You are on page 1of 58

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN

Tinjauan Ekonomi
&

Keuangan Daerah
Provinsi Riau

Peta Riau

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Daftar Isi
Peta Riau..................................................................................... 2
Daftar Isi...................................................................................... 3
Kata Pengantar............................................................................ 4
Selayang Pandang...................................................................... 5
Geografis dan Demografis.......................................................... 6
Kondisi Pelayanan Publik............................................................ 7
Kondisi Perekonomian............................................................... 17
Kesejahteraan Masyarakat........................................................ 25
Potensi Ekonomi........................................................................ 30
Gambaran Umum Keuangan Daerah ....................................... 39
Kondisi Keuangan Daerah......................................................... 52
Ucapan Terima Kasih................................................................. 58
Sumber Data............................................................................. 59

Daft a r Isi

Kata Pengantar
Kondisi geografis, budaya, tipologi ekonomi yang sangat bervariasi antar-daerah menuntut adanya strategi kebijakan yang berbedabeda pula agar mampu mendorong akselerasi pembangunan daerah. Selaras dengan hal tersebut, otonomi daerah dan desentralisasi
fiskal telah pula membuka kesempatan bagi daerah untuk mengarahkan kebijakan publiknya menyesuaikan dengan kebutuhan dan
potensi unggulan daerah yang dimilikinya. Inovasi, kreatifitas, sensitifitas dan kejelian pemerintah daerah dalam meramu kebijakan
akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan daerah.
Setelah lebih dari satu dasawarsa pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, sudah banyak kemajuan dan peningkatan
yang terjadi, baik dari sisi pelayanan publik, kondisi keuangan, maupun imbasnya pada perekonomian daerah. Untuk itulah, informasi
dan gambaran mengenai kondisi pelayanan publik, kondisi keuangan daerah maupun profil perekonomian daerah menjadi penting
untuk ditinjau lebih jauh dari berbagai sudut pandang.
Buku Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah Prov. Riau ini diharapkan mampu memberikan informasi dan gambaran menyeluruh
bagi para stakeholder mengenai profil keuangan daerah serta perekonomian daerah di Prov. Riau. Kami berharap bahwa buku ini bisa
dijadikan sebagai salah satu referensi yang informatif, komprehensif namun juga ringkas, dalam pengambilan kebijakan yang terkait
dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
Jakarta,
Desember
2012
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan

Dr. Marwanto Harjowiryono.

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Selayang Pandang

Riau terletak di bagian tengah Pulau Sumatera. Secara etimologi kata Riau berasal dari bahasa Portugis, Rio yang berarti sungai,
yaitu dimulai pada tahun 1514 pada saat ekspedisi militer Portugis menjelajahi sungai Siak. Pada awal kemerdekaan Indonesia,
wilayah Kesultanan Siak Sri Inderapura dan Residentie Riouw dilebur dan tergabung dalam Prov. Sumatera yang berpusat di
Bukittinggi. Kemudian Prov. Sumatera dimekarkan menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera
Selatan. Dominannya etnis Minangkabau dalam pemerintahan Sumatera Tengah, menuntut masyarakat Riau untuk membentuk
provinsi tersendiri. Untuk itulah pada tahun 1957, berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 tahun 1957, Prov. Sumatera Tengah
dimekarkan menjadi tiga provinsi yaitu Riau, Jambi dan Sumatera Barat. Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002, Prov.
Riau kembali dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Riau dan Kepulauan Riau.
Penduduk Prov. Riau terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Mereka terdiri dari Jawa, Minangkabau, Batak, Banjar, Tionghoa,
Bugis, dan yang paling dominan adalah suku Melayu. Bahasa pengantar sehari-hari pada umumnya menggunakan bahasa Melayu
dan bahasa Indonesia. Bahasa Melayu umumnya digunakan di daerah-daerah pesisir seperti Rokan Hilir, Bengkalis, Dumai, Pelalawan,
Siak, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan di sekitar pulau-pulau. Bahasa Minang secara luas juga digunakan oleh penduduk di provinsi
ini, terutama oleh para oleh penduduk asli di daerah Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu yang berbudaya serumpun Minang
serta para pendatang asal Sumatera Barat.

Se l ayang Pa nda ng

Geografis dan Demografis


No

Daerah

Luas (Ha)

Kab. Kuantan Sengingi

Kab. Indragiri Hulu

362.961

767.627

Kab. Indragiri Hilir

662.305

1.379.414

Kab. Pelalawan

303.021

1.240.414

Kab. Siak

377.232

823.357

Kab. Kampar

686.030

1.092.820

Kab. Rokan Hulu

475.011

722.978

Kab. Bengkalis

498.384

843.720

Kab. Rokan Hilir

552.433

896.143

10 Kab. Kepulauan Meranti

176.371

360.703

11 Kota Pekan Baru

903.902

63.301

12 Kota Dumai

254.337

203.900

5.543.031

8.915.016

Provinsi Riau

Jumlah
Penduduk
291.044

520.216

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Jumlah Penduduk (orang) dan Luas Wilayah (Ha),


Tahun 2010
Secara geografis, Prov. Riau terletak pada posisi 01 05 00 Lintang
Selatan - 02 25 00 Lintang Utara atau antara 100 00 00 - 105 05 00
Bujur Timur, yang membentang dari lereng Bukit Barisan hingga Selat
Malaka. Riau memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan
berkisar antara 2000-3000 milimeter per tahun, serta rata-rata hujan per
tahun sekitar 160 hari. Dengan luas wilayah mencapai 89.150 Km2, Riau
dialiri oleh 15 sungai, diantaranya 4 sungai besar yang mempunyai arti
penting sebagai sarana perhubungan seperti Sungai Siak, Sungai Rokan,
Sungai Kampar dan Sungai Indragiri.
Prov. Riau terdiri dari 10 Kabupaten dan 2 Kota, dengan ibukota di
Pekanbaru. Kabupaten dengan wilayah paling luas adalah Kab. Indragiri
Hilir, diikuti oleh Pelalawan dan Kampar. Meskipun demikian, penduduk
paling banyak justru terdapat di Kota Pekanbaru yang sebenarnya
wilayahnya paling kecil, yaitu dengan penduduk mencapai lebih dari 900
ribu jiwa, atau dengan kepadatan penduduk tertinggi yaitu mencapai
lebih dari 1.400 jiwa per Km2. Jumlah penduduk Riau secara keseluruhan
mencapai 5,5 juta jiwa.

Kondisi Pelayanan Publik


1. Pendidikan
2. Kesehatan
3. Infrastruktur
4.

Perusahaan Air Minum

5.

Sumber Daya Listrik

Pe l ayanan P ublik

No.

Kab/Kota

Guru

Rasio Murid/ Rasio Murid/


Guru
Sekolah

Murid

Kab. Kuantan Sengingi

236

3.461

39.612

11,45

167,85

Kab. Indragiri Hulu

284

3.618

55.644

15,38

195,93

Kab. Indragiri Hilir

336

83.666

249,01

Kab. Pelalawan

207

42.132

203,54

Kab. Siak

195

3.087

56.851

18,42

291,54

Kab. Kampar

460

6.445

94.390

14,65

205,20

Kab. Rokan Hulu

335

3.786

67.822

17,91

202,45

Kab. Bengkalis

327

2.520

70.211

27,86

214,71

Kab. Rokan Hilir

336

4.390

82.642

18,83

245,96

10

Kab. Kepulauan Meranti

11

Kota Pekan Baru

241

4.675

102.833

22,00

426,69

12

Kota Dumai

265

1.894

30.599

16,16

115,47

3.222

33.876

726.402

13,55

Provinsi Riau

Sekolah

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

209,86

Jumlah Sekolah, Guru dan


Murid Sekolah Dasar (SD)
Tahun 2010/2011
Dari 3.222 SD yang ada di Prov. Riau, terdistribusi secara hampir
merata ke seluruh kabupaten/kota, dengan jumlah sekolah
terbanyak ada di Kab. Kampar. Sementara, seiring dengan
kepadatan penduduk yang sangat tinggi di Pekanbaru, maka
rasio murid per sekolah tertinggi juga terdapat pada Kota
Pekanbaru.
Secara rata-rata, rasio jumlah murid per jumlah guru di Riau
mencapai 14 orang murid per satu guru. Rasio ini relatif cukup
baik, karena bahkan lebih rendah dari beberapa wilayah di Jawa
yang rata-ratanya mencapai 22. Rasio murid per guru tertinggi
adalah di Kab. Bengkalis. Sementara di Kuantan Singingi
rasionya sangat rendah yaitu hanya 11 murid per satu orang
guru SD. Kota Pekanbaru yang tingkat kepadatan murid per
sekolahnya tertinggi, ternyata rasio murid per guru masih cukup
rendah, yaitu hanya 22 murid per satu orang guru.

No.

Jumlah Sekolah dan Murid


Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Tahun 2010/2011

Kab/Kota

Sekolah

Rasio Murid /
Sekolah

Murid

1 Kab. Kuantan Sengingi

70

12.374

176,77

2 Kab. Indragiri Hulu

59

16.256

275,53

3 Kab. Indragiri Hilir

98

17.255

176,07

4 Kab. Pelalawan

55

5 Kab. Siak

74

16.903

228,42
229,85

Hampir sama dengan fasilitas ketersediaan SD,

6 Kab. Kampar

100

22.985

maka jumlah SMP terbanyak juga terdapat di Kab.

7 Kab. Rokan Hulu

82

Kampar, yaitu terdapat 100 SMP dengan jumlah murid

8 Kab. Bengkalis

92

18.002

195,67

mencapai hampir 23 ribu murid. Begitu juga dengan

9 Kab. Rokan Hilir

98

23.054

235,24

11 Kota Pekan Baru

87

37.118

426,64

12 Kota Dumai

54

10.428

193,11

densitas murid per sekolah, sama dengan kondisi SD,


maka densitas tertinggi adalah di Kota Pekanbaru.

10 Kab. Kepulauan Meranti

Provinsi Riau

869

174.375

178,11

Pe l ayanan P ublik

No

Daerah

Angka Melek huruf (%)


2009

Angka Melek Huruf (AMH)

1 Kab. Kuantan Sengingi

97,81

97,82

2 Kab. Indragiri Hulu

97,76

98,16

3 Kab. Indragiri Hilir

98,79

99,06

4 Kab. Pelalawan

98,44

98,46

Salah satu indikator dasar yang menggambarkan

5 Kab. Siak

98,49

98,56

tingkat kemajuan di bidang pendidikan adalah angka

6 Kab. Kampar

98,44

98,48

7 Kab. Rokan Hulu

97,98

98,28

melek huruf tertinggi berada di ibukota provinsi, yaitu

8 Kab. Bengkalis

97,79

98,09

Kota Pekanbaru yang mencapai 99,87%. Sementara,

9 Kab. Rokan Hilir

97,80

97,99

Kabupaten termuda, yaitu Kab Kepulauan Meranti

10 Kab. Kepulauan Meranti

89,73

90,18

11 Kota Pekan Baru

99,80

99,87

12 Kota Dumai

99,30

99,31

Provinsi Riau

10

2010

97,68

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

97,86

Tahun 2009-2010

melek huruf. Di Prov. Riau, secara rata-rata angka melek


hurufnya relatif cukup tinggi yaitu di atas 97%. Angka

ternyata angka melek hurufnya masih jauh di bawah


rata-rata, karena hanya mencapai kisaran 90%.

Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) SD


se-Prov. Riau Tahun 2009/2010

No.

Kabupaten / Kota

1 Kab. Bengkalis

Angka Partisipasi
Kasar (APK)
115,04

Angka Partisipasi
Murni (APM)
93,84

Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) SMP
se-Prov. Riau Tahun 2009/2010

No.

Kabupaten / Kota

1 Kab. Bengkalis

Angka Partisipasi
Kasar (APK)

Angka Partisipasi
Murni (APM)

106,67

82,05

2 Kab. Indragiri Hilir

103,64

84,54

2 Kab. Indragiri Hilir

102,06

79,36

3 Kab. Indragiri Hulu

115,06

93,86

3 Kab. Indragiri Hulu

104,28

77,21

4 Kab. Kampar

113,83

92,85

4 Kab. Kampar

102,27

78,90

5 Kab. Kuantan Singingi

103,21

84,19

5 Kab. Kuantan Singingi

102,59

77,75

6 Kab. Pelalawan

121,16

98,83

6 Kab. Pelalawan

105,07

79,41

7 Kab. Rokan Hilir

118,44

96,62

7 Kab. Rokan Hilir

104,80

79,91

8 Kab. Rokan Hulu

121,96

99,48

8 Kab. Rokan Hulu

95,07

72,79

9 Kab. Siak

114,96

93,78

9 Kab. Siak

96,08

73,20

10 Kota Dumai

114,76

93,61

10 Kota Dumai

118,15

90,62

11 Kota Pekanbaru

116,35

94,91

11 Kota Pekanbaru

112,96

85,91

Angka partisipasi sekolah (baik APK dan APM) untuk SD


menunjukkan rasio banyaknya anak pada usia 7-12 tahun yang
bersekolah di SD. APK bisa lebih dari 100% karena termasuk
anak yang diluar usia 7-12 yang sekolah di SD, namun APM
maksimal 100% karena hanya menghitung anak usia 7-12
tahun yang bersekolah SD pada cakupan wilayah tertentu. Di
Prov. Riau, APK dan APM tertinggi adalah Kab. Rokan Hulu.
sementara yang terendah adalah Kab. Kuantan Singingi.

Angka partisipasi sekolah (baik APK dan APM) untuk SMP


menunjukkan rasio banyaknya anak pada usia 13-15 tahun yang
bersekolah di SMP. Di Prov. Riau, APK dan APM untuk tingkat
SMP yang tertinggi adalah Kota Dumai. sementara yang terendah
justru Kab. Rokan Hulu yang APK dan APM SD-nya tertinggi di
Riau.

Pe l ayanan P ublik

11

No.

Kabupaten/Kota

Rumah Sakit

1 Kab. Kuantan Sengingi

21

22

Jumlah Sarana Kesehatan

2 Kab. Indragiri Hulu

17

16

Tahun 2010

3 Kab. Indragiri Hilir

25

4 Kab. Pelalawan

12

17

Sarana kesehatan yang berupa rumah sakit terkonsentrasi

5 Kab. Siak

14

14

di Kota Pekanbaru, yaitu mencapai 42% dari seluruh

6 Kab. Kampar

28

25

jumlah RS di Riau. Di setiap kabupaten di wilayah Riau

7 Kab. Rokan Hulu

20

20

telah terdapat RS, paling tidak 1 unit RS. Sementara untuk

8 Kab. Bengkalis

11

16

pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat akan terlayani

9 Kab. Rokan Hilir

16

10

melalui Puskesmas dan untuk daerah-daerah terpencil

10 Kab. Kepulauan Meranti

melalui Puskesmas Keliling. Jumlah Puskesmas terbanyak

21

19

19

terdapat di Kab Kampar sebanyak 28 dan Indragiri Hilir

12

sebanyak 25 unit. Hal ini selaras dengan cakupan wilayah

11 Kota Pekan Baru


12 Kota Dumai
Provinsi Riau

12

50

Puskesmas

Pusling

200

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

177

di kedua daerah tersebut yang sangat luas.

No

Daerah

Angka Harapan Hidup (tahun)


2009

2010

Kab. Kuantan Sengingi

68,22

68,33

Kab. Indragiri Hulu

68,71

68,81

Kab. Indragiri Hilir

71,14

71,39

Kab. Pelalawan

68,69

68,82

Angka harapan hidup pada dasarnya menunjukkan

Kab. Siak

71,52

71,69

tingkat pencapaian derajat kesehatan masyarakat.

Kab. Kampar

68,36

68,52

Semakin tinggi derajat kesehatan tersebut, maka hasil

Kab. Rokan Hulu

67,13

67,17

akhirnya adalah angka harapan hidup yang lebih tinggi.

Kab. Bengkalis

70,24

70,35

Kab. Rokan Hilir

Angka Harapan Hidup (AHH)


Tahun 2009-2010

Secara nasional, pada tahun 2011 angka harapan hidup

67,11

67,18

10 Kab. Kepulauan Meranti

68,61

68,73

demikian, angka harapan hidup Prov. Riau sebenarnya

11 Kota Pekan Baru

71,24

71,45

lebih tinggi dari angka nasional. Secara keseluruhan,

12 Kota Dumai

71,33

71,64

masyarakat Indonesia adalah 70,76 tahun dan pada


tahun 2025 diharapkan mencapai 73,7 tahun. Dengan

Kota Dumai menduduki posisi tertinggi dengan harapan


hidup mencapai 71,6 tahun.

Provinsi Riau

71,25

71,40

Pe l ayanan P ublik

13

Panjang Jalan Menurut Status Jenis Permukaan dan Kondisi, Tahun 2010 (KM)
Keadaan Jalan
Jenis Permukaan

Negara

Provinsi

Kab. /Kota

Jumlah

1.134,46

3.033,32

19.565,60

23.733,38

1.076,5

1.294,2

4.628,2

6.998,93

Diaspal

Kerikil

44,0

801,2

5.441,0

6.286,14

Tanah

866,7

7.343,7

8.210,37

Beton

14,0

71,2

2.152,7

2.237,94

1.134,46

3.033,32

19.566,00

23.733,78

Kondisi Jalan
1

Baik

321,96

483,8

6.274

7.080,21

Sedang

556,34

1143,32

6.803

8.503,02

Rusak

128,08

693,57

4.016

4.837,21

Rusak Berat

128,08

712,63

2.473

3.313,34

Dari keseluruhan jalan sepanjang 23.733 km panjang jalan di Riau, 82% merupakan jalan kab/kota, 13% jalan
provinsi dan sisanya adalah jalan negara. Secara keseluruhan, jalan yang telah diaspal dan beton adalah
39%, sisanya masih berupa jalan kerikil dan jalan tanah. Sementara dilihat dari kondisinya, 30% masih dalam
kondisi baik, namun 34% dalam kondisi rusak, termasuk rusak berat. Jalan provinsi merupakan jalan dengan
kondisi paling memprihatinkan, karena hanya 16% yang kondisinya baik. Sementara jalan negara yang baik
mencapai 28% dan jalan kab/kota 32%.

14

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

No.
Panjang Jalan menurut Kondisi

Kabupaten/Kota

Kondisi Jalan
Baik

Sedang

Rusak

Kab. Kuantan Sengingi

544,0

996,9

205,0

Kab. Indragiri Hulu

248,7

593,0

704,4

Kab. Indragiri Hilir

72,3

1.096,7

103,4

Dari segi km panjang jalan yang

Kab. Pelalawan

230,1

301,7

1,0

dalam kondisi baik, maka jalan di

Kab. Siak

780,5

665,4

431,2

Kota

jalan

Kab. Kampar

827,2

566,8

405,5

dalam kondisi baik yang terpanjang

Kab. Rokan Hulu

438,9

558,0

636,5

Kab. Bengkalis

433,1

354,3

312,4

yang

Kab. Rokan Hilir

133,4

108,7

177,9

mempunyai jalan dalam kondisi baik

10

Kab. Kepulauan Meranti

1.005,0

570,2

253,0

paling

Kepulauan

11

Kota Pekan Baru

1.102,1

579,7

642,4

Meranti yang mencapai lebih dari 50%.

12

Kota Dumai

459,3

412,0

143,0

6.274

6.803

4.016

Jalan (Km), Tahun 2010

Pekanbaru

mempunyai

yaitu 1.102 km, diikuti oleh Kepulauan


Meranti sepanjang 1.005 km. Dari
angka

persentase,
panjang

ternyata

adalah

Sementara itu, Pelalawan mempunyai


persentase kondisi jalan rusak yang

Provinsi Riau

paling rendah, sedangkan Rokan Hilir


mempunyai persentase jalan rusak
paling tinggi yaitu mencapai 42%.

Pe l ayanan P ublik

15

Tahun

Uraian

2008

Jumlah Perusahaan

2009
19

2010
18

Jumlah Perusahaan Air Minum,

2011
19

24

Kapasitas Produksi (liter/detik)


1

Potensial/Potential

1.643

1.909

1.943

1.998

Efektif/Effective

1.267

1.338

1.343

1.452

Sumber Air/Water Source (m)

20.002.575

19.544.169

19.867.323

20.064.288

18.505.512

17.914.015

18.225.623

18.379.597

Sungai/River

Waduk/Reservoir

189.670

393.394

395.426

397.333

Mata air/Spring

566.518

290.680

295.987

297.658

Air tanah & lainnya/ Ground Water & other

740.875

946.080

950.287

989.700

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Riau

Jumlah perusahaan air minum di Riau

90%. Jumlah air yang disalurkan pada

pada

cukup

tahun 2011 mencapai 22,2 juta m3. Dari

signifikan, dari 19 perusahaan di tahun

volume tersalur tersebut, sekitar 40% untuk

2010, menjadi 24 perusahaan. Demikian

sektor niaga, 38% susut dalam penyaluran

juga kapasitas efektif produksinya, naik

dan sisanya terbagi untuk berbagai sektor,

dari 1.343 liter/detik menjadi 1.452 liter/

termasuk industri, rumah tangga, dll. Yang

detik. Sumber utama untuk air minum

tersalur ke rumah tangga baru mencapai

adalah air sungai yg mencapai lebih dari

69 ribu m3.

16

tahun

2011

meningkat

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Status Peruashaan, Kapasitas


Produksi, Sumber Air Baku dan
tenaga Kerja Perusahaan Air
Minum di Prov. Riau

Kondisi Perekonomian
1.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

2.

Tingkat Inflasi

3.

Produksi Tanaman Pangan

4.

Produksi Perkebunan

5.

Produksi Ternak

6.

Produksi Perikanan

7. Industri
8. Perhotelan

Pe r e ko nomia n

17

Pertanian
20%

Produk Domestik Regional


Perdagangan, Hotel
dan Restoran
9%

Industri Pengolahan
21%

Other
14%

Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan
Jasa-Jasa
2%
4%
Pengangkutan dan
Komunikasi
2%
Bangunan dan
Konstruksi
6%

Pertambangan
36%

Sebagaimana diketahui, perekonomian Prov. Riau sangat ditopang


oleh sektor pertambangan yang kontribusinya terhadap PDRB
mencapai 36%, yaitu mencapai Rp123 triliun dari total PDRB Riau
sebesar Rp342,7 triliun. Industri pengolahan dan sektor pertanian
mempunyai kontribusi yang cukup besar juga, yaitu di kisaran 20%.
Industri pengolahan mencapai Rp70 triliun, sementara pertanian
berkontribusi sebesar Rp69 triliun.

18

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Bruto Atas Dasar Harga


Berlaku Menurut Lapangan
Usaha (2010)

Jenis Tanaman (Ha)


No.

Kabupaten/Kota

Luas Panen Tanaman Bahan

Padi Sawah Padi Ladang

Padi

Palawija

Jagung

Lainnya

Makanan Menurut Jenisnya

1 Kab. Kuantan Sengingi

9.738

260

9.998

768

179

se-Prov. Riau Tahun 2010

2 Kab. Indragiri Hulu

1.738

1.593

3.331

1.132

396

736

3 Kab. Indragiri Hilir

30.813

696

31.509

5.354

4.059

1.295

4 Kab. Pelalawan

11.341

1.574

12.915

10.647

10.274

373

8.324

414

8.738

799

268

531

947

5.189

6.136

2.293

109

2.184

5 Kab. Siak
6 Kab. Kampar

589

7 Kab. Rokan Hulu

5.189

10.506

15.695

2.706

747

1.959

Tanaman padi secara keseluruhan masih

8 Kab. Bengkalis

7.207

2.196

9.403

472

50

422

merupakan tanaman pangan yang paling

9 Kab. Rokan Hilir

44.784

255

45.039

754

312

442

dominan di wilayah Riau, utamanya di

10 Kab. Kepulauan Meranti

1.968

1.968

230

46

184

1.305

478

827

688

2.142

2.830

828

145

683

122.740

24.825

147.565

27.288

17.063

10.225

daerah Rokan Hilir dan Indragiri Hilir,


serta Rokan Hulu, khusus untuk padi
ladang. Sementara palawija juga banyak
ditanam, namun hanya terkonsentrasi

11 Kota Pekan Baru


12 Kota Dumai
Provinsi Riau

Sumber: Daftar SP-Padi dan SP-Palawija, Dinas Pertanian Kab./Kota, Provinsi Riau

di wilayah Pelalawan, termasuk juga


tanaman jagung.

Pe r e ko nomia n

19

No. Jenis Ternak


1 Kuda
2 Sapi
3 Sapi Perah
4 Kerbau
5 Kambing
6 Domba
7 Babi

20

Populasi Ternak menurut Jenis Ternak

Tahun
2008

2009

se-Prov. Riau Tahun 2008-2010 (ekor)

2010

160.502

172.394

188.688

Dari segi jumlah hewan ternak, nampak bahwa jumlah

ternak kambing jauh lebih tinggi dibandingkan hewan

49.116

51.697

52.699

ternak lainnya. Ternak sapi pedaging juga relatif

240.809

184.326

264.251

banyak dan dari tahun ke tahun masih terus mengalami

5.798

3.366

5.660

peningkatan, sementara jumlah hewan ternak babi di

54.567

65.258

47.631

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Riau cenderung menurun.

No.

Produksi Ikan Menurut Asal


Tangkapan se-Prov. Riau
Tahun 2009 (Ton)

Kabupaten

Kab. Kuantan Sengingi

Kab. Indragiri Hulu

Kab. Indragiri Hilir

Kab. Pelalawan

Kab. Siak

Laut + Budi
Daya
-

Perairan
Umum
166,8
2.274,7

Tambak

Keramba

Jumlah

2.344,6

2.511,4

1.045,5

3.320,2
35.798,2

32.407,7

1.590,7

1.438,7

361,1

3.431,5

1.444,7

155,0

4.581,0

9.612,2

406,9

1.018,1

558,8

1.983,8
29.363,3

Sesuai dengan namanya, maka Kab. Rokan

Kab. Kampar

852,9

28.510,4

Hilir dan Indragiri Hilir mendominasi produksi

Kab. Rokan Hulu

1.883,0

2.511,0

4.394,0

Kab. Bengkalis

3.031,2

203,0

392,4

3.626,6

36.308,9

6,8

446,6

39.623,2

7,5

69,0

725,0

969,1

1.068,5

1,3

83,5

963,6

1.812,3

41.873,0

132.990,0

ikan di wilayah Riau, utamanya yang


bersumber dari laut budi daya. Sementara

Kab. Rokan Hilir

10

Kab. Kepulauan Meranti

untuk Kab. Kampar, hasil produksi ikan

11

Kota Pekan Baru

juga tinggi namun merupakan hasil dari

12

Kota Dumai

keramba. Hasil produksi ikan dari ketiga

Provinsi Riau

2.860,9

648,5
-

99,4

878,8
77.113,5

12.191,2

kabupaten tersebut telah mencapai 80%


dari keseluruhan produksi ikan di Riau yang
mencapai 132 ribu ton.

Pe r e ko nomia n

21

Kode Gol. Pokok


Industri
(1)
15
16/17/23/24
20
21
22
25
26
35
36
Jumlah

15
16/17/23/24
20
21
22
25
26
35
36

Barang yang
Dihasilkan
(2)
64.653.882.344
867.224.108
486.069.582
23.208.554.192
144.004.352
3.360.631.517
4.732.527
79.567.660
76.034.610
92.880.700.892

Tenaga Listrik
Yang Dijual
(3)
4.007.197
4.007.197

Pendapatan dari
Jasa Industri
(4)
588.110.338
8.155.963
5.599.437
88.202.667
55.253
21.565.160
200.000
711.888.818

Selisih Nilai Stock


Barang Setengah Jadi
(5)
263.558.352
(238.149)
(4.077.605)
56.772.543
1.422.699
30.371.370
31.399
(1.206.175)
(354.288)
346.280.146

Penerimaan
Lainnya

Jumlah

(6)
346.913.795
14.143.893
99.782.801
32.975.293
10.305.266
164.057
3.732.495
256.000
508.273.600

(7)
65.856.472.026
889.285.815
481.991.977
23.365.109.536
184.001.781
3.489.510.820
4.983.236
103.659.140
76.136.322
94.451.150.653

Nilai Output
Perusahaan Industri
Besar dan Sedang
menurut Golongan
Pokok Industri di
Prov. Riau
(Ribu Rupiah)
2009

Industri Makanan dan Minuman


Industri Pengolahan Tembakau/ Industri Tekstil/Industri Barang-barang dari Batu bara, Pengilangan Minyak Bumi
Industri kayu, barang-barang dari kayu(tidak termasuk furniture) dan barang anyaman dari rotan, bambu dan
Industri Kertas, barang-barang dari kertas dan sejenisnya
Industri Penerbitan, percetakan dan reproduksi media rekaman
Industri Karet, barang dari karet dan barang plastik
Industri Barang Galian bukan Logam
Industri alat angkutan, selain kendaraan bermotor roda empat atau lebih
Industri Furnitur dan Industri Pengolahan lainya

Untuk industri manufaktur, yang paling dominan adalah industri makanan dan minuman, dengan nilai output hingga
mencapai Rp65 triliun (70% dari keseluruhan kontribusi industri manufaktur kepada ekonomi Riau). Industri lain yang
juga cukup besar adalah industri kertas yang nilai ekonominya mencapai Rp23 triliun.

22

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Nilai Tambah Industri


Besar dan Sedang
menurut Golongan
Pokok Industri di
Prov. Riau
2006-2008
(Ribu Rupiah)

Kode Gol. Pokok


Industri

Nilai Tambah Bruto


Nilai Output

Biaya Antara

(2)

(3)

(Harga Pasar)

Pajak Tak
Langsung

(2)-(3)
(1)
15

(4)

45.467.364.891

25.078.257.756

20.389.107.135

16/17/23/24

537.176.638

185.067.461

20

218.510.034

(44.971.909)

21

11.297.242.129

22

96.065.527

25

2.754.562.804

26

2.113.730

Nilai tambah atas


biaya Faktor
(4)-(5)

(5)

(6)

426.420.422

19.962.686.713

352.109.177

3.000

352.106.177

263.481.943

1.268.594

262.213.349

(770.625.278)

12.067.867.407

110.405.355

11.957.462.052

8.129.273

87.936.254

297.295

87.638.959

2.019.614.788

734.948.016

2.555.157

732.392.859

2.869.506

3.000

2.866.506

(755.776)

35

66.350.157

29.041.174

37.308.983

2.361.581

34.947.402

36

48.698.445

21.260.568

27.437.877

82.237

27.355.640

60.488.084.355

26.525.018.057

33.963.066.298

543.396.641

33.419.669.657

Jumlah

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Riau

Sebagaimana nilai output ekonominya, maka nilai tambah terbesar pada sektor industri
manufaktur juga bersumber dari Industri makanan dan minuman, yaitu dengan nilai
tambah mencapai hampir Rp20 triliun. Diikuti oleh industri kertas yang mencapai hampir
Rp12 triliun.

Pe r e ko nomia n

23

Kabupaten/Kota
(1)

Jumlah
Akomodasi

Kamar

Tempat Tidur

(8)

(9)

(10)

Jumlah akomodasi, Kamar


dan Tempat Tidur Hotel di

Kab. Kuantan Sengingi

12

180

376

Prov. Riau

Kab. Indragiri Hulu

23

453

880

Tahun 2009

Kab. Indragiri Hilir

62

754

1.174

Kab. Pelalawan

267

394

Jumlah akomodasi terbanyak di

Kab. Siak

10

236

470

Riau berada di ibukota Pekanbaru,

Kab. Kampar

10

405

732

Kab. Rokan Hulu

14

233

418

Kab. Bengkalis

53

1.208

1.932

lebih dari 6.000 tempat tidur.

Kab. Rokan Hilir

19

465

828

Daerah lainnya relatif masih sangat

sedikit, kecuali Bengkalis yang

10 Kab. Kepulauan Meranti

yaitu

mencapai

akomodasi

yang

95

hunian

menyediakan

lebih dari 4.000 kamar dengan

mempunyai fasilitas akomodasi

11 Kota Pekan Baru

95

4.307

6.387

12 Kota Dumai

21

790

1.392

Sementara Dumai dan Indragiri

327

9.298

14.983

Hilir juga cukup banyak hingga

Provinsi Riau

dengan kisaran 2.000 tempat tidur.

melebihi seribu tempat tidur.

24

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Kesejahteraan Masyarakat
1.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

2.

Tingkat Pengangguran Terbuka

3.

Jumlah Penduduk Miskin & Garis Kemiskinan

Ke s e j ah te r aan M as ya ra ka t

25

No.

Daerah

IPM
2009

2010
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

1 Kab. Kuantan Sengingi

73,38

73,70

2 Kab. Indragiri Hulu

73,89

74,18

3 Kab. Indragiri Hilir

74,95

75,24

4 Kab. Pelalawan

72,69

73,18

5 Kab. Siak

76,05

76,46

6 Kab. Kampar

74,14

74,43

dimana pada tahun tersebut posisi IPM Riau

7 Kab. Rokan Hulu

72,29

72,66

berada di peringkat ketiga dari 33 provinsi, dibawah

8 Kab. Bengkalis

74,64

75,11

Prov. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara. Ibukota

9 Kab. Rokan Hilir

71,98

72,43

10 Kab. Kepulauan Meranti

70,15

70,62

yaitu Kepulauan Meranti mempunyai IPM paling

11 Kota Pekan Baru

77,86

78,27

rendah yaitu 70,6.

12 Kota Dumai

77,33

77,75

Provinsi Riau

26

75,60

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

76,07

Tahun 2009-2010

IPM Prov. Riau mencapai 76,07 pada tahun 2010,

Pekanbaru mempunyai IPM tertinggi di Riau, diikuti


oleh Kota Dumai. Sementara, Kabupaten termuda

No

DAERAH

2009

2010

2011

Desember Tahunan Desember Tahunan Desember Tahunan

1 KOTA BANDA ACEH

-0,23

3,49

1,18

4,58

0,91

3,33

2 KOTA LHOKSEUMAWE

1,31

3,92

2,97

7,04

0,15

3,54

3 KOTA SIBOLGA

-0,71

1,62

2,94

11,3

1,82

3,74

4 KOTA PEMATANG SIANTAR

-0,53

2,72

2,6

9,33

0,57

4,23

Dua kota di Riau yaitu Pekanbaru dan

5 KOTA MEDAN

0,74

2,67

1,48

7,45

0,46

3,55

Dumai merupakan dua diantara 66

6 KOTA PADANGSIDIMPUAN

-0,17

1,86

2,63

7,23

0,63

4,62

Kota yang dipantau inflasinya secara

7 KOTA PADANG

-0,65

2,06

7,61

0,48

5,38

8 KOTA PEKANBARU

-0,1

1,93

1,33

6,8

0,69

Sumatera. Pada tahun 2011, inflasi

9 KOTA DUMAI

-0,16

0,84

2,4

8,78

1,03

3,14

10 KOTA JAMBI

-0,31

2,5

1,83

10,12

0,66

2,79

tahunan Kota Pekanbaru relatif cukup

11 KOTA PALEMBANG

0,03

1,83

0,54

5,88

0,35

3,74

tinggi dibandingkan kota lain di Pulau

12 KOTA BENGKULU

-0,23

2,89

1,41

8,81

0,04

3,95

Sumatera, yaitu mencapai 5%. Hanya

13 KOTA BANDAR LAMPUNG

-0,25

4,17

0,77

9,54

0,19

4,18

Kota Padang yang inflasinya lebih

14 KOTA PANGKAL PINANG

0,94

2,17

1,3

9,01

0,4

4,99

tinggi pada tahun tersebut. Sementara

15 KOTA BATAM

-0,12

1,88

0,61

7,17

0,09

3,72

16 KOTA TANJUNG PINANG

0,08

1,45

0,26

6,04

0,02

3,28

Inflasi 66 Kota Tahun 2009-2011


(Desember & Tahunan)

rutin. Terdapat 16 kota di seluruh

Kota Dumai mengalami inflasi relatif


moderat, yaitu di kisaran 3%.

Ke s e j ah te r aan M as ya ra ka t

27

No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Kabupaten/Kota

Kab. Kuantan Singingi


Kab. Indragiri Hulu
Kab. Indragiri Hilir
Kab. Pelalawan
Kab. Siak
Kab. Kampar
Kab. Rokan Hulu
Kab. Bengkalis
Kab. Rokan Hilir
Kab. Kepulauan Meranti
Kota Pekan Baru
Kota Dumai
Provinsi Riau

Agustus 2009
Agustus 2010
Agustus 2011
Pengangguran
Pengangguran
Pengangguran
TPT (%)
TPT (%)
TPT (%)
(Orang)
(Orang)
(Orang)

8.366
10.553
13.873
8.220
9.964
20.323
11.213
42.018
16.561
38.909
13.505

6,76
7,18
3,88
6,41
8,01
7,71
6,81
13,21
7,88
12,03
13,45

5.848
12.509
16.795
5.825
15.305
25.280
15.883
24.363
19.967
5.303
44.556
15.613

4,86
8,28
5,41
4,69
9,37
9,23
8,61
11,36
9,33
6,70
10,23
14,68

4.096
6.990
15.366
4.087
7.435
15.533
7.226
13.934
11.108
4.626
39.347
6.474

2,95
4,14
4,80
2,93
4,38
4,89
3,38
6,09
4,57
5,52
9,33
5,65

193.505

8,56

207.247

8,72

136.222

5,32

Jumlah pengangguran di Riau, terus mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir. Pada
Agustus 2011, tingkat pengangguran hanya mencapai 5,32%. Tingkat pengangguran
tertinggi terdapat di Kota Pekanbaru yang mencapai 9,33%, sementara tingkat
pengangguran terendah adalah di Kab. Pelalawan.

28

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Jumlah Pengangguran dan


Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT)
Tahun 2009-2011

No.

Kabupaten

Jumlah (000 jiwa)


2009

2010

Persentase
2009

2010

Jumlah dan Persentase

1 Kab. Kuantan Singingi

42,74

36,70

14,42

12,57

Penduduk Miskin

2 Kab. Indragiri Hulu

35,98

32,50

10,25

8,9

Tahun 2009-2010

3 Kab. Indragiri Hilir

80,60

62,40

11,11

9,41

4 Kab. Pelalawan

50,71

44,40

16,71

14,51

5 Kab. Siak

20,19

24,60

5,71

6,49

65,58

72,30

10,04

10,47

68,01

62,40

15,49

13,03

63,43

41,30

7,91

8,25

55,96

51,70

9,32

9,3

75,00

42,57

33,42

38,20

3,92

4,2

15,65

16,50

6,08

6,45

532,27

558,00

10,09

Terdapat kenaikan jumlah penduduk


miskin di Prov. Riau pada tahun

2010, dibandingkan dengan tahun

2009.

Tingkat

tahun

2010

kemiskinan
mencapai

Persentase

kemiskinan

Pekanbaru

adalah

pada

12,18%.

Kota

10

paling

11

rendah, yaitu hanya 4,2% penduduk

12

yang

berstatus

di

yang

miskin.

Kab. Kampar
Kab. Rokan Hulu
Kab. Bengkalis
Kab. Rokan Hilir
Kab. Kepulauan Meranti
Kota Pekan Baru
Kota Dumai

Tingkat

kemiskinan tertinggi terdapat di

Prov. Riau

12,18

Kepulauan Meranti yang mencapai


angka lebih dari 42%.

Ke s e j ah te r aan M as ya ra ka t

29

Potensi Ekonomi

30

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

POTENSI INVESTASI YANG TERSEDIA

tidak dapat sepenuhnya ditampung oleh pasar, hal ini tentu saja
meyebabkan harga jual menurun secara drastis. Biasanya, buah

BIDANG PANGAN

nenas akan pecah dalam waktu kurang dari seminggu setelah


panen.

A. Industri Pengolahan Nenas


Salah satu daerah sentra pertanian

dan perkebunan kelapa

sawit di Prov. Riau adalah Kab. Kampar. Wilayah di kabupaten


tersebut memiliki potensi kesuburan tanah yang cocok untuk
pengembangan perkebunan nenas. Selama ini pertanian nenas
hanya dilakukan oleh masyarakat tempatan dengan metode dan
teknologi konvensional/sederhana. Agar mampu berkompetisi
di pasar lokal dan internasional, kualitas nenas Kab. Kampar
harus berada pada level standar mutu tinggi. Di samping itu,
komoditas ini juga perlu mendapatkan perhatian ekstra untuk
mendapatkan nilai tambah dan laba bagi para petani.

B. Pengembangan Budidaya Perikanan Air Tawar (Patin)


dan Industri Pengolahannya
Salah satu komoditias unggulan di bidang perikanan air tawar
Prov. Riau adalah Ikan Patin Jambal yang habitat awalnya
berasal dari sungai di daerah Indragiri Hulu. Seiring dengan
perkembangan

teknologi

yang semakin canggih ternyata

ikan patin jambal dapat dikembangbiakkan/dibudidayakan di


daerah-daerah lain juga memiliki potensi sungai yang baik
untuk pengembangan ikan patin.
Dalam rangka mengefektifkan pembangunan di sektor perikanan,

Pemerintah

Kab.

Kampar

berusaha mengembangkan

Pemerintah Prov. Riau bersama beberapa Pemerintah Kabupaten

industri pengolahan nenas dengan menarik para investor

yang memilki potensi pengembangan sektor perikanan seperti

untuk mendirikan usaha pengalengan nenas, selai nenas dan

Kab.

jus nenas. Saat ini, areal pertanian nenas yang telah ditanami

Hilir, Kab. Pelalawan, Kab. Rokan Hulu, dan Kab. Rokan Hilir

mencapai luas 800 hektar dengan produksi sekitar 9.000 ton/

membuka peluang usaha yang sangat prospektif tersebut kepada

tahun. Pada masa mendatang areal tersebut diharapkan dapat

kalangan pelaku usaha/investor dalam negeri maupun asing untuk

dikembangkan menjadi 1.500 ha. Permasalahan yang sering

mengembangkan budidaya ikan patin di Prov. Riau.

Kampar, Kab. Bengkalis, Kab. Indragiri Hulu, Indragiri

dihadapi oleh para petani adalah ketika jumlah produksi buah


Po te ns i E konomi

31

Pengembangan budidaya ikan patin jambal dinilai sangat cocok

Pemerintah Prov. Riau membuka peluang seluas-luasnya bagi

dan layak untuk dilakukan mengingat daerah ini memiliki kawasan

kalangan pelaku usaha dan pemilik modal untuk menanamkan

yang masih sangat luas untuk dikembangkan. Budidaya ikan

modalnya

patin jambal dilakukan cara budidaya kolam, keramba, dan

sawit dan industri turunan CPO di sebuah kawasan khusus yang

jaring apung. Saat ini budidaya ikan patin terbesar di Prov. Riau

diberi nama Kawasan Industri Dumai.

adalah Kab. Kampar kemudian diikuti oleh Kab. Rokan Hulu,


Bengkalis, Kuantan Singingi, dan daerah lainnya. Berdasarkan
data terakhir dari Dinas Perikanan Prov. Riau, tercatat bahwa

melalui

pembangunan pabrik pengolahan kelapa

D. Pengembangan Industry Peternakan (Kambing dan


Unggas) dan Pengolahannya

produksi ikan patin di Kab. Kampar sudah mampu mencapai

Pengembangan

jumlah 25 ton/hari.

merupakan sebuah peluang usaha yang sangat menjanjikan

peternakan

kambing

di Kab. Bengkalis

untuk dilakukan mengingat kebutuhan masyarakat akan produk

C. Pengembangan Industri Turunan CPO

pangan hewani salah satunya daging kambing masih sangat

Di sektor perkebunan, Pemerintah Prov. Riau tengah berupa

tergantung kepada daerah-daerrah pemasok yang berada di

mengembangkan industri hilir hasil produksi kelapa sawit

luar daerah Bengkalis. Jumlah populasi dan produksi daging

dengan

sawit dan

kambing yang ada di Kab. Bengkalis saat ini masih tergolong

industri turunan CPO. Sebagai sebuah daerah agraris, Prov. Riau

membangun pabrik pengolahan kelapa

kecil dan perlu semakin ditingkatkan meskipun dari tahun ke

memiliki lahan perkebunan yang sangat luas. Prov. Riau kini

tahun selama periode 2006-2010 populasi ternak kambing jika

mampu menjadi daerah penghasil produk perkebunan yang

dirata-ratakan mengalami kenaikan sebesar 95%. Total 75.340

bermutu tinggi. Data statistik menyatakan bahwa saat ini Prov.

ekor kambing ayam pedaging 1.283.494 ekor,

Riau memiliki 1.530.150 hektar lahan perkebunan sawit (terluas

kampung 2.342.957 ekor, dan itik 9.895 ekor.

di Indonesia) dengan produksi CPO sebanyak 4,659,246 ton/


tahun (nomor dua terbesar di Indonesia). Dalam rangka
memaksimalkan pemanfaatan terminal agribisnis di Kota Dumai,

32

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

ayam buras/

BIDANG ENERGI

B. Biomassa dan Cocopit

A. Pengembangan PLTA dan Microhidro

Lahan kebun sawit di Riau tercatat dikisaran 1,6 juta hektar,

Riau Daratan diberkahi dengan 6 sungai besar seperti


Sungai Rokan Kanan, Rokan kiri,

Kampar

Kanan,

Kampar

Kiri, Indragiri/Kuantan, dan Sungai Siak dan ditambah lagi


dengan ratusan sungai-sungai kecil yang bernilai ekonomis
tinggi. Berdasarkan kajian dan survei yang telah dilakukan

dari hasil kebun sawit dihasilkan sejumlah komponen biomassa


seperti pelepah sawit, tempurung, serabut, tandan kosong kelapa
sawit, dan lain-lain. Produksi biomassa sawit tiap ha sekitar 18
ton, sehingga potensi biomassa sawit di Prov. Riau sekitar 28
juta ton/tahun.

dapat disimpulkan bahwa potensi sungai-sungai yang ada

Cangkang dan serabut saat ini sudah banyak dimanfaatkan

di wilayah Riau daratan sebagian besar dipandang sangat layak

sebagai

untuk dijadikan sebagai pembangkit energi listrik, khususnya

sawit, sementara itu untuk tandan kosong sawit umumnya

Pembangkit Listrik Tenaga Air.

dikomposkan untuk digunakan sebagai pupuk organik.

Sungai Singingi adalah salah satu sungai kecil yang sangat cocok

Sementara itu pelepah sawit yang diproduksi 6,2 ton/ha saat

dan memungkinkan untuk dijadikan sebagai Pembangkit

ini belum termanfaatkan dan umumnya dibiarkan membusuk

Listrik Tenaga Air Mini (Mini Hydro Power Plant) karena secara

di lahan kebun sawit. Pembusukan pelepah sawit tersebut

teknis ketersediaan air yang diperkirakan mampu menghasilkan

dapat menghasilkan gas

energi listrik dengan kapasitas 5 MW (2 unit pembangkit).

CO2. Sehingga pemanfaatan biomassa pelepah sawit ini akan

Pemberdayaan Sungai Singingi sebagai Pembangkit Listrik

mengurangi gas rumah kaca tersebut.

Tenaga Air Mini merupakan upaya/kebijakan Pemerintah Kab.


Kuantan Singingi dan

Pemerintah Prov. Riau dalam rangka

mengatasi krisis energi yang telah lama menjadi permasalahan


serius di Prov. Riau.

Gasifikasi

sumber

energi pemanasan untuk

biomassa

industri kelapa

rumah kaca seperti methane dan

merupakan

teknologi

yang

dapat

memanfaatkan biomassa sawit tersebut menjadi energi listrik


yang sangat bermanfaat bagi daerah pedesaan di Riau yang
masih belum dapat menikmati listrik. Dari potensi biomassa
Po te ns i E konomi

33

sawit sejumlah 28 juta ton/tahun dapat dihasilkan listrik sekitar

dimaksudkan untuk menampung berbagai industri pengolahan,

2.300 MWh/thn dengan menggunakan Unit Gasifikasi Biomassa.

terutama industri berbasis pertanian/agriculture.

Sehingga jika peluang ini dioptimalkan maka tingkat elektrifikasi


Prov. Riau dapat mencapai 100%.

BIDANG INFRASTRUKTUR

Pembangunan kawasan industri di Prov. Riau merupakan


satu upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan

perekonomian masyarakat.

suatu wilayah yang sangat strategis untuk diwujudkan sebagai


Kawasan Industri Terpadu mengingat kawasan ini merupakan

A. Pembangunan Kawasan Industri Terpadu

salah

Bila ditinjau dari sisi potensi, kawasan Buruk Bakul merupakan

Kawasan Buruk Bakul adalah

suatu wilayah yang telah direncanakan oleh Pemerintah Kab.


Bengkalis untuk dijadikan Kawasan Industri Terpadu yang
akan difungsikan untuk menampung industri manufaktur di
daerah Kab. Bengkalis.

perairan laut yang cukup dalam dan setiap kapal yang masuk
tidak perlu menghindari alur laut dangkal sehingga akan lebih
menghemat waktu dan bahan bakar.
Pemerintah Kab. Bengkalis dengan menyadari sepenuhnya
bahwa Pembangunan Pelabuhan dan kawasan industri Buruk
Bakul ini adalah pekerjaan besar yang tidak akan mampu
dilakukan oleh pihak Pemerintah Kab. Bengkalis, Pemerintah
Prov. Riau, bahkan Pemerintah Pusat saja. Untuk menunjang
dan

mempercepat

terlaksananya

pembangunan

kawasan

Berdasarkan rencana, kawasan ini akan didirikan menjadi dua

tersebut diperlukan partisipasi pihak swasta;

bagian utama yaitu Kawasan Pelabuhan untuk aktivitas ekspor-

pemilik modal/investor. Hal yang paling yang paling mendasar

impor dan Kawasan Industri Terpadu. Dengan adanya fasilitas

untuk menunjang pembangunan Kawasan Industri Terpadu ini

pelabuhan

mampu menampung seluruh

adalah peningkatan fasilitas infrastruktur seperti jaringan listrik,

barang hasil produksi dari daerah Kab. Bengkalis dan daerah-

air bersih, sarana penyeberangan Ro-Ro antarpulau dan akses

daerah lain di daratan Pulau Sumatera untuk tujuan ekspor ke

jalan tol.

diharapkan

akan

mancanegara terutama negara jiran Malaysia dan Singapura.


Sementara bagian utama kedua Kawasa n Industri Terpadu

34

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

pelaku usaha,

B. Pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Pangkalan Kerinci


Pembangunan jalan tol Pekanbaru - Pangkalan Kerinci (Kab.
Pelalawan) sangatlah penting untuk menyediakan akses yang
lebih baik demi kelancara aktivitas dunia usaha di berbagai
sentra industri dan sentra sumber daya alam mulai di beberapa
daerah di Prov. Riau. Jalan tol ini diharapkan bisa meningkatkan
konektivitas mulai dari Kota Pekanbaru sebagai ibu kota Prov.
Riau, Kota Dumai Kota Pelabuhan Minyak Riau Daratan, Kota
Perawang Sentra Industri Pengolahan kayu, Kota Duri Daerah
Tambang dan Pengolahan Minyak Bumi, dan Kota Pangkalan
Kerinci Sentra Penghasil CPO dan Industri Pulp & Kertas.
Pangkalan Kerinci juga merupakan sentra Industri pengolahan
kelapa sawit dan industri kertas, antara lain PT. Riau Andalan
Pulp and Paper (RAPP) yang merupakan salah satu industri
kertas terbesar di Asia Tenggara.
Menyadari tingginya frekuensi mobilitas penduduk dan lajunya
pertumbuhan ekonomi di daerah ini, maka Imbas dari adanya jalan
tol ini juga bisa mendorong berkembangnya ekonomi di daerah
yang mendapatkan kemudahan akses ke jalan tol, mengurangi
kemacetan, mengurangi kemacetan lalu lintas, dan menarik
minat investor untuk menjalankan usahanya di Prov. Riau.

Po te ns i E konomi

35

Gambaran Umum Keuangan Daerah

36

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Komposisi APBD Prov. Riau


Agregat Prov., Kab., dan Kota

30.000,00

Miliar Rupiah

25.000,00
20.000,00
15.000,00
10.000,00
5.000,00
(5.000,00)
(10.000,00)

2008

2009

2010

2011

2012

Pendapatan

17.805,15

13.077,65

17.767,87

21.995,52

21.070,52

Belanja

16.593,01

17.098,60

16.373,14

18.762,39

25.190,75

Surplus/Defisit

1.212,14

(4.020,95)

1.394,73

3.233,13

(4.120,23)

Pembiayaan

5.394,30

6.157,20

2.194,88

2.840,08

878,88

Keterangan: 2008-2011 Realisasi; 2012 Anggaran

Ke u angan Da era h

37

Miliar Rupiah

Komposisi Pendapatan APBD Prov. Riau


Agregat Prov., Kab.,dan Kota

20.000,00
18.000,00
16.000,00
14.000,00
12.000,00
10.000,00
8.000,00
6.000,00
4.000,00
2.000,00
-

2008

2009

2010

2011

2012

PAD

2.832,92

2.403,68

2.634,40

3.319,90

2.969,15

Daper

14.744,18

10.504,47

14.645,87

17.584,48

16.995,18

L2PyS

228,05

169,50

487,60

1.091,14

1.106,19

Keterangan: 2008-2011 Realisasi; 2012 Anggaran

38

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Miliar Rupiah

Komposisi Belanja APBD Prov. Riau


Agregat Prov., Kab.,dan Kota

10.000,00
9.000,00
8.000,00
7.000,00
6.000,00
5.000,00
4.000,00
3.000,00
2.000,00
1.000,00
-

2008

2009

2010

2011

2012

B. Pegawai

5.542,80

5.914,23

6.749,25

7.495,09

8.698,99

B. Barang Jasa

2.887,28

3.010,95

3.036,55

3.997,19

5.392,86

B. Modal

5.998,21

6.056,13

4.836,30

5.095,68

7.478,92

B. Lain2

2.164,72

2.117,29

1.751,03

2.174,43

3.619,98

Keterangan: 2008-2011 Realisasi; 2012 Anggaran

Ke u angan Da era h

39

Komposisi Pendapatan Asli Daerah APBD Prov. Riau


Agregat Prov., Kab., dan Kota (Rata-Rata Realisasi APBD 2008-2011)
Komposisi PAD Kab/Kota

Komposisi PAD Prov.

Pajak daerah

11,0%

1,7%

18,8%

32,2%

5,7%

Retribusi daerah
15,8%
81,6%

Hasil pengelolaan
kekayaan daerah
yang dipisahkan

33,2%

Lain-lain PAD yang


sah
(Dalam Juta Rupiah)

Uraian

40

PAD

Pajak daerah

Retribusi daerah

Hasil pengelolaan kekayaan daerah


yang dipisahkan

Lain-lain PAD yang


sah

Kab./Kota

1.101.376

206.788

173.503

366.167

354.917

Prov.

1.696.347

1.383.606

28.922

96.500

187.320

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Komposisi Pajak Daerah APBD Prov. Riau


(Perbandingan Rata-Rata Realisasi APBD 2008-2010 dengan Realisasi APBD 2011)
40,0
35,0
30,0

25,0
20,0
15,0
10,0
5,0
0,0

Pajak Bahan
Pajak
Kendaraan
Bakar
Kendaraan Bermotor
Bermotor

Bea Balik
Nama
Kendaraan
Bermotor

Pajak Air
Pajak Air
Pajak
Permukaan Bawah Tanah Kendaraan
Diatas air

rata-rata 2008-2010

2011

(Dalam Juta Rupiah)

Pajak Bahan Bakar


Kendaraan Bermotor

Pajak Kendaraan
Bermotor

Bea Balik Nama


Kendaraan Bermotor

Pajak Air
Permukaan

Pajak Air
Bawah Tanah

Pajak Kendaraan
Diatas air

rata-rata
2008-2010

37,107

36,732

22,770

2,999

0,375

0,017

2011

27,450

37,567

32,482

2,489

0,000

0,012

Ke u angan Da era h

41

Komposisi Pajak Daerah APBD Kab./Kota Prov. Riau


(Perbandingan Rata-Rata Realisasi APBD 2008-2010 dengan Realisasi APBD 2011)
50,0
40,0
%

30,0
20,0
10,0
0,0
1

rata-rata 2008-2010

10

11

12

2011
(Dalam Juta Rupiah)

Pajak
Pajak
Penerangan Restoran
Jalan

42

3
BPHTB

Pajak
Pajak
Hotel Reklame

Pajak
Pengambilan
Air
Pajak dan
Pajak Pajak
Pengolahan
Bawah
Hiburan
Bahan Galian Parkir Tanah
Golongan C

10
Pajak
Sarang
Burung
Walet

11

12

Bea Balik
Pajak
Nama
Lingku- Kendaraan
ngan
Bermotor

rata-rata
2008-2010

43,16

14,44

0,00

11,09

6,50

2,92

4,61

2,30

0,00

0,83

0,00

0,00

2011

41,99

14,12

13,93

9,84

7,69

3,09

2,80

2,72

2,56

1,26

0,32

0,00

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Tren Simpanan Pemda se-Provinsi Riau di Perbankan


Agregat Prov., Kab., dan Kota

Miliar Rupiah

16.000
14.000
12.000
10.000
8.000
6.000
4.000
2.000
0
Jan

feb

Mar

Apr

Mei
2009

Jun
2010

Jul
2011

Agt

sep

Okt

Nov

Des

2012

Ke u angan Da era h

43

Potret Dana Simpanan Pemda di Perbankan Prov. Riau


Dalam bentuk Tabungan, Simpanan Berjangka dan Giro Agregat Prov., Kab., dan Kota
90.000.000
70.000.000
50.000.000
30.000.000
10.000.000
8.000.000
6.000.000
4.000.000
2.000.000
0
2008

2009
RIAU

RIAU
Nasional

44

2010

2011

Nasional

2008

2009

2010

2011

7.388.279

3.316.234

4.213.199

6.491.602

71.601.901

59.812.944

62.088.098

80.445.845

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Trend Persentase Dana Idle Terhadap Realisasi Belanja Daerah


Prov. Riau
Agregat Prov., Kab., dan Kota

+
Tren

40,00%
30,00%
20,00%

25,73%
19,39%
14,64%

15,00%
10,00%

dana

idle

terhadap realisasi belanja daerah

35,00%
25,00%

persentase

di wilayah Prov. Riau meningkat

34,60%

cukup tajam.
+
Hal

16,15%

ini

menunjukkan

bahwa

penyerapan belanja kurang baik di


wilayah Prov. Riau.

15,35%

5,00%
0,00%
2009

2010
RIAU

2011

Nasional

2009
NAS
Belanja
Idle
% Idle/Blj

2010
RIAU

389,7

17,1

NAS

2011
RIAU

424

16,37

NAS

RIAU

498,1

18,76

59,8

3,32

62,1

4,21

80,5

6,49

15,35%

19,39%

14,65%

25,73%

16,16%

34,60%
Ke u angan Da era h

45

Estimasi Realisasi Belanja Daerah Agregat Prov., Kab. dan Kota


Sampai Dengan Bulan September 2012
(Persentase)
100

98.840

90
80

76.116

70
60
%

40
30
20

14.016

20.283
13.265

8.450
10 4.766
8.247
4.890
0
Jan
Feb
Mar

26.774
20.141

42.777

42.448
34.541

33.085
26.240

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nov

Des

2011

4.766

8.450

14.016

20.283

26.774

33.085

42.448

54.399

58.753

67.065

76.116

98.840

2012

4.890

8.247

13.265

20.141

26.240

34.541

42.777

50.794

57.773

2011

Secara

persentase,

estimasi

realisasi

belanja

daerah

2012

sampai

dengan bulan September 2012 adalah sebesar 57,8%, lebih rendah


dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun 2011.

46

58.753
50.794

54.399

50

67.065
57.773

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

Estimasi Realisasi Belanja Daerah


Agregat Prov. Riau
Sampai Dengan Bulan September 2012
(Persentase)
80
70

57,8

60
50
40
30
20
10
Sulut

Malut

Sulsel

Gorontalo

Jatim

Lampung

Maluku

NTB

Sulteng

NTT

Sulbar

Sultra

Aceh

Jateng

Kepri

Sumsel

DIY

Kalteng

Jabar

Jambi

Sumbar

Kalbar

Sumut

Banten

Bengkulu

Bali

Kalsel

Papbar

Babel

Papua

DKI

Riau

Kaltim

00

+ Rata-rata realisasi APBD 2012 sampai dengan bulan September 2012 agregat per provinsi adalah sebesar 57,8%.
+ Terdapat 12 daerah yang mempunyai realisasi belanja di bawah rata-rata sedangkan 21 daerah mempunyai
realisasi belanja di atas rata-rata.
+ Realisasi belanja terendah adalah Prov. Kalimantan Timur yaitu sebesar 41,6% sedangkan yang tertinggi adalah
Prov. Maluku Utara sebesar 71,2%.

Ke u angan Da era h

47

Opini BPK atas LKPD Pemda


Se-Provinsi Riau
Nama Daerah
Prov. Riau

OPINI BPK
2008

2009

2010

WDP

WDP

WTP

Kab. Bengkalis

WDP

WDP

Kab. Indragiri Hilir

WDP

WDP

Kab. Indragiri Hulu

TMP

TMP

Kab. Kampar

WDP

WDP

Kab. Kepulauan Meranti

48

WDP

**

Kab. Kuantan Singingi

WDP

WDP

Kab. Pelalawan

WDP

WDP

WDP

Kab. Rokan Hilir

WDP

WDP

Kab. Rokan Hulu

WDP

WDP

WDP

Kab. Siak

WDP

WDP

WDP

Kota Dumai

WDP

WDP

Kota Pekanbaru

WTP

WDP

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

WDP

Kondisi Keuangan Daerah


Indikator Kondisi Keuangan Daerah
1.

Rasio Pendapatan Daerah / Jumlah Penduduk

2.

Rasio PAD/ Total Pendapatan Daerah

3.

Rasio Ruang Fiskal / Total Pendapatan Daerah

4.

Rasio Pajak Daerah dan Retribusi Daerah/ PDRB

5.

Rasio Belanja Modal / Total Belanja Daerah

6.

Rasio Total Pendapatan Daerah / Total Belanja Daerah

7.

Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung / Total Belanja Daerah

8.

Rasio SiLPA tahun sebelumnya / Belanja Daerah

9.

Rasio Pembayaran Pokok Hutang dan Bunga / Total Pendapatan Daerah

Ko nd i s i Ke uangan Da era h

49

Kondisi Keuangan Daerah


Prov. Riau Agregat Prov., Kab., dan Kota

Ribuan

Pendapatan Daerah / Jumlah Penduduk

PAD / Total Pendapatan Daerah

5.000

0,25

4.000

0,20

3.000
2.000

3.431,22
3.147,25
1.462,69 1.601,20

2.464,44

1.640,40

1.000

3.971,48
3.208,14 2.217,44

0,10

1.823,58

2008
Nasional

2009

2010

2011

prov. Riau

+ Rasio ini mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melayani


per satu orang penduduknya.
+ Rasio pendapatan daerah per kapita Prov. Riau memiliki tren
meningkat pada tahun 2009 s.d. 2011. Tren pendapatan per
kapita secara nasional juga memiliki tren meningkat. Namun
demikian rasio pendapatan per kapita Prov. Riau lebih tinggi
dibanding dengan rasio secara nasional.

50

0,14
0,16

0,16
0,18

0,18

2008

2009

0,19

0,21

0,15

0,15

2010

2011

0,05

0
2007

0,15

0,18

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

2007

Nasional

prov. Riau

+ Rasio ini mengukur tingkat kemandirian daerah yaitu


kemampuan daerah dalam mendanai belanjanya.
+ Rasio PAD per Total Pendapatan Daerah Prov. Riau memiliki tren
meningkat pada tahun 2007 s.d. 2009, kemudian mengalami
penurunan sampai dengan tahun 2011. Sedangkan rasio PAD
per Total Pendapatan secara nasional memiliki tren meningkat
. Namun demikian, rasio PAD per total pendapatan Prov. Riau
lebih rendah dibanding dengan secara nasional.

Kondisi Keuangan Daerah


Prov. Riau Agregat Prov., Kab., dan Kota
Ruang Fiskal / Total Pendapatan Daerah

0,80

2,00%

0,65

0,60
0,40

Pajak Daerah + Retribusi Daerah / PDRB

0,67
0,49

0,52

0,55

0,58

0,61

1,50%

0,41

0,40

1,00%

0,44

1,34%

1,42%

1,03%

1,08%

2007

2008

1,58%

0,50%

0,20

1,27%

1,33%

0,81%

0,85%

0,87%

2009

2010

2011

0,00%

2007

2008
Nasional

2009

2010

Nasional

2011

prov. Riau

+ Rasio ini mengukur tingkat kemampuan daerah dalam


mendanai program prioritas daerah tersebut.
+ Tren rasio ruang fiskal per total pendapatan daerah Prov.
Riau memiliki kecenderungan menurun pada tahun 2007
s.d. 2009, kemudian meningkat pada tahun 2010 s.d. 2011.
Sedangkan rasio ruang fiskal per total pendapatan daerah
secara rasio nasional memiliki tren menurun. Namun
demikian, rasio ruang fiskal per total pendapatan daerah
Prov. Riau lebih tinggi dibanding dengan rasio secara
nasional.

prov. Riau

+ Rasio ini mengukur tingkat kemampuan daerah dalam


menggali potensi pajak dan retribusi daerahnya menjadi
penerimaan pajak dan retribusi daerah.
+ Tren rasio pajak daerah dan retribusi daerah per PDRB
Prov. Riau memiliki tren meningkat meskipun pada tahun
2009 mengalami penurunan, sama seperti rasio secara
nasional. Namun demikian, rasio Prov. Riau memiliki
nilai yang lebih rendah dibanding dengan rasio secara
nasional.

Ko nd i s i Ke uangan Da era h

51

Kondisi Keuangan Daerah


Prov. Riau Agregat Prov., Kab., dan Kota
Rasio Total Pendapatan Daerah / Total
Belanja Daerah

Belanja Modal / Total Belanja


50,00%

41,19%

40,00%
30,00%
20,00%

28,95%

36,15%

27,46%

10,00%

35,42%

26,19%

29,54%

27,16%

22,17% 21,67%

0,00%
2007

2008
Nasional

2009

2010

2011

prov. Riau

140,00%
120,00%
100,00%
80,00%
60,00%
40,00%
20,00%
0,00%

103,64%
92,41%

2007

107,31%

97,04%

102,66%

108,52%

117,23%

102,22% 105,70%
76,48%

2008
Nasional

2009

2010

2011

prov. Riau

+ Rasio ini mengukur tingkat kemampuan keuangan daerah


+ Rasio ini mengukur seberapa besar daerah mengalokasikan
belanja modal terhadap total belanjanya.
+ Tren rasio belanja modal per total belanja Prov. Riau
cenderung menurun seperti tren rasio belanja modal per
total belanja secara nasional. Rasio belanja modal per
total belanja Prov. Riau lebih tinggi dibanding dengan rasio
nasional.

52

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

dalam mendanai belanja daerah.


+ Tren rasio total pendapatan per total belanja di Prov. Riau
mengalami peningkatan pada tahun 2009 s.d. 2011, sama
seperti rasio total pendapatan per total belanja secara
nasional. Dibandingkan dengan rasio secara nasional, rasio
Prov. Riau lebih tinggi pada tahun 2010 s.d. 2011.

Kondisi Keuangan Daerah


Prov. Riau Agregat Prov., Kab., dan Kota
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung / Total
Belanja Daerah
50,0%
35,9%

40,0%
30,0%

40,6%

40,2%

28,4%
30,9%
17,2%

60,00%
50,00%
40,00%

20,0%
10,0%

39,4%

Rasio SiLPA Tahun Sebelumnya / Belanja Daerah

17,9%

29,3%

22,0%

30,00%
20,00%

50,02%

33,81%

20,06%

38,23%
17,56%

17,07%

10,00%
0,00%

0,0%

2007

2007

2008
Nasional

2009

2010

2011

2008

2009

Nasional

14,90%

18,39%

12,29%

11,47%

2010

2011

prov. Riau

prov. Riau

+ Rasio ini mengukur seberapa besar daerah mengalokasikan


Belanja Pegawai Tidak Langsung terhadap total belanjanya.
+ Rasio belanja pegawai tidak langsung per total belanja Prov.
Riau cenderung meningkat seperti tren belanja pegawai tidak
langsung per total belanja secara nasional, meskipun pada
tahun 2011 rasio secara nasional mengalami penurunan.
Rasio belanja pegawai tidak langsung per total belanja Prov.

+ Rasio ini mengukur proporsi SiLPA tahun sebelumnya


terhadap belanja daerah tahun berjalan.
+ Rasio SiLPA terhadap belanja Prov. Riau cenderung
menurun, kecuali tahun 2009 yang mengalami kenaikan,
sama seperti tren rasio secara nasional. Rasio SiLPA
terhadap belanja Prov. Riau lebih tinggi dibanding rasio
secara nasional.

Riau lebih rendah dibanding dengan secara nasional.

Ko nd i s i Ke uangan Da era h

53

Kondisi Keuangan Daerah


Prov. Riau Agregat Prov., Kab., dan Kota
Rasio Pembayaran Pokok Hutang dan Bunga / Total
Pendapatan Daerah
+ Rasio ini mengukur proporsi pembayaran pokok utang dan bunga

1,00%
0,80%
0,60%

0,59%

0,68%
0,45%

0,40%
0,20%

0,04%

0,09%

2007

2008

0,39%

0,78%
0,69%

0,70%
0,63%

daerah di Prov.

Riau memiliki tren meningkat meskipun pada

tahun 2011 mengalami penurunan, sama seperti tren rasio secara


nasional. Rasio pembayaran pokok hutang dan bunga per total

0,00%

pendapatan daerah Prov. Riau lebih rendah dibanding dengan

Nasional

54

yang harus dibayar dari pendapatan daerah dalam satu periode.


+ Rasio pembayaran pokok hutang dan bunga per total pendapatan

2009

2010

2011

prov. Riau

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

secara nasional.

Ucapan Terima Kasih


Penyusunan buku Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah

yang telah menyediakan data Daerah Dalam Angka dan

dilaksanakan dengan kerjasama yang solid dan tidak akan dapat

memfasilitasi hingga tersedianya buku ini.

terselesaikan tanpa kontribusi dari seluruh pihak di lingkungan

+ Selanjutnya terima kasih kepada tim dari Subdirektorat

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Oleh karena itu

Evaluasi Dana Desentralisasi dan Perekonomian Daerah

apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya disampaikan

yang terdiri dari Putut Hari Satyaka, SE. MPP; Krisnandar,

dalam rangkaian kata berikut ini:

SE; Prasetyo Indro S.,SE, ME; Aris Soedjatmiko, S.Sos,

+ Ucapan terima kasih ditujukan kepada Direktur Jenderal

MM; Wahyu Widjayanto, SE, MM; Edi Soeprijono, S.Sos;

Perimbangan Keuangan DR. Marwanto Harjowiryono dan

Arif Zainuddin Fansyuri, Ak., ME; Femmy Ferdiansyah, SH;

Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah

Chrisliana Tri ferayanti, SE, ME; Mauliate H. Silitonga, SE;

Drs. Yusrizal Ilyas, MPA yang telah memberikan arahan dan

Nanag Garendra Timur, S.Si; Rizki Anggunani, S.Si; Shinta

bimbingan hingga terselesaikannya penyusunan buku ini.

Theresia Purba; Virgin Marthalia dan Nasiva Laliani yang telah

+ Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Subdirektorat

melakukan input dan pengolahan data sekaligus mendukung

Data Keuangan Daerah, Direktorat Evaluasi Pendanaan dan


Informasi Keuangan Daerah yang telah menyediakan data

penulisan dan melakukan editing buku ini.


Terima kasih atas kerja kerasnya.

ringkasan APBD 2012 dan Realisasi APBD 2011 melalui


Sistem Informasi Keuangan Daerah dan kepada Bagian
Umum,

Sekretariat

Jenderal

Perimbangan

Keuangan

Ucap an Te r i m a Ka sih

55

Sumber Data

SIKD, Kementerian Keuangan


Provinsi Riau Dalam Angka 2007 2011, BPS
Potensi Investasi di Provinsi Riau, BKPM
www.riau.go.id

56

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU

57

58

Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah | Provinsi RIAU