You are on page 1of 55

Pertemuan I

Hendro wahyudi, S.Kep.,Ns


SEJARAH KEPERAWATAN JIWA

Zaman dahulu penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengan dipasung,

dirantai atau di ikat di T4 tersendiri, dan di anggap kerasukan roh.


Pada masa Hindia belanda tahun 1882 sudah dibangun RSJ di bogor dengan

kapasitas 400TT.
1902 Lawang
Magelang 1923
Jakarta 1924 DST
Di Bali 1933 Pada Jaman belanda oleh dr.K.Loedin
Berubah2 Sampai 25 juli 2008 menjadi RSJP
Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan yang

menggunakn ilmu tingkah laku manusia seta menggunakan diri sendiri secara
terapeutik dalam meningkatkan ,mempertahankan, memulihkan kesehatanmental
klien dan masyarakat dimana klien berada (ANA).
Kesehatan jiwa adalah persaan sehat ,bahagia dan mampu mengatasi tantangan
hidup,dapat menerima orang lain serta mempunyai sikap terhadap diri sendiri.
Kesehatan jiwa meliputi :
bagaman perasaan anda terhadap diri sendiri
bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup sehari-hari.
Depkes, 2000 indifidu yang sehat jiwa ditandai dengan:

Sikap positif terhadap diri sendiri


Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
Integrasi ( Keseimbangan/Keutuhan)
Otonomi
Persepsi realitas
Kecakapan dalam beradaptasi dengan lingkungan

Konsep model keperawatan jiwa


1.
2.
3.
4.
5.
6.

psychoanalytical (Freud, Erickson )


interpersonal ( Sullivan,peplau )
social ( caplan Szasz )
existential ( ellis,roger )
supportive therapy (wermon, rockland )
medical (meyer,kraeptin )

Falsafah keperawatan jiwa (dasar keyakinan ) ada 14


1. individu mempunyai harkat dan martabat jadi harus dihargai

2. tujuan individu meliputi tumbuh,sehat,otonomi,dan aktualisasi diri


3. masing masing individu berpotensi untuk berubah
4. manusia adalah mahluk holistic yang berinteraksi dan bereaksi dengan
lingkungan
5. masing- masing orang memiliki kebutuhan dasar yang sama
6. semua prilaku individu bermakna
7. Prilaku individu meliputi Persepsi, pikiran, perasaan, tindakan.
8. Individu memiliki kapasitas koping yang bervariasi.
9. Sakit dapat menumbuhkan dan mengembangkan psikologis bagi individu.
10. Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
11. kesehatan mental adalah kemampuan kritikal
12. individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan
13. tujuan keperawatan adalah meningkatkan kesejahteraan ,memaksimalkan
fungsi dan meningkatkan aktualisasi diri
14. Hubungan interpersonal dapat menghasilkan pembahaasan dan
perkembangan

Pertemuan II
Hendro wahyudi, S.Kep.,Ns
KONSEP TEORI DAN ASKEP HALUSINASI
A.

Pengertian
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan
dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik (Stuart & Sundenn,

1998).
B.
Proses Terjadinya Masalah
1.
Penyebab
Rangsangan primer dari halusinasi adalah kebutuhan perlindungan diri
secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa
bersalah, rasa sepi, marah, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang dicintai,
tidak dapat mengendalikan dorongan ego, pikiran dan perasaannya sendiri.
Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan
duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum

atau berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain,
gelisah, melakukan gerakan seperti menikmati sesuatu. Juga keterangan dari
klien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar
atau dirasakan)
KEMUNGKINAN PENYEBAB
1. Panik
2. Menarik diri
3. Stress berat, mengancam ego yang lemah
2.

Tanda dan gejala


Tanda dan gejala dari halusinasi adalah :

3.

berbicara dan tertawa sendiri


bersikap seperti mendengar dan melihat sesuatu
berhenti berbicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
disorientasi
merasa ada sesuatu pada kulitnya
ingin memukul atau melempar barang barang

Akibat
Akibat dari halusinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain dan
lingkungan. Ini diakibatkan karena klien berada di bawah halusinasinya yang

meminta dia untuk melakukan sesuatu hal di luar kesadarannya.


Jenis halusinasi
1. Pendengaran / auditori ( mendengarkan suara- suara )
2. Penglihatan / visual (melihat sesuatu yang menyenangkan atau menakutkan )
3. Pembau / olfaktori / penciuman ( mencium bau amis,busuk,kadang terhirup
bau harum )
4. Pengecap / gustatory ( merasakan sesuatu yang pahit ,manis,amis seperti
darah)
5. Peraba / taktil ( mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang
terlihat)
6. Senestetik ( merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena dan
arteri,pencernaan,perkemihan.
7. Visceral (rasa tertentu yang terjadi di dalam organ )
8. Histerik ( timbul karena adanya konflik emosional, baik secara langsung /
tidak langsung )
9. Hipnogogik ( sensori ataupun persepsi yang bekerja sebelum tidur atau
menjelang tidur
10. Hipnopompik ( sensori ataupun persepsi yang bekerja setelah bangun tidur )
11. Perintah ( suatu kedaan klien yang melakukan sesuatu seolah olah disuruh )
12. Seksual ( persaan digerayangi atau menggerayangi )
Fase Halusinasi

Fase I : sleep disorder


Fase II : comforting
Fase III : condemning
Fase IV : controlling
Fase V : conquering

Pertemuan III
I Nengah Budiawan S.Kep.,Ns, S.Pada. M.Kes
PROSES KEPERAWATAN JIWA
Proses keperawatan

Merupakan metode pemberian Askep kepada pasien yang logis, dinamis

dan teratur.
Merupakan metode pemecahan masalah secara ilmiah dalam Askep untuk
memenuhi kebutuhan pasien.

TUJUAN

Memberikan Askep yang sesuai dengan kebutuhan pasien, sebagai


individu yang memiliki masalah yang berhubungan dengan kesehatan,
dan tindakan keperawatan direncanakan dan dilaksanakan untuk

memecahkan masalah yang telah ditentukan.


Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis,
dalam melakuan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan
masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari
respon pasien terhadap penyakitnya (Tarwoto & Wartonah, 2004).

Asuhan keperawatan

Adalah serangkaian perbuatan / tindakan utk menetapkan, merencakan,


melakukan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien utk
mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin, yang
dilaksanakan scr berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis.

Asuhan keperawatan jiwa

Adalah suatu spesialisasi pelayanan keperawatan dengan menggunakan


ilmu tingkah laku manusia sebagai DASAR, menggunakan diri sendiri scr
therapiutik sebagai KIATnya, dalam meningkatkan, mempertahankan,
serta memulihkan kes. Mental klien dan masyarakat di tempat klien
berada.

Langkah- langkah proses keperawatan jiwa


1.
2.
3.
4.
5.

PENGKAJIAN
DIAGNOSA
PERENCANAAN
PELAKSANAAN
EVALUASI

PENGKAJIAN
Ruang rawat
Tgl dirawat
I. Identitas klien.
- Nama
: .
- Umur
: .
- RM No. : ..
II. Alasan masuk.
1. Keluhan Utama saat MRS
2. Keluhan Utama saat pengkajian
3. Riwayat penyakit
III. Faktor Predisposisi.
1.
2.
3.
4.
5.

Pernah mengalami gangguan jiwa.


Pengobatan sebelumnya.
Trauma.
Adakah keluarga yang mengalami ggn jiwa.
Pengalaman masa lalu.

IV. Fisik.
1. Tanda Vital ( TD, S, N, R )
2. Pengukuran.
3. Keluhan Fisik.
V. PSIKOSOSIAL.
1. Genogram.
2. Konsep diri.
a. Citra tubuh
Persepsi klien terhadap tubuhnya, bgn tbh yang disukai/tdk.
b. Identitas diri
Status dan posisi klien sblm dirawat
Kepuasan terhadap status/posisinya
Kepuasan sebagai laki2/perempuan
c.

Peran
Tugas/peran yang diemban dalam keluarga, kelompok,
masyarakat
Kemampuan klien dalam melaksanakan tugas/peran tsb
d. Ideal diri
Harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas/peran.
Harapan klien terhadap lingkungan (keluarga, sekolah, tmpt
kerja dan masyarakat)

Harapan pasien terhadap penyakitnya


e. Harga diri
Hubungan klien dengann org lain ssi kondisi diatas.
3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti :
b. Peran serta dalam keg. Klp/masy.:
c. Hambatan dalam berhub. Dengann orlin:
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan:
b. Kegiatan ibadah:
VI. STASTUS MENTAL
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.

Penampilan.
Pembicaraan.
Aktifitas motorik.
Alam perasaan
Afek.
Interaksi selama wawancara.
Persepsi.
Isi pikir.
Proses Pikir.
Tingkat Kesadaran.
Memori
Tingkat Konsentrasi dan Berhitung.
Kemampuan Penilaian.
Daya tilik diri.

VII. Kebutuhan perencanaan pulang, al:


1.
Makan.

Frekwensi, jumlah, variasi, macam, cara makan.

Menyiapkan, membersihkan alat makan.


2.
BAB/BAK.

Pergi ke toilet, menggunakan, membersihkan WC/toilet

Membersihkan diri, menggunakan pakaian.


3.
Kebersihan diri

Frekwensi, cara mandi, sikat gigi, cuci rambut, gunting

kuku, cukur.

Observasi kebersihan tubuh dan bau badan.


4.
Berhias berdandan.

Mengambil, memilih, mengenakan pakaian dan alas kaki.

Penampilan dandanan, frekwensi ganti pakaian.


5. Istirahat dan tidur.

lama dan waktu tidur siang/malam.

Persiapan sblm tidur

Kegiatan sebelum/sesudah tidur


6. Penggunaan obat.
Frekwensi, jenis, dosis, waktu, cara, reaksi obat.
7. Pemeliharaan kesehatan.


Apa, bagaimana, kapan, dimana perawatan lanjut klien.

Sistem pendukung yang dimiliki


8. Kegiatan di dalam ruangan.

Merapikan TT, mengatur TT, menjaga kebersihan, sosialisasi


9. Kegiatan di luar ruangan.

Menjaga kebersihan, berkebun, menata ruangan/lingkungan,


menyiapkan makan, membersihkan ruangan/alat2 makan,
sosialisasi
VIII. Daftar Masalah Keperawatan
Harga diri rendah
Isolasi sosial
Halusinasi
Risiko perilaku kekerasan
Waham
Defisit perawatan diri
Risiko bunuh diri
dll.
PERTEMUAN : IV
Dewa Puspa, S. Kep.,M.Biomed
SKIZOPRENIA
Gangguan jiwa dibagi 2 golongan :
1. Psikosa
Tidak adanya pemahaman diri (insight)
Ketidakmampuan menilai realitas (reality testing ability)
Golongan psikosa

Psikosa fungsional
Terganggunya fungsi system transmisi sinyal penghantar saraf

(neurotransmitter) sel-sel saraf pusat (otak)


Tidak terdapatnya kelainan structural otak
Psikosa organic
Adanya kelainan pada struktur saraf pusat otak
Tumor
Kelainan pembuluh darah di otak
Infeksi
Keracunan
Cedera kepala
NAFZA

2. Non psikosa

GANGGUAN JIWA

NON PSIKOTIK /NEUROTIK

CEMAS
FOBIA
OBSESI KONVULSI
GGN KONVERSI
DLL

PSIKOTIK

ORGANIK

NON ORGANIK/
FUNGSIONAL

DIMENSIA
DELIRIUM

S. PARANOID
S. HEBEFRENIK
Pengertian
S. KATATONIK
Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan
utama
SIMPLEKS
pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antaraS.proses
pikir,
DLL karena
afek/emosi, kamauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama
SKIZOFRENIA

waham dan halusinasi; asoisasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan
emosi perilaku bizar.
Skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang banyak dijumpai dimana-mana
namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi secara jelas. Kraepelin
menyebut gangguan ini sebagai demensia precox (demensia artinya kemunduran
intelegensi dan precox artinya muda/sebelum waktunya).
Etiologi
1. Biologik

Keturunan
saudara tiri ialah 0,9 1,8%, saudara kandung 7 15%,

salah satu anggota keluarga yang menderita Skizofrenia 7 16%,


bila kedua orang tua menderita Skizofrenia 40 68%,
bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 15%,
bagi kembar satu telur (monozigot) 61 86%.
Biokimia : Dopamin
Endokrin : pubertas, kehamilan atau peuerperium dan waktu

klimakterium
Faktor imunovirologi

2. Psikososial

Stressor psikososial
Interaksi ibu anak
hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
3. Sosial budaya

Sosial ekonomi rendah


Kestabilan keluarga
Pengaruh rasial dan keagamaan
Gejala- gejala skizofrenia
1. Gejala Positif

Halusinasi : persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi

sensori yang tidak terjadi dalam realitas.


Waham : keyakinan yang salah dan dipertahankan yang tidak memiliki

dasar dalam realitas.


Ekopraksia : peniruan gerakan dan gesture orang lain yang dialami

klien.
Flight of ideas: aliran verbalisasi yang terus menerus saat individu
melompat dari satu topik ke topik lain dengan cepat.

2. Gejala negative

Apatis : perasaan tidak peduli terhadap individu, aktivitas dan peristiwa di

sekelilingnya.
Alogia : kecenderungan berbicara sedikit atau menyampaikan substansi

makna (miskin isi pikir).


Afek datar : tidak adanya ekspresi wajah yang akan menunjukan emosi atau

mood.
Afek tumpul : rentang keadaan perasaan emosional atau mood yang terbatas.
Anhedonia : merasa tidak senang atau tidak gembira dalam mejalani hidup,

aktivitas dan hubungan.


Tipe- tipe skizoprenia
1. Tipe paranoid

Gejala-gejala yang mencolok waham dan halusinasi


Gangguan proses berpikir, gangguan afek, emosi dan kemauan.
Mulai sesudah umur 30 tahun.
Kepribadian penderita SCHIZOID.
Mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang percaya
pada orang lain.

2. Tipe hebefrenik

Sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun.


Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan

kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.


Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku
kekanak-kanakan.

3. Skizofrenia katatonik

Umur 15-35 tahun


biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional
Mungkin terjadi gaduh gelisah, katatonik atau stupor katatonik.
Emosinya sangat dangkal.
Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti:

Mutisme.
Muka tanpa mimik, seperti topeng
Stupor
Negativism
4. Skizoprenia simpleks

Sering timbul pertama kali pada masa pubertas,


gejala utama: kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali
Makin lama ia makin mundur dalam pekerjaan atau pelajaran.

5. Skizoprenia residual

Keadaan kronis dari skizofrenia dengan gejala-gejala berkembang ke arah

gejala negatif yang lebih menonjol.


Kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpulan afek, pasif dan
tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang

menurun, serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.


Perjalanan skizofrenia
1. fase prodromal
Gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun

lebih dari satu tahun


Hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang
dan fungsi perawatan diri.

Mengganggu individu, keluarga dan teman orang ini tidak seperti yang

dulu.
Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya

2. fase aktif

Gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,

inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek.


Hampir semua individu datang berobat pada fase ini.

3. fase residual

Gejala-gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif/

psikotiknya sudah berkurang.


Pada 29% - 70% kasus, dapat mengalami remisi atau eksaserbasi akut
kembali.

Diagnosis
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
1. Thought echo; thought insertion or witerhadaprawal; thought
broadcasting
2. Delusion of control,
3. Halusinasi auditorik;
4. Waham-waham lainnya menetap (agama, kebesaran)
Atau paling sedikit dua gejala harus ada secara jelas
Halusinasi yang menetap
Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan, atau neologisme.


Perilaku katatonik
Gejala- gejala negatif, seperti apatis, bicara yang jarang dan respon

emosional yang menumpul, penarikan diri.


berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih.

Penanganan pada skizofrenia


Obat-obatan
ECT
Pelatihan Keterampilan Sosial / REHABILITASI
Terapi Keluarga
Obat antipsikotik
Antagonis reseptor dopamine (tipikal)
Efektif dalam penanganan gejala positif
Hanya sekitar 25% dapat memulihkan fungsi mental secara bermakna.
Efek samping yang paling menggangu adalah akathisia dan gejala
parkinsonism berupa rigiditas dan tremor.

Antagonis serotonin dopamine (atipikal)


Efek samping yang minimal.
Efektif dalam menanggulangi gejala negatif.
Obat ini lebih efektif dibandingkan dengan obat antagonis reseptor dopamin.
Efektifitas yang sama dalam menanggulangi gejala positif.
PROGNOSIS
Awitan gejala-gejala psikotik aktif terjadi secara mendadak.
Awitan terjadi setelah umur 30 tahun
Fungsi pekerjaan dan sosial premorbid (sebelum sakit) baik.
Tidak ada bukti gangguan susunan saraf pusat (SSP)
Tidak ada riwayat keluarga yang menderita skizofrenia
Tipe paranoid mempunyai prognosis baik.
PERTEMUAN KE IV
Dewa gede anom, s.kep.,Ns.,S.Pada.,MM
ISU DAN ETIK DALAM KEPERAWATAN JIWA ECT,FIKSASI DAN ISOLASI
1. Terapi Somatik
(Terapi Elektrokonvulsif/ ECT)
Definisi :
Jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak

melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis


Arus tersebut menimbulkan kejang, berlangsung 25-150 detik dengan

tujuan terapeutik
Indikasi:
1. Depresi berat
2. Mania hiperaktif
3. Skizofrenia katatonik
4. Potensial bunuh diri
5. Gangguan jiwa yang resisten terhadap obat psikofarma
Kontra Indikasi
1. Tumor otak
2. Infark Miokardium
3. Penyakit ginjal akut
4. Kehamilan
5. Penyakit tulang
Efek Samping:
Kehilangan memori dan kekacauan mental sementara
Fraktur vertebrata dan ekstremitas
Mata merah dan kabur
Macam-macam ECT

ECT konvensional

Timbul kejang
Menimbulkan perasaan takut

Merasa disiksa dan kurang manusiawi

ECT dengann premedikasi dan anastesi


Tidak timbul kejang
Tidak takut bila diberi ECT ulang
Lebih manusiawi
Mengurangi resiko akibat kejang
Lebih mahal
Peran Perawat
1. Menurunkan kecemasan
2. Memberikan penjelasan efek samping
3. Menjelaskan apa yang terjadi
4. Orientasikan pasien pada waktu dan tempat
5. Beri kesempatan ekplorasi diri: kecemasan dan ketakutan b.d.
pelaksanaan ECT
6. Meminimalkan kebingungan
Risiko penggunaan ECT
1. Kematian
2. Kerusakan otak
3. Kehilangan memori permanen
Dx. Keperawatan berkaitan dengan ECT
1. Risti terhadap cidera b.d. faktor ttt berkaitan dengan ECT
2. Risti terhadap aspirasi b.d. perubahan tingkat kesadaran setelah
tindakan
3. Penurunan curah jantung b.d stimulasi vagal yang terjadi selama ECT
4. Perubahan proses pikir b.d. efek samping dari kehilangan memori dan
kekacauan mental sementara
5. Kurangnya pengetahuan b.d. kebutuhan untuk efek2 samping dan
risiko ECT
6. Ansietas (sedang smp berat) b.d. terapi yang akan datang
7. Kurangnya perawatan diri b.d. ketidakmampuan selama tahap postiktal
8. Risti terhadap intoleransi aktivitas b.d. kekacauan mental dan
kehilangan memori pasca ECT
Intervensi Keperawatan untuk Klien yang menerima ECT:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Ada surat persetujuan dan format persetujuan ada di status


Ada hasil lab., EKG, dan sinar X terbaru
Puasakan klien 4 6 jam
Lepas gigi palsu, kaca mata/ lensa kontak, pakaian longgar
Ukur TTV
Tidurkan secara terlentang di atas permukaan yang datar.
Daerah kepala yang akan ditempelkan elektroda dibersihkan.
Diantara rahang atas bawah diberi bahan yang lunak/ tong spatel.
Dagu ditahan supaya mulut jangan sampai terbuka lebar
Badan tidak perlu ditahan tetapi ekstremitas dapat dipegang asal tidak

terlalu keras.
k. Berikan Oksigen dan lakukan pengisapan sesuai kebutuhan

l. Setelah tindakan, ukur TTV setiap 15 menit untuk jam pertama, atur
posisi klien miring
m. Temani klien
Issue dan etik dalam Keperawatan Jiwa
Latar belakang
Kegawat daruratan psikiatri adalah setiap gangguan dalam pikiran, perasaan

dan perilaku yang memerlukan intervensi terapiutik yang segera.


Kekerasan dipelayanan gawat darurat tidak dimaafkan atau ditoleransi,
respon perilaku harus diketahui dan dimengerti dari saat kedatangan pasien

di ruang gawat darurat.


Tujuan utama dari pemeriksaan kegawatdaruratan psikiatri adalah

pemeriksaan segera pasien yang mengalami krisis.


Tim medis harus melakukan diagnosis awal, mengidentifikasi faktor pencetus
dan wawancara psikiatrik standar yang terdiri dari: riwayat sakit, status mental

dan prosedur pemeriksaan di ruang gawat darurat.


Pada umumnya setiap strategi yang dilakukan di ruang gawat darurat untuk
mendapatkan tujuan anamnesis dan pemeriksaan diharapkan sesuai dengan
kondisi klinis terbaik selama alasan untuk melakukan strategi tersebut dicatat

dalam catatan medis.


Sistem triase yang melibatkan dokter, perawat dan pekerja sosial merupakan
tim yang efektif untuk mengidentifikasi kegawatan, kesegeraan yang
selanjutnya dapat ditentukan prioritas tindakan

2. Fiksasi/restrain

Pengekangan fisik/restrain: adalah menggunakan pengekangan mekanik


untuk melindungi atau menghindari mencederai diri, orang lain, dan

lingkungan
Pengikatan adalah alat mekanik yang digunakan untuk memastikan
keamanan pasien dengan cara membatasi dan mengontrol kebebasan

geraknya.
Pengikatan hanya digunakan bila benar-benar dibutuhkan untuk
menghindarkan pasien dari tindakan menyakiti dirinya sendiri maupun

orang lain.
Jenis Restrain
Comisales ( jaket pengekang)
Manset/tali pergelangan tangan atau kaki.
Sprei basah
Indikasi pengekangan/restrain

Perilaku amuk yang membahayakan diri sendiri dan atau orang lain.
Perilaku agitasi yang tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan.
Ancaman terhadap integritasi fisik yang berhubungan dengan penolakan

pasien untuk beristirahat, makan dan minum.


Permintaan pasien untuk mengendalikan perilaku eksternal, pastikan tindakan

ini telah dikaji dan berindikasi terapiutik.


Lebih baik lima atau minimal empat orang untuk melakukan restrain. Pengikat

dari kulit adalah jenis pengikat yang paling aman dan menjamin.
Jelaskan prosedur, maksud dan jangka waktu dilakukan restrain.
Lakukan kontrak dengan pasien, jika tidak memungkinkan, lakukan kontrak

sepihak.
Seorang anggota staf harus selalu terlihat dan menentramkan klien yang

direstrain
Cara melepaskan pengekangan
1. Mengkaji kemampuan pasien apakah dapat berespon baik terhadap perintah
verbal.
2. Melepaskan ikatan dalam waktu singkat untuk melihat toleransi pasien.
3. Melepaskan ikatan secara bertahap sampai seluruh ikatan dilepaskan.
3. Isolasi
Isolasi adalah menempatkan pasien dalam suatu ruang dimana pasien
tidak dapat keluar dari ruangan tersebut sesuai kehendaknya.
Tingkatan pengisolisian dapat berkisar dari penempatan dalam ruang yang
tertutup tapi tidak terkunci sampai penempatan dalam ruangan terkunci dengan
kasur tanpa sprei di lantai, kesempatan komunikasi yang dibatasi.
indikasi:
1. Pengendalian perilaku amuk yang potensial membahayakan pasien atau
orang lain dan tidak dapat dikendalikan oleh orang lain dengan intervensi

1.
2.
3.
4.

interpersonal/medikasi
2. Reduksi stimulus lingkungan terutama jika diminta oleh pasien
Kontra indikasi:
Kebutuhan untuk pengamatan masalah medik
Resiko tinggi untuk bunuh diri
Potensial tidak dapat mentoleransi deprivasi sensori
Hukuman
Evaluasi
1. Pengekangan/isolasi harus sesuai dengan indikasi.
2. Daerah pengekangan aman terhindar dari perlukaan.
3. Pasien terhindar dari jatuh atau melukai diri sendiri.
4. Pasien dan keluarga mengetahui maksud dan alasan pengekangan/isolasi.
Kesimpulan
Pengekangan/isolasi pada pasien gangguan jiwa harus dilakukan dengan
indikasi yang jelas. Dalam pelaksanaan pengekangan, perawat harus

memperhatikan kebutuhan pasien secara bio, psiko, sosio dan kultural karena
manusia merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

PERTEMUAN VIII
I Nengah Budiawan S.Kep.,Ns, S.Pada. M.Kes
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENANGANAN KASUS
KEDARURATAN JIWA
Definisi:
Kegawat daruratan psikiatri adalah tiap gangguan dalam berpikir, perasaan
atau tingkah laku yang memerlukan intervensi pengobatan secepatnya
(Kusuma Wijaya, 1997)
Kegawat daruratan psikiatri
Setiap gangguan dalam pikiran, perasaan atau tindakan dimana diperlukan
intervensi teraupetik yang segera (Kaplan, 1997)
Kedaruratan psikiatri
1. Prilaku gaduh gelisah (agitation).
2. Percobaan bunuh diri.
3. Penelantaran diri.
4. Syndrome Neuroleptik Maligna dan efek samping pemakaian obat
antipsikotik.
5. Gangguan Stress Pasca Trauma.
1. gaduh gelisah / agitasi

Suatu keadaan dimana terjadi peningkatan aktivitas mental dan aktivitas

motorik.
Sebuah kedaruratan karena dapat menimbulkan kekerasan yang berbahaya

bagi keselamatan dirinya dan orang lain.


Akibat Gangguan mental organik( ex:demensia, delirium akibat hipoksia,
hipertiroidsm, acidosis atau akibat pemakaian obat: simpatomimetik,
antikolinergic digitalis.)

Akibat Gangguan akibat pemakaian zat psikoaktif. (PCP, Amfetamin, kokain,

halusinogen, alkohol dll)


Akibat gejala psikotik (halusinasi, raptus, waham kendali dll)

Tindakan keperawatan
Lindungi diri dan seluruh staf
Lakukan fiksasi bila obat belum menunjukkan efek yang memadai
Perhatikan adanya tanda-tanda risiko
Jalankan rencana terapi dan terangkan pada pasien tentang rencana tersebut
Pada pasien pulang berikan saran bagaimana cara mengatasi bahaya yang
dapat timbul
Drug choice
Benzodiazepines
Antipsychotics
Kombinasi bensodiazepin-antipsikotik
Barbiturat
2. Bunuh Diri (Suicide)

suicide is intentional self-inflicted death (bunuh diri merupakan tindakan

sengaja oleh diri sendiri untuk mati)


Kegawatdaruratan yang paling sering terjadi

Suicide
Percobaan lebih sering pada wanita namun kejadian mortalitasnya lebih tinggi

pada laki-laki.
80% gangguan depresi-25% alcoholic.
10% skizofrenia mati karena bunuh diri.

SIRS (SUICIDAL INTENTION RATING SCALE)


(Stuart & Sundeen, 1987; Keliat, B.A., 1994)
Skor o Tidak ada ide bunuh diri yang lalu & sekarang
Skor 1 Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak mengancam
bunuh diri
Skor 2 Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada percobaan bunuh diri
Skor 3 Mengancam bunuh diri, misalnya tinggalkan saya sendiri atau saya
bunuh diri
Skor 4 Aktif mencoba bunuh diri
Tindakan keperawatan
Jangan tinggalkan pasien sendirian saat evaluasi dan jauhkan barang-barang
yang berbahaya.

Cari informasi: apakah direncanakan atau impulsif? dilakukan saat sendirian


atau ada orang lain? reaksi pasien saat selamat? pemikiran yang dapat

membatalkan keinginan bunuh diri?


Rencanakan manajemen terapi sesuai diagnosis dan keadaan umum pasien.

Sebaiknya MRS.
Awasi episode ulangan, terutama pada pasien witerhadaprawl

(ketergantungan) alkohol.
Perhatikan adanya ide bunuh diri pada pasien skizofrenia.
Libatkan keluarga dan teman untuk memberikan suport
Long term hospitalazion bagi pasien dengan kecendrungan self-mutilation.

Protocol pencegahan bunuh diri


Basic Suicide Precautions(Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)
Tempatkan klien di ruang terbuka kecuali jika ditemani staf atau keluarga.
Cek dimana klien berada dan pastikan aman tiap 15 menit
Temani klien saat minum obat.
Lihat barang-barang klien untuk yang potensial dapat melukai. Teliti kondisi

klien, dan katakan untuk mendampingi klien saat klien bekerja.


Cek seluruh bawaan pengunjung.
Ijinkan klien memiliki peralatan makan, tapi pastikan apakah gelas atau alat

lain ada yang hilang ketika mengumpulkannya.


Ijinkan pengunjung & hubungan telepon kecuali jika klien tidak menghendaki.
Cek bahwa pengunjung tidak meninggalkan barang-barang berbahaya di

ruangan.
Jalankan protokol ini sampai dihentikan oleh psikiater.
Informasikan pada klien alasan & detail aturan yang diterapkan. Penjelasan
ini harus dibuat oleh dokter dan perawat serta dokumentasikan.

Maximum Suicide Precautions (Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)


Berikan supervisi 1 : 1.perawat harus tetap berada di ruangan dalam
jangkauan klien setiap saat. Ketika klien menggunakan kamar mandi,
pintunya harus terbuka. Seorang staf harus duduk disamping tempat tidur

klien pada malam hari.


Jangan ijinkan klien untuk ditinggal pada pelaksanaan tes atau pelaksanaan

tindakan.
Lihat dengan seksama barang bawaan klien dan amankan barang-barang
yang membahayakan, seperti pil, korek api, sabuk, tali sepatu, BH/kutang,
pisau cukur/silet, jepitan, cermin taua benda dari kaca (bola lampu pijar),

kawat/kabel, benda-benda kecil.


Jika aturan ini diterapkan setelah klien dirawat dalam tempo yang lama,
selidikilah dengan seksama kondisi ruangannya.

Cek pengunjung jangan sampai meninggalkan benda-benda berbahaya di

ruangan.
Layani kebutuhan makan klien dalam tempat makan isolasi yang terbuat dari

bahan bukan kaca atau logam.


Utamakan penjelasan pada klien apakah dia boleh melakukan sesuatu serta

alasannya. Dokumentasikan.
Jangan menghentikan aturan ini tanpa saran dari psikiater.

3. Penelantaran diri
Akibat penurunan dorongan instingtual antara lain menyangkut perawatan

diri, makan dan minum, bicara, tidur, gairah seksual dan lain sebagainya.
Sebagian besar akibat skizofrenia katatonia ataupun skizofrenia dengan

dominan gejala negatif secara umum.


Dapat juga akibat Depresi berat, alkohol dependent dan gangguan

penyesuaian berat.
Tanda-tanda yang mungkin ditemui:

Mutism (membisu/tdk mampu bicara)


hipobulia (tidak merawat diri)
insomnia (gangguan tidur)
Miskin ide pikir
katatonia (gerakan kaku)
katapleksi (mpertahankan grkn tertentu)

Tindakan keperawatan
Manajemennya dilakukan sesuai dengan penyebabnya. Pasien depresi

mendapatkan suport nutrisi dan hidrasi selain program antidepresi.


Pada pasien skizofrenia perlu mendapatkan perawatan basic self care. Pada
pasien katatonik perlu mendapatkan pengawasan karena dapat terjadi
periode gaduh gelisah.

4. Sindrom neuroleptik maligna (SNM)


SNM adalah suatu sindrom toksik berbahaya yang berhubungan dengan

terapi antipsikotik namun tidak umum terjadi.


Tandanya:

fever (>38 C)
muscle rigidity (kaku otot)
dystonia (ggn tonus otot)
akinesia (gerakan lambat)
mutism (membisu/tdk mampu bicara)
agitation (kegelisahan)

Tindakan keperawatan

Pertimbangkan adanya SNM pada pasien dengan terapi antipsikotik yang

mengalami demam dan rigiditas.


Bila antikolinergik tidak mampu mengurangi rigiditas dan demam tidak

ditemukan penyebabnya SNM


Kolaborasi stop antipsikotik
Monitoring vital sign berkala
Kolaborasi untuk cek Lab: creatine phosphokinase (meningkat) & darah

lengkap.
Kompres es/ ice bath. Antipiretik tidak berguna.
Lakukan hidrasi untuk mencegah shock dan gagal ginjal.
SNM umumnya membaik setelah 15 hari.
Kolaborasi untuk mengganti dengan antipsikotik yang berbeda.

Post Traumatic Syndrom Disorder (PTSD)


Adalah sindrom yang ditandai dengan adanya kecemasan disertai gejala
otonomik (kurang perawatan diri), reexperiencing (selalu ingat penglmn
traumatik), dan avoidance (menghindar/ketakutan), setelah mengalami
trauma fisik dan mental yang besar dan tiba-tiba diluar kemampuan secara
umum.
Tindakan keperawatan
Tegakkan diagnosa berdasarkan adanya riwayat trauma, gejala cemas
dengan hiperarousal dan avoid (menghindar) terhadap hal-hal yang bersifat

traumatik
Evaluasi adanya ketergantungan Zat Adiktif dan rencanakan terapinya.
Evaluasi adanya trauma kepala dan kelainan neurologis bila traumanya

berupa kecelakaan fisik


Jalin hubungan empati dengan pasien dan buka kesempatan pada pasien

untuk menceritakan secara detail kejadiannya. Psikoterapi kognitif-behavior.


Terapi keluarga dan kelompok.

PERTEMUAN VIII
Dewa Gede Anom, S.Kep.,Ns.,S.Pada.,MM
KONSEP TEORI DAN ASKEP PADA KLIEN DENGAN MASALAH NAPZA
Penyalahgunaan napza adalah :
-

Pemakaian napza bukan untuk pengobatan


Digunakan berkali-kali, kadang-kadang atau terus menerus tanpa intruksi

dokter
Menyebabkan ketagihan
Menimbulkan gangguan fisik, mental, emosional dan fungsi social.

Narkotika menurut UU RI No. 35 /2009 adalah :


Zat / obat yang berasal dri tanaman / bukan tanaman baik sintetis maupun
semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan / perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dapat menimbulkan
ketergantungan.
Golongan narkotika :
Golongan I
Digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan Tidak ditujukan untuk terapi
Potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan
Contoh :
1. Heroin
a. Efek candunya sangat kuat
b. Bisa ditemukan dalam bentuk pil, bubuk dan cairan,
c. Lebih kuat 2 kali lipat dari morfin
d. Efek : kejang2, mual, hidung dan mata berair, kehilangan nafsu makan
dan cairan tubuh, mengantuk, cadel, bicara tidak jelas, tidak dapat
konsentrasi.
2. Kokain ( sabu-sabu )
a. impotensi.
3. Ganja
a. Dikenal dengan sebutan marijuana, grass, pot, weed, tea, mary jane
b. Efek : mempengaruhi konsentrasi dan ingatan, meningkatkan denyut nadi,
keseimbangan dan konsentrasi tubuh, ketakutan dan rasa panik, depresi,
kebingungan dan halusinasi.
Golongan II
Berkasiat pengobatan, digunakan dalam terapi dan pengembangan ilmu
pengetahuan. Potensi tinggi menyebabkan ketergantungan
Contoh :

1. Morfin
a. Hasil olahan dari candu merah
b. Rasanya pahit, berbentuk tepung berwarna putih atau dalam cairan
berwarna
c. Dipakai dengan cara dihisap atau disuntikkan
2. Petidin / Demerol
a. Dipakai dengan ditelan atau disuntikkan
b. Potensi ringan menyebabkan ketergantungan
Golongan III
Berkasiat pengobatan Banyak digunakan dalam terapi dan pengembangan
ilmu pengetahuan. Potensi ringan menyebabkan ketergantungan
Contoh :
1. Codein
a. Efeknya lebih lemah dari heroin
b. Bentuk pil atau cairan jernih
c. Pemakaiannya dengan cara ditelan dan disuntikkan
Psikotropika menurut UU no. 5 tahun 1997 :
Zat / obat alamiah / sintetis bukan narkotika yang berkasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada ssp menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan
perilaku.
Macam-macamnya :
1. Golongan I
Contohnya : ekstasi, shabu, LSD
2. Golongan II
Contoh : ampetamin
3. Golongan III
Contoh Phenobarbital, flunitrazepam
4. Golongan IV
Contoh : diazepam, bromazepam, fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide,
nitrazepam seperti pil KB, pil koplo, rophinol, dumolid, mogadon
Psikotropika yang sering disalahgunakan:
1. Psikostimulansia : ampetamin, ekstasi, sabu
2. Sedatif dan hipnotika : mogadon, dumolid, rophinol, pil koplo
3. Halusinogen : LSD , mushroom
Zat adiktif lain adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif selain narkotika
dan psikotropika.
Contohnya adalah: alcohol
Tahapan penggunaan NAPZA :

Coba-coba atau eksperimental


Penggunaan sosial atau rekreasi
Penggunaan situasional
Penyalahgunaan

Ketergantungan
Faktor yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan NAPZA meliputi :
1. Faktor NAPZA
2. Faktor individu
3. Faktor lingkungan
Dampak dari penyalahgunaan NAPZA meliputi :
1. Dampak medik
2. Dampak social
3. Pelanggaran hukum
Ciri-ciri seorang pecandu dapat kita lihat dari segi :
1. Fisik
2. Emosi
3. Perilaku
Gejala pecandu yang putus obat :Kecendrungan untuk bunuh diri, berusaha
mengobati gejalanya dengan alcohol, sedatif, hipnotik atau obat anti ansietas lainnya
ASKEP PADA PASIEN DENGAN PENYALAHGUNAAN NAPZA
I.

II.

Pengkajian
Rumusan masalah yang mungkin muncul secara garis besar dapat
digolongkan dalam 4 kondisi :
1. Ancaman kehidupan
2. Kondisi intoksikasi
3. Kondisi putus obat ( witerhadaprawal )
4. Kondisi pasca detoksikasi
Diagnosa keperawatan dan rencana tindakan
1. Ancaman kehidupan
Tidak efektif jalan nafas
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Amuk
Panik
Resiko mencederai diri sendiri dan lingkungan
Risiko merusak diri dan bunuh diri
Rencana tindakan :
Observasi tanda vital dan kesadaran
Melancarkan jalan nafas
Memberi cairan perinfus
Fiksasi bila perlu
Observasi intensif selama 24 jam
Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
Bantu pemenuhan ADL

2. Kondisi Intoksikasi
Cemas
Perilaku agresif
Gangguan komunikasi verbal
Gangguan kognitif
Gangguan rasa nyaman
Cemas berat dalam keluarga pasien
Resiko amuk / agresif
Rencana tindakan :
Memberikan askep cemas
Memberikan askep agresif
Membina hubungan saling percaya
Kolaborasi dalan pemberian terapi
Awasi TL pasien
KIE keluarga utk perawatan pasien dirumah
Memberikan aktifitas fisik
3. Kondisi Putus Obat
Gangguan neurologis
Gangguan persepsi
Gangguan proses fikir
Gangguan rasa nyaman
Gangguann afektif
Perilaku, manipulative
Terputusnya program perawatan
Cemas keluarga
Rencana tindakan :
Observasi tanda kejang bila perlu
Bekerjasama dengan dokter
Memberikan askep halusinasi dan waham
Memberikan askep gangguan tidur bila perlu
Memberikan askep depresi
Memberikan askep manipulatip
4. Kondisi Pasca detoksikasi
Gangguan konsentrasi
Gangguan kegiatan hidup sehari-hari
Pemecahan masalah tidak efektif
Gangguan konsep diri dan harga diri rendah
Potensi untuk melarikan diri
Potensi kambuh
Rencana tindakan :
Memberikan perawatan untuk penyakit fisiknya
Terapi relaksasi
Terapi komunitas
Memberikan konseling untuk pemecahan masalah

Merencanakan dan mengadakan program rekreasi


Mempersiapkan pasien kembali ke masyarakat

PERTEMUAN IX
I Wayan Sukawana, S.Kep., Ns.,M.Pada
ANATOMI DAN FIOLOGI SISTEM NEUROBEHAVIOUR
Anatomi fisiologi sel saraf
Unit fungsional = Neuron/ sel saraf (sekitar 1 triliyun)
Unit penyokong = neuroglia dan sel schwann (10 50 kali jml neuron)

Mikroglia ,memasuki susunan saraf dari pembuluh darah


Astrosit , memasukan ujung kakinya ke pembuluh darah
Oligodendroglia , membentuk selubung mielin SSP

Morfologi sel saraf


Soma = badan sel, mengandung:

Aparatus golgi, Retikulum endoplasmik, memproduksi protein yang kmd


dikirim ke tombol sinaps
5-7 tonjolan pendek = dendrit
Tonjolan panjang = akson

ada yang memiliki selubung dari kompleks protein-lipid = mielin,Sel Schwann

~ pembentuk mielin pada sistem saraf perifer (neurilea), konstriksi periodik =


nodus ranvier.
Sistem Saraf
Pusat: otak dan korda spinalis
Tepi: kranial dan spinal
Otak
1. Batang otak
Medula oblongata
Pons
Otak tengah

2. Serebelum
3. Serebrum

Diensefalon (hipotalamus, talamus)


Serebrum (80% berat otak)
(nukleus basal, korteks serebrum)

Cairan Cerebro Spinal

Dalam otak terdapat 4 rongga (ventrikel) hemisfer kanan dan kiri


(ventrikel lateral), ketiga pada diensefalon, keempat pada pons

medula oblongata.
Ventrikel lateral berhubungan dengan ventrikel III melalui foramen

interventrikularis Monro.
Ventrikel III dengan IV dihubungkan dengan celah sempit akueduktus

Sylvius.
Pada ventrikel IV terdapat tiga lobang; Sepasang foramen Luschka
(lateral) dan foramen magendie di medial yang berhubungan dengan
medula spinalis dan subaraknoid

Bagian Korteks

Lobus oksipitalis: pengolahan awal masukan penglihatan


Lobus temporalis: mengolah sensasi suara
Lobus parietalis (belakang sulcus sentralis): mengolah masukan
sensorik (somestetik), seperti: sentuhan, tekanan, panas, dingin, &

nyeri dari permukaan tubuh.


Lobus parietalis (depan sulcus sentralis): pusat motorik primer
Lobus parietalis dan frontalis: pusat mental tk tinggi

Diensefalon
a. Hipotalamus, fungsi:

homeostatik (suhu, rasa haus, pengeluaran urine, nafsu makan,


pertumbuhan, pengeluaran ASI, kontraksi uterus)
Penghubung sistem saraf dengan endokrin
Terlibat dalam emosi dan perilaku dasar
Fungsi Hipotalamus ~ sistem limbik:

lateral: pusat marah, haus, lapar


Ventero medial: rasa kenyang, ketenangan
Nuklei peri vetrikular: rasa takut, rasa terhukum.
Anterior, posterior: dorongan seksual
Nuklei lateral-ventero medial: pusat ganjaran
Nuklei peri ventrikular: pusat hukuman

b. Talamus, fungsi: pusat integrasi sinaps untuk pengolahan pendahuluan masukan


sensorik dalam perjalanannya ke korteks.

Nukleus basal (bagian dari substansia grisea),


fungsi: memodifikasi aktivitas yang sedang berlangsung di jalur motorik
Hipokampus (bagian medial lobus temporalis),
fungsi: integrasi berbagai rangsangan , memori jangka
pendek,konsolidasi ,memori jangka panjang , kemudian di kirim ke
kortek dan disimpan

Sistem Limbik

Limbik = batas, penghubung/ alat komunikasi antara neokorteks (pusat

aktivitas mental tk. Tinggi) dengan otak primitif (pusat vegetatif)


Berupa lintasan (cincin) yang mengelilingi batang otak, terdiri:

hipotalamus sebagai pusat, korteks serebrum, nukleus basal, talamus.


Fungsi: pola emosi, perilaku sosioseksual, kelangsungan hidup dasar,
dan motivasi

B. Batang otak:
a. Medula oblongata:

Terletak antara pons dengan medula spinalis


Terdapat pusat otonom u/ mengatur fungsi-fungsi vital:
pernafasan, frekuensi jantung, vasomotor, muntah, reflek gag, batuk

bersin.
Terdapat ventrikel keempat
Pusat saraf kranial IX dan XII

b. Pons

Terletak antara mid brain dengan medula oblongata

Mengandung badan sel saraf kranial V, VI, VII, VIII


Pusat pernafasan pneumotaksik dan apneustik
Pusat traktus serabut antara pusat lebih tinggi dengan lebih rendah,

termasuk serebelum
c. Otak tengah (Mid Brain)

Mengandung serabut desenden dan asenden


Pusat stimuli saraf pendengaran dan penglihatan
Pusat otonom u/ akomudasi pupil dan reflek cahaya
Menerima serabut dari retina melalui s. kranial II
Mengeluarkan impuls motorik (simpatis dan parasimpatk) melalui

nervus kranial III ke iris


Sebagian besar dari 12 pasang saraf kranialis berasal dari batang otak

kecuali n. X (nervus Vagus)


Saraf kranial mempersarafi struktur di kepala dan leher dengan serabut

sensorik dan motorik.


Fungsi saraf kranial, untuk: penglihatan, pendengaran, pengecapan,
sensasi wajah dan kulit kepala, pergerakan bola mata, mengunyah,

menelan, ekspresi wajah, dan salivasi.


N. Vagus, disamping mempersarafi daerah kepala sebagian
cabangnya untukmempersarafi thorak dan abdome

C. Serebelum:
a. Anatomi

terdiri hemisfer: kanan, kiri, intermedat.


Terdiri lobus: anterior, poterior , flokulonodular

b. Fungsi
Hemisfer intermediat menerima 2 jenis informasiketika gerakan dilakukan
informasi dr korteks motorik & nukleus merah ttg gerakan yang diinginkan
informasi dr perifer (distal anggota tubuh) ttg gerakan yang sedang
dilakukan
Kedua informasi dibandingkan , sinyal out put ,koreksi gerakan
Sinyal korektif, melalui:
Talamus , dipancarkan ke korteks motorik
Magnoselular (bag bawah nukleus merah , tractus rubrospinal ,
tractuskotikospinal , neuron motorik pada radik anterior , tangan & jari ,
koreksi gerakan,gerakan berurutan
Korda spinalis

Mrp jaringan saraf berbentuk silinder yang keluar dr batang otak berjalam
dalamkanalis vertebralis dalam kolumna vertebralis
Korda spinalis hanya mencapai L1 atau L2
Terdiri:
Substansia grisea (bag. Dalam). Bag. dorsal mrp badan sel antar
neuron& aferen, venteral: badan sel motorik, lateral: badan sel saraf

otonom
Substansia alba (bag. Luar) mrp serat saraf kmd keluar
berpasanga(kanan-kiri) pada a columna vertebralis (= tractus)

Tractus

Tractus kortikospinalis = tractus desenden = neuron eferen (badan sel pada

korteks, akson pada korda)


Tractus Spinotalamikus = tractus asenden = neuron aferen

Sistem Saraf Spinal

Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan.


Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas:
a. 8 pasang n. cervical (saraf leher)
b. 12 pasang n. thorac (saraf punggung)
c. 5 pasang n. Lumbalis (saraf pinggang)
d. 5 pasang n. Sakralis (saraf pinggul)
e. dan satu pasang n. Caudalis (saraf ekor).

PERTEMUAN IX
I Wayan Sukawana, S.Kep., Ns.,M.Pada
SISTEM SARAF PERIFER
A. Sistem Saraf Somatik (Somatic Nervous System)

Saraf-saraf Kepala (Cranial Nerves)


Saraf-saraf Tulang Belakang
B. Sistem Saraf Autonom (Autonomic Nervous System)
Saraf Sympatetik
Saraf Parasympatik
Telinga
Kohlea terdiri dari tiga tuba melingkar
1. Skala vestibuli
2. Skala media
3. Skala timpani
Skala timpani dan skala media dipisahkan oleh membran basilar
Permukaan membran basilar mengandung organ corti
Organ corti mrp sel-sel rambu

Hidung
Membran olfaktoi terletak pada bagian konkha superior hidung.
Membran olfactory mengandung silia olfactory
Rangsang kimia (yang terurai dalam gas) berikatan dengan protein reseptor

silia olfactory membuka saluran ion Natrium.


50% reseptor berespon pada detik pertama, kmd menurun sampai akhirnya
hanya sedikit yang bereaksi.

Kulit

Corpuskel Meissner panas


Bulbus krausa dingin
Ujung saraf bebas (nosiseptor) nyeri
Cor. Pacini Vibrasi
Ruffini regangan
Merkel tekanan & textur

Lidah
Reseptor kecap berupa mikrovili yang menonjol pada sel pengecap yang tdp
pada papilla
Lidah terdiri 3 jenis papilla
Papila sirkumualata (berbentuk V) pada posterior lidah)
Papila fungiformis pada permukaan depan lidah
Papila foliata yang terdapat pada lipatan lateral lidah

Zat kimia perangsang reseptor


H+ asam
Kation garam asin
Gula, glikol, alkohol, keton, amida, ester, as. Amino (substansi kimia organik)

manis.
Substansi kimia organik rantai panjangyang mengandung Nitrogen & Alkaloid

Pahit
Rangsangan zat kimia ttn diikat o/ protein reseptor membuka saluran
ion Natrium proses depolarisasi (potensial sebanding dengan logaritma ion

yang diikat)
Saat rangsangan pertama, impuls cepat mencapai puncaknya kmd setelah 2

detik .
Reseptor n.V (glosopharingeal) batang otak talamus korteks
parietalis

Sistem Saraf Spinal

Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan.


Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas:
8 pasang n. cervical (saraf leher)
12 pasang n. thorac (saraf punggung)
5 pasang n. Lumbalis (saraf pinggang)
5 pasang n. Sakralis (saraf pinggul)
dan satu pasang n. Caudalis (saraf ekor).

Beberapa saraf bersatu membentuk jaringan = pleksus. Ada 3 buah pleksus

yaitu:
Pleksus cervicalis merupakan gabungan saraf leher yang mempengaruhi bagian

leher, bahu, dan diafragma.


Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.
Pleksus Jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.

Sistem Saraf Otonom


Otonom = mengatur diri sendiri
Mengatur fungsi organ dengan tugas vegetatif: otot jantung, ukuran pupil,
akomodasi lensa mata, pembuluh darah, folikel rambut, pencernaan, kandung
empedu, perkemihan, dsb.

SISTEM SARAF OTONOM


Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak

maupun dari sumsum tulang belakang


terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang

kompleks dan juga membentuk ganglion


dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik
Saraf simpatik mempunyai ganglion pada sumsum tulang belakang (pra
ganglion pendek)

saraf parasimpatik mempunyai pra ganglion yang panjang (menempel pada

organ yang dibantu)


Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis).
Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan "nervus vagus" bersama
cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum Tl. Belakang

Pusat saraf otonom


Saraf simpatis: Berpangkal pada medulla spinalis di daerah leher dan di

daerah pinggang sehingga disebut juga saraf torakolumbar


Sebagian besar terlibat dalam aktivitas pengeluaran energi tubuh, seperti:
meningkatkan detak jantung, meningkatkan kadar gula darah, piloereksi, dsb
Parasimpatis:
Berpangkal pada medulla oblongata
Terlibat dalam aktivitas peningkatan penyimpanan energi, seperti:
salivasi, sekresi kelenjar pencernaan, peningkatan alran darah ke
sistem pencernaan.

Macam-macam neurotransmiter
Asetilkolin diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase (dihasilkan oleh
membran post sinapsis).
.Noradrenalin terdapat pada sistem saraf simpatik.
Serotonin terdapat di otak.
Dopamin terdapat di otak.

PERTEMUAN XI
Puguh santoso S.Si.,Apt
FARMAKOKINETIK DAN FARMAKODINAMIK
ANALGETIKA - ANTIPIRETIK

Analgetika adalah obat-obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan

rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran


Analgetika umumnya diartikan sebagai suatu obat yang efektif untuk
menghilangkan sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi dan nyeri lain misalnya
nyeri pasca bedah, pasca bersalin nyeri haid (dismenore) dan nyeri lain yang

sulit dikendalikan.
Hampir semua analgesik mempunyai efek anti inflamasi dan antipiretik.
Asam salisilat, parasetamol, mampu mengatasi nyeri ringan sampai sedang,
tapi nyeri hebat membutuhkan analgesik yaitu analgesik sentral (analgesik

narkotik)
Efek antipiretik menyebabkan obat tersebut mampu menurunkan suhu tubuh
pada keadaan demam, sedangkan sifat anti inflamasi berguna untuk
mengobati radang sendi (arthritis reumatoid) termasuk pirai/gout kelebihan

asam urat sehingga pada sendi terjadi pembengkaan dan timbul rasa nyeri.
Analgesik anti inflamasi diduga bekerja berdasarkan penghambatan sintesis
prostaglandin (penyebab rasa nyeri). Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan
dalam 3 kategori :

Nyeri ringan (sakit gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid. Dapat diatasi
dengan parasetamol, asetosal, bahkan placebo
Nyeri sedang (sakit punggung, migrain, rheumatik) perlu analgesik kuat
Nyeri hebat (kolik/kejang usus, kolik batu empedu, ginjal, kanker) harus

diatasi dengan analgesik sentral atau narkotik.


Penggolongan :
Analgesik dibagi dalam 2 golongan besar :
Analgesik Narkotik ( analgesik sentral )
Penggolongan analgesik narkotik adalah sebagai berikut :
Alkaloid alam : morfin, codein
Derivat semisintesis : heroin
Derivat sintetik : Metadon, fentanyl
Antagonis morfin : nalorfin, nalokson dan
pentasozin
Analgesik non opioid (non narkotik)
Penggolongan Berdasarkan rumus kimianya analgesik perifer
digolongkan menjadi :
Golongan Salisilat
Golongan Para Aminofenol
Golongan Pirazolon (dipiron, metampiron, antalgin, novalgin,
dolo neurobion)
Golongan Antranilat (asam mefenamat)

AINS (ANALGESIK ANTI INFLAMASI NON STEROID)


Adalah obat-obat analgesik yang juga memiliki efek anti inflamasi,
sehingga obat-obat ini digunakan dalam pengobatan rheumatik dan
gout. Contohnya Ibuprofen, indometacin, fenilbutazon, piroksikam dan

diklofenak.
Sebagian besar penyakit rheumatik membutuhan pengobatan
simptomatis, untuk meredakan rasa nyeri penyakit sendi degeneratif
seperti osteoartritis, analgesik tunggal atau campuran masih bisa
digunakan. Tetapi bila nyeri dan kekakuan disebabkan penyakit
rheumatik yang meradang harus diberikan pengobatan AINS.
Ibuprofen

Diklofenak
Indometacin
Fenilbutazon
Piroksikam

Anti Parkinson
Pengertian

Penyakit parkinson atau penyakit gemetaran yang ditandai dengan gejala


tremor, kaku otot atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan (setapak
demi setapak), bahkan dapat terjadi gangguan persepsi dan daya ingat merupakan
penyakit yang terjadi akibat proses degenerasi yang progresif dari sel-sel otak
(subtansia nigra), sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmiter yaitu
dopamine
Gejala-gejala parkinson sebagai berikut
Gangguan motorik positif, misalnya terjadi tremor dan rigiditas. Gangguan

motorik negatif, misal terjadi hipokinesia


Gejala vegetatif, seperti air liur dan air mata berlebihan, muka pucat dan kaku

(mask face)
Gangguan psikis seperti berkurangnya kemampuan mengambil keputusan,

merasa tertekan
Penyebab penyakit parkinson :
Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
Radang, trauma, atreosklerosis pada otak
Efek samping obat psikofarmaka
Penggolongan :
Berdasarkan cara kerja dibagi menjadi :
Obat anti muskarinik, seperti triheksilpenidil/benzekzol, digunakan pada

pasien dengann gejala ringan dimana tremor adalah gejala yang dominan
Obat anti dopaminnergik, seperti levodopa, bromokriptin, untuk parkinson

idiopatik, obat pilihan levodopa


Obat anti dopamin antikolinergik, seperti amantadin
Obat untuk tremor esensial, seperti haloperidol, klorpromazin, primido

Epilepsy
Pengertian:
Merupakan kelainan kronis yang ditandai oleh Kejang (seizures) berulang dan
kerapkali tanpa adanya faktor pencetus serta tidak bisa diramalkan (Pedley et
al,1995). Serangan epilepsi merupakan akibat disfungsi otak yang bersifat fisilogistemporer, dan terjadi karena pelepasan muatan listrik yang abnormal oleh sel-sel
otak.
Penyebab :
Separuh dari kasus epilepsi disebabkan oleh cedera otak seperti gegar otak
berat atau infeksi (meningitis/encefalitis), juga infark otak dan perdarahan
otak, kekurangan oksigen selama persalinan, serta abses atau tumor dapat
menimbulkan cacat dan epilepsi.

Epilepsi ada kalanya dicetuskan oleh obat seperti petidin, asam nalidiksat,

klorpromazin, imipramin.
Faktor provokasi lainnya adalah penggunaan antikonvulsi dan transquiliser

dihentikan tiba-tiba
Kadang serangan dipicu oleh ransangan sensoris khas seperti kilatan cahaya

dengann frekuensi tertentu (disco), musik berdentum


Faktor lain yang dapat memicu serangan alkalosis, hipoglikemia,

hipokalsemia, haid dan kehamilan


Beberapa jenis epilepsy
1. Grand Mal
2. Petit Mal
3. Psikomotor (serangan parsial kompleks)
Efek kehamilan pada epilesi

Siklus mentruasi terhadap aktivitas kejang


Interaksi obat antiepilepsi dengan obat kontrasepsi
Efek samping obat-obat antiepilepsi yang meliputi teratogenesis
Dampak pada pemberian asi
Perubahan pada kadar elektrolit serum dapat mempengaruhi frekuensi
serangan, penurunan konsentrasi natrium dan magnesium yang
ditemukan pada kehamilan bisa menjadi faktor pencetus serangan epilepsi
(Klingman, 1954)

Epilepsy pengaruhnya pada kehamilan

Kehamilan tidak mempengaruhi jalannya penyakit, sebaliknya penyakit

banyak mempengaruhi kehamilan, persalinan dan nifas


Diagnosis :
Herediter, dalam keluarga ada penderita epilepsi

Serangan timbul dalam hamil muda


Berbeda dengann eklamsia, disini tak ada hipertensi dan proteinemia
Ada serangan grandmal dan petit mal
Ada serangan status epileptikus

Pengaruh terhadap kehamilan :


Dapat terjadi abortus dan partus prematurs
Anak, secara herediter dilahirkan dengann epilepsi pula 30%
Angka kejadian cacat bawaan lebih tinggi
Persalinan harus diawasi dengann baik, akan timbulnya serangan
epilepsi; dalam hal ini kala II boleh dipersingkat dengann bantuan
ekstrasi vakum atau forceps

Penatalaksanaan Epilepsi Pada Kehamilan


Prakonsepsi

Menunda kehamilan sampai pengendalian epilepsi mencapai hasil yang

optimal
Mengevaluasi ulang terhadap kebutuhan obat antiepilepsi
Jika mungkin melakukan monoterapi antiepilepsi
Suplementasi asam folat di bawah pengawasan dokter
Memberikan takaran obat antiepilepsi yang serendah mungkin dengan

pemberian terbagi
Menawarkan konseling genetik kepada orang tua
Membicarakan resiko pemberian obat dan metode pendeteksian anomali

Kehamilan

Perawatan oleh dokter spesialis obstetri dan neurologi/epilepsi


Pemeriksaan skrining USG utk menemukan kelainan kongenital
Melanjutkan suplemen asam folat
Mempertimbangkan pemberian suplemen Vit. D dan kalsium
Pemeriksaan kadar obat anti epilepsi
Melakukan pemantauan obstetri yang ketat sebagai tindakan yang berhatihati terhadap kemungkinan komplikasi misalnya retardasi pertumbuhan

intrauteri
Penanganan serangan epilepsi yang tepat
Menawarkan pemberian suplemen vitamin K dalam trimester terakhir
kehamilan

Persalinan dan melahirkan

Melahirkan di RS dengan pertolongan dokter spesialis anestesi serta

obstetri dan tersedianya fasilitas untuk perawatan intensif neonatus


Pemberian obat anti epilepsi parenteral jika diperlukan
Penatalaksanaan aktif kala tiga persalinan
Menghindari pengambilan sampel darah dari kulit kepala janin jika
pemberian vitamin K belum dilaksanakan

Post partum

Memberikan suntikan vitamin intramuskuler pada neonatus


Melakukan pemeriksaan neonatus untuk menemukan anomali kongenital

dan penilaian terhadap tanda depresi SSP


Mengamati neonatus untuk menemukan gejala putus obat anti epilepsi
Pemberian ASI-peringatan khusus pada pemberian fenobarbital dan

etoksusimid
Pemeriksaan konsentrasi obat antiepilepsi dan penyesuaian takaran obat
mungkin diperlukan

Membicarakan pemilihan kontrasepsi, obat antiepilepsi akan mengurangi

efisiensi semua preparat kontrasepsi oral


Menawarkan perawatan rumah sakit yang lebih lama untuk masa nifas ,
nasehat praktis tentang perawatan untuk menghindari trauma pada ibu
dan neonatus, misalnya menghindari pekerjaan memandikan bayinya
seorang diri

Penggolongan obat epilepsi

Golongan hidantoin : obat yang digunakan pada hampir semua jenis epilepsi.

Contoh Fenitoin
Golongan barbiturat, sangat efektif sebagai antikonvulsi, sering digunakan
karena murah, terutama digunakan pada serangan grand mal. Contoh

obatnya : fenobarbital dan piramidon


Golongan Karbamazepin senyawa trisiklis ini berkhasiat antidepresif dan
antikonvulsi yang mempunyai khasiat sama dengann fenitoin
Golongan benzodiazepine
Memiliki khasiat relaksasi otot, hipnotika dan antikonvulsi. Contoh : diazepam,
klorazepam, Golongan asam valproat

Obat epilepsi generasi ke dua

Obat anti epilepsi yang baru atau generasi kedua meliputi gabapentin,

lamotrigin, okskarbazepin, tiagabin, vigabatrin, topiramat


Tidak ada uji-klinis yang melibatkan ibu hamil untuk menegakkan

keamanannya pada kehamilan


Data tentang farmakokinetiknya menunjukkan profil keamanan yang lebih
dari generasi pertama

Efek teratogen

Anti epilepsi dapat menyebabkan gangguan kongenital 2-3 kali lebih besar
dari keadaan normal, khususnya asam valproat dan karbamazepin dapat

menyebabkan spina bifida


Fenitoin dan as. Valproat dapat menimbukan kelainan jantung dan bibir
sumbing

ANASTESI UMUM
ANESTETIKA
Istilah anestesi dikemukakan pertama kali oleh O.W Holmes yang artinya
tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

Anestesi umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan

kesadaran
Anestesi lokal yaitu menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang

kesadaran
Dalam anestesi terdapat taraf-taraf narkosa tertentu yaitu penekanan sistem
saraf sentral secara bertingkat dan berturut-turut sebagai berikut:
Taraf-taraf narkose
Anestesi umum dapat menekan susunan saraf sentral secara berurutan,
yaitu:
Taraf analgesia, yaitu kesadaran dan rasas nyeri berkurang
Taraf eksitasi, yaitu kesadaran hilang seluruhnya dan terjadi kegelisahan.
Kedua taraf ini disebut taraf induksi
Taraf anestesia, yaitu reflek mata hilang, nafas otomatis dan teratur seperti
tidur dan otot-otot melemas (relaksasi)
Taraf pelumpuhan sumsum tulang, yaitu kerja jantung dan pernafasan
terhenti
Tujuan narkose adalah untuk mencapai taraf anestesia dengan sedikit mungkin
kerja ikutan atau efek samping, oleh karena itu taraf pertama sampai ketiga
adalah yang paling penting sedangkan taraf keempat harus dihindari. Pada
proses recovery (sadar kembali) terjadi dengan urutan taraf terbalik dari taraf
ketiga sampai kesatu.
Efek Samping
Hampir semua anestesi inhalasi mengakibatkan sejumlah efek samping
yang terpenting diantaranya adalah:
Menekan pernafasan, paling kecil pada N2O, eter dan trikloretilen
Mengurangi kontraksi jantung, terutama halotan dan metoksi fluran, yang
paling ringan pada eter
Merusak hati oleh karena sudah tak digunakan lagi seperti senyawa
kloroform
Merusak ginjal khususnya metoksifluran
Penggolongan
Menurut penggunaannya anestesi umum dapat digolongkan menjadi 2
yaitu:
Anestesi injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra short acting (tiopental
dan heksobarbital)
Anestesi inhalasi, diberikan sebagai uap melalui saluran pernafasan,
contohnya eter
Teknik Pemberian

Pemberian anestesi inhalasi dibagi menjadi 3 cara yaitu:


Sistem terbuka yaitu dengan penetesan langsung ke atas kain kasa yang
menutupi mulut atau hidung penderita, contohnya eter dan trikloretilen
Sistem tertutup yaitu dengan menggunakan alat khusus yang
menyalurkan campuran gas dengan oksigen dimana sejumlah CO2 yang
dikeluarkan dimasukkan kembali (bertujuan memperdalam pernapasan
dan mencegah berhentinya pernapasan atau apnea yang dapat terjadi bila
diberikan dengan sistem terbuka. Karena pengawasan penggunaan
anestetika lebih teliti maka cara ini lebih disukai, contohnya siklopropan,
N2O dan halotan
Insuflasi gas, yaitu uap atau gas ditiupkan ke dalam mulut, batang
tenggorokan atau trachea dengan memakai alat khusus seperti pada
operasi amandel
Neurotropik
Pengertian dan penggunaan nya
Adalah obat yang digunakan pada gangguan (insufisiensi) serebral seperti
mudah lupa, kurang konsentrasi dan vertigo. Gangguan pada sirkulasi darah
di otak sering kali ditemukan pada lansia di atas usia 60 tahun. Gejalanya
dapat berupa kelemahan ingatan jangka pendek dan konsentrasi, vertigo,
kuping berdengung, jari-jari dingin dan depresi.
Obat generic dan indikasi
1. Piracetam
Obat ini diindikasikan untuk gejala dengan proses menua seperti daya ingat
berkurang, terapi pada anak seperti kesulitan belajar
2. Pyritinol HCl
Obat ini diindikasikan untuk pasca trauma otak, perdarahan otak, gejala
degenerasi otak sehubungan gangguan metabolisme
3. Mecobalamin
Obat ini diindikasikan utk neuropati perifer
NSAIDs
(non steroidal anti-inflammatory drugs)
THE INFLAMMATORY RESPONSE
1.
2.
3.
4.
5.

The inflammatory response is a normal (desirable) defense mechanism.


The side effects are undesirable.
Normal inflammatory response has an on/off switch.
In chronic inflammation something has gone wrong with the OFF switch
Therefore we need drugs to control the inflammatory reaction.

Psikotropika

Merupakan kelompok obat yang dipakai untuk mengobati gangguan mental.


Berdasarkan penggunaan klinik, dibagi menjadi 4 golongan :

Antipsikosis ( major tranquillizer , neuroleptik )


Antiansietas ( minor tranquillizer )
Anti depresan
Psikotogenik

Antipsikosis merupakan kelompok obat terbesar yang dipakai untuk penderita


gangguan mental. Obat ini dapat memperbaiki proses pikir dan perilaku.
Khususnya bagi penderita skizofrenia obat ini tidak dipakai untuk mengobati

ansietas & depresi.


Mekanisme kerja antipsikosis :
Menghambat reseptor dopamin pada otak ( reaksi extra piramidal ).
Menghambat daerah pemicu kemoreseptor & pusat muntah pada otak
sehingga menghasilkan efek anti emetik.
Klasifikasi antipsikosis :
Derivat fenutiazin :
Senyawa dimetilaminopropil:

Klorpromazin
Promazin

Senyawa piperidil:

Senyawa piperazin:

Mepazin
Tioridazin
Asetofenasin
Karfenazin
Proklorfenasin
Non fenotiazin:
Klorprotiksen
Butirofenon:
Haloperidol

Antiansietas terutama berguna untuk pengobatan simtomatik penyakit


psikoneurosis dan sebagai obat tambahan pada terapi penyakit somatik yang
didasari anseitas ( perasaan cemas ) serta ketegangan mental.
Penggunaan dosis tinggi dan jangka lama dapat menimbulkan
ketergantungan fisik & psikis.
Klasifikasi ansietas
Benzodiazepin:
Diazepam
Klordiazepokzid

Klorazepat
Golongan lain:

Buspiron
Antidepresi ialah : obat untuk mengatasi depresi mental. Obat golongan ini
lebih efektif pada depresi endogen
Klasifikasi antidepresi :
Penghambat mao:
Isokaboksazid
Nialamid
Fenelzin
Senyawa dibenzazepin :
Imipramin
Amitriptilin
Desmetilamitriptilin
Senyawa lain:
Amoksapin
Maprotilin
Trazodon
Fluoksetin
Bupropion
Nomifensin
Mianserin

1. Antiansietas
Gol.Benzodiazepin :
Yang dianjurkan sebagai antiasietas adl :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Klordiazepoksid
Diazepam
Oksazepam
Lorazepam
Alprazolam
Halozepam
Klorazepat
Prazepam
Indikasi :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sedasi
Menghilangkan rasa cemas
Hipnotik
Antikonvulsi
Pelemas otot
Induksi anestesi umum
Buspiron ( gol. Azaspirodekandion )

Potensial sebagai antianseitasInteraksi dengann depresan ssp minimal,


Antiansietas yang efektif dengann efek sedatifnya relatif ringan. Efek ketergnatungan
jg ringan
Antidepresi Penghambat mono amin oksidase
Mk :
Mao berfunsi dalam proses deaminase oksidatif katekolamin di
mitokondria
Pembentukan komplek antara penghambat mao dengann mao.
Akibatnya kadar efinefrin, norefinefrin dan 5-ht dalam otak naik.
Mao dapat menghambat pembentukan enzim-enzim dihati, karena itu dapat
mengganggu metabolisme obat lain di hati. Penggunaan sangat terbatas krn
toksikHipotensi ( pencegahan norefinefrin dr ujung saraf ) dan hipertensi
( tertimbunnya ketokolamin ) dapat terjadi Merangsang ssp : tremor, insomnia, dan
konvulsi.Tdk banyak digunakan lagi.

Antidepresan trisiklik
Imipramin
Amitriptilin
Paling banyak digunakan sebagai antidepresan dengann perbaikan :
Bertambahnya aktivitas fisik
Kewaspadaan mental
Perbaikan nafsu makan
Pola tidur yang lebih baik.
Tidak menimbulkan euforia pada orang normal.
Efek smaping :
Memperlihatkan efek antimuskarinik ( penglihatan kabur, mulut
kering, obstivasi, retensi urin.
Hipotensi ortostatik
Dosis toksik : aritmia, takikardia.
Sediaan :
Imipramin : 10 dan 25 mg tablet, obat suntik 25 mg/ml.
Amitriptilin : tablet 10 dan 25 mg, obat suntik 100mg/ml.

Senyawa lain :

Amoksapin
Maprotilin
Trazadon
Fluoksetin
Bupropion
Nomifensin

Mianserin

Litium

Sedativa dan hipnotika


Sedativa adalah obat yang berfungsi untuk :
Menurunkan aktivitas
Mengurangi ketegangan
Menenangkan penggunanya
Tujuannya adalah menenangkan
Hipnotika adalah obat yang bertujuan untuk :
Menimbulkan rasa kantuk
Mempercepat tidur
Dan sepanjang malam dapat mempertahankan keadaan tidur yang

menyerupai tidur alamiah


Biasanya digunakan pada malam hari dengann dosis yang lebih besar

dr sedativ dengann tujuan menidurkan


Perbedaan sedativ tranquillizer
Sedativ-hipnotik :
Menekan ssp
Bila dosis dinaikan menimbulkan efek tidur dan efek anastesia
Bila dosis dinaikan lagi menimbulkan koma, depresi pernapasan
dan kematian
Bl digunakan berulang dan jangka lama menimbulkan ketagihan

dan ketergantungan
Tranquillizer benzodiazepin :
Menekan ssp ( efek sedativ dan hipnotik )
Efek anxiolitik ( mengurangi rasa takut dan cemas )
Antikonvulsi
Relaksasi otot
Menimbulkan ketergantungan tp lebih ringan dr gol lainnya
Keamanannya relatif lebih besar dari barbiturat, shg lebih
banyak digunakan.
Over dosis menimbulkan depresi pernapasan

dankardiovaskular, serta koma


Fisiologi tidur
Fungsi tidur :
Meregenerasi sel-sel tubuh
Aktivitas saraf simpatis meningkat :
Penyempitan pupil
Pernapasan dan sirkulasi menurun
Stimulasi pencernaan
Proses pemulihan energi
Diproduksinya growht hormone
Penanganan insomnia

Insomnia adalah keadaan dimana tidak bisa tidur


Disebabkan :
Gangguan fisik :
Batuk
Nyeri
Sesak napas
Gangguan kejiwaan :
Emosi
Ketegangan
Kecemasan
Depresi
Penanganan dengann tindakan umum :
Melakukan kegiatan psikis yang melelahkan sbl tidur
Tdk merokok dan minum kopi maupun alkohol
Mandi air panas dan minum susu
Perbaiki faktor lingkungan ditempat tidur
Kembangkan kebisaan tidur yang tetap
Pemberian plasebo untuk merangsang efek sugesti
Penanganan dengann pengobatan :
Obati penyebab utama :
Nyeri ( analgetik )
Batuk ( obat batuk )
Sakit dan tegang otot ( relaksan otot )
Pemberian obat tidur ( benzodiazepin ) dengann pilihan obat :
T yang pendek
Dosis yang rendah
Penggunaan dibatasi 1-3 malam saja
Tidak lebih lama dari 1-2 minggu
Pemilihan obat tidur :
Obat yang dapat mempercepat tidur
Memperpanjang waktu tidur
Mengurangi frekuensi terbangun
Memperbaiki kualitas tidur
Mempunyai efek samping yang lebih ringan
Efek samping umum :
Depresi pernapasan, terutama pada dosis yang tinggi
Tekanan darah turun oleh gol barbiturat
Sembelit pada penggunaan yang lama ( barbiturat )
Efek hang over ( efek sisa obat )
Gejala abstinensi ( efek penghentian obat scr mendadak ) ditangani
pemberian propanolol ( 3 dd 20 mg )
Efek paradoksal ( efek yang berlawananan dengann indikasi )
Toleransi dan ketergantungan :
Toleransi adl : pengunaan obat yang penggunaan jangka lama, shg
tubuh mengalami toleransi, dan efek yang sama dapat timbul bila
diberikan dosis yang lebih tinggi dr sebelumnya

Ketergantungan : desakan batin unt menggunakan suatu obat guna

mencapai efek psikis atau krn tjd efek tdk enak bl obat tdk diminum
Ada 2 macam :
Penggolongan
1. Barbiturat ( praktis sdh ditinggalkan sebagai hipno-sedativ )
Fenobarbital
Butobarbital
Siklobarbital
2. Benzodiazepin
Temazepan
Nitrazepam
Flurazepam
Flunitrazepam
Triazolam
Estazolam
Midazolam
3. Lain-lain : ( tdk dibahas )
Morfin
Meprobamat ( medicar )
Opipramol
4. Obat obsulet : ( tdk dibahas )
Senyawa brom k/na nh4br
Turunan urea :
Karbromal
Bromisoval
5. Kloralhidrat ( tdk dibahas )
6. Efek samping obat :
1. Hang over
2. Paradoksial
3. Toleransi dan ketergantungan
4. Sindrum obstinensi
5. Rasa kantuk
6. Letih lesu
7. Reaksi psikis ( kacau pikiran )
8. Mulut kering
9. Gangguan lambung usus
7. Kehamilan dan laktasi :
1. Usahakan hindari pemakaian pada ibu hamil
2. Hindari pada ibu laktasi
ASUHAN GIZI PADA PENYAKIT AUTISME
Oleh : I WAYAN JUNIARSANA, SST, M.Fis
Autisme adalah gangguan syaraf otak, yang menghambat perkembangan
bicara sehingga menyebabkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi tidak
berkembang secara normal. Autisme bukanlah gejala penyakit tetapi berupa
sindroma (kumpulan gejala) dimana terjadi penyimpangan perkembangan sosial,

kemampuan berbahasa dan keperdulian terhadap sekitar, sehingga anak autis hidup
dalam dunianya sendiri.
Panduan Diet CFGF
1. Pada minggu pertama
Hindari atau kurangi makanan dari terigu dalam bentuk mi (pilih bihun,
spageti beras, kwetiau beras)
2. Pada minggu kedua
Hindari atau kurangi biscuit (solusi : cari biscuit dari tepung beras).
3. minggu ketiga
Hindari atau kurangi roti (solusi buat camilan bebas tepung terigu
4. Pada minggu keempat
Hindari atau kurangi makanan dari susu sapi, ganti dengan susu
kedelai (coba susu kentang/khusus makanan anak autis, susu dari air
beras atau susu kacang almond).
5. Pada minggu kelima
Hindari atau kurangi makanan yang banyak mengandung gula. (solusi :
gunakan gula merah, pengganti gula/stevia).
6. Pada minggu keenam
Atur jadwal makan buah-buahan yang dikonsumsi anak. Hindari apel,
anggur, melon, tomat, jeruk dan stroberi. Pilih yang lebih aman seperti
pepaya, nenas, sirsak dan kiwi. Kurangi makanan/minuman yang
mengandung zat aditif, makanan/ minuman olahan.
Anjuran Makanan
Golongan Bahan Makanan

Makanan

yang Makanan yang Dihindari

Sumber karbohidrat

Diperbolehkan
Beras,
beras

ketan, Makanan

yang

kentang, jagung, singkong, mengandung


ubi, tepung beras, tapioca, gandum,

gluten

oat/havermouth,

sagu dan hasil olahannya : barley, bulgur, terigu dan


bihun, soun dan lain-lain.

semua hasil olahannya :


roti, kue-kue, mie, spageti,
macaroni, vermiseli, biscuit,
cake, bolu, pizza, kue tar
dan

Sumber protein hewan

Daging
kambing,

sebagainya.

Tepung

sapi,

panir.
babi, Makanan sumber casein :

burung,

ayam, susu dan hasil olahannya :

hati ikan, kepiting, cumi, keju,


telur, udang, hati.

yogurt,

cream.

Daging, ikan yang diawet

dan diolah seperti sosis,


kornet, daging asap, ikan
Sumber protein nabati

asap, sarden, dan lain-lain


Tahu, tempe, kacang hijau, Tauco, kecap.
kacang

kedelai,

kacang

merah, kacang tolo, kacang


mede, kacang tanah, lentil,
Sumber lemak

Sayuran

kacang kapri, susu kedelai.


Minyak
goring,
minyak Mentega, cream.
zaitun,

minyak

jagung,

minyak

kacang,

santan,

kelapa.
Semua

sayuran

segar, Saus : tomat, cabe, puree,

wortel, labu, kuning tomat, tomat, sayuran diawet dan


kangkung,

bayam,

sawi, di asin.

labu siam, timun-timun, dan


Buah-buahan

lain-lain.
Semua buah

segar

: Buah yang diawet, buah

anggur, apel, pisang, jeruk, dalam kaleng.


jambu,

mangga, pepaya,

melon, semangka dan lainMinuman

lain.
Teh, sari buah murni tanpa Minuman botol ringan sari
pengawet, susu kedelai.

Food
tambahan

additive/bahan Acacia
ascorbat,
beta

gum,

asam Pewarna

asam

fumerat, penambah

carotene

carbonate,
gum,

buah dengan pengawet.

potassium/kalsium

aspartame,

pectin, cafein,

sakarine

polybate,

nitrate,

: nitrite (pengawet daging).

chlorida, citrate, phosphate,

TERAPI NUTRISI PADA PENYAKIT EPILEPSI

rasa/

gel, penambah aroma, pemanis

glyceride, :

lecithin,

sorbate.

zat

sulfare, monosodium glutamate, zat

selulose,

gelatin,

tiruan

Oleh : I WAYAN JUNIARSANA, SST, M.Fis


Epilepsi : gangguan yang timbulnya tidak menentu pada sistem syaraf mungkin
disebabkan secara tiba-tiba, gangguan pada syaraf otak.
TERAPI NUTRISI :
I. Penentuan kebutuhan gizi tergantung dari etiologi :
a. Belum diketahui dengan pasti :
- Kebutuhan kalori seimbang
- Protein : 0,8 1 gr/kg BBI
- Lemak : 0,75 gr/kg BBI
- Karbohidrat (sisa dari kalori (protein + lemak) dibagi 4
- cukup vitamin mineral
b. Etiologi diketahui :
- Infeksi : berikan Tinggi Energi Tinggi Protein
- Degeneratif : berikan Diit sesuai dengan penyakitnya (Diit Jantung, Diit DM,
dll)
II. DIET KETOGENIK
1. Diet ketogenik digunakan untuk melakukan perawatan pada semua tipe
serangan pada anak-anak jika pengobatan yang telah dilakukan gagal.
2. Diet ini dirancang untuk membuat dan mengatur keseimbangan ketosis
3. Pengaruh yang menguntungkan dalam epilepsi disebabkan oleh perubahan
metabolime pada syaraf, karena keton dapat menghambat neurotransmitter,
yang memproduksi antikonvulsan di dalam tubuh.
4. Keadaan ketosis ini dipercaya dapat menghasilkan efek antikonvulsi, yang
dapat mengurangi simptom epilepsi dengan mengurangi frekuensi dan derajat
kejang
5. Diet ini mengandung 2-4 gram lemak untuk setiap kombinasi 1 gram
karbohidrat dan protein.
6. Kandungan karbohidrat dikurangi untuk menambah efek akumulasi keton.
7. 90% sumber kalori dapat diberikan dalam bentuk lemak,
8. asupan protein tidak lebih dari 1 g /kg berat badan
9. Minimal karbohidrat.
10. Rasio standar dari kalori lemak berbanding karbohidrat dan protein adalah
4:1, pada anak-anak yang usianya lebih muda dan remaja rasio bisa menjadi
3:1 hal ini dikarenakan karena mereka dalam usia pertumbuhan sehingga
diperlukan asupan protein lebih banyak.
11. Cukup vitamin dan mineral (bisa diberikan dalam bentuk suplemen)
12. Makanan yang digunakan dalam diet ini memanfaatkan produk trigliserida
dengan kandungan tinggi (mentega, krim, mayonais) dan kacang.