You are on page 1of 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu faktor terpenting dalam kehidupan. Hal
tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu kerentanan fisik, individu sendiri,
keadaan lingkungan dan adanya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut
terjadi ketidakseimbangan maka individu berada dalam keadaan yang disebut
sakit. (Notoatmojo, 2007).
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO, 2012 ) setiap tahunnya
lebih dari satu milyar kasus gastroenteritis. Angka kesakitan diare pada tahun
2011 yaitu 411 penderita per 1000 penduduk. Diperkirakan 82% kematian akibat
gastroenteritis rotavirus terjadi pada negara berkembang, terutama di Asia dan
Afrika, dimana akses kesehatan dan status gizi masih menjadi masalah.
Sedangkan data profil kesehatan Indonesia menyebutkan tahun 2012 jumlah kasus
diare yang ditemukan sekitar 213.435 penderita dengan jumlah kematian 1.289,
dan sebagian besar (70-80%) terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Seringkali
1-2% penderita diare akan jatuh dehidrasi dan kalau tidak segera tertolong 5060% meninggal dunia.Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan
penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya (Depkes RI, 2012).
Diare adalah buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari)
(Depkes RI, 2000). Sedangkan menurut Widjaja (2002), diare diartikan sebagai
buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun
tidak. Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak – anak)
peringkat pertama di Indonesia. Semua kelompok usia diserang oleh diare, baik
balita, anak – anak, dan orang dewasa. Tetapi penyakit diare berat dengan
kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita (Zubir, 2006).

1.2

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian dari gastroenteritis atau diare?
Bagaimana anatomi dan fisiologi dari system pencernaan?
Apa klasifikasi dari diare?
Apa saja etiologi pada diare?
Bagaimanakah patofisiologi dari diare?
1

6. Bagaimanakah manifestasi klinis dari diare?
7. Apa Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penderita diare?
8. Apa saja komplikasi dari diare?
9. Bagaimana penatalaksanaan medis pada penderita diare?
10. Bagaimana landasan teori keperawatan pada penderita diare?
1.3

Tujuan

1. Tujuan umum
Mengetahui secara menyeluruh mengenai konsep teori dan konsep asuhan
keperawatan dengan masalah diare.
2. Tujuan khusus
a. Memahami pengertian dari gastroenteritis atau diare.
b. Mengetahui anatomi fisiologi dari system pencernaan.
c. Memahami klasifikasi diare.
d. Mengetahui etiologi diare.
e. Memahami patofisiologi dari diare.
f. Mengetahui manifestasi klinis dari diare.
g. Mengetahui pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penderita
diare.
h. Mengetahui komplikasi dari diare.
i. Mengetahui penatalaksanaan medis dari diare.
j. Menguasai landasan teori keperawatan pada diare.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 LANDASAN TEORITIS MEDIS
2.1.1 Definisi
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit yang terjadi karena
frekuensi BAB tiga kali atau lebih dengan konsistensi tinja yang encer atau
cair (Suriadi, 2001).
Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami rangsangan
buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses yang masih memiliki
kandungan air berlebihan (Mansjoer, 2000).

2

Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Mulut Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. kerongkongan. geraham).Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. lambung.Diare dapat juga didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi perubahan dalam kepadatan dan karakter tinja. 2. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit. buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. terdiri dari berbagai macam bau. Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi. tenggorokan (faring). 1.1. Pengecapan relatif sederhana. 2006).2 Anatomi Fisiologi Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. 3 . terdiri dari manis.Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan. usus besar. hati dan kandung empedu. mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi. menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. yaitu pankreas. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar. atau tinja cair dikeluarkan tiga kali atau lebih perhari (Aziz. menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. asin dan pahit. asam. rektum dan anus. usus halus. Saluran pencernaan terdiri dari mulut.

3. didepan ruas tulang belakang. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter).2. disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan.Terdiri dari 3 bagian yaitu : Kardia. 3. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. phagus – “memakan”). Tenggorokan (Faring) Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting : 1. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein) 5. yang bisa membuka dan menutup. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. 4. Lendir Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung. Dalam keadaan normal. 2. oeso – “membawa”. Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: οiσω. Asam klorida (HCl) Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam. yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Kerongkongan (Esofagus) Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Fundus. Lambung Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Usus halus (usus kecil) 4 . Antrum. dan έφαγον.

Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. c. dan dilanjutkan oleh usus buntu. ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum. yang merupakan bagian pertama dari usus halus. di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). usus kosong (jejunum). Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum).Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Jika penuh. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). a. Usus Penyerapan (illeum) Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter. b. dan usus penyerapan (ileum). Usus besar terdiri dari :Kolon asendens (kanan).Pada manusia dewasa. duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Pada sistem pencernaan manusia. 6. Usus Besar (Kolon) Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Kolon desendens (kiri). Usus Kosong (jejenum) Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus. Kolon sigmoid (berhubungan 5 . Usus dua belas jari (Duodenum) Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Kolon transversum. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum). Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. 1-2 meter adalah bagian usus kosong.

maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Rektum dan anus Rektum (Bahasa Latin: regere. 8. “meluruskan. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap. Dalam orang dewasa. Usus Buntu (sekum) Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus.Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi. lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda – bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum. “buta”) dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar.dengan rektum). yaitu pada kolon desendens. seperti vitamin K. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses . sering kali material akan dikembalikan ke usus 6 . 7. 9. Jika defekasi tidak terjadi. Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. mengatur”) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Umbai Cacing (Appendix) Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen). Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar.Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air. Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm. Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. dan terjadilah diare. Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi.

Faktor Infeksi 1. b. d. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme. Akibat diare disentri adalah anoreksia.1.besar. Diare Disentri Diare disentri adalah diare yang disertai darah dalam tinjanya. konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. 2. Diare Persisten Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari atau dua minggu dan terjadi secara terus-menerus.Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. gangguan gizi. penurunan berat badan dengan cepat.3 Klasifikasi Menurut Depkes RI (2000) diare menurut jenisnya dibagi : a. Diare dengan masalah Anak yang menderita diare (diare akut atau diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain seperti demam. dan kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus.4 Etiologi Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor. Diare Akut Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari atau dua minggu. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan. yaitu : a. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama. c. Akibatnya adalah dehidrasi.1. Infeksi enteral 7 . yang merupakan fungsi utama anus. atau penyakit lainnya. 2. dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar – BAB). sedangkan dehidrasi adalah penyebab utama kematian pada penderita diare.

Malabsorbsi protein c. Walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar. protozoa (Entamoeba histolytica.  Infeksi parenteral Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan. Tonsilofaringitis. Astrovirus dan lain-lain. Oxyuris. beracun. seperti Otitis Media akut (OMA). Giardia lamblia. Yersinia. ketersediaan jamban. alergi terhadap makanan. dan kebiasaan tidak mencuci tangan. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas. Rotavirus. Poliomyelitis). Faktor Malabsorbsi 1. Faktor pendidikan Menurut penelitian. Trichomonas hominis). jamur (candida albicans). monosakarida (intoleransi glukosa. (c) Infestasi parasite : Cacing (Ascaris. Strongyloides). e. Infeksi enteral ini meliputi:  Infeksi bakteri: Vibrio.Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Trichiuris. ditemukan bahwa kelompok ibu dengan status pendidikan SLTP ke atas mempunyai kemungkinan 1. 2. Bronkopneumonia.coli. Malabsorbsi lemak 3.25 kali memberikan 8 . Adenovirus. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa. Faktor resiko yang dapat menyebabkan diare karena faktor infeksi misalnya ketersediaan sumber air bersih. Campylobacter. Coxsackie. Ensefalitis dan sebagainya. Salmonella. (b) Infeksi virus: Enteroovirus (Virus ECHO. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun. d. E. Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktrosa. Shigella. maltose dan sukrosa). fruktosa dan galaktosa). Faktor makanan: makanan basi. b. Aeromonas dan sebagainya.

Faktor gizi dilihat berdasarkan status gizi yaitu baik = 100-90. 9 . Faktor lingkungan Penyakit diare merupakan merupakan salah satu penyakit yang berbasisi lingkungan. Hal ini disebabkan karena dehidrasi dan malnutrisi. i. g. Bayi dan balita yang gizinya kurang sebagian besar meninggal karena diare. semakin baik tingkat kesehatan yang diperoleh si anak. Kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. pengobatan dengan makanan baik merupakan komponen utama penyembuhan diare tersebut. Faktor gizi Diare menyebabkan gizi kurang dan memperberat diarenya. Faktor umur balita Sebagian besar diare terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua. kurang = <90-70. Menggunakan botol susu ini memudahkan pencemaran oleh kuman sehingga menyebabkan diare. maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare. Faktor terhadap Laktosa (susu kaleng) Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan. Diketahui juga bahwa pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap morbiditas anak balita. Dua faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Pada bayi yang tidak diberi ASI resiko untuk menderita diare lebih besar daripada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. Balita yang berumur 12-24 bulan mempunyai resiko terjadi diare 2. Oleh karena itu. buruk = <70 dengan BB per TB. h.cairan rehidrasi oral dengan baik pada balita dibanding dengan kelompok ibu dengan status pendidikan SD ke bawah. f.23 kali dibanding anak umur 25-59 bulan. yaitu melalui makanan dan minuman. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula.

Diare adalah masuknya virus Rotavirus. akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi. E. akan mengakibatkan hormon adrenalin meningkat.5 Patofisiologi Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik. Faktor psikologis merupakan rasa takut cemas. (Adenovirus enteritis. sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. memproduksi enterotoksin atau cytotoksin penyebab dimana merusak sel-sel. sehingga mempengaruhi saraf parasimpatik. Cholerae. Gangguan motalitas usus. absorbsi menurun sehingga menyebabkan anoreksia.Dalam ASI mengandung antibody yang dapat melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab diare seperti Sigella dan V. 2. Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Beberapa mikroorganisme pathogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel. Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal oral dari satu klien ke klien lainnya. dengan melakukan gerakan hiperperistaltik dan dapat mengakibatkan diare. menyebabkan cairan elektrolit dalam usus meningkat. dan tegang. atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut. Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi: kekurangan volume cairan dan elektrolit (dehidrasi) akibat dari defekasi yang sering 10 . bakteri atau toksin (Salmonella.1. dan parasit (Biardia. Beberapa kasus ditemui penyebaran pathogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.colli). Lambia). isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. menyebabkan hiperperistaltik sehingga timbul diare.

( lebih 3x). Hipertermi yang disebabkan proses infeksi akibat kerusakan rongga usus. pengeluaran bertambah). 11 . Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sebagai akibat anoreksia (masukan makanan kurang. Rersiko gangguan integritas kulit akibat defekasi yang sering (lebih dari 3x). Cemas dan kurangnya pengetahuan (info tentang penyakit kurang) yang disebabkan karena dampak hospitalisasi.

beracun. 2005 ) 12 . protein) Parenteral Internal Hormon adrenalin Absorsi menurun meningkat Hiper Hipo Toksin dari mobilitas mobilitas bakteri dan virus Tekanan osmotik Mempengaruhi usus Absorbsi Bakteri saraf Mukosa berkurang tumbuh parasimpatik usus rusak Pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus Cairan elektrolit dalam usus meningkat Hiperperistaltik Hiper peristaltik Diare Absorbsi menurun Anoreksia Dampak hospitalisasi Cemas Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Defekasi sering lebih dari 3 x Kekurangan volume cairan dan elektrolit Kemerahan dan eksurasi kulit sekitar anus Info tentang penyakit Kerusakan rongga usus Proses infeksi Hipertermi Kurang Pengetahuan Gangguan integritas kulit ( Hasan.Pathway Faktor makanan makanan Faktor psikologis Faktor (makanan basi. alergi terhadap Faktor infeksi (cemas & takut malabsorbsi (karbohidrat. lemak.

Pemeriksaan elektrolit dan creatinin. P Serum pada diare yang disertai kejang). Leukosit. 2001. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin darah untuk mengetahui faal ginjal. 3. Ujung – ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis. nadi dan pernafasan cepat 2. Turgor kulit menurun 7. dan adanya darah.8 Komplikasi 13 . Procop et al. 4. Pemeriksaan tinja. Analisa Gas Darah (AGD). PH.7 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan penunjang diare menurut Suriadi (2001 ) adalah : 1. nyeri perut 3. Perubahan tanda-tanda vital. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer 2.1. 4. Pemeriksaan intubasi duodenum. Muntah-muntah. mual. Lidah kering 6. K.6 Manifestasi Klinis Manifestasi klinis diare yaitu (Nelwan.1.1. Muka pucat 12. 2. 2. Rasa haus 4. Denyut nadi cepat 9. Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik. 2. Ca. Lemah 11. Pemeriksaan darah : perifer lengkap. Frekuensi nafas lebih cepat dan lebih dalam 8. 2003) 1. Mata menjadi cekung 5. 3. 13.2. Pasien gelisah 10. elektrolit (terutama Na. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan. glukosa. demam. Adapun Pemeriksaan penunjang yang lain menurut Mansjoer (2000) 1. Pemeriksaan tinja : Makroskopis dan mikroskopis PH dan kadar gula juga ada intoleransi gula biarkan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji retensi terhadap berbagai antibiotik.

Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. haus. Sedang Gelisah. Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut WHO No Tanda dan Gejala Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi Berat 1 Keadaan Umum Ringan Sadar. mungkin koma. merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Kehilangan air (dehidrasi) Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input). gelisah. kadang- kurang dari lemah 120- kadang tak teraba. lemas. tidak 2 3 Denyut nadi Pernafasan Normal Cepat dan sadar. berkeringat. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis). terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. dari 140/menit Dalam dan cepat mungkin 4 5 6 7 8 Ubun-ubun besar Kelopak mata Air mata Selaput lendir Elastisitas kulit cepat Cekung Cekung Tidak ada Kering Lambat Normal Normal Ada Lembab Pada pencubitan 14 Sangat cekung Sangat cekung Sangat kering Sangat kering Sangat lambat (lebih dari 2 detik) .Berdasarkan Supartini (2004). akibat dari diare atau kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi diantaranya adalah : 1. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh. haus mengantuk anggota gerak dingin. kurang 120/menit Normal 140/menit Dalam. Cepat. Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. kebiruan. Mengantuk.

kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa. Gangguan sirkulasi Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. 5. asidosis bertambah berat.1.kulit secara elastis kembali secara 9 Air seni warnanya normal Normal Berkurang Tidak kencing tua Tabel 2. 4. Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat Hal ini disebabkan oleh makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat. Malnutrisi energy protein Karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami kelaparan. Hipoglikemia Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare. 2. 3. Walaupun susu diteruskan. dapat mengakibatkan perdarahan otak.9 Penatalaksanaan Medis 15 .1 Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut WHO 2. lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak. sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama. akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia.

KCl dan glukosa untuk diare akut dan karena pada anak di atas umur 6 bulan kadar natrium 90 ml g/L. Pada umumnya cairan Ringer laktat (RL) diberikan tergantung berat / ringan dehidrasi. 2. pengobatan dietetik (cara pemberian makanan) dan pemberian obat-obatan. yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya. Dehidrasi ringan 1 jam pertama : 25 – 50 ml / kg BB per oral selanjutnya : 125 ml / kg BB / hari Dehidrasi sedang 1 jam pertama : 50 – 100 ml / kg BB per oral (sonde) selanjutnya 125 ml / kg BB / hari  Dehidrasi berat Tergantung pada umur dan BB pasien. Cairan parenteral Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pasien. penatalaksanaan medis pada pasien diare meliputi : pemberian cairan. Pengobatan dietetik Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindari efek buruk pada status gizi. Pada anak dibawah 6 bulan dehidrasi ringan / sedang kadar natrium 50-60 mfa/L. 1. b.    Belum ada dehidrasi Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas tiap defekasi. a. Pemberian cairan Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3.Menurut Supartini (2004). Agar pemberian diet pada 16 . tetapi kesemuanya itu tergantung tersedianya cairan setempat. formula lengkap sering disebut : oralit. Pemberian cairan Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.

5 – 1 mg / kg BB / hari b. Daun jambu biji sebanyak 30 gram direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc. ekstrak beladora. Obat anti sekresi Asetosal. tabonal. Obat spasmolitik. opium loperamia tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi. air tajin. makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering. makanan diberikan bertahap mulai dengan yang mudah dicerna. diberikan tetrasiklin 25-50 mg / kg BB / hari. Pemakaian : Konsumsi 2 kali sehari 2. dosis 0. Adapun penanganan diare secara tradisional yaitu : 1. serta memperhatikan faktor yang mempengaruhi gizi pasien. Klorrpomozin.pasien dengan diare akut dapat memenuhi tujuannya. Daun urang-aring sebanyak 30 gram direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc. c. dosis 25 mg/ch dengan dosis minimum 30 mg. dll umumnya obat spasmolitik seperti papaverin. kemudian airnya diminum selagi hangat. maka diperlukan persyaratan diet sebagai berikut yakni pasien segera diberikan makanan oral setelah rehidrasi yakni 24 jam pertama. kemudian airnya diminum selagi hangat. makanan cukup energi dan protein. tepung beras sbb). faringitis. charcoal. Antibiotik Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas bila penyebabnya kolera. obat pengeras tinja seperti kaolin. bronkitis / bronkopneumonia. Antibiotik juga diberikan bila terdapat penyakit seperti: OMA. tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare sehingga tidak diberikan lagi. makanan tidak merangsang. Kulit delima kering sebanyak 30 gram dan 10 gram daun teh direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Pemakaian : Konsumsi 2 kali sehari 3. pektin. 3. kemudian air 17 . Obat-obatan Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui tinja dengan / tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa / karbohidrat lain (gula. a.

saring.5 liter air sampai mendidih.rebusannya diminum selagi hangat. Pemakaian : Minum sekaligus. saring. latihan keras terus-menerus. 3. Seduh dengan ½ cangkir air. Rebus 3 potong akar iler dengan 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas. 8. 6. Sirkulasi Gejala : Perasaan dingin pada ruangan hangat. Cuci bersih 5 lembar daun jambu biji serta 1 potong akar.1 Data Dasar Pengkajian Fokus pengkajian menurut Doenges (2000 ) 1. disritmia. Pemakaian : Minum pada pagi dan sore hari. bradikardia. 5. Remas-remas daun cincau di dalam air masak. lalu biarkan bberapa saat sampai membentuk agar-agar.2. Pemakaian : Minum 3 kali sehari. Setelah dingin. misalnya insomnia dini hari. aduk sampai rata lalu saring. lalu rebus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 ½ gelas. kelemahan. rebus dengan 1. saring. Tanda : Periode hiperaktivitasi. 2. kulit dan batangnya. 2. Tambahkan santan kelapa dan pemanis dari gula kelapa.2 LANDASAN TEORITIS KEPERAWATAN 2. perasaan ‘hiper’ dan ansietas. Pemakaian : Konsumsi 2 kali sehari 4. Pemakaian : Makan sekaligus. Tanda : TD rendah takikardi. masing-masing ½ gelas 7. Cuci bersih 2 genggam daun gude segar. Setelah dingin. lalu tumbuk sampai halus. Integritas ego Gejala : Ketidakberdayaan / putus asa gangguan ( tak nyata ) gambaran dari melaporkan diri-sendiri sebagai gendut terusmenerus memikirkan bentuk tubuh dan berat badan takut berat 18 . peningkatan aktivitas / partisipasi dalam latihan-latihan energi tinggi. Aktivitas / istirahat Gejala : Gangguan pola tidur. Cuci bersih 2 jari kayu bungur. Pemakaian : Minum 2 kali sehari pada pagi dan sore hari.

riwayat menjadi diam. marah. nafsu makan normal atau meningkat. kebersamaan dijunjung tinggi. luka tenggorokan terus-menerus. Tanda : Status emosi depresi menolak. Tanda : Penampilan kurus. Neurosensori Tanda : Efek depresi ( mungkin depresi ) perubahan mental ( apatis. Higiene 7. pembengkakan kelenjar saliva. Tanda : Atrofi payudara. Interaksi sosial Gejala : Latar belakang kelas menengah atau atas. 10. Eliminasi Gejala : Diare / konstipasi. Nyeri / kenyamanan Gejala : Sakit kepala. bingung. kondisi gusi buruk 8. 6. luka gusi luas. marah ditekan. harapan diri tinggi.badan meningkat. batas pribadi tak dihargai. amenorea. 12. kuku rapuh tanda erosi email gigi. ansietas. kulit kering. Seksualitas Gejala : Tidak ada sedikitnya tiga siklus menstruasi berturut-turut. Ayah pasif / Ibu dominan anggota keluarga dekat. dengan turgor buruk. penggunaan laksatif / diuretik. anak yang dapat bekerja sama. 19 . berulangnya masalah infeksi 11. 9. kembung. mengalami upaya mendapat kekuatan. 13. Tanda : Peningkatan pertumbuhan rambut pada tubuh. masalah control isu dalam berhubungan. luka rongga mulut. rambut dangkal / tak bersinar. penggunaan makanan sehat. Keamanan Tanda : Penurunan suhu tubuh. menyangkal / kehilangan minat seksual. 4. muntah. muntah berdarah. cairan Gejala : Lapar terus-menerus atau menyangkal lapar. nyeri abdomen dan distress. gangguan memori ) karena mal nutrisi kelaparan. kuning / pucat. 5. kehilangan rambut ( aksila / pubis ). Makanan. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Riwayat keluarga lebih tinggi dari normal untuk insiden depresi keyakinan / praktik kesehatan misalnya yakin makanan mempunyai terlalu banyak kalori.

kuku bisa 3. 10. sampai pucat. rambut tidak ada gangguan.2 Diagnosa Keperawatan Dari beberapa sumber buku. 12. 2. Kulit. Telinga. BB dan TB. tenggorokan dan mulut THT tidak ada gangguan tapi mulutnya (biasa – kering). Sistem persarafan Pada kasus ini biasanya kesadaran gelisah. penulis menyimpulkan diagnosa yang muncul pada pasien dengan diare antara lain : 20 . 7. kuku Turgor kulit (biasa – buruk). 9. 4. Thorak dan abdomen Tidak didapatkan adanya sesak.2. gelisah.Pemeriksaan Fisik 1. Kepala dan leher Mata Biasanya mulai agak cowong sampai cowong sekali. 5. hidung. 8. 6. peristaltik ususnya terjadi mual dan muntah atau tidak. Keadaan umum Kesadaran (baik. Sistem gastro intestinal Yang dikaji adalah keadaan bising usus. GCS. Sistem respirasi Biasanya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasanb kusmaul). Sistem kordovaskuler Pada kasus ini bila terjadi renjatan hipovolemik berat denyut nadi cepat (lebih dari 120x/menit). 2. abdomen biasanya nyeri. 11. rambut. Apatis/koma). Sistem genitourinaria Pada kasus ini bisa terjadi kekurangan kalium menyebabkan perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria. dan bila di Auskulkasi akan ada bising usus dan peristaltik usus sehingga meningkat. Vital sign. perut kembung atau tidak. apatis / koma. Sistem muskuloskeletal Tidak ada gangguan.

3. Cemas berhubungan dengan kondisi dan hospitalisasi pada pasien (Carpenito. Kurangnya volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh ditandai dengan membran mukosa bibir kering (Nic-Noc 2007-2008). Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan kelembaban kulit akibat BAB sering ditandai dengan iritasi pada sekitar anus (Nic-Noc 2007-200) 21 . Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya informasi (Carpenito. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake absorbsi makanan dan cairan ditandai dengan peningkatan peristaltik usus (Nic-Noc 2007-2008). Marilyn 2000). 2001). 5. 2. 2001). 4.1. Hipertermi berhubungan dengan infeksi bakteri ditandai dengan kerusakan pada mukosa usus (Doengoes. E. 6.

29. 15. 14. Rasional: 27. 8. cairan 18. Kaji intake dan output. menunjukkan penurunan. tubuh hasil : d. nutrisi. elektrolit dapat pencetus. Ukur BB setiap hari 34. an n dalam 31. Kaji TTV 30. kebutuan cairan. meningkatkan konsumsi yang bibir kering. Rasional : 21.3 Rencana Tindakan Keperawatan 7. 12. 22 . 1. Berat badan tidak 25. Diagnosa Keperawatan 13. Kurangnya 9. e. Pengisian kembali atau kebutuhan mengubah 23. membran detik 35. Membran mukosa cairan parenteral. Rasional: 20. Turgor elastik 36. menentukan kehilangan dan volume 17.2. kulit. Tujuan dan 10. menurunkan pergerakan usus d.2. dengan kapiler < dari 2 pemberian 24. Kolaborasi dengan pemberian b. lembab anti piretik sesuai program. dan muntah. cairan dan an cairan karakteristik. mata. kebutuhan cairan. Kriteria 33. mengevaluasi keefektifan 22. Rasional a. Rasional: b. Kaji status hidrasi. anti emetik dan 37. Kriteria Hasil 16. Tujuan : Intervensi 11. membantu mengkaji berhubung dipertahanka 19. otot dan 26. kesadaran pasien. jumlah dan faktor 28. menentukan kehilangan dan c. No. ditandai a. turgor kehilangan normal. lebih. dengan batas 32. dan membran mukosa. Keseimbang observasi frekuensi defekasi. Rasional : mukosa c.

mengurangi peningkatan memakai pakaian / selimut tebal. a. Pantau suhu tubuh pasien dan 74. untuk mengetahui dan e. 55. Berat badan dalam menurunny batas normal b. Rasional : 75. porsi kecil namun sering merangsang nafsu makan menjadi 50. 46. suhu tubuh. nutrisi 42. Rasional : d. nutrisi. 66. Mengetahui kebutuhan 49. c. Monitor intake dan output 53. makanan yang hangat dapat hangat. Hipertermi 3. Anjurkan pada pasien agar tidak 77. Rasional : 56. Rasional: 69. 59. 54. b. 61. Kriteria hasil : an dengan a. berhubung 44. cairan ditandai dengan peningkatan peristaltik usus. Jaga kebersihan mulut pasien 47. mendeteksi peningkatan suhu melaporkan peningkatan dari nilai tubuh dan mulainya hipertermi. a.38. 51. Rasional : 58. Tujuan : berhubung mengembali an dengan kan suhu infeksi tubuh bakteri menjadi ditandai normal. tubuh 40. 63. 57. Tidak terjadi a intake absorbsi kekambuhan diare. Rasional : b. Berikan diet dalam kondisi 60. Rasional: 62. Timbang berat badan tiap hari. 45. Beri kompres hangat 78. Gangguan 2. Kolaborasi dengan tim gizi dalam memenuhi kebutuhan gizi pasien pemberian diet klien 52. Rasional : mengevaluasi dalam pemberian nutrisi. Tujuan : 43. makanan dan 41. mulut yang keefektifan bersih meningkatkan nafsu makan. 48. c. dasar suhu normal pasien. 39. 76. baik. pasien kurang dari toleran diet kebutuhan yang sesuai. 64. 65. 23 .

dihadapinya. pasien dan 99. 68. 84. Kriteria sentuhan. d. Cemas 4. keluarga rasa takut dan cemas. b. antipiretik hangat menetralkan atau menurunkan panas 71.dengan kerusakan pada mukosa usus. dengan minum banyak rasa 72. Tujuan : a.5 C 70. 79. Rasional : 97. antipiretik membantu dalam menurunkan demam 87. berkurang.50 37. Gunakan komunikasi terapeutik. hospitalisasi pada pasien dapat tubuh 80. 100. dengarkan 98. menunjukka keluhan keluarga. Kriteria hasil : Suhu tubuh kembali normal 36. berhubung an dengan kondisi dan 86. 67. 24 . n rasa cemas bersikap empati dengan sentuhan 101. 103. e. 85. pasien dan pasien mengekspresikan perasaan takut yang dialami oleh keluarga. Rasional : c. keluarga 104. 91. Rasional : 81. Jelaskan setiap prosedur yang aktif 105. mengurangi rasa cemas akan dlakukan pada pasien merawat keluarga. Rasional: 83. sikap tubuh dan merasa diperhatikan akan 90. 102. Kolaborasi kompres haus berkurang dan membantu dalam dalam pemberian menurunkan panas 82. kontak mata. Beri minum banyak 73. Rasional : atau takut terapeutik. rasa cemas yang hasil: 93. keluarga dan pasien 89. Anjurkan pada keluarga dan 96. mengurangi rasa cemas dan 88.

perawat atau dokter tentang kondisi atau klasifikasi dan kepada keluarga. Jelaskan kondisi pasien. Tujuan : 116. 108. Keluarga dan pasien mengerti tentang 109. Agar keluarga dan pasien mengetahui informasi tentang diare. 106. Kriteria hasil : a. 117. meningkatkan pengetahuan keluarga dan agar keluarga 111. Kurang nya pengetahua n keluarga berhubung an 114. 122.pasien dan bertanya dengan 92. Rasional : 110. 126. 5. Rasional : pasien tidak a. Rasional : orangtua tentang 124. dengan kurangnya informasi. c. 121. Kaji tingkat pemahaman keluarga dan pasien 118. 115. 94. 128. mendorong agar membiasakan mengetahui kondisi pasien. 125. Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran . 123. pasien tidak cemas 112. dalam 107. diare. 113. 25 untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan b. alasan pengobatan dan perawatan. Tentukan persepsi pasien dan keluarga tentang penyakit 120. e. 119. merasa kehilangan perhatian akan orang lain. Libatkan keluarga perawatan pasien. 95. bersih agar air di jamban dan jamban harus selalu bersih agar tidak ada lalat. Rasional : meminimalisasi mikroorganisme dan masuknya encegamh penyebaran kuman dan diare 127. d. Rasional : 129. Jelaskan pentingnya kebersihan.

Kaji kerusakan kulit / iritasi 141. 133. integrita setiap buang air besar b. Beri alas pada daerah bokong dan secara dini. apabila terjadi lagi diare. sehingga kebutuhan pasien untuk waspada terhadap makanan. Resiko gangguan integritas kulit berhubung an 134. Rasional : setelah mandi 150. Rasional : 131. Rasional : 148. menentukan intervensi lebih 137. krem kulit membantu sering mengatasi iritasi pada kulit ditandai 26 . tempat tidur yang lembab. individu. Kaji ulang proses penyakit. 6. dengan kelembaba n kulit akibat BAB 138. b. Faktor pencetus/pemberat Tujuan : a. Gunakan kapas lembab dan sabun lanjut.diare d. anus 147. 146. untuk mencegah iritasi pada 140. Kriteria hasil : kulit. s kulit 143. menghindari resiko infeksi anus setiap buang air besar. Rasional : 142. 139. 136. dapat dilakukan 132. kulit karena lembab e. c. Rasional : (pH normal) untuk membersihkan normal. Rasional : mengurangi infeksi d. cairan. Gunakan krem kulit 2x sehari 149. 144. dan faktor pola hidup dapat mencetuskan gejala. kebutuhan belajar individu. Keluarga dan pasien penyebab/efek hubungan faktor mengetahui cara yang menimbulkan gejalah dan pencegahan dan mengidentifikasi cara pengobatan yang menurunkan faktor pendukung. Hindari dari pakaian dan pengalas Iritasi berkurang 145. 130.

27 . pada sekitar anus.dengan iritasi 135.

Berat badan tidak menunjukkan penurunan. 168. Turgor elastik 155. 163. 166. Berat badan dalam batas normal 160. 165. 158. 170. 173. 161.2. 153. Keluarga mengetahui cara pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan apabila terjadi lagi diare.37 ° C 164. Diagnosa 1 152. 162. 177. Diagnosa 3 Mengembalikan suhu tubuh menjadi normal. Diagnosa 4 Integritas kulit normal. Diagnosa 6 Agar keluarga mengetahui informasi tentang diare 172. Membran mukosa lembab 156. Suhu tubuh kembali normal 36 ° C . 176. 171. Pengisian kembali kapiler < dari 2 detik 154. 179. 175.2. Diagnosa 2 Pasien toleran diet yang sesuai 159. 28 BAB III . Tidak terjadi kekambuhan diare. 157. Keluarga mengerti tentang diare. 174. 169. Diagnosa 5 Pasien dan keluarga menunjukkan rasa cemas dan takut berkurang.4 Evaluasi Yang Diharapkan 151. Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal. Iritasi berkurang 167. 178. keluarga aktif marawat pasien dan bertanya dengan perawat atau dokter tentang kondisi atau klasifikasi dan pasien tidak cemas.

186. 3. E. Saran Diharapkan kepada pembaca dengan adanya Makalah Asuhan Keperawatan agar dapat mengambil manfaat dari penyusunan makalah ini demi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan selanjutnya. 182. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake absorbsi makanan dan cairan ditandai dengan 3 peningkatan peristaltik usus (Nic-Noc 2007-2008).2 187. 3.1 183. 184. 2001). Cemas berhubungan dengan kondisi dan hospitalisasi pada pasien 5 (Carpenito. 29 .180. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan kelembaban kulit akibat BAB sering ditandai dengan iritasi pada sekitar anus (NicNoc 2007-2008). 2001). Kesimpulan Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit yang terjadi karena frekuensi BAB tiga kali atau lebih dengan konsistensi tinja yang encer atau cair (Suriadi. PENUTUP 181. Hipertermi berhubungan dengan infeksi bakteri ditandai dengan 4 kerusakan pada mukosa usus (Doengoes. 2001). Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan kurangnya 6 informasi (Carpenito. Adapun masalah keperawatan yang muncul pada teoritis adalah: 1 Kurangnya volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh ditandai dengan membran mukosa bibir kering 2 (Nic-Noc 2007-2008). Marilyn 2000). 185.