You are on page 1of 4

Definisi

Preeklampsia adalah kelainan malafungsi endotel pembuluh


darah atau vaskular yang menyebar luas sehingga terjadi
vasospasme setelah usia kehamilan 20 minggu, mengakibatkan
terjadinya penurunan perfusi organ dan pengaktifan endotel
yang menimbulkan terjadinya hipertensi, edema nondependen,
dan dijumpai proteinuria 300mg per 24 jam atau 30mg/dl (+1
pada dipstick) dengan nilai sangat fluktuatif saat pengambilan
urin sewaktu
M

Etiologi
Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pada preeklampsia dijumpai kerusakan pada endotel vaskuler,
sehingga sekresi vasodilatator prostasiklin oleh sel-sel endotelial
plasenta berkurang, sedangkan pada kehamilan normal, prostasiklin
meningkat. Sekresi tromboksan oleh trombosit bertambah sehingga
timbul vasokonstriksi generalisata dan sekresi aldosteron menurun.
Perubahan aktivitas tromboksan memegang peranan sentral terhadap
ketidakseimbangan prostasiklin dan tromboksan.Hal ini mengakibatkan
pengurangan perfusi plasenta sebanyak 50%, hipertensi, dan
penurunan volume plasma.
Peran Faktor Imunologis
Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama karena pada kehamilan pertama
terjadi pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna. Pada
preeklampsia terjadi kompleks imun humoral dan aktivasi komplemen. Hal ini dapat
diikuti dengan terjadinya pembentukan proteinuria
Peran Faktor Genetik
Bukti yang mendukung berperannya faktor genetik pada penderita
preeklampsia adalah peningkatan Human leukocyte antigen (HLA).
Menurut beberapa peneliti,wanita hamil yang mempunyai HLA dengan
haplotipe A 23/29, B 44 dan DR 7 memiliki resiko lebih tinggi menderita
preeklampsia dan pertumbuhan janin terhambat
Disfungsi endotel
Kerusakan sel endotel vaskuler maternal memiliki peranan pada
terjadinya preeklampsia. Kerusakan endotel vaskular pada
preeklampsia dapat menyebabkan penurunan produksi prostasiklin,
peningkatan aktivitas agregasi trombosit dan fibrinolisis, kemudian
diganti oleh trombin dan plasmin. Trombin akan mengkonsumsi
antitrombin III sehingga terjadi deposit fibrin. Aktivitas trombosit
menyebabkan pelepasan tromboksan A2 dan serotonin sehingga
terjadi vasospasme dan kerusakan endotel

Umur

Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk


kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Kematian maternal pada
wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2-5
kali lebih tinggi dari pada kematin maternal yang terjadi pada usia 2029 tahun. Kematian maternal
Sebagian besar teori tentang etiologi preeklampsia menunjukkan bahwa penyakit ini dipicu oleh
kombinasi respon inflamasi maternal yang abnormal, aktivasi/kerusakan sel endotel dengan
lingkungan hemodinamik yang abnormal, dan gangguan sistem imunitas. Yang menyebabkan
komplikasi hingga gangguan sistem vacular, respon imun dan inflamasi masih terus menjelaskan
preeklampsia dan meninjau pilihan terapi (Elosha, 2012). Preeklampsia berat berkaitan dengan
hipoperfusi plasenta dan iskhemia. Patogenesis preeklampsia secara umum terdiri dari dua
tahapan proses. Tahap pertama merupakan tahapan asimptomatik yang ditandai perkembangan
plasenta yang abnormal selama trimester pertama yang mengakibatkan insufisiensi plasenta dan
pelepasan beberapa material plasenta kedalam sirkulasi maternal. Tahap kedua yaitu tahap
simptomatik atau sindrom maternal yang ditandai oleh hipertensi, gangguan ginjal, dan
proteinuria (Karumanchi, 2011).
Meskipun para peneliti di abad ke-20 gagal mengungkap etiologi preeklampsia, banyak kemajuan
telah dibuat dalam memahami perubahan patofisiologi yang terkait dengan perkembangannya.
Pada tahun 1960-an, beberapa kelompok menjelaskan perbedaan nyata dalam fisiologi plasenta
antara plasenta dari kehamilan yang disertai preeklampsia dibandingkan plasenta dari kehamilan
tanpa preeklampsia. Melalui pemeriksaan biopsi plasenta, ditemukan bahwa sel-sel trofoblas
plasenta gagal menginvasi arteri spiral ibu dengan baik dan menyalurkan arteri dari pembuluh
darah otot kecil ke pembuluh darah besar resistensi rendah pada preeklampsia. Dengan kurangnya
konversi arteri spiral, diameter lumen arteri dan distensibilitas menjadi terbatas, sehingga
menghambat aliran darah ke plasenta dan janin yang sedang tumbuh (Mandy, 2010). Tulisantulisan yang menjelaskan eklampsia telah ditelusuri sejak 2200 SM. Dan jumlah mengesankan
dari mekanismenya telah diusulkan untuk menjelaskan penyebabnya. Tidak hanya "satu
penyakit," preeklampsia tampaknya menjadi puncak dari faktor-faktor yang kemungkinan
melibatkan sejumlah faktor maternal, plasental, dan janin. Hal yang saat ini dianggap penting
meliputi:
1. Implantasi plasenta dengan invasi trofoblas abnormal dari pembuluh darah uterus.
2. Toleransi imunologi maladaptif antara ibu, ayah (plasenta), dan jaringan janin.
3. Maladaptasi maternal terhadap perubahan kardiovaskular atau inflamasi dari kehamilan
normal.
4. Faktor genetik meliputi gen predisposisi turunan serta pengaruh epigenetik (Cunningham,
2010).
Sebagian besar teori tentang etiologi preeklampsia menunjukkan
bahwa penyakit ini dipicu oleh kombinasi respon inflamasi maternal
yang abnormal, aktivasi/kerusakan sel endotel dengan lingkungan
hemodinamik yang abnormal, dan gangguan sistem imunitas. Yang
menyebabkan komplikasi hingga gangguan sistem vacular, respon
imun dan inflamasi masih terus menjelaskan preeklampsia dan
meninjau pilihan terapi (Elosha, 2012). Meskipun preeklampsia telah
diteliti secara luas dalam beberapa dekade namun belum jelas etiologi
dan patogenesis/mekanisme penyakit ini. Saat ini terdapat banyak

teori etiologi yang mencoba menjelaskan patogenesis penyakit


preeklampsia di antaranya predisposisi genetik, trombofilia,
endokrinopati, vaskulopati, iskhemi plasenta, stres oksidatif dan
maladaptasi imun
Tahap I : Abnormalitas Plasentasi
Perkembangan plasenta secara normal memerlukan invasi arteri
spiralis maternal oleh sitotrofoblas. Perombakan kembali arteri spiralis
ini menjadi pembuluh dengan kapasitas besar dan resistensi yang
rendah dimulai pada akhir trimester pertama kehamilan, berakhir pada
18 hingga 20 minggu kehamilan, dan menghasilkan penggantian
endotelium dan tunika media (Lam, 2006). Pada implantasi normal,
arteri spiralis mengalami remodeling ekstensif karena diinvasi oleh
trofoblas endovaskuler. Sel-sel ini mengantikan lapisan otot dan
endotel untuk memperlebar diameter pembuluh darah. Invasi
sitotrofoblas menempati lapisan endotel pada arteri spiralis ibu,
mengalami tranformasi dari pembuluh darah kecil dengan resistensi
tinggi menjadi pembuluh darah dengan kapasitas kaliper tinggi,
sehingga dapat memenuhi perfusi plasenta yang adekuat untuk
pertumbuhan janin. Pada preeklampsia, tranformasi ini berjalan tidak
sempurna. Sitotrofoblas menginvasi arteri spiralis hanya terbatas pada
desidua superfisialis dan segmen terbatas pada area miometrium. Hal
ini menunjukkan pada perkembangan kehamilan normal invasi
sitotrofoblas di arteri spiralis menyebabkan down regulasi sel trofoblas
yang akan mengadopsi fenotip sel endotel plasenta. Proses ini dikenal
sebagai proses vaskulogenesis, sedangkan pada preeklampsia ,
sitotrofoblas tidak mengalami proses vaskulogenesis (Wang, 2009).

Gambar 1. Trofoblas menginvasi desidua secara adekuat pada


kehamilan normal (Wang, 2009

Gambar 2. Trofoblas menginvasi desidua tidak adekuat dan terjadi gangguan pembentukan arteri
spiralis (Wang, 2009).
Defek plasenta yang spesifik dihubungkan dengan terjadinya preeklamsia. Kasus terburuk terjadi
pada trimester II dan awal trimester III. Villi yang menyokong keberadaan sel sitotrofoblas
invasif juga ikut terpengaruh. Invasi trofoblas kedalam parenkim uterus masih bervariasi namun
muncul kadang-kadang. Invasi endovaskuler pembuluh darah bersifat rudimenter atau sementara
sehingga sulit sekali untuk menemukan sel sitotrofoblas di dinding pembuluh darah uterus. Defek
anatomis ini menunjukkan bahwa terdapat abnormalitas direfensiasi sel sitotrofoblas dalam
preeklamsia. Biopsi pada dinding uterus wanita dengan sindrom preeklamsia memperlihatkan
bahwa sel sitotrofoblas yang invasif menahan ekspresi dari reseptor adhesi yang merupakan
karakteristik dari sel progenitor dan gagal untuk mengaktifkan reseptor tersebut untuk
mengadakan invasi atau kontak dengan fenotip endotelial ( Sulistyowati, 2010).