1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Di dalam penulisan yang bersifat ilmiah, sudah barang tentu setiap penulisannya memiliki alasan yang berbeda-beda sesuai dengan maksud dan tujuan dari penulis, dalam mengadakan penelitian terhadap suatu masalah yang akan ditelitinya. Demikian halnya dengan penyusunan skripsi ini, tidak terlepas dari permasalahan tersebut diatas sesuai dengan maksud dan tujuan, situasi atau kondisi masyarakat kita dewasa ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada akhir-akhir ini tindak pidana yang dilakukan oleh anak atau remaja semakin meningkat, meresahkan masyarakat dan menyebabkan terjadinya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut. Hal ini dapat kita ketahui melalui berbagai mass media yang antara lain : radio, surat kabar, televisi, majalah, serta media cetak lainnya dan bahkan dari internet yang memberi kita informasi mengenai masalah kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut. Batasan yang diajukan dalam menelaah mengenai pengertian anak / remaja, berdasarkan dari pendapat pakar-pakar psikologi (Drs. Andi Mappiare mengutip Elizabeth B. Hurlock) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak)

menyebutkan bahwa pengertian remaja adalah suatu batasan usia dengan rentang usia antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 21 (dua puluh satu) tahun.

2

Sedangkan pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sehingga dalam batasan konsep penulisan hukum ini adalah bagi anak / remaja dalam rentang usia antara 13 – 21 tahun. Di bawah ini penulis ketengahkan beberapa contoh-contoh bentuk kenakalan anak / remaja yang berpotensi menimbulkan kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja, dan dapat dikategorikan kepada perbuatan yang dapat meresahkan masyarakat : 1. Perkelahian pelajar antar Sekolah Menengah Pertama maupun perkelahian pelajar antar Sekolah Menengah Umum. 2. Kebiasaan merokok, menyalahgunakan narkotika serta minum-minuman keras yang meresahkan masyarakat dan menimbulkan dampak negatif di lingkungan masyarakat. 3. Menyalahgunakan atau mempergunakan berbagai macam obat-obatan perangsang dan melihat adegan atau pertunjukan 17 tahun keatas yang dapat memacu timbulnya kejahatan asusila atau perbuatan cabul. 4. Sering bergaul dengan wanita-wanita yang mempunyai reputasi kurang baik di dalam lingkungan masyarakat, sehingga menimbulkan tradisi Sex Bebas. 5. Kebebasan bergaul tanpa adanya pengawasan yang dapat menimbulkan sikap brutal, liar dan anarki anak atau remaja. 6. Perjudian dikalangan anak atau remaja.

3

Mengenai kenakalan anak atau remaja tersebut kita tidak dapat menyalahkan mutlak sepenuhnya, bahwa anak atau remajalah yang bersalah. Karena remaja sebelum menginjak masa remajanya, tentu melewati masa anakanak yang tidak terlepas dari bimbingan orang tua dan juga keberadaan lingkungan tempat tinggalnya. Dalam hal ini penulis analisa bahwa masa anakanak adalah cikal bakal yang akan membentuk kepribadian menjadi remaja yang dewasa dan berbudi luhur bila pada masa anak-anak mereka dididik dengan baik, teratur, diberi kasih sayang dan perhatian yang cukup. Sebaliknya apabila pada masa anak-anak kurang atau tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, maka kelak anak tersebut dapat menjadi remaja yang kurang berkepribadian, nakal dan hidup tidak teratur sehingga pada akhirnya menyebabkan anak atau remaja tersebut terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Sehubungan dengan masalah kenakalan anak-anak, banyak faktor penyebab yang bisa disebutkan disini : 1. Kondisi pertumbuhan. 2. Kerusakan syaraf. 3. Tidak memperhatikan kebutuhan anak. 4. Pendidikan buruk. 5. Faktor perasaan. 6. Penyakit kejiwaan. 7. Faktor kesehatan. 8. Faktor kejiwaan. 9. Faktor peraturan. 10. Faktor ajaran buruk.1 Apabila kita berbicara mengenai masalah kenakalan anak atau remaja, tidak terlepas dari generasi muda sebagai penerus cita-cita luhur bangsa Indonesia. Oleh karena itu mutlak diperlukan adanya pembinaan generasi muda sesuai
1

Ali Qaimi, Keluarga & Anak Bermasalah, Cahaya, Bogor, 2002, hal. 33.

4

dengan kepribadian bangsa dan Negara Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila (sebagai falsafah ideologi Negara dan bangsa Indonesia) serta UndangUndang Dasar 1945 dalam rangka menciptakan manusia Pancasilais. Manusia Pancasilais disini mempunyai arti bahwa generasi muda Indonesia adalah

manusia yang baik mental maupun spiritualnya, dalam arti kata manusia yang menjadi warga Negara yang baik serta menjadi warga dunia yang baik pula serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Generasi muda khususnya generasi muda Indonesia di dalam pembangunan dewasa ini, harus dibimbing dan diarahkan agar menjadi manusia-manusia yang bertanggung jawab kepada hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang baik, agar tercipta dan tercapainya masyarakat adil dan makmur serta sejahtera tentram berdasarkan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kebijaksanaan yang didasarkan atas keinginan masyarakat haruslah dipupuk dengan menyempurnakan usaha-usaha pemerintah dalam rangka pembinaan terhadap generasi muda tersebut, baik usaha penyempurnaan dalam bidang perencanaan, pengarahan, pembinaan serta pembiayaan sekaligus dengan pelaksanaannya pada anak atau remaja tersebut. Sehubungan dengan pembinaan generasi muda ini, perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh anak atau remaja sebagai generasi muda bangsa Indonesia adalah merupakan suatu kejahatan maupun pelanggaran terhadap ketertiban masyarakat dan Undang-Undang khususnya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ), Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dan Undang-Undang No. 23 tahun 2002

5

tentang Perlindungan Anak yang telah banyak menarik perhatian masyarakat umum atas permasalahan terhadap anak atau remaja tersebut. Lingkungan keluarga merupakan faktor yang sangat dominan sekali di dalam hal penanggulangannya, baik ke dalam lingkungan keluarga sendiri maupun di luar lingkungan keluarga yang secara otomatis pengawasan terhadap anak atau remaja berkurang. Sehingga nantinya dapat terlihat intensitas peran suatu rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kenakalan anak atau remaja serta perkembangan kehidupan remaja yang dilahirkan dalam suatu rumah tangga maupun baik-buruknya sikap dan tingkah laku seorang anak atau remaja dalam lingkungannya maupun dalam keluarganya tersebut. Pembangunan di Negara Indonesia selama kurun waktu masa orde baru hingga masa reformasi saat ini, telah banyak membawa perubahan-perubahan di seluruh sektor kehidupan baik itu ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Perkembangan dan perubahan yang terjadi antara lain adalah perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat agraris yang berorientasi kepada kegiatan industri, perdagangan dan jasa. Hal ini juga dilecut oleh adanya dampak globalisasi yang secara tidak langsung juga mempengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, kemajuan pembangunan sarana dan prasarana fisik di wilayah perkotaan serta timbulnya dampak dari perubahan orientasi pekerjaan masyarakat desa di usia yang produktif dari pertanian ke nonpertanian, mendorong lajunya migrasi secara besar-besaran dari desa ke kota. Hal inilah yang membuat populasi kehidupan wilayah perkotaan menjadi meningkat, sehingga menimbulkan prospek pekerjaan yang lebih luas di wilayah perkotaan.

6

Tetapi di sisi lain kondisi pendidikan di daerah pedesaan pun lebih mengarah kepada pendidikan umum yang memberi pilihan alternatif minat pekerjaan, dimana ruang pekerjaan semakin berkurang yang menyebabkan keterbatasan pekerjaan bagi para lulusan pendidikan yang ada. Wilayah Kota Bekasi yang merupakan salah satu bagian dari daerah industri di Jabotabek mengalami perkembangan yang pesat di segala bidang pembangunan. Mulai berdirinya Mall, Perusahaan-perusahaan di bidang industri, perdagangan dan jasa hingga terpenuhinya sarana dan prasarana umum, seolaholah menjanjikan kesejahteraan bagi para penduduk dan juga para pendatang. Dengan sendirinya, dari tahun ke tahun populasi penduduk kota bekasi mengalami peningkatan jumlah dengan cepat. Keterbatasan lahan-lahan perkotaan bagi kepentingan pemukiman membuat sebagian warga yang kurang mampu, menempati sudut-sudut kota yang padat, kumuh dan berbagai keterbatasan serta kekurangannya. Di lain sisi, gemerlap kehidupan kota bekasi yang lain menggambarkan kemajuan ekonomi tersirat dari berbagai atribut kemakmuran. Dampak dari perubahan sosial yang pesat ini dapat di lihat pada sikap dan perilaku masyarakatnya. Meningkatnya penyimpangan perilaku sosial merupakan salah satu akibat yang harus diterima oleh masyarakat yang sedang membangun, masyarakat yang sedang mengalami perubahan kearah masyarakat modern. Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh anak atau remaja, sehingga berbuah timbulnya suatu kejahatan dewasa ini menjadi suatu permasalahan yang serius dan mengkhawatirkan serta harus segera ditanggulangi. Cukup beralasan apabila masalah kenakalan anak atau remaja ini dianggap sebagai permasalahan

7

nasional, yang harus ditanggulangi secara efektif dan sedini mungkin oleh bangsa Indonesia pada umumnya. Pemerintah dan instansi yang terkait dengan masalah kenakalan anak atau remaja pada umumnya, adalah pihak yang sangat berperan dalam penanggulangan kejahatan yang disebabkan oleh anak atau remaja tersebut. Sehingga pada akhirnya akan tercapai tujuan bersama yaitu adanya suatu kehidupan yang adil dan makmur serta menyelamatkan para generasi muda Indonesia sebagai asset bangsa dan Negara yang nilainya sangat berharga. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis mengajukan Penulisan Hukum dengan judul, : “PENANGGULANGAN KENAKALAN ANAK /

REMAJA YANG MENIMBULKAN KEJAHATAN DI KOTA BEKASI ”.

B. Perumusan Masalah Di dalam penelitian ini ada beberapa pokok permasalahan yang akan penulis kemukakan dan berkaitan erat dengan materi penelitian yang akan penulis bahas, adapun masalah-masalah tersebut antara lain : 1. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan timbulnya suatu kejahatan yang ditimbulkan akibat kenakalan oleh anak / remaja ? 2. Sanksi apakah yang dijatuhkan atas timbulnya kejahatan akibat kenakalan anak / remaja tersebut ? 3. Bagaimanakah usaha-usaha aparat penegak hukum dalam penanggulangan terhadap timbulnya kejahatan anak / remaja yang diakibatkan oleh kenakalan anak / remaja tersebut.

8

C. Tujuan Penelitian Setiap kegiatan ilmiah pastilah mempunyai makna dan tujuan yang hendak dicapai. Demikian halnya dengan penelitian yang penulis lakukan ini. Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah : 1. Tujuan Subyektif. Tujuan penelitian ini adalah guna menyusun penulisan hukum yang merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa Fakultas Hukum untuk memperoleh gelar Sarjana ( S1 ) dibidang Ilmu Hukum. 2. Tujuan Obyektif. Tujuan obyektif dari penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan sebagai akibat dari kenakalan anak / remaja. b. Untuk mengetahui sanksi atau hukuman yang dijatuhkan atas kejahatan yang dilakukan anak / remaja. c. Memperoleh cara-cara penanggulangan terhadap timbulnya

kejahatan anak / remaja yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

D. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini ditujukan kepada : 1. Bagi Mahasiswa.

9

Agar para mahasiswa khususnya mahasiswa fakultas hukum dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai kejahatan yang ditimbulkan akibat kenakalan anak / remaja secara menyeluruh dari pada masyarakat umum di dalam mengkaji dan menganalisa serta cara penangulangannya. 2. Bagi Masyarakat. Agar masyarakat dapat lebih sensitif terhadap suatu permasalahan yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat, dalam hal ini menyangkut pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan hukum. Sehingga pada akhirnya masyarakat dapat mengerti dan menjalankan setiap aspek kehidupan berdasarkan hukum.

E. Tinjauan Pustaka Kenakalan anak atau remaja yang pada zaman yang semakin modern ini semakin mencemaskan dan menjurus pada timbulnya kejahatan, yang sangat dikhawatirkan pada masa depan bangsa dan Negara Indonesia kelak. Hal ini tentunya menjadi suatu permasalahan pokok, karena anak atau remaja merupakan buah yang akan dipetik keberadaannya demi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dimasa depan nanti. kenakalan anak atau remaja yang dilakukan dapat berupa kenakalan yang berkelompok. Hal ini dapat diketahui dengan banyaknya jumlah pelaku kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja yang terjadi di dalam masyarakat. Berikut adalah contoh yang dapat penulis kemukakan

10

dari bentuk kenakalan anak atau remaja yang berpotensi menimbulkan kejahatan dan dilakukan dengan berkelompok adalah : 1. Perkelahian atau tawuran pelajar yang dilakukan oleh siswa Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. 2. Perampokan di sarana angkutan umum dan bahkan tempat-tempat umum. 3. Kejahatan yang dilakukan dengan menyebabkan korbannya menderita luka baik itu secara fisik ataupun non-fisik hingga kejahatan yang menyebabkan korban jiwa. ”Bukan hanya pencopet dan penodong yang berkeliaran di angkutan, pembajak juga yang beraksi dengan beringas. Parahnya lagi yang membajak itu adalah para pelajar yang baru berusia belasan tahun. Kok bisa tunas-tunas bangsa berwatak penjahat dalam batas usia sedini itu? ”.2

Kejahatan yang dilakukan secara berkelompok ini, pada kenyataannya lebih memprihatinkan ketimbang kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja secara individu. Hal ini dapat disebabkan karena dengan cara berkelompok mereka lebih berani dalam melakukan kejahatan, dan dengan melakukan secara berkelompok mereka merasa lebih jantan, merasa disegani satu sama lainnya dan juga terdapat suatu perasaan kebersamaan. Kejahatan yang dilakukan secara berkelompok ini, lebih banyak mendapatkan perhatian masyarakat bila

2

Subhan SD, Danger Zone Jalanan, Perempatan, & Kawasan Rawan di Jakarta, Cetakan pertama, Gagas Media, Jakarta, 2003, hal 151.

11

dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan perseorangan oleh anak atau remaja. Kecenderungan berperilaku agresif berarti tingkah laku dalam tataran kawasan afektif. Afektif merupakan aspek tingkah laku yang mencakup perasaan dan emosi serta menggambarkan sesuatu di luar ruang lingkup kesadaran, misalnya: minat, motivasi, nilai, keyakinan, aspirasi, konsep diri, dan sebagainya. Status afeksi seseorang terdiri dari tiga komponen yaitu emosi, kognisi dan tingkah laku. Apabila dianalisis afeksi seseorang terhadap sesuatu, maka komponen emosi yang dominan sebagai perasaan subyektif yang dipunyai orang tersebut terhadap suatu obyek.3 Dalam wujudnya kenakalan anak atau remaja tersebut membawa dampak psikologis di dalam masyarakat. Sama halnya kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa, kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja ini, sudah barang tentu memiliki jenis-jenis kejahatan. Jensen membagi kenakalan anak / remaja menjadi 4 jenis, yaitu : 1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain; perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dll. 2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi ; perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dll. 3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain ; pelacuran, penyalahgunaan obat. Di Indonesia mungkin dapat juga dimasukan hubungan seks sebelum menikah dalam jenis ini. 4. Kenakalan yang melakukan status, misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya. Pada usia mereka, perilaku-perilaku mereka memang belum melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya, karena yang dilanggar adalah status-status dalam lingkungan primer ( keluarga ) dan sekunder ( sekolah ) yang memang tidak diatur oleh hukum secara terinci. Akan tetapi kalau kelak remaja ini dewasa, pelanggaran status ini dapat dilakukannya terhadap atasannya di kantor / petugas hukum di dalam masyarakat. Karena itu pelanggaran ini oleh Jensen digolongkan juga sebagai kenakalan dan bukan sekedar perilaku menyimpang4.
3

Hasballah M Saad, Perkelahian Pelajar : Potret Siswa SMU di DKI Jakarta, Galang Press, Yogyakarta, 2003, hal 11, Dikutip dari Henry Clay Lindgren, Educational Psychology in the classroom (5 th ed.), New York, John Wiley & Sons Inc, 1976, hal 98. 4 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Cetakan ketiga, PT.Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 2000, hal.200-201.

12

Kenakalan anak / remaja juga dapat digolongkan dalam dua kelompok yang besar kaitannya dengan norma hukum, yakni : 1. Kenakalan yang bersifat a-moral dan a-sosial serta tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggar hukum. 2. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku. Hal ini sama dengan perbuatan melanggar hukum bilamana perbuatan itu dilakukan oleh orang dewasa5.

Kenakalan anak atau remaja yang menurut istilah hukum sebagai

Juvenile Delinquency “, terlalu sering dilakukan oleh anak atau remaja terhadap lingkungannya. Hal ini dapat disebabakan karena anak atau remaja tersebut sedang dalam proses mencari jati diri untuk menjadi manusia dewasa. Dilain sisi, kenakalan tersebut adalah sebuah bentuk kebebasan yang tidak terkontrol oleh orang tua, masyarakat dan Negara, sehingga kenakalan tersebut cenderung kebabalasan dan menimbulkan suatu kejahatan yang melawan hukum. Sebagai dampak lain dari pesatnya kemajuan pembangunan diwilayah perkotaan. Gairah anak atau remaja didalam bersosialisasi dan berkehidupan tentunya mengalami trend pola pikir dan gaya hidup yang cenderung bebas. Adanya kesenjangan kehidupan antara satu dengan lainnya, menjadikan satu alasan lain mengapa dapat timbul kejahatan anak atau remaja. Tingkat pergaulan dengan sesama dapat menentukan kehidupan anak atau remaja tersebut. ”Dengan kata lain, ada kesenjangan ekonomi, sosial dan budaya yang terpapar setiap hari. Kesenjamgan sosial yang tajam dan empirik telah menimbukan perasaan cemburu

5

Ibid., Hal 200.

13

bagi yang tidak mampu dan pada gilirannya dapat pula menimbulkan perilaku penyimpangan sosial dengan berbagai akibatnya”.6

Persoalan rezeki, ekonomi dan kebutuhan material adakalanya menyebabkan keterjatuhan anak-anak dan remaja ke dalam jurang kebejatan moral atau tindak kriminal. Seorang sahabat bagi seseorang ibarat sebuah mobil yang membawa teman-temannya; ketika mobil itu jatuh ke jurang, maka seluruh penumpang yang berada di dalamnya niscaya akan ikut terjatuh. Bila seorang sahabat berada dalam kesesatan, secara otomatis kesesatan itu akan menular kepada orang-orang yang bersamanya7. Bagi seorang anak atau remaja, pendidikan sangatlah diperlukan untuk bekal dan kehidupannya agar jangan sampai terjerumus kedalam hal-hal yang dapat menyebabkan kenakalan sehingga dapat menimbulkan suatu tindak

kejahatan. Tidaklah mudah memberikan pendidikan kepada anak atau remaja, karena antara yang satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan karakter, sikap dan tindakan. Perbedaan diantara anak atau remaja inilah yang dapat menjadi penghambat tumbuhnya anak atau remaja yang baik budi pekertinya. Selain itu diperlukan juga adanya kemantapan dalam mendidik anak atau remaja, agar dapat berkembang dengan baik dan menjalin kontak pengertian antara pendidik dengan anak atau remaja tersebut. Adapun sebab-sebab timbulnya kesulitan-kesulitan tersebut di atas masing- masing ialah : 1. Kemalasan dan kesewenang-wenangan sang oknum pengajar itu sendiri belaka serta tidak adanya rasa tanggung jawab yang bersangkutan atas pelaksanaan tugasnya. 2. Kurangnya kemantapan atau konsistensi kerja dan berpikirnya pengajar yang bersangkutan sehingga ia mudah terpengaruh oleh berbagai saran orang lain yang dengan bulat-bulat dikabulkannya saja tanpa disaring dan
6

Sardjono Jatiman, Studi Langkah-langkah Penanggulangan Kenakalan Anak Sekolah, ( Jakarta : Departemen Kehakiman RI-Badan Pembinaan Hukum Nasional ), hal. 1. 7 Ali Qaimi, Op. Cit., hal. 5.

14

dipertimbangkan dahulu baik-buruknya serta untung-ruginya menuruti saran tersebut. Di samping itu ia pun mungkin juga begitu mudah terpengaruh oleh berbagai kebijaksanaan dan metode mengajar dari guru-guru lainnya sehingga ia hanya mencontoh-contoh saja dari metode yang satu ke metode yang lain tanpa dipikirnya lagi akibat dari caranya mengajar itu bagi para muridnya. Sebab lain yang dapat menjadi gejala penimbul kesulitan ini ialah adanya sifat pembosan pada diri pengajar yang bersangkutan. 3. Tidak adanya bakat/hobi mendidik pada orang tua atau wali anak yang bersangkutan. Hal ini dapat kita mengerti bila seandainya orang tua atau wali tersebut bukanlah seorang guru sehingga mereka tidak memiliki pandangan dan pengalaman yang cukup tentang liku-liku pendidikan serta tanggapan kejiwaan anak mereka sendiri terhadap pendidikan yang telah diperolehnya itu. 4. Kurang mempunyai atau kurang maunya sang ayah atau sang ibu itu untuk membagi dan menyediakan waktu bagi pendidikan anaknya, berhubung sudah adanya orang lain yang diandalkan sebagai penanggung jawab penuh untuk hal ini (misalkan istrinya atau suaminya atau orang lain lagi yang sudah dipercaya dan sebagainya). 5. Memang terlampau sulitnya atau terlampau beratnya mata pelajaran yang dihadapi sehingga baik bagi pihak guru maupun murid kesulitan tersebut tetap terasa meskipun kedua belah pihak telah sama-sama berusaha keras untuk mengatasinya.8 Untuk menanggulangi kenakalan anak atau remaja yang sudah menjurus pada perilaku yang bertentangan dengan perbuatan pidana, secara teori diajukan beberapa konsep tindakan, yaitu tindakan Preventif, Represif dan Kuratif. Beberapa tindakan tersebut merupakan usaha pencegahan agar masyarakat dapat terhindar dari merajalelanya kenakalan anak atau remaja dan sekurang-kurangnya merupakan pembatasan atas perkembangan kenakalan anak atau remaja. Cara-cara dalam usaha penanggulangan kejahatan antara lain yang terpenting adalah : 1. Prevensi kejahatan arti luas yang meliputi :
8

A. Ridwan Halim, Tindak Pidana Pendidikan (Suatu Tinjauan Filosofis-Edukatif), Ghalia Indonesia, Jakarta, 1985, hal.31 - 32.

15

Reformasi dan prevensi dalam arti sempit. 2. Prevensi kejahatan arti sempit meliputi : a. Moralistik : menyebarluaskan dikalangan masyarakat sarana-sarana untuk memperteguh moral dan mental seseorang agar dapat terhindar dari nafsu ingin berbuat jahat ; sarana tersebut adalah ajaran-ajaran agama, etika, budi pekerti, norma-norma sosial dll. b. Abolionistik : berusaha mencegah kemungkinan timbulnya kejahatan dengan meniadakan faktor-faktor yang terkenal sebagai penyebab timbulnya kejahatan. Umpamanya : memperbaiki ekonomi rakyat untuk mencegah kejahatan yang disebabkan oleh tekanan ekonomi (penggangguran, kelaparan) ; mempertinggi kebudayaan dan peradaban dll sebagainya. 3. Berusaha melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap kejahatan dengan berusaha menciptakan : a. Sistim, organisasi dan perlengkapan kepolisian yang baik. b. Sistem pengadilan yang efektif. c. Hukum (Perundang-undangan) yang berwibawa. d. Komisi-komisi penanggulangan kejahatan bersama dll. 4. Mencegah kejahatan dengan pengawasan dan patroli yang teratur. 5. Prevensi kenakalan anak-anak sebagai sarana pokok dalam usaha prevensi kejahatan pada umumnya.9

Kurangnya perhatian kepada anak / remaja menjadi salah satu penyebab timbulnya kenakalan. Hal ini berhubungan dengan tingkat keberfungsian sosial sebuah keluarga sebagai ruang terkecil pembentuk kepribadian dan sikap anak / remaja. Dalam fungsinya, sebuah keluarga menjadi pendorong anak / remaja. Semakin baik keluarga yang ada, maka semakin rendah tingkat kenakalan anak / remaja atau kualitas kenakalan semakin rendah dan baik pula anak / remaja yang berhasil dibentuknya. Keberfungsian sosial keluarga mengandung pengertian adanya pertukaran dan kesinambungan, serta adaptasi antara keluarga dengan anggotanya, dengan tetangganya, dan dengan lingkungan sosialnya. Kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi sebuah keluarga salah satunya jika

9

Soedjono Dirdjosisworo, Penanggulangan Kejahatan, Cetakan ketiga, Alumni, Bandung, 1983, hal 152-153.

16

berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan dan fungsinya terutama dalam sosialisasinya terhadap anggota keluarga serta mendidik dan membina anak / remaja.

F. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian dari penelitian skripsi ini adalah ; 1. Tipe penelitian. a. Penelitian Kepustakaan (Library Research). Yaitu penelitian yang berdasarkan apa yang terdapat dalam buku maupun data yang berkaitan erat dengan skripsi ini secara akurat. b. Penelitian Lapangan (Field Research). Yaitu penelitian dengan menggambarkan situasi yang sebenarnya berdasarkan fakta-fakta yang terdapat dan ditemukan dalam penelitian skripsi ini. 2. Pendekatan penelitian Pendekatan Hukum Pidana. Yaitu berdasarkan tinjauan Hukum Pidana terhadap kaitannya dengan skripsi ini berupa sanksi dan jenis-jenis ancaman pidana (sanksi). 3. Teknik pengumpulan data. a. Quisioner tertutup. Yaitu membuat pertanyaan dalam bentuk daftar dimana pertanyaan tersebut langsung diberikan kepada narasumber untuk dijawab.

17

b. Wawancara. Yaitu mewawancarai langsung baik narasumber maupun pelaku. c. Studi Dokumen. Yaitu mengumpulkan data yang dilakukan melalui data tertulis hasil penelitian dilapangan. 4. Lokasi penelitian. a. Polres Kota Bekasi. b. Pengadilan Negeri Bekasi. 5. Responden. a. Kompol Wijanarko, Sik. Sebagai KABAG BINAMITRA Polres Metro Bekasi. b. Muhammad Ali Als ILAY bin Mamit, sebagai pelaku kejahatan anak. c. Ratna Suminar, SH. MH. Sebagai Panitera Muda Hukum Pengadilan Negeri Bekasi. d. Anak / Remaja Kota Bekasi dalam batasan usia 13 – 19 Tahun. 6. Analisa data. Yaitu menganalisa data yang diperoleh dengan pengolahan data deskriptif kualitatif, yang berupa keterangan responden dan data hasil penelitian. Dianalisis dengan menerapkan teori-teori yang ada secara konsisten, sistematis, komprehesif ( menyeluruh ) dan benar.

18

G. SISTEMATIKA PENULISAN Skripsi ini di bagi dalam 5 (lima) Bab terdiri dari sub-sub bab yang diuraikan secara terperinci dan disusun secara hierarki. Sehingga yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan erat, serta uraian terdahulu dijabarkan uraian selanjutnya demikian seterusnya sehingga merupakan satu rangkaian yang tidak terputus-putus sampai kepada penyelesaian akhir. Lebih jelasnya penulis menguraikan ke dalam 5 (lima) bab tersebut BAB I :

: Merupakan pendahuluan, disini diterangkan alasan pemilihan judul, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II

:

Dalam bab ini diterangkan uraian-uraian teoritis

mengenai : pengertian anak atau remaja, pengertian kenakalan anak atau remaja, faktor-faktor yang

mempengaruhi timbulnya

kenakalan anak atau remaja,

akibat-akibat yang ditimbulkan dari kenakalan anak atau remaja, serta upaya penanggulangannya. BAB III : Dalam bab ini dibahas mengenai ketentuan hukum

tentang kenakalan anak atau remaja ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Peradilan Anak dan Undang-Undang Perlindungan Anak mengenai anak atau remaja di bawah umur, aspek

19

perlindungan terhadap

anak / remaja, serta upaya

penanggulangan kenakalan anak atau remaja di kota bekasi. BAB IV : Dalam bab ini menganalisa kasus-kasus kejahatan dan

data quesioner sebagai akibat dari timbulnya kenakalan anak atau remaja yang terjadi di kota bekasi. BAB V : Bab ini merupakan rangkaian akhir dari skripsi ini, dimana isinya merupakan rangkuman atau kesimpulan dari keseluruhan penelitian, dimulai dari bab satu sampai dengan bab lima, dan berisi saran-saran. Sebagai tambahan dicantumkan daftar kepustakaan dan lampiran-lampiran sebagai pelengkap dari skripsi ini.

20

BAB II TINJAUAN MENGENAI KENAKALAN ANAK / REMAJA

A. Pengertian Kenakalan Anak / Remaja 1. Pengertian Anak / Remaja. Masa remaja apabila diperhatikan perkembangan manusianya sejak masih berada dalam kandungan sampai dengan masa kelahiran terlihat bahwa setiap orang akan mengalami perubahan. Bila dilihat dari perubahan fisik, biasanya perubahan tersebut hampir sama antara satu dengan lainnya. Seolah-olah ada batas-batas perubahan yang sama antara satu dengan yang lainnya, selama proses perkembangan berjalan. Tetapi ketika manusia memasuki masa remaja, perkembangan antara pria dengan wanita terlihat perbedaan karena kodratnya. Hal ini disebabkan mulai bekerjanya kelenjar kelamin pada setiap remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian karena sifat-sifat khas dan perannya yang menentukan dalam kehidupan dan lingkungan orang dewasa. Masalah mengenai kenakalan anak atau remaja merupakan masalah yang selalu menarik, hal ini disebabkan karena kenakalan anak atau remaja akan selalu terjadi pada setiap generasi bangsa. Apabila berbicara tentang anak atau remaja, seringkali timbul pertanyaan, umur berapakah seseorang tersebut dikatakan remaja?. Sebenarnya batasan umur seorang remaja tidak dapat ditentukan begitu saja. Karena di samping belum ada kesepakatan pendapat diantara para ahli mengenai klasifikasi umur, juga disebabkan karena masalah tersebut bergantung

21

pada keadaan masyarakat di mana remaja tersebut hidup dan bergantung dari sudut mana pengertian itu ditinjau. Dalam pengertian yang dikemukakan oleh pakar psikologi (Dr. Kartini Kartono), remaja adalah suatu tingkatan umur, dimana seorang anak tidak lagi bersikap seperti anak-anak, tetapi belum dapat juga dipandang sebagai orang dewasa. Jadi seorang anak atau remaja adalah batasan umur yang menjembatani antara umur anak-anak dengan dewasa. Pada masa remaja ini adalah merupakan masa-masa yang rawan bagi suatu generasi. Karena pada masa ini remaja ditempatkan disuatu pilihan menuju tahap kedewasaan antara mempertahankan potensi keremajaannya dengan hal-hal negatif yang dapat membuat remaja tersebut terperosok ke dalam kenakalan. Oleh dari itu masalah kenakalan anak atau remaja ini bukanlah merupakan masalah yang baru pada tiap-tiap kehidupan generasi bangsa, serta dapat dipastikan bahwa pada masa-masa ini akan timbul suatu bentuk kenakalan antara satu dengan yang lainnya yang berbeda-beda ukuran kenakalannya. Hanya saja bentuk kenakalan tersebut tidaklah sama antara generasi satu dengan seterusnya, ada kemungkinan kenakalan anak atau remaja tersebut semakin melampaui batas-batas kewajaran nakal. Ada batasan-batasan mengenai kapan seseorang anak itu dianggap dewasa: 1. Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah dua puluh satu tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.10 2. Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu menikah. Apabila perkawinan
10

Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, (Jakarta : Departemen Agama RI-Badan Pembinaan kelembagaan Agama Islam), 2000. hal. 50.

22

dibubarkan sebelum umur mereka genap dua puluh satu tahun, maka mereka tidak kembali lagi dalam kedudukan belum dewasa.11 3. Belum cukup umur (minderjarig) karena melakukan perbuatan sebelum umur enam belas tahun.12 4. Menurut Hukum Adat “anak-anak dibawah umur” adalah mereka yang belum menunjukkan tanda-tanda fisis yang konkrit, bahwa ia telah dewasa.13 Sehubungan dengan hal tersebut Zakiah Darajat mengemukakan : Remaja adalah usia transisi seorang individu yang telah meninggalkan usia kanak-kanak, yang lemah dan penuh ketergantungan akan tetapi belum mampu ke usia dewasa yang kuat dan penuh tanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat. Banyaknya masa transisi ini bergantung kepada keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana ia hidup. Selain itu harus mempersiapkan diri untuk mampu menyesuaikan dengan masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya. Namun demikian secara sederhana dan umum menurut masyarakat maju, masa remaja itu lebih kurang antara 13 tahun dan 21 tahun.14 Setelah ditelusuri dan dilihat dari peraturan perundang-undangan, maka seseorang itu dapat diklasifikasikan sebagai seorang remaja apabila belum berumur 21 tahun atau terlebih dahulu menikah sebelumnya. Dari keterangan yang dikemukakan di atas terlihat adanya

keanekaragaman pendapat mengenai batasan umur remaja. Karena selama masa remaja akan timbul masalah-masalah yang menentukan bagaimana anak atau remaja itu bersikap dan menghadapi. 2. Pengertian Kenakalan Anak / Remaja. Kenakalan anak / remaja yang menurut istilah hukum “juvenile delinquency” bukanlah suatu pengertian yang sederhana karena pengertian ini

11

R. Subekti dan R. Tjitrosudibjo, Cetakan keduapuluh dua, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1990. hal. 76. 12 Moeljatno, Cetakan keduapuluh satu, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Bumi Aksara, Jakarta, 2001. hal.22. 13 Soedjono Dirdjosisworo, Op. Cit., hal. 230. 14 Zakiah Darajat, Pembinaan Remaja, Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hal. 10.

23

mencakup semua orang yang masih muda usianya. Kenakalan anak atau remaja berarti hal-hal yang berbeda bagi individu-individu yang berbeda dan ini berarti hal-hal yang berbeda bagi kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam hal ini hampir segala bentuk perbuatan anak atau remaja yang nyata bersifat melawan hukum dan anti sosial tidak disukai oleh masyarakat atau bahkan pula dapat merugikan orang lain dapat disebut sebagai kenakalan anak / remaja. Karena perbuatan-perbuatan anak atau remaja tersebut menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Kenakalan berasal dari kata nakal. Kata nakal mempunyai dua arti yaitu : a. Suka berbuat kurang baik (tidak menurut, menggangu, jahil dan sebagainya, terutama bagi anak-anak). b. Buruk kelakuan (lacur dan sebagainya)15

Kenakalan anak-anak terbagi dalam dua jenis ; kenakalan yang dilakukan secara sadar dan sengaja, serta kenakalan secara tidak sadar dan tanpa sengaja. 1. Dalam melakukan kenakalan secara sadar dan sengaja, pada dasarnya seorang anak memahami betul perbuatan buruk yang dilakukannya. Ia tahu bahwa dirinya tengah melakukan perbuatan tercela dan sadar terhadap apa yang diperbuatnya. Namun ia sengaja melakukan kenakalan itu demi memaksa orang tuanya untuk memenuhi keinginannya. 2. Adapun kenakalan secara tidak sadar dan tanpa sengaja terjadi di mana seorang anak melakukan perbuatan buruk tanpa memahami keburukan perbuatannya itu. barangkali ia menyangka apa yang dilakukannya demi mencapai keinginannya itu sebagai perbuatan baik. Kenakalan anak secara tidak sadar dan tanpa sengaja akan menyebabkan seorang anak memiliki sikap emosional, bahkan adakalanya sampai memicu terjadinya kelainan jiwa16.

15

B. Simanjuntak, Latar Belakang Kenakalan remaja Etiologi Juvenile Delinquency, Alumni, Bandung, 1979. hal. 20. 16 Ali Qaimi, Op. Cit., hal. 20 - 21.

24

Di Indonesia masalah kenakalan anak atau remaja ini dirasa telah mencapai tingkat yang meresahkan masyarakat. Kondisi sosial ini memberi dorongan yang kuat kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab mengenai masalah ini, baik kelompok edukatif di lingkungan sekolah dan instansi pendidikan lainnya serta kelompok pakar hukum di bidang penyuluhan dan penegakan hukum, pimpinan atau tokoh-tokoh masyarakat di bidang pembinaan kehidupan bermasyarakat dan pemerintah sebagai pembentuk kebijakan-kebijakan umum dalam membina, mencipta dan memelihara keamanan dan ketertiban di dalam lingkungan berbangsa dan bernegara. Faktor lainnya yang tidak boleh dikesampingkan adalah peranan masyarakat dan keluarga di dalam menunjang hal ini. Permasalahan mengenai pertanggung jawaban akibat kenakalan yang berpotensi menimbulkan kejahatan bagi anak di bawah umur secara langsung disinggung dalam pasal 45, 46 dan 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Perbuatan Juvenile Delinquency menurut sudut pandang ilmu hukum, teristimewa hukum pidana terdapat beberapa perbuatan yang nyata-nyata melawan hukum. Di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, banyak bukti yang menunjukkan bahwa sering kali terjadi perbuatan melawan hukum dilakukan oleh anak atau remaja. Di samping itu anak atau remaja yang melakukan perbuatan melawan hukum sering kali melakukan delik kekerasan yang pada akhirnya kenakalan anak atau remaja tersebut seringkali menjurus pada timbulnya kejahatan yang berakibat pada kejahatan terhadap nyawa dan jasmani seseorang.

25

Tidak kalah seringnya kenakalan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut meliputi kejahatan pemerasan, delik-delik ini sering dilakukan di tempat-tempat umum yang ramai dikunjungi orang. Paradigma kenakalan anak atau remaja yang mengakibatkan kejahatan lebih luas cakupannya. Kenakalan anak atau remaja tersebut saat ini meliputi perbuatan-perbuatan yang sangat meresahkan di lingkungan masyarakat, sekolah maupun keluarga. Sebagai contoh dari kenakalan ini antara lain : mencorat-coret tembok, pencurian dengan kekerasan, perkelahian antar pelajar, mengganggu wanita di jalan sehingga menimbulkan pemerkosaan atau pencabulan, sikap anak atau remaja yang memusuhi orang tuanya atau perbuatan-perbuatan lainnya yang tercela dan memprihatinkan bangsa dan Negara berupa menggunakan narkotika, pornografi dan kejahatan dunia maya (Cyber Crime).

B. Jenis-jenis Kenakalan Anak / remaja. Kenakalan dalam diri seorang anak atau remaja merupakan perkara yang lazim terjadi. Tidak seorang pun yang tidak melewati tahap / fase negatif ini atau sama sekali tidak melakukan perbuatan kenakalan. Masalah ini tidak hanya menimpa beberapa golongan anak atau remaja di suatu daerah tertentu saja. Dengan kata lain, keadaan ini terjadi di setiap tempat, lapisan dan kawasan masyarakat. Perbuatan anak atau remaja yang menimbulkan kenakalan dan bahkan menyebabkan terjadinya kejahatan dapat dilihat melalui beberapa gejala tertentu. Antara lain, adanya ketidak laziman yang berkenaan dengan pola makan,

26

bersenang-senang atau menjalankan tugas dan program pelajaran di sekolah atau instansi pendidikan lainnya. Bentuk kenakalan anak atau remaja terbagi mengikuti tiga kriteria, yaitu : “kebetulan, kadang-kadang, dan habitual sebagai kebiasaan, yang menampilkan tingkat penyesuaian dengan titik patahan yang tinggi, medium dan rendah. Klasifikasi ilmiah lainnya menggunakan penggolongan tripartite, yaitu : historis, instinktual, dan mental. Semua itu dapat saling berkombinasi. Misalnya berkenaan dengan sebab-musabab terjadinya kejahatan instinktual, bisa dilihat dari aspek keserakahan, agresivitas, seksualitas, kepecahan keluarga dan anomali-anomali dalam dorongan berkelompok”.17 Klasifikasi ini dilengkapi dengan kondisi mental, dan hasilnya menampilkan suatu bentuk anak atau remaja yang agresif, serakah, pendek pikir, sangat emosional dan tidak mampu mengenal nilai-nilai etis serta kecenderungan untuk menjatuhkan dirinya ke dalam perbuatan yang merugikan dan berbahaya. Adapun macam dan bentuk-bentuk kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja dibedakan menjadi beberapa macam : 1. Kenakalan biasa. 2. Kenakalan yang menjurus pada tindak kriminal. 3. Kenakalan khusus.18

17

Kartini Kartono, Cetakan Keenam, Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005, hal. 47.. 18 Akirom Syamsudin Meliala dan E, Sumarsono, Cetakan Pertama, Kejahatan Anak Suatu Tinjauan Dari Psikologi dan Hukum, Liberty, Yogyakarta, 1985, hal. 11.

27

Ad. 1. Kenakalan biasa. Adalah suatu bentuk kenakalan anak atau remaja yang dapat berupa berbohong, pergi keluar rumah tanpa pamit pada orang tuanya, keluyuran, berkelahi dengan teman, membuang sampah sembarangan, membolos dari sekolah dan lain sebagainya. Ad. 2. Kenakalan yang menjurus pada tindakan Kriminal. Adalah suatu bentuk kenakalan anak atau remaja yang merupakan perbuatan pidana, berupa kejahatan yang meliputi : mencuri, mencopet, menodong, menggugurkan kandungan, memperkosa, membunuh, berjudi, menonton dan mengedarkan film porno, dan lain sebagainya. Ad. 3. Kenakalan Khusus. Adalah kenakalan anak atau remaja yang diatur dalam UndangUndang Pidana khusus, seperti kejahatan narkotika, psikotropika, pencucian uang (Money Laundering), kejahatan di internet (Cyber Crime), kejahatan terhadap HAM dan sebagainya.

C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Kenakalan Anak / Remaja. Kenakalan anak atau remaja tidak timbul dan ada begitu saja dalam setiap kehidupan, karena kenakalan-kenakalan tersebut mempunyai penyebab yang merupakan faktor terjadinya kejahatan anak atau remaja. Untuk mengetahui

sebab musabab timbulnya kenakalan anak / remaja harus diperhatikan faktor-

28

faktor dari dalam diri anak / remaja tersebut, faktor keluarga, lingkungan dan halhal lainnya yang dapat mempengaruhi seseorang anak itu melakukan kenakalan. Kenakalan anak / remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri. Kenakalan anak / remaja tersebut timbul karena adanya beberapa sebab dan tiap-tiap sebab dapat ditanggulangi dengan cara-cara tertentu. Pada pendahuluan skripsi ini telah disinggung beberapa faktorfaktor yang menjadi penyebab timbulnya kenakalan tersebut, antara lain : 1. Kondisi pertumbuhan. Adakalanya kenakalan seorang anak / remaja terjadi pada tahap-tahap pertumbuhannya. Sebagaimana yang sering kita saksikan, pada tahapantahapan tertentu, sang anak mulai menunjukkan kemandiriaannya dan tidak bersedia terikat dengan aturan apapun. Ia berusaha menundukkan orang lain dan menolak mengikuti setiap perintah. Dalam mencapai kemandiriannya, sang anak melakukan kenakalan dan berulah tertentu demi melancarkan protes (dengan kata-kata) atau kritikan. Dengan cara seperti inilah, ia ingin menunjukkan kepribadiannya. Kenakalan seperti ini harus segera diperbaiki. Dan sang anak harus segera dikembalikan ke dalam kondisinya yang normal dan alamiah. 2. Kerusakan syaraf. Sebagian anak-anak, dikarenakan kerusakan syarafnya, selalu mempersulit keadaan, bersikap sensitif, dan senang mencari-cari alasan. Ia memiliki banyak keinginan dan ingin segera mewujudkannya tanpa melalui pertimbangan yang matang. Ketika keinginannya dihambat, ia akan berulah dan berbuat nakal. Kerusakan syaraf ini besar kemungkinan berasal dari faktor genetik atau kondisi lingkungan yang kurang baik. Atau terkadang bersumber dari sejumlah penyakit lainnya. 3. Tidak memperhatikan kebutuhan anak. Adakalanya kenakalan seorang anak timbul lantaran faktor orang tua, khususnya ibu, yang tidak memperhatikan segenap kebutuhannya. Misalnya, sang anak meminta makan kepada ibunya, dan ibunya itu kemudian berkata, “bersabarlah!” mendengar jawaban itu, sang anak akan mulai menangis dan merengek-rengek menuntut pemenuhan keinginannya. Atau seorang anak yang suka makan (banyak), kemudian meminta makanan dari kedua orang tuanya. Memang, orang tuanya itu tidak menghalangi atau mencegah keinginannya. Namun pemberian mereka itu masih dianggap kurang oleh sang anak. Atau seorang anak menghendaki sesuatu dari toko, dan kedua orang tuanya tidak memenuhi keinginannya

29

atau menolaknya dengan cara-cara yang kasar. Disebabkan inilah, sang anak kemudian berbuat nakal dan bersikeras untuk meraih keinginannya. 4. Pendidikan buruk. Dalam hal ini bisa dianggap pendidikan yang salah kaprah, berhubungan dengan cara pendidikan anak yang keliru, yang kemudian menimbulkan pelbagai dampak (buruk). Adakalanya seorang ibu terlampau berlebihan dalam mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Ini menjadikan sang anak bersikap manja dan tergantung kepadanya. Ketika sang anak menangis, ibunya berusaha menghentikan tangisnya dengan cara memenuhi keinginannya. Itu dilakukan agar sang anak menjadi terdiam dan tidak menangis lagi. Namun, pada masa-masa berikutnya, semua itu akan menjadi kebiasaan (buruk) bagi sang anak. Sikap inilah yang memicu sang anak untuk menangis, berbuat nakal, dan menentang perintah. 5. Faktor perasaan. Seorang anak pada umumnya haus akan kasih sayang orang tuanya serta merindukan seseorang yang mau mencurahkan perhatian kepadanya. Namun, sewaktu merasa kasih sayang yang diberikan orang tua kepadanya masih kurang, sang anak akan berusaha dengan berbagai macam cara untuk menarik perhatian dan kasih sayang orang tuanya itu. umpama, berpura-pura terjatuh ke tanah dan menangis sedih. Ia tak akan berhenti melakukannya sampai dirinya memperoleh kasih sayang yang diharapkannya. Apabila kondisi seperti ini terus dibiarkan, sementara kedua orang tuanya tidak kunjung memperhatikan kebutuhannya, niscaya ia akan melakukan kenakalan. Lebih dari itu, kondisi kejiwaan sang anak akan berada dalam bahaya dan akan dihinggapi sifat dengki atau merasa terasing di tengahtengah keluarganya sendiri. Untuk melawan kondisi semacam ini, sang anak akan selalu berbuat nakal sampai ibunya mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepadanya.

6. Penyakit kejiwaan. Sebagian penyakit kejiwaan direfleksikan dalam bentuk kenakalan, mencari-cari alasan, dan berprasangka buruk. Barangkali, masih terlalu dini bagi kita untuk membahas soal penyakit kejiwaan anak-anak. Namun kita tidak boleh lupa bahwa sebagian anak-anak telah terjangkiti sindrom skizofrenia. Di antara ciri dari sindrom atau penyakit ini adalah sikap mengasingkan diri secara ekstrem, hanyut dalam kesedihan dan kegundahan hati, serta membatasi dunia kehidupannya sendiri. Dalam beberapa keadaan, penderitanya seringkali menangis tanpa sebab. Dan sewaktu anda bertanya kepadanya tentang penyebab tangisnya, ia akan segera tutup mulut dan tidak berbicara sepatah kata pun kepada anda. Ia akan selalu berusaha

30

menumpahkan air matanya. Kadangkala, baginya sebuah perkara kecil bisa menjadi besar dan menyebabkan tangisannya. 7. Faktor kesehatan. Dalam beberapa keadaan, kenakalan seorang anak timbul lantaran faktor kesehatan. Misalnya, tiba-tiba anda melihat anak anda berteriak lantaran hal sepele, kemudian menangis dan membuat kegaduhan. Tanpa meneliti penyebabnya, anda langsung marah atau jengkel dan bahkan memukulnya. Namun selang beberapa saat, barulah anda mengerti ternyata anak anda itu tengah menderita sakit gigi atau telinganya berdarah. Sementara ia belum sempat menjelaskan keadaannya itu kepada anda. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan dan kenakalan anak saling terkait satu sama lain. 8. Faktor kejiwaan. Faktor kejiwaan tidak identik dengan penyakit kejiwaan. Namun lebih dimaksudkan dengan keinginan terhadap sesuatu yang bersumber pada sifat dasar manusia, seorang anak menghendaki kebebasan dan kemandirian, tercapainya tujuan tertentu, serta bergaya hidup tersendiri. Namun, sewaktu merasa kedua orang tuanya menghalangi keinginannya, ia lantas memikirkan cara untuk menyingkirkan penghalang tersebut. Kalau merasa tak sanggup menghancurkan penghalang dengan kata-kata atau logika, maka sang anak akan menempuh cara lain demi meraih tujuannya itu. dan demi kesuksesannya, ia tak akan sungkan-sungkan menggunakan cara-cara yang menyimpang. 9. Faktor peraturan. Dalam beberapa keadaan, penyebab kenakalan dan kekeraskepalaan anakanak berasal dari peraturan yang diberlakukan orang tua yang mempersulit keadaannya. Ya, pemaksaan kehendak hanya akan mendorong sang anak berani menentang atau melawan perintah orang tua. Mencampuri urusan anak dan membatasi kebebasannya juga dapat memicu kenakalan anak, khususnya bagi yang masih berusia 2,5 hingga tiga tahun. Memaksakan anak untuk makan atau tidur serta mengenakan pakaian tertentu, terlebih dengan menyertakan ancaman tertentu, merupakan faktor lain yang mendorong anak berbuat nakal. 10. Faktor ajaran buruk. Dari satu sisi, masalah kenakalan anak merupakan problem akhlak. Sementara pada sisi yang lain merupakan problem perasaan. Apabila kita mampu mengarahkan kenakalan sang anak sejak masih kecil, niscaya ia akan tumbuh dewasa dengan wajar dan normal. Kenakalan merupakan perilaku yang dapat menular. Karena itu, kenakalan atau perilaku buruk anggota keluarga, terutama kedua orang tua, sangat berpengaruh dalam memicu kenakalan anak. Kedua orang tua merupakan contoh (teladan) bagi anak-anaknya. Setiap anak akan meniru gerak-gerik dan perilaku orang tua atau anggota keluarga lainnya. Kadangkala, sang anak

31

mempelajari kenakalan pergaulannya.19

atau

ulah

tertentu

dari

teman-teman

Timbulnya kenakalan anak / remaja yang terjadi dalam kehidupan seharihari dapat penulis analisa karena beberapa faktor yang telah dijelaskan diatas, yaitu : Tidak memperhatikan kebutuhan anak, sehingga anak / remaja tersebut cenderung melakukan hal-hal yang melanggar peraturan, dilain sisi anak tersebut membutuhkan perhatian dari orang tua dan lingkungannya. Faktor pendidikan buruk dan Faktor ajaran buruk, yang mempengaruhi anak / remaja tersebut terjerumus dalam ajaran yang sesat, menyalahi peraturan dan bertindak diluar batas-batas kewajaran. Faktor perasaan dan Faktor kejiwaan, yang dalam hal ini setiap perbuatan nakal anak / remaja tersebut berawal dari kondisi psikologis mereka yang ditimbulkan dari rasa penasaran terhadap sesuatu tetapi mendapatkan hambatan dari pihak lain. Dan faktor peraturan, yang membuat gerak-gerik perbuatan sang anak dipersulit. Dalam hal ini keputusan orang tua yang terlalu mengekang setiap perbuatan anak / remaja tersebut. Memang benar bahwa

individu ataupun kelompok mempunyai kebebasan untuk memilih akan mematuhi atau tidak suatu sistem atau struktur kehidupan tertentu, tetapi pada hakikatnya karena situasi dan kondisi menyebabkan individu atau kelompok tersebut lebih bersedia mengikatkan diri demi kepentingannya, meskipun tindakannya itu bertentangan dengan nurani dan keyakinannya. Selain faktor-faktor diatas, masih banyak lagi faktor lainnya ; seperti tidak memperhatikan perasaan seorang anak lantaran banyaknya anak dalam keluarga, kesibukan orang tua, kekacauan dalam lingkungan keluarga sehingga menjadikan
19

Ali Qaimi, Op. Cit., hal. 33 - 37.

32

sang anak tidak merasa aman tinggal di rumah, tidak adanya kemampuan orang tua dalam menyelesaikan urusan anak-anak, ketidaksanggupan menanggung beban derita, perasaan sakit, terjadinya musibah, terjangkitnya berbagai penyakit fisik yang mengganggu pikiran sang anak, dan lain sebagainnya. Keluarga sebagai penyebab timbulnya kenakalan anak atau remaja merupakan salah satu faktor yang berperan besar. Hal ini disebabkan karena keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk membesarkan,

mendewasakan dan di dalamnya anak mendapatkan pendidikan yang pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil, akan tetapi merupakan lingkungan paling kuat dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak yang belum sekolah. Oleh karena itu keluarga memiliki peranan yang penting dalam perkembangan anak, keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek atau buruk akan berpengaruh negatif. Oleh karena sejak kecil anak atau remaja dibesarkan oleh keluarga dan untuk seterusnya. Sebagian besar waktu pertumbuhan dan perkembangan kedewasaan anak atau remaja adalah di dalam keluarga, maka sudah sepantasnya kalau kemungkinan timbulnya delinquency keluarga. Lingkungan pendidikan juga tidak dapat lepas dalam berperan serta mencegah timbulnya Juvenile Delinquency. Pendidikan nasional di Negara itu sebagian besar berasal dari

Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja

33

keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Selain itu, lingkungan pendidikan nasional Indonesia juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu dikembangkan iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif. Proses pendidikan yang kurang baik dan menguntungkan bagi

perkembangan jiwa anak atau remaja, kerap menimbulkan pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap peserta didik. Hal ini timbul karena dalam lingkungan sekolah terdiri dari berbagai macam karakter anak. Sesuai dengan keadaan seperti ini sekolah-sekolah maupun instansi pendidikan dapat menjadi sumber terjadinya konflik-konflik psikologis yang pada akhirnya menimbulkan kenakalan anak atau remaja (Juvenile Delinquency). Di lain sisi ada beberapa faktor-faktor lain yang dapat memicu terjadinya kenakalan anak atau remaja. Faktor pemicu tersebut terdiri dari faktor pemicu internal-kultural, yang berupa ketegangan psikis si anak atau remaja, kelabilan emosi, kurangnya fondasi emosional dan sebagainya. Sedangkan faktor yang lainnya adalah faktor pemicu eksternal-struktural, menyangkut masalah makro dan mikro kehidupan. Antara lain permasalahan globalisasi informasi dan komunikasi, urbanisasi, transportasi, kecemburuan sosial, kesenjangan pendidikan dan pekerjaan, pengangguran, perkembangan teknologi yang tidak tersaring, konflik di wilayah pemukiman, penggunaan narkotika, psikotropika, minuman keras dan sebagainya.

34

D.

Akibat-akibat

Dari

Kenakalan

Anak

/

Remaja

Dan

Upaya Penanggulangannya. Kenakalan anak atau remaja yang kerap kali menimbulkan banyak permasalahan di lingkungan sosial masyarakat, membawa dampak yang berakibat pada timbulnya perilaku-perilaku negatif dalam setiap kehidupannya.

Permasalahan kenakalan anak atau remaja yang menyimpang ini menyebabkan tingginya tingkat delinquency, hal ini diperparah lagi dengan lemahnya dan kurangnya pengawasan terhadap anak atau remaja di lingkungan keluarga, masyarakat serta masih lemahnya penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Perlindungan terhadap anak juga menjadi satu alasan, bahwa dengan melindungi anak atau remaja maka berarti melindungi manusia. Akibat yang timbul dari kenakalan anak atau remaja ini, memunculkan sikap was-was dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap kegiatan pasti akan selalu diliputi dengan rasa prasangka dan curiga warga masyarakat akan timbulnya kejahatan. Di lain pihak, kejahatan yang dilakukan anak atau remaja ini dapat mendorong dan mengakibatkan pelaku mengalami tekanan jiwa, depresi karena adanya penyesalan akibat kejahatan yang telah dilakukan, ditolak, diabaikan dan dibenci masyarakat. Dilain sisi hal tersebut menyebabkan pelaku cenderung menjadi penghayal, sakit fisik dan mental, agresif dan lari dari semua kenyataan hidup. Oleh karena kenakalan anak atau remaja ini menyebabkan keguncangan dalam sosial masyarakat, maka dapat terjadi pula tingkat kehidupan sosial yang menurun. Akibat dari kualitas kehidupan yang menurun inilah dapat

35

mengakibatkan meningkatnya tingkat delinquency yang disebabkan oleh anak atau remaja. Di dalam mewujudkan suatu kehidupan yang harmonis, sejahtera, adil dan makmur. Pembinaan terhadap anak atau remaja, sebagai bibit masa depan bangsa dan negara sangatlah harus dikedepankan. Hal ini merupakan sebuah bentuk kepedulian terhadap kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Permasalahan mengenai kenakalan anak atau remaja yang dapat menimbulkan tindak kejahatan memerlukan suatu cara dan upaya dalam menanggulanginya. Keluarga, masyarakat dan negara merupakan suatu lingkup kehidupan yang secara menyeluruh menaungi segala bentuk kehidupan anak dan remaja. Dalam upaya penanggulangan terhadap kenakalan anak / remaja yang dapat menimbulkan kejahatan, dilakukan upaya-upaya perbaikan baik secara internal dan eksternal.

1. Upaya disiplin dalam keluarga. Keluarga merupakan suatu lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan mendidik seorang anak atau remaja menjadi manusia dewasa seutuhnya. Kualitas rumah tempat tinggal dan lingkungannya adalah faktor eksternal yang menjadi stimulus atau rangsangan terhadap respon yang akan muncul pada anak atau remaja tersebut. Setiap stimulus / rangsangan dapat memberikan kepuasan atau ketidakpuasan pada diri anak atau remaja yang bersangkutan, dan ini menjadi salah satu dasar yang dapat mempengaruhi kecenderungan berperilaku buruk / negatif.

36

Apabila seseorang gagal dalam menumbuhkan hubungan antarpribadi atau interpersonal relationships yang baik, termasuk dengan orang tuanya sendiri, maka dia akan mengalami keadaan senang berkhayal, sakit fisik dan mental, agresif dan lari dari kenyataan hidup. Oleh karena itu, hubungan dengan orang lain, termasuk dengan orang tua, seyogyanya diwarnai oleh suatu prinsip saling menjalin komunikasi dan membangun relasi yang dapat mendorong terjadinya hubungan yang sehat. Untuk itu, dapat digambarkan pengaruh lingkungan di dalam keluarga dalam memengaruhi perkembangan psikologis anak-anaknya20 Pihak-pihak yang terdapat di dalam keluarga, baik itu orang tua, wali ataupun pengasuh harus dapat memahami semua kebutuhan anak-anaknya. Baik yang bersifat biologis maupun yang bersifat psikologis. Anak atau remaja di dalam hidupnya perlu makan, minum, pakaian dan kebutuhan lainnya. Di samping itu mereka juga memerlukan kasih sayang serta rasa aman dalam keluarga, juga perlakuan adil dari kedua orang tua sangat mereka harapkan. Keluarga memiliki peranan untuk menanamkan disiplin bagi anak sejak kecil agar setelah dewasa hal tersebut dapat menjadi kebiasaan dan menjauhkan dari bentuk delinquency. Maka upaya yang perlu dilakukan dalam lingkungan keluarga adalah membentuk disiplin pribadi yang baik, mentaati norma-norma dalam keluarga sebagai dasar berkehidupan, dan membina kehidupan keluarga dengan memberikan kasih sayang serta menciptakan rasa aman.

2. Upaya disiplin dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan manusia tidak dapat terpisahkan dari lingkungan dimana ia berada. Dalam kaitan ini, lingkungan mencakup arti yang luas, termasuk lingkungan fisik dan sosial. Lingkungan (milieu) adalah semua benda dan materi

20

Hasballah M Saad, Op. Cit.,hal. 27.

37

yang mempengaruhi hidup manusia, seperti keselamatan jasmani dan rohani, ketenangan lahir batin, kesejahteraan dan lain sebagainya. Lingkungan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan disiplin anak atau remaja. Kehidupan bermasyarakat juga tidak terlepas dari berbagai proses sosial, karena dalam lingkungan masyarakat ini, anak atau remaja dipengaruhi secara tidak langsung untuk melakukan kenakalan yang menjurus pada timbulnya kejahatan. Proses sosial di kota-kota besar, termasuk kota bekasi mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sosial yang ditimbulkan oleh berbagai macam masalah ; antara lain masalah urbanisasi, industrialisasi, kemajuan teknologi yang mengakibatkan adanya mobilitas horizontal dan mobilitas vertikal yang tinggi, sedangkan kesemuanya itu akan mempertemukan manusia-manusia dari berbagai bentuk masyarakat, suku dan bangsa di kota modern. Masing-masing karakter membawa ikatan norma hidup dan perilaku yang berbeda ataupun bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Suasana ini selain menimbulkan culture conflict, juga bisa menimbulkan suasana perbedaan kehidupan (dubicus patterns of life). Dimana manusia karena banyaknya pola kehidupan menjadi bingung, sehingga berpegangan kepada pola kehidupan yang tidak beraturan. Karena masyarakat terdiri dari individu-individu yang berbeda antara satu dengan lainnya, maka tidak mengherankan kalau pada suatu saat timbul masyarakat yang bertindak a-moral sehingga menimbulkan bentrokan satu dengan lainnya, bagaikan orang berjalan dalam gelap gulita tanpa adanya penerangan. Bentrokan-bentrokan inilah yang pada akhirnya menimbulkan kejahatan. Kondisi ini dapat menciptakan suatu kelabilan psikologis, apalagi bagi seorang

38

anak atau remaja yang telah terpengaruh oleh lingkungannya, maka dia pun tidak tanggung-tanggung dapat terjerumus dalam kejahatan pula. Masyarakat sebagai lingkungan yang menjadi pengaruh bagi perkembangan seorang anak atau remaja hendaknya dapat membina kestabilan lingkungannya. Dalam lingkungan masyarakat perlu diciptakan upaya-upaya untuk menanggulangi timbulnya kejahatan yang disebabkan oleh kenakalan anak atau remaja tersebut. Upaya-upaya yang dapat dilakukan di dalam lingkungan masyarakat dapat berupa perlindungan keamanan terhadap warganya, yakni dengan melakukan peningkatan keamanan dan ketertiban lingkungan masyarakat, melaksanakan

ronda malam untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, dalam hal ini berupa upaya peningkatan keamanan wilayah, menciptakan kerukunan antar warga masyarakat, mempertebal tali silaturahmi sesama warga masyarakat dengan menciptakan organisasi sosial masyarakat serta menciptakan pemuda-pemudi masyarakat yang berdisiplin, bertanggung jawab dan taat kepada hukum melalui kegiatan kepemudaan atau keremajaan.

3. Upaya disiplin dalam kehidupan bernegara. Negara sebagai penunjang kehidupan warganya juga tidak terlepas pula dari perannya sebagai pencipta keamanan dan ketertiban dari kebijakan yang dibentuk oleh pemerintah. Peraturan-peraturan hukum yang dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah, hendaknya tidak hanya menjadi kepentingan pihak tertentu saja. Aturan-aturan hukum tersebut baiknya mengatur secara mendasar dan menyeluruh mengenai peri kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Apabila pembentukan

39

peraturan-peraturan hukum tersebut hanya mementingkan kepada pihak-pihak tertentu saja, maka sudah dapat dipastikan bahwa kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara tidaklah dapat berjalan dengan baik. Malah ada kemungkinan besar akan tercipta berbagai macam konflik sosial yang dapat menghancurkan bangsa dan negara Indonesia. Dalam kebijaksanaannya membuat keputusan di bidang hukum,

hendaknya pemerintah memperhatikan pula mengenai dampak dari timbulnya kejahatan yang disebabkan oleh anak atau remaja ini. Anak atau remaja adalah bibit yang dikemudian hari akan menjadi pemimpin dari negara Indonesia ini. Jika keberadaan anak atau remaja tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah, rusaknya kehidupan sosial dan hancurnya kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab pemerintah itu sendiri. Masalah mengenai kenakalan anak atau remaja di Indonesia sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan. Meningkatnya tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak atau remaja adalah sebagai akibat dari bergesernya kehidupan dalam masyarakat. Jika masyarakat berubah atau bergeser, maka kejahatan pun akan selalu ada seiring dengan perubahan masyarakat tersebut, suatu hal yang sangat bijaksana apabila pemerintah beserta masyarakat mampu mencegah atau bahkan menanggulanginya. Berikut adalah beberapa upaya yang penulis dapat kemukakan sebagai bentuk dalam mencegah timbulnya kejahatan anak atau remaja : 1. Penyusunan Undang-Undang yang mengatur mengenai kejahatan tertentu, meliputi pencegahan dimana peraturan hukum tersebut melarang

40

dilakukannya suatu kriminalitas dan di dalamnya mengandung ancaman atau hukuman. 2. Melaksanakan kontrol sosial ; dalam hal ini pemerintah mengadakan

suatu perencanaan sosial yang membina kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan pada ketaatan terhadap hukum positif. 3. Menciptakan lingkungan Hukum yang berwibawa ; di lingkungan peradilan dan penegak hukum. 4. Mengadakan penyuluhan kesadaran hukum ; dalam hal ini mengenai bahaya kenakalan yang dapat menyebabkan timbulnya delinquency. 5. Menciptakan lingkungan yang baik, berupa perbaikan sistem pengawasan dalam masyarakat, perencanaan dan desain tata kota, dan menghapus segala bentuk kesempatan anak atau remaja untuk melakukan kejahatan.

41

BAB III KETENTUAN HUKUM MENGENAI KENAKALAN ANAK / REMAJA

A. Tinjauan KUHP Tentang Kenakalan Anak / Remaja. Secara yuridis formal, masalah pertanggung jawaban mengenai kenakalan anak atau remaja yang dapat menimbulkan kejahatan ini telah memperoleh pedoman yang baku dalam hukum. Pertama-tama adalah hukum pidana yang pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal, dan sebagian pasal yang bersifat embrional adalah Pasal 45, 46 dan 47 KUHP. Di samping itu KUH Perdata pun mengatur tentang kenakalan anak atau remaja terutama dalam Pasal 302 dan segala pasal yang ditunjuk serta terkait dengan masalah kenakalan anak atau remaja ini. Kondisi dualistik tersebut membawa konsekuensi logis yang berbeda di dalam sebutannya, walaupun pada prinsip dasarnya sama. Kenakalan anak atau remaja yang melawan kaedah hukum tertulis yakni dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) disebut sebagai “Anak Negara” dan sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebut sebagai “Anak Sipil”. Berkaitan dengan perbuatan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan oleh anak atau remaja di bawah usia 16 tahun, KUHP Indonesia mengaturnya dalam Pasal 45 KUHP sebagai berikut : “Dalam hal penuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa karena melakukan suatu perbuatan sebelum umur 16 tahun, hakim dapat menentukan, memerintahkan supaya yang bersalah dikembalikan kepada orang tuanya, wali atau pemeliharanya tanpa pidana apapun, atau memerintahkan supaya yang bersalah diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apapun, jika perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasarkan pasal-pasal ;

42

489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540, serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau pelanggaran tersebut di atas, dan putusannya menjadi tetap, atau menjatuhkan pidana pada yang bersalah”.21 Pasal 45 KUHP di atas dapat dipandang memadai sebagai pasal yang memuat beberapa ketentuan yuridis mengenai anak atau remaja di bawah usia 16 tahun yang telah melakukan perbuatan pidana. Ketentuan-ketentuan yang tertuang di dalamnya menyangkut syarat-syarat penuntutan serta kemungkinan-

kemungkinan yang dapat dipilih oleh hakim di dalam membuat atau memberi putusan apabila : 1. Merupakan kejahatan sebagaimana termaktub dalam buku kedua KUH Pidana. 2. Merupakan pelanggaran terhadap salah satu pasal dalam KUH Pidana ; Pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540.22 Jika dikaji dari segi syarat-syarat penuntutannya, maka Pasal 45 KUHP memuat empat (4) hal yang harus dipenuhi, yakni : 1. Anak yang dituntut belum cukup umur (minderjarig) atau lebih dikenal belum dewasa. 2. Tuntutan tersebut mengenai perbuatan pidana yang telah dilakukan oleh anak yang bersangkutan pada waktu ia belum berumur 16 tahun dan penuntutan tersebut hanya dapat dilakukan sebelum anak mencapai umur 18 tahun. 3. Perbuatan tersebut merupakan : Kejahatan-kejahatan kekerasan, pencurian, penipuan, penggelapan dan pemerasan. Salah satu pelanggaran dalam pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517, 519, 526, 531, 532, 536, dan 540 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia. 4. Belum kadaluwarsa, yakni belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran sebagaimana ditunjuk oleh pasal 45 KUHP dan putusannya menjadi tetap.23

21 22

Tim Penterjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman, KUHP, hal. 31. Sudarsono, Kenakalan Remaja, Cetakan Pertama, Rineka Cipta, Jakarta,1990, hal. 17. 23 . Ibid, hal. 24.

43

Apabila keempat syarat penuntutan tersebut sudah terpenuhi, maka hakim dapat membuat putusan berupa salah satu dari tiga kemungkinan yakni : 1. Anak yang bersangkutan dikembalikan kepada orang tua atau wali atau pengasuhnya tanpa dijatuhi pidana apapun. 2. Hakim memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada pemerintah dan tidak dijatuhi pidana apapun. 3. Hakim dapat menjatuhkan pidana.24 Kaitan dalam hal ini jika anak / remaja tersebut menjalani hukuman penjara, maka ia menjalani pidana penjara tersebut ditempat yang khusus untuk anak-anak / remaja. Dalam hal anak / remaja diserahkan kepada pemerintah dan tidak dijatuhi hukuman pidana ketentuan lebih lanjutnya diatur dalam Pasal 46, yang berisikan mengenai kemungkinan pemeliharaan anak atau remaja tersebut, yaitu : 1. Pemeliharaan anak dalam lembaga pendidikan negara. 2. Pemeliharaan anak dalam lembaga swasta. 3. Pemeliharaan anak dalam keluarga.25

Apabila hakim menjatuhkan pidana kepada anak yang bersalah, maka dalam hal ini terdapat beberapa pengecualian yang diatur secara formal dalam Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu ; 1. Jika hakim menjatuhkan pidana maka maksimal pidana pokok terhadap deliknya dikurangi 1/3. 2. Jika perbuatan merupakan kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup, maka dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun. 3. Pidana tambahan yang tersebut dalam pasal 10 sub b, nomor 1 dan 3, tidak dapat dijatuhkan.26
24 25 26

Ibid, hal. 26. Ibid, hal. 27. Ibid, hal. 28.

44

Mengenai ketentuan-ketentuan khusus anak atau remaja tersebut kendatipun mereka terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan kesalahan dalam timbulnya kejahatan atau pelanggaran, dapat diajukan ketentuan. Mengenai anak atau remaja di bawah usia 16 tahun, maka pelakunya tidak dapat dipidana. Jika dalam persidangan ternyata hakim dapat memberikan bukti-bukti yang sah dan meyakinkan tentang kesalahan anak atau remaja sebagai terdakwa, dalam hal ternyata putusan hakim dalam menyidangkan anak atau remaja di bawah umur 16 tahun Hakim tidak menjatuhkan pidana, hal ini berarti putusan hakim menyimpang dari asas hukum pidana. Putusan hakim dalam ketentuan Pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana memang cukup beralasan dengan maksud dan tujuan hukum positif. Apabila hakim menjatuhkan pidana sehingga anak atau remaja di bawah umur harus masuk penjara / Lembaga Pemasyarakatan Khusus Pemuda, akan berakibat anak atau remaja berada dalam lingkungan yang kurang baik dan ada kemungkinan anak atau remaja tersebut bergaul dengan delinquent yang lain. Pergaulan ini akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak atau remaja yang bersangkutan. Pedoman yang paling mudah dan amat sederhana untuk mengartikan suatu perbuatan tergolong kenakalan Anak / Remaja, jika perbuatan tersebut bersifat melawan Hukum, anti sosial, anti susila dan melanggar norma-norma agama yang dilakukan oleh subyek yang masih berusia remaja yang menurut pakar psikolog (Elizabeth B. Hurlock) berkisar antara umur 11 – 21 tahun, dapat diambil

kesimpulan bahwa perbuatan tersebut merupakan Kenakalan Anak / Remaja. Secara yuridis formal kenakalan anak / remaja tersebut digolongkan dalam 2 (dua)

45

alternatif, yang mana meliputi pelaku kejahatan di bawah umur 16 tahun dan pelaku kejahatan di atas umur 16 tahun.

B. Tinjauan UU Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dalam Pasal 2 menyebutkan, bahwa pengadilan anak adalah pelaksanaan kekuasaan kehakiman yang berada di lingkungan peradilan umum. Ketentuan ini sudah sejalan dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1970 (penjelasan), bahwa kemungkinan dibukanya spesialisasi pengadilan anak di lingkungan peradilan umum, ternyata benar-benar diwujudkan dengan

dibentuknya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Jauh sebelum dibentuknya Undang-Undang Peradilan Anak, Pengadilan Negeri telah menyidangkan berbagai perkara pidana yang terdakwanya anak-anak atau remaja dengan menerapkan ketentuan-ketentuan yang ada dalam KUHP dan KUHAP. Dengan mulai berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak, maka tata cara persidangan maupun penjatuhan hukuman adalah berdasarkan Undang-Undang tersebut. Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak, disebutkan bahwa pengertian anak nakal adalah : a. Anak yang melakukan tindak pidana; atau b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Dalam perundang-undangan tersebut juga diatur mengenai batasan usia anak atau remaja yang melakukan kenakalan terutama yang menyebabkan

46

terjadinya kejahatan anak atau remaja. Batasan umur anak atau remaja tergolong sangat penting dalam perkara pidana, hal ini karena dipergunakan untuk mengetahui seseorang yang diduga melakukan kejahatan termauk kategori anak / remaja atau dewasa. Mengenai batasan anak atau remaja di dalam UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 ini diatur dalam Pasal 4 ayat (1) dan (2), yakni : 1. Batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke Sidang Anak adalah sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. 2. Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada batas umur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan diajukan ke sidang pengadilan setelah anak yang bersangkutan melampaui batas umur tersebut, tetapi belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun, tetap diajukan ke Sidang Anak. Adanya penegasan mengenai batasan terhadap usia pelaku tindak pidana berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak tersebut akan menjadi pegangan bagi para petugas di lapangan, agar tidak terjadi salah tangkap, salah tahan, salah sidik, salah tuntut, maupun salah mengadili, karena menyangkut hak asasi seseorang. Dalam batasan usia ini, menurut Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak bagi anak / remaja yang usianya di bawah 8 (delapan) tahun melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, maka bagi anak / remaja tersebut diserahkan kepada penyidik untuk dilakukan pemeriksaan. Mengenai ketentuan hasil pemeriksaan ini dijelaskan dalam Pasal 5 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak : Ayat (2). Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masih dapat dibina oleh orang tua, wali, atau orang tua asuhnya, penyidik menyerahkan kembali anak tersebut kepada orang tua, wali atau orang tua asuhnya. Ayat (3). Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dibina lagi oleh orang

47

tua, wali, atau orang tua asuhnya, Penyidik menyerahkan anak tersebut kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari Pembimbing Kemasyarakatan. Mengenai sanksi hukumnya, Undang-Undang Peradilan Anak telah mengaturnya sebagaimana ditetapkan secara garis besar. Sanksi tersebut ada 2 (dua) macam berupa pidana dan tindakan. ’Terhadap Anak Nakal hanya dapat dijatuhkan pidana dan tindakan yang ditentukan dalam Undang-Undang ini’. Sanksi hukuman yang berupa pidana terdiri atas pidana pokok dan pidana tambahan. Dalam Pasal 23 diatur mengenai macam-macam pidana pokok yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah : a. b. c. d. pidana penjara; pidana kurungan; pidana denda; atau pidana pengawasan. Mengenai pidana tambahan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (3), terdiri dari dua macam, yaitu : 1. Perampasan barang-barang tertentu, dan atau 2. Pembayaran ganti rugi. Berdasarkan pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak, kepada anak / remaja nakal yang melakukan tindak pidana dapat pula dijatuhkan tindakan : a. mengembalikan kepada orang tua, wali, atau orang tua asuh; b. menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja; atau

48

c. menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bergerak dibidang pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja. Tindakan yang dijatuhkan sebagaimana putusan yang ditetapkan diatas dapat disertai pula dengan memberikan teguran dan syarat tambahan yang ditetapkan oleh hakim. Mengenai penjatuhan pidana, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 menetapkan bahwa penjatuhan pidana terdiri dari Pidana penjara, Pidana Kurungan, Pidana Denda, dan penjatuhan Pidana Bersyarat. Pasal 26 mengatur mengenai penjatuhan pidana penjara, sebagai berikut : (1) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa. (2) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun. (3) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut hanya dapat dijatuhkan tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b. (4) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana yang diancam pidana mati atau tidak diancam pidana penjara seumur hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut dijatuhkan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. Penjatuhan pidana kurungan berdasarkan putusan hakim yang dapat dijatuhkan kepada anak / remaja yang melakukan kejahatan, hanya dapat dijatuhkan paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana kurungan yang ditetapkan bagi orang dewasa. Berbeda dengan penjatuhan Pidana denda, dimana penjatuhan pidana denda ini paling banyak ½ (satu per dua) dari

49

maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa. Apabila pidana denda tersebut tidak dapat dibayar, maka diganti dengan wajib latihan kerja sebagai pengganti denda paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja tidak lebih dari 4 (empat) jam sehari serta tidak dilaksanakan pada malam hari. Pidana bersyarat dapat dijatuhkan oleh hakim, apabila pidana penjara yang dijatuhkan terhadap anak nakal tersebut paling lama 2 (dua) tahun, dan diberlakukan syarat umum dan syarat khusus. Dalam Pasal 29 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 memberlakukan jangka waktu masa pidana bersyarat adalah paling lama 3 (tiga) tahun, selama menjalani pidana bersyarat ini anak / remaja nakal tersebut diawasi oleh jaksa dan dibimbing oleh Balai Pemasyarakatan yang berstatus sebagai Klien Pemasyarakatan. Dalam hal hakim menjatuhkan Pidana pengawasan, dapat dilakukan kepada anak / remaja nakal tersebut paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun. Putusan mengenai penjatuhan Pidana penjara, Pidana kurungan, Pidana denda, Pidana bersyarat, dan Pidana pengawasan ini disesuaikan dengan ketentuan dalam Pasal 1 angka 2 huruf a mengenai anak nakal yang melakukan tindak pidana. Mengenai penempatan anak / remaja nakal yang diputus oleh hakim untuk diserahkan kepada negara, maka anak / remaja yang melakukan tindak pidana tersebut ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak sebagai Anak Negara.

50

C. Tinjauan UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Masalah perlindungan anak adalah sesuatu permasalahan yang kompleks dan dapat menimbulkan berbagai permasalahan lebih lanjut, dalam hal ini permasalahan tersebut tidak selalu dapat diatasi secara perseorangan, tetapi harus secara bersama-sama dan penyelesaiannya menjadi tanggung jawab bersama. Perlindungan anak merupakan suatu hasil interaksi karena adanya hubungan antara fenomena yang ada dan saling mempengaruhi. Masalah perlindungan anak adalah suatu masalah manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial. Pengertian mengenai manusia dan kemanusiaan merupakan faktor yang dominan dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan perlindungan anak yang merupakan permasalahan kehidupan manusia . Mengenai perlindungan anak ini, sebelum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 diberlakukan, bangsa Indonesia menggunakan Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Dalam Undang-Undang tersebut dijelaskan bahwa usaha-usaha mensejahterakan anak dan perlakuan yang adil terhadap anak sangat diperlukan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Pasal 1 butir b Undang-Undang nomor 23 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, bahwa Usaha kesejahteraan anak adalah usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan untuk menjamin terwujudnya Kesejahteraan Anak terutama terpenuhinya kebutuhan pokok anak. Pengaturan mengenai ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan perlindungan anak dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 adalah : 1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan) belas tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

51

2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam hal pengertian anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 menjabarkan mengenai penggolongan anak yang berhak mendapatkan

perlindungan. Penggolongan anak tersebut dijelaskan dalam ketentuan umum Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 butir 6 (enam) – 10 (sepuluh). Anak yang memperoleh perlindungan adalah : 6. Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. 7. Anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga menggangu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. 8. Anak yang memiliki keunggulan adalah anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, atau memiliki potensi dan/atau bakat istimewa. 9. Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan. 10. Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar.

Perlindungan Anak dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 2 berasaskan pada Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta prinsip-prinsip dasar yang diatur dalam Konvensi Hak-hak anak meliputi : a. b. c d. nondiskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak.

52

Berdasarkan pada ketentuan diatas dapat ditelaah lebih dalam, bahwa perlindungan anak / remaja tersebut merupakan suatu wujud keadilan. Mengabaikan keadilan pada anak / remaja sama halnya dengan menghancurkan masa depan bangsa. Perlindungan anak yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 mempunyai tujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi yang selama ini banyak terjadi kekerasan pada anak / remaja, agar dapat mewujudkan generasi bangsa Indonesia yang sehat, berakhlak dan sejahtera. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tidak mengatur mengenai kenakalan anak / remaja yang melakukan perbuatan melawan hukum. Dalam Undang-Undang ini mutlak bahwa anak / remaja tersebut mendapat perlindungan dari segala macam bentuk kekerasan ataupun kerugian baik fisik dan mental, yang dapat menghambat keberlangsungan hidup sang anak / remaja tersebut. Perlindungan anak / remaja ditekankan agar anak tersebut tidak tersesat di dalam kehidupannya, karena banyak anak / remaja yang dalam kehidupan sehariharinya terjebak dalam ganasnya pola perilaku menyimpang. Tereksploitasi dan menyimpang dari kaidah-kaidah hukum adalah salah satu bentuk bahwa anak / remaja tersebut tidak mendapatkan perlindungan. Permasalahan ini hendaknya menjadi permasalahan yang khusus bagi keluarga, masyarakat, dan pemerintah agar perwujudan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak ini dapat terlaksana

53

dengan baik. Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak / remaja yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia.

D. Aspek Perlindungan Terhadap Anak / Remaja Perlindungan terhadap anak / remaja sangatlah diperlukan, hal ini menyangkut keberlangsungan kehidupan anak / remaja tersebut dimasa yang akan datang. Anak / remaja sebagai tunas bangsa merupakan generasi penerus dalam pembangunan bangsa dan negara, sebagai insan yang belum dapat berdiri sendiri, perlu diadakan usaha peningkatan kesejahteraan dengan memberikan

perlindungan terhadap anak agar anak / remaja tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar, baik rohani, jasmani maupun sosial. Kehidupan anak / remaja yang terlindungi tentunya akan membawa efek positif bagi perkembangan anak / remaja tersebut, sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, dinamis, dan meningkatkan

kesejahteraan kehidupan sosial bagi seluruh anggota masyarakat yang kurang beruntung, termasuk mereka anak / remaja yang hidupnya terasing dan terbelakang. Usaha perlindungan anak / remaja ini juga dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran serta kemampuan setiap warga negara untuk ikut serta dalam meningkatkan pembangunan.

54

Aspek perlindungan anak / remaja ini ditujukan kepada anak / remaja yang bermasalah. Dalam hal ini, Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak memberikan penjelasan atas pengertian anak / remaja adalah anak yang tidak mempunyai orang tua, wali, dan kerabat lainnya, terlantar, anak / remaja yang tidak mampu, anak cacat, serta anak / remaja yang bermasalah dengan hukum. Dengan pembatasan tersebut, tidak berarti bahwa anak yang tidak termasuk dalam kriteria tersebut tidak berhak untuk memperoleh perlindungan. Semua anak / remaja adalah sama, tetapi kita harus memperhatikan bahwa kecenderungan anak / remaja tersebut berperilaku menyimpang adalah sebagai akibat dari kurangnya perhatian dan perlindungan terhadap mereka. Pasal 59 Undang-Undang Perlindungan Anak telah mengatur mengenai Anak / remaja yang dilindungi. Dijelaskan bahwa : Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran. Berdasarkan pada perincian Peraturan perundang-undangan yang

mengatur tentang Perlindungan Anak tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak / remaja Indonesia wajib dilindungi agar tidak menjadi korban tindakan

55

kepentingan individu atau kelompok, organisasi swasta maupun pemerintah baik secara langsung dan tidak langsung. Selain menjadi korban dari pihak lain, anak / remaja tersebut juga ada kemungkinan menjadi korban dari diri sendiri. Situasi dan kondisi diri sendiri yang mempengaruhi tindakan-tindakan anak / remaja tersebut berlaku menyimpang dan merugikan, sebagai akibat dari buah perbuatan orang lain atau kelompok lain.

E. Penanggulangan Kenakalan Anak / Remaja Di Kota Bekasi Juvenile Delinquency muncul sebagai masalah sosial yang semakin gawat pada masa modern sekarang, baik yang terdapat di negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka maupun di negara-negara maju yang mempunyai aturan hukum yang lebih baik. Kejahatan anak / remaja ini erat sekali kaitannya dengan modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, taraf kesejahteraan dan kemakmuran. Kejahatan adalah suatu kenyataan sosial yang sangat mengganggu kehidupan manusia dan keberadaannya tidak bisa dihindari, sehingga mau atau tidak mau kita harus menghadapinya dengan berbagai upaya. Kejahatan menimbulkan keresahan pada pemerintah dan anggota masyarakat, yang lebih memprihatinkan adalah kejahatan tersebut timbul karena kenakalan anak / remaja. Perbuatan-perbuatan yang menimbulkan gangguan terhadap keamanan,

ketentraman dan ketertiban masyarakat dapat berupa ; pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan, penipuan, penggelapan dan gelandangan, serta perbuatan-perbuatan menyimpang lainnya yang dilakukan oleh anak / remaja yang meresahkan masyarakat. Tindakan-tindakan diambil untuk mengurangi dan

56

mencegah timbulnya permasalahan tersebut, banyak dana dan tenaga telah dikerahkan untuk menanggulangi masalah kejahatan akibat kenakalan anak / remaja tersebut. Kota Bekasi sebagai daerah industri dan kota berkembang di kawasan timur ibukota, terbawa dampak dari berkembang kehidupan gaya metropolitan. Kejahatan yang dilakukan oleh anak / remaja semakin meningkat. Anak / remaja mempunyai jiwa yang labil, kecenderungan untuk melakukan kenakalan dan menjurus pada tindak kejahatan sangatlah mudah terjadi. Tindakan mereka acapkali menyimpang dari aturan hukum. Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi masyarakat, institusi, aparat penegak hukum dan perangkat negara lainnya di kota bekasi untuk dapat menyelesaikannya. Tindak delinkuen anak / remaja banyak menimbukan kerugian materiil dan kesengsaraan batin baik pada subyek pelaku sendiri maupun pada korbannya, maka masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk melakukan tindak-tindak preventif dan penanggulangan secara kuratif. Tindakan preventif yang dilakukan antara lain berupa : 1. Meningkatkan kesejahteraan keluarga. 2. Perbaikan lingkungan, yaitu daerah slum, kampung-kampung miskin. 3. Mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk memperbaiki tingkah-laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka. 4. Menyediakan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja. 5. Membentuk badan kesejahteraan anak-anak. 6. Mengadakan panti asuhan. 7. Mengadakan lembaga reformatif untuk memberikan latihan korektif, pengoreksian dan asistensi untuk hidup mandiri dan susila kepada anakanak dan para remaja yang membutuhkan. 8. Membuat badan supervisi dan pengontrol terhadap kegiatan anak delinkuen, disertai program yang korektif. 9. Mengadakan pengadilan anak.

57

10. Menyusun undang-undang khusus untuk pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja. 11. Mendirikan sekolah bagi anak gembel (miskin). 12. Mengadakan rumah tahanan khusus untuk anak dan remaja. 13. Menyelenggarakan diskusi kelompok dan bimbingan kelompok untuk membangun kontak manusiawi di antara para remaja delinkuen dengan masyarakat luar. Diskusi tersebut akan sangat bermanfaat bagi pemahaman kita mengenai jenis kesulitan dan gangguan pada diri para remaja. 14. Mendirikan tempat latihan untuk menyalurkan kreativitas para remaja delinkuen dan yang nondelinkuen. Misalnya berupa latihan vokasional, latihan hidup bermasyarakat, latihan persiapan untuk bertransmigrasi, dan lain-lain.27

Selanjutnya tindakan kuratif bagi usaha penyembuhan anak delinkuen antara lain berupa : 1. Menghilangkan semua sebab-musabab timbulnya kejahatan remaja, baik yang berupa pribadi familial, sosial ekonomis dan kultural. 2. Melakukan perubahan lingkungan dengan jalan mencarikan orang tua angkat/asuh dan memberikan fasilitas yang diperlukan bagi perkembangan jasmani dan rohani yang sehat bagi anak-anak remaja. 3. Memindahkan anak-anak nakal ke sekolah yang lebih baik, atau ke tengah lingkungan sosial yang baik. 4. Memberikan latihan bagi para remaja untuk hidup teratur, tertib dan berdisiplin. 5. Memanfaatkan waktu senggang di kamp latihan, untuk membiasakan diri bekerja, belajar dan melakukan rekreasi sehat dengan disiplin tinggi. 6. Menggiatkan organisasi pemuda dengan program-program latihan vokasional untuk mempersiapkan anak remaja delinkuen itu bagi pasaran kerja dan hidup di tengah masyarakat. 7. Memperbanyak lembaga latihan kerja dengan program kegiatan pembangunan. 8. Mendirikan klinik psikologi untuk meringankan dan memecahkan konflik emosional dan gangguan kejiwaan lainnya. Memberikan pengobatan medis dan terapi psikoanalitis bagi mereka yang menderita gangguan kejiwaan. 28 Keresahan yang ditimbulkan akibat dari kenakalan anak / remaja tersebut, menjadi tanggung jawab sepenuhnya anggota masyarakat. Juvenile Delinquency

27 28

Kartini Kartono, Op. Cit., hal. 95-96. Ibid, hal. 96-97.

58

tidak dipandang sebagai masalah yang timbul dan menimpa kelompok umur tertentu, akan tetapi dinilai sebagai problema sosial yang muncul dari kelompok kecil sebagai implikasi dari akselerasi perubahan masyarakat secara global. Norma-norma hukum yang dijadikan salah satu pedoman dalam pergaulan dan kehidupan bermasyarakat, bertujuan agar perkembangan kehidupan sosial dapat berjalan dengan stabil dan normal. Sehingga kepentingan-kepentingan individu yang beraneka ragam di dalam masyarakat dapat diselaraskan satu dengan lainnya. Norma-norma hukum pada akhirnya akan dapat menyatukan kepatutan segala bentuk perilaku di dalam masyarakat. Jika dipikirkan lebih lanjut, nampaknya ada beberapa faktor pendorong yang menjadikan norma hukum lebih dipatuhi oleh anak remaja, antara lain : 1. Dorongan yang bersifat psikologis/kejiwaan. 2. Dorongan untuk memelihara nilai-nilai moral yang luhur di dalam masyarakat. 3. Dorongan dalam upaya untuk memperoleh perlindungan hukum. 4. Dorongan untuk menghindari dari sanksi hukum.29

Kesadaran pada hukum dapat menyebabkan anak / remaja tersebut mengerti dan memahami lebih dalam segala bentuk peraturan, sanksi, dan larangannya. Para delinkuen hendaknya diarahkan agar lebih taat dan sadar hukum, kesadaran akan hukum ini tidak akan tumbuh dengan sendirinya, akan tetapi keadaan tersebut akan berevolusi seiring dengan perkembangan zaman dan mental anak / remaja itu. Dalam tahapan yang pertama, anak / remaja hendaknya diberikan pengetahuan yang cukup tentang hukum. Anak / remaja yang telah terbina dengan baik oleh aturan hukum, akan lebih mengerti hukum, kemudian
29

Sudarsono, Op.Cit., hal. 111.

59

mereka akan menghargainya dan pada akhirnya anak / remaja tersebut mampu mematuhi hukum dengan sebaik-baiknya. Dalam tingkat yang paling tinggi inilah anak / remaja telah sanggup berperilaku sesuai dengan norma-norma hukum yang berlaku. Anak / remaja yang taat dan menjalani aturan hukum dengan baik, akan menjauhkan mereka dari segala bentuk kenakalan yang bisa berakibat pada timbulnya kejahatan. Semakin baik pola perilaku anak / remaja Indonesia, maka akan semakin cerah pula kehidupan berbangsa dan bernegara menuju pembangunan yang adil dan merata di masa yang akan datang.

60

BAB IV DATA DAN ANALISA

Guna melengkapi penulisan hukum yang dilakukan ini, maka dalam bab ini penulis menyajikan data yang diperoleh selama masa penelitian berhubungan dengan kenakalan anak / remaja dalam timbulnya kejahatan di kota Bekasi. Data yang disajikan diperoleh dengan membahas permasalahan dan melalui analisa kasus yang terjadi serta penyajian dari hasil metode quesioner di lapangan. Dan kemudian dianalisa, dengan maksud untuk menemukan kebenaran sesuai dengan hukum yang berlaku..

A. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Anak / Remaja. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan di kota Bekasi yang bersumber pada data Kepolisisan Polres Metro Kota Bekasi, diperoleh data yang menjelaskan bahwa faktor-faktor penyebab timbulnya kenakalan anak / remaja adalah sebagai berikut : 1. Faktor lingkungan tempat dimana para pelaku tinggal. Hal ini dapat dibuktikan dari data yang diperoleh, bahwa pelaku tindak pidana Muhammad Ali dan Cipto Triyoko melakukan perbuatan melawan hukum karena terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya. Keadaan lingkungan yang kumuh, miskin dan terbelakang menyebabkan pelaku terbawa pada perilaku yang menyimpang.

61

2. Keadaan ekonomi yang berada dibawah standar kelayakan. Faktor ini menjadi penyebab utama mengapa pelaku melakukan perbuatan melawan hukum. Keadaan ekonomi yang buruk menjadikan mereka berbuat kebablasan hanya untuk mengejar uang atau impian yang tidak bisa dicapai, sehingga pelaku memiliki kecenderungan untuk menghalalkan segala cara meskipun perbuatan yang dilakukannya melawan hukum. 3. Keluarga yang kurang memperhatikan. Faktor ini menjadi asal mula dari timbulnya kenakalan anak / remaja tersebut, keluarga yang tidak mengerti kebutuhan anaknya menyebabkan pelaku bertindak menyimpang. Para pelaku tindak pidana ini melakukan perbuatan melawan hukum sebagai akibat dari kurangnya keluarga mereka memperhatikan keinginan sang anak.

B. Sanksi Terhadap Kejahatan Anak / Remaja Penjatuhan sanksi terhadap timbulnya kejahatan anak / remaja disesuaikan dengan tindak pidana yang dilakukan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pengadilan Negeri Kota Bekasi selama mengadakan penelitian atas kasus-kasus yang terjadi pada pelaku, terdapat kecenderungan bahwa majelis hakim menjatuhkan sanksi pidana tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan diatur dalam Perundang-undangan, ada kecenderungan majelis hakim menjatuhkan putusan lebih ringan dari yang ditetapkan dalam Undang-undang. Dalam hal ini majelis hakim menjatuhkan putusannya karena memiliki pertimbangan tersendiri mengapa putusannya lebih ringan. Majelis hakim berpendapat bahwa putusan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum atau ketentuan Perundang-

62

undangan adalah karena anak / remaja tersebut dapat dibina, diperbaiki tingkah lakunya, dihindarkan dari kegoncangan mental akibat hukuman yang dijatuhkan, dan agar hukuman yang dijatuhkan majelis hakim sekalipun lebih ringan dapat menjerakan pelaku kejahatan dan mengurangi timbulnya kejahatan anak / remaja Data penelitian menyebutkan bahwa sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap pelaku kejahatan anak / remaja, dalam hal ini kepada Muhammad Ali dan Cipto Triyoko lebih ringan dari sanksi dalam Peraturan Perundang-undangan. Terdakwa Muhammad Ali alias Ilay bin Mamit, dijatuhi pidana penjara selama 2 (dua) tahun walaupun dalam ketentuan Pasal 85 huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika adalah selama 4 (empat) tahun. Sedangkan bagi terdakwa Cipto Triyoko, dijatuhi pidana penjara selama 8 (delapan) bulan dan denda sebesar Rp.250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) denda mana jika tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan selama 10 (sepuluh) hari latihan kerja. Yang mana disebutkan dalam Pasal 78 Ayat (1) huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).

C. Usaha-usaha Aparat Penegak Hukum Terhadap Timbulnya Kejahatan Anak / Remaja. Dalam menanggulangi timbulnya kejahatan anak / remaja, aparat penegak hukum di kota bekasi telah melakukan beberapa tindakan yaitu upaya Preventif, Represif dan Kuratif. Usaha-usaha pencegahan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dilaksanakan oleh pihak kepolisian dan Pengadilan Negeri kota

63

bekasi. Dalam menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum, Pihak Kepolisian dan Pengadilan Negeri kota bekasi didasarkan pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang ada. Dalam upayanya untuk menjaga dan melindungi warga masyarakat kota bekasi dari ancaman kejahatan yang ditimbukan oleh anak / remaja ini, aparat penegak hukum khususnya Kepolisian Resort Metro bekasi bagian Reskrim telah mengupayakan cara penanggulangan seperti yang telah dijelaskan di atas. Baik itu dalam tindakan preventif dan represif. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian adalah dengan cara : a. Melaksanakan pembinaan dan penyuluhan ke sekolah-sekolah tentang : 1. Kenakalan remaja. 2. Narkoba. 3. Pengetahuan lalu lintas 4. Kamtibmas. b. Melaksanakan operasi penertiban (pemeriksaan tas siswa-siswi) di sekolah. c. Melaksanakan patroli dan sambang pada jam-jam rawan perkelahian pelajar. d. Pembentukan PKS (Patroli Keamanan Sekolah).30

Pihak Pengadilan Negeri dalam upayanya menanggulangi kejahatan anak adalah menjatuhkan putusan atas timbulnya perkara pidana yang dilakukan oleh anak / remaja tersebut. Dalam hal ini majelis hakim menjatuhkan putusan pengadilan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan meskipun kadangkala tidak menjatuhkan pidana apapun karena pertimbangan kemanusiaan, dalam upaya mengembalikan anak / remaja tersebut kembali kejalan yang benar dan tidak mengulangi lagi perbuatannya.

30

Wawancara dengan Kepala Bagian RESKRIM Polrestro kota bekasi, Oktober 2006.

64

D. Penyajian Kasus Perkara Pidana dan Data Hasil Quesioner 1. Kasus Perkara Pidana Nomor 1065/Pen.Pid/2005/PN.Bks. Di

Pengadilan Negeri Bekasi. Pengadilan Negeri bekasi dalam sidang pengadilan hari senin, tanggal 21 November 2005 telah memeriksa dan mengadili serta memutus perkara pidana tanpa hak menggunakan narkotik golongan I, yang dilakukan oleh terdakwa : Nama lengkap Tempat lahir Umur atau tanggal lahir Jenis kelamin Kebangsaan Tempat tinggal : Muhammad Ali Als Ilay bin Mamit : Bekasi : 19 Tahun : Laki-laki : Indonesia : Jl. Flamboyan Rt 07/07 No.39 Ds. Jatimulya kec. Tambun Selatan. Bekasi. Agama Pekerjaan Dakwaan JPU : Islam : Belum Bekerja :

a. Primair Pasal 78 Ayat (1) UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika. b. Subsidair Pasal 85 huruf a UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Tuntutan JPU :

1. Menyatakan Dakwaan Primair berdasarkan Pasal 78 Ayat (1) huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 tidak terbukti dan tidak dapat dibuktikan. 2. Menyatakan Dakwaan Subsidair berdasarkan Pasal 85 huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 telah terpenuhi dan terbukti secara meyakinkan,

65

yaitu terdakwa tanpa hak dan melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan I bagi diri sendiri. 3. Menyatakan menghukum terdakwa Muhammad Ali alias Ilay bin Mamit dengan hukuman penjara selama 2 tahun, dikurangi tahanan sementara. 4. Menyatakan dimusnahkan. 5. Menghukum terdakwa membayar biaya perkara Rp.1000 (Seribu Rupiah). Putusan Hakim : barang bukti Ganja 0,6159 gram dirampas untuk

1. Menyatakan terdakwa Muhammad Ali als. ILAY bin Mamit tersebut diatas telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : “Tanpa hak menggunakan narkotik golongan I (satu)”. 2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun. 3. Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari perkara yang telah dijatuhkan padanya. 4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan Lembaga Pemasyarakatan di bekasi. 5. Menetapkan agar barang bukti berupa : Ganja 0,6159 gram dirampas untuk dimusnahkan. 6. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.1000,- (seribu rupiah).

66

Analisa Setelah mempelajari kasus perkara pidana “Tanpa hak menggunakan Narkotika golongan I ( satu )” yang telah diperiksa, dilalui dan diputus oleh Pengadilan Negeri Bekasi, maka penulis dapat menganalisa data tersebut di atas sebagai berikut : 1. Terdakwa yang masih berusia 19 (sembilan belas) Tahun, jika berdasarkan pada aturan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tidak digolongkan sebagai anak / remaja. Tetapi jika ditinjau dari ketentuan peraturan perundang-undangan lain yang berlaku (KUH Perdata dan Inpres RI Nomor 1 Tahun 1991) dapat digolongkan sebagai anak / remaja. 2. Bahwa penyusun menilai putusan majelis hakim / putusan Pengadilan tersebut dinilai masih sangat ringan yaitu lamanya masa penahanan yang pernah dijalani terdakwa itu masih harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Selain itu penjatuhan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dapat penyusun simpulkan terlalu singkat dibandingkan dengan lamanya hukuman yang ditentukan dalam Pasal 78 ayat (1) huruf b yakni pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) serta ketentuan dalam Pasal 85 huruf a UU RI Nomor 22 Tahun 1997 yakni 4 (empat) tahun. Namun tindakan majelis hakim tersebut juga dihubungkan dengan upaya penanggulangan bagi timbulnya kenakalan anak / remaja yang berupa cara preventif dan represif. Bersifat represif karena dengan putusan yang dijatuhkan tersebut maka sisa hukuman yang harus dijalani oleh terdakwa

67

tidak terlalu lama, sedangkan selama di tingkat penyidik (kepolisian) terdahulu terdakwa memperoleh penangguhan penahanan, sehingga dalam masa penangguhan penahanan dan menjalani hukuman itu terdakwa dapat memperbaiki diri dan bertindak hati-hati agar tidak melakukan / mengulangi tindak pidana lagi. Bersifat represif karena pengadilan / majelis hakim tetap menjatuhkan pidana kepada terdakwa meskipun terdakwa masih dikategorikan sebagai anak / remaja, sehingga terdakwa dapat memahami bahwa rimi tidak memandang status seseorang dan

memahami bahwa perbuatannya itu dapat diancam dan dijatuhi sanksi pidana. 3. Bahwa dalam putusan majelis hakim terhadap terdakwa yaitu tetap berada dalam tahanan dan diserahkan kepada pemerintah. Putusan tersebut dapat dibenarkan oleh aturan Berdasarkan aturan rimi pidana yang diterapkan bagi anak / remaja.

rimi pidana adalah bahwa si anak / remaja yang

terlibat tindak pidana masih diharapkan untuk dibinan dan dididik oleh pemerintah agar menjadi manusia yang baik serta membantu pemerintah dalam hal memerangi peredaran dan penggunaan Narkotika. 4. Bahwa jika ditinjau dari bentuk perbuatannya, maka perbuatan terdakwa tersebut merupakan perbuatan / tindak pidana dan dapat dikatakan sebagai kejahatan. Hal ini dapat ditarik berdasarkan tuduhan jaksa penuntut umum dan putusan majelis hakim yang menyatakan bahwa terdakwa melakukan perbuatan pidana menggunakan narkotika Golongan I bagi diri sendiri,

68

sebagaimana diatur dalam Pasal 85 huruf a Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

2. Kasus

Perkara

Pidana

Nomor

2075/PID.B/2006/PN.Bks.

Di

Pengadilan Negeri Bekasi. Pengadilan Negeri bekasi dalam rimin pengadilan hari Kamis, tanggal

14 Desember 2006 telah memeriksa dan mengadili serta memutus perkara pidana tanpa hak dan melawan rimi mencoba menyerahkan Narkotika golongan I jenis

ganja, yang dilakukan oleh terdakwa : Nama lengkap Tempat lahir Umur atau tanggal lahir Jenis kelamin Kebangsaan Tempat tinggal : Cipto Triyoko : Purwokerto : 17 Tahun : Laki-laki : Indonesia : Kp. Bojong Tua Rt. 002/14, Kel. Jatiwaringin, Kec. Pondok Gede, Bekasi. Agama Pekerjaan Dakwaan JPU : Islam : Swasta :

a. Primair Pasal 83 UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika. b. Subsidair Pasal 78 Ayat (1) UU RI No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

69

Tuntutan JPU

:

1. Menyatakan terdakwa Cipto Triyoko telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “tanpa hak dan melawan rimi mencoba menyerahkan Narkotika Golongan I” sebagaimana diatur dan diancam Pidana dalam Pasal 83 UU RI Nomor 22 Tahun 1997. 2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dikurangi selama dalam tahanan. Denda : Rp. 500.000,Subsider : 15 hari latihan kerja. 3. Menetapkan barang bukti berupa daun ganja kering sebanyak 0,3850 (nol koma tiga ribu delapan ratus lima puluh) gram dirampas untuk dimusnahkan. 4. Menetapkan supaya terdakwa tetap ditahan dan membebankan terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 1000,Putusan Hakim :

1. Menyatakan terdakwa Cipto Triyoko tersebut diatas telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : “Tanpa hak dan melawan ganja”. 2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 8 ( delapan ) bulan dan denda sebesar Rp.250.000,- ( dua ratus lima puluh ribu rupiah ). Denda mana jika tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan selama : 10 ( sepuluh ) hari latihan kerja. rimi mencoba menyerahkan Narkotik golongan I (satu) jenis

70

3. Menetapkan bahwa masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari perkara yang telah dijatuhkan padanya. 4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan Lembaga Pemasyarakatan di bekasi. 5. Menetapkan agar barang bukti berupa : Daun ganja kering sebanyak 0,3850 ( nol koma tiga ribu delapan ratus lima puluh ) gram dirampas untuk dimusnahkan. 6. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp.1000,- (seribu rupiah). Analisa Setelah mempelajari kasus perkara pidana kedua “ Tanpa hak dan melawan rimi mencoba menyerahkan Narkotika golongan I ( satu ) jenis ganja”

yang telah diperiksa, dilalui dan diputus oleh majelis hakim Pengadilan Negeri kota Bekasi, maka penulis dapat menganalisa data tersebut di atas sebagai berikut: 1. Bahwa terdakwa yang masih berusia 17 ( tujuh belas ) Tahun, jika dihubungkan dengan riminal secara biologis maupun yuridis ( menurut

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, KUH Perdata, Inpres RI Nomor 1 Tahun 1991 dan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ) dapat digolongkan sebagai anak / remaja. 2. Bahwa penyusun menilai putusan majelis hakim / putusan Pengadilan Negeri Bekasi tersebut dinilai masih teramat ringan yaitu lamanya masa penahanan yang pernah dijalani terdakwa itu masih harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Selain itu penjatuhan pidana selama 8 ( delapan )

71

bulan penjara disertai dengan denda sebesar Rp.250.000,- ( dua ratus lima puluh ribu rupiah ), denda mana jika tidak dibayar harus diganti dengan pidana kurungan selama 10 ( sepuluh ) hari latihan kerja dapat penulis simpulkan masih terlalu ringan, meskipun terdakwa hanya mencoba untuk menyerahkan Narkotika golongan I ( satu ) jenis ganja riminal r dengan lamanya

hukuman yang ditentukan dalam Pasal 78 ayat 1 ( satu ) huruf b yakni pidana penjara paling lama 10 ( sepuluh ) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,- ( lima ratus juta rupiah ). Namun tindakan majelis hakim tersebut dapat penyusun analisa sebagai bentuk upaya penanggulangan timbulnya kenakalan anak / remaja dengan cara preventif dan represif. Selain itu agar terdakwa memahami bahwa perbuatannya melawan menimbulkan efek jera untuk tidak mengulanginya kembali. 3. Bahwa putusan majelis hakim terhadap terdakwa agar tetap berada dalam tahanan dan diserahkan kepada pemerintah. Putusan tersebut dapat dibenarkan oleh aturan pada aturan rimi pidana yang diterapkan bagi anak / remaja. Berdasarkan rimi pidana adalah bahwa anak / remaja tersebut yang terlibat rimi dan

dalam tindak pidana diharapkan untuk dibina dan dididik oleh pemerintah agar dapat menjadi manusia yang baik serta membantu pemerintah dalam hal mengurangi kenakalan anak / remaja pada umumnya dan memerangi peredaran serta penggunaan narkotika pada khususnya. 4. Bahwa jika ditinjau dari bentuk perbuatannya, maka perbuatan terdakwa tersebut merupakan perbuatan / tindak pidana. Hal ini dapat ditarik berdasarkan tuduhan jaksa penuntut umum dan putusan majelis hakim yang

72

menyatakan bahwa terdakwa bersalah melakukan perbuatan pidana tanpa hak dan melawan rimi mencoba menyerahkan Narkotika golongan I ( satu )

sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

3. Hasil Penelitian Menggunakan Metode Quesioner. Kenakalan anak / remaja dalam studi masalah rimin dapat dikategorikan

ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah rimin terjadi karena penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan ataupun dari nilai dan norma rimin

rimin yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat rimin

dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya rimin dan penegakan rimi positif.

Metode yang digunakan dalam penulisan metode

rimi ini adalah menggunakan

riminal r, yaitu memperoleh sample secara acak dengan memberikan

daftar pertanyaan dan isian kepada narasumber. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ingin mempelajari dan mengetahui masalah-masalah rimin dalam suatu masyarakat, yang dalam kenyataannya tidak terbuka secara umum. Juga memperoleh fenomena dari kejadian yang ada. Cara pemilihan rimin yang dilakukan adalah dengan memilih responden

yang berstatus anak / remaja. Responden dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia antara 13 tahun-19 tahun. Mengingat pengertian anak / remaja dalam Peraturan Perundang-undangan (KUH Perdata) adalah mereka yang belum berumur 21 tahun dan belum menikah. Dengan pertimbangan pada usia

73

tersebut, terdapat berbagai masalah dan krisis diantaranya ; krisis identitas, kecanduan narkotik, kenakalan, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah ataupun lingkungannya, konflik mental dan terlibat kejahatan.

a. Bentuk Kenakalan Yang Dilakukan Oleh Responden Berdasarkan data yang penulis peroleh di lapangan dengan cara mengajukan daftar pertanyaan (Quesioner) kepada narasumber, dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan anak atau remaja sebagai salah satu perbuatan yang menyimpang dan cenderung menimbulkan kejahatan dengan keberfungsian rimin di Kota Bekasi. Adapun ukuran yang dipergunakan penulis untuk mengetahui kenakalan anak atau remaja seperti yang disebutkan dalam skripsi ini, yaitu : (1) Kenakalan Biasa, (2) Kenakalan yang menjurus pada tindak riminal,

dan (3) Kenakalan Khusus yang pengaturannya terdapat dalam Hukum Pidana Khusus. Responden dalam penelitian menggunakan metode Quesioner ini berjumlah 50 orang, dengan jenis kelamin laki-laki 30 responden, dan perempuan 20 responden. Mereka berusia antara 13 tahun – 19 tahun. Terbanyak adalah mereka yang berumur 16 tahun – 18 tahun.

Tabel 1.Bentuk Kenakalan Anak / Remaja Yang Dilakukan Responden (n=50)
No. 1 2 3 4 5 6 7 Bentuk Kenakalan / Kejahatan Berbohong Pergi dari rumah tanpa pamit Keluyuran Begadang Membolos sekolah Berkelahi dengan teman Berkelahi antar sekolah X 50 46 49 49 45 47 19 % 100 92 98 98 90 94 38 Y 0 4 1 1 5 3 31 % 0 8 2 2 10 6 62

74

8 Buang sampah sembarangan 50 9 Membaca buku porno 37 10 Melihat gambar porno 47 11 Menonton film porno 46 12 Mengendarai kendaraan tanpa SIM 46 13 Kebut-kebutan 39 14 Minum-minuman keras 28 15 Kumpul kebo 12 16 Hubungan sex pra-nikah 10 17 Mencuri 28 18 Mencopet 10 19 Menodong 12 20 Menggugurkan kandungan 4 21 Memperkosa 3 22 Berjudi 34 23 Menyalahgunakan narkotika / psikotropika 20 24 Membunuh 2 25 Money Laundering 3 26 Cyber crime 3 Keterangan : n : Jumlah responden X : Jumlah responden yang melakukan bentuk kenakalan Y : Jumlah responden yang tidak melakukan bentuk kenakalan Sumber : Data Quesioner Anak / Remaja Kota Bekasi, 2006

100 74 94 92 92 78 56 24 20 56 20 24 8 6 68 40 4 6 6

0 13 3 4 4 11 22 38 40 22 40 38 46 47 16 30 48 47 47

0 26 6 8 8 22 44 76 80 44 80 76 92 94 32 60 96 94 94

Dengan tabel diatas dijelaskan bahwa seluruh responden pernah melakukan kenakalan, terutama pada tingkat kenakalan biasa seperti berbohong, pergi keluar rumah tanpa pamit kepada orang tuanya, keluyuran, begadang, membolos sekolah dan jenis kenakalan biasa lainnya. Pada tingkat kenakalan yang menjurus pada timbulnya tindak kriminal seperti mengendarai kendaraan tanpa SIM, kebut-kebutan, minum-minuman keras, mencuri, juga cukup banyak dilakukan oleh responden. Bahkan pada kenakalan khusus pun banyak pula dilakukan oleh responden dalam penelitian ini. Diantaranya adalah hubungan sex pra-nikah, menggugurkan kandungan, memperkosa, menyalahgunakan narkotika, hingga timbulnya kejahatan khusus seperti money laundering dan cyber crime meskipun bentuk kenakalan ini persentasenya sangat kecil. Keadaan yang

75

memperparah lingkungan sosial dimana responden tinggal adalah terdapat beberapa diantara responden yang melakukan hubungan sex pra-nikah dan kumpul kebo. Keadaan yang demikian cukup mengkhawatirkan jika tidak segera ditanggulangi, ada kemungkinan dapat membahayakan baik bagi pelaku, keluarga, maupun lingkungan sosial dimana anak atau remaja tersebut bertempat tinggal. Karena hal tersebut dapat menimbulkan masalah sosial di kemudian hari yang semakin kompleks, semisal timbulnya sex bebas.

a.1. Hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan Salah satu hubungan variabel yang disajikan dalam penelitian ini adalah hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan anak atau remaja yang menimbulkan kejahatan. Hal ini untuk mengetahui apakah anak atau remaja lakilaki lebih nakal daripada anak atau remaja perempuan atau probalitasnya adalah sama. Berdasarkan tabel hubungan diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 2. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan bentuk kenakalan (n=50)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bentuk Kenakalan / Kejahatan Berbohong Pergi dari rumah tanpa pamit Keluyuran Begadang Membolos sekolah Berkelahi dengan teman Berkelahi antar sekolah Buang sampah sembarangan Membaca buku porno Melihat gambar porno Menonton film porno Mengendarai kendaraan tanpa SIM Laki-laki 30 27 30 30 29 28 16 30 23 29 29 29 Jenis % 60 54 60 60 58 56 32 60 46 58 58 58 Kelamin Perempuan 20 19 19 19 16 19 3 20 14 18 17 17

% 40 38 38 38 32 38 6 40 28 36 34 34

76

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Kebut-kebutan Minum-minuman keras Kumpul kebo Hubungan sex pra-nikah Mencuri Mencopet Menodong Menggugurkan kandungan Memperkosa Berjudi Menyalahgunakan narkotika / psikotropika Membunuh Money Laundering Cyber crime

25 22 9 7 19 6 9 3 3 26 15 2 2 3

50 44 18 14 38 12 18 6 6 52 30 4 4 6

14 6 3 3 9 4 3 1 0 8 5 0 1 0

28 12 6 6 18 8 6 2 0 16 10 0 2 0

Sumber : Data Quesioner Anak / Remaja Kota Bekasi, 2006

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat ditarik kesimpulan bahwa anak atau remaja laki-laki lebih cenderung melakukan perbuatan kenakalan dibanding dengan anak atau remaja perempuan. Dengan demikian maka anak atau remaja laki-laki memiliki kecenderungan untuk melakukan kenakalan yang menjurus pada kejahatan lebih dibandingkan dengan anak atau remaja perempuan.

b.1. Hubungan antara pekerjaan responden dengan tingkat kenakalan. Berdasarkan data yang diperoleh, pekerjaan responden adalah pelajar. Masing-masing terdiri atas pelajar SLTP, SLTA/SMU, SMK dan Mahasiswa. Tabel 3. Pekerjaan responden dengan Tingkat kenakalan (n=50)
No 1 2 3 4 Sumber : Data Primer Tingkat Pendidikan SLTP SLTA / SMU SMK Mahasiswa n 1 40 6 3 50 % 2 80 12 6 100

77

Data diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkatan pendidikan tidak menjamin bahwa anak atau remaja tersebut tidak akan melakukan kenakalan (Mahasiswa 6%). Faktor yang kuat menyebabkan terjadinya delinquency yaitu karena adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik, untuk kegiatan positif, dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman bermainnya atau faktor lingkungan sosial yang sangat besar pengaruhnya. Hal ini dapat

dikaitkan dengan kesimpulan yang diperoleh berdasarkan data dari pihak Kepolisian Metro Bekasi.

c.1. Hubungan antara keberfungsian sosial keluarga dengan tingkat kenakalan. Keberfungsian sosial keluarga merupakan pendorong terjadi timbulnya kenakalan anak atau remaja. Dalam hal ini diuraikan mengenai bagaimanakah suatu lingkungan sosial keluarga berperan penting dalam melaksanakan fungsi kehidupan, peranan dan tugasnya serta peranannya dalam membina anak atau remaja memenuhi kebutuhannya.

c.1.1 Hubungan antara pekerjaan orang tua anak / remaja dengan tingkat kenakalan. Untuk mengetahui apakah kenakalan anak atau remaja juga ada hubungannya dengan pekerjaan orang tuanya, dalam arti tingkat pemenuhan kebutuhan hidup sang anak atau remaja tersebut. Karena pekerjaan orang tua dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini perlu untuk diketahui karena dalam keberfungsian sosial,

78

salah satunya adalah mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Berdasarkan dari data yang penulis peroleh selama mengadakan penelitian ini, diperoleh data berdasarkan pekerjaan orang tuanya adalah sebagai berikut : Tabel 4. Pekerjaan Orang tua dengan Tingkat kenakalan (n=50)
No 1 2 3 4 5 6 Pekerjaan Orang Tua Pegawai Negeri Sipil Wiraswasta Pensiunan Karyawan Pegawai Swasta Buruh Pabrik n 21 19 5 3 1 1 50 % 42 38 10 6 2 2 100

Keterangan : n : Jumlah Pekerjaan Orang tua responden Sumber : Data Primer

Dari korelasi diatas diketahui bahwa kecenderungan anak atau remaja yang orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil lebih cenderung melakukan kenakalan bila dibandingkan dengan anak atau remaja yang orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta, pensiunan, karyawan, pegawai swasta dan buruh. Hal ini berarti pekerjaan orang tua anak atau remaja tersebut, berhubungan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak atau remaja tersebut. Keadaan yang demikian karena kemungkinan bagi orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, lebih memperhatikan anaknya untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Tetapi kesibukannya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, membuat berkurangnya perhatian pada anak atau remaja tersebut. Kurangnya penanaman moral dan nilai-nilai sosial kepada anaknya, menyebabkan anak atau remaja lebih terfokus pada kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan normatif, sehingga besar kemungkinan terjadinya delinquency.

79

c.1.2. Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan. Keutuhan keluarga seorang anak atau remaja dapat berpengaruh terhadap sifat dan kelakuan anak atau remaja dalam timbulnya kenakalan. Dalam arti yang sempit, kenakalan anak atau remaja tersebut berasal dari keluarga yang tidak utuh, baik dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di lingkungan keluarga. Tabel 5. Keutuhan Keluarga dengan Tingkat Kenakalan (n-50)
No 1 2 Keutuhan Keluarga Harmonis & Utuh Harmonis & Tidak Utuh n 41 9 50 % 82 18 100

Keterangan : n : Jumlah bentuk keutuhan keluarga responden Sumber : Data Primer

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ternyata keutuhan suatu lingkungan keluarga tidak menjamin bagi anak atau remaja untuk tidak melakukan kenakalan.

c.1.3. Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat kenakalan. Kehidupan beragama keluarga juga dapat dijadikan salah satu ukuran untuk melihat keberfungsian sosial suatu keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian sosial juga dilihat dari segi kerohanian. Keluarga yang menjalankan kewajiban-kewajiban agama dengan baik, berarti mereka menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Secara teoritis bagi keluarga yang menjalankan kewajiban beragama dengan baik, maka anak-anaknya pun akan melakukan hal-hal yang

80

baik sesuai dengan norma agama. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut : Tabel 6. Kehidupan beragama keluarga dengan tingkat kenakalan (n=50)
No 1 2 Kehidupan Beragama Keluarga Keluarga Taat Beragama Keluarga Kurang & Tidak Taat Beragama n 38 12 50 % 76 24 100

Keterangan : n : Jumlah bentuk kehidupan beragama keluarga responden Sumber : Data Primer

Dengan demikian kenakalan tidak hanya timbul begitu saja karena keluarga yang kurang dan tidak taat beragama. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa timbulnya kenakalan, terbanyak berasal dari keluarga yang taat beragama. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya memberikan pendidikan kepada anak atau remaja tersebut. Ada kemungkinan besar bahwa keluarga tersebut taat menjalankan kewajiban beragama, tetapi anak atau remajanya tidak menjalankan.

c.1.4. Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anak dengan tingkat kenakalan. Salah satu sebab kenakalan anak atau remaja dalam timbulnya kejahatan adalah sikap orang tua dalam mendidik anaknya. Hubungan antara sikap orang tua dengan pendidikan anak sangat berperan. Tabel 7. Sikap Orang tua dalam Pendidikan anak (n=50)
No 1 2 3 Sikap Orang Tua dalam Pendidikan Anak Otoriter Over Protection Kurang Memperhatikan n 16 16 14 % 32 32 28

81

4

Tidak Memperhatikan sama sekali

4 50

8 100

Keterangan : n : Jumlah hubungan sikap orang tua responden dalam pendidikan anak Sumber : Data Primer

Dari data peneltian dapat disimpulkan bahwa sikap orang tua yang otoriter dan over protection, menyebabkan terjadinya kenakalan anak atau remaja. Sikap orang tua yang kurang memperhatikan kehidupan anak atau remaja juga perlu dipertimbangkan, karena apabila orang tua kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya, ada kemungkinan sang anak atau remaja tersebut semakin terjerumus melakukan delinquency.

c.1.5. Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya terhadap tingkat kenakalan. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan antara keluarga dengan masyarakat adalah terciptanya keserasian, karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan ketentraman. Apabila hal tersebut tidak dapat diciptakan, maka proses sosialisasi anak atau remaja juga tidak dapat berjalan dengan baik dan sebaliknya. Dari data dilapangan, diperoleh hasil : Tabel 8. Hubungan Interaksi keluarga dengan Lingkungan terhadap tingkat kenakalan (n=50)
No 1 2 3 Hubungan Interaksi keluarga dengan Lingkungan Serasi dengan Lingkungan Kurang serasi dengan Lingkungan Tidak serasi dengan Lingkungan n 35 12 3 50 % 70 24 6 100

82

Keterangan : n : Jumlah bentuk interaksi keluarga responden dengan lingkungan Sumber : Data Primer

Dari data diperoleh, bahwa timbulnya kenakalan anak atau remaja lebih banyak berasal dari keluarga yang serasi dengan lingkungan sosialnya. Hasil ini lebih banyak daripada keluarga yang kurang serasi dan keluarga yang tidak serasi.

Analisa Berdasarkan dari data yang penulis dapatkan dilapangan, dapat diambil kesimpulan bahwa timbulnya kenakalan anak atau remaja yang menimbulkan kejahatan disebabkan karena banyaknya waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan positif oleh anak atau remaja tersebut. Dilain itu faktor keluarga dan lingkungan juga sangat berpengaruh besar dalam timbulnya kenakalan. Keluarga yang harmonis dan utuh, belum tentu menjamin bahwa anak atau remaja tidak akan terjerumus dalam kenakalan, begitu pula dengan keluarga yang taat menjalankan kewajiban beragama. Meskipun keluarganya adalah keluarga yang taat beragama, bila anaknya memang memiliki mental yang bobrok sekalipun akan sangat berat menjauhkan anak atau remaja tersebut dari kenakalan. Berdasarkan kenyataan yang ada, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan anak atau remaja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Yaitu dengan meningkatkan fungsi sosial keluarga terhadap anak-anaknya melalui pembinaan yang baik, memberikan perhatian yang adil dan seimbang dengan kebutuhan anak, penanaman pendidikan agama yang baik, dan meningkatkan budaya sadar hukum dalam lingkungan keluarga. Dalam hubungannya dengan

83

masyarakat, melalui peningkatan program-program sosial yang berorientasi pada keluarga dan pembangunan sosial masyarakat. Di samping itu untuk memperkecil penyimpangan anak atau remaja, diperlukan banyak kegiatan positif dalam mengisi waktu luang dan pengadaan program-program peningkatan sumber daya manusia.

84

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Dari keseluruhan uraian mengenai “Penanggulangan Kenakalan Anak / Remaja Dalam Timbulnya Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Anak / Remaja Di Kota Bekasi”. Sebagaimana telah dituangkan dalam Bab I sampai dengan Bab IV penulisan hukum ini, maka pada Bab V sebagai bagian penutup ini akan diuraikan beberapa kesimpulan dan saran dari penyusun. Bahwa kenakalan anak / remaja yang semakin waktu semakin menimbulkan kecemasaan dan sudah melampaui batas-batas kewajaran, maka dalam hal ini diperlukan upaya-upaya penanggulangannya. Adapun dari hasil penelitian dan uraian yang telah dijabarkan dalam Babbab terdahulu, dapat penyusun mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Kenakalan anak / remaja tersebut timbul sebagai bentuk perilaku menyimpang yang banyak disebabkan karena faktor pendidikan yang buruk, lingkungan yang tidak mendukung anak / remaja tersebut untuk menjadi manusia yang baik, keluarga tidak harmonis yang tidak memperhatikan segala bentuk kebutuhan sang anak / remaja, peraturan yang terlalu mengikat dan mengekang sehingga anak / remaja tersebut melanggarnya, dan keadaan jiwa atau psikologis anak / remaja tersebut yang memiliki kecenderungan bertindak diluar batas-batas kewajaran serta norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

85

2. Sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap pelaku kejahatan anak / remaja adalah sanksi yang sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan hukum yang sesuai dengan kenakalan anak / remaja adalah pada Pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dalam Pasal ini anak yang melakukan kejahatan dapat dikembalikan kepada orang tuanya, diserahkan kepada pemerintah, dan Anak tersebut dapat dijatuhi Pidana. Selain dalam KUHP aturan lainnya juga ditetapkan dalam UU RI Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak. Dalam UU RI Nomor 3 tahun 1997 tersebut dijabarkan bahwa, terhadap anak yang melakukan kenakalan dapat dijatuhkan Pidana pokok dan Pidana tambahan serta tindakan yang ditentukan dalam UU RI Nomor 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak 3. Dalam upaya menanggulangi berbagai macam kenakalan anak / remaja tersebut, diperlukan usaha-usaha preventif, kuratif dan represif untuk mengurangi dan mencegah terjadinya kejahatan sebagai akibat dari timbulnya kenakalan anak / remaja. Tindakan preventif dalam hal ini adalah dengan cara : meningkatkan kesejahteraan keluarga, menciptakan keadaan lingkungan yang baik, mengadakan sosialisasi mengenai hukum dan segala bentuk kenakalan yang melanggar hukum, menyelenggarakan peradilan bagi anak / remaja yang terlibat dalam kejahatan, menyediakan rumah tahanan atau tempat rehabilitasi bagi anak / remaja delinkuen, dan mendirikan fasilitas-fasilitas umum yang baik untuk memungkinkan anak / remaja tersebut selalu bersifat positif. Tindakan kuratif dengan melalui

86

upaya-upaya : menghilangkan semua sebab-sebab timbulnya kejahatan akibat kenakalan anak / remaja tersebut, menggiatkan kegiatan-kegiatan yang bersifat positif bagi anak / remaja, dan mengadakan lembaga konsultasi bagi anak / remaja dalam meringankan serta memecahkan segala bentuk permasalahan yang dihadapi anak / remaja tersebut. Tindakan represif yang berupa menindak dengan tegas dan sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku terhadap anak / remaja yang melakukan perbuatan melawan hukum.

B. Saran Kenakalan seorang anak / remaja yang dapat menimbulkan kejahatan harus segera dibenahi dan diperbaiki, terlebih jika kenakalan itu bukanlah proses mereka untuk mencapai tahap pendewasaan diri. Namun, sekalipun menjadi bagian dari proses psikologisnya, perbuatan kenakalan anak / remaja tersebut tetap harus dibatasi agar tidak menjadi kebiasaan dan bersifat permanent dalam diri mereka. Mengabaikan keadaan anak / remaja yang berlaku menyimpang ini dan membiarkannya berkembang, akan menyebabkan timbulnya akhlak yang buruk, gangguan psikologis, dan berbagai dampak negatif lainnya yang bersifat kejiwaan. Tentunya anak / remaja yang rusak dalam jiwanya akan dapat merugikan bangsa dan negara Indonesia. Anak / remaja adalah sesuatu yang harus dilindungi dengan baik, keselamatan jiwa mereka teramat bergantung pada keadaan sekitarnya yang sehat dan mendukung.

87

Agar penyelesaian permasalahan kenakalan anak / remaja yang berpotensi menimbulkan kejahatan lebih optimal dan tercapai dalam tingkat keberhasilannya, maka penulis sekiranya dapat menyampaikan saran-saran : 1. Pengenalan terhadap hukum dan norma-norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan keluarga, sehingga dapat mendidik anak / remaja berlaku baik dan memiliki kedisiplinan khususnya pada diri anak / remaja tersebut. 2. Menciptakan kondisi lingkungan tempat tinggal yang sehat, memberikan pengawasan dan bimbingan baik di bidang sosial maupun di bidang rohani. 3. Pemerintah dan aparat penegak hukum yang berwibawa, menegakkan hukum sesuai dengan peraturan yang menyangkut permasalahan mengenai anak seperti yang diatur dalam KUHP Pasal 45, 46 dan 47. UndangUndang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dan UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 4. Bagi bangsa dan negara Indonesia diharapkan menyelesaikan

permasalahan kenakalan anak / remaja dengan bijaksana, karena anak / remaja Indonesia adalah asset berharga yang nilainya pun tidak dapat disamai dengan seribu gunung emas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful