato.
Tato adalah zat yang dapat dituangkan pada tubuh dengan
bentuk gambar atau yang lain melalui berbagai cara sehingga
tato tersebut terkadang berada di kulit lapisan luar atau kulit
lapisan dalam, dan bisa menyebabkan tidak meresapnya air pada
kulit baik ketika mandi besar ataupun wudlu’. Bagaimanakah
hukum orang yang tubuhnya di tato? Dan sahkah wudlu’nya?
Ulama’ berpendapat: Hukum mentato tubuh adalah Haram,
karena perbuatan itu dilaknat Allah Swt dan Nabi pun
melaknatnya juga. Sebagaimana keterangan dalam kitab Is’ad alRafiq hal. 122:
198

َ َ ‫مل ِلهِ قلا‬
ْ َ‫ل ال ْك ُلْرد ِىّ وَهُلوَ أ َىْ ال ْو‬
ْ َ‫مْنها َ ال ْو‬
‫م‬
ِ َ‫و‬
ُ َ ‫م وَط َل‬
ُ ‫شل‬
َ َ‫ب ع‬
ُ ‫ش‬
َ ‫ح‬
ْ َ ‫حّتى ي‬
ِ‫شى ب ِه‬
ْ َ ‫م ي َذ ُّر ع َل َي ْهِ وَي‬
َ ‫خُر‬
َ ِ‫جل ْد ِ ِباْل ِب َْرة‬
ُ ّ ‫ج الد‬
ّ ُ‫م ث‬
ِ ْ ‫غ َْرُز ال‬
َ
ّ ‫ح‬
‫ه‬
ِ ‫ل‬
ْ َ ‫ن ن َي ْل َةٍ ا َوْ ن‬
َ ‫م‬
ْ َ ‫وها َ ل ِي َْزُرقَ ا َوْ ي‬
ُ ‫ص لّلى الل ل‬
ُ ‫س لوَد ّ ِلن ّل‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫ه‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ح‬
َ ِ ‫ل ذل‬
َ ‫ع‬
(122 ‫ك )اسعاد الرفيق ص‬
ِ َ ‫ن فا‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
َ ّ ‫سل‬
َ َ‫م ل َع‬
Mengenai tentang sah dan tidaknya wudlu’ atau mandi
besar orang yang tubuhnya bertato para ulama’ berbeda
berpendapat:
a. Tidak sah wudlu’ atau mandi besarnya tubuh yang bertato,
apabila tato tersebut berada di lapisan luar kulit, karena
bisa mencegah sampainya air kepada kulit. Fathu al-Mu’in
halaman 5.
b. Apabila di bawah kulit maka sah, karena tidak menghalangi
sampainya air kepada kulit. Fathu al-Mu’in halaman 5.

َ
ٌ ِ ‫حللائ‬
ِ‫مللاء‬
َ ِ ‫ض لو‬
ْ ُ‫ن ع َل َللى ال ْع‬
َ ْ‫ن َل ي َك ُو‬
ْ ‫َو)َراب ِعَُها( أ‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ل ب َي ْل‬
َ َ‫ل ك َُنلوَْرةٍ و‬
‫ر‬
ْ ُ ‫مٍع وَد‬
ِ ‫جا‬
َ ‫ن‬
َ ‫ن‬
ُ ْ‫مغ‬
ْ ‫شل‬
َ ْ ‫َوال‬
ِ ْ‫سلو‬
ٍ ‫حْبل‬
ِ ‫ملد ٍ وَع َي ْل‬
ٍ ‫هل‬
َ
ُ‫مللاء‬
ِ ِ ‫حَناٍء ب‬
ْ ِ ‫مائ ٍِع وَإ‬
َ ‫ن‬
ِ َ ‫خل‬
َ َ‫و‬
َ ْ ‫ت ال‬
ْ ‫م ي َث ْب ُل‬
ْ َ‫ن ل‬
َ ْ‫جارٍ أي‬
ٍ ْ‫ف د ُه‬
َ
.(5 ‫ ص‬،‫ )فتح المعين‬.‫حَناٌء‬
َ َ‫حب ْرٍ و‬
َ ‫ع َل َي ْهِ وَأث ُْر‬

c. Apabila tato itu dilakukan atas dasar persetujuan orang
yang ditato, dia tidak khawatir akan terjadi bahaya ketika
menghilangkannya, dan apabila tato tersebut tidak
dihilangkan, maka dia tidak bisa menghilangkan hadatsnya,
karena tatonya bercampur najis. Otomatis kalau dia ingin
bersuci harus menghilangkan tatonya terlebih dahulu.
d. Akan tetapi apabila dia khawatir dengan bahaya apabila
menghilangkannya,
maka
dima’fu/dimaafkan
untuk
membiarkan tatonya tersebut, dan bersucinya tetap sah
dan orang tersebut tetap sah menjadi imam. Sebagaimana
diterangkan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj, juz I, hal. 178

19
9

‫ذا ال ْوَ ْ‬
‫وَك َ َ‬
‫م‬
‫حّتى ي َ ْ‬
‫خُر َ‬
‫لبرة َ‬
‫ج الللد ّ ُ‬
‫م وَهُوَ غ َْرُز ال ْ ِ‬
‫ش ُ‬
‫جل ْد ِ َِبا ْ ِ‬
‫صلي ْ ُ‬
‫ل‬
‫في ْلهِ ت َ ْ‬
‫حوَ ن ِي ْل َلةٍ ل َي َلْزُرقَ ب ِلهِ أوْ ي َ ْ‬
‫ف ِ‬
‫ض لَر فَ ِ‬
‫خ ُ‬
‫م ي َذ ُّر ن َ ْ‬
‫ثُ ّ‬
‫َ‬
‫ن ذ َل ِل َ‬
‫ن َقا َ‬
‫ك‬
‫جب ْرِ ِ‬
‫م ِ‬
‫ل إِ ّ‬
‫ال ْ َ‬
‫ه أوْ َ‬
‫س لعُ فَعُل ِل َ‬
‫ن َباب َ ُ‬
‫خَلًفا ل ِ َ‬
‫مل ْ‬
‫م ْ‬
‫َ‬
‫ن فََعل َ‬
‫ل ال ْوَ ْ‬
‫م‬
‫حاَللةِ ت َك ْل ِي ْ ِ‬
‫ضلاه ُ ِفلي َ‬
‫م ب ِرِ َ‬
‫أ ّ‬
‫فلهِ وََلل ْ‬
‫شل َ‬
‫ن َ‬
‫م ْ‬
‫ث‬
‫من ِعَ اْرت ِ َ‬
‫يَ َ‬
‫خ ْ‬
‫حد َ ِ‬
‫ف ِ‬
‫فاع ُ ال ْ َ‬
‫ضَرًرا ي ُب ِي ْ ُ‬
‫ن إ َِزال َت ِهِ َ‬
‫م ُ‬
‫م َ‬
‫ح الت ّي َ ّ‬
‫م ْ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫ه‬
‫سلهِ وَإ ِل ع ُلذ َِر فِللي ب َ َ‬
‫ج ِ‬
‫حلهِ لت َن َ ّ‬
‫م َ‬
‫ي ع َن ْل ُ‬
‫ن َ‬
‫قلِائهِ وَع ُفِل َ‬
‫عَ ْ‬
‫م‬
‫حي ْ ُ‬
‫ه وَ َ‬
‫ص ّ‬
‫ِبالن ّ ْ‬
‫ث لَ ْ‬
‫مت ُ ُ‬
‫ما َ‬
‫ه وَإ ِ َ‬
‫ت ط ََهاَرت ُ ُ‬
‫ح ْ‬
‫سب َةِ ل َ ُ‬
‫ه وَل ِغَي ْرِهِ وَ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ه‬
‫مِائًعلا أوْ َرط ًْبلا ن َ ْ‬
‫ج ُ‬
‫سل ُ‬
‫ملاٍء قَل ِي ًْل أوْ َ‬
‫ي ُعْذ َْر فِي ْهِ وََل ِفلي َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫كَ َ‬
‫ن‬
‫ذا أ َفْت َللى ب ِلهِ ا َْلوا ِل ُللد َر ِ‬
‫ه ت َعَللاَلى وَإ ِّل أيْ ب ِلأ ْ‬
‫ه اللل ُ‬
‫مل ُ‬
‫ح َ‬
‫َ‬
‫جلةِ‬
‫حا َ‬
‫ملعَ ع َلد َم ِ ال ْ َ‬
‫معَ وُ ُ‬
‫ح ط َلِاهرٍ أوْ َ‬
‫ه ب ِهِ َ‬
‫صل َ ُ‬
‫جوْد ٍ َ‬
‫وَ َ‬
‫صال ِ ٍ‬
‫َ‬
‫جللبر‬
‫ه َوي ْ‬
‫جل َ‬
‫م ع َل َي ْهِ ِللت ّعَ لد ّيْ وَ وَ َ‬
‫صًل َ‬
‫حُر َ‬
‫ب ع َل َي ْلهِ ن َْزع ُل ُ‬
‫أ ْ‬
‫ضَرًرا َ‬
‫ع ََلى ذ َل ِ َ‬
‫ن‬
‫م يَ َ‬
‫خ ْ‬
‫م وَإ ِ ْ‬
‫ظاه ًِرا ي ُب ِي ْ ُ‬
‫ف َ‬
‫كإ ْ‬
‫ملل َ‬
‫ح الت ّي َ ّ‬
‫ن لَ ْ‬
‫م َ‬
‫س ً‬
‫م لعَ‬
‫دى ب ِ َ‬
‫ة ت َعَ ل ّ‬
‫ل نَ َ‬
‫ما ل َوْ َ‬
‫سى ل َ ْ‬
‫جا َ‬
‫اك ْت َ َ‬
‫مل ِهَللا َ‬
‫ح ْ‬
‫ح َ‬
‫ما ك َ َ‬
‫ح ً‬
‫ها ب ِ َ‬
‫م لْرأ َةِ َ‬
‫ر‬
‫ش لعَْر َ‬
‫مك ّن ِلهِ ِ‬
‫ل ال ْ َ‬
‫تَ َ‬
‫ن إَزال َت ِهَللا وَك َوَ ْ‬
‫صل ِ‬
‫مل ْ‬
‫ش لعْ ٍ‬
‫ه‬
‫ه ل ِد ُ ُ‬
‫ل الن َّياب َةِ فِي ْ ِ‬
‫حا ِ‬
‫م ال ْ َ‬
‫س فَإ ِ ْ‬
‫مت َن َعَ ل َزِ َ‬
‫كم ن َْزع َ ُ‬
‫نا ْ‬
‫نَ ِ‬
‫خو ْ ِ‬
‫ج ٍ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫مللآًل وََل‬
‫نأ ِ‬
‫ب وََل اع ْت َِباَر ب ِأل َ ِ‬
‫حاًل إ ِ ْ‬
‫مهِ َ‬
‫ن َ‬
‫ك ََرد ّ ال ْ َ‬
‫صو ْ ِ‬
‫مغْ ُ‬
‫مل َ‬
‫ه ِ‬
‫حي ْن َئ ِذٍ‬
‫تَ ِ‬
‫ص ّ‬
‫صَلت ُ ُ‬
‫ح َ‬
‫‪Hukum Wanita Memakai Celana Ketat‬‬
‫‪Cara berbusana adalah berbeda-beda, sesuai dengan budaya‬‬
‫‪dari setiap daerah tertentu, misalnya cara berbusana di Indonesia‬‬
‫‪juga berbeda-beda, yang jawa memakai pakaian adat Jawa, yang‬‬
‫‪dari batak memakai busana adat Batak, dan lain-lain. Kalau jubah‬‬
‫‪adalah budaya busana dari bangsa arab. Intinya setiap daerah‬‬
‫‪pasti memiliki khas atau budaya sendiri-sendiri.‬‬
‫‪Namun di masa moderen seperti saat ini, terdapat banyak‬‬
‫‪perkembangan mode atau style dalam berpenampilan pada‬‬
‫‪masyarakat, khususnya bagi kaum hawa banyak sekali‬‬
‫‪perkembangan dalam model atau cara berbusana, seperti halnya‬‬
‫‪200‬‬

memakai celana, disamping berfungsi sebagai penutup aurat juga
sebagai sarana untuk mempercantik diri dan memperindah
penampilan. Tidak sedikit dari para wanita yang menggunakan
celana ketat, sehingga sampai terlihat lekukan-lekukan tubuhnya.
Dari fenomena di atas, bagaimanakah pandangan fiqih
tentang hukum wanita yang berbusana dengan memakai celana
ketat?
Dalam hal ini, para ulama’ berbeda pandangan;
a. Tidak diperbolehkan bagi wanita memakai celana ketat
sehingga menimbulkan syahwat bagi yang melihatnya
apalagi sampai kelihatan warna kulitnya.
b. Makruh bagi wanita memakai celana ketat.

َ ‫ح‬
‫م‬
ِ ْ ‫وَي َك‬
َ ْ ‫جلم ِ اْل َع‬
ْ ‫ح‬
َ ِ ‫كي ل‬
ْ ُ ‫ما ي‬
ٌ ‫جلْر‬
ِ ‫ي‬
َ ‫فى‬
ْ ‫ضللاِء )ا َيْ وَ ي َك ْفِل‬
ُ ِ‫ي َد ْر‬
َ ْ ‫سلَراوِي‬
(‫ة‬
َ ْ ‫ضلي‬
ٍ ‫ق‬
ِ ‫س‬
َ ‫ل‬
َ ْ ‫ه قَلد َْر اْل َع‬
َ َ ‫ضللاِء ك‬
ُ ‫من ْل‬
ُ ‫ك الن ّللا‬
‫خن َْثلي‬
ُ ْ ‫مرأ َة ُ َوال‬
ُ ‫خَل‬
ِ ‫ه‬
ُ ‫ف اْل َوَْللى )ا َيْ ِللّر‬
َ ْ ‫مللال‬
ّ َ ‫ل وَا‬
ُ ‫ل َك ِن ّل‬
ِ ‫جل‬
134 ‫ ص‬1 ‫ما( ) حاشية إعا نة الطا لبين ج‬
َ ُ‫فَي ُك َْره ُ ل َه‬
(
َ
َ
َ
ُ
َ ‫م‬
ْ َ‫ن ي‬
َ َ‫و‬
‫ل‬
ِ ‫شلل‬
ْ ‫جهللا ا‬
ّ ‫شللْرط ال‬
ِ ِ‫صللل َةِ َوخار‬
ّ ‫سللات ِرِ ِفللى ال‬
‫ع‬
ِ ْ ‫ن فَي َك‬
ُ ‫مَنلل‬
ْ َ ‫ست ُوُْر ل َِبسا ً وَن‬
َ َ‫مع‬
ْ ‫م‬
ْ َ ‫ما ي‬
َ ‫فى‬
َ ُ ‫حوَه‬
َ ْ ‫ال‬
ِ ْ‫ست ْرِ الل ّو‬
َ ‫ا ِد َْرا‬
َ َ ‫ن ال ْب‬
‫ة‬
ِ ‫شَر‬
ِ ْ‫ك ل َو‬

(Mauhibah Dzil Fadlal, juz II, hal. 326-327 dan al-Minhaj alQawim juz 1 hal 234).

Hukum Wanita Kerja pada Malam Hari
Di era globalisasi saat ini, jumlah tenaga kerja wanita
bertambah besar bahkan hampir mendominasi lapangan
pekerjaan dalam bidang industri. Di perusahaan besar pekerjaan
berjalan full time/24 jam atau sehari penuh, dan dalam 24 jam

20
1

tersebut biasanya dibagi menjadi 3 sift (giliran), berarti setiap
delapan jam ganti sift. Ketika seorang pekerja wanita mendapat
giliran jam kerja pada waktu malam hari, dikhawatirkan terjadi
kerawanan
dan
tidak
menuntut
kemungkinan
bisa
membahayakan kemanan dari pekerja wanita tersebut. Kalau
dipandang dari agama bagaimanakah hukum seorang wanita
bekerja pada malam hari di luar rumah?
Dalam hal ini para ulama’ mempunyai pandangan yang
berbeda-beda:
a. Apabila diduga kuat bisa menimbulkan fitnah maka
hukumnya adalah haram.
b. Makruh, apabila hanya sekedar ada kekhawatiran akan
terjadinya fitnah.
Sebagaimana keterangan dalam kitab Is’ad al-Rofiq:

َ ْ ‫ن ال‬
َ َ ‫قللا‬
‫ه‬
َ ‫ح‬
ُ َ‫جللرِ و‬
ِ ِ ‫هللذ‬
ِ َ‫هللو‬
ِ ‫ل ِفللى الّزَوا‬
َ ِ ‫كبللا َئ ِرِ ل‬
َ ‫م‬
ِ ْ ‫صللرِي‬
‫مللا‬
ِ ‫وا‬
ِ ‫ع‬
ِ ْ ‫حاد ِي‬
َ ‫ي‬
َ َ ‫ا ْل‬
َ ‫دنا َ ع ََلى‬
َ ِ‫واف‬
ُ ُ ‫مل‬
ْ ‫ح‬
َ َ‫ق ع ََلى ق‬
َ ُ ‫ه ل ِي‬
ْ ِ‫ث وَي َن ْب َغ‬
َ ُ ‫قت ا َل ْفتن‬
ْ ‫خ‬
َ ِ‫ا‬
ّ ‫ح‬
َ ُ ‫جّرد‬
َْ ِ
َ ‫م‬
َ َ ‫ذا ت‬
ٌ‫مك ُْروْه‬
َ َ‫ما هُو‬
َ ّ ‫شي َِتها َ فَا ِن‬
ُ ‫ما‬
ّ ‫ أ‬.‫ة‬
ْ َ ‫ق‬
َ
َ
‫مللا هُلوَ ظللاه ٌِر )اسللعاد‬
َ ‫معَ ظن ّهَللا‬
ٌ ‫حلَرا‬
َ َ ‫م غ َي ْلُر ك َب ِي ْلرٍ ك‬
َ َ‫و‬
(136 ‫ ص‬2 ‫الرفيق ج‬
Dalam kitab Al-Zawajir disebutkan bahwa sesuai dengan
redaksi hadits di atas, maka (keluarnya wanita dari rumah)
adalah termasuk dosa besar. Agar pernyataan ini sesuai
dengan kaidah-kaidah kita, maka harus dipahami dalam
keadaan jika memang benar-benar akan terjadi fitnah.
Adapun jika hanya sekedar ada kekhawatiran terjadinya
fitnah, maka hukumnya makruh. Sedangkan jika disertai
dengan dugaan kuat adanya fitnah, maka hukumnya
haram, namun bukan dosa besar. (Is’ad al-Rofiq, juz II, hal.
136)

c. Boleh, bagi wanita bekerja di malam hari karena untuk
mencari nafkah, asalkan aman dari fitnah dan mendapat

202

ijin dari suaminya atau wali (bagi yang masih belum punya
suami). Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

(‫جل ِهَللا‬
ُ ْ ‫جلوُْز ال‬
ِ ‫وا‬
ِ ْ‫مْنها َ )ا َي‬
ِ َ‫و‬
ْ َ‫ج ل‬
ُ ْ‫خلُرو‬
ُ َ‫ي ي‬
َ ْ ‫ن ال‬
ْ ‫ضِع ال ّت ِل‬
َ ‫م‬
َ ‫م‬
َ
َ
َ ‫س‬
َ ‫س‬
َ ِ‫ا‬
‫ل‬
َ ‫ف‬
َ َ‫ب ن‬
َ ‫ذا‬
َ ِ ‫قةٍ ب ِت‬
َ ‫خَر‬
ُ ْ‫ل أي‬
ُ ْ‫جاَرةٍ أو‬
َ ِ ‫ت ِلك ْت‬
ْ ‫ج‬
ِ ‫سا‬
ِ ‫ؤا‬
ِ ‫ؤا‬
َ
َ
َ ِ‫ب ا‬
‫ذا‬
َ ‫ف‬
َ َ‫ن‬
ْ َ‫قللةٍ أيْ ط َل َِبهللا َ ع ََلللى و‬
ْ َ ‫صللد َقَةِ أوْك‬
ٍ ‫سلل‬
ّ ‫جللهِ ال‬
( 81 ‫ ص‬4 ‫ج )اعانة الطالبين ج‬
ُ ْ‫سَرالّزو‬
َ َ‫ع‬
Dan diantara hal-hal yang memperbolehkan wanita
bekerja di luar rumah adalah jika keluarnya itu untuk
mencari nafkah, dengan berdagang, meminta sedekah
atau mencari pekerjaan ketika suami sedang dalam
kesulitan uang (ada udzur). (I’anah al-Thalibin, juz IV, hal.
81)
Hukum Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an bagi Wanita di
Hadapan Khalayak Umum
Setiap tahun di Pondok Pesantren Ngalah, ketika
merayakan acara Haflah Akhirussanah diadakan lomba Qiro’ah
dan pidato yang diikuti oleh santri putra dan putri. Bagi santri
putra sudah tidak ada keraguan lagi dalam hukum fiqih mengenai
hukum suaranya. Namun bagi santri putri ini bagaimanakah
hukum mengikuti lomba tersebut, karena ada sebagian pendapat
yang mengatakan suara perempuan itu termasuk aurot,
sedangkan lomba tersebut memakai pengeras suara (sounds
system), bertempat di atas panggung dan disaksikan oleh seluruh
santri dan masyarakat sekitar.
Dari keterangan tersebut di atas, bagaimanakah hukum
seseorang Perempuan/wanita mengeraskan suaranya ketika
membaca
al-Qur’an
(Qiro’ah)
atau
berpidato
dengan
menggunakan alat pengeras suara di hadapan khalayak umum?.
a. Haram, apabila menimbulkan fitnah atau menimbulkan rasa
ladzat atau syahwat.

20
3

b. Boleh,
apabila tidak menimbulkan fitnah atau tidak
menimbulkan rasa ladzat atau syahwat, karena suara orang
perempuan bukan termasuk aurat menurut pendapat yang
lebih shahih.
Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah al-Thalibin juz 3.
halaman 260.

‫ن‬
ِ ‫م‬
ِ ‫س‬
ْ َ ‫ه ا ِل ّ ا‬
ْ َ ‫ت فَل َ ي‬
ُ ‫ح لُر‬
ُ ُ ‫ماع‬
َ ‫سل‬
ُ ْ ‫ص لو‬
َ ‫ن العَ لوَْرةِ ال‬
َ ‫وَل َي ْل‬
َ ‫مل‬
َ ُ ‫ة أ َو التل َذ ّذ ُ به أ َى فَا ِنه يح لرم س لماع‬
‫ى‬
ُ
ّ ِ ٌ َ ‫ه فِت ْن‬
ِ ‫ي‬
ِ ‫خ‬
ُ َ ِ ُ ُ ْ َ ُ ّ ْ ِ ِ
ُ ْ ‫من‬
ْ ‫هأ‬
َ ‫ش‬
َ
َ
َ
َ
‫ت الّزغارِي ْد ُ ) اعانة الطالبين‬
ِ ْ ‫صو‬
ِ َ‫ و‬.‫ن‬
ْ َ ‫وَلوْ ب ِن‬
ّ ‫ن ال‬
َ ‫م‬
ٍ ‫حوِ قُْرأ‬
( 260 ‫ ص‬3 ‫ج‬
Artinya: suara perempuan tidak termasuk aurat, maka tidak
haram mendengarkannya, kecuali jika dikhawatirkan akan
menimbulkan fitnah atau laki-laki menikmati suaranya,
maksudnya haram bagi laki-laki untuk mendengarkannya,
walaupun yang dibaca itu al-Qur’an. Dengungan nada tanpa
kata-kata (rengeng-rengeng) juga termasuk suara.
.

‫ن‬
َ ٍ‫س ب ِعَوَْراة‬
ِ َ‫ح ل‬
ِ ‫جي َْر‬
ّ ‫ص‬
َ ُ ‫وَِفي ال ْب‬
َ َ ‫ى ا ْل‬
َ ْ ‫وتـَها ل َي‬
َ َ‫ى و‬
ْ ‫كلل‬
ْ ‫ص‬
َ ‫عل‬
ّ ‫م‬
َ ِ ‫فت ْن َلةِ وَا‬
‫ب‬
َ َ ‫عن ْلد‬
ِ ِ‫صللغا َُء ا ِل َي ْله‬
ِ ‫ف ْال‬
َ َ ‫ذا قَلَرع َ بلا‬
ِ ْ ‫خ لو‬
ْ َ‫ي‬
ُ ‫حُر‬
ْ ِ ‫م ا ْل‬
َ
َ
ُ ّ ‫ل ت ُغَل‬
ْ َ ‫خي ْم ٍ ب‬
‫ن‬
ِ ‫ت َر‬
ٍ ْ‫صو‬
ْ َ ‫صوْت ََها ب ِلا‬
َ ‫ْامَرأةٍ أ‬
ُ ُ ‫جْيلب‬
ِ ُ ‫حد ٌ فَل َ ت‬
َ ‫ظ‬
َ ِ‫ه ب‬
ْ
‫ ص‬3 ‫ اهل ) اعانللة الطللالبين ج‬. ‫في َْها‬
ّ َ‫ف ك‬
ُ ‫ت َأ‬
َ ‫خذ َ ط ََر‬
ِ ِ ‫فَها ب‬
( 260
Artinya: suara perempuan bukanlah aurat menurut pendapat
yang lebih shahih, tetapi haram mendengarkannya ketika
akan menimbulkan fitnah. Apabila seorang laki-laki mengetuk
pintu rumah perempuan, maka perempuan tersebut tidak
boleh menjawabnya dengan suara yang lembut, melainkan ia
harus menjelekkan suarannya dengan cara menutupkan ujung
telapak tangannya pada mulutnya.

204

Hukum Jual Beli Kucing
Bagaimanakah hukum dari jual beli kucing, karena
sekarang ini semakin marak masyarakat yang melakukan
transaksi perdagangan hewan kucing, bahkan banyak pasar yang
khusus menjual macam-macam kucing?.
Diperbolehkan menjual hewan yang bisa diambil
manfaanya, seperti digunakan untuk berburu, diambil kulitnya
atau madunya, disamping hewan tersebut ada dan dapat
disaksikan oleh pembeli yakni hadir pada tempatnya juga harus
memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
1.
Hewan yang dijual dalam keadaan suci.
2.
Dapat diambil manfaatnya
sesuai
dengan yang dimaksudkan.
3.
Dapat diserahkan pada pihak pembeli.
Hal ini diterangkan dalam kitab:
- Ihya’ Ulummu ad-din juz 2 halaman 67 penerbit hidayah dan
hal 62 terbitan Darul Kutub Beirut.

َ
‫ح‬
َ ‫ل وَب َي ْلعُ ْال‬
ِ ّ ‫جوُْز ب َي ْعُ ال ْهِّرةِ َوالن‬
ُ ُ ‫ص لل‬
ُ َ ‫وَي‬
َ ‫فهْ لد ِ وَا ْل‬
َ َ ‫س لد ِ و‬
ْ َ ‫ماي‬
ِ ‫ح‬
‫ه‬
ِ ِ ‫جل ْد‬
ِ َ ‫صي ّد ِ ا َوْي َن ْت‬
ِ ‫فعُ ِبل‬
َ ِ‫ل‬
Diperbolehkan menjual kucing, lebah, harimau dan
hewan yang dapat digunakan untuk berburu atau diambil
kemanfaatannya.

- Raudhah at-Thalibin halaman 505

ُ ْ ‫في‬
ُ ‫ل وَْالهِّرة ُ وَد ُوْد ُ ْال‬
ِ ‫قْرد ُ وَْال‬
ِ ْ ‫فعُ ب ِهِ ا َل‬
ِ ‫ما ي َْنتـ‬
ِ َ‫و‬
ُ‫قللّز وَب َي ْلع‬
ّ ‫م‬
َ ‫ن‬
‫و‬
ِ ‫ص‬
ِ ّ ‫الن‬
ِ ‫ج‬
َ َ ‫شاه ِد‬
ْ ِ‫ح إ‬
ٌ ْ ‫حي‬
ُ ‫مي ْعُل‬
َ ِ‫واَرة‬
َ ‫ه وَإ ِل ّ فَهُل‬
َ َ ‫ل ِفي ْالك‬
ِ ‫ح‬
.‫ب‬
ِ
ِ ِ ‫ن ب َي ِْع ْالَغائ‬
ْ ‫م‬

Diantara hewan yang dapat diambil manfaatnya antara
lain, kera, kucing, ulat sutra, dan menjual lebah yang
masih dalam sarangnya hukumnya shahih apabila dapat di

20
5

lihat semuanya (barang yang dijual dapat disaksikan),
apabila tidak maka termasuk kategori jual beli barang
ghaib.

206

BAB XIX
HUKUM HIBURAN DAN PERMAINAN
(Nyanyian, Orkesan, Musik, Tarian, Ludruk, Wayang dll)
Pengertian Hiburan dan Permainan
Macam-macam hiburan dalam istilah agama Islam menurut
Syekh Ahmad bin Muhammad al-Shawy diistilahkan dengan
”Lahwun” dan untuk macam-macam seni musik seperti orkes dan
lain sebagainya diistilahkan dengan istilah ”Laghwun” yang
keduanya memiliki pengertian: segala hal yang dapat
menyibukkan seseorang sehingga dapat melupakan kepentingan
dirinya sendiri.
Adapun permainan dikategorikan dengan istilah ”La’bun”
yaitu: segala hal yang dapat menyibukkan seseorang tanpa ada
manfaatnya sama sekali terhadap keadaan diri ataupun hartanya.
Hal ini diterangkan di dalam kitab Tafsir al-Shawy juz 04 hal.
119:

‫م‬
ُ ّ ‫مُنوا وَت َت‬
ِ ْ ‫ب وَل َهْوٌ وَِإن ت ُؤ‬
ٌ ِ‫حَياة ُ الد ّن َْيا ل َع‬
َ ‫ما ال‬
ْ ُ ‫قوا ي ُؤ ْت ِك‬
َ ّ ‫إ ِن‬
َ
َ
ُ
(36) ‫م‬
ُ ‫أ‬
ْ َ ‫م َول ي‬
ْ ُ ‫وال َك‬
ْ ‫مأ‬
ْ ُ ‫سأل ْك‬
ْ ُ ‫جوَرك‬
َ ‫م‬

Artinya: Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan
dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah
Swt. akan memberikan pahala kepadamu dan dia tidak akan
meminta harta-hartamu. (Q.S. Muhammad ayat 36)

‫حلِال‬
َ ْ ‫من‬
ٌ َ‫فع‬
َ ْ ‫ي ال‬
َ ِ‫س فِْيله‬
َ ‫وَل َْيل‬
ْ ِ‫ة ف‬
ْ َ‫ت ن‬
ِ‫سله‬
ِ ‫ف‬
ِ ‫ملا‬
َ ‫سلا‬
َ ْ ‫ا ْل ِ ن‬
ّ ِ ‫مه‬
ُ ‫ن‬
ْ َ‫ن ع‬
َ
‫ما‬
ْ َ‫ى ت‬
ِ ‫ف‬
َ ‫ى اّنل‬
َ ‫سْيلرِ قَوِْللهِ َتعـال‬
ْ ِ‫ف‬

Hukum Hiburan dan Permainan
a. Haram

20
7

ُ ِ‫شغ‬
ْ ُ ‫ملاي‬
‫ن‬
َ ‫سلا‬
ُ ْ‫َالل ّع‬
َ ْ ‫ل ا ْل ِن‬
َ ‫ب‬
ُ ِ‫شغ‬
ْ ُ ‫ملا ي‬
‫ل‬
َ ُ‫ل َوالّللغْو‬
ِ َ ‫وَْالما‬
َ َ ْ ‫صلاوِيْ ع ََلى ال‬
‫ن‬
ّ ‫)َال‬
ِ ‫جل َ لْيل‬
(‫و‬
ٌ ِ‫حيـاة ُ الد ّْنيـا ل َع‬
َ ْ ‫ال‬
ٌ ْ‫ب وََلله‬

• Di dalam kitab Ihya’ Ulumi al-Diin diterangkan ada golongan
yang mengharamkan nyanyian, mereka menggunakan dalil
riwayat dari Ibnu Mas’ud al-Hasan al-Bishri dan al-Nakha’i,
dengan landasan al-Qur’an Surat Luqman ayat 6. yang
berbunyi:

ّ ‫ض‬
ْ َ‫ن ي‬
‫ل‬
ِ ُ ‫ث ل ِي‬
ِ ‫دي‬
ِ ‫ح‬
ِ َ‫و‬
َ ْ ‫شت َرِيْ ل َهْوَ ال‬
َ ‫ن‬
َ ‫س‬
ِ ‫سِبي‬
ْ َ‫ل ع‬
ْ ‫م‬
َ ‫م‬
ِ ‫ن الّنا‬
ُ
َ ِ ‫ها هُُزًوا أول َئ‬
َ َ‫م ع‬
)‫ن‬
َ َ ‫خذ‬
ِ ّ ‫عل ْم ٍ وَي َت‬
ِ ِ‫الل ّهِ ب ِغَي ْر‬
ٌ ‫ذا‬
ّ ‫ب‬
ْ ُ‫ك ل َه‬
ٌ ‫مِهي‬
(6

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan
perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia)
dari jalan Allah Swt. tanpa pengetahuan dan menjadikan
jalan Allah Swt. itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh
azab yang menghinakan. (Q.S. Luqman ayat 6)

ْ ّ‫ن ي‬
‫و‬
َ ِ ‫وا ب‬
ِ َ‫قلوْل ِهِ ت َعَللاَلى و‬
ُ َ ‫حت‬
ْ ِ‫ا‬
َ ‫س‬
َ ‫شلت َرِيْ ل َهْل‬
ْ ‫مل‬
َ ‫مل‬
ْ ‫جل‬
ِ ‫ن الن ّللا‬
َ ‫ث َقا‬
‫ي‬
َ ّ ‫صللرِيّ َوالن‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
َ ْ ‫سعُوْد ٍ َوال‬
َ ْ ‫ال‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م‬
َ ‫ن‬
ْ ِ ‫ن ال ْب‬
ّ ‫خِعلل‬
ُ ‫س‬
ُ ْ ‫ل ا ِب‬
‫ث هُلوَ ال ْغِن َللاُء )احيللاء‬
ِ ْ ‫حلد ِي‬
ِ ‫َر‬
َ ْ ‫ن ل َهْلوَ ال‬
ّ ِ‫م إ‬
ْ ‫ه ع َن ْهُل‬
ُ ‫ي اللل‬
َ ‫ض‬
‫ بللاب بيللان حجللج القللائلين بتحريللم‬2 ‫علللوم الللدين ج‬
(‫السماع والجواب عنها‬

Mereka menafsirkan lafadz Lahwal Hadits (perkataan yang
tidak berguna) ini dengan arti nyanyian.

Ada sebagian ulama’ memberi hukum haram pada hiburan
dan permainan (Nyanyian, Musik, Tarian, Ludruk, Wayang
dll) dengan landasan dalil hadits di bawah ini:

َ
َ ِ ‫عائ‬
‫ه‬
َ ‫ت‬
ُ ‫ش‬
ِ ‫ة َر‬
ّ ‫ه ع َن ْهَللا أ‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
ُ ‫ي اللل‬
ْ َ‫وََرو‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الن ّب ِل‬
َ ‫ضل‬
َ ‫م قَللا‬
‫ى‬
َ ْ ‫م ال‬
َ ‫قي ْن َل‬
َ ‫ى‬
ّ ِ‫ل ا‬
َ ‫حل لّر‬
َ َ‫ع َل َي ْلهِ و‬
َ ‫ن الل ل‬
َ ّ ‫س لل‬
ْ َ‫ة ) ا‬
َ ‫ه ت َعَللال‬
‫مَها‬
َ َ ‫جا َرِي‬
ْ ‫َال‬
َ ْ ‫ة ( وَب َي ْعََها َوث َٰمن ََها وَت َعْل ِي‬
Aisyah ra. Meriwayatkan hadits: Sesungguhnya Nabi Saw.
bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. telah mengharamkan al208

Qoinah (penyanyi wanita/budak wanita yang menghibur),
haram menjual belikannya, haram uang hasil darinya dan
haram mengajarkanya.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghozali menafsiri hadits di
atas bahwa yang dimaksud perkataan Qoinah ialah budak
perempuan yang menyanyi untuk laki-laki di tempat minumminuman (semacam bar atau club malam/dugem).

َ ُ ‫قو‬
‫ي‬
َ ْ ‫مللا ال‬
ُ ‫جارِي َل‬
ُ ‫قي ْن َل‬
َ ْ ‫مَراد ُ ب ِهَللا ال‬
ُ ْ ‫ة فَللال‬
ّ ‫لأ‬
َ ‫ي ت َغَن ّل‬
ْ ‫ة ال ّت ِل‬
ْ ُ َ ‫فَن‬
ّ ‫س ال‬
2 ‫ب )احياء علوم الللدين ج‬
ْ ‫م‬
َ ‫ِللّر‬
َ ‫ي‬
ِ ‫شْر‬
ْ ِ‫ل ف‬
ِ ‫جا‬
ِ ِ ‫جل‬
‫باب بيان حجللج القللائلين بتحريللم السللماع والجللواب‬
(‫عنها‬

Golongan dari madzhab Hambali berpendapat Nyanyian
adalah haram hukumnya, baik dinyanyikan oleh perempuan
maupun laki-laki apabila mendatangkan syahwat bagi orang
yang mendengarkan atau menyebabkan bercampurnya
kaum laki-laki dan wanita atau disertai mabuk-mabukan.

ِ‫سللاء‬
ُ َ ‫حنا َب ِل‬
ِ ‫ن‬
َ ‫واٌء ك َللا‬
َ ‫ ا َل ِْغنا َُء‬: ‫وا‬
َ ْ ‫ا َل‬
ٌ ‫حَرا‬
َ ّ ‫ن الن‬
َ ‫م‬
َ ‫مل‬
َ ‫س‬
ْ ُ ‫ قا َل‬- ‫ة‬
َ
ُ ْ‫قللو‬
ّ ‫ل ي ُث ِْيللُر ال‬
‫ن‬
َ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫م‬
َ َ ‫ل ِإذا َ كللا‬
ْ ‫أ‬
َ ِ ‫شللهْوَة َ ل‬
ْ ‫ملل‬
ِ َ ‫ن الّرجللا‬
َ ‫ملل‬
َ َ
‫ل ِبالّنس لا َِء أ َْو‬
ْ ‫دى إ ِل َللى ا‬
ِ َ ‫خت ِل‬
َ ‫معَ إ ِل َْيللهِ أوْ أ‬
ْ ِ‫ا‬
َ َ ‫سللت‬
ِ َ ‫ط الّرج لا‬
ْ ‫ح‬
‫مةٍ وََوق لا ٍَر ) الفقلله علللى المللذاهب‬
ُ
ِ ‫ن‬
َ ‫شل‬
ْ ‫ج عَ ل‬
ِ ْ‫خ لُرو‬
( 27 ‫ ص‬5 ‫الربعة الجزء‬
b. Makruh

Menurut Imam Tabrani dalam kitabnya al-Mu’jam alAusat hukum dari hiburan dan permainan (nyanyian, musik,
seni tari, ludruk, wayang, dll.) adalah makruh.

20
9

َ
‫حد َث ََنا‬
َ ، ّ‫وازِي‬
َ ْ ‫ه ا َل‬
ْ ‫م‬
َ ‫م‬
َ
ْ ّ ‫موِي‬
ُ ‫ح‬
َ ‫ن‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫حد َث ََنا‬
َ ْ‫جوْهَرِيّ ا َله‬
ِ ْ ‫مد ِ ب‬
ْ ‫ح‬
ٍ‫ن زَِياد‬
َ ،‫ي‬
َ
ُ ‫حد َث ََنا ْال‬
َ ُ‫ن ع‬
ُ ْ ‫من ْذ ُِر ب‬
ْ ِ ‫مُرو الّرّبال‬
ْ ِ‫ص ب‬
ٍ ‫ف‬
َ
َ
َ
ّ
َ
‫ن‬
ْ ‫نأ‬
َ ُ‫ن ع‬
ْ ‫سل‬
ْ َ ‫ ع‬، ِ‫ن أب ِي ْه‬
ْ َ‫ ع‬، ‫م‬
ْ َ‫ ع‬، ‫ي‬
ّ ِ ‫الطائ‬
ِ ْ ‫مُر ب‬
ِ ْ ‫ن َزي ْد ٍ ب‬
ّ ‫خ‬
ُ ْ ‫سو‬
َ ‫ َقا‬:‫ل‬
َ ‫ب َقا‬
:‫م‬
َ ْ ‫ال‬
َ َ‫صّلى الله ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫ل َر‬
َ ّ ‫سل‬
َ ِ‫ل الله‬
ِ ‫طا‬
َ ِ ‫ة الرجل ا‬
ّ ُ‫» ك‬
‫ن‬
ِ َ ‫مل‬
ِ ‫م‬
َ َ‫ و‬، ‫ه‬
ُ َ ‫مَرأت‬
ْ ِ ُ ّ ُ َ ‫عب‬
ُ ّ ‫ل ل َهْوٍ ي ُك َْرهُ إ ِل‬
َ ْ ‫شي ْهِ ب َي‬
َ ‫م ي َْروِ ٰه‬
‫ث‬
ِ ْ ‫حد ِي‬
ِ ْ ‫ وَت َعْل ِي‬، ‫ن‬
َ ْ ‫ذا ال‬
ْ ‫ْالهَد َفَي‬
َ ‫مهِ فََر‬
َ ‫ه«»ل‬
ُ ‫س‬
ِ
َ ‫ع َن زيد ب‬
‫ص‬
ْ ‫ح‬
َ َ ‫ ت‬، ْ ‫ن زَِياد‬
ِ ِ ‫فّرد َ ب‬
َ :‫ه‬
ْ ‫نأ‬
ُ ‫م إ ِل ّ ْال‬
ْ َ ‫سل‬
ُ ‫ف‬
ُ ْ ‫من ْذ ُِر ب‬
ِ ْ ٍ ْ َ ْ
7 ‫ي « )المعجام الوسط للطبرنى ج‬
َ ُ‫ن ع‬
ْ ِ ‫مُرو ال َّرّبال‬
ُ ْ‫ب‬
(170 ‫ص‬
Dan diambil dari pendapat Imam Syafi’i, bahwa beliau
berkata: sesungguhnya ghina’ (Lagu-laguan) merupakan
hiburan yang dimakruhkan, serupa dengan perbuatan batil.
Barang siapa terlalu banyak terlena karenanya maka dia
dianggap bodoh dan ditolak kesaksiannya. Keterangan
dalam kitab al-Fiqhu ‘ala Madzahib al-Arba’ah:

َ ‫ق‬
ّ ‫مام ِ ال‬
‫ه‬
َ َ‫ف‬
ِ ‫شافِِعى َر‬
ِ ُ ‫قد ْ ن‬
ُ ‫ه ع َن ْل‬
ُ ‫ي الل ل‬
َ ِ ‫ن ا ْل‬
َ ‫ضل‬
ِ َ‫ل ع‬
َ
ُ ِ ‫ه اْلبا َط‬
َ ‫ه َقا‬
ْ ُ ‫مك ُْروْه ٌ ي‬
‫سللت َك ْث ََر‬
ْ ِ‫ن ا‬
َ ,‫ل‬
ُ ِ ‫شب‬
َ ْ‫ ا َل ْغَِناُء لهَو‬:‫ل‬
ُ ّ ‫أن‬
ِ ‫م‬
َ ّ ‫ه وَت ُلَرد‬
‫)كتللاب الفقلله علللى‬.‫ه‬
ِ ‫سل‬
ِ
َ َ‫ه فَهُ لو‬
ُ ُ ‫ش لَهاد َت‬
ٌ ْ ‫في‬
ُ ‫من ْل‬
(54 ‫ ص‬5 ‫المذاهب الربعة الجزء‬

Imam Al-Qaffal, Al-Rauyani dan Abu Mansur berpendapat
bahwa hiburan dan permainan seperti tari-tarian berirama
hukumnya makruh tidak sampai haram dengan alasan
bahwa hal tersebut termasuk ”lahwun, laghwun dan la’bun”
(dagelan, musik dan pemainan). Hal ini diterangkan dalam
kitab ‫ التحاف على الحياء‬dan dalam kitab ‫احيلاء فى باب السملاع‬,
sama halnya nyanyian dan mendengarkan lagu atau musik.
Keterangan dari kitab Al-Manhaj juz 5 hal 380.

210

َ
َ ْ
َ
ِ ‫ص‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ن ك َل َم‬
ِ ْ‫وَلن َذ ْك ُُرمـا ل ِلعُلمـاِء ِفيـهِ ايْ ِفي الّلرق‬
َ ‫حل‬
ُ ‫فلا‬
‫ه‬
ّ ‫ق‬
َ ْ ‫م ا َل‬
‫ة ِال‬
َ ‫ت ط َِائل‬
ٌ ‫ف‬
ِ ِ‫ى ك ََراهَِتله‬
َ ‫ل‬
ُ ْ ‫كاه ُ ع َن‬
ْ ُ‫من ْه‬
ْ َ ‫فَذ َهَب‬
َ
ُ َ ‫ وَقلا‬.‫حر‬
‫ور‬
ْ ‫ل ا َل‬
َ ْ‫ستـاذ ُ َابـو‬
ُ ْ ‫من‬
ْ ‫صل‬
َ ِ ْ َ ‫ي ِفي ْالب‬
ْ ‫ال َّرْويـاِنل‬
‫وا‬
َ ‫ص‬
ُ ّ ‫ت ُك َل‬
ُ َ ‫حت‬
ْ ِ ‫مك ُْروْه ٌ وَ ٰهلؤ ُل َِء ا‬
َ ‫ى ا ْل ِ ْيقـاِع‬
ُ ْ‫ف َالّلرق‬
ْ ‫جل‬
َ ‫عل‬
.‫ه‬
ٌ ِ‫ه ل َع‬
ٌ ْ‫مك ُْرو‬
َ َ‫ب وََللهْوٌ وَهُو‬
ُ ّ ‫ب ِا َن‬

Imam Ghozali berpendapat dalam kitab Ihya’ Ulumuddin
juz 02 bahwasanya nyanyian, orkesan dan sejenisnya
adalah termasuk hiburan (Laghwun) yang dimakruhkan,
serupa dengan perbuatan batil tetapi tidak sampai haram,
sebagai contoh adalah permainan orang-orang Habasyah
dan tarian mereka, Rasulullah pernah menyaksikannya dan
tidak membencinya. Dalam hal ini Lahwun dan laghwun
tidak dimurkai Allah Swt.

َ ِ ‫ه ْالبـاط‬
ْ ُ ‫مك ُْروْه ٌ ي‬
‫ح‬
ِ ‫ص‬
ٌ ْ ‫حي‬
ُ ِ ‫شب‬
َ ٌ‫ا َل ِْغنـاُء َللهْو‬
َ ٌ‫ل وَقَوِْلـه َللهْو‬
‫ب‬
ُ ْ ‫حي‬
ِ َ‫ن الل ّهْو‬
ُ ْ‫حَرام ٍ فَل َع‬
َ ‫س ِبل‬
َ ‫ن‬
ُ ّ ‫ث ا َن‬
َ ْ ‫ه َلـهوٌ ل َي‬
ْ ‫م‬
ّ ِ ‫وَل َك‬
َ ْ ‫م َللهْوٌ وَقَد‬
ْْ ُ‫صه‬
َ َ ‫حب‬
‫ه‬
ِ ‫ه ع َل َْيل‬
َ ‫كا‬
َ ‫ْال‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ّّ ‫ن‬
ُ ْ‫شةِ وََرق‬
َ ‫ل ال ّللهْوُ َوالّللغْوُ ل َ يـ‬
‫ؤا‬
َ َ‫و‬
ُ ُ‫م ي َن ْظ ُُر ا ِل َي ْهِ وَل َ ي َك َْره‬
َ ّ ‫سل‬
ِ َ‫ه ب‬
( ‫ فى باب السملاع‬2 ‫خذ ُ الله ب ِهِ )احيلاء جز‬
ِ

21
1

Menurut Qordowi, hiburan dan permainan (Nyanyian,
Musik, Tarian, Ludruk, Wayang dll) hukumnya adalah ‫باطل‬
apabila digunakan untuk sesuatu yang tidak ada faidah dan
membuat seseorang sibuk sehingga sampai mengganggu
atau dapat mengurangi ketaatannya kepada Allah Swt.,
sedangkan hukum melakukan sesuatu yang tidak berfaidah
tidaklah haram selama tidak menyia-nyiakan hak atau
melalaikan kewajiban. Pendapat Qordowi ini berdasarkan
Hadits:

َ ‫ن‬
ٌ ِ ‫ل ل َهْوٍ َباط‬
ّ ُ‫ك‬
َ ‫ذا‬
َ ِ‫ل إ‬
‫طاع َةِ الل ّهِ (صحيح‬
ُ َ ‫شغَل‬
ْ َ‫ه ع‬
)‫ كتاب بدء الوحي‬, ‫البخاري‬

Artinya: Setiap hiburan itu adalah batil apabila bisa
melalaikan seseorang dari ketaatan kepada Allah Swt.
Menurut riwayat Imam al-Baihaqi hukum nyanyian atau
orkesan dan sejenisnya dihukumi makruh karena dapat
menumbuhkan kemunafikan dalam hati, seperti halnya air
bisa menumbuhkan tanaman. Diterangkan dalam kitab alSunan al-Kubro lii al-Baihaqi bab al-Rajul Yaghni
Fayattakhidu al-Ghina’ juz 7 halaman 931.

َ َ ‫شرا‬
‫حد ّث ََنا‬
ْ ‫ص‬
ْ َ ‫وَ أ‬
َ ‫ن‬
َ ‫وا‬
ُ ْ ‫ن أن ْب َأَنا ال‬
َ َ ْ ِ‫ن ب‬
َ ‫ح‬
َ َ ‫ن‬
َ ‫ف‬
ُ ْ‫ن ب‬
ُ ْ ‫سي‬
ُ ْ ‫خب ََرَنا اب‬
َ
َ ‫اب‬
‫ن‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ن أِبى الد ّن َْيا‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫جعْد ِ أن ْب َأَنا‬
ُ ْ ‫مد ُ ب‬
ُ ْ‫ى ب‬
ُ ْ
ّ ِ ‫حد ّث ََنا ع َل‬
َ ‫ح‬
ِ‫ن ع َب ْد‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫ط َل‬
َ ‫ن‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫ن‬
ُ ْ ‫ب ال‬
ٍ ْ‫ن ك َع‬
ْ َ ‫مَراد ِىّ ع‬
ْ َ‫ة ع‬
ِ ْ ‫مد ِ ب‬
ِ ْ ‫سِعيد ِ ب‬
َ ‫سُعود ٍ َقا‬
‫ت‬
ْ ‫الّر‬
ْ ‫م‬
ُ ِ ‫ ال ْغَِناُء ي ُن ْب‬:‫ل‬
َ ‫ن‬
َ ‫ح‬
ِ َ‫ن ي‬
ِ ْ ‫ن اب‬
ِ َ ‫زيد َ ع‬
ِ ْ‫ن ب‬
ِ ‫م‬
‫ت‬
َ ْ ‫فاقَ ِفى ال‬
َ ّ ‫الن‬
ُ ِ ‫ماُء الّزْرع َ َوالذ ّك ُْر ي ُن ْب‬
َ ْ ‫ت ال‬
ُ ِ ‫ما ي ُن ْب‬
َ َ‫ب ك‬
ِ ْ ‫قل‬
.‫ع‬
َ ْ ‫ن ِفى ال‬
َ ‫ماُء الّزْر‬
َ ‫ما‬
َ ْ ‫ت ال‬
ُ ِ ‫ما ي ُن ْب‬
َ َ‫ب ك‬
َ ‫لي‬
ِ ْ ‫قل‬
ِ ‫ا‬
c. Boleh

Imam Bukhari meriwayatkan hadits dalam kitab sahihnya
bab an-Niswah al-Laati Yahdina al-Mar'ah juz 1 hal 145 dari
Siti Aisyah bahwa Nabi pernah berkata:

ُ ‫ض‬
‫ن‬
ُ ْ‫ن ي َع‬
َ ْ ‫حد ّث ََنا ال‬
َ ‫م‬
َ ‫ب‬
َ ‫قو‬
ْ ‫ف‬
َ – 4765
ّ ‫ح‬
ُ ‫حد ّث ََنا‬
ُ ْ ‫مد ُ ب‬
ُ ْ‫ل ب‬
َ
ُ ‫سَراِئي‬
َ ِ‫ن ه‬
ِ‫ن أِبيه‬
ْ ‫شام ِ ب‬
َ ‫ق‬
ْ ِ ‫حد ّث ََنا إ‬
َ
ْ َ ‫ن ع ُْروَة َ ع‬
ْ َ‫ل ع‬
ِ
ٍ ِ ‫ساب‬
َ
َ
َ
ْ
َ
َ ِ ‫عائ‬
‫صاِر‬
َ ‫ن‬
َ ‫ش‬
ِ ‫ل‬
ُ ‫مَرأة ً إ ِلى َر‬
ْ ‫تا‬
ْ ّ‫ة أن َّها َزف‬
َ ْ ‫ن الن‬
َ ‫م‬
ٍ ‫ج‬
ْ َ‫ع‬
َ ‫قا‬
َ ِ ‫عائ‬
‫ما‬
َ َ‫ف‬
َ ‫م َيا‬
ُ ‫ش‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ‫ة‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ّ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ي الل ّه‬
ّ ِ ‫ل ن َب‬
َ
َ
‫و‬
ّ ِ ‫م ل َهْوٌ فَإ‬
َ ‫كا‬
ْ ُ‫جب ُه‬
ِ ْ‫صاَر ي ُع‬
ْ ُ ‫معَك‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ن اْلن‬
ُ ْ‫م الل ّه‬

Dari hadits tersebut di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa Nabi menginginkan seorang penyanyi yang dapat
212

disuruh Nabi untuk menghibur kaum Anshar ketika Siti
Aisyah menikahkan seorang gadis dengan pemuda anshar
karena kaum anshar sangat kagum dan senang dengan
nyanyian.

Diceritakan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Imam Nasa'i bahwa pada hari raya sahabat Abu
Bakar berkunjung ke rumah Siti Aisyah untuk halal bi halal
kepada Nabi Saw., ketika beliau masuk beliau menjumpai
ada dua gadis di samping Siti Aisyah yang sedang
menyanyi, seketika itu Abu Bakar menghardik mereka
seraya berkata: Apakah pantas ada seruling syaitan di
rumah Rasulullah?! Kemudian Nabi Saw. bersabda:
“Biarkanlah mereka, wahai Aba Bakar, sesungguhnya hari
ini adalah hari raya. Adapun bunyi hadits yang
menceritakan peristiwa itu adalah sebagai berikut ini dalam
kitab Sunan an-Nasai juz 6 hal. 59.

َ
َ ‫ن ع َب ْد ِ الل ّهِ َقا‬
‫حد ّث َِني أ َِبي‬
ْ ‫ح‬
‫ف‬
ْ َ‫أ‬
َ ‫ل‬
ْ‫ص ب‬
َ ‫ن‬
ْ ‫خب ََرَنا أ‬
َ ‫ح‬
ُ ْ ‫مد ُ ب‬
ِ
ِ
َ ‫ل حدث َِني إبراهيم بن ط َهمان ع َن مال ِك ب‬
‫س‬
َ ‫ن أن‬
ّ َ َ ‫َقا‬
ٍَ
ِ ْ ِ َ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ ُ ِ َِْ
َ ِ ‫عائ‬
‫ن‬
َ ‫ن‬
َ ‫ش‬
ّ ‫هأ‬
َ ‫ة‬
ّ ‫هأ‬
َ ‫ه‬
ُ ْ ‫حد ّث َت‬
ُ َ ‫حد ّث‬
ُ ّ ‫ن ع ُْروَة َ أن‬
ْ َ ‫ن الّزهْرِيّ ع‬
ْ َ‫ع‬
َ
َ ‫خ‬
‫ن‬
َ َ ‫ديقَ د‬
َ َ ‫عن ْد‬
ِ َ‫ل ع َل َي َْها و‬
ْ َ‫ن ت‬
َ ‫ها‬
ّ ‫ص‬
ّ ‫أَبا ب َك ْرٍ ال‬
ِ ‫ضرَِبا‬
ِ ‫جارِي ََتا‬
ُ ‫سو‬
‫م‬
ّ ّ ‫ِبالد‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫ن وََر‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ّ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ل الل ّه‬
ِ ‫ف وَت ُغَن َّيا‬
ُ
َ ‫جى ب ِث َوْب ِهِ وََقا‬
َ َ ‫ه فَك‬
‫ف‬
ْ ‫مّرة ً أ‬
َ ‫ش‬
ّ ‫س‬
ّ ‫س‬
َ َ ‫مت‬
َ ‫م‬
ُ َ ‫ج ث َوْب‬
ُ ‫خَرى‬
َ ‫ل‬
ُ
َ
َ
ْ
َ ‫قا‬
‫ن‬
َ َ‫جهِهِ ف‬
ِ ‫م‬
ْ َ‫ن و‬
ُ ‫ما َيا أَبا ب َكرٍ إ ِن َّها أّيا‬
َ ُ‫ل د َع ْه‬
ّ ُ‫عيد ٍ وَه‬
ْ َ‫ع‬
َ
ُ ‫سو‬
ٍ‫مئ ِذ‬
ِ ‫م‬
ُ ‫أّيا‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫مَنى وََر‬
َ ْ‫م ي َو‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ّ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ل الل ّه‬
‫ة‬
ِ َ ‫دين‬
ِ ‫م‬
َ ْ ‫ِبال‬

Dari cerita di atas bisa dibuat dalil bahwa Nabi tidak
melarang hiburan dan permainan (nyanyian, orkesan,
musik, tarian, ludruk, wayang dll).

21
3

Menurut Imam Al-Fauroni: Hukum dari hiburan dan
permainan (nyanyian, orkesan, musik, tarian, ludruk,
wayang, dll) adalah boleh, dengan alasan bahwa semua
perkara itu adalah termasuk Lahwun, Laghwun dan La’bun
dan hukum asal dari Lahwun, Laghwun dan La’bun itu
adalah mubah. Diterangkan di dalam kitab al-Itkhaf juz 06.

‫ت‬
َ َ‫و‬
ٌ ْ‫ه ل َع‬
ّ َ ‫حت‬
ْ ِ ‫هلؤ ُل َِء ا‬
ْ َ ‫مك ُْروْه ٌ وَذ َهَب‬
َ َ‫ب وََللهْوٌ وَهُو‬
ُ ّ ‫وا ب ِا َن‬
ْ ‫جل‬
َ
َ ‫حِتلهِ َقلا‬
‫ه‬
َ ْ ‫ل ا َل‬
َ ‫طاِئل‬
ٌ ‫ف‬
ِ ِ ‫كتـاب‬
ِ ‫ي‬
َ ‫ة إ َِلى إ َِبا‬
ْ ِ‫ي ف‬
ْ ‫فلوَْراِنل‬
َ ‫ا َل ْعمدة ُ ا َل ْغِنلاُء يبـا‬
‫ه‬
َ
ُ ُ
َ ْ ُ
ُ ُ ‫صل‬
ْ ‫حأ‬

Imam Haromain, Imam al-Makhali, Imam Ibni ‘Imad AlSuhrowardi, Imam Rofi’i dan Ibnu Abi Dam berpendapat:
Hiburan tarian atau sejenisnya adalah tidak haram, apabila
tidak menyebabkan rusaknya harga diri dan tidak ada
penyerupaan laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya.

َ ‫َقلا‬
‫ه‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ ‫ل ِإمـا‬
ُ ‫حّرم ٍ فَا ِّنل‬
ُ ‫س ِبل‬
َ ‫حَر‬
َ ‫ص ل َْيل‬
ُ ْ‫مْيـن َالّلرق‬
َ
َ ‫حَر‬
‫ن‬
َ ِ ‫ست‬
ٍ ‫كا‬
َ ِ‫مةٍ أوْ ا ِع ْو‬
َ ُ ‫جّرد‬
َ ‫مل‬
ْ ِ ‫ت ع ََلى ا‬
َ ‫قا‬
ُ
ْ ِ ‫ج وَل َك‬
ٍ ‫جلا‬
ّ َ ‫مـ‬
َ ِ ‫مـُروَْءة ُ وَك َذ َل‬
َ ‫ك قـا‬
‫ى ِفي‬
ْ ‫ك َث ِي ُْره ُ ُيل‬
ُ ‫حَر‬
ْ ‫ل َال‬
ْ ‫م َال‬
ْ ‫حل‬
‫ه‬
َ ّ ‫الد‬
ِ ِ ‫ي وَب‬
ّ ‫ملاد ِ َال‬
َ ِ‫ن ال ُع‬
ْ ِ‫سْهلَروَْرد ِيْ َوالّرفِع‬
ُ ْ ‫خلِائرِ َواب‬
‫ن ا َِبي الد ّم ِ )التحاف‬
ُ ّ ‫صن‬
ِ ْ ‫سي‬
ِ َ‫ف ِفي ال ْو‬
َ
َ ‫جَز‬
ُ ‫م ْال‬
َ ‫م‬
ُ ْ ‫ط َواب‬
(‫على الحياء في باب السماع‬

214

BAB XX
PERDUKUNAN
Berobat dengan Suwuk
Masyarakat kita telah lama mengenal pengobatan penyakit
melalui doa-doa yang disebut suwuk. Bagaimanakah hukum
pengobatan dengan cara suwuk?
Sesungguhnya di dalam al-Qur’an telah dijelaskan:

َ
َ
(110:‫ص ب ِإ ِذ ِْني )الماءدة‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫رىءُ الك‬
َ ‫ه َوالب َْر‬
ِ ْ ‫وَت ُب‬

Dan (ingatlah) di waktu kamu (Nabi Isa) menyembuhkan orang
yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang
berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, (QS. Al-Maidah: 110).

Tentang pengobatan dengan menggunakan suwuk ini pernah
ditanyakan pada Rasulullah dalam sebuah hadits berikut:

َ ‫ك َقا‬
‫قل ْن َللا ي َللا‬
ُ َ‫جاه ِل ِي ّلةِ ف‬
َ ْ ‫ل ك ُّنا ن َْرقِللى فِللى ال‬
ٍ ِ ‫مال‬
ِ ْ‫ن ع َو‬
َ ‫ن‬
ْ َ‫ع‬
ِ ْ‫ف ب‬
َ
ّ
َ ‫ف َتلَرى فِللى ذ َِلل‬
َ ‫قلا‬
َ ‫سو‬
‫ى‬
َ َ‫ك ف‬
َ ‫ل الللهِ ك َْيل‬
ُ ِ‫ل » اع ْر‬
ُ ‫َر‬
ّ ‫ضللوا ع َلل‬
ْ
ً ‫شْر‬
‫ )سنن أبللى دا‬.« ‫كا‬
ِ ‫ن‬
ْ َ ‫ما ل‬
َ ‫س ِبالّرَقى‬
ْ ُ ‫ُرَقاك‬
َ ‫م ل َ ب َأ‬
ْ ُ ‫م ت َك‬
(230 ,1 ‫جز‬,‫ود‬
Dari ‘Auf bin Malik berkata, bahwasannya kami mengobati
penyakit dengan menggunakan suwuk pada zaman jahiliyah, lalu
kami bertanya kepada Rasul, wahai Rasul bagaimana pendapat
anda tentang hal tersebut? Rasul menjawab, hadapkanlah suwuksuwuk
kalian
kepadaku,
sesungguhnya
hal
itu
tidak
membahayakan selama kalian tidak syirik (menyekutukan Allah
Swt.). (Sunan Abi Dawud, juz I, hal. 230)
Diceritakan dalam sebuah hadits Sunan Abi Dawud, mengenai
pengalaman para sahabat Nabi yang telah melakukan
pengobatan dengan suwuk:

21
5

َ ‫طا م‬
َ
َ َ‫ع‬
‫صلللى‬- ‫ى‬
ُ ْ ‫سِعيد ٍ ال‬
َ ‫ص‬
ّ ‫خد ْرِىّ أ‬
َ ‫ن أِبى‬
ِ ‫حا‬
ْ ‫نأ‬
ْ ِ ً ْ‫ن َره‬
ْ
ّ ِ ‫ب الن ّب‬
ُ
َ
َ
َ
َ
‫ى‬
ْ ‫س‬
ُ ‫ ان ْطل‬-‫الله عليه وسلم‬
َ ‫سافُرو‬
َ ِ ‫ها فن ََزلوا ب‬
َ ٍ‫فَرة‬
َ ‫قوا ِفى‬
ّ ‫ح‬
َ
َ ‫م‬
ُ
ْ َ‫سي ّد ََنا لد ِغ َ فَه‬
َ ‫قا‬
َ َ‫ب ف‬
ِ ‫ل‬
ٍ ‫حد‬
َ ‫عن ْد َ أ‬
ّ ِ‫م إ‬
ُ ْ‫ل ب َع‬
ْ ‫نأ‬
َ ‫ن‬
ْ ُ ‫ضه‬
ِ ‫حَياِء ال ْعََر‬
ْ ِ
ٌ ‫ج‬
َ ‫قا‬
َ ‫م‬
‫ه‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ َ‫حب ََنا ف‬
َ ْ ‫ىٌء ي َن‬
‫ش‬
ِ ‫صا‬
ِ ‫م َوالل ّل‬
ِ ‫ل‬
ِ
ُ ‫ل َر‬
ُ‫فع‬
ْ ‫قلوْم ِ ن َعَل‬
ْ ُ ‫من ْك‬
َ
َ ‫م‬
ْ
َ
َ
َ
َ
َ
‫مللا أن َللا‬
ُ ّ ‫ض لي‬
ْ ‫ضل‬
َ ُ‫ن ت‬
ْ ‫مأ‬
َ َ ‫ست‬
ْ ‫نا‬
َ ‫فوَنا‬
ْ ُ ‫م فَ لأب َي ْت‬
ْ ُ ‫فَناك‬
ِ ‫إ ِّنى لْرِقى وَلك ِل‬
ً ْ‫جع‬
ّ ‫ن ال‬
ِ‫شللاء‬
ِ ‫طيعًللا‬
ِ َ‫ه ق‬
َ َ‫ ف‬.‫ل‬
ُ ‫جعَُلوا ِلى‬
ْ َ ‫حّتى ت‬
َ ‫ق‬
ُ ‫جعَُلوا ل َل‬
َ ‫مل‬
َ ِ‫ب‬
ٍ ‫را‬
َ
َ
ُ
َ
ُ
َ
َ ‫شل‬
ُ ‫فل‬
‫ط‬
ُ ْ ‫ب وَي َت‬
َ َ‫فَأَتاه ُ ف‬
ِ ْ ‫مللا أن‬
َ ‫ل‬
ّ ‫قَرأ ع َل َي ْهِ أ‬
َ ّ ‫حت ّللى ب َلَرأ ك َأن‬
ِ ‫م َال ْك َِتا‬
َ ‫ قَللا‬.‫ل‬
‫ه‬
َ ‫ع‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫م ع َل َي ْل‬
ِ ‫م ال ّل‬
ِ
ُ َ ‫صللال‬
ُ ‫م‬
ْ ُ‫حوه‬
ُ ‫جعْل َهُل‬
ْ ُ‫ل فَأوْفَللاه‬
َ ‫ذى‬
ٍ ‫قللا‬
ْ ‫م‬
ْ
ُ
ّ
ُ
َ ‫قلا‬
‫ى‬
ْ َ ‫ذى َرَقلى ل َ ت‬
َ َ‫ ف‬.‫موا‬
َ َ‫ف‬
ِ ‫ل الل‬
ِ َ ‫قلالوا اقْت‬
َ ‫فعَللوا‬
ُ ‫سل‬
َ ِ ‫حّتلى َنلأت‬
ْ
َ ‫سو‬
‫ فََغلد َْوا‬.‫ه‬
ِ ‫سلت َأ‬
ْ َ ‫ فَن‬-‫صللى اللله عليله وسللم‬- ِ‫ل الّلله‬
ُ ‫َر‬
ُ ‫مَر‬
َ ‫قللا‬
‫ل‬
َ َ‫ه ف‬
ُ ‫ع ََلى َر‬
ُ َ ‫ فَذ َك َُروا ل‬-‫صلى الله عليه وسلم‬- ِ‫ل الل ّه‬
ِ ‫سو‬
َ
َ
ُ ‫سو‬
‫م أن َّهللا‬
ِ » -‫صلى الله عليه وسلم‬- ِ‫ل الل ّه‬
ُ ‫َر‬
ْ ُ ‫مت‬
ْ ِ ‫ن ع َل‬
َ ْ ‫ن أي‬
ْ ‫م‬
َ
.« ٍ ‫سهْم‬
ٌ َ ‫ُرقْي‬
ِ َ ‫م اقْت‬
ْ ‫موا َوا‬
ْ ‫ةأ‬
َ ِ‫م ب‬
َ ‫ح‬
ْ ُ ‫معَك‬
َ ‫ضرُِبوا ِلى‬
ُ ‫س‬
ُ ُ ‫سن ْت‬
Dari Abi Said al Khudzri ra. Bahwasannya sekelompok sahabat
Nabi berangkat melakukan suatu perjalanan, mereka berhenti
diperkampungan Arab. Salah satu dari penduduk tersebut
berkata, Sesungguhnya pemimpin kami disengat kalajengking.
Apakah ada di antara kalian yang bisa memberi manfaat
(mengobati pemimpin kami)? Seorang laki-laki dari sahabat
menjawab, betul. Demi Allah Swt. sesungguhnya kami bisa
menyuwuk (mengobatinya) tetapi, ketika kami akan bertamu,
kalian malah menolak. Aku tidak akan mengobati, sehingga kalian
memberi gaji (upah). Bayarlah gaji tersebut dengan seekor
kambing. Lalu satu kambing didatangkan. Laki-laki tersebut
membaca surat al-Fatihah, kemudian meniupkan ludahnya
sehingga pimpinan itu sembuh, (saking cepatnya) seperti orang
yang terlepas dari tali serban. Abi Said berkata,” mereka
menepati janji dengan memberi gaji (upah).” Lalu para sahabat
berkata, “Bagilah (upah tersebut).” Lelaki tukang suwuk berkata,
“Jangan lakukan hal itu sehingga kita datang kepada Rasul.” Lalu
216

Rasul bersabda, “Dari mana kalian tahu bahwa ummul kitab bisa
dipergunakan untuk menyuwuk? Bagus….kalian, bagilah! Dan aku
minta bagian”. (Sunan Abi Dawud, juz II, hal. 232-233)
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa
mengobati berbagai penyakit dengan do’a-do’a itu dibenarkan.
Dan mengambil ongkos/upah dari pengobatan itu juga
diperbolehkan.

Batasan Praktik Orang-orang Pintar (Dukun)
a. Dilarang
praktiknya
orang-orang
pintar
(dukun)
dikarenakan dalam praktiknya menggunakan sihir yang
jelas bertentangan dengan syari’at Islam, yakni terdapat
kemusyrikan yaitu menggunakan perantara jin dan setan,
serta menimbulkan bahaya pada orang lain.

َ ‫سللو‬
َ ‫ن ع َب ْد ِ الل ّهِ قَللا‬
‫صلللى الللله‬- ِ‫ل الل ّله‬
ِ ‫سل‬
ُ ‫ت َر‬
َ ‫ل‬
ُ ْ‫مع‬
ْ َ‫ع‬
ُ ‫قللو‬
‫ة‬
ُ َ ‫ ي‬-‫عليلله وسلللم‬
َ ‫م َوالت ّوَل َل‬
ّ ِ‫ل » إ‬
َ ِ ‫مللائ‬
َ ّ ‫ن الّرقَللى َوالت‬
ٌ ‫شْر‬
(3385 ‫ )سنن ابى داود رقم‬.« ‫ك‬
ِ

Dari Abdullah Ia pernah mendengar bahwa Rasulullah
bersabda: sesungguhnya suwuk, zimat, dan sihir adalah
syirik. (Sunan Abi Dawud, hal. 3385)
b. Dibenarkan praktiknya orang-orang pintar (dukun) dengan
tiga ketentuan yang harus diperhatikan yaitu: Pertama,
amalan, hizib, azimat atau yang semisalnya harus
menggunakan kalam Allah Swt. Kedua, menggunakan
bahasa yang dapat dipahami maknanya. Ketiga, meyakini
semua hanya sebatas ikhtiar serta keberhasilan yang
terwujud atau semua kejadian yang terjadi semata karena
takdir Allah Swt.

21
7

‫سئ ِ َ‬
‫مى وَ ي َْرَقى‬
‫ب ل ِل ْ َ‬
‫ح ي َك ْت ُ ُ‬
‫ن َر ُ‬
‫ل ب َعْ ُ‬
‫وَ ُ‬
‫ح َ‬
‫ضه ُ ْ‬
‫ل َ‬
‫ج ٍ‬
‫م عَ ْ‬
‫صال ِ ٍ‬
‫مل ُ‬
‫ل الن ّ ْ‬
‫ن‬
‫ص لْرِع َوال ْ ُ‬
‫حا َ‬
‫صل َ‬
‫ش لَرة َ وَي َُعال ِل ُ‬
‫وَي َعْ َ‬
‫ب ال ّ‬
‫ج اَ ْ‬
‫جن ُلوْ ِ‬
‫َ‬
‫ذال ِ َ‬
‫وات ِم ِ وَْالعَلَزائ ِم ِ وَي َن ْت َفِلعُ ب ِل َ‬
‫ن‬
‫ماِء الللهِ َوال ْ َ‬
‫ك ِ‬
‫ب ِأ ْ‬
‫س َ‬
‫مل ْ‬
‫خل َ‬
‫ْ‬
‫ه ِبذل ِ َ‬
‫خذ ُ ع ََلى ذل ِ َ‬
‫جوَْر هَ ْ‬
‫ما‬
‫مل ِهِ وَل َ ي َأ ُ‬
‫ك اَ ْ‬
‫ك ا َْل ُ ُ‬
‫جٌر ا َ ّ‬
‫ل لَ ُ‬
‫عَ َ‬
‫شر ب لا ِل ْ ُ َ‬
‫ف‬
‫معُْروْ ِ‬
‫ب ل ِل ْ َ‬
‫ال ْك ُت ُ ُ‬
‫ن وَب ِللال ْ َ‬
‫ح َ‬
‫قْرأ ِ‬
‫مى َوالّرِقى َوالن ّ ْ ُ‬
‫ْ‬
‫س ب ِهِ اهل )فتاوى حاشية ص ‪(88‬‬
‫ِ‬
‫ن ذ ِك ْرِ اللهِ فَل َ ب َأ َ‬
‫م ْ‬

‫‪218‬‬

BAB XXI
PEMAKAMAN
Macam-macam Orang Mati Syahid
Menurut Imam Ibnu Rif’ah dan sahabatnya, orang yang mati
syahid itu ada tiga golongan, yaitu:
1. Syahid ‘Indallah (mati syahid menurut Allah) diantaranya:
a. Orang yang meninggal karena dibunuh secara zhalim
b. Meninggal karena tenggelam
c. Meninggal karena terbakar
d. Meninggal karena tertimpa bangunan
e. Meninggal karena sakit perut
f. Meninggal karena dilukai oleh orang lain
g. Meninggal karena kerinduan
h. Meninggal mendadak
i. Meninggal karena sakit waktu melahirkan
j. Meninggal di negeri orang kafir Harbi (Musuh)
Orang yang meninggal di atas termasuk golongan
yang
wajib
diperlakukan
sebagaimana
mestinya
(dimandikan dan dishalati).
2. Syahid Fid Dunya (mati syahid menurut manusia)
a. Orang yang meninggal sebagai pengatur strategi
perang yang tidak terjun langsung dalam medan
peperangan.
b. Orang yang meninggal dunia dalam peperangan akan
tetapi memihak kepada kelompok lain.
c. Orang yang meninggal dunia dalam peperangan karena
riya’ dan mencari popularitas.
Orang-orang yang meninggal di atas sebagai syahid
secara hukum, jadi tidak wajib dimandikan dan dishalati.
3. Syahid Fid Dunya Wal Akhirat (mati syahid menurut Allah
dan Manusia).

21
9

‫‪Yang termasuk golongan ini, yaitu orang yang‬‬
‫‪meninggal karena berperang membela agama Allah (fii‬‬
‫‪sabilillah). Mayat golongan ini tidak dimandikan dan tidak‬‬
‫‪perlu dishalati. (Kifayah al-Akhyar, Fashal Fii al-Mu’tadati al‬‬‫‪Raj’iyah juz I, hal.164).‬‬

‫مللا ‪َ :‬ال ّ‬
‫ش لهِي ْد ُ فِللى‬
‫ن ل َي ُغْ َ‬
‫ص لّلى ع َل َي ْهِ َ‬
‫ن َول ي ُ َ‬
‫س لل َ ِ‬
‫َوإث ْن َللا ِ‬
‫ق ُ‬
‫ست َهِ ْ‬
‫ل‬
‫س ْ‬
‫معَْرك َةِ ْالك ُ َّ‬
‫ط ّال ِ‬
‫م يَ ْ‬
‫فارِ َوال ّ‬
‫ذى ل َ ْ‬
‫َ‬
‫‪Artinya : Dan dua orang yang tidak dimandikan dan tidak‬‬
‫‪dishalati atas mereka: (1) orang yang meninggal dalam‬‬
‫)‪medan pertempuran melawan orang-orang kafir dan (2‬‬
‫‪janin yang jatuh (bayi kluron) yang belum sempat‬‬
‫‪menangis.‬‬

‫مللا ال ّ‬
‫ش لهِي ْد ُ فِللي‬
‫ن ل َ ي ُغْ َ‬
‫ص لّلى ع َل َي ْهِ َ‬
‫ن وََل ي ُ َ‬
‫س لل َ ِ‬
‫)َواث ْن َللا ِ‬
‫ق ُ‬
‫س لت َهِ ْ‬
‫ص لّلى‬
‫س ْ‬
‫معَْرك َةِ ال ْك ُ ّ‬
‫م يَ ْ‬
‫فارِ َوال ّ‬
‫ط ال ّلذ ِيْ ل َل ْ‬
‫َ‬
‫ل ( وَي ُ َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ُ‬
‫صد ُقُ ع َلى كل ّ‬
‫ن ال ّ‬
‫ن‬
‫نا ْ‬
‫مأ ّ‬
‫خت َل َ‬
‫ع َلي ْهِ إ ِ ْ‬
‫ل َ‬
‫ج اع ْل ْ‬
‫شهِي ْد َ ي َ ْ‬
‫مل ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫قُت ِ َ‬
‫ت‬
‫حلَر‬
‫ت ب ِغَلَر‬
‫ق أوْ َ‬
‫ق أوْ َ‬
‫ملا َ‬
‫هلد َم ٍ أوْ َ‬
‫ملا َ‬
‫ملا أوْ َ‬
‫ل ظ ُل ْ ً‬
‫ٍ‬
‫ٍ‬
‫َ‬
‫شل ً َ‬
‫َ‬
‫مب ْط ُ‬
‫ع ْ‬
‫ت فِللي‬
‫ت ِ‬
‫ملات َ ْ‬
‫ملَرأة ٌ وَ َ‬
‫ت إِ ْ‬
‫قا أوْ ك َللان َ ْ‬
‫ملا َ‬
‫ونا ً أوْ َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫حوِ ذ َل ِلك وَكل َ‬
‫داِر‬
‫جلأة ً أوْ فِللي َ‬
‫ت فُ ْ‬
‫ق وَن َ ْ‬
‫مللا َ‬
‫ن َ‬
‫ذا َ‬
‫مل ْ‬
‫الطل ِ‬
‫َ‬
‫م ُ‬
‫داٌء‬
‫ن الّرفْعَل ُ‬
‫ملعَ ِ‬
‫ش له َ َ‬
‫ال ْ َ‬
‫صلد ْقِهِ أن ّهُل ْ‬
‫ة وَ َ‬
‫ب قَللال َ ُ‬
‫حْر ِ‬
‫ه اب ْل ُ‬
‫مـللوَْتى‬
‫سللل ُوْ َ‬
‫م كَ َ‬
‫فََهللؤ َُلُء ي ُغْ َ‬
‫سللِائرِ ال ْ‬
‫صللّلي ع َل َي ِْهلل ْ‬
‫ن وَي ُ َ‬
‫شهادة ل َهم أ َنه َ‬
‫ن‪.‬‬
‫حَياٌء ِ‬
‫م ي ُْرَزقُ لوْ َ‬
‫مأ ْ‬
‫عن ْلد َ َرب ّهِ ل ْ‬
‫معَْنى ال ّ َ َ ِ ُ ْ ّ ُ ْ‬
‫وَ َ‬
‫َ‬
‫ف‬
‫ل ال ْك ُ ّ‬
‫ح لّر ٍ‬
‫مت َ َ‬
‫م لد َب ًّرا غ َي ْلَر ُ‬
‫فللارِ ُ‬
‫ما َ‬
‫ن َ‬
‫ما َ‬
‫وَأ ّ‬
‫ت ِْفي قَِتا ِ‬
‫م ْ‬
‫ل ِقتا َ‬
‫فئ َةِ أ َوْ َ‬
‫قات ِ ُ‬
‫ة‬
‫ن يُ َ‬
‫حي ًّزا ِإل‬
‫معَ ً‬
‫ى ال ْ ِ‬
‫كا َ‬
‫مت َ َ‬
‫ل رَِياًء وَ ُ‬
‫س ْ‬
‫ل أوْ ُ‬
‫ِ َ ٍ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ّ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫س ُ‬
‫ذا َ‬
‫فَهَ َ‬
‫صلللى‬
‫شهِي ْد ٌ ِفي ال ُ‬
‫ه ل ي ُغْ َ‬
‫معَْنى أن ّ ُ‬
‫حكم ِ ب َ‬
‫ل وَل ي ُ َ‬
‫َ‬
‫ع َل َي ْهِ وَهُوَ َ‬
‫ت‬
‫ن ال ِ‬
‫شهِي ْد ٌ ِفي الد ّن َْيا د ُوْ َ‬
‫مللا َ‬
‫ن َ‬
‫ما َ‬
‫خَرةِ وَأ ّ‬
‫م ْ‬
‫ضللي‬
‫ل ال ْك ُ ّ‬
‫ب ال ْ ِ‬
‫مْر ِّ‬
‫ل ع ََلى ال ْلوَ ْ‬
‫فارِ ب ِ َ‬
‫جه ِ ا ل ْ َ‬
‫سب َ ِ‬
‫قَتا ِ‬
‫ِفي قَِتا ِ‬
‫ذا َ‬
‫فَهَ َ‬
‫ة‪ ) .‬كفاية الخيار‪ ،‬فصل ويلزم‬
‫شهِي ْد ٌ الد ّن َْيا َوال ِ‬
‫خَر ِ‬
‫في الميت‪ ،‬جزء ‪ 1‬ص ‪( 154‬‬

‫‪220‬‬

Talqin Saat Naza’ (Sakaratul Maut)
Talqin terhadap orang yang akan meninggal dunia adalah
mengajari ucapan kalimah toyyibah supaya dalam akhir hayatnya
tetap membawa kalimat “Laa Ilaha Illallah, Muhammad
Rasulullah”.

َ َ‫ع‬
ُ ‫سللو‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫ه َقا‬
‫ل‬
ُ ْ ‫سعِي ْد ٍ ال‬
ِ ‫خد ْرِىّ َر‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ن أِبى‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ّ ‫ى الل‬
ْ
َ ‫ض‬
ََ ‫م ل َ إ ِل‬
َ
ُْ ‫موَْتاك‬
ّ ‫ه إ ِل‬
ّ ‫ » ل‬: -‫صلى الله عليه وسلم‬- ِ‫الل ّه‬
َ ‫قُنوا‬
‫ن‬
‫حي‬
َ ‫ث‬
ْ َ ‫ أ‬.«‫ه‬
ِ ‫ص‬
ِ ‫دي‬
ِ ‫حل‬
ِ ‫ح‬
َ ‫ن‬
َ ‫خَر‬
ْ ‫م‬
ٌ ِ ‫سل‬
ُ ‫ه‬
ُ ‫ج‬
ُ ّ ‫الل‬
ّ ‫م ِفى ال‬
ْ ‫م‬
ِ ‫خال ِلد ِ ب ْل‬
ِ
َ
َ ‫خرج‬
َ
ْ ‫م‬
ِ ‫دي‬
ِ ‫ح‬
ِ ‫ضا‬
َ ‫ث أب ِللى‬
َ ‫ن‬
ً ْ ‫ه أي‬
َ ‫ما‬
ُ ‫ن‬
ُ َ َ ْ ‫ن وَأ‬
َ ْ ‫سل َي‬
َ
ْ ‫م‬
ْ َ ‫خل َد ٍ ع‬
ٍ ‫حللازِم‬
َ
. َ ‫ن أِبى هَُري َْرة‬
ْ َ‫ع‬
.‫ صحيح مسلم باب تلقين الموتى‬.1
‫ سنن أبي داود باب مافى التلقين‬.2
‫ السنن الكبرى للبيهقى وفي ذيله بللاب مللا يسللتحب‬.3
. ‫من تلقين الميت‬

Dari said dan Abu Hurairoh ra. Mereka berkata, Rasul bersabda:
“Ajarilah orang mati kalian dengan kalimat Laa Ilaha Illallah”.
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim pada kitab sahihnya, dari
cerita Khalid bin Makhlad, dari sulaiman. Imam Muslim juga
meriwayatkan hadits ini dari cerita Abi Khazim, dari Abu Hurairah.
Yang dimaksud hadits di atas adalah Rasulullah mengutus
kita agar mengajari orang yang sedang naza’ (menjelang
meninggal dunia) dengan ucapan kalimat tauhid. Sebagaimana
firman Allah:

22
1

‫حي َللاةِ اللد ّن َْيا‬
َ ْ ‫مُنوا ْ ِبلال‬
ِ ِ ‫ل الث ّللاب‬
ِ ّ ‫ه ال‬
َ ْ ‫ت فِللي ال‬
َ ‫نآ‬
ُ ّ ‫ت الل‬
ُ ّ ‫ي ُث َب‬
ِ ْ ‫قو‬
َ ‫ذي‬
ّ ‫ه ال‬
ُ َ‫فع‬
ّ ‫ض‬
َ َ ‫ما ي‬
) ‫شللاء‬
ْ َ ‫ن وَي‬
ِ ‫وَِفي ال‬
ِ ِ ‫ظال‬
ِ ُ ‫خَرةِ وَي‬
َ ‫ه‬
ُ ّ ‫ل الل‬
ُ ّ ‫ل الل‬
َ ‫مي‬
(27
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan
Ucapan yang teguh itu[788] dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan
memperbuat apa yang Dia kehendaki”. (Q.S. Ibrahim:27)
[788] Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah
kalimatun thayyibah yang disebut dalam ayat 24.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa sangat di
anjurkan mengajari kalimat tauhid kepada orang yang akan
meninggal dunia, karena pada saat menjelang kematiannya akan
menjadi tolak ukur kebahagiaan dan kesengsaraan kehidupan
manusia di akhirat selanjutnya.
Posisi Jenazah Ketika Dishalati
1.Posisi jenazah ketika dishalati
a.Posisi jenazah laki-laki yaitu posisi kepala terletak di
sebelah kiri imam
b.Posisi jenazah perempuan yaitu posisi kepala terletak di
sebelah kanan imam.

ُ ْ ‫صي‬
َ َ‫جرِىْ ه‬
‫ى‬
ْ ّ ‫ذا الت‬
َ ِ‫ص لل َة‬
ِ ‫ف‬
ِ ْ‫ل ِفى ال ْوُقُو‬
ْ َ ‫وَي‬
ّ ‫ف فِللى ال‬
َ ‫عل ل‬
َ َ ‫ن قا‬
‫خلَرى‬
َ ْ ‫م ِلهذ ِهِ ال‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ُ ‫علد َة ٌ ا‬
ِ َ ‫عد َةِ قا‬
ِ ‫قا‬
َ ُ ‫ل وَي‬
ْ َ ‫قب ْرِ ا َِلى ا‬
ّ ‫ض‬
ْ ‫سيأ‬
َ ‫ي‬
ُ ‫جعَ ل‬
‫ل‬
‫ف‬
‫ها‬
‫ب‬
‫ح‬
‫ي‬
‫ر‬
‫ص‬
‫ت‬
‫ال‬
‫ت‬
ِ ‫ى‬
ِ
ِ
ّ
ْ ُ‫ي ي‬
ُ
ْ
َ َ
ِ
َ
ْ
َ ‫عبا ََرةِ ال ْب َْرما َوِىّ وَه ِل‬
ْ
ِ
ْ
ْ
َ ْ‫مع‬
ُ َ ‫حي ْن َئ ِذ ٍ ي‬
‫س‬
ِ َ‫صللّلى ف‬
ِ َ‫ت ي‬
ِ ‫مّيلل‬
ُ ْ‫كللو‬
ُ ْ ‫ن ال‬
َ ْ ‫م ال‬
ُ ‫ظلل‬
ُ
ُ ‫ن َرأ‬
َ ‫م‬
َ ‫مْيلل‬
ْ
ْ
ّ َ ‫م‬
‫س‬
ُ ْ ‫جهَلةِ َيس لا َِرى ال‬
ِ ‫ي‬
ْ ‫الذ ّك َرِ فِل‬
ِ ْ ‫ص للى وَال ُن ْث َللى ب لا ِلعَك‬
(188 ‫ ص‬2 ‫)حاشية الجمل على المنهاج الجزء‬

2. Posisi imam shalat jenazah
222

a.Untuk jenazah laki-laki, posisi imam berdiri lurus searah
dengan kepala jenazah.
b.Untuk jenazah perempuan, posisi imam berdiri lurus
searah dengan pantat jenazah. (Hasyiyah al-Jamal ‘Ala alMinhaj, juz II, hal. 188)

ْ ‫ويقف ندبا ً غ َير‬
ْ
‫س‬
َ ْ ‫من‬
ِ ٍ ‫ف لرِد‬
ْ َ ُ ََِ
ُ َ‫موْم ٍ فِللى ِإم لا َم ٍ و‬
ُ ‫مأ‬
َ ُْ
ِ ‫عن ْلد َ َرأ‬
ُ ْ ‫مل‬
َ َ‫ذ‬
‫خن ْث َللى )حاشللية الجمللل‬
ُ َ‫ى و‬
ِ ِ‫جزِ غ َي ْلرِه‬
ِ َ ‫كر وَع‬
َ ‫ن ان ْللث‬
(188 ‫ ص‬2 ‫على المنهاج الجزء‬

Shalat Jenazah bagi Wanita
Hukum shalat jenazah adalah fardlu kifayah (yang
mengerjakan satu menggugurkan kewajiban yang lain). Shalat
jenazah bagi wanita hukumnya adalah sah. Tatapi ulama’ masih
khilaf tentang apakah shalat jenazah orang wanita dapat
menggugurkan kewajiban shalat jenazah bagi orang laki-laki?
a. Menurut Imam Ibnu Muqri dan dikukuhkan oleh imam alRomli bahwa shalatnya orang perempuan sah dan hanya
dapat menggugurkan fardu kifayah dari golongan
perempuan saja, artinya tidak dapat menggugurkan
kewajiban kaum laki-laki.

َ ْ ‫ذا صل ّت ا َل‬
َ َ‫سق‬
‫ساءِ )شرح المنهج‬
َ ْ ‫ط ا َل‬
َ ّ ‫ن الن‬
َ ُ ‫مْرأة‬
َ
ْ َ َ ِ ‫وَا‬
ُ ‫فْر‬
ِ َ‫ض ع‬
(181, 2 ‫جز‬
Perempuan yang shalat jenazah hanya bisa menggugurkan
kewajiban bagi kalangan perempuan saja (tidak bisa
menggugurkan kewajiban bagi laki-laki). (Sarayh, al-Minhaj,
juz II, hal. 181)
b. Menurut Ibnu Hajar, melaksanakan shalat jenazah bagi
perempuan sah dan bisa menggugurkan kewajiban shalat
jenazah bagi yang lain dengan syarat tidak ada orang laki-

22
3

laki. Dan shalat jenazah tersebut
berjama’ah bagi golongan perempuan.

disunnahkan

pula

َ
ُ ُ‫س لق‬
‫ن‬
ِ ِ‫ط ب‬
ْ َ ‫ن وَت‬
ُ ‫ن فَت َل َْز‬
ْ َ ‫ما ِاذا َ ل‬
ّ ‫أ‬
ّ ‫فعْل ِهِ ل‬
ّ ‫مه ُ ل‬
ّ ‫ن غ َي ُْرهُ ل‬
ْ ُ ‫م ي َك‬
‫ة‬
ُ َ ‫ماع‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ُ ‫وَت‬
َ ‫ج‬
ّ ُ‫ن ل َه‬
ّ ‫س‬
(181, 2 ‫)شرح المنهج جز‬

(Shalat jenazah) boleh bagi perempuan selagi tidak ada
yang lain (orang laki-laki) dan juga dapat menggugurkan
kewajiban orang laki-laki serta disunnahkan pelaksanaan
shalat jenazah dengan berjama’ah. (Sarakh al-Minhaj, juz II,
hal. 181)

Hukum Melaksanakan Shalat Jenazah Tanpa Wudlu
Pada suatu saat, setelah melaksanakan shalat jenazah,
Sanimo ditanya temannya kenapa kamu shalat jenazah tanpa
sesuci? Shalat itu kan harus punya wudlu’?. Bagaimanakah status
shalat Sanimo dalam kasus di atas?
Hukumnya khilaf:
a. Tidak sah. Menurut ijma’ ulama’, setiap bentuk shalat yang
diawali takbir dan diakhiri dengan salam harus dalam
kondisi suci meskipun dalam shalat jenazah tanpa ruku’,
i’tidal, sujud dan tahiyyat.

ّ ‫ح ا ِل‬
ٌ ‫)َفللْر‬
ِ َ ‫جن َللاَزةِ ل َت‬
ّ ‫صل‬
َ ْ ‫ص لل َة َ ال‬
ّ َ ‫مللذ ْهَُبنا َ ا‬
َ َ ‫ع( ذ َك ََرنللا‬
َ ‫ن‬
،‫ه‬
ِ ِ ‫ح ا ِل ّ ب‬
ِ َ‫م ت‬
ِ ‫ن‬
ّ ‫ص‬
ُ ُ‫ن ْالو‬
ْ ِ ‫مْعنا َه ُ إ‬
ْ َ ‫ضوِْء ل‬
َ َ‫ن ت‬
َ َ‫ب ِط ََهاَرةٍ و‬
َ ‫م‬
َ ّ ‫مك‬
َ ‫م‬
،‫ملاِء‬
ِ َ ‫ وََل ي‬،‫م‬
ّ ‫صل‬
َ َ‫ن ع‬
ْ ِ ‫وَإ‬
َ ْ ‫ن ال‬
ْ ِ ‫ملعَ إ‬
َ ِ ‫ملم‬
ّ َ ‫ح الت ّي‬
َ ‫مل‬
ّ َ ‫جَز ت َي‬
ِ ‫كلا‬
‫ت )المجموع شرح المهذب جللز‬
َ ‫ن‬
َ ‫خا‬
ِ ْ‫ت ال ْوَق‬
ْ ِ ‫وَإ‬
َ ْ‫ف فَو‬
(177 ‫ ص‬5
Telah saya sebutkan bahwa sesungguhnya shalat jenazah
itu tidaklah sah kecuali dengan bersuci. Artinya apabila
seseorang masih mungkin berwudlu’, maka shalat jenazah
tersebut tidak sah kecuali dilakukan dengan memakai
wudlu’. (Al-Majmu’ syarh al-Muhadzab jld V, hal. 177)
224

b. Sah. Menurut Imam Ibnu Jarir dan Imam Syi’bi. Karena
shalat jenazah merupakan bentuk do’a bukan seperti shalat
maktubah atau yang lain.

َ َ ‫َوقا‬
ّ ‫جرِي ْلرٍ َالط ّب َلرِيّ َوال‬
ّ ‫ل ال‬
‫ة‬
ُ َ‫ش لي ْع‬
َ ‫ن‬
َ ‫م‬
ّ ‫ح‬
ُ َ‫ى و‬
ُ ‫مد ُ اب ْل‬
ْ ِ ‫شعْب‬
ِ‫ض لوْء‬
ُ ُ‫ن ال ْو‬
َ ْ ‫صل َة ُ ال‬
ُ َ‫ت‬
ْ ِ ‫معَ ا‬
َ ِ‫جنا ََزةِ ب ِغَي ْرِ الط َّهاَرة‬
َ ‫جوُْز‬
ِ ‫مك َللا‬
َ
‫ ص‬،5 ‫عاٌء )المجموع شرح المهذب ج‬
َ ُ ‫مم ِ ِلن َّها د‬
ّ َ ‫َوالت ّي‬
(177
Asya’bi, Muhammad bin Jarir al-Thabari dan kaum syi’ah
berkata diperbolehkan shalat jenazah dengan tanpa
bersuci,
meskipun
masih
memungkinkan
untuk
mengerjakan wudlu’ dan tayammum, karena shalat
jenazah itu hanya sekedar do’a. (Al-Majmu’ syarh alMuhadzab jld V, hal. 177)

Kesaksian Terhadap Jenazah
Ketika jenazah hendak diberangkatkan ke pemakaman
dilakukan acara Ibro’ terlebih dahulu di hadapan masyarakat,
keluarga dan sanak famili yang ditinggalkannya untuk
memohonkan maaf buat jenazah atas kesalahannya dan
penyelesaian utang-piutang selama hidupnya, dalam kesempatan
itu yang menarik adalah permintaan kesaksian masyarakat
(isyhad) terhadap nilai perilaku jenazah selama hidupnya.
Bagaimanakah hukum memberi kesaksian kepada jenazah yang
akan diberangkatkan ke pemakaman?
Tradisi ibro’ yang telah berlaku di masyarakat ini hukumnya
boleh (disunnahkan), bahkan dianjurkan memberi pujian baik
kepada jenazah asalkan si mayit memang pantas untuk dipuji.
Sebagaimana keterangan di bawah ini:

22
5

‫سن ِهِ ) الذكار‬
ِ ‫حا‬
ِ ّ ‫مي‬
َ ‫م‬
ّ ‫ح‬
َ َ ‫ست‬
ْ ُ ‫و َي‬
َ ‫ت وَذ ِك ُْر‬
َ ْ ‫ب الث َّناُء ع ََلى ال‬
( 150 ‫النواوى ص‬
Disunnahkan memuji atas mayit dan menyebutkan kebaikannya.
(al-Adzkar al-Nawawi hal.150)

‫ن‬
َ ْ ‫ن أ َد‬
َ ‫ن َرَأى‬
َ ْ‫ن ذ ِك ُْره ُ ( ل ِي َك ُو‬
ْ ِ ‫) فَإ‬
ُ ‫خي ًْرا‬
ُ ْ ‫عى ل ِك َث َْرةِ ال‬
َ ‫م‬
َ ‫صّلي‬
ّ ‫س‬
‫ن‬
َ ِ ‫ه وَل‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫دا‬
ِ ‫حا‬
َ ‫م‬
َ ْ ‫ن َوال‬
ّ ‫ع َل َي ْهِ َوال‬
َ ‫حاك ِم ِ ا ُذ ْك ُُرْوا‬
ُ َ‫ن ل‬
َ ‫س‬
ِ ‫حّبا‬
َ ‫عي‬
ِ ْ ‫خب َرِ اب‬
‫م‬
ّ َ ‫م وَك‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫ساِويه‬
َ ‫فوا عن‬
ْ ُ ‫موَْتاك‬
َ

Sunnah hukumnya menyebut kebaikan si mayit apabila
mengetahuinya. Tujuannya tiada lain untuk mendorong agar
lebih banyak yang memintakan rahmat dan berdoa untuknya. Hal
ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dan Hakim: Sebutlah
kebaikan seseorang yang meninggal dunia dan hindari membuka
aibnya. Fathu al-Wahab, bab Kitab al-Janaaiz juz 1 hal. 91.

َ
ُ ‫سو‬
َ ‫َقا‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ل َر‬
ُ ‫مللا‬
َ ّ ‫» أي‬: - ‫ صلى الله عليه وسلم‬- ِ‫ل الل ّه‬
ٍ ‫سللل ِم‬
َ
َ
َ ‫ قَللا‬.« ‫ة‬
َ
‫ة‬
َ ْ ‫خي ْرٍ أد‬
َ ِ‫ة ب‬
ٌ ‫ وَث َل َث َل‬: ‫ل قُل ْن َللا‬
َ ّ ‫جن‬
ٌ َ‫ه أْرب َع‬
َ ْ ‫ه ال‬
ُ ّ ‫ه الل‬
ُ َ ‫خل‬
ُ َ ‫شهِد َ ل‬
َ ‫ َقا‬.« ‫ن‬
َ ‫ن َقا‬
َ ‫ َقا‬.« ‫ة‬
َ ‫َقا‬
:‫ل‬
ٌ َ ‫» وَث َل َث‬: ‫ل‬
ِ ‫» َواث َْنا‬: ‫ل‬
ِ ‫ َواث َْنا‬: ‫ل قُل َْنا‬
َ
َ ُ ‫حد ِ رواه ال ْب‬
ِ ‫وا‬
ْ َ‫م ن‬
ُ ْ ‫سأل‬
ْ َ‫ل‬
ّ‫خارِى‬
َ ْ ‫ن ال‬
ِ َ‫ه ع‬
Nabi bersabda: Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang
baik-baik oleh 4 orang, Allah akan memasukkan ke surga. Kami
(para sahabat) bertanya: kalau disaksikan 3 orang? Nabi
menjawab: kalau disaksikan 3 orang juga masuk surga. Kalau
disaksikan 2 orang? Nabi menjawab: 2 orang juga. Kami (para
sahabat) tidak menanyakan lagi bagaimana kalau hanya
disaksikan oleh 1 orang. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dalam kitab sahihnya,
(Riyad al-Shalikhin, bab Fadl Man Maata Lahu Aulaadun Shighor
hal 388).

226

Mengantar Jenazah Sambil Mengucap Lafadz LAA ILAHA
ILLALLAH.
Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat apabila
mengiringi jenazah menuju ke pemakaman, dengan diiringi
bacaan kalimat tahlil (Laa Ilaha Illallah). Bagaimanakah hukum
membaca kalimat tersebut?
Tradisi seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama,
dan amalan tersebut tidak dilarang oleh agama, sebab selain
mengandung nilai-nilai kebaikan dengan berdzikir kepada Allah
Swt. perbuatan itu tentu jauh lebih baik dari pada berbicara
masalah duniawi dalam suasana berkabung, sebagaimana
dijelaskan oleh syekh Muhammad Bin A’lan al-Siddiqi dalam
kitabnya al-Futukhat al-Rabbaniyah;

ْ َ ْ ‫جّر‬
ِ‫جنا ََزة‬
ِ َ ‫ى ب َل‬
َ ْ ‫م ال‬
َ ْ ‫دنا َ َزب ِي ْد ٍ ِبال‬
َ ْ ‫وَقَد‬
َ َ ‫جهْرِ بِالذ ّك ْرِ َاما‬
ْ ِ‫ت الَعاد َة ُ ف‬
‫وى‬
ُ ‫ماِء وَْال‬
ِ ٍ‫ضر‬
َ َ ‫صل‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م‬
ْ ‫مل‬
ّ َ ‫حاِء وَقَد ْ ع‬
َ َ ‫ن ْالعُل‬
َ ِ‫ب‬
ّ ‫فقََهاِء َوال‬
َ ‫ت ا َل ْب َل ْل‬
َ ‫م‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫ن ا‬
َ ‫مللا‬
‫ث‬
ِ ْ ‫حللد ِي‬
ِ ُ ‫دنا َه‬
َ ْ ‫ن ِبال‬
ْ ِ ‫شللاه‬
ُ ْ ‫ب ال‬
َ ِ‫ب‬
ٍ ِ ‫ل غللا َل‬
َ ْ ‫شللي ّعِي‬
ٍ ‫شللت َِغا‬
ْ ‫ملل‬
ْ َ ‫مل‬
َ ِ ‫م ذ َل‬
ِ ‫ك ا َِلى ال ْغِي ْب َلةِ ا َوْ غ َي ْرِهَللا‬
َ َ ‫ما ا‬
ْ ُ‫داه‬
َ ّ ‫َالد ّن ْي َوِيّ وَُرب‬
ِ ‫ن الك َل َم‬
َ ْ‫شغ‬
ُ ‫ن‬
‫ي‬
ْ ِ ‫مةِ َفال ّذ ِيْ ا‬
ِ ‫ما‬
ّ ِ ‫خَتاَره ُ ا‬
َ ‫م‬
ْ ِ‫ل ا‬
ُ ْ ‫م ِبالذ ّك ْرِ ا َل‬
ْ ِ ‫عه‬
َ ‫س‬
َ ‫حّر‬
ُ ْ ‫ا َل‬
ْ ّ ‫ملؤ َد‬
ْ
ْ َ ‫ك ْالك َل َم ِ وَت‬
ِ ‫قل ِي ْل ِهِ ا َوَْلى‬
ِ ‫ا َِلى ت َْر‬
َ ‫ست ِْر‬
ْ ‫نا‬
ْ ِ‫سللال ِه‬
ِ ‫م فِللى الك َل َم‬
ِ ‫م‬
َ
َ .‫ن‬
َ ِ ‫الللد ّن ْي َوِيّ ا ِْرت‬
َ ْ ‫هللوَ ال‬
ْ ‫م‬
ّ ‫كابللا ً ِبللأ‬
ُ‫عللد َة‬
ِ ‫قا‬
ُ َ ‫كمللا‬
ِ ‫خ‬
َ ‫ف‬
َ ْ ‫ف ال‬
ِ ْ ‫سللد َت َي‬
ُ ْ ‫واٌء َالذ ّك ُْر َوالت ّهْل ِي‬
ّ ‫ال‬
‫ر‬
ُ ّ ‫عي‬
ِ ‫شْر‬
ِ ‫ل وَغ َي ُْرهَللا‬
َ َ‫ة و‬
َ ‫ن ا َن ْل‬
ْ ‫مل‬
َ ‫س‬
ِ ْ ‫واِع ال لذ ّك‬
‫ ص‬4 ‫م )الفتوحات الربانية على اذكر النواويللة ج‬
ُ َ ‫ه ا َع ْل‬
ُ ‫َوالل‬
(183
Telah menjadi tradisi di daerah kami Zabith untuk mengeraskan
dzikir di hadapan jenazah (ketika mengantar ke kuburan). Dan itu
dilakukan di hadapan para ulama’, ahli fiqih dan orang-orang
saleh. Dan sudah menjadi kebiasaan buruk yang telah kita
ketahui, bahwa ketika mengantarkan jenazah, orang-orang sibuk

22
7

dengan perbincangan masalah-masalah duniawi, dan tidak jarang
perbincangan itu menjerumuskan mereka ke dalam ghibah atau
perkataan lain yang diharamkan. Adapun hal yang terbaik adalah
mendengarkan dzikir yang menyebabkan mereka tidak berbicara
atau meminimalisir pembicaraan adalah lebih utama dari pada
membiarkan mereka bebas membicarakan masalah-masalah
duniawi. Ini sesuai dengan prinsip memilih yang lebih kecil
mafsadahnya, yang merupakan salah satu kaidah syar’iyah. Tidak
ada bedanya apakah yang dibaca itu dzikir, tahlil ataupun yang
lainnya, WaAllahu a’lam. (Al-Futukhat al-Rabbaniyah ‘ala Adzkari
al-Nabawiyah juz IV, hal. 183)
Dan lebih jelas lagi di terangkan dalam kitab Tanwirul Qulub,
bahwa disunnahkan melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, membaca
dzikir atau membaca shalawat kepada nabi Muhammad Saw., dan
dilarang gaduh atau berbincang-bincang tentang perkara yang
tidak berguna:

ْ ‫م‬
‫فك ّلُر فِللى‬
َ ّ ‫سلَراع ُ ب ِهَللا َوالت‬
ْ ِ ‫مَها وَقُْرب َهَللا وَا ْل‬
َ ُ ‫وَي‬
َ ‫ما‬
َ َ‫ي ا‬
َ ْ ‫ن ال‬
ُ ‫ش‬
ّ ‫س‬
ُ
ْ
ُ
ّ
َ
‫م لوْرِ ال لد ّن َْيا‬
ُ ْ ‫ح لد ِي‬
ِ ْ ‫مو‬
َ ‫ وَك ُرِه َ اللغَط َوال‬. ُ ‫ت َوماب َعْد َه‬
ُ ‫يا‬
َ ْ ‫ال‬
ْ ‫ث فِ ل‬
َ ُ ْ ‫ورفْلع الصلوت ا ِل ّ بللال‬
‫ي‬
ِ َ ‫ص لل‬
ِ ْ ّ
ِ
ّ ‫ن َْْوال لذ ّك ْرِ َوال‬
ّ ‫ت ع َل َللى الن ّب ِل‬
ِ ‫قْرأ‬
ِ ََ
َ
ْ
ْ
ّ
َ
َ
َ
َ
) .‫ت‬
ِ ّ ‫مي‬
ِ ‫ه‬
َ ‫س ب ِهِ ال‬
َ َ‫ه ع َلي ْهِ و‬
َ ‫شَعاٌر ل ِل‬
ُ ّ ‫ن ِلن‬
َ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ‫م فل ب َأ‬
َ
( 213 ‫تنوير القلوب ص‬
Para pengantar jenazah yang berjalan kaki disunnahkan berjalan
di depan keranda atau di dekatnya sambil berjalan cepat dan
berfikir tentang dan sesudah mati. Tetapi tidak disunnahkan bagi
para pengantar jenazah untuk gaduh, bercakap-cakap urusan
dunia, apalagi dengan suara keras, kecuali melantunkan ayatayat al-Qur’an, membaca dzikir, atau shalawat kepada nbi karena
hal ini menambah syi’ar bagi si mayit. (Tanwir al-Qulub halaman
213)
Talqin Mayit
228

Talqin mayit adalah mengajari dan menuntun aqidah kepada
mayit, dengan harapan si mayit mampu menjawab pertanyaan
malaikat Munkar dan Nakir.

ُ ْ ‫قو‬
َ ِ‫ظ إ‬
ْ ‫ل يا َ ع َب ْد َ الل لهِ إ ِل َل‬
‫ذا‬
َ َ ‫ي ب ِل‬
ُ َ‫ه ي‬
ٍ ‫فل‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
ّ ‫خ ( َرَواه ُ الط ّب َْران ِل‬
َ
‫م‬
ُ َ ‫ب ع َل َللى قَب ْلرِهِ فَل ْي‬
ْ ِ‫ن إ‬
ِ ٌ ‫حد‬
َ ‫م الت َّرا‬
َ ‫تأ‬
َ َ‫م ف‬
ْ ‫قل‬
ُ ُ ‫سوَي ْت‬
ْ ُ ‫وان ِك‬
َ َ ‫ما‬
َ ‫خ‬
ْ ‫م‬
ْ
َ
َ ْ ُ ‫حد ُك‬
ْ ‫قل‬
‫ه‬
ُ َ ‫م ل ْي‬
ُ َ ‫ل ي لا َ فُل‬
َ ‫أ‬
ُ ّ ‫ن فُل َن َلةٍ فَ لإ ِن‬
ّ ُ ‫س قَب ْرِهِ ث‬
ُ ‫ن اب ْل‬
ِ ‫م ع َلى َرأ‬
ُ ْ ‫قو‬
‫م‬
ُ َ‫م ي‬
ِ َ ‫س لت َوِيْ قا‬
ً ‫عل‬
ُ َ ‫ل يا َ فُل‬
ْ َ‫ه ي‬
ْ َ‫ي‬
ّ ‫دا ث ُل‬
ُ ّ ‫ن فُل َن َةٍ فَإ ِن‬
ّ ُ‫ه ث‬
ُ ُ‫مع‬
َ ‫س‬
ُ ْ ‫ن اب‬
َ
َ ‫مل‬
ُ ْ ‫ق لو‬
ُ ْ‫قو‬
َ ‫ل أْر‬
‫ه‬
ُ َ‫ه ي‬
ُ َ‫ي‬
َ ‫دنا َ ي َْر‬
ْ ‫شل‬
ُ َ ‫ل يا َ فُل‬
ُ ‫ك اللل‬
ُ ‫ح‬
ُ ّ ‫ن فُل َن َلةٍ فَلإ ِن‬
ُ ْ ‫ن اب‬
َ ‫ن اللد ّْنيا‬
َ
ُ
ْ
َ
ْ ‫ق‬
ْ َ‫ن ل َ ت‬
ُ َ ‫ن فَلي‬
َ ‫ما‬
ِ ِ‫ت ع َلْيله‬
ْ ‫خَر‬
َ ْ‫شعَُرو‬
َ ‫جل‬
َ ‫ل اذ ْك ُْر‬
َ ‫مل‬
ْ ِ ‫وَلك‬
َ
َ
َ ‫ه وَأن ّل‬
‫ك‬
ً ‫مل‬
َ ‫م‬
ّ ‫شهادة أن ل إله إل الله وَأ‬
ُ ‫دا ع َب ْلد ُه ُ وََر‬
ُ ُ ‫سلوْل‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫ن‬
ً ‫ن ِإمَاما‬
ُ ْ ‫مد ٍ ن َِبيا ّ وَِبال‬
ِ ‫َر‬
َ ‫م‬
ْ ِ ‫ت بِاللهِ َربا ّ وَِباْل‬
ّ ‫ح‬
ُ ِ ‫سل َم ِ د ِْينا َ وَب‬
َ ْ ‫ضي‬
ِ ‫قْرآ‬
(14 ‫ ص‬2 ‫ إعانة الطالبين ج‬.‫)رواه الطبرانى‬
Rasulullah bersabda; apabila salah seorang dari saudara kamu
meninggal dunia, maka ratakanlah tanah kuburannya, berdirilah
di atas kepala kuburan mayit, lalu berkatalah wahai fulan bin
fulan; sesungguhnya mayit tersebut mendengar ucapan itu, lalu
orang yang menalqin berkata: bahwa fulan bin fulan! bahwa
mayit tersebut mendengar ucapan itu, lalu mayit tersebut duduk,
dan orang yang menalqin berkata lagi, wahai fulan bin fulan,
sesungguhnya mayit itu berkata, tunjukkan aku maka engkau
akan diberi rahmat oleh Allah Swt., sesungguhnya kalian
(manusia) tidak mengetahuinya, lalu orang yang menalqin
berkata, aku ingatkan padamu (mayit) sesuatu (yang harus)
engkau bawa keluar dari dunia, yaitu penyaksian bahwa
sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah Swt. dan
sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-NYA,
dan sesungguhnya kamu ridho bahwa Allah Swt. adalah tuhanmu,
islam menjadi agamamu, Muhammad menjadi Nabimu dan AlQur’an menjadi imammu. (HR. Imam at Tabrani) (I’anat alThalibin, juz II, hal. 14)

22
9

Menurut Imam al-Adzra’i:
a.
Disunnahkan mentalqin mayit yang sudah baligh
sesuai dengan firman Allah yang artinya dan berdzikirlah
sesungguhnya dzikir itu memberikan manfaat kepada orangorang yang beriman.
b.
Tidak disunnahkan mentalqin anak yang belum
baligh karena dia tidak mendapat fitnah di dalam kuburnya,
begitu juga orang gila. Hal ini diterangkan dalam kitab I’anah
al-thalibin juz 2 halaman 140.

َ
َ ‫ق‬
َ
ٌ ْ‫معْط ُو‬
ِ ْ ‫ه وَت َل‬
ً ْ ‫ن أي‬
ْ ‫ف ع ََلى أ‬
َ ( ‫ن َبال ٍِغ‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
ْ‫ضللا أي‬
َ ّ َ ‫ن ي ُل‬
ُ ْ ‫قي‬
َ ِ ‫خ وَذ َل‬
ْ َ ‫ن َبال ٍِغ إ ِل‬
‫ن‬
َ ِ‫ك ل‬
ِ ْ ‫ب ت َل‬
ّ ِ ‫قوْل ِهِ ت ََعاَلى } وَذ ْك ُْر َفللإ‬
ُ َ ‫وَي ُن ْد‬
ُ ْ ‫قي‬
َ
‫ن ال ْعَب ْلد ُ إ ِل َللى‬
َ ْ ‫الذ ّك َْرى ت َن‬
ِ ْ ‫مؤ‬
ُ ْ‫مللا ي َك ُلو‬
ُ َ ‫حو‬
ْ ‫ن { وَأ‬
َ ‫ج‬
ُ ْ ‫فعُ ال‬
َ ْ ‫من ِي‬
‫ن‬
ْ ّ ‫ج ِبال َْبال ِِغ الط‬
َ َ‫حال َةِ و‬
َ ‫خَر‬
َ ْ ‫ي هَذ ِهِ ال‬
َ ُ ‫ل فَل َ ي‬
ّ ‫س‬
ِ ‫ف‬
ْ ِ‫الت ّذ ْك ِي ْرِ ف‬
َ ُ ‫قي ْن‬
‫م‬
ْ ُ‫ه ل َ ي‬
ِ َ‫ي قَب ْلرِهِ و‬
ْ ِ‫ن إ‬
ُ ْ‫جن ُلو‬
ْ ‫م‬
ْ ‫ن ل َل‬
َ ْ ‫ه ا َل‬
ُ ‫مث ْل ُل‬
ُ ّ ‫ه ِلن‬
ُ ِ ْ ‫ت َل‬
ْ ‫ن فِ ل‬
ُ َ ‫فت‬
‫ن‬
ّ َ ‫عب َللاَرة ُ الن َّهاي َلةِ وَل َ ي ُل‬
ِ َ‫ن و‬
ٌ ‫ه ت َك ْل ِي ْل‬
ْ َ‫ي‬
ُ ‫سلب ِقْ ل َل‬
ُ ‫قل‬
َ ‫ف وَإ ِل ّ ل ُقِل‬
ٌ ‫ف‬
َ َ ‫م ي َت‬
ً ِ ‫مَراه‬
ْ ِ‫ط‬
ٌ ْ ‫ه ت َك ْل ِي‬
َ ‫مللا قَي ّلد‬
ٌ ْ‫جن ُو‬
ْ ‫م‬
َ َ‫ف ك‬
ُ ‫م‬
َ ّ ‫قد‬
ْ َ‫ن ل‬
َ َ‫قا و‬
ُ ْ‫ل وَل َو‬
َ
‫ ص‬2 ‫ما اه اعانلة الطلالبين ج‬
ِ ‫ه ا ْلذ َْر‬
َ ِ‫ي ل ِعَد َم ِ ا ِفْت َِتان ِه‬
ُ ْ‫ت‬
ّ ‫ع‬
. 140

Dengan demikian talqin
diperintahkan oleh Rasulullah Saw.

mayit

adalah

hal

yang

Menyiram Kuburan dengan Air Bunga
Ketika berziarah, rasanya tidak lengkap jika seorang peziarah
yang berziarah tidak membawa air bunga ke tempat pemakaman,
yang mana air tersebut akan diletakkan pada pusara. Hal ini
adalah kebiasaan yang sudah merata di seluruh masyarakat.
Bagaimanakah hukumnya? Apakah manfaat dari perbuatan
tersebut?
230

Para ulama mengatakan bahwa hukum menyiram air bunga
atau harum-haruman di atas kuburan adalah sunnah.
Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam
Nihayah al-Zain, hal. 145

ْ
‫س‬
َ ْ ‫ش ال‬
ْ ‫م‬
ُ َ ‫وَي ُن ْد‬
ِ ‫ض‬
َ ْ ‫ماٍء با َرِد ٍ َتفا َؤ ُل ً ب ِب ُُروْد َةِ ال‬
َ ِ ‫قب ْرِ ب‬
َ ‫جِع وَل َ ب َأ‬
ّ ‫ب َر‬
َ
‫ب‬
َ ِ‫ب‬
َ ‫حل‬
ِ ُ‫ة ت‬
َ ‫مل َ ئ ِك َل‬
ِ ‫ل‬
َ ِ ‫ب الّرائ‬
ّ ‫حل‬
ّ ‫ماِء ال ْوَْرد ِ ل‬
َ ْ ‫ن ال‬
ّ ‫ن‬
ِ ‫ة الط ّي ْل‬
ْ ‫م‬
ٍ ْ ‫قل ِي‬
(154 ‫)نهاية الزين‬
Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin.
Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya
tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram
kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat
senang pada aroma yang harum. (Nihayah al-Zain, hal. 154)
Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi;

َ
َ ‫مَعاوِي َل‬
ٍ‫جاه ِلد‬
َ ‫م‬
َ :‫ي‬
ْ َ ‫حدَثنا َ ي‬
َ
ُ ‫ن‬
ُ ْ‫حد ََثنا َ أب ُو‬
ْ ‫ن العمللش ع َل‬
َ ‫ح‬
ِ ‫ة ع َل‬
‫ي‬
‫ن طاووس عن ابن‬
ّ ‫ن الن ّب ِل‬
ْ َ‫ع‬
ِ ‫عباس رضي الله عنهمللا ع َ ل‬
َ
َ َ ‫ن َفقا‬
ّ َ‫ن ي ُع‬
‫مللا‬
َ ِ ‫مّر ب‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ُ‫ إ ِن ّه‬:‫ل‬
َ ‫ه‬
ُ ّ ‫م أن‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ
ِ َ ‫ذبا‬
ِ ْ ‫قب ْ ََري‬
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ
ّ َ‫ن َوما ي ُع‬
ّ َ‫َللي ُع‬
‫س لت َِتر‬
َ ‫ما فكللا‬
َ ‫ما أ‬
ْ َ‫ن ل ي‬
َ ُ‫ح لد ُه‬
ّ ‫ي كب ِي ْرٍ أ‬
ْ ِ‫ن ف‬
ِ ‫ذبا‬
ِ ‫ذبا‬
َ
ُ َ‫م أ‬
َ ‫مللا ْال‬
ِ ‫خ لذ‬
ِ ّ ‫ي بِالن‬
ِ ‫م‬
ِ
َ ‫خلُر فَك َللا‬
ّ ‫ ث ُل‬. ِ‫ملة‬
َ ْ ‫مي‬
ْ َ‫ن ي‬
ّ ‫ل وَأ‬
ْ ‫شل‬
ِ ْ‫ن الب َلو‬
َ ‫م‬
ْ
ُ
ّ ‫م غ ُرَِز ِفي ك‬
ْ َ‫ة ف‬
،‫ة‬
ِ ‫ل قَب ْرٍ َوا‬
ً َ ‫جرِي ْد َة ً َرطب‬
ٍ َ ‫حللد‬
ِ ‫ش‬
َ
ّ ُ ‫ ث‬،‫ن‬
ْ َ ‫قَها ب ِن‬
ِ ْ ‫صفَي‬
َ
َ َ ‫ذا ؟ فق لا‬
َ ْ ‫سو‬
َ ‫ت ٰه ل‬
‫ن‬
َ َ‫ف‬
ْ ‫هأ‬
ُ ‫ يا َ َر‬:‫وا‬
ُ ‫ ) ل َعَل ّل‬:‫ل‬
َ ْ‫ص لن َع‬
َ ِ ‫ل اللهِ ل‬
َ ‫م‬
ْ ُ ‫قال‬
(1361 ‫سا( )صحيح البخارى رقم‬
ّ ‫خ‬
َ ُ‫ي‬
َ ‫ف‬
َ ِ ‫م ي َْيلب‬
ْ َ ‫مال‬
َ ‫ما‬
َ ُ‫ف ع َن ْه‬
Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah
kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua
orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda
kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini)
sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup

23
1

ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu
domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk
mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua
bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan
tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan
hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah
meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah
kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])
Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin;

َ
‫ف‬
ّ ‫خ‬
َ ْ ‫ضَراءَ ع ََلى ال‬
َ ُ‫ه ي‬
َ ٍ‫جرِي ْد َة‬
ُ ‫فل‬
ْ ‫خ‬
َ ُ‫ضع‬
ْ َ‫ن و‬
َ ُ‫ي‬
ُ ‫قب ْرِ ل ِْل ّتبا َِع وَِلن ّل‬
ّ ‫س‬
َ
‫و‬
ِ ْ ‫سب ِي‬
ِ َ ‫مللا اع ْت ِي ْلد‬
ْ َ‫ح ن‬
ْ َ ‫ه ب ِب ََرك َةِ ت‬
َ ‫س ب ِهَللا‬
ُ ْ ‫ع َن‬
َ ‫حَها َوقي ِْل‬
ْ ‫مل‬
ِ ‫حل‬
ِ ‫ن طلْر‬
( 119 ‫ ص‬،2 .‫ب )اعانة الطالبين ج‬
َ ْ ‫الّري‬
ِ ْ ‫ن الّرط‬
ِ ‫حا‬
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas
kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan
dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan
tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan
sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum
dan basah atau yang masih segar. (I’anah al-Thalibin, juz II, hal.
119)
Dan ditegaskan juga dalam Nihayah al-Zain, hal. 163

َ ‫ب‬
ّ ‫ضعُ ال‬
،‫ن‬
َ ْ ‫ض لرِ َوالّري‬
َ ‫ح‬
ْ َ ‫جرِي ْلد ِ اْل‬
َ ْ ‫كال‬
ْ َ‫ب و‬
ُ َ ‫وَي ُن ْد‬
ِ ْ ‫يِء الّرط‬
ِ ‫حللا‬
ْ ‫ش‬
َ
َ
ْ
َ
ً
ْ
ْ
َ ‫خذ ُه ُ قَْبلل‬
‫ل‬
ْ ‫جوُْز ل ِلغَي ْرِ أ‬
ِ ّ ‫مي‬
ِ ْ‫ست َغ‬
ُ َ ‫م َرطبا وَل ي‬
َ ‫ما‬
َ ‫دا‬
ْ َ‫ه ي‬
َ ‫ت‬
َ ‫فُر ل ِل‬
ُ ّ ‫ِلن‬
(163 ‫ )نهاية الزين‬.‫ه‬
ِ ‫س‬
ِ ِ ‫ي َب‬
Berdasarkan penjelasan di atas, maka memberi harumharuman di pusara kuburan itu dibenarkan termasuk pula
menyiram air bunga di atas pusara, karena hal tersebut termasuk
ajaran Nabi (sunnah) yang memberikan manfaat bagi si mayit.

232

Hukum Shalat Jenazah di Atas Kuburan
Banyak orang yang ingin mengerjakan shalat jenazah. Apalagi
jika yang meninggal adalah seorang ulama’. Tidak jarang, shalat
jenazah
dilakukan
setelah
mayit disemayamkan
dalam
kuburannya. Bagaimana hukum shalat jenazah di atas kuburan
itu?
Menanggapi hal ini ulama’ Syafiiyah mengatakan boleh dan
sah hal ini didasarkan pada hadits:

َ ‫ه َقا‬
‫ل‬
َ :‫ل‬
ِ ‫ت َر‬
ٍ ِ ‫ن َثاب‬
ْ ‫خَر‬
ُ ‫م لعَ َر‬
َ ‫جن َللا‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ّ ‫ي الل‬
ِ ‫سللو‬
َ ‫ض‬
ْ َ‫ع‬
ِ ْ ‫ن َزي ْدِ ب‬
َ ِ ‫قيعَ إ‬
‫ر‬
َ ِ ‫ذا هُلوَ ب‬
ِ َ ‫ما وََرد َْنا ال ْب‬
ّ َ ‫ فَل‬، ‫اللهِ صلى الله عليه وسلم‬
ٍ َ ‫قب ْل‬
َ ‫قللا‬
َ َ ‫سأ‬
‫ أل‬: ‫ل‬
َ َ‫ ف‬، ‫ فَعََرفَهَللا‬، ‫ة‬
َ َ‫ ف‬، ‫ه‬
ٌ ‫ ُفلن َل‬: ‫قللاُلوا‬
ِ ‫ج‬
َ
َ َ‫ ف‬، ٍ ‫ديد‬
ُ ْ ‫ل ع َن‬
َ
ُ
َ
ُ
َ
، ‫ن ن ُؤ ْذ َِنللك‬
ْ ‫ فَكرِهَْنللا أ‬، ‫ما‬
ً ِ ‫صائ‬
َ ْ ‫ كن‬: ‫موِني ؟ َقالوا‬
ُ ُ ‫آذ َن ْت‬
َ ‫ت َقاِئل‬
َ
َ ‫قا‬
‫ن‬
ْ َ‫ ل ت‬: ‫ل‬
َ َ‫ف‬
ِ ‫ت‬
ُ ‫ما ك ُْنلل‬
َ ‫ت‬
ٌ ّ ‫مي‬
َ ‫م‬
ْ ُ ‫من ْك‬
َ ‫ما‬
َ ‫ما‬
َ ‫ن‬
َ ‫ت ب َْيلل‬
ّ َ‫فعَُلوا لع ْرِف‬
َ
َ ‫ة َقا‬
‫م‬
ٌ ‫م‬
ْ ‫صلِتي ع َل َي ْهِ َر‬
ّ ِ ‫ فَإ‬، ‫موِني‬
ّ ‫ ُثلل‬: ‫ل‬
َ ‫ح‬
ُ ُ ‫م ِإل د َع َوْت‬
ْ ُ ‫أظ ْهُرِك‬
َ ‫ن‬
‫ فَك َب َّر ع َل َي َْها أ َْرب ًَعا )مسند أحمد‬، ‫ه‬
َ ْ ‫خل‬
ْ ‫ف‬
َ ْ ‫أ ََتى ال‬
َ ‫فَنا‬
ِ ‫ص‬
ُ ‫ف‬
ُ َ‫ ف‬، ‫قب َْر‬
( 388 ‫ ص‬4 ‫بن حنبل الجزء‬
Diriwayatkan dari Zaid Bin Tsabit Ra, beliau berkata kami pernah
keluar bersama Nabi Saw. Ketika kami sampai di Baqi’, ternyata
ada kuburan baru. Lalu beliau bertanya tentang kuburan itu.
Sahabat bertanya, yang meninggal adalah seorang perempuan,
dan ternyata beliau mengenalnya. Kemudian beliau bersabda
Kenapa kalian tidak memberitahu aku tentang kematiannya?.
Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, anda (waktu itu) sedang tidur
qailulah (tidur sebentar sebelum waktu dhuhur) dan berpuasa.
Maka kami tidak ingin mengganggumu. Rasulullah menjawab:
Jangan begitu, seorang tidak akan mati di antara kalian selama
aku
berada
di
tengah-tengah
kalian
kecuali
kalian
mengabarkannya kepadaku. Karena shalatku merupakan rahmat

23
3

baginya. Lalu beliau mendatangi kuburan itu dan kami pun
berbaris di belakang beliau. Kemudian beliau bertakbir empat kali
(shalat jenazah) untuknya. (Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 4 hal
388)
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa shalat jenazah di
atas kuburan adalah boleh. Al-Sham’ani mengatakan;

ٌ ْ ‫ث د َل ِي‬
ُ ْ ‫حد ِي‬
ِ‫ت ب َعْد َ د ُفْن ِه‬
ِ ّ ‫مي‬
ِ ‫ل ع ََلى‬
ّ ‫ص‬
َ ْ ‫َوال‬
َ ْ ‫صل َةِ ع ََلى ال‬
ّ ‫حةِ ال‬
َ ْ‫ل الدف‬
َ ْ ‫صّلى ع َل َي ْهِ قَب‬
َ ‫م ل َ وَإ َِلى ه‬
‫ب‬
َ َ‫ذا ذ َه‬
ْ ‫نأ‬
َ ً ‫مط َْلقا‬
ُ
َ ‫واٌء‬
َ ‫س‬
ِ ّ
ّ ‫ال‬
(100 ‫ ص‬2 ‫ ج‬,‫ )سبل السلم‬.‫ي‬
ّ ِ‫شافِع‬

Hadits itu secara mutlak menunjukkan sahnya shalat jenazah
setelah dikuburkan, baik sebelum dikuburkan sudah dishalati atau
belum. (Subul al-Salam, juz II hal. 100).
Imam Daru al-Quthni menambahkan shalat jenazah di depan
kuburan tetap sah meskipun jenazah sudah satu bulan
dimakamkan.

َ ُ ‫حت صلل َت‬
ُ‫صلل َة‬
ُ ‫ه ِلن ّل‬
ُ
َ ‫صّلى ع ََلى‬
ّ ‫ه ع َل َي ْلهِ ال‬
َ ْ ّ ‫صل‬
َ ‫ن‬
َ ْ‫وَل َو‬
َ ِ‫ن د ُف‬
ْ ‫م‬
ّ ‫ن )َرَواه ُ ال‬
َ ْ ‫صّلى ع ََلى ال‬
َ ْ ‫شي‬
َ ‫ن( َزاد‬
ُ َ ‫سل‬
ّ ‫َوال‬
َ َ ‫قب ْرِ ب َعْد‬
َ ‫م‬
ِ ‫خا‬
َ ِ‫ما د ُف‬
َ َ ‫قط ِْنى ب َعْد‬
(157 ‫ ص‬1 ‫ ج‬،‫شهْرٍ )كفاية الخيار‬
ّ ‫داُر ال‬
َ
Imam al-Rouyani berkata meskipun mayat telah dikebumikan
tetap sah menshalatinya karena Nabi pernah melakukan hal
tersebut di atas kuburan setelah mayat di tanam, bahkan Imam
Daru al-Quthni menambahkan, meskipun sudah melewati satu
bulan. (Kifayah al-Akhyar, juz I hal. 157)

Shalat Ghaib untuk Mayit
Ketika seorang ulama’ besar dan kharismatik dipanggil ke
rahmatullah, seluruh umat akan merasa kehilangan panutannya.
Sebagai rasa turut berduka dan bela sungkawa, sebagian kaum
muslimin yang tidak sempat melakukan shalat jenazah maka
234

mereka melaksanakan shalat ghaib. Bagaimana pandangan
ulama’ tentang pelaksanaan shalat ghaib untuk mayit?
Shalat ghaib adalah shalat jenazah yang jenazahnya tidak
berada di hadapannya, tetapi berada di lain tempat, bisa jadi di
desa lain ataupun di negara lain.
Dalam pelaksanaan shalat ghaib untuk mayat terjadi
perbedaan pandangan di kalangan ulama’:
a. Tidak sah, pelaksanaan shalat ghaib.

َ
‫ي‬
ِ ّ ‫مي‬
ِ َ‫ل َ ت‬
ّ ‫ص‬
َ ‫صل َة ُ ع ََلى ال‬
ّ ‫ح ال‬
ْ ‫ت ال ّذ ِيْ فِي َْها أىْ ال ْب ََللد ِ ال ِّتل‬
‫ي حاضللرا فيهللا ولللم يحضللر فللي ذلللك‬
َ ‫ك َللا‬
ُ ْ ‫ن ال‬
َ ‫م‬
ْ ّ ‫ص لل‬
،‫ضللوُْر غالبللا‬
ُ ‫ح‬
ُ ‫سللَر ال‬
ْ ِ ‫ وَإ‬:‫الميللت‬
ّ َ ‫ت ا َل ْب ََلللد ُ ل َت َي‬
ْ ‫ن ك َُبللَر‬
َ ‫وال ْمتجل‬
ْ
ْ
َ ‫ث‬
َ ‫م‬
‫ق‬
ّ ‫شل‬
َ َ‫ة و‬
ُ ‫حي ْل‬
ُ ‫ق‬
َ َ‫مَها ف‬
ّ ‫هأ‬
ّ ‫شل‬
ُ َ ‫علد‬
َ ‫معْت َب َلَر ال‬
ُ ‫ن ال‬
ُ َ ّ ُ
َ
ْ
َ
‫ث‬
ُ ‫حْيلل‬
َ ِ‫ضوُْر وَلوْ ِفي الب َلد ِ ل ِك ِب َر‬
َ َ‫ و‬،‫ت‬
ّ ‫صلل‬
ْ َ ‫ها وَن‬
ُ ‫ح‬
ُ ْ ‫ال‬
ْ ‫ح‬
َ ِ‫حوِه‬
ّ ‫ه ال‬
‫سللى‬
َ َ ‫ما ن‬
ِ ِ ‫مل‬
ِ َ‫م ت‬
ّ ‫ص‬
َ ِ‫ل َ وَل َوْ خا َر‬
ّ ‫ج ال‬
ُ ‫شب َْرا‬
ُ ‫قَللل‬
َ َ‫ح ك‬
ْ َ ‫سوَْر ل‬
‫سلوَْر قَرِْيبلا‬
َ ‫ت‬
ِ َ ‫ن قا‬
َ ِ‫خلار‬
َ َ ‫وكلا‬
ّ ‫ج ال‬
ُ ‫مّيل‬
َ ْ ‫ن ال‬
ْ َ ‫ فَل‬،‫م‬
ْ َ‫ع‬
ٍ ‫س‬
ِ ْ ‫ن ا ِب‬
‫ث‬
َ ْ ‫م لَراد ُ ب ِللال‬
ُ ‫ب‬
ِ ‫دا‬
ِ ْ‫ح لد ّ ْالغَلو‬
ِ
َ َ ‫هن لا‬
َ ‫ه فَهُلوَ ك َل‬
ُ ْ ‫خل ِهِ َوال‬
ُ ْ ‫من‬
ِ ِ‫قر‬
(160-159 ‫)نهاية الزين ص‬
"Tidak sah shalat mayit di suatu daerah yang
memungkinkan
untuk
datang,
namun
dia
tidak
menghadirinya: walaupun daerah tersebut luas dan mudah
dijangkau.
Dan menurut qoul yang
diunggulkan
sesungguhnya hal yang menjadi pertimbangan adalah ada
atau tidak adanya kesulitan untuk menghadirinya, apabila
ada kesulitan maka shalatnya sah. (Nihayah al-Zain
hal.159-160)

b. Sah menurut qaul mu’tamad, pelaksanaan shalat ghaib
tersebut dikatakan sah apabila tidak memungkinkan

23
5

menghadiri shalat jenazah.
dalam Nihayah al-Zain;

Sebagaimana

diterangkan

َ
َ ‫صل َة ُ ع ََلى‬
ِ‫ه ع َل َي ْه‬
ِ َ ‫وَت‬
ّ ‫ص‬
ُ ‫صّلى الل‬
ُ ّ ‫ن ب َل َد ٍ ِلن‬
َ ‫ه‬
ٍ ِ ‫غائ‬
ّ ‫ح ال‬
ْ َ‫ب ع‬
ْ
َ
ّ
ّ
‫ة‬
ِ ‫مد ِي َْنلل‬
ِ ‫ي َر‬
ِ ‫جا‬
َ ّ ‫صلى ع َلى الن‬
َ َ‫و‬
َ ‫ه ِبال‬
ُ ‫ه ع َْنلل‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫سل‬
َ ‫م‬
َ ‫ض‬
ْ ‫ش‬
َ َ ‫حب‬
(159 ‫شةِ )نهاية الزين ص‬
َ ْ ‫موْت ِهِ ِبال‬
َ ْ‫ي َو‬
َ ‫م‬
”Sah pelaksanaan shalat ghaib di suatu daerah, karena
Nabi Saw. telah menshalati orang Najasyi Ra. di Madinah
waktu dia wafat di Habasyah. (Nihayah al-Zain, hal. 159)

Qadla’ Shalat untuk Mayit
Salah seorang keluarga si A meninggal dunia, selama dua
bulan terakhir, dia tidak mengerjakan shalat. Lalu dia berwasiat,
kalau nanti dia mati supaya shalatnya diqadla’i oleh ahli warisnya.
Bagaimana hukumnya mengqadla’ shalat untuk orang yang sudah
mati?
Shalat merupakan ibadah Mahdloh, yaitu ibadah yang
dilakukan seorang hamba dengan langsung berhubungan dengan
sang Khalik. Maka pertanggung jawabannya kepada Allah Swt.
secara pribadi. Berkaitan dengan shalat yang pernah ditinggalkan
oleh orang yang mati maka ada beberapa pandangan:
a. Tidak boleh dan tidak sah mengqadha’ shalatnya karena
shalat termasuk ibadah badaniyah, sebagaimana telah
dijelaskan;

َ ُ ‫ول َو قَضاها وارث‬
‫ة )إعانللة‬
ٌ ‫عب َللاد َة ٌ ب َد َن ِي ّل‬
ِ ‫جلْز ِل َن ّهَللا‬
ُ َ‫م ي‬
ْ َ ‫مرِهِ ل‬
ْ ‫ه ب ِأ‬
ُ ِ َ َ َ
ْ َ
(33 ‫ ص‬1 ‫ ج‬،‫الطالبين‬

Seandainya ahli warisnya mengqadla’i atas perintah si
mayit
sebelum
mati,
maka
tidak
diperbolehkan
melaksanakannya, karena shalat itu merupakan ibadah
badaniyah. (I’anah al-Tholibin, juz I, hal. 33)
b. Tidak ada kewajiban qadla’ bagi ahli warisnya. Demikian
juga mereka tidak berkewajiban menebusnya dengan harta
236

yang ditinggalkan oleh si mayit, hanya saja sebagian ulama
Syafi’iyah berpendapat bahwa shalat yang ditinggalkan si
mayit boleh di qadla’ oleh ahli warisnya, baik sebelum
meninggal dunia dia berwasiat atau tidak. Sebagaimana
dijelaskan dalam I’anah al-Thalibin, juz I, hal. 33.

،‫ه‬
ْ ُ‫م ت‬
ْ ُ‫م ت‬
‫صل َة ُ فَْر‬
ُ ‫فلد َ ع َن ْل‬
ْ ‫ض وَل َل‬
ْ َ‫ض ل‬
َ َ ‫ن ما‬
َ
َ ‫ق‬
َ ِ‫ت وَع َل َي ْه‬
ْ ‫م‬
ٍ
َ
َ
َ
َ
َ
ُ َ‫فع‬
ْ ُ ‫ل أن َّها ت‬
َ ‫ملا‬
ْ ‫صى بهَللا أ‬
ُ‫حكللاه‬
َ ،‫م ل‬
ُ ْ ‫ل ع َن‬
َ ْ‫ أو‬.‫ه‬
ٍ ْ‫ي قَو‬
ْ ِ‫وَف‬
ْ
َ ‫ وَفَعَ ل‬.‫ه‬
ّ ‫ن ال‬
‫ي‬
َ ِ‫ي ل‬
ِ ْ ‫خب َرٍ فِي‬
ّ ‫ل ب ِلهِ َال‬
ّ ِ ‫س لب ْك‬
ّ ِ‫شافِع‬
ِ َ َ ‫العَُباِدي ع‬
(33 ‫ ص‬1 ‫ ج‬،‫ض أقا َرِب ِهِ )إعانة الطالبين‬
ْ َ‫ع‬
ِ ْ‫ن ب َع‬
Barang siapa yang mati dan punya tanggungan shalat,
maka tidak wajib mengqadla’ dan membayar tebusan (oleh
ahli waris). Dan dalam satu pendapat, bahwa shalat itu
diqadla’, baik si mayit berwasiat atau tidak. Sebagaimana
yang diriwayatkan Al-Ubbady dari Imam Syafi’i. Imam Subki
pernah mengerjakan (Qadla’ shalat) itu untuk kerabatnya.
(I’anah al-Thalibin, juz I, hal.33)

Fidyah sebagai Ganti Puasa yang Ditinggal oleh Mayit
Ibadah puasa merupakan kewajiban yang dibebankan oleh
Allah Swt. Kepada seluruh umat Islam. Orang-orang yang
memenuhi syarat wajib melaksanakannya. Jika pada suatu saat,
orang tersebut tidak puasa ia berkewajiban mengganti puasa
yang ditinggalkan tersebut pada lain hari. Persoalannya adalah,
bagaimanakah jika orang itu tidak mengganti puasanya sampai ia
meninggal
dunia,
bolehkah
keluarga
atau
kerabatnya
menggantikan puasanya tersebut?
Ada beberapa kemungkinan orang yang meninggal dunia
yang belum mengganti puasanya.
a.
Pertama, orang tersebut meninggalkan puasa
karena udzur, Ia meninggal sebelum sempat mengganti

23
7

puasanya, misalnya tidak ada waktu untuk mengqadla’
puasanya. Seperti orang yang meninggal dunia pada
pertengahan puasa atau pada saat hari raya, atau karena
sakit yang ia derita tak kunjung sembuh hingga ajal
menjemputnya.
b.
Kedua, tidak puasa karena tidak ada udzur, tatapi
orang tersebut memiliki kesempatan mengqadla’ puasanya,
namun ia tidak mengganti puasa yang telah ditinggalkannya
itu, baik karena malas atau alasan yang dibenarkan oleh
syara’ kemudian ia meninggal dunia sebelum mengganti
puasanya.
Jawaban:
a.
Pada contoh yang pertama,
orang tersebut tidak punya kewajiban untuk mengganti
puasanya, sebab ia tidak berbuat lalai atau meremehkan
masalah agama.
b.
Pada contoh yang kedua, orang
itu mati dengan meninggalkan hutang puasa. Maka ada dua
pilihan yang dapat dilakukan oleh waris atau familinya, yaitu:
1.
Memberikan
makanan kepada fakir miskin
2.
Mengqadla’
puasanya.
Sebagaimana yang diterangkan Syekh Nawawi al-Bantani
dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 192

َ ْ‫ن أ َوْ َنلذ ٌَر أ َو‬
َ ‫كفلا ََرة ٌ قَب ْل‬
‫ل‬
ِ ِ‫ت وَع َل َي ْه‬
َ ‫ضا‬
َ ‫م‬
ُ َ ‫صيا‬
َ ‫م َر‬
َ َ ‫ن ما‬
َ َ‫و‬
ْ ‫م‬
َ
َ‫إمكا َن فعل ِه بأن ا ِستمر مرضه ا َل ّذي ل َ يرجى بللرؤ ُه أو‬
َ ُْ
ْ ُ ْ ُ
ْ ِ ُ ُ ِ َ َ َ َ ْ ْ ِ ِ ْ ِ ِ ْ ِ
ْ
َ
ْ
َ ‫فد َْيللةِ وَل‬
َ ‫داُر‬
َ ‫س‬
ِ ‫ت ِبال‬
ِ ِ ‫ك ل ِلفائ‬
َ َ ‫موْت ِهِ فَل َ ت‬
ُ َ ‫مبا‬
َ
َ ‫ح إ َِلى‬
ُ ْ ‫فُره ُ ال‬
َ
ْ
َ
َ
‫دى‬
ْ َ ‫م ع َلْيللهِ ل َِعللد َم ِ ت‬
َ ‫ِبال‬
ِ ‫ق‬
ّ ‫ن ت ََعلل‬
ْ ِ ‫صللي ْرِهِ فللإ‬
َ ‫ق‬
َ ‫ضللاِء وَل إ ِْثلل‬
َ
َ
َ ْ‫ب ِا ْل ِف‬
َ ْ ‫ت قَب‬
‫ن وَب َعْ لد َه ُ أوْ أفْط َلَر ب ِعُ لذ ٍْر‬
َ ّ ‫ل الت‬
َ َ ‫م ما‬
ّ ُ ‫طارِ ث‬
ِ ‫مك ّل‬
َ
ّ ُ ‫ن ت ِْرك َت ِهِ ل ِك‬
ِ ‫ه‬
ُ ّ ‫ه وَل ِي‬
ُ ْ ‫م ع َن‬
َ َ‫ن أط ْع‬
َ ّ ‫ت ب َعْد َ الت‬
َ َ ‫َوما‬
ْ ‫م‬
ٍ ‫ل ي َوْم‬
ِ ّ ‫مك‬
َ ّ ‫مد‬
‫ه‬
ِ ْ‫ب قُو‬
ِ ٍ ‫طعا َم‬
ْ ِ ‫ت ال ْب َل َد ِ فَإ‬
ُ ‫ن ل َل‬
ْ ‫ن ل َل‬
ُ ‫ه‬
ُ َ ‫فا َت‬
ِ ِ ‫ن غا َل‬
ْ ‫م ي َك ُل‬
ْ ‫م‬

238

ْ ِ‫ي إ‬
َ ِ ‫ه ذل‬
ْ َ‫م ب‬
‫ك‬
ٌ َ ‫ت ِْرك‬
ٌ ْ ‫صو‬
ٌ َ ‫طعا‬
ْ ‫م ي َل َْز‬
َ ُ‫ل ي‬
ُ َ‫ن ل‬
ْ َ‫ة ل‬
َ َ ‫م وَل‬
ّ ‫س‬
ّ ِ ‫م ا َل ْوَل‬
‫ه )نهايلة‬
َ ِ‫ل‬
ِ ِ‫ت وَع َل َْيله‬
َ ‫صلا‬
ٌ َ ‫صليا‬
ُ ‫ه وَل ِّيل‬
ُ ‫م ع َْنل‬
َ َ ‫ن ملا‬
َ ٍ‫خب َر‬
َ ‫م‬
ْ ‫مل‬
(192 ‫ ص‬,‫الزين‬
Orang mati dengan meninggalkan puasa Ramadhan, Nadar
atau puasa Kafarot, sedangkan ia belum sempat
menggantinya, seperti sakit yang ia derita terus
berkepanjangan dan sedikit harapan untuk sembuh, atau ia
terus melakukan perjalanan mubah (perjalanan yang tidak
untuk maksiat) sampai ia mati. Maka orang itu tidak perlu
mengganti puasa yang ditinggalkannya, baik dengan puasa
atau dengan membayar Fidyah (makanan pokok), sebab ia
tidak lalai. Tapi jika ia sengaja tidak berpuasa (tanpa sebab
yang dibenarkan), kemudian orang tersebut mati, baik
sebelum sempat atau telah punya waktu untuk mengganti
puasanya. Atau orang itu tidak puasa karena ada alasan
yang dibenarkan, kemudian meninggal setelah ia memiliki
kesempatan untuk mengqadla’ puasanya, (dalam kedua
masalah ini) wali atau keluarga si mayit harus memberikan
satu mud makanan pokok daerah itu setiap satu hari.
Makanan itu diambilkan dari tirkah (harta peninggalan) si
mayit (dan diberikan kepada para fakir miskin). Apabila
orang yang meninggal itu tidak memiliki harta, maka wali
tidak wajib berpuasa atau membayar fidyah yang diambil
dari hartanya sendiri, tapi (perbuatan itu) disunnahkan
kepada si wali. Sesuai dengan hadits Nabi Saw. barang siapa
yang mati sedangkan ia punya tanggungan puasa, maka
walinya boleh berpuasa untuknya. (Nihayah al-Zain hal. 192)
Ketentuan ini sesuai dengan sabda Nabi;

23
9

ُ ‫سللو‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫مَر َقا‬
ِ‫ه ع َل َي ْله‬
ُ ‫ل َر‬
ُ ‫صلّلى الل ّل‬
َ ُ‫ن ع‬
َ ِ‫ل الل ّله‬
ْ َ‫ع‬
ِ ْ ‫ن اب‬
َ ‫م‬
‫ن‬
ِ ِ‫ت وَع َل َي ْه‬
َ ‫مك َللا‬
ُ ‫صَيا‬
َ َ‫و‬
َ ‫ه‬
ُ ْ ‫م ع َن‬
ْ َ‫شهْرٍ فَل ْي ُط ْع‬
َ ‫ما‬
َ ‫ن‬
َ ‫م‬
َ ّ ‫سل‬
ْ ‫م‬
ّ ُ‫ك‬
‫ رقلم‬,558 ‫ ص‬1 ‫ج‬,‫ن )سنن ابن ماجه‬
ِ ‫س‬
ِ ٍ ‫ل ي َوْم‬
ْ ‫م‬
ٌ ‫كي‬
(1747
Dari Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah Bersabda; Barang
siapa yang mati dan dia mempunyai kewajiban berpuasa,
maka hendaklah setiap hari (ahli warisnya) memberi makan
kepada fakir miskin. (Sunan Ibnu Majah [1747])

ُ ‫مل ِي ْل‬
‫ن‬
ِ ‫ك‬
ِ ‫ن‬
ِ ‫م‬
ُ ‫ه فَإ ِط ْعَللا‬
ْ ‫م‬
ْ َ ‫س لك ِْينا ً إلللخ( ت‬
ُ ُ ‫)قَلوْل‬
َ ْ ‫سلت ّي‬
َ ْ ‫سلت ّي‬
َ
َ
ّ ُ ‫قي ًْرا ك‬
ِ ‫ل َوا‬
ِ َ‫سك ِْينا ً أوْ ف‬
ِ
ُ ‫ملَراد‬
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫س ال‬
ُ ٍ ‫حد‬
َ ‫ وَل َي ْل‬،‫م‬
ٍ ‫ملد ّ طعَللا‬
َ
َ ‫ل ذ َل ِل‬
َ ‫جعَ ل‬
‫م‬
َ ‫م إ ِي ّللاه ُ فَل َلوْ غ َ ل‬
ْ َ‫ن ي‬
ْ ‫أ‬
ْ ُ‫داه‬
ْ ‫مه ُ ل‬
ُ ِ‫مللا وَي ُط ْع‬
ً ‫ك ط ََعا‬
َ َ ‫أ َوْع‬
(240 ‫ ص‬،2 ‫ جزء‬،‫ي )إعانة الطالبين‬
ِ ْ ‫م َل ي َك‬
ْ ُ‫شاه‬
ْ ‫ف‬

Fidyah adalah membayar denda untuk mengganti
kewajiban yang ditinggalkan dengan memberi makan
kepada 60 orang fakir miskin, masing-masing orang, satu
mud (6 ons).
Dengan demikian ada beberapa pilihan, apabila ada
keluarga kita yang meninggal dunia dengan mempunyai
hutang puasa, yakni bisa dengan mengqadla’ puasanya
atau dengan membayar fidyah.
Ziarah kubur
Pada malam jum’at atau siang harinya, sudah lazim bagi
masyarakat Nahdliyin melakukan ziarah kubur. Mereka berziarah
ke makam leluhur dan sanak kerabat yang telah lebih dahulu
meninggalkannya. Berbagai kegiatan mereka lakukan di sana
seperti membaca al-Qur’an, dzikir ataupun tahlil. Bagaimanakah
sebenarnya hukum ziarah kubur tersebut apakah manfaat dan
kegunaannya?
Pada masa awal Islam, Rasulullah memang melarang umat
Islam untuk melakukan ziarah kubur. Hal ini dimaksudkan untuk
240

menjaga akidah umat Islam yang waktu itu masih lemah. Setelah
akidah umat Islam kuat dan tidak ada kekhawatiran untuk
berbuat syirik, Rasulullah membolehkan para sahabatnya untuk
melakukan ziarah kubur. Karena ziarah kubur dapat membantu
orang yang hidup untuk mengingat akan kematiannya. Nabi telah
bersabda;

ُ ْ ‫سو‬
َ َ ‫ن ب َرِي ْد َةٍ قا‬
‫ت‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
ُ ‫ل َر‬
ُ ‫م قَد ْ ك ُْنلل‬
َ ّ ‫سل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ِ‫ل الله‬
ْ َ‫ع‬
ُ
‫ر‬
َ َ‫قب ُوْرِ ف‬
ُ ‫ن ِزيا ََرةِ ْال‬
َ ‫م‬
َ ِ ‫قلد ْ أذ‬
ّ ‫ح‬
ُ ِ‫ن ل‬
ْ ُ ‫ن َهَي ْت ُك‬
ْ ‫ملد ٍ ِفل‬
ْ َ‫م ع‬
ِ ‫ي ِزيلا ََرةِ قَْبل‬
ُ
‫ رقللم‬،‫خلَرة َ )سللنن الترمللذى‬
ِ ‫ملهِ فَُزوُْروْهَللا فَإ ِن ّهَللا ت ُلذ َك ُِر ْال‬
ّ ‫أ‬
(973
Dari Buraidah ia berkata, Rasulullah bersabda; saya pernah
melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang, Muhammad telah
diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang,
berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu
pada akhirat. (Sunan al-Tirmidzi, [974])
Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang ziarah ke
makam para wali, beliau mengatakan;

َ
َ ِ ‫سئ‬
‫ن‬
ِ ‫ل َر‬
ُ َ‫و‬
َ ‫ي َز‬
ُ ْ ‫ه ع َن‬
ُ ّ ‫ي الل‬
ْ ‫ن زِي َللاَرةِ قُب ُللورِ اْلوْل ِي َللاِء فِ ل‬
ْ َ‫ه ع‬
َ ‫ض‬
ٍ ‫مل‬
َ
ْ
َ
َ
َ ‫عن ْلد َ ت ِلل‬
ْ َ‫حلةِ إلي َْها ه‬
‫ك‬
ِ ُ‫ملع‬
ِ َ ‫جت‬
ْ َ‫ه ي‬
ُ َ‫ل ي‬
ْ ‫معَ الّر‬
ُ ‫ملعَ أن ّل‬
َ ‫جللوُز‬
َ ‫ن‬
ُ
ٍ ّ ‫معَي‬
َ
ْ
َ
َ
‫ج‬
َ ‫م‬
ُ ‫ال‬
ْ ‫سلد ٌ كِثي لَرة ٌ كللا‬
ِ ‫خت ِل‬
ِ ‫فا‬
َ ‫سللاِء ِبالّر‬
ْ ِ ‫ل وَإ‬
َ ّ ‫ط الن‬
َ ِ‫قُبور‬
ِ ‫جللا‬
ِ ‫س َلَرا‬
َ
َ ِ ‫ج ال ْك َِثيَرةِ وَغ َي ْرِ ٰذل‬
‫قوْل ِهِ زَِياَرة ُ قُُبورِ اْلوْل َِياِء‬
َ ِ‫ب ب‬
َ ‫جا‬
َ ‫ك فَأ‬
ّ ‫ال‬
ِ ‫سُر‬
َ
َ
َ َ ‫ة وَك‬
،‫ة إلي َْها )الفتاوى الفقهية الكللبرى‬
ُ ‫حل‬
ٌ ّ ‫حب‬
ٌ َ ‫قُْرب‬
ْ ‫ذا الّر‬
َ َ ‫ست‬
ْ ‫م‬
ُ ‫ة‬
(421 ‫ ص‬1 ‫ج‬
Beliau ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu
tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam
mereka. Beliau menjawab, berziarah ke makam para wali adalah

24
1

ibadah yang disunnahkan. Demikian pula perjalanan ke makam
mereka. (al-Fatawi al-Kubra, juz I, hal. 421)
Maka, ziarah kubur itu memang dianjurkan dalam agama
Islam bagi laki-laki ataupun perempuan, sebab di dalamnya
terkandung manfaat yang sangat besar, baik bagi orang yang
telah meninggal dunia yaitu berupa hadiah pahala bacaan alQur’an dan kalimat-kalimat thayyibah, maupun bagi orang yang
berziarah itu sendiri, yakni mengingatkan manusia akan kematian
yang pasti akan menjemputnya.

Keutamaan Ziarah Qubur
Fadhilah atau keutamaan ziarah kubur ditegaskan dalam
Nihayah al-Zain hal.164 bahwa: “Disunnahkan untuk berziarah
kubur, barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya
atau salah satunya setiap hari jum'at, maka Allah mengampuni
dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak yang ta'at dan
berbakti kepada kedua orang tuanya”. Dalam riwayat lain
disebutkan, “Barang siapa berziarah ke makam kedua orang
tuanya atau salah satunya setiap hari jum'at dan membacakan
surat Yaasin dan al-Qur’an al-Hakim di samping kuburnya maka
Allah mengampuni dosa-dosanya sebanyak jumlah bilangan huruf
yang terdapat pada ayat surat Yaasin dan al-Qur’an al-Hakim”.
Dan riwayat lain menyebutkan pahala ziarah kubur kepada orang
tua adalah seperti pahala ibadah haji:

َ َ
َ
‫ما‬
ُ ْ ‫ن زَِياَرة ُ ال‬
َ ‫ن َزاَر قَب َْر َوال ِد َي ْهِ أوْ أ‬
ّ ‫قب ُوْرِ وَوََرد َ أ‬
َ ُ ‫و َي‬
َ ِ ‫حد ِه‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ّ ‫س‬
َ َ‫ه و‬
ّ ُ‫ي ك‬
:‫ة‬
ٍ ‫ي رَِواَيلل‬
ِ ْ ‫وال ِد ِي‬
ِ ُ ‫مّرة ً غ‬
َ ‫كا‬
ُ ‫ل‬
ُ َ ‫فَر ل‬
َ ٍ‫معَة‬
ُ ‫ج‬
ْ ِ‫ وَف‬،‫ه‬
َ ِ ‫ن با ًَرا ل‬
ْ ِ‫ف‬
َ َ
ّ ‫ي ك ُل‬
َ َ‫معَ لةٍ ف‬
ِ َ ‫ق لَرأ‬
ُ ‫ل‬
َ ‫ن َزاَر قَب َْر َوال ِد َي ْهِ أوْ أ‬
َ‫عن ْلد َه‬
ُ ‫ج‬
َ ِ ‫حد ِه‬
َ
ْ ِ‫ما ف‬
ْ ‫م‬
َ ‫ه ب ِعَ لد َد ِ ٰذل ِل‬
،‫حْرفًللا‬
َ َ‫م غ‬
ُ ْ ‫َيس َوال‬
ً ‫ك آي َل‬
َ َ‫ة و‬
َ ْ ‫ن ال‬
َ ‫قْرآ‬
ُ ‫ه ل َل‬
ُ ‫فَر الل‬
َ ْ ‫حك ِي‬
242

َ َ
ّ ‫ي ك ُل‬
‫ة‬
ٍ ‫معَ ل‬
ٍ َ ‫ي رَِواي‬
ُ ‫ل‬
َ ‫ن َزاَر قَب َْر َوال ِد َي ْهِ أوْ أ‬
ُ ‫ج‬
َ ِ ‫حد ِه‬
َ :‫ة‬
ْ ‫ما فِ ل‬
ْ ‫م‬
ْ ِ‫وَف‬
(164 ‫ )نهاية الزين ص‬.‫ة‬
ٍ ‫ج‬
ّ ‫ح‬
َ َ‫ن ك‬
َ َ ‫كا‬
Mengenai keutamaan ziarah kubur juga diterangkan oleh
Ibnu Najar dalam tarikhnya dari Abu Bakar Assiddiq, Rasulullah
bersabda; “Barang siapa berziarah ke makam kedua orang tuanya
atau salah satunya setiap hari jum'at dan membacakanya surat
Yaasin maka Allah mengampuni dosa-dosanya sebanyak jumlah
bilangan huruf yang terdapat pada surat Yaasin”.
Hal ini
diterangkan dalam kitab: al-Dar al-Mansur, Juz 7 hal. 40, Makarim
al-Akhlak, Juz 1 hal. 73 dan 248, dan lain-lain.

َ َ ‫خه ع‬
َ َ ‫ق ق لا‬
:‫ل‬
ْ َ ‫وَأ‬
ِ ِ ْ ‫ي َتارِي‬
َ ّّ ‫ن الن‬
َ ‫خَر‬
ّ ‫ي ب َك ْلرٍ َال‬
ْ ِ ‫ن أب‬
ْ
ْ ِ‫جارِ ف‬
ُ ْ ‫ج ا ِب‬
ِ ِ ‫ص لد ّي‬
ُ ْ ‫سو‬
َ ‫َقا‬
‫ن َزاَر قَْبلَر‬
َ َ‫صلَلى الللهِ ع َل َْيلهِ و‬
ُ ‫ل َر‬
َ "‫م‬
َ ّ ‫سلل‬
َ ِ‫ل اللله‬
ْ ‫مل‬
َ
َ
َ
ّ ُ‫ي ك‬
‫ه‬
َ َ ‫ها َيس غ‬
َ َ‫معَةٍ ف‬
َ َ ‫عن ْد‬
ِ ‫قَرأ‬
ُ ‫ل‬
َ ‫َوال ِد َي ْهِ أوْ أ‬
ُ ‫فَر الللل‬
ُ ‫ج‬
َ ِ ‫حد ِه‬
ْ ِ‫ما ف‬
ّ ُ ‫ه ب ِعَد َد ِ ك‬
7 ‫من َْها " ) في الكتاب الدر المنثور جللز‬
ِ ‫ف‬
ٍ ‫حْر‬
َ ‫ل‬
ُ َ‫ل‬
( 248 , 83 ‫ ص‬1 ‫ و مكارم الخلق جز‬40 ‫ص‬
Rasulullah bersabda; “Barang siapa berziarah ke makam
kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari jum'at maka
Allah mengampuni dosa-dosanya dan dia dicatat sebagai anak
yang ta'at dan berbakti kepada kedua orang tuanya”.
Diterangkan dalam kitab: al-Mu'jam al-Kabir Litthabrani, Juz 19
hal. 85.

َ
َ
‫حلد ّث ََنا‬
ِ ‫ن بن‬
َ ،‫ي‬
ْ ‫مد ُ بن أ‬
َ ‫م‬
َ
َ ْ‫مد َ أُبو الن ّع‬
َ ‫ح‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫حد ّث ََنا‬
ْ َ ‫ل ال ْب‬
ّ ِ‫صر‬
ٍ ْ ‫شب‬
ِ ‫ما‬
َ
َ
‫حَيى بن ال َْعلِء‬
ْ َ‫ن ي‬
َ ‫م‬
َ ،‫أِبي‬
َ ْ‫مد ِ بن الن ّع‬
ّ ‫ح‬
ُ ‫م أِبي‬
ّ َ ‫حد ّث ََنا ع‬
ْ َ ‫ ع‬،‫ن‬
ِ ‫ما‬
ُ
َ
‫ن أ َب ِللي‬
َ ّ ‫مي‬
ٍ ‫جاه ِل‬
َ ‫م‬
َ َ ‫ال ْب‬
ُ ‫ن‬
َ ‫ريم ِ أِبي أ‬
ْ ‫ ع َل‬،‫د‬
ْ ‫ ع َل‬،‫ة‬
ْ َ ‫ ع‬،‫ي‬
ّ ِ ‫جل‬
ِ َ ‫ن ع َب ْد ِ ال ْك‬
ُ ‫سللو‬
َ ‫ قَللا‬:‫ل‬
َ ‫ قَللا‬،‫ة‬
‫ه‬
َ ‫هَُري ْلَر‬
ِ ‫ه ع َل َي ْلهِ َوآل ِل‬
ُ ‫ل َر‬
ُ ‫ص لّلى الل ّل‬
َ ِ‫ل الل ّله‬
َ
َ
َ
ّ ُ ‫ما ِفي ك‬
‫ه‬
ِ ُ ‫معَةٍ غ‬
ُ ‫ل‬
َ ‫ن َزاَر قَب َْر أب َوَي ْهِ أوْ أ‬
َ َ‫و‬
ُ َ ‫فَر ل‬
ُ ‫ج‬
َ ِ ‫حد ِه‬
َ ":‫م‬
َ ّ ‫سل‬
ْ ‫م‬
24
3

‫ ص‬19 ‫ )كتاب المعجللم الكللبير للطللبرانى جللز‬.‫ب ب َّرا‬
َ ِ ‫وَك ُت‬
(85
Rasulullah juga bersabda; “Barang siapa berziarah ke
makam bapak atau ibunya, paman atau bibinya, atau berziarah
ke salah satu makam keluarganya maka pahalanya adalah
sebesar pahala haji yang mabrur. Dan barang siapa yang
istiqamah berziarah kubur sampai datang ajalnya maka para
malaikat akan selalu menziarahi kuburannya”. Hal tersebut
diterangkan dalam kitab: al-Maudhu'at, Juz 3 hal. 240.

َ َ
َ َ
َ
َ َ َ
َ ‫لب‬
‫ن‬
ِ ‫ما‬
ْ ‫ملَزة ُ أن ْب َأنلا َ أب ُلوْ أ‬
َ َ ‫مد َ أن ْب َأنلا‬
ْ ‫نأ‬
ْ ِ ‫أن ْب َأنا َ إ‬
َ ‫ح‬
ْ ‫ح‬
َ ‫ح‬
َ ‫س‬
ْ ‫ملد ُ ب ِل‬
ْ ِ ُ ْ ‫عي‬
َ
‫ن‬
‫ح فْ ل‬
ِ ْ‫س لع‬
َ ‫دى‬
َ ‫ن‬
ْ ‫حد ََثنا َ أ‬
َ ‫دى‬
َ ُ‫ع‬
ّ ‫ص ال‬
ُ ‫ح لد ََثنا َ إ ِب َْراه ِي ْل‬
َ ‫ح‬
ْ ‫م ب ِل‬
ْ ‫مد ُ ب ِل‬
ِ
َ
ْ ِ ‫قات‬
‫دى‬
َ ‫م‬
َ َ ‫حد ََثنا‬
ِ ْ ‫مْرقَن‬
ِ ْ‫سع‬
َ ‫دى‬
َ ‫سى‬
ّ ‫ل َال‬
ّ ‫ن ال‬
َ ْ ‫مو‬
َ ‫س‬
َ ْ‫حد ََثنا َ أب ُو‬
ُ
ِ ‫خاَقا‬
َ
َ
َ
ُ
َ
َ
ِ‫سلوْل اللله‬
ِ ْ ‫ن ع ُب َي‬
ُ ‫مَر قال قللال َر‬
َ ُ‫ن ع‬
ُ ْ ‫ن ا ِب‬
ْ َ ‫ن نافِِع ع‬
ْ َ ‫داللهِ ع‬
ْ َ‫ع‬
َ
ُ
َ
َ
ّ
َ
‫ه‬
ِ ‫مت ِل‬
َ َ‫ى اللهِ ع َلي ْهِ و‬
ّ َ ‫م لهِ أوْ ع‬
ّ ‫ن َزاَر قَب َْر أب ِي ْهِ أوْ أ‬
َ " :‫م‬
َ ‫سل‬
َ
ْ ‫م‬
َ ‫صل‬
َ
َ
َ
َ
َ
‫ن‬
َ ْ‫أ َو‬
ٌ ‫مْبلُروَْر‬
ٌ ‫جل‬
ِ ٍ ‫حد‬
ّ ‫ح‬
َ ‫ه‬
َ ‫خالت ِهِ أوْ أ‬
َ َ‫ و‬،‫ة‬
َ ‫ة‬
ُ ‫ت لل‬
ْ َ ‫ن قََراَبات ِهِ كان‬
ْ ‫مل‬
ْ ‫م‬
َ
‫ة قَب ْلَره ُ " )كتللاب‬
ُ ‫مل َئ ِك َل‬
َ ‫م‬
َ ‫كا‬
َ ْ ‫ت ا َل‬
ْ ‫ت َزاَر‬
ُ ْ ‫م لو‬
ُ َ ‫حّتى ي‬
ْ ُ‫ن َزاِئرا ً ل َه‬
(240 ‫ ص‬3 ‫الموضوعات جز‬
Ziarah Kubur bagi Perempuan
Pada dasarnya ziarah kubur merupakan tuntunan Nabi bagi
umatnya untuk selalu mengingat bahwa setiap makhluk yang
hidup akan mengalami kematian dan adanya kehidupan akhirat
kelak. Lalu bagaimanakah hukum ziarah kubur bagi perempuan:
a. Makruh, apabila perempuan mudah susah dan resah,
menangis dengan menjerit akibat lemahnya hati dan
perasaannya.

َ ُ‫ب‬
‫ن‬
ّ ِ‫كائ ِه‬
‫ة‬
ِ ‫وَك َث ْلَر‬

َ
َ
‫ب‬
ٌ ّ ‫مظ ِن‬
َ ‫ه فَت ُك َْره ُ ( أيْ َالّزيا ََرة ُ ِلن َّها‬
ُ ُ ‫) قَوْل‬
ِ َ ‫ة ل ِط َل‬
َ
‫ب‬
َ ‫ن رِقّلةِ ْال‬
ِ ‫ن‬
َ ِ‫ن ل‬
ِ ‫قل ْل‬
ْ ‫وََرفْلِع أ‬
ْ ‫مل‬
ّ ‫مللا فِي ْهِل‬
ّ ِ‫وات ِه‬
َ ‫صل‬
(142 ‫ ص‬2 ‫ ج‬,‫جَزِع )إعانة الطالبين‬
َ ْ ‫ال‬

244

Dimakruhkan bagi wanita berziarah kubur karena hal
tersebut cenderung membantu pada kondisi yang
melemahkan hati dan jiwa. (I’anah al-Thalibin, Juz II, hal.
142)
b. Sunnah, jika ziarah ke makam para Nabi, auliya’ dan orang
shaleh.

َ
َ ّ ‫س‬
ْ ‫م ا ِل َل‬
‫خ‬
َ َ‫ه ع َل َي ْهِ و‬
َ ُ‫ي‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ‫ى‬
ّ ِ ‫ن لَها ِزياَرة ُ قَب ْرِ الن ّب‬
َ
ُ ‫مث ْل‬
َ ‫وََقا‬
‫ه‬
ِ ْ‫م ا َى‬
ُ ْ‫ل ب َع‬
ُ ‫صلّلى الل ل‬
ْ ُ ‫ضه‬
َ ‫ى‬
ّ ‫ل ِزيلاَرةِ قَب ْلرِ الن ّ َب ِل‬
‫مللاِء‬
َ ُ ‫م ِزيللا ََرة‬
َ َ‫ع َل َْيللهِ و‬
َ َ ‫سللائ ِرِ قُُبللوْرِ ا ْلن ْب َِيللاِء وَْالعُل‬
َ ّ ‫سللل‬
(142 ‫ ج …ص‬،‫وَا ْل َوِْليا َِء )إعانة الطالبين‬
Disunnahkan bagi wanita berziarah kuburnya para Nabi,
ulama’ dan para wali atau orang-orang yang shalih. (I’anah
al-Thalibin, Juz II, hal. 142)

Mengharap Barokah
Dari dahulu masyarakat Indonesia marak melakukan ziarah
makam para wali. Ziarah makam para wali yaitu mendatangi
makam seseorang yang dianggap sebagai waliyullah (orang yang
dekat dengan Allah Swt.) yang berada di wilayah tertentu. Seperti
di pulau jawa terdapat makam wali songo dan wali-wali lainnya.
Tujuan melakukan ziarah selain untuk mengingatkan
kepada kematian juga untuk mengharap limpahan barokah
(berkah) yang diyakini dapat mengalir dari do’a para wali
tersebut. Ada sebagian orang berpendapat bahwa mengharap
barokah itu termasuk syirik. Benarkah anggapan tersebut?
Sebelum membahas tentang hukum mengharap barokah
terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian barokah.
Menurut Imam Syamsudin al-Syakhawi barokah adalah:
Berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemulyaan. Hal ini

24
5

diterangkan dalam kitab al-Qaul al-Badi’ Fii al-Shalati ‘ala alHabibi al-Syafi’:

‫ )القللول‬.‫ة‬
َ ْ ‫ن ال‬
ِ ‫مل‬
ِ ُ ‫موّ َوالّزيا َد َة‬
َ ‫خي ْلرِ َوال ْك ََر‬
ُ ّ ‫مَرد ُ ِبال ْب ََرك َةِ َالن‬
ُ ْ ‫ا َل‬
َ ‫م‬
(91 ‫ ص‬,‫البديع فى الصلة على الحبيب الشفيع‬
Yang dimaksud dengan barokah adalah berkembang dan
bertambahnya kebaikan dan kemulyaan. (al-Qaul al-Badi’ Fii alShalati ‘ala al-Habibi al-Syafi’, hal.91)
Barokah itu ada yang diletakkan pada diri seseorang atau
atsar (hal-hal yang membekas, memberikan kesan berupa jasa
atau yang lain) dari seseorang. Mengenai dalil yang menerangkan
barokah yang terdapat pada diri seseorang adalah perkataan
Imam Mujahid dan Imam Atho’ dalam kitab Tafsir al-Baghawy;

َ ً ‫) وجعل َِني مبار‬
.‫ت‬
ّ َ ‫ت ( ا َىْ ن‬
ً ‫فا‬
ُ ْ ‫حي‬
ّ َ‫ما ت َو‬
َ ‫عا‬
َ َ َ
ُ ْ ‫جه‬
َ ‫ث‬
ُ ْ ‫ما ك ُن‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫كا أي‬
َ َ ُ
َ
َ
َ
ْ
ّ
َ ‫ وَقَللا‬, ِ‫خي ْلر‬
َ ‫وََقا‬
َ ‫ما ل ِل‬
ِ‫ل ع َطللاٌء اد ْع ُلوْ ا ِلللى الل له‬
َ ‫م‬
ً ‫معَل‬
ُ ٌ ‫جاه ِد‬
ُ ‫ل‬
َ ‫ وَقِي ْل‬. ِ‫عَباد َت ِه‬
) ‫ي‬
ِ َ‫حي ْد ِهِ و‬
ِ ْ‫وَا َِلى ت َو‬
َ ‫مَباَرك لا ً ع َل َللى‬
ُ ‫ل‬
ْ ‫ن ت َب ِعَن ِل‬
ْ ‫مل‬
( 233 ‫ ص‬3 ‫تفسير البغوى ج‬
(Dan Dia (Allah) menjadikan aku (Nabi Isa as) seorang yang
diberkati di mana saja aku berada) yaitu berguna di manapun aku
menghadap. Imam Mujahid berkata: Mengajarkan kebaikan.
Imam Atho’ berkata: Aku berdo’a kepada Allah, dan mengesakanNya juga menyembah-Nya. Dan dikatakan diberkahi atas orang
yang mengikutiku (Nabi Isa As.). (Tafsir al-Baghawy juz 3 halaman
233)
Adapun dalil yang menerangkan barokah yang terdapat
pada atsar seseorang adalah hadits sebagai berikut;

َ ‫ك َقا‬
‫ه‬
ِ ‫ح لد ّث ََنا ع َب ْلد ُ الل ّل‬
َ ‫ل‬
ِ ِ ‫مل‬
ْ َ ‫حد ّث ََنا ي‬
َ
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ن ع َب ْد ِ ال‬
ْ َ ‫سِعيد ٍ ع‬
ُ ْ ‫حَيى ب‬
َ
َ
َ
َ
َ
َ
َ ‫ماَء َقا‬
‫ة‬
ْ ‫لأ‬
ً ‫سل‬
ً ‫جب ّل‬
ُ ‫ي‬
َ ‫خَر‬
َ ِ ‫ة طَيال‬
ْ ‫نأ‬
ْ ‫موْلى أ‬
ْ ‫جل‬
َ ‫س‬
َ ‫س‬
َ
ّ ‫ت إ ِل ل‬
ْ َ ‫ماَء ع‬
َ
َ
ْ
َ
َ
َ ‫ة‬
‫ه‬
ُ ‫مك‬
َ ‫جا‬
ُ َ ‫ع َلي َْها لب ِن‬
ِ ‫ن ِبلل‬
ِ ٍ‫شب ْر‬
َ ‫ي وَفْر‬
ْ ِ‫ج ك‬
َ ‫ها‬
ِ ‫فوفا‬
ّ ِ ‫سَرَوان‬
ْ ‫م‬
ٍ ‫ن ِديَبا‬
246

‫ن‬
ُ ّ ‫جب‬
َ ‫م ك َللا‬
ُ ِ‫ت هَذ ِه‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ُ ‫ة َر‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫ص لّلى الل ّل‬
ْ َ ‫َقال‬
َ ِ‫ل الل ّله‬
ِ ‫سو‬
َ ‫سَها‬
َ ِ ‫عائ‬
َ ِ ‫عائ‬
‫ي‬
َ ‫ت‬
َ َ ‫عن ْد‬
ُ ‫ش‬
َ ‫ش‬
ِ ‫ت‬
ْ َ ‫ة قَب‬
َ ِ ‫ما قُب‬
ُ َ ‫ي َل ْب‬
ْ ‫ض‬
ّ َ ‫ة فَل‬
ْ َ ‫كان‬
ّ ‫ض لت َُها إ ِل َل‬
ْ َ ‫ست‬
‫في ب َِها )مسند احمللد بللن‬
ِ ‫ش‬
ِ ‫ض‬
ِ ْ‫ن ن َغ‬
ْ َ ‫فَن‬
ْ َ ‫مّنا ي‬
َ ْ ‫سل َُها ل ِل‬
ُ ‫ح‬
ِ ‫م‬
ِ َ ‫ري‬
‫ رقللم‬, ‫ماُء بنللت ابللي بكللر الصللديق‬
َ ‫ بللاب‬,‫حنبل‬
ْ ‫حلد ّث ََنا أ‬
َ ‫سل‬
(25705
Telah bercerita kepadaku Yahya bin Sa’id dari Abdul Malik, beliau
berkata: Abdullah budaknya Asma’ binti Abu Bakar ra,
menceritakan dari Asma’, dia berkata; Asma’ memperlihatkan
kepadaku pakaian yang berlubang yang berjahit sutra, lalu asma
berkata, ini adalah pakaian Rasulullah Saw. yang pernah beliau
pakai. Pakaian itu dulu disimpan oleh ‘Aisyah ra. Ketika Aisyah ra.
Wafat, saya yang menyimpannya. Kami selalu mencelupnya ke
air untuk mengobati orang yang sakit dari kalangan kami.
(Musnad Ahmad bin Hambal bab Hadatsana Asma’ binti Abu
Bakar Al-Shiddiq, [25705]).
Berdasarkan paparan di atas, hukumnya boleh mencari
barokah (berkah) dengan berziarah ke makam-makam para wali,
dengan catatan tidak meyakini bahwa tempat itulah yang
memberikan berkah, akan tetapi hanya Allah Swt. semata yang
memberikan barokah.

Membakar Kemenyan di Kuburan
Di kalangan masyarakat terkadang melakukan upaya
membakar kemenyan (dupo) di kuburan, pada waktu mulai
membangun rumah, ataupun pada waktu mulai menanam padi
dan acara selamatan-selamatan lainnya. Bagaimanakah hukum
perilaku masyarakat seperti di atas?
Perilaku masyarakat di atas terkait dengan keyakinan dan
pengharapan, dengan demikian hukumnya ditafsil:

24
7

a. Haram dan kufur, bila beri’tikad bahwa kemenyan yang
dibakar
memberikan
pengaruh,
misalnya
dapat
mendatangkan keberuntungan dan rizki.
b. Boleh, melakukan upaya membakar kemenyan untuk
menghilangkan bau yang tidak nyaman dan beri’tikad
bahwa semua kemanfaatan yang dihasilkan hanya datang
dari Allah.
)Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 249)

َ ‫جعَ ل‬
‫ن ص لا ََر‬
ِ ِ ‫سللائ‬
ْ ِ ‫ فَ لإ‬، ِ‫ن َرب ّله‬
َ
َ َ‫ل ال ْو‬
َ ‫ن ال ْعَب ْلد ِ وَب َي ْل‬
َ ‫ط ب َي ْل‬
ْ
ُ
‫م‬
ْ ُ‫ملوْرِ وَي َعْت َقِلد ُ ت َلأث ِي ُْره‬
ُ ‫ه فِللي ا ْل‬
َ ‫ما ي َد ْع ُوْ اللل‬
َ َ‫م ك‬
ْ ُ‫ي َد ْع ُوْه‬
َ ‫ِفي‬
‫ن‬
ُ ُ ‫ن اللهِ َتعلا ََلى فَهُلوَ ك‬
ِ ‫يٍِء‬
َ َ ‫ن ك لا‬
ْ ِ ‫ وَإ‬، ‫فلٌر‬
ِ ْ‫ن د ُو‬
ْ ‫م‬
ْ ‫ش‬
َ ‫س‬
‫ع‬
َ ‫مل‬
َ َ‫م إ ِل َي ْهِ ت ََعاَلى ِفي ق‬
ّ َ‫ه الت ّو‬
َ ، ِ‫مللات ِه‬
ّ ِ‫مه‬
ُ ‫ضللاِء‬
ْ ِ‫ل ب ِه‬
ُ ُ ‫ن ِي َت‬
َ َ ِ ‫اع ْت‬
ُ
‫م لوِْر‬
ّ ‫ه هُوَ الن ّللافِعُ ال‬
ّ ‫قاد ٍ أ‬
ُ ‫م لؤ ْث ُِر فِللي ا ْل‬
ُ ْ ‫ضللاّر ال‬
َ ‫ن الل‬
ّ ‫ فَال‬، ِ‫ن غ َْيللرِه‬
‫ه‬
ْ ُ‫م ك‬
َ ‫ظللاه ُِر‬
َ َ ‫ن كللا‬
ْ ِ ‫فللرِهِ وَإ‬
َ ْ‫د ُو‬
ُ َ ‫عللد‬
ُ ‫ن فِعُْللل‬
( 249: ‫ )بغية المسترشدين‬.‫قَب ِْيحًا‬
Hukum Membangun Kuburan
Banyak sekali pemakaman baik di pemakaman umum
maupun di tanah pribadi yang diberi pagar, diperbaiki dengan rapi
dan indah, bahkan ada yang membangun dengan melakukan
pengkijingan, pemasangan atap dan seterusnya. Kadang hal ini
menelan dana yang tidak sedikit, misalnya makam para wali,
makam dari golongan keluarga kaya dan sebagainya.
Bagaimanakah hukum membangun makam seperti di atas?
a. Haram, membangun kuburan di tanah Musabbalah (tanah
kuburan umum) dan tanah wakaf.
b. Makruh, membangun kuburan di tanah pribadi atau tanah
yang tidak diwakafkan karena termasuk menyia-nyiakan
harta.
248

‫‪c. Boleh, membangun kuburan Nabi, sahabat, auliya’ dan‬‬
‫‪orang-orang shaleh karena dibuat untuk tabarruk (mencari‬‬
‫‪berkah). (Khasyiyah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib, Fashlun Fil‬‬
‫)‪Janazah juz II, hal.297‬‬

‫َ‬
‫ة‬
‫موُْقوفَ ل ِ‬
‫م َ‬
‫س لب ّل َةِ َوال ْ َ‬
‫) وََل ي ُب َْنى ( أيْ ي ُك َْره ُ فِللي غ َي ْلرِ ال ْ ُ‬
‫شاَر ل ِلذ َل ِ َ‬
‫ك ال ّ‬
‫ما أ َ َ‬
‫ف‬
‫خي ل َ‬
‫ن ِ‬
‫ح ‪ ،‬إّل إ ْ‬
‫شللارِ ُ‬
‫وَي َ ْ‬
‫حُر ُ‬
‫ما ك َ َ‬
‫م ِفيهِ َ‬
‫َ‬
‫ن َب ْ ُ‬
‫حين َئ ِذ ٍ وََل فَْرقَ ِفللي‬
‫ه أوْ ت َ ْ‬
‫ه فََل ي ُك َْره ُ ِ‬
‫رق ُ‬
‫ة َ‬
‫ل لَ ُ‬
‫ش ُ‬
‫سي ْ ٍ‬
‫خ ِ‬
‫ل ذ َل ِل َ‬
‫مللا‬
‫ع َد َم ِ ال ْك ََراهَةِ ِل َ ْ‬
‫م َ‬
‫س لب ّل َةِ وَغ َي ْرِهَللا ك َ َ‬
‫ن ال ْ ُ‬
‫ك ب َي ْل َ‬
‫ج ِ‬
‫َ‬
‫ض‬
‫ح ب ِهِ الّزْرك َ ِ‬
‫ح ّ‬
‫ي ‪.‬ا هل ‪َ .‬‬
‫صّر َ‬
‫ج وَل َوْ وُ ِ‬
‫َ‬
‫ش ّ‬
‫جد َ ب َِناٌء ِفللي أْر ٍ‬
‫َ‬
‫َ‬
‫ه ت ُرِ َ‬
‫ق‬
‫ه وُ ِ‬
‫ض لعَ ب ِ َ‬
‫ك ِل ْ‬
‫م َ‬
‫حل ّ‬
‫ل أن ّل ُ‬
‫حت ِ َ‬
‫صل ُ ُ‬
‫م ي ُعْل َ ْ‬
‫سب ّل َةٍ وَل َ ْ‬
‫ُ‬
‫مأ ْ‬
‫ما ِ‬
‫ْ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ن الب ِن َللاِء‬
‫س وَ ِ‬
‫مللا َ‬
‫قَِيا ً‬
‫سللا ع َلللى َ‬
‫مل ْ‬
‫ح لّرُروه ُ فِللي الك َن َللائ ِ ِ‬
‫س لت َث َْنى‬
‫ت َ‬
‫س ب ِت َْر ِ‬
‫جاُر ال ِّتي َ‬
‫ح َ‬
‫اْل َ ْ‬
‫ما ْ‬
‫كيب َِها ن َعَ ْ‬
‫جَر ْ‬
‫عاد َة ُ الّنا ِ‬
‫م قُُبوَر اْل َن ْب َِياِء َوال ّ‬
‫م‪،‬‬
‫صال ِ ِ‬
‫ن وَن َ ْ‬
‫شه َ َ‬
‫ب َعْ ُ‬
‫حللوَهُ ْ‬
‫ضهُ ْ‬
‫داِء َوال ّ‬
‫حي َ‬
‫ن‬
‫صللال ِ ِ‬
‫مللاوِيّ وَ ِ‬
‫عب َللاَرة ُ الّر ْ‬
‫ي ‪ :‬ن َعَ ل ْ‬
‫ح َ‬
‫ب ِْر َ‬
‫م قُب ُللوُر ال ّ‬
‫حي َ‬
‫مللان ِ ّ‬
‫ك‪.‬‬
‫هللا وََلللوْ ب ِ ُ‬
‫جللوُز ب َِناؤ ُ َ‬
‫حَيللاِء ِللّزَيللاَرةِ َوالت َّبللّر ِ‬
‫قّبللةِ اْل َ ْ‬
‫يَ ُ‬
‫)حاشية البجيرمي على الخطيب‪ ،‬فصل في الجنازة‪،‬‬
‫جزء ‪ ،2‬ص‪.(297 .‬‬
‫‪Hukum Memindah Kuburan‬‬
‫‪Terkadang kita menjumpai di tengah-tengah masyarakat ada‬‬
‫‪pemindahan mayit dari pemakaman yang satu ke pemakaman‬‬
‫‪yang lain, baik tempatnya berjauhan maupun dekat, hal ini‬‬
‫‪dilakukan karena berbagai alasan diantaranya karena perluasan‬‬
‫‪jalan raya, sengketa tanah, bahkan juga keinginan dari pihak‬‬

‫‪24‬‬
‫‪9‬‬

keluarga sendiri untuk dipindahkan. Hal semacam ini bolehkah
dilakukan?
a. Haram, dilakukan pemindahan tersebut, baik tempatnya
berjauhan
maupun
dekat,
karena
mengakibatkan
terbukanya aib si mayit, kecuali dalam keadaan dharurat.
Sebagaimana keterangan dalam kitab Mahalli, juz I, hal.
352.

َ
ُ ْ ‫وَن َب‬
‫ن‬
ْ ّ ‫ه ب َعْد َ د َفْن ِهِ ِللن‬
ٍ ‫ضُروَر‬
ْ ‫ ب ِلأ‬:‫ة‬
َ ِ ‫م إّل ل‬
َ ِ‫ل وَغ َي ْرِه‬
ٌ ‫حَرا‬
ُ ‫ش‬
ِ ‫ق‬
َ‫ أو‬،‫ أ َو ث َلوب مغْصللوبين‬،‫دفلن بَل غ ُسلل أ َو فللي أ َرض‬
ِ ْ ٍ ْ
ِ َ ِ ُ
ْ
ِ َْ ُ َ ٍ ْ ْ ٍ ْ
َ
َ
َ
ْ
ْ
ٌ ‫مللا‬
‫ن فِللي‬
ِ ‫قب ْل لةِ ل ِللت ّك‬
ِ ‫ن ل ِغَي ْلرِ ال‬
َ ِ‫وَقَعَ ِفيه‬
َ ‫ أوْ د ُفِل‬،‫ل‬
ِ ‫في ل‬
َ
(352 ‫ ص‬1 ‫ ج‬،‫ )المحلى‬.‫ح‬
ّ ‫ص‬
َ ‫اْل‬

Menggali kembali kuburan untuk dipindahkan atau tujuan
lainnya hukumnya haram kecuali karena ada sesuatu yang
dharurat seperti: mayit belum dimandikan, mayit dikubur
atau memakai pakaian ghosob, terdapat harta berharga,
atau mayit dikubur tidak menghadap kiblat, bukan karena
untuk mengkafani (menurut pendapat yang lebih sahih).
(al-Mahalli, juz I, hal. 352)
b. Makruh, pemindahan tersebut baik tempatnya berjauhan
maupun dekat karena tidak ada dalil yang jelas mengenai
hal ini. Sebagaimana dijelaskan dalam Hawasyi alSyarwani;

َ َ ‫ة قَول ِه بل َد آ‬
‫حوِهَللا‬
ْ َ‫م ن‬
ٍ َ ِ ْ ُ ّ ‫ضي‬
ِ َ‫وَق‬
ْ َ ‫ه ل ِت ُْرب َلةٍ وَن‬
ْ َ ‫ه َل ي‬
ُ ‫حُر‬
ُ ُ ‫قل‬
ُ ّ ‫خَر أن‬
َ
َ
ّ ‫َوال‬
ّ ‫ن ك ُل‬
ِ‫ب ل ِب َل َلد‬
ُ ‫سل‬
ّ ‫م لَراد ٍ وَأ‬
َ ْ ‫مللا َل ي ُن‬
َ ‫ل‬
ُ ‫ه غ َي ْلُر‬
ُ ‫ظاه ُِر أن ّل‬
ُ ‫ق‬
‫مللوا‬
ْ ّ ‫م الن‬
ِ ‫م َرأ َي ْللت غ َي ْلَر َوا‬
ِ ْ ‫مو‬
َ ٍ ‫ح لد‬
ْ َ‫ت ي‬
ُ ‫حُر‬
ُ ‫جَز‬
ّ ُ ‫ل إل َي ْهِ ث‬
َ ْ ‫ال‬
َ ّ ‫قل ِه إَلى مح‬
ّ ‫حل‬
‫ه‬
ْ ‫م‬
ِ ِ ‫ملوْت‬
ِ َ ‫ل أب ْعَلد‬
ِ ْ َ ‫مة ِ ن‬
َ ‫م‬
َ َ
ُ ِ‫ب‬
َ ‫ل‬
َ ِ‫قب َلَرة‬
َ ‫ن‬
َ ‫حْر‬
ْ ‫مل‬
َ
ٌ ‫م ي َلرِد ْ د َِلي ل‬
َ ‫) وَِقي ل‬
‫ملهِ )حاشللية‬
ِ ‫ري‬
ْ َ ‫ل ل ِت‬
ْ ‫ل ي ُك ْلَره ُ ( إذ ْ ل ل‬
ِ ‫ح‬
(199 ‫ ص‬4 ‫ ج‬،‫الشروانى‬
Batasan pemindahan itu selagi tidak melebihi jarak
kuburan daerahnya si mayit. Dalam hal ini menurut
sebagian ulama’ pemindahan itu tidak diharamkan, akan
250

tetapi dihukumi makruh, karena tidak ada dalil yang tegas
dalam hal ini. (Hasyiyah al-Syarwani, juz IV, hal. 199)

Membongkar Kuburan
Di suatu daerah terdapat peristiwa pembongkaran makam,
hal ini dilakukan karena mayat di dalamnya harus divisum terkait
dengan kasus kriminal yang terjadi. Bagaimanakah hukum dari
pembongkaran pemakaman mayat tersebut?
a. Haram, karena hal tersebut merupakan perkara yang
membuka aib si mayit.
b. Boleh, apabila hal ini mendapat izin dari keluarga mayat.
Keterangan di atas berdasarkan kitab Bujairami ‘Ala alKhotib, Juz II, halaman. 309.

َ
َ
َ ‫ه ب َعْد َ د َفْن ِلهِ وَقَب ْل‬
ُ ْ ‫ما ن َب‬
ِ ْ ‫ل ال‬
ِ ‫ل ال ْب َل َللى‬
ِ‫خب ْلَرة‬
ُ ‫ش‬
ّ ‫وَأ‬
ِ ‫عن ْلد َ أهْل‬
َ ْ َ ‫بت ِل ْل‬
َ ِ‫ل وَغ َي ْلرِه‬
‫ه‬
ْ ّ ‫ض ِللن‬
ِ ‫فين ِل‬
ِ ْ ‫ص لَلةِ ع َل َي ْلهِ وَت َك‬
ِ
ّ ‫كال‬
ِ ‫قل‬
ِ ‫ك الْر‬
َ
َ
ً ْ ‫ن ِفيهِ هَت‬
‫ن ب َِل‬
ْ ‫ضُروَرةٍ ب ِأ‬
َ ِ ‫مت ِهِ إّل ل‬
ُ ِ ‫كا ل‬
ّ ‫م ِل‬
َ َ‫ف‬
ٌ ‫حَرا‬
َ ‫حْر‬
َ ِ‫ن د ُف‬
َ
َ ِ ‫مم ٍ ب‬
‫ه‬
ِ َ‫شْرط ِهِ وَهُو‬
ُ ‫جل‬
ْ ُ‫ب غ‬
ْ ُ‫غ‬
ُ ‫ه ِلن ّل‬
ُ ُ ‫س لل‬
ِ َ‫ن ي‬
ّ ‫م‬
ّ َ ‫ل وََل ت َي‬
ْ ‫م‬
ٍ ‫س‬
َ ‫ست َد َْر‬
ْ ‫م‬
‫ش لُهوِر‬
ِ ‫ك‬
ُ ‫جل‬
ٌ ‫ج‬
ْ ‫ َفا‬، ‫ب‬
َ ْ ‫ب ع َل َللى ال‬
ِ َ ‫عن ْد َ قُْرب ِهِ فَي‬
ِ ‫َوا‬
َ
َ
ُ ْ ‫ن َب‬
‫ض أ َوْ فِللي‬
ْ ‫هإ‬
ْ ُ ‫ه وَغ‬
ْ َ‫ن ل‬
ُ ُ ‫سل‬
ُ ‫ش‬
َ ‫م ي َت َغَي ّْر أوْ د ُفِ ل‬
ٍ ‫ن فِللي أْر‬
َ َ‫صوب َي ْن و‬
‫ش‬
ُ ‫جل‬
َ َ ‫طال‬
ِ َ ‫مللا فَي‬
َ ُ‫مال ِك ُه‬
َ ‫ما‬
َ ِ‫ب ب ِه‬
َ ‫ب‬
ُ ‫ب الن ّب ْل‬
ُ ْ‫مغ‬
ٍ ْ‫ث َو‬
ِ
َ ‫ص‬
‫ن‬
ّ ‫ح‬
ِ َ ‫ست‬
ِ َ ‫ت ل ِي‬
َ ‫حقّ إل َللى‬
َ ُ ‫ وَي‬، ِ‫قله‬
ْ ‫م‬
ُ ْ ‫ل ال‬
ُ ّ ‫مي‬
َ ْ ‫وَل َوْ ت َغَي َّر ال‬
ّ ‫سل‬
ُ ‫ما الت ّْر‬
‫ ص‬2 ‫) البجيرمى على الخاطب ج‬. ‫ك‬
ِ ‫صا‬
َ ِ‫حب ِه‬
َ ِ‫ل‬
( 309

25
1

Sebab-sebab wajibnya membongkar kuburan:
1. Mayat belum dimandikan
2. Mayat tidak menghadap kiblat
3. Jika mayat membawa barang orang lain (ghosob)
4. Ada janin pada perut mayat dan diperkirakan janin tersebut
masih hidup, (misalnya karena janin berumur 6 bulan
lebih), menurut ahli kedokteran.
5. Orang kafir yang dikubur di pemakaman orang islam.
6. Terkena banjir atau bencana yang lain.
7. Orang kafir yang dikubur di tanah suci (Makkah)
8. Adanya tuntutan orang lain terhadap ahlul waris mayit
karena terjadi kasus.
Keterangan dalam kitab Inarah al-Duja, hal. 158

ِ‫قب ْل َة‬
ِ ْ ‫جي ْهِهِ ل ِل‬
ْ ُ‫ل ِل ْغ‬
ِ ْ‫معْ ت َو‬
َ ‫ل‬
ِ ‫س‬
‫قا‬
ً َ ‫مط ْل‬
ْ ِ‫ل إ‬
ُ ‫ه‬
ُ ْ‫مع‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ل ِل‬
َ ِ‫ن د ُف‬
ِ ‫ما‬
ُ
‫هاهَُنا‬
َ ‫حّيا‬
َ ‫ن‬
َ
ّ ُ ‫معْ أمهِ وَظ‬

ِ‫ت ل ِْل َْرب َعَة‬
ُ ّ ‫مي‬
َ ْ ‫س ال‬
ُ َ ‫وَي َن ْب‬
َ ِ‫م إ‬
َ َ‫ه‬
‫قا‬
َ ِ ‫ذا ي َت َغَي ّْر َوان ْت‬
ْ َ ‫ذا ل‬
َ ‫ذا‬
َ َ‫ك‬
‫ث د ُفَِنا‬
ُ ْ ‫حي‬
َ ‫ن‬
َ ْ ‫ك ل ِل‬
ِ ْ ‫جن ِي‬

Dengan demikian membongkar kuburan hukumnya boleh
ketika dalam keadaan darurat.

Non Muslim Meninggal sebelum Baligh Masuk Sorga atau
Neraka
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada 3
pendapat:
a. Menurut sebagian ulama’ anak orang kafir yang meninggal
belum baligh akan masuk neraka karena dinisbatkan
(dibangsakan) pada orang tuanya yang kafir.

َ ْ َ ‫سا َل‬
‫م‬
َ ‫ن‬
َ ‫ج‬
َ ْ ‫خد ِي‬
َ َ‫ه ع َل َْيلهِ و‬
َ ‫ة ا َن َّها‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى اللل‬
َ ‫ى‬
ْ َ‫ع‬
ّ ِ ‫ت الن ّب‬
‫ج ل َهَللا‬
َ ِ ‫ن ا َوْل َد‬
ِ ِ‫جاه ِل ِي ّلة‬
َ ْ ‫وا فِللى ال‬
َ ‫ن‬
ْ ‫مل‬
ْ ُ ‫مللات‬
َ ْ ‫ها ا َل ّذ ِي‬
ْ َ‫ع‬
ٍ ْ‫ن َزو‬
َ َ ‫م َفقلا‬
َ ْ ‫قَب‬
‫ه‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
ُ ‫صلّلى اللل‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل‬
َ ‫ل‬
َ ‫ى‬
ّ ِ ‫ل الن ّب‬
َ
‫ن‬
ْ َ‫ك ت‬
ِ ْ ‫شلئ‬
ِ ‫ن‬
ْ ِ ‫م ِفلى الّنلارِ وَا‬
ِ ‫ت ا ََرأي ُْتل‬
ْ ِ‫م ا‬
َ َ‫ع َل َي ْهِ و‬
ْ ‫قب ِل َُهل‬
َ ّ ‫سل‬
َ ‫ه ت ََعاَلى قَللا‬
‫ل‬
ِ ْ ‫شئ‬
ِ
ّ َ ‫م ِفى الّنارِ وَِل‬
ِ ْ‫مع‬
ْ ِ‫ت ا‬
َ ‫ن الل‬
ْ ِ‫ك ن َعْل َئ ِه‬
َ ‫س‬

252

‫وا‬
ّ َ ‫جًرا ك‬
ِ ‫م‬
ْ ُ‫ فَلإ ِن ّه‬،‫فللاًرا‬
ِ َ ‫وَل َ ي َل ِد ُْوا ا ِل ّ ف لا‬
ْ ُ ‫ن وَل َلد ُْوا ك لا َن‬
َ ‫حي ْل‬
.‫فاًرا‬
ّ ُ‫ك‬
Diceritakan dari Siti Khadijah Ra., sesungguhnya dia
bertanya pada Nabi tentang anak-anaknya yang telah
meninggal pada masa Jahiliyah dengan suami sebelum
Nabi, Maka Nabi Muhammad Saw. Berkata: Kalau kamu
ingin mengetahui, aku akan menunjukkan keberadaan
anakmu di neraka, kalau kamu ingin mengetahui aku akan
memperdengarkan sandal anakmu yang ada di neraka,
Allah Swt. berfirman: Anak-anak orang kafir tidak
dilahirkan kecuali menjadi orang yang rusak dan kafir.
b. Menurut sebagian ulama anak orang kafir yang meninggal
sebelum baligh akan masuk surga karena dikembalikan
pada fitrah (suci)

ّ ‫م ك ُل‬
ٍ‫موْل ُلوْد‬
َ َ‫ه ع َل َي ْلهِ و‬
َ ‫ل‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫صّلى الل ل‬
َ ‫ى‬
ّ ِ ‫ن الن ّب‬
ِ َ ‫ُروِىَ ع‬
َ
ْ
ْ
َ
‫ه‬
ِ ِ ‫صلللَران‬
ِ ‫ي ُوْل َلللد ُ ع َللللى ال‬
َ ّ‫واهُ ي ُهَلللو‬
ّ َ ‫دان ِهِ وَي ُن‬
ْ ُ ‫فطلللَرةِ فَلللاب‬
.‫ه‬
ِ ِ ‫سان‬
ّ ‫م‬
َ ‫ج‬
َ ُ ‫وَي‬

Diceritakan dari Nabi Muhammad Saw. beliau bersabda;
setiap bayi yang dilahirkan adalah suci, tergantung orang
tuanya yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.
c. Menurut sebagian ulama’, anak orang kafir yang
meninggal sebelum baligh akan dijadikan pelayan surga.

َ ّ ‫ع َن رسول الله صّلى الله ع َل َيه وسل‬
‫ن‬
ِ ‫ن‬
َ ْ‫م أَتللذ َُرو‬
َ َ َ ِ ْ
ُ
َ ِ
َ ‫ملل‬
ِ ْ ُ َ ْ
َ
ُ
َ
َ
ُ
َ
ُ
َ ‫م َفق لا‬
‫ل‬
َ َ‫ى ف‬
ِ ‫ن‬
ُ ‫ه وََر‬
ُ ‫ه أع ْل ل‬
ُ ‫س لوْل‬
ُ ‫وا الل‬
ّ ‫نأ‬
ْ ‫قال‬
ْ ‫م‬
ِ ْ‫الل ّهُو‬
ْ ِ ‫مت‬

25
3

ْ َ‫أ‬
ُ َ ‫طفا‬
ْ ‫م‬
‫ة‬
ً َ ‫سللن‬
َ ‫وا‬
َ ‫ح‬
ّ َ‫وا وَي ُع‬
ْ َ‫ن ل‬
ُ ْ ‫ل ال‬
ْ ُ ‫مل‬
ْ ُ ‫وا فَي ُعَذ ّب‬
ْ ُ ‫م ي َذ ْن ِب‬
َ ْ ‫شرِك ِي‬
َ ‫خدا‬
.‫ة‬
ِ ّ ‫جن‬
َ ْ ‫ل ال‬
ُ ّ ُ ‫م‬
ْ ُ‫وا فَه‬
ِ ْ‫م أه‬
ْ ُ ‫فَُيثا َب‬
Diceritakan dari Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda:
apakah kalian tahu apa yang dinamakan Lahun dari
umatku?. Para sahabat menjawab: Allah dan rasulnya yang
lebih tahu. Kemudian Nabi bersabda: mereka adalah anakanak orang kafir yang meninggal sebelum baligh, belum
melakukan dosa dan akan disiksa, dan belum melakukan
perbuatan baik kemudian mendapat pahala, yaitu anakanak orang kafir (yang meninggal sebelum baligh) mereka
akan menjadi pelayan di surga. (Bustan al-Arifin, hal. 101102)
Adzan dan Iqomah saat Mayit Dibaringkan dalam Liang
Lahat
Adzan merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan oleh
agama Islam. Karena di dalam adzan ada manfaat yang sangat
besar, serta terkandung syiar agama Islam. Ketika akan
melaksanakan shalat, adzan dikumandangkan sebagai tanda
masuknya waktu shalat. Dan salah satu kebiasaan yang berlaku
di masyarakat adalah adzan setelah mayit diletakkan dalam
kuburan. Bagaimanakah hukum adzan tersebut?
Dalam hal ini pandangan ulama’ terbagi menjadi dua:
a. Tidak disunnahkan adzan setelah mayit diletakkan dalam
liang lahat, karena tidak ada dalil yang menunjukkan
kesunnahan pelaksanaan hal tersebut dari Nabi.
b. Sunnah karena bisa disamakan pada adzan dan iqomah
ketika anak baru lahir ke dunia.

َ َ ‫واع ْل‬
َ َ ‫ن اْل‬
‫ن‬
َ ْ ‫ل ال‬
ُ ُ ‫عن ْد َ د‬
ِ ِ‫قب ْر‬
ِ ‫ن‬
ُ ‫ذا‬
َ ُ ‫ه َل ي‬
َ ِ ‫خَلًفا ل‬
ُ ّ ‫م أن‬
ْ
ْ ‫مل‬
ِ ْ‫خو‬
ّ ‫س‬
َ
َ ‫َقا‬
‫ه‬
ُ ُ ‫ن الد ّن َْيا ع ََلى د‬
ُ ِ ‫سا ل‬
ِ ‫خوْل ِهِ فِي ْل‬
ِ ِ ‫جه‬
ً ‫سن ّت ِهِ قَِيا‬
ُ ِ‫ل ب‬
ِ ْ‫خُرو‬
َ ‫م‬
ّ ‫ة ال‬
.(230 .‫ ص‬،1.‫ ج‬،‫ن‬
َ ِ ‫)إ‬
ُ َ ‫عان‬
َ ْ ‫طال ِب ِي‬

254

Ketahuilah, sesungguhnya adzan itu tidak disunnahkan
ketika memasukkan jenazah ke dalam kubur. Berbeda
dengan orang yang berpendapat bahwa adzan itu sunnah,
karena kematian dikiaskan dengan kelahiran. (Ianah alThaliban, juz I, hal. 230).

Dengan demikian adzan dan iqomah tersebut tidak dapat
dikatakan haram.

25
5

BAB XXII
SIKAP DAN KEPRIBADIAN SEORANG SUFI
Definisi Sufi yang Dikemukakan oleh Para Ulama’
a. Menurut Imam Junaidi al-Baghdady

َ ْ ِ‫صوْف‬
ّ ُ ‫ح ع َل َي َْها ك‬
َ ‫وََقا‬
‫ح‬
ُ ‫ض ي ُط َْر‬
ُ ‫ل‬
ّ ‫ َال‬:‫ي‬
ْ ِ ‫جن َي ْد‬
ٍ ‫ل قَب ِْيلل‬
ِ ‫ي كال َْر‬
َ ‫ح وَقَللا‬
ّ ‫من ْهَللا إ ِل ّ ك ُل‬
‫ص لوِْفى‬
ْ َ ‫وَل َ ي‬
ِ ‫ج‬
ً ْ ‫ل ا َي‬
ُ ‫خ لُر‬
َ ‫ل‬
ّ ‫ َال‬:‫ضللا‬
ٍ ‫مل ِي ْل‬
َ َ‫ماِء و‬
َ َ‫جُر و‬
َ
‫ب‬
َ ْ‫ض ي َط َئ ُو‬
َ ‫سل‬
ّ ‫كال‬
ّ ‫كال‬
َ ‫سل‬
ِ ‫ها ال ْب ِّر َوال ْفَللا‬
ِ ‫حا‬
ِ ‫كال َْر‬
َ ‫م‬
ُ ‫قى‬
َ َ‫يٍء و‬
ّ ‫كل‬
ّ ُ‫ل ك‬
ّ ِ ‫ت ُظ‬
َ ‫ل‬
َ ‫ل‬
‫ فلي‬. ‫يٍِء‬
ِ ‫سل‬
ْ ُ ‫طلارِ ي‬
َ ْ ‫كال‬
ْ ‫شل‬
ْ ‫شل‬
22 ‫الكتاب نشأة التصوف وتصريف الصوف ص‬
“Seorang sufi itu bagaikan bumi yang bila dilempari
keburukan maka ia akan selalu membalasnya dengan
kebaikan. Seorang sufi itu bagaikan bumi yang mana di
atasnya berjalan segala sesuatu yang baik maupun yang
buruk (semua diterimanya). Seorang sufi juga bagaikan
langit atau mendung yang menaungi semua yang ada di
bawahnya, dan seperti air hujan yang menyirami segala
sesuatu tanpa memilah dan memilih, [yang baik maupun
yang buruk semuanya diayominya]”. Kitab Nasyatu atTashawuf Wa Tashrifu as-Shufi hal 22

b. Dan menurut Aba Bakar al-Syibly dalam kitab Hilyah alAuliya' Hal 11.

َ ‫َقا‬
ّ ‫ل ا ََبا ب َك َْر ال‬
،‫فى‬
َ ‫صل‬
ُ َ ‫صفا َ قَل ْب‬
َ ,‫ي‬
َ َ‫ه ف‬
َ ‫ن‬
ّ ‫ َال‬:‫ي‬
ْ ‫م‬
ْ ِ‫صوْف‬
ْ ِ ‫شب ْل‬
َ َ ‫س لل‬
‫م‬
َ َ ‫ص لط‬
َ َ‫ص لّلى الللله ع َل َي ْلهِ و‬
َ َ‫و‬
َ ّ ‫س لل‬
ُ ‫ك ط َرِي ْلقَ ْال‬
َ ‫فى‬
ْ ‫م‬
َ
ْ
َ
ْ
ْ
ْ
َ ‫ وَأ‬،‫فللا‬
.‫فللا‬
َ ‫ج‬
َ ‫ق‬
َ ‫ف ال‬
َ ‫مى الد ّن َْيا‬
َ ‫خل‬
َ ‫م ال‬
َ ‫وى طعْ ل‬
َ ‫وََر‬
َ ‫ذاقَ الهَ ل‬
(11:‫)كتاب حلية الولياء ص‬
“Orang sufi itu adalah seseorang yang membersihkan
hatinya maka bersihlah hatinya, dan mengikuti jalannya
Nabi al-Musthafa Saw. Serta tidak terlalu memikirkan
perkara duniawi (lebih mementingkan masalah ukhrowi),
256

dan menghilangkan keinginan hawa nafsunya. Hilyatu alAuliya’ halaman 11
c. Aba Hammam Abd. Rahman bin Mujib as-Shufi
berpendapat:

َ
‫ص لوِْفي‬
َ ْ ‫م ع َب ْلد َ الّر‬
ِ ‫س‬
ْ ‫ما‬
َ
ِ ‫م‬
ُ ‫ن‬
ّ َ‫ت أَبا ه‬
ُ ْ‫مع‬
ّ ‫ب َال‬
ٍ ‫جي ْل‬
ِ ‫ن ب ْل‬
ِ ‫حم ل‬
َ ‫ي فَقَللا‬
َ ِ ‫س لئ‬
َ ِ ‫س له‬
ْ َ ‫ ل ِن‬:‫ل‬
ِ ‫ف‬
ٌ ‫ذاب ِل‬
ُ َ‫و‬
ُ‫واه‬
ّ ‫ن َال‬
َ ‫ وَل ِهَ ل‬،‫ح‬
ْ ِ‫ص لوْف‬
ِ ‫ل عَ ل‬
ْ َ ْ ‫ وَل ِل‬،‫ح‬
،‫ل‬
ِ ‫ق َنا‬
ِ ‫َفا‬
َ َ‫دائ ِم ِ ْالو‬
َ .‫ح‬
ٌ ‫صل‬
ٌ ِ‫جللار‬
َ ِ‫ وَل ِعَلد ُوّه‬،‫ح‬
ٌ ‫ض‬
ِ ‫جل‬
ِ ‫خلل‬
َ
َ َ ‫خل‬
َ ‫م‬
َ ‫م‬
‫ى‬
َ ‫ضى‬
ِ ‫سد ّ ْال‬
َ ْ‫ وي َغ‬،‫ل‬
ْ َ‫ي‬
ّ َ ‫ل وَي‬
َ ‫ وَي َب ْعَد ُ ا ْل‬،‫ل‬
َ َ‫م ْالع‬
ُ ُ ‫حك‬
َ ‫عل‬
ُ ْ ‫ة وَع َي‬
‫ة‬
َ ‫ه قََنا‬
ٌ ‫عل‬
ٌ َ ‫صلَناع‬
ٍ َ ‫ضلاع‬
َ َ‫ و‬،‫ة‬
َ ِ ‫ ع ُذ ُْره ُ ب‬،‫ل‬
ُ ‫شل‬
ُ ‫حْزُنل‬
َ ‫ه‬
ِ َ ‫الّزل‬
ّ ‫ن ال ْك ُل‬
.‫ف‬
َ ‫ب‬
َ َ‫ف و‬
َ ّ‫حق‬
ٌ ِ‫ل ع َللاز‬
ٌ ِ ‫عاك‬
ٌ ِ‫عار‬
َ ْ ‫ِبال‬
ِ ‫ى ال َْبا‬
ِ َ ‫ف وَع‬
َ ‫عل‬
(11:‫)كتاب حلية الولياء ص‬

“Ciri-ciri orang sufi itu adalah sebagai berikut;
1. Seseorang yang merasa dirinya hina
2. Menahan dan memerangi hawa nafsunya
3. Memberi nasehat kepada mahluk
4. Selalu mendekatkan diri kepada Allah
5. Berperilaku bijaksana
6. Menjauhi berandai-andai (berangan-angan terlalu tinggi
dalam hal duniawi)
7. Tidak mau mencela
8. Mencegah perbuatan dosa
9. Waktu luangnya digunakan untuk beribadah
10.Susahnya sengaja di buat-buat (karena memang
seorang sufi itu terhindar dari berbagai macam
kesedihan dan kesusahan duniawiyah)
11.Hidupnya sederhana
12.Arif terhadap sesuatu yang benar
13.Mengasingkan diri dan mencegah dari segala sesuatu
yang sia-sia.

25
7

Ciri-Ciri Kepribadian dan Perilaku Seorang Sufi
Menurut Imam Qusyairi dalam kitabnya Risalah al-Qusyairiyah
hal. 126-127 ciri-ciri kepribadian dan perilaku seorang sufi
dibagi menjadi dua yaitu:

Seorang sufi al-Shadiq: merasa miskin setelah
memperoleh kekayaan, merasa hina setelah mendapatkan
kemulyaan, dan menyamarkan dirinya setelah terkenal.

Seorang sufi al-Kadzib:
merasa kaya akan harta
sesudah faqir, merasa mulia setelah hina, merasa terkenal
yang mana sebelumnya dia tidak masyhur.

َ
ّ ِ ‫ وَي َلذ‬،‫ى‬
‫ل‬
ْ َ‫ن ي‬
ُ ‫م‬
ِ َ ‫فت‬
ْ ‫ أ‬:‫ق‬
َ َ ‫ع َل‬
ّ ‫ي ال‬
ّ ‫ة ال‬
ّ ِ‫صوْف‬
ِ ِ ‫صاد‬
َ ‫قّر ب َعْد َ الِغن ل‬
ّ ‫ى ب َعْلد َ ال‬
‫ي‬
ْ َ ‫ وَي‬،‫ب َعْلد َ ال ْعِ لّز‬
ُ ‫مل‬
ِ ‫ش لهَْر‬
َ َ ‫ وَع َل‬،‫ة‬
ّ ‫ة ال‬
ْ ِ‫ص لوْف‬
َ ‫خف ل‬
َ
ْ ‫ف‬
َ ْ ‫ي ِباللد ّن َْيا ب َعْلد َ ال‬
َ ‫ وَي َعِلّز ب َعْلد‬،‫ر‬
ْ ‫ أ‬:‫ب‬
ْ َ‫ن ي‬
ِ ِ ‫ا َل ْك َللاذ‬
َ ِ ‫سلت َغْن‬
ِ ‫قل‬
ّ ِ ‫الذ‬
ْ َ ‫ وِي‬،‫ل‬
‫ ) كتاب رسالة القشلليرية‬.‫فاِء‬
َ َ ‫خل‬
ُ ْ ‫شت َهَِر ب َعْد َ ال‬
( 127-126 ‫ص‬

258

XXIII
PENUTUP
Pembaca yang budiman, dari paparan di atas bisa kita
simpulkan bahwa perbedaan pendapat para ulama’ adalah
membawa rahmat, manfaat, dan kemudahan tersendiri bagi kita.
Kita bisa memilih dan mengikuti salah satu pendapat mereka
sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Ingin memilih
yang mana saja dipersilakan, karena semua pendapat ulama’ itu
adalah mempunyai landasan atau dalil masing-masing. Maka dari
itu kita tidak perlu saling menyalahkan antara pengikut pendapat
satu dengan pengikut pendapat yang lain, tetapi kita harus saling
menghargai setiap perbedaan pendapat yang ada.
Perbedaan adalah sesuatu yang wajar bahkan dibutuhkan,
karena perbedaan merupakan sunnatullah dan menjadi bukti dari
kebesaran-Nya. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda mulai
dari warna kulit, warna rambut, bentuk wajah, postur tubuh, hati,
daging, jenis kelamin, jenis darah, otak intelegensi, dan sidik
jarinya. Semua itu tidak ada satupun yang sama bahkan nasibnya
juga berbeda-beda, sehingga sudah bisa dipastikan hasil
pemikiran dan pendapatnya juga berbeda-beda.
Jika kita renungkan lebih dalam, manusia merupakan hasil
dari
suatu
perbedaan
bukan? Kita merupakan hasil dari
perbedaan yang saling menghormati dan saling mencintai. Ayah
kita adalah seorang laki-laki sedangkan ibu kita adalah
perempuan. Bayangkan kalau mereka berdua tidak saling
mencintai dan menghargai perbedaan di antara mereka berdua,
maka kita pun pasti tidak akan pernah ada di muka bumi ini.
Bukan hanya kita dan ulama’ saja yang berbeda pendapat,
seorang Nabi yang ma’sum, yang selalu dijaga oleh Allah dari
perbuatan dosa juga berbeda pendapat. Tentunya kita telah
mengetahui tentang kisah Nabi Musa as. dengan Nabi Khidzir as.

25
9

Mereka berdua juga berbeda pendapat. Kisah tentang perbedaan
pendapat mereka berdua diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an
(Q.S. al-Kahfi ayat 60-82 juz 16). Dari kisah tersebut, sebenarnya
Allah menunjukkan banyak rahasia-Nya. Salah satu rahasia
tersebut adalah gambaran dan pelajaran bagi kita bahwa
perbedaan itu tidak bisa dihindari dan dihilangkan.
Dengan demikian sikap yang bijak adalah harus pandaipandai memaknai dan menyikapi secara positif suatu perbedaan.
Kita utamakan saling mengevaluasi diri-sendiri, sebelum
mengevaluasi orang lain. Sudah bisakah kita menghargai orang
lain? jika belum, marilah kita bersama-sama belajar untuk saling
menghargai dan menghormati perbedaan di antara kita, sehingga
perbedaan tersebut dapat membuahkan suatu keharmonisan dan
kedamaian serta rahmat yang indah bagi kita. Karena Imam
Nawawi dalam kitab Hasiyah al-Bujairami menyatakan:

‫ة‬
ِ ‫عللـمـا‬
ْ ِ‫ا‬
ٌ ‫مل‬
ُ َ ‫خلِتلل‬
ْ ‫ء َر‬
ُ ‫ف ْالل‬
َ ‫حل‬
“Perbedaan Ulama’ itu Adalah Rahmat”

260

DAFTAR KITAB RUJUKAN
1. Al-Qur’an al-Karim terjemah Depag RI
2. Al-Adab al-Syar’iyah
3. Al-Ahkam
4. Al-Adzkar an-Nawawi
5. Al-Akhad Wa al-Matsany
6. Al-Bab Fii ‘Ulumi al-Kitab
7. Al-Bariqah Syarh al-Thariqah
8. Al-Bajuri ‘Ala Ibni Qosim
9. Al-Bujairomi ‘ala al-Khattib
10.Al-Bujairimi ‘ala al-Minhaaj
11.Al-Bayan wa al-Ta’rif al-Maulid al-Nabawi
12.Al-Dar al-Mansur
13.Al-Fatawi al-Fiqhiyah al-Kubra
14.Al-Fatawi al-Kubra
15.Al-Fiqhu ‘Ala Madzahib al-Arba’ah
16.Al-Fiqhu al-Wadlhih Min al-Kitab Waa al-Sunnah
17.Al-Futukhat al-Rabbaniyah
18.Al-Fuyudhat al-Rabbaniyyah
19.Al-Ghuroru al-Baiyyah
20.Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq
21.Al-Haway Ilaa Fatawa Lii al-Suyuty
22.Al-Inayah Syarhu al-Hidayah
23. Al-Itkhaf ‘ala al-Ihya’
24.Al-Iqna’ Fii Khaali al-Fadzi Abi Syuja’
25. Al-Iqna’ Lii al-Syarbiny
26. Al-Jauhar al-Nirah
27.Al-Jam’u Baina al-Sakhikhaini al-Bukhari
28.Al-Jami’ al-Shaghir
29.Al-Kawakib al-Lamma’ah
30.Al-Kawakib al-Durriyah
31.Al-Mabahits al-Wafiyyah
32.Al-Mahalli
33.Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab
34.Al-Maudhu'at

26
1

35. Al-Mu'jam al-Kabir Li al-Thabrani
36.Al-Minhaj al-Qowim
37.Al-Minhaj Lii an-Nawawi
38.Al-Mizanu al-Kubra
39.Al-Mughny
40.Al-Muhadzab
41.Al-Muwatha’
42.Al-Qaul al-Badi’ Fii al-Shalati ‘ala al-Habibi al-Syafi’
43.Al-Qulyubi
44. Al-Showi ‘ala Syarhi Tafsir al-Jalalain
45.Al-Sunan al-Kubra li an-Nasa’i
46.Al-Syarhu al-Kabir Lii al-Rafi’i
47.Al-Syarqawi
48.Al-Sunan al-Kubra Lii al-Baihaqi
49.Al-Tadzkirah
50.Al-Umm
51.Ahkamul Fuqaha’
52.Akhadits Muhtar Min Al-Shahihain
53.Asna al-Mathalib Fii Syarhi al-Thalib
54.Bughyah al-Mustarsyidin
55.Bulugh al-Maram
56.Bustan al-Arifin
57.Durratu al-Nasihin
58.Fatawi al-‘Allamah al-Syaikh Husain Ibrahim al-Muqarri
59.Fatawi Hasyiyah
60.Fathu al-Bari
61.Fathu al-Qarib
62.Fathu al-Qadir
63.Fath al-Mu’in
64.Fathu al-Wahab
65.Fiqih ‘ala madzahibul Arba’ah
66.Fiqih al-Sunnah
67.GBHN, 1978
68.Ghoyatu al-Maqshad Fii Zawaidi al-Musnad
69.Hamisi Fathu al-Mu’in
70.Hasyiyah al-Bajuri ‘Ala Ibni Qasim
71.Hasyiyah al-Bujairami
72.Hasyiyah al-Bujairami ‘Ala al-Khatib
73.Hasyiyah al-Jamal ‘Ala al-Minhaj
262

74.Hasyiyah al-Syarwani
75.Hasyiyah al-Shawi’ Ala Tafsir al-Jalalain
76.Hasyiyah al-Shawi ‘Ala Syarhi as-Shaghir
77.Hasyiyah al-Qulyubi
78.Hasyiyah I’anah al-Thalibin
79.Hasyiyah Qulyubi Wa ‘Umairah
80. Hasyiyah Rad al-Muhtar
81.Hilyatul Auliya'
82.Hukmu Syurbi al-Dukhon Wa Imamati Man
83.I’anah al-Thalibin
84.Ibanah al-Ahkam
85.Ihya’ Ulum al-Din
86.Inarah al-Duja
87.Irsyad al-‘Ibad
88.Is’ad al-Rafiq
89.Ithaaf al-Khairah Al-Mahrah
90.Iryad al-Ihwan Fii Bayani Ahkami Syurbi al-Qahwah Wa alDukhan
91.Jala’ al-Dzulam ‘Ala ‘Aqidah al-‘Awam
92.Jamal ‘Ala Minhaj
93.Jawahir al-Uqud
94.Jumhurat al-Ajzaa’
95.Kamus al-Munawwir
96.Kamus al-Mishbah
97.Kamus Ilmiah Populer
98.Kasyfu al-Qona’ ‘an Matan al-Iqna’
99.Kasyifah al-Saja
100.Kanzu al-Amal Fii Sunani al-Aqwaal
101.Khazinah al-Asrar
102.Khittah Nahdliyyah
103.Kifayah al-Akhyar
104.Madzahib al-Arba’ah
105.Majmu’ al-Fatawa
106.Majmu’ Fatawi Waa Rasail
107.Makarim al-Akhlak
108.Masail al-Imam Ahmad bin Hambal
109.Matan Safinah al-Najah

26
3

110.Mauhibah Dzil Fadlal
111.Mughni al-Mukhtaj
112.Mukhtashar Ibnu Katsir
113.Musnad Abi ‘Uwanah
114.Musnad Ahmad Bin Hanbal
115.Musnad al-Shakhabah Fii al-Kitab al-Tis’ah
116.Minhaj at-Thalibin
117.Nasyatu at-Tashawuf Wa Tashrifu as-Shufi
118.Nihayah al-Muhtaj Ila Syarkhi al-Minhajj
119.Nihayah al-Zain
120.Peringatan Haul Oleh KH. Khanif Muslikh
121.Rahmat al-Ummah Fii Ikhtilaaf al-Ummah
122.Raudhah at-Thalibin
123.Rawaai’ al-Bayan Fii Tafsiri Ayat al-Ahkam
124.Risalah Al-Qusyairiyah
125.Riyad al-Shalikhin
126.Shahih al-Bukhary
127.Shahih Muslim
128.Shahih Muslim Bi Syarh al-Nawawi
129.Subul Al-Salam
130.Sunan Abi Dawud
131.Sunan Al-Daruqutni
132.Sunan Al-Nasa’i
133.Sunan Al-Tirmidzi
134.Sunan Ibnu Majah
135.Syarhu al-Bahjah al-Wardiyah
136.Syarhu al-Futukhat al-Madaniyah
137.Syarhu al-Futukhat al-Madaniyah Bihamisyi Nasha’ih alIbad
138.Syarhu al-Minhaj
139.Syarhu al-Muslim li an-Nawawi
140.Syarhu al-Nail Wasyifaul ‘alil
141.Syarhu Nadzam Jam’ul Jawami’
142.Syarhu al-Nail Wasyifa’u al-‘Alil
143.Tafsir Ayatul Ahkam
144.Tafsir al-Jalalain
145.Tafsir al-Qosimy
146.Tafsir Munir Lin Nawawi
147.Tahdzib Sunan Abi Dawud Wa Iidhokhi
264

148.Takmillah Hasyiyah Rad al-Muhtar
149.Talkhis
150.Tanwir al-Hawalik
151.Tanwir al-Qulub
152.Tradisi Orang-Orang NU Oleh H. Munawwir Abdul Fattah
153.Tuhfah al-Muhtaj
154.Tukhfah al-Mukhtaj Fii Syarkhi al-Minhaj
155.Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarhi al-Khatib
156.Qawa’id al-Ahkam Fi Mashalih al-An’am
157.Qurrat al-Aini

26
5

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful