You are on page 1of 46

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang mempunyai penduduk cukup padat didunia. Dengan
pertumbuhan penduduk yang cukup besar dan kepadatan penduduk yang terus meningkat itu
maka pemerintah pusat maupun daerah berupaya mengoptimalkan lahan agar dapat dipakai
dan digunakan dengan baik. Hal tersebut diakibatkan karena adanya perkembangan
urbanisasi yang menyebabkan adanya perubahan tataguna lahan. oleh karena itu setiap
perkembangan kota harus diikuti dengan perbaikan sistem drainase. Tidak cukup hanya pada
lokasi yang di kembangkan, melainkan harus meliputi daerah sekitarnya.
Sempitnya luas daerah diperkotan dan pertumbuhan pembangunan semakin padat dengan
sendirinya menimbulkan dampak yang cukup besar pada siklus hidrologi sehingga
berpengaruh besar pada sistem drainase. Perkembangan kawasan hunian dan perkantoran
disinyalir sebagai penyebab banjir di lingkungan sekitarnya.
Drainase Perkotaan merupakan bagian dari sarana penunjang pada suatu kota yang sangat
berperan penting baik di sektor tata kota, Transportasi, dan sebagainya. Maka dari itu
Darinase merupakan bagian dari Sarana dan Prasarana pendukung pada jalan yang sangat
berfungsi sebagai pelindung jalan dari kerusakan dan menghindari genangan air pada
permukaan jalan (banjir perkotaan).
Dalam perencanaan sebuah saluran Drainase haruslah mempertimbangkan hal-hal yang
akan terjadi sutu ketika diantaranya banjir, sehingga suatu waktu tidak terjadi hal-hal yang
tidak di inginkan, sehinnga mengganggu aktifitas masyarakat, maka dari itu dalam
perencanaan saluran drainase perlu adanya Analisa dalam perencanaan saluran drainase
seperti Hidrologi dan Analisa Hidrolika atau dengan kata lain, perhitungan dibit itensitas
hujan dan perhitungan dimensi saluran. Sehingga kita dapat menetahui seberapa besarnya
debit air yang akan ditampung oleh saluran drainase yang akan melintasi saluran tersebut,
dengan dengan demikian dimensi saluran yang direncanakan mampu menampung debit air

tersebut. Sehingga tidak terjadi luapan air dari dalam saluran yang akan mengakibatkan
banjir.
Dalam penulisan tugas Drainase ini kami selaku peninjau, meninjau kondisi dari saluran
drainase pada lokasi peninjauan pada saat, jika terjadinya hujan dengan tingginya intensitas
maka bersamaan dengan itu pula terjadinya genangan air pada permuakaan jalan, akibat
terjadi luapan air dari dalam saluran drainase karena kondisi daya tampung dengan kecepatan
aliran air pada saluran tidak seimbang dengan debit hujan yang terjadi, selain itu juga pada
beberapa titik saluran yang ditinjau terdapat sedimentasi yang berupa endapan - endapan
pasir dan sampah atau kotoran yang dibuang oleh masyarakat. Dimana kita ketahui bersama
bahwa faktor-faktor di atas merupakan penyebab terjadinya genangan air yang apabila
dengan skalah dan debit yang besar maka akan menyebabkan banjir.
Drainase perkotaan melayani pembuangan kelebihan air pada suatu kota, mengalirkannya
melalui muka tanah (surface drainage) atau bawah muka tanah (sub surface drainage).
Drainase perkotaan harus terpadu dengan sanitasi, sampah, pengendali banjir kota dan lain –
lain. Dalam penulisan ini kami mencoba menghitung frekuensi dan intensitas dari curah
hujan rata – rata dari tahun 1999 sampai 2009 dengan lokasi Kota Ambon pada daerah
Talake.
I.2. Rumusan Masalah.
Bertolak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah atau inti masalah
adalah
 Tarjadinya genangan air pada permukaan Jln. OT Pattimaipauw, Kelurahan Wainitu
(Talake tepatnya pada RT 04/RW 002).
I.3. Tujuan Penulisan.
Dalam penulisan dan perencanaan sabuah saluran drainase tentu saja tidak terlepas dari
tujuan-tujuan yang diharapkan, baik dari penulis maupun masyarakat, maka yang menjadi
tujuan kami adalah:

 Menganalisa hal – hal apa saja yang menjadi penyebab terjadinya genangan air pada
permukaan Jln. OT Pattimaipauw dan mencari solusi terhadap masalah yang terjadi pada
lokasi tinjauan.
I.4. Manfaat Penulisan.
Dari hasil penulisan tugas ini adapun manfaat – manfaat penulisan ini sebagai berikut :
 Mengetahui penyebab terjadinya genangan pada permukaan Jln OT Pattimaipauw. Talake
(lokasi yang ditinjau)

1.5.

Batasan Masalah
Dari hasil penulisan tugas ini adapun manfaat – manfaat penulisan ini sebagai berikut :
 Mengetahui penyebab terjadinya genangan pada permukaan Jln OT Pattimaipauw. Talake
(lokasi yang ditinjau)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Banjir.
Banjir adalah peristiwa alam berupa limpasan dan genangan air yang disebabkan karena
palung sungai atau saluran drainase yang tidak mampu menampung aliran sungai sehingga
melap, mengenangi daerah (dataran banjir)
A. Menurut Ahli Hidrologi Banjir di Indonesia Dibagi Menjadi Tiga Jenis
1.

Meluapnya sungai: biasanya terjadi akibat dari sungai tidak mampu lagi
menampung aliran air yang ada disungai itu akibat debit airnya sudah
melebihi kapasitas. Kalo dah kayak gini, airnya itu akan mencari tempat lain.
tempat itu ada dikanan kiri tau kanan sungai atau saluran drainase yang
biasanya merupakan daerah dataran banjir. luapan air ini bisa juga terjadi
akibat kiriman, bila crah hujan tinggi di hulu sungai dan sistem DAS dari
sungai itu rusak maka luapan airnya akan terjadi di hilir sungai

2.

Banjir loka:. Dari namanya aja mungkin kita bisa langsung ngerti apa yang
dimaksud banjir lokal, banjir ini merupakan banjir yang terjadi akibat air yang
berlebihan ditempat itu dan meluap juga ditempat itu. Pada saat curah hujan
tinggi dilokasi setempat dimana kondisi tanah dilokasi itu sulit dalam
melakukan penyerapan air (bisa karena padat, bisa juga karena kondisinya
lembab, maka kemungkinan terjadinya banjir lokal akan sangat tinggi sekali.

3. Banjir akibat pasang surut air laut: saat air pasang, ketinggian muka air laut
akan meningkat, otomatis aliran air di bagian muara sungai akan lebih lambat
dibandingkan bila saat laut surut. Selain melambat, bila aliran air sungai sudah
melebihi kapasitasnya (ditempat yang datar atau cekungan) maka air itupun
akan menyebar kesegala arah maka terjadilah banjir

Sampah pendudukpun sering dijumpai di aliran drainase. sehingga air meluap dan terjadi genangan. sehingga tidak dapat menampung debit yang terjadi. 4. Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti ole peningkatan limbah. 3. C. Banyak pemukiman yang didirikan di atas saluran drainase sehingga saluran drainase menjadi tersumbat. yaitu: sebagai saluran drainase itu sendiri dan sebagai saluran irigasi. Penyempitan dan Pendangkalan Saluran. yang pada akhirnya menimbulkan masalah tersendiri. Manajemen sampah yang kurang baik memberi kontribusi percepatan pendangkalan saluran drainase dan sungai. dimensi dan kontruksi drainase. Peningkatan Debit. baik cair maupun padat. merupakan akibat dari pertumbuhan maupun urbanisasi. 1. Saluran drainase di perkotaan kadang mempunyai fungsi ganda. Peningkatan Jumblah Penduduk Mengingat jumlah penduduk perkotaan sangat cepat. 5.B. Amblesan Tanah. Kapasita sungai dan saluran drainase menjadi berkurang. Hal ini karena kesadaran penduduk yang rendah terhadap kebersihan lingkungan. Penyempitan saluran drainase dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk. Peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat mengakibatkan berkurangnya lahan untuk saluran drainase. Limdah Sampah dan Pasang Surut. Hal ini juga yang sering menjadi permasalahan pengelolaan infrastruktur ini adalah berkaitan dengan perbedaan sistem. Sebab Terjadinya Banjir Pada Perkotaan. Perubahan tata guna lahan yang selalu terjadi akibat perkembanga kota dapat mengakibatkan peningkatan aliran permukaan dan debit banjir. FAKTOR-FAKTOR LAINNYA . 2. mengakibatkan beberapa kota berada di bawa muka air pasang. Akibatnya system drainase grafitasi terganggu dan tidak dapat bekerja tampa pompa. terutama di perkotaan. Amblesan tanah terjadi karena pengambilan air tanah yang berlebihan.

Dampak “global climate change” 5. Membuat saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan. resapan air hujan. Kemampuan pemerintah untuk membangun sarana-sarana pengendali banjir masih sangat terbatas 4. Pembuatan stasiun pompa dan kolam penampung untuk menampung air hujan yang berlebihan. . 3. 1. Peningkatan daya guna air. meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan 14. terutama membung sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya manfaat saluran drainase. terutama membung sampah sembarangan agar masyarakat mengetahui pentingnya manfaat saluran drainase. 4. Perbaikan dan normalisasi saluran drainase. 9. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air hujan. Membuat saluran tambahan untuk mengurangi daerah tangkapan. 7. khususnya di perkotaan. Memberikan sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan. Perilaku masyarakat yang tidak kondusif D. serta mengembalikan fungsi drainase yang sesungguhnya. Memberikan sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan.1. 12. hujan. Mengadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membung sampah 11. 15. menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas. 8. Kemampuan DAS untuk meresapkan air/menahan air hujan semakin berkurang oleh berbagai sebab 2. Membuat bak kontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke saluran drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak terjadi endapan. Kemampuan prasarana-sarana pengendali banjir yang ada masih sangat terbatas 3. Penambahan untuk pengadaan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai 10. Membuat bak kontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke saluran drainase dapat dibuang dengan cepat agar tidak terjadi endapan. Peningkatan daya guna air. meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan 5. 18. Mengelola limpasan dengan cara mengembangkan fasilitas untuk menahan air 6. Mengadakan penyuluhan akan pentingnya kesadaran membung sampah 2. menyimpan air hujan maupun pembuatan fasilitas. 13. Langka Penanganan Banjir Di Perkotaan.

membuang atau mengalirkan air.16. Kesadaran ini tentu saja tidak serta merta dapat direalisasikan dengan segera. Sampai saat ini kota-kota di Indonesia masih menggunakan system drainase tercampur tampa dilengkapi dengan fasilitas instalasi pengolah air limbah (IPAL). orang mulai menyadari bahwa sepenuhnya bahwa problem yang melingkupi kekumuhan sebenarnya belum terselesaikan. Kota-kota yang dilewati dan/atau berdekatan dengan badan air penerima mulai berinisiatif untuk mengolah air limbah sebelum dibuang kedalam sistem drainase. menguras. Sejarah Perkembangan Drainase Di Perkotaan. Bangunan drainase pertama kali dibuat di romawi berupa saluran bawah tanah yang cukup besar. 18. system drainase dibangun hanya untuk menerima limpasan air hujan dan membungnya ke badan air (receiving waters) terdekat. yang digunakan untuk menampung dan membuang limpasan air hujan. tetapi hanya dipindahkan dari lahan (tanah) ke badan air penerima. A. Gambaran Umum Drainase. mengingat air limbah yang dibuang ke system drainase makin meningkat volumenya dangan kualitas yang semakin menurun. Drainase yang berasal dari bahasa inggris yaitu drainage yang mempunyai arti mengalirkan. Perbaikan dan normalisasi saluran drainase. pada awalnya. 17. Drainase secara umum didefenisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi . Manusia sudah mulai memikirkan system pembangunan limpasan air hujan sejak jaman romawi kuno. Dalam bidang Teknik Sipil. Pembuatan stasiun pompa dan kolam penampung untuk menampung air hujan yang berlebihan. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan untukmasa mendatang. terutama pada koto-kota besar dan tua yang sistemnya sudah terbangun dengan mapan. Sebelum abad ke 19 berakhir. II. Pengertian Drainase. Penambahan untuk pengadaan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai resapan air hujan. khususnya di perkotaan. Sejalan dengan perkembangan kota-kota di Eropa dan Amerika Utara. serta mengembalikan fungsi drainase yang sesungguhnya.2. B.system drainase berkembang secara intensif.

Alih fungsi ini tidak hanya menimbulkan satu permasalahan saja. sejarah terbentuknya. Kini banjir sudah umum terjadi di kawasan perkotaan. Permasalahan-permasalahan ini terjadi akibat adanya peningkatan debit pada saluran drainase. salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian dalam mengelola sistem drainase. dan bangunan got miring. rembesan. berdasarkan konstruksi. yaitu: Sistem drainase primer. yaitu bangunan struktur dan bangunan non struktur. Berbagai permasalahan itu terjadi akibat kelalaian kita dalam menjaga lingkungan. amblesan tanah. Permasalahan drainase perkotaan Saat ini banyak permasalahan lingkungaan yang terjadi. Oleh karena itu. Mulai dari banjir.kelebihan air. maupun kelebihan air irigasi dari suatu lahan/lahan. hingga kurangnya air bersih. serta sampah di saluran drainase. Bangunan-bangunan pendukung drainase dibagi menjadi dua. Sistem drainase Sekunder. sudah seharusnya masyaraka dan . Sistem drainase tersier dan Sistem drainase kuarter. terganggu. Penyebab lainnya adalah karena peningkatan jumlah penduduk. baik yang berasal dari air hujan. Sistem drainase ini memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Jenis-jenis drainase dibagi berdasarkan letak salurannya. penyempitan dan pendangkalan saluran. headwall. Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengaan salinitasi. longsor. tetapi nantinya akan timbula kekacauan dalam penanganan sistem drainase pula. Sepanjang aliran drainase banyak ditemukan bangunan pendukung serta pelengkapnya. shipon. Sudah seharusnya bahwa fungsi drainase ini tidak dialih fungsikan atau berfungsi ganda Sebagai saluran irigasi. Sistem drainase sendiri terdiri dari empat macam. Sedangkan bangunan pelengkap saluran drainase adalah catch basin. sehingga fungsi kawasan/lahan. gorong-gorong. yang kini marak terjadi. Pada sistem drainase dan bangunan pelengkap saluran drainase banyak ditemukan permasalahan yang terjadi. bangunan terjun. polusi udara. inlet. Persoalan ini diakibatkankarena berbagai hal. C. Jadi drainase tidak hanya menyangkut air permukaan tetapi juga air tanah. dan Berdasarkan fungsinya. manhole.

 Drainase jalan raya. yaitu: saluran yang berada di atas permukaan tanah. yang berfungsi untuk mengalirkan air limpasan permukaan.  Drainase permukaan  Drainase bawa permukaan  Drainase lapengan Olahraga. Drainase buatan dibagi menjadi 3 berdasarkan tempatnya. . drainase terjadi secara alami sebagai bagian dari siklus hidrologi. yaitu: system drainase yang terbentuk sacara alami dan tidak ada unsur campur tangn manusia. dan dimensi saluran. khususnya drainase di perkotaan. C.3 Jenis-Jenis Drainase. yaitu: saluran yang dibentuk berdasarkan analisa ilmu drainase. melainkan terus berubah secara konstan menurut keadaan fisik lingkungan sekitar. seperti lapangan sepak bola. Analisa aliranya merupakan analisa open channel. Alasan tersebut antara lain. B. Drainase ini berlangsung tidak secara statis.  Drainase permukaan  Drainase bawa permukaan  Drainase Lapangan Terbang.Pemerinta kota menyadari pentingnya fungsi saluran drainase. Pada daerah yang belum berkembang. Menurut Letak Struktur. karena funegsi permukaan tanah yang tidak memperbolehkan adanya saluran di permukaan tanah. untuk menentukan debit akibat hujan. A. Menurut Sejara Terbentuknya. b) Drainase bawa permukaan. a) Drainase Alamiah. a) Drainase permukaan tanah. serta permasalahan yang terjadi diperkotaan. b) Drainase Buatan. yaitu: saluran drainase yang bertujuan untuk mengalirkan air limpasan permukaan melalui media dibawa permukaan tanah karena alasan-alasan tertentu. II. yaitu. tanaman dan lapangan terbang. Menurut Konstruksi.

sedangkan data curah hujan harian dan bulanan tidak dapat digunakan untuk perencanaan. saluran terbuka ini biasanya tidak diberi lining dengan beton. 30. Data curah hujan periode pendek ini yang diperlukan untuk perencanaan drainase perkotaan. yaitu: system saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan. misalnya 5. pada umumnya system saluran ini berfungsi sebagai saluran campuran. D. b) Multi Purpose. Data hidrologi dikumpulkan melalui pengamatan kejadiannya. yaitu curah hujan harian. antara lain :  Data Hidrologi. II . Data Curah Hujan Data curah hujan ada beberapa macam. yaitu: saluran yang berfungsi untu mengalirkan satu jenis air buangan saja. baik secara bercampur maupun bargantian. Menurut Fungsi. Pada pinggiran kota. sampai 60 menit. yaitu: salirkanyang berfungsi untuk mengalirkan beberapa jenis buangan. dapat dikumpulkan data curah hujan harian untuk kemudian didistribusi menjadi jam – jaman atau periode yang lebih kecil dengan menggunakan pendekatan empiris. b) Saluran tertutup yaitu: saluran untuk air kotor yang mengganggu kesehatan lingkungan. a) Single Purpose. 4. kecuali apabila tidak diperoleh data curah hujan periode pendek. mempunyai sejarah / pencatatan. didapatkan data : - Durasi hujan badai - Tinggi air banjir pada saat terjadi hujan badai  Hujan rencana dicirikan oleh paling sedikit 2 dari 3 item berikut : - Durasi = D = lama terjadinya hujan badai ( waktu ) - Tinggi hujan = P = jumlah presipitasi / hujan badai ( mm ) . terutama dengan tingkat penduduk tinggi. 10. dalam melakukan analisis data hidrologi. System drainase ini baik untuk diterapkan di daerah perkotaan. Beberapa pengertian yang perlu dipahami.a) Saluran terbuka. 15. menurut kejadiannya. tahunan dan data curah hujan periode pendek. mansory (pasangan batu). bulanan. seperti pada pengukuran hujan badai.

- Frekuensi = rata – rata waktu antara 2 kejadian hujan badai dengan durasi dan tinggi hujan yang sama. mengingat akan toleransi terhadap lamanya genangan. diturunkan dari kriteria / ciri dasar di atas. Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air dari titik yang paling jauh dari daerah aliran ke titik kontrol yang ditentukan di bagian hilir suatu saluran. yaitu : - Intensitas = Tinggi hujan / Durasi hujan =P/D - Volume presipitasi = Tinggi hujan x Luas daerah tangkapan hujan =PxA Durasi hujan adalah lama kejadian hujan ( menitan. harian ) diperoleh terutama dari hasil pencatatan alat pengukur hujan otomatis. Waktu konsentrasi besarnya sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor – faktor berikut ini :  Luas daerah pengaliran  Panjang saluran drainase .  Kriteria tambahan yang digunakan dalam proses desain hidrologi. Besarnya intensitas hujan berbeda – beda. Dalam perencanaan drainase durasi hujan ini sering dikaitkan dengan waktu konsentrasi. khusunya pada drainase perkotaan diperlukan durasi yang relatif pendek. tergantung dari lamanya curah hujan dan frekuensi kejadiannya. Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan baik secara statistik maupun secara empiris. Intensitas hujan adalah jumlah hujan yang dinyatakan dalam tinggi hujan atau volume hujan tiap satuan waktu. jam – jaman.

Menurut Dr. jam – jaman. maka curah hujan ini harus dikalikan dengan 60 / 5. sebelum dilakukan analisis frekuensi untuk mendapatkan besaran hujan dengan kala ulang tertentu harus dipersiapkan rangkaian data hujan berdasarkan pada durasi harian. Log Person III. dan sebagainya. Umpamanya untuk merubah hujan 5 menit menjadi intensitas curah hujan per jam. Mengingat durasi hujan dari data pengamatan biasanya tidak sama dengan durasi hujan yang dipakai dalam perencanaan. 6 Analisis Intensitas Hujan Intensitas hujan rencana diperlukan dalam memperkirakan debit rencana. Data curah hujan dalam satu waktu tertentu yang tercatat pada alat otomatis dapat dirubah menjadi intensitas curah hujan per jam. menitan. Mononobe intensitas hujan ( I ) didalam rumus rasional dapat dihitung dengan rumus : . untuk tujuan desain hidrolik sistim drainase. dengan mempelajari pola distribusi hujan jam – jaman. 5 Periode Ulang Hujan Rencana Hujan rencana adalah pola presipitasi yang didefenisikan atau ditentukan untuk menggambarkan karateristik dari hujan badai pada umumnya ( rata – rata ). Penentuan periode ulang juga didasarkan pada pertimbangan ekonomis. Log Normal. bila direncana lokasi tidak didapat data debit fungsi waktu. Kemiringan dasar saluran  Debit dan kecepatan aliran II . maka diperlukan metode untuk mentransformasikannya. Analisi frekuansi terhadap data hujan yang tersedia dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain Gumbell. demikian pula untuk hujan 10 menit dikalikan dengan 60 / 10. Digunakan untuk memperkirakan kemungkinan kegagalan atau kejadian di kemudian hari. Berdasarkan prinsip dalam penyelesaian masalah drainase perkotaan dari aspek hidrologi. II .

Debit rencana untuk daerah perkotaan umumnya dikehendaki pembuangan air yang secepatnya. akan tergenang ( sampai batas tinggi yang .I= R  24   24  tc  2/ 3 mm / jam Dimana : R = Curah hujan rancangan setempat ( mm ) tc = Lama waktu konsentrasi ( jam ) I = Intensitas hujan ( mm / jam ) Asumsi dasar yang ada selama ini adalah bahwa kala ulang debit ekivalen dengan kala ulang hujan. agar jangan ada genangan air yang berarti. Untuk memenuhi tujuan ini saluran – saluran harus dibuat cukup sesuai dengan debit rancangan. Faktor – faktor yang menentukan sampai berapa tinggi genangan air yang diperbolehkan agar tidak menimbulkan kerugian yang berarti. adalah :  Berapa luas daerah yang diperbolehkan )  Berapa lama waktu penggenangan itu.

Seiring dengan perkembangannya suatu perkotaan. sebagai mana kita ketahui bersama. khususnya pada daerah tertentu yaitu pada daera Jln. Ot Pattimepauw (Desa Talake). junblah penduduk yang berada pada kelurahan Nusaniwe berjumblah 5360 Jiwa dan luas 117. tentu tidak terlepas dari perkembangan jumblah penduduk dari waktu ke waktu.BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA III. Dengan demikian daerah atau lokasi tinjauan sendiri masuk dalam kelirahan Nusaniwe yang berada pada RT 002/RW 02 dan RT 001/RW 02. daerah Talake merupakan salah satu jumblah penduduk terpadaat yang berada di kota ambon. Jln. A.30 Ha dengan 16 RT 6 RW. Situasi Pemukiman Sekitar Saluran.1 Pembahasan. dengan meningkatnya jumblah penduduk sebanyak 5360 Jiwa .

Kondisi Topografi di Lokasi Peninjauan. Tipe Saluran Dalam perencanan sebuah saluran drainasi. tinggi atau ketebalan dari sedimentasi ini sendiri yaitu 29 cm. Sedimentasi sendiri hampir tidak berada di sepanjang saluran yang ditinjau. Berbicara tentang topografi berarti berbicara tentang kondisi tanah sekitar. jadi topografi yaitu kondisi atau keadaan dari pada pada tanah. bahwa kondisi saluran drainase dikatakan cukup baik. Beberapa Hal tersebut di atas merupakan salah satu faktor yang dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari.posisi tertentu disitulah tardapat sedimentasi. draianase atau saluran pada suatu perkotaan yang mempunyai fungsi sebagai saluran penampung dan pembuang air baik itu air limba masyarakat. sehingga luasan dari drainase menjadi berkurang maka terjadilah limpasan air. pipa –pipa jaringan air. baik itu air hujan maupun air limbah dari masyarakat. dengan kondisi topografi ini lah yang menimbulkan besarnya debit air yang akan di tampung oleh saluran tersebut. bersamaan dengan itu pula terjadilah banjir.bersamaan dengan itu pula makin meningkatnya debit air limbah masyarakat. selain itu berkurangnya daerah-daerah kosong sebagai derah resapan air. Hal-hal ini lah yang mempengaruhu ruang gerak dari air yang melintasi saluran tersebut. Sampah. Ot Pattimepauw (Desa Talake) khususnya pada saluran yang di tinjau sebagai penyebab terjadinya banjir. Telkom dan sebaginya. Dalam peninjauan ke lokasi penelitian di Jln. Kondisi Saluran Yang di Tinjau. diantaranya: Sedimentasi. tetapi ada hal-hal yang kurang begitu baik. tetapi pada posisi . oleh karena itu kondisi saluran drainase haruslah selalu dalam keadaan baik. Telah kita ketahui bersama (Desa Talake) termasuk dalam daerah yang memiliki kondisi topografi yang datar. B. Sebagaimana kita ketahui bersama. khususnya pada sutu perkotaan perlu menganalisa apaka jenis saluran yang akan dipakai dengan kondisi daerah . yang menunjukan bahwa kondisi tanah tersebut menunjukan daerah tersebut adalah daerah dataran rata atau daerah pegunungan. maka dari itu kami dapat mengambil suatu kesimpulan. C. maupun air hujan sehingga tidak tarjadi banjir. D. Jln. faktor-faktor itulah yang menimbulkan terjadinya banjir pada perkotaan.

Seperti yang kita ketahui bersama sedimentasi dan sampah merupakan bagian yang tidak di lepas pisahkan dari saluran drainase khususnya drainase perkotaan. pada umumnya saluran ini sering dipakai saluransaluran pada perkotaan-perkotaan:  Jenis Saluran Trapesium pada lokasi pininjauan E. sehingga kita dapat mengetahui jenis saluran manakah yang layak untuk di pakai dengan kondisi tanah pegunungan. Dari hasil peninjauan ke lokasi. hampir sepanjang saluran yang di tinjau tidak terdapat sedimentasi. Setelah dilakukannya pengamatan ke lokasi yang diamati. dan setelah dilakukan pengukuran. Pola Arah Aliran. Jln. hal dua inilah yang merupakan bagian dari penyebab terjadinya banjir perkotaan. tetapi hanya pada beberapa titik yang disitulah terdapat sedimentasi. maupun pentahapan pelaksanaan tata ruang tersebut. ketebalan sedimentasi setebal 29 cm.pegunungan. baik dalam aneka ragam fasilitas yang direncanakan oleh tata ruang tersebut. Pola aliran harus dibuat sedemikian rupa sehingga memenuhi Rencana Tata Ruang Wilayah. F. Sedimentasi Dan Sampah. Ot Pattimepauw (Desa Talake) khususnya pada saluran yang diamati ternyata saluran tersebut membuang air langsung ke sungai karena berdekatan langsung dengan sungai yang ada. sedangkan untuk sampah sendiri kedapatan hampir sepanjang saluran . maka kedapatan ternyata saluran yang dipakai adalah jenis saluran trapesium. Dari hasil peninjauan kelokasi yang ditinjau pola arah aliran yang berada pada ruas Jln.

Pengupan dari air laut.  Gambar sedimentasi pada saluran dan sedimentasi 155 100 1 10 85 29 113 135 Sedimentasi G. karena foktor-faktor ini maka mengurangi luas penampang saluran. bersamaan dengan itu pula terjadilah banjir. Telah kita ketahui bersama Siklus Hidrologi adalah proses terjadinya pengupan dari permukaan bumi. hal inilah yang menyebabkan makin berkurangnya daerah kosong sebagi daerah resapan air hujan. pohon-pohon yang dapat menahan air hujan. dan menyatulah uap-uap air tersebut sehingga membentuk awan. Ot Pattimepauw (Desa Talake) merupakan bagian dari ruas jalan di daerah Talake. Ot Pattimepauw tidak mampu untuk menampung air maka bersamaan dengan itu pula terjadilah genagan pada jalan . Siklus Hidrologi Pada lokasi Tinjauan. dan awan ini akan ditiup oleh angin dan apabila awan ini udah berat. maka akan jatuh ke permuaan bumi yang disebut hujan. diantaranya penguapan air danau. dan ketika saluran yang berada pada Jln. dan apabila terjadi peningakatan sebit air pada saat musim hujan terbesar.ditemukan. Jln. sisa-sisa air yang berada pada daun-daun pohon dan tumbuh-tumbuha . yang telah kita ketahi bersama daerah Talake merupakan salah satu jumblah penduduk yang padat. Daerah Jln Jln. Ot Pattimepauw (Desa Talake) akan di tamping oleh saluran. sehingga pada lokasi tersebut air hujan yang jatuh pada daerah Jln.

. 2 Analisa A. Analisa Hidrologi Data Curah Hujan yang digunakan adalah data curah hujan harian selama 11 tahun periode.Contoh Gambar Siklus Hidrologi III. dimulai dari tahun 1997 sampai tahun 2008 dari Badan Meteorologi dan Geofisika Pattimura Ambon.

Tabel 4.03 9 2005 297.16 11 2009 374.90 8 2004 230.99 .87 5 2001 140.39 7 2003 149.87 10 2008 227.02 2 1998 361.33 6 2002 184.06 3 1999 371.1 Data Curah Hujan N o Tahun R rata-rata (mm) 1 1997 309.95 4 2000 290.

95 8271.1.36 -2838877.61 9333.07 75001.32 2053.99 98.60 11436.53 507.25 2008 227.87 22.72 7347.02 34.31 -111840.87 15.78 41349.67 2002 290.57 2001 371.95 2000 361.39 965016.01 18227.03 -45.19 -1973822. Koefisien varians. + Rn) Tabel 4.Rr (R .95 96. dan Koefisien Skewness : a) Jumlah Tahun (n) = 11 .90 93082.16 -48.Rr)2 (R .79 2004 184.18 3745.71 Perhitungan simpangan baku.33 -135.86 2007 297.90 -752329.18 2321.69 2006 230.70 -2460921.06 85.44 15753.58 1195.92 629863.82 9765. Analisis Frekuensi Curah Hujan rerata Aljabar R = 1/n ( R1 + R2 + R….53 241.90 -125.54 2003 140.49 901708.2 Rekapitulasi Curah Hujan Tahun R R .83 2009 374.53 2005 149.Rr)3 1999 309.65 ∑(total ) 3028.39 -90.

Sn = 0.36   86.b) Rr =  R  3028.  = 69.71  275.251 0 .88   0.3 Nilai Reduksi (Yt) yang diramalkan Peride Ulang (Tahun) 2 5 10 Yt 0.65)  0.51.  - Xr = Rr = 225.9676 .53 10  9  (69. 51 d) Koefisien Varians (Cv) = n   ( R  Rr ) 3 e) Skewness (Cs) = (n  1)( n  2)( ) 3  11  (2838877.366 8 Keterangan n = 11 1.88) 3 2.31 Rr 225 .4996 2. Pengolahan Data Hujan Pengolahan data hujan dimaksud untuk mengetahui curah hujan periode tertentu dengan menggunakan beberapa metode antara lain : a) Perhitungan Distribusi Metode Gumbel - Xn = Xr + K.500 maka nilai Yn = 4 0.88 - Yt  Yn Nilai Faktor Frekuensi (K) = Sn Tabel 4.60  (n  1) 10 i 1 n c) Simpangan Baku () =  69.34 n 11 ( R  Rr ) 2 75001.

9676 * X10 tahun = 275.4996  86.60  263.35 + Tabel 4.60  432.35 + 3 1.9676 * X2 tahun = 275.91 m dtk 0.09 .48 m dtk 0.60  364.3668  0.9676 * X5 tahun = 275.4996  86.35 + 3 2.91 10 432.4996  86.48 5 364.Dengan hasil perhitungan curah hujan akan dilaksanakan satu contoh prosedur perhitungan untuk setiap periode ulang (X) tahun : 3 0.4 Nilai Xn yang diramalkan Peride Ulang (Tahun) Xn 2 263.5004  0.2510  0.09 m dtk 0.

33 2.49 0.04 0.87 2.000343 2008 227.b) Perhitungan Distribusi Metode Log Pearson Tabel 4.0036 0.015625 2004 184.18 0.Xr) Log (Xi .15) 3 .56 0.23 0.16 2.05 0.43  2.004913 2002 290.35 -0.002197 2005 149.0289 0.06 0.2399 -0.39 2.03 0.000216 2003 140.03 2.15 10 n   Log ( Xi  Xr ) 3 c) Koefisien Skewness (Cs) = (n  1)( n  2)( ) 3  11  0.36 -0.09 0.17 -0.0081 0.0324 0.005832 25.014052  0.0025 -0.5 Curah Hujan Max Log Pearson Log Tahun Xi Log (Xi .57 0.07 0.16 0.06 2.0169 -0.0625 -0.87 2.014052 Xi ∑(total) n  LogXi i 1 a) Log Xr = n  26.Xr)2 Log (Xi .000064 2007 297.58 0.Xr)3 1998 309.0256 0.004096 2001 371.25 0.27 -0.47 0.000729 1999 361.40 11 Log ( Xi  Xr ) 2   (n  1) i 1 n b) Simpangan Baku () = 0.2399  0.46 0.15 -0.13 0.02 2.012167 2006 230.0529 -0.0049 0.90 2.99 2.67 0.51 10  9  (0.0016 -0.17 0.95 2.000125 2009 374.

  RT = anti Log XT atau RT = 10 XT .8561 10 1.51 maka dapat dilihat pada tabel 4. 60 )  (  0 .855   (0.55  0.231 (  0 .6  Nilai K untuk periode ulang 2 tahun (interpolasi)  (0.031  1.51)  (0.40)      0. 40 )     0.40)    0.002   0.51)  (0.066  0.40)     1.08415  Nilai K untuk periode ulang 5 tahun (interpolasi)  (0.21395  Log Xtr = Log Xr + K.033   0.Nilai K untuk Log Pearson dengan Koefisien Skewness (Cs) = 0.55  0.231  1.40)      0.099  0.066     0.21395 Tabel 4.08415 5 0.857  0.855  0. 60 )  (  0 .55    0. 40 )      0.855  0.066  (  0 .200  1.231  1.60)  (0.51)  (0.6 Faktor Sebaran Pearson (k) Peride Ulang (Tahun) k 2 0.8561  Nilai K untuk periode ulang 10 tahun (interpolasi)  ( 0.

03 Dengan menggunakan kedua rumus diatas maka hasil yang didapat adalah sebagai berikut : Tabel 4.13) = 2. Perhitungan Intensitas Hujan . maka diambil perhitungan curah hujan metode Gumbel 3.319 x 0.82 5 364.32 = 208.44 = 275.8 Nilai Xn yang diramalkan Periode Log Ulang Gumbel Pearson Tahun Xn Xn 2 263.42 m3 / dtk  Log X10 tahun = 2.91 337.09 328.48 258.13) = 2.23 m3 / dtk Tabel 4.13) = 2. Log X2 tahun = 2.814 x 0.7 Nilai Xn yang diramalkan Periode Ulang Tahun Xn 2 258.33 + (-0.03 Untuk perancangan yang lebih aman.82 5 337.93 m3 / dtk  Log X5 tahun = 2.61 10 382.61 10 432.071 x 0.33 + (1.33 + (0.50 = 316.

9 Harga .46 30 144.48   24     5  I2 =  24   60   364. Rumusnya sebagai berikut  R24   24      I =  24   tc  2 3 Dengan hasil perhitungan curah hujan akan dijelaskan satu contoh proedur perhitungan untuk setiap periode ulang N tahun dengan t = 5 menit.54 79.3668) 5 (Ytr 1.77 mm jam  663.69 94.78 377.16 10 301.37 .80 120 57.2510) 5 478.09 785.09   24     5  I10 =  24   60  2 2 3 3 2 3  478.Harga Intensitas Hujan untuk berbagai Durasi dan Periode Ulang T (Menit) (Tr) 2 (Ytr 0.72 494.16 mm jam Tabel 4.34 126.51 149.79 60 91.5004) 10 (Ytr 2.77 663.91  24     5  I5 =  24   60   432.19 318. sebagai berikut :  263.62 15 230.Untuk menghitung Intensitas Curah Hujan digunakan rumus Mononobe.09 mm jam  785.82 237.10 200.61 417.

45 300 31. Ir.00 X (X. 4.55 52978.80 3310.20 59.19 3452.84 31.10 500526.30 5 60 91.24 9372.66 38. Perhitungan nilai konstanta intensitas curah hujan dengan metode in dapat dilihat pada tabel 4.31 45. t) .10 Perhitungan Intensitas Curah Hujan metode mononobe kala ulang 2 tahun N Waktu (t) o jam 1 5 478.85 229220.10 4323.44] Pada buku drainase perkotaan yang berkelanjutan (Dr.09 347056.42].63 37. 4.82 72. Tabel 4.77 2 10 3 (X)2 (X2.55 301.11.90 15 230.180 43.10 90968.) dan dari perhitungan didapatkan nilai besaran yang diharapkan terjadi dalam T tahun.06 315374.80 1928.40 8342. [2.94 480 22.71 1146103.01 240 36.00 20764.23 360 27.12.45 4 30 144.59 909685.34 5480. [2.24 43.36 420 24.Eng.81 622944.61 3016.91 7903.96 34.54 6904.20 8 240 36.25 8700.40 9 300 31.00 975. M.45 Perhitungan konstanta intensitas curah hujan metode Prof.10.00 7 180 43. Talbot (1881) digunakan Rumus [2.91 60.57 40.00 6 120 57.26 51.23 794673.94 292782.00 1314. Suripin.43].85 397302. t) 2393.25 50.

60 411713.00 261660.00 12 480 22.t   n ( X 2t ) n X 2     X   X  (1490.60  24.60)  (1490.10 360 27.96 10483.39 82950.t   X  n X 2     X   X  dari persamaan (2.12 6113934.39)  10851.50)  (11)  (6113934.04 11  (411713.50 Perhitungan nilai konstanta a dan b sebagai berikut : a=   X .43) (82950)  (411713.43 ( 11 )  ( 411713 . 39 )  ( 1490 .04  I2 tahun = t  24.12)  (1490.43 dari persamaan (2.20 11 420 24.20 521.60 ∑ (total) 1490.07 275425.t   X 2    X 2 .39)  (82950. 12 )  ( 1490 .12)  (6113934.66 9957.39)  (1490.84 10963.39) = b=   X    X .67 250401. 39 ) = Dari hasil perhitungan di atas diperoleh intensitas curah hujan : Untuk kala ulang 2 tahun 10851.60 765.20 623.44) .

4 (X.72 (X2.46 480220.35 4 30 200.11 Perhitungan Intensitas Curah Hujan metode mononobe kala ulang 5 tahun N Waktu (t) o jam X 1 5 663.00 10 360 38.70 101620.72 4177.20 12048.60 9 300 43.Tabel 4.08 501933.40 1195.04 604809.60 40328.69 1524310.60 16004.78 4781.51 7590.63 15182.50 762060.60 11 420 34. t) 114919.80 6 120 79.07 665832.60 3699.43 561429.45 439688.75 2 10 417.60 8 240 50.35 (X)2 790236.82 10947.60 12 480 31.20 174489.66 528357.31 13791.80 ∑ (total) 2065.40 1000.78 960286.35 2198441.09 3315.26 12978.90 3 15 318.69 9562.99 1744899.00 1871.82 6024.00 2520.00 7 180 60.67 1209860.80 6350.10 .60 1467.57 14519.10 5 60 126. t) 11742442.

10)  24. 4 )  ( 2065 .72)  (11742442.10)  (2065. 4 )  ( 2065 .4)  (114919.t   n ( X 2t ) n X 2     X   X  (2065. 4 ) = b=   X    X .Perhitungan nilai konstanta a dan b sebagai berikut : a=   X .43) (114919.4)  15036.35)  (11)  (11742442.09 11  ( 790236 . 72 )  ( 2065 .t   X  n  X 2     X   X  dari persamaan (2.44) .t   X 2    X 2 .35)  (790236. 4 ) = Dari hasil perhitungan di atas diperoleh intensitas curah hujan : dari persamaan (2.44 ( 11 )  ( 790236 . 72 )  ( 2065 .

79 7133.45 17976.00 7 180 72.08 703953.20)  (1108007.00 10 360 45.44 Tabel 4.12 Perhitungan Intensitas Curah Hujan metode mononobe kala ulang 10 tahun N Waktu (t) o jam 1 5 785. 40 )  ( 2445 .80 11 420 40.80 616476. 64 )  ( 2445 .80 5158.04 1346402.30 848232.44 933379.70 ∑ (total) a= X 2445.40 5 60 149.70 1068684. 64 ) = .00 3534.64 (X.00 1108007.37 11324.64)  17804.70)  (2445.23 15369.09  I5 tahun = t  24.40 16464608.40 8905. t) 3925.05 673200.75 4 30 237.05 2137140.94 2446849.45 14268.51 787353.80 8988.40 6 120 94.94 17194.62 4946.23 3082381.53 740710.t   X 2    X 2 .15 494.43) (136079.40 15 377.t   X  n  X 2     X   X  dari persamaan (2.20   X .00 22440.46 5661.08 1696322. t) 136079.00 9 300 51.01 12961.16 2 10 3 (X)2 (X2.35 ( 11 )  ( 1108007 .60 2057.90 142476.00 2624.Untuk kala ulang 5 tahun 15036.36 16329.70 56544.20 8 240 59.00 1402.40)  (16464608.60 12 480 37.20 244684.80 1676.

Lengkung Intensitas Hujan.t   n ( X 2t ) n X 2     X   X  dari persamaan (2.70)  24.35  I10 tahun = t  24.09  I5 tahun = t  24.64)  (136079020)  (11)  (16464608.04 Untuk Kala 2 Tahun  I2 tahun = t  24.44 4.44 Maka dari hasil perhitungan di atas diperoleh Intensitas curah hujan untuk kala ulang adalah sebagai berikut : 10851.44) (2445.44 Untuk Kala 10 Tahun 17804.64)  (2445.44 = (11)  (1108007.35  I10 tahun = t  24. Berdasarkan perhitungan Metode Mononobe maka akan didapatkan seperti pada gambar.b=   X    X . 4.44 Untuk Kala 5 Tahun 15036.1 sebagai berikut : .40)  (2445.64) Dari hasil perhitungan di atas diperoleh intensitas curah hujan : Untuk kala ulang 10 tahun 17804.

persamaan yang menyatakan hubungan antara hujan dan lintasan dinyatakan sebagai berikut : .900 800 700 600 500 q (m³/km²/dtk) 400 300 200 100 0 5 10 15 30 60 120 180 240 300 360 420 480 Waktu (menit) Gambar4. Analisa Hidrolika. Sebelum merencanakan dimensi saluran. Selanjutnya menentukan saluran untuk kemudian dilakukan hitungan beban saluran tersebut dari saluran kecil sampai ke saluran induk. Menentukan Waktu Konsentrasi. 1. langkah pertama yaitu menghitung besarnya debit banjir rencana yang diperoleh dari hitungan luas daerah yang harus dikeringkan oleh saluran tersebut serta berdasarkan tata guna lahan yang didapat dari topografi.1 Lengkung Intensitas Hujan Metode Mononobe Untuk Kala 2 Tahun Untuk Kala 5 Tahun Untuk Kala 10 Tahun B. Dengan metode rasional.

Q  0.11. Perhitunan Kemiringan Tanah. (jam) L = Panjang Lintasan. (km) V = Kecepatan perambatan banjir. (km/jam) Hitung waktu konsentrasi (time consentratioan) Tc. yang berfungsi untuk mengaliri air dengan cepat dari dalam saluran ke sungai maupun ke laut. Kemiringan tanah di tempat dibuatnya fasilitas Selokan ditentukan dari hasi pengukuran di lapangan di hitung dengan Rumus : t 1– t 2 i = × 100 % L Dimana : . maka saat terjadinya debit puncak adalah sama dengan waktu konsentrasinya Tc dihitung berasarkan persamaan sebagai berikut : Tc= L V Diomana : Tc = Waktu Konsentrasi. sebagai berikut : 2. Kemiringan tanah merupakan salah satu faktor yang penting.278 xCxIxA Dimana : Q = Debit rencana ( m3/det ) C = Koefisien aliran I = Intensitas curah hujan ( mm / jam ) A = Luas daerah pengaliran ( Km2) Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir dari titik terjauh di daerah pengaliran hingga titik yang diukur. jam dari masing-masing daerah pengaliran disajikan dalam Tabel 4.

01 + 8.t1 = tingi tanah di bagian tertinngi (m) t2 = tinngi tanah di bagian terendah (m) + 9. t1 = 9.0117 % 86 Jadi untuk i Lapangan Pada sekmen II = 0.? + 7.00 I II Sta.00 i….0169 % 60 Jadi untuk i Lapangan Pada sekmen I = 0. 2 Sta.01−8..0117 % .00−7.00 Sta 3 .00 × 100 =0. 1 Sta.00 × 100 =0.0169 %  Sekmen II : i Lapangan = T 2−T 3 L i Lapangan = 8.01 Sta 2 . t3 = 7. 3 L = 60 m L = 86 m Sta 1 .00  Sekmen I : i Lapangan = T 1−T 2 L i Lapangan = 9. t2 = 8.

 Total sekmen I dan II : Sekmen I : 0.1 drainase perkotaan.0282 % Table 4. . Panjang N o lintasan Ruas L (Km) Kemiringan Kecepatan S (%) V (m/det) 0. Ot Pattimepauw 1 0.0117 = 0.365 (Desa Talake) Dimana : S = Perhitunan Kemiringan Tanah. Perencanaan Dimensi Saluran  Perhitungan debit rencana.40 Waktu konsentrasi Tc=L/V (jam) Jln.0117 % i Lapangan = 0.13. V = Dari Tabel 3. Kemiringan saluran versus kecepatan aliran 3.0169 + 0.146 0.0282 0.0169 % Sekmen II : 0. PErhitungan waktu konsentrasi.

0025 0.365jam maka diperoleh intensitas kala ulang hujan 5 tahun sebagai beriku 15036.08211 Perum ahan = 0.0145 0. A.Hitung debit rencana ini akan dihitung dengan menggunakan Intensitas Cura Hujandengan menggunakan rumus Talbot (1881) (qt) dengan kala ulang 5 tahun (1×dalam 5 tahun terlampaui) I= Rumus: a t +b ❑ I 5thn = ❑ Untuk kala ulang Jika Tc = 0.C ∑ .02267 6 0.16273 Type Koefisien Permukaan Pengalira A (km²) nC - A.03172 .40 0.00087 0.70 0.643 jam sehingga diperoleh itensitas hujan dengan kala ulang 5 tahun sebagai berikut : Tabel4.14.365+ 24.150 mm/jam 0.44 I 5thn = Intensitas cura hujan diperoleh dengan waktu konsentrasi (Time of Concentration) hasil hitung seperti dalam table 4.03 Perta manan = 0. Pengertian Koefisien Limpasam C No Ruas Jln.20 0.012 0.03085 6 2 0.00817 0. C 0. Ot Patimepauw (Desa Talake) Total Luas (km²) 0.70 0.1173 Jalan Aspal = 0.0125 perbukitan = 0.11 yaitu dengan Tc = 0.012 0.09 =¿ 607.01168 Jalan 0.70 0.

0282 . h) 0. h) h P = b + 2h . Perhitungan Dimensi Saluran. C = 0. I . type drainase yang dipakai adalah drainase Trapesium tertutup dalam perhitungan ini diambil tipe saluran yang terkecil untuk mewakili keseluruhan saluran. 1. 0. Ot Pattimepauw (Desa Talake). Dalam melakukan perencanaan saluran di Jln Jln. V H = h + (25% .150.00125 Jadi debit rencana saluran ruas Jln…memperhitungkan koefisien limpasan (Tabel 4.Beton = 5 7 0. dan berdasarkan hasil tinjauan pada lokasi penelitian. R²/³ . V (1 + m²) = 4. 607.031727 = 5.356 m³⁄detik.606 .356 m³/det Berdasarkan data cura hujan Stasiun Geofisika Ambon tahun 1997 – 2008 maka hasil perhitungan itensitas hujan yang terjadi selama tahun 1997 – 2008 adalah 5. h Tingi Saluran : Untuk S = Maka : V = 1 / n . S½ Q = A.278 .12): QPC = 0. h Jari-Jari Hidrolis : R = A/P Tinggi Jagaan : f = 25% . Dengan demikian (Rumus) yang dipakai adalah : Luas Penampang Keliling Basah : : A = (b + m . ∑A .278 .

Perhitungan : 130 cm f H = 80 c h = 60cm 15 b = 100cm 15 Gambar penampang saluran yang ditinjau.83 ² = m² + 1 3.60 1.60 √ m²+ 1 = √ m²+ 1 1. 0. Syarat: b+2.36 = m² + 1 √ m²+ 1 .83 = √ m²+ 1 1.1 0.1 = 0.00+ 2.60 = 0.d=d √ m²+ 1 1.60 2 1.

60 m f = 20 cm = 0.00 + 2 .060 (1 + 2²) = 7 m² .20 m b = 100 cm = 1.3.00 + 2 .80 m h = 60 cm = 0. h = (1.36 m = 1. h). Tinggi saluran (H) = 0.83 1 :2 Tinggi Jagaan = 25% Maka : f = 25% × h = 0.60 = 1. h (1 + m²) = 1.60).32 m² Keliling Basah (P) = b + 2 .00 m Dimensi saluran:       Saluran berbebtuk trapesium tertutup.36 m=√ 3.83 dibulatkan 2 1 : 1.25 ×80 = 20 cm h = H – f = 80 – 20 = 60 cm Jadi : H = 80 cm = 0. 0. 0.36 1 m ²= = 3.80 m Lebar saluran bawah (b) = 1. 0.00m Kemiringan dinding saluran (m) = 1: 2 Luas Penampang (A) = (b + m .

0282 % (material pasangan) Maka : V = 1 n = 1 × 0. R²⁄³ . 0.60 = 0.A P 1. S½ = 5.32 = 7 = 0.A = 5.25 × 0.274 m³/detik lebih besar dari Qrencan = 5. karena dimensi saluran dianggap memenuhi syarat ketentuan. Dengan demikian tidak perlu adanya perencanaan dimensi saluran kembali.0282 ½ 0.60 +(0.510 × 1.356 m³/det. h = 0.75 m²  Jari-jari Hidrolis (R) =  Tinggi Jagaan (f)  Tingi Saluran (H) Dimana : n pada tipe saluran beton halus dan rata.274 m³/detik Karena Qdesain = 7. maka dimensi saluran dianggap memenuhi syarat.25 . sehingga mampu untuk menampung debit air untuk kala 5 tahun. maka Untuk n = 0. .32 = 7.510 m/detik Q =V.60) = 0. h) = 0. (baik sekali) dan Untuk S = 0.188²⁄³ .010 .188 m² = 25% .010 . 0.15 m = h + (25% .

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .

yang mengakibatkan berkurangnya luasan dari saluran drainase. Ir. Ot Pattimepauw (Desa Talake) pada RT 04/RW 002 disebabkan karena adanya sedimentasi. sehingga terjadilah genangan air pada permukaan Jln. Saran. sehingga bersarnya debit air maka bersamaan dengan itu pula terjadinya luapan air dari dalam saluran ke luar saluran. Kesimpulan. 2. maka kami selaku penulis dan penyusunan tugas ini dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa penyebab terjadinya genangan air pada permukaan Jln. sehingga tidak menyebabkan genangan air Pada Permukaan jalan (banjir) menghambat aktifitas masyarakat yang melintasi Jln. Suripin. maka dari itu diperlukan kesadaran diri dari masyarakat untuk tidak dengan sembarangannya membuang sampah. Berdasarkan Permasalahan-permasalahan di atas maka Jln. Penulis Dr. guna mencegah terjadinya sumbatansumbatan pada saluran. sampah-sampah masyarakat dan pipa – pipa jaringan air yang melintangi saluran.1. Eng . M. Bertolak dari penulisan di atas dan berdasarkan analisa-analisa yang dilakukan. Ot Pattimepauw (Desa Talake) DAFTAR PUSTAKA  Sistem Drainase Perkotaan Yang berkelanjutan.IV. Ot Pattimepauw (Desa Talake) sendiri merupakan salah satu ruas jalan di kota Ambon yang menghubungkan daerah-daerah yang lain. sehingga menimbulkan banjir atau dengan katalain terjadinya genangan pada jalan. Ot Pattimepauw (Desa Talake) IV. Dan juga di harapkan dari pihak pemeritah kota haruslah melakukan perawataperawatan atau pengontrolan terhadap saluran drainase.

1994 Daftar Isi . Standar Nasional Indonesia SNI 03 – 3424 .

Halaman Judul Kata Pengantar i Lembaran Asisiensi ii Daftar Isi iii BAB I.2. Analisis Intensitas Hujan11 BAB III. Latar Belakang 2 I.4. Tinjauan Pustaka 3 II. Saran 40 40 40 DAFTAR PUSTAKA 41 LAMPIRAN 43  Data Cura Hujan 44  Peta Lokasi Peninjauan  Gambar Penampang melintang Saluran dan memanjang  Peta Topografi Peninjauan  Dokumentasi 48 45 46 47 .3 Jenis-Jenis Drainase 6 8 II.2.5.4.1. Periode Ulang Hujan Rencana 10 II. Analisa Dan Pembahasan 13 III.1.Gambaran Umum Drainase II.Rumusan Masalah 2 I.2. Kesimpulan IV. Pendahuluan 1 I. Manfaat Penelitian 2 BAB II.6. Banjir 3 II.3 Tujuan Penelitian 2 I. Analisa 17 BAB IV.1.2.1. Pembahasan 13 III. Kesimpulan Dan Saran IV. Data Cura Hujan 9 II.