You are on page 1of 15

LAPORAN KASUS

A Anamnesis
1 Identitas
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Masuk RS
Tanggal Periksa
Ruangan Rawat
2
3
4

:
:
:
:
:

Ny. C
80 tahun
Perempuan
Prostestan
TJ Lengkong RT 04/07 Bidara Cina Jatinegara. Jakarta

:
:
:
:

Timur
:
07 September 2016
08 September 2016
CPS 2

Keluhan Utama
Timbul pelentingan kecil pada daerah dagu ± 1minggu SMRS
Keluhan Tambahan
Demam naik turun sejak 6 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RS POLRI dengan keluhan timbul pelentingan kecil pada daerah
dagu ± 1minggu SMRS. Pasien juga mengeluh demam naik turun sejak 6 hari
SMRS terasa gatal, nyeri (-), panas(-). Awalnya muncul bintil-bintil kecil bewarna
kemerahan yang semakin lama semakin meluas, kemudian pecah dan
mengeluarkan cairan setelah tergaruk dan kemudian mengering dan bawarna

5
6

kekuningan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya belum pernah mengalami hal yang sama.
Riwayat Hipertensi (+), DM (-), alergi (-)
Riwayat Keluarga
Dikeluarga pasien tidak ada anggota keluarga yang mengalami halyang sama.
Riwayat atopik (-)

B Pemeriksaan Fisik
1 Status Generalis
Keadaan Umum : Baik

2

Kesadaran

: Compos Mentis

Vital Sign

:TD

: 130/80

RR: 21x/menit

Nadi: 82x/menit

Pemeriksaan Kepala
Bentuk Kepala

: Normocephale

Mata

: dbn
1

ronkhi (-/-) Cor : S1/S2 reguler. D Diagnosis Kerja Impetigo krustae E Diagnosis Banding Impetigo Bullosa Herpes Simpleks Kandidiasis 2 .3 Mulut dan Gigi : gigi lubang dibagian bawah kanan Leher : dbn Thorax Pulmo : vesikuler(+/+). Dermatologis Inspeksi  Regio mandibular dekstra kearah medial: krusta warna kekuningan (+). pus (+) Foto Klinis : C Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang. wheezing (-/-).  vesikel (+) Regio cheek dextra: vesikel (+). murmur (-). gallop (-) 4 Abdomen : tidak dilakukan pemeriksaan 5 St.

Skabies Ektima F Terapi 1. Impetigo krustosa harus diobati 3 . Sistemik: interhistin 3x1 eritromisin 4x 500mg b. Topikal: eritromisin cr / mupirosin cr 3ddue G Prognosis Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam Ad kosmetikam : bonam : bonam : bonam : bonam TINJAUAN PUSTAKA 1 PENDAHULUAN Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan infeksi piogenik oleh bakteri Gram positif. Medikamentosa a. tempat penitipan anak atau pada tempat dengan hygiene buruk atau juga tempat tinggal yang padat penduduk. Impetigo lebih sering terjadi pada usia anak-anak walaupun pada orang dewasa dapat terjadi. terutama melalui kontak langsung. Impetigo krustosa merupakan jenis infeksi piogenik yang paling banyak ditemukan di dunia (70% dari kasus impetigo). Infeksi seringkali menyebar dengan cepat di sekolah. Individu yang terinfeksi dapat menginfeksi dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Penularan impetigo tergolong tinggi.

Pada usia 4 . Di Inggris kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2.anak kisaran usia 2-5 tahun dengan rasio yang sama antara laki-laki dan perempuan. Staphylococcus aureus banyak terdapat pada faring. Di Amerika. Banyak penelitian yang menemukan 50-60% kasus impetigo krustosa penyebabnya adalah Staphylococcus aureus dan 20-45% kasus merupakan kombinasi Staphylococcus aureus dengan Streptococcus pyogenes. Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim panas dan daerah lembab. diskret. Streptococcus group A beta-hemolitikus (GABHS). 2 DEFINISI Impetigo krustosa merupakan penyakit infeksi piogenik kulit superfisial yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus.secara cepat dan tepat karena dapat menyebabkan beberapa komplikasi terutama glomerulonefritis akut. Terapi antibiotik topikal merupakan pilihan pertama impetigo terutama bila lesi yang terbatas. 1. yang menjadi penyebab utama impetigo krustosa adalah Streptococcus pyogenes. aksila dan perineal merupakan tempat berkembangnya penyakit impetigo krustosa. Namun di negara berkembang. impetigo merupakan 10% dari penyakit kulit anak yang menjadi penyakit infeksi kulit bakteri utama dan penyakit kulit peringkat tiga terbesar pada anak.2 EPIDEMIOLOGI Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia tergolong relatif sering. dengan tepi yang mudah dilepaskan.8% pertahun dan 1. hidung. Penyakit ini banyak terjadi pada anak . atau kombinasi keduanya dan digambarkan dengan perubahan vesikel berdinding tipis. Anak-anak prasekolah dan sekolah paling sering terinfeksi. dengan puncak insiden di akhir musim panas. tanpa gejala sistemik atau komplikasi sementara terapi sistemik dipertimbangkan bila diperlukan. impetigo krustosa banyak disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan sedikit oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus (Streptococcus pyogenes). menjadi pustul dan ruptur serta mengering membentuk krusta Honey-colored.6% pada anak usia 5-15 tahun . Pada negara maju. seperti Amerika Selatan yang merupakan daerah endemik dan predominan.

dewasa. Disamping itu. herpes simpleks. atau luka bakar. laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. varisela. ada beberapa faktor yang dapat mendukung terjadinya impetigo krustosa seperti: - hunian padat - higiene buruk - hewan peliharaan - keadaan yang mengganggu integritas epidermis kulit seperti gigitan serangga. Struktur Stretoccocus Pyogenes dan substansinya 5 .3 PATOGENESIS Gambar 1. 1. abrasi.

Infeksi Primer Infeksi primer. biasanya terjadi pada anak-anak. 6 . Kuman tersebut berkembang biak dikulit dan akan menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu sampai dua minggu. gigitan serangga. SLE kronik. kemudian berkembang menjadi lesi pada kulit. kuman menyebar dari hidung ke kulit normal (kira-kira 11 hari). yaitu infeksi primer dan infeksi sekunder. luka lecet. skabies. infeksi jamur dermatofita. herpes zoster. dapat terjadi pada semua umur. dan luka bakar. Awalnya. varisela. luka goresan. Cara infeksi pada impetigo krustosa ada 2. Infeksi sekunder Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya (impetiginisasi) seperti dermatitis atopik. pioderma gangrenosum. dermatitis statis.Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal sebagai portal of entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung dengan pasien atau dengan seseorang yang menjadi carrier. Lesi biasanya timbul di atas kulit wajah (terutama sekitar lubang hidung) atau ekstremitas setelah trauma. herpes simpleks. psoariasis vulgaris. pedikulosis.

Pada beberapa orang lesi dapat remisi spontan dalam 2-3 minggu atau lebih lama terutama bila terdapat penyakit akibat parasit atau pada iklim panas dan lembab. Impetigo krustosa sangat menular. Kelenjar limfe regional dapat mengalami pembesaran pada 90% pasien tanpa pengobatan (terutama pada infeksi Streptococcus) dan dapat disertai demam. Impetigo banyak terjadi pada musim panas dan cuaca yang lembab.4 MANIFESTASI KLINIS Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh. sedangkan pada dewasa sumbernya yaitu tukang cukur. Membran mukosa jarang terlibat. berkembang dengan cepat melalui kontak langsung dari orang ke orang. Impetigo Krustosa diawali dengan munculnya eritema berukuran kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel. bula atau pustul berdinding tipis. Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi baru dalam waktu beberapa minggu apabila tidak diobati. bula atau pustul tersebut ruptur menjadi erosi kemudian eksudat seropurulen mengering dan menjadi krusta yang berwarna kuning keemasan (honey-colored) dan dapat meluas lebih dari 2 cm. tetapi biasanya pada bagian tubuh yang sering terpapar dari luar misalnya wajah. kuku tangan yang kotor. Pada kulit dengan banyak pigmen. Keluhan biasanya gatal dan nyeri. 7 . Pada anak-anak sumber infeksinya yaitu binatang peliharaan. salon kecantikan. dan dari anak-anak yang telah terinfeksi. anak-anak lainnya di sekolah. Krusta pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar yang eritema tanpa pembentukan jaringan scar. daerah rumah kumuh. 1. Lesi biasanya berkelompok dan sering konfluen meluas secara irreguler. namun lesi juga dapat meluas ke dermis membentuk ulkus (ektima).Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis dan robekan pada epidermis. kolam renang. Kemudian vesikel. leher. lesi dapat disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. dan ekstremitas. akibatnya kulit yang mengalami trauma tersebut menghasilkan suatu protein yang mengakibatkan bakteri dapat melekat dan membentuk suatu infeksi impetigo krustosa.

Gambar 2. 1. biakan kuman. dan tes serologi . Pada pemeriksaan serologi didapatkan ASO titer positif lemah pada pioderma streptococcus. Biasanya diperlukan pemeriksaan biakan kuman dan sensitivitas bila terapi tidak menghasilkan respon baik yang menunjukkan sudah terjadi resistensi kuman. Pada pulasan gram. Gambar 3. Leukositosis ditemukan pada sebagian penderita impetigo krustosa.5 DIAGNOSIS Diagnosis impetigo krustosa ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan mengidentifikasi tanda dan gejala yang ada dan dapat dibantu dengan pemeriksaan penunjang seperti pewarnaan Gram. ditemukan coccus Gram positif yang lebih terlihat bila pemeriksaan dilakukan saat lesi masih berupa vesikel. impetigo krustosa di sekitar lubang hidung dan mulut pada anak. 1.6 DIAGNOSIS BANDING 8 .anak. impetigo krustosa di ekstremitas superior pada anak-anak1.

Vesikel dinding tipis dengan dasar eritema (bermula di trunkus dan menyebar ke wajah dan ekstremitas) yang kemudian ruptur membentuk krusta (lesi berbagai stadium). Lesi pruritus kronik dan kulit kering abnormal dapat disertai likenifikasi. malaise. 2 Selulitis dan Erisepelas Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebabkan terjadinya selulitis dan erisepelas. c Herpes Simpleks Vesikel dengan dasar eritema yang ruptur menjadi erosi ditutupi krusta. 1. 9 . disertai limfadenopati. basah.Diagnosis banding Impetigo krustosa terdiri dari: a Dermatitis Atopik Terdapat riwayat atopik seperti asma. Selulitis merupakan peradangan akut kulit yang mengenai jaringan subkutan (jaringan ikat longgar) yang ditandai dengan eritema setempat. dan biasanya disertai gejala prodromal. meskipun jarang terjadi. e Kandidiasis Kandidiasis (infeksi jamur candida): papul eritem. ketegangan kulit disertai malaise. rhinitis alergika. d Varisela Terdapat gejala prodomal seperti demam. malaise. bengkak. menggigil dan demam. panas.7 KOMPLIKASI 1 Ektima Impetigo yang tidak diobati dapat meluas lebih dalam dan penetrasi ke epidermis menjadi ektima. Umumnya terdapat demam. b Dermatitis Kontak Gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan bahan iritan. umumnya di daerah selaput lendir atau daerah lipatan. Ektima merupakan pioderma pada jaringan kutan yang ditandai dengan adanya ulkus dan krusta tebal. anoreksia. Sedangkan erisepelas merupakan peradangan kulit yang melibatkan pembuluh limfe superfisial ditandai dengan eritema dan tepi meninggi.

Meningitis merupakan sebuah penyakit serius yang dapat mempengaruhi kehidupan dan menghasilkan komplikasi permanen seperti koma. jantung. Kriteria diagnosis GNAPS ini terdiri dari hematuria makroskopik atau mikroskopik. Sebuah kelainan inflamasi yang dapat terjadi karena komplikasi infeksi streptokokus yang tidak diobati strep throat atau scarlet fever.3 Glomerulonefritis Post Streptococcal Komplikasi utama dan serius dari impetigo krustosa yang umumnya disebabkan oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus ini yaitu glomerulonefritis akut (2%-5%). Faktor yang berperan penting atas terjadinya GNAPS yaitu serotipe Streptococcus strain 49. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi otak. edema yang diawali dari regio wajah. 55. 4 Rheumatic Fever. 1. kulit. dan kematian. Pneumonia merupakan penyakit ynag banyak ditemui setiap tahun.8 PENATALAKSANAAN 1. dan hipertensi.dan 60 serta strain M-tipe 2. Periode laten berkembangnya nefritis setelah pioderma streptococcal sekitar 18-21 hari. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak usia kurang dari 6 tahun. Tidak ada bukti yang menyatakan glomerulonefritis terjadi pada impetigo yang disebabkan oleh Staphylococcus.dan sendi tulang. 5 Pneumonia. Insiden glomerulonefritis (GNA) berbeda pada setiap individu. tergantung dari strain potensial yang menginfeksi nefritogenik. syok. 7 Meningitis Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal yang melingkupi otak dan medula spinalis. Non medikamentosa 10 . 6 Osteomielitis Sebuah inflamasi pada tulang disebabkan bakteri. Penyakit ini biasa terjadi pada perokok dan seseorang yang menggunakan obat yang menekan sistem imunitas. 57. Inflamasi biasanya berasal dari bagian tubuh yang lain yang berpindah ke tulang melalui darah.

- Memotong kuku untuk menghindari penggarukan yang memperberat lesi. kain. pengobatan impetigo krustosa bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan perbaikan pada lesi serta mencegah penularan infeksi dan kekambuhan. - Mencuci pakaian. Medikamentosa 1 Terapi Sistemik Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo diindikasikan bila terdapat lesi yang luas atau berat. - Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.  Menindaklanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci area kulit yang terkena untuk mencegah infeksi. limfadenopati. atau gejala sistemik.  Mengurangi kontak dekat dengan penderita  Bila diantara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo diharapkan dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan berupa: - Mencuci bersih area lesi (membersihkan krusta) dengan sabun dan air mengalir serta membalut lesi. a Pilihan Pertama (Golongan ß Lactam) Golongan Penicilin (bakterisid) o Amoksisilin+ Asam klavulanat Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama 10 hari. 11 .A Umum  Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit. 2. atau handuk penderita setiap hari dan tidak menggunakan peralatan harian bersama-sama. B Khusus Pada prinsipnya. Golongan Sefalosporin generasi-ke1 (bakterisid) o Sefaleksin Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari) selama 10 hari. - Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat topikal dan setelah itu mencuci tangan sampai bersih.

o Kloksasilin Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari. o Bacitracin 12 . Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat sintesis protein. Pemberian obat topikal ini dapat sebagai profilaksis terhadap penularan infeksi pada saat anak melakukan aktivitas disekolah atau tempat lainnya. 2. Salap mupirocin 2% diindikasikan untuk pengobatan impetigo yang disebabkan Staphylococcus dan Streptococcus pyogenes.Mekanisme kerja mupirocin yaitu menghambat sintesis protein (asam amino) dengan mengikat isoleusil-tRNA sintetase sehingga menghambat aktivitas coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan sebagian besar Streptococcus. Salap atau krim asam fusidat 2% aktif melawan kuman gram positif dan telah teruji sama efektif dengan mupirocin topikal. terutama pada wajah dan penderita sehat secara fisik. o Azitromisin Dosis 500 mg/hari untuk hari ke-1 dan dosis 250 mg/hari untuk hari ke-2 sampai hari ke-4. b Pilihan Kedua Golongan Makrolida (bakteriostatik) o Eritromisin Dosis 30-50mg/kgBB/hari. o Asam Fusidat Asam Fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari Fusidium coccineum.Terapi Topikal Penderita diberikan antibiotik topikal bila lesi terbatas. Antibiotik topikal diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari. o Mupirocin Mupirocin (pseudomonic acid) merupakan antibiotik yang berasal dari Pseudomonas fluorescent .

Mekanisme kerja bacitracin yaitu menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat defosforilasi ikatan membran lipid pirofosfat sehingga aktif melawan coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan Streptococcus. atau bakteriemi. azitromisin. eritromisin.anak lebih baik daripada dewasa. Bacitracin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri superfisial kulit seperti impetigo. Bila terjadi komplikasi glomerulonefritis akut. bila tidak diobati impetigo krustosa dapat bertahan dan menyebabkan lesi pada tempat baru serta menyebabkan komplikasi berupa ektima. selulitis. prognosis anak. Salap Retapamulin 1% telah diterima oleh Food and Drug Administraion (FDA) pada tahun 2007 sebagai terapi impetigo pada remaja dan anak-anak diatas 9 bulan dan telah menunjukkan aktivitasnya melawan kuman yang resisten terhadap beberapa obat seperti metisilin.9 PROGNOSIS Pada beberapa individu. mupirosin. o Retapamulin Retapamulin bekerja menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil transferase. Namun. 1. asam fusidat. 13 . dan dapat menjadi erisepelas.Baciracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal dari Strain Bacillus Subtilis. bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu. Dapat pula terjadi Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS) pada bayi dan dewasa yang mengalami immunocompromised atau gangguan fungsi ginjal.

Dermatology. 7 th Ed. 10 th Ed. Griffiths C (eds). Jorizzo JL.com/article/1109204-treatment . Matthew Z. 2008.G. Bacterial Infection. In: Wolff K et all (eds).D. Part 3rd. 2000. B. Richard S.W.75.DAFTAR PUSTAKA 1 Hay R.1075-77.M Adriaans.6. 2006. Rapini RP (eds). p. 2 Heyman W. 10 Bonner M. Bacterial Infection. 2010. 7 th ed.849-52. In: Wolff K et all (eds). Fusidic Acid Cream in The Treatment of Impetigo in General Practice: Double Blind Randomised Placebo Controlled Trial. Impetigo (Impetigo Crustosa). James. Spain: Mosby Elsevier. 6 Amini Sadegh. 2008.medscape.49.M (eds). Dermatology Skills For Primary Care: An Ilustrated Guide. In: James W.pdf 4 Craft N.com/cgi/content/full/324/7331/203 12 Mayo clinic staff. p. Kotb M. p. Russel D. Andrew’s Disease of the Skin Clinical Dermatology. Elston D. Impetigo. 2004.2113-15. Berger T. Host Microbe Interactions in The Pathogenesis of Invasive Group A Streptococcal Infections. 3 Cole C. 2009. 5 Arnold. Diunduh dari: http://www.J.317-23. Diunduh dari: http://emedicine. Peter K. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Gazewood J.W. Last update: May 20. Bolognia JL.597-604. Vol. 8 Trozak D.R. Journal Medical Microbiology. Brethnach S. 2002.27. Rook’s Text Book of Dermatology.859-864. Color Atlas and Sypnosis Of Clinical Dermatology.M.L. Vol. p.sepeap. Cox N. Superficial Cutaneous Infection and Pyodermas. No. 2007. p. Bacterial Infection.324. p. Vol. 7 Norrby A. Morton N. Diagnosis and Treatment of Impetigo. James W. In: Burns T. Canada: Saunders Elsevier. British Medical Journal. New York: McGraw Hill.203. American Academy of Family Physician. Halpern V.S. 9th Ed. 2nd ed.255-6. Richard Allen Johnson.J. In: Skolnik N. Teglund.org/archivos/pdf/10524. 11 Koning S at all. Impetigo. New Jersey: Humana Press. p.J.13-15. 2008. p. Diunduh dari: http://www. Tennenhouse D. p.J. Diunduh dari: 14 . New york: McGraw Hill.J.bmj. 2006. 7 th Ed. Benson P. Topical Antiboiotics. p. Odom. Turin: Blackwell.S (eds). 9 Wolff K. New York: McGraw Hill.1695-1705.D. Vol 2. Vol 2.

http://www.com/health/impetigo/DS00464/DSECTION=complica tions.mayoclinic. 15 .