You are on page 1of 48

RINGKASAN MATERI PKN KELAS X SEMESTER 2

Bab. 4 HUBUNGAN DASAR NEGARA DAN KONSTITUSI

A.

Pengertian Dasar Negara dan Konstitusi

1.

Pengertian Dasar Negara
Dasar negara merupakan asas atau landasan pokok yang dijadikan tata nilai dasar untuk
mengatur penyelenggaraan pemerintahan sebuah Negara. Dengan mempunyai dasar negara,
penyelenggaraan pemerintahan sebuah negara menjadi terarah dan teratur, sehingga tujuan
negara dapat tercapai dengan baik. Dengan fungsi dasar negara yang sedemikian penting, maka
ketiadaan dasar negara ini tentu saja akan membawa sebuah negara menjadi kacau dan tidak
terarah.
Di indonesia dasar negara yang digunakan adalah Pancasila.kedudukan dan fungsi pancasila
sebagai dasar negara dapat kita renungkan dengan mengetahui latar belakang sejarah perumusan
pancasila. Kisah perumusan pancasila itu dimulai sejak sebelum kemerdekaan dan mencapai
puncaknya pada saat PPKI bersidang. Pada sidang tersebut Ir. Soekarno menyampaikan
pidatonya, ”kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dahulu, sampai njelimet, maka
saya tidak akan mengalami indonesia merdeka, tuan tidak akan mengalami indonesia merdeka,
kita semua tidak akan mengalami indonesia merdeka, sampai di lubang kubur !” pidato tersebut
disampaikan Ir. Soekarno pada sidang BPUPKI (Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai) pada tanggal 1
Juni 1945. Harus diakui pidato tersebut merupakan titik bangkitnya semangat indonesia
merdeka. Ungkapan menggelegar itu disampaikan ketika Ir. Soekarno melontarkan sikap
kritisnya terhadap BPUPKI. BPUPKI menuntut adanya dasar negara terlebih dahulu baru
kemudian mencapai kemerdekaan. Tanggal 1 Juni itu kemudian Ir. Soekarno memberikan dasar
filosofi negara indonesia merdeka. Ia menyebut lima dasar utama, yaitu Kebangsaan Indonesia,
Internasionalisme atau peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan
Ketuhanan yang berkebudayaan atau ketuhanan yang maha Esa. Atas saran salah seorang
sahabatnya yang ahli bahasa, kelima dasar ituoleh Ir. Soekarno kemudian diberi nama Pancasila.
Karena itu, tanggal 1 Juni kemudian disebut sebagai Hari Lahir Pancasila. Pada tanggal 22

1

Juni 1945, perumusan pancasila berdasarkan pidato tanggal 1 Juni tersebut selesai. Rumusan
baru ini berisi:
1.

Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya;

2.

Kemanusiaan yang adil dan beradab;

3.

Persatuan indonesia;

4.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan;

5.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

2.

Kelompok tingkatan norma menurut Hans Nawiasky
Kelompok tingkatan norma menurut Hans Nawiasky adalah sebagai berikut:

1)

Staatfundamentalnorm atau norma fundamental Negara.

2)

Staatgrundgesetz atau aturan dasar /pokok negara.

3)

Formellgesetz atau Undang-undang.

4)

Verordnung & autonome satzung atau aturan pelaksana dan aturan atonom.

3.

Pengertian Konstitusi
Konstitusi berasal dari istilah bahasa Prancis “constituer” yang artinya membentuk. Pemakaian
istilah konstitusi yang dimaksudkan ialah pembentukan suatu negara atau menyusun dan
menyatakan suatu negara. Islilah Undang-Undang Dasar merupakan terjemahan istilah yang
dalam bahasa belanda “gronwet”. Dalam bahasa indonesia wet diterjemahkan sebagai undangundang, dan ground berarti tanah. Dinegara-negara yang menggunakan bahasa inggris sebagai
bahasa nasional, dipakai istilah Constitution yang artinya konstitusi.
Pengertian konstitusi dalam praktik dapat berarti lebih luas dari pada pengertian UUD. Tapi ada
juga yang menyamakan dengan pengertian UUD.
Menurut Prof. Wirjono Prodjodikoro, konstitusi mengandung permulaan dari segala peraturan
mengenai suatu negara. Dengan demikian, suatu konstitusi memuat suatu peraturan pokok
(fundamental) mengenai sendi-sendi pertama untuk menegakkan bangunan besar yang bernama
“Negara”.

2

Dengan pengertian yang lebih sederhana, konstitusi adalah hukum utama sebuah negara yang
memberikan arah kemana suatu negara dan bangsa menuju. Semua produk hukum yang berlaku
diwilayah hukum negara tersebut harus sejalan dengan konstitusi itu.

Ahli hukum membedakan pengertian konstitusi dengan UUD:
a.

Herman Heller
Pengertian konstitusi menururt Herman Heller dibagi menjadi tiga:

1)

Konstitusi yang mencerminkan kehidupan politik di dalam masyarakat sebagai suatu
kenyataan sehingga mengandung pengertian politik sosiologis.

2)

Konstitusi yang merupakan suatu kesatuan kaidah yang hidup dalam masyarakat sehingga
mengandung pengertian yuridis.

3)

Konstitusi yang ditulis dalam suatu naskah sebagai undang-undang yang tertinggi dan berlaku
dalam suatu negara sehingga mengandung pengertian politis.
Pendapat Herman Heller tersebut dapat disimpulkan bahwa jika pengertian undang-undang dasar
itu harus digabungkan dengan pengertian konstitusi maka artinya, UUD itu baru merupakan
sebagian dari pengertian konstitusi , yaitu konstitusi tertulis. Disamping itu , konstitusi itu tidak
hanya bersifat yuridis, tetapi mengandung pengertian logis dan politis.

b.

K.C. Wheare
Ia mengartikan konstitusi sebagai keseluruhan sistem ketatanegaraan dari suatu negara berupa
kumpulan peraturan yang membentuk, mengetur atau memerintah dalam pemerintahan suatu
negara.

Konstitusi dapat diartikan secara luas dan sempit adalah sebagai berikut:
·

Konstitusi dalam arti luas (hukum dasar) meliputi hukum dasar tertulis dan tidak tertulis.

·

Konstitusi dalam arti sempit adalah hukum dasar tertulis, yaitu undang-undang dasar.

4.

Tujuan konstitusi Negara
Setiap konstitusi senantiasa mempunyai dua tujuan yaitu:
1. Untuk memberikan pembatasan dan pengawasan terhadap kekuasaan politik;

3

2. Untuk membebaskan kekuasaan dari kontrol mutlak penguasa, serta menetapkan bagi
penguasa tersebut batas-batas kekuasaan mereka.
Konstitusi menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan ketatanegaraan suatu negara
karena konstitusi menjadi barometer kehidupan bernegara dan berbangsa yang sarat dengan bukti
sejarah perjuangan para pendahulu. Selain itu, konstitusi juga merupakan ide-ide dasar yang
digariskan oleh The founding Fathers, serta memberikan arahan kepada generasi penerus bangsa
dalam mengemudikan suatu negara yang mereka pimpin.

MACAM-MACAM KONSTITUSI
Menurut CF. Strong, konstitusi terdiri dari
Konstitusi tertulis (documentary constitution / writen constitution) adalah aturan –

aturan pokok dasar negara , bangunan negara dan tata negara, juga aturan dasar lainnya
yang mengatur perikehidupan suatu bangsa di dalam persekutuan hukum. Hampir semua
negara di dunia memiliki konstitusi tertulis atau undang-undang dasar (UUD) yang pada
umumnya mengatur mengenai pembentukan, pembagian wewenang dan cara bekerja
berbagai lembaga kenegaraan serta perlindungan hak azasi manusia.

Konstitusi tidak tertulis/konvensi (nondocumentary constitution) berupa kebiasaan
ketatanegaraan yang sering timbul dalam praktek penyelenggaraan negara. Negara yang
dikategorikan sebagai negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis adalah Inggris dan
Kanada. Di kedua negara ini, aturan dasar terhadap semua lembaga-lembaga kenegaraan
dan semua hak azasi manusia terdapat pada adat kebiasaan dan juga tersebar di berbagai
dokumen, baik dokumen yang relatif baru maupun yang sudah sangat tua seperti Magna
Charta yang berasal dari tahun 1215 yang memuat jaminan hak-hak azasi manusia rakyat
Inggris.Karena ketentuan mengenai kenegaraan itu tersebar dalam berbagai dokumen
atau hanya hidup dalam adat kebiasaan masyarakat itulah maka Inggris masuk dalam
kategori negara yang memiliki konstitusi tidak tertulis.

Dalam buku “Modern Constitution” (1975)

K.C. Wheare mengklasifikasi konstitusi sebagai

berikut:
Konstitusi fleksibel yaitu konstitusi yang mempunyai ciri-ciri pokok, antara lain:
a. Sifat elastis, artinya dapat disesuaikan dengan mudah
4

b. Dinyatakan dan dilakukan perubahan adalah mudah seperti mengubah undang2
Konstitusi rigid mempunyai ciri-ciri pokok, antara lain:
a. Memiliki tingkat dan derajat yang lebih tinggi dari undang-undang;
b. Hanya dapat diubah dengan tata cara khusus/istimewa

FUNGSI KONSTITUSI
Fungsi Pokok, Konstitusi atau UUD adl untuk membatasi kekuasaan pemerintah agar tidak
sewenang-wenang, sehingga hak-hak warga negara dapat terlindung (Konstitusionalisme).
Fungsi Umum :

Kontrol Penyelenggaraan negara,

Indikator keberhasilan pemerintahan,

Kontrak sosial antara warga negara dengan penyelenggara negara.

Secara operasional fungsi suatu konstitusi sebagai berikut :
 Membatasi perilaku pemerintahan secara efektif
 Membagi kekuasaan dalam beberapa lembaga negara
 Menentukan lembaga negara bekerja sama satu dengan lainnya
 Menentukan hubungan di antara lembaga negara
 Menentukan pembagian kekuasaan dalam negara, baik yang sifatnya horizontal maupun vertikal
 Menjamin hak-hak warga negara dari tindakan sewenang-wenang penguasa
 Menjadi landasan struktural penyelenggaraan pemerintahan menurut sistem ketatanegaraan

Menurut paham konstitusionalisme, konstitusi adalah dokumen kenegaraan yang mempunyai
fungsi khusus, yaitu:
 Menentukan dan membatasi kekuasaan pemerintah
 Menjamin hak-hak asasi warga negara
Konstitusionalisme: suatu gagasan/paham yang menyatakan bahwa suatu konstitusi/UUD harus
memiliki fungsi khusus yaitu membatasi kekuasaan pemerintah dan menjamin hak2 warga
negara

5

SUBSTANSI/ISI KONSTITUSI
 Pernyataan tentang gagasan2 politik, moral dan keagamaan
 Ketentuan tentang struktur organisasi negara
 Ketentuan tentang perlindungan HAM
 Ketentuan tentang prosedur mengubah UUD
 Larangan mengubah sifat tertentu dari UUD

Pernyataan tentang gagasan2 politik, moral dan keagamaan
 Dimuat pada bagian awal atau Pembukaan Konstitusi
 Memuat pernyataan pengakuan thd Tuhan.
 Memuat pernyataan bahwa keadilan, kebebasan, persamaan dan kebahagiaan/kesejahteraan umum
dll akan dijamin melalui konstitusi
 Memuat pula cita2 rakyat atau tujuan negara dan dasar negara
 Contoh: Pembukaan UUD 1945

Ketentuan tentang struktur organisasi negara
 Misal pembagian kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif
 Contoh UUD 1945

Pasal 2-3 ttg MPR

Pasal 4-16 ttg Pres

Pasal 19-22 ttg DPR

Pasal 22C dan 22D ttg DPD

Pasal 24A ttg MA

Pasal 24B ttg KY

Pasal 24C ttg MK

Ketentuan tentang perlindungan HAM
 Memuat ketentuan2 yang menjamin dan melindungi hak asasi manusia warga negara ybs.
6

 Contoh: UUD 1945 pada pasal 27, 28, 28A-28J, 29, 30, 31, 32, 34.
Ketentuan tentang prosedur mengubah UUD
 Ditentukan syarat dan prosedur mengubah konstitusi ybs untuk menjaga agar konstitusi tetap
dapat menyesuaikan perkembangan zaman.
 Contoh: UUD 1945 pada pasal 37

Larangan mengubah sifat tertentu dari UUD
 Biasanya terjadi jika para penyusun konstitusi ingin menghindari terulangnya kembali hal-hal
yang baru saja diatasi, misalnya munculnya seorang diktator atau kembalinya suatu monarki.
 Contoh: UUD 1945 pasal 37 ayat 5
Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik

Indonesia tidak dapat dilakukan

perubahan****)

ISI KONSTITUSI MENURUT PENDAPAT TOKOH
 Menurut Sri Sumantri konstitusi berisi 3 hal pokok yaitu:

Jaminan terhadap HAM dan warga negara

Susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental

Pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan.

 Menurut Miriam Budiarjo, konstitusi memuat tentang:

Organisasi negara,

HAM,

Prosedur penyelesaian masalah pelanggaran hukum,

Cara perubahan konstitusi.

 Menurut Koerniatmanto Soetopawiro, konstitusi berisi tentang:

Pernyataan ideologis

Pembagian kekuasaan negara

Jaminan HAM (hak asasi manusia)

Perubahan konstitusi

Larangan perubahan konstitusi

7

ISI UUD
Setiap UUD memuat ketentuan :
 Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif dan yudikatif.
 Hak-hak asasi manusia (biasa disebut Bill of Right) kalau berbentuk naskah tersendiri.
 Prosedur mengubah Undang-Undang Dasar.
 Adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari Undang-Undang Dasar

Pembentukan Konstitusi
 PEMBERIAN
Raja memberikan suatu UUD, dan kekuasaan akan dijalankan oleh suatu badan tertentu. UUD
itu timbul, karena takut akan timbul revolusi. Dengan UUD kekuasaan raja dibatasi
 SENGAJA DIBENTUK
Pembuatan suatu UUD dilakukan setelah negara itu didirikan
 CARA REVOLUSI
Pemerintahan baru hasil revolusi, dengan persetujuan rakyat, pemerintah mengambil suatu
permusyawaratan untuk menetapkan UUD.
 CARA EVOLUSI
Melakukan perubahan secara berangsur-angsur membentuk UUD baru.

Pengubahan Konstitusi
 Oleh Badan Legislatif/ Perundangan Biasa. Pengubahan dilakukan oleh Badan Legislatif, hanya
harus dengan syarat yang lebih berat dari pada membuat undang-undang biasa (bukan undangundang dasar).
 Referendum
Yaitu dengan jalan pemungutan suara diantara rakyat yang mempunyai hak suara
 Oleh Badan Khusus
Badan khusus yang bertugas hanya untuk mengubah undang-undang dasar saja.
 Khusus di Negara Federasi
Perubahan UUD itu baru dapat terjadi jika mayoritas negara-negara bagian dari federasi itu tadi
menyetujui perubahan.
8

Pada dasarnya ada dua macam sistem yang lazim digunakan dalam praktek ketatanegaraan di
dunia dalam hal perubahan konstitusi.
 Sistem yang pertama adalah bahwa apabila suatu konstitusi diubah, maka yang akan berlaku
adalah konstitusi yang berlaku secara keseluruhan (penggantian konstitusi). Sistem ini dianut
oleh hampir semua negara di dunia.
 Sistem yang kedua ialah bahwa apabila suatu konstitusi diubah, maka konstitusi yang asli tetap
berlaku. Perubahan terhadap konstitusi tersebut merupakan amandemen dari konstitusi yang asli
tadi. Dengan perkataan lain, amandemen tersebut merupakan atau menjadi bagian dari
konstitusinya. Sistem ini dianut oleh Amerika Serikat

PENDAPAT C.F. STRONG
Empat macam prosedur perubahan konstitusi:
 Perubahan konstitusi yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan legislatif, akan tetap yang
dilaksanakan menurut pembatasan-pembatasan tertentu. Perubahan ini terjadi melalui tiga
macam kemungkinan.

Pertama, untuk mengubah konstitusi, sidang pemegang kekuasaan legislatif harus dihadiri oleh
sekurang-kurangnya sejumlah anggota tertentu (kuorum) yang ditentukan secara pasti

Kedua, untuk mengubah konstitusi maka lembaga perwakilan rakyat harus dibubarkan terlebih
dahulu dan kemudian diselenggarakan pemilihan umum. Lembaga perwakilan rakyat harus
diperbaharui inilah yang kemudian melaksanakan wewenangnya untuk mengubah konstitusi.

Ketiga, adalah cara yang terjadi dan berlaku dalam sistem majelis dua kamar. Untuk mengubah
konstitusi, kedua kamar lembaga perwakilan rakyat harus mengadakan sidang gabungan. Sidang
gabungan inilah, dengan syarat-syarat seperti dalam cara pertama, yang berwenang mengubah
konstitusi.

 Perubahan konstitusi yang dilakukan rakyat melalui suatu referendum. Apabila ada kehendak
untuk mengubah kosntitusi maka lembaga negara yang diberi wewenang untuk itu mengajukan
usul perubahan kepada rakyat melalui suatu referendum atau plebisit. Usul perubahan konstitusi
yang dimaksud disiapkan lebih dulu oleh badan yang diberi wewenang untuk itu. Dalam
referendum atau plebisit ini rakyat menyampaikan pendapatnya dengan jalan menerima atau
9

menolak usul perubahan yang telah disampaikan kepada mereka. Penentuan diterima atau
ditolaknya suatu usul perubahan diatur dalam konstitusi.
 Perubahan konstitusi yang berlaku pada negara serikat yang dilakukan oleh sejumlah negara
bagian. Perubahan konstitusi pada negara serikat harus dilakukan dengan persetujuan sebagian
terbesar negara-negara tersebut. Hal ini dilakukan karena konstitusi dalam negara serikat
dianggap sebagai perjanjian antara negara-negara bagian. Usul perubahan konstitusi mungkin
diajukan oleh negara serikat, dalam hal ini adalah lembaga perwakilannya, akan tetapi kata akhir
berada pada negara-negara bagian. Disamping itu, usul perubahan dapat pula berasal dari negaranegara bagian.
 Perubahan konstitusi yang dilakukan dalam suatu konvensi atau dilakukan oleh suatu lembaga
negara khusus yang dibentuk hanya untuk keperluan perubahan. Cara ini dapat dijalankan baik
pada Negara kesatuan ataupun negara serikat. Apabila ada kehendak untuk mengubah konstitusi,
maka sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dibentuklah suatu lembaga negara khusus yang
tugas serta wewenangnya hanya mengubah konstitusi. Usul perubahan dapat berasal dari
pemegang kekuasaan perundang-undangan dan dapat pula berasal dari pemegang kekuasaan
perundang-undangan dan dapat pula berasal dari lembaga negara khusus tersebut. Apabila
lembaga negara khusus dimaksud telah melaksanakan tugas serta wewenang sampai
selesai,dengan sendirinya lembaga itu bubar.

Pendapat Hans Kelsen
Hans Kelsen mengatakan bahwa konstitusi asli dari suatu negara adalah karya pendiri negara
tersebut. Dan ada beberapa cara perubahan konstitusi menurut Kelsen yaitu :
 Perubahan yang dilakukan di luar kompetensi organ legislatif biasa yang dilembagakan oleh
konstitusi tersebut, dan dilimpahkan kepada sebuah konstituante, yaitu suatu organ khusus yang
hanya kompeten untuk mengadakan perubahan-perubahan konstitusi
 Dalam sebuah negara federal, suatu perubahan konstitusi bisa jadi harus disetujui oleh dewan
perwakilan rakyat dari sejumlah negara anggota tertentu.

10

Pendapat Miriam Budiardjo
Empat macam prosedur perubahan konstitusi, yaitu:
 Sidang badan legislatif ditambah beberapa syarat misalnya ketentuan kuorum dan jumlah
minimum anggota badan legislatif untuk menerima perubahan.
 Referendum atau plebisit, contoh : Swiss dan Australia
 Negara-negara bagian dalam suatu negara federal harus menyetujui, Contoh : Amerika Serikat
 Musyawarah khusus (special convention), contoh: beberapa negara Amerika Latin

UNSUR-UNSUR SEBUAH KONSTITUSI
Menurut Sovernin Lohman bahwa sebuah konstitusi mempunyai 3 unsur utama yaitu :
1.

Konstitusi dipandang sebagai wujud Perjanjain Masyarakat.yaitu kesepakatan antara
masyarakat dan pemerintah untuk mengatur mereka

2.

Konstitusi merupakan Piagam yang menjamin Hak Asasi Manusia Warga Negara

3.

Konstitusi merupakan Forma Regimenis atau Kerangka Bangunan Pemerintahan.

CIRI-CIRI KONSTITUSI
1. Negara-negaraLiberal
Konstitusi dalam negara – negara liberal sangat memberikan jaminan kebebasan dan hak asasi
warga negara. Hal itu sesuai dengan pandangan liberalisme yang dianutnya Liberalisme adalah
ideologi yang berkembang di negara-negara Barat.Jadi liberalisme, meletakkan penekanan pada
individualisme. Apabila diterapkan di Indonesia yang berdasarkan Pancasila tentu merupakan
suatu nilai kehidupan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, yakni Pancasila.Konstitusi di
nagara liberal sangat memberikan jaminan terhadap hak-hak asasi perseorangan. Kekuasaan dan
tindakan pemerintah dibatasi sehingga hak asasi manusia disebut konstitusionalisme yang
bercirikan:
1. Isi UUD membatasi kekuasan negara yang membatasi penyelenggara pemerintah.
2.

2.

Isi

UUD memberi jaminan kebebasan dan hak-hak asasi manusia/warga Negara

Negara-negara Komunis
Ciri yg paling khas adalah bahwa semua aktivitas dan kekayaan dilakukan dan dikuasai
negara.dan peran swasta sangat dibatasi bahkan hamper tidak ada,hak berbicara dan
11

berorganisasi sangat dibatasi.,Negara hanya dikuasai 1 partai yaitu partai komunis yg punya
wewenang sangat luas bahkan tidak terbatas.
Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan,
Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara
merata.-Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya-komunisme juga disebut anti
liberalisme. -komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama
dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran
yang rasional dan nyata.
Komunisme tidak hanya merupakan system politik yang menjadi dasar bagi konstitusi di RRC,
tetapi juga mencerminkan suatu gaya hidup yang berdasarkan nilai-nilai tertentu , antara lain:
1.Gagasan Monoisme( sebagai lawan dari pluralisme)
2. Kekerasan dipandang Sebagai Alat yang Sah guna mencapai Komunisme.
3. Negara merupakan alat untuk mencapai komunisme.

3. Pancasila
a. Menurut Pancasila, manusia pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Tuhan YME yang
bersifat monodualis (makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial). Kedua hal itu harus selaras
dan seimbang.
b. Kebebasan individu tidak boleh merusak semangat kerja sama antarwarga, namun kerja sama
antarwarga tidak boleh mematikan kebebasan individu.
c. Sistem politik yang sesuai dengan dasar negara Pancasila adalah sistem demokrasi tidak
langsung atau demokrasi perwakilan
d. Sistem perekonomian yang dikehendaki adalah sistem ekonomi kerakyatan, di mana
kesejahteraan rakyat menjadi tujuan utamanya.
e. Tiga pilar perekonomian adalah negara, sektor swasta, dan koperasi.
f. Sistem politik yang sesuai dengan dasar negara Pancasila adalah sistem demokrasi tidak
langsung atau demokrasi perwakilan
g. Sistem perekonomian yang dikehendaki adalah sistem ekonomi kerakyatan, di mana
kesejahteraan rakyat menjadi tujuan utamanya.
h. Tiga pilar perekonomian adalah negara, sektor swasta, dan koperasi.

12

5.

Kaitan antara Dasar Negara dan Konstitusi
Dasar negara menjadi sumber bagi pembentukan konstitusi. Dasar negara menempati kedudukan
sebagai norma hukum tertinggi negara. Sebagai norma tertinggi, dasar negara menjadi sumber
bagi pembentukan norma-norma hukum dibawahnya. Konstitusi adalah salah satu norma hukum
dibawah dasar negara. Dengan demikian, konstitusi bersumber dari dasar negara. Norma hukum
dibawah dasar negara isinya tidak boleh bertentangan dengan norma dasar. Isi norma tersebut
bertujuan mencapai cita-cita yang terkandung dalam dasar negara. Dasar negara merupakan cita
hukum dari negara.
Menurut Hamid S. Attamimi, sebagai norma hukum tertinggi, dasar negara ini mempunyai
fungsi sebagai berikut:

1)

Fungsi regulatif
Adalah sebagai tolak ukur untuk menguji apakah norma hukum yang berlaku dibawah dasar
negara tersebut bertentangan atau tidak dan bersifat adil atau tidak.

2)

Fungsi konstitutif
Adalah sebagai pembentuk hukum bahwa tanpa adanya dasar negara tersebut maka norma
hukum dibawahnya akan kehilangan makna sebagai hukum.
Jadi kaitan antara dasar negara dengan konstitusi adalah dasar negara menjadi sumber bagi
penyusunan konstitusi. Konstitusi sebagai norma hukum dibawah dasar negara bersumber dan
berdasar pada dasar negara.

6.

Pokok-Pokok pikiran pembukaan UUD 1945
Pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
1. Negara melindungi seganap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia
dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
indonesia.
2. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
3. Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan
perwakilan.
4. Negara berdasar atas ketuhanan yang maha esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.

13

7.

Tata urutan peraturan perundangan RI
Tata urutan peraturan perundang-undangan pada masa Orde Lama diatur dalam Ketetapan
MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan
Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia, dengan tata urutan sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar 1945.

2. Ketetapan MPR

3. Undang-Undang/Perpu

4. Peraturan Pemerintah

5. Keputusan Presiden

6. Peraturan Menteri

7. Peraturan pelaksana

Dalam era Reformasi, tata urutan perundang-undangan diatur dalam Tap MPR No.
III/MPR/2000 yang menggantikan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, dengan urutan
sebagai berikut:

A. Undang-Undang Dasar 1945.

B. Ketetapan MPR

C. Undang-Undang.

D. PERPU (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang)

E. Peraturan Pemerintah

F. Keputusan Presiden

G. Peraturan Daerah

Beberapa problematika dalam Tap MPR No. III/MPR/2000 membuat pemerintah dan DPR
menelurkan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Tata Urutan Perundang-undangan sebagai
pengganti Tap MPR No. III/MPR/2000 yang terdiri atas:

a. UUD 1945

b. Undang-Undang/PERPU

c. Peraturan Pemerintah
14

d. Peraturan Presiden

e. Peraturan daerah

Berdasarkan UU no 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, jenis
dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti

d. Peraturan Pemerintah;

e. Peraturan Presiden;

f. Peraturan Daerah Provinsi; dan

g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Sedangkan kedudukan Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara. Sedangkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam
Peraturan Perundang-undangan.

Pengertian

Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-Undangan yang dibentuk oleh Dewan
Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan
yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa.

Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundangundangan yang ditetapkan oleh
Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.

Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundangundangan yang ditetapkan oleh Presiden
untuk menjalankan perintah Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi atau dalam
menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.

Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur.

15

Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama
Bupati/Walikota.

B.

Substansi Konstitusi Negara
Konstitusi negara kita adalah UUD 1945 . UUD 1945 berada dalam kelompok aturan
dasar/pokok negara bersama dengan ketetapan MPR dan konvensi ketatanegaraan Republik
Indonesia sedangkan norma dasarnya adalah Pancasila. Hal-hal yang diatur dalam konstitusi
negara umumnya berisi tentang pembagian kekuasaan negara, hubungan antarlembaga negara,
dan hubungan negara dengan warga negara. Aturan-aturan itu masih bersifat umum dan secara
garis besar. Aturan-aturan itu selanjutnya dijabarkan lebih lanjut pada aturan perundangan
dibawahnya.

1.

Hal-hal yang dimuat dalam konstitusi negara Indonesia
Menurut Mirriam Budiardjo dalam bukunya dasar-dasar ilmu politik, konstitusi atau undangundang dasar memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Organisasi negara, misalnya kekuasaan antara badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Dalam negara federal, masalah pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dengan
pemerintah negara bagian, prosedur penyelesaian masalah pelanggaran yurisdiksi lembaga
negara.
2. Hak-hak asasi manusia.
3. Prosedur pengubahan undang-undang dasar.
4. Adakalanya memuat larangan untuk mengubah sifat-sifat tertentu dari undang-undang dasar.

Hal-hal yang dimuat dalam undang-undang dasar 1945, antara lain sebagai berikut:
1. Hal-hal yang sifatnya umum, misalnya tentang kekuasaan dalam negara dan identitasidentitas negara.
2. Hal yang menyangkut lembaga-lembaga negara, hubungan antara lembaga negara, fungsi,
tugas, hak, dan kewenangannya.

16

3. Hal yang menyangkut hubungan antara negara dengan warga negara, yaitu hak dan
kewajiban negara terhadap warganya ataupun hak dan kewajiban warga negara terhadap
negara, termasuk juga hak asasi manusia.
4. Konsepsi atau cita-cita negara dalam berbagai bidang, misalnya bidang pendidikan,
kesejahteraan, ekonomi, sosial dan pertahanan.
5. Hal mengenai perubahan undang-undang dasar.
6. Ketentuan-ketentuan peralihan dan transisi.

Menurut undang-undang No.10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan menyatakan bahwa materi muatan UUD Negara Kasatuan RI Tahun 1945 meliputi:
1)

Hak asasi manusia.

2)

Hak dan kewajiban warga negara.

3)

Pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara.

4)

Wilayah negara dan pembagian daerah.

5)

Kewarganegaraan dan kependudukan.

6)

Keuangan negara.

2.

UUD/ Konstitusi yang pernah berlaku di indonesia
Sejak proklamasi 17 Agustus 1945 sampai sekarang, di indonesia telah berlaku tiga macam UUD
dalam empat periode. Ketiga macam UUD itu adalah sebagai berikut:
a. Periode 18 Agustus 1945-27 Desember 1949 menggunakan UUD 1945. UUD 1945
terdiri atas 16 Bab, 37 Pasal, 4 pasal aturan peralihan dan 2 ayat aturan tambahan.
b. Periode 27 Desember 1949-17 Agustus 1950 menggunakan UUD RIS. UUD RIS
terdiri atas 6 bab, 197 pasal, dan beberapa bagian.
c. Periode 17 Agustus 1950-5 Juli 1959 menggunakan UUDS 1950 yang terdiri atas 6
bab, 146 pasal, dan beberapa bagian.
d. Periode 5 Juli 1959- sekarang kembali menggunakan UUD 1945.

17

3.

Amandemen UUD 1945
Amandemen berarti perubahan atau mengubah (to amend). Tujuannya untuk memperkuat fungsi
dan posisi dari UUD 1945 dengan mengakomodasikan aspirasi poltik yang berkembang untuk
mencapai tujuan negara seperti halnya dirumuskan oleh konstitusi itu sendiri.
Dalam UUD 1945, pasal 37 yang diberi wewenang untuk melakukannya adalah MPR.
Amandemen dimaksudkan supaya UUD 1945 disempurnakan sesuai dengan perkembangan dan
dinamika tuntutan dari aspirasi masyarakat.
UUD 1945 sebagai konstitusi negara Republik Indonesia sampai saat ini telah mengalami empat
kali amandemen yang terjadi di era Reformasi. Keempat amandemen tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Amandemen I dilakukan pada sidang umum MPR 1999 dan disahkan pada tanggal 19
Oktober 1999.
2. Amandemen II dilakukan pada sidang Tahunan MPR 2000 dan disahkan pada tanggal 18
Agustus 2000.
3. Amandemen III dilakukan pada sidang Tahunan MPR 2001 dan disahkan pada tanggal 10
November 2001.
4. Amandemen IV dilakukan pada sidang Tahunan MPR 2002 dan disahkan tanggal 10
Agustus 2002.

Dengan ditetapkannya perubahan UUd ini maka maka berdasarkan pasal 2 aturan tambahan,
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia adalah naskah yang terdiri atas pembukaan dan
pasal-pasal. Pembukaan terdiri atas 4 alinea dan pada bagian pasal terdiri atas 16 bab, 73 pasal, 3
pasal aturan peralihan, dan dua pasal aturan tambahan.
Adapun isi UUD secara garis besar adalah sebagai berikut:
1.

Bab I tentang bentuk dan kedaulatan (pasal 1).

2.

Bab II tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat (pasal 2 – 4).

3.

Bab III tentang kekuasaan Pemerintahan Negara (pasal 4 – 16).

4.

Bab V tentang kementerian Negara (pasal 17).

5.

Bab VI tentang pemerintah daerah (pasal 18 -18B).

6.

Bab VII tentang Dewan Perwakilan Rakyat (pasal 19-22B).

7.

Bab VII A tentang Dewan Perwakilan Daerah (pasal 22C-22D).
18

8.

Bab VII B tentang pemilihan umum (pasal 22E).

9.

Bab VIII tentang hal Keuangan (pasal 23-23D).

10.

Bab VIII A tentang Badan Pemeriksa Keuangan (pasal 23E-23G).

11.

Bab IX tentang kekuasaan Kehakiman (pasal 24-25).

12.

Bab IX A tentang wilayah Negara (pasal 25A).

13.

Bab X tentang warga Negara dan penduduk (pasal 26-28).

14.

Bab X A tentang Hak Asasi Manusia (pasal 28A-28J).

15.

Bab XI tentang Agama (pasal 29).

16.

Bab XII tentang pertahanan dan Keamanan Negara (pasal 30).

17.

Bab XIII tentang pendidikan dan kebudayaan (pasal 31-32).

18.

Bab XIV tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan social (pasal 33-34).

19.

Bab XV tentang bebdera, bahasa, lambing Negara serta lagu kebangsaan (pasal 35-36C).

20.

Bab XVI tentang perubahan undang-undang dasar (pasal 37).

4.

Tujuan dilakukannya Amandemen UUD 1945.
Amandemen UUd 1945 telah memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada dalam UUD 1945
sebalum amandemen . perbaikan dan perubahan yang dimaksud antara lain :
a.

Adanya pembatasan-pembatasan atas kekuasaan presiden di Indonesia;

b.

Memperkuat dan menegaskan kembali peran kekuasaan legislative di Indonesia;

c.

Mencantumkan Hak Asasi Manusia Indonesia;

d.

Menegaskan kembali hak dan kewajiban Negara ataupun warga Negara;

e.

Otonomi daerah dan hak-hak rakyat di daerah;

f.

Pembaruan lembaga-lembaga Negara dan lembaga tinggi Negara.

Amandemen konstitusi dimaksudkan agar

Negara Indonesia benar-benar merupakan

pemerintahan yang konstitusional (constitutional government). Pemerintahan yang konstitusional
tidak hanya pemerintahan itu berdasarkan pada sebuah konstitusi, tetapi konstitusi Negara itu
harus berisi adanya pembatasan kekuasaan dan jaminan hak-hak warga Negara.
Pemerintahan konstitusional mengarah pada pemerintahan dan Negara demokrasi. Jadi,
amandemen UUD 1945 diharapkan dapat menjadikan Negara Indonesia benar-benar demokratis.

19

C.

Kedudukan pembukaan UUD 1945

1.

Makna tiap alinea dalam pembukaan UUD 1945.
1. Alinea pertama mengungkapkan adanya dalil obyektif dan subyektif bangsa Indonesia. Dalil
obyektifnya adalah bahwa adanya penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan
perikeadilan. Oleh karena itu penjajahan harus ditentang dan dihapuskan dari muka bumi.
Dalil subyektifnya adalah adanya keinginan bangsa Indonesia sendiri untuk membebaskan
diri dari penjajahan.
2. Alinea II mengandung makna perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia telah sampai saat
yang menentukan, yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai
jembatan menuju cita-cita masyarakat yang adil dan makmur.
3. Alinea III mengandung makna kemerdekaan bangsa Indonesia bukan hanya karena keinginan
luhur dan hasil perjuangan semata , tetapi juga berkat rahmat Allah Yang Maha Esa. Jadi ada
motivasi materiil dan spiritual bangsa Indonesia dalam mengarungi kehidupannya.
4. Alinea IV menggambarkan kelengkapan dalam kehidupan bernegara. Dalam alinea tersebut
terdapat tujuan Negara, bentuk Negara,sisten pemerintahan Negara, UUD, dan dasar Negara.

2.

Kedudukan pembukaan UUD 1945.

1)

Pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terperinci.
Naskah proklamasi 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh soekarno – Hatta mengandung makna:

-

Suatu pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia .

-

Tindakan-tindakan yang harus segera dijalankan berkaitan dengan proklamasi tersebut.
Naskah proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Sorkarno – Hatta tersebut terdiri atas dua alinea yang
hanya berwujud garis-garis besar saja, sedangkan dalam pembukaan UUD 1945 terdpat
pernyataan kemerdekaan yang lebih terperinci, yaitu pada alinea III dan alinea IV. Alinea III
pembukaan UUD 1945 pada hakikatnya isinya sama dengan bagian pertama naskah proklamasi,
yaitu tentang pernyataan kemerdekaan Indonesia. Alinea IV berisi tindakan-tindakan lebih lanjut
dalam bernegara Indonesia yang pada hakikatnya sama dengan makna yang terkandung dalam
bagian ke dua naskah proklamasi. Dengan demikian jelaslah bahwa pembukaan UUD 1945
adalah sebagai pernyataan kemerdekaan Indonesia yang terperinci, sedangkan naskah Proklamasi
hanyalah pernyataan kemerdekaan secara garis besar saja.
20

2)

Pembukaan UUD 1945 merupakan tertib hukum tertinggi di Negara Indonesia.
Pembukaan UUD 1945 mengandung pokok-pokok pikiran yang dijabarkan atau dituangkan
dalam pasal-pasal UUd 1945. Pokok-pokok pikiran itu tiada lain adalah Pancasila. UUD 1945
mengandung empat pokok pikiran yaitu:
1. Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan
berdasar atas persatuan;
2. Negara hendak mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia;
3. Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar atas asas kerakyatan dan permusyawaratan
perwakilan;
4. Negara berdasar atas ketuhanan yang maha esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
Pancasila merupakan norma dasar (grundnorm) atau norma dasar Negara (staatsfundamentalnorm) yang menjadi sumber, dasar, dan asas bagi penyusunan tertib hokum di
Indonesia.
Karena pembukaan UUD 1945 memuat Pancasila sebagai norma fundamental Negara, maka
pembukaan UUD 1945 berkedudukan sebagai tertib hokum tertinggi Negara. Pasal-pasal dalam
pembukaan UUD 1945 dan norma-narma hukum dibawahnya berlaku, bersumber dan berdasar
pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945. Dibawah tertib hokum
tertinggi terdapat tata urutan perundang-undangan yang membentuk suatu kesatuan system
hokum nasional.

3)

Pembukaan UUD 1945 sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental.
Menurut Prof. Mr. Notonegoro, pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat sebagai pokok kaidah
Negara yang fundamental. Hal ini dikarenakan pembukaan UUD 1945 berisi norma dasar
Negara yang selanjutnya menentukan adanya UUD. Pancasila sebagai inti dari pembukaan UUD
1945 disebut sebagai unsur pokok kaidah Negara yang fundamental.

21

Bab. 5 Hakikat Warga Negara dan Kewarganegaraan.

1.

Pengertian Warga Negara.
Warga Negara berasal dari dua kata, yaitu Warga dan Negara. Warga diartikan sebagai anggota
atau peserta. Warga mengandung arti peserta atau anggota dari suatu kelompok atau organisasi
perkumpulan. Jadi, kalau ada sebutan sekolah berarti anggota sekolah, warga keluarga berarti
anggota keluarga. Warga Negara artinya warga atau anggota dari suatu Negara. Jadi warga
Negara secara sederhana diartikan sebagai anggota dari suatu organisasi kekuasaan yang dinamai
Negara.
Istilah warga Negara merupakan merupakan terjemahan kata citizens (bahas inggris) yang
mempunyai arti:
a. Warga Negara;
b. Petunjuk dari sebuah kota;
c. Sesama warga Negara, sesame penduduk, orang se-tanah air;
d. Bawahan.

Menurut AS Hikam, warga Negara sebagai terjemahan dari citizen adalah anggota dari suatu
komunitas yang membentuk Negara itu sendiri, sedangkan menurut Koerniatmanto menyatakan
secara sederhana bahwa warga Negara adalah anggota Negara.

Bangsa adalah orang-orang yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah, memiliki
latarbelakang tertentu serta memiliki cita-cita atau kepentingan untuk membentuk dan memiliki
Negara sendiri.

Penduduk adalah orang-orang yang bertempaat tinggal dalam suatu wilayah Negara dalam
kurun waktu tertentu. Orang yang berada disuatu wilayah Negara dapat dibedakan menjadi
penduduk dan non penduduk. Penduduk Negara dapat dibedakan menjadi warga Negara dan
orang asing atau bukan warga Negara yang tinggal di Indonesia. Secara skematis digambarkan
sebagai berikut:

22

2.

Dasar hukum tentang kewarganegaraan di Indonesia.
Masalah kewarganegaraan di Indonesia diatur dalam:

1)

UUD 1945 Pasal 26 (ayat 1-3);

2)

Undang-undang No. 12 Tahun 2006 Tentang kewarganegaraan Rupublik Indonesia

3.

Asas kewarganegaraan yang berlaku umum.
Pada bagian penjelasan Undang-undang No.12 Tahun 2006 Tentang kewarganegaraan RI,
memperhatikan asas-asas kewarganegaraan umum atau universal antara lain:
a. Asas Ius Sanguinis (law of the Blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan
seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan Negara tempat kelahiran.
b. Asas Ius Soli (law of the soil) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang
berdasarkan Negara tempat kelahiran yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai
dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini.
c. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi
setiap orang.
d. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda
bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini.

4.

Masalah Bipatride dan Apatride
Undang-undang No. 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan RI pada dasarnya tidak mengenal
kewarganegaraan

ganda

(Bipatride)

ataupun

tanpa

kewarganegaraan

(Apatride).

Kewarganegaraan ganda yang diberikan pada anak dalam undang-undang ini merupakan suatu
pengecualian.
1)

Bipatride.
Kalau seseorang yang berkewarganegaraan dari suatu Negara yang menerapkan system ius
sanguinis melahirkan anaknya disuatu Negara yang menerapkan system ius soli maka anak
tersebut tetap dinyatakan sebagai warganegaranya dimana orang tuanya berasal, dan juga
dinyatakan sebagai warga Negara dari Negara dimana ia dilahirkan.

2)

Apatride.
Kalau seseorang yang berkewarganegaraan dari suatu Negara yang menerapkan system ius soli
melahirkan anaknya di suatu Negara yang menerapkan system ius sanguinis, maka anak tersebut
23

tidak lagi dianggap sebagai warga Negara dari kedua orang tuanya, dan juga ia tidak dianggap
sebagai warga Negara dari Negara dimana ia dilahirkan.

5.

Warga Negara Indonesia.
Siapakah yang menjadi warga Negara Indonesia? Negara Indonesia telah menentukan siapasiapa yang menjadi warga Negara Indonesia. Ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 26 UUD
1945 sebagai berikut:
a. Yang menjadi warga Negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa
lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai sebagai warga Negara.
b. Penduduk ialah warganegara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.
c. Hal-hal mengenai warga Negara dan penduduk diatur dengan undang-undang.

Berdasarkan pasal 26 ayat (1) di atas, dapat disimpulkan bahwa orang yang dapat menjadi warga
Negara Indonesia adalah:
1. Orang-orang bangsa Indonesia asli;
2. Orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang menjadi warga Negara.

6.

Warga Negara Indonesia berdasarkan undang-undang Nomor 12 tahun 2006.
Warga Negara Indonesia menurut UU No.12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik
Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau berdasarkan
perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara lain sebelum undang-undang ini
berlaku sudah menjadi warga Negara Indonesia;
2. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu warga Negara
Indonesia;
3. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga Negara Indonesia dan ibu
warga Negara asing;
4. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga Negara asing dan ibu
warga Negara Indonesia;

24

5. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara inddonesia, tetapi
ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hokum Negara asal ayahnya tidak
memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut;
6. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari
perkawinan yang sah dan ayahnya warga Negara Indonesia;
7. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara Indonsia ;
8. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga Negara asing yang
diakui oleh seorang ayah warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu
dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 tahun atau belum kawin;
9. Anak yang lahir diwilayah Negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas
status kewarganegaraan ayah dan ibunya;
10. Anak yang baru lahir yang ditemukan diwilayah Negara republik Indonesia selama ayah dan
ibunya tidak diketahui;
11. Anak yang lahir diwilayah Negara republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak
mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya;
12. Anak yang lahir diluar wilayah Negara republik Indonesia dari seorang ayah dan ibu warga
Negara Indonesia yang karena ketentuan dari Negara tempat anak tersebut dilahirkan
memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan;
13. Anak dari seorang ayah dan ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya,
kemudian ayah dan ibu meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan
janji setia.

7.

Cara memperoleh kewarganegaraan
Kewarganegaraan Republik Indonesia dapat juga diperoleh melalui pewarganegaraan.
Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh pemohon jika memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1. Telah berusia 18 tahun atau sudah menikah;
2. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal diwilayah Negara Republik
Indonesia paling singkat 5 tahun berturut-turut atau paling singkat 10 tahun tidak berturutturut;
3. Sehat jasmani dan rohani;
25

4. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar Negara pancasila dan UUD Negara
Republik Indonesia tahun 1945;
5. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana
penjara 1 tahun atau lebih;
6. Jika

dengan

memperoleh

kewarganegaraan

Republik

Indonesia,

tidak

menjadi

berkewarganegaraan ganda;
7. Mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap;
8. Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.

8.

Hilangnya kewarganegaraan Republik Indonesia.
Berdasarkan pasal 23 Undang-undang No. 12 Tahun 2006, warga Negara Indonesia kehilangan
kewarganegaraannya jika yang bersangkutan:

1.

Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri;

2.

Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang
bersangkutan mendapat kesempatan untuk itu;

3.

Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh presiden atas permohonannya sendiri, yang
bersangkutan sudah berusia 18 tahun atau sudah kawin, bertempat tinggal diluar negeri, dan
dengan dinyatakan hilang kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa
kewarganegaraan;

4.
5.

Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari presiden
Secara suka rela masuk dalam dinas Negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di
Indonesia sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh
warga Negara Indonesia;

6.

Secara suka rela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada Negara asing atau
bagian dari Negara asing tersebut;

7.

Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam pemilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk
suatu Negara asing;

8.

Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari Negara asing atau surat yang dapat
diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari Negara lain atas namanya;

9.

Bertempat tinggal diluar wilayah Negara Republik Indonesia selama 5 tahu berus-menerus
bukan dalam rangka dinas Negara, tanpa alas an yang sah dan dengan sengaja tidak menyatakan
26

keinginannya untuk tetap menjadi warga Negara Indonesia sebelum jangka waktu 5 tahun itu
berakhir, dan setiap 5 tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan pernyataan ingin
tetap menjadi warga Negara Indonesia kepada perwakilan Republik Indonesia yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal yang bersangkutan padahal perwakilan republik Indonesia
tersebut telah memberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan, sepanjang yang
bersangkutan tidak menjadi atau tanpa kewarganegaraan.

E.

Kedudukan warga Negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

1.

Hubungan antara warga Negara dengan Negara
Sebagai anggota dari suatu Negara maka warga Negara memiliki hubungan yang khusus dengan
negaranya. Warga Negara memiliki hubungan hak dan kewajiban yang timbal balik dengan
negaranya. Warga Negara memiliki hak dan kewajiban terhadap Negara, sebalikny Negara
memiliki hak dan kewajiban terhadap warganya.
Hubungan itu nantinya tercermin dalam hak dan kewajiban. Seperti halnya kita sebagai
anggota dari sebuah organisasi maka hubungan itu bewujud peranan, hak, dan kewajiban secara
timbale balik. Anggota memiliki hak dan kewajiban kepada organisasi, demikian pula organisasi
memiliki hak dan kewajiban terhadap anggotanya.
Hubungan dan kedudukan warga Negara ini bersifat khusus sebab hanya mereka yang
menjadi warga negaralah yang memiliki hubungan timbal balik dengan negaranya. Orang-orang
yang tinggal diwilayah Negara, tetapi bukan warga Negara dari nagara itu tidak memiliki
hubungan timbale balik dengan Negara tersebut.
Adanya hubungan khusus secara timbal balik ini mengakibatkan perlakuan yang berbeda
antara warga Negara dengan orang asing yang tinggal di Negara tersebut. Orang asing memiliki
hubungan hukum yang terbatas dengan Negara tempat ia tinggal. Masalnya:
a. Orang asing tidak boleh ikut pemilihan umum;
b. Orang asing tidak boleh menduduki jabatan publik;
c. Orang asing dapat diawasi bahkan diusir dari Negara;
d. Orang asing dibatasi dalam hal pekerjaan;
e. Orang asing tidak berhak dan wajib membela Negara.

27

2.

Kedudukan warga Negara dalam Negara.
Dengan memiliki status sebagai warga Negara maka orang memiliki kedudukan, status dan
peranan sebagai warga Negara. Secara teori, status warga Negara meliputi status pasif, aktif,
negative dan positif. Peranan warga Negara juga meliputi peranan yang pasif, aktif, negative dan
positif.
Peranan pasif adalah kepatuhan warga Negara terhadap peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Misalnya, kepatuhan warga terhadap tata tertib berlalu lintas.
Peranan aktif merupakan aktivitas warga Negara untuk terlibat (berpartisipasi) serta ambil
bagian dalam kehidupan bernegara, terutama dalam memengaruhi keputusan public. Misalnya
warga ramai-ramai melakukan pemungutan suara dalam pilkada.
Peranan positif merupakan aktivitas warga negara untuk meminta pelayanan dari Negara
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya sekelompok rakyat miskin menuntut adanya beras
murah untuk dibagikan.
Peranan negative merupakan aktivitas warga negara untuk menolak campur tangan Negara
khususnya dalam persoalan pribadi. Contohnya, ibu-ibu menolak adanya seruan program KB
yang terkesan dipaksakan oleh pejabat daerah.

3.
3.1

Hak dan kewajiban warga Negara Indonesia.
Hak warga Negara
Hak adalah kepentingan yang dilindungi oleh hukum yang memberikan keleluasaan kepada
orang untuk melaksanakannya. Sebalknya yang dimaksud kepentingan adalah tuntutan orang
atau kelompok yang diharapkan dipenuhi, dijamin dan dilindungi oleh hukum.
Dalam UUD 1945 ada beberapa pasal yang mengatur tentang hak warga negara yaitu pasal
27 – 34.

1.

Pasal 27.
1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.

28

2.

Pasal 28.
”kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.

3.

Pasal 28A.
“setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”.

4.

Pasal 28B.
1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah.
2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

5.

Pasal 28C.
1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia.
2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dan memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.

6.

Pasal 28D.
1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang
adil serta perlakuan yang sama di depan hukum.
2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja.
3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.
4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.

29

7.

Pasal 28E.
1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih
tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap
sesuai dengan hati nuraninya.
3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

8.

Pasal 28F.
“setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran
yang tersedian”.

9.

Pasal 28G.
1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta
benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari
ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan martabat
manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

10.

Pasal 28H.
1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara
utuh sebagai manusia yang bermartabat.
4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil
alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.

30

11.

Pasal 28I.
1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adlah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.
2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan
berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.
3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.
4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
jawab negara terutama pemerintah.
5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum
yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam
peraturan perundang-undangan.

12.

Pasal 28J.
1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

13.

Pasal 29 ayat 2.
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing
dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

14.

Pasal 30.
“Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara”.
31

15.

Pasal 31.
“Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”.

16.

Pasal 34.
“fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.

3.2

Kewajiban warga negara
Kewajiban adalah pembatasan atau beban yang timbul karena hubungan dengan sesama
orang atau dengan negara. Kewajiban warga negara terhadap negara berarti beban yang harus
dilakukan oleh warga negara dalam hubungannya dengan negara. Kewajiban warga negara
Indonesia terhadap negara, antara lain sebagai berikut:

1.

Pasal 27 ayat 1.
“segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukumdan pemerintahan itu degna tidak ada kecualinya”.

2.

Pasal 30.
“tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan keamanan negara”.

4.

Hak dan kewajiban warga negara di berbagai bidang.

a.

Hak dan kewajiban dibidang hukum dan pemerintahan.
Hak dan kewajiban warga negara indonesia dalam hukum dan pemerintahan tertuang dalam
peraturan perundang-undangan di bidang hukum dan pemerintahan di indonesia misalnya:

1)

UU No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP;

2)

UU No. 32 Tahun 2004 Tentang pemerintahan Daerah;

3)

UU No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu lintas

Contoh hak dan kewajiban dibidang hukum dan pemerintahan adalah :
1)

Hak untuk didampingi pembela dalam pemeriksaan dipengadilan;

2)

Hak untuk mengajukan banding, kasasi, dan grasi;

3)

Hak untuk mendapat informasi dari pemerintah;

4)

Kewajiban menaati hukum.
32

b.

Hak dan kewajiban dibidang politik.
Hak dan kewajiban dibidang politik tertuang dalam:

1)

UU No. 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan mengemukakkan pendapat dimuka umum;

2)

UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers;

3)

UU No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik;

4)

UU No. 12 Tahun 2003 Tentang pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD;

5)

UU No. 23 Tahun 2003 Tentang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Contoh hak dan kewajiban dibidang politik adalah:
1)

Hak untuk memilih dan dipilih dalam Pemilu;

2)

Hak menyatakan pendapat;

3)

Hak mendirikan organisasi kemasyarakatan atau partai politik;

4)

Hak ikut berorganisasi;

5)

Kewajiban mendaftarkan organisasi atau partai politik yang didirikan;

6)

Kewajiban mentaati aturan main dalam menyatakan pendapat.

c.

Hak dan kewajiban dibidang sosial budaya.
Hak dan kewajiban warganegara dalam bidang sosial budaya tertuang dalam:

1)

UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan Nasional;

2)

UU No. 2 Tahun 2004 Tentang penyelesaian perselisihan Hubungan Industrial;

3)

UU No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam Rumah Tangga;

Contah hak dan kewajiban dibidang sosial budaya adalah:
1)

Hak mendapat pendidikan gratis yang disediakan pemerintah;

2)

Hak mencanrumkan gelar pendidikan sesuai yang didapatkan;

3)

Hak mendapat jaminan sosial bagi para jompo (manula);

4)

Hak beribadah sesuai dengan agamanya;

5)

Hak mendapatkan kartu berobat secara gratis bagi rakyat miskin;

6)

Wajib mengikuti pendidikan dasar.

33

d.

Hak dan kewajiban dibidang ekonomi.
Hak dan kewajiban warga negara indonesia dalam bidang ekonomi tertuang dalam:

1)

UU No. 5 Tahun 1999 Tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat;

2)

UU No. 20 Tahun 2002 Tentang ketenaga listrikan;

3)

UU No. 19 Tahun 2003 Tentang Badan Uasaha Milik Negara;

4)

Peraturan Perundang-undangan Tentang Upah Minimum Regional (UMR).

Contoh hak dan kewajiban dibidang ekonomi adalah:
1)

Hak mendapatkan gaji/upah sesuai dengan standar hidup minimum;

2)

Hak mendapat cuti;

3)

Hak menciptakan atau memiliki usaha/pekerjaan;

4)

Kewajiban bekerja di perusahaan sesuai dengan jadwal;

5)

Kewajiban membayar pajak.

e.

Hak dan kewajiban warga negara dalam pertahanan keamanan.
Hak dan kewajiban warga negara dalam pertahanan keamanan tertuang dalam:

1)

UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian;

2)

UU No. 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara;

3)

UU No. 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia.

Contoh hak dan kewajiban dibidang pertahanan adalah:
1)

Hakmenjadi anggota TNI;

2)

Hak menjadi sukarelawan di daerah konflik atau bencana;

3)

Hak ikut pendidikan bela negara;

4)

Kewajiban mengikuti pendidikan kemiliteran;

5)

Wajib militer.

34

5.

Menghargai kedudukan warga negara tanpa membedakan ras, agama, gender,
golongan, budaya dan suku.

Setiap warga negara indonesia memiliki kedudukan yang sama sebagai warga negara.
Kedudukan yang sama tersebut dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan negara
mencakup kedudukan yang sama dibidang hukum dan pemerintahan, politik, ekonomi, sosial
budaya, dan pertahanan keamana. Dengan kedudukan yang sama itu, mereka memiliki hak dan
kewajiban yang sama sebagai warga negara indonesia.
Dalam konstitusi negara dan peraturan perundang-undangan nasional, kita tidak dibedakan antar
warga negara. Tidak ada pembagian warga negara atau kelompok warga negara. Misalnya warga
negara kelas satu dan warga negara kelas dua atau warga negara utama dan warga negara biasa.
Semua orang dapat menjadi warga negara indonesia dengan hak dan kewajiban yang sama,
asalkan menururt peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti undang-undang
kewarganegaraan.
Warga negara indonesia terdiri atas berbagai suku, agama, ras, dan golongan. Mereka memiliki
budaya dan kebiasaan yang bermacam-macam pula. Namun, mereka tetap berkedudukan sama
sebagai warga negara. Oleh karena itu, kita kita perlu menghargai semua warga negara tanpa
membeda-bedakan latar belakang mereka. Penghargaan ini diperlukan untuk menjaga dan
mempertahankan keharminisan pergaulan hidup sesama warga negara. Apabila tidak ada
penghargaan, akan mudah muncul ketidakpercayaan, perasaan berbeda bahkan timbul kebencian.
Apabila timbul kerusuhan banyak sekali warga negara lain yang menjadi korban. Misalnya
saudara-saudara kita sebagai warga negara keturunan bangsa lain, warga negara yang berbeda
agama, ataupun warga negara yang berasal dari suku lain.

ISTILAH PENTING
1,Adopsi : pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri
2. Apatride : orang yang tidak memiliki kewarganegaraan atau tanpa kewarganegaraan
3. Bipatride : orang yang mempunyai kewarganegaraan rangkap sebagai akibat perbedaan
stelsel kewarganegaraan.
4. Borjuis : kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas ( biasanya dipertentangkan
dengan rakyat jelata
35

5. Diskriminasi : pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara ( berdasarkan warna
kulit, golongan, suku, agama ,dsb )
6. Diskriminatif : bersifat diskriminasi,yaitu membeda-bedakan warga negara berdasarkan
golongan, agama, suku, dsb
7. Dikotomi : pembagian dalam dua bagian yang saling bertentangan
8. Etnis : bertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial
9. Gender : memiliki kesamaan karena persamaan jenis kelamin
10. Hak opsi : hak untuk memilih status kewarganegaraan
11. Ius Sanguinis : asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan
12. Ius soli : asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan tempat lahir
13. Naturalisasi : pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing
14. Paternalistis : paham yang bersifat kebapaan
15. Paspor : surat izin ke luar negeri
16. Ekspatriat : orang yang meninggalkan negeri asal
17. Warga : penduduk/ orang yang tinggal dalam suatu Negara secara sah
18. Pribumi : penduduk asli atau anak negeri
19. Kawula : warga/ masyarakat
20. Inhernt : hak yang melekat

36

Bab 6. Sistem Politik Indonesia

1.

Suprastruktur politik di indonesia
Supra struktur politik adalah badan atau lembaga-lembaga politik yang dibentuk oleh negara
untuk menjalankan fungsi-fungsi kenegaraan. Supra struktur politik umumnya terdapat atau
diatur dalam konstitusi negara. Di indonesia, lembaga yang merupakan supra struktur tersebut
tertuang dalam UUD 1945. Supra struktur politik dapat disebut sebagai lembaga negara.
Lembaga negara berada ditingkat kenegaraan. Lembaga negara atau suprastruktur politik ini
dapat disebut pula sebagai lembaga politik di tingkat atas.
Suprastruktur politik di indonesia menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut:

1)

MPR.

2)

DPR.

3)

DPD.

4)

Presiden dan wakil presiden.

5)

Badan Pemeriksa Keuangan.

6)

Mahkamah Agung.

7)

Mahkamah Konstitusi.

8)

Komisi Yudisial.

Berdasarkan ajaran trias Politica, lembaga-lembaga negara tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga kekuasaan.
1. kekuasaan legislatif adalah kekuasaan untuk membentuk peraturan perundang-undangan.
2. Kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan
atau menyelenggarakan pemerintahan.
3. Kekuasaan Yudikatif adalah kekuasaan untuk mempertahankan peraturan perundangundangan disebut pulakekuasaan kehakiman.

37

Berikut ini uraian tentang lembaga yang termasuk suprastruktur politik di Indonesia:

1)

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
MPR adalah lembaga negara. MPR sekarang ini bukan lagi merupakan lembaga tertinggi negara.
MPR adalah lembaga negara yang sederajat dengan lembaga negara lainnya. Dengan tidak
adanya lembaga tertinggi negara maka tidak ada lagi sebutan lembaga tinggi negara dan lembaga
tertinggi negara. Semua lembaga yang disebutkan dalam UUD 1945 adlah lembaga negara.
MPR merupakan lembaga pelaksana kedaulatan rakyat karena anggota MPR adalah para wakil
rakyat yang bersal dari hasil pemilihan umum. Namun, MPR bukan pelaksana sepenuhnya
kedaulatan rakyat. Hal ini tertuang dalam pasal 1 ayat 2 UUD 1945 perubahan ketiga “bahwa
kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan manurut undang-undang dasar”.
Ketentuan mengenai keanggotaan MPR tertuang dalam pasal 2 ayat 1 UUD 1945 sebagai
berikut:
”Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota
Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum dan diatur lebih lanjut dengan
undang-undang.

§ MPR mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:
1) Mengubah dan menetapkan UUD;
2) Melantik presiden dan wakil presiden berdasarkan hasil pemilihan umum dalam sidang
paripurna MPR;
3) Memutuskan usul DPR berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi untuk memberhentikan
presiden dan/atau wakil presiden dalam masa jabatannya setelah presiden dan/atau wakil
presiden diberi kesempatan untuk menyampaikan penjelasan di dalam sidang paripurna
MPR;
4) Melantik wakil presiden menjadi presiden apabila presiden mangkat, berhenti, diberhentikan,
atau tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatannya;
5) Memilih wakil presiden dari dua calon yang diajukan presiden apabila terjadi kekosongan
jabatan wakil presiden dalam masa jabatannya selambat-lambatnya dalam waktu 60 hari;
6) Memilih presiden dan wakil presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam
masa jabatannya, dari dua paket calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai
38

politik atau gabungan partai politik yang paket calon presiden dan wakil presidennya meraih
suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan sebelumnya, sampai habis masa
jabatannya selambat-lambatnya dalam waktu 30 hari;
7) Menetapkan peraturan tata tertib dan kode etik MPR.

2)

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
DPR adalah lembaga negara sebagai lembaga perwakilan. DPR merupakan lembaga perwakilan
rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. DPR beranggotakan para wakil rakyat dari
partai politik yang dipilih melalui pemilihan umum. Seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat
menjadi anggota MPR.

§ DPR mempunyai tiga fungsi, yaitu:
a. Legislasi adalah membentuk undang-undang;
b. Anggaran adalah menetapkan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara;
c. Pengawasan adalah mengawasi jalannya pemerintahan.

§ DPR mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut:
a.

Membentuk undang-undang yang dibahas dengan presiden untuk mendapat persetujuan
bersama;

b.

Membahas dan memberikan persetujuan peraturan pemerintah pengganti undang-undang;

c.

Menerima dan membahas usulan rancangan undang-undang yang diajukan DPD yang
berkaitan dengan bidang tertentu dan mengikutsertakannya dalam pembahasan;

d.

Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang APBN dan rancangan
undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan dan agama;

e.

Menetapkan APBN bersama presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD;

f.

Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara, serta kebijakan pemerintah;

g.

Membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang diajukan oleh DPD terhadap
pelaksanaan undang-undang ptonomi daerah; pembentukan, pemekaran dan penggabungan
daerah; hubungan pusat dan daerah; sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya;
pelaksanaan APBN, pajak, dan agama;
39

h.

Memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan dengan memperhatikan pertimbangan DPD;

i.

Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban keuangan
negara yang disampaikan oleh Badan Pemeriksa Keuangan;

j.

Memberikan persetujuan kepada presiden atas pengangkatan dan pemberhentian anggota
komisi yudisial;

k.

Memberikan persetujuan calon Hakim Agung yang diusulkan komisi yudisial untuk
ditetapkan sebagai Hakim Agung oleh Presiden;

l.

Memilih tiga orang anggota hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden untuk
ditetapkan;

m. Memberikan pertimbangan kepada presiden untuk mengangkat duta, menerima penempatan
duta negara lain, dan memperikan pertimbangan dalam pemberian amnesti dan abolisi;
n.

Memberikan persetujuan kepada presiden untuk menyatakan perang, membuat perdamaian,
dan perjanjian dengan negara lain, serta membuat perjanjian internasionallainnya yang
menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan
beban keuangan negara dan/atau pembentukan undang-undang;

o.

Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat;

p.

Melaksanakan tugas dan wewenang lainnyayang ditetapkan dalam undang-undang.

3)

Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
DPD merupakan lembaga perwakilan daerah yang berkedudukan sebagai lembaga negara. DPD
terdiri atas wakil-wakil daerah provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum. Seluruh anggota
DPD menjadi anggota MPR.

§ DPD mempunyai fungsi :
a.

Mengajukan usul, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan
dengan bidang legislasi tertentu;

b.

Pengawasan atas pelaksanaan undang-undang tertentu;

c.

DPD dapat mengajukan kepada DPR rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah; pengelolaan sumberdaya alam dan sumber daya ekonomi lainnya;
serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;
40

d.

DPD ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan degan otonomi daerah;
hubungan pusat dan daerah; pembentukan; pemekaran, dan penggabungan daerah;
pengelolaan sumber daya alam ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan
daerah; serta memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang APBN
dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan dan agama.

e.

DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi
daerah; pembentukan; pemekaran dan penggabungan daerah; hubungan pusat dan daerah;
pengelolaan sumber daya alam dan sumber ekonomi lainnya; pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara; pajak; pendidikan; agama serta menyampaikan hasil
pengawasannya itu kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

Kedudukan MPR, DPR, dan DPD sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 diatur lebih lanjut
dengan undang-undang. Undang-undang itu sekarang ini adalah Undang-Undang No. 22 Tahun
2003 tentang susunan dan kedudukan anggota MPR, DPR, DPD dan DPRD.

4)

Presiden dan Wakil Presiden.
Presiden adalah lembaga negara dan penyelenggara negara dibidang eksekutif. Presiden dibantu
oleh wakil presiden dan para menteri memiliki kekuasaan menjalankan undang-undang.
Presiden secara berpasangan dengan wakil presiden dipilih oleh rakyat secara langsung. Presiden
dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali
dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.

§ Kekuasaan presiden di Indonesia meliputi:
a.

Kekuasaan sebagai kepala negara, contohnya:

~

Sebagai panglima tertinggi angkatan perang;

~

Memberi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi;

~

Memberi gelaran, tanda jasa dan tanda kehormatan.

b.

Kekuasaan sebagai kepala pemerintahan, contohnya:

~

Mengangkat dan memberhentikan menteri;

~

Memimpin kabinet;

~

Memegang kekuasaan pemerintahan.
41

5)

Mahkamah Agung (MA)
Mahkamah Agung adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan kehakiman atau
kekuasaan bidang yudikatif. MA adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana
sebagaimana dimaksud dalam UUD Negara RI tahun 1945. MA adalah pengadilan negara
tertinggi dari semua lingkungan peradilan. MA menjadi salah satu pelaksana kekuasaan
kehakiman di indonesia.

§ Menurut pasal 24 A UUD 1945, kewenangan Mahkamah Agung meliputi:
a.

Berwenang mengadili dalam tingkat kasasi;

b.

Menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang;
dan

c.

Mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang , misalnya memberikan
pertimbangan hukum kepada presiden dalam hal permohonan grasi dan rehabilitasi.

6)

Mahkamah Konstitusi (MK).
Mahkamah konstitusi adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan yudikatif. Dengan
demikian, kekuasaan kehakiman atau yidikatif di indonesia dipegang oleh dua lembaga negara,
yaitu MA dan MK.
Menurut pasal 24 C UUD 1945, mahkamah konstitusi berwenang mengadili pada tingkat
pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:
a. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara RI 1945;
b. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD
1945;
c. Memutus pembubaran partai politik;
d. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

Selain itu, Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa presiden
dan/atau wakil presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa penghianatan
terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela,
dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai wakil presiden dan/atau wakil presiden
sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.
42

7)

Komisi Yudisial.
Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang mempunyai peranan penting dalam usaha
mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka melalui pencalonan hakim agung serta
pengawasan terhadap hakim yang transparan dan partisipatif guna menegakkan kehormatan dan
keluhuran martabat, serta menjaga perilaku hakim.
Ketentuan mengenai Komisi Yudisial diatur dalam pasal 24 B UUD 1945 sebagai berikut:
a.

Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung
dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

b.

Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman dibidang hukum
serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.

c.

Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan
DPR.

d.

Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang.

Meskipun kekuasaan Komisi Yudisial berhubungan dengan masaalah hakim, tetapi Komisi
Yudisial bukanlah lembaga negara dibidang yudikatif. Kekuasaan yudikatif tetap berada
ditangan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Komisi Yudisial hanyalah lembaga
negara yang berkaitan dengan dengan kekuasaan kehakiman atau yudikatif.

8)

Badan Pemeriksa Kauangan (BPK).
Badan pemeriksa keuangan (BPK) merupakan salah satu dari lembaga negara. BPK memiliki
tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. Hasil pemeriksaan
keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPD, DPRD, sesuai dengan kewenangannya.
Anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh
Presiden. BPK berkedudukan di ibu kota negara dan memiliki perwakilan disetiap provinsi.
Ketentuan mengenai BPK diatur dalam Bab VIII A pasal 23 E, 23 F dan 23 G UUD 1945
perubahan ketiga. Adapun undang-undang yang mengatur mengenai BPK adalah undangundang No. 5 Tahun 1973.
BPK adalah lembaga negara yang dalam pelaksanaan tugasnya terlepas dari pengaruh dan
kekuasaan pemerintah. Akan tetapi, tidak berdiri diatas pemerintah.
43

§ Tugas, tanggung jawab dan wewenang BPK adalah:
1)

Memeriksa tanggung jawab pemerintah tentang keuangan negara.

2)

Memeriksa semua pelaksanaan APBN.
Badan Pemeriksa Keungan berbentuk dewan yang terdiri atas seorang ketua merangkap anggota,
seorang wakol ketua merangkap anggota dan 5 orang anggota. Anggota BPK diangkat untuk
masa jabatan 5 tahun dan dapat diangkat kembali sebagai anggota BPK setiap kali untuk masa
jabatan 5 tahun.

§ Visi dan misi BPK adalah sebagai berikut:
a. Visi BPK adalah terwujudnya BPK RI sebagai lembaga pemeriksa yang bebas dan mandiri,
profesional, efektif, efisien dan modern dalam sistem pengelolaan keuangan negara yang
setiap entitasnya: memiliki pengendalian intern yang kuat; memiliki aparat pemeriksa intern
yang kuat; dan hanya diperiksa oleh satu aparat pemeriksa ekstern.
b. Misi BPK adalah mewujudkan diri menjadi auditor eksternal keuangan negara yang bebas
dan mandiri, profesional, efektif, efisien, dan modern sesuai dengan praktik internasional
terbaik, berkedudukan di ibu kota negara dan ibu kota setiap provinsi, serta mampu
memberdayakan DPR, DPD, dan DPRD melaksanakan fungsi pengewasannya terhadap
pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas dari korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN).

2.

Infrastruktur politik
Infrastruktur politik adalah lembaga-lembaga politik yang ada dalam masyarakat. Lembaga itu
dibentuk dan bergerak ditingkat masyarakat. Lembaga atau badan yang berada dimasyarakat
sebagai infrastruktur politik mencakup lembaga seperti:

1)

Partai politik;
Partai politik adalah organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara Republik
Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kkehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan
kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan umum.

44

2)

Organisasi kemasyarakatan;
organisasi kemasyarakatan adalah perkumpulan yang dibentuk oleh sekelompok orang dengan
tujuan tertentu yang umumnya untuk memenuhi kebutuhan dibidang sosial, budaya dan
kemasyarakatan. Oleh karena adanya tujuan tertentu dalam bidang tersebut maka organisasi
kemasyarakatan sangat luas cakupannya.

3)

Kelompok kepentingan atau kelompok penekan; dan
kelompok kepentingan adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan sifat, sikap,
kepercayaan dan atau tujuan, yang sepakat mengorganisasikan diri untuk melindungi dan
memperjuangkan kepentingan atau tuntutan kelompok itu.

§ Ciri-ciri dari kelompok kepentingan adalah:
a. Merupakan kumpulan orang yang terorganisir atas nama satu atau lebih kepentingan tertentu
yang diperjuangkan;
b. Adaya kepentingan yang sama yang menyatukan orang-orang untuk bergabung membentuk
satu organisasi dengan nama tertentu;
c. Setiap aktivitas kelompok kepentingan selalu bergandengan dengan isu publik yang
ditujukkan untuk memengaruhi kebijakan pemerintah;
d. Setiap aktivitas yang dilakukan akan mengatasnamakan masyarakat mengingat fungsinya
sebagai artikulator kepentingan dalam masyarakat;
e. Aktivitas kelompok kepentingan tidak ditujukan untuk mendapat jabatan publik, tetapi lebih
pada upaya partisipasi politik;
f. Adanya berbagai tipe atau variasi kelompok kepentingan karena tergantung pada
karakteristik organisasi dari kelompok kepentingan.

4)

Media massa.
Media massa merupakan sarana komunikasi, termasuk orang-orang yang bergerak dibidang
media massa. Media massa yang dimaksud meliputi media komunikasi dalam arti luas dan arti
sempit.

45

a. Media massa dalam arti sempit adalah media cetak, yaitu surar kabar, koran, majalah, tabloid
dan bulletin-bulletin pada kantor berita. Mediamassa ini sering disebut pers.
b. Media massa dalam arti luas mencakup semua media komunikasi, yaitu media cetak, media
audio, media audio visual dan media elektronik. Contohnya, radio, televisi, film, dan internet.
Pers dalam arti media cetak termasuk media komunikasi.

3.

Macam – macam sistem politik

1)

Klasifikasi sistem politik menurut Sukarno.
Sukarno dalam bukunya ”perbandingan sistem politik” membagi sistem politik sebagai berikut:
a. sistem politik tradisional terdiri atas siatem politik patriachal, sistem politik patrimonial, dan
sistem politik feodal.
b. Sistem politik antara tradisional dan modern yang disebut dengan sistem politik kerajaan
birokrasi (the historical bureaucratic empire).
c. Sistem politik modern yang terdiri atas sistem politik demokrasi dan sistem politik
kediktatoran (otoriter dan totaliter).

2)

Macam-macam sistem politik menurut Ramlan Surbekti
Ramlan surbekti dalam bukunya ”memahami ilmu politik” menyebutkan tiga sistem politik
yaitu:
a. Sistem politik tradisional;
b. Sistem politik totaliter;
c. Sistem politik demokrasi.

3)

Prinsip-prinsip sistem politik Demokrasi.
Prinsip-prinsip sistem politik Demokrasi antara lain :
a. Pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif berada pada badan yang berbeda;
b. Pemerintahan konstitusional;
c. Pemerintahan berdasarkan hukum (rule of law);
d. Pemerintahan mayoritas;
e. Pemerintahan dengan diskusi;
f. Pemilihan umum yang bebas;
46

g. Partai politik lebih dari satu dan mampu melaksanakan fungsinya;
h. Manajemen yang terbuka;
i. Pers yang bebas;
j. Pengakuan terhadap hak-hak minoritas;
k. Perlindungan terhadap hak asasi manusia;
l. Peradilan yang bebas dan tidak memihak;
m. Pengawasan terhadap administrasi negara;
n. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politik masyarakat dengan kehidupan
politik pemerintah;
o. Kebijaksanaan pemerintah dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa paksaan dari lembaga
mana pun;
p. Penempatan pejabat pemerintahan dengan merit sistem bukan poil sistem;
q. Penyelesaian secara damai bukan dengan kompromi;
r. Jaminan terhadap kebebasan individu dalam batas-batas tertentu;
s. Konstitusi atau UUD yang demokratis;
t. Prinsip persetujuan.

4)

Prinsip-prinsip sistem politik Diktator/Otoriter.
Adapun prinsip-primsip yang dijalankan dalam sistem politik otoriter/diktator adalah sebagai
berikut:
a. Pemusatan kekuasaan, yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan
yudikatif menjadi satu. Ketiga kekuasaan itu dipegang dan dijalankan oleh satu lembaga;
b. Pemerintahan tidak berdasarkan konstitusional, yaitu pemerintahan dijalankan berdasarkan
kekuasaan. Konstitusinya memberikan kekuasaan yang besar pada negara atau pemerintah;
c. Rule of power atau prinsip negara kekuasaan yang ditandai dengan supremasi kekuasaan dan
ketidaksamaan di depan hukum;
d. Pembentukan pemerintahan tidak berdasarkan musyawarah tetapi melalui dekret;
e. Pemilihan umum yang tidak demokratis. Pemilu dijalankan hanya memperkuat keabsahan
penguasa atau pemerintah negara;
f. Satu partai politik, yaitu partai pemerintah atau ada beberapa partai tetapi hanya ada sebuah
partai yang memonopoli kekuasaan;
47

g. Manajemen dan kepemimpinan yang tertutup dan tidak bertanggung jawab;
h. Menekan dan tidak mengakui hak-hak minoritas warga negara.
i. Tidak ada kebebasan berpendapat, berbicara, dan kebebasan pers. Kalaupun ada pers, pers
tersebut sangat dibatasi;
j. Tidak ada perlindungan terhadap hak asasi manusia, bahkan sering terjadi pelanggaran
terhadap hak asasi manusia.
k. Badan peradilan yang tidak bebas dan bisa diintervensi oleh penguasa;
l. Tidak ada kontrol atau pengendalian terhadap administrasi dan birokrasi. Birokrasi
pemerintah sangat besar dan menjangkau seluruh wilayah kehidupan masyarakat;
m. Mekanisme dalam kehidupan politik dan sosial tidak dapat berubah dan bersifat sama;
n. Penyelesaian perpecahan atau perbedaan dengan cara kekerasan dan penggunaan paksaan;
o. Tidak ada jaminan terhadap hak-hak dan kebebasan individu dalam batas tertentu, misalnya
kebebasan berbicara, kebebasan beragama, bebas dari rasa takut;
p. Prinsip dogmatisme dan banyak berlaku doktrin.

48