You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Pneumothorax merupakan keadaan emergensi yang disebabkan oleh
akumulasi udara dalam rongga pleura, sebagai akibat dari proses penyakit atau
cedera. Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara di dalam kavum/
rongga pleura. Tekanan di rongga pleura pada orang sehat selalu negatif untuk
dapat mempertahankan paru dalam keadaan berkembang (inflasi). Tekanan pada
rongga pleura pada akhir inspirasi 4 s/d 8 cm H 2O dan pada akhir ekspirasi 2 s/d 4
cm H2O.
Pneumothorax merupakan suatu kondisi dimana terdapat udara pada
kavum pleura. Pada kondisi normal, rongga pleura tidak terisi udara sehingga
paru-paru dapat leluasa mengembang terhadap rongga dada. Udara dalam kavum
pleura ini dapat ditimbulkan oleh :
1. Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari
alveolus akan memasuki kavum pleura. Pneumothorax jenis ini disebut sebagai
closed pneumothorax. Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai
katup, maka udara yang masuk saat inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum
pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya, udara semakin lama semakin banyak
sehingga mendorong mediastinum kearah kontralateral dan menyebabkan
terjadinya tension pneumothorax.

1

2. Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan
antara kavum pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih besar
dari 2/3 diameter trakea, maka udara cenderung lebih melewati lubang tersebut
dibanding traktus respiratorius yang seharusnya. Pada saat inspirasi, tekanan
dalam rongga dada menurun sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura
lewat lubang tadi dan menyebabkan kolaps pada paru ipsilateral. Saat ekspirasi,
tekanan rongga dada meningkat, akibatnya udara dari kavum pleura keluar
melalui lubang tersebut. Kondisi ini disebut sebagai open pneumothorax.
Pneumotorax dibagi menjadi Tension Pneumotoraks dan non-tension
pneumotoraks. Tension Pneumotoraks merupakan medical emergency dimana
akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas.
Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum
secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan. Nontension pneumothorax tidak seberat Tension pnemothorax karena akumulasi udara
tidak makin bertambah sehingga tekanan terhadap organ di dalam rongga dada
juga tidak meningkat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari tension pneumothorax?
2. Apa etiologi atau penyebab dari tension pneumothorax?
3. Bagaimana anatomi dan fisiologi berkaitan dengan tension pneumothorax?
4. Bagaimana patofisiologi dan patoflow tension pneumothorax?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari tension pneumothorax?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada tension pneumothorax?

2

7. Bagaimana pentalaksanaan medis pada tension penumothorax?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada tension pneumothorax?
C. Tujuan
Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas Untuk memenuhi tugas mata kuliah praktek
klinik kegawatdaruratan dan untuk menambah pengetahuan mahasiswa mengenai
tension pneumothorax.
Tujuan khusus
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk mengetahui definisi tension pneumothorax.
Untuk mengetahui etiologi atau penyebab tension pneumothorax.
Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari tension penumothorax.
Untuk mengetahui patofisiologi dan patoflow tension pneumothorax.
Untuk mengetahui manifestasi klinis dari tension penumothorax.
Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang tension pneumothorax.
Untuk mengetahui penatalaksanaan medis tension pneumothorax.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Pneumotoraks merupakan keadaan emergensi yang disebabkan oleh
akumulasi udara dalam rongga pleura, sebagai akibat dari proses penyakit atau
cedera. Sedangkan tension pneumotoraks merupakan medical emergency dimana
akumulasi udara dalam rongga pleura akan bertambah setiap kali bernapas.
Peningkatan tekanan intratoraks mengakibatkan bergesernya organ mediastinum
secara masif ke arah berlawanan dari sisi paru yang mengalami tekanan.
Tension pneumothoraks adalah pengumpulan penimbunan udara di ikuti
peningkatan tekanan di dalam rongga pleura. Kondisi ini terjadi bila salah satu

3

sebagai berikut : 1. B. Kondisi ini bisa dengan cepat menyebabkan terjadinya insufisiensi pernapasan. 2000). Trauma benda tumpul atau tajam – meliputi gangguan salah satu pleura visceral atau parietal dan sering dengan patah tulang rusuk (patah tulang rusuk tidak menjadi hal yang penting bagi terjadinya Tension Pneumotoraks). Akupunktur. 3. (Pneumothoraks. Selekta Kapita. biasanya vena subclavia atau vena jugular interna (salah arah kateter subklavia). baru-baru ini telah dilaporkan mengakibatkan pneumothoraks. kolaps kardiovaskuler.FrementalNurse. Komplikasi ventilator. Pneumotoraks sederhana ke Tension Pneumotoraks. 5. 2. 4.S. Ketidakberhasilan mengatasi pneumothoraks terbuka ke pneumothoraks sederhana di mana fungsi pembalut luka sebagai 1-way katup. Etiologi Etiologi Tension Pneumotoraks yang paling sering terjadi adalah karena iatrogenik atau berhubungan dengan trauma.net/2007) Tension Pneumothoraks adalah suatu pneumothoraks yang progresif dan cepat sehingga membahayakan jiwa pasien dalam waktu yang singkat. (Arief Manjoer. Tension pneumothoraks adalah diagnosa klinis yang sekarang lebih siap dikenali karena perbaikan di pelayanan-pelayanan darurat medis dan tersebarnya penggunaan sinar-x dada./Journal of Britsh/www. sehingga udara masuk ke rongga pleura dan udara tidak bisa keluar secara alami. Pemasangan kateter vena sentral (ke dalam pembuluh darah pusat). dan.rongga paru terluka. Hasil yang baik memerlukan diagnosa mendesak dan penanganan dengan segera. kematian jika tidak dikenali dan ditangani. Yaitu. C. akhirnya. 4 . Albert. pneumothoraks spontan. Udara yang keluar masuk paru masuk ke rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi sehingga tekanan pleura terus meningkat.

Darah yang mengandung CO 2 warnanya merah tua. Keadaan ini sangat berguna apabila darah tersebut diperlukan untuk transfusi darah.C. tetapi kalau ia keluar dari pembuluhnya maka ia akan menjadi beku. Pembekuan ini dapat dicegah dengan jalan mencampurkan kedalam darah tersebut sedikit obat anti pembekuan/sitras natrikus. Anatomi dan fisiologi Darah merupakan suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang berwarna merah. Darah selamanya beredar di dalam tubuh oleh karena adanya kerja atau pompa jantung dan selama darah berada dalam pembuluh darah maka akan tetap encer. Adanya O2 dalam darah diambil dengan jalan bernafas. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya O2 dan CO2 di dalamnya. Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat darah sebanyak ± 1 13 dari berat badan atau kira-kira 4-5 liter. dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran/metabolisme dalam tubuh. Keadaan jumlah tersebut pada tiap 5 .

6 . a.067 dengan temperatur 380C dan pH: 7. Mengangkat CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paruparu. Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan dibagikan keseluruh jaringan/alat tubuh. c.45. Tentang viskositas/kekentalan darah lebih kental daripada air yaitu mempunyai BJ: 1. keadaan jantung atau pembuluh dar. pekerjaan.37-7. Fungsi darah terdiri atas: 1. Sebagai alat pengangkut yaitu. b.orang tidak sama tergantung pada umur. Mengambil O2/zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh.041-1.

trombosit) dan plasma darah. Menyebarkan panas ke seluruh tubuh. antibodi/zat-zat antiracun.9% (Natrium Klorida. Jadi darah terdiri dari 2 bagian yaitu: sel–sel darah ada 3 macam (eritrosit. Bahan Organik 0. dan fibrinogen). Ukurannya ±7. Eritrosit (Sel Darah Merah) Berbentuk seperti cakram/bikonkaf dan tidak mempunyai inti. protombin. Kalsium dan zat besi). Tidak dapat bergerak. Natrium Bikarbonat. Warnanya kuning kemerah-merahan karena didalamnya banyak mengandung O2. sedangkan cairan berwarna kekuning-kuningan disebut plasma. Globulin. Mengangkat/mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal. Fungsinya adalah mengikat darah dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan mengikat CO2 dari 7 . Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantaraan leukosit. lemak. kolestrol dan asam amino). Jika darah dilihat begitu saja maka ia merupakan zat cair berwarna merah. Protein 3% (Albumin. 2. kreatinin. 3. asam urat.7 unit (0. Banyaknya kira-kira 5juta dalam 1mm3 (4½ juta). Garam Fosfat. Bagian-bagian darah terdiri atas Air 91%.007mm) diameter. a. leukosit.d. Mineral 0. Magnesium. tetapi apabila dilihat dibawah mikroskop maka nyatalah bahwa dalam darah terdapat sel-sel darah.1% (glukosa.

setelah itu akan 8 . Yang kemudian akan beredar di dalam tubuh selama 14-15 hari. limpa.jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru. Pengikatan O2 dan CO2ini dikerjakan oleh Hemoglobin yang telah bersenyawa dengan O2 disebut Oksihemoglobin (Hb + O2 → HbO2) jadi O2 diangkat dari seluruh tubuh sebagaioksihemoglobin yang nantinya setelah tiba di jaringan. Tempat pembuatan: sel darah merah di dalam tubuh dibuat didalam sumsum tulang merah. dan hati. akan dilepaskan HbO2→ Hb + O2dan seterusnya Hb tadi akan mengikat dan bersenyawa dengan CO2dan disebut Karbondioksihemoglobin (Hb + CO2 → HbCO2) yang mana CO2akan dilepaskan di paru-paru.

000-9. 9 . Di dalam tubuh banyaknya sel darah merah ini berkurang. Bentuknya dapat berubah-ubah dn dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu (pseudopodia). Hb yang keluar dari eritrosit akan mati terurai menjadi 2 zat yaitu hematinsit yang baru dan Hemoglobin yaitu: suatu zat yang terdapat di dalam eritrosit yang berguna mengikat O2dan CO2. mengangkut/membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke pembuluh darah.000.5mg% dan Hb laki-laki 13. banyaknya dalam 1mm3 darah ±6. demikian juga banyaknya hemoglobin dalam sel darah merah. warnanya bening (tidak berwarna). hama penyakit yang menghanyutkan eritrosit dan tempat pembuatan eritrosit sendiri terganggu. mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya.mati. membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang masuk kedalam tubuh jaringan RES (retikulum endoplasma/ sistem retikulo endotel). b.5-15gram dalam 100cc darah. Jumlah normal pada orang dewasa ± 11. Leukosit berfungsi Sebagai antibodi tubuh yaitu. Normal Hb wanita 11.0mg%. tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe dan Sebagai pengangkut yaitu. Leukosit (Sel Darah Putih) Keadaan bentuk dan sifat-sifat dari leukosit berlainan dengan eritrosit. biasanya hal ini disebabkan oleh karena perdarahan yang hebat. Apabila keduanya berkurang maka keadaan ini disebut anemia.

Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka.Sel leukosit disamping berada di dalam pembuluh darah juga terdapat di seluruh jaringan tubuh manusia. Pada kebanyakan penyakit disebabkan oleh kemasukan kuman/infeksi maka jumlah leukosit yang ada di dalam darah akan lebih banyak dari biasanya. Trombokinase 10 .000mm 3 disebut Leukositosis dan jika jumlah leukosit dalam darah ≤ 6. sekarang beredar dalam darah untuk mempertahankan tubuh terhadap serangan bibit penyakit tersebut. Trombosit ≥ 300. Trombosit yang ≤ 200. ada yang bulat dan lonjong. maka kalau ada luka darah tidak lekas membeku sehingga timbul perdarahan yang terus menerus. Trombosit (Sel Pembeku) Merupakan benda-benda kecil yang mati serta bentuk dan ukurannya bermacam-macam. yaitu Ca2+ dan fibrinogen. Fungsinya memegang peranan penting di dalam pembekuan darah.000300. Terjadinya pembekuan darah di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah.000 disebut Trombositosis. banyaknya normal pada orang dewasa 200.000mm3. Jika banyaknya kurang dari normal. trombosit pecah dan mengeluarkan zat yang disebut trombokinase. Jika terjadi luka maka darah akan keluar. c.000 dosebut Trombositopenia. Jika jumlah leukosit dalam darah ≥ 10. Hal ini disebabkan sel leukosit yang biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe.000mm 3 disebut Leukositopenia. warnanya putih.

Hampir 90% dari plasma darah terdiri dari air. warna bening ke kuning-kuningan.ini akan bertemu dengan protombin dengan pertolongan Ca2+ akan menjadi trombin. Trombin akan bertemu pula dengan fibrin yang merupakan benang-benang halus. yang disebut serum darah. maka akan kelihatan beberapa sel-sel darah turun atau mengendap dan bagian-bagian atasnya tinggal cairan bening yaitu plasma darah yang di dalamnya terdapat serum darah. dan dibiarkan beberapa lama. karena Vitamin K penting untuk pembekuan darah. yang akan menahan sel darah. Jika darah yang keluar dari tubuh dibiarkan membeku maka bagian bawah bekuan tadi terdapat cairan yang juga berwarna bening. bentuk jaringan yang tidak teratur letaknya. d. Plasma Darah Bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah. Protombin dibuat di hati dan untuk pembuatannya diperlukan Vitamin K. dengan demikian terjadilah pembekuan.supaya darah tidak membeku sesudah itu campuran tadi dipasang dengan suatu alat . Jadi serum 11 . disamping itu terdapat pula zat-zat lain yang terlarut di dalamnya. Untuk mendapatkan plasma darah kita harus mencampurkan dulu sedikit sitras natrikus ke dalam darah.

invasi tumor. kalium. 4. glukosa. Masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan 12 . Darah terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah. hormon antibodi dan lain lain. lemak.merupakan plasma tanpa fibrinogen yang di dapat dengan membekukan darah. 5. natrium. Hormon yaitu zat yang dihasilkan kelenjar tubuh 6. Plasma darah sebagian besar terdiri dari air dan zat-zat yang larut di dalamnya misalnya zat makanan. Zat makanan (asam amino. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Antibodi/Antitoksin. dll) yang berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotik. mineral. globulin) meningkatkan viskositas darah dan juga menimbulkan tekanan osmotik untuk memelihara keseimbangan cairan dalam tubuh. Zat-zat yang terdapat dalam plasma darah: 1. Kegagalan sumsum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi. 3. pajanan toksik. atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. D. Protein darah (albumin. Patofisiologi dan Patoflow Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Garam-garam mineral (garam kalsium. Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah. dan vitamin). 2.

besi Hemoglobin berkurang anemia Kegagalan produksi SDM oleh umsum tulang Destruksi sel darah merah berlebihan Penurunan sel darah merah Suplai O2 dan nutrisi ke jaringan berkurang perdarahan atau hemofilia Sesak nafas Pola nafas tidak efektif gastrointestinal hipoksia Sistem saraf pusat Penurunan kerja gastrointestinal Mekanisme aerob Gangguan perfusi jaringan serebral ATP berkurang Asam lambung meningkat anoreksia mual kelelihan Intoleransi aktivitas 13 . 2002 : 935 ).5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera. (Smeltzer & Bare. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang . asam folat. Patoflow Defisiensi B12. kadar 1. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah.ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sistem fagositik atau dalam sistem retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa.

lesu. dan berkurangnya keasaman lambung.2000:256-264) Manifestasi klinis Area Manifestasi klinis Keadaan umum Pucat . anorexia (badan kurus). bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Manifestasi klinis Tanda dan Gejala yang muncul merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain penurunan kinerja fisik. keletihan berat . nyeri kepala. kelemahan. kelemahan. sensitive terhadap dingin. serta perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Gejala lain adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah). Sering pula terjadi abnormalitas pertumbuhan. kurang tenaga dan kepala terasa melayang. penurunan kesadaran. lelah. 2000 dan Hasan. bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung. pica.ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Referensi : Corwin. 2005 E. vertigo. dipsnea. demam. letih. Kalau muncul 5 gejala ini. Jika anemia bertambah berat. Anemia bisa menyebabkan kelelahan. gangguan fungsi epitel. gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku. yakni lemah. Kulit Jaundice (anemia hemolitik). BB turun. warna 14 . lalai. Cara mudah mengenal anemia dengan 5L.(Price .

kulit pucat. cepat lelah. pusing. kardiomegali. Pemeriksaan Penunjang 15 . mata berkunang-kunang. kuku rapuh. kelemahan otot. Telinga Vertigo. atrofi papil lidah. hipotensi. 2003:15) F. angina pectoris dan bunyi jantung murmur. konjungtiva pucat. gagal jantung Gastrointestinal Anoreksia. Mata Penglihatan kabur. perdarahan gusi. takipnea. elastisitas kulit munurun. stomatitis. tinnitus. lesu perasaan dingin pada ekstremitas. koylonychia. mual-muntah. CRT > 2 detik. jaundice sclera. kulit kering. perdarahan kulit. sesak waktu kerja. clubbing finger. glossitis. irritable. lesu. dan orthopnea Kardiovaskuler Takikardia. sianosis. tinnitus Mulut Mukosa licin dan mengkilat. hepatospleenomegali (pada anemia hemolitik) Muskuloskletal Nyeri pinggang. palpitasi. lidah merah (anemia deficiency asam folat) Paru – paru Dipsneu. sendi System persyarafan Sakit kepala. (Bakta.

9 juta per mikro liter pada   wanita dan 4. Tes kerapuhan eritrosit : menurun (DB).Pemeriksaan laboratorium pada pasien anemia menurut (Doenges. peningkatan (AP). 16 . Nilai normal Hb (gr/dl) : Bilirubin serum (tak terkonjugasi): meningkat (AP.1 -6 juta per mikro liter pada pria Jumlah darah lengkap (JDL) : hemoglobin dan hemalokrit menurun. normal atau tinggi (hemolitik) Nilai normal Trombosit (per mikro lt) : 200.000 – 400. misal : pada tipe anemia tertentu.000 per mikro liter darah Hemoglobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin. 1999 :  572) Jumlah eritrosit : menurun (AP). MCV (volume korpuskular rerata) dan MCH (hemoglobin korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokronik (DB). meningkat (DB). misal :  peningkatan kerusakan sel darah merah : atau penyakit malignasi. SDP : jumlah sel total sama dengan sel darah merah (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik) Nilai normal Leokosit (per mikro lt) : 6000 – 10. Pansitopenia (aplastik). Masa hidup sel darah merah : berguna dalam membedakan diagnosa anemia. menurun berat (aplastik). sel darah merah mempunyai   waktu hidup lebih pendek. misal : menurun (AP). Nilai normal eritrosit (juta/mikro lt) : 3. LED : Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi. hemolitik).000 permokro liter  Jumlah trombosit : menurun caplastik. Jumlah retikulosit : bervariasi. meningkat  (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah/hemolisis). Pewarna sel darah merah : mendeteksi perubahan warna dan bentuk  (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia).

membedakan tipe anemia. misal: peningkatan megaloblas (AP). Evaluasi Airway. Folat serum dan vitamin B12 membantu mendiagnosa anemia        sehubungan dengan defisiensi masukan/absorpsi Besi serum : tak ada (DB). Penatalaksanaan medis Tujuan utama dari terapi anemia adalah untuk identifikasi dan perawatan karena penyebab kehilangan darah.  resusitasi pemberian cairan kristaloid dengan normal salin. feses. membentuk.2003:416). Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi : sel mungkin tampak berubah dalam jumlah. dan isi gaster.  tranfusi kompenen darah sesuai indikasi (Catherino. lemak sumsum dengan penurunan sel darah (aplastik). pemberian cairan intravena.pada pasien yang hipovelemik:  pemberian tambahan oksigen.dekstruksi sel darah atau penurunan produksi sel darah merah. Kristaloid adalah cairan awal pilihan. Pemeriksaan andoskopik dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan :  perdarahan GI Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatan pH dan tak  adanya asam hidroklorik bebas (AP). tinggi (hemolitik) TBC serum : meningkat (DB) Feritin serum : meningkat (DB) Masa perdarahan : memanjang (aplastik) LDH serum : menurun (DB) Tes schilling : penurunan eksresi vitamin B12 urine (AP) Guaiak : mungkin positif untuk darah pada urine. Breathing. 17 . ukuran.  menunjukkan perdarahan akut / kronis (DB). G. Circulation dan segera perlakukan setiap kondisi yang mengancam jiwa. dan bentuk.

3. Berikan plasma beku segar (FFP). 7. pemantau jantung. 5. Pasien dengan hemofilia harus memiliki sampel terhadap faktor deficiency yang dikirim untuk pengukuran. Pengkajian 18 . Pantau pulse oksimetri. BAB III TINJAUAN ASKEP A.(Daniel. (Daniel. mulailah langkah-langkah spesifik untuk mengobati penyebab pendarahan. faktor-faktor koagulasi dan platelet. Berikan glukokortikoid serta agen antiplatelet (aspirin) sesuai indikasi. 4. direvisi tanggal 22 Oktober 2009). Berikan 2 botol besar cairan intravena dan berikan 1-2 liter cairan kristaloid dan juga pantau tanda-tanda dan gejala gagal jantung kongestif iatrogenik pada pasien. dan Sphygmomanometer. Setelah pasien stabil. jika diindikasikan. 6. Pasien hamil dengan trauma yang ada kecurigaan terhadap adanya Feto-transfer darah ibu harus diberikan imunoglobulin Rh-(Rhogam) jika mereka Rh negatif. 2. direvisi tanggal 22 Oktober 2009) Acute anemia akibat kehilangan darah: 1.

pekerjaan. sesak nafas. Riwayat Kesehatan a) Keluhan Utama Tanyakan keluhan pasien saat pertama masuk rumah sakit. suku. jenis kelamin. Identitas Kaji nama klien. Biasanya klien dengan anemia sering mengeluh tubuh terasa lemas. usia. d) Riwayat Kesehatan Keluarga Tanyakan riwayat kesehatan keluarga. diagnosa medis dan nomor rekam medis. 3. status perkawinan. Contoh : pasien sering merasa badannya lemas dan sering pusing.1. 2. b) Riwayat Kesehatan Sekarang Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan c) Riwayat Kesehatan Dahulu Tanyakan apakah pasien pernah mengalami penyakit atau keluhan yang berhubungan dengan anemia. Pemeriksaan Fisik 19 . apakah keluarga pasien memiliki anemia juga atau memiliki penyakit yang berhubungan dengan anemia. pendidikan. alamat. tidak nafsu makan serta pusing. agama.

konjungtiva mata. apakah terdapat sekret.Keadaan umum : Kesadaran : Kaji tanda – tanda vital : a. d. b) Mata Kaji kesimetris mata antara kanan dan kiri. apakah terdapat benjuolan atau tidak. apakah terdapat sekret atau tidak. c) Mulut Kaji Mukosa bibir. pernafasan cuping hidung. e. b. apakah terdapat stomatitis dan perhatikan lidah pasien. c. sklera dan bentuk bola mata . maupun polip. 20 . : : : : : Tekanan darah Nadi Suhu atau temperatur Repirasi Skala nyeri Pemeriksaan head to toe : a) Kepala Kaji bentuk kepala. d) Hidung Kaji kesimetris.

serta kaku apakah terdapat kaku kuduk. Perkusi : ketuk dan amati suara paru – paru dan jantung. lihat pergerakan dinding dada simetris.e) Telinga Kaji kesimetris antara kanan dan kiri. limfe. Palpasi : kaji turgor kulit apakah normal atau tidak. lihat lubang telinga dan periksa apakah ada serumen atau tidak. Palpasi : raba apakah ada benjolan yang mencurigakan. suara nafas vesikuler. 21 . apakah ada suara nafas tambahan. h) Perut Inspeksi : lihat bentuk perut pasien simetris atau tidak. ada atau tida bendungan vena jugularis. g) Dada Inspeksi : kaji bentuk dada apakah simetris atau tidak. apakah terdapat benjolan. Auskultasi: dengarkan irama nafas. serta ada atau tidak retraksi otot bantu pernafasan. f) Leher Kaji apakah ada pembesaran kelenjar tiroid. Perkusi : ketuk dan dengarkan suara perut pasien.

ada atau tidak kelainan. j) Genetalia Lihat apakah ada atau tidak ada oedema.Auskultasi :dengarkan suara peristaltik apakah terdapat peningkatan atau tidak i) Punggung Kaji apakah ada kelainan tulang belakang (kifosis. k) Anus Kaji apakah ada benjolan yang mencurigakan atau tidak. Analisa Data NO 1. lordosis. B. Kulit kering ETIOLOGI Penurunan sel darah merah Hemoglobin berkurang PROBLEM Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh anemia 22 . Peurunan tekanan darah 2. DATA Batasan karakteristik : 1. apakah ada nyeri gerak. skoliosis).

Menyatakan merasa lemah 3. Batasan karakteristik : 1. Kurang minat pada makanan Suplai O2 dan nutrisi kejaringan berkurang Gastrointestinal Penurunan kerja GI Asam lambung meningkat Anoreksia Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 2. Kelemahan 8. Ketidaknyamanan setelah beraktivitas Penurunan sel darah Intoleransi aktivitas merah Hemoglobin berkurang anemia Suplai O2 dan nutrisi kejaringan berkurang Hipoksia Mekanisme anaerob ATP berkurang Kelelitan Intoleransi aktivitas 3. Menyatakan merasa letih 2. Peningkatan hematokrit 4. Penurunan berat badan 7. Peningkatan suhu tubuh 5.3. Faktor resiko: Penurunan sel darah Gangguan perfusi 23 . Peningkatan frekuensi nadi 6.

takipnea Hemoglobin berkurang 3. 24 . Koagulopati 5. Kelemahan ekstremitas merah atau Hemoglobin berkurang paralis 2. Dispnea merah 2. Fase ekspirasi memanjang 4. 4. Penurunan kapasitas vital Pola nafas tidak efektif anemia Suplai O2 dan nutrisi kejaringan berkurang 5. 3. Perubahan kedalaman nafas Sesak Pola nafas tidak efektif Prioritas masalah 1. Perubahan reaksi pupil 3.1. Masa protrombin jaringan serebral abnormal 4. Terapi trombolitik 4. 2. Masa tromboplastin jaringan serebral anemia Suplai O2 dan nutrisi kejaringan berkurang Sistem saraf pusat Gangguan perfusi parsial abnormal 6. Intoleransi aktivitas. Diagnosa keperawatan 1. Pola nafas tidak efektif. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. C. Faktor resiko : Penurunan sel darah 1. Gangguan perkusi jaringan serebral. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.

Adanya peningkatan 3. Nursing care plan (NCP) Diagnosa No 1. D. 1. Nutritional status : nutrient intake untuk 1. Peningkatan tubuh selama jumlah kalori dan keperawatan x 24 nutrisi kriteria hasil : berat badan klien untuk meningkatakan protein. Anjurkan suhu diharapkan nutrisi klien seimbang. Monitor berat yang dibutuhkan klien. Weight control darah 2. Gangguan perkusi jaringan serebral b/d penurunan O2 ke otak. Rencana Keperawatan Keperawatan Ketidakseimbangan nutrisi kurang Tujuan (NOC) NOC dari 1. Peurunan tekanan 4. Intake 1. Penurunan menentukan dilakukan 1 dengan ahli gizi sesuai nutrisi jumlah dan 25 . Pola nafas tidak efektif b/d hiperventilasi.2. Peningkatan frekuensi nadi 6. jam 2. Kolaborasi Batasan karakteristik : 3. Peningkatan hematokrit tindakan 4. Kulit kering Setelah 3. Nutritional kebutuhan tubuh Intervensi (NIC) NIC status : Nutrition food and fluid management 2. dengan 5. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. 3. 4.

Koagulopati 5. Nutrition mengidentifikasi badan yang berarti. Berat 7.badan dengan tujuan. Prefusion : cerebral 2x24 jam ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi dengan kriteria hasil: parsial abnormal 6. Perubahan atau ukuran 3. 4. Terapi trombolitik 4. Monitor kadar mengabsorbsi kalori dan intake nutrien 2. Monitor kadar 5. Tidak penurunan berat albumin. nyeri kepala 4. Monitor TTV 2. Mampu Faktor untuk kandungan cairan. kesimetrisan dan Setelah dilakukan asuhan selama pupil. dalam reaksi 3. Monitoring 3. pandangan kabur. terjadi 3. Monitor 1. Masa protrombin abnormal 1. yang berhubungan : 1. untuk kalori. HT dan HB. Tissue reaksi pupil 3. Gangguan perkusi NOC : jaringan serebral Faktor resiko: NIC : 1. Kelemahan ekstremitas paralis 2. Kelemahan 8. Monitor mual dan muntah. batas normal. Protein. Masa tromboplastin AGD. Ketidakmampuan mencerna makanan 2. 4. 2. Monitor adanya diplopia. Circulation status 1. Monitor level kebingungan dan 26 . Ketidakmampuan 1. Tekanan systole dan diastole ketajaman. Tidak ada tanda – tanda malnutrisi. Neurologic status 2. Kurang minat pada makanan badan ideal sesuai dengan tinggi badan. 2. BB klien dalam kebutuhan nutrisi.

Monitor 6. Respiratory status : Faktor resiko : 1. Pertahankan 7. hemodinamik Pola nafas tidak NOC: efektif 1. Komunikasi jelas intrkranial dan respon nerologis 4. Catat perubahan orientasi pasien dalam merespon 5. Tidak mengalami nyeri kepala 3. dilakukan 2.rentang yang orientasi diharapkan 5. Bebas dari aktivitas status cairan kejang 9. Penurunan kapasitas vital 5. takipnea 3. Pertahankan jalan 27 . Posisikan pasien 2. Dispnea 2. Monitor respirasi keperawatan dan status O2 selama 1x24 jam pasien menunjukkan keefektifan 3. Monitor 2. Tidak ada tonus otot pergerakan ortostatikhipertensi 6. Fase ekspirasi memanjang 4. Perubahan kedalaman nafas Ventilation Airway patency 3. Menunjukkan konsentrasi dan 7. Pupil seimbang dan stimulus reaktif 8. Monitor tekanan 3. Respiratory status : Setelah parameter untuk memaksimalkan ventilasi. Vital sign Status tindakan NIC: 1.

Intoleransi aktivitas Batasan karakteristik : 1. Ketidaknyamanan NOC : NIC : 1. Monitor nafas tidak ada pola suara nafas abnormal) 3.pola nafas. dibuktikan nafas yang paten dengan kriteria hasil: 1. Menunjukkan nafas vital jalan tehnik paten untuk relaksasi (klien tidak merasa memperbaiki tercekik. Informasikan pada pasien dan keluarga tentang pursed lips) 2. Mendemonstrasikan batuk efektif suara nafas bersih. pernafasan) 4. irama nafas. Monitor mengeluarkan sign sputum. dan yang tidak ada 4. rentang 7. Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah. Toleransi aktivitas dalam melakukan aktivitas 28 . mampu bernafas dengan mudah. Self Care : ADLs 1. Observasi adanya pembatasan klien 2. frekuensi pernafasan dalam normal. pola nafas. tidakada yang 6. Menyatakan merasa lemah 3. Menyatakan merasa letih 2. nadi. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi sianosis dan dyspneu (mampu 5.

Kesimpulan Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa 4. Mampu melakukan aktivitas sehari hari 5. Kaji faktor Setelah tindakan dilakukan keperawatan adanya yang menyebabkan kelelahan selama 2x24 jam pasien bertoleransi terhadap 3. emosi. Monitor aktivitas dengan Kriteria dan Hasil : energi nutrisi sumber yang adekuat 1. 29 . Monitor pasien disertai adanya peningkatan akan tekanan darah. seperti kehilangan komponen darah. Monitor respon (ADLs) fisik.setelah beraktivitas 3. sosial dan secara mandiri spiritual 3. Konservasi eneergi 2. nadi kelelahan fisik dan RR dan emosi secara berlebihan 2. Keseimbangan aktivitas dan istirahat BAB IV PENUTUP A. yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah. elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah.

Gejala dan tanda pada orang anemia. 30 . kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah.Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah.Hematologi Klinik Dasar. Untuk mengetahui sendiri apakah terserang sakit anemia atau tidak adalah dengan cara mengecek warna kulit pada kantung mata bagian dalam bawah. Saran DAFTAR PUSTAKA Bakta. B. umumnya mereka yang mengalami sakit anemia. Anemia bukan merupakan penyakit. mudah sekali untuk dikenali dan dilihat secara fisik oleh mata. Marylinn E. Jika terdapat warna kurang merah berarti anda dapat dikatakan mengalami anemia. I Made. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 2000.2003. Ed. EGC: Jakarta. 3. Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar HB atau hematokrit dibawah normal. melainkan merupakan pencerminan keadaan sutu penyakit atau gangguan fungsi tubuh.Jakarta:EGC Doenges.

Edisi 8. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Smeltzer. C. Jakarta : EGC 31 . S. Diagnosa Keperawatan Nanda definisi dan Klasifikasi 2012-2014 Price.A. Jakarta : EGC Nanda internasional. 2012-2014. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. 2000.2001.S.