You are on page 1of 2

Ati Devara R

FOR YOU, INDONESIA-KU


Cirebon, merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa
Barat, INDONESIA. Salah satu kota yang terkenal dengan produksi
batiknya. Siapa yang tidak kenal dengan batik Mega Mendung? Bagian
kecamatan atau desa yang menjadi sentra batik di daerah Cirebon ini
adalah Desa Trusmi. Keadaan desa trusmi yang mayoritas penduduknya
bermata pencaharian sebagai pembuatan batik home made (Batik Tulis).
Tetapi memang ada pula sebagian yang dalam skala Industri.
Batik merupakan salah satu aset bangsa. Bahkan di Cirebon sudah
menjadi pendapatan daerah sekaligus tempat wisata yang banyak
dikunjungi wisatawan dari luar kota. Potensi ini harus terus dikembangkan
agar menjadi lebih baik lagi, dengan memaksimalkan potensi yang ada
sekaligus mengurangi kekurangan atau dampak negatifnya.
Salah satu hal yang saya khawatirkan adalah permasalahan limbah
dari pewarna batik itu sendiri yang sifatnya berbahaya langsung dibuang
ke solokan (bagi produksi home made) yang kemudian mengalir ke
sungai-sungai induk. Limbah pewarna batik yang mengalir ke sungai induk
mencemari dan merusak kualitas air. Sungai yang masih banyak
digunakan sebagai sumber kehidupan sehari-hari seperti untuk mandi,
mencuci (pakaian, alat-alat makan) dan untuk mengairi sawah. Air yang
mengandung bahan kimia yang apabila digunakan untuk mengairi sawah
akan berdampak buruk bagi tanaman, sayangnya sebagian besar air
sungai sudah tercemar oleh limbah pewarna batik. Lebih ironisnya lagi,
limbah batik tersebut sudah menyerap ke air tanah, sehingga sumber
resapan air pun telah tercemar. Sumur-sumur warga tak sedikit yang
airnya berwarna dan berbau. Air sumur warga ini banyak digunakan
kehidupan sehari-hari bahkan untuk diminum.
Sebagai warga Cirebon, saya ingin Cirebon bisa jadi lebih baik lagi.
Air limbah dari produksi-produksi batik yang terakumulasi bahan-bahan
kimia berbahaya, akan dialirkan ke satu tempat penampungan, kemudian
disaring melalui alat penyulingan khusus, maksudnya adalah untuk
meminimalisir kimiawi berbahaya yang ada didalamnya. Air tersebut tidak
lagi dialirkn ke sungai-sungai induk yang menjadi sumber kehidupan
warga. Tetapi kemudian akan dialirkan lagi ke suatu waduk buatan yang
cukup besar. Letaknya jauh dari pemukiman warga. Di waduk tersebut
difasilitasi generator sebagai pembangkit listrik di daerah-daerah
terpencil. Energi listrik yang dihasilkan memang tidak begitu besar, tetapi
setidaknya bisa menerangi masyarakat sekitar yang belum mendapatkan
listrik. Dari waduk yang pertama ini dialirkan lagi melalui sistem

Ati Devara R
penyaringan kembali dengan alat yang lebih spesifik lagi cara kerjanya.
Barulah kemudian air ini dengan sudah diuji kandungannya, dapat
digunakan kembali untuk mengairi sawah, untuk usah tambak, atau
dibuat air mancur sebagai estetika, atau dialirkan kembali ke laut.
Permasalahan serupa terjadi di daerah kabupaten Cirebon, tepatnya
di desa Bobos. Desa bobos merupakan pusat tempat produksi batu kapur.
Industri batu kapur ini sama seperti industri batik di atas. Limbah dari
hasil produksi tersebut langsung dibuang begitu saja ke sungai-sungai
induk. Banyak warga yang mengeluh akan hal ini. Karna sungai yang
menjadi sumber kehidupan mereka tercemar menjadi berwarna putih
keruh dan berbahaya. Proses pembuangan limbah ini tidak terkonsep
dengan baik. Tetapi apabila industri ini ditutup malah akan mematikan
perekonomian daerah sebagai sumber mata pencaharian warganya yang
berada di sekitar daerah gunung kapur.
Semestinya, pabrik-pabrik batu kapur ini mengalirkan air limbahnya
kepada satu senter tempat (kolam). Yang kemudian air limbah ini
didistilasi dengan menggunakan alat penjernihan air, yang sistemnya
seperti penyulingan air. Kemudian air kapur tersebut didiamkan. Karna
sifat kapur yang merupakan unsur batuan akan mengendap dan terpisah
dengan sendirinya. Endapan-endapan kapur ini bisa diolah kembali
menjadi barang yang lebih berdaya guna, misalnnya untuk asbak atau
hiasan.