You are on page 1of 3

Hasil Pengamatan

Palpasi profundal
a. Status kebuntingan
b. Jumlah fetus
:
Pemakaian USG
a. Status kebuntingan:
b. Hidup mati
:
c. Jumlah fetus
:
d. Umur kebuntingan :

: positif bunting
4
positif bunting
Hidup
4-5
> 1 bulan

Pembahasan
Periode kebuntingan pada kucing berkisar antara 63-65 hari, rata-rata 63
hari atau 9 minggu (Dyce et al 2002). Deteksi kebuntingan pada kucing dapat
dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan inspeksi, palpasi profundal
(abdominal), dan dengan menggunakan alat bantu (USG). Deteksi kebuntingan
dengan palpasi merupakan metode paling sederhana dengan melihat perubahan
postur dari hewan dan melihat perubahan pada puting yang lebih besar dan
merah. Diagnosa melalui inspeksi dan palpasi dapat dilihat kurang lebih pada
usia kebuntingan 30 hari. Palpasi abdominal/profundal dilakukan dengan
perabaan abdomen pada bagian hipogastrium. Namun dengan metode palpasi
ini hasil yang didapat kurang akurat karena sifatnya m=lebih subjektif.
Pemeriksaan dengan USG merupakan yang lebih modern sehingga
dapatmenetukan status kebuntingan lebih dini.
Ultrasonografi (USG) adalah alat diagnostik non invasif menggunakan
gelombang suara (ultrasound) dengan frekuensi tinggi diatas 20.000 herztuntuk
menghasilkan gmbaran struktur organ di dalam tubuh. Gelombang tersebut
dikirim melalui suatu alat yang disebut transduser atau probe. Transduser
mengubah aliran listrik menjadi gelombang suara yang dikirim menuju jaringanjaringan internal tubuh. Komputer mengubah pola-pola dari sinyal elektrik
menjadi suatu gambar. Gambar ini ditampilkan pada monitor dan direkam dalam
film sebagai gambar digital (Jacobson 2008). Kualitas gambar yang ditampilkan
oleh monitor dipengaruhi oleh frekuensi transduser, frekuensi repitisi denyut,
dan proses pembentukan gambar. Pemakaian USG dibantu dengan pemakaian
gel yang berfungsi untuk membantu meningkatkan perambatan gelombang
suatu yang dipancarkan oleh transduser.
Menurut Chan (2003) kinerja USG tergantung dari semua alat-alat yang
ada pada mesin yaitu transduser, monitor, dan mesin USG. Transduser adalah
komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang akan diperiksa.
Penempatan transduser yang tepat sangat penting untuk menghasilkan gembar
terbaik. Monitor merupakan layar yang dgunakan untuk menampilka gambar dari
hasil pengolahan data komputer. Mesin USG merupakan bagian dari USG yang
berfungsi mengolah data yang diterima dalam bentuk gelombang dan mengubah
gelombang menjadi gambar. Semakin baik mesin yang digunakan maka semakin
bbaik dan cepat hasil USG ditampilkan.
USG lebih efektif digunakan untuk memeriksa organ-organ yang letaknya
lebih superficial, sehingga lebih dekat dengan kulit. Sebaliknya alat ini kurang
efektif untuk memeriksa organ-orgam di bagian profundal tubuh. Hal ini

dikarenakan gelombang suara tertangkap oleh gas dan tulang-tulang (Jacobson


2008). Kelebihan dari pemeriksaan USG dalam pemeriksaan kebuntingan adalah
dapat memperkirakan umur kebuntingan, umur fetus yang berkembang, melihat
perkembangan organ-organ fetus, tidak menimbulkan rasa sakit, relatif murah,
dan aman. Sedangkan kekurangannya adalah aplikasi transduser di permukaan
tubuh dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
Menurut Zambelli et al. (2002) kantung kebuntingan pertama kali
terdeteksi menggunakan USG pada hari ke-10 setelah kawin. Sedangkan
menurut Goddard (1995) kantung kebuntingan mulai dapat terlihat pada hari ke17 setelah kawin, akan terbentuk bulat, struktur anechoic, rata-rata memiliki
2mm. Kantung kebuntingan berisi fetal pada cairan amniotil yang pertama kali
terlihat 24-28 umur kebuntingan. Sebelum ini terjadi tidak mungkin bisa
membedakan uterus dari cairan isi perut. Plasenta dapat diidentifikasi dari
bentuk cincin hypoechoic yang terdapat di sekliling kantung. Pada hari ke-28
dalam jaringan fetus dapat terdeteksi denyut jantung yang berdenyut antara
120-140 kali permenit dan umumnya pergerakan fetus terlihat. Menurut Goddart
(1995), denyut jantung dapat dideteksi pada umur kebuntingan ke-24 hari,
ditandai dengan kerlap-kerlip yang cepat di bagian tengah massa fetus. Denyut
jantung fetus biasanya dua kali denyut jantung induk antara 150-220 kali
permenit (Jakson 2004). Penetapan jumlah fetus dilakukan pada awal
kebuntingan, paling mudah pada 28-35 hari kebuntingan ketika fetus masih kecil.
Dengan bertambahnya umur dan perkembangan fetus selama
kebuntingan, maka diameter kepala fetus akan semakin besar juga. Menurut
Zambeli dan Prati (2006), setelah kebuntingan ke-50 cairan alantois terlihat
sangat sedikit mengelilingi fetus. Hati tetap mendominasi bagian tubuh fetus.
Pada dua puluh hari akhir kebuntingan ginjal dapat terlihat dan lebih ecogenik
dari ginjal hewan biasa. Veskularisasi fetus lebih jelas, usus mungkin dapat
terdeteksi (Goddart 1995).
Diagnosa kebuntingan baik melalui palpasi maupun USG memiliki hasil
yang sama. Pada palpasi profundal dapat dirasakan kurang lebih pada usia
kebuntingan 4 minggu. Sedangkan USG pada kebuntingan yang lebih awal telah
dapat dipastikan status kebuntingannya (Kuncoro 2011). Dengan metode
diagnosa palpasi maupun USG dapat didiagnosa jumlah anak yang sama,
adapun perbedaannya pada teknisnya. Metode palpasi prinsipnya adalah dengan
menghitung jumlah anak melalui perabaan hipogastrium. Sedangkan USG
prinsipnya memotong dengan gelombang suara dengan uterus. Tindakan palpasi
adalah tindakan lapangan yang paling mudah, namun memiliki keterbatasan
pada pemeriksaan. Sedangkan USG merupakan alat yang lebih modern karena
dapat memeriksa kebuntingan secara kompleks.

Kesimpulan
Deteksi kebuntingan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu inspeksi,
papasi profundal atau abdominal, dan menggunakan alat bantu (USG).
Penggunaan alat bantu USG mendukung metode inspeksi dan palpasi, yaitu pada
status kebuntingan, hidup mati, jumlah fetus, dan umur kebuntingan.