You are on page 1of 23

Deteksi Dini Kanker

Payudara dan Kanker Serviks.doc

Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Serviks

Kanker
Tumor merupakan benjolan atau pembengkakan abnormal dalam tubuh. Tumor terbagi atas 2
yaitu jinak dan ganas (kanker). Kanker merupakan penyakit akibat adanya pertmbuhan yang
abnormal dari sel sel jaringan tubuh yang dapat mengkibatkan invasi ke jaringan-jaringan yang
normal. Kematian akibat kanker di dunia masih lebih tinggi dibandingkan penyakit jantung da
stroke, lebih tinggi jika dibandingkan total kematian TBC, malaria, dan Aids.
Jumlah kanker terus meningkat hingga diperkirakan mencapai lebih dari 2 kali lipat dalam 20
tahun.
Kanker merupakan masalah yang masih perlu dibahas karena banyak pihak yang
menyebarkan informasi sesat, dan kurangnya kesadaran yang mengakibatkan keterlambatan
memperoleh pertolongan medik. Menurut WH-UICC, 43% kanker dapat dicegah, dan 30%
kanker dapat dikontrol bila ditangani secara dini.
Faktor faktor yang meningkatkan terkena kanker usia, gender, kelainan genetic, kontak
dengan bahan kimia tertentu, radiasi, dan virus.

A. Kanker Payudara
1. Struktur Payudara

Mammae dextra dan mammae sinistra berisi glandula mammaria dan terdapat dalam fascia
superficialis dinding thorax ventral. Pada wanita dan pria memiliki sepasang mamma, namun
pada pria glandula mamma tersebut tidak berkembang dan mengalami rudimenter.
Mammae terletak di bagian anterior dan termasuk bagian dari lateral thoraks. Kelenjar susu
yang bentuknya bulat ini terletak di
fasia pektoralis. Mammae melebar ke
arah superior dari iga dua, inferior dari
kartilago kosta enam dan medial dari
sternum serta lateral linea midaksilanis.
Pada bagian mammae yang paling
menonjol

terdapat

sebuah

papilla,

dikelilingi oleh daerah yang lebih gelap


yang disebut areola. Terdapat Langer
lines pada kompleks nipple(papilla)areola yang melebar ke luar secara
sirkumfranse (melingkar). Langer lines

ini signifikan secara klinis kepada ahli bedah dalam menentukan area insisi pada biopsi
mammae. Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar ini keluar dari lingkarannya ke arah
aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor payudara.
Mammae berisi 15-20 lobus glandula mammaria yang tiap lobusnya terdiri dari bebrapa
lobulus. Tiap-tiap lobulus memiliki saluran kearah papilla yang disebut ductus laktiferus.
Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin
terdapat jaringan lemak yang disebut ruang retromamer. Diantara lobulus tersebut ada jaringan
ikat yang disebut ligamentum suspensorium Cooper yang berfungsi sebagai penyangga.
Struktur payudara terdiri atas:

Parenkim epithelial
Lemak, pembuluh darah, syaraf dan saluran getah bening
Otot dan fasia

2. Defenisi
Kanker payudara merupakan suatu keganasan pada seluruh jaringan payudara kecuali
jaringan kulit payudara, yang dapat menyebar (metastasis) ke organ organ lain dan dapat
menyebabkan kematian.
3. Epidemiologi
Kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insiden relatif tinggi dan
cenderung meningkat yaitu 20% dari seluruh keganasan dan 99% terjadi pada perempuan dan
hanya 1% pada laki laki, sehingga kanker paydara merupakan masalah kesehatan utama pada
perempuan.
Menurut WHO 2008 dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap
tahunya 350.000 kasusu diantaranya ditemukan di Negara maju, dan 250.000 di Negara yang
berkembang. Di AS diperkirakan setiap tahunya 175.000 wanita didiagnosis menderita kanker
payudara dengan proporsi 32% dari seluruh jenis kanker yang menyerang wanita dan proporsi
umur tertinggi pada kelompok umur > 50 tahun dengan proporsi 65%. Sebanyak 150.000
penderita kanker payudara yang berobat ke rumah sakit dan 44.000 penderita meninggal setiap
tahunnya.

Data statistik Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia tahun 2006,

menunjukan bahwa kanker payudara menenmpati urutan pertama dari seluruh jenis kanker
(19,64%).
Di Indonesia kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker serviks. Kejaidan
kanker payudara di Indonesia sebesar 11% dari seluruh kanker.

4. Etiologi dan Faktor Resiko


a. Etiologi
Belum diketahui dengan pasti.
b. Faktor Resiko
Faktor yang tidak dapat diubah
Umur
Semakin bertambahnya umur meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita
paling sering terserang kanker payudara adalah usia di atas 40 tahun. Wanita
berumur

di bawah 40 tahun juga dapat terserang kanker payudara, namun

risikonya lebih rendah dibandingkan wanita di atas 40 tahun.


Penelitian Azamris tahun 2006 di RS Djamil Padang menunjukan bahwa
diperkirakan risiko kelompok usia > 50 tahun terkna kanker payudara 1,35 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia < 50 tahun.
Menarche usia dini
Resiko terjadinya kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami
menstruasi pertama sebelum umur 12 tahun. Umur menstruasi yang lebih awal
berhubungan dengan lamanya paparan hormone estrogen dan proesteron pada
wanita yang berpengaruh terhadap proses proliferasi jaringan termasuk jaringan
payudara.

Penelitian Indriati tahun 2008 di RS Dr. Kariadi Semarang

menunjukan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menarche pada umur <
12 tahun terkena kanker payudara 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok usia wanita yang menarche > 12 tahun.
Menopause usia lanjut
Menopause setelah usia > 55 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker
payudara. Kurang dari

25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum

menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi sebelum


terjadinya perubahan klinis.
Penelitian Azamris 2006 di RS M. Djamal Padang menunjuka bahwa diperkirakan
risiko wanita yang menopause setelah usia 55 tahun terkena kanker lebih tinggi

1,86 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok wanita yang menopause
sebelum usia 55 tahun.
Riwayat keluarga
Terdapat resiko menderita kanker payudara pada wanita yang keluarganya
menderita kanker payudara. Pada studi genetic ditemukan bahwa

kanker

payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1 (Breast


Cancer 1) dan BRCA 2 (Breast Cancer 2), yaitu suatu gen kerentanan terhadap
kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada
umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun. 10% kanker payudara
bersifat familial.
Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case
control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang memiliki
anggota keluarga penderita kanker payudara terkena kanker payudara 3,94 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki anggota keluarga
penderita kanker payudara
Riwayat penyakit payudara jinak
Wanita yang menderita
kelainan proliferative pada payudara memiliki
peningkatan risiko untuk mengalami kanker payudara. Menurut peneltian Brinton
(2008) di AS menunjukan bahwa wanita

yang mempunyai tumor payudara,

mempunyai resio 2 kali lebih tinggi untuk mengalami kanker payudara. Wanita
dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko 4 kali lebih besar untuk terkena
kanker payudara. Dan wanita dengan hyperplasia atipikal mempunyai risiko 5 kali

lebih besar untuk terkena kanker payudara.


Faktor resiko yang dapat diubah
Riwayat kehamilan
Usia maternal lanjut saat melahirkan anak pertama meningkatkan risiko
mengalami kanker payudara. Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika
Serikat dengan desain cohort, wanita yang kehamilan pertama setelah 35 tahun
mempunyai risiko 3,6 kali lebih besar dibandingkan wanita yang kehamilan
pertama sebelum 35 tahun untuk terkena kanker payudara. Wanita yang nullipara
atau belum pernah melahirkan mempunyai risiko 4,0 kali lebih besar
dibandingkan wanita yang multipara atau sudah lebih dari sekali melahirkan
untuk terkena kanker payudara.
Obesitas dan konsumsi lemak tinggi

Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dengan kanker payudara pada
wanita pasca menopause. Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor
risiko terjadinya kanker payudara.
Penelitian Norsaadah tahun 2005 di Malaysia dengan desain case control
menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang memiliki Indeks Massa
Tubuh (IMT) 25 untuk terkena kanker payudara 2,1 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) < 25
(OR=2,1).
Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, lakilaki yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) 25 mempunyai risiko 1,79 kali
lebih besar dibandingkan pria yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) < 25
untuk terkena kanker payudara.
Penggunaan hormon dan kontrasepsi oral
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Wanita yang
menggunakan kontrasepsi oral berisiko tinggi untuk mengalami kanker payudara.
Kandungan estrogen dan progesteron pada kontrasepsi oral akan memberikan
efek proliferasi berlebih pada kelenjar payudara. Wanita yang menggunakan
kontrasepsi oral untuk waktu yang lama mempunyai risiko untuk mengalami
kanker payudara sebelum menopause.
Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case
control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menggunakan
control menunjukkan bahwa diperkirakan risiko bagi wanita yang menggunakan
kontrasepsi oral > 10 tahun untuk terkena kanker payudara 3,10 kali lebih tinggi
dibandingkan wanita yang menggunakan kontrasepsi oral 10 tahun.
Konsumsi rokok
Wanita yang merokok meningkatkan risiko untuk mengalami kanker payudara
dari pada wanita yang tidak merokok. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr.
Kariadi dari pada wanita yang tidak merokok. Penelitian Indriati tahun 2009 di
RS Dr. Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa
diperkirakan risiko bagi wanita yang merokok untuk terkena kanker payudara
2,36 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
Menurut penelitian Briston (2008) di Amerika Serikat dengan desain cohort, lakilaki yang merokok mempunyai risiko 1,26 kali lebih besar dibandingkan laki- laki
yang tidak merokok untuk terkena kanker payudara.

Riwayat keterpaparan radiasi


Radiasi diduga meningkatkan risiko kejadian kanker payudara. Pemajanan
terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun
meningkatkan risiko kanker payudara. Penelitian Indriati tahun 2009 di RS Dr.
Kariadi Semarang dengan desain case control menunjukkan bahwa diperkirakan
risiko bagi wanita yang terpapar radiasi lebih dari 1 jam sehari untuk terkena
kanker payudara 3,12 kali lebih tinggi.
5. Gejala
a. Benjolan
Unilateral
Teraba massa keras
Tepi irregular
Immobile
Tidak nyeri
b. Perubahan pada payudara
Kulit tertarik (skin dampling)
Benjolan pada kulit (visible lump)
Gambaran kulit jeruk (pu dorange)
Eritema
Ulkus
c. Kelinan pada puting
Putting tertarik
Eksema
Cairan pada puting (nipple discharge)

6. Stadium
Portman membagi stadium Kanker Payudara menjadi :

Stadium
I

Tanda
Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya,

tidak ada

fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang di bawahnya (otot) . Besar tumor 1 2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari luar. Kelenjar getah bening regional belum
teraba.

Perawatan

yang

sangat

sistematis

diberikan tujuannya adalah agar sel kanker tidak


dapat menyebar dan tidak berlanjut pada stadium
selanjutnya. Pada
stadium ini, kemungkinan penyembuhan pada
penderita adalah 70%.
II

Tumor terbebas dalam payudara, besar tumor


2,5 - 5 cm, sudah ada

satu atau beberapa

kelenjar getah bening aksila yang masih bebas


dengan diameter kurang dari 2 cm. Untuk
mengangkat
dilakukan

sel-sel
operasi

kanker
dan

setelah

biasanya
operasi

dilakukan penyinaran untuk memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang
tertinggal. Pada stadium ini, kemungkinan sembuh penderita adalah 30 - 40 %.
IIIa

Tumor sudah meluas dalam payudara, besar tumor 5 10 cm,

tapi masih bebas di jaringan sekitarnya,

kelenjar getah bening aksila masih bebas satu sama


lain. Menurut data dari Depkes, 87%
IIIb

kanker

payudara ditemukan pada stadium ini.


Tumor melekat pada kulit atau dinding dada,
kulit merah dan ada edema (lebih dari sepertiga
permukaan kulit payudara), ulserasi, kelenjar
getah bening aksila melekat satu sama lain atau
ke jaringan sekitarnya dengan diameter 2 - 5
cm. Kanker sudah menyebar ke seluruh bagian
payudara, bahkan mencapai kulit, dinding dada, tulang rusuk dan otot dada.

IV

Tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III). Tapi sudah disertai
dengan kelenjar getah bening aksila supraklavikula dan Metastasis jauh. Sel-sel kanker
sudah merembet menyerang bagian

tubuh

lainnya, biasanya tulang, paru-paru, hati, otak,


kulit, kelenjar limfa yang ada di dalam batang
leher. Tindakan yang harus dilakukan adalah

Berdasarkan TNM :

T (Tumor)
TIS : tumor in situ, tumor belum invasive
T1 : tumor < 2 cm
T2 : tumor 2 5 cm
T3 : tumor > 5 cm
T4 : Tumor dengan besarnya berapa saja tetapi dengan ilfiltrasi ke dinding toraks
atau kulit
N (Nodul)
N0 : tidak teraba kelenjar limfe di ketiak homolateral
N1 : teraba di ketiak homolateral kelenjar limfe yang dapat digerakan
N2 : kelenjar limfe ketiak homolateral, berlekatan satu sama lain atau melekat
kejarngan sekitar
N3 : kelenjar limfe infra dan supra klavikular homolateral.
M (Metastasis)
M0 : tidak ada.
M1 : metastasis tersebar

7. Deteksi Dini Kanker Payudara


a. Tujuan
Pemeriksaan payudara berguna untuk memastikan payudara seseorang masih normal.
Bila ada kelainan seperti infeksi, tumor atau kanker dapat ditemmukan lebih awal.
Kanker payudara yang diobati pada stsdium dini kemungkinan sembuh mendekati 95%.
b. Mengenali fator resiko
Faktor yang tidak dapat diubah
Umur
Menarche usia dini
Menopause usia lanjut
Riwayat keluarga
Riwayat penyakit payudara jinak
Faktor yang dapat diubah
Riwayat kehamilan
Obesitas dan konsumsi lemak tinggi
Penggunaan hormon dan kontrasepsi oral
Konsumsi rokok
Riwayat keterpaparan radiasi
c. Pemeriksaan klinis payudara

Karena organ payudara di pengaruhi oleh factor hormonal antara lain estrogen dan
progesterone maka sebaiknya pemeriksaan payudara di lakukan di saat pengaruh
hormonal ini seminimal mungkin, yaitu setelah mestruasi lebih kurang satu minggu dari
hari pertama mestruasi. Dengan pemeriksaan fisik yang baik dan teliti, ketepatan
pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis cukup tinggi.
Teknik pemeriksaan :
Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka.
Posisi tegak
Penderita duduk dengan posisi tangan bebas ke samping,pemeriksa berdiri di depan
dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi di lihat: simetri payudara
kiri-kanan, kelainan papila, letak dan bentuknya, adakah retraksi puting susu,
kelainan kulit, tanda-tanda radang,peau dorange, dimpling, ulserasi, dan lain-lain

Posisi berbaring
Posisi berbaring dan di usahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan
dada,jika perlu bahu/punggung di ganjal dengan bantal kecil pada penderita yang
payudara nya besar.palpasi ini di lakukan dengan mempergunakan falang distal dan
falang medial jari II, III, dan IV, dan di kerjakan secara sistematismulai dari cranial
setinggi iga ke-2 sampai ke distal setinggi iga ke-6, dan pemeriksaan daerah sentral
subareolar dan papil. Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada cairan keluar dengan
menekan daerah sekitar papil

Menetukan keadaan tumor


Lokasi tumor menurut kwadran di payudara atau terletak di daerah sentral
(subareola dan di bawah papil). Payudara di bagi atas empat kwadran, yaitu
kwadran atas, lateral bawah, medial atas dan bawah serta di tambah satu daerah
sentral.
Ukuran tumor,konsistensi,batas-batas tumor tegas atau tidak tegas.
Mobilitas tumor terhadap kulit dan muskulus pektoralis atau dinding dada.

Memeriksan kelenjar getah bening regional aksila, yang diraba kelompok kelenjar
getah bening.
mammaria eksterna, di bagian anterior dan di bawah tepi muskulus
pektoralis aksila
subskapularis di posterior aksila
sentral di bagian aksila
apikal di ujung atas fossa aksila

Pada perabaan di tentukan besar, konsistensi, jumlah, apakah berfiksasi atau tidak.

Organ lain ikut di periksa adalah hepar,lien untuk mencari metastasis jauh,juga
tulang-tulang utama, tulang belakang

d. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)


Pemeriksaan payudara sendiri dengan cara melihan dan memeriksa perubahan
perubahan payudaranya sendiri setiap bulan. Dengan melakukan pemeriksaan secara
teratur akan diketahui adanya benjolan atau masalah lainsejak dini walaupun masih
berukuran kecil sehingga lebih efektif untuk diterapi.
Sebaiknya pemeriksaan payudara sendiri dilakukan hari ke 7 10 yang di hitung dari
mulai haid (saat payudara sudah tidak mengeras dan nyeri) atau bagi yang telah
menopause pemeriksaan dilakukan dengan memilih tanggal yang sama steiap bulannya.
Pemeriksaan payudara sendiri sebaiknya dilakukan tiap bulan pada usia 20 tahun atau
sejak menikah. Pemeriksaan klinis oleh petugas kesehatan terlatih sebaiknya dilakukan
pada perempuan berusia 30 50 tahun setiap 3 tahun sekali, kecuali bagai mereka yang
beresiko, pemeriksaan mammografi dilakukan 1 tahun sekali setelah berusa diatas 40
tahun, dan pemeriksaan USG sekali setahun pada usia di bawah 40 tahun.
Teknik untuk melakukan SADARI yaitu :
Tanggalkan seluruh pakaian bagian atas. Berdirilah di depan cermin dengan kedua
lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang. Perhatikan payudara Anda :
Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan kiri simetris?
Apakah bentuknya membesar/mengeras?
Apakah arah putingnya lurus ke depan? Atau berubah arah?
Apakah putingnya tertarik ke dalam?
Apakah puting/kulitnya ada yang lecet?
Apakah kulitnya tampak kemerahan? Kebiruan? Kehitaman?
Apakah kulitnya tampak menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit

jeruk)?
Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak tampak adanya kerutan/cekungan?
Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas. Setelah
selesai, ulangi lagi pengamatan dengan kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan,
kedua siku ditarik ke belakang. Semua pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui
adanya tumor yangterletak dekat dengan kulit.

Dengan kedua belah tangan, secara lembut pijat payudara dari tepi hingga ke puting,
untuk untuk mengetahui ada-tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya

tidak ada, kecuali Anda sedang menyusui)


berbaringlah di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu. Untuk
memeriksa payudara kiri, letakkan sebuah bantal tipis di bawah bahu kiri, sedang

lengan kiri direntangkan ke atas di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala
Perlu diperhatikan bahwa masing-masing gerakan memutar harus dilakukan dengan
kekuatan tekanan yang berbeda-beda, setidaknya dengan tiga macam tekanan.
Pertama-tama dilakukan dengan tekanan ringan untuk meraba adanya benjolan di
dekat permukaan kulit, yang kedua dengan tekanan sedang untuk meraba adanya
benjolan di tengah-tengah jaringan payudara, yang ketiga dengan tekanan cukup kuat

untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara, dekat dengan tulang dada/iga.
Setelah selesai dengan payudara kiri, pindah posisi bantal dan lengan, lakukan
pemeriksaan.pada payudara kanan dengan menggunakan keempat jari tangan
kiri.Kemudian ulangi perabaan seperti poin 3, tetapi dalam posisi berdiri. Untuk

memudahkan, bisa dilakukan sambil mandi, saat membalurtubuh dengan sabun.


Gunakan keempat jari tangan kanan yang saling dirapatkan untuk meraba payudara.
Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar (seperti membuat lingkaran kecil-kecil),
mulai dari tepi payudara hingga ke puting susu. Sesudah itu geser posisi jari sedikit
ke sebelahnya, dan lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara sampai puting

susu.
Lakukan terus secara berurutan sampai seluruh bagian payudara diperiksa. Untuk
memudahkan gerakan, Anda boleh menggunakan lotion atau sabun sebagai
pelicin.Gerakan memutar boleh juga dilakukan mulai dari puting susu, melingkar
semakin lebar ke arah tepi payudara; atau secara vertikal ke atas dan kebawah mulai
dari tepi paling kiri hingga ke tepi paling kanan. Yang penting, seluruh area payudara

harus tuntas teraba, tak ada yang terlewatkan.


Lakukan terus secara berurutan sampai seluruh bagian payudara diperiksa. Untuk
memudahkan gerakan, Anda boleh menggunakan lotion atau sabun sebagai
pelicin.Gerakan memutar boleh juga dilakukan mulai dari puting susu, melingkar
semakin lebar ke arah tepi payudara; atau secara vertikal ke atas dan kebawah mulai
dari tepi paling kiri hingga ke tepi paling kanan. Yang penting, seluruh area payudara
harus tuntas teraba, tak ada yang terlewatkan.

Perlu diperhatikan bahwa masing-masing gerakan memutar harus dilakukan dengan


kekuatan tekanan yang berbeda-beda, setidaknya dengan tiga macam tekanan.
Pertama-tama dilakukan dengan tekanan ringan untuk meraba adanya benjolan di
dekat permukaan kulit, yang kedua dengan tekanan sedang untuk meraba adanya
benjolan di tengah-tengah jaringan payudara, yang ketiga dengan tekanan cukup kuat

untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara,


dekat dengan tulang dada/iga.Setelah selesai dengan payudara kiri, pindah posisi
bantal dan lengan, lakukan pemeriksaan.pada payudara kanan dengan menggunakan
keempat jari tangan kiri.Kemudian ulangi perabaan seperti poin 3, tetapi dalam posisi
berdiri. Untuk memudahkan, bisa dilakukan sambil mandi, saat membalurtubuh

dengan sabun.
Setelah itu raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui adanya
benjolan yang diduga suatu anak sebar kanker.Bila dalam pemeriksaan payudara
sendiri ini Anda menemukan suatu kelainan (misalnya benjolan, sekecil apa pun),
segera periksakan ke dokter. Jangan takut dan jangan tunda lagi. Karena kanker
payudara yang ditemukan pada tahap dini dan ditangani secara benar dapat sembuh
secara tuntas

e. Pemeriksaan Penunjang
Mammografi
Suatu tehnik pemeriksaan soft tissue teknik. Untuk melihat tanda primer berupa
fibrosis reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan
rontgenologik dan adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan rontgenologik dan
adanya mikrokalsifikasi. Tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit,
bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papila dan areola. Mammografi ini
dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba, jadi sangat baik
untuk diagnosis dini dan screening. Kelebihan mammografi adalah dapat medeteksi
tumor yang belum teraba(<0,5 cm) sekalipun masih dalam stadium dini. Waktu yang
tepat untuk melakuka mammografi pada wanita usia produktif adalah hari 1 14 dari
siklus haid. Pada perempuan usia non reproduktif dianjurkan untuk kapan saja.
Sensivitas cukup baik 75% berkisar antara 54 58% pada usia < 40 tahun hingga 81
94% pada usia > 65 tahun mammografi lebih baik digunakan untuk usia > 40 tahun

Ultrasonografi

Dengan pemeriksaan ini hanya dapat membedakan lesi solid dan kistik.
Ultrasonografi lebih digunakan pada pasien yg berusia < 35 tahun.

B. Kanker Serviks
1. Defenisi
Kanker serviks merupakan penyakit akibat tumor ganas dimana sel kehilangan
kemampuannya dalam mengendalikan kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya pada
mulut rahim. Sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan.
2. Epidemiologi
Kanker serviks menduduki urutan tertinggi di negara berkembang, dan urutan ke 10 di
negara maju atau urutan ke - 5 secara global. Berdasarkan hasil survey kesehatan oleh Word
Health Organitation (WHO), (2010) dilaporkan kejadian kanker serviks sebesar 500.000
kasus baru di dunia. Kejadian kanker di Indonesia, dilaporkan sebesar 20 24 kasus kanker
serviks baru setiap harinya. Di Indonesia ia menduduki urutan kedua dari 10 kanker
terbanyak berdasar data dari Patologi Anatomi tahun 2010 dengan insidens sebesar 20 %.
Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI saat ini, jumlah wanita penderita baru kanker
serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000 pend uduk dan setiap tahun terjadi 40 ribu kasus
kanker serviks.
3. Etiologi dan Faktor resiko

a. Etiologi kanker serviks idiopatik


b. Faktor resiko
Umur
Usia > 35 tahun mempunyai risiko tinggi terhadap kanker serviks. Semakin tua
seseorang maka semakin meningkat risiko terjadinya kanker serviks. Meningkatnya
risiko kanker serviks pada usia lanjut merupakan gabungan dari meningkatnya dan
bertambah lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen serta makin melemahnya
system kekebalan tubuh.
Menikah usia di bawah < 20
Menikah terlalu muda atau melakukan hubungan seksual terlalu muda beresiko terkena
kanker serviks 10-12 kali lebih besar dari pada ereka yang menikah pada usia > 20
tahun.hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang wanita sudah benar benar
matang.
Jumlah paritas
Semakin banyak jumlah melahirkan memiliki risiko tinggi untuk menderita kanker
serviks
Jumlah perkawinan
Wanita dengan aktivitas seksual tinggi, dan sering berganti ganti pasangan. Berganti
ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya
Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel sel di permukaan
mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak sehingga tidak terkendali dan menjadi
kanker.
Infeksi virus
Wanita dengan penyakit akibat hubungan seksual beresiko terkena virus HPV, karena
HPV diduga sebagai penyebab utama terjadinya kanker serviks sehingga wanita
dengan riwayat penyakit kelamin beresiko terkena kanker serviks
Merokok
Merokok dapat merangsang terbentuknya sel kanker.
4. Gejala
Setelah melakukan koitus atau perdarahan menstruasi lebih banyak atua

timbul

perdarahan menstruasi lebih sering.


Timbul perdarahan diantara siklus menstruasi
Apabila kanker sudah berada pada stadium lanjut bias terjadi perdarahan spontan dan

nyeri pada rongga panggul


Keluhan dan gejala akibat bendungan kanker penderita mengalami halangan air seni
Sembab anggota tengah karena penekanan pembuluh darah balik

Nyeri pada pinggang bagian bawah


Keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita
Perdarahan sesudah menopause

5. Stadium
Klasifikasi berdasarkan FIGO :

6. Deteksi dini Kanker Serviks


Kanker serviks merupakan jenis kanker kedua yang paling sering terjadi pada perempuan di
seluruh dunia, juga termasuk Indonesia. Selain itu kanker serviks merupakan salah satu
kanker yang dapa diketahui sejak dini yaitu dalam keadaan lesi prekanker. Deteksi dini
ditujukan untuk semua perempuan yang telah melakukan hubungan seksual secara aktif,
terutama yang berusia 30 50 tahun. Dinjurkan untuk melakukan pemeriksaan minimal 5
tahun sekali, bila memungkinkan 3 tahun sekali.
Beberapa tes untuk dapat melakukan deteksi dini yaitu :
a. Tes HPV
Menggunakan teknik pemeriksaan molekuler, DNA yang terkait dengan HPV diuji dari
sebuah contoh sel yang diambil dari serviks tau liang senggama.
b. Tes Pap smear
Pemeriksaan sitologis dari apusan sel sel yang diambil dari serviks. Slide diperiksa oleh
teknisi sitologi atau dokter ahli patologi untuk melihat perubahan sel yang
mengindikasikan terjadinya inflamasi, dysplasia atau kanker.
c. Tes IVA

Pemeriksaan inspeksi visual dengan mata telanjang, seluruh permukaan serviks dengan
bantuan asam asetat. Pemeriksaan tidak dilakukan dalam keadaan hamil maupun sedang
haid.
IVA adalah salah satu deteksi dini kanker serviks dengan menggunakan asam asetat 3 - 5
% secara inspekulo dan dilihat dengan pengamatan mata langsung (mata telanjang).
Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit, mudah , murah dan informasi hasilnya
langsung. Serviks (epitel ) abnormal jika diolesi dengan asam asetat 3 - 5 % akan
berwarna putih (epitel putih). Dalam waktu 1 - 2 menit setelah diolesi asam asetat efek
akan menghilang sehingga pada hasil ditemukan pada serviks normal tidak ada lesi
putih. Metode IVA tergolong sederhana, nyaman dan praktis. Dengan mengoles kan
asam cuka (asam asetat) pada leher rahim dan melihat reaksi perubahan yang terjadi,
prakanker dapat dideteksi. Biaya

yang dikeluarkan pun juga relatif murah. Selain

prosedurnya tidak rumit, pendeteksian dini ini tidak memerlukan persiapan khusus dan
ju ga tidak menimbulkan rasa sakit bagi pasien. Letak kepraktisan penggunaan metode ini
yakni dapat dilakukan di mana saja, dan tidak memerlukan sarana khusus. Tingkat
Keberhasilan metode IVA dalam mendeteksi
dini kanker servik yaitu 60 - 92%. Sensitivitas IVA bahkan lebih tinggi dari pada Pap
Smear. Dalam waktu 60 detik kalau ada kelainan di serviks akan timbul plak putih yang
bisa dicurigai sebagai lesi kanker.
d. Servikografi
Kamera khusus untuk memfoto serviks. Film dicetak dan foto diinterpretasi oleh petugas
terlatuh. Pemeriksaan ini terutama digunakan sebagai tambahan dari deteksi dini dengan
menggunkan IVA, tetapi dapat juga sebagai metode deteksi primer.
e. Kolposkopi
Pemeriksaaan visual bertenga tinggi untuk melihat serviks, bagian luar dan bagian dalam
leher rahim. Bisanya disertai biopsy jaringan ikat yang tampak abnormal. Terutama
digunakan untuk mendiagnosis.

7. Kegiatan pemeriksaan IVA Tim PKK Provinsi Maluku.

Kegiatan ini merupakan program yang diprakarsai oleh Ibu Negara dalam Organisasi
Aksi Solidaritas Era (OASE) kabinet kerja dalam rangka untuk mengurangi kejadian kanker
serviks. Kegiatan ini telah dilaksanakan di Ambon pada tanggal 21 April 2015 bertepatan
dengan hari Katini.
Latar belakang kegiatan ini yaitu :
Angka penyakit kanker leher rahim yang cukup tinggi dan mendapat perhatian dari
Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku dan Pmerintah Daerah Setempat.
Presentase kasus kanker leher rahim yang datang ke rumah sakit dr. Haulussy Ambon
padaumunya sudah stadium lanjut.
Kasus kanker leher rahim terjadi karena keengaanan wanita dan umumnya alu untuk
melakukan pemeriksaan dalam.
Gerakan PKK mempunyai potensi untuk mendukung pelaksanaan pengendalian
terjadinya kanker leher rahim dengan mengajak semua organisasi wanita di Provinsi
Maluku untuk melakukan deteksi dini dengan IVA.
Salah satu program PKK dengan mengedepankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
dan Pola hidupa yang sehat merupakan tujuan Tim Penggerak PKK Porvinsi Maluku
dalam menyehatkan kaum perempuan sebagai penerus keturunan.
Bersama sama dengan Yayasan Kanker Cabang Maluku dalam menjalankan
program strateginya untuk menurukan angka kematian akibat kanker leher rahim
Dengan memberdayaka keluarga yang sadar akan pentingnya kesehatan, maka akan

tercapai masyarakat yang sehat dan sejahtera.


Peran TP-PKK dalam gerakan pencegahan kanker pada perempuan
Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku melakukan koordinasi Tim Penggerak PKK
Seluruh Kabupaten /Kota dan lintas sector terkait.
Mensosialisasikan , melaksanakan, pendataan dengan melibatkan organisasi
perempuan dan persekutuan wanita Gereja dan organisasi wanita Muslimah.
Mengadakan kesepakatan bersama dengan mitra kerja dari instansi terkait, untuk
mengadakan pemeriksaan IVA.
Mengupayakan agar Pemerintah

daerah Kabupaten/Kota ,mendukung kegiatan

tersebut dalam rangka menurunkan angka kematian akibat kanker serviks


Langkah persiapan dan pelaksanaan
Koordinasi Tim Penggerak PK Provinsi Maluku, Yayasan Kanker Cabang Maluku
dan lintas sector terait (Dinas Kesehatan, BKKBN, Dinas Sosial, BPJS Prodya,
dan organisasi perempuan dan wanita Gereja dan organisasi wanita Muslim)

Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku dari POKJA IV melakukan monitoring dan
evaluasi di kabupaten kota bersama Yayasan Kanker Cabang Maluku
Pelaksanaan Sosialisasi mengenai deteksi dini KankerServiks dan pentingnya
mengenal gejala gejala kanker Kanker Serviks serta mengenalkan IVA sebagai
cara pemeriksaan yang tepat untuk mengetahui kanker Serviks secara dini atau
lebih awal.
Pelakasaan sosialisasi tersebut diatas diselenggarakan sebelum acara pemerksaan
IVA

Hasil kegiatan 2014 - 2015

Hasil kegiatan 2016

Daftar Pustaka

1. Sjamsuhidajat. Buku ajar ilmu bedah : Wim de Jong, edisi 2. Penerbit buku Kedokteran
2.

EGC. 2005
Yushamen. Buku saku pencegahan kanker rahim & kanker payudara. Direktorat
Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal PP & PL. departemen

Kesehatan RI. 2009.


3. Fausziah RM dkk. Deteksi dini kanker serviks pada pusat pelayanan primer di wilayah
DKI Jakarta. Artikel penelitian. Indon Med Assoc. 2011
4. Rahayu AP. Review : infeksi human papiloma virus (HPV) dan pencegahannya pada
remaja dan dewasa muda. Jurnal Biologi Papua. 2010
5. Komite Nasional Penaggulangan Kanker (KPKN).Panduan pelayanan klinis kanker
serviks. Kementrian kesehatan Republik Indonesia. 2015.

6. Aziz M.F. 2001. Masalah pada Kanker Serviks. Dalam: Cermin Dunia Kedokteran Edisi
133. Jakarta. p: 6

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN

APRIL 2016

UNIVERSITAS PATTIMURA

DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA & KANKER SERVIKS

DisusunOleh:
KEVIN J F NOYA
NIM. 2009-83-035

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2016