You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai
dengan adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan
afektif. Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui, tetapi empat model
konseptual telah dikembangkan. Gangguan dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe
gangguan mood. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan tipe psikosis ketiga
yang berbeda, yang bukan merupakan gangguan skizofrenia maupun gangguan
mood. Keempat dan yang paling mungkin, bahwa gangguan skizoafektif adalah
kelompok heterogen gangguan yang menetap ketiga kemungkinan pertama.
Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala
gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit
yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila
gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama,
gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Dan pada gangguan
skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi,
perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala
gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.
Kriteria diagnostik gangguan skizoafektif berdasarkan DSM-IV-TR,
merupakan suatu produk beberapa revisi yang mencoba mengklarifikasi beberapa
diagnosis, dan untuk memastikan bahwa diagnosis memenuhi kriteria baik
episode manik maupun depresif dan menentukan lama setiap episode secara tepat.
Pada setiap diagnosis banding gangguan psikotik, pemeriksaan medis
lengkap harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik. Semua kondisi
yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu
dipertimbangkan. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif
mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia
dan prognosis pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien

1

dengan gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang lebih buruk daripada
pasien dengan gangguan depresif maupun gangguan bipolar, tetapi memiliki
prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia.

2

dan psikosis sikloid. skizofrenia dalam remisi. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol. Di tahun 1933 Jacob Kasanin memperkenalkan istilah “gangguan skizoafektif” untuk suatu gangguan dengan gejala skizofrenik dan gejala gangguan mood yang bermakna. Dari 1933 sampai kira-kira tahun 1970. pasien yang gejalanya mirip dengan gejala pasien-pasien Kasanin secara bervariasi diklarifikasi menderita gangguan skizoafektif. Karena pasiennya tidak mengalami perjalanan demensia prekoks yang memburuk. seringkali pada masa remajanya. Pasien dengan gangguan ini juga ditandai oleh onset gejala yang tiba-tiba.2 Sejarah Di tahun 1913 George H. Kasanin percaya bahwa pasien memiliki suatu jenis skizofrenia. Riwayat keluarga pasien sering kali terdapat suatu gangguan mood.1 Definisi Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan afektif. Gangguan skizoafektif terbagi dua yaitu. Kirby dan pada tahun 1921 August Hoch keduanya menggambarkan pasien dengan ciri campuran skizofrenia dan gangguan afektif (mood).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Kirby dan Hoch mengklasifikasikan mereka di dalam kelompok psikosis manic-depresif Emil Kraepelin. 3 . Pasien cenderung memiliki tingkat fungsi premorbid yang baik. 2. tipe manik dan tipe depresif. dan seringkali suatu stressor yang spesifik mendahului onset gejala. skizofrenia atipikal.

tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood. Namun. 2. usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe gangguan mood. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita. 3. angka tersebut adalah angka perkiraan.4 Etiologi Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak dari waktu ke waktu. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda. 2. tetapi empat model konseptual telah diajukan. Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan. Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui. 4. khususnya wanita yang menikah.3 Epidemiologi Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia. Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia dan gangguan mood. 1. kemungkinan dalam rentang 0. karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan skizoafektif sering kali digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis. Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga 4 .5 sampai 0.2.8 persen.

Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham. tindakan. halusinasi. perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif. gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. perubahan dalam berpikir. dan isi pikiran ulangan.5 Tanda dan Gejala Pada gangguan Skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras). namun kualitasnya berbeda . gejala depresif yang menonjol. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif. 2. Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif sebagai suatu kelompok heterogen. walaupun isinya sama.kemungkinan pertama. (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran. “delusional perception” = 5 . atau penginderaan khusus). atau “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal). baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. atau “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar. dan “thought broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama. b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ-III).

atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. atau mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara). tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. negativisme. yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap. yang bermakna sangat khas bagi dirinya. g) Perilaku katatonik. d) Waham-waham menetap jenis lainnya. seperti sikap sangat apatis. mutisme.pengalaman indrawi yang tidak wajar. c) Halusinasi Auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien. biasanya bersifat mistik atau mukjizat. f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation). misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu. atau neologisme. yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan. bicara yang jarang. atau fleksibilitas cerea. atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus. h) Gejala-gejala negatif. e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal 6 . atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain). dan stupor. seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement). atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca. posisi tubuh tertentu (posturing). Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas. dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar.

tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial. Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi. pada suatu waktu. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV) Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif A. episode manik. Tabel 1. atau suatu episode campuran dengan gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia. beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain. 2.6 Diagnosis Konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia maupun gangguan mood. kriteria dituliskan untuk membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif. pasien harus memiliki waham atau halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan mood yang menonjol. Pada intinya. Disamping itu. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana. Selama periode penyakit yang sama. bermanifestasi sebagai hilangnya minat. B.behavior). hidup tak bertujuan. Gejala gangguan mood juga harus ditemukan untuk sebagian besar periode psikotik aktif dan residual. terdapat waham atau halusinasi selama sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang 7 . Terdapat baik episode depresif berat. Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa pasien telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari skizofrenia.

tipe bipolar. pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit. gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis gangguan skizoafektif. atau gangguan skizoafektif. DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita gangguan skizoafektif. Tabel dari DSM-IV. suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum. 8 . Ed. tipe depresif. diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai dalam F20-F29. Seorang pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran dan episode depresif berat. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya.menonjol. Pada PPDGJ-III. D. 4. Sebutkan tipe: Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau suatu manik suatu episode campuran dan episode depresif berat) Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat. Selain itu. C. obat yang disalahgunakan. Kondisi-kondisi lain dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian penyakit skizofrenik yang sudah ada.

1) atau campuran dari keduanya (F25. Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik.4 (Depresi Pasca-skizofrenia). dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang bersama-sama. Dengan demikian.0) maupun depresif (F25. dalam satu episode penyakit yang sama. 9 . Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik  atau depresif. diberi kode diagnosis F20. klinisi boleh menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut telah terkendali. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III  Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously). Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33) 2.7 Diagnosis Banding Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan skizoafektif. psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. dan bilamana. penyalahgunaan amfetamin dan phencyclidine (PCP).2). Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia  dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda. baik berjenis manik (F25.Tabel 2. Pasien yang diobati dengan steroid. sebagai konsekuensi dari ini. Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang. atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain. Di dalam praktik klinis.

Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif.9 Terapi 10 . Lawan dari masing-masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. khususnya gejala defisit atau gejala negatif. Insidensi bunuh diri di antara pasien dengan gangguan skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen. dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. menonjolnya gejala pskotik. tipe bipolar. mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan bipolar I dan bahwa pasien dengan premorbid yang buruk. dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. dan juga perjalanan gangguan itu sendiri. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan. onset yang awal. pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif.2. memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan bipolar. tidak ada faktor pencetus.8 Perjalanan Penyakit dan Prognosis Sebagai suatu kelompok. 2. pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok. Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan jenis kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif. onset yang perlahan-lahan. perjalanan yang tidak mengalami remisi. beberapa data menyatakan bahwa perilaku bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan skizoafektif daripada laki-laki dengan gangguan tersebut. Adanya atau tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan perjalanan penyakit.

valproate (Depakene). BAB III KASUS 3. tipe bipolar.1 Identitas Pasien 11 . Jika protokol thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan gejala atas dasar berkelanjutan. carbamazepine (Tegretol).Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah sakit. harus diberikan percobaan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap terapi antidepresan. medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. medikasi. tipe depresif. harus mendapatkan percobaan lithium. dan intervensi psikososial. Pasien dengan gangguan skizoafektif. Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif. Pasien dengan gangguan skizoafektif.

Gaduh gelisah (-) .Sekitar awal tahun 2015.Anggota keluarga yang mengalami hal seperti ini : kakak perempuan dari pihak ayah juga mengalami hal seperti pasien akibat stress ditinggal oleh suaminya. Pasien dirawat selama 1 bulan. Awalnya gejala muncul ketika pasien tiba-tiba berhenti bekerja karena berantem dengan teman kerjanya. dan sering mengurung diri. Riwayat Panyakit Keluarga : . c.Riwayat alergi (-) d.Nama : Tn.Riwayat asma (-) . . Riwayat Penyakit Sekarang: .Pasien dapat diajak bicara dengan baik . Pasien sering mendengar bisikan-bisikan yang tidak tahu darimana arah suaranya datang. melihat bayangan (-) . Setelah itu pasien sering termenung sendiri.Marah-marah tanpa sebab (-) . Riwayat Penyakit Dahulu : . tidak merasa curiga .2 Alamat : Nan Balimo No RM : 070622 Anamnesa a.Mendengar bisikan (-).Emosi stabil. Namun sudah berobat dan - sekarang sudah beraktivitas seperti biasa. pasien pernah dirawat di RSJ HB Sa’anin Padang karena mengamuk tanpa sebab dan mengganggu orang di - jalan. Keluhan Utama : Kontrol ulang obat b. tidak mudah marah. R Umur : 22 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki 3. melihat bayangan disangkal.Sudah mengkonsumsi obat selama 1 tahun sejak keluar dari RSJ HB Sa’anin Padang tanpa putus. Riwayat trauma (-) Riwayat alergi (-) Riwayat asma (-) 12 .

Riwayat Pekerjaan. wheezing (-/-) Jantung : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak Palpasi : Ictus cordis teraba 2 jari di RIC V LMCS Perkusi : Batas jantung normal Auskultasi : Reguler S1 dan S2.Merokok (+) ± 2 bungkus perhari .Narkoba (-) .5O C Kepala : Normocephal Mata : Konjungtiva tidak anemis.Kopi (-) 3.e.Pekerjaan :. ronkhi (-/-). bising (-). tonsil T1-T1 Telinga : Tidak ada kelainan Leher : Tidak teraba pembesaran KGB Thorak Paru Inspeksi : : Dalam keadaan statis dan dinamis. Sosial dan Kebiasaan : .3 Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Sedang Kesadaran : Compos Mentis Cooperatif Tekanan Darah : 120/80 mmHg Frekuensi Nadi : 79 x/menit Frekuensi Nafas : 21 x/menit Suhu : 36. normal kanan dan kiri Palpasi : Fremitus sama kanan dan kiri Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru Auskultasi : Vesikuler (+/+). gallop (-) 13 .Alkohol (-) . sklera tidak ikterik Hidung : Tidak ada kelainan Mulut : Lidah kotor (-).

Abdomen Inspeksi : Distensi (-). Dari perjalanan penyakit. edema ekstremitas (-/-).5 Formulasi Diagnosis 1. Jangka pendek baik : Baik : Tidak terganggu : Tidak terganggu. dan personal baik : Jangka panjang baik. nyeri lepas (-) Hepar teraba 2 jari dibawah arcus costarum. 14 . Aksis 1 Berdasarkan pemeriksaan. perfusi baik. waham referensi. RP (-/-) Kulit 3. derajat 6 3. Lien tidak teraba Perkusi : Timpani Auskultasi : Bising usus (+). bersahabat : Laki-laki. clubbing finger (-/-). nyeri (-). tepi tumpul. rapi : Tenang : Hypotym : Luas. pasien memiliki gejala pembicaraan yang tidak relevan akibat gangguan proses pikir. tempat. scar (-). Jangka sedang baik. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat (F1) dapat di singkirkan sebagai pencetus gangguan mental saat ini. 7x/menit Ekstremitas : Akral hangat. Sikatrik (-) Palpasi : Nyeri tekan (-).4 Status Mental Kesadaran Kontak Penampilan Psikomotor Mood Afek Persepsi Proses pikir Isi pikir Orientasi Daya ingat Pengendalian impuls RTA Insight : Tidak ada kelainan : Compos mentis cooperatif : Cooperatif. keadaan gaduh gelisah. permukaan licin. serasi : Tidak terganggu : Flight of idea : Tidak terganggu : Waktu. pada pasien tidak ditemukan adanya tandatanda gangguan mental organik (F0). sesuai usia. konsistensi lunak. RF (+/+).

3. afek luas. berkurangnya energi.1) dengan differential diagnose skizofrenia paranoid (F20. Aksis 4 Pasien memiliki masalah dalam lingkungan kerjanya dimana pasien tidak merasa dapat bekerja dengan baik.6 Evaluasi Multiaksial Aksis 1 : Skizoafektif tipe depresi (F25. disabilitas pasien ringan dalam sosial dan pekerjaan sehari-hari. Berdasarkan gejala tersebut maka pasien memenuhi kriteria diagnosa untuk skizoafektif tipe depresi (F25.1) Aksis 2 : Belum ada diagnosa Aksis 3 : Tidak ada diagnosa Aksis 4 : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial Aksis 5 : Global Assessment of Functioning Current = 80. 3.halusinasi audiotorik. Aksis 3 Pasien tidak memiliki gangguan kondisi medik umum. Satu tahun terakhir terdapat gejala ringan dan menetap. selalu berantem dan tidak cocok dengan teman kerjanya. Aksis 5 Menggunakan skala Global Assessment of Functioning (GAF). serasi.8 Rencana Penatalaksanaan a. dan menurunnya kinerja sosial selama kurun waktu 1 tahun. Aksis 2 Saat ini belum ada diagnosis untuk ciri atau gangguan kepribadian pada pasien karena belum ada data yang cukup dan sesuai untuk menegakkan kriteria diagnosisnya.1) yang masih di differential diagnose dengan skizofrenia paranoid (F20. GAF Current sebesar 80 dan GAF Highest Level of The Year (HLPY) pasien yaiut kondisi terbaik pasien selama 1 tahun terakhir sebesar 70.1). dimana pasien dalam disabilitas sosial yang ringan-baik. gangguan mood.0) dan skizofrenia hebefrenik (F20. 2.0) dan skizofrenia hebefrenik (F20. kehilangan minat. Highest Level of The Year = 70 3. 4. 5. Hal ini menunjukkan saat ini gejala bersifat sementara dan dapat diatasi pasien.7 Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : bonam : bonam : dubia ad bonam 3. Terapi non farmakologis 1) Kepada pasien 15 .

Memberikan edukasi kepada keluarga pasien pentingnya  motivasi dari keluarga untuk pasien. Terapi farmakologi Risperidon 2 x 2mg 16 . manfaat   penggunaan obat. cara minum obat. manfaat penggunaan obat. lama pengobatan. 2) Kepada keluarga pasien  Memberikan edukasi dan informasi kepada keluarga pasien tentang kondisi pasien. Memberikan informasi tentang efek samping obat yang di  dapatkan oleh pasien. Memberikan informasi tentang efek samping obat. lama pengobatan. perjalanan penyakit yang diderita pasien serta prognosis yang  mungkin akan dicapai pasien. mencari cita-cita yang mungkin akan membuat pasien semangat dalam  mengejar impiannya tersebut. Memberikan motivasi kepada pasien untuk semangat dalam menjalani kehidupan. Memberikan edukasi kepada keluarga agar segera memberitahukan kepada petugas kesehatan tentang gejalagejala yang mungkin akan timbul pada saat pengobatan. Memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya hubungan dan dukungan di dalam keluarga terutama dalam pendampingan pengobatan untuk mencegah kekambuhan pada  pasien. Menganjurkan pasien untuk tetap rajin beribadah agar emosi dalam dirinya terjaga dan dapat di atasi oleh pasien. dan kontrol pengobatan. b. Memberikan informasi tentang obat. dan kontrol pengobatan dan agar keluarga dapat mendampingi pasien dalam kontrol  pengobatannya. penyakit yang diderita pasien. mulai mencari tujuan hidup. Memberikan informasi tentang obat. Memberikan edukasi tentang penyakit dan gejala-gejala yang  ada pada pasien. cara minum obat.

THP 1 x 2mg Chlorpromazine 2x100mg Haloperidol 2x1.5mg B complex 2x1 . KESIMPULAN 17 .

dan sebaliknya semakin persisten gejalagejala gangguan afektifnya. episode manik. Terapi dilakukan dengan melibatkan keluarga. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita. digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti depresan bila memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. prognosis diperkirakan akan lebih baik. atau dalam beberapa hari sesudah yang lain. Pada farmakoterapi. DAFTAR PUSTAKA 18 . Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan lingkungan. Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang. dan gangguan depresif. Semakin menonjol dan persisten gejala skizofrenianya maka pronosisnya buruk. baik yang tipe manik. dalam episode yang sama.Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala skizofrenia dan gejala afektif terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol. khususnya wanita yang menikah. Sedangkan apabila gangguan skizoafektif tipe manik terapi kombinasi yang diberikan adalah antara anti psokotik dengan mood stabilizer. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala2 definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan. usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. atau gejala gangguan afektifnya. pengembangan skill sosial dan berfokus pada rehabilitasi kognitif. depresif atau campuran keduanya. Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa jauh menonjolnya gejala skizofrenianya. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala skizofrenia.

I. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2007. and Sadock. dr Rusdi Sp. 2. Diakses melalui: www. Maslim. Jakarta. Jakarta. Elvira.2013. LAMPIRAN 19 . Mark. Binarupa Aksara Publisher: Jakarta.Hal 44-58 4. dr Rusdi Sp. J.KJ. B. Kaplan. Hadisukanto.2001. Edisi Ketujuh. Maslim. Jakarta.Hal:199-227 3. H.org/data/Journals/ . Panduan Praktis Pengunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ketiga. Olfson.1. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Gitayanti.Hal 31-35 5. Treatment Patterns for Schizoaffective Disorder and Schizophrenia Among Medicaid Patients. Sylvia D. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ – III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya.KJ.psychiatryonline. Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri Klinis. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua.

20 .