You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dengue haemorrhagic fever (DHF) atau sering dikenal dengan istilah demam
berdarah dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes (aedes albopictus
dan aedes aegeypti). Penyakit ini sebenarnya telah ditemukan dijakarta pada tahun
1779 oleh Dr. David baylon dan beliau menamakan penyakit ini knokkel koorts karena
pasiennya mengeluh sakit pada sendi-sendi (Ngastiah, 2005).
Demam berdarah dengue (DBD) dan syndrome syok dengue (SSD) merupakan
penyakit infeksi yang masih menimbulkan masalah kesehatan dinegara sedang
berkembang, temasuk Indonesia. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya angka
morbilitas dan mortalitas. Perjalanan penyakit ini sering sukar diramalkan karena
sebagian penderita dengan renjatan yang berat dapat disembuhkan walaupun hanya
dengan tindakan pengobatan yang sederhana. Penyakit ini terdapat didaerah tropis,
terutma di Negara ASEAN dan Pasifik Barat (Rampengan, 2007).
Manifestasi klinis infeksi virus dengue tergantung pada berbagai faktor yang
mempengaruhi daya tahan tubuh penderita. Terdapat berbagai keadaan mulai dari
tampa gejala (asimtomatik) demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile
illness), demam dengue, demam berdarah dengue dan syndrome syok dengue
(Soegijanto, Soengeng, 2005)
B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan pengertian dengue haemorrhagic fever
2. Untuk menjelaskan patofisiologi dengue haemorrhagic fever baik secara teoi maupun
kasus
3. Untuk menjelaskan perbedaan dengue haemorrhagic fever secara teori dan secara
kasus.
C. Manfaat Penulisan
a. Menambah pengetahuan penulis dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien
dengue haemorrhagic fever
b. Menambah pengetahuan bagi semua pembaca.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
1

Dengue haemorrhagic fever adalah penyakit infeksi yang disebabakan oleh virus
dengue, penyakit ini yang terdapat pada anak dan remaja atau orang dewasa dengan
tanda-tanda klinis berupa demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai
leukopenia, dengan atau tanpa ruam dan limfa denopati demam bifasik, sakit kepala
yang hebat, nyeri pada pergerakan bola mata, gangguan rasa mengecap,
trombositopenia ringan, dan petekie spontan.
Demam berdarah ini ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala
utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari
pertama. Sindrom rejatan dengue (dengue shock syndrome selanjutnya disingkat DSS)
ialah penyakit DBD yang disertai rejatan.
B. Klasifikasi
Klasifikasi derajat penyakit infeksi virus dengue
DD/DBD
DD

Derajad

Derajad
Laboratorium
Demam disertai 1. Leukopenia
Sergi dengue positif
2. Trobositopenia tidak
2 atau lebih
ditemukan bukti ada
tanda
malgia
kebocoran plasma
sakit
kepala,
nyeri
retroorbital,

DBD

atralgia
Gejala
ditambah

DBD

III

diatas Trombositopenia
uji (100.000/ul) bukti ada

bending positif
kebocoran plasma
Gejala
diatas
ditambah
perdarahan

DBD

spontan
Gejala

diatas

ditanbah
kegagalan
sirkulasi

DBD

(kulit

dingin

dan

lembab

serta

gelisah)
Syok

berat
2

disertai

dengan

tekanan

darah

dan nadi tidak


terukur
Klasifikasi derajad DBD menurut WHO
Derajad 1

Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi

Derajad 2

perarahan adalah uji tornoquet positif


Derajad 1 disertai perdarahan spontan diikuti dan atau perdarahan

Derajad 3

lain
Ditemukannya tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lembut, tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai
kulit dingin, lembab, dan pasien menjadi gelisah
Syok berat, nadi tidak terabadan tekanan darah tidak dapat diukur

Derajad 4

C. Etiologi
Virus dengue, termasuk genus lavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat empat serottipe
virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Keempat ditemukan di Indonesia
dengan DEN-3 serottipe terbanyak. Infeksi salah satu serottipe akan menimbulkan
antibody terhadap serotype yng bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk
terhadap serottipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan
yan memadai terhadap serottipe lain tersebut. Seseorang yang tingal di daerah endemis
dengue dapat tterinfeksi oleh tiga atau empat serottipe selama hidupnya. Keempat
serottipe virus dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia (Sudoyo Aru,
dkk 2009)
D. Manifestasi Klinis
Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakan bila semua hal dibawah ini
dipenuhi:
a. Demam atau riwayat demam akut antra 2-3 hari biasanya bersifat bifasik
b. Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa
- Uji tornikuet positif
- Petekie, ekimosis, atau purpura
- Perdarah mukosa (epitaksis, perdarahan gusi), saluran cerna,
tempat bekas suntikan
- Hematemesis atau melena
c. Trombositopenia <100.000/ul
d. Kebocoran plasma tang ditandai dengan

Peningkatan nilai hematocrit >=20% dari nilai baku sesuai umur

dan jenis kelamin


Penurunan nilai hematocrit >=20% setelah diberikan cairan yang

adekuat
e. Tanda kebocoran plasma seperti: hipoproteinemi, asites, efusi pleura
E. Patofisiologi Umum

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah. Pada DD terdapat leukopenia pada hari kedua atau hari ketiga. Pada DBD
dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Masa pembekuan masih normal,
masa perdarahan biasanya memanjang, dapat ditemukan penurunan faktor II, V,
VII, IX dan XII pada pemeriksaan kimia darah tanpa hipoproteinemia,
hiponatremia, hipokloremia SGOT, SGPT, ureum, dan Ph darah mungkin
meningkat, reverse alkali menurun
2. Air seni. Mungkin ditemukan albuminuria ringan
3. Sumsum tulang. Pada awal sakit biasanya hiposelular, kemudian menjadi
hiverselular pada hari kelima dengan gangguan maturasi dan pada hari kesepuluh
sudah kembali normal untuk semua system
4. Uji serologi
a. Uji serologi memakali serum ganda, yaitu serum di ambil pada masa akut dan
konvalesen yaitu uji pengikatan komplemen (PK) uji netralisasi (NT) dan uji
dengue blot pada uji ini dicari kenaikan antibody antidengue sebanyak minimal
empat kali
b. Uji serologi memakai serum tunggal yaitu uji dengue blot yang mengukur
antibody antidengue tanpa memandang kelas antibodinya, uji IgM anti dengue
yang mengukur hanya antibody-antidengue dari kelas IgM pada uji ini yang
dicari adalah ada tidaknya atau antibody-antidengue
c. Isolasi virus yang diperiksa adalah darah pasien dan jaringan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
a. Pengkajian
1. Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak,
remaja, dan dewasa.
2. Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas karena sakit kepala, lemah, nyeri yulu hati, mual, dan nafsu
makan menurun.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh,
sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4. Riwayat Penyakit Terdahulu
Tidak ada 0enyakit yang diderita secara spesifik.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan,
karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk
aides aigepty.
6. Riwayat Kesehatan Lingkungan
5

Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas,
ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang
dibersihkan.
7. Riwayat Tumbuh Kembang
8. Pengkajian Persistem
Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epiktasis, pergerakan

dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, frakus.


Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade

IV dapat terjadi DDS


Sistem Cardiovaskuler
Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji torniquett positif,
trombositipeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat,
lemah, hipotensi, sianosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV

nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.


Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik,
pembesaran limfa, pembesaran hati, abdomen terenggang, penurunan nafsu

makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.


Sistem Perkemihan
Produksi urin menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan

nyeri saat kencing, kencing berwarna merah


Sistem Integumen
terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering pada grade I terdapat positif pada
uji torniquett, terjadi pethike, pada grade III dapat trjadi perdarahan spontan

pada kulit.
b. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravskuler ke
ekstravaskuler
3. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya intravaskuler ke ekstravaskuler
4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu
makan yang menurun
5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor
pembekuan darah (trombositopeni)
6. Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdarahan
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
c. Intervensi Keperawatan
6

1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue


Tujuan : suhu tubuh normal
Kriteria hasil: suhu tubuh antara 36-37,nyeri otot hilang
Intervensi :
a) Beri kompres air keran
Rasional : kompres dingin akan terjadi permindahan panas secara konduksi
b) Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai
toleransi)
Rasional :untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
c) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap
keringat
Rasional : memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap
keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh
d) Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan,tanda vital (suhu,nadi,tekanan
darah) tiap 3 jam sekali atau lebih sering.
Rasional : mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan
cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien
e) Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh
yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan suhu tubuh pasien.
2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravskuler ke
ekstravaskuler
Tujuan : tidak terjadi defisit volume cairan
Kriteia: input dan output seimbang,vital sign dalam batas normal,tidak ada tanda
presyok,akral hangat,capilarry reefill < 3 detik.
Intervensi:
a. Awasi vital sign setiap 3 jam atau lebih sering
Rasional : vital sign membaantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler
b. Observasi capilarry refill
Rasional : indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
c. Observasi intake dan output, catat warna urine/konsentrasi, BJ
Rasional : penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ di duga
dehidrasi
d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml/hari (sesuai toleransi)
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh per orang
e. Kolaborasi : pemberian cairan intravena
Rasional : dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya
hipovolemic syok.
3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria:tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
a. Monitor keadaan umum pasien
7

b.

c.

d.

e.

4.

5.

rasional: untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terjadi
perdarahan. Perawat segera mengetahui tannda-tanda presyok /syok
Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional: perawat perlu terus mengobservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi
presyok/syok
Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi
perdarahan
Rasional: dengan melibatkan pasien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat
segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat segera diberikan.
Kolaborasi: pemberian cairan intravena
Rasional: cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara
hebat
Kolaborasi:
Pemeriksaan: Hb, pcv, trombo
Rasional: untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien
dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut
Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan
yang menurun
Tujuan: tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria: tidak ada tanda-tanda malnutrisi, menunjukan berat badann yang seimbang
Intervensi:
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional: mengidentifikasi devisiensi, menduga kemungkinan intervensi
b. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional: mengawasi msukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)
Rasional: mengawasi penurunan BB/mengawasi efektifan intervensi
d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makanan diantara waktu
makarasional: makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
masukan juga mencegah disteni gaster
e. Berikan dan bantu oral hygiene
Rasional: meningkatkan nafsu makan an masukan peroral
f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas
Rasional: menurunkan distensi dan iritasi gaster
Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor pembekuan
darah (trombositopeni)
Tujuan: tidak terjadi perdarahan
Kriteria: tekanan darah 100/60 mmHg, N:80-100x/menit reguler, pulsasi kuat, tidak
ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat
Intervensi:
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disetai tanda klinis
Rasional: penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh
darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti
epistaksis, ptike.
b. Monitor trombosit setiap hari
Rasional: dengan trombosit yang dipanatau setiap hari, dapat diketahui tingkat
kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.
8

c. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat (bed reest)


Rasional: aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan.
d. Berikan penelasan kepada klien dan keluarga uuntuk melaporkan jika ada tanda
perdarahan seperti: hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional: keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penanganan dini
bila terjadi perdarahan
e. Antisifasi adanya perdarahan: gunakan siikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan
mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah
Rasional: mencegah adanya perdrahan yang lebih lanjut.

BAB IV
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Skenario
9

Seorang pria berusia 25 tahun dirawat di RS mengeluh: nyyeri kepala, nausea, vomitus,
hasil pemeriksaan fisik TD: 100/60 mmHg, nadi: 98x/menit, suhu: 38C, RR: 24x/menit,
TB: 150 cm BB 48. Terdapat petekie pada tubuh , gusi berdarah, hasil pemeriksaan
biokimia: Hb 16,8 g/dl, eritrosit 3,29 jt/ul, leukosit 29.100/mm, trombosit 26.000 mm,
hematocrit 52%. Pemeriksaan Ig (G) dan 19 (M) positif demam dengue. Tes reempel leed
infus RL 40 TPM, lanjutan 20 TPM anjurkan untuk minum banyak, injeksi ranitidine 1x1
amp, obat oral sistenol 3x10 mg (k/p)
DS
1. Kien mengatakan nyeri kepala
2. Klien mengatakan nausea dan vomitus

DO
1. TD :100/60 mmHg
N: 98 X/Menit
S :380 C
RR : 24 X/Menit
2. TB :150 Cm
BB :48 Kg
3. Petekie pada tubuh
4. Gusi berdarah
5. Pemeriksaan LAB
Hb
:16,8 g/dl
Trombosit : 26.000/ mm
Eritrosit :3,29 juta/L
Leukosit :29.100/mm
Ht
:52 %
6. Pemeriksaan diagnostik
Ig G dan Ig M (+) Demam dengue
Tes rempel leed
7. Infus Rl :40 tts/menit lanjutan 20 tts/menit

B. Analisa Data
No Data
1. DS:
1. Kien mengatakan nyeri kepala

Diagnosa
Hipertermi

berhubungan

dengan

proses infeksi virus dengue

DO:
1. S :380 C
Petekie pada tubuh
Ig G dan Ig M (+) Demam dengue
Tes rempel leed
Leukosit :29.100/mm
2.

DS : -

Resiko tinggi terjadinya perdarahan


berhubungan dengan trombositopeni
10

DO:

3.

1. Petekie pada tubuh


2. Gusi berdarah
3. Trombosit : 26.000/ mm
4. Eritrosit :3,29 juta/L
5. Leukosit :29.100/mm
DS :

Resiko

1. Kien mengatakan nausea dan vomitus

kurang

DO :

berhubungan dengan

ketidakseimb`angan
dari

kebutuhan

1. TB :150 Cm
2. BB :48 Kg
3. Hb :16,8 g/dl

11

nutrisi
tubuh

C. Diagnosa Keperawatan
D. Perencanan keperawatan
No
1.

Diagnosa

Kriteria Hasil

Hipertermi

Setelah

berhubungan

tindakan

Perencanaan
Intervensi
dilakukan Mandiri :

keperawatan

dengan virus diharapkan klien:


dengue

Rasional

1.observasi pemasukan dan 1. Mendeteksi dini


pengeluaran cairan, tanda kekurangan

1. suhu dalam rentang vital (suhu nadi, tekanan serta


normal 36,5-37,5 C

darah) setiap 3 jam

2. tidak ada nyeri kepala

2.

3.

Leukosit

mengetahui

keseimbanga cairan

berikan dan anjurkan dan elektrolit dalam

dalam pasien untuk banyak minum tubuh.

TTV

rentang normal 5.000- 1500-2000 cc/hari (sesuai merupakan


10.000 sel/ul

toleransi)

untuk

4. IgG dan IgM normal

3. beri kompres air dingin

keadaan

5.

tes

reempel

cairan

leed

acuan

mengetahui
umum

pasien

normal

2. Untuk mengganti
Kolaborasi

cairan tubuh yang

1. pemberian infus RL

hiang

akibat

evaporasi
3. kompres

dngin

akanterjadi
pemindahan
secara konduksi

2.

Resiko tinggi
terjadinya

Mandiri:
Kolaborasi:

perdarahan
berhubungan
dengan
12

pnas

penurunan
jumlah
trombosit.
E. PATHWAY KASUS

Lampiran : LAPORAN HASIL TUTOR


A. Kata yang Tidak Dimengerti:
1. Petekie pada tubuh
Bintik merah pada kulit yang terbentuk oleh efusi darah
2. Test reempel leed
Reempel leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk
menentukan apakah terkena demamberdarah atau tidak. Reempel leed
merupakan

pemeriksaan

bidang

hematologi

dengan

melakukan

pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik
kerahukan vaskuler dan fungsi trombosit.
3. Pemeriksaan Ig (G) dan Ig (M)
4. Ranitidine
Indikasi
Pengobatan jangka pendek dan pencegahan jangka panjang ulkus

duodenum aktif
Pengobatan jangka pendek ulkus lambung benichna
Penatalaksanaan penyakit refluks gastroesfagus (GERD)
Pengobatan keadaan hipersekresi lambung (syndrome linger elison)
13

Kontraindikasi :

Hipersensitivitas
Pasien lansia
Kerusakan ginjal (dianjurkan untuk meningkatkan interval dosis bila

kliren kretinin <50 ml/menit)


Kerusakan hati
Kehamilan, laktasi, anak-anak
5. Sistenol
Indikasi :
Demam
Sakit kepala
Nyeri
infeksi saluran nafas dengan sekresi mukus berlebih
Kontraindikasi :
Reaksi hipersensitif terhadap parasetamol dan acetylcysteine
Penderita gangguan fungsi hati
Penderita anemia
Gangguan asma
Pada ibu hamil
Gangguan fungsi ginjal
B. Kata Kunci:
1. Nyeri kpeala
2. Nausea
3. Vomitus
4. Hb: 16,8
5. Petekie
6. Gusi berdarah
7. Hematocrit 52%
8. Eritrosit 3,29 jt/ul
9. Leukosit 29.100/mmtes reempel led
C. Pertanyaan dan Jawaban:
Pertanyaan:
1. Apa yang menyebabkan klien mengeluh nausea dan vomit?
2. Kenapa suhu klien meningkat?
3. Apa yang menyebabkan petekie pada tubuh?
4. Kenapa klien mengalami gusi berdarah?
5. Apakah hasil leukosit klien normal?
Apa yang disebabkan dari hasil leukosit ini?
6. Bagaimana dengan hasil trombosit?
Berapa hasil trombosit normal?
7. Bagaimana dengan hasil HB?
Apakah hasil HB berhubungan dengan penyakit sekarang?
8. Apa bentuk pemeriksaan IgG dan IgM?
9. Apa indikasi dan kontraindikasi dari terapi obat?
Jawaban:

14

1. Tidak semua pasien demam berdarah mengalami mual dan muntah. Gejala itu
timbul jika pasien sudah dalam keadaan syndrome syok. Disini tterjadi
ketidakseimbangan cairan akibat berbagai faktor mis, trombosit yang rendah
sehingga mudah terjadi kebocoran darah termasuk diusus. Hal ini
mengakibatkan terganggunya penyerapan makanan sehingga timbul mual dan
muntah.
2. Karena dari leukosit yang meningkat untuk melawan virus sehingga terjadi
peradangan yang menyebabkan suhu meningkat.
3. Terjadi karena adanya efusi (pengaliran cairan berlebih dalam rongga atau
jaringan) sehingga akhirnya terjadi pendarahan dikulit. Trombositopenia juga
dapat menyebabkan timbulnya petekie pada kulit. Karena apabila adanya
trombositopenia maka dapat terjadi perdarahan dan dapat mengancam jiwa.
Perdarahan bisa terjaddi secara internal (organ dalam tidak terlihat) maupun
eksternal (yang dapat kita lihat, seperti mimisan, batuk darah, atau bintuk-bintik
merah pada kulit).
4. Kelainan darah yang biasanya berkaitan dengan perdarahan gusi adalah
trombositopenia. Trombosit adalah salah satu elemen darah yang diperlukan
untuk pembekuan darah. Apabila jumlahnya menurun sampai dibawah batas
normal maka kemungkinan terjadi perdarahan lebih besar. Trombositopenia
dapat merupakan penyakit yang berdiri sendiri atau bagian dari penyakit lain,
mis demam berdarah.
5. Leukosit meningkat,

sedangkan

leukosit

normal

adalah

5000-10000.

Peningkatan leukosit menyebabkan peradangan (inflamasi), demam dan suhu


meningkat.
6. Tromboit menurun (normal 150.000-400.000 ul) disebabkan karena adanya
virus dalam tubuh sehingga menyebabkan produksi trombosit menurun, disertai
perdarahan.
7. ...
8. ...
9. Terapi Obat:
obat
Ranitidi
n

indikasi
1. Pengobatan jangka
pendek

dan

pencegahan jangka
panjang

ulkus

duodenum aktif
2. Pengobatan jangka

Kontraindikasi
1. Hipersensiti
vitas
2. Pasien lansia
3. Kerusakan
ginjal
(dianjurkan

Efek samping
Mekanisme kerja
Walau
jarang, Menghambat
ranitidin

berpotensi kerja

menyebabkan

histamin

efek pada sisi reseptor

samping karena tubuh H2 yang terletak


perlu

menyesuaikan terutama

15

disel

pendek

ulkus

lambung benichna
3. Penatalaksanaan
penyakit

refluks

gastroesfagus
(GERD)
4. Pengobatan

lambung (syndrome
linger elison)
sakit

meningkatka

dikonsumsi yaitu :
1. Muntah-

interval

dosis

bila

kliren

2.
3.
4.
5.

ml/menit)
4. Kerusakan

hipersekresi

Demam,

diri dengan obat yang parietal lambung

kretinin <50

keadaan

Sistenol

untuk

dan menghambat

sekresi
muntah
lambung
Sakit kepala
Sakit perut
Sulit menelan
Urine
yang

asam

keruh

hati
5. Kehamilan,
laktasi,

kepala,

anak-anak
1. Reaksi

Reaksi

kulit,

mual, Sistenol

nyeri, infeksi saluran nafas

hipersensitif

gangguan

dengan

terhadap

cerna,

parasetamol

dosis

dan

penggunaan

dalam asetiilsistein

acetylcystein

jangka

dapat 200mg

berlebih

sekresi

mukus

e
2. Penderita
gangguan

neutropenia, parasetamol
besar
lama

atau 500mg,

anemia
4. Gangguan

yang

menyebabkan

merupakan suatu

gangguan fungsi hati

anti
yang

fungsi hati
3. Penderita

asma
5. Pada

saluran mengandung

oksidan
berfungsi

efektif mencegah
proses

oksidasi

pada tubuh

ibu

hamil
6. Gangguan
fungsi ginjal

BAB IV
PENUTUP

16

A. KESIMPULAN
Gagal jantung kronik adalah suatu kondisi patofisiologi, dimana terdapat kegagalan
jantung memompa darah yang sesuai dengan kebutuhan jaringan. Suatu definisi obyektif
yang sederhana untuk menentukan batasan gagal jantung kronik hampir tidak mungkin di
buat karena tidak terdapat niali batas yang tegas pada disfungsi ventrikel.
Tanda dan gejala yang umum pada klien gagal jantung :
1. Tekanan darah tinggi
2. Gangguan fungsi jantung relative
3. Fhoto thorax terlihat tanda-tanda udema paru
4. Respiratori distress berat dengan ronci yang terdengar pada referral lapaanagn paru
dan ortopne O2 saturasi biasanya kurang dari 90% sebelumnya diterapi.
B. SARAN
Kami dari kelompok 2 memberikan saran dan informasi pada keluarga dan pasien tentang
pengobatan serta pencegahan yang harus dilaksanakan secara teratur, sehingga prognosis
pasien dengan penyakit ini baik walaupun pada pasien dengan penyakit jantung yang
berat. Serta apabila timbul gejala-gejala dari penyakit gagal jantung ini agar segera
dibawa ke rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA
Taylor Cynthia M. 2014. Diagnosa keperawatan edisi 10. Jakarta: EGC
Sudoyo Sru W, dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi IV. Jakarta: Departemen
Ilmu Penyalit Dalam
Indiyantoro. 2008. DOI Data Obat di Indonesia. Jakarta: PT.Muliapurna Jayaterbit
17

Koalak. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC


Corwin Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Wilkinson Judith M. 2002. Buku Saku Diagnostik Nanda Nic Noc edisi 9.Jakarta. EGC

18