You are on page 1of 27

Tugas Kepaniteraan Klinik

LAPORAN KASUS NICU

Bayi Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan
Hipotermia
Hipoglikemia
Suspect Sepsis Neonatorum Awitan Dini

Disusun oleh:
Baiq Rizky Arfianti
H1A 011 011
Pembimbing:
dr. Hj. Artsini Manfaati, Sp.A
DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI
BAGIAN/ SMF ILMU KESEHATAN ANAK RSU PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
NUSA TENGGARA BARAT
2016
BAB I

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama

: By. Ny. H

Tanggal Lahir

: 29 Juni 2016 pukul 16.04 WITA

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 1 hari

Cara Persalinan

: Tindakan Sectio Caesarea

BBL

: 3700 gram

A–S

:7–9

Tanggal MRS

: 29 Juni 2016

Tanggal Pemeriksaan

: 30 Juni 2016

No. RM

: 58 00 54

Identitas Keluarga

:
Ibu

Ayah

Nama

Ny. H

Tn. B

Umur

31 tahun

35 tahun

Pendidikan

SMP

SMP

Pekerjaan

Pedagang

Pedagang

Alamat

Sesela, Gunung Sari

Sesela, Gunung Sari

II. Anamnesis
Keluhan Utama : malas minum
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien dikeluhakan malas minum saat masuk ruang NICU. Pasien masuk
NICU dalam keadaan umum sedang, tangis kuat, tidak terdapat warna biru atau
kuning pada tubuh pasien, napas lebih cepat dan kulit dingin. Saat ini pasien

1

dipasang OGT (Oral Gastric Tube). Pasien merupakan bayi yang lahir di ruang
OK Cito IGD RSUD Provinsi NTB pada tanggal 29 Juni 2016 pukul 16.04
WITA. Pasien dilahirkan dengan tindakan sectio caesarea atas indikasi
persalinan kala I fase aktif macet. Saat dilahirkan pasien menangis segera setelah
lahir, kulit berwarna kemerahan, dengan berat badan lahir 3700 gram dan
APGAR Score 7 – 9.
Riwayat Kehamilan Ibu :
Pasien merupakan anak kedua, riwayat keguguran sebelumnya disangkal
ibu pasien. Selama hamil, ibu pasien rutin memeriksakan kehamilannya di
Puskesmas dan Posyandu. Ibu pasien mengaku sudah 7 kali ANC dan 2 kali
melakukan USG dan diakui tidak terdapat masalah apapun. Ibu pasien mengaku
selama hamil dirinya tidak pernah mengalami mual muntah yang berlebihan.
Riwayat asma, kejang, demam tinggi, ketuban pecah, infeksi saluran kencing,
dan perdarahan selama kehamilan disangkal. Tekanan darah ibu pasien saat
pemeriksaan ANC terakhir yakni pada usia kehamilan 38 minggu yaitu 100/70
mmHg. Ibu pasien menyangkal menggunakan obat-obatan selain dari petugas
medis. Selama kehamilan, ibu pasien mengaku berat badannya meningkat
sampai akhir kehamilan, berat badan meningkat sekitar 2 kg setiap bulannya,
tidak pernah terjadi penurunan berat badan selama hamil.
Riwayat Persalinan :
Pasien lahir di OK cito IGD RSUD Provinsi NTB pada 29 Juni 2016
pukul 16.04 WITA. Pasien dilahirkan dengan tindakan sectio caesarea atas
indikasi persalinan kala I fase aktif macet. Pasien lahir pada usia kehamilan 3839 minggu, A-S 7 – 9, dengan BBL 3700 gram, PB 51 cm, dan LK 34 cm, LLA
13 cm, dan anus (+).
Riwayat Nutrisi Ibu :
Ibu pasien mengaku nutrisinya selalu terpenuhi selama hamil, makan
normal 3 kali sehari, dengan nasi lauk dan sayuran yang bervariasi setiap

2

harinya. Selama hamil ibu pasien selalu rutin minum vitamin dan tablet
penambah darah yang diberikan selama kehamilan.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Ibu pasien mengaku tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat
penyakit jantung, penyakit hipertensi, asma, diabetes melitus, dan penyakit
ginjal. Riwayat keluarga yang lahir dengan berat badan rendah disangkal.
Riwayat Sosio Ekonomi:
Ibu dan ayah pasien bekerja sebagai pedagang
III. Pemeriksaan Fisik (30 Juni 2016)

Keadaan Umum : aktifitas tonus refleks/tangis: kuat

Ballard Score

: 40  40 minggu

Score Downes

:1

Penampakan Umum

Aktivitas

: aktif

Warna kulit

: kemerahan

Cacat bawaan yang tampak : (-)

3

Tanda – Tanda Vital

Suhu

Denyut Jantung : 140 kali/menit

Pernapasan

: 60 kali/menit.

Tekanan Darah

: tidak dievaluasi

CRT

: < 3 detik

: 36,4oC

Penilaian Pertumbuhan

Berat Badan

: 3700 gram

Panjang Badan

: 51 cm

Lingkar Kepala

: 34 cm

Kepala
Bentuk kepala normocephali, ubun-ubun kecil tertutup, ubun-ubun besar
rata, caput suksadenum (-), cephal hematoma (-).
Wajah

Mata
Katarak kongenital (-), konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-),
refleks pupil (+/+) isokor

Hidung
Bentuk normal, deformitas (-), napas cuping hidung (-), rhinorrhea (-),
perdarahan (-), deviasi septum (-)

Mulut
Sianosis (-), mukosa bibir basah, refleks menghisap (+).

Telinga
Bentuk normal, deformitas (-)

4

Leher
Rooting refleks (+), hematom pada muskulus sternocleidomastoideus (-),
pembesaran kelenjar tiroid (-), kaku kuduk (-).
Thoraks

Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris

Palpasi : pengembangan dinding dada simetris

Perkusi : sulit dievaluasi

Auskultasi

: bronkovesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Penilaian pernapasan : napas teratur (+), takipnea (-), stridor (-),
retraksi (-/-), sianosis (-), merintih (-)

Jantung
S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi

: distensi (-)

Auskultasi : bising usus normal
Palpasi

: massa (-), hepar dan lien tidak teraba, turgor kulit normal

Perkusi

: timpani (+) di seluruh lapang abdomen

Umbilikus
Tampak basah dan mulai mengering, warna kuning kehijauan (-), bau (-),
edema (-), tampak kemerahan (-) pada pangkal umbilicus
Genitalia
Normal
Anus
Anus (+)
Ekstremitas
5

Atas


: akral hangat (-/-), pucat (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-/-).

Bawah

: akral hangat (-/-), pucat (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-/-).

Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap (Tanggal 30 Juni 2016)
Paramete

Hasil

Normal (neonatus)

HGB

16,1

14 – 27 [g/dL]

RBC

4.53

4,0 – 5,0 [10^6/µL]

WBC

33.44

9 – 30 [10^3/ µL]

HCT

47.5

40-68 [%]

MCV

104.9

88-110 [fL]

MCH

35.5

27,0-31,0 [pg]

MCHC

33.9

32,0-37,0 [g/dL]

PLT

255

150-450 [10^3/ µL]

GDS

35

< 160 mg/dl

r

Resume
Pasien lahir di OK Cito IGD RSUD Provinsi NTB pada 29 Juni 2016
pukul 16.04 WITA. Bayi dilahirkan dengan tindakan SC atas indikasi persalinan
kala I fase aktif macet. Saat dilahirkan pasien menangis segera setelah lahir,
kulit berwarna kemerahan, dengan berat badan lahir 3700 gram. Pasien masuk
NICU dalam keadaan umum sedang, tangis kuat, tidak terdapat sianosis, tidak
ikterik, tetapi akral teraba dingin. GDS 30 mgl/dl. Pasien dipasang OGT (Oral
Gastric Tube). Pasien lahir pada usia kehamilan 39-40 minggu dengan A-S 7-9,
BBL 3700 gram, PB 51 cm, LK 34 cm, LLA 13 cm, dan anus (+).

6

Pada pemeriksaan fisik tanggal 30 Juni 2016 pukul 10.00 WITA, keadaan
umum tampak sedang, denyut jantung 140x/menit, frekuensi napas 60x/menit,
dan suhu 36.40C. Pasien tidak tampak sianosis, pucat, atau kuning. Pada
pemeriksaan penunjang didapatkan HB: 16.1 gr/dl, HCT: 47.5 %, WBC: 33.44 x
103 m/µl, PLT: 255 x 103 m/µl, GDS: 35 mgl/dl.
Diagnosis Kerja

Bayi Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan

Hipotermia

Hipoglikemia

Suspect Sepsis Neonatorum Awitan Dini (SNAD)
Rencana Terapi

Non-farmakologis
o Hangatkan dengan inkubator
o Cek GDS berkala
o Pasang OGT
o Coba minum ASI/ PASI (mulai dengan 8 x 15 cc)

Farmakologis
o IVFD D10% 6 cc/ jam tetes mikro (6 tpm)
o Cefotaxime inj 2 x 180 mg
o Gentamicin inj 1 x 15 mg

FOLLOW-UP
Tanggal
30/6/16

S
Menangis(+),

O
KU: sedang

A
P
Hipotermia - Hangatkan dengan

pucat (-),

HR:140x/m

Hipoglikemi

sianosis (-)

RR:60x/m

susp. SNAD - Cek GDS

T:36.4oC
BB : 3700 gr

inkubator
- Cefotaxime 2 x 180
mg
7

Cek GDS
ulang: 35

- Gentamicin 1 x 15

mgl/dl

mg

KU: sedang
HR:150x/m

01/07/16

Menangis (+),

RR:58x/m

Riwayat

gerak aktif (+),

T:37oC

hipotermia

sesak (-), pucat

BB : 3790 gr

dan

(-), minum susu
(+)

- Rawat gabung

hipoglikemi
GDS : 64

Susp. SNAD

mgl/dl

8

BAB II
PEMBAHASAN
Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah
lahir. Bayi baru lahir ditimbang segera setelah badannya dikeringkan dari air
ketuban atau paling lambat sampai berumur 1 hari. Pada kasus ini, berat lahir
pasien adalah 3700 gram, pasien termasuk bayi dengan berat badan lahir normal.
Ibu pasien melahirkan pada usia kehamilan 39-40 minggu. Setelah dilakukan
pengukuran dengan Ballard Score untuk memastikan, didapatkan nilai 40 yang
menandakan bayi aterm (40 minggu).

Hubungan antara umur kehamilan dengan berat lahir bayi penting untuk
mencerminkan kecukupan pertumbuhan intrauterin. Dengan melihat usia
kehamilan dengan berat lahir bayi, kita bisa menilai apakah bayi kecil/ sesuai/
9

besar untuk masa kehamilannya. Bayi dengan berat lahir sama dengan atau di
bawah persentil ke -10 digolongkan bayi kecil masa kehamilan (KMK),
sedangkan bayi yang memiliki berat lahir pada atau di atas persentil 90
digolongkan bayi besar masa kehamilan (BMK). Dari hasil penilaian
menggunakan kurva pertumbuhan intrauterin (grafik Lubchenco), didapatkan
berat bayi lahir di atas persentil ke-75 dan di bawah persentil ke- 90 yang
menandakan bayi sesuai masa kehamilan (SMK).

Masalah pada bayi baru lahir lebih sering dijumpai pada bayi dengan berat
lahir rendah dibandingkan dengan bayi berat lahir cukup. Masalah yang cukup
sering terjadi pada bayi baru lahir antara lain: ketidakstabilan suhu, kelainan
metabolik seperti hipoglikemia dan gangguan elektrolit, kelainan respirasi
seperti sindrom gawat nafas dan apnea of prematurity, kelainan gastrointestinal,
dan imaturitas hepar yang menyebabkan hiperbilirubinemia bayi baru lahir,
kelainan kardiovaskular seperti patent ductus arteriosus, kelainan hematologi
10

seperti anemia, dan beberapa kelainan lain seperti imaturitas ginjal, dan
imaturitas neurologis, serta resiko infeksi akibat imaturitas imunologis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik didapatkan suhu 36.4oC yang
menunjukkan keadaan hipotermiaa ringan. Suhu normal seorang bayi adalah
36.5-37.5oC. Keadaan hipotermiaa dapat terjadi melalui beberapa mekanisme
peningkatan kehilangan panas, seperti: (a). Konduksi, kehilangan panas terjadi
saat terjadi kontak langsung kulit bayi dengan permukaan yang lebih dingin,
seperti pada proses penimbangan; (b). Konveksi, akibat perbedaan suhu antara
permukaan kulit dengan aliran udara. Sumber kehilangan panas melalui
konveksi seperti, inkubator dengan jendela yang terbuka atau pada proses
pemindahan bayi dari ruang operasi menuju NICU; (c). Radiasi, kehilangan
panas melalui sumber berupa suhu lingkungan yang dingin atau suhu inkubator
yang dingin; (d). Evaporasi, panas terbuang melalui permukaan kulit dan traktus
respiratorius. Sumber kehilangan panas berupa bayi baru lahir yang basah.
Berdasarkan uraian di atas, maka penting dilakukan perencanaan terapi
yang tepat sesuai keadaan klinis pada pasien. Pasien yang mengalami hipotermia
harus segera dilakukan upaya peningkatan suhu tubuh salah satunya yaitu
menghangatkan dengan inkubator, selain itu bayi harus diselimutkan dan
menjaga selimut atau pakaian yang dikenakan bayi tidak basah.
Bayi yang lahir dengan berat badan rendah harus dipantau gula darah
sewaktu (GDS) agar menghindari terjadinya hipoglikemia pada bayi. Seorang
bayi dikatakan mengalami hipoglikemia jika GDS didapatkan <45mg/dL.
Keadaan hipoglikemia pada bayi dapat menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme, sehingga menurunkan produksi panas yang memperberat
terjadinya hipotermia bayi. Hipoglikemia pada bayi juga dapat berakibat
terjadinya gangguan pada otak, yang menyebabkan kejang. Apabila kondisi
hipoglikemia berlanjut, dapat memperberat kerusakan otak pada bayi dan
mengganggu perkembangan serta pertumbuhan seorang anak di kemudian hari.
Pemberian asupan nutrisi ASI/ PASI melalui OGT dapat dilakukan untuk

11

memenuhi kebutuhan nutrisi harian bayi karena masalah menyusu akibat refleks
menghisap yang mungkin masih lemah. Selain itu, penting juga untuk melatih
bayi untuk dapat menyusu secara langsung.
Selain hipotermia dan hipoglikemia, masalah yang dapat muncul pada bayi
baru lahir adalah sepsis neonatorum, terutama sepsis neonatorum awitan dini
(SNAD). Kecurigaan sepsis muncul karena adanya gejala klinis berupa malas
minum, hipotermia, dan hipoglikemia. Selain itu, terdapat beberapa infeksi pada
kehamilan yang tidak begitu disadari oleh ibu, seperti infeksi saluran kemih
(ISK) dan keputihan. ISK pada ibu hamil jarang menimbulkan gejala khas yang
membuat penyakit ini lebih diwaspadai. Gejala yang biasanya muncul seperti
rasa tidak nyaman pada pinggang atau daerah perut bawah, demam yang tidak
khas, nyeri saat atau setelah BAK. Gejala yang tidak khas ini tidak jarang
membuat ibu hamil tidak terlalu mengkhawatirkannya. Sementara itu, jika
keputihan dan ISK ini dibiarkan dan tidak diobati, maka akan menyebabkan
infeksi intrauterin atau menjadi risiko infeksi bayi selama proses persalinan.
Untuk memastikan diagnosis sepsis neonatorum dapat dilakukan
pemeriksaan laboratorium, dimana pada pasien ini terjadi peningkatan nilai
leukosit, yaitu 33.44 x 103 (N : 5 – 30 x 10 3). Hampir sebagian besar negara
berkembang seperti Indonesia kuman penyebab sepsis adalah gram negatif,
meski infeksi gram positif juga tidak jarang. Pada pasien ini, diberikan
antibiotik, yaitu Cefotaxime (golongan cephalosporin generasi ketiga) yang
mempunyai spektrum luas, aktif terhadap bakteri gram positif/ negatif
dikombinasikan dengan antibiotik gentamicin (golongan aminoglikosida) yang
sensitif untuk bakteri gram negatif. Pemberian antibiotik cefotaxime dosis lazim
pada neonatus usia <7hari adalah 100 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis. Pada
pasien diberikan cefotaxime injeksi IV 2 x 180 mg, sedangkan gentamicin
dosisnya 5mg/kgbb/hari, pada pasien diberikan gentamicin injeksi iv 1 x 15 mg.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
12

I.

HIPOTERMIA
Termoregulasi adalah kemampuan untuk menyeimbangkan antara

produksi panas dan hilangnya panas dalam rangka menjaga suhu tubuh agar
tetap dalam keadaan normal. Kemampuan ini sangatlah terbatas pada bayi baru
lahir. Suhu normal terjadi jika ada keseimbangan antara produksi panas dan
hilangnya panas.1
Sama halnya dengan manusia dewasa, bayi baru lahir memiliki respon
terhadap suhu lingkungan baik secara fisiologis maupun tingkah laku. Bayi baru
lahir bergantung pada lemak coklat yang memiliki aktivitas metabolik, tersimpan
di antara skapula (superfisial) dan di sepanjang aorta. Sebagai respon terhadap
dingin, katekolamin akan dilepaskan lalu merangsang lemak coklat secara
langsung dengan menstimulasi terjadinya fosforilasi oksidatif untuk selanjutnya
melepaskan energi dalam bentuk panas. Bayi baru lahir memiliki kemampuan
untuk meningkatkan lebih dari dua kali lipat produksi panasnya dengan cara ini.
Selain lemak coklat, vasokonstriksi pembuluh darah perifer juga terjadi sebagai
respon terhadap dingin dan ini terbatas pada bayi prematur. Perlu diketahui
bahwa mekanisme termoregulasi tanpa menggigil ini hanya terjadi pada 12 jam
pertama. Mekanisme tingkah laku bayi baru lahir berbeda dengan anak dan
dewasa. Bila terpapar suhu dingin, bayi baru lahir dapat terus tertidur, meskipun
posisinya akan fleksi untuk mengurangi kehilangan panas dan ini juga berlaku
pada bayi prematur.2
Oleh karena adanya keterbatasan ini, maka seorang bayi baru lahir harus
dapat dijaga suhunya dibawah suhu lingkungan yang netral. Suhu kulit normal
dari seorang bayi baru lahir adalah 36,0 - 36,5°C. Suhu inti (rektal) normal
adalah 36,5-37,5°C. Suhu aksila mungkin dapat 0,5 - 1°C lebih rendah dari suhu
inti. Hipotermia pada bayi baru lahir adalah suhu di bawah 36,5 oC yang terbagi
atas : hipotermia ringan yaitu suhu antara 36,0-36,5 oC, hipotermia sedang yaitu
suhu antara 32-36oC, dan hipotermia berat yaitu suhu tubuh <32oC. Suhu

13

lingkungan yang diharapkan pada bayi baru lahir dengan berat badan > 2500 gr
dan masa kehamilan > 36 minggu dapat dirinci dalam tabel berikut:
Tabel 1. Suhu lingkungan yang diharapkan untuk bayi dengan berat badan lahir
>2500 gram atau usia gestasi >36 minggu.4
Usia bayi
0 – 24 jam
24 – 48 jam
48 – 72 jam
72 – 96 jam
4 – 14 hari

Suhu lingkungan yang diharapkan (°C)
31,0 – 33,8
30,5 – 33,5
30,1 – 33,2
29,8 – 32,8
29,0 – 32,6

Bayi hipotermia adalah bayi baru lahir yang memiliki suhu badan
dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 °C. Beberapa
mekanisme yang menyebabkan terjadinya hipotermi diuraikan sebagai berikut :
a. Penurunan produksi panas
Selain yang telah dijelaskan sebelumnya dalam aspek pengaturan
termoregulasi pada bayi baru lahir, dimana keseimbangan produksi panas dan
kehilangan panas berada pada titik ekuilibrium untuk mencapai suhu tubuh
fisiologis, berikut diuraikan faktor tambahan yang dapat menurunkan produksi
panas.2
Tabel 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi panas bayi.2
Peningkatan Produksi Panas
Bayi bangun
Bayi aktif

Penurunan Produksi Panas
Bayi yang tertidur dalam
Bayi sakit, pasca asfiksia atau dengan

Setelah ingesti makanan
Pada pertumbuhan cepat
Tirotoksikosis neonatal
Bayi dengan gagal jantung, dimana

hipoksia
Bayi yang kelaparan
Malnutrisi
Bayi dengan hipotiroid
Bayi dengan penyakit jantung bawaan

terjadi shunt dari kiri ke kanan
sianotik
Setelah
pemberian
obat-obat Setelah pemberian obat-obatan tertentu,
tertentu, misalnya teofilin

seperti klorpromazin

14

b. Peningkatan panas yang hilang
Luas permukaan tubuh bayi baru lahir kira-kira tiga kali luas permukaan
tubuh orang dewasa dengan lapisan lemak di bawah kulit yang lebih tipis,
terutama pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Bayi baru lahir diduga 4
kali lebih cepat kehilangan panas daripada orang dewasa.5
Mekanisme kehilangan panas ini dapat diuraikan sebagai berikut :

Gambar 1. Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir.1
Konduksi
Konduksi merupakan perpindahan panas yang terjadi sebagai akibat
perbedaan suhu antara kedua obyek. Kehilangan panas terjadi saat kontak
langsung antara kulit bayi baru lahir dengan permukaan yang lebih dingin.
Sumber kehilangan panas terjadi pada bayi baru lahir yang berada pada
permukaan atau alas dingin, seperti pada waktu proses penimbangan. Konduksi
ini juga dapat terjadi bila bayi baru lahir memakai selimut yang dingin atau
pakaian yang basah. Akan tetapi, jumlah panas yang hilang pada bayi baru lahir
akibat konduksi ini cenderung sedikit dan dapat diabaikan.1,2
Konveksi
Konveksi merupakan transfer panas yang terjadi secara sederhana dari
selisih suhu antara permukaan kulit bayi dan aliran udara yang dingin di
permukaan tubuh bayi sehingga sangat ditentukan oleh perbedaan suhu antara

15

udara dan bayi. Kehilangan panas secara konveksi ini juga bergantung pada
kecepatan udara sekitar. Semakin cepat udara yang melewati permukaan tubuh
bayi, maka penyekat antara bayi dan udara akan hilang sehingga kehilangan
panas akan meningkat. Sumber kehilangan panas disini dapat berupa inkubator
dengan jendela yang terbuka, ruangan perawatan yang dingin dan pada waktu
proses transportasi bayi baru lahir ke rumah sakit.1,2
Radiasi
Radiasi adalah proses perpindahan panas dari suatu objek panas ke objek
dingin yang ada di sekitar, misalnya dari bayi dengan suhu yang hangat
dikelilingi suhu lingkungan yang lebih dingin.1 Sumber kehilangan panas dapat
berupa suhu lingkungan yang dingin atau suhu inkubator yang dingin atau bayi
yang telanjang dalam kamar bersalin saat baru lahir dan langsung terpapar
ruangan dingin.2
Evaporasi
Saat air menguap dari tubuh bayi, panas juga ikut terbuang. Setiap ml air
yang menguap akan membawa 560 kalori panas. Dalam kondisi normal,
evaporasi pada bayi aterm terjadi sebanyak seperempat bagian dari keseluruhan
produksi panas saat istirahat. Evaporasi ini mencakup yang keluar melalui
saluran nafas dan difusi pasif air melalui epidermis (transepidermal water
loss/TEWL). Bayi prematur memiliki TEWL yang lebih besar daripada bayi
aterm, sekitar 6 kali per unit area permukaan kulit pada bayi preterm usia 26
minggu. Hal ini terjadi karena kulit bayi preterm yang tipis dan resistensi yang
kurang, seperti dijelaskan dalam tabel 2 di atas.2
Evaporasi juga dapat meningkat melalui alat pemanas dan fototerapi
secara tidak langsung, melalui peningkatan suhu permukaan, kecepatan aliran
udara dan kelembaban lokal yang rendah, sehingga pemakaian alat pemanas dan
fototerapi ini perlu dibarengi dengan pencegahan tertentu misalnya dengan
pemakaian selimut plastik atau lembaran plastik bening yang akan mengurangi
TEWL hingga 75 %.2
c. Kegagalan termoregulasi

16

Kegagalan

termoregulasi

secara

umum

disebabkan

kegagalan

hipotalamus dalam menjalankan fungsinya dikarenakan berbagai penyebab.
Keadaan hipoksia intrauterin /saat persalinan/postpartum, defek neurologik dan
paparan obat prenatal (analgesik/anestesi) dapat menekan respon neurologik
bayi dalam mempertahankan suhu tubuhnya.1
Berdasarkan klasifikasinya, tatalaksana hipotermi secara rinci dapat
dijelaskan sebagai berikut :
A. Hipotermi berat
1. Segera hangatkan bayi di bawah pemancar panas yang telah dinyalakan
sebelumnya, bila mungkin. Gunakan inkubator atau ruangan hangat, bila
perlu
2. Ganti baju yang dingin dan basah bila perlu. Beri pakaian yang hangat,
pakai topi dan selimut dengan selimut hangat.
3. Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah.
4. Bila bayi dengan gangguan nafas (frekuensi nafas lebih dari 60 atau
kurang dari 30 kali/menit, tarikan dinding dada, merintih saat ekspirasi ),
lakukan manajemen gangguan nafas.
5. Pasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan infus
tetap terpasang di bawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan
6. Periksa kadar glukosa darah, bila kadar glukosa darah kurang dari 45
mg/dl, tangani hipoglikemi.
7. Nilai tanda kegawatan bayi (misalnya gangguan nafas, kejang atau tidak
sadar) setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4 jam sampai
suhu tubuh kembali dalam batas normal.
8. Ambil sampel darah dan beri antibiotik sesuai dengan yang disebutkan
dalam penanganan kemungkinan besar sepsis.
9. Anjurkan ibu menyusui segera setelah bayi siap :

Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan menggunakan
salah satu alternatif cara pemberian minum

17

Bila bayi tidak dapat menyusu sama sekali, pasang pipa lambung dan
beri ASI peras begitu suhu bayi mencapai 35°C.

10. Periksa suhu tubuh bayi setiap jam. Bila suhu naik paling tidak 0,5°C/jam,
berarti upaya menghangatkan berhasil, kemudian lanjutkan dengan
memeriksa suhu bayi setiap 2 jam.
11. Periksa juga suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu
ruangan setiap jam.
12. Setelah suhu bayi normal :

Lakukan perawatan lanjutan untuk bayi

Pantau bayi selama 12 jam kemudian dan ukur suhunya setiap 3 jam.

13. Pantau bayi selama 24 jam setelah penghentian antibiotika. Bila suhu bayi
tetap dalam batas normal dan bayi minum dengan baik dan tidak ada
masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat
dipulangkan dan nasehati ibu bagaimana cara menjaga agar bayi tetap
hangat selama di rumah.
B. Hipotermi sedang
1. Ganti pakaian yang dingin atau basah dengan pakaian yang hangat,
memkai topi dan selimuti dengan selimut hangat.
2. Bila ada ibu / pengganti ibu, anjurkan menghangatkan bayi dengan
melakukan kontak kulit dengan kulit atau perawatan bayi lekat
(Kangaroo Mother Care)
3. Bila ibu tidak ada :

Hangatkan kembali bayi dengan menggunakan alat pemancar panas,
gunakan inkubator dan ruangan hangat, bila perlu

Periksa suhu alat dan suhu ruangan, beri ASI peras dengan
menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan
sesuaikan pengatur suhu.

Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih sering
diubah.

18

4. Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat
menyusu, berikan ASI peras menggunakan salah satu alternatif cara
pemberian minum.
5. Mintalah ibu untuk mengamati tanda kegawatan (misalnya gangguan
nafas, kejang, tidak sadar) dan segera mencari pertolongan bila terjadi hal
tersebut.
6. Periksa kadar glukosa darah, bila <45 mg/dl, tangani hipoglikemia.
7. Nilai tanda kegawatan, misalnya gangguan nafas, bila ada tangani
gangguan nafasnya
8. Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5°C/jam,
berarti usaha mengahangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu tiap 2
jam.
9. Bila suhu tidak naik, atau naik terlalu pelan, kurang 0,5°c/jam, cari tanda
sepsis.
10. Setelah suhu tubuh normal :

Lakukan perawatan lanjutan

Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu tiap 3 jam.

11. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik
serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit,
bayi dapat dipulangkan. Nasihati ibu cara menghangatkan bayi di rumah.

C. Terapi Dengan Inkubator4
Inkubator biasanya digunakan pada bayi dengan berat badan lahir kurang
dari 1800 gram. Inkubator tertutup akan memberikan panas secara konveksi.
Oleh karena itu, inkubator ini tidak mencegah kehilangan panas secara radiasi
kecuali bila inkubator ini dilengkapi dengan dua lapis dinding. Demikian pula,
kehilangan panas secara evaporasi dapat dikompensasi jika kelembapan
ditambahkan ke dalam inkubator. Kelemahan inkubator tertutup ini adalah
sulitnya memantau bayi yang sakit dan sulit dalam melaksanakan beberapa
prosedur. Perubahan suhu tubuh yang dihubungkan dengan sepsis dapat diatasi
melalui sistem kontrol otomatis dari inkubator tertutup. Seorang bayi dapat
dilepaskan dari inkubator bila suhu tubuhnya dapat dijaga pada suhu lingkungan

19

< 30,0°C (biasanya bila berat badannya mencapai 1600-1800 gram). Inkubator
tertutup dapat mengatur suhu lingkungan netral dengan menggunakan satu dari
perlengkapan dibawah ini:5
a. Servocontrolled skin probe yang mencapai bagian perut bayi. Jika suhu
tubuh turun, maka panas akan ditambahkan. Jika target suhu kulit telah
tercapai, maka unit pengangat akan mati secara otomatis. Kelemahan dari
alat ini adalah, dapat terjadi panas yang berebihan bila sensor rusak.
b. Perlengkapan kontrol suhu udara. Dengan alat ini, suhu udara di dalam
inkubator dapat naik atau turun bergantung pada hasil pengukuran suhu
bayi. Penggunaan cara ini membutuhkan perhatian yang cukup dan
biasanya digunakan pada bayi yang sudah tua.
c. Probe suhu udara. Probe ini tergantung di dalam inkubator di dekat bayi
dan mengatur suhu udara agar tetap konstan.

II. HIPOGLIKEMIA
Batasan hipoglikemia pada neonatus masih kontroversi. Salah satu
batasan yang paling banyak dipakai adalah kadar glukosa plasma < 2,6 mmol/l
atau < 45 mg/dl untuk neonatus cukup bulan maupun neonatus kurang bulan.
Beberapa penyebab terjadinya hipoglikemia, antara lain:
a. Cadangan energi kurang, terdapat pada:
-

Bayi prematur

-

Bayi kecil untuk masa kehamilan/ wasted infants

-

Stressed infants; seperti infeksi atau hipoksia. Dalam keadaan
hipoksia pembentukan energi tidak efisien. Normal 1 gram glukosa
menghasilkan 38 ATP sedangkan dalam keadaan hipoksia hanya 2
ATP.

-

Bayi dengan kerusakan hepar/ gangguan hepar seperti hepatitis sering
mempunyai cadangan glikogen yang rendah sehingga tidak ada
cadangan energi yang dapat diubah menjadi glukosa.

20

b. Peningkatan kebutuhan energi
- Bayi dengan distres pernapasan
-

Bayi hipotermi; untuk mempertahankan suhu tubuh diperlukan banyak
energi dari glukosa dan lemak coklat

-

Bayi dari ibu diabetes melitus; sebelum lahir terbiasa mendapat glukosa
tinggi sehingga membuat janin obesitas dan merangsang pankreas janin
untuk sekresi insulin ekstra, saat lahir penyediaan glukosa terhenti
sedangkan produksi insulin tetap sehingga terjadi hipoglikemia.
- Bayi besar untuk masa kehamilan.
- Bayi dengan polisitemia
- Hiperinsulinism, islet cell dysplasia, Sindrom Beckwith Wiedemann.

c. Gangguan mobilisasi glukosa
- Inborn errors of metabolism.
- Defisiensi endokrin seperti : GH, kortisol,epinefrin,
- Ibu mendapat pengobatan propanolol (mencegah glikogenolisis dengan
menghambat rangsangan saraf simpatik, mencegah peningkatan asam
lemak bebas dan asam laktat sesudah aktifitas dengan cara menghambat
epinefrin ).
Terdapat beberpa gambaran klinis yang ditemukan pada bayi dengan
hipoglikemia, yaitu:
-

Depresi fungsi otak: letargis, hipotonik, malas minum, menangis

-

lemah, apnea, sianosis, refleks moro (-), dan hipotermi.
Over stimulation dari otak: jittery, menangis suara tinggi (high pitched
cry), a fixed stare and fisting, pergerakan bola mata abnormal dan

-

kejang
Aktivasi sistem saraf otonom dan pengeluaran adrenalin: keringat
yang berlebihan, palpitasi, pucat, lemah, lapar, tremor, mual dan
muntah.
GD < 45 mg/dL

GD  25 mg/dL
Hipoglikemia berat

GD > 25 - < 45 mg/dL
Hipoglikemia ringan/sedang

21

-

-

Koreksi secara IV bolus dekstrosa 10% 2 cc/kgBB
IVFD Dekstrosa 10% minimal 60 mL/kg/hari (hari
pertama) dengan GIR 6 – 8 mg/kg/mnt
Oral tetap diberikan bila tidak ada kontra indikasi

Nutrisi oral/enteral segera :
ASI atau PASI, maks. 100 mL/kg/hari (hari
pertama), bila tidak ada kontraindikasi oral

GD ulang (30 menit – 1 jam)

GD ulang (1 jam)

GD < 45 mg/dL

GD < 36 mg/dL

GD 36 - < 45 mg/dL
Oral : ASI atau PASI yang dilarutkan
dengan Dekstrosa 5%

Dekstrosa  *, cara :
volume  sampai maks
100
mL/kg/hari
(hari
pertama), atau
Konsentrasi  : vena
perifer
maks.
12,5%;
umbilikal dapat mencapai

GD ulang (1 jam)

GD > 36 - < 45 mg/dL**
GD  45 mg/dL

Ulang GD tiap 2 – 4 jam, 15 menit sebelum jadwal minum berikut, sampai 2x berturut-turut

Gambar 2. Algoritma tatalaksana hipoglikemia

III.

SEPSIS NEONATORUM
Sepsis neonatorum adalah sindrom klinis penyakit sistemik yang disertai

dengan bakteremia yang terjadi di bulan pertama kehidupan. Kondisi ini dapat
didefinisikan baik secara gejala klinis dan/ atau mikrobiologis, dengan kultur
darah

positif

dan/atau

cairan

serebrospinal.

Neonatal

sepsis

dapat

diklasifikasikan menurut onset penyakit: sepsis early onset (EOS) dan sepsis
late onset (LOS). Perbedaannya terletak pada klinis yang relevan, dimana EOS
terutama disebabkan oleh bakteri yang didapat sebelumnya dan selama
persalinan, sedangkan LOS disebabkan bakteri yang diperoleh setelah persalinan
(nosokomial atau komunitas sumber).6
Tabel 3. Klasifikasi sepsis neonatorum.6

22

Beberapa faktor kebidanan dan faktor bayi telah diidentifikasi mungkin
terkait dengan peningkatan risiko infeksi neonatal. Kombinasi faktor resiko
dapat meningkatkan kecurigaan sepsis. Faktor resikonya adalah sebagai berikut.6

Prematuritas dan berat badan lahir rendah

Ketuban pecah dini (lebih dari 18 jam)

Demam peripartum (> 100.40F) atau infeksi

Resusitasi pada saat lahir

Kehamilan ganda

Prosedur invasif

Bayi dengan galaktosemia (kecenderungan untuk E. coli sepsis), defek
imunitas, atau asplenia.

Faktor-faktor lain: jenis kelamin laki-laki (empat kali lebih terpengaruh
daripada perempuan), penggunaan susu formula, status sosial ekonomi
rendah, praktek mencuci tangan staf NICU dan anggota keluarga.
Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya sepsis

neonatorum, antara lain:
Faktor risiko mayor :
Ketuban pecah > 24 jam
Ibu demam saat intrapartum suhu > 38 C
Korioamnionitis
Denyut jantung janin menetap > 160x/menit
23

Ketuban berbau
Faktor risiko minor :
Ketuban pecah > 12 jam
Ibu demam saat intrapartum suhu > 37,5 C
Nilai APGAR rendah ( menit ke-1 < 5 , menit ke-5 < 7 )
Bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ) < 1500 gram
Usia gestasi < 37 minggu
Kehamilan ganda
Keputihan yang tidak diobati*
Infeksi Saluran Kemih (ISK) / tersangka ISK yang tidak diobati.
Tanda dan gejala sepsis dipengaruhi oleh virulensi patogen, portal
masuk, kerentanan dan respon dari host, dan perjalanan penyakit. Awal tanda
dan gejala infeksi pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut.6,7,8

Gejala umum: demam, ketidakstabilan suhu, penurunan nafsu makan,
edema

Sistem pencernaan: perut distensi, muntah, diare, hepatomegali

Sistem pernapasan: apnea, dispnea, takipnea, retraksi, napas cuping
hidung, merintih, sianosis

Sistem ginjal: oliguria

Sistem kardiovaskular: pucat, bintik-bintik; dingin, kulit berkeringat,
takikardia, hipotensi, bradikardia

Sistem saraf pusat: iritabilitas, letargi, tremor, kejang, hiporefleksia,
hipotonia, refleks moro abnormal, respirasi tidak teratur, high pitched cry

Sistem hematologi: penyakit kuning, splenomegali, pucat, petechiae,
purpura, perdarahan

Pemeriksaan penunjang yang dianjurkan (septic marker)
1

Hitung leukosit ( N 5000/uL - 30.000/uL)

2

Hitung trombosit ( N > 150.000/uL)

24

3

IT rasio (rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total) : (N < 0,2)

4

CRP ( N 1,0 mg/dL atau 10 mg/L).
Pengobatan

diidentifikasi.

paling

Terdiri

dari

sering

dimulai

penisilin,

sebelum

biasanya

penyebab

ampicillin,

definitif
ditambah

aminoglikosida seperti gentamisin. Pada sepsis nosokomial, flora NICU harus
dipertimbangkan; umumnya antibiotik yang mencakup staphylococcal adalah
Vankomisin ditambah aminoglikosida seperti gentamisin atau amikasin biasanya
dimulai.6,8

Daftar Pustaka
1. Yunanto A. Termoregulasi. In : Kosim MS, Yunanto A, Dewi R,
penyunting. Buku Ajar Neonatologi. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI;2008.h.89-102
2. Rennie JM dan Roberton NRC. Textbook of Neonatology 9th Ed.
2012.UK : Churchill Livingstone.

25

3. Tim Penyusun. 2012. Buku Acuan Pelayanan Obstetri Dan Neonatal
Emergensi Dasar (Poned).
4. Gomela TL. Temperature Regulation. In: A Lange Clinical Manual Neonatology
: Management, Procedures, On Call Problems, Diseases, and Drugs 5 th Edition.
McGraw-Hill ; 2004.h. 39-43
5. Zayeri M, Kazemnejad A, Ganjali M, dan Babaei G. Incidence and Risk Factors
of Neonatal Hypothermia at Referral Hospitals in Tehran, Islamic Republic of
Iran. La Revue de Sante la Mediterranee orientale 2007;13:h.1308-13
6. Mosalli R. ”Whole Body Cooling For Infants With Hypoxic-Ischemic

Encephalopathy:” Journal of
from

:

Clinical Neonatology. 2012. Available

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3743149/.pdf.

Accessed on Agustus 10 Juli 2016.
7. Shaha Kumar C. et al. Neonatal Sepsis-A Review. Bangladesh J Child

Health. 2012; 36(2): 82-89.
8. Richard A. Polin. Management of Neonates With Suspected or Proven
Early-Onset Bacterial Sepsis. American Academy of Pediatrics. 2012;
129(5): 1006-1015.

26