You are on page 1of 10

KINETIKA PENYISIHAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) PADA

AIR BAKU PDAM TIRTAWENING KOTA BANDUNG


MENGGUNAKAN KOAGULAN TAWAS BERBAHAN BAKU
ALUMINIUM DARI TUTUP KALENG BEKAS
KINETICS OF TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) REMOVAL IN PDAM
TIRTAWENING BANDUNG RAW WATER WITH ALUM-BASED
COAGULANT MADE OF ALUMINUM USED CAN CAPS
Nida Mariam1 dan Marisa Handajani2
Program Studi Magister Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha 10 Bandung 40132
Email: 1nida.mariam007@gmail.com dan 2marisa.handajani@ftsl.itb.ac.id
Abstrak: Pengolahan air minum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Baku mutu air minum
diatur dalam PERMENKES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Salah satu pengolahan air yang dapat
dilakukan adalah dengan koagulasi-flokulasi menggunakan koagulan tawas. Tutup kaleng bekas minuman
ringan mengandung maksimum 90% aluminium, yang dapat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan
tawas. Pada penelitian ini akan dipelajari studi kinetika penyisihan TSS pada air baku PDAM Tirtawening Kota
Bandung dengan menggunakan tawas berbahan baku tutup kaleng bekas tersebut. Kadar aluminium pada tutup
kaleng bekas minuman ringan adalah 43%, dimana berpotensi sebagai bahan koagulan tawas. Tiga Produksi
tawas dari 8 gram tutup kaleng dapat menghasilkan 53,4074 gram KAl(SO4)2.12H2O, 51,8033 gram
KAl(SO4)2.11H2O, dan 50,8847 gram KAl(SO4)2.10H2O. Tawas dengan kadar hidrat besar akan menurunkan
komposisi aluminium. Semakin besar kadar hidrat, maka semakin kecil komposisi aluminium, dan kemampuan
tawas dalam menurunkan kekeruhan dan menyisihkan TSS semakin berkurang. pH air sangat berpengaruh pada
kinerja tawas dari tutup kaleng bekas. pH optimum koagulan dari tutup kaleng bekas adalah 7. Tawas
KAl(SO4)2.10H2O memiliki dosis optimum 30 mg/L dan mampu menurunkan kekeruhan dan menyisihkan TSS
secara optimum. Selain itu, tawas KAl(SO4)2.10H2O mampu membuat flok lebih besar sehingga mempercepat
pengendapan. Hasil pengolahan air baku menggunakan tawas dari tutup kaleng bekas memenuhi baku mutu air
minum. Tawas dari tutup kaleng bekas memiliki kemampuan menurunkan kekeruhan dan TSS yang lebih baik
dibandingkan tawas komersial.
Kata kunci: koagulasi, flokulasi, aluminium, tutup kaleng bekas, dan tawas.
Abstract: Treatment of drinking water is required to fulfill the public needs. Drinking water quality standard is
regulated in Health Minister Regulation No. 492/MENKES/PER/IV/2010. Coagulation-flocculation using alum
coagulant is a water treatment that can be adopted. Used can caps of soft drink contain maximum 90%
aluminum, which can be used as raw material in the production of alum. This research will study the kinetics of
TSS removal in raw water of PDAM Tirtawening Bandung using alumunium compunds from used caps. Raw
water after pre-sedimentation from Regional Water Corporation (PDAM) Tirtawening is used in the
investigation. Raw water after pre-sedimentation characteristics shows that turbidity parameter did not
accordance with water quality standard. The average mass of the caps over the three days was 4.0609 grams.
Whereas, average aluminum content of the three cap samples was 43%. Can caps have the potential to be used
as raw material for making adequate alum. 8 grams of used can caps generate 53.4074 grams of
KAl(SO4)2.12H2O, 51.8033 of KAl(SO4)2.11H2O, and 50.8847 of KAl(SO4)2.10H2O. Alum with large hydrate
levels will reduce aluminum composition, that will make reducing turbidity and TSS were not effective. pH of the
water is very important on the performance of alum which made from can caps. pH optimum coagulant from
can caps is 7. Batch 3 alum has optimum dose of 30 mg/L, and is able to reduce turbidity and TSS better than
the other alum. Also, Batch 3 alum is able to make floc bigger, so can accelerate the deposition of floc. Results
of treatment of raw water using alum derived fromcancaps meet drinking water quality standards. Can caps
based alum has the ability to reduce turbidity and TSS better than commercial alum.
Keywords: coagulation, flocculation, aluminum, used can caps, and alum.

5-51

PENDAHULUAN
Air minum merupakan salah satu kebutuhan vital bagi kehidupan. Kandungan air
pada badan manusia hidup adalah rata-rata 65% atau 47 liter per orang dewasa. Sekitar 2,5
liter air harus diganti dengan air yang baru, dan sejumlah air yang harus diganti tersebut 1,5
liter berasal dari air minum (Winarno, 1997). Dengan demikian kebutuhan air untuk tubuh
manusia merupakan hal yang pokok. Untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air
minum, dilakukan pengolahan dari sumber air, baik air permukaan maupun air tanah. Air
sungai merupakan air baku yang digunakan secara umum pada Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) di Indonesia. Pada proses pengolahan air minum berkaitan dengan
penurunan kekeruhan air baku untuk air minum. Kekeruhan dalam air tersebut disebabkan
oleh zat-zat tersuspensi dalam bentuk lumpur kasar, lumpur halus, dan koloid.
Air yang memenuhi standar kesehatan harus sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 492/MENKES/PER/IV/2010, yang mengatur tentang
syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum. Dengan demikian, perlu upaya penurunan
kekeruhan dan TSS (Total Suspended Solid), hal itu agar air minum yang dikonsumsi
memenuhi standar kesehatan. Pada umumnya, pengolahan air minum melewati proses
sedimentasi, koagulasi-flokulasi, filtrasi, dan disinfeksi (Baghvand, dkk., 2010).
Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan koagulasi-flokulasi.
Koagulasi-flokulasi merupakan proses kimia yang dilakukan untuk menyisihkan kekeruhan
dan partikel koloid berukuran 1-200 milimikron. Koagulan yang dapat digunakan salah
satunya adalah tawas. Tawas, sebagai garam logam, akan bereaksi dengan alkalinitas di
dalam air untuk menghasilkan flok hidroksida logam tak larut yang akan menggabungkan
partikel koloid (Pisse, dkk., 2009). Selain itu, tawas sering digunakan karena murah, mudah
diperoleh, dan mudah pula dalam penyimpanan ataupun pengangkutan (Al-Zahrani, dkk.,
2004). Bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat tawas adalah aluminium.
Aluminium dapat diperoleh dari tutup kaleng bekas minuman ringan. Tutup kaleng bekas
minuman ringan mengandung maksimum 90% aluminium, yang dapat digunakan sebagai
bahan utama dalam pembuatan koagulan.
Selain dapat mereduksi sampah tutup kaleng bekas, potensi daur ulang dari tutup
kaleng bekas sangat menjanjikan. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan
pemanfaatan aluminium dari tutup kaleng bekas sebagai bahan baku pembuatan koagulan
tawas, yang selanjutnya akan digunakn untuk studi kinetika penyisihan TSS pada air baku
PDAM Tirtawening Kota Bandung. Hal diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk
mereduksi sampah tutup kaleng bekas, sekaligus memanfaatkannya sebagai bahan baku
koagulan dalam mengolah air baku untuk air minum.

METODOLOGI
Pada dasarnya pengolahan dengan koagulan ditujukan untuk menurunkan kekeruhan
dan Total Suspended Solid (TSS) dari air baku, untuk digunakan sebagai air minum dengan
syarat-syarat yang ditentukan. Koagulan yang digunakan adalah tawas hasil pemanfaatan
aluminium dari tutup kaleng bekas minuman ringan. Mekanisme pembentukan koagulan
tawas dari aluminium tutup kaleng bekas penting untuk ditelaah. Selanjutnya, akan dilakukan
studi kinetika pada pengolahan air baku PDAM menggunakan koagulan tawas berbahan baku
aluminium dari tutup kaleng bekas tersebut.
Karakterisasi Air Baku
Sampel merupakan air baku PDAM Tirtawening Kota Bandung sebelum dan setelah
proses pra-sedimentasi. Pada saat pengambilan sampel dicatat tanggal, waktu, dan lokasinya.
Karakterisasi air meliputi temperatur (SNI 06-6989.23-2005), pH (SNI 06-6989.11-2004),
turbiditas (SK SNI M-03-1989-F), konduktivitas (SNI 06-6989.1-2004), TDS (Total
5-52

Dissolved Solid) (SK SNI M-03-1989-F), dan TSS (Total Suspended Solid) (SNI 06-6989.32004).
Pengambilan Tutup Kaleng Bekas
Tutup kaleng bekas yang digunakan adalah tutup kaleng bekas minuman ringan.
Tutup kaleng bekas didapatkan dari pengumpul yang berada di Tempat Pembuangan
Sementara (TPS) Taman Sari. Pengambilan sampel pada tutup kaleng bekas dilakukan secara
acak, kemudian dianalisis kandungan aluminiumnya. Prosedur yang sama diulang kembali
dengan mengambil sejumlah tutup kaleng bekas yang lain dengan berat yang sama. Penelitian
dilakukan sebanyak tiga kali untuk melihat kandungan aluminium rata-rata setiap gram tutup
kaleng bekas.
Pembuatan Koagulan Tawas
Tutup kaleng bekas yang sudah dibersihkan dan digunting menjadi bagian yang kecil
ditimbang sebanyak 8 g dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100 mL, kemudian
ditambahkan KOH 3,56 M sebanyak 100 mL dan dipanaskan dengan api kecil. Proses
pemanasan dihentikan sampai gelembung-gelembung gas hilang. Larutan tersebut
selanjutnya, disaring dan didinginkan, kemudian ditambahkan H2SO4 6 M secara perlahan
sebanyak 100 mL sambil diaduk. Setelah itu, disaring dan larutan didinginkan di dalam es.
Kristal tawas yang terbentuk dipisahkan dengan corong Buchner, kemudian dicuci dengan
etanol 50% sebanyak 50 mL. Endapan dikeringkan, setelah kering, selanjutnya ditimbang
hingga memiliki berat yang konstan, Manurung dan Ayuningtyas (2010).
Jar Test
Kondisi optimum ditentukan dengan hasil penurunan kekeruhan dan TSS. Variasi
yang dilakukan adalah dosis tawas yakni 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 mg/L, serta pH yaitu 3, 5,
7, 9, dan 11. Sebanyak 500 ml air baku dengan kekeruhan tertentu ditambah koagulan dengan
dosis tertentu dan pH tertentu, kemudian diputar pada kecepatan 200 rpm selama 2 menit
kemudian diperlambat sebesar 60 rpm selama 15 menit. Pengambilan sampel dilakukan
setelah diendapkan selama 1 jam. Sampel diambil dari ketinggian sekitar 3 cm dari
permukaan. Selanjutnya diukur kekeruhan akhir, konduktivitas, TSS, dan TDS sampel.
SMMWE 2710
Potensial Zeta
Pengukuran potensial zeta dilakukan dengan alat The Delsa Nano C yang
menggunakan Photon Correlation Spectroscopy (PCS). PCS digunakan untuk menentukan
ukuran partikel melalui pengukuran laju fluktuasi intensitas sinar laser yang dihamburkan
oleh partikel pada saat sinar laser melalui fluida. Sedangkan, Electrophoretic Light Scattering
(ELS) digunakan untuk menganalisis pergerakan electrophoretic partikel bermuatan,
sehingga potensial zeta dapat ditentukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakterisasi Air Baku
Air baku PDAM Tirtawening Bandung sebelum pra-sedimentasi memiliki lokasi di
Dago Bengkok, sedangkan air baku setelah pra-sedimentasi memiliki lokasi di Jalan Badak
Singa No. 10. Karakterisasi air baku digunakan untuk mengetahui komposisi dan sifat air.
Pada dasarnya, air baku akan berpengaruh pada proses koagulasi dan flokulasi yang akan
dilakukan. Hasil karakterisasi air PDAM Tirtawening Bandung ditunjukkan pada Tabel 1.

5-53

Tabel 1. Karakteristik Air PDAM Tirtawening Bandung Sebelum dan Setelah PraSedimentasi.
Parameter
Warna
Suhu (oC)
pH
Konduktivitas (s/cm)
DO (mg/L)
Kekeruhan (NTU)
TDS (mg/L)
TSS (mg/L)

Sebelum Pra-Sedimentasi
Coklat Tua (Diatas 25 Pt-Co)
20,47
7,28
110,33
5,93
77,37
312
228

Setelah Pra-Sedimentasi
Coklat Muda (Diatas 25 Pt-Co)
20,90
6,99
100,57
5,89
58,60
118
110

Baku Mutu*
6,5 8,5
5
500
-

*Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/MENKES/PER/IV/2010

Berdasarkan hasil karakterisasi air baku, apabila dibandingkan dengan parameter yang
ada dalam baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
492/MENKES/PER/IV/2010, kekeruhan air baku merupakan parameter yang belum
terpenuhi. Koagulasi dan flokulasi diperlukan untuk menyisihkan koloid pada air baku
setelah pra-sedimentasi agar dapat memenuhi baku mutu. Analisa lumpur dilakukan dengan
mengendapkan lumpur secara gravitasi. Penentuan kadar lumpur kasar sangat penting dalam
menganalisa air. Gambar 1 menunjukkan hasil analisa lumpur air baku.
0.35
Volume (mL)

0.3
Air Baku Sebelum
Pra-sedimentasi

0.25
0.2

Air Baku Setelah Prasedimentasi

0.15
0.1
0.05
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90
Waktu (Menit)

Gambar 1. Analisa Lumpur Air Baku Sebelum dan Setelah Pra-Sedimentasi.


Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa kandungan lumpur di dalam air
baku sebelum pra-sedimentasi lebih tinggi dibandingkan setelah pra-sedimentasi.
Selanjutnya, kecepatan pengendapan dari lumpur pada air baku setelah pra-sedimentasi lebih
tinggi dibandingkan air baku sebelum pra-sedimentasi. Oleh karena itu, air baku setelah prasedimentasi memiliki beban lumpur yang lebih rendah dibandingkan air baku sebelum prasedimentasi, sehingga akan lebih mudah apabila digunakan dalam pengolahan selanjutnya.
Karakterisasi Tutup Kaleng
Tutup kaleng bekas dikumpulkan selama dua hari pada 30-31 Januari 2013 di Tempat
Penampungan Sementara (TPS) Taman Sari. Tutup kaleng yang digunakan adalah tutup
kaleng minuman ringan Larutan Penyegar. Pengambilan sampel tutup kaleng dilakukan
selama tiga hari menghasilkan massa tutup kaleng rata-rata sebesar 4,0609 gram. Hasil
analisis kadar aluminium dan besi dari tiga sampel tutup kaleng adalah 43,00 % dan 0,34 %.
Oleh karena itu, potensi aluminium dari tutup kaleng memadai untuk dijadikan bahan baku
pembuatan koagulan, terutama untuk pembuatan tawas.
5-54

Produksi Koagulan Tawas


Aluminium pada tutup kaleng bekas minuman ringan dibersihkan sebelum
direaksikan dengan bahan kimia. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan pengotor yang
dapat bereaksi dengan bahan kimia lain. Saat penambahan KOH 3,56 M, reaksi berjalan
cepat dan bersifat eksoterm (menghasilkan panas). Reaksi yang terjadi adalah:
2Al (s) + 2 KOH (aq) + 6 H2O (l) 2 KAl(OH)4 (aq) + 3 H2 (g)
Pelarutan aluminium pada larutan KOH 20% merupakan reaksi reduksi-oksidasi. Ion
Al(OH)4- adalah ion kompleks yang disebut aluminate. Pada reaksi ini terbentuk gas hidrogen
yang ditandai dengan adanya gelembung udara. Gelembung akan hilang setelah aluminium
bereaksi. Agar tidak terbentuk Al(OH)3, ditambahkan KOH 20% secara berlebih. Pemanasan
dilakukan untuk mempercepat reaksi, sedangkan penyaringan dilakukan untuk
menghilangkan residu plastik dan dekomposisi dari cat yang terdapat pada produk minuman
tersebut.
Larutan yang diperoleh, kemudian ditambah H2SO4 6 M kemudian disaring untuk
menyisihkan pengotor. Reaksi yang terjadi adalah:
2 KAl(OH)4 (aq) + H2SO4 (aq) 2 Al(OH)3 (s) + 2 H2O (l) + K2SO4 (aq)
Reaksi di atas merupakan reaksi asam-basa, dimana ion H+ dari asam sulfat akan dinetralkan
dengan basa Al(OH)4- untuk membentuk Al(OH)3. Dilakukan penambahan larutan H2SO4
agar seluruh senyawa K[Al(OH)4] dapat bereaksi sempurna. Selanjutnya, Al(OH)3 yang
terbentuk langsung bereaksi dengan H2SO4 dengan persamaan reaksi:
2 Al(OH)3 (s) + 3 H2SO4 (aq) Al2(SO4)3 (aq) + 6 H2O (l)
Pada reaksi sebelumnya, penambahan H2SO4 akan membentuk Al(OH)3 dan
K[Al(OH)4], namun H2SO4 berlebih akan melarutkan Al(OH)3 menjadi Al2(SO4)3. Senyawa
Al2(SO4)3 yang terbentuk bereaksi kembali dengan H2SO4 hasil reaksi sebelumnya
membentuk kristal yang diharapkan adalah KAl(SO4)2.12H2O berwarna putih, (Manurung
dan Ayuningtyas, 2010). Reaksi yang terjadi adalah:
Al2(SO4)3 (aq) + K2SO4 (aq) + 24 H2O (l) 2KAl(SO4)2.12H2O
Pada proses pendinginan, kristal tawas terbentuk secara lambat. Oleh karena itu,
proses ini dapat dipercepat dengan pembentukan bibit kristal terlebih dahulu. Pendinginan
dilakukan agar kristal tawas larut dalam air pada temperatur ruang. Kristal tawas disaring
dengan saringan vakum, kemudian dicuci dengan etanol 50%. Hal ini dilakukan untuk
menghilangkan pengotor yang terdapat di kristal, namun tidak turut melarutkannya. Selain
itu, proses tersebut membuat kristal menjadi cepat kering, karena alkohol lebih cepat
menguap dibandingkan air.
Proses produksi tawas dari aluminium tutup kaleng bekas dilakukan sebanyak tiga
kali (tiga batch) dan menghasilkan tawas dengan massa yang berbeda. Tabel 2 menunjukkan
hasil produksi tawas.
Tabel 2. Produksi Tawas Berbahan Baku Tutup Kaleng Bekas.
Keterangan
Tawas Batch 1
Tawas Batch 2
Tawas Batch 3

Massa Tutup Kaleng Bekas (gram)


8,0000
8,0000
8,0000

Massa Tawas (gram)


53,4074
51,8033
50,8847

Pada umumnya, reaksi pembentukan tawas akan berjalan seperti reaksi-reaksi


sebelumnya. Namun, karena adanya perbedaan pembentukan hidrat, terjadi perbedaan massa
tawas. Hidrat adalah suatu kristal yang terbentuk karena adanya interaksi ikatan hidrogen dari
H air (H2O) dengan O dari sulfat (SO42-).
Kandungan uap air ruang berbeda-beda setiap saat atau dapat dikatakan kandungan air
di ruangan selalu dinamis berubah, dan air tersebut dapat berpotensi ikut bereaksi di dalam
5-55

produksi apabila kondisinya menunjang. Selain itu, perbedaan massa tawas pun dapat terjadi
karena kondisi lingkungan reaksi yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi keberjalanan
reaksi yang ada. Tawas dari aluminium tutup kaleng bekas batch 1, 2, dan 3 tidak
mengandung timbal dan arsen, begitupun dengan tawas komersial, sehingga aman untuk
digunakan. Hasil analisis tawas berbahan baku aluminium dari tutup kaleng bekas
ditunjukkan oleh Tabel 3.
Tabel 3. Karakterisasi Tawas Berbahan Baku Aluminium dari Tutup Kaleng Bekas.
Tawas

Senyawa Kimia

Batch 1
Batch 2
Batch 3
Komersial

KAl(SO4)2.12H2O
KAl(SO4)2.11H2O
KAl(SO4)2.10H2O
KAl(SO4)2.12H2O

Kadar
Aluminium (%)
9,80
9,89
10,01
3,36

Kadar
Kalium (%)
2,50
2,12
1,98
2,88

Kadar
Sulfat (%)
42,46
45,27
47,35
48,52

Kadar
Air (%)
45,24
42,72
40,66
45,24

Penentuan Dosis Optimum


Penentuan dosis optimum dilakukan dengan percobaan jar test. Jar Test adalah
metode untuk menguji proses koagulasi. Hasil uji ini akan menjadi acuan dosis koagulan.
Dosis optimum tawas batch 1 adalah 40 mg/L. Tabel 4 menunjukkan hasil pengolahan air
menggunakan tawas batch 1 dan tawas komersial pada dosis 40 mg/L.
Tabel 4. Perbandingan Tawas Batch 1 dan Tawas Komersial.
Parameter
Kekeruhan (NTU)

Tawas Batch 1
2,87

Tawas Komersial
18,6

Konduktivitas (s/cm)

109,7

102,5

TDS (mg/L)

96,9

86

TSS (mg/L)

58,8

83,33

Pada tawas batch 1, kekeruhan dan TSS air dapat disisihkan secara signifikan
dibandingkan tawas komersial. Selanjutnya, dosis optimum untuk tawas batch 2 adalah 30
mg/L. Tabel 5 menunjukkan hasil pengolahan air menggunakan tawas batch 1 dan tawas
komersial pada dosis 30 mg/L.
Tabel 5. Perbandingan Tawas Batch 2 dan Tawas Komersial.
Parameter
Kekeruhan (NTU)

Tawas Batch 2
8,33

Tawas Komersial
18,1

Konduktivitas (s/cm)

135,3

131,9

TDS (mg/L)

67,6

65,9

TSS (mg/L)

82,33

83,5

Pada tawas batch 2, kekeruhan dan TSS air juga dapat disisihkan secara signifikan
dibandingkan tawas komersial, namun masih belum memenuhi baku mutu. Kemudian, dosis
optimum untuk batch 3 yang diperoleh adalah 30 mg/L. Tabel 6 menunjukkan hasil
pengolahan air menggunakan tawas batch 1 dan tawas komersial pada dosis 40 mg/L.

5-56

Tabel 6. Perbandingan Tawas Batch 3 dan Tawas Komersial.


Parameter
Kekeruhan (NTU)

Tawas Batch 3
4,04

Tawas Komersial
18,1

Konduktivitas (s/cm)

135,3

131,9

TDS (mg/L)

67,6

65,9

TSS (mg/L)

57,84

83,5

Pada tawas batch 3, kekeruhan dan TSS air juga dapat disisihkan secara signifikan
dibandingkan tawas komersial. Selanjutnya, untuk tawas komersial memiliki dosis optimum
50 mg/L. Tawas batch 3 memiliki kemampuan menyisihkan kekeruhan dan TSS lebih baik
karena tawas batch 3 memiliki kadar aluminium yang lebih tinggi dibandingkan tawas
lainnya. Pada proses koagulasi, aluminium dalam bentuk Al3+ berperan sangat penting
(Poulin, dkk, 2008).
Kemampuan penyisihan juga dipengaruhi oleh kadar hidrat. Semakin besar kadar
hidratnya maka komposisi atom lain akan berkurang, sehingga semakin besar kadar hidrat
akan mengurangi komposisi ion aluminium, yang merupakan ion aktif yang berperan dalam
penyisihan partikel koloid di dalam air. Penelitian ini juga menguji kadar kalium dan
aluminium setelah menggunakan tawas dari tutup kaleng bekas. Aluminium dapat
mengganggu sistem syaraf manusia (Sielichi, dkk., 2010). Kadar aluminium pada air yang
telah diolah dengan menggunakan tutup kaleng bekas masih memenuhi baku mutu.
Penentuan pH Optimum
pH adalah parameter yang penting dalam pengolahan air. pH akan mempengaruhi
korosivitas air, efisiensi klorinasi, dan rasa. Hasil efisiensi penurunan kekeruhan dan
penyisihan TSS menunjukkan bahwa pengolahan air dengan menggunakan tawas batch 1, 2,
dan 3 memiliki pH optimum 7. Pada pH 5, pengolahan air menggunakan tawas batch 1, 2,
dan 3 masih dapat dilakukan. Pada pH 3, 9, dan 11 hasil penyisihan fluktuatif dan tidak
konsisten. Hal ini karena pada pH 3, 9 dan 11 keadaan air terlalu asam ataupun basa,
sehingga akan mempengaruhi kinerja tawas. Oleh karena itu, kinerja tawas yang efektif
dalam mengolah air berada pada rentang 5-7
Pengaruh Kekeruhan Awal terhadap Efisiensi Penurunan Kekeruhan
Pada dasarnya kekeruhan awal akan mempengaruhi efisiensi penurunan kekeruhan.
Kekeruhan awal berkaitan dengan koloid di dalam air yang harus diolah dengan koagulasi.
Kekeruhan pada musim kemarau pada air baku PDAM Tirtawening Bandung adalah 46,33
NTU, sedangkan pada musim hujan 88 NTU (Ariesta, 2011). Oleh karena itu, pada penelitian
ini dilakukan variasi kekeruhan awal yakni 50 dan 100 NTU. Tawas batch 3 merupakan
tawas yang dapat menurunkan kekeruhan lebih baik. Selanjutnya, semakin tinggi kekeruhan
awal, maka semakin besar pula efisiensi penurunan kekeruhan. Jumlah partikel koloid di
dalam air yang banyak, maka akan menyebabkan kekeruhan menjadi tinggi. Partikel koloid
akan berikatan dengan koagulan (Pisse, dkk., 2009). Apabila partikel koloid semakin banyak
maka akan semakin banyak pula ikatan antara koloid dan koagulan. Ikatan antara koloid dan
koagulan akan mendukung pembentukan flok yang banyak pula, sehingga kekeruhan dapat
diturunkan. Kekeruhan yang rendah akan menyebabkan kontak antar partikel semakin lemah,
sehingga pada kondisi ini penurunan kekeruhan akan lebih kecil.
Analisa Potensial Zeta
Potensial zeta merupakan muatan listrik yang ada dalam emulsi cair atau dispersi
yang bersifat koloid. Partikel koloid di air, khususnya air di alam, dalam hal ini air sungai
5-57

yang dijadikan air baku PDAM, secara umum bermuatan negatif (Peternelj, 2009). Potensial
zeta negatif menandakan kestabilan dari partikel koloid yang ada. Hal ini juga ditunjukkan
dari hasil pengukuran potensial zeta sebesar -12,57 mV. Penambahan elektrolit kationik atau
polielektrolit, seperti tawas akan mendukung terjadinya pembentukan flok. Muatan positif
yang berasal dari tawas akan menetralkan muatan negatif dari partikel koloid. Pembentukan
flok akan terjadi ketika potensial zeta mendekati nol. Pada penelitian ini, tawas batch 3
digunakan untuk mengolah air dengan menggunakan dosis 30 mg/L. Hasil analisis potensial
zeta menunjukkan bahwa besar potensial zeta larutan tersebut adalah -0,06 mV. Hal itu
mengindikasikan partikel koloid mampu didestabilasi, sehingga flok terbentuk. Selain itum
hal ini juga mengindikasikan bahwa tawas dari tutup kaleng bekas merupakan elektrolit
kationik, yang mampu mendestabilkan partikel kolid melalui mekanisme penetralan muatan,
sehingga pembentukan flok terjadi dan partikel koloid nantinya dapat disisihkan.
Analisa Flok
Air baku yang memiliki kekeruhan maka mengandung zat padat terlarut ataupun
koloid bermuatan listrik. Muatan tersebut menyebabkan terbentuknya lapisan ganda listrik.
Penambahan koagulan tawas ke dalam air baku akan menyebabkan terbentuknya senyawa
multi positif hidrokso yang dapat dengan cepat diserap pada permukaan partikel koloid.
Pengadukan akan meningkatkan tumbukan, dan partikel koloid terdestabilisasi dan
selanjutnya akan terbentuk flok. Flok menggumpal dan semakin lama semakin besar
kemudian mudah mengendap. Air baku pada dasarnya memiliki kekeruhan dan padatan
terlarut yang terkandung di dalamnya. Gambar 2 menunjukkan proses pembentukan flok
mulai dari terbentuk hingga diendapkan di dalam air.

(a) Flok Mulai Terbentuk


(b)Pembesaran Flok
(c)Flok yang Mengendap
Gambar 2. Pembentukan Flok dengan Menggunakan Tawas dari Tutup Kaleng Bekas
Pada penelitian ini ukuran flok yang dari tawas batch 1, 2, 3, dan komersial diukur
dengan menggunakan mikrometer pada mikroskop.
Tabel 7. Ukuran Flok Tawas Batch 1, 2, 3, dan Komersial.
Keterangan
Tawas Batch 1 Tawas Batch 2
Ukuran Partikel dalam Air (mm)
0,05
Ukuran Flok Setelah Pengadukan Cepat (mm)
0,100
0,110
Ukuran Flok Setelah menit Pengadukan Lambat
0,275
0,185
Setelah 3 Menit (mm)
0,340
0,275
Setelah 6 Menit (mm)
0,350
Setelah 9 Menit (mm) 0,405
0,830
Setelah 12 Menit (mm) 0,415
Setelah 15 menit (mm)
0,440
0,870

5-58

Tawas Batch 3

Tawas Komersial

0,175

0,100

0,220
0,900
1,225
1,525

0,200
0,300
0,340
0,400

2,125

0,430

Berdasarkan Tabel 7 di atas, dapat dilihat bahwa ukuran flok terbesar adalah tawas
batch 3, selanjutnya tawas batch 2, dan tawas batch 1. Tawas komersial memiliki ukuran flok
terkecil. Pada proses koagulasi dengan menggunakan pengadukan cepat flok terbentuk dan
pada pengadukan lambat, flok yang kecil semakin lama semakin membesar. Flok tersebut
akan mengendap dan nantinya akan disisihkan.
Kecepatan Pengendapan
Proses flokulasi pada pengolahan air dilakukan untuk mempercepat penggabungan
flok yang telah terbentuk pada proses koagulasi. Partikel koloid yang telah didestabilkan akan
saling bertumbukan, melakukan tarik-menarik, kemudian membentuk flok yang semakin
lama semakin membesar dan mudah mengendap. Pada penelitian ini dilakukan penentuan
kecepatan pengendapan.

Volume Flok (mL)

12
10
8
Tawas Batch
Batch 11
Tawas

Tawas
Tawas Batch
Batch 22
4

Tawas
Tawas Batch
Batch 33

Tawas
Tawas Komersial
Komersial

0
0

2.5

7.5 10 12.5 15 17.5 20 22.5 25 27.5 30


Waktu (Menit)

Gambar 3. Volume Flok Tawas Batch 1, 2, 3, dan Komersial.


Berdasarkan Gambar 3 dapat terlihat bahwa tawas batch 3 memiliki kecepatan
pengendapan paling tinggi, selanjutnya tawas batch 2, batch 3, dan terakhir tawas komersial.
Volume flok yang dapat disisihkan pun semakin besar berdasarkan ukuran flok dan juga
kecepatan pengendapannya. Kecepatan pengendapan flok tawas batch 1 adalah 0,462
cm/menit, tawas batch 2 adalah 0,848 cm/menit, tawas batch 3 adalah 1,049 cm/menit, dan
tawas komersial adalah 0,327 cm/menit.
Pengaruh pH dan Dosis Tawas
Pada penelitian ini ditentukan seberapa besar pengaruh pH dan dosis tawas terhadap
penyisihan TSS dan penurunan kekeruhan. Berdasaran pengolahan statistik dengan Analysis
Variance (ANOVA) Single Factor, dosis tawas memiliki pengaruh terhadap penurunan
kekeruhan dan penyisihan TSS, namun tidak signifikan. Sedangkan, pH memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap penurunan kekeruhan dan penyisihan TSS.
Oleh karena itu, pH air harus sesuai pada kondisi optimum, apabila tidak maka perlu
proses netralisasi atau optimasi pH terlebih dahulu. pH dapat mempengaruhi kelarutan dari
koagulan. pH optimum digunakan untuk menunjang kinerja koagulan dalam hal ini tawas,
agar memiliki kelarutan besar. Ion aquometalik semakin mudah terbentuk disebabkan oleh
koagulan yang mudah larut. Kemudahan terbentuknya ion aquometalik akan mendukung
semakin cepatnya koloid ternetralisasi membentuk flok. pH yang semakin besar akan
mengurangi kelarutan air an akan menghambat pembentukan flok. Begitupun apabila pH
terlalu asam, maka akan mempengaruhi pembentukan flok.

5-59

KESIMPULAN
Aluminium dari tutup kaleng bekas minuman ringan dapat dimanfaatkan sebagai
koagulan tawas untuk mengolah air baku PDAM. Kadar aluminium pada tutup kaleng bekas
minuman ringan adalah 43%, dimana berpotensi sebagai bahan koagulan tawas. Dari tiga
produksi tawas, setiap 8 gram tutup kaleng dapat menghasilkan 53,4074 gram
KAl(SO4)2.12H2O (tawas batch 1), 51,8033 gram KAl(SO4)2.11H2O, (tawas batch 2), dan
50,8847 gram KAl(SO4)2.10H2O (tawas batch 3). Tawas dengan kadar hidrat besar akan
menurunkan komposisi aluminium. Al3+ merupakan ion aktif yang dapat digunakan sebagai
bahan penetral muatan negatif partikel koloid. Semakin besar kadar hidrat, maka semakin
kecil komposisi aluminium, dan kemampuan tawas dalam menurunkan kekeruhan dan
menyisihkan TSS semakin berkurang.
pH air sangat berpengaruh pada kinerja tawas dari tutup kaleng bekas. pH optimum
koagulan dari tutup kaleng bekas adalah 7. Tawas batch 3 memiliki dosis optimum 30 mg/L
dan mampu menurunkan kekeruhan dan menyisihkan TSS secara optimum. Selain itu, tawas
batch 3 mampu membuat flok lebih besar sehingga mempercepat pengendapan flok yakni
1,049 cm/menit. Hasil pengolahan air baku menggunakan tawas dari tutup kaleng bekas
memenuhi baku mutu air minum. Tawas dari tutup kaleng bekas memiliki kemampuan
menurunkan kekeruhan dan TSS yang lebih baik dibandingkan tawas komersial.
Daftar Pustaka
Baghvand, A., Zan, A. D, Mehrdadi, N., dan Karbasi, A. 2010. Optimizing Coagulation Process for Low to
High Turbidity Waters Using Aluminium and Iron Salts. American Journal of Environmental Sciences.
Vol. 5, 442-448.
Li, L., Fan, M., Brown, R. C., Koziel, J. A., dan Van, L. J. 2009. Production of a New Wastewater Treatment
Coagulant from Fly Ash with Concomitant Flue Gas Scrubbing. Journal of Hazardous Material. Vol.
162, 1430-1437.
Manurung, M. dan Ayuningtyas, I. F. 2010. Kandungan Aluminium pada Kaleng Bekas dan Pemanfaatannya
dalam Pembuatan Tawas. Jurnal Kimia. Vol. 4, 180-186.
Pise, C. P., Gidde, M. R., dan Bhalerao, M. R. 2009. Study of Blended Coagulant Alum and Moringa oleifera for
Turbidity Removal. Journal of Environmental Research and Development. Vol. 2, 517-527.
Poulin, E., Blais, J. F., dan Mercier, G. 2008. Transformation of Red Mud From Aluminium Industry Into
Coagulant For Wastewater Treatment. Journal of Hydrometallurgy. Vol. 92, 16-25.
Sielichi, J. M., Kayem, G. J., dan Sandu, I. 2010. Effect of Water Treatment Residuals (Aluminium and Iron
Ions) on Human Health and Drinking Water Distribution Systems. International Journal of Conservation
Science. Vol 1, 175-182.

5-60