You are on page 1of 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bintang laut adalah satu jenis makhluk hidup yang hidup di perairan.
Bintang laut tergolohg dalam salah satu jenis binatang yang tidak memiliki tulang
belakang (Invertebrata). Secara umum bintang laut termasuk dalam filum
Echinodermata dan termasuk dalam kelas Asteroida. Struktur tubuh bintang laut
tersusun berdasarkan jenis dan spesiesnya yang beragam.
Bintang laut merupakan hewan invertebrata yang termasuk dalam filum
Echinodermata, dan kelas Asteroidea. Echinodermata (dalam bahasa yunani,
echino=landak, derma=kulit) adalah kelompok hewan triopoblastik selomata yang
memilki ciri khas adanya rangka dalam (endoskeleton) berduri yang menembus
kulit. Walaupun dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan sebutan starfish, hewan
ini sangat jauh hubungannya dengan ikan. Sesuai dengan namanya itu, jenis
hewan ini berbentuk bintang dengan 5 lengan. Bintang laut termasuk
hewan simetri radial dan umumnya memiliki lima atau lebih lengan. Mereka
bergerak dengan menggunakan sistem vaskular air. Bintang laut sebenarnya
adalah makhluk hidup yang bebas, namun dikarenakan ketiadaannya organ gerak
yang memadai, bintang laut hanya bergerak mengikuti arus air laut(Syamsul,
2013).
Bintang laut memiliki beberapa ciri diantaranya yaitu bintang laut
merupakan hewan yang diketahui memiliki lengan, bintang laut secara umum
berbentuk simetri radial yang terdiri dari lima buah lengan. Bahkan pada jenis
tertentu, diketahui jumlah lengannya lebih dari lima lengan. Tubuh bintang laut
yang memiliki lima lengan inilah yang menyebabkan hewan ini disebut bintang
laut. Diameter tubuhnya bisa mencapai 30 cm, dengan permukaan tubuhya yang
berbentuk aboral. Bintang laut juga diketahui memiliki nama Mahkota Duri
karena ditubuhnya ditutupi oleh banyak duri. Warna yang melekat pada tubuh
bintang laut umumnya berwarna oranye atau kemerahan pada bagian ujung duri.
Selain itu terdapat warna kebiru-biruan atau abu-abu pada bagian tubuh lainnya

yakni disekitar permukaan lengan. Bentuk tubuh dengan warna seperti inilah yang
menyebabbkan hewab ini mampu berbaur dengan kondisi lingkungan tempat
mereka hidup.
Bintang laut juga memiliki kandungan yang dapat di manfaatkan dalam
bidang farmasi. Sehingga kita perlu mengetahui proses atau cara ekstraksi bintang
laut. Untuk itu dibuatlah makalah ini agar pembaca mengetahui tentang manfaat
dan kandungan bintang laut.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana klasifikasi bintang laut?
2. Bagaimana morfologi bintang laut?
3. Apa kandungan bintang laut?
4. Apa manfaat bintang laut?
5. Bagaimana proses maserasi bintang laut?
6. Bagaimana proses pembuatan herbarium?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk Mengetahui klasifikasi bintang laut


Untuk Mengetahui morfologi pada bintang laut.
Untuk Mengetahui kandungan dan manfaat bintang laut
Untuk mengetahui proses maserasi bintang laut
Untuk mengetahui proses pembuatan herbarium

BAB II
PEMBAHASAN
A. Klasifikasi Bintang Laut

(Sumber: republik-tawon .blogspot.com)


Kingdom

: Animalia

Filum

: Echinodermata

Kelas

: Asteroidea

Genus

: Asteroidea

Spesies

: Asterogidea sp, Asteropecten irregularis,

B. Morfologi Bintang Laut


Bintang laut merupakan salah satu hewan laut yang tergolong dalah hewan
Invertebrata. Bintang laut termasuk dalam filum Echinodermata dan tergolong
dalam klas Asteroida. Filum Echinodermata merupakan filum bagi kelompok
hewan yang tergolong dalam hewan tripoblastik yang memiliki ciri khusus adanya
rangka dalam (Endoskeleton). Sesuai dengan namanya, bintang laut mempunyai
bentuk tubuh menyerupai bintang dengan lima lengan. Pada beberapa spesies,
bitnag laut tidak hanya mempunyai lima lengan saja, namun ada yang mempunyai
sepuluh, duapuluh bahakan sampai empat puluh lenagn. Permukaan bagian bawah
lengan itu memiliki kaki tabung yang dapat bertindak seperti cakram untuk
menyedot. Bintang laut mengkoordinasi kaki tabung tersebut untuk melekat di
batuan dan merangkak secara perlahan-lahan sementara kaki tabung tersebut
memanjang, mencengkeram, berkontraksi, melemas, memajang, kemudian
mencengkeram lagi. Bintang laut menggunakan kaki tabungnya untuk menjerat
mangsanya seperti remis dan tiram (Rohmat, 2011).

Bintang laut termasuk dalam hewan simetri radial. Diameter tubuh bintang
laut bisa mencapai 30 cm dengan tubuhnya yang berbentuk aboral. Pada
permukaan tubuh buntang aut juga terdapat duri-duri, duri-duri ini dapat
menyebabkan rasa sakit pada manusia apabila terinjak. Bahkan pada beberapa
kasus, diketahui bahwa hal ini bisa menyebabkan muntah-muntah. Tubuh bintang
laut memiliki satu sisi oral (mulut) dan aboral (atas). Duri-duri muncul dari
lempeng endoskeletal melalui kulit yang tipis. Pediselaria mirip penjepit menjaga
permukaan dari partikel kotoran. Pertukaran udara dilakukan oleh isang kulit.
Pada permukaan oral setiap lengan memiliki sebuah jalur rongga dengan kaki
tabung (Rohmat, 2011). Hewan ini mempunya banyak variasi warna diantaranya
warna oranye yang terdapat pada lengan tiap hewan ini, kemudian terdapat wara
biru atau abu-abu yang terletak di pangkal lengan hewan ini. Hal inilah yang
menyebabkan hewan ini mudah berbaur denagn lingkungannya.
Pada

sebagian

bintang

laut,

ditemukan

organ-organ

sperti anus,

madreporite, tube feet, mouth, dan Ambulacral groove. Anus dan madreporite
terletak pada bagian permukaan dari bintang laut Culcita novaeguineae. Anus
memiliki kegunaan sebagai tempat saluran pembuangan kotoran. Sedangkan
madreporite berguna sebagai alat pemompa air pada sistem vaskular air. Menurut
Bruscal (1990), bahwa didekat anus terdapat pintu saring kesistim pembuluh air
yang dinamakan madreporite. Salah satu contoh bintang laut yang ditemukan di
kepulauan Riau adalah bintang laut jenis Culcita novaeguineae. Calcita
novaeguinea ini memiliki bentuk pentagonal dengan lengan pendek dan warna
sangat variasi yaitu cokelat, merah, kuning, hitam dan berbentuk kotak-kotak
setiap individu. Berbeda dengan bintang laut secara umum yang mempunyai
warna antara kuning dan biru, Calcita novaeguinea ini mempunyai warna yang
lebih pariativ, hal ini bisa saja disebabkan kareno kondisi lingkungan tempat
mereka hidup. Selain warna dan bentuk, dibahas juga mengenai berat dan panjang
dari bintang laut. Terlepas dari spesies Calcita novaeguinea, secara umum berat
bintang laut berbanding lurus dengan panjang lengan bintang laut itu sendiri.
Semakin panjang lengan bintang laut maka semakin berat pula bintang laut
tersebut, dan sebaliknya.

C. Kandungan
Komponen bioaktif yang terdapat pada ekstrak bintang laut dengan pelarut
metanol antara lain alkaloid, steroid, flavonoid, saponin, dan ninhidrin. Ekstrak etil nheksana dan etil asetat memiliki komponen bioaktif yaitu steroid dan saponin.
D. Manfaat Bintang Laut

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan beberapa ilmuwan di London,


bintang laut dapat dijadikan obat untuk penderita penyakit asama dan radang sendi
atau arthritis. Selain itu, tim peneliti dari Scottish Associationor Marine Science
telah mempelajari bahan berlendir yang melapisi tubuh bintang laut berduri. Para
peneliti percaya bahwa lendir tersebut dapat dijadikan senjata baru untuk
mengobati penyakit infl amasi atau peradangan seperti asm asma dan radang
sendi. Menurut Dr. Bavinton, yang merupakan peneliti utama dalam riset ini,
penyakit peradangan, seperti asma dan radang sendi merupakan kondisi yang
terjadi ketika respon alami tubuh terhadap infeksi dipercepat di luar kendali. Hal
ini membuat sel darah putih (leukosit) yang bertugas memerangi infeksi mulai
menumpuk di pembuluh darah dan menempel pada sisi-sisinya sehingga dapat
menyebabkan kerusakan jaringan. Lendir bintang laut dapat digunakan untuk
melapisi pembuluh darah yang akan membiarkan sel darah putih mengalir dengan
mudah. Hal ini karena sel darah putih harus tetap mengalir pada pembuluh darah.
E. Proses Maserasi bintang laut
Proses ekstraksi komponen bioaktif yang digunakan adalah metode
ekstraksi bertingkat. Metode ini menggunakan proses maserasi (perendaman)
untuk

menarik seluruh komponen bioaktif yang terdapat pada bintang laut

Culcita sp. Proses maserasi menggunakan tiga jenis pelarut, yaitu pelarut heksana,
etil asetat, dan metanol. Pertama, bubuk bintang laut Culcita sp. sebanyak 100
gram dimaserasi selama 24 jam dengan 300 mL pelarut heksana yang dihitung
dengan perbandingan 1:3 (b/v atau gr/mL), setelah 24 jam dilakukan penyaringan
dengan kertas saring Whatman 42, sehingga didapatkan hasil berupa filtrat
heksana dan residu. Kedua, residu yang didapatkan dari hasil penyaringan
pertama digunakan untuk dimaserasi dengan 300 mL etil asetat selama 24 jam,
kemudian dilakukan penyaringan kembali menggunakan kertas saring Whatman

42. Hasil dari penyaringan didapatkan berupa filtrat etil asetat dan residu. Ketiga,
residu hasil penyaringan kedua digunakan untuk proses maserasi menggunakan
300 mL pelarut metanol selama 24 jam. Setelah dilakukan maserasi selama 24
jam, dilanjutkan dengan penyaringan sehingga didapatkan filtrat metanol dan
residu. Filtrat metanol kemudian dievaporasi sehingga semua pelarut terpisah dari
ekstrak menggunakan rotary vacuum evaporator pada temperatur 50C dan
tekanan 500 mmHg (Agustina, 2012). Proses ini akan menghasilkan ekstrak
metanol yang kental. Proses ekstraksi bertingkat dengan tiga jenis pelarut ini
ditunjukkan pada.
F. Herbarium
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor
(1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (14901550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang
pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di
atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Ramadhanil, 2003).
Herbarium dibuat dari spesimen yang telah dewasa, tidak terserang hama,
penyakit atau kerusakan fisik lain. Tumbuhan berhabitus pohon dan semak
disertakan ujung batang, daun, bunga dan buah, sedang tumbuhan berbentuk
herba disertakan seluruh habitus. Herbarium kering digunakan untuk spesimen
yang mudah dikeringkan, misalnya daun, batang, bunga dan akar, sedangkan
herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair dan lembek, misalnya
buah (Setyawan dkk, 2005).
Herbarium dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan untuk mentakrifkan
takson tumbuhan, ia mempunyai holotype untuk tumbuhan tersebut. Herbarium
juga dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli bunga atau ahli
taksonomi, untuk mendukung studi ilmiah lainnya seperti survey ekologi, studi
fitokimia, penghitungan kromosom, melakukan analisa perbandingan biologi dan
berperan dalam mengungkap kajian evolusi. Kebermanfaatan herbarium yang
sangat besar ini menuntut perawatan dan pengelolaan spesimen harus dilakukan
dengan baik dan benar (Setyawan dkk, 2005).

Koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya,


pengawetan dan penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula
kelestarian objek tersebut. Perlu ada pembatasan pengambilan objek. Salah
satunya dengan cara pembuatan awetan. Pengawetan dapat dilakukan terhadap
objek tumbuhan. Pengawetan dapat dengan cara basah ataupun kering. Cara dan
bahan pengawetnya bervariasi, tergantung sifat objeknya. Organ tumbuhan yang
berdaging seperti buah, biasanya dilakukan dengan awetan basah. Sedang untuk
daun, batang dan akarnya, umumnya dengan awetan kering berupa herbarium
(Suyitno, 2004).
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting dalam
praktek pembuatan herbarium. Spesimen herbarium yang baik harus memberikan
informasi terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para peneliti. Dengan kata
lain,suatu koleksi tumbuhan harus mempunyai seluruh bagian tumbuhan dan
harus ada keterangan yang memberikan seluruh informasi yang tidak Nampak
pada spesimen herbarium. Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan
pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru.
Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit ditemukan di alam. Awetan
spesimen dapat berupa awetan kering dan awetan basah. Awetan kering tanaman
di awetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan
dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ di dalamnya. Awetan basah baik
untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh
spesimen dalam larutan formalin 4% (Setyawan dkk, 2005).
1. Herbarium Basah
Setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan, kemudian
dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Satu lipatan kertas koran untuk
satu spesimen. Tidak benar digabungkan beberapa spesimen di dalam satu
lipatan kertas. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material herbarium
tersebut ditumpuk satu diatas lainnya. Tebal tumpukan disesuaikan dengan
dengan daya muat kantong plastik (40 60) yang akan digunakan.
Tumpukkan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disiram
alcohol 70 % atau spiritus hingga seluruh bagian tumbukan tersiram secara
merata, kemudian kantong plastik ditutup rapat dengan isolatip atau hekter

supaya alcohol atau spiritus tidak menguap keluar dari kantong plastik
(Onrizal, 2005).
2. Herbarium Kering
Cara kering menggunakan tiga macam proses yaitu pengeringan langsung,
yakni tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal di pres di dalam
sasak, untuk mendpatkan hasil yng optimum sebaiknya di pres dalam waktu
dua minggu kemudian dikeringkan diatas tungku pengeringan dengan panas
yang diatur di dalam oven. Pengeringan harus segera dilakukan karena jika
terlambat akan mengakibatkan material herbarium rontok daunnya dan cepat
menjadi busuk. Pengeringan bertahap, yakni material herbarium dicelup
terlebih dahulu di dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan
lalu dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya, ditempuk dan
dipres, dijemur atau dikeringkan di atas tungku pengeringan. Selama proses
pengeringan material herbarium itu harus sering diperiksa dan diupayakan
agar pengeringan nya merata. Setelah kering, material herbarium dirapikan
kembali dan kertas koran bekas pengeringan tadi diganti dengan kertas baru.
Kemudian material herbarium dapat dikemas untuk diidentifikasi (Onrizal,
2005).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat di ketahui bahwa bintang laut memiliki


senyawa kimia yang dapat berkhasiat sebagai obat. Untuk itu perlu diketahui cara
ekstraksi yang benar untuk mengambil senyawa aktif yang terdapat pada bintang
laut. Herbarium terdiri dua macam yaitu herbarium kering dan herbarium basah.
B. Saran
Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk tercapainya suatu
kesempurnaan sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan makalah.

DAFTAR PUSTAKA

Aat, U. 2014. Mengambil Manfaat Dari Tumbuhan Dan Hewan. Bandung: Mitra
Edukasi Indonesia
Onrizal.

2005. Teknik Pembuatan

Herbarium. Access by : http://ocw.usu.ac.id.

Accession date : April 27th 2014.


Ramadhanil. 2003. Herbarium Celebense (CEB) dan Peranannya dalam Menunjang
PenelitianTaksonomi Tumbuhan di Sulawesi. UNS. Solo.
Setyawan, A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K dan Susilowati, A.
2005.Tumbuhan Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek Biologi. Jurusan Biologi
FMIPA UNY. Yogyakarta
Puspitasari dkk.. 2012. Studi Taksonomi Bintang Laut (Asteroidea, Echinodermata)
Dari Kepulauan Karimunjawa, Jepara. Universitas Diponegoro: Semarang.
Rohmat,

B..

2011. Filum

Echinodermata. http://rohmat-

blogger.blogspot.com-/2011/10/buku-biologi-filum-echinodermata.html. (diakses
18/09/2016)

10