You are on page 1of 4

Latar Belakang

Toxoplasma gondii merupakan protozoa golongan parasit intraseluler obligat. Toxoplasma


gondii mampu menyebabkan kondisi yang membahayakan dan mengancam hidup wanita
hamil dan individu dengan sistem imun yang kurang baik. Sumber infeksi parasit berasal dari
konsumsi daging mentah/setengah matang yang mengandung kista parasit, konsumsi
air/makanan yang mengandung ookista, atau kontak dengan tanah yang terkontaminasi feses
kucing. Infeksi Toxoplasma pada wanita hamil memiliki pengaruh yang besar pada fetus.
Kelainan berat dapat terjadi seperti, hidrosefalus, kalsifikasi intraserebral, retinokoroiditis dan
retardasi mental, walaupun, gejala klinis pada bayi yang baru lahir biasanya asimptomatik.
Deteksi antibodi anti-Toxoplasma pada wanita hamil merupakan pendekatan yang paling
banyak digunakan dalam menegakan diagnosis infeksi Toxoplasma. Antibodi yang terdeteksi,
yang mana mengindikasikan infeksi Toxoplasma sekarang atau yang lalu pada wanita hamil,
sangat penting dalam menilai apakah fetus berisiko tinggi terinfeksi Toxoplasma. Adanya antibodi IgG anti-Toxoplasma menunjukan adanya infeksi di waktu lalu, sedangkan antibodi
IgM anti-Toxoplasma menunjukan adanya infeksi di waktu sekarang. Walaupun begitu,
antibodi IgM spesifik menetap untuk beberapa bulan hingga tahun setelah infeksi awal. Hal
ini menimbulkan kesulitan dalam menegakan diagnosis apakah infeksi Toxoplasma pada ibu
terjadi sebelum atau sesudah konsepsi. Kesalahan interpretasi hasil IgM positif pada uji
serum tunggal konvensional juga berujung pada kesalahan pengambilan keputusan dalam
memberikan tata laksana dan terminasi pada kehamilan. Penilaian aviditas IgG untuk infeksi
Toxoplasma dalam wanita hamil diperkenalkan pada penelitian terkini dalam membantu
membedakan antara infeksi di masa lalu atau sekarang. Aviditas dari tes ini sangat baik dalam
menentukan infeksi Toxoplasma pada wanita hamil, terutama mereka yang berada pada
trimester pertama.
Maka dari itu, penelitian ini dilakuakn untuk menentukan seroprevalensi dari infeksi
Toxoplasma pada wanita hamil yang melakukan antenatal clinic (ANC) di Rumah Sakit
Songklanagarind, Thailand selatan, untuk mengetahui hubungan faktor risiko infeksi
Toxoplasma dengan wanita hamil dengan seropositif dan untuk menetapkan tahap infeksi
Toxoplasma dalam wanita hamil menggunaan pengukuran aviditas.
Metode
Design dan Populasi
Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional prospektif yang dilakukan di Rumah
Sakit Songklanagarind, Hat Yai, provinsi Songkla, Thailand sejak Desember 2012 hingga
Agustus 2013. Rumah sakit umum ini terikat pada Universitas Prince of Songkla, dengan
kapasitas 850 pasien, yang berlokasi di Thailand bagian selatan dan didirikan sebagai sarana
proses belajar-mengajar, riset, dan pelatihan untuk tenaga medis, dan untuk penyedia tenaga
kesehatan publik, khususnya di kalangan warga Thailand selatan. Penelitian ini melibatkan
760 wanita hamil yang sebelumnya telah diberikan informed concent. Kuesioner didesign
untuk mengetahui sosiodemografi dan faktor risiko biologis terkait dengan infeksi
Toxoplasma, dan riwayat klinis dan tanda-tanda infeksi dan gejala sekarang yang berkaitan

dengan toxoplasmosis. Penelitian ini dilakukan dengan persetujuan komite etik Fakultas
Kedokteran, Universitas Prince of Songkla, Thailand.
Pengumpulan Serum
Diperkirakan 5 mL sampel dari darah vena diambil dan serum dikumpulkan dan disimpan
pada suhu -20oC hingga pengujian lebih lanjut.
Skrining antibodi anti-Toxoplasma IgG dan IgM
antibodi anti-Toxoplasma IgG dan IgM diuji dengan menggunakan standard ELISA
commercial kit (IgG-Trinity Biotech dan IgM-Trinity Biotech, New York) sesuai dengan
instruksi penggunaan alat. Sampel positif antibodi anti-Toxoplasma IgG dan IgM juga diuji
aviditasnya dengan menggunakan
standard ELISA commercial kit (IgG-NovaLisa
Dietzenbach, Jerman); aviditas tinggi (>40%) mengindikasikan adanya infeksi dahulu (>4-5
bulan) dan aviditas rendah (<40%) mengindikasikan adanya infeksi di waktu sekarang (4-5
bulan).
Analisis Statistik
Data diperoleh dari kuesioner dan uji laboratorium yang ada, diedit, dan dianalsis
menggunakan program statistik SPSS versi 17.0 (SPSS, Inc., Chicago, IL). Data dengan
variabel kuantitatif dinyatakan dalam mean (SD) dan range, sedangkan variabel kualitatif
diperkirakan dan disajikan dalam frekuensi dan persentase. Analisis univariat dan bivariat
digunakan untuk menyelidiki hubungan antara seropositif Toxoplasma sebagai variabel bebas
dan kemungkinan faktor demografi dan faktor risiko sebagai variabel terikat; p<0,05
dianggap signifikan menurut statistik.
Hasil
Total 760 wanita hamil bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Usia responden berkisar
antara 14-47 tahun dengan rerata 29,56,34 tahun. Sebagian besar responden berusia 26-35
tahun (408, 53,7%), dengan pendidikan terakhir setingkat SMA (369, 48,6%) dan bekerja
sebagai buruh (317, 41,7%). Sebagian besar responden berada pada trimester pertama
kehamilan (621, 81,7%), tidak sedang mengonsumsi antibiotik (664, 87,4%), memiliki 1
anak (637, 83,8%) dan tidak pernah mengalami keguguran (592, 77,9%) seperti pada Tabel 1.
Sebagian besar, seroprevalensi infeksi Toxoplasma dalam penelitian ini berjumlah 190
(25,0%, 95% CI=22,05-28,20) yang mana 167 (22,0%, 95% CI=19,0-25,0) positif hanya
memiliki antibodi IgG anti-Toxoplasma dan 23 (3,0%, 95% CI=2,0-4,0) positif memiliki
kedua antibodi IgG dan IgM anti-Toxoplasma. Sampel serum hanya positif antibodi IgM antiToxoplasma (19, 2,5%) ditemukan pada pengumpulan sampel serum setelah 4 minggu
kemudian. Serum sampel ini kemudian dilaporkan sebagai false positive karena tidak
ditemukannya seroconversion.
Untuk analisis univariat, penelitian ini menunjukan bahwa kelompok usia, pekerjaan dan
sumber konsumsi air memiliki hubungan yang signifikan dengan seropositif wanita hamil

(p<0,05), seperti yang ditunjukan Tabel 1. Setelah dilakukan analisis logistik regresi
multivariat, teruji bahwa usia 26 (OR=1,65, 95% CI=1,13-2,44), bekerja sebagai buruh
(OR=1,57, 95% CI=1,13-2,18) dan mengonsumsi air (pipa/keran/hujan) yang kurang bersin
(OR=1,75, 95% CI=1,08-2,84) merupakan faktor risiko terinfeksi Toxoplasma, seperti yang
ditunjukan Tabel 2.
Diskusi
Infeksi Toxoplasma pada wanita hamil menunjukan variasi pada seroprevalensi secara global.
Dalam penelitian ini, keseluruhan seroprevalensi pada infeksi kronik Toxoplasma sebesar
25% dari total responden. Temuan ini ada dalam kisaran 2,6%-28% dari seroprevalensi yang
pernah dilaporkan penelitian di Thailand sebelumnya. Meskipun begitu, prevalensi yang kami
temukan memiliki rerata yang lebih tinggi dibandingkan penelitian sebelumnya di negara
Asia lain seperti China, Jepang dan Taiwan dengan masing-masing persentasi 3,89%, 10,3%
dan 11,8%. Secara global, seroprevalensi dari infeksi Toxoplasma tetap tinggi pada banyak
negara di benua berbeda seperti Kongo (84,7%), Ethiopia (83,6%), India (45%), Brazil (59%)
dan Tanzania (30,9%). Seroprevalensi bisa beragam dalam pandangan global, tetapi risiko
dari infeksi parasit pada populasi manusia, terutama pada wanita hamil, perlu diberikan
perhatian lebih. Temuan kami menunjukan bahwa kita memerlukan pendekatan holistik untuk
memberikan edukasi pada wanita hamil mengenai toxoplasmosis demi mengurangi angka
kejadian infeksi dan beban penyakit secara keseluruhan dalam masyarakat.
Dalam penelitian ini, 2,5% wanita hamil memiliki hasil false positive pada antibodi IgM antiToxoplasma setelah dilakukan pemeriksaan sampel serum kedua setelah 4 minggu kemudian
untuk menguji seroconversion. Fenomena ini kemungkinan terjadi akibat host natural
antibodi IgM bereaksi dengan anti-Toxoplasma antigen tanpa menimbulkan infeksi.
Sementara itu, wanita hamil dengan kedua antibodi IgG dan IgM anti-Toxoplasma positif
memiliki aviditas IgG yang tinggi, yang mengindikasikan adanya infeksi sebelumnya.
Antibodi IgM yang ditemukan dapat berada untuk beberapa bulan atau tahun setelah infeksi
awal. Sebagaian besar wanita hamil ini berada pada fase trimester pertama kehamilan. Pada
keadaan kedua antibodi IgG dan IgM anti-Toxoplasma positif, kemungkinan dari infeksi akut
atau hasil false IgM positif telah diprediksi. Pengukuran aviditas IgG dapat digunakan sebagai
alat konfirmasi dalam menentukan tahap infeksi pada wanita hamil yang dicurigai terinfeksi
Toxoplasma dengan menggunakan satu sampel serum. Tingginya aviditas antibodi IgG
menunjukan tidak adanya risiko toxoplasmosis kongenital pada fetus, terutapa pada wanita
hamil di trimester pertama, tanpa memperhatikan hasil antibodi IgM.
Data epidemiologi kami menunjukan bahwa kelompok usia 26 tahun, bekerja sebagai buruh
dan mengonsumsi air yang kurang bersih merupakan faktor yang berkaitan erat dengan
infeksi Toxoplasma. Walaupun begitu, tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat
obstetri dan Toxoplasma seropositif dalam penelitian ini. Sebagian besar wanita hamil tidak
memiliki pengetahuan mengenai toxoplasmosis dan hal ini dapat berujung pada Toxoplasma
seropositif, karena mereka tidak mengetahui cara yang tepat untuk melindungi diri sendiri
dari infeksi Toxoplasma.

Mengingat faktor risiko berkaitan lainnya, beberapa dari wanita hamil memiliki riwayat
kontak dengan kucing (37%) tapi tidak memiliki hubungan signifikan dengan infeksi
Toxoplasma. Temuan ini berlawanan dengan beberapa penelitian sebelumnya, di mana
memiliki riwayat kontak dengan kucing merupakan salah satu faktor vital transmisi infeksi
Toxoplasma. Penelitian juga menunjukan bahwa infeksi Toxoplasma dapat ditransmisi oleh
hewan peliharaan lain pada pemilik/majikannya. individu yang mengonsumsi daging yang
terinfeksi kista Toxoplasma merupakan cara transmisi penyakit. Sebagian besar wanita hamil
pernah mengonsumsi daging yang kurang matang, tapi tidak ada hubungan yang signifikan
dengan tingginya infeksi Toxoplasma. Hal ini mungkin dikarenakan tidak adanya kontaminasi
kista Toxoplasma pada daging yang dikonsumsi dan diperlukan penelitian lebih lanjut.
Temuan kami sejalan dengan penelitian sebelumnya, menunjukan bahwa mengonsumsi air
yang kurang bersih (pipa/keran/hujan) memiliki hubungan yang signifikan dengan seropositif
Toxoplasma pada wanita hamil, mengindikasikan air mungkin terkontaminasi dengan ookista
Toxoplasma. Walaupun begitu, seropositif tinggi (32%) juga ditemukan pada wanita hamil
yang mengonsumsi air yang dimasak matang tapi tidak memiliki hubungan yang signifikan.
Berdasarkan hasil di atas, hal ini dapat menjadi indikator yang baik dari faktor lainnya yang
berkontribusi dalam infeksi Toxoplasma dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Kesimpulan
Temuan kami menunjukan tingkat infeksi Toxoplasma yang tinggi pada kelompok wanita
hamil dan menunjukan risiko yang lebih tinggi pada kelompok umur 26 tahun,
statussosioekonomi menengah ke bawah dan mengonsumsi air yang kurang bersih. Pada
pedoman berikutnya perlu ditambahkan untuk mengurangi infeksi Toxoplasma dan akhirnya
memusnahkan beban penyakit; pertama, skrining rutin toxoplasmosis pada wanita usia
produktif dan wanita hamil, terutama pada usia kehamilan muda perlu digalakan untuk
monitoring dan tujuan pencegahan. Kedua, edukasi kesehatan mengenai toxoplasmosis dan
risiko pajanan diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit dan untuk
mengurangi efek infeksi Toxoplasma pada populasi dan khususnya wanita hamil. Terakhir,
diagnosis serologis melalui deteksi antibodi anti Toxoplasma dan pengukuran aviditas IgG
pada wanita hamil mampu membantu menentukan kapan terjadinya infeksi dan pengambilan
keputusan mengenai penatalaksanaan yang tepat terutama pada usia awal kehamilan.