You are on page 1of 32

REFERAT

MANAGEMENT ANESTESI UMUM DAN REGIONAL PADA PASIEN
PREEKLAMSI BERAT DAN EKLAMSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Ilmu Anestesi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
dr. Damai S, Sp.An

Diajukan Oleh :
AFDELINA RIZKY AMALIA

J510165025

FERDY ARIF FADHILAH

J510165039

WINDA NUR ANNISA

J510165058

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

1

REFERAT
MANAGEMENT ANESTESI UMUM DAN REGIONAL PADA PASIEN
PREEKLAMSI BERAT DAN EKLAMSI
Diajukan Oleh :
AFDELINA RIZKY AMALIA

J510165025

FERDY ARIF FADHILAH

J510165039

WINDA NUR ANNISA

J510165058

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada Senin, 04 Juli 2016
Pembimbing :
dr. Damai S, Sp.An

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi
dr. D. Dewi Nirlawati

(.................................)

2

DAFTAR ISI
Halaman Judul..................................................................................................

i

Halaman Pengesahan ....................................................................................... ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
Bab I. Pendahuluan........................................................................................... 3
Bab II. Tinjauan Pustaka................................................................................... 5
Bab III. Kesimpulan.......................................................................................... 26
Daftar Pustaka................................................................................................... 28

3

tenggelam. keracunan. maka harapan hidup si korban sangat kecil. tetapi masih hidup.Keadaan ini dapat disebabkan karena korban mengalami serangan jantung (heart attack). LATAR BELAKANG Resusitasi jantung paru merupakan tindakan pertolongan yang dilakukan kepada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung. Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas. karena otak hanya akan mampu bertahan jika ada asupan gula/glukosa dan oksigen. atau juga dikenal dengan cardio pulmonier resusitation (CPR). Resusitasi jantung paru (RJP).Oleh karena itu GOLDEN PERIOD (waktu emas) pada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah dibawah 10 menit.Jika tidak. sehingga dalam waktu singkat organ-organ tubuh terutama organ fital akan mengalami kekurangan oksigen yang berakibat fatal bagi korban dan mengalami kerusakan. Kematian otak berarti pula kematian si korban.Artinya dalam watu kurang dari 10 menit penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung harus sudah mulai mendapatkan pertolongan. kecelakaan dan lain-lain. Organ yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak.BAB I PENDAHULUAN A. Jika dalam waktu lebih dari 10 menit otak tidak mendapat asupan oksigen dan glukosa maka otak akan mengalami kematian secara permanen. merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. 4 . tersengat arus listrik. Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan gawat darurat akibat kegagalan sirkulasi dan pernafasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna mencegah kematian biologis. Pada kondisi napas dan denyut jantung berhenti maka sirkulasi darah dan transportasi oksigen berhenti.Adapun pertolongan yang harus dilakukan pada penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah dengan melakukan resusitasi jantung paru / CPR.

melainkan yang mungkin untuk hidup lama tanpa meninggalkan kelainan di otak. Resusitasi jantung paru yang dilakukan setelah penderita mengalami henti nafas dan jantung selama 3 menit. Resusitasi jantung paru tidak dilakukan pada semua penderita yang mengalami gagal jantung atau pada orang yang sudah mengalami kerusakan pernafasan atau sirkulasi yang tidak ada lagi kemungkinan untuk hidup. korban juga akan meninggal dunia. Setelah 4 menit presentasi menjadi 50 % dan setelah lima menit menjadi 25 %. Jika korban mengalami pendarahan hebat. Namun. Jika keadaan ini tidak ditolong akan terjadi mati biologis yang irreversibel.Komplikasi dari teknik ini adalah pendarahan hebat. 5 .RJP harus segera dilakukan dalam 4-6 menit setelah ditemukan telah terjadi henti nafas dan henti jantung untuk mencegah kerusakan sel-sel otak dan lain-lain.Mati klinis terjadi bila dua fungsi penting yaitu pernafasan dan sirkulasi mengalami kegagalan total. presentasi kembali normal 75 %tanpa gejala sisa. Jika penderita ditemukan bernafas namun tidak sadar maka posisikan dalm keadaan mantap agar jalan nafas tetap bebas dan sekret dapat keluar dengan sendirinya. Maka jelaslah waktu yang sedikit itu harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. maka pelaksanaan RJP akan memperbanyak darah yang keluar sehingga kemungkinan korban meninggal dunia lebih besar. Keberhasilan resusitasi dimungkinkan oleh adanya waktu tertentu diantara mati klinis dan mati biologis. jika korban tidak segera diberi RJP.

atau juga dikenal dengan cardio pulmonier resusitation (CPR). Resusitasi Jantung Paru ( RJP ) atau Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR ) Suatu usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau fungsi jantung serta menangani akibat-akibat berhentinya fungsi-fungsi jantung tersebut pada orang yang tidak diharapkan mati pada saat itu. tiadanya darah teroksigenasidalam beberapa menit dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki. Defenisi RJPO Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan gawat darurat akibat kegagalan sirkulasi dan pernafasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna mencegah kematian biologis. Komplikasi dari teknik ini adalah pendarahan hebat. korban juga akan meninggal dunia.BAB II PEMBAHASAN A. jika korban tidak segera diberi RJP. Ketika jantung berhenti. Jika korban mengalami pendarahan hebat. tetapi masih hidup. merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. seperti serangan jantung.Jika penderita ditemukan bernafas namun tidak sadar maka posisikan dalm keadaan mantap agar jalan nafas tetap bebas dan sekret dapat keluar dengan sendirinya. dimana pernafasan dan denyut jantung seseorang berhenti. RJP adalah teknik penyelamatan hidup yang bermanfaat pada banyak kedaruratan. maka pelaksanaan RJP akan memperbanyak darah yang keluar sehingga kemungkinan korban meninggal dunia lebih besar. RJP harus segera dilakukan dalam 4-6 menit setelah ditemukan telah terjadi henti nafas dan henti jantung untuk mencegah kerusakan sel-sel otak dan lain-lain. tenggelam. Namun. Resusitasi jantung paru (RJP).Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas. Kematian terjadi dalam 8 -10 menit. Perhitungan 6 .

tindakan BLS ini dapat disingkat dengan teknik ABC yaitu airway atau membebaskan jalan nafas.terhadap waktu adalah pentingsaat menolong pasien tidak sadar yang tidak bernafas. bantuan hidup jangka lama. dan circulation atau pijat jantung pada posisi shock. RJP harus segera dilakukan dalam 4-6 menit setelah ditemukan telah terjadi henti nafas dan henti jantung untuk mencegah kerusakan sel-sel otak dan lain-lain. disingkat BLS) adalah suatu tindakan penanganan yang dilakukan dengan sesegera mungkin dan bertujuan untuk menghentikan proses yang menuju kematian. Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan gawat darurat akibat kegagalan sirkulasi dan pernafasan untuk dikembalikan ke fungsi optimal guna mencegah kematian biologis. bantuan hidup lanjut. karena peredaran darah akan berhenti selama 3-4 menit. Resusitasi jantung paru otak dibagi dalam tiga fase :bantuan hidup dasar. Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest). Tujuan utama dari BLS adalah untuk melindungi otak dari kerusakan yang irreversibel akibat hipoksia. Jika penderita ditemukan bernafas namun tidak sadar maka posisikan dalm keadaan mantap agar jalan nafas tetap bebas dan sekret dapat keluar dengan sendirinya. Teknik ini diberikan pada korban yang mengalami henti jantung dan nafas. Menurut AHA Guidelines tahun 2005. breathing atau memberikan nafas buatan. breathing. tetapi masih hidup. Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support. Namun pada pembahasan kali ini lebih difokuskan pada Bantuan Hidup Dasar.Namun pada tahun 2010 tindakan BLS diubah menjadi CAB (circulation. merupakan gabungan antara pijat jantung dan pernafasan buatan. Resusitasi jantung paru (RJP) atau juga dikenal dengan cardio pulmonier resusitation (CPR). 7 . airway).

B. l. isoprenalin. 40 % mati mendadak. Terapi dan tindakan diagnostik medis Syok (hipovolemik. sumbatan jalan nafas oleh sekresi. noda sinus atrioventrikulaer sakit). Pada beberapa keadaan. hati dan paru yang lanjut (Alkatiri dkk. neurogenik.sebab henti jantung : a. Kelebihan dosis obat dan gangguan asam basa f. obstruksi jalan napas atau primary respiratory arrest (Alkatiri dkk. serta pada penyakit ginjal. propoksifen. i. j. Penyakit kardiovaskuler b. sindrom adams stokes. Refleks vagal Peregangan sfingter anii. 2007). antara lain: bila henti jantung (arrest) telah berlangsung lebih dari 5 menit (oleh karena biasanya kerusakan otak permanen telah terjadi pada saat ini). pada keganasan stadium lanjut. Lebih dari 90 % 8 . 2007). payah jantung refrakter. Anestesi dan pembedahan. edema paru-paru refrakter. Kekurangan oksigen akut d. adrenalin dan g. infark miokardial akut. penekanan atau penarikan bola mata. fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre. overdosis. h. Digitalis. quinidin. toksik dan anafilaktik). Kebanyakan henti jantung yang terjadi di masyarakat merupakan akibat penyakit jantung iskemik. Henti nafas. pasien dengan hipotermi. embolus paru. tindakan resusitasi tidak dianjurkan (tidak efektif). antidepresan trisiklik. k. Sebab. sekitar 60 % diantara umur pertengahan dan yang lebih muda. pasien di rumah sakit dengan fibrilasi ventrikel primer dan penyakit jantung iskemi. asfiksia dan hipoksia. e. Dari penyakit jantung iskemik terjadi dalam waktu satu jam setelah dimulainya gejala dan proporsinya lebih tinggi. benda asing di jalan nafas. kelainan neurologic yang berat.1. Kecelakaan Syok listrik dan tenggelam. c. syok yang mendahului arrest. Penyakit jantung sistemik. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI Indikasi RJPO Tindakan RJP sangat penting terutama pada pasien dengan cardiac arrest karena fibrilasi ventrikel yang terjadi di luar rumah sakit.

misalnya serangan stroke. 2. keracunan obat. dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest). Pa CO2 tinggi. Pada awal henti nafas. kanula trakhea tersumbat. Tanda dan gejala henti napas berupa tidak sadar (pada beberapa kasus terjadi kolaps yang tiba-tiba). tenggelam. inhalasi asap/uap/gas. Pa O2 rendah. pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. sianosis dari mukosa buccal dan liang telinga. yang mana fungsi tersebut gagal total oleh sebab yang memungkinkan untuk hidup normal. a) Henti Napas (Respiratory Arrest) Henti Napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal. lidah yang jatuh ke belakang. setelah henti jantung. tersengat listrik. tercekik (suffocation). pipa trakhea terlipat. suatu kondisi yang potensial reversible. Resusitasi jantung paru bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi. obstruksi jalan napas oleh benda asing. Sumbatan jalan nafas Bisa disebabkan karena adanya benda asing. Kalau henti napas mendapat pertolongan dengan segera maka pasien akan terselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung yang mungkin menjadi fatal (Latief dkk. pernapasan tidak tampak atau pasien bernapas dengan terengah-engah secara intermitten. tumor otak dan tenggelam. 2009).Adapun sebab henti nafas adalah : 1. 2009).kematian yang terjadi di luar rumah sakit disebabkan oleh fibrilasi ventrikuler. 1995). perdarahan). kelainan akut glotis dan sekitarnya (sembab glotis. radang epiglottis. pucat secara umum. Sentral : obat. Depresi pernafasan a. jantung masih berdenyut. intoksikasi. aspirasi. trauma dan lain-lain (Latief dkk. serangan infark jantung. masih teraba nadi. tersambar petir. 9 . nadi karotis teraba (Muriel.

Pada henti jantung dilatasi pupil kadang-kadang tidak jelas. Perifer : obat pelumpuh otot. asfiksisa. femoralis. dilatasi pupil tak bereaksi dengan ranngsang cahaya dan pasien dalam keadaan tidak sadar (Latief dkk. hal ini menandakan sudah 50% kerusakan otak irreversible (Alkatiri dkk. Dilatasi pupil mulai terjadi 45 detik setelah aliran darah ke otak berhenti dan dilatasi maksimal terjadi dalam waktu 1 menit 45 detik. b) Henti Jantung (Cardiac Arrest) Henti jantung adalah keadaan terhentinya alran darah dalam system sirkulasi tubuh secara tiba-tiba akibat terganggunya efektifitas kontraksi jantung saat sistolik (Mansjoer.6%) seperti akibat penyakit paru. dan penyebab eksternal nonjantung (9.b. 2. poliomyelitis. 2009). Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis.4%). denyut jantung dan pembuluh darah masih dapat berlangsung terus sampai kira-kira 30 menit. penyakit kanker. pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping. DNAR (do not attempt resuscitation) 2. perdarahan saluran cerna obstetrik/pediatrik. 2009). Umumnya walaupun kegagalan pernapasan telah terjadi. upaya bunuh diri. Bila telah terjadidilatasi pupil maksimal. penyakit ginjal. emboli paru. Berdasarkan etiologinya henti jantung disebabkan oleh penyakit jantung (82. Tidak ada manfaat fisiologis karena fungsi vital telah menurun 3. 2009). penyakit serebrovaskular. epilepsi. diabetes mellitus. sengatan listrik/petir (Mansjoer. penyebab internal nonjantung (8. Henti jantung biasanya terjadi beberapa menit setelah henti napas. Kontra Indikasi RJPO 1. 2007).0%) seperti akibat trauma. penyakit miastenia gravis. disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali. Ada tanda kematian yang reversibel a. rigormotis (kaku mayat) 10 . apnu). overdosis obat. radialas).

b. FASE I : Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support) yaitu prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas. 2. C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru. 11 . yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan : D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan. I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU. henti nafas dan henti jantung. FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life Support). pCO2 bila diperlukan. E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai KJL. yaitu : tunjangan ventilasi : trakheostomi. 1993) : 1. dekomposisi d. dan tunjangan sirkulasi. B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat. mengendalikan kejang. pucat e. Terdiri dari : A (airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka. dan bagaimana melakukan RJP secara benar. F (fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel. pengukuran pH. H (Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada suhu antara 30° — 32°C. FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support). sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologic yang permanen. dinilai. asistole atau agonal ventricular complexes. dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya. dekapitasi c. 3. untuk mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel. karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan. C. H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung. G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus. sonde lambung. pernafasan dikontrol terus menerus. FASE RJPO Resusitasi jantung paru otak dibagi menjadi 3 fase diantaranya (Sunatrio. H (Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai perasaan.

(bersihkan) .D. Periksa jalan napas korban sebagai berikut : . mintalah bantuan untuk menghubungi rumah sakit terdekat. Airway (Jalan Napas) Posisikan korban dalam keadaan terlentang pada alas yang keras (ubin). darah. 2007). Sebelum menolong korban. hendaklah menilai keadaan lingkungan terlebih dahulu:   Apakah korban dalam keadaan sadar? Apakah korban tampak mulai tidak sadar.membuka mulut korban . tonus otot menghilang. 2009).masukkan 2 jari (jaritelunjuk dan jari tengah) . 1. ALGORITMA Pada dasarnya resusitasi jantung paru terdiri dari 2 elemen: kompresi dada dan mulut-ke-mulut (mouth-to-mouth) napas buatan (Mansjoer. tepuk atau goyangkan bahu korban dan bertanya dengan suara keras “Apakah Anda  baik-baik saja?” Apabila korban tidak berespon.lihat apakah ada benda asing. Caranya ialah: a. 1993). Lidah dan epiglottis 12 . bila diatas kasur selipkan papan (Latief. Bantuan Hidup Dasar/Basic Life Support (BLS) Merupakan prosedur pertolongan darurat tentang henti jantung dan henti napas serta bagaimana melakukan RJP yang benar sampai ada bantuan datang (Sunatrio. dan mulailah RJP. sehingga lidah akan menyumbat laring.Pada korban tidak sadar.

tengadahkan/dongakkan kepala korban (Head tilt .Look: lihat gerakan dada apakah mengembang atau tidak. Lidah yang jatuh kebelakang (drop). - Letakkan tangan penolong diatas kening korban dan tangan yang lain didagu korban .Feel: rasakan hembusan napas korban pada mulut/hidung ada atau tidak.Listen: dengarkan suara napas korban ada atau tidak . menutupi jalan napas (Agarwal & Jadon 2008). 13 . - Jika kita mencurigai adanya patah atau fraktur tulang leher/servikal. Breathing (Pernapasan) Untuk menilai pernapasan korban dilakukan 3 cara: .chin lift) (Sunatrio. . 1993). b.penyebab utama tersumbatnya jalan napas pada pasien tidak sadar. maka pakai cara “jaw trust”. lalu buka jalan napas.

arteri femoralis). Saat memberi napas buatan. c. pastika dada korban mengembang yang menandakan bahwa bantuan napas adekuat. atau mulut ke hidung atau mulut ke lubang trakheostomi sebanyak 2 kali (Agarwal & Jadon 2008). 14 . Circulation (Sirkulasi buatan) Nilai sirkulasi darah korban dengan menilai denyut arteri besar (arteri karotis.Jika tidak ada maka dapat dilakukan napas buatan mulut ke mulut atau mulut ke sungkup.

15 . Apabila tidak terdapat denyut nadi maka lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali (AHA.- Apabila terdapat denyut nadi maka berikan pernapasan - buatan 2 kali. 2005). 2005). dimulai dari melokasi proc. Xyphoideus. dan lakukan kompresi pada tempat tersebut (AHA. dan tarik garis ke cranial 2 jari diatas proc. Xyphoideus. Posisi kompresi dada.

2005).Kemudian berikan 2 kali napas buatan dan teruskan kompresi dada sebanyak 30 kali. apabila: . Kemudian cek nadi dan napas korban. 16 .Tidak ada napas dan tidak ada nadi : teruskan RJP sampai - bantuan datang Terdapat nadi tetapi tidak ada napas: mulai lakukan - pernapasan buatan Terdapat nadi dan napas: korban membaik. Ulangi siklus ini sebanyak 5 kali (AHA.

Algoritma RJPO 2005 17 .

(AHA. 2005) Algoritma RJPO 2015 18 .

ADVANCE LIFE SUPPORT a. Definisi 19 .(AHA. 2015) 2.

Komponen BHL Tujuan BHL yakni mengupayakan agar jantung berdenyut kembali dan mencapai curah jantung yang adekuat (Neumar. 5) Alat monitor standard (pulse oxymetry. e. 2010). laryngeal mask airway. Komponen 1) Oropharyngeal airway (OPA) atau nasopharyngeal airway (NPA) . baik otomatis maupun manual. yang memiliki monitor irama jantung (EKG).Bantuan hidup lanjut (BHL) yaitu bagian dari chain of survival yang dilaksanakan setelah bantuan hidup dasar (BHD) dikerjakan (Neumar. 2010). pengukur tekanan darah. 5) Mengupayakan sirkulasi spontan dengan cara defibrilasi jantung dan penggunaan obat-obat emergensi yang sesuai indikasi (AHA. dan PETC02). 2010). Algoritma AHA 20 . 3) Endotracheal tube (ET) dengan laringoskopi. 2010). 2) Resuscitation bag dan sungkup muka atau mesin ventilator. Komponen 1) Pengamanan jalan napas menggunakan alat bantu. b. d. 4) Menginterpretasikan hasil EKG. c. 2) Ventilasi yang adekuat. 4) Defibrilator. 3) Pembuatan akses jalur intravena (IV) atau jalur alternatif untuk induksi obat. 6) Medikamentosa emergensi dan cairan infus. f. Tujuan Tujuan BHL yakni mengupayakan agar jantung berdenyut kembali dan mencapai curah jantung yang adekuat (Neumar. atau supraglotic airway device lainnya.

Non-shockable: asistol dan pulseless electrical activity (PEA).(AHA. 2010). Pastikan untuk mengecek sadapan jantung pada irama asistol untuk memastikan tidak ada yang terlepas ((Neumar. Penggunaan defibrilator bergantung pada jenis alat 21 . 2010)  Shockable: fibrilasi ventrikel (VF) dan takikardi ventrikel tanpa  denyut nadi (pulseless VT).

*AHA 2015 : vasopressin tidak lagi digunakan sebagai pengganti epinefrin karena dianggap tidak lebih baik. Perhatikan pemberian obat-obatan: 1. Obat yang digunakan hanya epinefrin (Neumar. 22 . Obat lini pertama adalah epinefrin. lalu coba pasang lagi. g. berikan ventilasi sebanyak 8-10 kali per menit dengan tetap melakukan RJP (resusitasi jantung paru) (AHA. pastikan area sekitar dan penolong bebas (clear) (AHA. Henti jantung shockable.2010). Alat Bantu Napas lanjutan  Gunakan alat bantu supraglotik atau lakukan intubasi. 2. jika tidak hentikan dan berikan napas buatan. maka dapat diberikan amiodaron sebagai obat alternatif. Defibrilator monofasik: berikan 360 J sekali kejutan  Defibrilator bifasik: berikan 120-200 J sekali kejutan *Kejutan berikutnya harus dengan daya yang sama atau lebih besar. Henti jantung non-shockable. Pemasangan alat bantu napas harus selesai dalam jangka waktu 30 detik. dosis kedua: 150 mg. Jika penggunaan epinefrin dan defibrilasi belum berhasil.  Amiodaron IV/IO. 2010) h. *Sebelum melakukan defibrilasi. 2010). Farmakologi  Epinefrin/Adrenalin IV/IO dengan dosis 1 mg setiap 3-5 menit.  Apabila alat bantu napas lanjutan sudah terpasang. Dosis pertama: 300 mg bolus.

tim penolong harus mencoba mencari penyebab henti jantung agar dapat memberikan obat  atau terapi spesifik yang tepat. biasanya ≥4 mmHg (Soerianata.  Jaga temperatur tubuh. yang terdiri dari: 23 .Return of Spontaneous Circulation (ROSC). Setelah tercapai ROSC.  Pastikan adekuatnya oksigenasi dan ventilasi.  Terapi perfusi/reperfusi. 2011). hal-hal yang harus dilakukan:  Pemeriksaan EKG 12 sadapan. Penyebab tersering henti jantung yang harus dipertimbangkan dikenal dengan singkatan 5H5T.  Peningkatan PETC02 secara cepat.  Sembari melakukan BHL. Kembalinya sirkulasi spontan ditandai:  Kembalinya denyut nadi dan tekanan darah.

dialisis atau resusitasi otak (Soerianata. fungsi otak. 2015 3.2011). Tindakan-tindakan ini meliputi penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sisitemik yang 24 . Human Mentation Mentasi manusia diharapkan dapat dipulihkan dengan tindakan resusitasi otak yang baru. ginjal dan hati. Pasien yang mengalami kegagalan satu atau lebih organ memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi. Yang termasuk bantuan hidup jangka panjang adalah GHI RJPO yaitu : a. b. Gauging Langkah ini dilakukan untuk menentukan dan memberi terapi penyebab henti jantung dan menilai tindakan selanjutnya.AHA. terapi aritmia. Pasien yang tidak mempunyai defisit neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya memerlukan pemantauan intensif dan observasi terus-menerus terhadap sirkulasi pernafasan. BANTUAN HIDUP JANGKA PANJANG Bantuan hidup jangka panjang merupakan pengelolaan intensif pasca resusitasi termasuk resusitasi otak. apakah penderita dapat diselamatkan atau tidak. Jenis pengelolaan yang diperlukan pasien tergantung sepenuhnya pada hasil resusitasi.

dan penggunaan diuretik untuk menurunkan tekanan intrakranial. Pernapasan (Breathing = B) Pada bayi yang tidak bernapas. tutupi mulutnya. untuk menentukan ada atau tidaknya denyut nadi adalah dengan meraba bagian dalam dari lengan atas pad a bagian tengah antara siku dan bahu. Oksigen tambahan hendaknya diberikan dan hiperventilasi derajat sedang juga membantu (PaCO2 25-30 mmHg) beberapa pengarang menganjurkan diberikan pada pasien yang mengalami koma barbiturat dan hipotermia sedang. RJPO PADA BAYI DAN ANAK Hal yang harus diperhatikan jika RJP pada bayi dan anak: 1. Peredaran Darah (Circulation = C) Pemeriksaan Denyut: Pada bayi. 3. Intensive Care Langkah ini merupakan pengelolaan intensif berorientasi otak pada penderita dengan kegagalan organ multipel pascaresusitasi (Soerianata.Leher bayi masih terlalu lunak sehingga dongakan yang kuat justru bisa menutup saluran pernapasan. E. Obat yang dianjurkan adalah tiopental dengan dosis 30 mg/kgBB dengan 1/3 dosis diberikan secara bolus intravena dan 2/3 dosisi dengan infuse/drip lambat. Pada anak kecil. Saluran Pernapasan (Airway =A) Hati-hatilah dalam memengang bayi sehingga Anda tidak mendongakkan kepala bayi dengan berlebihan. 2010). penggunaan steroid untuk mengurangi sembab otak. 2. 2015). c.2011).normal. dan berikan hembusan seperti pada bayi. Pemeriksaan denyut pada anak keeiL sarna dengan orang dewasa (AHA. jepit hidungnya. jangan meneoba menjepit hidungnya. Tutupi mulut dan hidungnya dengan mulut Anda lalu hembuskan dengan perlahan (1 hingga 1. 25 .5 detik/napas) dengan menggunakan volume yang eukup untuk membuat dadanya mengembang. tetapi keuntungannya masih kontroversial (Sunatrio.

diperlukan modifikasi teknik yang disebutkan di atas yaitu sebagai berikut. Ekstensi kepala yang berlebihan dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas pada bayi dan anak kecil.Teknik Pada Bayi Dan Anak-Anak Prinsip Bantuan Hidup Dasar pada bayi dan anak adalah sama dengan pada orang dewasa. 26 . kompresi dada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pada 1 jari di bawah titik potong garis putting susu dengan sternum pada bayi dan pada tengah pertengahan bawah sternum pada anak. dan hentakan dada dapat diberikan dengan anak terlentang di atas lantai. Kepala hendaknya dijaga dalam posisi netral selama diusahakan membuka jalan napas pada kelompok ini. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban telungkup melintang di atas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan. Pada bayi dan anak kecil. Akan tetapi karena ketidaksamaan ukuran. kepala terletak dibawah melintang pada paha penolong.5-2. 2. Penekanan sternum 1. Karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalam rongga toraks pada pasien-pasien muda. Pada anak yang lebih besar hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada luar. 3. tetapi pada anak diperlukan penekanan 2. 1.5-4 cm. ventilasi mulut-ke-mulut dan hidung lebih sesuai daripada ventilasi mulut-ke-mulut atau mulut-ke-hidung. 4. Pemberian ventilasi harus lebih kecil volumnya dan frekuensi ventilasi harus ditingkatkan menjadi 1 ventilasi tiap 3 detik untuk bayi dan 1 ventilasi tiap 4 detik untuk anak-anak. Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong dan hentakan dada diberikan dengan bayi terlentang.5 cm efektif untuk bayi.

Setelah tiga siklus pijat napas. evaluasi sirkulasi RJP pada bayi Kebanyakan henti jantung pada bayi karena kehabisan oksigen.Bila tidak ada respon. nilai situasi. c. d. evaluasi sirkulasi (Soerianata. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi selalu 5:1 (Soerianata. pemberian komprsi dada luar harus minimal 100 kali permenit pada bayi dan 80 kali permenit pada anak-anak. Selama henti jantung. Kompresi ritmik 5 pijatan / 3 detik atau kurang lebih 100 kali per menit d. Xiphoideus c. Perbedaannya : 27 . a. e. namun jangan guncang sang bayi. Bila ada penolong lain. RJP pada anak untuk usia 1-8 tahun. 3. Tepuk bayi dan lihat responnya.2011). Bila anda tidak tahu kenapa bayi tidak bernafas. sekitar 5 siklus. Resusitasi Jantung paru pada anak-anak ( 1-8 tahun) a. ikuti prosedur CABdibawah dan kapan minta bantuan adalah sebagai berikut : 1. Titik kompresi pada satu jari di atas Proc. 2. sebelum menelepon nomor emergensi. lakukan RJP. prinsip serupa dengan dewasa. Satu telapak tangan b. 4. lakukan RJP selama 2 menit. b. lakukan pertolongan pertama untuk tercekik. Resusitasi jantung paru pada bayi ( < 1 tahun) 2 – 3 jari atau kedua ibu jari Titik kompresi pada garis yang menghubungkan kedua papilla mammae Kompresi ritmik 5 pijatan / 3 detik atau kurang lebih 100 kali per menit Rasio pijat : napas 15 : 2 Setelah tiga siklus pijat napas.Untuk memulai. seperti gerakan. 2011). Bila anda sendiri dan dibutuhkan RJP.Bila diketahui adanya obstruksi jalan nafas. Rasio pijat : napas 30 : 2 e. seperti pada tenggelam atau tercekik.5. 2010).suruh dia menelepon ketika anda menolong bayi (AHA.

28 .3%). vomitus orofaring (9.9%).9%). atau kontusio miokard (1.2010) H. 2010).9%).1%). 4. Pemberian nafas lebih hati-hati. bila ada denyut maka berarti tekanan kita cukup baik. Gunakan hanya satu tangan untuk melakukan kompresi jantung. 2010) G. 3. posisi yang terlalu rendah akan menekan Proc.0%). I.1%). 4. ruptur hepar (1. karotis. KOMPLIKASI Penyulit yang dapat terjadi akibat RJPO adalah edema paru (46. 6. darah masuk ke dalam perikardium (8. Saat melakukan pijatan jantung luar (PJL). Setelah 5 siklus (sekitar 2 menit) RJP. aspirasi (1. salah penempatan pipa endotrakea (3.0%). fraktur iga (34. 2. 30 : 2. Ini satu siklus. lakukan 5 siklus kompresi dan nafas. Gunakan pada pediatrik bila ada. 5. TANDA RJPO DILAKUKAN DENGAN BAIK 1. Setelah memberi nafas. dilatasi lambung (28.5%).1.3%) (Muhardi. vomitus trakea (8.2%). 5. Bila tidak ada. gunakan pada dewasa. sering terjadi pada orang tua b. bila tidak ada respon dan tersedia AED.0%). Reaksi pupil mata mungkin kembali normal Warna kulit penderita berangsu-angsur kembali membaik Mungkin ada reflek menelan dan bergerak Nadi akan berdenyut kembali (AHA. gunakan sesuai perintah mesin. segera mulai siklus berikut. Perdarahan intra abdominal. sekitar 2 menit. fraktur sternum (22. F. 2010). Perbandingan kompresi dan nafas seperti dewasa. Fraktur sternum. Lanjutkan hingga anak bergerak atau pertolongan tiba (Sunatrio. Distensi lambung karena pernapasan buatan (Neumar. suruh seseorang menilai nadi 2. Gerakan dada naik/turun dengan baik saat memberikan bantuan napas. Xiphoideus ke arah hepar atau limpa d. Robekan paru c. Bila anda sendiri. yaitu : a. sebelum menelepon petugas emergensi atau menggunakan AED. KOMPLIKASI RJPO Komplikasi Tindakan resusitasi. 3. ruptur lambung (0.

Hipoksia akut. keracunan dan kelebihan dosis obat-obatan. Resusitasi jantung paru terdiri atas 3 fase utama yakni : bantuan hidup dasar / BHD. untuk itu perlu pengetahuan RJP yang tepat dan benar dalam pelaksanaannya. serangan AdamsStokes. sengatan listrik. 29 . Penanganan dan tindakan cepat pada resusitasi jantung paru khususnya pada kegawatan kardiovaskuler amat penting untuk menyelematkan hidup. refleks vagal. serta kecelakaan lain yang masih memberikan peluang untuk hidup. Bantuan hidup lanjut dengan pemberian obat-obatan untuk memperpanjang hidup Resusitasi dilakukan pada : infark jantung “kecil” yang mengakibatkan “kematian listrik”. Bantuan hidup lanjut / BHL Usaha Bantuan Hidup Dasar bertujuan dengan cepat mempertahankan pasok oksigen ke otak. KESIMPULAN Resusitasi mengandung arti harfiah “Menghidupkan kembali” tentunya dimaksudkan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis. jantung dan alat-alat vital lainnya sambil menunggu pengobatan lanjutan dan Tunjangan hidup terusmenerus (Prolonged Life Support).BAB III PENUTUP A. Resusitasi tidak dilakukan pada : kematian normal stadium terminal suatu yang tak dapat disembuhkan.

dkk. Maged S. Prentice Hall International Inc. 122 (suppl 3):S729-67. FG et. Part 8: adult advanced cardiovascular life support: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care.64-82.694. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Clinical Anesthesiology.2003. S. Resusitasi Jantung Paru. 1989.2001. Anestesi untuk pembedahan darurat dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran no. H. Penerbit FK UI : Jakarta Morgan...DAFTAR PUSTAKA Zuhardi. CV Infomedika : Jakarta Wiknjosastro. 4th edition. RS.. Jakarta 2007. Edward. Bagian Anestesiolog dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gestosis. Jakarta. Joenoerham. diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. J. Connecticut. 2001.al. Jr. 1984. Anestesiologi. Ilmu Kandungan edisi ketiga. Resusitasi Jantung Paru Otak. Williams Obstetrics. April 2008. Link MS. Otto CW. dkk. 21st ed. Sulistiyono. Cunningham. Dr Cipto Mangunkusumo. Rahardjo. 33. P. Mikhail. 2005. Murray. The McGraw-Hill Companies: Philadelphia Rasad..Obstetri Patologi ilmu kesehatan reproduksi Edisi 2. Sunatrio. Jakarta. Kronick SL. Pre-eklampsia dan eklampsia. hal : 4. Neumar RW.Petunjuk Praktis Anestesi. Latief. Hypertensive Disorder in Pregnancy. 2007. 2004 : 6-9. Shuster M. 33. Anestesi untuk pembedahan darurat dalam Majalah Cermin Dunia Kedokteran no.. T. 2010. Appleton and Lange. Sastrawinata S. h. Safar P.B. Martaadisoebrata D. Circulation. Wirakusumah F. Jakarta: EGC. Michael J. Jurnal penatalaksanaan Pre-eklampsi dan Eklampsi Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 653 . dkk. 30 . E. 281-301. H. G. 2004 : 3-5 Rahardjo. Callaway CW.

Susilo. Jong Wd. Editor Lyli Ismudiat R. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. hal : 106. 1994. Resusitasi Jantung Paru. Otto C. 1989 31 . Resusitasi Jantung Paru. Takeda Chemical Industries. Sunatrio DR. Resusitasi Jantung Paru. Bantuan Hidup Dasar. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta.Alkatri J. dalam Anesteiologi. hal : 137-129. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.W. 1992.. dkk. 1996. IDI. Sudarsono. Jakarta. hal : 124-119. The American Society of Critical Care Anesthesiologists. RS Jantung Harapan Kita. Jilid I. Balai Penerbit FKUI. 80. Resusitasi. O. Editor Muchtaruddin Mansyur. 2010.. Cardiopulmonary Resuscitation. No. Mustafa I. dkk. 1989. dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. hal : 281. Jakarta. 1998. Resusitasi Jantung Paru. hal : 193. Jakarta: Bagian Anestesiolog dan Terapi Intensif FKUI. 1987. dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Muhardi. Editor Muhardi Muhiman. dkk. ed. EGC. Ke-2. in Critical Care Practice. Resusitasi Jantung Paru Otak. Resusitasi Jantung Paru. Edisi Khusus.E. Siahaan O. Emergency Medicine Illustrated. 1997. Edisi Revisi. Tampubolon. dkk. Editor Tsuyoshi Sugimoto. Sunatrio S. Jakarta. Editor Soeparman. Sjamsuhidajat R. dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Kardiologi. 1985. Soerianata S.

32 .