You are on page 1of 71

Skenario A Blok 28 Tahun 2016

dr. Thamrin, dokter di RSUD yang terleta sekitar 40km dari Palmebang. Sekitar 100m dari
RSUD, terjadi kecelakaan lalu lintas. Mobil mini bus yang melaju dengan kecepatan tinggi
menabrak pohon beringin. Bagian depan mobil hancur, kaca depan pecah. Sang supir, satusatunya penumpang mobil terlempar keluar melalui kaca depan.
dr. Thamrim yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian dengan
membawa peralatan tatalaksana trauma seadanya. Di tempat kejadian, terlihat sang supir,
laki-laki 30 tahun, tergeletak dan merintih, mengeluh dadanya sesak, nyeri di dada kanan,
nyeri perut dan nyeri paha kiri.
Melalui pemeriksaan sekilas didapatkan gambaran :
-

Pasien sadar tapi terlihat bingung, cemas dan kesulitan bernafas
Tanda vital : laju respirasi 38x/menit, nadi 120x/menit;lemah, TD 85/60 mmHg
Wajah dan bibir terlihat kebiruan, konjungtiva anemis(+)
Kulit pucat, dingin, berkeringat dingin
Terlihat deformitas dipaha kiri
GCS : 13 (E:3, M:6, V:4)

Data pemeriksaan fisik
Kepala
Inspeksi : Terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan dengan diameter 2-4cm
Thoraks
Inspeksi

:Gerakan dinding dada asimetris, kanan tertinggal, 40x/menit, memar di
dada kanan

bawah sampai kesamping, vena jugular distensi, trakea

bergeser ke kiri.
Auskultasi

:Bunyi nafas kanan melemah, bising nafas kiri terdengar jelas, bunyi
jantung terdengar jelas, cepat dan frekuensi 110x/menit

Palpasi

: Nyeri tekan pada dada kanan kebawah sampai ke samping (lokasi memar),
krepitasi pada costae 9,10,11 kanan depan.

Perkusi

: kanan = hipersonor
Kiri = sonor

Abdomen
Dinding perut datar, bising usus melemah, nyeri ketok + , nyeri tekan +, defans muskular
positif
5

Paha kiri
Deformitas, memar +, hematom pada paha tengah kiri, nyeri tekan, dan ada krepitasi tapi
tidak boleh diperiksa.
ROM
Pasif = limitasi gerakan
Aktif = limitasi gerakan
Setelah melakukan penanganan seadanya, dr. Thamrin langsung membawa sang supir ke
UGD, setelah penanganan awal di UGD RSUD, pasien dipersiapkan untuk dirujuk ke
RSMH.

6

I.

Klarifikasi Istilah
Istilah
Trauma (injury)

Definisi
kerusakan emosional maupun psikologis, cedera atau
luka, rusak atau sakit, biasanya dipakai untuk cidera pada
tubuh akibat faktor dari luar.

Merintih

ekspirasi yang terpaksa akibat adanya glotis yang
menutup jalan nafas yang terdengar abnormal, pendek,

Sesak

dan dalam
Perasaan sulit bernafas ditandai dengan nafas yang
pendek dan penggunaan otot bantu pernafasan.

Nyeri

Pengalaman

sensorik

dan

emosional

yang

tidak

menyenangkan akibat kerusan jaringan, baik aktual
maupun potensial atau yang digambarkan dalam bentuk
kerusakan tersebut.
Deformitas

Perubahan bentuk tubuh atau bagian tubuh secara umum.

GCS

glasgow coma scale,

skala yang dipakai untuk

menentukan atau menilai tingkat kesadaran pasien
dengan menilai respon mata (eye), respon motorik, dan
Krepitasi

respon verbal
Bunyi gemeretak akibat gesekan ujung-ujung atau
segmen tulang yang patah atau akibat pergerakan sendi
atau akibat gelembung udara pada emfisema subkutis.

7

didalam organ. dan terus-menerus Manifestasi dari peningkatan tekanan vena jugularis yang tampak hingga setinggi leher.Hipersonor Suara perkusi pada daerah yang berongga kosong yang ditandai dengan bunyi resonansi dengan tinggi nada Vena Jugularis Distensi rendah. biasanya ROM membeku. Range of motion. merupakan salah satu indikator fisik lapangan abdomen yang yang berhubungan dengan pergerakan maksimal yang dimungkinkan pada sebuah persendian tanpa menyebabkan rasa nyeri. jauh lebih tinggi Defans muskular daripada normal Nyeri tekan seluruh Hematom menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietalis Pengumpulan setempat ekstravasasi darah. bergaung. ruang atau jaringan. 8 .

tergeletak dan merintih. trakea bergeser ke kiri. cemas dan kesulitan bernafas . mengeluh dadanya sesak. krepitasi pada costae 9.Wajah dan bibir terlihat kebiruan. Thamrin. dokter di RSUD yang terletak sekitar 40km dari Palembang. Thamrim yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian dengan membawa peralatan tatalaksana trauma seadanya. Palpasi bunyi jantung terdengar jelas. terlihat sang supir. 3. kaca depan pecah. Sang supir.Terlihat deformitas dipaha kiri . dr. TD 85/60 mmHg .Kulit pucat.II. Melalui pemeriksaan sekilas didapatkan gambaran : . Auskultasi :Bunyi nafas kanan melemah.Pasien sadar tapi terlihat bingung. kanan tertinggal. terjadi kecelakaan lalu lintas. bising nafas kiri terdengar jelas.11 kanan depan. V:4) 4. nadi 120x/menit. Bagian depan mobil hancur.GCS : 13 (E:3. laki-laki 30 tahun. konjungtiva anemis(+) .10. Mobil mini bus yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pohon beringin. M:6. memar di dada kanan bawah sampai kesamping. dingin. Identifikasi Masalah 1. vena jugular distensi.lemah.Tanda vital : laju respirasi 38x/menit. Di tempat kejadian. nyeri di dada kanan. cepat dan frekuensi 110x/menit :Nyeri tekan pada dada kanan kebawah sampai ke samping (lokasi memar). Data pemeriksaan fisik Kepala Inspeksi : Terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan dengan diameter 24cm Thoraks Inspeksi :Gerakan dinding dada asimetris. 40x/menit. Perkusi : kanan = hipersonor Kiri = sonor 9 . satu-satunya penumpang mobil terlempar keluar melalui kaca depan. nyeri perut dan nyeri paha kiri. 2. berkeringat dingin . dr. Sekitar 100m dari RSUD.

hematom pada paha tengah kiri. defans muskular positif Paha kiri Deformitas. dan ada krepitasi tapi tidak boleh diperiksa. nyeri tekan. nyeri tekan +. Setelah melakukan penanganan seadanya. 10 . bising usus melemah. dr. ROM Pasif = limitasi gerakan Aktif = limitasi gerakan 5. setelah penanganan awal di UGD RSUD. Thamrin langsung membawa sang supir ke UGD.Abdomen Dinding perut datar. pasien dipersiapkan untuk dirujuk ke RSMH. nyeri ketok + . memar +.

 Dislokasi lutut atau bahkan patah tulang lutut karena benturan yang keras pada dash board. Dalam kasus ini. biasanya lutut akan menghantam dash board dengan keras yang menimbulkan bekas benturan pada dashboard tersebut. kaca depan pecah. Kemungkinan cedera yang akan terjadi :  Patah tulang paha karena menahan beban berlebihan  Dislokasi sendi panggul karena terdorong kedepan sehingga lepas dari mangkuknya. sehingga secara tiba-tiba kecepatannya berkurang. yang secara tiba-tiba mengurangi kecepatannya. Keparahan trauma tergantung dari: - Kinematika deselerasi atau kinematika akselerasi Viskoelastisitas jaringan yang terkena Karakteristik fisik dari permukaan benturan Posisi tubuh terhadap benturan Benturan frontal adalah tabrakan / benturan dengan benda didepan kendaraan. Analisis Masalah 1. Bagaimana mekanisme terjadinya trauma pada kasus? Akibat dari kecepatan mobil minibus yang tinggi saat kecelakaan. terjadi kecelakaan lalu lintas. Thamrin. Bagian depan mobil hancur. 11 .III. Sang supir. trauma yang terjadi terutama pada toraks dan tulang femur. Mobil mini bus yang melaju dengan kecepatan tinggi menabrak pohon beringin. Sekitar 100m dari RSUD. dokter di RSUD yang terletak sekitar 40km dari Palembang. a. dr. memberikan gaya yang besar pula pada supir saat dia terlempar keluar dari mobil sehingga dapat menimbulkan cedera yang cukup berat ketika membentur sesuatu. satu-satunya penumpang mobil terlempar keluar melalui kaca depan. penderita akan mengalami beberapa fase sebagai berikut : - Fase 1 Bagian bawah penderita tergeser kedepan. Pada suatu tabrakan frontal dengan penderita tanpa sabuk pengaman.

sedang. 12 . ringan)  Patah tulang leher (fraktur servikal) Fase 4 Setelah muka membentur kaca. Kondisi akan semakin parah apabila penderita terpental keluar dari kendaraan.  Cedera dada seperti patah tulang rusuk dan tulang dada.- Fase 2 Bagian atas penderita turut tergeser kedepan sehingga dada dan atau perut akan menghantam setir. lambung dan usus. Kemungkinan cedera yang akan terjadi : -  Cedera kepala (berat. Kemungkinan cedera yang akan terjadi :  Patah tulang belakang (servikal-koksigis) karena proses duduk yang begitu cepat sehingga menimbulkan beban berlebih pada tulang belakang. limpa. Kemungkinan cedera yang akan terjadi :  Cedera abdomen sampai terjadinya perdarahan dalam karena terjadinya perlukaan/ruptur pada organ seperti hati. jantung. lalu kepala membentur kaca mobil bagian depan atau bagian samping.  Patah tulang leher karena tidak ada head rest. penderita kembali terpental ketempat duduk.  Selain itu ancaman terhadap organ dalam rongga dada seperti paru-paru. Perlu mendapat perhatian khusus apabila kursi mobil tidak tersedia head rest karena kepala akan melenting dibagian atas sandaran kursi. - Fase 3 Tubuh penderita akan naik.  Multiple trauma apabila penderita terpental keluar dari kendaraan. dan aorta.

Trauma tajam  Luka iris (inciseal wound) Luka yang diakibatkan karena alat untuk memotong dengan mata tajam dengan cara meneka da menggeser pada permukaan kulit.b. Luka robek (laceraum) Luka terbuka akibat trauma tumpul yang menyebabkan kulit teregang kesatu arah dan bila batas elastisitas kulit terlampaui - maka akan terjadi robekan pada kulit.  Luka bacok (chooped wound) Luka yang diakibatkan oleh benda tajam yang diayunkan.Trauma tumpul  Luka memar (contusion) Cedera yang disesbabkan banturan dengan benda tumpul yang mengakibatkan pembengkakan pada bagian tubuh karena keluarnya darah dari kapiler yang rusak ke jaringan sekitarnya  tanpa ada kerusakan kulit. Luka lecet (abratio) Luka pada kulit yang superfisial dimana epidermis bersentuhan  dengan benda yang kasar permukaannya. Benda tersebut menusuk sehingga masuk - ke dalam jaringan tubuh. dimana tenaga menggeser lebi kuat daripada tenaga  menekan. Apa jenis-jenis trauma dan termasuk dalam jenis trauma apa pada kasus? . Luka tusuk (puncture wound) Luka yang diakaibtkan oleh benda dengan ujung-ujung runcing. Luka tembak  Luka tembak masuk  Luka tembak keluar 13 .  Patah tulang Merupakan akibat dari trauma tumpul yang paling kuat. mata taja atau tumpul.

CPR). bisa dilakukan melalui mouth to mouth. adakah trauma di thorax. mouth to mas. maka lakukan pembebasan jalan napas. lihat ada sesak atau tidak. Untuk membedakannya dilakukan perkusi di daerah paru. Cegah bertambahnya jumlah darah yang keluar. Jika pasien tidak sadar : Look. suara-suara nafas. nilai keadaan dada pasien apabila mengembung dan tidak simetris mungkin disebabkan pneuomotorak atau pleurahemorage. hembusan nafas pasien. suhu akral. Penanganan pneumotorak ini antara lain dengan menusukan needle 14 G di daerah yang hipersonor atau pengguanan chest tube. Nilai frekuensi denyut jantung. - Apabila ditemukan tanda-tanda gangguan sirkulasi seperti nadi tidak teraba. kapilari refill test. B : Breathing Nilai frekuensi pernafasan pasien. isi dan tegangannya. Bagaimana tatalaksana awal di TKP hingga pasien dibawa ke RSUD pada kasus ini? A : Airway - Jika pasien sadar : Dengarkan suara yang dikeluarkan pasien. nilai ada obstruksi jalan napas - atau tidak adakah suara mendengkur. ada sumbatan airway atau tidak. Feel . - Jika ditemukan perdarahan terbuka segera tutup dengan bebat tekan. Jika terdapat henti napas hal yang dapat dilakukan antara lain resusitasi paru. Waspada terhadap 14 . ajak pasien berbicara bila memungkinkan. Listen. Apabila setelah dilakukan penilaian ditemukan obstruksi jalan napas. C : Circulation. Periksa apakah terdapat perdarahan. berkumur. Nilai juga warna kulit. apakah pernafasan pasien adekuat. Periksa denyut nadi (radialis atau carotis) pasien padaarteri radialis dan arteri carotis. denyut nadi<60 kali permenit. atau ditemukan henti jantung maka harus dilakukan resusitasi jantung paru (RJP. Suara paru yang hipersonor disebabkan oleh pneumotorak sementara pada pleurahemorage suara paru menjadi redup. atau bag to mask (Ambu bag).c.

D : Dissability. persiapkan pasien untuk dibawa ke UGD yaitu: - Koordinasi dengan rumahsakit dan dokter di rumah sakit. Adapun peralatan yang dibutuhkan: - Pembalut biasa Kasa Steril.terjadinya shock. tapi bingung. tanda jejas dan fraktur di beberapa bagian tubuh). komunikasi - dengan rumah sakit bahwa akan dibawa pasien dari tempat kejadian. Tetapi jaga agar pasien tidak hipotermia. Jika pada pasien ditemukan adanya fraktur femur. perineum dan pangkal paha. plester/perban. Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah sakit seperti waktu kejadian. mekanisme kejadian. lakukan imobilisasi sementara dengan traction splint. Traction splint menarik bagian distal dari pergelangan kaki atau melalui kulit.Airway 15 . sebab kejadian. sesak nafas. alat suntik Alat-alat bedah sederhana Tandu. E: Exposure Tanggalkan pakaian pasien dan cari apakah ada luka/trauma lain secara generalis. Bidai Prinsip tatalaksana kasus ini sesuai dengan inisial assessment pra-Rumah Sakit 1) Nilai keadaan umum pasien (pasien sadar. Penilaian neurologis cepat. Setelah dilakukan penilaian dan tindakan awal di TKP. member respon suara terhadap rangsang nyeri. Penanganan luka secara baik dilakukan setelah korban stabil. Cara paling sederhana dalam membidai tungkai yang trauma adalah dengan tungkai sebelahnya. Di proksimal traction splint didorong ke pangkal paha melalui ring yang menekan bokong. 2) Primary Survey : (ABCDE) . apakah pasien sadar. dan riwayat penderita. nyeri dada. atau pasien tidak sadar (AVPU). kapas Tourniquet.

Nilai jalan nafas: tidak ada obstruksi (pasien dapat bicara. Exposure Berdasarkan pengamatan klinis diduga: Fraktur femur: Pasang bidai. tidak - ada gangguan airway Breathing Nilai ventilasi dan oksigenasi. dan look. nadi. Pada kasus ini. Bersihkan jalan nafas jika ada darah. Circulation Nilai TD. warna kulit. 16 . dada. buka leher dan dada. listen. Bersihkan dan tutup luka dengan perban Disability Nilai GCS: 13 cedera otak sedang. dan sumber perdarahan. gerakan udara pada hidung. pindahkan ke tandu dengan metode “log Roll” bawa ke UGD RSUD (100 meter) dengan tandu. adanya tanda pneumothorax sehingga perlu dilakukan needle compression di ICS 2 linea - midclavicula. apabila tidak ada bebat anggota - gerak yang sakit ke anggota gerak yang sehat Fraktur costa: diberi analgesik dosis rendah IV agar tidak nyeri - sehingga mempermudah pernafasan 3) Nilai sementara. mulut. Pada kasus ini. observasi perubahan pola pernapasan: tentukan laju dan dalam pernafasan. feel (diketahui tanda-tanda pneumothoraks) dekompresi segera dan penanganan awal dengan insersi jarum yang berukuran besar (needle thoraco syntesis) pada ICS 2 di linea mid clavicula. mengeluh daerah sakit).

terlihat sang supir. nyeri di dada kanan. nyeri perut dan nyeri paha kiri.d. 17 . dr. tergeletak dan merintih. laki-laki 30 tahun.Basket Stretcher Alat yang biasa digunakan untuk memindahkan korban dari daerah yg sedikit sulit untuk bisa dijangkau seperti jurang (memiliki kedalaman) atau menurunkan korban dari tempat tinggi (memiliki - ketinggian). Bantuan hidup dasar bermanfaat jika dilakukan sesegera dan sebaik mungkin. Apa dampak keterlambatan tatalaksana awal pada kasus ini? Jarak dokter yang dekat dengan lokasi kecelakaan (100 meter) memungkinkan dilakukannya pertolongan pertama dengan cepat sehingga akan mencegah terjadinya kekurangan oksigen pada organorgan vital tubuh. 2. Berikut merupakan hubungan keterlambatan bantuan hidup dasar dengan peluang keberhasilannya: Keterlambatan bantuan hidup dasar 1 menit 3 menit 10 menit Tabel 2. mengeluh dadanya sesak. kemungkinan korban selamat berkurang 10-12% per menit. Pengaruh jarak dalam kasus ini adalah dalam hal kecepatan pemberian bantuan hidup dasar pada pasien trauma. Peluang keberhasilan (hidup) 98/100 50/100 1/100 Jika korban henti jantung tidak segera diberikan BHD. Apa saja peralatan tatalaksana trauma yang dibutuhkan dalam kasus ini (ambulance)? . a. Thamrim yang mendengar tabrakan langsung pergi ke tempat kejadian dengan membawa peralatan tatalaksana trauma seadanya. Di tempat kejadian. Long Spine Board (LSB) Alat yang biasa digunakan untuk dapat memindahkan dan mengangkat korban yang diduga/dicurigai mengalami cedera tulang belakang.

leher dan multi - trauma. Cervical Collar (Stiffneck Adjustable Collar) Alat yang biasa digunakan untuk immobilisasi leher pasien yang dicurigai mengalami cidera tulang leher.- Scoop Strecher Suatu alat yang biasa digunakan untuk dapat meminimalkan movement atau gerak pada korban dalam pengangkatan dan pemindahan korban yang diduga/dicurigai mengalami cedera tulang - belakang. Life Support Product (LSP) Alat yang biasa digunakan untuk dapat membantu pernafasan . Leukoplast Alat perekat terbuat dari kain/karet Air Splint / Pneuma Splint Alat yang biasa digunakan untruk immobilisasi tangan atau kaki yang mengalami luka atau fraktur dengan menggunakan penekanan - udara. ekstremitas atas dan bawah) yang dicurigai mengalami dislokasi atau fraktur. - pemenuhan kebutuhan oksigen. Alat ini bisa dibentuk dan disesuaikan menurut - - kondisi/kebutuhan. dan penghisapan. Head Immobilisation Alat yang biasa digunakan untuk immobilisasi kepala pasien akibat - cidera kepala. Alat tersebut dapat - disesuaikan dengan panjang leher pasien.tulang leher. Vacum Matras Alat yang biasa digunakan untuk immobilisasi dan mengangkat korban dengan kondisi patah tulang belakang. Sam Splint Alat yang biasa digunakan untuk immobilisasi bagian tubuh pasien (leher. dan - tulang belakang. Dressing Pad Merupakan suatu alat berupa perban steril yang biasa digunakan untuk dapat menutup luka. 18 . Elastic Bandage Alat yang biasa digunakan untuk mengkonpresi / memfiksasi luka atau cidera yang terjadi pada otot. Kendrick Extrication Device (KED) Alat yang biasa digunakan untuk memindahkan korban dari dalam kendaran dengan kondisi terjebak/terjepit karena kecelakaan lalu lintas yang dicurigai mengalami cidera kepala.

Pean lurus. Benang . Hecting Set Alat yang biasa digunakan untuk menjahit luka terdiri dari beberapa alat medis seperti nierbeken. Versed) · Splints & Bandages · Splints & Bandages · Cervical collars and · Cervical collars and backboards backboards · Burn Sheets · Burn Sheets · MAST pants Trauma Equipment · Intravenous (IV) fluids to treat shock (Lactated Ringers and Sodium Chloride 0. Scapel handle.gunting. terutama untuk kepala.9%) · Medication – Dexamethasone (head injuries) Cardiac Care · AED (defibrillation · 12 Lead EKG Monitor (identify Equipment only) heart attacks and transmit to hospital) 19 . memberikan istirahat dan mengurangi rasa sakit. leher. Bak instrumen . silk & catgut. anyaman kawat atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga - agar bagian tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi). wajah. Nalvoelder. serta sendi kecil.- Elastic Net Bandage Sebuah alat berupa perban elastic yang biasa digunakan dalam setiap bagian dari tubuh. Atrovent. Ambulance Equipment Levels Basic Life Support RLEMS Advanced Life Support Ambulance Ambulance · Oxygen · Oxygen · Nasal Cannulas & · Nasal Cannulas & Oxygen masks Oxygen masks · Bag Valve Mask · Bag Valve Mask · Pulse Oximeter · Laryngoscopes for Intubation (Tube down throat) · Cricothyrotomy (Surgical hole in trachea/windpipe) Airway Equipment · CPAP masks (for CHF patients. Hurricane Spray. bahu sistemik - utama. Alupent. Terbutaline. Pincet chirurgis. TA/TU lurus & - blade suture/bisturi. forces fluid out of lungs) · Chest Decompression Kits (placing hole in chest to relieve collapsed lung) · Numerous Medications (Albuterol. bengkok. Bidai Bidai atau spalk adalah alat dari kayu. Pinset anatomis.

Nitroglycerine. Calcium Chloride. Zofran) · Glucometer · Oral Glucose (conscious patients) · Intravenous (IV) fluids · Medications . Morphine.Ativan and Valium (To stop seizures) · Intravenous (IV) fluids · Epinephrine (subcutaneous or IV for severe reactions) · Benadryl (Given in IV to slow reaction) · OB Kits · Intraosseous drills-ability to drill into Bone marrow to adminster medication · Children's Tylenol · Narcan (for narcotic overdoses) · Pain medications (Morphine. Sodium Bicarbonate. Valium. Dilaudid. Atropine. Lidocaine.Dextrose 50% (for unconscious patients) & Glucagon · Intravenous (IV) fluids · Medications . Verapamil. Epinephrine. Dopamine.Diabetic Treatment · Oral (conscious only) Glucose patients · Supportive care only Seizure Treatment Allergic Reactions · Epi (Intramuscular injection) · OB Kits Specialty Equipment pen · Synchronized Cardioversion (slow rapid heart rates) · Pacemaker (speeds up heart rates) · Manual Defibrillator (restart heart) · Numerous Medications (Adenosine. Lasix. Versed) Tabel 2. Magnesium Sulfate. Amiodarone. Nitro-paste. Aspirin. Peralatan di Ambulance 20 .

limpa. jantung.b.Kemungkinan cedera yang akan terjadi : - Cedera abdomen sampai terjadinya perdarahan dalam karena terjadinya perlukaan/ruptur pada organ seperti hati. - Cedera dada seperti patah tulang rusuk dan tulang dada. dan aorta. Bagaimana mekanisme nyeri perut pada kasus? Pada fase II. atau yang biasa disebut dengan flail chest saat rongga dada mengembang sewaktu inspirasi. gerakan fragmen kosta yang patah  timbul gesekan antara ujung fragmen dengan jaringan lunak sekitar terjadilah stimulasi saraf yang akan dipersepsikan dengan nyeri pada dada kanan. e. 21 . d. 10. dan 11. Bagaimana mekanisme nyeri dada kanan pada kasus? Trauma kompresi pada thoraks  kosta pada tempat trauma akan lebih melengkung terjadi fraktur multipel pada kosta 9-11 kanan bawah. Bagaimana mekanisme dada sesak pada kasus? Kecelakaan lalu lintas  dada membentur setir dan dasbor  trauma tumpul rongga toraks  Fraktur costae 9-11  udara dari dalam paru bocor ke dalam rongga pleura  udara tidak dapat keluar dari pleura (fenomena ventil)  tekanan dalam pleura meningkat  paru kolaps  pertukaran udara menjadi tidak adekuat  hipoksia  kesulitan bernafas (dada sesak). - Selain itu ancaman terhadap organ dalam rongga dada seperti paruparu. bagian atas penderita turut tergeser kedepan sehingga dada dan atau perut akan menghantam setir. lambung dan usus. c. Bagaimana mekanisme merintih pada kasus? Merintih dalam kasus disebabkan karen aadanya frkatur pda costae 9.

dan usus halus (5-10%). Bagaimana mekanisme nyeri paha kiri pada kasus? Trauma pada paha kiri → fraktur os femur sinistra → fraktur os menekan persarafan di sekitar os femur → nyeri pada paha kiri. Pada pasien terjadi fraktur femur kiri tertutup akibat trauma yang dialami (disebabkan oleh terlempar keluarnya sang supir dari dalam mobil melalui kaca depan dan mendarat pada bagian kiri dari tubuh sehingga terjadinya transfer energy yang melebihi toleransi jaringan sehingga terjadi disrupsi jaringan dan terjadi suatu trauma. terutama pada femur). Pada intraperitoneal. Kecurigaan terjadinya ruptur limpa dengan ditemukan adanya fraktur costa IX dan X kiri. trauma tumpul abdomen paling sering menciderai organ limpa (40-55%).Gambar 1. 22 . Animasi Trauma Tumpul saat terjadi Kecelakaan Benturan pada trauma tumpul abdomen dapat menimbulkan cedera pada organ berongga berupa perforasi atau pada organ padat berupa perdarahan. atau saat abdomen kuadran kiri atas terasa sakit serta ditemui takikardi dan hipotensi akibat perdarahan. hati (35-45%). Fraktur tersebut akan menyebabkan terpecahnya frakmen-frakmen tulang yang dapat mengenai serabut syaraf disekitarnya yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri. Gaya kompresi eksternal yang menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen yang tiba-tiba dan mencapai puncaknya pada ruptur organ berongga. f. Tanda peritoneal seperti nyeri tekan dan defans muskuler akan muncul setelah terjadi perdarahan yang mengiritasi peritoneum.

dingin.lemah. berkeringat dingin Terlihat deformitas dipaha kiri GCS : 13 (E:3. konjungtiva anemis(+) Kulit pucat. Hematoma ini akan merangsang reaksi inflamasi dengan mengeluarkan bradikinin dan merangsang nosiseptor dan menyebabkan timbulnya rasa nyeri. cemas dan kesulitan bernafas . TD 85/60 a. M:6. nadi 120x/menit.Pasien sadar tapi terlihat bingung.Selain itu. pada fraktur femur juga dapat terkena pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya eksudasi darah ke jaringan dan menimbulkan hematoma. mmHg Wajah dan bibir terlihat kebiruan. V:4) Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan sekilas diatas? Keadaan korban Keadaan normal Sadar tapi terlihat Sadar bingung.Tanda vital : laju respirasi 38x/menit. Melalui pemeriksaan sekilas didapatkan gambaran : . 3. cemas sepenuhnya Interpretasi Mekanisme Penurunan kesadaran (delirium) Kesulitan bernafas Gangguan pernapasan Hipoksia  suplai O2 ke otak berkurang  gangguan fungsi otak  penurunan kesadaran  delirium Kecelakaan lalu lintas  dada menumbur setir  trauma tumpul pada thorax udara dari dalam paru-paru bocor ke rongga pleura  udara tidak dapat keluar lagi dari rongga pleura (oneway valve)  tekanan intrapleural meningkat  paru-paru kolaps  pertukaran udara tidak adekuat  hipoksia  kesulitan bernafas Hipoksia  meningkatkan usaha pernafasan  laju respirasi meningkat Kecelakaan lalu lintas  dada menumbur setir  RR: 38x/menit 16 – 24 x / Takipneu menit TD: 85/60 mmHg 120/80 mmHg Hipotensi 23 .

Tidak ada Fraktur Trauma tumpul deformitas femur ( Kecelakaan lalu lintas) tertutup  energi kinetik yang terbentuk sangat besar  eneri kinetik yang terbentuk berubah menjadi shockwave yang harus diterima jaringan  terjadi penekanan pada os. berkeringat dingin. Femur  Fraktur femur stimulasi saraf nyeri  nyeri paha 24 .Nadi 120x/menit Wajah dan bibir terlihat kebiruan Kulit pucat. dan berkeringat dingin Terlihat deformitas di paha kiri trauma tumpul pada thorax  udara dari dalam paru-paru bocor ke rongga pleura  udara tidak dapat keluar lagi dari rongga pleura (oneway valve)  tekanan intrapleural meningkat  mediastinum terdorong ke arah yang berlawanan  menekan aliran balik vena output jantung menurun  syok non hemoragik  hipotensi 60-100 x / Takikardia Cardiac output menurun menit  kompensasi jantung  peningkatan denyut jantung  takikardia Tidak biru Sianosis Hipoksia  penurunan suplai O2 peningkatan kadar hemoglobin yang tidak terikat dengan O2 hemoglobin tereduksi  diskolorisasi yang tampak pada wajah dan bibir sebagai kebiruan Tidak pucat & Kurang Hipoksia  penurunan dingin perfusi O2 di perfusi O2 ke jaringan perifer perifer  kulit pucat. dingin. dingin.

25 .

Mekanisme : Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar. krepitasi pada costae 9. nyeri tekan. hematom pada paha tengah kiri. defans muskular positif Paha kiri Deformitas.1. nyeri tekan +. kanan tertinggal.10. vena jugular distensi. menunjukkan luka ringan di kepala akibat benturan. Pada kasus ini dapat terjadi karena benturan dengan kaca. : kanan = hipersonor kiri = sonor Abdomen Dinding perut datar. 26 . terbentur aspal jalan maupun benturan dan gesekan dengan benda lain setelah terlempar keluar. ROM Pasif = limitasi gerakan Aktif = limitasi gerakan a. memar di dada kanan bawah sampai kesamping. trakea bergeser ke kiri. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan kepala? Luka lecet di dahi dan pelipis kanan diameter 2-4 cm Interpretasi : Laserasi jaringan lunak. Data pemeriksaan fisik Kepala Inspeksi : Terdapat luka lecet di dahi dan pelipis kanan dengan diameter 24cm Thoraks Inspeksi : Gerakan dinding dada asimetris. bising nafas kiri terdengar jelas. bising usus melemah.11 kanan depan. 40x/menit. memar +. dan ada krepitasi tapi tidak boleh diperiksa. Palpasi Perkusi bunyi jantung terdengar jelas. nyeri ketok + . cepat dan frekuensi 110x/menit : Nyeri tekan pada dada kanan kebawah sampai ke samping (lokasi memar). Auskultasi : Bunyi nafas kanan melemah.

interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan thoraks? Anatomi Gambar 2. Trauma pada Thorax 27 . Bagaimana anatomi. Anatomi Thorax Gambar 3.b.

Pada daerah pertemuan collum dan corpus di bagian posterior iga terdapat tuberculum. trakhea. Memiliki penampang berbentuk konus. vena cavae. Dan memiliki 2 ujung : permukaan artikulasi vertebral dan sternal. Rongga Toraks dapat dibagi kedalam dua bagian utama. dan posterior. dan corpus (shaft). serta 2 tepi (superior dan inferior). dan 2 iga terakhir merupakan iga yang melayang karena tidak berartikulasi di sebelah anterior. Mediastinum terletak diantara paru kiri dan kanan dan merupakan daerah tempat organ-organ penting toraks selain paruparu (yaitu: jantung. Sedangkan rongga toraks dibatasi oleh diafragma dengan rongga abdomen. Tepi superior iga terdapat krista kasar tempat melekatnya ligamentum costotransversus anterior. Di bagian posterior lebih petak dan makin ke anterior penampang lebih memipih. dengan diameter penampang yang lebih kecil pada iga teratas dan makin melebar di iga sebelah bawah. aorta. Tuberculum terbagi menjadi bagian artikulasi dan non artikulasi. collum (neck).). yaitu: paru-paru (kiri dan kanan) dan mediastinum. permukaan internal cekung (concave) dengan sudut mengarah ke superior. dengan batas luar adalah dinding toraks yang disusun oleh vertebra torakal. arteri pulmonalis. otot. Penampang corpus costae adalah tipis dan rata dengan 2 permukaan (eksternal dan internal). sternum. dll. Rangka toraks terluas adalah iga-iga (costae) yang merupakan tulang jenis osseokartilaginosa. dan jaringan ikat. anterior.Toraks adalah daerah pada tubuh manusia yang berada di antara leher dan perut (abdomen). Terdapat 12 pasang iga : 7 iga pertama melekat pada vertebra yang bersesuaian. iga-iga. Diantara batas 28 . Permukaan eksternal cembung (convex) dan halus. esofagus. Mediastinum dibagi ke dalam 3 bagian: superior. dan di sebelah anterior ke sternum. Bagian posterior iga kasar dan terdapat foramen-foramen kecil. Setiap iga terdiri dari caput (head). sedangkan tepi inferior lebih bulat dan halus. Iga VIII-X merupakan iga palsu (false rib) yang melekat di anterior ke rawan kartilago iga diatasnya. Toraks dapat didefinisikan sebagai area yang dibatasi di superior oleh thoracic inlet dan inferior oleh thoracic outlet. Sedangkan bagian anterior lebih rata dan halus.

inferior dan permukaan internal terdapat costal groove. kemudian ke anterior makin tertutup oleh iga.scalenus anterior melekat di bagian anterior permukaan internal iga I (tuberculum scalenus). Mulai garis aksilaris anterior pembuluh darah dan syaraf bercabang dua dan berjalan di bawah dan di atas iga. arteri dan syaraf (VAN). M. Lebih dalam dari m. Iga pertama merupakan iga yang penting oleh karena menjadi tempat melintasnya plexus brachialis. intercostalis internus terdapat fascia transversalis. tempat berjalannya arteri-vena-nervus interkostal. dan merupakan pemisah antara plexus brachialis di sebelah lateral dan avn subklavia di sebelah medial dari otot tersebut. intercostalis externus dan internus. Di anterior garis ini kemungkinan cedera pembuluh interkostalis meningkat pada tindakan pemasangan WSD. Pembuluh darah dan vena di bagian dorsal berjalan di tengah sela iga (lokasi untuk melakukan anesteri blok). arteri dan vena subklavia. dan kemudian pleura parietalis dan rongga pleura. Sela iga ada 11 (sela iga ke 12 tidak ada) dan terisi oleh m. Di cekungan iga ini berjalan berurutan dari atas ke bawah vena. 29 .

10. XI Tension pneumothorax pada dada kanan Patofisiologi Gejala . akibatnya beban untuk mengkonpensasi hipoksemi ini ditanggung oleh paru kiri   sehingga gerakannya lebih aktif. kanan tertinggal Tampak memar disekitar dada kanan bawah sampai ke samping Auskultasi: Bunyi napas kanan melemah Bising nafas kiri terdengar jelas Bunyi jantung jelas dan cepat Palpasi : Nyeri tekan dada kanan bawah sampai ke samping. Krepitasi pada costa 9. baik itu dari jantung (atrium kanan) atau dari vena yang menampung darah dari vena jugularis. Tampak memar di sekitar dada kanan bagian tengah sampai ke samping  rupturnya pembuluh darah Trakea bergeser ke kiri Normalnya trakea terlihat lurus pada medial tubuh. Trakea yang bergeser ke kiri menujukkan adanya sesuatu pada bagian kiri yang menarik trakea ke kiri atau pada bagian kanan paru yang mendorong atau mendesak trakea untuk bergeser ke kiri. X. dengan kata lain gerakan dada kiri lebih aktif dari dada kanan.Pemeriksaan thorax Inspeksi: Gerakan dada asimetris .Inspeksi  Gerakan dinding dada asymetris  dada kanan tertinggal : gangguan pada salah satu sisi paru. Mekanisme: robekan pada pleura  udara dapat masuk ke rongga pleura namun tidak dapat keluar  penumpukan udara pada rongga pleura  pengembangan rongga pleura   mendorong trakea ke kiri JVP distensi  menujukkan adanya peningkatan tekanan pada struktur di bawah vena jugularis.11 kanan depan Perkusi : Kanan : hipersonor Kiri : sonor Interpretasi Tension Pneumothorax Fraktur os costae IX. Mekanisme: robekan pada pleura  udara dapat masuk ke rongga pleura namun tidak dapat keluar  penumpukan udara 30 .

Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multipel pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. atau peregangan pleura akibat perubahan tegangan rongga pleura atau pleuritis atau bisa juga hanya sebatas perangsangan nociceptor saraf intercostae akibat  kerusakan struktur yang ditimbulkan akibat trauma tersebut.10. Walaupun ketidak-stabilan dinding dada menimbulkan gerakan paradoksal dari dinding dada pada inspirasi dan ekspirasi. Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama disebabkan 31 . Flail Chest. defek ini sendiri saja tidak akan menyebabkan hipoksia. Yang paling sering mengalami trauma adalah iga begian tengah (iga ke – 4 sampai ke –9). Batuk yang tidak efektif intuk mengeluarkan sekret dapat mengakibatkan insiden atelaktasis dan pneumonia meningkat secara bermakna dan disertai timbulnya penyakit paru – paru. perlukaan pada iga sering bermakna.11 kanan depan : Fraktur iga. Nyeri pada pergerakan akibat terbidainya iga terhadap dinding thorax secara keseluruhan menyebabkan gangguan ventilasi. Adanya semen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada.pada rongga pleura  pengembangan rongga pleura  peningkatan tekanan pada rongga toraks  menekan vena cava superior atau vena subcalvia  peningkatan tekanan di vena - jugularis  vena jugularis distensi Palpasi  Nyeri tekan pada dada kanan bawah sampai ke samping lokasi memar: fraktur iga/flail chest. terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada. Merupakan komponen dari dinding thorax yang paling sering mengalami trauma. Jika kerusakan parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai dengan kerusakan pada tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang serius. Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim paru yang mungkin terjadi (kontusio paru). Krepitasi pada costa 9.

Pemeriksaan analisis gas darah yaitu adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan. Bising nafas kiri terdengar jelas  Pertukaran gas di paru kanan lebih sedikit dari paru kiri. Perkusi  Kanan hiper sonor. bgn stetoskop mendengar banyak udara di pleura cavity selain mendengar bunyi udara dari dlm parenkim paru itu - sendiri  hipersonor Auskultasi  Bunyi nafas kanan melemah. kelainan-kelainan menimbulkan jantung keadaan yang hipoksemia berpartisipasi (Shock dalam Kardiogenic. karena splinting (terbelat) dengan dinding dada. juga membantu dalam - diagnosis Flail Chest.  peningkatan dead space di paru kanan/presentasi parenkim paru  yg ateletaksis besar. Mekanismenya: truma dada kanan  rongga pleura paru kanan berhubungan dengan udara luar  karena tekanan di pleura > rendah tekanan atmosfer  udara dari atmosfer masuk memenuhi rongga pleura  Tension pneumothoraks  saat auskultasi. kiri sonor  normalnya pada saat perkusi sonor. Gerakan pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara asimetris dan tidak terkoordinasi. Bunyi jantung jelas dan cepat  tidak ada tamponade jantung. c. Flail Chest mungkin tidak terlihat pada awalnya. Dengan foto toraks akan lebih jelas karena akan terlihat fraktur iga yang multipel.nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan trauma jaringan parunya. akan tetapi terpisahnya sendi costochondral tidak akan terlihat. Kontusio jantung). Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membantu diagnosisi. Bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan abdomen? Interpretasi dan mekanisme abnormal Manifestasi Nilai normal pada kasus Dinding perut Dinding Interpretasi Mekanisme abnormal Abnormal Trauma kompresi 32 abdomen .

bradikinin.datar perut datar merusak organ (rupture). jaringanperdarahan Perdarahan internal pada abdomen memacu otot-otot perut untuk berkontraksi secara refleks dan menyebabkan kekakuan pada perut sehingga dinding perut Bising usus Bising usus Abnormal melemah normal tampak datar. Trauma kompresi abdomen merusak organ (rupture). jaringan  inflamasi perdarahan (peritonitis) peritoneal mengalami paralisis  ileus juga mengalami paralisis  bising usus melemah Nyeri ketok + Nyeri ketok Abnormal - Trauma kompresi abdomen merusak organ jaringan perdarahan  inflamasi (peritonitis)  (rupture). kalium  saraf nosiseptor  ditransfer kesaraf perifer  sensasi nyeri 33 . pelepasan mediator nyeri seperti histamine.

perdarahan  inflamasi (peritonitis) pelepasan mediator nyeri seperti histamine. jaringan   perdarahan inflamasi (peritonitis) pelepasan mediator nyeri seperti bradikinin.  saraf nosiseptor  ditransfer kesaraf Defans Defans muskular muscular - positif Abnormal perifer  sensasi nyeri Trauma  kompresi abdomen merusak jaringan organ  (rupture). kalium histamine.Nyeri tekan + Nyeri tekan Abnormal Trauma  kompresi abdomen  - merusak organ (rupture). kalium  saraf nosiseptor  ditransfer kesaraf perifer  sensasi nyeri Defans muskular muncul sebagai respon tubuh untuk melindungi organ-organ mengalami abdomen inflamasi yang ketika tubuh mendeteksi tekanan dari luar (dalam hal ini tekanan berasal dari palpasi) 34 . bradikinin.

memar positif. tidak dilakukan pemeriksaan krepitasi Palpasi: Nyeri tekan  Normal: Interpretasi: Mekanisme: Tidak ada Akibat fraktur Fraktur femur mengenai nyeri tekan femur saraf-saraf sekitar femur  nyeri paha kanan ROM: Aktif dan pasif: ada limitasi gerakan Fraktur pada femur dapat mengakibatkan mengenai saraf-saraf disekitar femur sehingga mengakibatkan adanya gangguan pergerakan. hematom pada paha tengah kiri  Palpasi: ada nyeri tekan. perubahan bentuk tulang. interpretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan ekstremitas? Gambar 4 dan 5.d. hematom pada paha tengah kiri  Adanya perdarahan pada daerah femur dan fraktur pada tulang femur. Anatomi Ekstremitas Tampak deformitas. Mekanisme: Benturan dengan dash bord (biasanya terjadi akibat benturan pada bagian depan lutut yang berada dalam posisi fleksi) kerusakan otot. memar positif. 35 . Bagaimana anatomi. rupture pembuluh darah  deformitas.

Tenaga medis paling sedikit terdiri atas: . pasien dipersiapkan untuk dirujuk ke RSMH. a. 36 .4 (empat) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut. dan 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut.6 (enam) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik - spesialis dasar.Tenaga non kesehatan. 2 (dua) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik - subspesialis. dan Rumah Sakit Khusus Kelas C. dan Rumah Sakit Umum Kelas D pratama. 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian. Rumah Sakit Khusus diklasifikasikan menjadi: - Rumah Sakit Khusus Kelas A. Thamrin langsung membawa sang supir ke UGD. Bagaimana tingkatan rumah sakit? Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi: .Tenaga medis. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - lain.Tenaga kefarmasian. .Rumah Sakit Umum Kelas A. Rumah Sakit Khusus Kelas B.Tenaga kesehatan lain. Setelah melakukan penanganan seadanya.Rumah Sakit Umum Kelas B. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - penunjang. . .Rumah Sakit Umum Kelas D.Rumah Sakit Umum Kelas C. . . . Rumah Sakit Umum Kelas A Sumber daya manusia Rumah Sakit Umum kelas A terdiri atas: . Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas: - 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit. setelah penanganan awal di UGD RSUD. dan .Tenaga keperawatan.18 (delapan belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar.2. . dr. Rumah Sakit Umum Kelas D diklasifikasikan menjadi:   Rumah Sakit Umum Kelas D. .

4 (empat) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian. Rumah Sakit Umum Kelas B Tenaga medis paling sedikit terdiri atas: - 12 (dua belas) dokter umum untuk pelayanan medik dasar. 3 (tiga) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - dasar. dan 1 (satu) apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit. 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 - (dua) tenaga teknis kefarmasian. 3 (tiga) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut. dan 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut.- 5 (lima) apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10 - (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian. Tenaga kefarmasian sebagaimana paling sedikit terdiri atas: - 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah - Sakit. 37 . 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - lain. 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - penunjang. 1 (satu) apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh - minimal 2 (dua) tenaga teknis kefarmasian. 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian - Rumah Sakit. 1 (satu) dokter subspesialis untuk setiap jenis pelayanan medik - subspesialis.

1 (satu) orang apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling - sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian. 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling - sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja - pelayanan kefarmasian Rumah Sakit. 2 (dua) apoteker yang bertugas di rawat inap yang dibantu oleh - paling sedikit 4 (empat) orang tenaga teknis kefarmasian.- 4 (empat) orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling - sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian. 2 (dua) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - dasar. Rumah Sakit Umum Kelas C Tenaga medis paling sedikit terdiri atas: - 9 (sembilan) dokter umum untuk pelayanan medik dasar. distribusi dan produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis 38 . 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas: - 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah - Sakit. 1 (satu) orang apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh - minimal 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian. 2 (dua) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut. dan 1 (satu) dokter gigi spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis gigi mulut. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis - penunjang. dan 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.

distribusi dan produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit. 1 (satu) dokter gigi umum untuk pelayanan medik gigi mulut. 1 (satu) dokter spesialis untuk setiap jenis pelayanan medik spesialis dasar. Rumah Sakit Umum Kelas D Tenaga medis paling sedikit terdiri atas: - 4 (empat) dokter umum untuk pelayanan medik dasar. Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri atas: - 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah - Sakit. 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator penerimaan. 39 . 1 (satu) apoteker yang bertugas di rawat inap dan rawat jalan yang - dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) orang tenaga teknis kefarmasian.

. - serta respon yang diberikan selama pasien di UGD. cairan. pengobatan.Yakinkan bahwa RS mampu menerima penderita . c.Laporkan prosedur tindakan yang telah dilakukan Dokter/perawat yang dirujuk . sebaiknya dirujuk.Sebaiknya dapat membantu memilih cara transport .Stabilkan penderita sebelum dilakukan transport .b. Apabila petugas kesehatan tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi trauma - hingga tuntas.Perawatan dalam perjalanan .Bersedia untuk menerima . suhu).Penderita dalam keadaan stabil saat akan dirujuk . Apabila di RSUD tidak terdapat fasilitas yang mencukupi dari diagnosis hingga tatalaksana untuk mengatasi pasien trauma. Bagaimana indikasi untuk merujuk pasien pada kasus ini? Indikasi rujuk . maka sebaiknya dirujuk.Komunikasi dapat membantu keamanan dalam transport penderita Cara transport: . Menginfomasikan kepada petugas pendamping selama perjalanan mengenai stabilisasi pasien (jalan napas.Siapkan surat rujukan Cara rujukan: Dokter/perawat yang mengirim bertanggung jawab untuk memulai rujukan .Keadaan pasien harus stabil selama di UGD. serta riwayat tindakan.laut dapat dilakukan dengan aman .Persiapkan tenaga yang terlatih agar proses transport berjalan dengan aman Protokal rujukan: .Sebelum melakukan rujukan harus melakukan komunikasi dengan memberikan informasi ke RS rujukan tentang : 40 .Udara-darat. Bagaimana cara merujuk pasien pada kasus ini? Persiapan sebelum merujuk pasien: .Mengkonfirmasi indikasi rujuk pada klinis pasien dan atau atas - permintaan kerabat pasien.Dari kemampuan petugas kesehatan yang bekerja. Kemampuan pusat pelayanan kesehatan. tindakan khusus yang mungkin diperlukan.Cara transport harus dipilih yang sesuai . Lengkapi catatan biodata pasien. . serta perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi selama di perjalanan.Komunikasi dengan RS dirujuk .

dan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam perjalanan.dll  Hasil anamnesa penderita dan termasuk data pra RS  Penemuan awal pemeriksaan dengan respon terapi Informasi untuk petugas pendamping  Pengelolaan jalan nafas  Cairan yang telah/akan diberikan  Prosedur khusus yang mungkin diperlukan  GCS. kelamin.hentikan pendarahan dengan balutan .Setelah dilakukan informasi mengenai pasien dari RS yang akan melakukan rujukan meliputi nama. pekerjaan. Apa saja yang harus dipersiapkan dirumah sakit rujukan? Terdapat beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh RS rujukan. Persiapkan ruangan yang akan digunakan oleh pasien dengan dilakukan pembersihan terlebih dahulu. RS rujukan harus mengkonfirmasi bahwa memang tersedianya ruangan dan peralatan - untuk melayani pasien tersebut. yaitu : o Airway: pasang OPA bila perlu intubasi o Breathing: tentukan laju pernafasan. bila perlu teruskan selama transportasi  Pemasangan kateter urin  Monitor kecepatan dan irama jantung  Berikan diuretik bila diperlukan  Bila curiga ada cedera cervikal dan tulang belakang  Luka: . umur.- -  Identitas penderita .penyakit yang diderita.antibiotik bila perlu o Fraktur : pasang bidai atau traksi d.umur. yaitu: . 41 . oxygen bila perlu ventilasi mekanik o Circulation: kontrol pendarahan  Pasang infus bila perlu 2 jalur  Tentukan jenis cairan  Perbaiki kehilangan darah.profilaksis tetanus .nama. Persiapkan juga transportasi bila RS yang akan melakukan rujukan - tidak memiliki ambulance. resusitasi. Harus disertakan dengan penderita :  Permasalahan penderita  Terapi yang telah diberikan  Keadaan penderita saat akan dirujuk  Sebaiknya dengan fax agar data lebih cepat sampai .Sebelum rujukan  Sebelum dirujuk stabilkan dulu penderita. Dokumentasi. dan hal-hal yang harus dilakukan.

perkusi. diinfiltrasikan di sekitar n.  Blok nervus interkostalis dapat digunakan untuk mengatasi nyeri berat akibat fraktur costae  Bupivakain (Marcaine) 0.- Persiapkan dokter yang akan menangani pasien tersebut . Breathing : Inspeksi dada. antara tempat fraktur dan prosesus spinosus. NGT  dapat dipasang untuk mencegah aspirasi. Persiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk menangani pasien tersebut. Bagaimana penanganan awal di UGD RSUD? Primary survey  Airway : jaga jalan napas tetap paten. palpasi Untuk tatalaksana lanjut tension pneumothoraks pemasangan chest tube:  Antiseptik daerah insersi chest tube  Penyuntikan anastesi pada dinding dada dilakukan intercostals 5 (intramuscular.5% 2 sampai 5 ml. melalui IV (resusitasi cairan) Exposure : membuka keseluruhan pakaian pasien (digunting) tetapi cegah hipotermia Untuk tatalaksana fraktur iga  Pemberian analgesia untuk mengurangi nyeri dan membantu pengembangan dada: Morphine Sulfate. Bila diperlukan lakukan pemasangan intubasi ETT (dengan bantuan auskultasi pada 5 titik) dan pemberian oksigen dengan ambu bag (resusitasi oksigen). Jangan sampai mengenai pembuluh darah interkostalis dan parenkim paru 42 . auskultasi paru dan jantung. pleura parietal. e. interkostalis pada costa yang fraktur serta costa-costa di atas dan di bawah yang cedera  Tempat penyuntikan di bawah tepi bawah costa. permukaan periosteal iga 5)  Incisi dengan skapel  Pemasukan chest tube (ukuran 24 -26 french)  Fiksasi chest tube  Circulation : Pemberian kristaloid (RL 4500 – 6000 cc / jam) caliber  besar yang telah dihangatkan. Hidrokodon atau kodein yang dikombinasi denganaspirin atau asetaminofen setiap 4 jam.

cairan urin. pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul abdomen kecuali bila ada trauma wajah. Past illness. dll.deviasi trachea. pemantauan ECG (bila tersedia) Pemeriksaan rongga perut (abdomen) cari luka. vital sign. ABG.  Monitoring (kesadaran. uretra. Last meal. hematoma.  Event) Pemeriksan head to toe untuk mengetahui kemungkinan ada trauma lain. Allergic. Pemeriksaan dari kepala sampai ke jari kaki (head-to-toe examination) dilakukan dengan perhatian utama : Pemeriksaan kepala Kelainan kulit kepala dan bola mata. Periksa dubur 43 . dll (dengan cara inspeksi : apakah terdapat darah di meatus uretra. memar dan cedera lain. RT : apakah   prostat teraba / melayang) Cross cek darah Pemberian transfuse darah universal (gol O. Pengikatan dada yang kuat tidak dianjurkan karena dapat membatasi pernapasan Resusitasi Sudah termasuk di primary survey +  Pemasangan kateter foley / dower dengan terlebih dahulu menilai apakah terdapat trauma pelvic. dll)  Anamnesis SAMPLE (Sensation. telinga bagian luar dan membrana timpani. Rh -) hanya bila syok memburuk progressive Pemantauan dan re-evaluasi berkesinambungan Jika pasien telah stabil kita lakukan secondary survey. suara napas dan jantung. Semua prosedur yang dilakukan harus dicatat dengan baik. cedera jaringan lunak periorbital Pemeriksaan leher Emfisema subkutan. vena leher yang mengembang Pemeriksaan neurologis Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS). penilaian rasa raba / sensasi dan refleks Pemeriksaan dada Clavicula dan semua tulang iga.

memar dan cedera lain 44 . pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus Pelvis dan ekstremitas Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan tes gerakan apapun karena memperberat perdarahan). cari luka.(rectal toucher). cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma.

nyeri.Gejala Klinis  Sesak napas berat  Keringat dingin  Takikardi  Disorientasi  Gelisah .  Fremitus suara melemah  Perkusi hipersonor  Deviasi mediastinum kontralateral  Auskultasi vesikuler menghilang. o Pergerakan pernafasan perut.3. Analisis Aspek Klinis a. syok . o Adanya perdarahan di bawah kulit.Pemeriksaan fisik  Gerakan dinding dada asimetris / tertinggal pada daerah pneumotoraks. 45 . Trauma Abdomen . dapat memberikan petunjuk perkiraan organ-organ apa saja yang dapat mengalami trauma di bawahnya. hal ini dapat memberikan petunjuk adanya kemungkinan kerusakan organ di bawahnya. defans muskular. dilatasi gastric. o Adanya distensi pada dinding perut merupakan tanda penting karena kemungkinan adanya pneumoperitonium. atau ileus akibat iritasi peritoneal. bila terjadi pergerakan pernafasan perut yang tertinggal maka kemungkinan adanya peritonitis.Anamnesis: Riwayat Trauna. Bagaimana cara menegakkan diagnosis pada kasus? Tension Pneumothoraks . perlu diperhatikan : o Adanya luka lecet di dinding perut.Pemeriksaan Fisik  Pada inspeksi.

o Adanya bunyi usus pada auskultasi toraks kemungkinan  menunjukkan adanya trauma diafragma. sifat nyeri. perlu diperhatikan : o Redup hati yang menghilang menunjukkan adanya udara bebas dalam rongga perut yang berarti terdapatnya robekan (perforasi) dari organ-organ usus. cara terjadinya trauma. berarti kemungkinan besar terdapat perdarahan dalam rongga perut. Nyeri. intensitas nyeri. Fraktur dalam . pada robekan (perforasi) usus bising usus selalu menurun. referred pain. waktu terjadinya trauma. perlu diperhatikan : o Ditentukan apakah bising usus ada atau tidak.Keluhan utama berupa:  Trauma. perlu diperhatikan : o Adanya defence muscular menunjukkan adanya kekakuan pada otot-otot dinding perut abdomen akibat peritonitis. lokasi dari nyeri tekan ini dapat menunjukkan organ-organ yang mengalami trauma atau  adanya peritonitis. o Adanya “Shifting dullness” menunjukkan adanya cairan bebas dalam rongga perut. lokasi nyeri. lokasi       trauma. o Ada tidaknya nyeri tekan. Pada auskultasi. Kekakuan sendi Pembangkakan Deformitas Ketidakstabilan sendi Kelemahan otot 46 . Pada perkusi. o Nyeri ketok seluruh dinding perut menunjukkan adanya tandatanda peritonitis umum. Pada palpasi. bahkan kebanyakan menghilang sama sekali.

fasia. permukaan. penonjolan dari tulang o Pengukuran anggota gerak o Penilaian deformitas  Pergerakan (move) o Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif. eversi. fleksi.-  Gangguan sensibilitas  Hilangnya fungsi  Jalan pincang Pemeriksaan fisik  Inspeksi (look) o Kulit. kelenjar limfe. o Tulang dan sendi o Sinus dan jaringan parut  Palpasi (feel) o Suhu kulit. abduksi. tendo. inversi. fleksi lateral. adduksi. otot. perhatikan bentuk. atrofi otot o Nyeri tekan. plantar fleksi. rotasi eksterna. saraf. ligamen. ketebalan. denyutan arteri o Jaringan lunak. rotasi interna. supinasi. dorsofleksi. apakah gerakan menimbulkan sakit dan disertai krepitasi o Stabilitas sendi o ROM. o Tulang. pembuluh darah. 47 . mengetahui adanya spasme otot. jaringan lemak. meliputi warna kulit. pronasi. ekstensi. tanda peradangan dan tekstur kulit o Jaringan lunak.

b. diagnosis kerja dan definisi pada kasus? Diagnosis banding tension pneumotoraks Signs/Symptoms Manifestasi klinis Tension Pericardial Hemothoraks Pneumothoraks tamponade Kesulitan bernapas Syok. Trauma abdomen: sebuah mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja sehingga menyebabkan luka atau cedera pada abdomen baik trauma tumpul maupun trauma tajam Fraktur tertutup femur: hilangnya kontinuitas tulang paha. trauma abdomen. perforasi colon. lalu diikuti Tekanan nadi diikuti syok kesulitan bernapas menyempit lalu syok Distensi vena jugularis -   Suara napas Melemah/hilang Melemah/hilang Jelas. pyelonephritis akut Diagnosis kerja: tension pneumotoraks. rupture lienalis. maka akan menimbulkan penekanan terhadap paru-paru sehingga paru-paru tidak mengembang dengan maksimal. Pneumothorax ventil (Tension Pneumothorax) adalah pneumothorax dengan tekanan intra pleural yang positif dan makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. kondisi yang dapat disebabkan oleh trauma langsung pada paha 48 . Apa diagnosis banding. simetris Perkusi dada yang sakit Hipersonor Redup Sonor - - Deviasi trakea  Diagnosis banding trauma abdomen Trauma tumpul abdomen. fraktur tertutup femur Tension pneumotoraks: Pneumothoraks adalah keadaan dimana terdapatnya udara bebas dalam cavum pleura.

khususnya di negara berkembang. Menurut Depkes RI 2011. Penyebab terbanyak Fraktur adalah kecelakaan. Tetapi fraktur juga bisa terjadi akibat faktor lain seperti proses degeneratif dan patologi (Depkes RI. Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat pada tahun 2011-2012 terdapat 5. sehingga disini diperlukan pengatuhan untuk identifikasi awal dari gejala pneuomotoraks terdesak. merupakan pasien yang mengalami pneumotoraks. dikarenakan pada literatur literatur. 2011). Sebuah penelitian mengatakan 5. angka insidennya di masukan pada insiden cedera dada atau trauma dada.3 juta orang menderita fraktur akibat kecelakaan lalu lintas. dari sekian banyak kasus fraktur di indonesia. Menurut data Kepolisian Republik Indonesia tahun 2011.111 (30. sebelum mengirim pasien ke pusat pelayanan medis terdekat.987 orang dengan kasus fraktur ekstremitas bawah akibat kecelakaan. 19. Pada tahun 2011 tercatat sebanyak 4.6 Sebenarnya penanganan pneumotoraks terdesak dapat dilakukan dengan bantuan hidup dasar tanpa memerlukan tindakan pembedahan. dan mengirimnya ke tempat pelayanan medis terdekat. untuk mengurangi tingkat mobiditas dan mortalitas.c. 2005).633 kecelakaan (Biro Penerangan Masyarakat Polri. baik itu kecelakaan kerja. Menurut World Health Organization (WHO). Dari 45.744 kecelakaan dibandingkan jumlah kecelakaan pada tahun 2010 yang berjumlah 3.9 Kurangnya pengetahuan untuk mengetahui tanda dan gejala dari pneumotoraks terdesak menyebabkan banyak penderita meninggal setelah atau dalam perjalanan menuju kerumah sakit. kecelakaan lalu lintas menelan korban jiwa sekitar 2.2%. Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terjadi diintegritas tulang. Insiden pneumotoraks tidak diketahui secara pasti dipopulasi.4 juta jiwa manusia setiap tahunnya.58 %) dibandingkan tahun 2010.4% dari seluruh pasien menderita trauma. jumlah kecelakaan lalu lintas dalam operasi ketupat tahun 2011 sebanyak 1. kecelakaan lalu lintas dan sebagainya.629 orang 49 . fraktur pada ekstremitas bawah akibat kecelakaan memiliki prevalensi yang paling tinggi diantara fraktur lainnya yaitu sekitar 46. memberikan bantuan hidup dasar.6 juta orang meninggal dunia dan 1. Bagaimana epidemiologi kecelakaan lalu lintas? Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Kerusakan paru-paru akibat pernyakit tertentu. Udara yang dilepas - akan terperangkap di rongga pleura. Kondisi ini umumnya dialami oleh pengidap pneumothorax primer. Asap rokok diduga bisa menipiskan dinding bleb sehingga - risiko pneumothorax meningkat. 3. serta tuberkulosis. Jenis kelamin. Merokok. contohnya ventilator. tetapi terjadinya fraktur pada fibula tetap saja dapat menimbulkan adanya gangguan aktifitas fungsional tungkai dan kaki. Sobeknya kantong udara kecil yang terletak di permukaan paru-paru. 50 . Kantong udara (bleb)ini terbentuk tanpa menimbulkan gejala dan ini di luar kantong-kantong udara normal (alveoli) di paru-paru. Penyebab bleb pecah juga tidak dapat dipastikan. seperti Penyakit Paru - Obstruktif Kronis (PPOK). Cedera dada yang melukai paru-paru. pneumonia.027 orang mengalami fraktur cruris. Walaupun peran fibula dalam pergerakan ektremitas bawah sangat sedikit. Menggunakan alat bantu pernapasan. 970 2 orang mengalami fraktur pada tulang-tulang kecil di kaki dan 336 orang mengalami fraktur fibula. Apa faktor resiko pada kasus (masing-masing trauma)? Pneumothorax (ec trauma) Faktor Risiko . misalnya luka tembak atau - tulang rusuk yang patah. Apa etiologi pada kasus (masing-masing trauma)? Semua yang diderita pasien merupakan akibat dari trauma tumbul saat terjadi kecelakaan. e.mengalami fraktur pada tulang femur. 14. Kondisi ini lebih sering dialami oleh pria dibandingkan wanita. d.775 orang mengalami fraktur tibia.

Kanker Fraktur Femur .Mobilitas tinggi (risiko mengalami kecelakaan lalu lintas) .11 .- Usia. Pernah mengalami pneumothorax. 1 dari 9 pengidap pneumothorax diperkirakan - memiliki anggota keluarga dengan kondisi kesehatan yang sama. Pneumothorax primer cenderung terjadi pada usia muda. Fraktur Costae 9.10.Osteoporosis . yaitu - sekitar 20 hingga 40 tahun. Faktor keturunan. Sebagian besar orang yang pernah terserang kondisi ini berpotensi untuk kembali mengalaminya.Kanker 51 .Mobilitas tinggi (risiko mengalami kecelakaan lalu lintas) .Osteoporosis .

f. Bagaimana patofisiologi pada kasus? Venous Return ↓danCO ↓ 52 .

g. Apa SKDI pada kasus?
Tension pneumothorax
3B. Gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi
pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa
atau mencegah keparahan dan atau kecacatan pada pasien. Lulusan
dokter mampu menentukan
penanganan pasien

rujukan

yang

selanjutnya. Lulusan

paling
dokter

tepat
juga

bagi
mampu

menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan
h. Bagaimana tatalaksana trauma pada kasus?
Setelah dilakukan primary survey dan di bawa ke UGD maka dilanjutkan
dengan:
- Resusitasi:
 Airway: jaga jalan nafas agar tetap lancar (jaw thrust atau chin
lift), atau pasang naso-pharyngeal airway. Berikan oksigen 2-4

L/menit.
Brething/ventilasi/oksigenisasi: berikan oksigen, bila tanpa
intubasi sebaiknya oksigen diberikan dengan face-mask.
Pemakaian pulse oximeter baik untuk menilai saturasi O 2 yang
adekuat. Pada kasus ini, pasang chest tube di ICS 5 linea

axillaris anterior.
Circulation(dengan kontrol perdarahan):

setelah perdarahan

terbuka di atasi, perdarahan tertutup pada pahadikurangi dengan
meninggikan kaki dari jantung(kaki digantung), tapi tetap
memperhatikan aliran ke ujung kaki agar tidak terjadi iskemik
dan kematian jaringan. Terdapat gangguan sirkulasi: pemberian
cairan kristaloid (ringer lactat) IV 2-4 liter dalam 20-30 menit
dan kateter urin untuk monitoring perfusi ginjal dan
hemodinamika pasien terkait syoknya. Jaga suhu tubuh jangan

sampai hipotermi.
Disability : periksa GCS, APVU.
Exposure: luka di dahi dan pelipis diobati dengan antiseptik.
Jika pasien sudah membaik, ditanyai tentang AMPLE untuk

-

secondary assesment.
Pemasangan bidai:
 Pastikan lokasi luka, patah tulang atau cedera sendi dengan
memeriksa keseluruhan tubuh korban (expose) dan membuka
53

segala jenis aksesoris yang menghalangi (apabila tidak melukai

korban lebih jauh)
Memeriksa PMS korban, apakah pada ujung tubuh korban yang
cedera masih teraba nadi (P, Pulsasi), masih dapat digerakkan
(M, Motorik), dan masih dapat merasakan sentuhan (S,

Sensorik) atau tidak.
Tempatkan bidai di minimal dua sisi anggota badan yang cedera
(misal sisi samping kanan, kiri, atau bagian bawah). Letakkan

bidai sesuai dengan lokasi cedera.
Hindari mengangkat tubuh pasien untuk memindahkan pengikat
bidai melalui bawah bagian tubuh tersebut. Pindahkan pengikat
bidai melalui celah antara lekukan tubuh dan lantai. Hindari

membuat simpul di permukaan patah tulang.
Buatlah simpul di daerah pangkal dan ujung area yang patah
berada pada satu sisi yang sama. Lalu, pastikan bidai dapat
mencegah pergerakan sisi anggota badan yang patah. Beri
bantalan/padding pada daerah tonjolan tulang yang bersentuhan

dengan papan bidai dengan menggunakan kain.
Memeriksa kembali PMS korban, apakah pada ujung tubuh
korban yang cedera masih teraba nadi (P, Pulsasi), masih dapat
digerakkan (M, Motorik), dan masih dapat merasakan sentuhan
(S, Sensorik) atau tidak. Bandingkan dengan keadaan saat
sebelum pemasangan bidai. Apabila terjadi perubahan kondisi
yang memburuk (seperti: nadi tidak teraba dan / atau tidak dapat
merasakan sentuhan dan / atau tidak dapat digerakkan) maka

pemasangan bidai perlu dilonggarkan.
Tanyakan kepada korban apakah bidai dipasang terlalu ketat
atau tidak. Longgarkan balutan bidai jika kulit disekitarnya
menjadi pucat atau kebiruan, sakit bertambah, kulit di ujung
tubuh yang cedera menjadi dingin, ada kesemutan atau mati

rasa.
Perujukan:
- RS diinformasikan sebelum penderita dibawa dari tempat
-

kejadian.
Penjagaan airway, kontrol pendarahan, imobilisasi penderita &
pengiriman ke RS terdekat.
54

-

Pada kasus ini, airway pasien tidak mengalami masalah, namun
pasien mengalami masalah pada breathing, circulation, dan
diasabilities. Untuk breathing (tension pneumothorax) perlu
dilakukan needle decompression pada ICS 2 thoraks dextra, dan
untuk disabilities, perlu dilakukan pembidaian pada femur
sinistra, yang melewati dua sendi, yaitu sendi lutut dan sendi

panggul.
i. Apa komplikasi pada kasus?
Komplikasi tension pneumothoraks :
-

Kegagalan pernafasan

-

Pneumomediastinum

-

Emfisema subkutis

-

Fibrosis atau parut dari membran pleura

-

Syok

-

Hemotoraks sebagai komplikasi penatalaksanaan jika tusukan jarum
mengenai pembuluh darah intercostae

Komplikasi fraktur costae
Komplikasi yang timbul akibat adanya fraktur costa dapat timbul segera
setelah terjadi fraktur, atau dalam beberapa hari kemudian setelah terjadi.
Besarnya komplikasi dipengaruhi oleh besarnya energi trauma dan
jumlah costae yang patah.
Gangguan hemodinamik merupakan tanda bahwa terdapat komplikasi
akibat fraktur costae. Pada fraktur costa ke 1-3 akan menimbulkan cedera
pada vasa dan nervus subclavia, fraktur costa ke 4-9 biasannya akan
mengakibatkan cedera terhadap vasa dan nervus intercostalis dan juga
pada parenkim paru, ataupun terhadap organ yang terdapat di
mediastinum, sedangkan fraktur costa ke 10-12 perlu dipikirkan
kemungkinan adanya cedera pada diafragma dan organ intraabdominal
seperti hati, limpa, lambung maupun usus besar.
55

dan flail chest. Komplikasi awal yang dapat terjadi adalah pneumotoraks. Flail chest dapat terjadi apabila terdapat fraktur dua atau lebih dari costa yang berurutan dan tiap-tiap costa terdapat fraktur segmental.  Emboli lemak Lemak dilepaskan dari sumsum tulang yang mengalami injuri dan dikeluarkan seiring dengan intramedular dam memasuki sirkulasi meningkatnya tekanan vena menuju kapiler pulmonal. effusi pleura. meskipun costa baru akan sembuh setelah 4-6 minggu. omplikasi fraktur femur terbagi menjadi dua yaitu : - Komplikasi awal  Syok hipovolemik Karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler. beberapa tetesan lemak melewati dasar kapiler dan masuk ke sirkulasi sistemik dan mengemboli organ lainnya seperti otak  Sindrom kompartemen Terjadi pada saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan akibat Peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan atau fasia yang membungkus otot terlalu ketat atau gips/balutan yang menjerat. maka dapat terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar sebagai akibat trauma. 56 . sedangkan komplikasi yang dijumpai kemudian antara lain contusio pulmonum.Pada kasus fraktur costa simple pada satu costa tanpa komplikasi dapat segera melakukan aktifitas secara normal setelah 3-4 minggu kemudian.keadaan ini akan menyebabkan gerakan paradoksal saat bernafas dan dapat mengakibatkan gagal nafas. pneumonia dan emboli paru. Fraktur femur terbuka atau tertutup menyebabkan kehilangan darah 1-2 liter. hematotoraks.

kuat. 57 . dan stabil setelah 6-9 bulan. Apa prognosis pada kasus? Ad vitam : Bonam Ad Fungsionam : Dubia ad bonam Jika diterapi (primary survey dan resusitasi) dengan tepat dan segera dirujuk sehingga mendapat penanganan yang lebih lengkap dan tepat (di operasi dan pemulihan kembali mencegah kecacatan).  Mal-union: Penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas).  Kecacatan  Nekrosis avaskuler tulang  Kekakuan sendi lutut  Gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan j.-  Kerusakan arteri  Injuri saraf  Infeksi Komplikasi lambat  Delayed union :Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan  Non-union: Kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap.

IV. Kerangka Konsep Venous Return ↓danCO ↓ 58 .

15%-20% CKS. Learning Issue 1. Kepala Definisi Cedera kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secara langsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat kepada gangguan fungsi neurologis. psikososial. Yang sampai di rumah sakit. 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS). Epidemiologi Di Amerika Serikat. 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan tindak kekerasan. sedangkan untuk CKR tidak ada yang meninggal.V. yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik. Menurut Brain Injury Assosiation of America. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden cedera kepala. tetapi data dari salah satu rumah sakit di Jakarta. untuk penderita rawat inap. kegiatan olahraga dan rekreasi. kognitif. Angka kematian tertinggi sekitar 35%-50% akibat CKB. kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500. dan 10% sisanya adalah cedera kepala berat (CKB).000 kasus. terdapat 60%-70% dengan CKR. fungsi fisik. Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15-44 tahun. Traumatologi a. 59 . 10% meninggal sebelum tiba di rumah sakit. cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala. Dari jumlah tersebut. 80% dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan (CKR). bersifat temporer atau permanent. 5%-10% CKS. bukan bersifat congenital ataupun degeneratif. Data epidemiologi di Indonesia belum ada. dan sekitar 10% dengan CKB. tetapi disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar. RS Cipto Mangunkusumo.

jatuh. tiga jenis klasifikasi akan sangat berguna.Klasifikasi Cedera kepala bisa diklasifikasikan atas berbagai hal. dapat disebabkan benturan langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses akselarasi-deselarasi gerakan kepala. dapat disebabkan oleh kecelakaan  kendaraan bermotor. disebabkan luka tembak atau pukulan benda tumpul. Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa oup dan contrecoup. tingkat beratnya cedera kepala serta berdasar morfologi. kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu cedera primer dan cedera sekunder. Untuk kegunaan praktis. Klasifikasi cedera kepala:  Berdasarkan mekanisme  Cedera kepala tumpul. Cedera kepala tembus (penetrasi). atau pukulan benda tumpul.  Berdasarkan beratnya  Ringan (GCS 14-15)  Sedang (GCS 9-13)  Berat (GCS 3-8)  Berdasarkan morfologi  Fraktur tengkorak o Kalvaria  Linear atau stelata  Depressed atau nondepressed  Terbuka atau tertutup o Dasar tengkorak  Dengan atau tanpa kebocoran CNS  Dengan atau tanpa paresis N VII  Lesi intrakranial o Fokal  Epidural  Subdural  Intraserebral o Difusa  Komosio ringan  Komosio klasik  Cedera aksonal difusa Patofisiologi Pada cedera kepala. yaitu berdasar mekanisme. Cedera primer merupakan cedera pada kepala sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa. Cedera primer yang 60 .

Untuk alasan ini. Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar 400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar. Perbedaan densitas antara tulang tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. Bergeraknya isi dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup). edema otak. Pada fraktur kalvaria ditentukan apakah terbuka atau tertutup. Fraktura tengkorak terbuka atau compound berakibat hubungan langsung antara laserasi scalp dan permukaan serebral karena duranya robek. Frekuensi fraktura tengkorak bervariasi. Fraktur tengkorak basal sulit tampak pada foto sinar-x polos dan biasanya perlu CT scan dengan setelan jendela-tulang untuk memperlihatkan lokasinya. linear atau stelata. depressed fragmen lebih dari ketebalan tengkorak (> 1 tabula) memerlukan operasi elevasi. peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi. Pada daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut contrecoup. dan fraktura ini memerlukan operasi perbaikan segera. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar 400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar. kerusakan neuron berkelanjutan. iskemia. Cedera sekunder merupakan cedera yang terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer. Sebagai pegangan umum. depressed atau nondepressed. berupa perdarahan. adanya fraktura tengkorak 61 . lebih banyak fraktura ditemukan bila penelitian dilakukan pada populasi yang lebih banyak mempunyai cedera berat.diakibatkan oleh adanya benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi coup. Patologi cedera kepala - Fraktura Tengkorak Fraktur tengkorak dapat terjadi pada kalvaria atau basis.

Walau hematoma epidural relatif tidak terlalu sering (0. SDH lebih sering terjadi dibandingkan EDH. menunjukkan CT scan normal namun menunjukkan perubahan sensorium atau bahkan koma dalam. Fraktura tengkorak mungkin 62 . Basis selular cedera otak difusa menjadi lebih jelas pada tahun-tahun terakhir ini.  Hematoma Subdural Hematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara duramater dan arakhnoid. walau kedua bentuk cedera ini sering terjadi bersamaan. dan kontusi (atau hematoma intraserebral). harus selalu diingat saat menegakkan diagnosis dan ditindak segera. Bila ditindak segera. 9% pada pasien obtundan.mengharuskan pasien untuk dirawat dirumah sakit untuk pengamatan. hematoma subdural. prognosis biasanya baik karena cedera otak disekitarnya biasanya masih terbatas. tidak peduli bagaimana baiknya tampak pasien tersebut. hematoma epidural mungkin akibat robeknya sinus vena. namun mungkin sekunder dari perdarahan vena pada sepertiga kasus. Mortalitas dari hematoma epidural sekitar 0% pada pasien tidak koma.5% dari keseluruhan atau 9% dari pasien koma cedera kepala). Kadang-kadang. Terjadi paling sering akibat robeknya vena bridging antara korteks serebral dan sinus draining. secara umum. ditemukan sekitar 30% penderita dengan cedera kepala berat. dan 20% pada pasien koma dalam. Lesi Fokal  Hematoma Epidural Epidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang potensial antara tabula interna dan duramater. Pasien pada kelompok cedera otak difusa. Outcome langsung bergantung pada status pasien sebelum operasi.  Lesi Intrakranial Lesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa. Lesi fokal termasuk hematoma epidural. Perdarahan biasanya dianggap berasal arterial. Paling sering terletak diregio temporal atau temporalparietal dan sering akibat robeknya pembuluh meningeal media. terutama diregio parietal-oksipital atau fossa posterior. Namun ia juga dapat berkaitan dengan laserasi permukaan atau substansi otak.

perlu dilakukan lebih dalam. Bagaimanapun. terdapat zona peralihan. dan kontusi dapat secara lambat laun menjadi hematoma intraserebral dalam beberapa hari. Selanjutnya. Mortalitas umumnya 60%. Perbedaan antara kontusi dan hematoma intraserebral traumatika tidak jelas batasannya. saraf kranial. fungsi sensorik. 63 . selain pemeriksaan GCS. namun mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan pengelolaan medis agresif.  Kontusi dan hematoma intraserebral. Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan (parenkim) otak. dan refleks-refleks. Pada pemeriksaan fisik secara lengkap dapat dilakukan bersamaan dengan secondary survey.ada atau tidak. Selain itu. mencakup pemeriksaan fungsi batang otak. Majoritas terbesar kontusi terjadi dilobus frontal dan temporal. pemeriksaan fisik umum. fungsi motorik. Pemeriksaan Klinis Pemeriksaan klinis pada pasien cedera kepala secara umum meliputi anamnesis.9 Penilaian GCS awal saat penderita datang ke rumah sakit sangat penting untuk menilai derajat kegawatan cedera kepala. Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan tergantung pada lokasi dan luas perdarahan. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan otak yang menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut. Pada anamnesis informasi penting yang harus ditanyakan adalah mekanisme trauma. Kontusi serebral sejati terjadi cukup sering. Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan temporalis. pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan neurologis. kerusakan otak yang mendasari hematoma subdural akuta biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari hematoma epidural. Pemeriksaan meliputi tanda vital dan sistem organ. Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi lainnya (countrecoup). kontusi otak hampir selalu berkaitan dengan hematoma subdural. walau dapat terjadi pada setiap tempat termasuk serebelum dan batang otak.

Pemeriksaan radiologis yang paling sering dan mudah dilakukan adalah rontgen kepala yang dilakukan dalam dua posisi. 64 . Indikasi pemeriksaan CT Scan pada kasus cedera kepala adalah : - bila secara klinis (penilaian GCS) didapatkan klasifikasi cedera kepala - sedang danberat. cedera kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis kranii adanya defisit neurologi. seperti kejang dan penurunan gangguan - kesadaran sakit kepala yang hebat adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau herniasi - jaringan otak kesulitan dalam mengeliminasi kemungkinan perdarahan intraserebral. amnesia. Idealnya penderita cedera kepala diperiksa dengan CT Scan. terutama bila dijumpai adanya kehilangan kesadaran yang cukup bermakna. atau sakit kepala hebat. yaitu anteroposterior dan lateral.

Terjadi penambahan ukuran hematom pada pemeriksaan ulang CT scan . Thoraks Insiden 65 . Indikasi untuk tindakan operatif pada kasus cedera kepala ditentukan oleh kondisi klinis pasien.Terjadi kompresi / obliterasi sisterna basalis b. berupa cedera kepala ringan. sedang. atau berat. Indikasi rawat antara lain : - Amnesia posttraumatika jelas (lebih dari 1 jam) Riwayat kehilangan kesadaran (lebih dari 15 menit) Penurunan tingkat kesadaran Nyeri kepala sedang hingga berat Intoksikasi alkohol atau obat Fraktura tengkorak Kebocoran CSS. - serta gejala dantanda fokal neurologis semakin berat Terjadi gejala sakit kepala. mual. Tidak semua pasien cedera kepala perlu di rawat inap dirumah sakit. dan exposure.Terjadi gejala akan terjadi herniasi otak . yang kemudian dilanjutkan dengan resusitasi. Secara umum digunakan panduan sebagai berikut : - Volume masa hematom mencapai lebih dari 40 ml di daerah - supratentorial atau lebihdari 20 cc di daerah infratentorial Kondisi pasien yang semula sadar semakin memburuk secara klinis. dan muntah yang semakin hebat Pendorongan garis tengah sampai lebih dari 3 mm Terjadi kenaikan tekanan intrakranial lebih dari 25 mmHg. circulation. disability. Pada penderita cedera kepala khususnya dengan cedera kepala beratsurvei primer sangatlah penting untuk mencegah cedera otak sekunder dan mencegah homeostasis otak. temuan neuroradiologi dan patofisiologi dari lesi. Dalam penatalaksanaan survei primer hal-hal yang diprioritaskan antara lain airway. otorrhea atau rhinorrhea Cedera penyerta yang jelas Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggungjawabkan CT scan abnormal Prinsip penanganan awal pada pasien cedera kepala meliputi survei primer dan survei sekunder. breathing.Penatalaksanaan Penatalaksanaan cedera kepala sesuai dengan tingkat keparahannya.

Dalam data Indonesia sendiri. Diagnosis tension pnemotoraks ditegakan secara klinis dan terapi tidak boleh terlambat oleh karena menunggu konfirmasi radiologis. mediastinum terdorong ke sisi berlawanan dan menghambat pengembalian darah ke jantung (venous return). Hemothorax. Grup pertama tadi diidentifikasi dalam survei primer dimana 8 penyakit sisanya dapat diidentifikasi dalam survei sekunder yang dapat disebut dengan “Hidden Eight”(Simple Pneumothorax. Traumatic Diagphramatic Tear. dan Cardiac Tamponade). Kurang dari 10% dari cedera tumpul toraks dan hanya 15-30% dari cedera tembus toraks yang membutuhkan tindakan torakotomi. serta akan menekan paru kontralateral. Blunt Cardiac Injury. Tension Pneumothorax. Pulmonary Contusion. hipotensi.Trauma toraks merupakan salah satu penyebab utama kematian. Esophageal Rupture). Sianosis merupakan manifestasi lanjut. Trauma toraks mayor dikelompokkan bersama dalam suatu grup yang bernama “Fatal 14”. Tracheobronchiolar Tree Injury. hilangnya suara napas pada satu-sisi dan distensi vena leher. Akibat udara yang masuk ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar lagi maka tekanan di intrapleural akan semakin meninggi.2% dari total semua luka yang ada. Open Pneumothorax. sesak napas yang berat. Banyak penderita meninggal setelah sampai di rumah sakit. taikardi. Flail Chest. kebocoran dari luar melalui dinding dada. Tension pnemotoraks ditandai dengan gejala nyeri dada. paru-paru menjadi kolaps. masuk ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one-way-valve). dan banyak diantara kematian ini sebenarnya dapat dicegah dengan meningkatkan kemampuan diagnostic dan terapi. Traumatic Aortic Disruption. Massive Hemothorax. Dimana kemudian grup ini terbagi atas “Lethal Six” (Obstruksi saluran nafas. pada data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 didapatkan cedera pada dada sebesar 3. Sementara itu Kalimantan Barat mendapatkan bagian 2. deriasi trakea.1% dari seluruh Indonesia. Karena ada kesamaan gejala antara tension 66 . distress pernapasan. Tension pneumothoraks Tension pneumothoraks berkembang ketika terjadi one-way-valve (fenomena ventil).

Akibatnya ventilasi terganggu sehingga menyebabkan hipoksia dan hiperkapnia. defek ini sendiri saja menyebabkan hipoksia. Bila terjadi kerusakan parenkim paru dibawa kerusakan dinding dada maka akan menyebabakan hipoksia yang serius. Tekanan di dalam rogga pleura akan segera menjadi sama dengan tekanan atmosfir. Pneumothorx terbuka Defek atau luka yang besar pada dinding dada akan menyebabkan pneumotoraks terbuka.pnemotoraks dan tamponade jantung maka pada awalnya sering membingungkan. Kesulitan utama pada kelaian flail chest yaitu cedera pada parenkim paru yang mungkin terjadi (kontusio paru). Evaluasi ulang selalu diperlukan. Walaupun ketidakstabilan dinding dada menimbulkan gerakan paradoksal dinding dada pada inspirasi ekspirasi. Tension pnemotoraks membutuhkan dekompresi segera dan penanggulangan dengan cepat berupa insersi jarum yang berukuran besar pada selah iga du garis midclavicula pada hemotoraks yang terkena. Keadaan tersebut terjadi karena fraktur iga multiple pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. Flail Chest Flail chest terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas dengan keseluruhan dinding dada. Tindakan ini akan mengubah tension pnemoumotoraks menjadi pnemotoraks sederhana (catatan : kemungkinan terjadi pnemotoraks yang bertambah akibat tertusuk jarum). Tindakan definitive selalu dibutuhkan dengan pemasanan selang dada (chest tube) pada sela iga 5 (setinggi puing susu di anterior) di garis anterior digaris midaxilaris. Adaya segmen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada. namun perkusi yang hipersonor dan hilangnya suara napas pada hemotoraks yang terkena pada tension pnemotorks akan dapat membedahkanya. Jika defek pada dinding dada lebih besar dari 2/3 diameter trakea maka udara akan cenderung mengalir melalui defek karena mempunyai tahanan yang kurang atau kecil dibandingkan dengan trakea. Yang terutama disebabkan nyeri yang menyebabkan gerakan dinding dada menjadi tertahan dan cedera jaringan 67 .

Yang harus diterapi adalah cedera penyerta. Terfiksirnya iga yang patah akibat nyeri dapat menyebabkan gangguan ventilasi. Perlukaan yang terjadi pada iga sering bermakna. bila terjadi pengumpulan darah dalam rongga perikardium dengan jumlah berapapun maka akan terjadi mekanisme tamponade. Sternum dan Skapula Iga adalah komponen dinding toraks yang paling sering terjadi trauma. parenkim paru. akan tetapi pada trauma tumpul juga dapat terjadi. pembuluh darah besar. Tamponade jantung dapat disebabkan oleh luka tembus maupun cedera tumpul. Dapat terjadi edema yang berat. Apapun mekanisme yang mendasarinya.parunya. atau yang jarang yaitu cedera ledakan. Penyebab terbanyak adalah luka yang menembus dinding dada. Walaupun tidak memerlukan terapi.1 c) Fraktur Iga. atau pembuluh perikardium. a) Emfisema Subkutis Emfisema subkutis dapat disebabkan oleh cedera airway. Pada pengertian masif ini terdapatnya pengumpulan darah lebih dari 1500 cc. wajah dan lengan. penyebab timbulnya kelainan ini harus dicari.1 b) Crushing injury to the chest (traumatic asphiyxia) Tergencetnya toraks akan menimbulakan kompresi yang tiba-tiba dan sementara terhadap vena cava superior dan menimbulkan letora serta petechiae yang meliputi badan bagian atas. bahkan edema otak. Hemothorax massif Hemotoraks merupakan adanya penumpukan cairan di rongga toraks. oksigenasi dan reflex batuk. Jika penderita menggunakan ventilasi dengan tekanan positif pemasangan selang dada harus dipertimbangkan untuk dipasang pada sisi yang terdapat emfisema subkutis sebagai antisipasi terhadap berkembannya tension pneumotoraks. Batuk yang tidak efektif untuk 68 . Trauma toraks penting lainnya harus dideteksi delama secondary survey walaupun cedera tersebut tidak segera mengancam nyawa tetapi cedera tersebut potensial untuk memburuk. Tamponade Jantung Cairan dalam perikardium yang berisi darah dapat terjadi bila terjadi cedera pada jantung.

Dislokasi sternoklavicula jrang menyebabkan bergesernya kaput klavicula kearah mediastinum dengan mengakibatkan obstruksi dari vena cava superior.angsung. mortalitas akan meningkat menjadi 30 %. Bila terjadi reduksi segera dibutuhkan. sehingga harus dipertimbangkan adanya cedera kepala. Cedera tumpul esophagus walau jarang tetapi mematikan bila tidak teridentifikasi. paru-paru dan pembuluh darah besar. d) Cedera tumpul esophagus Cedera osefagus lebih sering disebabkan oleh karena cedera tembus. Cedera tumpul jantung harus dipertimbangkan bila da fraktur sternum. Yang paling sering terjadi cedre adalah iga tengah . Kontusio paru dapat menyertai fraktur sternum. Iga bagian atas dilindungi oleh struktur tulang dari bahu. iga pertama dan kedua atau sternum harus curiga akan adanya cedera yang berat. Tulang scapula. Cedera tumpul esophagus disebabkan oleh gaya 69 . Fraktur sternum dan scapula secara umum disebabkan oleh benturan . Patah tulang iga bawah harus curiga cedera hepar dan lien. medulla spinalis. dan pneumonia meningkat secara bermakna bila sudah ada penyakit paruparu sebelumnya. Cedera langsung pada iga akan cenderung menyebabkan fraktur dengan pendorongan ujung-ujung frakur masuk kedalam rongga pleura dan potensial menyebabkan cedera intratorakal seperti pneumotoraks. humerus dan klavikula dengan seluruh otot-otot akan melindungi terhadap cedera iga tersebut. bila ditemukan fraktur tulang scapula. Seperti kita pada penderita denga usia muda dinding dada lebih fleksibel sehingga jarang terjadi fraktur iga. oleh karena itu adanya fraktur iga multiple pada penderita usia muda memberikan informasi pada kita bahwa cedera yang terjadi sangat besar dibandingkan bila terjadi cedera yang sama terjadi pada orang tua. kompresi anteroposterior dari rongga toraks akan menyebabkan lengkung iga akan lebih melengkung lagi kearah lateral iga akan lebih melengkung lagi kearah lateral dengan akibat timbulnya fraktur pada titik tengah.mengeluarkan secret dapat mengakibatkan insiden atelectasis. Karena adanya cedera penyerta tersebut. leher. Terapi operasi kadang diindikasikan untuk fraktur sternum dan scapula.

Penderita yang mendapat cedera langsung yang berat terhadap sternum bagian bawah atau epigastrium dan nyeri atau syok yang tidak prorosional terhadap cedera yang dialami atau didapatkan sisa makanan pada selang dada setelah darah keluar. Resusitasi jantung paru otak dibagi dalam tiga fase :bantuan hidup dasar. Gambaran klinik pada rupture esophagus muntah-muntah. bantuan hidup lanjut. Akibat selanjutnya akan terjadi mediastinitis. breathing atau 70 . Gaya tersebut menyebabkan robekan linier pada esophagus bagian bawah dan mengakibatkan kebocoran cairan gaster ke dalam mediastinum. tindakan BLS ini dapat disingkat dengan teknik ABC yaitu airway atau membebaskan jalan nafas. bantuan hidup jangka lama. Operasi yang dilakukan dalam beberapa jam setelah cedera akan memberikan prognosis yang lebih baik. Basic Life Support Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest). Menurut AHA Guidelines tahun 2005. Cedera esophagus dapat disebebkan oleh kesalahan pemasangan instrumentasi. Bantuan Hidup Dasar(Basic Life Support. disingkat BLS) adalah suatu tindakan penanganan yang dilakukan dengan sesegera mungkin dan bertujuan untuk menghentikan proses yang menuju kematian. yang cepat atau lambat akan pecah kedalam rongga pleura yang kemudian akan mengakibatkn terjadinya empiyema. Cedera esophagus dipertimbangkan pada penderita-pendrita yang mempunyai pneumotoraks kiri atau hemotoraks tanpa adanya fraktur iga. Adanya udara mediastinum juga membantu diagnosis yang kemudian dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan memakai kontras atau esofagoscopy. Namun pada pembahasan kali ini lebih difokuskan pada Bantuan Hidup Dasar. 2. Drainse yang luas dari rongga pleura dan mediastinum dengan penjahitan langsung terhadap luka yang terjadi melalui torakotomi adalah terapi yang dilakukan jika hal ini memungkinkan.kompresi dari isi gaster yang masuk ke dalam esophagus akibat cedera berat pada abdomen bagian atas.

Namun pada tahun 2010 tindakan BLS diubah menjadi CAB (circulation. Jika ada denyut nadi maka dilanjutkan dengan memberikan bantuan pernafasan. Pemeriksaan denyut nadi ini tidak boleh lebih dari 10 detik. dan circulation atau pijat jantung pada posisi shock. Cara Kompresi  Petugas berlutut jika korban terbaring di bawah. breathing. Lokasi kompresi berada pada tengah dada korban (setengah bawah sternum).Memeriksa keadaan pasien. Melakukan panggilan darurat dan mengambil AED. Langkah-Langkah BLS (Sistem CAB) . responpasien. Untuk penolong non petugas kesehatan tidak dianjurkan untuk memeriksa   denyut nadi korban. termasuk mengkaji ada / tidak - adanya nafas secara visual tanpa teknik Look Listen and Feel. maka dilanjutkan dengan melakukan kompresi  dada. Penentuan lokasi ini dapat dilakukan dengan cara tumit dari tangan yang pertama diletakkan di atas sternum. atau berdiri disamping korban jika korban berada di tempat tidur 71 .memberikan nafas buatan. kemudian tangan yang satunya diletakkan di atas tangan yang sudah berada di tengah sternum. karena peredaran darah akan berhenti selama 3-4 menit. airway). Tujuan utama dari BLS adalah untuk melindungi otak dari kerusakan yang irreversibel akibat hipoksia. Circulation :  Meraba dan menetukan denyut nadi karotis. Gambar 6. Jari-jari tangan dirapatkan dan diangkat pada waktu penolong melakukan tiupan nafas agar tidak menekan dada. tetapi jika tidak ditemukan denyut nadi.

 Gambar 7. sedangkan untuk bayi minimal sepertiga dari diameter anterior-posterior dada atau sekitar 1 ½ inchi (4 cm) dan untuk anak sekitar 2 inchi (5 cm). sekitar 18  detik) Kecepatan kompresi diharapkan mencapai sekitar 100 kompresi/menit. Posisi Kompresi Dada Kompresi dada dilakukan sebanyak satu siklus (30 kompresi. Kedalaman kompresi untuk dewasa minimal 2 inchi (5 cm). 72 .

Head Tilt & Chin Lift Gambar 9. Caranya dengan meletakkan satu tangan pada dahi korban. lalu mendorong dahi korban ke belakang agar kepala menengadah dan mulut sedikit terbuka (Head Tilt) Pertolongan ini dapat ditambah dengan mengangkat dagu (Chin Lift).- Airway. Gambar 8. Korban dengan tidak ada/tidak dicurgai cedera tulang belakang maka bebaskan jalan nafas melalui head tilt– chin lift. Namun jika korban dicurigai cedera tulang belakang maka bebaskan jalan nafas melalui jaw thrust yaitu dengan mengangkat dagu sehingga deretan gigi Rahang Bawah berada lebih ke depan daripada deretan gigi rahang Atas. Jaw Thrust 73 .

- RJP terus dilakukan hingga alat defibrilasi otomatis datang. Untuk satu siklus perbandingan kompresi dan ventilasi adalah 30 : 2. Jika pasien mempunyai denyut nadi namun membutuhkan pernapasan bantuan. Berikan ventilasi sebanyak 2 kali.- Breathing. Untuk pemberian melalui bag mask pastikan menggunakan bag mask dewasa dengan volume 1-2 L agar dapat memeberikan ventilasi yang  memenuhi volume tidal sekitar 600 ml. atau petugas ahli datang. Pernafasan mulut ke mulut  Jika tidak memungkinkan untuk memberikan pernafasan melalui mulut  korban dapat dilakukan pernafasan mulut ke hidung korban. setelah terdapat advance airway kompresi dilakukan terus menerus dengan kecepatan 100 kali/menit dan ventilasi tiap 6-8 detik/kali. Perhatikan kenaikan dada korban untuk memastikan volume tidal yang masuk adekuat.Untuk pemberian mulut ke mulut langkahnya sebagai berikut :  Pastikan hidung korban terpencet rapat  Ambil nafas seperti biasa (jangan terelalu dalam)  Buat keadaan mulut ke mulut yang serapat mungkin  Berikan satu ventilasi tiap satu detik  Kembali ke langkah ambil nafas hingga berikan nafas kedua selama satu detik. pasien bangun. Bila harus terjadi interupsi. Setelah terpasang advance airway maka ventilasi dilakukan dengan frekuensi 6 – 8 detik/ventilasi atau sekitar 8-10 nafas/menit dan kompresi  dada dapat dilakukan tanpa interupsi. petugas kesehatan sebaiknya 74 . Pemberian ventilasi dengan jarak 1 detik diantara ventilasi. ventilasi dilakukan dengan kecepatan 5-6 detik/nafas atau sekitar  10-12 nafas/menit dan memeriksa denyut nadi kembali setiap 2 menit. Gambar 10.

Alat defibrilasi otomatis.tidak memakan lebih dari 10 detik. Lakukan terus langkah tersebut hingga petugas ACLS (Advanced Cardiac Life Support ) datang. Pergunakan program/panduan yang telah ada. Kesimpulan Laki-laki. VI. 30 tahun mengalami tension pneumothoraks disertai trauma abdomen dan fraktur femur tertutup et causa multiple trauma. kenali apakah ritme tersebut dapat diterapi kejut atau tidak. kecuali untuk pemasangan alat defirbilasi - otomatis atau pemasangan advance airway. jika iya lakukan terapi kejut sebanyak 1 kali dan lanjutkan RJP selama 2 menit dan periksa ritme kembali. Penggunaanya sebaiknya segera dilakukan setelah alat tersedia/datang ke tempat kejadian. 75 . atau korban mulai bergerak. Namun jika ritme tidak dapat diterapi kejut lanjutkan RJP selama 2 menit dan periksa kembali ritme.