You are on page 1of 8

67

PENGARUH PUPUK P DAN K TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN


KACANG HIJAU Vigna Radiata L
PADA MEDIA TANAH PASIR PANTAI
(THE EEFECTS OF P AND K FERTILIZERS TO THE DEVELOPMENT AND YIELDS OF
GREEN BEAN PLANTS Vigna Radiata L IN THE BEACH SAND SOIL MEDIA)
Oleh:
Rosi Widarawati dan Tri Harjoso
Fakultas Pertanian Jurusan BudidayaPertanian,
Universitas Jenderal Soedirman
Jl.dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto 53122
Email : rosi_dara@yahoo.com/Hp.08121568446
(Diterima: 15 Maret 2011; disetujui 26 Mei 2011)
ABSTRACT
The purposes of this study were to see the effect of P fertilizer on the growth and yield of
green beans in the highest dose, the effect of K fertilizer on growth and yield of green beans in the
highest dose, the interaction effect of fertilizer P and K on growth and yield of green beans in the best
treatment combination. The experiment was conducted in the plastic house experiment station Faculty
of Agriculture, Unsoed from February 2010-April 2010. The design was Randomized Block Design
with three replications. Factors tested the P fertilizer consisted of four levels: without P fertilizer (P0), P
fertilization at 45 kg P2O5/ha (P1), P fertilization at a dose of 90 kg P2O5/ha (P2), P fertilization at a dose
of 135 P2O5/ha kg (P3). K fertilizer consisted of four levels: without fertilizer K (K0), K fertilization at
a dose of 50 kg K2O/ha (K1), K fertilization at a dose of 75 kg K2O/ha (K2), K fertilization with 100
kg K2O (K3). The combination of the two factors was 16. The observed variables were plant height,
leaf number trifoliat, leaf area, canopy dry weight, root dry weight, total root length, number of pods
per plant, seed number per pod, 100 seed weight, seed weight per plant and harvest index. The results
showed that P fertilizer affected on plant height, leaf area, canopy dry weight, root dry weight, and
weight of seeds per plant. Fertilizer K did not affect all variables. Interactions between fertilizer P and
K to produce 135 kg of fertilizer P P2O5/ha to provided the highest root dry weight (7.79 g) when given
fertilizer K 50 kg K2O. Provision of 90 kg fertilizer P P2O5/ha to provided the highest number of pods
per plant (12.57 pieces) when given 50 kg K2O K fertilizer. Provision of 90 kg fertilizer P P2O5/ha to
provided the highest seed weight per plant (7.66 g) when given 50 kg K2O K fertilizer.
Key words: P and K fertilizers, green bean plants
PENDAHULUAN
Kacang hijau (Vigna radiata L.)
merupakan salah satu tanaman Leguminoceae
yang cukup penting di Indonesia. Namun,
perhatian masyarakat terhadap tanaman kacang
hijau masih kurang. Hal ini di tunjukkan pada
hasil panen per hektarnya masih sangat rendah
dibandingkan kedelai dan kacang tanah.
Walaupun demikian, tanaman kacang hijau
memiliki beberapa kelebihan dibandingkan
dengan tanaman kacang-kacangan yang lain,

yaitu: (a) lebih tahan terhadap kekeringan,


menurut Kasno (2007), kebutuhan air untuk
pertumbuhan kacang hijau sebesar 700 sampai
900 mm per tahun; (b) hama dan penyakit relatif
sedikit; (c) panen relatif cepat pada umur 54-54
hari; (d) cara tanam dan pengelolaan di lapangan
serta perlakuan pasca panen relatif mudah; (e)
kegagalan panen total relatif kecil; (f) harga jual
tinggi dan stabil; serta (g) dapat dikonsumsi
langsung dengan pengolahan relatif mudah
(Sumarno, 1992).

Jurnal Pembangunan Pedesaan Volume 11 Nomor 1, Juni 2011, hal. 67 - 74

68
Faktor-faktor yang menyebabkan hasil
kacang hijau rendah di lahan pertanian antara
lain tanaman kekeringan ataupun kelebihan air,
teknik bercocok tanam belum optimal, gangguan
hama, penyakit dan gulma, serta kendala sosial
ekonomis (Nurjen dan Nugroho, 2002). Kondisi
tersebut diperparah dengan produktivitas kacang
hijau yang tidak stabil (Supeno dan Sujudi,
2004). Produksi kacang hijau di Indonesia
masih rendah, tetapi setiap tahunnya meningkat
berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (2009)
Menurut Hakim et al.(1986), yang
menjadi permasalahan unsur hara yang diserap
tanaman kacang hijau adalah unsur N, P, dan
K. Unsur-unsur ini sering mengalami defisiensi
hara di dalam tanah pasir karena di dalam tanah
pasir unsur hara tersebut tercuci, sehingga
ditambahkan ke dalam tanah melalui pemberian
pupuk.
Lahan pertanian tanaman pangan banyak
mengalami penyempitan akibat konversi lahan
pertanian menjadi lahan nonpertanian seperti
pemukiman, industri, dan transportasi. Hal
tersebut menjadi dasar perlunya ekstensifikasi
pertanian melalui pemanfaatan lahan marginal,
misalnya lahan pasir pantai. Permasalahan
lahan pasir pantai antara lain: (1) secara fisika,
tekstur pasiran, fraksi lempung dan bahan
organik rendah, didominasi pori makro yang
mengakibatkan daya simpan lengas rendah,
(2) secara kimia, kandungan koloid rendah,
bahan organik yang dimiliki kecil, yaitu kurang
dari 1%, sehingga daya mengikat hara dan
KTK rendah, mengandung P yang belum siap
diserap tanaman, dan memiliki kandungan N
serta K yang rendah, dan (3) secara biologi,
daya dukung terhadap kuantitas dan aktivitas
organisme rendah. Permasalahan kompleks
pada lahan pasir pantai menjadi faktor pembatas
dalam budidaya pertanian, sehingga perlu

pemanfaatan teknologi spesifik lokasi untuk


meningkatkan kesuburan tanah. Lahan pasir
pantai merupakan jenis lahan yang sangat porous
dan miskin unsur hara sehingga penggunaan
lahan jenis ini untuk budidaya tanaman harus
diberi penambahan pupuk kandang atau bahanbahan lain yang berfungsi sebagai pengikat air
dan sebagai sumber unsur hara bagi tanaman
(Puspowardoyo, 2003).
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh pupuk P terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang
hijau.
2. Mengetahui pengaruh pupuk K terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang
hijau.
3. Mengetahui pengaruh interaksi dosis pupuk
P dan K terhadap pertumbuhan dan hasil
kacang hijau dan mengetahui kombinasi
perlakuan yang paling baik.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di rumah plastik
(screen house) kebun percobaan Fakultas
Pertanian Universitas Jenderal Soedirman,
Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara
Kabupaten Banyumas, pada ketinggian tempat
110 mdpl. Penelitian dilaksanakan pada
Februari 2010 sampai April 2010.
Bahan yang digunakan adalah benih
kacang hijau varietas Kutilang (lampiran 2),
tanah pasir pantai, pupuk kandang Ayam, pupuk
N (Urea), pupuk fosfat (SP-18), pupuk K (KCl),
Insektisida Decis 2,5, Furadan 3G dan bendas
50 WP, rumah plastik, bakteri Rhizobium,
kertas label, polybag dan aquades. Alat yang
digunakan adalah alat tulis, timbangan elektrik,
mistar, sprayer, cangkul, pisau, gembor, meteran,
cutter dan oven. Penelitian yang dilaksanakan
merupakan penelitian eksperimental di rumah
screen house dengan menggunakan pot

Pengaruh Pupuk P dan K ... (R. Widarawati & T. Harjoso)

69
(polybag).
1. Faktor yang dicoba
a. Dosis pupuk P berupa pupuk SP-18 yang
terdiri atas 4 taraf, yaitu:
P0 = Tanpa pemupukan P
P1 = Pemupukan P dengan dosis 45 kg
P2O5/ha
P2 = Pemupukan P dengan dosis 90 kg
P2O5/ha
P3 = Pemupukan P dengan dosis 135 kg
P2O5/ha
b. Dosis pupuk K berupa pupuk KCl yang
terdiri atas 4 taraf, yaitu:
K0 = Tanpa pemupukan K
K1 = Pemupukan K dengan dosis 50 kg
K2O/ha

K2 = Pemupukan K dengan dosis 75 kg


K2O/ha
K3 = Pemupukan K dengan dosis 100 kg
K2O/ha
2. Bentuk Perlakuan
Bentuk perlakuan adalah faktorial,
dengan kombinasi perlakuan dari dua faktor yang
diujikan sejumlah 16 macam, ulangan digunakan
3 kali maka diperoleh 48 unit percobaan. Setiap
unit percobaan terdiri 3 polibag, sehingga
keseluruhan ada 144 polibag. Tiap polibag
ditanam 1 tanaman.
3. Bentuk Rancangan
Penelitian menggunakan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) dengan ulangan tiga
kali. Data diambil dari rata-rata setiap unit
percobaan. Data yang diperoleh dianalisis
dengan menggunakan uji F pada taraf nyata 5%
untuk mengetahui tingkat signifikasi masingmasing faktor perlakuan dan interaksinya.
Pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan uji
Duncans Multiple Range Test (DMRT) pada
taraf nyata 5% dan regresi.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Matriks
hasil
analisis
varian
ditunjukkan pada Tabel 4. Perlakuan pupuk
Fosfat menunjukkan sangat nyata terhadap
luas daun, dan berpengaruh nyata dan terhadap
tinggi tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering
akar dan bobot biji per tanaman. Pemupukan
Kalium tidak berpengaruh nyata terhadap semua
variabel yang diamati. Interaksi antara pupuk
P dan K berpengaruh nyata terhadap variabel
bobot kering akar, jumlah polong per tanaman
dan bobot biji per tanaman.
1. Pengaruh dosis pupuk P terhadap
pertumbuhan dan hasil kacang hijau
Hasil penelitian menunjukkan pemberian
pupuk P berpengaruh nyata terhadap variabel
tinggi tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering
akar, dan berpengaruh sangat nyata terhadap
variabel luas daun, serta tidak berpengaruh nyata
terhadap jumlah daun trifoliat, total panjang
akar, jumlah polong per tanaman, jumlah biji per
polong, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman,
dan indeks panen.
Tinggi tanaman tertinggi dicapai pada
perlakuan P2O5 45 kg/ha yaitu 70,75 cm (tabel

5). Hal ini karena fosfor diperlukan untuk


pembentukan struktur tanaman, termasuk
pertumbuhan vegetatif, seperti dinyatakan oleh
Hakim et al. (1986) fosfor merupakan penyusun
setiap sel hidup dan penyusun fosfolipid. Ratarata bobot kering tajuk dan bobot biji per
tanaman tertinggi diperoleh pada perlakuan
P2O5 45 kg/ha (Tabel 5), namun tidak sesuai
dengan penelitian Marsono et al.(2003) bahwa
pemberian pupuk P mampu meningkatkan
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau
yang optimal pada dosis 90 kg P2O5/ha. Bobot
kering akar teringgi diperoleh pada perlakuan
dosis 90 kg P2O5/ha. Hal ini sesuai dengan
penelitian Marsono et al. (2003) bahwa hasil
tertinggi dicapai pada pemupukan dosis 90

Jurnal Pembangunan Pedesaan Volume 11 Nomor 1, Juni 2011, hal. 67 - 74

70
Tabel 4. Matriks uji F pengaruh pemberian jenis dosis pupuk fosfat dan dosis pupuk kalium terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau di tanah pasir pantai
No
Variabel Pengamatan
P
K
PxK
1
Tinggi tanaman (cm)
n
tn
tn
2
Jumlah daun trifoliat (helai)
tn
tn
tn
sn
tn
tn
3
Luas Daun (cm2)
4
Bobot kering tajuk (g)
n
tn
tn
5
Bobot kering akar (g)
n
tn
n
6
Total panjang akar (cm)
tn
tn
tn
7
Jumlah polong per tanaman (buah)
tn
tn
n
8
Jumlah biji per polong (buah)
tn
tn
tn
9
Bobot 100 biji (g)
tn
tn
tn
10 Bobot biji per Tanaman (g)
n
tn
n
11 Indeks Panen (g)
tn
tn
tn
Keterangan :
P : Dosis pupuk P (kg/ha)
S : Dosis pupuk K (kg/ha)
P x S: Interaksi antara fosfat dengan kalium
n : Berpengaruh nyata pada taraf kesalahan 5%
sn : Berpengaruh sangat nyata pada taraf kesalahan 5%
tn : Berpengaruh tidak nyata pada taraf kesalahan 5%.

kgP2O5/ha.

Kurva penduga pengaruh dosis pupuk


fosfat terhadap bobot kering akar meningkat
secara kuadratik (Gambar 1). Sumbangan pupuk
fosfat terhadap bobot kering akar sebesar 99,4%.
Pemberian pupuk fosfat paling tinggi diperoleh
pada perlakuan dosis 90 kg P2O5/ha. Pemberian

pupuk fosfat yang ditingkatkan sampai melebihi


dosis tertinggi bobot kering akar akan mengalami
penurunan. Pemberian pupuk fosfat yang lebih
banyak dapat menyebabkan keracunan pada
tanaman.
Pemberian pupuk P berpengaruh nyata
terhadap bobot biji per tanaman karena tanaman

Gambar 1. Kurva pengaruh dosis fosfor terhadap bobot kering akar

Pengaruh Pupuk P dan K ... (R. Widarawati & T. Harjoso)

71
mampu menyerap unsur hara sesuai dengan
kebutuhan, dan fosfat sangat penting dalam
proses pembentukan biji. Kacang-kacangan
membutuhkan fosfat dalam jumlah banyak pada
saat setelah berbunga dan saat pembentukan biji

(Kahlil, 2000).
Mendasarkan persamaan regresi, kurva
penduga pengaruh perlakuan dosis pupuk P
terhadap bobot biji per tanaman meningkat
secara kuadratik (Gambar 2). Perlakuan pupuk

Gambar 2. Kurva pengaruh dosis fosfor terhadap bobot biji per tanaman
fosfor berpengaruh 70,2% terhadap bobot biji
per tanaman. Hal ini berarti masih ada faktor
lain yang berpengaruh terhadap bobot biji per
tanaman misalnya faktor lingkungan seperti air,
suhu dan cahaya matahari.
2. Pengaruh dosis pupuk K terhadap
pertumbuhan dan hasil kacang hijau
Dosis pupuk K tidak berpengaruh nyata
terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun
trifoliat, luas daun, bobot kering tajuk, bobot
kering akar, total panjang akar, jumlah polong
per tanaman, jumlah biji per polong, bobot 100
biji, bobot biji per tanaman, dan indeks panen.
Perlakuan tanpa pemupukan K menghasilkan
rerata tertinggi pada tinggi tanaman 68,67 cm,
jumlah daun trifoliate 6,31 helai, luas daun
675,208 cm2, bobot kering tajuk 11,37 g, total
panjang akar 42,46 cm, bobot 100 biji 7,49 g,
dan bobot biji per tanaman 6,04.
3. Pengaruh Interaksi antara pupuk P dan K
terhadap pertumbuhan kacang hijau
Hasil penelitian menunjukkan adanya

interaksi antara pupuk P dan K terhadap bobot


kering akar, bobot biji per tanaman dan jumlah
polong per tanaman. Bobot kering akar pada
perlakuan P3K1 (135 kg P2O5/ha, 50 kg K2O/ha)
menghasilkan bobot paling tinggi sebesar 7,79
g (Tabel 4). Interaksi terjadi pada perlakuan P3
dan P0, pada perlakuan P3 peningkatan dosis
sampai K1 (90 kg P2O5/ha dan 50 kg K2O/ha)
dapat meningkatan bobot kering akar, sedangkan
pada perlakuan P0K0 menunjukan adanya
peningkatan, dengan meningkatnya dosis P tidak
mempengaruhi penambahan bobot kering akar.
Bobot biji per tanaman pada perlakuan
P2K1 (90 kg P2O5/ha, 50 kg K2O/ha) menghasilkan
bobot paling tinggi sebesar 7,66 gram (Tabel 5).
Interaksi terjadi pada perlakuan P2 dan P0, pada
perlakuan P2 peningkatan dosis sampai K1 (90 kg
P2O5/ha dan 50 kg K2O/ha) dapat meningkatan
bobot biji pertanaman, sedangkan pada
perlakuan P0K2 menunjukan adanya penurunan,
dengan meningkatnya dosis P mempengaruhi
penambahan bobot biji per tanaman.

Jurnal Pembangunan Pedesaan Volume 11 Nomor 1, Juni 2011, hal. 67 - 74

72
Tabel 4. Bobot Kering Akar pada pemberian dosis pupuk P dan K
Perlakuan

K0

K1

K2

K3

P0

2,48 bcA(bc)

4,35 bA(b)

3,12 bA(bc)

2,63 bA(bc)

P1

5,71 aA(a)

4,21 bB(b)

6,2 aA(a)

3,61 aB(b)

P2

7,2 aA(a)

7,72 aA(a)

5,68 aB(a)

3,63 aBC(b)

P3

4,28 bB(b)

7,79 aA(a)

6,39 aA(a)

4,76 aB(b)

Tabel 5. Bobot Biji per Tanaman pada pemberian dosis pupuk P dan K
Perlakuan

K0

K1

K2

K3

P0

5,88 aA(bcd)

5,27 bA(bcde)

3,14 bB(g)

3,40 aB(fg)

P1

6,56 aA(ab)

5,27 bA(bcde)

6,39 aA(abc)

5,06 aA(bcde)

P2

4,40 bB(defg)

7,66 aA(a)

4,83 aB(cdef)

4,27 aB(efg)

P3

4,22 bA(efg)

5,99 aA(bcd)

5,62 aA(bcde)

5,29 aA(bcde)

Tabel 6. Jumlah Polong per tanaman pada pemberian dosis pupuk P dan K
Perlakuan

K0

K1

K2

K3

P0

11,30 aA(ab)

9,43 aAB(abc)

5,57 bB(d)

6,23 aB(cd)

P1

10,33 aA(ab)

8,13 bA(abcd)

10,67 aA(ab)

8,57 aA(abcd)

P2

8,13 aB(abcd)

12,57 aA(a)

7,67 abB(cd)

7,90aB (cd)

P3

8,10 aA(abcd)

8,77 abA(abcd)

9,87 aA(ab)

10,03 aA(ab)

Keterangan:
1. Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada dosis pupuk K yang sama menunjukkan tidak
berbeda nyata pada uji DMRT 5%
2. Angka-angka yang diikuti huruf kapital yang sama pada dosis pupuk P yang sama menunjukkan
tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%.
3. Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama di dalam tanda kurung tidak berbeda nyata pada uji
DMRT 5%.

Pengaruh Pupuk P dan K ... (R. Widarawati & T. Harjoso)

73
Jumlah polong per tanaman pada
perlakuan P2K1 (dipupuk 90 kg P2O5/ha, 50
kg K2O/ha) menghasilkan bobot paling tinggi
sebesar 12,57 g (Tabel 6). Interaksi ini terjadi
pada perlakuan P2 dan P0, pada perlakuan P2
peningkatan dosis sampai K1 (90 kg P2O5/ha
dan 50 kg K2O/ha) dapat meningkatan jumlah
polong per tanaman, sedangkan pada perlakuan
P0K0 menunjukan adanya peningkatan, dengan
meningkatnya dosis P tidak mempengaruhi
penambahan jumlah polong per tanaman.
Interaksi pupuk P dan K tidak
berpengaruh terhadap bobot 100 biji. Hal ini
diduga karena bobot 100 biji dipengaruhi oleh
sifat genetis tanaman dan kelancaran pengisian
polong. Banyaknya biji per polong dan berat
biji dipengaruhi oleh sifat genetis tanaman.
Pembentukan dan pengisian polong dibutuhkan
unsur N, P dan K yang cukup, dimana unsur N,
P dan K sangat diperlukan untuk pembentukan
protein pada biji. Menurut Evans dalam Waluyo
(1985), sesudah selesai pembungaan fiksasi N
secara simbiotik oleh bakteri rhizobium telah
dapat mencukupi kebutuhan nitrogen tanaman.
Jadi kemungkinan kebutuhan unsur N yang
tercukupi dari hasil fiksasi N secara simbiotik,
sedangkan unsur P dan K kemungkinan telah
tercukupi dari pupuk kandang ayam. Disamping
itu kebutuhan air dan cahaya matahari selama
pengisian polong terpenuhi, sehingga kelancaran
pengisian polong tidak terganggu.
SIMPULAN
1. Pemupukan P berpengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman, bobot kering tajuk, luas daun
bobot kering akar dan bobot biji per tanaman.
Hasil bobot biji per tanaman tertinggi sebesar
5,82 g, sedangkan pada luas daun tertinggi
sebesar 749,543 cm2, dan bobot kering akar
dosis tertinggi sebesar 60,06 g.
2. Pemupukan K tidak berpengaruh nyata

terhadap semua variabel yang diamati.


3. Pemberian pupuk P sangat ditentukan oleh
pupuk K dalam mempengaruhi pertumbuhan
dan hasil tanaman. Pemberian pupuk P 135
kg P2O5/ha memberikan bobot kering akar
tertinggi (7,79 g) bila diberi pupuk K 50
kg K2O/ha. Pemberian pupuk P 90 kg P2O5/
ha memberikan jumlah polong per tanaman
tertinggi (12,57 buah) bila diberi pupuk K 50
kg K2O/ha. Pemberian pupuk P 90 kg P2O5/
ha dapat memberikan bobot biji per tanaman
tertinggi (7,66 g) bila diberi pupuk K 50 kg
K2O/ha.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statisik dan Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan. 2007. Produksi Kacang
Hijau Menurut Propinsi (On line). http://
www.deptan.go.id
/infoeksekutif/tan/
TPARAMI-07/Prod%20Kc%20Hijau.htm.
(Diakses tanggal 30 Mei 2007).
Hakim, N., Y. Nyakpa, Lubis, GH. Sutopo., R.
Saul, A. Diha, G. B. Hong dan Bailey. 1986.
Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Universitas
Lampung, Lampung. 488 hal.
Kasno, A. 2007. Kacang Hijau, Alternatif yang
Menguntungkan Ditanam di LahanKering.
http://www.baliprov.go.id/lomba_ti/
gianyar/web/Artikel3.htm
(On-line)
(Diakes tanggal 23 Juni 2008).
Marsono dan Lingga. 2002. Petunjuk
Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya :
Jakarta. 150 hal.
Nurjen, Sudiarso dan Nugroho. 2002. Peranan
Pupuk Kotoran Ayam dan Pupuk Nitrogen
(Urea) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Kacang Hijau (Phaseolus vulgaris L.)
Varietas Sriti. Agrivita. 9 hal.
Puspowardoyo, S. 2003. Pengaruh Pemberian
Daun Krenyu dan Jerami Kering sebagai
Pupuk Organik terhadap Hasil Budidaya
Tanaman Bawang Merah, Jagung Manis

Jurnal Pembangunan Pedesaan Volume 11 Nomor 1, Juni 2011, hal. 67 - 74

74
dan Kacang Tanah di Lahan Pasir. Prosiding
seminar Teknologi Untuk Negeri. Vol. 2:
44-47.
Sumarno. 1992. Arti Ekonomis dan Kegunaan
Kacang Hijau. Dalam T. Adisarwanto,
Sunardi, A. Winarto, dan Sugiyono (Ed).
Kacang Hijau. Monograf No. 9. Balai
Penelitian Tanaman Pangan. 11 hal.

Lahan Sawah. 20 Buletin Teknik Pertanian.


Vol. 9, Nomor 1. 2 hal.
Waluyo. 1985. Pengaruh Jarak Tanam dan
Pemupukan terhadap Pertumbuhan dan
Produksi Kedelai Varietas Lokon. Tesis
Sarjana, Fakultas Pertanian Universitas
Jenderal Soedirman. Purwokerto. 66 hal

Supeno, Agus dan Sujudi. 2004. Teknik Pengujian


Adaptasi Galur Harapan Kacang Hijau Di

Pengaruh Pupuk P dan K ... (R. Widarawati & T. Harjoso)