You are on page 1of 7

PREVALENSI BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA IBU DENGAN

FAKTOR RISIKO MEDIKOOBSTETRIK DI RSUP DR. MOHAMMAD


HOESIN PALEMBANG PERIODE 1 JULI 2013-30 JUNI 2014
Citra Maharani, Putri Mirani2, Swanny3
1.
2.

Program Studi Pendidikan Dokter, FK Unsri,Palembang


Departemen Obstetri dan Ginekologi, FK Unsri, Palembang
3. Bagian Fisiologi, FK Unsri,Palembang
Jl. Dr. Muh. Ali Komplek RSMH Palembang 30126, Indonesia
citramaharaniputriagoes@yahoo.com

Abstrak
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR memiliki kontribusi
yang buruk terhadap morbiditas, mortalitas, serta disabilitas. Faktor risiko yang sering dihubungkan dengan BBLR
adalah usia ibu, usia kehamilan, paritas, jarak kehamilan, dan komplikasi penyakit ibu. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui angka kejadian dan distribusi BBLR pada ibu dengan faktor risiko medikoobstetrik. Jenis penelitian ini
menggunakan rancangan deskriptif dengan mengambil data rekam medik di Departemen Obstetri dan Ginekologi dan
Medikolegal RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Terdapat 557 ibu melahirkan BBLR dari 2921 kelahiran dan
telah ditentukan sampel penelitian sebanyak 339. Dari 339 subjek, BBLR (19,1%), usia 20-35 tahun (70,8%),
primigravida (36,9%), jarak kehamilan 0-2 tahun (43,4%), ibu dengan anemia (62,8%), preeklampsia (30,1%),
preeklampsia pada preterm (62,8%) dan aterm (37,2%), penyakit kronis (13,6%), penyakit kronis pada preterm (73,9%)
dan aterm (26,1%), kehamilan kembar (8,3%), kehamilan kembar pada preterm (60,7%) dan aterm (38,3%). Angka
kejadian bayi BBLR pada ibu dengan faktor risiko medikoobstetrik di RSMH Palembang tahun 2013-2014 (19,1%).
Perlunya sosialisasi, edukasi serta promosi kesehatan untuk mengantisipasi terjadinya BBLR.
Kata Kunci: berat badan lahir rendah, faktor risiko medikoobstetrik, angka kejadian

Abstract
Low birth weight (LBW) infants is birth weight which less than 2500 grams. LBW has a bad contribution to the
morbidity, mortality, and disability. The risk factors are often associated with low birth weight are maternal age,
gestational age, parity, pregnancies range, and maternal with complications. The main of this study is to determine the
incidence and distribution of low birth weight infants in women with medicoobstetrical risk factor. This study uses
descriptive design by taking medical records at the Department of Obstetrics and Gynecology and Medicolegal of Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Hospital. There are 557 maternal with LBW infants from 2921 and has been determined
339 as research sample. From 339 subjects, low birth weight (19.1%), aged 20-35 years (70.8%), primigravida
(36.9%), pregnancies range 0-2 years (43.4%), women with anemia (62.8%), preeclampsia (30.1%), preeclampsia in
preterm (62.8%) and at term (37.2%), chronic diseases (13.6%), chronic disease in preterm (73.9%) and at term
(26.1%), twin pregnancies (8.3%), twin pregnancy on preterm (60.7%) and at term (38.3 %). The incidence of LBW
infants in women with medicoobstetric risk factor in RSMH Palembang on 2013-2014 (19.1%). Need more
socialization, education and health promotion to anticipate the occurrence of LBW infants.
Keywords: low birth weight, medicoobstetric risk factor, the incidence

1. Pendahuluan
Angka kejadian atau biasa dikenal dengan istilah
prevalensi adalah jumlah kasus penyakit yang terjadi
dalam populasi pada waktu tertentu, pada suatu titik
waktu tertentu atau selama periode waktu tertentu 1.
Prevalensi digunakan oleh petugas kesehatan untuk
mengetahui berapa banyak penduduk yang terkena
penyakit tertentu sehingga dapat dilakukan suatu
perencanaan kesehatan, seperti melakukan pencegahan
dini pada ibu yang memiliki faktor risiko melahirkan
bayi berat badan lahir rendah (BBLR). Berat badan lahir
rendah didefinisikan oleh WHO sebagai bayi yang lahir
dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa
memandang usia gestasi. BBLR mempunyai kontribusi
yang buruk terhadap dampak kesehatan seperti
terjadinya peningkatan morbiditas, mortalitas, dan
disabilitas sehingga akan mengakibatkan dampak
jangka panjang terhadap kehidupan dimasa depan.
Saat ini, angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih
tinggi. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKB di Indonesia
mencapai 32 per 1.000 kelahiran hidup. AKB di
Sumatera Selatan mencapai 29 per 1.000 kelahiran
hidup. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik
kesimpulan belum terjadi penurunan sesuai target
Millenium Development Goals (MDGs) yaitu kurang
dari 23 per 1.000 kelahiran hidup 2. Prevalensi BBLR di
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung sebesar
30,9% dengan jumlah 943 dari 3049 persalinan3.
Di Palembang didapatkan 278 bayi BBLR atau sekitar
18,2% dari 1815 kelahiran di RS Muhammadiyah
Palembang, Klinik Bersalin Ananda, dan sebagian bidan
di Kecamatan Seberang Ulu II4. Hasil penelitian terakhir
oleh Annisa pada bulan Januari hingga Juni 2013
didapatkan kelahiran BBLR sebanyak 373 yang berkisar
23,5% dari 1586 persalinan di Departemen Obstetri dan
Ginekologi Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin
(RSMH) Palembang5.
Faktor risiko yang sering dihubungkan dengan kejadian
BBLR adalah usia kehamilan, paritas, jarak kehamilan,
dan ibu dengan usia ekstrim (<20 atau >35 tahun).
Selain itu faktor yang dapat mempengaruhi BBLR
adalah kehamilan ganda, ibu yang menderita anemia,
preeklampsia,
dan
berbagai
penyakit
kronis.
Dilatarbelakangi oleh data di atas, peneliti ingin
mengetahui angka kejadian BBLR berdasarkan faktor
risiko dari ibu yang melahirkan di Departemen Obstetri
dan Ginekologi RSMH Kota Palembang, Provinsi
Sumatera Selatan periode 1 Juli 2013 30 Juni 2014.

2. MetodePenelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah


penelitian observasional analitik dengan rancangan
penelitian cross sectional. Penelitian dilaksanakan selama 7
bulan yaitu mulai dari Juli 2014Januari 2015 di RSMH
Palembang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
ibu dengan faktor risiko di Departemen Obstetri dan
Ginekologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
pada periode 1 Juli 2013 30 Juni 2014 yang
melahirkan bayi berat badan lahir rendah. Pengumpulan
data dilakukan dengan mengambil data sekunder.
Pengumpulan data dengan mengobservasi data sekunder
yang diambil dari rekam medik bayi berat badan lahir
rendah pada ibu dengan faktor risiko medikoobstetrik di
Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Juli 2013 30
Juni 2014.

3. Hasil
Pada penelitian ini didapatkan pasien dengan bayi
BBLR di Departemen Obstetri dan Ginekologi RSMH
periode 1 Juli 2013 30 Juni 2014 sebanyak 557 orang
dari 2921 orang populasi. Sampel yang telah ditentukan
sebanyak 339 sampel yang memenuhi kriteria inklusi
dan eksklusi yang kemudian dikelompokkan melalui
variabel yang diambil menurut usia ibu,usia kehamilan,
paritas, jarak kehamilan, anemia, preeklampsia,
penyakit kronis ibu dan kehamilan kembar. Hasil
penelitian disajikan dalam bentuk tabel.
Tabel 1. Distribusi Bayi berdasarkan Berat Badan Lahir
(N= 2921)
Berat Badan Lahir
(N)
(%)
BBLR
557
19,1
Tidak BBLR
2364
80,9
Total
2921
100

Tabel 1 distribusi pasien yang melahirkan bayi dengan


BBLR di RSMH Palembang periode 1 Juli 2013 30 Juni
2014 terdapat 2921 kelahiran yang terdiri dari 557 (19,1%)
bayi dengan BBLR dan 2364 (80,9%) bayi dengan BBL
normal (tidak BBLR).
Tabel 2. Distribusi Usia Ibu dengan Bayi BBLR (N= 339)
Usia Ibu
<20 tahun
20-35 tahun
>35 tahun
Total

(N)
29
240
70
339

(%)
8,6
70,8
20,6
100

Tabel 2 didapatkan distribusi usia ibu dengan bayi BBLR di


dalam tabel diatas bahwa ibu dengan usia 20-35 tahun
memiliki angka paling tinggi dibanding distribusi umur
lainnya yaitu sebesar 240 orang (70,8%)
Tabel 3. Distribusi Usia Kehamilan Ibu dengan Bayi BBLR (N=
339)

Usia Kehamilan
Preterm
Aterm
Posterm
Total

(N)
242
97
0
339

(%)
71,4
28,6
0
100

Tabel 3 distribusi usia kehamilan ibu dengan bayi BBLR


palig tinggi dilihat dari tabel ada pada usia kehamilan
preterm yaitu sebesar 71,4%.
Tabel 4. Distribusi
Gravidum Ibu dengan Bayi
Gravidum
Primigravida
Multigravida
Grandemultigravida
Total

Faktor

P. Kronis
Preterm
(N) Aterm
125 Total
199
15
339
BBLR
(N= 339)
(N)

kronis, 293 (86,4%) ibu tanpa penyakit kronis, 28


(8,3%) ibu dengan kehamilan kembar, dan terdapat
311 (91,7%) ibu tanpa kehamilan kembar.
Tabel 7. Preeklampsia Berdasarkan Usia Kehamilan
Preeklampsia
Preterm
Aterm
Total

(N)
75
27
102

(%)
62,8
37,2
100

Frekuensi (N)
Persentase (%)
Tabel 6 didapatkan frekuensi
34
73,9
ibu dengan preeklampsia
(%)
12
26,1
adalah sebanyak 102 orang.
36,9
46
100
Pada
Tabel
7.
telah
58,7
dikelompokkan ibu dengan preeklampsia pada
4,4
kehamilan preterm adalah sebanyak 75 (62,8%) dan
100

(%)

Kehamilan Kembar
Preterm
Aterm
Total

Frekuensi (N)
17
11
28

Persentase (%)
60,7
39,3
100

aterm 27 (37,2%).

1. Anemia
+
Jarak Kehamilan
0-2 tahun
2.Preeklampsia

213
126
(N)
147

62,8
37,2
(%)
43,4

2-5+tahun
>5 -tahun
Total
3. Penyakit Kronis Ibu
+
-

102
118
23774
339

30,1
34,8
69,9
21,8
100

Berdasarkan Tabel 6. didapatkan frekuensi ibu dengan


penyakit kronis sebanyak 46 orang. Pada Tabel 8. telah
dikelompokkan ibu dengan penyakit kronis pada kehamilan
preterm sebanyak 34 (73,9%) dan aterm 12 (26,1%).

46
293

13,6
86,4

Tabel 9. Kehamilan Kembar Berdasarkan Usia Kehamilan

28
311
339

8,3
91,7
100

Berdasarkan Tabel 6 didapatkan frekuensi ibu


dengan kehamilan kembar sebanyak 28 orang. Pada
Tabel 9. telah dikelompokkan ibu dengan kehamilan
kembar pada kehamilan preterm sebanyak 17
(60,7%) dan aterm 11 (39,3%).

4.Kehamilan Kembar
+
Total

Tabel 4 dapat dilihat dari tabel distribusi paritas ibu


dengan bayi BBLR paling tinggi terdapat pada ibu
primigravida yaitu 125 orang atau dengan persentase
sebesar 36,9%.
Tabel 5. Distribusi Jarak Kehamilan Ibu dengan Bayi
BBLR (N= 339)

Tabel 5 dapat dilihat distribusi jarak kehamilan ibu


dengan bayi BBLR paling tinggi terdapat pada jarak
0-2 tahun yaitu sebanyak 147 orang atau dengan
persentase sebesar 43,4%.
Tabel 6. Faktor Komplikasi Penyakit Ibu dan Faktor
Lainnya (N= 339)

Tabel 6 dapat dilihat distribusi faktor komplikasi ibu


dan faktor lainnya yang berpengaruh terhadap
BBLR. Dari 339 sampel didapatkan 213 (62,8%) ibu
dengan anemia, 126 (37,2%) ibu tanpa anemia, 102
(30,1%) ibu preeklampsia, 237 (69,9%) ibu tanpa
preeklampsia, 46 (13,6%) ibu dengan penyakit

Tabel 8. Penyakit Kronis Ibu Berdasarkan Usia


Kehamilan

4. Pembahasan
Dari hasil penelitian ini didapatkan jumlah kasus ibu
melahirkan bayi BBLR periode 1 Juli 2013-30 Juni
2014 sebesar 19,1%. Dari data Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tahun
2013 didapatkan 23,5% ibu melahirkan bayi BBLR 5 hal
ini menunjukkan telah terjadi penurunan angka kejadian
BBLR. Penurunan angka kejadian tersebut dapat
disebabkan oleh edukasi yang berjalan efektik di
masyarakat sehingga masyarakat terutama ibu hamil
mengetahui faktor risiko yang dapat menyebabkan
BBLR serta mengenai pentingnya pemeriksaan
kehamilan secara berkala.
Didapatkan persentase ibu berusia 20-35 tahun memiliki
jumlah terbanyak yang melahirkan BBLR yaitu sebesar
70,8%, usia >35 sebesar 20,6%, dan ibu yang berusia

<20 tahun sebesar 8,6%. Berdasarkan data di RSMH


Palembang didapatkan hasil penelitian sebanyak 74,2%
ibu melahirkan bayi BBLR pada usia 20-35 tahun 6 dari
data acuan tersebut telihat bahwa telah terjadi
penurunan angka kejadian. Hasil penelitian ini tidak
sesuai dengan literatur bahwa usia ibu terlalu muda <20
tahun atau terlalu tua >35 tahun merupakan faktor risiko
BBLR. Secara teori pada usia kurang dari 20 tahun,
organ-organ reproduksi belum berfungsi sempurna,
rahim dan panggul belum tumbuh mencapai ukuran
dewasa sehingga apabila terjadi kehamilan dan
persalinan akan lebih mudah mengalami komplikasi dan
pada usia lebh dari 3 tahun telah terjadi penurunan
kesehatan organ-organ reproduktif proses degenerative
sudah mula muncul7. Pada penelitian ini didapatkan
angka paling tinggi melahirkan bayi BBLR pada usia
20-35 dikarenakan pada usia tersebut ibu termasuk
didalam usia produktif, dimana ibu sangat
dimungkinkan tidak memenuhi sumber zat gizi dalam
jumlah yang cukup untuk kehamilan sehingga akan
memengaruhi tumbuh kembang janin.
Didapatkan angka paling tinggi ada pada kelompok usia
kehamilan preterm (<37 minggu) yaitu sebesar 71,4%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh Manuaba yang mengatakan bahwa
berat badan bayi semakin bertambah sesuai dengan
umur kehamilan. Faktor kehamilan mempengaruhi
kejadian BBLR karena semakin pendek masa kehamilan
semakin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat
tubuhnya sehingga akan turut mempengaruhi berat
badan bayi8. Pada tahun 2014 oleh Annisa Nanda Putri
didapatkan angka kejadian BBLR diusia kehamilan
preterm di RSMH Palembang sebesar 57,5%, dan oleh
Darmawati Sahafi (2012) di RSMH pada tahun 2011
terdapat 44,9% ibu melahirkan BBLR diusia kehamilan
<37 minggu9. Berdasarkan data acuan tersebut telah
terjadi peningkatan prevalensi BBLR diusia preterm.
Pemeriksaan kehamilan yang teratur sangatlah penting
untuk mencegah terjadinya kelahiran prematur sehingga
kejadian BBLR dapat dicegah10.
Didapatkan sebesar 36,9% ibu primigravida melahirkan
bayi BBLR, 58,7% pada multigravida dan 4,4% pada
grandemultigravida. Ibu dengan kehamilan lebih dari
satu kali dapat diartikan mengalami kehamilan dan
persalinan berulang kali sehingga pada sistem
reproduksi terdapat penurunan fungsi dan akan terus
meningkat menjadi risiko tinggi seiring dengan
kehamilan berikutnya11.
Didapatkan jarak kehamilan ibu dengan bayi BBLR
paling banyak terjadi pada jarak 0-2 tahun dengan
persentase sebesar 43,4%. Pada jarak 2-5 tahun sebesar
34,8% dan jarak yang lebih dari 5 tahun sebesar 21,8%.
Di RSMH Palembang didapatkan persentase sebesar
59,1% pada ibu dengan jarak kehamilan 0-2 tahun5 dari
hasil acuan data tersebut dapat diartikan bahwa telah

terjadi penurunan kejadian BBLR akibat jarak


kehamilan yang dekat, namun bila dibandingkan dengan
penelitan yang dilakukan oleh Okky Dian E pada tahun
2011 di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang terdapat
persentase untuk jarak kehamilan 0-2 tahun adalah
sebesar 32,7%, hal ini menunjukkan bahwa angka
kejadian BBLR dengan jarak kehamilan 0-2 tahun
masih tinggi11. Hal ini sejalan dengan teori yang
menyatakan bahwa jarak kelahiran anak sebelumnya
kurang dari dua tahun, Rahim, dan kesehatan ibu belum
pulih setelah melahirkan sebelumnya, sehingga pada
kehamilan ini perlu diwaspadai karena kemungkinan
terjadi pertumbuhan janin yang kurang baik12.
Didapatkan jumlah kasus anemia pada ibu melahirkan
bayi BBLR sebesar 62,8% dan tidak anemia sebesar
37,2%. Di tahun 2014 angka kejadian ibu melahirkan
bayi BBLR dengan anemia di RSMH Palembang
mencapai 86,4% 6. berdasarkan data acuan tersebut
dapat disimpulkan telah terjadi penurunan angka
kejadian ibu anemia melahirkan bayi BBLR, serta
sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh
Saraswati pada tahun 2008 di Kota Sukabumi bahwa
terdapat hubungan yang signifkan antara BBLR dengan
anemia, dimana ibu hamil dengan anemia berpeluang
1,7 kali lebih besar untuk melahirkan bayi BBLR
dibandingkan ibu yang tidak anemia 13. Hasil ini sesuai
dengan teori bahwa kadar Hb ibu sangat mempengaruhi
kejadian BBLR. Hal ini karena pada ibu dengan anemia
akan menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenisasi
pada janin dan pertumbuhan janin akan terhambat10.
Pada penelitian ini didapatkan persentase ibu dengan
preeklampsia yang melahirkan bayi BBLR adalah
sebesar 30,1% dan tanpa preeklampsia sebesar 69,9%.
Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Annisa
Nanda Putri di RSUP Mohammad Hoesin Palembang
pada tahun 2014 yang menunjukkan bahwa persentase
ibu melahirkan BBLR tanpa preeklampsia lebih tinggi
dibandingkan ibu dengan preeklampsia5. Namun
berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Okky
Dian E pada tahun 2011 di RSUD D. Saiful Anwar
Malang yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan antara preeklampsia dengan BBLR dan
ibu dengan preeklampsia memiliki peluang 4,033 kali
lebih tinggi melahirkan bayi BBLR daripada ibu tidak
preeklampsia12. Hasil penelitian ini tidak sesuai secara
teori bahwa preeklampsia dapat mencegah plasenta
mendapat asupan darah yang cukup, karena telah terjadi
vasokontriksi uteroplasenta sehingga bayi bisa
kekurangan oksigen dan nutrisi yang akan
mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap ibu
dengan preeklampsia dengan usia kehamilan didapatkan
angka paling tinggi pasa usia kehamilan <37 minggu
(preterm)
yaitu sebanyak 75 orang atau dengan
persentase sebesar 73,5%. Hal ini sesuai dengan teori

bahwa preeklampsia dapat meningkatkan risiko


prematuritas dan juga dapat mencegah plasenta
mendapat asupan darah yang cukup, sehingga bayi bisa
kekurangan oksigen dan nutrisi. Hal ini dapat
menimbulkan rendahnya bobot tubuh bayi ketika lahir
dan menimbulkan masalah lain, seperti kelahiran kurang
bulan sampai kematian saat kelahiran (perinatal death)4.

masing anak kurang dari 2500 gram. Selain itu,


peregangan uterus berlebihan oleh karena besarnya
janin, 2 plasenta dan air ketuban yang lebih banyak
menyebabkan terjadinya partus prematurus rata-rata 3
minggu sebelum cukup bulan. Perbedaan ini terjadi
kemungkinan karena ibu yang hamil kembar cenderung
sedikit sehingga tidak mempengaruhi hasil.

Pada penelitian yang telah dilakukan didapatkan ibu


melahirkan BBLR dengan penyakit kronis sebesar
13,6% dan tanpa penyakit kronis sebesar 86,4%. Hasil
penelitian pada tahun 2014 di RSMH Palembang
didapatkan 10,6% ibu dengan penyakit kronis
melahirkan BBLR dan 89,4% ibu tanpa penyakit
kronis5. Dari data acuan tersebut dapat dilihat telah
terjadi peningkatan ibu dengan penyakit kronis
melahirkan bayi BBLR. Hasil penelitian ini tidak sesuai
teori menurut Coleman dan Rund dalam penelitian
Krisnandi (2005) bahwa ibu dengan penyakit kronis
seperti asma berat memiliki risiko untuk terjadinya
komplikasi kehamilan. Asma yang tidak terkontrol
selama kehamilan akan menyebabkan hipoksia pada ibu
dan janin. PaO2 <60mmHg akan membahayakan janin.
Selain itu, hipertensi kronis juga mempengaruhi untuk
terjadinya BBLR karena menurunnya perfusi darah ke
uteroplasenta.

Pada penelitian ini didapatkan angka paling tinggi ibu


dengan kehamilan kembar melahirkan bayi BBLR yaitu
diusia kehamilan <37 minggu (60,7%)Hasil ini sesuai
secara teori bahwa berat badan janin pada kehamilan
kembar lebih ringan daripada janin pada kehamilan
tunggal meskipun dengan umur kehamilan yang sama.
Hingga usia kehamilan 30 minggu kenaikan berat badan
janin kembar sama dengan janin kehamilan tunggal.
Setelah itu kenaikan berat bedan lebih kecil, mungkin
karena regangan yang berlebihan menyebabkan
perderan darah plasenta berkurang dan nutrisi yang
dirasa kurang mencukupi untuk saling berbagi antara
janin4.

Pada penelitian ini didapatkan angka paling tinggi ibu


dengan penyakit kronis melahirkan bayi BBLR diusia
kehamilan <37 minggu (preterm) yaitu sebanyak 34
orang atau dengan persentase sebesar 73,9%. Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori bahwa penyakit kronis
ibu memiliki kontribusi terhadap kejadian preterm yang
juga mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan
rendah. Penyakit kronis ibu tersebut dapat
meningkatkan risiko terjadinya vasokontriksi pembuluh
darah yang menyebabkan konstriksi arteriolar luas dan
hipoksia, kerusakan iskemik pada jaringan berbagai
organ tubuh dan menyebabkan aliran darah ke
uteroplasenta berkurang sehingga oksigen dan nutrisi
janin tidak terpenuhi yang mengakibatkan bayi berat
badan lahir rendah5.
Pada penelitian ini didapatkan hasil ibu melahirkan
BBLR dengan kehamilan kembar sebesar 8,3% dan ibu
dengan kehamilan tunggal melahirkan BBLR sebesar
91,7%.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh Darmawati Sahafi di RSMH Palembang
pada tahun 2010 didapatkan bahwa kehamilan ganda
tidak memiliki hubungan bermakna, dengan persentase
1,7% 9. Hasil penelitian ini tidak sesuai teori menurut
Oxorn, Harry dan Forte, William R, pengaruh
kehamilan kembar pada bayi adalah : berat masingmasing anak lebih kecil dari rata-rata, Kurtz
mendapatkan bahwa tidak ada satu pun kembar tiga
yang beratnya mencapai 2500 gram, berarti rata-rata

5. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap ibu
melahirkan bayi berat badan lahir dengan faktor risiko
medikoobstetrik di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang periode 1 Juli 2013-30 Juni 2014
menggunakan data sekunder dapat diambil kesimpulan
bahwa : Didapatkan secara umum jumlah pasien dengan
bayi BBLR adalah sebanyak 19,1% dari 2921 populasi.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap faktor risiko
riwayat kehamilan dan faktor reproduksi ibu didapatkan
angka paling tinggi terdapat pada faktor usia kehamilan
preterm (71,4%), faktor ibu yang berusia 20-35 tahun
(70,8%), status multigravida (58,7%), dan jarak
kehamilan 0-2 tahun (43,4%). Peneltian telah dilakukan
terhadap ibu melahirkan bayi BBLR dengan faktor
komplikasi ibu dan penyakit lainnya, didapatkan ibu
mengalami anemia (62,8%), ibu dengan preeklampsia
(30,1%), ibu dengan penyakit kronis (13,6%), ibu
dengan kehamilan kembar (8,3%). Dari hasil penelitian
ini dapat disimpulkan bahwa faktor tersering yang
menyebabkan ibu melahirkan bayi BBLR di RSMH
adalah faktor ibu melahirkan di usia 20-35 tahun dan
ibu dengan kehamilan preterm.

Daftar Acuan
1.
2.

Dorland, W.A Newman. 2012. Kamus Kedokteran


Dorland Ed.31 (Alih Bahasa : Albertus Agung
Mahode ). Jakarta : EGC
Kementrian Kesehatan, 2012. Profil Kesehatan
Indonesia
2012,
Hal
57-59
(http://www.depkes.go.id/downloads/Profil

3.

4.

5.

6.
7.

%20Kesehatan_2012%20(4%20Sept%202013).pdf)
diakses 18 Juli 2014.
Sari N, Wijayanegara H, Sumarni I. 2013.
Karakteristik Ibu Bersalin Pada Kejadian Berat
Badan Lahir Rendah Di RSUD Kota Bandung Tahun
2010.
Jurnal
Pendidikan
Bidan
.
(http://www.jurnalpendidikanbidan.com/arsip/39mei-2013/114-karakteristik-ibu-bersalin-padakejadian-berat-badan-lahir-rendah-di-rsud-kotabandung-tahun-2010.html) diakses 18 juli 2014.
Makbruri.2009. Faktor-faktor yang Memengaruhi
Berat Badan Lahir Rendah dan Sangat Rendah Di
Kecamatan Seberang Ulu II Kota Palembang Periode
1 Januari-31 Desember 2008. Skripsi. Universitas
Sriwijaya.
Putri, Annisa Nanda. 2014. Faktor Risiko Ibu
Dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di
Departemen Obstetri dan Ginekologi RSMH
Palembang. Skripsi. Universitas Sriwijaya.
Cunningham, F.Gary, dkk. 2005. Obstetric William,
Edisi 21. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Manuaba, I.B.G, dkk. 2007. Kuliah Pengantar
Obstetri. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,
Indonesia.

8.

Sahafi, Darmawati. 2012. Faktor Risiko Bayi Berat


Badan Lahir Rendah Di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang 2010.Skripsi.
9. Prawirohardjo,S. 2010. Ilmu Kebidanan. Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,
Indonesia.
10. Dian E, Okky, Sri W., dan Ariani. 2012. Analisis
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR) di RSUD Dr. Saiful Anwar
Malang 2011. Skripsi. Universitas Brawijaya.
11. Saraswati. 2006. Faktor Kesehatan Reproduksi Ibu
Hamil dan Hubungannya dengan Kejadian Bayi
Berat Lahir Rendah di Kota Sukabumi Tahun 20052006. Available online http://www.fkm.ui.ac.id
(diakses tanggal 1 Desember 2014)
12. Viktor. 2006. Analisis Faktor Resiko pada Kelahiran
Mati di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2005
2006,
(http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/wpcontent/uploads/downloads/2011/08/AnalisisKematian-Ibu-di-Indonesia-Tahun-2010.pdf) diakses
pada 21 November 2014

13.
14.