You are on page 1of 6

MAKALAH PEMBELAJARAN

ETIKA DALAM BERDAKWAH DAN HIKMAH DAKWAH

Disusun oleh:

Nabila kazhimah Q
XI MIPA 2.1
23

SMA NEGERI 1 KENDAL


2015/2016
Etika Dalam Berdakwah Dan Hikmah Dakwah Dalam Kehidupan

A. Pengertian etika
Istilah etika bersal dari bahasa yunani kuno yaitu ethos dalam bentuk tunggal
mempunyai banyak arati seperti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang,
kebiasaaan, adat, akhlak, watak, perasaaan sikap, cara berfikir.1[1]K. Bertens, membedakan
etika menjadi tiga arti yaitu :
1. Etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moreal yang menjadi pengangaan bagi seseorang
atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
2. Etika adalah kumpulan asas atau nilai moral.
3. Etika dalah ilmu tentang yang baik dan buruk.
Selain itu etika dapat diartikan sebgaimana dalam beberapa arti berikut ini:
1. Pandangan benar dan salah menurut rasio.
2. Moralitas atau suatu tindakan yanjg didasarkan pada ide filsafah.
3. Kebenaran yang bersifat universal.
4. Tindakan yang melahirkan konsekuensi logis yang baik bagi kehidupan manusia.
5. Pandangan tentang nilaiperbuatan baik dan perbuatan buruk yang bersifat relatif dan
bergantung pada situasi dan kondisi.
Dari pendapat diatas, bisa diartikan bahwa etika adalah nilai-nilai dan norma-norma
moral yang menjadi pengangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya. Dengan demikian kumpulan asas atau nilai moral tersebut diharapkan dapat
digunakan untuik mengatur tingkah laku individu atau kelompok agar sesuai dengan tatanan
nilai yang di inginkan.
B. Pengertian Etika dakwah
Urgensi etika dakwah, asumsi tersenbut antara lain: pertama islam sebagai yang mulia
mutlak harus didakwahkan secara baik dan benar. Kedua, dakwah itu harus sukses, ketiga,
dalam berdakwah ada nilai yang harus dipatuhi, keempat, dalam berdakwah harus
memperhatikan situasi dan kondisi.
Secara umum etika dakwah menunjukkan pada dua hal yaitu ; Pertama, sebagai disiplin
ilmu yang mepelajari nilai-nilai dan pemebenaranya. Kedua, sebgai pokok permasalahan
disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai kehidupan yang sungguhnya dan hukum-hukum
tingkah laku.
Selain itu, etika juga dapat membantu manusia bertindak secara bebas dan dapat
memeptangung jawabkannya, etika memeberi manusia untuk berorientasi tentang bagaimana
ia menjalani hidupnya melaui rangkaian tindakan sehari-hari.
Berkaitan dengan etika dakwah tentunya memiliki peranan yang besar dalam
mempersiapkan dalam mempersiapkan kader dai yang etis dan profesional. Selain itu
1

profesionalisme juga terlihat dari prilaku dan apa yang ada dalam dirinya. Setelah orang
memiliki nilai-nilai etis, tentunya akan melahirkan profesionalisme. Jika seseorang dai
memiliki sifat ini, yakni etis dan profesionalisme, maka tenbtunya kegiatan dakwahnya akan
berjalan secara optimal.
C. Macam-Macam Etika Dalam Berdakwah
1. Qawlan Marufan (perkataan yang baik)
Qaulan marufan berarti perkataan yang baik. Qaulan marufan, berarti pembicaraan yang
bermanafaaat,

memeberikan

pengetahuan,

mencerahkann

pemikiran,

menunjukkan

pemecahan masalah atau kesulitan. Kepada orang yang lemah, seseorang bila tidak bisa
membantu secara material, maka ia harus memberikan bantun secara psikologis. Allah SWT.
Berfirman Qawlan marufan dan pemberian maaaf lebih baik dari pada sedekah yang di ikuti
dengan perkataan yang menyakitkan. Sebagaimana firman-Nya berikut ini.



"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan
sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun."
(Al-Baqarah: 263).
Berkomunikasi yang baik sebagaimana digambaran ayat di atas adalah bagimana seseorang
melakukan penolakan secara halus. Sementara maksud pemberian maaf di sini adalah
bagimana seseorang bisa memanfaatkan tingkah laku yang berkurang sopan dari si peminta.
Artinya, ajaran islam mementingkan perasaan orang lain supaya jangan tersinggung oleh
ungkapan yang tidakn maruf. Etika tersebut tentu akan lebih penting lagi, jika dilihat dari
sudut komunikasi publik yang jumlah madu-Nya.bersifat massal. Jika seseorang tidak
mampu berkomunikasi (lisan maupun tulisan) secara baik dan pantas dengan publik, maka
sebetulnya ia dinilai sebagai orang yang tidak mempunyai etika komunikasi dakwah.
2. Qawlan Kariman (memperlakukan oranglain dengan penuh rasa hormat)
Ungkapan qawlan kariman dalam al-quran tersebut dalam surat Al-Isra ayat 23 berikut
ini :
dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang
diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
Dalam ayat di atas dijelaskan tuntunan komunikasi dalam islam pada manusia yang
posisinya lebih rendah kepada orang lain yang posisinya lebih tinggi, apalagi orang tua

sendiri yang sangat besar jasanya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. qawlan
kariman, menyiratkan satu prinsip utama dalam komunikasi dakwah: penghormatan.
Komunikasi dalam dakwah, harus memperlakukan oranglain dengan penuh rasa hormat.
3. Qawlan maysuran (mempergunakan bahasa yang mudah di mengerti )
Dalam al-quran ditemukan istilah qawlan masyuran yang merupakan tuntutan komunikasi
dengan mempergunakan bahasa yang mudah di mengerti dan melegakan perasaan. Allah swt
telah berfirman berikut ini :
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu
harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yuang pantas.
Demikianlah bentuk komunikasi yang hangat di dalam Islam, sehingga penolakan
permintaan tidak boleh menyinggung perasaan orang lain, suatu komunikasi yang sangat
indah memelihara keharmonisan dalam tata pergaulan umat. Meskipun komunikasi diatas
lebih berkonotasi dalam suasana tatap muka, namun kehangatan komunikasi serta ungkapan
lemah lembut, mudah dimengerti juga berlaku juga pada dimensi yang lain.
4. Perkataan yang baligh, fasih, dewasa, menyentuh kepada hati.
Menggunakan pilihan kata yang menyentuh kepada hati seseorang juga menjadi
keutamaan. Karena dalam banyak kisah-kisah Islam kita temukan, seseorang menerima
kebenaran Islam justru bukan dari perdebatan dalil-dalil, tetapi justru ketika hatinya tersentuh
dengan kata-kata dan akhlak mulia Rasulullah saw dan para pengikutnya.
5. Perkataan yang karim, mulia, hormat, sopan.
Lagi-lagi, kesantunan juga harus tetap diutamakan. Pemilihan kata yang santun,
menunjukkan rasa hormat pada lawan bicara. Ini juga akan menghadirkan respek dari lawan
bicara kepada kita. Ketika mereka merasa dihargai, maka insya Allah, kebenaran yang ingin
kita sampaikan akan lebih bisa diterima.
D. Macam-Macam Kode Etik Dakwah
Adapun kode etik dakwah diantaranya:
1. Tidak Memisahkan Antara Ucapan Dan Perbuatan
Para dai hendaknya tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan, dalam artian apa
saja yang diperintahkan kepada madu, harus pula dikerjakan oleh dai. seorang dai yang
tidak beramal sesuai dengan ucapannya ibarat pemanah tanpa busur. Hal ini bersumber pada
QS. Al-shaff:2-3

yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian

mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Amat besar murka disisi Allah, bahwa kalian
mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.

2. Tidak Melakukan Toleransi Agama


Tasamuh memang dinjurkan dalam islam, tetapi hanya dalam batas-batas tertentu dan
tidak menyangkut masalah agama.
3. Tidak Menghina Sesembahan Non Muslim
Kede Etik ini berdasarkan QS. Al-anam:108
dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain
Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa
pengetahuan.
4. Tidak Melakukan Diskriminasi Sosial
Hal ini berdasarkan QS. Abasa:1-2 :
Dia(Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta
padanya.
5. Tidak Memungut Imbalan
Dalam hal ini memang masih terjadi perbedaan anatara boleh atau tidaknya memungut
imbalan dalam berdakwah. Ada 3 kelompok yang berpendapat mengenai hal ini:

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa memungut imbalan dalam berdakwah

hukumnya haram secara mutlaq, baik dengan perjanjian sebelumya atau tidak.
Imam Malik bin anas, Imam SyafiI, membolehkan memungut biaya atau

imbalan dalam menyebarkan islam baik dengan perjanjian sebelunya atau tidak.
Al-Hasan al-Basri, Ibn Sirin, Al-Syaibi dan lainnya, mereka membolehkan
memungut biaya dalam berdakwah, tapi harus diadakan perjanjian terlebih
dahulu.

6. Tidak Berteman Dengan Pelaku Maksiat


Berkawan dengan pelaku maksiat ini dikhawatirkan akan berdampak buruk, karena
orang yang bermaksiat itu beranggapan seakan-akan perbuatan maksiatnya itu direstui
dakwah, pada sisi lain integritas seorang dai tersebut akan berkurang.
7. Tidak Menyampaikan Hal-Hal Yang Tidak Diketahui
Dai yang menyampaikan suatu hukum, sementara ia tidak mengetahui hukum itu pasti
ia akan menyesatkan umat. Seorang dakwah tidak boleh asal menjawab pertanyaan orang
menurut seleranya sendiri tanpa ada dasar hukumnya. Hal ini berdasarkan QS. Al-Isra:36
dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta
pertanggung jawabannya.

E. Hikmah Kode Etik Dakwah


Rambu-rambu etis dalam berdakwah atau yang disebut dengan kode
etik

dakwah

berdampak

apabila

pada

diaplikasiakn

madu

atau

dengan

oleh

sang

sungguh-sungguh
dai.

pada

madu

akan
akan

memperoleh simpati atau respon yang baik karena dengan menggunakan


etika dakwah yang benar akan tergambaar bahwa islam itu merupakan
agama yang harmonis, cinta damai, dan yang penuh dengan tatanantatanan dalam kehidupan masyarakat. Namun secara umum hikmah
dalam pengaplikasian kode etik dakwah itu adalah:
1. Kemajuan ruhani, dimana bagi seorang juru dakwah ia akan selalu
berpegang pada rambu-rambu etis islam, maka secara otomatisia
akan memiliki akhlak yang mulia.
2.
Sebagai penuntun kebikan, kode etik dakwah bukan menuntun
sang dai pada jalan kebaikan tetapi mendorong dan memotivasi
membentuk kehidupan yang

suci dengan memprodusir kebaikan

dan kebajikan yang mendatangkan kemanfaatan bagi sang dai


3.

khususnya dan umat manusia pada umumnya.


Membawa pada kesmpurnaan iman. Iman yag sempurna akan
melahirkan

4.

kesempurnaan

diri.

Dengan

bahasa

lain

bahwa

keindahan etika adalah manifestasi kesempurnaan iman.


Kerukunan antar umat beragama, untuk membina keharmonisan
secara ekstern dan intern pada diri sang dai.