You are on page 1of 26

Makalah Pribadi

PEMBIAYAAN PELAYANAN KESEHATAN DAN JAMINAN
KESEHATAN NASIONAL DI PUSKESMAS LUBUK KILANGAN

Oleh :
Prima Indra Dwipa
1110313087

Preseptor :
Dr. Yuniar Lestari, M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah fasilitas pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya
kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Tujuan utama dari adanya Puskesmas
adalah menyediakan layanan kesehatan yang bermutu namun dengan biaya yang
relatif terjangkau untuk masyarakat, terutama masyarakat dengan kelas ekonomi
menengah ke bawah. Puskesmas sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan
nasional, khususnya subsistem upaya kesehatan. Puskesmas mempunyai tugas
melaksanakaan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan
kesehatan di wilayah kerja dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan
sehat dan menyelenggarakan fungsi UKM (upaya kesehatan masyarakat) dan
UKP (upaya kesehatan perorangan) tingkat pertama di wilayah kerjanya.
Puskesmas dalam melakukan pelayanan kesehatan yang memadai tentu
membutuhkan sumber dana atau pembiayaan serta pengelolaan yang baik. Sejak
tahun 2004, Indonesia telah mempunyai Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
dengan dikeluarkannya Undang Undang Nomor 40 Tahun 2004. Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN) yang resmi diterapkan oleh Presiden RI pada tanggal 1
Januari 2014 merupakan bagian dari SJSN tersebut dengan menggunakan

mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang bersifat wajib. Diharapkan dengan
adanya SJSN, seluruh masyarakat dapat terlindungi dalam sistem asuransi pada
setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.
Cakupan JKN akan diperluas secara bertahap sehingga pada tahun 2019 akan
tercapai jaminan kesehatan semesta atau universal health care.
Puskesmas

Lubuk

kilangan

merupakan

puskesmas

yang

telah

menggunakan sistem JKN dalam pembiayaan pelayanan kesehatannya. Namun
untuk pelaksanaannya penulis masih menemukan pengunjung-pengunjung
puskesmas yang belum menjadi peserta JKN, terutama penduduk dari ekonomi
menengah ke bawah. Dari data puskesmas didapatkan dari total seluruh penduduk
51806 orang di wilayah kerja Puskesmas Lubuk kilangan yang telah menjadi
peserta JKN adalah sebanyak 21905 (40,3%) pada Bulan September 2015. Penulis
merasa tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang penulis sistem
pembiayaan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional yang
dilaksanakan di puskesmas Lubuk kilangan.

1.1 Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Mengetahui pembiayaan pelayanan kesehatan dan jaminan
kesehatan nasional di Puskesmas Lubuk kilangan.
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1 Mengetahui sumber pemasukan dana di Puskesmas Lubuk
kilangan.
1.2.2.2

Mengetahui penggunaan biaya di Puskesmas Lubuk kilangan.

1.2.2.3

Mengetahui sistem jaminan kesehatan nasional di Puskesmas
Lubuk kilangan.

1.3 Batasan Penulisan
Makalah ini membahas mengenai pembiayaan pelayanan kesehatan dan
jaminan kesehatan nasional di Puskesmas Lubuk kilangan.
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk pada
berbagai literatur, laporan tahunan Puskesmas Lubuk kilangan 2014, serta diskusi
dengan Kepala Puskesmas Lubuk kilangan dan bendahara puskesmas.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas
Menurut WHO dan Azwar, cara pembayaran kesehatan adalah cara
pengguna pelayanan kesehatan membayar kepada pelaksana kesehatan di rumah
sakit, pusat pelayanan kesehatan atau praktek-praktek swasta. Ada dua cara
pembayaran kepada pelaksana pelayan kesehatan yaitu langsung dan melalui
asuransi kesehatan. Menurut Wright dan Whittington, karakteristik dari pelayanan
terdiri dari struktur, proses, dan hasil keluaran. Stuktur meliputi personil,
peralatan, bangunan, sistem pencatatan, keuangan dan fasilitas. Proses mencakup
semua aspek dari kegiatan pelayanan. Keluaran adalah hasil akhir dari pelayanan,
salah satunya adalah kepuasan (Budi, 2010).
Definisi dari pembiayaan pelayanan kesehatan adalah besarnya dana yang
harus disediakan oleh pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan dan
memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perseorangan,
keluarga, kelompok atau masyarakat. Biaya pelayanan kesehatan ditinjau dari segi
penyedia layanan dapat dibedakan menjadi dua yaitu biaya bagi penyedia jasa
pelayanan kesehatan dalam menyediakan berbagai upaya kesehatan dan biaya
bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan dan memanfaatkan pelayanan tersebut.
Dari segi jenis pelayanan kesehatan yang diselenggarakan maka biaya pelayanan
kesehatan dibedakan menjadi dua yaitu biaya pelayanan kedokteran yang
bertujuan mengobati penyakit dan pemulihan kesehatan penderita serta biaya
pelayanan kesehatan masyarakat yang bertujuan mencegah penyakit dan
memelihara serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Santoso, 2013).

Pelayanan kesehatan di Puskesmas tidak akan dapat berjalan jika tidak
terdapat pembiayaan. Untuk itu, berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab puskesmas, perlu ditunjang
dengan tersedianya pembiayaan yang cukup. Pada saat ini ada beberapa sumber
pembiayaan puskesmas berdasarkan KMK No.128 tahun 2004, yaitu :
1. Pemerintah
Sesuai dengan azas desentralisasi, sumber pembiayaan yang berasal dari
pemerintah terutama pemerintah kabupaten/kota. Disamping itu puskesmas
masih menerima dana yang berasal dari pemerintah provinsi dan pemerintah
pusat. Dana yang disediakan oleh pemerintah dibedakan atas dua macam,
yaitu:
a. Dana anggaran pembangunan yang mencakup dana pembangunan gedung,
pengadaan peralatan serta pengadaan obat.
b. Dana anggaran rutin yang mencakup gaji karyawan, pemeliharaan gedung
dan peralatan, pembelian barang habis pakai serta biaya operasional.
Setiap tahunnya kedua anggaran tersebut disusun oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota untuk diajukan dalam Daftar Usulan Kegiatan ke pemerintah
kabupaten/kota untuk seterusnya dibahas bersana DPRD Kabupaten/Kota.
Puskesmas diberikan kesempatan mengajukan kebutuhan untuk kedua
anggaran tersebut melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Anggaran yang telah disetujui, selanjutnya akan tercantum dalam
dokumen keuangan dan diturunkan secara bertahap ke puskesmas melalui
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Untuk beberapa mata anggaran tertentu,
contohnya pengadaan obat, pembangunan gedung dan pengadaan alat,

anggaran tersebut dikelola langsung olen Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
atau oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
Penanggungjawab penggunaan anggaran yang diterima puskesmas
adalah kepala puskesmas, sedangkan administrasi keuangan dilakukan oleh
pemegang keuangan puskesmas yakni seorang staf yang ditetapkan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota atas usulan kepala puskesmas. Penggunaan dana
sesuai dengan usulan kegiatan yang telah disetujui dengan memperhatikan
berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pendapatan Puskesmas
Sebelum

diberlakukannya

sistem

Jaminan

Kesehatan

Nasional,

masyarakat masih dapat dikenakan kewajiban membiayai upaya kesehatan
perorangan yang dimanfaatkannya, yang besarnya ditentukan oleh pemerintah
daerah masing-masing (retribusi). Beberapa kebijakan lama yang terkait
dengan pemanfaatan dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya
kesehatan perorangan ini, yaitu:
a. Seluruhnya disetor ke Kas Daerah
Untuk ini secara berkala puskesmas menyetor langsung seluruh dana
retribusi yang diterima ke kas daerah melalui Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
b. Sebagian dimanfaatkan secara langsung oleh puskesmas
Beberapa daerah tertentu membenarkan puskesmas menggunakan sebagian
dari dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan,
yang lazimnya berkisar antara 25–50% dari total dana retribusi yang
diterima. Penggunaan dana hanya dibenarkan untuk membiayai kegiatan

operasional

puskesmas.

Penggunaan

dana

tersebut

secara

berkala

dipertanggungjawabkan oleh puskesmas ke pemerintah daerah melalui
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
c. Seluruhnya dimanfaatkan langsung oleh puskesmas
Beberapa daerah tertentu lainnya membenarkan puskesmas menggunakan
seluruh dana yang diperolehnya dari penyelenggaraan upaya kesehatan
perorangan untuk membiayai kegiatan operasional puskesmas. Dahulu
puskesmas yang menerapkan model pemanfaatan dana seperti ini disebut
puskesmas swadana. Pada saat ini sesuai dengan kebijakan dasar puskesmas
yang juga harus menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat yang
dananya ditanggung oleh pemerintah, diubah menjadi puskesmas swakelola.
Dengan perkataan lain puskesmas tidak mungkin sepenuhnya menjadi
swadana. Pemerintah tetap berkewajiban menyediakan dana yakni untuk
membiayai

upaya

kesehatan

masyarakat

yang

memang

menjadi

tanggungjawab pemerintah.
Sumber pendanaan di Puskesmas berdasarkan PMK No 75 tahun 2014 lebih
disingkat menjadi dari:
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN);
c. sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

2.2. Jaminan Kesehatan Nasional
Jaminan Kesehatan Nasional dimaksudkan untuk menghapuskan
hambatan finansial bagi masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang

komprehensif dan bermutu. Selain itu, JKN juga dimaksudkan untuk: 1)
mewujudkan kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan; 2)
memperkuat layanan kesehatan primer dan sistem rujukannya; 3) mengutamakan
upaya promotif-preventif dalam pelayanan kesehatan untuk menekan kejadian
penyakit, sehingga orang yang berobat berkurang, dan pembiayaan kesehatan
menjadi lebih efisien (DKK Sukoharjo, 2014).
Pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas kesehatan seperti
puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia. Puskesmas mempunyai peran
strategis dan keunggulan dalam mendukung terlaksananya JKN dibandingkan
dengan praktik dokter, dan klinik swasta. Hal ini disebabkan karena puskesmas
berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat
pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama. Fungsi
ini mempunyai makna bahwa puskesmas bertanggung jawab terhadap kesehatan
masyarakat di wilayahnya, tidak hanya menunggu sampai masyarakat menjadi
sakit (kuratif saja), tetapi juga upaya preventif dan promotif (DKK Sukoharjo,
2014).
Jaminan Kesehatan Nasional diatur dalam beberapa undang-undang.
Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 mengamanatkan, bahwa program jaminan
sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk jaminan kesehatan melalui suatu
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Undang-Undang No. 24 Tahun
2011 juga menetapkan, jaminan sosial akan diselenggarakan oleh BPJS, yang
terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Khusus untuk program
jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, implementasinya
telah dimulai sejak 1 Januari 2014. Program tersebut selanjutnya disebut sebagai

program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan program Jaminan Kesehatan
Nasional adalah untuk memberikan perlindungan kesehatan dalam bentuk manfaat
pemeliharaan kesehatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang
diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar
oleh pemerintah.
Semenjak diberlakukannya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),
tidak dibenarkan adanya pemungutan biaya tambahan kepada masyarakat,
terutama di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Namun, dana yang
diberikan berupa Dana Kapitasi, yaitu besaran pembayaran per-bulan yang
dibayar dimuka kepada FKTP berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa
memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

2.2.1. Prinsip Penyelenggaraan
Dalam pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) mengacu pada
prinsip-prinsip sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), yaitu:
1. Kegotongroyongan
Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), prinsip gotong royong
berarti peserta yang mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta
yang sehat membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaannya
bersifat wajib untuk seluruh penduduk.
2. Nirlaba
Dana yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan
(BPJS Kesehatan) adalah dana amanah yang dikumpulkan dari masyarakat

secara nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Tujuan
utamanya adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.
3. Keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.
Prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang
berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
4. Portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan
yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan
atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Kepesertaan bersifat wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta
sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi
seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan
ekonomi rakyat dan pemerintah, serta kelayakan penyelenggaraan program.
6. Dana Amanah
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada
badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka
mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
7. Hasil pengelolaan dana Jaminan Sosial
Dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesarbesar kepentingan peserta.

2.2.2. Kepesertaan
Peserta dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) meliputi
(Kemenkes RI, 2013):

a. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat
6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran atau yang iurannya
dibayar pemerintah.
b. Peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terdiri atas 2 kelompok
yaitu:
1. Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan adalah fakir
miskin dan orang tidak mampu.
2. Peserta bukan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan kesehatan adalah :

Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya;

Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya;

Bukan Pekerja dan anggota keluarganya;

Penerima pensiun.

Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diberikan nomor identitas
tunggal oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).
Bagi peserta Askes sosial dari PT. Askes (Persero), jaminan pemeliharaan
kesehatan (JPK) dari PT. (Persero) Jamsostek, program Jamkesmas dan
TNI/POLRI yang belum mendapatkan nomor identitas tunggal peserta dari Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), tetap dapat
mengakses pelayanan dengan menggunakan identitas yang sudah ada.
Selain PBI dan pekerja, masyarakat juga dapat mendaftarkan secara mandiri
ke dalam program JKN ini dengan anggaran biaya premi sebesar Rp 25.500 per
bulan per orang untuk kelas 1; Rp 42.500 untuk kelas 2; Rp 59.000 untuk kelas 3.
Pembagian kelas ini hanya membedakan ruangan rawat ketika memerlukan rawat
inap.

2.2.3. Pelayanan Kesehatan
Setiap peserta mempunyai hak mendapat pelayanan kesehatan meliputi
(Kemenkes RI, 2013):
a. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap
Tingkat Pertama (RITP),
b. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), Rawat Inap
Tingkat Lanjutan (RITL);
c. Pelayanan gawat darurat; dan
d. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh menteri.
Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang. Jika terdapat kasus
medis yang menjadi kompetensi FKTP, maka harus diselesaikan secara tuntan di
FKTP, kecuali terdapat keterbatasan SDM, sarana, dan prasarana di fasilitas
kesehatan tingkat pertama.

2.2.4.Fasilitas Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk
peserta JKN terdiri atas fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas
kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL). FKTP yang dimaksud adalah
(Kemenkes RI, 2013)::
1. Puskesmas atau yang setara,
2. Praktik Dokter,
3. Praktik dokter gigi,
4. Klinik Pratama atau yang setara,
5. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara.

2.2.5. Prosedur Pelayanan
Tata Cara Mendapatkan Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama (FKTP) yaitu:
a. Setiap peserta harus terdaftar pada FKTP yang telah bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan untuk memperoleh pelayanan.
b. Menunjukan nomor identitas peserta JKN.
c. Peserta memperoleh pelayanan kesehatan pada FKTP.
d. Jika diperlukan sesuai indikasi medis peserta dapat memperoleh pelayanan
rawat inap di FKTP atau dirujuk ke FKRTL.

2.2.6. Sumber Pendanaan
Sumber pendanaan dalam penyelenggaraan JKN berasal dari (Kemenkes RI,
2013):
1. Iuran Peserta PBI dibayar oleh Pemerintah.
2. Iuran Peserta Bukan PBI:
a. Pekerja Penerima Upah dibayar oleh Pekerja dan Pemberi Kerja.
b. Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja dibayar oleh peserta
yang bersangkutan.

2.2.7.Mekanisme Pembayaran ke Fasilitas Kesehatan
Undang-Undang Nomor 24 tahun 2011 menetapkan JKN akan
diselenggarakan oleh BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan
akan membayar Puskesmas dengan sistem kapitasi. Mengingat kondisi geografis

indonesia, tidak semua fasilitas kesehatan dapat dijangkau dengan mudah, maka
BPJS Kesehatan diberi wewenang untuk melakukan pembayaran dengan
mekanisme lain yang berhasil guna. Oleh sebab itu puskesmas harus dapat
mengelola dana kapitasi tersebut sebaik-baiknya, sehingga disatu pihak dapat
memenuhi kebutuhan peserta Jaminan Kesehatan Nasional dan di pihak lain tetap
memberikan keuntungan bagi puskesmas.
Besaran dana yang didapatkan suatu pelayanan kesehatan berupa kapitasi
dan non kapitasi. Berdasarkan PERMENKES No. 59 Tahun 2014, tarif kapitasi di
FKTP adalah sebagai berikut :
a. puskesmas atau fasilitas kesehatan yang setara sebesar Rp3.000,00 (tiga ribu
rupiah) sampai dengan Rp6.000,00 (enam ribu rupiah);
b. rumah sakit Kelas D Pratama, klinik pratama, praktik dokter, atau fasilitas
kesehatan yang setara sebesar Rp8.000,00 (delapan ribu rupiah) sampai
dengan Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah); dan
c. praktik perorangan dokter gigi sebesar Rp2.000,00 (dua ribu rupiah).
Dana non kapitasi didapatkan melalui sistem klaim, dengan besaran tarif
Rawat Inap per hari untuk Fasilitas Kesehatan berupa Puskesmas dengan
perawatan, Rumah Sakit Kelas D Pratama, dan Klinik Pratama.
Berdasarkan PERMENKES No. 19 tahun 2014 mengenai penggunaan
dana kapitasi jaminan kesehatan, dana kapitasi yang diterima dari Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dimanfaatkan seluruhnya untuk:
1. pembayaran jasa pelayanan kesehatan; dan
2. dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan.

Besaran alokasi ditetapkan setiap tahun dengan Keputusan Kepala Daerah
atas usulan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan Alokasi untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan
sekurang-kurangnya 60% dengan mempertimbangkan:
a. kebutuhan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai;
b. kegiatan operasional pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai target
kinerja di bidang upaya kesehatan perorangan;dan
c. besar tunjangan yang telah diterima dari Pemerintah Daerah.
Selanjutnya tentang penggelolan dana kapitasi di Puskesmas harus sesuai
dengan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2014 tentang Pengelolaan dan
Pemanfaatan dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Pertama
Milik Pemerintah Daerah.
Peran puskesmas

didalam

masa

BPJS

akan

berdampak

pada

implementasi sistem kesehatan nasional, yang menganut prinsip managed care,
pelayanan kesehatan primer yang saat ini dilakukan di Puskesmas, akan menjadi
gerbang utama pasien dalam mengakses pelayanan kesehatan. Untuk itu kualitas
pelayanan kesehatan primer ini harus dijaga, mengingat efek dari implementasi
Jaminan Kesehatan nasional ke depan, akan mengakibatkan naiknya permintaan
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena kepastian jaminan
sudah didapatkan (DKK Sukoharjo, 2014).
Pembayaran klaim non Kapitasi pelayanan JKN oleh BPJS Kesehatan di
FKTP milik Pemerintah Daerah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pembayaran klaim non kapitasi di FKTP milik Pemerintah Daerah meliputi
(Kemenkes RI, 2013):

a. pelayanan ambulan;
b. pelayanan obat program rujuk balik;
c. pemeriksaan penunjang pelayanan program rujuk balik;
d. pelayanan skrining kesehatan tertentu termasuk pelayanan terapi krio;
e. rawat inap tingkat pertama;
f. pelayanan kebidanan dan neonatal yang dilakukan oleh bidan atau dokter;
g. pelayanan KB berupa MOP/vasektomi;
h. kompensasi pada daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang
memenuhi syarat;
i. pelayanan darah di FKTP; dan
j. pelayanan gawat darurat di fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan.

BAB 3
ANALISIS SITUASI
3.1. Pembiayaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Lubuk kilangan
Berdasarkan informasi dari Kepala Puskesmas Lubuk kilangan dan Bagian
Kepengurursan Keuangan, sumber dan penggunaan dana di puskesmas tersebut
dapat dibagi menjadi tiga sumber, yaitu dari APBD Bantuan Operasional
Kesehatan dan JKN .
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Dana APBD merupakan dana yang berasal dari Pemerintah Daerah,
dimana dana ini ditujukan untuk keperluan rutin puskesmas seperti untuk
pembiayaan rekening listrik, telepon, wifi, air juga bahan bakar serta reparasi
untuk transportasi kendaraan puskesmas dan honor cleaning service.
Pembayaran tagihan awal dibayar oleh pihak puskesmas kemudian dibuat surat
pertanggungjawaban ke DKK agar dapat ganti dari dana tersebut. Rata-rata
bantuan APBD adalah ±16 juta Rupiah per tahun. APBD dapat memberikan
bantuan berupa inventaris puskesmas dengan cara mengajukan rencana
kegiatan anggaran (RKA) yang diserahkan lewat DKK ke pemerintah kota
Padang yang bila disetujui DPR berupa DIPA (daftar isian penggunaan
anggaran) kemudian dana tersebut diturunkan lagi lewat DKK.

2. Biaya Operasional Kesehatan (BOK)
Biaya operasional kesehatan didapatkan dari APBN. Pemanfaatan dana
BOK diprioritaskan pada kegiatan yang berdaya ungkit tinggi untuk
pencapaian indikator MDGs tahun 2015 bidang kesehatan, terutama kegiatan

promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,
terutama untuk transport petugas dan kader kesehatan untuk program-program
MDG’s. Kementerian Kesehatan menetapkan sejumlah kegiatan yang dijadikan
prioritas melalui petunjuk teknis setiap tahunnya dan mewajibkan puskesmas
mengalokasikan penggunaan dana minimal 60% untuk upaya kesehatan
prioritas, 40% digunakan untuk program pengembangan puskesmas dan
konsumsi lokakarya mini. BOK jumlahnya berbeda tiap puskesmas tergantung
pada jumlah penduduk, akses pelayanan daerah, dan jumlah keluarga miskin.

3. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Dana BPJS digunakan untuk biaya operasional, ditetapkan melalui Surat
Keputusan Pemerintah/kota. Meliputi tarif kapitasi dan non kapitasi yang perlu
dilakukan klaim. Non kapitasi meliputi pelayanan kebidanan (persalinan dan
pasca persalinan), pemeriksaan IVA, pelayanan KB seperti MOP/vasektomi,
protesa gigi, dan lain-lain.
Dana JKN sebanyak 60% digunakan untuk pelayanan kesehatan, 40%
digunakan untuk biaya operasional (20% untuk pembelian obat, 8% untuk alat
kesehatan, dan 12% untuk biaya operasi). Contoh alat alat kesehatan seperti
timbangan, mikrotoys, spet, tensimeter, glukocheck dan lain-lain. Biaya operasi
digunakan untuk keperluan seperti pembelian laptop, komputer, printer, alat tulis
kantor, sabun dan lain-lain.

3.2. JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)
Sistem JKN merupakan jaminan berupa perlindungan kesehatan agar
peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang
telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Sistem JKN telah
diterapkan di seluruh Indonesia sejak tanggal 1 Januari 2014, termasuk Puskesmas
Lubuk kilangan.
Puskesmas Lubuk kilangan telah memasukan sistem JKN ke dalam sistem
pembiayaan pelayanan kesehatan setiap bulan dan tahun. Sistem JKN diterapkan
oleh Puskesmas Lubuk kilangan dengan pembiayaan pelayanan kesehatan per
kapita. Bagi pengguna BPJS yang telah memilih Puskesmas Lubuk kilangan
sebagai FKTP, maka anggaran dana dari BPJS disalurkan sebesar Rp.
6.000,00/kapita atau orang. Anggaran tersebut akan diberikan kepada Puskesmas
Lubuk kilangan setiap bulannya, dengan besar anggaran yaitu jumlah peserta
BPJS yang memilih FKTP Puskesmas Lubuk kilangan dikalikan Rp. 6.000,00.
Anggaran dana tersebut dipergunakan untuk semua pasien yang telah
menjadi

anggota

BPJS.

Walaupun

pasien

hanya

berkonsultasi

sampai

mendapatkan tindakan emergensi maupun non emergensi tetap di kenakan Rp.
6.000,00/kapita. Sedangkan untuk ruangan atau hal-hal lainnya dapat berbedabeda sesuai dengan kelas dari BPJS yang dipilih.
Jumlah penduduk wilayah Lubuk kilangan adalah 51.806 jiwa dan hingga
data terakhir pada bulan September masih banyak penduduk yang belum terdaftar
sebagai anggota BPJS. Jumlah peserta jaminan kesehatan Puskesmas Lubuk

kilangan berubah-ubah tiap bulannya. Berikut tabel jumlah peserta dari bulan
Januari 2015 sampai September 2015.
Tabel 3.1 Jumlah peserta jaminan kesehatan Puskesmas Lubuk kilangan
Bulan
Januari 2015
Februari2015
Maret 2015
April 2015
Mei 2015
Juni 2015
Juli 2015
Agustus 2015
September 2015
Oktober 2015
November 2015

Jumlah Peserta
23374
23203
23144
22978
22883
22898
22099
21989
21905
21913
21947

Pada tabel di atas didapatkan penurunan anggota BPJS dari bulan Januari ke
September. Jumlah penduduk kecamatan Lubuk kilangan yang terdaftar sebagai
peserta JKN menurut kelurahan tahun 2015 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Jumlah Kunjungan BPJS PuskesmasLubuk kilangan
Bulan
Januari 2015
Februari2015
Maret 2015
April 2015
Mei 2015
Juni 2015
Juli 2015
Agustus 2015
September 2015
Oktober 2015
November 2015

Jumlah Peserta
1533
2220
1842
1849
1745
1551
1498
1897
1476
1742
-

Dari tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa setiap bulannya terdapat perubahan
jumlah kunjungan masyarakat yang memiliki keanggotaan BPJS.

BAB 4
PEMBAHASAN
Puskesmas Lubuk kilangan menerima tiga sumber dana yang berbeda, yaitu
dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta dari Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN). Dana APBD merupakan dana yang berasal dari Pemerintah Daerah yang
ditujukan untuk keperluan rutin puskesmas seperti untuk pembiayaan rekening
listrik, telepon, air, serta bahan bakar untuk transportasi kendaraan puskesmas.
Dalam pelaksanaannya di Puskesmas, penyaluran dana dari pemerintah daerah
dinilai sudah cukup baik karena diberikan secara rutin tiap bulannya dan
dilakukan pencatatan serta pelaporan secara transparan setiap tahun.
Biaya Operasional Kesehatan (BOK) merupakan dana bantuan operasional
yang diprioritaskan pada kegiatan berdaya ungkit tinggi untuk pencapaian
indikator MDGs tahun 2015 bidang kesehatan, terutama kegiatan promotif dan
preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama di wilayah
cakupan Puskesmas Lubuk kilangan. Dana yang diberikan disesuaikan dengan
kebutuhan puskesmas dan luasnya cakupan kerja puskesmas. Dana ini diberikan
oleh pemerintah pusat secara rutin. Pada tahun 2014, Puskesmas Lubuk kilangan
telah memanfaatkan dana BOK untuk penunjang kegiatan promotif dan preventif
mengenai kesehatan lingkungan, gizi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan
reproduksi, serta pemberantasan penyakit menular (HIV AIDS, malaria, TB)
seperti dana untuk transpor petugas dan kader ke lapangan, pembuatan leaflet,
foto kopi, serta kegiatan rapat. Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan harus
tercantum jelas berapa target yang akan dicapai serta adanya laporan setelah
kegiatan tersebut selesai. Akan tetapi, walaupun telah diberikannya dana BOK
yang bersifat sebagai stimulus untuk mencapai target MDG’s 2015, data
kementerian kesehatan menunjukkan terjadi peningkatan angka kematian ibu dan
bayi, kunjungan ibu yang rendah, serta tidak tercapainya capaian imunisasi di
Kota Padang.
Sumber dana lainnya berupa dana dari BPJS yang digunakan untuk biaya
operasional yang meliputi tarif kapitasi dan non kapitasi yang perlu dilakukan

klaim. Non kapitasi meliputi pelayanan kebidanan (persalinan dan pasca
persalinan), pemeriksaan IVA, pelayanan KB seperti MOP/vasektomi, protesa
gigi, dan lain-lain. Jumlah dana yang diberikan berdasarkan jumlah penduduk
yang terdaftar pada FKTP yaitu Puskesmas Lubuk kilangan. Pada awalnya,
penyaluran dana kapitasi harus melewati Dinas Kesehatan Kota (DKK), namun
sejak Juni 2014, penyaluran dana langsung dari BPJS ke Puskesmas Lubuk
kilangan secara rutin setiap bulan paling lambat tanggal 15. Puskesmas Lubuk
kilangan mengalokasikan 60% dana ini untuk jasa pelayanan, sisanya 40%
dialokasikan untuk biaya operasional lainnya, pembelian alat kesehatan, alat tulis
kantor, dan bahan habis pakai berdasarkan kebutuhan.
Puskesmas Lubuk kilangan telah membuat laporan dan evaluasi pada setiap
pengeluaran yang berasal dari tiga sumber dana di atas. Laporan tersebut nantinya
akan dipertanggungjawabkan oleh Kepala Puskesmas kepada berbagai pihak
terkait, terutama BPJS setiap tahun.
Sistem JKN merupakan jaminan berupa perlindungan kesehatan agar
peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang
telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Sistem JKN
diselenggarakan oleh BPJS dan telah diterapkan di seluruh Indonesia sejak
tanggal 1 Januari 2014. Berdasarkan data tersebut terlihat jumlah peserta yang
berubah-ubah setiap bulannya. Hal ini diduga dikarenakan banyaknya peserta
yang mengajukan perpindahan karena kesalahan alamat pendaftaran atau memang
berniat berpindah ke/dari dokter keluarga/klinik. Ketidakstabilan jumlah peserta
inimungkin didinilai wajar dan tidak mengganggu kinerja Puskesmas.
Total jumlah peserta JKN terakhir pada bulan September 2015 di wilayah
kerja Puskesmas Lubuk kilangan adalah 21905 penduduk atau sekitar 40,5% dari
total 51.806 penduduk di Kecamatan Lubuk kilangan. Jumlah ini dinilai masih
jauh dari target pemerintah yaitu seluruh penduduk Indonesia telah menjadi
peserta JKN pada tahun 2019. Namun pencapaian ini sulit dinilai oleh pihak
Puskesmas, mengingat adanya kemungkinan peserta JKN di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk kilangan yang sudah terdaftar namun lebih memilih
meregistrasikan pengobatan di pelayanan kesehatan lainnya.

Pelaksanaan JKN di Puskesmas Lubuk kilangan dinilai sudah cukup baik,
akan tetapi beberapa masyarakat peserta BPJS kapitasi masih sering mendaftarkan
dirinya sebagai pasien umum, sehingga biaya kapitasi yang seharusnya
ditanggung oleh BPJS menjadi tanggung jawab pemerintah kota . Selain itu,
karena sistem JKN ini cenderung baru, masyarakat menjadi cukup antusias untuk
berobat dan mendaftarkan dirinya sebagai peserta JKN. Muncul persoalan ketika
adanya persepsi di masyarakat bahwa puskesmas hanya merupakan tempat untuk
meminta rujukan ke tingkat sekunder tanpa mau ditatalaksana oleh dokter
puskesmas. Padahal setidaknya terdapat 155 penyakit yang wajib ditatalaksana di
puskesmas sampai tuntas. Disinilah diperlukan kemampuan komunikasi dokter
yang baik untuk memberikan pengertian kepada masyarakat dan meluruskan
persepsi bahwa puskesmas juga berperan dalam kegiatan kuratif dan rehabilitatif.
Sebelumnya

puskesmas

Lubuk

kilangan

sebelum

era

JKN

juga

mendapatkan dana dari retribusi sebesar 25% dari kunjungan SKK (Surat
Keterangan Kesehatan), surat tidak buta warna, pengurusan Catin (suntik calon
pengantin) dan SKK Haji. Namun sekarang keseluruhan dana tersebut disetor ke
kas daerah.

BAB 5
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Sistem pembiayaan kesehatan di Puskesmas Lubuk kilangan berasal dari
tiga sumber dana yaitu dari APBD, BOK, dan JKN. Penggunaan dana di
Puskesmas Lubuk kilangan dilakukan sesuai dengan sasaran dari setiap sumber
dana yang telah diberikan. Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional dinilai relatif
berjalan lancar dan tidak ditemukan kendala yang berarti.
5.2 Saran
Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan di puskesmas telah dibuat oleh
pemerintah agar tercipta pengobatan dan pelayanan kesehatan yang memadai
guna meningkatkan status kesehatan masyarakat. Oleh karena itu bagi para pihak
yang terkait dapat menjalankan tugasnya dengan baik agar program dapat
berjalan dengan baik.
Diperlukan pendataan ulang kepesertaan penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk kilangan serta peningkatan sosialisasi program Jaminan
Kesehatan Nasional sehingga target seluruh warga Indonesia untuk memiliki
jaminan kesehatan pada tahun 2019 dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA
Budi HS, 2010. Hubungan antara Sistem Pembiayaan dengan Kualitas Pelayanan
di Puskesmas Slogohimo Wonogiri. Tesis. Surakarta: Universitas Sebelas
Maret.
Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, 2004.
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional.
Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dan Presiden Republik Indonesia, 2011.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2011. Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.
DKK Sukoharjo, 2014. Puskesmas di Era Jaminan Kesehatan Nasional.
http://dkk.sukoharjokab.go.id/read/puskesmas-di-era-jaminan-kesehatannasional-jkn. Diunduh tanggal 7 Mei 2015 (14.00 WIB).
KEMENKES RI, 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
128 tahun 2004. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional.
KEMENKES RI, 2013. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta: Kementerian
Kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2014. PMK No. 19 Th 2014 ttg
Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan. Jakarta : Kementerian
Kesehatan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2014. PMK No. 28 Th 2014 ttg Pedoman
Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional. Menteri Kesehatan
Republik Indonesia, 2014. PMK No. 59 Th 2014 tentang Standar Tarif
Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaran Program Jaminan Kesehatan.
Jakarta : Kementerian Kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014, PMK No 75 tahun 2014 tentang
Kebijakan Dasar Puskesmas.
Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2014 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan
dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada Fasilitas Pertama Milik
Pemerintah Daerah.