Laporan Praktikum

Enzim, Saliva, Empedu

Kelompok 2.3
Gladys Bernada

41150015

Jourdy Kharisma Pradyana

41150016

Ester Novitasari

41150047

Christian Hans Suprapto

41150055

TiffanyBudijanto

41150057

Darren Eduardo William

41150085

Chatarina Triskawardani Kusumaningrum

41150088

BAB I
PENDAHULUAN
 Landasan Teori
Enzim adalah polimer biologis yang mengkatalis reaksi kimia yang
memungkinkan berlangsungnya kehidupan seperti yang kita kenal. Kebanyakan
enzim adalah protein pengecualian yang penting mencakup RNA ribosom dan
beberapa molekul RNA pemutusan diri (Self cleaving) dan penjalinan diri (Selfsplicing) yang secara kolektif disebut ribosom. Enzim berfungsi sebagai katalis
(untuk semua proses metabolic aktivitas katalitik, spesifitas substrat, dan
stereospesifisitas enzim), dapat meningkatkan laju reaksi setidaknya 10 6. Enzim
bersifat sangat spesifik bagi tiap substrat. Spesifisitas yang sangat tinggi memberi
sel hidup kemampuan untuk secara bersamaan melaksanakan dan secara
independen mengontrol beragam proses kimiawi.
1. Suhu
Rentang suhu enzim untuk bekerja optimal pada manusia umumnya 45-55 0
C. Peningkatan suhu akan meningkatkan energy kinetik molekul dan
frekuensi tumbukan molekul yang bereaksi. Energy panas berlebihan bisa
meningkatkan kinetic enzim hingga ke suatu titik yang melebihi hambatan
energy untuk merusak interaksi nonkovalen (yang mempertahankan struktur
tiga dimensi enzim) dan menyebabkan terurainya rantai polipeptida
sehingga mengalami denaturasi.
2. Konsentrasi Ion Hidrogen
Laju hampir semua reaksi yang dikatalisis oleh enzim memperlihatkan
ketergantungan signifikan pada konsentrasi ion hydrogen (pH). Sebagian
besar enzim intrasel memperlihatkan aktivitas optimal pada nilai pH antara
5-9. Hubungan aktivitas dengan konsentrasi ion hydrogen mencerminkan
keseimbangan antara denaturasi enzim pada pH tinggi atau rendah dan
efek pada keadaaan bermuatan enzim substrat atau keduanya.
Saliva merupakan sekresi yang berkaitan dengan mulut yang terutama
dihasilkan oleh tiga pasang Glandula Salivarius Major yang terdiri dari Glandula
Parotis, Glandula Submandibularis dan Glandula Sublingualis yang terletak di
dalam rongga mulut dan disekresikan melalui duktus pendek ke dalam mulut.
Selain itu juga dihasilkan oleh Glandula Salivarius Minor seperti kelenjar bukal
yang terletak di lapisan mukosa pipi.

2

lesitin (suatu fosfolipid) dan biliriubin (semua berasal dari aktivitas hepatosit) dalam suatu cairan encer alkalis (ditambahkan oleh sel duktus) yang serupa dengan sekresi NaHCO3 pankreas. laktoferin yang mengikat erat besi yang diperlukan untuk multiplikasi bakteri. Lisozim. 2. 3 . Pigmen empedu yang utama lainnya adalah biliverdin yang berwarna hijau coklat. Konstituen utama lainnya empedu adalah Bilirubin. mesobilirubin (kuning). kolesterol. Oksidasi pigmen empedu oleh berbagai pereaksi akan menghasilkan suatu turunan berwarna. Meskipun empedu tidak mengandung enzim pencernaan apapun. Protein dalam saliva yang terpenting adalah amilase. mukus. Saliva mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel makanan sehingga makanan – makanan tersebut menyatu.Saliva mengandung 99. yaitu polisakarida rantai cabang sebagai hasil dari pencernaan amilopektin. yang menetralkan asam dalam makanan dan asam yang dihasilkan oleh bakteri di mulut sehingga karies dentis dapat dicegah Empedu mengandung beberapa konstituen organik. Garam Empedu sendiri merupakan turunan kolesterol yang membantu pencernaan lemak melalui efek deterjennya (emulsifikasi) dan mempermudah penyerapan lemak dengan ikut serta dalam pembentukan misel. Saliva memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase saliva. Istilah efek deterjen merujuk kepada kemampuan garam empedu untuk mengubah globulus lemak besar menjadi emulsi lemak yang terdiri dari banyak butiran lemak yang membentuk suspensi di dalam kimus cair.5% H2O dan 0. misalnya mesobiliverdin (hijau hingga ungu). Produk – produk digesti mecakup maltosa. dan dengan membilas bahan yang mungkin berfungsi sebagai sumber makanan untuk bakteri. 4. enzim yang melisisiskan bakteri tertentu dengan merusak dinding sel . yaitu garam empedu. 3. yang kental dan licin. bahan ini penting dalam pencernaan dan penyerapan lemak. Saliva memiliki sifat antibakteri melalui efek lipat. mesobilisianin (hijau hingga ungu).5% elektrolit serta protein. terutama melalui aktivitas garam empedu. Bilirubin merupakan pigmen empedu utama berwarna jingga / kuning coklat yang berasal dari penguraian sel darah merah yang rusak oleh sistem retikuloendotelial. glikoprotein pengikat yang mengikat antibodi IgA . dan lisozim. yaitu suatu disakarida yang terdiri dari dua molekul glukosa dan α-limit dekstrin . serta menghasilkan pelumasan oleh adanya mukus. Kaya akan dapar bikarbonat. Protein – protein tersebut berperan dalam fungsi saliva sebagai berikut: 1.

pH meter i. Vortex 2. Pipet tetes 3. Tabung reaksi d. Empedu a. Larutan HCl j. Biuret c. Larutan asam nitrat (HNO3 pekat) c. Pipet ukur j.BAB II METODOLOGI A. H2SO4 pekat g. Asam asetat encer e. Iodium h. Tepung kedelai c. Kertas saring f. Fenol merah i. Bongkahan es g. Pipet volumentrik 4 . Larutan ureum l. Asam cuka (CH3COOH) k. Saliva 20 ml b. Larutan empedu encer b. Alat dan Bahan 1. Amilum 1% b. Molisch d. Aquades m. Inkubator atau waterbath f. Tabung reaksi h. Enzim a. Saliva a. Tabung reaksi e. Saliva saring d.

Mengambil masing-masing 1 tetes untuk dijadikkan sampel lalu meletakannya di droplet. Menghentikan perlakuan jika ada satu warna percobaan yang berubah menjadi sama dengan warna yodium (biru) 5 . kemudian divortex A1 B1 C1  3 ml amilum matang 1%  3 ml HNO3. ENZIM  Amilase 1. Mengambil 1 tetes dari tiap perlakuan tiap 10 menitnya dan meneteskannya pada droplet dan ditambahkan 1 tetes yodium kemudian amati perubahan warnanya 5. iii. tiap seri 4 tabung -> A1 A2 A3 A4. kemudian divortex A4 B4 C4 2. kemudian divortex A2 B2 C2  3 ml amilum segar 1%  3 ml saliva saring  3 ml HCl 3 N. Seri A : meletakannya di ruangan dengan suhu kamar Seri B : meletakannya di dalam ice box Seri C : meletakannya di waterbath 37 derajat Celcius 4. Menyiapkan 3 seri. B1 B2 B3 B4. kemudian meneteskan yodium 1 tetes pada masing-masing sampel dan memperhatikan perubahan warnanya. 3. ii. kemudian divortex A3 B3 C3  3 ml amilum segar 1%  3 ml HNO3. C1 C2 C3 C4  3 ml amilum matang 1%  3 ml saliva saring  3 ml HCl 3 N. Perlakuan i. Langkah kerja a.B.

 2 ml saliva saring  5 tetes larutan biuret  Mencampurnya. Menyiapkan 2 buah tabung (A.B)  2 cc larutan ureum  1 tetes fenol merah  2% Asam cuka A  2 cc aquades  1 tetes fenol merah  2% Asam cuka B 2. Mengocok dan mendiamkan 5-10 menit b. dan mencatatnya sebagai pH awal 2. dan mengamati perubahannya  2 ml saliva saring Jadikan pembanding X 6 . mecampurnya  2 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung dengan memiringkan tabung  Menegakkan tabung kembali  2 ml saliva saring  2-5 tetes asam asetat encer  Memvortex. Menunggu sampai warna berubah tepat kuning. dikocok 3. Mengukur pH dengan pH meter. SALIVA 1. A B C  2 ml saliva saring  5 tetes larutan alfanaftol. Meletakannya di penangas dengan suhu 60 derajat celcius selama 3-5 menit 4. Memberikan masing-masing sedikit tepung kedelai (sepucuk sendok sungu) 5. dan mengamati perubahannya. Urease 1.

2. 3ml larutan empedu encer 2.c.  Fungsi empedu sebagai emulgator 1. Menegakkan tabung reaksi dan mendiamkannya sekitar 2 menit. EMPEDU  Gmelin 1. 3. memperhatikan cicin yang terbentuk pada perbatasan 2 lapisan cairan  1. Menegakkan tabung reaksi. Menyediakan 2 tabung reaksi (A. Catat warna yang terbentuk pada perbatasan antara ke-2 cairan Pettenkofer Menambahkan 5 ml larutan empedu encer Menambahkan 5 tetes larutan sukrosa 5% Memiringkan tabung reaksi dan menambahkan 3ml asam sulfat melalui dinding tabung 4. Memiringkan tabung reaksi dan menambahkan melalui dinding : 3ml HNO3 pekat.B)  3 ml aquades  1 tetes minyak  Mengocok dan mengamati perubahannya A  3 ml larutan empedu encer  1 tetes minyak  Mengocok dan mengamati perubahannya B 7 .

Enzim  Amilase No Awal 10’ 20’ 30’ 40’ A1 A2 A3 A4 B1 B2 B3 B4 C1 C2 C3 C4  Urease A B Kuning bening dengan Kuning bening endapan merah B.HASIL PRAKTIKUM A. Saliva 8 .

pH awal = 7 Putih keruh Ungu muda Cincin ungu Ungu tua Bening Putih keruh Bening C. Empedu  Uji Gmelin Hijau Ungu kebiruan seperti cincin Bening kekuningan  Uji Petenkofer Hijau Ungu kehitaman Bening kekuningan  Empedu Emulgator Aquades + Minyak Hasil bening dengan genangan minyak dipermukaan -> tidak teremulsi Larutan empedu encer + minyak Hasil larutan berwarna kehijauan tanpa genangan minyak di permukaan -> teremulsi 9 .

Peningkatan suhu akan meningkatkan energy kinetik molekul dan frekuensi tumbukan molekul yang bereaksi. Laju reaksi tersebut hampir semua reaksi yang dikatalisis oleh enzim memperlihat ketergantungan signifikan pada konsentrasi ion hydrogen. Sebagian besar enzim intrasel memperlihatkan aktivitas optimal pada nilai pH antara 5-9. Energy panas berlebihan bisa meningkatkan kinetic enzim hingga ke suatu titik yang melebihi hambatan energy untuk merusak interaksi nonkovalen (yang mempertahankan struktur tiga dimensi enzim) dan menyebabkan terurainya rantai polipeptida sehingga mengalami denaturasi. Dari sini dapat diketahui bahwa suhu optimal untuk enzim amylase pada saliva adalah 370 C. Sedangkan pH awal saliva adalah 7. Sedangkan pada Seri B yang diletakkan di dalam ice box dan seri C yang diletakkan pada suhu kamar lebih lambat bereaksi (berubah warna) karena bukan merupakan suhu optimal untuk enzim amylase. Setelah kita melakukan percobaan diketahui bahwa enzim yang diletakan di didalam water bath 37 0 celcius (Seri C) lebih cepat mengalami perubahan warna daripada yang diberi perlakuan didalam ice box (Seri B) maupun di dalam suhu kamar (Seri A). Amilase Rentang suhu enzim untuk bekerja optimal pada manusia umumnya 45-550 C. Dari percobaan yang dilakukan tabung reaksi yang diberi perlakuan penambahan HCl (tabung nomer 1 dan 3) mengalami perubahan warna lebih cepat daripada tabung reaksi yang tidak diberi perlakuan (tabung nomer 2 dan 4).7. Sehingga dengan pemberian HCl 10 . Aktivitas enzim juga dipengarui oleh pH. Enzim a.BAB IV PEMBAHASAN 1. Hubungan aktivitas dengan konsentrasi ion hydrogen mencerminkan keseimbangan antara denaturasi enzim pada pH tinggi atau rendah dan efek pada keadaaan bermuatan enzim substrat atau keduanya. pH optimal untuk enzim amylase adalah 6.

Pada perlakuan pertama. Pada tabung no 1 dan 3. sehingga. enzim urease tidak dapat bekerja karena di dalam aquades tidak terdapat ureum. Salah satu perbedaan pada tabung nomer 1 dan 3 dengan tabung no 2 dan 4 adalah ada dan tidaknya saliva. kemudian ditambahkan 2% asam cuka. dipanaskan di penangas dengan suhu 60 derajat Celcius selama 3 hingga 5 menit. terbentuk CO2 dan NH3 (Amonia) yang bila diendapan akan menghasilkan warna merah. b. 11 . reaksi berlangsung lebih cepat karena enzim amylase (yang ada pada saliva) memecah dahulu amilum menjadi karbohidrat. yang digunakan adalah aquades. tidak terdapat saliva yang mengandung amylase sehingga reaksi berlangsung lebih lambat. sebelum ditambahkan tepung kedelai. Enzim urease tersebut bekerja optimal pada suhu 60 derajat. pH mencapai ke pH yang lebih optimal sehingga amilasi dapat bekerja. yang digunakan adalah ureum dan berhasil dipecah oleh tepung kedelai. Sedangkan pada tabung no 2 dan 4. sehingga iodium bisa langsung bekerja. ii. Iodium berfungsi untuk mendeteksi adanya karbohidrat yang ditandai dengan berubahnya warna menjadi ungu atau biru kehitaman. Perlakuan kedua 2 cc aquades ditambahkan 1 tetes fenol merah dan ditambahkan 2% asam cuka dan berubah warna menjadi kuning. Saliva ini mengandung enzim amylase yang berfungsi untuk memecah amilum menjadi karbohidrat. Urease i. maka dari itu. Perlakuan pertama 2 cc larutan ureum (kuning) ditambahkan 1 tetes fenol merah yang berfungsi sebagai indikator asam dan warna tidak berubah (tetap kuning).(yang bersifat asam). Tepung kedelai mengandung enzim urease yang berfungsi untuk mengatalisis hidrolisis dari urea menjadi karbon dioksida dan amonia dengan reaksi (NH2)2CO + H20 -> CO2 + 2NH3. sedangkan pada perlakuan kedua. karena amilum tidak dipecah dulu menjadi karbohidrat sehingga iodin lebih lambat bereaksi.

Warna ungu menunjukkan reaksi positif yang berarti saliva terbukti mengandung karbohidrat. Semakin pekat warna ungu maka semakin pendek rantai karbonnya. sukrosa dan pati (yang terdapat pada saliva) bereaksi positif dengan ditandai terbentuknya warna ungu (cincin ungu). B. Saliva A. dan cairan putih keruh di atas cincin ungu. pada saat inilah protein mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. 12 . pada glukosa. Uji ini dilakukan dengan cara mencampurkan 5 tetes larutan alfanaftol pada 2 ml saliva saring dan menambahkan dengan 2 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung dan dari percobaan dapat terlihat adanya cairan bening pada dasar tabung reaksi. Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai pH isoelektris yaitu pH dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama. Larutan biuret berguna untuk menguji ada-tidaknya protein dalam saliva dengan cara mendeteksi ikatan peptide (ikatan yang khas yang ada pada protein). karena ada enzim amylase (yang merupakan suatu protein) dan musin (yang merupakan suatu glikoprotein) yang terkandung dalam saliva. Penambahan H2SO4 ini bertujuan untuk berkondensing agent dan pembentuk senyawa multifurfural.2. bila positif (terdeteksi protein) maka akan terjadi perubahan warna menjadi ungu. diikuti oleh cincin ungu diatasnya. Furfural atau derivatnya dapat membentuk senyawa berwarna apabila direaksikan dengan alfanaftol Kemudian dapat dilihat hasil percobaan. Uji pada tabung kedua (B) ini adalah untuk membuktikan ada-tidaknya kandungan karbohidrat dalam saliva. Hal ini benar. Perubahan warna saliva yang menjadi ungu tua ini menunjukkan bahwa saliva mengandung protein. Fungsi Alphanaftol adalah pereaksi dalam uji identifikasi karbohidrat yang bekerja sebagai indikator warna. Ketika 2 ml saliva saring diberi 5 tetes larutan biuret warna berubah menjadi ungu tua.

maka endapkan dipisahkan dengan filtratnya. Penambahan asam akan mendenaturasi protein dalam musin sehingga strukturnya menjadi tidak larut dan mengendap. Zat warna empedu tersebut diperoleh dari penguraian sel darah merah yang rusak oleh sistem retikuloendotelial. Empedu a.C. kemudian diuji dengan pereaksi millon. Dalam Uji Gmelin ini. Untuk membuktikan pendapat itu adalah musin. benedict. sedangkan filtratnya merupakan zat lain dalam saliva yang tergolong non-protein. Asam asetat berfungsi untuk mengendapkan musin. Uji Gmelin Uji Gmelin dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaan pigmen empedu. tujuan penambahan HNO adalah agar terjadi oksidasi zat warna empedu. 3. 13 . Warna kuning yang timbul pada bagian bawah lapisan merupakan tanda bahwa terjadi reaksi antara bilirubin dengan HNO3 pekat. lapisan pada bagian tengah berupa cincin berwarna ungu – kehitaman berarti empedu positif mengandung pigmen empedu berupa mesobilicyanin dan pada lapisan pada bagian bawah berwarna bening-kekuningan yang berarti empedu positif mengandung pigmen empedu mesobilirubin. Uji pada tabung ketiga (C) ini dilakukan dengan cara menambah kan 2-5 tetes asam asetat encer ke dalam 2 ml saliva saring dan kemudian divortex. Hasil percobaan menunjukkan cairan yang berwarna putih keruh terbentuk di dalam tabung reaksi dan akhirnya terjadi endapan yang membuktikan di dalam saliva terkandung musin. Hasil dari Uji Gmelin tersebut adalah terlihatnya reaksi antara bilirubin dengan HNO3 yang menghasilkan fase – fase berupa lapisan – lapisan berwarna. dan molisch. lapisan yang paling atas berwarna hijau yang berarti empedu positif mengandung pigmen empedu berupa mesobiliverdin . didapatkan hasil timbulnya 3 warna dalam tabung reaksi. Dalam percobaan.

tujuan dilakukannya percobaan ini adalah membuktikan empedu bersifat emulgator (bahan yang menstabilkan emulsi). Minyak tidak dapat tercampur dengan aquades karena sifatnya yang hidrofobik. Melalui fungsi tersebut. Sedangkan dalam larutan empedu. larutan sukrosa akan bereaksi dengan H2SO4 yang menghasilkan Gula Heksosa yang kemudian membentuk Senyawa Hidroksimetilfurfural. dapat dibuktikan bahwa dengan tidak adanya genangan minyak (teremulsinya minyak dalam larutan empedu) itu berarti garam – garam empedu dapat bersifat sebagai emulgator dengan melarutkan lemak. Uji Fungsi Empedu Sebagai Emulgator Fungsi Empedu sebagai emulgator. Uji Pettenkofer Uji pettenkofer bertujuan untuk membuktikan adanya asam empedu di dalam larutan empedu. di dalam empedu juga terdapat asam . 14 . Selain adanya senyawa tersebut.asam empedu berupa asam kholat dan asam khenodeoksin kholat. Hasil dari Uji Emulgator ini adalah masih terlihatnya genangan minyak pada permukaan aquades yang berarti minyak tidak teremulsi di dalam aquades. c. Asam empedu tersebut yang akan membentuk senyawa kompleks yang menghasilkan lapisan berwarna melalui proses kondensasi dengan furfural (produk hasil dehidrasi karbohidrat oleh H2SO4 pekat. Senyawa tersebut kemudian bereaksi dengan larutan empedu encer sehingga terbentuklah cincin ungu. Pada Uji Pettenkofer. tidak terlihat adanya genangan minyak pada permukaan larutan empedu encer yang berarti membuktikan bahwa empedu mengandung garam – garam empedu yang memiliki peranan untuk mengubah globulus lemak besar menjadi emulsi lemak yang terdiri dari banyak butiran lemak kecil yang kemudian membentuk misel.b.

2. Saliva mengandung protein yang akan mengalami koagulasi bila diberi asam 6.BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa dari landasan teori. Saliva mengandung karbohidrat dibuktikan dengan reaksi positif (cincin ungu) pada uji Molisch 5. Empedu mengandung asam . Enzim amylase akan bekerja lebih optimal bila ditambahkan HCl (asam) 3. dan pembahasan. Garam-garam empedu memiliki sifat emulgator yang melarutkan minyak 15 . Saliva mengandung protein dibuktikan dengan reaksi positif (warna ungu) pada uji Biuret 4. Enzim amylase bekerja optimal pada suhu 37 0 C.asam empedu berupa asam kholat dan asam khenodeoksin kholat yang dibuktikan dengan uji Pettenkofer 8. Empedu mengandung pigmen empedu berupa mesobilicyanin dan mesobilirubin yang dibuktikan dengan uji Gmelin 7. Aquades tidak memiliki sifat emulgator 9. dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. hasil praktikum.

D. Cox. M. B. Hall. (2009). M. J. 27th ed.Robert K. 16 . Guyton and Hall textbook of medical physiology. M. D.. Cengage Learning.. Marks. E. (2013). C. L... & Smith. L.. A. & Sherwood. L. & Guyton.. Marks.. L. CA: Brooks/Cole. Lehninger principles of biochemistry absolute ultimate. 2009. Sherwood. EGC. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Burchart. Biokimia Harper. C. Freeman. Smith. & Lehninger. Study guide: Human physiology : from cells to systems.H.. (2011). Jakarta Nelson.DAFTAR PUSTAKA Murray. M. Marks' basic medical biochemistry: A clinical approach. M.. Belmont. J. C. M. D. A. A. New York: W. Lieberman. (2007).

17 .

18 .

19 .

20 .