You are on page 1of 3

Antibiotik oral pada pasien rinosinusitis kronis post bedah endoskopi sinus

Antibiotik oral yang digunakan pada pasien rinosinusitis kronis post operasi masih
menjadi perdebatan oleh para ahli. Meskipun 86,8% dokter meresepkan antibiotik oral
sebagai bagian dari tatalaksana post operasi bedah endoskopi sinus, namun penelitian yang
dilakukan mengenai hal tersebut masih jarang. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Albu
dan Lucaciu mengatakan bahwa pasien yang menerima antibiotic selama 2 minggu maka
semakin baik gambaran endoskopi dan semakin tinggi nilai simptomatik pada pasien post
operasi. Studi literatur review merekomendasikan bahwa penggunaan antibiotik dapat
digunakan untuk mengontrol gejala awal dan mencegah infeksi akut akibat inflamasi
sebelumnya. Antibiotik yang digunakan harus berdasarkan pada hasil uji sensitivitas bakteri.
Makrolid
Makrolid merupakan salah satu antibiotik yang sering digunakan. Selain memiliki efek
sebagai antimikroba, makrolid juga memiliki efek imunomodulator dan efek rheologis pada
sinus paranasal. Makrolid adalah senyawa poliketida yang dihasilkan oleh jamur
actinomycota yang memiliki kemampuan istimewa untuk dapat melekat pada ribosom
eubakteria. Makrolid yang memiliki 14, hingga 16 cincin lakton dapat bermakna secara klinis
walaupun begitu hanya dua yang memililki kemampuan imunomodulator yang dapat
meningkatkan kemampuannya dalam menangani infeksi pada saluran pernafasan.
Efek imunomodulator pada penggunaan makrolid dalam jangka waktu lama pertama kali
dilaporkan 25 tahun lalu pada penanganan pasien panbronkhitis diffusa, penyakit inflamasi
pada saluran nafas bawah yang ditandai dengan inflamasi neutrofilik. Rinosinusitis kronis
merupakan suatu proses inflamasi multifaktorial yang dipengaruhi oleh genetik, lingkungan,
status imunitas, anatomi, mikroba dan alergi. Untuk itu penatalaksanaan dari rinosinusitis
kronis adalah dengan mengatasi proses inflamasi dari lapisan mukosa. Makrolid memiliki
kemampuan dalam menurunkan viskositas dari mukosa nasal, meningkatkan kelancaran dari
sekresi mukosa nasal, dan menurunkan hipersekresi mukosa tanpa merusak lapisan mukous.
Meskipun efek imunomodulator dari makrolid cukup baik namun kemampuan makrolide
sebagai antibiofilm juga harus dipertimbangkan dalam patogenesis rinosinusitis kronis.
Makrolid merusak penempelan bakteri terhadap jaringan, sehingga menghalangi sintesis
molekul dari bakteri dan mengembalikan biofilm bakteria pada lapisan mukosa menjadi
biofilm planktonik, sehingga dapat mengganggu pembentukan dari biofilm bakteria.

Efek antiinflamasi lain dari makrolid digunakan untuk menghilangkan efek aktivitas neutrofil
yang berlebihan pada mukosa sinonasal. Sekresi dari interleukin 8 yang merupakan
kemoattraktan kuat dari neutrofil dapat dinetralkan dengan 14-membered makrolide.
Makrolid meningkatkan produksi dari sitokin proinflamasi pada saat fase pembunuhan
kuman sebelum nantinya melakukan normalisasi dari sitokin tersebut melalui efek
imunomodulator. Selanjutnya kerusakan kolateral pada mukosa sinonasal yang diakibatkan
oleh proses eliminasi oxidatif dari neutrofil dapat diperbaiki melalui pembatasan sintesis dari
dari radikal bebas oleh makrolid. Efek imunomodulator dari makrolid ini didapatkan saat
konsentrasi makrolid dibawah dari kensentrasi minimun inhibisi untuk berbagai macam
bakteria. Keberhasilan makrolid dalam mengatasi inflamasi neutrofilik pada proses inflamasi
pada saluran pernafasan bawah tidak sama dengan proses yang terjadi pada sinus paranasal.
Observasi dalam penggunaan makrolid dalam jangka waktu yang lama pada pasien
rinosinusitis ditujukan untuk untuk mengukur derajad inflamasi dan patokan klinis dalam
respon terapi. Cervin et al melakukan penelitian secara in vivo menunjukkan bahwa
pemberian 12 minggu dari clarithromycin secara signifikan dapat mengurangi beberapa tanda
inflamasi dalam merespon sintesis histamin, meskipun penelitian ini tidak membuktikan
adanya korelasi antara nilai gejala atau evaluasi radiografis/endoskopi. Penelitian lain yeng
memiliki orientasi klinis lebih baik mengenai penggunaan jangka lama makrolid pada pasien
rinosinusitis menunjukkan bahwa terapi memiliki hubungan langsung dengan keparahan
penyakit, semakin berat penyakit maka semakin tidak responsif terhadap terapi, sedangkan
semakin ringan penyakit atau pada pasien yang sedang menjalani polipektomi maka akan
meningkatkan respon dari terapi menggunakan makrolid. Meskipun peningkatan secara klinis
dan parameter laboratorium untuk inflamasi telah dicapai, penelitian penelitian diatas
merupakan penelitian yang sederhana yang tidak disertai dengan adanya placebo atau
perbandingan dengan terapi komparatif lain yang menunjukkan keefektifan dari terapi.
Terapi makrolid telah diteliti secara komparatif pada pasien bedah dan plasebo. Ragab et al,
menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam gejala klinis dan labroratoris dari
inflamasi pada pasien dengan terapi medis dan yang sedang menjalani operasi. Penggunaan
erythromisin selama 3 bulan dikombinasikan dengan irigasi nasal memiliki kefektifan yang
sama dengan terapi kortikosteroid oral dan topikal. Meskipun regimen medikametosa
memiliki telorensi dan kefektifan sama seperti bedah, efek independen dari makrolid tidak
dapat dinilai tanpa kontrol group.

Pada akhirnya, penelitian placebo terkontrol perlu untuk dilakukan untuk menggambarkan
peran dari terapi makrolid pada rinosinusitis kronis. Ditemukan bahwa kelompok makrolid
memiliki kemampuan signifikan dalam meningkatkan keberhasilan terapi antimikroba
berdasarkan gambaran endoskopi dan sinonasal outcomes test 20 (SNOT-20) dibandingkan
placebo. Namun perlu dicatat pula bahwa tidak ada pasien yang menunjukkan kesembuhan
sempurna. Sebaliknya Videler et al., mendemonstrasikan bahwa tidak ada keuntungan yang
signifikan pada wujud endoskopi, test airway nasal, penilaian olfaktori atau profil mikroba
setelah 3 bulan penggunaan azithromicin dosis rendah.
Intensitas efek dari makrolid dalam mengatasi gejala rinosinusitis masih belum jelas dan
menjadi rintangan untuk dipecahkan. Peningkatan efek terapi dari makrolid telah dibuktikan
melalui penelitian prospektif acak yang membandingkan penggunaan makrolid sebagai
monoterapi dibandingkan dengan kombinasi terapi menggunakan agen mukoaktif
(carbocistein) dengan efikasi yang telah terbukti dapat mengurangi eksaserbasi dari PPOK.
Peningkatan yang signifikan pada efikasi klinis telah dilaporkan menggunakan kelompok
terapi kombinasi, meskipun banyak reaksi efek samping obat yang dilaporkan. Aspek yang
paling relevan secara klinis pada penelitian wallwork et al adalah analisis subgroup yang
mendemonstrasikan perbaikan gejala simptomatik yang kuat dan persisten pada pasien
dengan imunoglobulin E normal atau menurun yang mendapatkan terapi makrolid
dibandingkan dengan pasien yang memiliki IgE tinggi.
Adopsi klinis dalam penggunaan makrolid jangka panjang pada pasien rinosinusitis kronis
harus memperhatikan bahaya seperti resistensi antibiotik. Pada terapi jangka panjang, risiko
dari penyakit kardiovaskular tetap ada namun kecil. Resistensi antibiotik dapat terjadi apabila
penggunaan lebih dari 3 tahun. Efek samping dari terapi menggunakan makrolid meliputi
gejala gastrointestinal, timbungany rash, serta abnormalitas fungsi liver. Keuntungan yang
diperoleh dalam terapi menggunakan makrolid pada rinosinusitis lebih sedikit dibandingkan
dengan risiko yang didapat dari penggunaan jangka panjang makrolid. Pengetahuan
mengenai peranan makrolid dalam terapi rinosinusitis kronis berdasarkan penelitian plasebo
terkontrol masih terbatas. Pasien dengan rinosinusitis refrakter dan memiliki level IgE rendah
atau normal dapat diterapi dengan macrolid dalam jangka waktu lama.