You are on page 1of 91

IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI IKAN

YANG DAPAT BERADAPTASI DI WADUK JATIGEDE
PADA TAHAP INUNDASI AWAL

SKRIPSI

ALFINA ANDANI
NPM 230110120084

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016
IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI IKAN
YANG DAPAT BERADAPTASI DI WADUK JATIGEDE
PADA TAHAP INUNDASI AWAL

2

SKRIPSI
“Diajukan untuk Menempuh Sidang Ujian Sarjana”

ALFINA ANDANI
NPM 230110120084

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

3

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Identifikasi dan
Inventarisasi Ikan yang Dapat Beradaptasi di Waduk Jatigede pada Tahap Inundasi
Awal adalah hasil karya saya dengan bimbingan dari komisi pembimbing. Sumber
data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya orang lain yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Jatinangor, Agustus 2016

Alfina Andani
230110120084

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL

: IDENTIFIKASI DAN INVENTARISASI IKAN
YANG DAPAT BERADAPTASI DI WADUK
JATIGEDE PADA TAHAP INUNDASI AWAL

PENULIS

: ALFINA ANDANI

NPM

: 230110120084

Jatinangor, Agustus 2016

Ir.4 Menyetujui. Dr. Iskandar. Ir.Si. NIP. Komisi Pembimbing Ketua Dekan. 19620917 198701 2 002 ABSTRAK Alfina Andani (Dibimbing oleh : Titin Herawati dan Zahidah). MS. M. Dra. 2016. NIP. NIP. 19610920 199203 2 001 Dr. telah dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Mei 2016. Titin Herawati. Zahidah.Si. Identifikasi dan Inventarisasi Ikan yang Dapat Beradaptasi di Waduk Jatigede pada Tahap Inundasi Awal. Hasil penelitian diharapkan sebagai informasi awal . M. Penelitian mengenai identifikasi dan inventarisasi ikan yang dapat beradaptasi di Waduk Jatigede pada tahap inundasi awal. 19610306 198601 1 001 Anggota.

pH. Ikan lalawak dan hampal dinyatakan dominan dan memiliki persebaran yang luas. in three months. Rasbora argyrotaenia. kelimpahan. and Barbodes gonionotus). Fishes Identification and Registration that Can Adapt to the Jatigede Reservoir in The Early Stage of Inundation. dan Mastacembelidae (Mastacembelus erythrotaenia). Data yang dianalisis meliputi komposisi jenis. dan DO. Chanidae (Chanos chanos). Cichlidae (Oreochromis niloticus and Oreochromis mossambicus). 2016. Kata Kunci : Waduk Jatigede. Pangasiidae (Pangasius hypophthalmus). namely Cyprinidae (Barbodes balleroides. Bagridae (Mystus nemurus). Identifikasi. . Mystacoleucus marginatus. The results are expected to be used as an initial information about fishes that can potentially adapt in Jatigede Reservoir and can be used as the basis for management and conservation diversity of fishes after Jatigede Reservoir operates. Cichlidae (Oreochromis niloticus dan Oreochromis mossambicus). Rasbora argyrotaenia.36 sampai 0. Osteochilus hasseltii. size. Osphronemidae (Trichogaster pectoralis). Osteochilus hasseltii. Mystacoleucus marginatus. dan Barbodes gonionotus). terdapat 17 spesies dari 9 famili. Osteochilus microcephalus. pH. dan keseragaman ikan. dan berod dinyatakan jarang tertangkap dan memiliki sebaran yang sempit. selama tiga bulan. Data didukung oleh parameter kualitas air yang meliputi suhu. Cyclocheilichthys repasson.54 sampai 1. sedangkan ikan seren. Inundasi Awal. Hampala macrolepidota. senggal. Osteochilus microcephalus. ukuran. Channidae (Channa striata). diversity. The research about fishes identification and registration that can adapt to the Jatigede Reservoir in the early stage of inundation. jenis kelamin. The analyzed include the species composition. Invetarisasi Ikan ABSTRACT Alfina Andani (Supervised by : Titin Herawati and Zahidah). Hampala macrolepidota. Channidae (Channa striata). keanekaragaman. Osphronemidae (Trichogaster pectoralis).65 termasuk katagori rendah dan Keseragaman ikan berkisar antara 0. sex. Cyclocheilichthys repasson.96 termasuk katagori rendah sampai tinggi. abundance. Keanekaragaman ikan di Waduk Jatigede berkisar antara 0. and DO. yaitu Cyprinidae (Barbodes balleroides. Hasil penelitian identifikasi dan inventarisasi ikan.5 ikan-ikan yang berpotensi dapat beradaptasi di Waduk Jatigede dan dapat dijadikan dasar untuk pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman ikan setelah Waduk Jatigede beroperasi. The result shows that there were 17 species of 9 families. Loricariidae (Liposarcus pardalis). Metode penelitian menggunakan metode survey pada empat stasiun pengamatan dengan dua kali sampling per bulan. The data were supported by the water quality parameters which include temperature. was held in January to May 2016. paray. and evenness of fishes. The method used in the research was survey method on four observation stations with twice a month of sampling.

65 include the category of low and the fish evenness index ranged from 0.. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.  Dr. Zahidah.  Prof. Ir. Skripsi yang berjudul “Identifikasi dan Inventarisasi Ikan yang Dapat Beradaptasi di Waduk Jatigede pada Tahap Inundasi Awal”. bimbingan. and berod fish otherwise rarely caught and have narrow distribution. Anggota Komisi Pembimbing dan Dosen Wali yang telah memberikan arahan. Both lalawak fish and hampal fish otherwise dominant and have wide distribution. Ketua Program Studi Perikanan. Dr. Identification. while seren. The fish diversity index in Jatigede ranged from 0.. yang telah menyelesaikan Skripsi ini. beserta keluarga.54 to 1. sahabat dan umatnya hingga akhir zaman. Keywords: Jatigede Reservoir. Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan arahan.. M... Chanidae (Chanos Chanos). serta kesempatan dan kekuatan kepada penulis. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. motivasi dan saran kepada penulis. senggal.6 Loricariidae (Liposarcus pardalis). Titin Herawati. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. dilakukan untuk memenuhi persyaratan melakukan sidang ujian S1 Program Studi Perikanan.Si. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. motivasi dan saran kepada penulis. MS. paray.Si.P. bimbingan. Herman Hamdani. M.  Drs. Ir. Bagridae (Mystus nemurus).96 include the category of low to high. Early Inundation. and Mastacembelidae (Mastacembelus erythrotaenia).36 to 0. Registration of Fishes KATA PENGANTAR Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. . Junianto M. M. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya.Si.. Dosen Penelaah yang memberikan masukan dan saran kepada penulis dalam menyempurnakan skripsi. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:  Dra. Pangasiidae (Pangasius hypophthalmus)..  Dr. Iskandar. Ir.

. Penulis menerima saran dan kritik dari semua pihak yang diharapkan dapat menjadi penyempurnaan. Pelaksana Teknik Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (Satker NVT) yang telah memberikan data dan informasi mengenai Bendungan Jatigede kepada penulis. dan Sona). serta Bapak Pardhi selaku Laboran Manajemen Sumberdaya Perairan. Jaffar. Grup Baper. dan Wynda Julia Rahmasari. yaitu Gofur. Irfan P. Dicky. khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Iman B. Agustus 2016 .  Bapak Pendi. Unang selalu memberikan kasih sayang. dan Zhafira. Rika. yaitu Teh Laeli dan Ramdhani. serta kedua adik Ahmad Nugroho dan Fadel Abdul Jabbar. Junior (2014).  Ibu Elis dan Ibu Iyay selaku Laboran Departemen Akuakultur. Jatinangor. Sahabat dan rekan tak tersebut nama yang telah memberikan dukungan moril dan turut membantu dalam kelancaran penyusunan skripsi. Petugas Koramil 1013 atau Cadasngampar yang telah memberikan bantuan keamanan dan akomodasi selama penelitian kepada penulis. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. FPIK Unpad. Tim sampling sore. yaitu tim TKG (Adhar. yaitu Elis Faperta dan Kristin Faperta. Riani.. motivasi dan kebersamaannya. Sofan. Fauzi. Nurhayati. seluruh teman-teman Perikanan dan Ilmu Kelautan Angkatan 2012 atas pengalaman.  Kedua orangtua tercinta Ayahanda Sapudjo dan Ibunda Hj. Nurchasanah. Asri. S.  Junior (2013).7  Bapak Yuyu Wahyudin. yaitu Aghnia. Fahri. Bagus. Atikah dan Bapak H. juga kedua orangtua pemiliki kos Ibu Hj. dan dukungan secara moril maupun materiil. ketiga kakak Ineke Kusumawardhani bersama kedua anaknya. Ira. doanya. Alumni Asrama. serta Taufiq.  Dosen dan pegawai FPIK Universitas Padjadjaran.

................5 Parameter Penunjang Fisik dan Kimiawi Kualitas Air....... 2.....................................................................8 Penyusun DAFTAR ISI BAB Halaman DAFTAR TABEL.............. 2.............. 3 Kerangka Pendekatan 3 KAJIAN PUSTAKA 2............................1 Letak Geografis dan Pemanfaat DAS Cimanuk........... 3 Kegunaan .................3 Dissolved Oxygen (DO)............4..................1 Suhu.............................................................. xiii I II III PENDAHULUAN 1.................4 1.... 2.......... 2........................................ xii DAFTAR LAMPIRAN..............4........................................2 1................... 2............................................. xi DAFTAR GAMBAR...............................................................................................5...... 2.......................................... BAHAN DAN METODE 7 7 9 10 13 15 17 18 18 18 ............................3 1.. 1 Identifikasi Masalah .........2 Derajat Keasaman (pH).......2 Identifikasi Jenis Kelamin Ikan...........3 Waduk dan Bendungan Jatigede...1 Identifikasi Ukuran dan Jenis Ikan.............5...........4 Struktur Komunitas Ikan Sebelum Penggenangan Waduk Jatigede.......................................2 Perubahan Ekosistem Sungai menjadi Ekosistem Waduk..1 1.................................................. 2..5 Masalah Latar Belakang .................5.......... 2................... 3 Tujuan ....... 2.....................

............2..............3 Metode Penelitian ................... 3........................6 Analisis Data ............3 Hasil Tertangkap Ikan di Waduk Jatigede selama Penelitian................................ 3....................................................................................... 4................ 4.......... 3..............4................................................................................2 Saran...............................................3 Komunitas Ikan di Stasiun III........................ 3............................................5...... 3...........................................................................................................................................1 Prosedur Memperoleh Data Sekunder.....................3 Indeks Keanekaragaman..................................................................2 Alat dan Bahan ................................1 Parameter Kualitas Air....................................................1 Kondisi Perairan Waduk Jatigede............... 3..4................. 3. 4.............5... 4.......5................ Famili.... 3................................ 4.......................................................... 3.. 4..... 66 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................4 Prosedur Penelitian ......5.....................................1 Komunitas Ikan di Stasiun I.............................. 4..........................4.... dan Genus Berdasarkan Ciri Morfologi Ikan..................4 Indeks Keseragaman................ 4.....4 Komunitas Ikan di Stasiun IV......1 Ciri Morfometrik Ikan yang Tertangkap.................... 3...........4........................4...................................................................................................5........6 Parameter Kualitas Air di Waduk Jatigede selama Penelitian......5 Inventarisasi Ikan yang Tertangkap selama Penelitian..........1 Tempat dan Waktu ........... 3......................................................1 Alat-alat Penelitian............................1 Kesimpulan...... 4.2 Bahan-bahan Penelitian..3............2 Kelimpahan Relatif....... 71 RIWAYAT HIDUP 81 DAFTAR TABEL .......................... IV V HASIL DAN PEMBAHASAN 4.......... 19 19 19 20 20 21 22 22 23 25 25 26 26 27 27 28 28 28 31 31 33 42 47 54 56 58 60 62 KESIMPULAN DAN SARAN 5.. 67 LAMPIRAN......5...............................1 Penentuan Stasiun Pengambilan Sampel............. 4........................................... 3........................2 Komunitas Ikan di Stasiun II............................ 65 5.................5..3 Penentuan Spesies Berdasarkan Ciri Meristik Ikan.............. 3.....2 Prosedur Memperoleh Data Primer...................9 3...................................................4 Identifikasi Sampel Ikan............................................2............................................2 Penentuan Ordo.............................. 3.........2 Sumberdaya Ikan yang Ditebar ke Waduk Jatigede........................ 4......5 Parameter Penunjang yang Diukur .................... 4...5..........................

... Komunitas Ikan di Stasiun III...... Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun I.............................. 10........ 2........... 8................ 79 ...... Parameter Kualitas Air yang Diukur selama Penelitian...... 14........................................................................ Komposisi Jenis Kelamin Ikan selama Penelitian.. Diagram Batang Perubahan Komunitas Ikan di Waduk Jatigede..................................... Contoh Perhitungan Komunitas Ikan di Stasiun I..........22 6... Stasiun Penelitian di Waduk Jatigede Tahap Inundasi Awal...................................... Jenis Ikan yang Berdasarkan Alat Tangkap dan Stasiun Penelitian........................................................ 2.. 9..................... Komunitas Ikan di Stasiun II.................. Ciri Meristik Ikan yang Tertangkap.................. 3..10 Penentu Posisi Landmark untuk Menentukan Morfometri dan Bentuk Tubuh Ikan........................................................................................ 3................................ Kerangka Pendekatan Masalah......... Perbedaan Gonad Ikan... 72 3............................................. 9 Bendungan Jatigede Tampak Atas............. 13......... Jenis-jenis Ikan Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut dan Sumedang............ Komunitas Ikan di Stasiun IV................................ Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun IV... Ukuran Bobot dan Panjang Total Ikan yang Tertangkap...................................................................................................... 6................... 11 17 25 26 30 31 40 46 49 52 54 56 58 60 62 64 DAFTAR GAMBAR Nomor Judul Halaman 1.............. 5. Jumlah Ikan yang Tertangkap selama Penelitian........... 16...50 7......................................................61 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Judul Halaman 1............................................ Hasil Identifikasi Ikan yang Tertangkap selama Penelitian.................... Peta Stasiun Waduk Jatigede................... 6 Peta Inlet Waduk Jatigede.............................59 10............. 12.................................................... Pengamatan Parameter Kualitas Air selama Penelitian................... 15...................... Ciri Morfometrik Ikan yang Tertangkap........................................................10 Nomor Judul Halaman 1................. 4..55 8......... 4........................57 9.......................... 7.............. 71 2....................................................................... Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun II............ Komunitas Ikan di Stasiun I........... 11......................13 5........ Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dengan Parameter Penunjang.... Ciri Morfologi Ikan yang Tertangkap........................ Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun III......................................

11 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Majalengka dan bermuara di Indramayu (Yuanda. sedangkan debit minimum sebesar 4 m3/detik.500 liter/detik untuk melayani masyarakat Sumedang. Citanduy. 2012). Basuki Hadimuljono. Sungai-sungai besar yang terdapat di Jawa Barat. air baku kapasitas sebanyak 3.1 Latar Belakang Sungai merupakan perairan umum yang berisi air tawar dan bersifat lotik atau mengalir satu arah secara kontinuitas. hutan primer. Waduk Jatigede dipaparkan memiliki manfaat. yaitu memiliki debit maksimum sebesar 1. yaitu Sungai Citarum. Cisadane. Sungai Cimanuk mengalir dari hulunya di Gunung Mandalagiri Kecamatan Cikajang dan melewati empat kabupaten. .000 ha dan sumber tenaga PLTA yang mampu menghasilkan listrik sebesar 690 GWh/tahun dengan kapasitas 110 MW. Sejumlah anak sungai yang bermuara di Sungai Cimanuk. Cimandiri. dkk. mengendalikan banjir seluas 14. Sungai Cimanuk memiliki fluktuasi debit dengan rentang yang sangat besar.000 ha di wilayah Pantai Utara – Jawa Barat. yaitu Bapak M. 2009). Pada tanggal 31 Agustus 2015. Ciparungpung. awal penggenangan Waduk Jatigede diresmikan oleh Menteri Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR). Sumedang. Cikuray. Indramayu. dkk.004 m 3/detik. diantaranya mengairi saluran irigasi seluas 90.3 milyar m3/tahun yang hanya dapat dimanfaatkan sebesar 28% saja dan sisanya mengalir ke laut (Fitriani 2013). dan Cirebon termasuk Bandara Kertajati. yaitu Garut. Tata guna lahan di sekeliling Sungai Cimanuk didominasi oleh lahan pertanian. Potensi air di Sungai Cimanuk ratarata sebesar 4. antara lain Sungai Ciroyom. Cibeureum. dan Cimanuk. Ciliwung. Cipancar dan Cinangsi (Tim Survey Ekologi Perikanan IPB 1977). hutan produksi dan pemukiman penduduk (Mayamsir. fungsi lain adalah sektor pariwisata serta sektor perikanan tangkap (Fitriani 2013). Sungai Cimanuk telah lama direncanakan dari tahun 1963 sebagai sungai utama yang akan mensuplai sumber air ke Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang.

terdapat beberapa jenis ikan yang tergolong prioritas perlindungan pada Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program dalam Sriyanto (2013). yaitu Waduk Saguling. karena terbawa arus sungai yang masuk ke waduk. dkk. akibatnya akan mengganggu keberlangsungan hidup ikan. Ekologis organisme akuatik terlihat dari jenis ikan pada awal penggenangan akan meningkat jumlah jenisnya. Jenis ikan yang sudah mulai menghilang di Sungai Citarum. yaitu ikan julungjulung (Dermogenys pusillus). dkk. Jenis ikan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan waduk akan tumbuh. Perilaku pola aliran dapat dilihat dari perubahan sungai atau riverine yang bersifat mengalir dengan laju arus yang besar menjadi waduk atau lacustrine yang bersifat menggenang dengan laju arus yang sangat lambat atau tidak ada arus sama sekali. pada Sungai Citarum pernah terjadi peristiwa hilangnya habitat bagi ikan-ikan setempat. Komponen didalamnya. apabila habitat ini berubah atau hilang maka keberadaan batu-batu tersebut yang berperan sebagai benteng dalam menahan laju sedimentasi sungai akan berkurang bahkan kehilangan fungsi utamanya (Masyamsir. sebagai contoh keberadaan bebatuan kecil dan besar yang ada di sepanjang sungai. Peristiwa ini. serta mendominasi. 2011). berakibat penurunan hingga kepunahan keanekaragaman hayati (biodiversity) dari jenis ikan endemiknya. 2009). pada jangka panjang akan menurun dengan cepat dan menghilang atau mengalami kepunahan. Saat ini.12 Waduk Jatigede juga memiliki dampak bagi sektor perikanan. sedangkan jenis ikan yang kurang atau tidak mampu beradaptasi. dan Waduk Jatiluhur. Sejarahnya. sehingga kehilangan kesempatan untuk menuntaskan seluruh siklus hidupnya (Myers 1951 dalam Rahardjo. sebagai contoh ikan-ikan tersebut tidak dapat bertahan terhadap persaingan makanan atau tidak dapat beruaya antara perairan tawar dan perairan laut. komponen didalamnya. yaitu ikan kekel . yaitu faktor abiotik yang berfungsi mendukung fungsi ekologis sungai atau habitat ikan di sungai dan Anak Sungai Cimanuk. berkembang biak. dan ekologis organisme akuatik. Waduk Cirata. diantaranya perilaku pola aliran. setelah sungai tersebut dibendung untuk mensuplai air ke Waduk Series.

13 (Glyptothorax platypogon). dengan bentuk pelaksanaan penelitian identifikasi dan inventarisasi ikan yang dapat beradaptasi di Waduk Jatigede pada tahap inundasi awal. 1. Jenis ikan apa yang terdapat di Waduk Jatigede pada tahap inundasi awal. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.5 Kerangka Pendekatan Masalah .4 Kegunaan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu informasi baik untuk masyarakat setempat. diperlukan antisipasi agar ikan-ikan Sungai Cimanuk yang saat ini ada di Waduk Jatigede tetap terjaga kelangsungan hidupnya dan tidak mengalami hal yang sama dengan yang terjadi di Sungai Citarum. b. 1. yaitu: a. Bagaimana kemampuan adaptasi ikan dengan adanya perubahan dari perairan mengalir (lotik) ke perairan tergenang (lentik). pengamatan. 1.3 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menginventaris jenis ikan yang berpotensi dapat beradaptasi di Waduk Jatigede pada tahap inundasi awal.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang. pendokumentasian dan pelaporan hasil penemuan berbagai jenis ikan sebagai data dasar. yaitu berdasarkan UU No. 1. Langkah awalnya dapat berupa kegiatan pencatatan. peneliti maupun pemerintah dalam menerapkan kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman ikan yang terdapat di Waduk Jatigede pada penggenangan awal dan saat digenangi. ikan jeler (Cobitis choirorhynchos). maka dapat diidentifikasi menjadi rumusan masalah. Oleh karena itu. dan ikan paray (Rasbora lateristriata).

Penurunan fungsi sungai karena alam. contohnya letusan Gunung Papandayan pada tahun 2004 menyebabkan keadaan kualitas air Sungai Cimanuk semakin menurun dan keberadaan ikan-ikan semakin berkurang (Masyamsir. 2000). dkk. Pemantauan ini umumnya dilakukan dengan menggunakan parameter fisik atau kimiawi perairan. dkk. contohnya pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang menyebabkan perubahan lingkungan asli Sungai Cimanuk menjadi waduk yang dapat berpengaruh terhadap . kurang lebih 8. mengingat biota lebih jelas dalam mengekpresikan kerusakan sungai dalam jangan waktu yang relatif panjang dibandingkan dengan sifat-sifat fisik dan kimiawi cenderung menginformasikan keadaan sungai pada waktu pengukuran saja (Winarno dkk. dan berkembang biak harus beradaptasi sehingga menyebabkan jenis dan komposisinya dapat berubah (Konsorium LPM 2001). diantaranya terjadi karena alam dan karena manusia. dkk. Dampak tersebut terjadi karena biota perairan untuk dapat hidup. Penurunan fungsi sungai karena manusia.14 Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman jenis ikan sangat melimpah. Mystus micracanthus dan enam jenis lainnya. Menurut Sjafei. Tor douronensis. Beberapa peristiwa penurunan fungsi sungai. dkk. Oreochromis niloticus. ditemukan ikan sebanyak 40 jenis yang tercakup di dalam 20 famili. Usaha pengendalian kerusakan sungai dan kebijakan pengelolaannya mengharuskan pemantauan kualitas sungai. tumbuh. namun akhir-akhir ini pemantauan dengan biota lebih diperhatikan. 2009). 1977 dalam Putra. Mystus cavasius. lkan tersebut antara lain Hampala macrolepidota. fauna ikan di sungai Cimanuk Jawa Barat. Mystacoleucus marginatus. 2011). (2001). Di bagian tengah (Sumedang) terdapat 2l spesies yang 12 diantaranya tidak ditemukan di Kabupaten Garut dan Kabupaten Indramayu.500 jenis ikan yang terdapat di perairan tawar dan kurang lebih 800 jenis di perairan payau (Djajadiredja. Perubahan lingkungan yang merupakan habitat biota perairan akan memberikan dampak bagi biota perairan yang menghuninya.

terdapat ikan dari 8 famili. Xyphophorus helleri. berod (Macronathus maeveatus). yaitu Cyprinus carpio. (2012). Mystacoleuceus marginatus. komunitas ikan di Sungai Cimanuk pada area rencana pembangunan Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang. jeler (Lepidocephalichthys hasselti). Loricariidae. Cichlidae. dan bogo (Ophiocephalus gachua). balar (Barbodes balleroides). Ophiochephalus gachua Hyposarcus pardali. hampal (Hampala macrolepidota). dkk. hampal (Hampala macrolepidota). senggal (Mystus nemurus). (2011). kajian reservat perikanan Waduk Jatigede. Rasbora argyrotaenia. Lepidacephalichtys hasselti. Cyprinidae. Amphilophus labiatus. Menurut Yuanda. Menurut Masyamsir. uceng (Nemachilus preifferae). yaitu ikan genggehek (Mystacoleucus marginatus).15 biota yang hidup di sungai karena terjadi perubahan habitat dari daerah aliran menjadi daerah genangan (Sumijo. berod (Macronathus maeveatus). Aequidens goldsaum. Menurut Putra. yang terdiri dari 14 spesies ikan. tawes (Barboides gonionotus).. Poecilidae. Cobitidae. beunteur (Puntius orphoides). Oreochromis niloticu. kehkel (Glyplothorax platypogon). komunitas ikan di hulu Sungai Cimanuk Kabupaten Garut. mujair (Oreochromis mosambicus). nilem (Ostheochilus). yaitu Bagridae. sapu-sapu (Hyposarcus pardalis). nila (Oreochromis niloticus). dkk. lele (Clarias batrachus). Osphronemidae. 2011). Ostheochilus sp. jeler (Lepidocephalichthys hasselti). dan Trichogaster trichopterus. paray (Rasbora argyrotaenia). dan kipu (Scatophagus argus). kancra (Tor duoronensis). kancra (Tor duoronensis). sapu-sapu (Hyposarcus pardalis). seren (Cyclocheilichthys). dan Channidae. (2009). Mystus nemurus. . dkk. Oreochromis mossambicus. pelati pedang (Xyphophorus helleri). balar (Barbodes balleroides). dkk. lele (Clarias batrachus). terdapat 21 spesies di seluruh aliran Sungai Cimanuk diantaranya ikan genggehek (Mystacoleucus marginatus). terdapat ikan dari 7 famili yang terdiri dari 12 spesies. kehkel (Glyplothorax platypogon). beunteur (Puntius orphoides). senggal (Mystus nemurus). jambal (Mystus golio/ cavasius/ microcanthus).

(ii) koleksi specimen. inventarisasi hasil tangkapan nelayan di Danau Bekat bertujuan untuk mengetahui jenis ikan yang ditemukan di Danau Bekat Kecamatan Tayan Hilir. (iv) identifikasi specimen. dan (v) kurasi atau penyimpanan specimen untuk penelitian lanjutan dalam periode waktu yang belum bisa ditentukan (Gambar 1). (2012).462–1. Menurut Janurianda. Menurut Wiadnya.151 μg/l tergolong kategori rendah (oligotrofik). inventarisasi jenis ikan di Sungai Kelekar Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis ikan dan kelimpahan relatif ikan di sungai Kelekar. dkk. dkk.127 μg/l tergolong kategori sedang (meso-oligotrofik). (2013). (2014). dkk. Menurut Patriono. (2001).16 Menurut Subarma. sebagai berikut (i) survei cepat (reconnaissance survey). kegiatan inventarisasi ikan air tawar terdiri dari tahapan. Sumedang mengalami penurunan dapat dilihat dari besarnya klorofil-a sebelum memasuki Waduk Jatigede adalah 0. dkk. evaluasi kualitas air sebelum dan sesudah memasuki Waduk Jatigede. (iii) preservasi specimen. sesudah memasuki area rencana penggenangan waduk berkisar 0. .845–3.

3 Ha (57. air baku industri. baik dari perumahan maupun industri (Luvi 2000).1 Letak Geografis dan Pemanfaatan Daerah Aliran Sungai Cimanuk Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu daerah daratan yang menampung dan menyimpan air hujan.75 Ha (25. sumber baku air PDAM. Kerangka Pendekatan Masalah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dengan luas sekitar 3. contohnya memancing dan menjala ikan lebih ditunjukan untuk kesenangan maupun untuk kebutuhan rumah tangga sendiri.3 Ha (10. meliputi empat kabupaten dengan 68 kecamatan.99%).409.460. Kegiatan perikanan di Sungai Cimanuk.2 Perubahan Ekosistem Sungai menjadi Ekosistem Waduk Perairan sungai merupakan suatu perairan yang didalamnya dicirikan dengan adanya aliran air yang cukup kuat. perkebunan 11.73%). antara lain pariwisata. irigasi. Daerah Aliran Sungai (DAS).225. Sungai Cimanuk banyak digunakan untuk berbagai kepentingan. permukiman 20. penambangan pasir. Tata guna lahan pada DAS Cimanuk meliputi lahan pertanian seluas 111.17 Gambar 1.23%) (Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jawa Barat 2001). sehingga penetrasi . Sungai Cimanuk juga banyak digunakan sebagai MCK dan pembuangan berbagai sampah dan limbah.078.68%).040. Sungai Cimanuk merupakan sungai utama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk yang terletak di sebelah Timur Provinsi Jawa Barat.37%). antara koordinat 107045’ sampai 108025’ BT dan 60100 sampai 7030’ LS (Tim Survei Ekologi Perikanan Fakultas Perikanan IPB 1977). hutan 50. kemudian mengalir ke laut melalui aliran sungai.45 Ha (5. peternakan dan perikanan. sehingga digolongkan ke dalam perairan mengalir (lotik).17 km2 (Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jawa Barat 2001). perikanan atau kolam atau tambak 451 Ha (0. 2. Perairan sungai biasanya keruh.

Sungai dicirikan oleh arus yang searah dan relatif kencang. Perairan sungai umumnya terjadi percampuran massa air secara menyeluruh dan tidak terbentuk startifikasi vertikal kolom air seperti pada perairan lentik. sedangkan sungai yang mengalir lambat digolongkan oleh tipe substrat berpasir dan berlumpur (Effendi 2003). sehingga air yang membentuk dan menyebabkan tetap adanya seluran selama masih terdapat air sungai yang mengisinya. oleh karena itu residence time atau waktu tinggal air dapat berlangsung lebih lama. yaitu ketinggian muka air 221 m (Satker NVT Jatigede 2015). dan sedimentasi merupakan fenomena yang umum terjadi di sungai sehingga kehidupan flora dan fauna pada sungai sangat dipengaruhi oleh ke tiga variabel tersebut. Waduk Jatigede terhitung dari tanggal peresmiannya. sudah digenangi dengan cara membendung Sungai Cimanuk selama enam bulan. Kecepatan arus. iklim. erosi. yaitu sungai terjadi karena airnya sudah ada. serta sangat dipengaruhi oleh waktu. Satu perbedaan mendasar antara sungai yang memiliki air mengalir dengan waduk yang memiliki air menggenang. Waduk Jatigede berada pada tahap satu. Ekosistem sungai yang bersifat lotik atau mengalir yang merupakan ciri sungai kemudian berubah menjadi ekosistem waduk yang bersifat lentik atau menggenang yang merupakan ciri ekosistem waduk dapat mengakibatkan tempat ikan untuk bertelur. Pembendungan sungai seringkali mengakibatkan berbagai dampak bagi ikan-ikan sungai. Sungai mengalir cepat digolongkan oleh tipe substrat berbatu dan berkerikil. yaitu perairan yang berarus cepat dan perairan yang berarus lambat.1 – 1 cm/detik atau tidak ada arus sama sekali. dan pola aliran. Penyerapan cahaya oleh air danau akan menyebabkan terjadinya lapisan air yang mempunyai suhu berbeda. Sungai secara spesifik terbagi dalam dua ekosistem.18 cahaya ke dasar sungai terhalang (Goldman dan Home 1983 dalam Putra 2011). tetapi waduk setiap saat dapat terisi oleh endapan sehingga menjadi tanah kering. mencari makan. sedangkan waduk terbentuk karena cekungan dan air yang mengisi cekungan tersebut. bersembunyi dari . Ekosistem waduk termasuk habitat air tawar yang memiliki perairan tenang dengan ciri adanya arus yang sangat lambat sekitar 0.

2.78 ha merupakan tanah milik. .19 predator dan reproduksi ikan akan terganggu.22 ha meliputi 5 Kecamatan dan 30 Desa terdiri dari Genangan seluas 3. luas permukaan waduk 41. seluas 4. akan kehilangan habitatnya atau kehilangan kesempatan untuk menuntaskan seluruh siklus hidupnya. ikan-ikan riverine terutama ikan yang bersifat diadromus yang merupakan jenis ikan secara reguler beruaya antara perairan tawar dan perairan laut (Myers 1951 dalam Rahardjo. dkk. Provinsi Jawa Barat 2009). 2011).3 Waduk dan Bendungan Jatigede Daerah genangan Waduk Jatigede terletak antara antara 60 54’12’’ S – 10805’47’’E.200. Waduk Jatigede memiliki muka air banjir maksimal sebesar elevasi 262 mdpl.896. dan volume efektif 877 x 106 m3 (Fitriani 2013).00 ha merupakan tanah kehutanan dan untuk fasilitas seluas 471.44 ha merupakan tanah milik (SATGAS Jatigede. dan 1.22 km 2.224. Area yang akan digenangi (Gambar 2) dan bangunan fasilitas waduk.

bangunan pelimpah atau spillway. terowongan pengelak atau diversion tunnel.715 m (Gambar 3).5 milyar m3/tahun.20 Gambar 2. Peta Inlet Waduk Jatigede (Sumber: Satker NVT Jatigede 2015) Waduk Jatigede memiliki satu buah bendungan dengan volume aliran permukaan sebesar 2. untuk kemudian . dan power water way yang menghubungkan aliran air menuju turbin pengubah energi air menjadi energi gerak ditransformasikan menjadi energi listrik (Fitriani 2013). dan panjang sebesar 1. intake irigasi. yaitu main dam. kapasitas tampung sampai dengan 980 juta m3. Terdapat lima bagian bangunan utama dalam proyek Bendungan Jatigede yang multipurpose ini. Bendungan jenis urugan batu (rockfill) ini memiliki tinggi ± 110 m.

berdarah dingin. diantaranya bertulang belakang. ikan di perairan umum. dan berenang dengan sirip. Jenis-jenis Ikan Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut dan Sumedang No 1 2 3 4 5 6 7 Spesies Mystacoleucus marginatus Barbodes balleroides Hampala macrolepidota Ostheochilus Rasbora argyrotaenia Tor duoronensis Puntius orphoides Famili Cyprinidae Nama Daerah Genggehek Balar Hampala Nilem Paray Kancra Beureum Panon a V V V V b V V V V V V c V V V d V V V V . khususnya daerah aliran sungai terdapat dua kelompok penting.21 Foto Udara Bendungan Jatigede Gambar 3. Welcomme (1985). Bendungan Jatigede Tampak Atas (Sumber: Satker NVT Jatigede 2015) 2. yaitu ikan yang hidup di perairan lebak (cekungan) pada saat air surut atau kemarau dan kolom perairan sungai (Tabel 1).4 Struktur Komunitas Ikan Sebelum Penggenangan Waduk Jatigede Ikan memiliki ciri umum. serta bernapas dengan insang (Rahardjo dan Sjafei 2011). Tabel 1.

dkk. 2001. Yuanda. Keragaman ikan di waduk cenderung meningkat dengan meningkatnya luas dan kedalaman perairan. b. c. Selain itu. Semakin dalam perairan maka suhu maupun oksigen terlarutnya akan semakin menurun. di daerah cukup tinggi fluktuasi airnya antara musim hujan dan kemarau agar pada musim hujan ikan dapat menyebar luas ke seluruh penjuru perairan untuk melakukan pemijahan. Kedalaman dan luas danau atau waduk merupakan faktor utama yang menentukan kodisi ikan.22 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Cyclocheilichthys Puntius orphoides Barboides gonionotus Cyprinus carpio Glyplothorax platypogon Mystus nemurus Mystus golio / cavasius / microcanthus Lepidocephalichthys hasselti Nemachilus preifferae Xyphophorus helleri Clarias batrachus Macronathus maeveatus Hyposarcus pardalis Oreochromis niloticus Oreochromis mosambicus Aequidens goldsaum Amphilophus labiatus Scatophagus argus Ophiochephalus gachua Trichogaster trichopteru Bagridae Cobitidae Poecilidae Clariidae Mastacembelidae Loricariidae Cichlidae Scatophagidae Channidae Osphronemidae Seren Beunteur Tawes Mas Kehkel Baung/ Senggal Jambal V V V V V V V V V V V Jeler V V V Uceng Pelati pedang Lele Berod Sapu-Sapu Nila Mujair Golsom Red devil Kipu Bogo Sepat V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V Keterangan: a. Putra. dkk. 2012) Lokasi reservoir di perairan lebak dapat ditentukan dengan cara memilih cekungan tanah yang kedalamannya cukup agar pada saat musim kemarau tidak mengalami kekeringan. turbelensi yang disebabkan oleh angin biasanya cukup untuk mengaduk kolom air dari permukaan sampai ke dasar sehingga tidak ditemukan adanya gradien suhu maupun oksigen. Kristina. dkk. Semakin dalam waduk maka . 2011 dan d. Di waduk yang dangkal. 2009. dkk. Di sekeliling cekungan cukup banyak vegetasi yang berfungsi sebagai nursery ground bagi ikan yang berasal dari induk yang memijah pada musim kemarau dan musim penghujan. Masyamsir. Di waduk yang dalam terdapat gradien suhu maupun oksigen selalu berhubungan dengan kedalaman.

Metode identifikasi posteriori umumnya menggunakan dua sistem. Kedua bentuk tersebut untuk menghadapi air yang bergerak pelan dari sungai ke genangan. (2012). yaitu sistem meristik dan morfometri. dkk.1 Identifikasi Ukuran dan Jenis Ikan Menurut Wiadnya. contohnya jumlah duri keras pada sirip punggung. sebab adanya perbedaan habitat ikan mengakibatkan perkembangan organ-organ ikan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Ikan memiliki beberapa mekanisme fisiologis khusus. Contohnya.4. Di daerah litoral yang dangkal ada dua bentuk tubuh ikan yang menonjol. 2. sebagai berikut: . Ikan dasar mempunyai bentuk tubuh yang memanjang dengan kepala datar dan melebar (Rahardjo dan Sjafei 2011). yang merupakan gambaran karakteristik ikan yang baik dalam menjelajah. rendahnya kandungan oksigen dalam air menyebabkan ikan harus memompa sejumlah besar air ke permukaan insang untuk mengambil oksigen. Banyak spesies mempunyai tinggi badan yang tinggi dengan sirip pektoral dan atau sirip ventral yang berkembang baik sebagai suatu bentuk tubuh yang memudahkan untuk bermanuver. jumlah sisik pada gurat sisi. Sistem meristik ialah mempelajari ikan dengan menghitung jumlah bagian-bagian tubuh.23 ikan semakin jarang baik dalam spesies maupun jumlah (Rahardjo dan Sjafei 2011). Keterangan berikut ialah beberapa contoh definisi yang sering digunakan untuk menentukan spesies ikan dengan sistem morfometrik (Gambar 4). Di perairan limnetik yang terbuka spesies ikan cenderung lebih ramping dengan batang ekor yang sempit. jumlah duri lunak pada sirip anus. pengetahuan empiris atau posteriori ialah proses identifikasi dan klasifikasi ikan yang dilakukan melalui proses eksperimen secara kuantitatif. jumlah gill racker dan jumlah organ tubuh yang penting lainnya. insang juga harus mengeluarkan ion-ion berlebih yang masuk ke dalam tubuh (Fujaya 2002). Bersamaan dengan itu.

tidak termasuk opercular membrane (poin-17). Standard Length (SL) – panjang baku. Fork Length (FL) – panjang fork. b. ialah jarak dari ujung mulut paling depan atau anterior (poin-1) sampai tepi paling akhir tulang tutup insang atau opercle. Body depth (BD) – tinggi maksimum (garis lurus) dari badan secara vertical. sisik atau bagian daging dari sirip dorsal atau anal). al. Body depth dicari dengan menggeser vernier caliper untuk mendapatkan jarak lurus (vertical) yang maksimum (tidak termasuk sirip. c.. ialah jarak antara ujung mulut paling depan atau anterior (poin-1) sampai akhir vertebral column atau hypural plate (poin-6.24 Gambar 4. 2011) a. d. . akhir plate didapat dengan membengkokkan sirip ekor secara lateral). Penentuan Posisi Landmark untuk Menentukan Morfometri dan Bentuk Tubuh Ikan sebagai Penanda dalam Proses Identifikasi yang Biasa Dilakukan oleh Taksonomist (Abraham et. Head Length (HL) – panjang kepala. ialah jarak dari ujung mulut paling depan (poin1) sampai titik fork (cagak paling dalam) dari sirip ekor (poin-16).

Dorsal Fin Base (DFB) – dasar sirip dorsal. Caudal Peduncle Length (CPL) – jarak dari akhir sirip anal (poin-8) sampai akhir dari hypural plate (poin-6). dkk. h. ialah jarak dari ujung depan mulut (poin-1) sampai tepi depan (bagian tengah) tulang pelindung mata atau orbit (poin-13). j. ialah panjang lurus dari dasar duri keras paling depan (poin-9) sampai akhir duri lunak yang menopang sirip anal (poin-8). garis rusuk lateral dan transversal. ialah panjang lurus dari dasar duri keras paling depan (poin-3) sampai bagian akhir duri lunak yang menopang sirip dorsal (poin-4). Sifat-sifat morfometrik dapat diukur dari bagian panjang baku. Orbit Diameter (OD) – diameter orbit. serta jumlah sisik berpori di muka sirip. jari-jari sirip (jari-jari keras. ialah jarak terpanjang dari dasar duri sirip sampai bagian ujung. Anal Fin Base (AFB) – dasar sirip anal. panjang sampai lekuk ekor. jarak ini tidak selalu horizontal (poin-13 dengan poin-14). diukur pada duri sirip terpanjang. . dan jari-jari lunak mengeras). m. panjang total. dengan menggunakan beberapa istilah dari sifat meristik dan sifat morfometrik yang seragam. n. identifikasi ikan dapat dipermudah cara penentuan jenis dan klasifikasi. (1992). ialah diameter maksimum diantara tulang pelindung mata. ialah jarak terpanjang dari dasar duri sirip sampai bagian ujung. Caudal Peduncle Depth (CPD) – tinggi caudal peduncle. ialah jarak terpanjang dari dasar duri sirip sampai bagian ujung. Snout Length (SnL) – panjang moncong (hidung). Menurut Masyamsir. ialah jarak terpanjang dari dasar duri sirip sampai bagian ujung. f. serta tipe morfologis. Anal Fin Length (AFL) – panjang sirip dubur atau anal. ialah jarak terpendek di wilayah caudal peduncle (diukur sebagai garis lurus vertical).25 e. jarijari lunak. Dorsal Fin Length (DFL) – panjang sirip dorsal. Pectoral Fin Length (PFL) – panjang sirip dada atau pectoral. Sifat-sifat meristik dapat dihitung dari jumlah bagian sirip. panjang kepala. g. i. k. diukur pada duri sirip terpanjang. diukur pada duri sirip terpanjang. l. diukur pada duri sirip terpanjang. Ventral Fin Length (VFL) – panjang sirip perut atau ventral.

dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. telur dapat terlihat seperti serbuk putih. bentuk sirip caudal. panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Perkembangan II . Dara Berkembang Testes dan ovarium berwarna jernih. panjang dasar sirip dorsal. abu-abu kemerahan. Selama proses reproduksi. telur tidak terlihat dengan b) mata biasa. panjang pangkal ekor. telur satu persatu c) dapat dilihat dengan kaca pembesar.2 Identifikasi Jenis Kelamin Ikan Identifikasi jenis kelamin ikan. tinggi batang ekor. panjang kelopak mata. kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Perkembangan I Testes dan ovarium berbentuk bulat telur. Dasar yang dipakai untuk menentukan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dengan cara morfologi adalah bentuk. Bobot ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah. tinggi tubuh. yaitu tipe tubuh ikan. panjang. tidak berwarna sampai abu-abu. yaitu: a) Dara Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang pungung. Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum memijah. Tingkat kematangan gonad (Bagenal dan Braum 1968). sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. dan alat bantu pernapasan. panjang dasar sirip anal. 2. panjang hidung. panjang orbital. panjang orbital belakang. meliputi Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan Indeks Kematangan Gonad (IKG). terlihat transparan.26 panjang pre-dorsal. berwarna kemerah-merahan dengan adanya pembuluh kapiler yang mengisi kira-kira setengah ruang ke d) bagian bawah. bentuk dan letak mulut.4. bobot. Tipe morfologis penting. warna. dan tinggi ventral.

Reproduksi dimulai sejak terjadinya perkembangan gonad untuk siap memproduksi sel telur atau sperma hingga hadirnya individu baru. beberapa f) terlihat jernih dan masak.5 Parameter Penunjang Fisik dan Kimiawi Kualitas Air Berdasarkan PP No. ovarium mengisi dua per tiga ruang bawah. kriteria mutu air ditentukan oleh kelas air yang terbagi atas empat kelas. Perubahan yang terjadi dalam gonad dapat diketahui secara kuantitatif. telur dapat dibedakan. kelas III untuk perikanan dan pertanian. perkawinan dan pemijahan. perikanan. 2. 82 Tahun 2001. kelas II untuk sarana rekreasi air. pematangan gamet. apabila ditekan di bagian perut. Prosesnya. dapat dinyatakan dengan satuan indeks yang dinamakan Indeks Kematangan Gonad (IKG). serta kelas IV untuk pertanian. tidak terdapat sperma jika perut ditekan. Mijah atau Salin Gonad terlihat belum kosong sama sekali dan tidak ada telur yang h) berbentuk bulat telur. testes berwarna putih. pembuahan dan awal perkembangan. berwarna kemerahan. serta beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali. e) Bunting Organ seksual mengisi ruang bawah. i) Pulih Salin Tetes dan ovarium terlihat berwarna jernih. Mijah Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan ke perut. serta penetasan (Fujaya 2002). abu-abu sampai merah. ovarium berwarna orange kemerahan.27 Testes berwarna putih kemerahan. berbentuk bulat telur. akan keluar sperma. telur berbentuk bulat. meliputi pematangan gonad. Kelas I untuk bahan baku air minum. sedangkan kelas III bagi ikan yang toleran (ikan lele) (Tabel 2). dan pertanian. Kelas II bagi ikan yang sensitif (ikan mas). Salin Tetes dan ovarium terlihat kosong. kebanyakan terlur berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal g) di dalam ovarium. .

Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas dengan Parameter Pununjang No Parameter Satua Kelas II Kelas III Keterangan . dkk. 2. Laju metabolisme ikan secara langsung meningkat dengan naiknya suhu. Kondisi perairan yang bersifat asam kuat ataupun basa kuat akan membahayakan kelangsungan hidup biota. Effendi (2003). peningkatan suhu perairan sebesar 10 0 C mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen organisme akuatik sebesar dua sampai tiga kali lipat dan penurunan kadar oksigen terlarut. Oksigen terlarut mg/l 4 3 angka batas (DO) minimum 2. Kimiawi 6–9 6–9 apabila secara Derajat keasaman alamiah di luar (pH) rentang tersebut. Nilai pH dipengaruhi oleh beberapa parameter yaitu .28 Tabel 2.5. Kisaran suhu di negara beriklim tropis yang baik untuk ikan adalah 25 – 32 0C.2 Derajat Keasaman (pH) Derajat Keasaman (pH) menyatakan besarnya konsetrasi ion-ion hidrogen bebas yang terdapat di dalam perairan tersebut. 1984). juga mempengaruhi tingginya kebutuhan akan oksigen (Anwar. Nilai pH mempengaruhi aktivitas enzim yang mengkatalisasi perubahan biologis dalam tubuh organisme perairan. Fisik C deviasi 3 deviasi 3 deviasi suhu dari Suhu keadaan alamiahnya 1.5. yang sebagaian masuk ke dalam air dan disimpan dalam bentuk energi dan sebagian lagi ke atmosfer. maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah 2.1 Suhu Suhu air sungai dipengaruhi oleh sinar matahari yang jatuh ke permukaan air. Kenaikan suhu dapat mempengaruhi kelarutan O2 dan menaikan daya racun suatu bahan pencemar (Mulyanto 1992). Penunjang n 0 1. karena akan menggangu proses metabolisme dan respirasi.

alat-alat untuk mengukur kualitas air. BAB III METODE PENELITIAN 3. Universitas Padjadjaran. Derajat keasaman (pH) berpengaruh terhadap kelarutan mineral-mineral dan sistem oksidasi – reduksi (White dan Little 1972).1 Alat-alat Penelitian A. diantaranya: . Oksigen terlarut diperlukan oleh ikan-ikan untuk menghasilkan energi yang sangat penting bagi pencernaan. pemeliharaan. Konsentrasi ini akan menurun seiring peningkatan ataupun penurunan suhu. 2. alat-alat untuk mengidentifikasi sampel ikan. terdiri dari alat-alat untuk pengambilan sampel.2. sebagai berikut: 3. serta dilanjutkan dengan identifikasi ikan di Laboratorium Akuakultur. yaitu sebesar 14. dan bahan-bahan untuk melakukan penelitian disebutkan beserta dijelaskan fungsinya.3 Dissolved Oxygen (DO) Dissolved Oxygen (DO) merupakan jumlah gas O2 yang diikat oleh molekul air. area genangan. Kelarutan maksimum oksigen dalam air terdapat pada suhu 0 °C.29 suhu.16 mg/l. keseimbangan osmotik dan aktivitas lainnya. dari bulan Januari sampai dengan Mei 2016. asimilasi makanan.2 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian. kandungan oksigen. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. aktivitas biologis dan adanya ion-ion (Cole 1994). Kelarutan O2 di dalam air terutama sangat dipengaruhi oleh suhu dan mineral terlarut dalam air. Alat-alat yang digunakan pada pengambilan sampel ikan.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di inlet. Anak Sungai Cihonje. Kota Sumedang– Jatinangor.5. 3. dan outlet.

2.01 g) untuk menimbang bobot ikan. object dan cover glass untuk membedah dan memeriksa jenis kelamin ikan. dkk.  Nampan. diantaranya:  Umpan untuk menarik ikan agar terperangkap pada alat pancing yang      sudah dipersiapkan. Masker dan sarung tangan untuk menghindari bau dan kotor saat identifikasi ikan.  Milimeter blok atau penggaris besi (ketelitian 1 mm) untuk mengamati ciri morfometrik ikan.  Cool box untuk menyimpan sampel ikan agar tetap segar.  pH meter (ketelitian 0.  Pancing. . diantaranya:  Termometer alkohol untuk mengukur suhu air.  Toca color finder untuk mengetahui warna tubuh dan bercak ikan.  DO meter (ketelitian 0. mikroskop (pembesaran 4–10 x).  Alat bedah.  Kamera digital untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan penelitian. B. Ikan hasil tangkapan sebagai sampel yang diidentifikasi. 1993) untuk identifikasi ikan.2 Bahan-bahan Penelitian Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini.  Alat tulis untuk mencatat seluruh kegiatan penelitian. Alat-alat yang digunakan pada identifikasi sampel ikan.  Timbangan digital (ketelitian 0. Alat-alat yang digunakan pada pengukuran kualitas air. diantaranya:  Buku identifikasi (Kottelat. Larutan asetokarmin untuk indentifikasi jenis kelamin ikan. C. jala lempar.30  Global Positioning System (GPS) untuk menandai letak koordinat tempat pengambilan sampel ikan. Es balok untuk menjaga kondisi ikan agar tetap segar.  Kaca pembesar (lux) untuk mengamati ciri meristik ikan.01) untuk menghitung nilai derajat keasaman air. Lugol untuk menjaga kondisi gonad ikan agar tetap baik. petri disc.  Plastik zipper ukuran 37 x 29 cm2 dan 29 x 20 cm2 untuk menyimpan sampel ikan yang diteliti. dan jaring insang untuk menangkap ikan.01 mg/l) untuk menghitung kadar oksigen yang terkandung dalam air. streoform atau gabus sebagai wadah pengamatan ciri morfologi ikan. 3.

3 Metode Penelitian Metode yang digunakan selama penelitian adalah metode survei. dulunya merupakan Kecamatan Cisitu. 3. dan morfologi untuk mempermudah klasifikasi sampai mengetahui nama latin atau spesies ikan.60” E 108005’14.  Lap kain untuk mengeringkan air saat identifikasi ikan. mengelompokkan kondisi dan lokasi tersebut sehingga menjadi empat stasiun utama. saat ini menjadi area masuknya atau inlet air Sungai Cimanuk pertama kali ke Waduk Jatigede. saat ini menjadi area Waduk Jatigede yang . meristik. kemudian dibantu oleh Pak Pendhi selaku petugas koramil dan Pak Yuyu selaku pelaksana teknik Jatigede. Stasiun II (Sii) pada koordinat S 06052’20. Pengambilan sampel  dilakukan saat elevasi 221 mdpl. pH.31  Kertas label untuk memberi tanda atau kode per sampel ikan. dan DO dilakukan sebanyak dua kali pada awal dan akhir penelitian sebagai parameter penunjang. meliputi suhu. 3. yaitu purposive random sampling yang dilakukan sebanyak dua kali dan ditentukan dengan kalender Bulan (Qomariyah) tahun Hijriyah. yaitu:  Stasiun I (Si) pada koordinat S 06055’30.3. dulunya merupakan Kecamatan Wado. agar jumlah individu dan jenis ikan yang tertangkap dalam keadaan maksimum.90”. Metode identifikasi ikan dengan melihat ciri morfometrik. Pengujian kualitas air di Waduk Jatigede. yaitu setiap tanggal 1 dan 14 pada malam hari.30” E 108004’17. selama tiga bulan berdasarkan tingkat ketinggian muka air di Waduk Jatigede. sedangkan teknik yang digunakan untuk mengambil sampel ikan sesuai dengan tujuan penelitian pada tahap inundasi awal.1 Penentuan Stasiun Pangambilan Sampel Stasiun pengambilan sampel selama penelitian ditentukan berdasarkan kondisi terdapatnya masukan air tambahan yang berbeda dan lokasi terdapatnya aktivitas menangkap ikan di waduk dan sekitar Bendungan Jatigede (Gambar 5).30”.

7”.70”. Pengambilan sampel dilakukan antara elevasi 221 sampai 259 mdpl.32 dilintasi oleh Anak Sungai Cihonje.4 Prosedur Penelitian . saat ini menjadi area keluarnya atau outlet air Sungai Cimanuk yang berada di sekitar Bendungan Jatigede dan dilintasi oleh Sungai Cinambo.00” E 108004’46. dulunya merupakan Kecamatan Darmaraja. Stasiun III (Siii) pada koordinat S 06053’15. Siv PETA STASIUN WADUK JATIGEDE Sii Siii Si Gambar 5. Pengambilan sampel dilakukan antara  elevasi 221 sampai 247 mdpl. Pengambilan sampel  dilakukan antara elevasi 221 sampai 259 mdpl. Stasiun IV (Siv) pada koordinat S 6051’27. dulunya merupakan Kecamatan Jatigede. saat ini menjadi area Waduk Jatigede yang dilintasi oleh Anak Sungai Cibayawak.4” E 10805’53. Peta Stasiun Waduk Jatigede (Sumber: Satker NVT Jatigede 2015) 3.

berserta B. Pembangunan Waduk Jatigede. Sumedang.4. 3. . area genangan. dan outlet.33 Prosedur penelitian ini dikelompokan menjadi dua berdasarkan hasil dan data yang diperoleh. jenis ikan yang ditebar di sekitar Bendungan Jatigede didapatkan dari petugas koramil 1013 atau Cadasngampar. sebagai berikut: Peta Genangan Waduk Jatigede. anak sungai. kemudian kuisioner dibuat untuk mempermudah proses pengumpulan informasi dengan poin-poin.4. dan waktu sumberdaya ikan yang ditebar di Waduk Jatigede didapatkan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat (2016). baik data sekunder maupun data primer. koran online (2015). yaitu: Informasi mengenai jenis ikan yang terdapat di bagian Hulu (Kabupaten Garut) dan bagian Tengah (Kabupaten Sumedang) sebelum pembangunan Waduk Jatigede didapatkan dari skripsi tahun 2001 sampai 2012 di Perpustakaan FPIK Universitas Padjadjaran.1 A. Laporan AMDAL Waduk Jatigede tahun 2004. Prosedur Memperoleh Data Primer Prosedur untuk memperoleh data primer selama penelitian. Jatinangor. Progres dan Rencana Penyelesaian Pekerja Pembangunan Waduk Jatigede. Prosedur Memperoleh Data Sekunder Prosedur untuk memperoleh data sekunder selama penelitian. sebagai berikut: 3. sebagai berikut: a) Nama lokal ikan yang tertangkap dan jumlah ikan yang tertangkap. dan petugas Satker Jatigede selaku penerima sumberdaya ikan tersebut. didapatkan dari petugas yang berkerja di kantor Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (Satker NVT) pelaksana proyek Waduk Jatigede. Informasi mengenai lokasi sumber masukan air ke Waduk Jatigede C. ukuran. Informasi mengenai zonasi desa dan kecamatan yang digenangi. Kabupaten a) b) c) d) D. yaitu: Informasi mengenai jenis ikan yang tertangkap oleh sekelompok orang atau minimal tiga orang yang melakukan aktivitas menangkap ikan pada inlet.2 A. serta ditambah beberapa studi literatur dari e-jurnal. Data yang didapatkan. Informasi mengenai jenis.

b) Ikan dicuci dan dibilas dengan air keran hingga berkurang atau hilang lendir dan darah. b) Ikan dimasukan ke plastik zipper yang telah diberi keterangan kode sampel pada label dituliskan dengan pensil. dan diawetkan. dan dimasukan ke cool box yang telah diisi es balok. CPL. dan AFB. A. d) Lamanya waktu menangkap ikan. dkk. diamati bentuk tubuh (streamline/ compressed/ ular/ pita/ bulat/ anak panah/ depressed). PFL. D2. d) Identifikasi ciri meristik ikan dilakukan dengan cara dihitung jari sirip D 1. dihitung jumlah sisik pada linea lateralis dan jumlah sisik pada linea transversal dengan bantuan kaca pembesar (lux). letak mulut (biasa/ penghisap/ berparuh). dengan cara menekan tombol on-menu-setting-kalibration-compass-mark-ok-waypoint. Prosedur identifikasi ikan (Masyamsir 1992). cara pengoperasian.34 b) Lokasi genangan ketika ikan tertangkap. CPD. Identifikasi sampel ikan dilakukan di laboratorium. dipilih. dihitung jumlah pasang misai. SnL. ditimbang. dan C dengan tata penulisan romawi besar (jari sirip keras). P. B. bentuk sirip caudal (rounded/ truncate/ emarginated/ ganda/ . FL. VFL. serta umpan yang digunakan. V. SL. c) Identifikasi ciri morfometrik ikan dilakukan dengan cara diukur TL. Sampel ikan penelitian dikumpulkan. 1993). termasuk buku identifikasi. angka latin (jari sirip lunak). Prosedur pengawetan sampel ikan. OD. Perbandingan ciri morfometrik ikan antara pengukuran panjang bagian tubuh (SL) dengan tinggi bagian tubuh (BD). kemudian ikan diidentifikasi mengacu pada buku identifikasi (Kottelat. DFL 1. DFB1. BD. sebagai berikut: a) Ikan dimatikan dengan cara bagian kepalanya ditusuk menggunakan sonde. bentuk mulut (inferior/ terminal/ sub terminal/ superior). e) Identifikasi ciri morfologi ikan dilakukan dengan cara diukur panjang misai. kemudian lokasi tersebut ditandai dengan alat Global Positioning System (GPS). pertama nama lokal ikan ditulis pada form tabel. DFL2. c) Deskripsi alat tangkap. DFB2. romawi kecil (jari sirip lunak mengeras). sebagai berikut: a) Alat dan bahan penelitian disiapkan. kemudian plastik ditutup rapat C. setelah bersih kemudian diletakkan pada baki preparasi. AFL. HL.

meristik. bentuk sisik diamati dengan mikroskop (sikloid/ stenoid/ plakoid/ ganoid). Perbedaan Gonad Ikan Jantan Satu buah Berwarna putih mengandung sperma. Organ 1.5. Prosedur inventarisasi jenis kelamin ikan. sebagai berikut: 3.5 Parameter Penunjang yang Diukur Parameter penunjang yang diukur selama penelitian. dan komunitas ikan. f) Identifikasi dilakukan dengan cara menyesuaikan hasil penentuan ciri morfometrik. Hasil dituliskan pada form tabel. Gonad 3. ukuran. 3. dan hasil dituliskan pada form tabel. indeks keanekaragaman. Tabel 3. tengah. dengan ciri-ciri yang dijelaskan pada buku identifikasi. jenis kelamin. kelimpahan relatif.1 Parameter Kualitas Air . Gonad dengan Gonad terlihat berbentuk pengamatan mikroskop garis-garis. bawah. jenis. kemudian gonad ikan diamati cirinya. sebagai berikut: a) Ikan dibedah menggunakan gunting dimulai dari bagian urogenital melingkar menuju bagian rongga perut depan hingga isi perut dapat terlihat jenis kelamin atau gonad ikan (Masyamsir 1992). dan ditetesi asetokarmin No. warna tubuh diamati dengan toca color finder (atas. Informasi mengenai inventarisasi ikan yang tertangkap selama penelitian. Betina Dua buah Berwarna kekuningkuningan Gonad terlihat berbentuk bulatbulat. dan indeks keseragaman yang akan dijelaskan lebih rinci. Lubang urogenital 2. meliputi komposisi jumlah. bercak atau bintik). morfologis dan ciri khas lainnya. D. yaitu kualitas air.35 forked/ lunate/ baji/ lanset). b) Gonad ikan yang ada di dalam perut diambil hingga terpisah dari bagian organ lainnya. Gonad jantan atau betina pada ikan dapat diketahui perbedaannya (Tabel 3).

yaitu suhu. sebagai berikut: Tabel 4. sebagai berikut: B = ni / N x 100% Keterangan: 3.5.3 B ni N = Kelimpahan relatif ikan yang tertangkap = Jumlah total individu spesies –i = Jumlah total individu semua spesies yang tertangkap Indeks Keanekaragaman Indeks keanekaragaman merupakan suatu indeks untuk melihat tingkat keanekaragaman jenis dalam komunitas dan memperlihatkan keseimbangan dalam pembagian jumlah individu tiap spesies (Odum 1971).2 Kelimpahan Relatif Kelimpahan relatif digunakan untuk mengetahui kepadatan spesies ikan pada masing-masing stasiun yang dapat dihitung dengan rumus (Sriwidodo 2013). Indeks tersebut digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih rinci tentang komunitas ikan. Parameter Kualitas Air yang Diukur selama Penelitian Parameter Satuan Alat atau Metode Lokasi Pengamatan Biologis Ikan Ekor Buku Identifikasi Ex situ 0 Fisik C Suhu Thermometer In situ Kimiawi Derajat Keasaman pH meter In situ Oksigen terlarut mg/l DO meter In situ 3.36 Pengukuran sifat fisik dan kimiawi perairan dilakukan untuk menunjang penelitian mengenai ikan yang dapat beradaptasi di Waduk Jatigede. derajat keasaman dan oksigen terlarut (DO) (Tabel 4).5. sedangkan .

3 < H’ ≤ 3.3 = Keanekaragaman rendah 2.4 Indeks Keseragaman Indeks keseragaman digunakan sebagai gambaran ukuran jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas ikan. sebagai berikut: E= Keterangan: H' H' = H ' max ln(s) E = Indeks keseragaman (Evenness) H’ = Indeks keanekaragaman (Shannon-Wiener) H’max = ln (s) s = Jumlah keseluruhan dari spesies . maka keseimbangan ekosistem akan semakin meningkat (Odum 1971).3 = Keanekaragaman sedang H’ > 3.5. Indeks keseragaman dapat dihitung menggunakan rumus Evenness (E).37 untuk menghitung indeks keanekaragaman ikan dengan rumus Shannon–Wiener (H’). sebagai berikut: s H ' =−∑ ¿ ln ¿ N N i=1 Keterangan: H’ s ni N ( ) ( ) = Indeks keanekaragaman (Shannon-Wiener) = Jumlah jenis ikan = Jumlah individu spesies ke-i = Jumlah total individu Indeks keanekaragaman (Shannon-Wiener) dapat dievaluasi menurut Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012).3 = Keanekaragaman tinggi 3. apabila semakin merata penyebaran individu antar spesies. sebagai berikut: H’ ≤ 2.

sebagai berikut: E ≤ 0. yaitu ikan nila (Oreochromis niloticus). sawah. kelimpahan relatif ikan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. lalawak (Barbodes balleroides). 4.1 Kondisi Perairan Waduk Jatigede Waduk Jatigede digenangi pada tanggal 31 Agustus 2015 dengan target penggenangan maksimum pada elevasi 262 mdpl. dapat dievaluasi menurut Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012).6 = Keseragaman sedang E > 0. tawes (Barbodes gonionotus). yaitu Kecamatan Wado. keanekaragaman ikan.896. pekarangan. Kecamatan Jatinunggal. kancra (Tor . dan Kecamatan Jatigede.4 = Keseragaman rendah 0.38 Indeks keseragaman (Evenness) berkisar antara 0 sampai 1. Kecamatan Cisitu.4 < E ≤ 0. Penelitian awal di Waduk Jatigede mulai memasuki tahap satu penggenangan pada elevasi 221 mdpl. kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabel dan gambar. Kecamatan Darmaraja. nilem (Osteochilus hasseltii). Area genangan dan bangunan fasilitas Waduk Jatigede memiliki luas 4.6 Analisis Data Data yang didapatkan selama penelitian. dan sisa-sisa bagunan pemukiman warga. kolam.6 = Keseragaman tinggi 3. tegalan.22 ha yang meliputi 5 Kecamatan. Substrat perairan berasal dari habitat yang digenangi berupa kebun.2 Sumberdaya Ikan yang Ditebar ke Waduk Jatigede Sumberdaya ikan yang ditebar ke Waduk Jatigede pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2015 terdiri dari 11 jenis. sedangkan penelitian akhir di Waduk Jatigede hampir memasuki tahap akhir penggenangan pada elevasi 259 mdpl. dan keseragaman ikan yang dapat beradaptasi di Waduk Jatigede tahap inundasi awal. beureum panon (Puntius orphoides). diantaranya untuk melihat jenis ikan.

masyarakat dari Jakarta. patin (Pangasius hypophthalmus). diameter 5 m. Alat tangkap tersebut sudah cukup efektif karena menangkap ikan yang bervariasi. nilem. hike. 30 sampai 50 mm. jala lempar. Pancing dilengkapi umpan komersil yang dikenal dengan nama 48. dilihat dari jumlah jenis ikan yang tertangkap selama penelitian sebanyak 17 jenis. pancing dapat digunakan sepanjang hari. sapu-sapu. klik. Ukuran ikan yang ditebar terbagi menjadi empat kelompok. serta masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan subsisten. sepat.5 m yang digunakan pada malam hari.39 douronensis). Nelayan subsisten adalah orang yang menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan menjual jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis.3 Hasil Tangkapan Ikan di Waduk Jatigede selama Penelitian Masyarakat yang menangkap ikan di Waduk Jatigede. senggal dan berod. Ikan yang mempunyai nilai ekonomis diantaranya ikan nilem. mas (Cyprinus carpio). nila. dan bandeng. Jaring insang memiliki panjang 60 sampai 100 m dan lebar 4. bandeng (Chanos chanos).155. terdiri dari masyarakat yang terkena dampak pembangunan Waduk Jatigede. gabus. 50 sampai 80 mm. Indramayu. dan udang galah (Macrobrachium rosenbergii). dengan jumlah keseluruhan ikan tersebut sebanyak 3. dan mata jaring 3 sampai 4 cm yang digunakan pada sore hari. genggehek. karper (Ctenopharyngodon idella). Jala lempar atau dikenal dengan nama “heurap” memiliki tinggi 3 m.600 ekor (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat 2016). Cirebon. mujair. dan jetu. 4. dan Cilacap yang sengaja singgah untuk berwisata air. Jala lempar dan jaring insang dapat menangkap ikan lalawak. hampal. dan tokolan 2 khusus untuk udang galah. . Bandung. kemudian dicampur dengan telur ayam untuk merangsang indera penciuman ikan. mujair. Nelayan subsisten di Waduk Jatigede menggunakan alat tangkap berupa pancing. yaitu antara 20 sampai 30 mm. dan bandeng (Tabel 5). patin. dan jaring insang. patin. Pancing dapat menangkap ikan seren.

sedangkan jenis ikan restocking yang tertangkap selama penelitian. Ikan yang penyebarannya sempit ke-tiga adalah ikan paray. sepat. diantaranya ikan lalawak. patin (Ptn). karena ikan tersebut memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. patin. sapu-sapu (Spu). dan berod (Brd) (Tabel 6). paray. seren (Srn). seren. dan senggal yang tertangkap di area genangan. gabus (Gbs). dan berod. tawes. Ikan yang penyebarannya sempit terakhir adalah ikan mujair. yaitu ikan lalawak (Lwk). tawes. Ikan yang penyebarannya luas ke-dua adalah ikan genggehek yang hanya tidak tertangkap di Anak Sungai Cihonje. Jenis ikan introduksi yang tertangkap selama penelitian. gabus. . gabus. hike (Hke). Ikan lalawak dan ikan hampal tertangkap di seluruh stasiun. dan patin yang tertangkap di area genangan dan outlet (Tabel 5). yaitu ikan yang memiliki area penyebaran luas dan ikan yang memiliki area penyebaran sempit. hike. sehingga ikan tersebut memiliki daya adaptasi yang tidak terlalu tinggi terhadap lingkungan dan penyebarannya sempit. Jenis ikan endemik atau asli Sungai Cimanuk yang tertangkap selama penelitian. paray (Pry). genggehek (Ghk). hike. sapu-sapu. senggal. Ikan yang penyebarannya luas ke-tiga adalah ikan nilem. sepat. mujair. diantaranya ikan lalawak. hampal. diantaranya ikan nila. bandeng dan berod yang tertangkap di outlet (Tabel 5). nila. dan bandeng. sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan ekosistem lotik menjadi ekosistem lentik dan penyebarannya luas. Ikan yang penyebarannya sempit ke-dua adalah ikan seren yang tertangkap di Anak Sungai Cihonje. sapu-sapu. nilem. karena ikan tersebut merupakan jenis ikan restocking yang masih berukuran kecil. nilem. nila (Nla). tawes (Tws). mujair (Mjr). patin. sepat (Spt). Jenis ikan yang tertangkap pada stasiun penelitian dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan area penyebarannya. bandeng (Bnd). genggehek. nilem (Nlm). Ikan nila hanya tertangkap di inlet. hampal (Hml). tawes.40 Setiap jenis ikan yang tertangkap diberi kode sampel sesuai singkatan dari nama lokalnya untuk diidentifikasi di laboratorium. dan bandeng (Tabel 5). gabus. senggal (Sgl).

dkk. Sampel ikan yang diidentifikasi termasuk filum Chordata dengan ciri-ciri memiliki notokord. Stasiun III = Area Genangan.4 Identifikasi Sampel Ikan Identifikasi sampel ikan mengacu pada buku identifikasi (Kottelat. Stasiun I = Inlet. I = Introduksi. panjang hidung (snout length). panjang baku (standard length). Lwk √ √ √ √ √ √ √ √ √ 2. panjang batang ekor (caudal peduncle length). masing-masing meliputi pengukuran panjang total (total length). Hml √ √ √ √ √ √ √ √ 4. panjang maksimal jari sirip punggung (dorsal fin length). Sgl √ √ √ 16. 1993) dengan mengamati ciri morfometrik. dan celah faring. Hke √ √ √ √ √ √ 7. panjang lekung ekor (fork length). Nlm √ √ √ √ √ √ √ 6. Identifikasi ikan digunakan untuk mengetahui jenis atau spesies ikan yang tertangkap sehingga dapat mempermudah proses pengelompokan (Lampiran 2 B). morfologi. dan R = Restocking. Jenis Ikan Berdasarkan Alat Tangkap dan Stasiun Penelitian Kode Asal Ikan Alat Tangkap Stasiun E I R Pancing Jala Jaring I II III IV No. Nla √ √ √ 10. Stasiun II = Anak Sungai Cihonje. Pry √ √ √ 8. Brd √ √ √ Keterangan : Asal Ikan E = Endemik. Sampel ikan termasuk kelas Actinopterygii dengan ciri-ciri memiliki tulang sejati. operkulum. tali saraf tunggal terletak di dorsal notokord. dan meristiknya.1 Ciri Morfometrik Ikan yang Tertangkap Ciri morfometrik pada 17 sampel ikan. Srn √ √ √ 3. Mjr √ √ √ √ 11. Tws √ √ √ √ 9.41 Tabel 5. panjang dasar jari-jari sirip punggung . Bnd √ √ √ √ √ 17. Sampel Lempar Insang Ikan 1.4. panjang kepala (head length). Spu √ √ √ 14. dan tidak bersisik atau bersisik dengan tipe sikloid atau stenoid atau ganoid. Ptn √ √ √ √ √ 15. 4. Gbs √ √ √ √ 13. Spt √ √ √ √ √ 12. Ghk √ √ √ √ √ √ √ 5. dan Stasiun IV = Outlet 4.

FL 158. HL 24. FL 152. OD 5. SnL 6. DFB1 15. PFL 13. SnL 4. 3. Hml TL 181. Tabel 6. DFL1 25. OD 6. BD 30. OD 7. DFL1 28. SnL 5. BD 33. SL 82. SnL 8. SL 120. PFL 23. SnL 11. HL 26. DFB1 20. CPL 17. DFB1 30. dan AFB 18. SL 130. CPL 22. SL 138. dan AFB 11. DFL1 29. panjang maksimal jari sirip perut (ventral fin length). CPD 16. CPD 10. CPD 6. AFL 22. 1. Nlm TL 170. . diameter mata (orbit diameter). TL 151. CPL 20. panjang maksimal jari sirip dada (. AFL 25. dan tinggi tubuh (body depth) (Tabel 6). dan AFB 12. HL 40. OD 6. PFL 23. Hke TL 160. OD 7. DFB1 14. PFL 22. CPD 14. dan AFB 12. BD 44. AFL 21. VFL 23. OD 7. VFL 24. dan tinggi maksimal lekuk batang ekor (caudal peduncle depth). DFB1 41. CPL 22. Srn TL 89. SnL 10. DFL1 13. Ghk TL 110. SL 110. SL 73. maksimal jari sirip dubur (anal fin length). PFL 25. dan AFB 14. BD 36. FL 128. Ciri Morfometrik Ikan yang Tertangkap No. AFL 13. VFL 23. FL 92. CPD 18.ectoral fin length). VFL 13. VFL 22. BD 49. BD 47. HL 19. CPD 16. CPL 12. FL 78. dan AFB 12. 6. AFL 10. FL 137. AFL 23. dan dasar jari-jari sirip dubur (anal fin base). DFB1 21.42 (dorsal fin base). 4. PFL 15. HL 29. HL 20. 5. DFL1 17. Kode Sampel Ikan Lwk Gambar Ikan Ciri Morfometrik (mm) 2. VFL 15. DFL1 27. CPL 12.

BD 48. CPD 14. HL 16. SnL 13. CPD 7. VFL 20. BD 26. VFL 8. DFB1 5. HL 52. BD 30. SL 55. DFL1 20. AFL 28. PFL 48. DFB1 13. SnL 7. DFL1 36. DFB1 16. DFL1 36.43 No. AFL 20. AFL 10. SL 107. OD 12. 13. CPL 13. AFL 14. DFB1 109. SL 192. OD 4. DFB2 3. . CPD 16. CPL 9. SnL 8. DFB1 37. dan AFB 63. PFL 30. VFL 49. FL 216. CPD 28. OD 3. VFL 25. SnL 11. 7. dan AFB 34. Spu TL 133. PFL 30. PFL 15. BD 51. DFB1 26. BD 20. BD 79. CPD 10. VFL 26. dan AFB 6. SnL 3. Ptn Ciri Morfometrik (mm) TL 242. BD 40. Gbs TL 215. DFB2 4. 9. CPD 18. VFL 93.. DFL1 23. OD 6. DFL1 11. PFL 30. ‘ 14. PFL 27. SL 92. PFL 17. dan AFB 12. AFL 16. DFL1 18. dan AFB 65. Tws TL 118. CPL 21. SL 178. TL 67. OD 5. VFL 16. Spt TL 137. HL 55. SnL 12. Kode Sampel Ikan Pry Gambar Ikan 8. SnL 21. 10. AFL 12. BD 15. DFB1 29. 11. SnL 7. CPL 18. OD 7. Nla TL 78. DFL1 20. dan AFB 71. CPL 15. CPD 21. OD 7. CPL 25. DFL1 11. dan AFB 5. CPL 15. SL 176. HL 25. FL 94. HL 15. SL 62. HL 20. OD 6. HL 50. HL 31. SL 95. AFL 48. PFL 20. FL 62. FL 105. CPD 5. DFL2 7. 12. Mjr TL 226. DFL2 4. VFL 13. AFL 20. dan AFB 15. DFB1 101.

hike. hampal. Ikan seren termasuk genus Cyclocheilichthys karena memiliki ciri morfologi. berupa bercak hitam pada pangkal sirip ekor. TL 300. famili Cyprinidae karena memiliki ciri morfologi. Body Depth (BD). Keterangan : Total Length (TL). CPD 20. VFL 20. DFL1 41. dua buah misai. berupa empat buah misai. Snout Length (SnL). berupa sisik dengan struktur beberapa jari sejajar atau melengkung ke ujung. CPD 21. AFL 13. Standard Length (SL). seren. Pectoral Fin Length (PFL). atau tidak bermisai. TL 290. 4. Anal Fin Length ( (AFL). OD 19. dkk. dan genus yang mengacu pada buku identifikasi (Kottelat. sedikit atau tidak ada proyeksi jari-jari ke samping. SnL 17. dan Anal Fin Base (AFB). PFL 16.44 No. BD 35. Orbit Diameter (OD). VFL 30. 1993). Ventral Fin Length (VFL). HL 52. Ikan lalawak dan ikan tawes termasuk genus Barbodes karena memiliki ciri morfologi. warna bercak. Kode Sampel Ikan Sgl 16. DFL 1 1. AFL 3. dan tawes termasuk ordo Cypriniformes. BD 33. letak mulut. CPD 10. (1993) ikan lalawak. Dorsal Fin Base (DFB). dkk. DFB2 105. meliputi jumlah misai. famili. 15. PFL 20. CPL 25. FL 248. PFL 35. SL 228. DFB2 23. SnL 10. Dorsal Fin Length (DFL). Ordo Cypriniformes Menurut Kottelat. dan Genus Berdasarkan Ciri Morfologi Ikan Ciri morfologi ikan digunakan untuk menentukan ordo. VFL 12. Ikan hampal termasuk genus Hampala . Famili. AFL 15.2 Penentuan Ordo. SnL 13. A. DFB1 30. Caudal Peduncle Length (CPL). Pengamatan ciri morfologi ikan yang tertangkap. paray. bentuk tubuh. Bnd 17. OD 6. dan AFB 102. HL 40. CPL 25. genggehek. dan AFB 11. BD 60. Brd Gambar Ikan Ciri Morfometrik (mm) TL 193. SL 159. Fork Length (FL). OD 4. DFB1 12. HL 49. DFL1 25. SL 280. dan AFB 23. Caudal Peduncle Depth (CPD). DFL2 120. warna tubuh. bentuk sisik. dan bentuk sirip ekor (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). nilem. FL 165. DFB1 11. Head Length (HL). DFL2 25.4.

berupa garis warna gelap memanjang berawal dari operkulum sampai pangkal sirip ekor dan membatasi bagian belakang tubuhnya dan jarak dorso-hypural jika ditarik ke depan akan terletak di depan mata (Kottelat. Sampel ikan lalawak dan ikan tawes memiliki ciri morfologi. tengah tubuh berwarna abu-abu muda. tengah tubuh berwarna abu-abu muda. bagian atas tubuh berwarna abu-abu gelap. bentuk tubuh streamline. Ikan paray yang termasuk genus Rasbora karena memiliki ciri morfologi. berupa bercak bulat besar pada batang ekor. berupa bibir tertutup oleh lipatan kulit dan enam sampai sembilan bercak berwarna sepanjang barisan sisik walaupun tidak selalu jelas. berupa bercak hitam antara sirip punggung dan sirip perut yang kemudian menjadi samar-samar pada ikan dewasa yang sangat besar. bentuk mulut biasa. bagian atas tubuh berwarna abu-abu kecoklatan. Sampel ikan tawes diketahui tidak memiliki misai. letak mulut terminal.45 karena memiliki ciri morfologi. dan bawah tubuh berwarna perak (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). berupa dua pasang misai dengan panjang 3 mm dan 6 mm. serta bentuk sirip ekor lekung tunggal seperti garpu atau forked. Sampel ikan seren memiliki ciri morfologi. bercak berwarna abu-abu kehitaman di bagian pangkal sirip ekor. bercak berwarna . bentuk sisik sikloid. Sampel ikan lalawak memiliki dua pasang misai dengan panjang 5 mm dan 9 mm. letak mulut terminal. bawah tubuh berwarna perak. Ikan lalawak dan ikan tawes termasuk genus Barbodes. bentuk tubuh compressed. memiliki bagian atas tubuh berwarna abu-abu tua kecoklatan. 1993). Ikan nilem yang termasuk genus Osteochilus karena memiliki ciri morfologi. tengah tubuh berwarna coklat kekuningan. bentuk sisik sikloid dengan struktur beberapa jari sejajar atau melengkung ke ujung dan sedikit atau tidak ada proyeksi jari-jari ke samping. Ikan nilem dan ikan hike termasuk genus Osteochilus karena memiliki ciri morfologi. berupa bentuk mulut biasa. dan bercak berwarna coklat kemerahan di bagian ujung bawah sirip ekor. bawah tubuh berwarna perak. dkk.

letak mulut terminal. bentuk sisik sikloid. letak mulut terminal. bagian tengah tubuh berwarna abu-abu dengan garis berwarna gelap memanjang berawal dari operkulum sampai pangkal sirip . dan bentuk sirip ekor forked (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). Ikan ini termasuk genus Hampala. berupa bentuk mulut biasa. bagian atas tubuh berwarna abu-abu tua kekuningan. Sampel ikan genggehek memiliki ciri morfologi. bentuk tubuh streamline. berupa satu pasang misai dengan panjang 7 mm. berupa satu pasang misai dengan panjang 3 mm. bentuk mulut biasa. letak mulut terminal. bentuk mulut biasa.46 jingga tua kehitaman di bagian bawah sirip ekor. bawah tubuh berwarna abu-abu muda. jarak hidung di depan mata. bentuk tubuh compressed. letak mulut sub-terminal karena tertutup oleh lipatan kulit. Sampel ikan nilem dan ikan hike memiliki ciri morfologi. dan bentuk sirip ekor forked (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bagian atas tubuh berwarna abu-abu gelap. tengah tubuh berwarna abu-abu kehijauan. bawah tubuh berwarna perak. Ikan genggehek termasuk famili Cyprinidae. Sampel ikan paray memiliki ciri morfologi. bercak sebanyak enam sampai sembilan berwarna jingga sepanjang barisan sisik di dekat operkulum. berupa satu pasang misai dengan panjang 3 mm. bentuk mulut biasa. tengah tubuh berwarna abu-abu muda. bagian atas tubuh berwarna abu-abu kecoklatan. bawah tubuh berwarna abu-abu muda. bagian atas tubuh berwarna abu-abu tua kehijauan. bentuk sisik sikloid. Ikan ini termasuk genus Cyclocheilichthys. dan bercak bulat besar berwarna coklat di bagian batang ekor. tengah tubuh berwarna perak kekuningan. Sampel ikan nilem memiliki dua pasang misai dengan panjang 2 mm dan 6 mm. bentuk tubuh compressed. dan bentuk sirip ekor forked (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). Ikan nilem dan ikan hike termasuk genus Osteochilus. bentuk sisik sikloid. bentuk tubuh streamline. dan bentuk sirip ekor forked (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bercak berwarna abu-abu di bagian tengah tubuh antara sirip dorsal dengan sirip ventral. Sampel ikan hike memiliki dua pasang misai dengan panjang 4 mm dan 6 mm dan bentuk tubuh streamline. bentuk sisik sikloid. Sampel ikan hampal memiliki ciri morfologi.

bentuk tubuh compressed. Ikan sepat yang termasuk genus Trichogaster karena memiliki ciri morfologi. tipe sirip ekor homocercal.47 ekor dan membatasi bagian belakang tubuhnya. (1993) ikan nila. Ikan ini termasuk genus Rasbora. dan bentuk sirip ekor tidak memiliki lekung tunggal atau berbentuk tegak disebut truncate. dan mulutnya bersudut tajam. Ikan nila dan ikan mujair termasuk famili Cichlidae. berupa garis gelap panjang pada badan dan sirip ekor berbentuk sabit sedikit cekung atau emarginated. sepat dan gabus termasuk ordo Perciformes. serta bercak merah muda di bagian ujung sirip ekor. Ikan sepat termasuk famili Osphronemidae dan ikan gabus termasuk famili Channidae. Ikan nila termasuk genus Oreochromis karena memiliki ciri morfologi. Sampel ikan nila dan ikan mujair memiliki ciri morfologi. berupa garis warna tegak terdapat pada sirip ekor. dkk. B. tengah tubuh berwarna abu-abu kekuningan. bentuk sisik stenoid karena memiliki ctenii. berupa tubuh berwarna abu-abu atau kuning dan memiliki dua sampai lima bercak gelap di samping badan. dan mulut mengarah ke atas. Ordo Perciformes Menurut Kottelat. bersisik besar. berupa bentuk kepala menyerupai ular karena berukuran lebar. berupa pita berwarna berbentuk “<” mengarah ke depan sisi badan. Sampel ikan nila memiliki garis tegak berwarna hitam keabu-abuan di bagian sirip ekor dan termasuk tubuh. bercak berwarna hijau toska di bagian operkulum. serta bentuk sirip ekor lekung tunggal dengan sedikit cekung atau emarginated (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). hampir seluruhnya berwarna hitam. bagian atas tubuh berwarna abu-abu kecoklatan. mujair. Famili Channidae memiliki ciri morfologi. Sampel ikan mujair memiliki bercak merah keunguan di bagian ujung . bawah kepala dan tubuh berwarna putih. letak mulut terminal. bawah tubuh berwarna putih. berupa bentuk mulut biasa dan mengarah ke atas. Ikan gabus yang termasuk genus Channa karena memiliki ciri morfologi. sedangkan ikan mujair termasuk genus Oreochromis karena memiliki ciri morfologi.

berupa satu pasang misai dengan panjang 2 mm. letak mulut terminal. C. Ikan patin yang termasuk genus Pangasius karena memiliki ciri morfologi. garis berwarna hitam beraturan memanjang dari mata sampai ke tengah pangkal sirip ekor. bentuk tubuh lonjong. Famili Pangasiidae memiliki ciri morfologi. Famili Bagridae memiliki ciri morfologi. ikan patin termasuk famili Pangasiidae. sisi tubuh memiliki pita berwarna berbentuk “<” mengarah ke depan. berupa sirip lemak berukuran besar dan tidak bersisik. Sampel ikan gabus memiliki ciri morfologi. dan ikan senggal termasuk famili Bagridae. (1993) ikan sapu-sapu. berupa dua pasang misai berukuran kecil dan kulit halus. bawah tubuh berwarna krem. Ikan ini termasuk genus Channa. berupa bentuk mulut biasa. dan bentuk sirip ekor membulat atau disebut rounded (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bercak merah muda di bagian operkulum. Ordo Siluriformes Menurut Kottelat. Ikan sapu-sapu termasuk famili Loricariidae. berupa tubuh yang tertutup oleh kulit yang mengeras dan mulutnya berbentuk seperti cakram. Ikan ini termasuk genus Trichogaster. tengah tubuh berwarna coklat muda. bentuk sisik stenoid karena terdapat ctenii. bentuk tubuh compressed. bentuk kepala picak. dan bentuk sirip ekor emarginated (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bagian atas tubuh berwarna coklat tua. patin. Famili Loricariidae memiliki ciri morfologi. Ikan senggal yang termasuk genus Mystus karena memiliki . bentuk sisik stenoid karena terdapat ctenii. Ikan nila dan ikan mujair termasuk genus Oreochromis. tubuhnya penuh dengan garis belang berwarna gelap atau tidak selalu jelas. Sampel ikan sepat memiliki ciri morfologi. dkk.48 sirip ekor dan dua sampai lima bercak hitam di samping tubuh (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bentuk mulut biasa dengan sudut tajam. tidak ada gigi bentuk taring pada vomer dan palatine. berupa sirip ekor bercagak dalam dan bagian sudut mulut terletak lebih atas daripada mata. letak mulut terminal. dan senggal termasuk ordo Siluriformes. memiliki labirin.

dan 93 mm. bagian atas kepala kasar. 35 mm. bentuk mulut biasa. Sampel ikan patin memiliki ciri morfologi. bagian atas tubuh berwarna abu-abu tua. berupa dua pasang misai dengan panjang 2 mm dan 3 mm. Ikan ini termasuk genus Liposarcus. letak mulut inferior. D. memiliki sisik ganoid atau tubuhnya tertutup oleh kulit yang mengeras. bagian atas tubuh dengan garis tegak berwarna coklat dan hitam. bentuk tubuh pipih.49 ciri morfologi. tengah tubuh berwarna abu-abu muda dengan bercak berwarna abu-abu tua. Sampel ikan senggal memiliki ciri morfologi. berupa empat pasang misai dengan panjang 18 mm. berupa satu pasang misai dengan panjang 5 mm. 45 mm. bawah tubuh berwarna putih. bentuk mulut biasa. misai hidung mencapai mata. bentuk tubuh depressed. Sampel ikan sapu-sapu memiliki ciri morfologi. bentuk kepala picak. misai rahang atas memanjang hampir mencapai sirip dubur. bawah tubuh berwarna putih. bagian atas tubuh berwarna abu-abu muda kekuningan. bentuk tubuh depressed. dan bentuk sirip ekor truncate (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bagian dada dan perut tertekan ke bawah atau depressed. Ikan ini termasuk genus Pangasius. letak mulut sub-terminal dengan bagian sudutnya terletak lebih atas daripada mata. letak mulut sub-terminal. bawah tubuh berwarna coklat keabu-abuan. tengah tubuh berwarna abu-abu muda dengan pita tipis berwarna ungu muda memanjang yang jelas berawal dari tutup insang hingga pangkal sirip ekor. Ordo Gonorynchiformes . serta bentuk sirip ekor forked (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). bentuk mulut penghisap berbentuk seperti cakram. Ikan ini termasuk genus Mystus. dan bentuk sirip ekor forked (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). tengah tubuh dengan garis tegak berwarna coklat dan hitam. berupa misai hidung mencapai mata dan misai rahang atas memanjang hampir mencapai sirip dubur.

50

Menurut

Kottelat,

dkk.

(1993)

ikan

bandeng

termasuk

ordo

Gonorynchiformes, famili Chanidae karena memiliki ciri morfologi, berupa sirip
perut terletak jauh di bawah awal sirip punggung dan sirip ekor panjang dan
bercagak dalam. Famili Chanidae hanya beranggotakan satu genus, yaitu Chanos.
Sampel ikan bandeng memiliki ciri morfologi, berupa bentuk mulut biasa, letak
mulut terminal, bentuk sisik sikloid, bentuk tubuh streamline, bagian atas tubuh
berwarna abu-abu, tengah tubuh berwarna perak, bawah tubuh berwarna putih,
bentuk sirip ekor panjang dan bercagak dalam seperti bulan sabit atau lunate
(Tabel 7 dan Lampiran 2 A). Ikan ini termasuk genus Chanos.
E. Ordo Synbranchiformes
Menurut

Kottelat,

dkk.

(1993)

ikan

berod

termasuk

ordo

Synbranchiformes, famili Mastacembelidae, dan genus Mastacembelus karena
memiliki ciri morfologi, berupa tubuh sangat panjang dengan ekor pipih datar,
tidak memiliki sirip perut, dan bagian moncong memanjang membentuk hidung
mancung. Sampel ikan berod memiliki ciri morfologi, berupa bentuk mulut
terompet pada bagian moncongnya memanjang membentuk hidung mancung dan
lubang hidungnya terletak di samping, letak mulut terminal, bentuk tubuh
mengular yang sangat panjang dengan barisan duri kecil sepanjang punggung di
depan jari-jari sirip punggung, bagian atas dan tengah tubuh masing-masing
memiliki dua garis horizontal berwarna coklat tua dan coklat muda kekuningan,
bagian bawah tubuh berwarna abu-abu kecoklatan, serta bentuk sirip ekor
membundar atau rounded (Tabel 7 dan Lampiran 2 A). Ikan ini termasuk genus
Mastacembelus.

Tabel 7. Ciri Morfologi Ikan yang Tertangkap

51
Kode
Sampel
Ikan

JM
(psg)

Letak
Mulut

Lwk

2

Terminal

Srn

2

Hml

Bentuk
Sisik

Warna Bercak
(TCF)

Bentuk
Tubuh

Bentuk
Sirip
Ekor

A. Ordo Cypriniformes
Sikloid
Ekor
0805

Compressed

Forked

Terminal

Sikloid

Streamline

Forked

1

Terminal

Sikloid

Badan
5314

Streamline

Forked

Ghk

1

Terminal

Sikloid

-

Compressed

Forked

Nlm

2

Subterminal

Sikloid

Compressed

Forked

Hke

2

Subterminal

Sikloid

Dada
0804

Streamline

Forked

-

Steamline

Emarginated

-

Compressed

Forked

Ekor
1013

Ekor
5415

Dada
0804

Ekor
6115

Sikloid
Pry

1

Terminal

Tws

-

Terminal

Sikloid

52
Kode
Sampel
Ikan

JM
(psg)

Letak
Mulut

Nla

-

Terminal

Mjr

-

Terminal

Bentuk
Sisik

Warna Bercak
(TCF)

Bentuk
Tubuh

Bentuk
Sirip
Ekor

Compressed

Truncate

Compressed

Truncate

Tutup
insang
1202

Compressed

Emarginated

-

Kepala
picak
Lonjong

Rounded

Depressed

Truncate

B. Ordo Perciformes
Stenoid
Tutup
insang Ekor
3903
1202

Stenoid

Tutup
insang
3903

Ekor
2213

Tubuh
5617

Spt

-

Terminal

Stenoid

Gbs

1

Terminal

Spu

1

Inferior

Ptn

2

Subterminal

-

Badan Badan
5506 5505

Kepala picak
Depressed

Forked

Sgl

4

Subterminal

-

Tutup insang
1011

Depressed

Forked

Stenoid

C. Ordo Siluriformes
Ganoid
-

berupa linea lateralis sejumlah satu baris sempurna sebanyak 28 sampai 31 sisik berpori. TCF = Toca Color Finder dengan kode 0805 = warna coklat kemerahan. (1993) spesies Barbodes balleroides memiliki ciri meristik. kode 6115 = warna coklat.53 Kode Sampel Ikan JM (psg) Letak Mulut Bentuk Sisik Warna Bercak (TCF) Bentuk Tubuh Bentuk Sirip Ekor Steamline Lunate Mengular Rounded D.3 Penentuan Spesies Berdasarkan Ciri Meristik Ikan Ciri meristik ikan yang tertangkap digunakan untuk menentukan spesies mengacu pada buku identifikasi (Kottelat. dkk. kode 5617 = warna hitam. 3 sisik antara awal sirip perut dengan sisik berpori. meliputi perhitungan jari-jari sirip dan sisik ikan (Tabel 8). dkk. 4. linea transversal sejumlah 6 sisik antara awal sirip punggung dengan sisik berpori. Ordo Gonorynchiformes Bnd - Terminal Brd - Terminal Sikloid - E. kode 1202 = warna merah muda. 1993). Ciri meristik ikan yang tertangkap. Ordo Synbranchiformes - Keterangan : JM = Jumlah Misai. kode 0804 = warna jingga muda. kode 5415 = warna abu-abu kehitaman. dan 16 sisik di sekeliling batang ekor. Sampel Ikan Lalawak adalah Barbodes balleroides Menurut Kottelat. kode 2213 = warna merah keunguan. kode 1013 = warna jingga tua kehitaman. Berdasarkan acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Barbodes balleroides (Tabel 8). serta kode 1011 = warna ungu muda. B. psg = pasang. Sampel Ikan Seren adalah Cyclocheilichthys repasson .4. kode 3903 = warna hijau toska. kode 5506 dan 5505 = warna abu-abu tua. kode 5314 = warna abu-abu. A.

54

Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Cyclocheilichthys repasson
memiliki ciri meristik, berupa 20 sisik di sekeliling batang ekor. ekor. Berdasarkan
acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Cyclocheilichthys
repasson (Tabel 8).
C. Sampel Ikan Hampal adalah Hampala macrolepidota
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Hampala macrolepidota memiliki
ciri meristik, berupa linea lateralis sejumlah satu baris sempurna sebanyak 25
sampai 30 sisik. Berdasarkan acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah
spesies Hampala macrolepidota (Tabel 8).
D. Sampel Ikan Genggehek adalah Mystacoleucus marginatus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Mystacoleucus marginatus memiliki
ciri meristik, berupa satu jari sirip keras atau duri di bagian depan sirip punggung.
Berdasarkan acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies
Mystacoleucus marginatus (Tabel 8).
E. Sampel Ikan Nilem adalah Osteochilus hasseltii
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Osteochilus hasseltii memiliki ciri
meristik, berupa 12 sampai 18 jari lunak pada sirip punggung, linea transversal
sejumlah 5 sisik antara awal sirip punggung dengan sisik berpori, dan 16 sisik di
sekeliling bagian batang ekor. Berdasarkan acuan dibandingkan dengan sampel
ikan ini adalah spesies Osteochilus hasseltii (Tabel 8).
F. Sampel Ikan Hike adalah Osteochilus microcephalus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Osteochilus microcephalus
memiliki ciri meristik, berupa 10 sampai 13 jari sirip lunak pada sirip punggung,
linea lateralis sejumlah satu baris sempurna sebanyak 32 sampai 33 sisik berpori,
dan 16 sisik di sekeliling batang ekor. Berdasarkan acuan dibandingkan dengan
sampel ikan ini adalah spesies Osteochilus microcephalus (Tabel 8).
G. Sampel Ikan Paray adalah Rasbora argyrotaenia

55

Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Rasbora argyrotaenia memiliki ciri
meristik, berupa 14 sisik di sekeliling batang ekor. Berdasarkan acuan
dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Rasbora argyrotaenia (Tabel 8).

H. Sampel Ikan Tawes adalah Barbodes gonionotus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Barbodes gonionotus memiliki ciri
meristik, berupa 6 jari sirip lunak pada sirip dubur, linea lateralis sejumlah satu
baris sempurna sebanyak 29 sampai 31 sisik berpori, dan linea transversal
sebanyak 3 sisik antara awal sirip perut dengan sisik berpori. Berdasarkan acuan
dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Barbodes gonionotus (Tabel 8).

I. Sampel Ikan Nila adalah Oreochromis niloticus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Oreochromis niloticus memiliki ciri
meristik, berupa 16 sampai 17 jari sirip keras pada sirip punggung, 11 sampai 15
jari sirip lunak pada sirip punggung, 3 jari sirip keras pada sirip dubur, dan 8
sampai 11 jari sirip lunak pada sirip dubur. Berdasarkan acuan dibandingkan
dengan sampel ikan ini adalah spesies Oreochromis niloticus (Tabel 8).
J. Sampel Ikan Mujair adalah Oreochromis mossambicus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Oreochromis mossambicus memiliki
ciri meristik, berupa 15 sampai 17 jari sirip keras pada sirip punggung, 10 sampai
13 jari sirip lunak pada sirip punggung, 3 jari sirip keras pada sirip dubur, dan 9
sampai 12 jari sirip lunak pada sirip dubur. Berdasarkan acuan dibandingkan
dengan sampel ikan ini adalah spesies Oreochromis mossambicus (Tabel 8).
K. Sampel Ikan Sepat adalah Trichogaster pectoralis
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Trichogaster pectoralis memiliki
ciri meristik, berupa 7 jari sirip keras pada sirip punggung, 10 sampai 11 jari sirip
lunak pada sirip punggung, 9 jari sirip keras pada sirip dubur, dan 36 sampai 38
jari sirip lunak pada sirip dubur. Berdasarkan acuan dibandingkan dengan sampel
ikan ini adalah spesies Trichogaster pectoralis (Tabel 8).

56

L. Sampel Ikan Gabus adalah Channa striata
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Channa striata memiliki ciri
meristik, berupa 38 sampai 43 jari sirip lunak pada sirip punggung, 23 sampai 27
jari sirip lunak pada sirip dubur, dan 52 sampai 57 sisik berpori. Berdasarkan
acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Channa striata (Tabel 8).

M. Sampel Ikan Sapu-sapu adalah Liposarcus pardalis
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Liposarcus pardalis memiliki ciri
meristik, berupa 10 sampai 13 jari sirip lunak pada sirip punggung. Berdasarkan
acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Liposarcus pardalis
(Tabel 8).
N. Sampel Ikan Patin adalah Pangasius hypophthalmus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Pangasius hypophthalmus memiliki
ciri meristik, berupa masing-masing 7 sirip lunak pada sirip dada. Berdasarkan
acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Pangasius
hypophthalmus (Tabel 8).
O. Sampel Ikan Senggal adalah Mystus nemurus
Menurut Kottelat, dkk. (1993) spesies Mystus nemurus memiliki ciri
meristik, berupa 12 sampai 13 sirip lunak pada sirip dubur. Berdasarkan acuan
dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Mystus nemurus (Tabel 8).
P. Sampel Ikan Bandeng adalah Chanos chanos
Menurut Kottelat, dkk. (1993) famili Chanidae hanya memiliki satu
spesies Chanos chanos, yaitu ikan bandeng. Sampel ikan bandeng memiliki ciri
meristik, berupa pada sirip punggung terdapat 2 jari sirip keras, 1 jari sirip lunak
mengeras, dan 10 jari sirip lunak. Sirip dada terdapat 2 jari sirip keras dan 32 jari
sirip lunak. Sirip perut terdapat 22 jari sirip lunak dan sirip ekor terdapat 7 jari
sirip keras dan 20 jari sirip lunak. Sampel ikan bandeng memiliki linea lateralis

C VI–XI. dan 14 sampai 15 jari sirip lunak pada sirip ekor. P 22. 16–18. Tabel 8. V 18. P 20. dan BE 8–14 H. V 16–18. 7–9. 16 L1. VOrigin Ltr 13½. DOrigin Ltr 3½. VOrigin Ltr 4½. dan BE 14–16 F. C V. C II. AOrigin Ltr 4½.1. L2.(1993) spesies Mastacembelus erythrotaenia memiliki ciri meristik. VOrigin Ltr 5½. P 20–24. VOrigin Ltr 5½.16. A I. i. 16–20 L1. dan BE 14 E.7–9. C IV–IX. A II. VOrigin Ltr 4½. P 20–28. 68 sampai 76 jari sirip lemah pada sirip punggung.7. i.28. 6–7. ii. Q. VOrigin Ltr 4½. Pry Spesies : Rasbora argyrotaenia D1 8. 6. 11–14. DOrigin Ltr 5½.32–33. DOrigin Ltr 7½. V II. dan BE 14–20 C.1. V II. 7. 16–19 L1.26–30.20. P 20. Ciri Meristik Ikan yang Tertangkap Kode Sampel Ikan A. DOrigin Ltr 4½. DOrigin Ltr 6½. 16 L1. AOrigin Ltr 3½. VOrigin Ltr 3½. A I. i. P 20–28. 6–7. AOrigin Ltr 4½. Nlm Spesies : Osteochilus hasseltii D1 I. 9.8–9.57 sejumlah satu baris sempurna sebanyak 32 sisik berpori (Tabel 8). DOrigin Ltr 6½. 68 sampai 73 jari sirip lunak pada sirip dubur. P 24–32. 18 L1. dan BE 12 D.26–30. 7. AOrigin Ltr 3½. C IV–VI.1.29. Berdasarkan acuan dibandingkan dengan sampel ikan ini adalah spesies Mastacembelus erythrotaenia (Tabel 8). 6–7. dan BE 14 I. C IV. AOrigin Ltr 3½. A I–II. C IV. Ikan ini adalah spesies Chanos chanos. Srn Spesies : Cyclocheilichthys repasson D1 I. dan BE 14–16 G. Tws Spesies : Barbodes gonionotus D1 I. dan BE 14–16 B. Sampel Ikan Berod adalah Mastacembelus erythrotaenia Menurut Kottelat. DOrigin Ltr 6½. A II. A 6. AOrigin Ltr 5½. V 18.1.28–30. A II. VOrigin Ltr 4½. 19 L1. P 24–28. 13. AOrigin Ltr 4½. VOrigin Ltr 4½. 16. A I.28–30. 14–16. 15–17. dkk. dan BE 16 . V II. 16–19 L1. AOrigin Ltr 3½. DOrigin Ltr 2½.1. C IV. 20 L1. 16. C IV–VI. Nla Spesies : Oreochromis niloticus D1 XV. A I. berupa 32 sampai 35 jari sirip keras pada sirip punggung.1.30.8.1.1/2. V II. DOrigin Ltr 5½. P 20. 10. Ghk Spesies : Mystacoleucus marginatus D1 I. i. AOrigin Ltr 12½.8. V II. Lwk Spesies : Barbodesballeroides Jari-jari Sirip Ikan D1 I.1. Hml Spesies : Hampala macrolepidota D1 I. V 16. 14–22 Sisik Ikan L1.1. Hke Spesies : Osteochilus microcephalus D1 I.

AOrigin Ltr 9½. AOrigin Ltr 26½. L = Linea Lateralis. P = Sirip Pektoral. C II. AOrigin Ltr 6½.14. dan BE 10 O. 18–20 L1.1. dan BE 32 L. V 14. A = Sirip Anal. 9–10.5–6 . 62. 12–14. V II. AOrigin Ltr 12½. A IX. P II. C VII. dan BE 16 M. 10. Spt Spesies : Trichogaster pectoralis D1 VII. P 21. dan BE 24 Q. V = Sirip Ventral. sebanyak dua kali dalam satu bulan yang ditetapkan setiap tanggal 1 bulan baru (new moon) dan tanggal 14 bulan purnama (full moon) dengan cara melihat kalender bulan (Qomariah) tahun Hijriyah. V 22. C 16 L. ii. VOrigin = Garis rusuk ventral. A i. Spu Spesies : Liposarcus pardalis N. Bulan baru dan bulan purnama menyebabkan pasang tertinggi dan surut terendah karena terdapat gaya gravitasi dan efek sentrifugal.1. 4. Mjr Spesies : Oreochromis mossambicus Jari-jari Sirip Ikan D1 XVI.5 Inventarisasi Ikan yang Tertangkap selama Penelitian Pengambilan sampel ikan dilakukan pada malam hari. Sirip Lemak. 13 D1 I. Ptn Spesies : Pangasius hypophthalmus D1 I. C IX–X. A 5.1.29. dan BE 16 K.10. A 12. C 14 - - Keterangan : D = Sirip Dorsal. Sirip Lemak. A 27. DOrigin Ltr 10½. C VI. Senggal Spesies : Mystus nemurus D1 I. Sirip Lemak. 16 Sisik Ikan L1. VOrigin Ltr 28½. VOrigin Ltr 7. Menurut Sumijo (2011) jumlah ikan yang ditangkap saat volume air pasang lebih banyak dibandingkan saat volume air surut. P i. i. 16.52. V II. VOrigin Ltr 14½. 30–31. angka romawi kecil = Jari sirip Lunak Mengeras (LM).58 Kode Sampel Ikan J. A III. 20. VOrigin Ltr 14½. C II. 8–11. P II. i.20–22. angka romawi besar = Jari sirip Keras (K). Sirip Lemak. 11–13. Ltr = Linea transversal. V 2. L2. V II. V II.32. supaya didapatkan hasil tangkapan baik jumlah maupun jenis ikan yang optimal. angka latin = Jari sirip Lunak (L). Berod Spesies : Mastacembelus erythrotaenia D1 XXXII. 12. 7. AOrigin 2½.16–18. Gbs Spesies : Channa striata D1 43.1/2. A II. 14 L1. P 32. Menurut Fargomeli . DOrigin Ltr 3½. P II.1. Bandeng Spesies : Chanos chanos D1 II. C = Sirip Caudal. C IV.1. P 24–48. P 16–20. 32. 68. DOrigin = Garis rusuk dorsal.6. DOrigin Ltr 5½. 21 - P. DOrigin 3½. 20 L.62–68.6. dan BE = Batang Ekor. AOrigin = Garis rusuk anal. VOrigin 3½. DOrigin Ltr 12½. 36. 10. A III.

terdiri dari kawanan ikan yang tertangkap sebanyak 287 ekor ikan dari 13 jenis ikan pada tanggal 10 Februari bertepatan dengan 1 Jumadil Awwal.59 (2014) pada saat bulan purnama mempengaruhi kawanan ikan. sehingga jumlahnya sedikit dan jarang tertangkap (Tabel 9). 10 Maret bertepatan dengan 1 Jumadil Akhirah. umumnya ikan sedang kawin atau membuahi telur dan melepas telurnya. dan berod memiliki pola hidup beradaptasi rendah. suatu jenis ikan yang memiliki pola hidup beradaptasi tinggi akan memiliki jumlah yang banyak. senggal. karena aktivitas ikan makan bertambah. Inventarisasi jumlah ikan digunakan untuk mengetahui tingkat persentasi jenis ikan yang jarang tertangkap sampai sering tertangkap. Jenis ikan yang sering tertangkap adalah ikan lalawak. hal ini sesuai dengan pernyataan menurut Fargomeli (2014) pada saat bulan baru. dan 8 April 2016 bertepatan dengan 1 Rajab 1437 H. ikan mudah ditangkap. sebaliknya pada saat bulan baru mempengaruhi kawanan ikan. sehingga ikan tersebut mudah ditangkap. Jumlah ikan keseluruhan selama penelitian didapatkan sebanyak 449 ekor ikan. ikan sangat sulit ditangkap. Jumlah ikan yang tertangkap selama bulan baru lebih banyak daripada bulan purnama. kawanan ikan memiliki aktivitas makan yang bertambah. 23 Maret bertepatan dengan 14 Jumadil Akhirah. . gabus. hampal. Berdasarkan pernyataan tersebut menunjukan bahwa ikan seren. dan 21 April 2016 bertepatan dengan 14 Rajab 1437 H (Tabel 9). hal ini sesuai dengan pendapat Djuhanda (1981) keberadaan suatu jenis ikan di suatu habitat dan jumlah populasi ikan dipengaruhi oleh pola hidup jenis ikan tersebut. paray. nila. karena aktivitas ikan makan berkurang. sapu-sapu. umumnya ikan berfototaksis positif dan ikan predator naik ke permukaan air mengejar mangsa yang berfototaksis positif. dan mujair (Tabel 9). sedangkan kawanan ikan yang tertangkap sebanyak 162 ekor ikan dari 12 jenis ikan pada tanggal 23 Februari bertepatan dengan 14 Jumadil Awwal.

56 (+) 0.24 (+++) 0.22 (+) 11.60 Tabel 9.22 (+) 10.80 (+++) 2.13 (+++) 0.22 .45 (+) 0.22 (+) 0.89 (+) 0. Jumlah Ikan yang Tertangkap selama Penelitian Jenis Ikan Lalawak (Barbodes balleroides) Seren (Cyclocheilichthys repasson) Hampal (Hampala macrolepidota) Genggehek (Mystacoleucus marginatus) Nilem (Osteochilus hasseltii) Hike (Osteochilus microcephalus) Paray (Rasbora argyrotaenia) Tawes (Barbodes gonionotus) Nila (Oreochromis niloticus) Mujair (Oreochromis mossambicus) Sepat (Trichogaster pectoralis) Gabus Bulan (Qomariyah) Tgl 1 Tgl 14 (ekor) (ekor) 139 122 Jumlah (ekor) 261 1 0 1 39 14 53 4 6 10 1 6 7 1 3 4 0 1 1 0 2 2 1 0 1 45 1 46 1 2 3 1 0 1 % 58.23 (++) 1.67 (+) 0.

23 Maret (14 Jumadil Akhirah). dan + = Jarang tertangkap Suksesi adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil atau homeostatis. sehingga bertambah 2 jenis ikan. dan patin (Gambar 6 dan Lampiran 2 C).22 (Mystus nemurus) (+) Bandeng 30 0 30 6. genggehek. Sampel ikan pertama didapatkan sebanyak 5 jenis ikan. Sampel ikan ke-dua didapatkan sebanyak 7 jenis ikan. dan seren. sepat.61 Jenis Ikan Bulan (Qomariyah) Tgl 1 Tgl 14 (ekor) (ekor) Jumlah (ekor) % (Channa striata) (+) Sapu-sapu 1 0 1 0. nila. sehingga bertambah 2 jenis ikan.22 (Mastacembelus erythrotaenia) (+) Jumlah Individu 287 162 449 100 Jumlah Jenis 13 12 17 Keterangan : Tgl 1 Bulan Baru = Tanggal 10 Februari (1 Jumadil Awwal).79 (Pangasius hypophthalmus) (++) Senggal 0 1 1 0. dan 8 April 2016 (1 Rajab 1437 H). yaitu ikan mujair dan bandeng. sehingga bertambah 4 jenis ikan. Sampel ikan ke-tiga didapatkan sebanyak 6 jenis ikan. yaitu ikan lalawak.68 (Chanos chanos) (++) Berod 0 1 1 0. +++ = Sering tertangkap. ++ = Agak sering tertangkap. hike. Sampel ikan ke-lima didapatkan sebanyak 8 jenis ikan. Tahap awal suksesi di Waduk Jatigede dapat diketahui dengan cara mengamati perubahan komunitas ikan berdasarkan pengambilan sampel ikan. Tgl 14 Bulan Purnama = Tanggal 23 Februari (14 Jumadil Awwal). Sampel ikan . yaitu ikan nilem. 21 April 2016 (14 Rajab 1437 H). hampal. yaitu ikan gabus dan sapu-sapu. yaitu ikan lalawak dan hampal. Sampel ikan ke-empat didapatkan sebanyak 2 jenis ikan.22 (Liposarcus pardalis) (+) Patin 23 3 26 5. sehingga tidak ada penambahan jenis ikan. 10 Maret (1 Jumadil Akhirah).

Perubahan Komunitas Ikan Berod Senggal Patin JumlahSepat Ikan Lalawak Tawes 100% 80% 60% Hike 40% 20% 0% Paray Sapu-sapu Gabus Nilem Nila 1 2 Bandeng Genggehek Hampal 3 4 5 6 Pengambilan Sampel ke- Gambar 6. kecuali sampel ikan ke-tiga dan ke-empat didapatkan jenisnya mengalami penurunan dilihat dari jenis ikan yang tertangkap masing-masing sebanyak 6 dan 2 jenis (Gambar 6 dan Lampiran 2 C). dan berod (Gambar 6 dan Lampiran 2 C). Penurunan jenis ikan tersebut karena pengambilan sampel ikan dilakukaan saat hujan deras. yaitu ikan paray. sehingga bertambah 4 jenis ikan. senggal.62 terakhir didapatkan sebanyak 12 jenis ikan. tawes. Diagram Batang Perubahan Komunitas Ikan di Waduk Jatigede Jenis ikan di Waduk Jatigede pada tahap inundasi awal didapatkan sebanyak 9 famili terdiri dari 17 spesies ikan lebih banyak dibandingkan dengan Mujair Seren . Sampel ikan yang didapatkan jenisnya terus meningkat.

sehingga faktor lingkungan dan lokasi pengambilan sampel yang berbeda sangat menentukan ukuran ikan yang tertangkap. hike. dan patin memiliki kisaran bobot dan panjang total ikan yang luas atau ukuran yang beragam. Tidak tertangkap jenis ikan tersebut diduga karena terjadi perubahan ekosistem yang menyebabkan volume air bertambah. tawes. Ikan lalawak. dan bandeng memiliki kisaran panjang bobot dan panjang total ikan yang sempit atau ukuran yang seragam (Tabel 10). sedangkan jenis ikan pada penelitian sebelumnya oleh Putra (2011) dan tidak tertangkap selama penelitian ini. jeler (Lepidocephalichthys hasselti). sedangkan ikan genggehek. sepat. Ikan hampal yang tertangkap selama penelitian memiliki bobot maksimal 168g dan panjang total maksimal 248 mm lebih tinggi pertumbuhannya jika dibandingkan dengan ikan hampal hasil penelitian Putra (2011) maksimal bobot maksimal 44. sehingga ikan tersebut memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan kemungkinan karena keberadaan populasinya yang mulai menurun. Inventarisasi ukuran ikan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan dari jenis ikan tersebut. mujair. nilem. karena terbawa arus sungai yang masuk ke waduk.5g dan panjang total . Hal ini diduga karena kondisi volume air di waduk yang belum stabil. yaitu ikan kancra (Tor duorensis).3g dan panjang total maksimal 160 mm (Tabel 10). lele (Clarias batrachus).63 hasil penelitian Putra (2011) mengenai komunitas ikan di Sungai Cimanuk pada area rencana pembangunan Waduk Jatigede didapatkan sebanyak 7 famili terdiri dari 12 spesies ikan. hampal. dan kehkel (Glyplothorax platypogon). Inventarisasi jenis selama penelitian didapatkan sebanyak 7 spesies ikan yang sama dengan jenis ikan pada penelitian sebelumnya (Andani 2016). Ikan gabus yang tertangkap selama penelitian memiliki bobot maksimal 92g dan panjang total maksimal 215 mm lebih tinggi pertumbuhannya jika dibandingkan dengan ikan gabus hasil penelitian Putra (2011) bobot maksimal 24. beunteur (Puntius binotatus). Hal ini sesuai dengan Rahmawaty (2002) bahwa ekologis ikan pada awal penggenangan akan meningkat dilihat dari jumlah jenisnya.

Famili Cyprinidae Lalawak (Barbodes balleroides) Seren (Cyclocheilichthys repasson) Hampal (Hampala macrolepidota) Genggehek (Mystacoleucus marginatus) Nilem (Osteochilus hasseltii) Hike (Osteochilus microcephalus) Paray (Rasbora argyrotaenia) Tawes (Barbodes gonionotus) 2.0–78.21 97–121 100–160 29. sehingga ikan hampal dan gabus dapat tumbuh cepat di Waduk Jatigede yang merupakan perairan baru.21 56–185 90–251 8.0 40. Tabel 10. Ukuran Bobot dan Panjang Total Ikan yang Tertangkap Bobot (g) Kisaran Jenis Ikan 1.0–30.0 - 149–174 - 3.0 - 113–118 - 11.0 20. kemudian masuk ke Waduk Jatigede yang merupakan perairan baru.0–128.4 - 67 - 19.30 107–248 150–160 11.0 25.0–168.98–275.2 - 78 - 106.64 maksimal 80 mm (Tabel 10).0–543. Famili Cichlidae Nila (Oreochromis niloticus) Mujair (Oreochromis mossambicus) TL (mm) Kisaran Andani Putra (2011) (2016) Andani (2016) Putra (2011) 2.0–22. Ikan sapu-sapu yang tertangkap selama penelitian memiliki bobot maksimal 18g dan panjang total maksimal 133 mm.0 - 174–278 - . Hal ini diduga karena ikan sapu-sapu merupakan indikator perairan tercemar yang berasal dari sungai.0 - 133–230 - 33.6 - 89 - 11.0–47. Hal ini diduga karena ikan hampal dan gabus merupakan ikan yang bersifat predator dan tergolong mudah beradaptasi.00–44. lebih rendah pertumbuhannya jika dibandingkan dengan ikan sapu-sapu hasil penelitian Putra (2011) memiliki bobot maksimal 129g dan panjang total maksimal 290 mm (Tabel 10).30–80. sehingga ikan sapu-sapu tumbuh lambat dan perlu waktu beradaptasi.

tawes. Famili Bagridae Senggal (Mystus nemurus) 66.0 13. nilem.00–5. dan hike.0–225.33 193 50–75 8.0–90.65 Bobot (g) Kisaran Jenis TL (mm) Kisaran Andani Putra (2011) (2016) Andani (2016) Putra (2011) 16.25–129.10–24.0 - 112–174 - 4.0 - 300–316 - 80. (2001) menyatakan bahwa untuk mempertahankan kelestarian populasi diharapkan perbandingan antara ikan jantan dengan ikan betina berada dalam kondisi seimbang atau sedapat-dapatnya jumlah ikan betina lebih banyak dari jumlah ikan jantan.0–83. paray.7 3.50 215 70–80 5. Berdasarkan pernyataan tersebut menunjukan bahwa ikan seren.0 5. Purwanto et al.0 - 215–289 - 7. Famili Channidae Gabus (Channa striata) 92. gabus.00–87. Famili Pangasiidae Patin (Pangasius hypophthalmus) 9. nila. Famili Mastacembelidae Berod (Mastacembelus erythrotaenia) Keterangan : TL = Total Length Inventarisasi jenis kelamin ikan selama penelitian didapatkan rasio gonad antara ikan jantan sama dengan ikan betina artinya berada dalam kondisi seimbang atau rasio 1 : 1. (1986) dalam Sulistiono dkk. Famili Osphronemidae Sepat (Trichogaster pectoralis) 6. hampal. Famili Loricariidae Sapu-sapu (Liposarcus pardalis) 18.0 20. . sepat.50 290 80–265 Ikan 3.00 133 75–290 85. genggehek. Famili Chanidae Bandeng (Chanos chanos) 86. yaitu ikan lalawak. kecuali ikan sepat dengan rasio gonad antara ikan jantan lebih banyak daripada ikan betina artinya berada dalam kondisi tidak seimbang atau rasio 2 : 1 (Tabel 11).

senggal. Tabel 11.66 sapu-sapu. Komposisi Jenis Kelamin Ikan selama Penelitian Jenis Ikan Jumlah (ekor) 261 Gonad ♂ ♀ 134 127 Lalawak (Barbodes balleroides) Seren 1 1 0 (Cyclocheilichthys repasson) Hampal 53 46 7 (Hampala macrolepidota) Genggehek 10 4 6 (Mystacoleucus marginatus) Nilem 7 7 0 (Osteochilus hasseltii) Hike 4 2 2 (Osteochilus microcephalus) Paray 1 1 0 (Rasbora argyrotaenia) Tawes 2 2 0 (Barbodes gonionotus) Nila 1 1 0 (Oreochromis niloticus) Mujair 46 6 40 (Oreochromis mossambicus) Sepat 3 2 1 (Trichogaster pectoralis) Gabus 1 1 0 (Channa striata) Sapu-sapu 1 1 0 (Liposarcus pardalis) Patin 26 20 6 (Pangasius hypophthalmus) Senggal 1 1 0 (Mystus nemurus) Bandeng 30 30 0 (Chanos chanos) Berod 1 1 0 (Mastacembelus erythrotaenia) Keterangan : Gonad ♂ = Jenis Kelamin Jantan dan Gonad ♀ = Jenis Kelamin Betina 4. selain itu substrat perairan di inlet Waduk Jatigede tersedia .1 Rasio Gonad 1:1 1:1 1:1 2:1 - Komunitas Ikan di Stasiun I Stasiun I terletak pada koordinat S 06055’30.60” E 108005’14.5. patin. bandeng.30” merupakan inlet yang menerima masukan air sekaligus nutrien atau allohtonous dari Sungai Cimanuk. dan berod selama penelitian berada dalam kondisi tidak seimbang (Tabel 11).

tegalan. dan didominasi oleh sisa-sisa bagunan pemukiman warga (Lampiran 1 A). genggehek. Jenis ikan yang paling banyak terdapat di inlet Waduk Jatigede. inlet Waduk Jatigede meluap. Hasil pengambilan sampel ikan di inlet Waduk Jatigede didapatkan sebanyak 5 ekor ikan terdiri dari 4 jenis ikan. hampal. diantaranya tekanan air yang masuk dari Sungai Cimanuk sangat besar. Pengambilan sampel ikan di inlet Waduk Jatigede hanya dilakukan satu kali pengambilan pada awal bulan Februari 2016 saat elevasi 221 mdpl. pekarangan. Hal ini disebabkan oleh kondisi lapangan yang tidak mendukung. dan nila masing-masing sebesar 20%. sedangkan jenis ikan yang paling sedikit. yaitu ikan lalawak. dan akses jalan yang terputus. Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun I . yaitu ikan hampal. I Lalawak Seren Hampal Genggehek Nilem Hike Paray Tawes 20% 40% Nila Mujair Sepat 20% Gabus Sapu-sapu Patin Senggal Bandeng 20% Berod Gambar 7.67 nutrien atau autotonous yang berasal dari habitat yang digenangi berupa kebun. dan nila (Gambar 7 dan Tabel 12). kolam. yaitu ikan lalawak sebesar 40%. Kelimpahan Ikan di St. sawah. genggehek.

Substrat perairan di Anak Sungai Cihonje sama seperti inlet Waduk Jatigede didominasi oleh sisa-sisa bagunan pemukiman warga yang digenangi (Lampiran 1 B). sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila E ≥ 0. hal ini menunjukkan bahwa tingkat keseragaman ikan di inlet Waduk Jatigede tinggi.90” merupakan area genangan yang dialiri oleh Anak Sungai Cihonje.2 Jenis Ikan Lalawak (Barbodes balleroides) Hampal (Hampala macrolepidota) Genggehek (Mystacoleucus marginatus) Nila (Oreochromis niloticus) Jumlah Jumlah Ikan (ekor) 2 Persentasi Kelimpaha n Ikan (%) 40 1 20 1 20 1 20 5 100 (H’) (E) 1. 1 2 3 4 4. sehingga komunitas ikan tersebut memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan perubahan ekosistem dari lotik menjadi lentik. .68 Hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener adalah 1. maka keanekaragaman rendah. Tabel 12.33 0.33 (Tabel 12).3. Hasil perhitungan indeks keseragaman Evenness adalah 0.5. Hal ini karena inlet Waduk Jatigede merupakan area pertama yang menerima masukan air dari Sungai Cimanuk yang berarus cepat kemudian memasuki Waduk Jatigede yang berarus lambat atau cenderung menggenang. sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila H’ ≤ 2.30” E 108004’17.96 Komunitas Ikan di Stasiun II Stasiun II terletak pada koordinat S 06052’20.6 atau mendekati 1 maka keseragaman tinggi atau tidak ada jenis ikan yang mendominasi. hal ini menunjukan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di inlet Waduk Jatigede rendah.96 (Tabel 12). Komunitas Ikan di Stasiun I No.

Hal ini disebabkan oleh kondisi lapangan yang tidak mendukung. Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun II . yaitu ikan lalawak sebesar 82%. Hal ini menunjukan bahwa ikan seren mengalami penurun populasi. diantaranya tekanan air yang masuk dari Anak Sungai Cihonje sangat besar. seren dan lalawak (Gambar 8 dan Tabel 13). tingginya kelimpahan ikan hampal diduga karena kemampuannya dalam bertahan sebagai predator dengan memangsa ikan yang memiliki tubuh berukuran lebih kecil atau sama dengannya. Kelimpahan Ikan di St.69 Pengambilan sampel ikan di Anak Sungai Cihonje dilakukan dua kali pengambilan pada awal bulan Februari 2016 saat elevasi 221 mdpl dan akhir bulan Maret 2016 saat elevasi 247 mdpl. sedangkan ikan seren didapatkan sebesar 2% dan hanya didapatkan pada awal bulan Februari saat elevasi 221 mdpl. yaitu ikan lalawak. dan akses jalan yang terputus. Waduk Jatigede meluap. kemudian ikan hampal sebesar 16%. II 16% 2% Lalawak Seren Hampal 82% Gambar 8. Jenis ikan yang paling banyak terdapat di Anak Sungai Cihonje. Hasil pengambilan sampel ikan di Anak Sungai Cihonje didapatkan sebanyak 45 ekor ikan terdiri dari 3 jenis ikan.

70 Hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener adalah 0.49 Komunitas Ikan di Stasiun III Stasiun III terletak pada koordinat S 06053’15.49 (Tabel 13). Hasil perhitungan indeks keseragaman Evenness adalah 0. Tabel 13. yaitu 3 jenis (Tabel 13).4 < E ≤ 0. Substrat perairan di area genangan didominasi oleh sawah yang digenangi (Lampiran 1 C).6.54 (Tabel 13). Rendahnya keanekaragaman ikan di Anak Sungai Cihonje diduga karena perubahan ekosistem yang mengalami perlambatan arus. sehingga area genangan diduga akan sesuai . maka keseragaman ikan sedang atau terdapat jenis ikan yang mendominasi. 1 2 3 4. sehingga komunitas ikan tersebut memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. hal ini menunjukan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di Anak Sungai Cihonje rendah.3 Jenis Ikan Lalawak (Barbodes balleroides) Seren (Cyclocheilichthys repasson) Hampal (Hampala macrolepidota) Jumlah Jumlah (ekor) 37 Persentasi Kelimpahan Ikan (%) 82 1 2 7 16 45 100 (H’) (E) 0.70” merupakan area genangan yang menerima tambahan masukan air dari Anak Sungai Cibayawak.3.00” E 108004’46. maka keanekaragaman rendah. sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila H’ ≤ 2. hal ini menunjukkan bahwa tingkat keseragaman ikan di Anak Sungai Cihonje sedang.54 0.5. hal ini karena jenis ikan yang tertangkap hanya sedikit. sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila 0. Komunitas Ikan di Stasiun II No . Indeks keanekaragaman ikan di Anak Sungai Cihonje merupakan indeks terkecil dibandingkan dengan stasiun lainnya.

yaitu ikan nilem. sepat dan senggal masing-masing sebesar 0. genggehek. berarus lambat. sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila H’ ≤ 2. maka keanekaragaman rendah. Kelimpahan Ikan di St. Jenis ikan yang paling banyak terdapat di area genangan. patin. sepat. paray. hal ini menunjukan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di area genangan rendah. nilem. hampal. dan bersubstrat tanah lunak. sedangkan jenis ikan yang paling sedikit. dan senggal (Gambar 9 dan Tabel 14). Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun III Hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener adalah 0.81 (Tabel 14). yaitu ikan lalawak sebesar 82. tawes. Hasil pengambilan sampel ikan di area genangan didapatkan sebanyak 107 ekor ikan yang terdiri dari 10 jenis ikan. hike. sehingga komunitas ikan tersebut memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan . dan bersubstrat batuan menjadi area genangan yang dalam.24%. III 1% 2% 1% 2% Hike Lalawak Seren Hampal Genggehek 1% Nilem 4% Mujair Sepat Gabus 6% 1% 1% Sapu-sapu Paray Tawes Nila Patin 82% Senggal Bandeng Berod Gambar 9. yaitu ikan lalawak. berarus cepat. hike.93%. Rendahnya keanekaragaman ikan diduga karena perubahan ekosistem Anak Sungai Cibayawak yang dangkal.71 sebagai habitat untuk ikan pemakan tumbuhan (herbivor) dan ikan pemakan detritus (detritivor).3. paray.

87 1 0. maka keseragaman ikan rendah atau terdapat jenis ikan yang mendominasi. Hasil perhitungan indeks keseragaman Evenness adalah 0.93 107 100 Komunitas Ikan di Stasiun IV (H’) (E) 0.74 1 0.72 lingkungan baru.81 0.93 2 1.36 (Tabel 14). Tabel 14.93 1 0. Komunitas Ikan di Stasiun III No.4 Jenis Ikan Lalawak (Barbodes balleroides) Hampal (Hampala macrolepidota) Genggehek (Mystacoleucus marginatus) Nilem (Osteochilus hasseltii) Hike (Osteochilus microcephalus) Paray (Rasbora argyrotaenia) Tawes (Barbodes gonionotus) Sepat (Trichogaster pectoralis) Patin (Pangasius hypophthalmus) Senggal (Mystus nemurus) Jumlah Jumlah (ekor) 88 Persentasi Kelimpahan Ikan (%) 82.93 1 0. hal ini karena ikan lalawak yang didapatkan dalam jumlah individu yang lebih besar dibandingkan antar jenis ikan lainnya (Tabel 14).87 1 0.4.36 . hal ini menunjukkan bahwa tingkat keseragaman ikan di area genangan rendah. terutama jenis ikan senggal yang baru tertangkap pada akhir bulan April 2016 saat elevasi 259 mdpl.61 4 3. sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila E ≤ 0.24 6 5.93 2 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 4.5.

bandeng dan berod (Gambar 10 dan Tabel 15). hampal.34%. patin. mujair sebesar 15. dan berod masing-masing sebesar 0. sehingga komunitas ikan tersebut memerlukan waktu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. dan patin sebesar 8. Indeks keanekaragaman ikan di outlet Waduk Jatigede merupakan indeks terbesar dibandingkan dengan stasiun lainnya. sepat.65 (Tabel 15). Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila H’ ≤ 2. hal ini karena outlet Waduk . sapusapu. Hal ini karena outlet Waduk Jatigede merupakan area yang terdapat kegiatan membuka dan menutup lorong atau pintu air keluar untuk mengontrol debit air di Waduk Jatigede. nilem. genggehek. yaitu ikan lalawak sebesar 45. gabus. Diagram Lingkaran Kelimpahan Ikan di Stasiun IV Hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener adalah 1.22%.4” E 10805’53.3.73 Stasiun IV terletak pada koordinat S 6051’27. Jenis ikan yang paling banyak terdapat di outlet Waduk Jatigede. maka keanekaragaman rendah. hampal sebesar 13. sehingga outlet Waduk Jatigede diduga akan sesuai sebagai habitat untuk ikan pemakan tumbuhan (herbivor) dan ikan pemakan detritus (detritivor). Substrat perairan di outlet Waduk Jatigede didominasi oleh kebun dan lahan kering pertanian yang digenangi (Lampiran 1 D). Pengambilan sampel ikan di outlet Waduk Jatigede selama penelitian didapatkan sebanyak 292 ekor ikan yang terdiri dari 12 spesies ikan yaitu ikan lalawak.27%. hike. sapu-sapu.75%.89%.36%. mujair. bandeng sebesar 10. Kelimpahan Ikan di St.7” merupakan outlet Waduk Jatigede yang airnya berasal dari Sungai Cimanuk dan Sungai Cinambo. sedangkan jenis ikan yang paling sedikit. yaitu ikan gabus. terutama pada ikan berod yang baru tertangkap pada akhir bulan April 2016 saat elevasi 259 mdpl. hal ini menunjukan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di outlet Waduk Jatigede rendah. IV 16%13%10%46%2%1%0%8% Gambar 10.

Hasil perhitungan indeks keseragaman Evenness adalah 0. Tabel 15.71 6 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 4.34 292 100 (H’) (E) 1.03 46 15. Komunitas Ikan di Stasiun IV No.74 Jatigede berasal dari dua sungai sekaligus penampungan terakhir.6. maka keseragaman ikan tinggi. Ikan lalawak dan hampal ditemukan pada semua stasiun penelitian.05 3 1.65 0. hal ini menunjukkan bahwa tingkat keseragaman ikan di outlet Waduk Jatigede tinggi. umumnya . yaitu 12 jenis ikan dengan jumlah 292 ekor ikan (Tabel 15). sehingga jenis dan jumlah ikan yang tertangkap paling banyak.34 24 8. sesuai dengan Brower dan Zar (1977) dalam Arif (2012) menyatakan bahwa apabila E > 0.22 30 10.34 1 0.89 39 13.68 1 0.6 Jenis Ikan Lalawak (Barbodes balleroides) Hampal (Hampala macrolepidota) Genggehek (Mystacoleucus marginatus) Nilem (Osteochilus hasseltii) Hike (Osteochilus microcephalus) Mujair (Oreochromis mossambicus) Sepat (Trichogaster pectoralis) Gabus (Channa striata) Sapu-sapu (Liposarcus pardalis) Patin (Pangasius hypophthalmus) Bandeng (Chanos chanos) Berod (Mastacembelus erythrotaenia) Jumlah Jumlah (ekor) 134 Persentasi Kelimpahan Ikan (%) 45.36 5 1.66 Parameter Kualitas Air di Waduk Jatigede selama Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan sebanyak dua kali pada empat stasiun yang berbeda di Waduk Jatigede selama penelitian didapatkan data parameter kualitas air bulan Februari dan April 2016 (Tabel 16). Ikan tersebut memiliki penyebaran luas.66 (Tabel 15).27 1 0.75 2 0.

contohnya suhu. sehingga suhu air menurun.00 sampai 8. 82 Tahun 2001 mengenai kriteria mutu air kelas II dan III. hal ini karena kondisi lingkungan berangin dan mulai sedikit turun hujan. kecuali suhu air di area genangan didapatkan sebesar 290C (Tabel 16).00. Parameter Fisik Perairan Suhu air pada pengamatan ke-satu dilakukan di inlet.00 untuk perikanan. B. sehingga dapat disimpulkan nilai kisaran derajat keasaaman air di Waduk Jatigede selama penelitian berada pada kisaran yang ideal untuk ikan.75 merupakan jenis ikan yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap faktor-faktor lingkungan.20 sampai 8. Derajat keasaaman air pada pengamatan ke-satu dan ke-dua sesuai dengan PP No. dan outlet dengan kisaran antara 31 sampai 330C. (2013). DO. Parameter Kimiawi Perairan Derajat keasaaman (pH) air pada pengamatan ke-satu dilakukan di seluruh stasiun dan didapatkan berkisar antara 6.00 sampai 9. yaitu berkisar antara 6. Suhu air yang baik untuk kehidupan ikan di daerah tropis berkisar antara 25 sampai 320C (Boyd 1990). Anak Sungai Cihonje. 82 Tahun 2001 mengenai kriteria mutu air kelas II dan III. . dan pH menurut Muchlisin dan Azizah (2009) dalam Sriwidodo dkk.62 sampai 8.30 (Tabel 16). Pengamatan ke-satu dan ke-dua sesuai dengan PP No. sedangkan pengamatan ke-dua didapatkan berkisar antara 8. kenaikan derajat keasaaman air pada pengamatan ke-dua diduga karena Waduk Jatigede mulai banyak menerima beban masukan berupa limbah domestik dari Sungai Cimanuk yang sekitarnya padat oleh pemukiman warga. yaitu deviasi 3 untuk perikanan. Suhu air pada pengamatan ke-dua dilakukan di area genangan dan outlet dengan kisaran antara 27 sampai 280C (Tabel 16). Kristanto (2002) menyatakan bahwa nilai derajat keasaaman air yang normal berkisar antara 6. A. Hal ini menunjukkan kisaran suhu di Waduk Jatigede selama penelitian dapat mendukung kelangsungan hidup organisme akuatik terutama ikan.35. sehingga perairan tersebut bertambah basa.

4 ppm (Tabel 16). yaitu angka batas minimum masing-masing 3 dan 4 ppm untuk perikanan.98 6.2 2. asalkan perairan tersebut tidak mengandung bahan-bahan yang bersifat racun. Anak Sungai Cihonje. 82 Tahun 2001 mengenai kriteria mutu air kelas II dan III. Pengamatan ke-satu terhadap DO di inlet. didukung oleh Pescod (1973) menyatakan bahwa kandungan DO sebesar 2 ppm di dalam perairan sudah cukup untuk mendukung kehidupan biota akuatik.30 8. dan outlet tetap ideal untuk ikan. Pengamatan ke-satu di area genangan dan pengamatan kedua di outlet sesuai dengan PP No.0 Pengamatan II 4.3 sampai 3.62 8.76 Oksigen terlarut (DO) pada pengamatan ke-satu dilakukan di seluruh stasiun dan didapatkan berkisar antara 2. Pengamatan Parameter Kualitas Air selama Penelitian Parameter Stasiun Kriteria untuk ikan I II III IV Fisik Suhu (0C) Pengamatan I 33 32 29 31 Deviasi 3 Pengamatan II 27 28 Kimiawi pH Pengamatan I 8.5 3.20 DO (ppm) Pengamatan I 2.08 7.3 2.00 Pengamatan II 8.35 6. sedangkan pengamatan ke-dua di outlet didapatkan sebesar 4. Tabel 16.3 Minimum 3.00–9.2 ppm.1 Kesimpulan .4 Keterangan : Pengamatan I pada bulan Februari 2016 Pengamatan II pada bulan April 2016 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. kenaikan oksigen terlarut pada pengamatan ke-dua diduga karena saat pengukuran terjadi difusi udara di permukaan air oleh angin atau fotosintesis yang dilakukan oleh plankton dan vegetasi.

yaitu ikan sapu-sapu (Liposarcus pardalis). Famili Osphronemidae.36 sampai 0. yaitu ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus). yaitu ikan bandeng (Chanos chanos). Ikan yang dominan tertangkap dan memiliki sebaran yang luas. Famili Chanidae. Famili Cyprinidae.65 termasuk katagori rendah dan keseragaman ikan (E) berkisar antara 0. dan reproduksi sebagai dasar . 5. ikan seren (Cyclocheilichthys repasson). dan ikan tawes (Barbodes gonionotus). senggal (Mystus nemurus). sedangkan ikan yang jarang tertangkap dan memiliki sebaran yang sempit. ikan genggehek (Mystacoleucus marginatus).54 sampai 1. yaitu ikan sepat (Trichogaster pectoralis).22%. Famili Bagridae. Famili Channidae. yaitu ikan senggal (Mystus nemurus). paray (Rasbora argyrotaenia). yaitu ikan lalawak (Barbodes balleroides). Famili Loricariidae. yaitu ikan lalawak (Barbodes balleroides) sebanyak 261 ekor dengan kelimpahan 58. Famili Cichlidae. ikan hike (Osteochilus microcephalus). yaitu ikan sepat (Channa striata).80%. yaitu ikan patin (Pangasius hypophthalmus). ikan paray (Rasbora argyrotaenia). ikan nilem (Osteochilus hasseltii). dan berod (Mastacembelus erythrotaenia) masing-masing hanya 1 ekor dengan kelimpahan 0. sebagai berikut:  Ikan yang terdapat di Waduk Jatigede pada tahap inundasi awal sebanyak 9 famili yang terdiri dari 17 spesies. ikan hampal (Hampala macrolepidotaI). Famili Pangasiidae.77 Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan. dan hike dinyatakan seimbang atau 1 : 1.2 Saran Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan memfokuskan kepada aspek ekobiologi ikan yang dominan maupun yang diperkirakan semakin langka. Keanekaragaman ikan (H’) berkisar antara 0. yaitu ikan seren (Cyclocheilichthys repasson).13% dan ikan hampal (Hampala macrolepidota) sebanyak 53 ekor dengan kelimpahan 11. luas relung ikan. Famili  Mastacembelidae. meliputi kebiasaan makan. yaitu ikan berod (Mastacembelus erythrotaenia).96 termasuk katagori rendah sampai tinggi. genggehek. Rasio kelamin ikan lalawak.

dan berod.. nila. Taxonomy of the Fishes of the Family Leiognathidae (Pisces.. K. K.78 pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan. K. Murty (2011). J. Hisyam. 1984. Teleostei) from the West coast of India. J. DAFTAR PUSTAKA Abraham. Joshi. dan N. Jenis ikan endemik Sungai Cimanuk yang terancam punah perlu segera dikonservasi. meliputi ikan seren. dan V. . senggal. R. Whitten. Yogyakarta. Zootaxa (2886) : 1 – 18. berupa rencana kegiatan restocking dan konservasi. Selain itu. tawes. Ekologi Ekosistem Sumatra. J. monitoring kualitas air perlu dilakukan di Waduk Jatigede. Damanik. Jenis ikan yang dapat di-restocking. dan sepat. S. meliputi ikan nilem. paray. A. J. S. Anwar. Gadjah Mada Universitas Press.

Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. T. 3 (3) : 17 hlm. 2002. Laporan Utama Tahun ke XIII. K. Badan Pengendali Lingkungan Hidup Daerah. Auburn University. F. Hardigaluh. 2016. Methods for Assessment of Fish Production in Fresh Waters. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. S. (3) : 159 – 181. Cole. dan E. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. 2014. Citarum. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat (DKP Prov. A. Departmen Pendidikan Nasional. Textbook of Lymnology. 1994. Fujaya. Water Quality in Ponds for Aquaculture. 1968. 2013. Djuhanda. G.79 Arif. Braum. Programme Handb. Cileungsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura. Fourth Edition. Jabar). B. Kelimpahan dan Keanekaragaman Ikan di Sungai Citarum Hulu. 621 hlm. C. Jakarta: 54 hlm. . E. Y. BPLHD. Inventarisasi Ikan Hasil Tangkapan Nelayan di Danau Bekat dan Implementasinya Pembuatan Buklet Keanekaragaman Jenis. Dunia Ikan. 1981. 2001. Effendi. Pontianak. Jurusan Pendidikan MIPA. Bandung: 13 – 20 hlm. Jawa Barat. dan Yokhebed. H. Ciliwung. Janurianda. 1990. dan Cimanuk melalui Program Kali Bersih (PROKARSIH). Acta Diurna Vol. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan. T. USA: 428 pg. Bogor. V. A. Bagenal. Jatinangor. B. H. Data Ikan Restocking di Waduk Jatigede Tahun Anggaran 2015. Boyd. Alabama Agriculture Experiment Station. F. Int. Armico. 2012. Interaksi Kelompok Nelayan dalam Meningkatkan Taraf Hidup di Desa Tewil Kecamatan Sangaji Kabupaten Maba Halmahera Timur. Fargomeli. Pengendalian Kualitas Air Sungai Cisadane. Eggs and Early Life History. 2003. Biol.. Waveland Press U.

B. Fundamental of Ecology. Junaidi. Odum. N. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2001. Jatinangor. Masyamsir. . 1973. P. Investigation of Rational Effluent and Standard for Tropical Countries. Hasan. J. E. M. S. A. Program Strata I Jurusan Perikanan Universitas Padjadjaran. Peraturan Pemerintah (PP) No. Enviroment Engineering Division. Jakarta: 332 hlm. Kajian Reservat Perikanan Waduk Jatigede. P. Inventarisasi Jenis Ikan Di Sungai Kelekar Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.. Wirjoatmodjo. W. Laporan Akhir Tahap II Vol. Kottelat. Z.. 2009. dan Rustina. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sriwijaya. 2011. E. Patriono. dan H. 82 Tahun 2001.. Herawati. Lingkungan Hidup untuk Ikan. Struktur Komunitas Ikan di Sungai Cimanuk pada Area Rencana Pembangunan Waduk Jatigede Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Pescod. Philadelphia. Buku Petunjuk Panduan Praktikum Iktiologi. dan T. 1992. Penerbit : ANDI. Jatinangor. 1971. 2 ITB IPB UNPAD UNIGAL. Ekologi Industri. Putra. Masyamsir. Edisi Dwi Bahasa Inggris Indonesia: Periplus Editions (HK) Ltd. dan S. P. Indralaya. Asia Institut Tech. Bangkok. ke-3. Ed. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.. Hasan.1993. 2002. Suherman. 2001. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi.80 Konsorium LPM. Mulyanto. E. Skripsi (tidak dipublikasi). 1992. Yogyakarta. Kartikasari. Whiterrn. 2001. M. Kristanto. Z. Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Jawa Barat. Kaji Ulang Rencana Pembangunan Sudetan Sungai Citanduy. Saunders Co. Bandung: 48 hlm. B. I.

Universitas Sumatera Utara. F. Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program-Citarum Water Resources Management Invetment Program. T. Jawa Timur. Sumijo S. 2002.. Budiharjo.81 Rahardjo. S. 3 (4) : 132 – 140 hlm. Satuan Kerja NVT Waduk Jatigede Provinsi Jawa Barat. Hutabarat. Iktiology.. Bogor. Iktiologi Indonesia. dan Y. D. 2015. Medan: 8 hlm. 2009. Lokasi Kegiatan Bendungan Jatigede. 2011. Bogor. Lokasi Kegiatan Waduk Jatigede. H. dan D. Jurnal lktiologi Indonesia. Pengelolaan dan Pemantauan Keanekaragaman Hayati pada Delapan Kawasa Konservasi di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum Provinsi Jawa Barat. Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Waduk Jatigede Provinsi Jawa Barat. Kajian dan Pemantauan Spesies Prioritas untuk Pelestarian. Rahmawaty. Fakultas Pertanian. Purnomo. B. U. Reproduksi Ikan Belanak (Mugil dussumieri) di Perairan Ujung Pangkah. P. W. F. Sulistiono. Bandung: 42 hlm. Sjafei. 2013. 2014. dan Susilo. L (L) : l – 6 hlm. Strategi Adaptasi Ikan Berdasarakan Kebiasaan Makan di Sungai Cimanuk pada Area Rencana Bendungan Waduk Jatigede. Jawa Barat. E. Subarma. Keanekaragaman jenis ikan di kawasan inlet dan outlet Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. 2001. N. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. A. Sumedang. Sriwidodo. Ernawati. Sjafei. M. Jawa Barat. 2013. l (2) : 3l – 37 hlm. Wirjoatmodjo. Jawa Barat. Pengelolaan Sumberdaya Perairan Waduk secara Optimal dan Terpadu. S. Bringing Native Fish Back to the Rivers. R. 10 (2): 43 – 50. Semarang.. Herawati.. Sriyanto A.. M. Vol. Vol. W. Bandung: 336 – 339 hlm. 2001. Vol. Skripsi (tidak dipublikasi). Bandung Lubuk Agung. Fauna Ikan di Sungai Cimanuk. D. dan. 2011. Jannah. . S. dan Sugiyarto. dan Sriati.. Diponegoro Journal of Maquares. M. Bioteknologi Vol. S. Jatinangor. Evaluasi Kualitas Air Sebelum dan Sesudah Memasuki Waduk Jatigede.

K. 1997. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Wiadnya. 2012.. P. A. 2012. 1985. O.. BioSMART: 40 – 45 hlm. Lampiran 1. Philadelphia: 181 – 199 hlm. Lokakarya Penyegaran Pejabat Fungsional PEH Balai Taman Nasional Meru Betiri.82 Tim Survei Ekologi Fakultas Perikanan IPB. 1972. Stasiun Penelitian di Waduk Jatigede Tahan Inundasi Awal . Jurnal Perikanan dan Kelautan. Rizal. North American Publishing Company. Sumedang. Herawati. Philadelphia: 181 – 199 hlm. L. Yuanda. Pemantauan Kualitas Perairan Rawa Jabung Berdasarkan Keanekaragaman dan Kekayaan Komunitas Benthos. Winarno. D. Struktur Komunitas Ikan di Hulu Sungai Cimanuk. 2000. dan T. R. Water pollution.. dan A. White Jr. dan A. M. Dhahiyat. K.. Ketentuan-ketentuan pada Kegiatan Inventarisasi Ikan Air Tawar. Survei Ekologi Perikanan Daerah Aliran Sungai Cimanuk. North American Reference Encyclopedia of Ecology and Pollution.. Vol. Malang: 16 hlm. W. Welcomme. A. Wijaya. D. F. Astirin. 3 (3) : 229 – 236 hlm. Direktotat Jendral Perikanan. J. Bogor. Y. Setyawan. Little. North American Publishing Company. River Pollution. North America ReferenceEncyclopedia of Ecologyland Pollution. M. dan F. G. Harini.

Hasil Identifikasi Ikan yang Tertangkap selama Penelitian A. Ciri Morfologi Ikan yang yang Tertangkap Morfologi PM (mm) JM (psg) 1 2 Bentuk Mulut 3 Letak Mulut Bentuk Sisik 4 2 5 9 - - Biasa Ordo Cypriniformes Terminal Sikloid Compressed 2 3 6 - - Biasa Terminal Sikloid Warna Tubuh Ikan (TCF) Bentuk Tubuh Streamline Atas Tengah Bawah Bercak 5504 6102 6111 Ekor 0805 6125 6113 6111 Ekor 1013 .l 83 Lampiran 2.

Lanjutan 2 2 6 - Warna Tubuh Ikan (TCF) Bentuk Tubuh Atas Tengah Bawah Bercak Streamline 5313 5312 5311 Badan 5314 Compressed 6115 0314 6111 - - Biasa Subterminal Sikloid Compressed 5415 5413 4614 4614 5411 Dada 0804 Ekor 6115 2 4 6 - - Biasa Subterminal Sikloid Streamline 5415 5413 4614 4614 5411 Dada 0804 1 3 - - - Biasa Terminal Sikloid Steamline 6125 5415 6121 - - - - - - Biasa Terminal Sikloid Compressed 5425 6124 5421 - .l 84 Morfologi PM (mm) JM Bentuk Mulut Letak Mulut Bentuk Sisik (psg) 1 2 3 4 1 7 - - - Biasa Terminal Sikloid 1 3 - - - Biasa Terminal Sikloid Lampiran 2.

l 85 Lampiran 2. Lanjutan Morfologi PM (mm) JM Bentuk Mulut (psg) 1 2 3 4 - - - - - Biasa Letak Mulut Bentuk Sisik Terminal Warna Tubuh Ikan (TCF) Bentuk Tubuh Ordo Perciformes Stenoid Compressed Atas Tengah Bawah Bercak 6106 6106 6106 Tutup insang 3903 6 105 6 003 6 001 Ekor 1202 5501 - - - - - Biasa Terminal Stenoid Compressed 6105 6003 6001 5104 5501 Tutup insang 3903 Ekor 2213 Tubuh 5617 Lampiran 2. Lanjutan - - - - - Biasa Terminal Stenoid Compressed 5505 5505 5 1 2 - - - Biasa Terminal Stenoid Kepala picak Lonjong Ordo Siluriformes 5505 5 5 502 502 502 6115 6212 5611 Tutup insang 1202 - .

5425 = abu-abu tua kecoklatan. 0314 = perak kekuningan. 5411 = abu-abu muda. 5311 = perak. 5501 = putih. 6124 = coklat kekuningan. 6111 = perak. 5415 & 4614 = abu-abu tua kehijauan. Lanjutan Subterminal - Kepala picak Depressed Bawah 6212 5 Bercak - 5 617 617 614 5506 5503 5501 Badan 5506 5505 Badan 5505 4 18 45 35 93 Biasa Subterminal - Depressed 5503 5503 5104 5501 5501 Tutup insang 1011 - - - - - Biasa Ordo Gonorynchiformes Terminal Sikloid Steamline 6021 6101 6121 - - - - - - Terompet Ordo Synbranchiformes Terminal Mengular 5615 5615 6125 - 6 6 123 123 Keterangan : JM = Jumlah Misai. 6106 & 6003 = abu-abu kekuningan. 6102 = abu-abu muda. 6106 & 6105 = abu-abu kecoklatan. 5312 = abu-abu muda. 6125 = abu-abu kecoklatan. 5413 & 4614 = abu-abu kehijauan. TCF = Toca Color Finder dengan kode 5504 = abu-abu. 6121 = putih. psg = pasang. 5421 = perak. 5415 = abu-abu tua kekuningan. 5505 & 5502 = garis belang abu-abu dan abu-abu .l 86 Morfologi PM (mm) JM (psg) 1 1 5 2 - 3 - 4 - Bentuk Mulut Letak Mulut Bentuk Sisik Bentuk Tubuh Penghisap Inferior Ganoid Depressed Warna Tubuh Ikan (TCF) Atas 6212 Tengah 6212 5 2 2 3 - - Biasa Lampiran 2. 6113 = abu-abu muda. 5313 = abu-abu gelap. 6003 & 5104 = abu-abu kekuningan.

5611 = krem. 5501= abu-abu tua. Tawes/ Paray/ Silver r Bonyli Cichlids Cichlids/ Mujair Fighting Fishes. 5506 = abu-abu tua. 6212 & 5614 = coklat keabu-abuan. Melant Snake-skinn Stripped s Mailed Catfishe Catfishes/ Pangasius/ Pa Bagrid Catfi Asian redt Milkfishes/ Band White Spiny eels/ B Spotted . 5503 & 5501 = abumuda. B. Lanjutan C. Minnows karperan.87 muda. 5615 & 6123 = Lampiran abu 2. 6212 = coklat muda. 6021 = abu-abu. 6101 = perak. Klasifikasi Ikan yang Tertangkap Ordo Famili Genus Cypriniformes Cyprinidae Barbodes Cyclocheilichthys Hampala Mystacoleucus Osteochilus Perciformes Siluriformes Gonorynchiforme s Synbranchiformes Cichlidae Rasbora Barbodes Oreochromis Belontiidae Trichogaster Nama Latin (Spesies) Barbodes balleroides Cyclocheilichthys repasson Hampala macrolepidota Mystacoleucus marginatus Osteochilus hasseltii Osteochilus microcephalus Rasbora argyrotaenia Barbodes gonionotus Oreochromis niloticus Oreochromis mossambicus Trichogaster pectoralis Nama Lokal Ikan Lalawak Seren Hampal Genggehek Nilem Hike Paray Tawes Nila Mujair Sepat Channidae Loricariidae Channa Liposarcus Channa striata Liposarcus pardalis Gabus Sapu-sapu Pangasiidae Bagridae Pangasius Mystus Pangasius hypophthalmus Mystus nemurus Patin Senggal Chanidae Chanos Chanos chanos Bandeng Mastacembelidae Mastacembelus Mastacembelus erythrotaenia Berod Lampiran 2. 5615 & 6123 = coklat tua. Jumlah Ikan Berdasarkan Waktu Pengambilan Sampel Penelitian Jenis Pengambilan Sampel ke1 2 3 4 5 6 Ikan Lalawak 7 2 120 95 12 25 (Barbodes balleroides) Seren 1 0 0 0 0 0 (Cyclocheilichthys repasson) Hampal 1 1 31 10 7 3 (Hampala macrolepidota) Genggehek 1 2 0 0 3 4 Commo Carps. 6212 & 5617 = coklat dan hitam. Lanjutan coklat muda kekuningan. 5503 & 5505 = abu-abu muda. 5503 & 5104 = abu-abu muda kekuningan. Betah.

ke-4 pada tanggal 23 Maret. dan ke-6 pada tanggal 21 April 2016 Lampiran 3. ke-5 pada tanggal 08 April. 1 Jenis Ikan Lalawak A. Contoh Perhitungan Komunitas Ikan di Stasiun I No . ke-3 pada tanggal 10 Maret. ke-2 pada tanggal 23 Februari.4 0.366 .88 (Mystacoleucus marginatus) Nila (Oreochromis niloticus) Nilem (Osteochilus hasseltii) Hike (Osteochilus microcephalus) Sepat (Trichogaster pectoralis) Patin (Pangasius hypophthalmus) Mujair (Oreochromis mossambicus) Bandeng (Chanos chanos) Gabus (Channa striata) Sapu-sapu (Liposarcus pardalis) Paray (Rasbora argyrotaenia) Tawes (Barbodes gonionotus) Senggal (Mystus nemurus) Berod (Mastacembelus erythrotaenia) Jumlah Individu Jumlah Jenis 1 0 0 0 0 0 0 5 0 0 1 1 0 2 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 22 0 1 2 0 0 45 0 0 1 0 0 30 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 11 5 14 7 249 6 105 2 27 8 43 12 Keterangan : Pengambilan sampel ke-1 pada tanggal 10 Februari. Komunitas Ikan di Stasiun I Jumlah Persentasi Indeks (ekor) Kelimpahan Pi Keanekaragaman Ikan (%) Ikan (H’) 2 40 0.

∑ ( ni / N) Ln ( ni / N ) H’ = .322 )) H’ = 1.332 Persentasi Kelimpahan Relatif Ikan B = ( ni / N ) x 100%  B = ( 2 / 5 ) x 100% B = ( 0.322 1.4 ) + ( 0.322 ) + ( 0.(( 0.2 ) Ln ( 0.89 2 3 4  Hampal Genggehek Nila Total 1 1 1 5 20 20 20 100 0.322 ) + ( 0.4 ) x 100% B = 40% Indeks Keanekaragaman Ikan (Shannon-Wiener) H’ = .2 ) Ln ( 0.2 1. Komunitas Ikan di Stasiun I Jumla Persentasi Indeks h Kelimpahan Keanekaragama (ekor) Ikan (%) n Ikan (H’) 2 40 0.2 ) + ( 0.2 ) + ( 0.332 Lampiran 3.(( 0.2 ) Ln ( 0.322 0.2 0. Lanjutan No .2 )) H’ = .366 Indeks Keseragaman Ikan (E) .322 0.4 ) Ln ( 0.0 0.(( 2 / 5 ) Ln ( 2 / 5 ) + ( 1 / 5 ) Ln ( 1 / 5 ) + ( 1 / 5 ) Ln ( 1 / 5 ) + ( 1 / 5 ) Ln ( 1 / 5 )) H’ = .2 0. 1 Jenis Ikan Lalawak B.366 ) + ( 0.

332 0. Jurusan Perikanan. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 2006 di SDN Bojong Rawa Lumbu 6 Kota Bekasi.386 E = 0.322 0. Nurhayati. Penulis adalah anak ke-empat dari pasangan Sapudjo dan S.322 1. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan melalui jalur SNMPTN Tulis pada tahun 2012. kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMPN 16 Kota Bekasi hingga tahun 2009. serta melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Padjadjaran. Departemen Manajemen Kualitas Perairan. penulis aktif sebagai .961 Indeks Keseragaman Ikan (Evenness) E = H’ = H H’ maks Ln (s) E = 1.332 1.961 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kota Bekasi pada tanggal 13 Juli 1994.90 2 3 4  Hampal Genggehek Nila Total 1 1 1 5 20 20 20 100 0. dan menamatkan pendidikan menengah atas di SMAN 3 Kota Bekasi pada tahun 2012. Selama menjalani studi di Universitas Padjadjaran.332 H’ maks Ln (4) E = 1.322 0.332 = 1.

. M.Si. Penulis juga aktif diberbagai penulisan karya ilmiah. Penulis aktif diberbagai kepanitiaan. Parasitologi. Ir. diantaranya sebagai Bendahara Permadani dan Menteri Departemen Ekonomi dan Bisnis BEM KEMA Kabinet Archipelago FPIK–Unpad tahun 2015. diantaranya Steering Committee Sekolah Pengusaha Muda II dan Koor.91 Asisten Tutorial Kimia Dasar Pusat Pelayanan Basic Science (PPBS) tahun 2013– 2014. diantaranya “Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Viscera Ikan Patin (Pangasius sp. MS. Humas Masa Bimbingan Mahasiswa Baru BEM KEMA FPIK–Unpad tahun 2015. Asisten Laboratorium Fisiologi Hewan Air dan Dinamika Populasi tahun 2015. Penulis aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Titin Herawati. Iktiologi. dan Dr. Zahidah. Penelitian tugas Akhir penulis berjudul “Identifikasi dan Inventarisasi Ikan di Waduk Jatigede pada Tahap Inundasi Awal” dibimbing oleh Dra.) sebagai Bahan Baku Biodiesel dengan Metode Supercritical Fluid Extraction” tahun 2015. serta Pengkajian Stok Sumberdaya Hayati FPIK–Unpad tahun 2016. dan “Sedimen Fosfat Mangrove Karimunjawa untuk Biomassa Chlorella vulgaris sebagai Pengganti Pupuk NPK Konvensional” tahun 2016.