You are on page 1of 9

Home

Pengurus
Kegiatan
Berita
Artikel
Galeri
Forum Diskusi
Kontak
Rekomendasi Imunisasi Hepatitis B Terkini
You are here:

Home/
Rekomendasi Imunisasi Hepatitis B Terkini

March05
Rekomendasi Imunisasi Hepatitis B Terkini
Rekomendasi Imunisasi Hepatitis B Terkini
Fatima Safira Alatas

Penyakit hepatitis Bmerupakan penyakit yang disebabkan oleh sebuah virus DNA yang
bernama virus hepatitis B (VHB). Penyakit hepatitis B ini terutama mengenai jaringan
hati yang disebabkan oleh replikasi virus di dalam hepatosit dan dapat menyebabkan
gangguan fungsi hatiserta kerusakan pada hati. 1,2Infeksi VHB dapat menyebabkan
penyakit hati akut seperti hepatitis akut dan hepatitis fulminan, serta penyakit hati kronik
seperti hepatitis kronik, sirosis hepatis dan karsinoma hepatoselular. Penyakit hati yang
disebabkan oleh VHB ini dapat timbul pada anak maupun dewasa.Pada daerah-daerah

hiperendemik, infeksi VHB ini biasanya timbul sejak bayi atau awal masa kanak-kanak.
Sekitar 2 miliard orang di dunia terinfeksi VHB dan 350 juta orang di antaranya akan
menjadi karier hepatitis B surface antigen (HBsAg) kronik. Infeksi VHB kronik dapat
timbul pada anak di semua umur, bahkan saat periode perinatal. 3,4Sedangkan di Indonesia
sendiri dikategorikan sebagai daerah endemis sedang-tinggi dengan prevalensi HbsAg
sekitar 2.5%-36.17%.5
Infeksi VHB mempunyai proporsi yang terbanyak di antara virus hepatitis lainnya serta
menduduki peringkat ke 10 tertinggi penyebab kematian di dunia akibat komplikasi
jangka panjang yang disebabkannya. 6 Walaupun vaksinasi VHB telah berhasil
menurunkan prevalensi infeksi HB kronik di berbagai negara, namun di Afrika dan Asia
prevalensinya masih cukup tinggi dan menimbulkan morbiditas dan mortalitas cukup
tinggi pada anak. Adanya ko-infeksi infeksi Human immunodeficiency virus (HIV)
menambah kompleksitas penatalaksanaan anak-anak ini.7
Setelah imunoprofilaksis hepatitis B tersedia di dunia, epidemiologi infeksi VHB dan
penyakit-penyakit yang disebabkannya berubah. Imunoprofilaksis tersebut sangat penting
untuk mengontrol infeksi VHB secara menyeluruh. 4 Tujuan penulisan artikel ini adalah
untuk membahas rekomendasi program vaksinasi hepatitis B terkini.

Perjalanan penyakit Hepatitis B


Manifestasi klinis hepatitis B dapat berupa infeksi akut asimptomatik sampai dengan
penyakit hati kronik aktif dengan komplikasi sirosis hepatis dan karsinoma hepatoseluler.
Sebagian dari individu yang terinfeksi VHB akan mengalami serokonversi spontan
hepatitis B surface antigen (HBsAg) dalam waktu singkat. Namun, pada sebagian
individu lainnya akan menderita infeksi kronik. Infeksi kronik hepatitis B dapat
diklasifikasikan menjadi 5 fase yaitu, imun toleran, imun reaktif, stadium karier inaktif,
VHB precore antigen (HBeAg)-negatif dan kronik hepatitis B dengan HBsAg-negatif.8,9
Usia pada saat terinfeksi VHB merupakan kunci utama prognosis infeksi VHB. Sebagian
besar neonates (90%) yang menderita VHB pada periode perinatal akan menderita infeksi
kronik. Sedangkan bila infeksi didapatkan pada usia <6 tahun kemungkinan terjadinya
infeksi kronik adalah 30%.8,10 Hal ini disebabkan karena neonatus yang menderita infeksi
VHB pada periode perinatal tidak dapat memproduksi respon imun yang adekuat untuk
membasmi jumlah virus yang ada sehingga masuk pada fase imun toleran yang lama
dengan jumlah virus yang tinggi dan penyakit hati yang ringan. 9 Selain usia, faktor lain
yang berpengaruh terhadap respon imun terhadap infeksi HBV adalah pasien dengan
status immune-compromised, serta beberapa faktor genetik seperti HLA.11 Sedangkan
faktor dari virus sendiri yang dapat mempengaruhi respon imun terhadap infeksi HBV
adalah jumlah dan strain virus. Jumlah virus yang terlalu banyak akan menyebabkan
infeksi yang persisten.12

Vaksin Hepatitis B
Semenjak vaksin hepatitis B diluncurkan pada tahun 1982, beberapa langkah yang
diambil untuk mengendalikan infeksi hepatitis B tersebut. 13-15Salah satu rekomendasi
untuk pengendalian tersebut adalah melakukan skrining pada kelompok wanita hamil
yang berisiko tinggi mengidap infeksi HBV dan memberikan pengobatan pada bayi-bayi
yang lahir dengan HBsAg-positif dengan hepatitis B immunoglobulin (HBIG) dan
vaksinasi HBV.16Namun strategi ini gagal mendeteksi 35-65% ibu dengan HBsAg-positif,
oleh karena itu direkomendasikan untuk melakukan skrining seluruh ibu
hamil.17American Association of Pediatricsmenganjurkan imunisasi HBV secara
menyeluruh pada bayi-bayi, serta anak lebih besar dan remaja dengan risiko tinggi
mengidap HBV.18
Tujuan utama pemberian imunisasi hepatitis B adalah mencegah terjadinya infeksi kronis
yang menyebabkan terjadinya sirosis dan karsinoma hepatoseluler akibat infeksi
VHB.Komplikasi yang disebabkan oleh infeksi VHB ini biasanya timbul pada orang
dewasa yang terinfeksi VHB pada masa kecil.Oleh karena itu, manfaat vaksinasi VHB
biasanya terlihat setelah berpuluh-puluh tahun mendatang.Sebagai contoh misalnya di
negara Taiwan, yang sebelumnya merupakan negara dengan endemik hepatitis B tinggi.
Namun setelah bertahun-tahun menerapkan vaksinasi VHB secara universal,
seroprevalence HBsAg di anak-anak Taiwan menurun dari 9.8% pada tahun 1984,
menjadi 0.7% pada tahun 1999. Hal ini dijumpai pula di Amerika Serikan dengan
penurunan infeksi VHB akut sebesar 98% sejak dari 1998 ke tahun 2000.7

Siapa yang harus mendapatkan vaksinasi hepatitis B?10,19


1. Semua bayi baru lahir tanpa memandang status VHB ibu.
2. Anak dan remaja
Anak dan remaja yang belum pernah mendapat vaksinasi Hepatitis B direkomendasikan
untuk mendapat vaksin hepatitis B catch-up.
3. Individu dengan risiko tinggi untuk terinfeksi VHB
Misalnya: Individu dengan status non immune susceptible (antibodi anti-HBc dan anti
HBs negative) yang mempunyai risiko untuk terpapar VHB dan/atau mempunyai risiko
untuk mempunyai prognosis yang lebih buruk bila terinfeksi VHB direkomendasikan
untuk dilakukan vaksinasi.
4. Orang dewasa yang mempunyai risiko untuk terinfeksi VHB karena pekerjaannya
Misalnya: pekerja kesehatan, pekerja laboratorium yang berhubungan dengan
darah/jaringan tubuh manusia, polisi/tentara yang berpotensi untuk terpapar pada
darah dan cairan tubuh manusia, dll.
5. Individu yang mempunyai risiko tinggi terinfeksi akibat pola hidup individual

Misalnya: homoseksual, pengguna obat-obatan terlarang yang menggunakan jarum suntik


(Drug abuser), dll.
6. Kandidat transplantasi organ dan pasien hemodialysis (direkomendasikan untuk
dilakukan imunisasi sebelum tindakan).
7. Pengunjung yang bepergian ke daerah endemis tinggi.

Immunoprofilaksis terhadap infeksi virus hepatitis B


Usaha pencegahan terhadap infeksi VHB dan komplikasinya dilakukan melalui imunisasi
pasif dan aktif.Imunisasi pasif menggunakan imunoglobulin hepatitis B (HBIg)
memberikan imunitas yang bersifat sementara. Sedangkan perlindungan terhadap
transmisi VHB dari infeksi yang sangat infeksius dari ibu (ibu dengan HBeAg-positif),
diperlukan kombinasi dari imunisasi pasif dan aktif untuk memperoleh hasil yang
efektif.4,5
Pada negara-negara dengan endemisitas yang cukup tinggi, vaksin hepatitis B dianjurkan
untuk diberikan sedini mungkin yaitu dalam kurun waktu 24 jam setelah lahir. Sedangkan
di Indonesia sendiri, sebagai salah satu dari negara dengan endemisitas infeksi VHB
tinggi di Asia, untuk meningkatkan keberhasilan imunisasi VHB tersebut maka Satgas
Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia menganjurkan untuk memberikan imunisasi
VHB pada usia kurang dari 12 jam setelah lahir tanpa memandang status HBsAg
ibu. Imunisasi ini dilakukan setelah pemberian injeksi vitamin K1, untuk mencegah
terjadinya perdarahan akibat defisiensi vitamin K. Namun bila bayi dilahirkan dari ibu
dengan HBsAg positif maka pemberian imunisasi VHB tersebut dibarengi dengan
pemberian HBIg pada sisi tubuh yang berbeda, yang juga harus diberikan pada usia
kurang dari 12 jam (Tabel 1).20-23Imunisasi VHB ini selanjutnya dapat diberikan dengan
interval 0,1,dan 6 bulan sampai memenuhi 3 dosis, agar dapat memperoleh efek protektif
95%.20,21
Vaksin VHB mengandung protein HBsAg yang telah dipurifikasi tanpa mengandung
asam nukleat VHB, sehingga pemberiannya cukup aman tanpa risiko transmisi
VHB.24Sebelum era vaksinasi VHB, imunisasi pasif dengan 3 dosis HBIg dimulai dari
bayi usia kurang dari 24 jam setelah lahir efektif untuk mencegah infeksi VHB perinatal
pada bayi-bayi dengan risiko tinggi (bayi dari ibu HBsAG karier dengan HBeAg-positif),
dan mampu menurunkan angka karier HBsAg dari 90% menjadi 23%.25 Setelah era
vaksinasi secara aktif dengan 3 sampai 4 dosis vaksin VHB, memberikan tingkat
imunogenik 90% pada bayi-bayi yang lahir dari ibu non-karier atau HBeAg-negatif.
Sedangkan dengan kombinasi imunisasi aktif dan pasif, yaitu 1 dosis HBIg (sebelum usia
24 jam) dilanjutkan dengan 3-4 dosis vaksin VHB efektifitasnya meningkat menjadi 95%
pada bayi-bayi risiko tinggi.26
Respon imun setelah vaksinasi VHB dapat bertahan lebih dari 10 tahun, walaupun kadar
anti-HBs menjadi tidak terdeteksi. Sebuah studi membuktikan bahwa pemberian1 dosis

booster vaksin VHB dapat meningkatkan kadar anti-HBs sampai kadar protektif pada
82% anak yang telah menerima vaksin namun kadar anti-HBs tidak protektif (<10
mIU/mL).27Pemantauan jangka panjang menunjukkan bahwa anak-anak yang telah
menerima vaksin tersebut menjadi pendirita baru karier kronik, walaupun 1% dari mereka
terinfeksi dan mengalami serokonversi menjadi anti-HBc-positif.4

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program vaksinasi hepatitis B


universal
Program untuk menurunkan infeksi VHB pada daerah dengan endemisitas tinggi harus
ditekankan pada program imunisasi secara massal.Vaksinasi harus diberikan sebagai
bagian dari program imunisasi rutin yang dapat mencakup sebagian besar populasi di
suatu negara.Untuk mencapai tujuan tersebut, harus dibantu dengan adanya dukungan
penuh dari pemerintah selain dari dukungan finansial dari pemerintah dan pihak
lainnya.Untuk menjamin keberhasilan program, vaksinasi tersebut harus dapat diberikan
secara gratis pada masyarakat.Selain itu pula, dukungan terhadap pembuatan dan
distribusi vaksin ke daerah-daerah pelosok dengan menjamin cara tranportasi yang benar
dalam menjamin mutu vaksin juga perlu dilakukan.Hal lain yang perlu dilakukan pada
program imunisasi nasional adalah edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya
vaksinasi VHB. Media komunikasi cetak dan elektronik (radio, televisi, internet) dapat
dipakai untuk menyebar luaskan informasi vaksinasi VHB dan program imunisasi
nasional tersebut.Pada program imunisasi nasional terhadap infeksi VHB, anak-anak dan
wanita usia subur harus merupakan target utama imunisasi ini.28
Walaupun vaksin VHB dianggap sangat efektif , namun 10% dari bayi-bayi yang lahir
dari ibu dengan HBeAg-positif tetap terinfeksi VHB. Faktor-faktor yang menyebabkan
kegagalan vaksinasi VHB ini adalah: (1)infeksi intrauterin atau jumlah virus ibu tinggi,
(2) anak dengan status immune compromised, (3) tidak dapat memberikan respon karena
kelainan genetik tertentu (genetic unresponsiveness), (4) mutasi (vaccine escape mutant)
dan (5) vaksinasi yang tidak komplit. 4
Selain dari vaksinasi VHB telah dianggap berhasil menurunkan infeksi VHB
tersebut, langkah-langkah pencegahan lain perlu dilakukan seperti universal precaution
dalam menangani darah dan cairan tubuh manusia. Serta kewaspadaan yang lebih spesifik
dengan cara menggunakan sarung tangan, baju khusus yang bersifat protektif, serta
masker pada saat menangani material yang infeksius ataupun terkontaminasi.10
Tabel 1. Imunisasi virus hepatitis B pada bayi baru lahir5,23

Referensi:
1. Koziel MJ, Thio CL. Hepatitis B virus and hepatitis delta virus. Dalam: Mandell
GL, Bennett JE, Dolin R (penyunting). Mandell, Douglas, and Bennetts
Principles and practice of infectious diseases. Edisi ke-7. Philadelphia: Churchill
Livingstone; 2010. h. 2059-2086.
2. Mast EE, Ward JW. Hepatitis B vaccines. Dalam: Plotkin SA, Orenstein WA,
Offit PA (penyunting). Vaccines. Edisi ke-5. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier;
2008. h. 205-41.
3. Feret E, Larouze B, Diop B, et al. Epidemiology of hepatitis B virus infection in
the rural communicty of Tip, Senegal. Am J Epidemiol. 1987; 125: 140-149.
4. Chang Hepatitis B Vaccination and Control of Hepatitis BRelated Liver Disease.
J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2000; 31: 112-117.

5. Hidayat B, Pujiarto PS, Gunardi H. Hepatitis B. Dalam: Ranuh IGNG, dkk


(penyunting). Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Edisi ke-4. Jakarta: Badan
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011.h.256-363.
6. Lavanchy D. Hepatitis B virus epidemiology, disease burden, treatment, and
current and emerging prevention and control measures. J Viral Hepat.2004;11:97107.
7. Nel E, Sokol RJ, Comparcola D, Nobili V, Hardikar W, Gana JC, et al. Viral
hepatitis in children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2012; 55: 500-505.
8. Chatzidaki V, Kouroumalis E, Galanakis E. Hepatitis B Virus Acquisition and
Pathogenesis in Childhood: Host Genetic Determinants. J Pediatr Gastroenterol
Nutr. 2011; 52: 3-8.
9. European Association for the Study of the Liver. EASL Clinical practice
guidelines: management of chronic hepatitis B. J Hepatol. 2009; 50: 227-42.
10. World Health OrganizationDepartment of Communicable Disease Surveilance
and Response. Hepatitis B. http://www.who.int/csr/disease/hepatitis/
whocdscsrlyo20022/en/. Diunduh pada tanggal 4 Januari 2014.
11. Thio C, Thomas DL, Carington M. Chronic viral hepatitis and the human genome.
Hepatology. 2000;31: 819-827.
12. Almarri A, Bachelor JR. HLA and hepatitis B infection. Lancet. 1994; 344: 11941195.
13. Alter MJ, Handler SC, Margolis HS, Alexander WJ, Hu PY, Judson FN,et al. The
changing epidemiology of hepatitis B in the United States. Need for alternative
strategies. JAMA. 1990; 263: 1218-1222.
14. Margolis HS, Alter MJ, Hadler SC. Hepatitis B: evolving epidemiology and
implications for control. Semin Liver Dis. 1991; 11: 84-92.
15. Robert M. Siegel, MD, Raymond C. Baker, MD, Uma R. Kotagal, MD, and
William F. Balistreri, MD. Hepatitis B Vaccine use in Cincinnati: a communitys
response to the AAP recommendation of universal hepatitis B immunization.J
Nati Med Assoc. 1994; 86: 444-448.
16. Immunization Practices Advisory Committee. Post exposure prophylaxis of
hepatitis B. MMWR. 1984; 33: 285-290.
17. Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee.
Prevention of perinatal transmission of hepatitis B virus: prenatal screening of all
pregnant women for hepatitis B surface antigen. Am J Dis Child. 1988; 142:
921-923.
18. American Academy of Pediatrics, Committee on Infectious Diseases. Universal
hepatitis B immunization. Pediatrics. 1992; 89: 795-800.

19. National center for immunisation research and surveillance (NCIRS). Hepatitis B
vaccines for Australians. ncirs.edu.au/immunisation/fact-sheets/hepatitisB-factsheet.pdf.Diunduh pada tanggal 4 Januari 2014.
20. Gunardi H. Kejar Imunisasi. Dalam: Oswari H, dkk (penyunting). 2nd National
Symposium on Immunization. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang
DKI Jakarta; 2010. h. 45-54.
21. Oswari H. Imunisasi hepatitis B pertama diberikan saat lahir. Dalam: Trihono P,
dkk (penyunting). Immunization for bright future of our children. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia; 2013.h.41-43.
22. Hendrarto TW. Imunisasi pada keadaan khusus. Dalam: Oswari H, dkk
(penyunting). 2nd National Symposium on Immunization. Jakarta: Ikatan Dokter
Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta; 2010. h. 39-44.
23. Satgas Imunisasi IDAI. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI 2014. Sari Pediatr.
2014. Article in press.
24. Krugman S. The newly licensed hepatitis B vaccine. JAMA. 1982;247: 20122015.
25. Beasley RP, Hwang LY, Lin CC, et al. Hepatitis B immune globulin (HBIG)
efficacy in the interruption of perinatal transmission of hepatitis B virus carrier
state. Lancet 1981;317:388-393.
26. Beasley RP, Hwang LY, Lee GCY, et al. Prevention of perinatally transmitted
hepatitis B virus infections with hepatitis B immune globulin and hepatitis B
vaccine. Lancet. 1983;322: 1099-1102.
27. Shih HH, Chang MH, Hsu HY, et al. Long-term immune response of universal
hepatitis B vaccination in infancy: a community-based study in Taiwan. Pediatr
Infect Dis J. 1999; 18: 427-432.
28. Mohan N, Kamsakul W, Wirth S, Fujisawa T, Dagostino D. Hepatitis B and C:
Report of the FISPGHAN Working Group. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2012; 55;
631-636.

Posted by agokeren

1 Tags

Recent Posts

Farmakologi Obat-Obat Antidiare


Diare: Virus atau Bakteri?

Kapan anak diare memerlukan rehidrasi parenteral?

Program Pengendalian Penyakit Diare Di Puskesmas

Bagaimana Mencegah Diare Akut Melanjut Menjadi Diare Persisten

PGHNAI 2014
RSUP Sanglah Denpasar Bali (0361) 4123-4567 pghnai@gmail.com