MAKALAH

TEORI HUMANISTIK DAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

KELOMPOK 3






SONI KURNIAWAN SATRIA
WAHYU IRAWAN
DEFTY ULANDARI
NADYA ANJARWATI
DESI WAHYUNI NURLAILI
SITI RUKMANA
SERLI KHOTOPIA

(A1C214021)
(A1C214040)
(A1C214015)
(A1C214014)
(A1C214007)
(A1C214008)
(A1C214012)

Dosen Pengampu :
Dra. ROSELI THEIS, M.S

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehdirat Allah yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berisi “Teori
Humanistik dan Contextual Teaching and Learning” dengan baik dan tepat
waktu.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk melengkapi nilai pada
mata kuliah Strategi Belajar Mengajar Matematika pada Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Jambi. Kami sebagai penyusun makalah ini
menyadari bahwa makalah ini masih ada kekurangan baik dari segi penyusunan
bahasanya maupun segi lainnya, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sangat membangun dari Bapak/Ibu dan teman-teman semua demi
kesempurnaan penyusunan makalah yang akan datang.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini kita dapat
mengambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi
terhadap pembaca.

Jambi, Agustus 2016

Penyusun

Daftar isi
KATA PENGANTAR ................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ...............................................................................
1.4 Manfaat Penulisan .............................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Teori Belajar Humanistik ................................................

2.2

Tokoh Teori Humanistik ....................................................................

2.3

Prinsip dalam teori humanistic ..........................................................

2.4

Aplikasi teori belajar humanistic .......................................................

2.5

Implikasi teori belajar humanist ........................................................

2.6

Kelebihan dan kekurangan teori belajar humanistic .........................

2.7

Teori belajar humanistic dalam matematika .....................................

2.8

Konsep dari CTL ...............................................................................

2.9

Aplikasi dari CTL ..............................................................................

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................................
3.2 Saran ..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Makalah
Belajar adalah suatu proses perubahan pada diri individu yaitu perubahan
tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Perubahan sebagai
hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
perubahan

pengetahuannya,

sikap

dan

tingkah

laku,

keterampilan,

kecakapannya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaannya.
Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori
dan belajar, salah satu teori belajar yaitu teori humanistik. Teori humanistik ini
mempelajari perilaku belajar peserta didik dan mengembangkan potensi yang
ada didalam dirinya. Selain itu dalam proses belajar-mengajar siswa juga
dapat membangun makna dan pemahaman dengan bimbingan guru.
Kegiatan belajar mengajar hendaknya memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melakukan hal-hal secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar
yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif. Di sekolah,
terutama guru diberikan kebebasan untuk mengelola kelas yang meliputi
strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang efektif,
disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, guru dan
sumber daya yang tersedia disekolah.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL),
menawarkan bentuk pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. CTL merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa
untuk menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkan serta
menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, peran siswa

dalam pembelajaran CTL adalah sebagai subjek pembelajar yang menemukan
dan membangun sendiri konsep-konsep yang dipelajarinya. Belajar bukanlah
menghafal dan mengingat fakta-fakta, tetapi belajar adalah upaya untuk
mengoptimalkan potensi siswa baik aspek kognitif, afektif, maupun
psikomotor.
1.2.

Rumusan Makalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

1.3.

Apa pengertian dari teori humanistik?
Bagaimana gagasan teori humanistik menurut para ahli?
Apa saja prinsip dalam teori humanistik?
Bagaimana aplikasi teori belajar humanistik?
Apa implikasi teori belajar humanistik?
Kelebihan dan kekurangan teori belajar humanistik?
Bagaimana penerapan teori belajar humanistic dalam matematika?
Bagaimana konsep dari CTL?
Bagaimana aplikasi dari CTL?
Tujuan Makalah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
1.4.

Memahami pengertian dari teori humanistik
Memahami gagasan teori humanistik menurut para ahli
Mengetahui prinsip dalam teori humanistik
Mengetahui aplikasi teori belajar humanistik
Mengetahui implikasi teori belajar humanistik
Mengetahui kelebihan dan kekurangan teori belajar humanistik
Mengetahui penerapan teori belajar humanistic dalam matematika
Memahami konsep dari CTL
Mengetahui aplikasi dari CTL
Manfaat Makalah

Manfaat dari makalah ini bagi pembaca adalah untuk mengenal dan
memahami tentang teori belajar humanistik dan pembelajaran Contextual
teaching and Learning (CTL). Bukan hanya sekedar mengetahui arti dan
gagasan-gagasan dari para ahli, tetapi pembaca juga dapat mengetahui aplikasi
dari teori tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Belajar Humanistik
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan
bermuara pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan
pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak
berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling
ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam
bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa
yang bisa kita amati dalam dunia keseharian.. Teori apapun dapat
dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai
aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai (Budiningsih, 2004:125).
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar
memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya
harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan

sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari
sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu
dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut penulis, teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam
pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta
peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
2

Tokoh Teori Humanistik
1 Arthur Combs
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa
memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan
mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi
karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan
penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain
hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang
tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami
perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut
sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah
keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs
berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi
bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan
sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran
itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk
memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan
menghubungkannya dengan kehidupannya.
Menurut Combs yang dikutip Dahyono (2005:45) memberikan lukisan
persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil)
yang bertitik pusat pada satu.. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari

persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh
peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya
terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan
2

diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Abraham maslow
Teori Maslow yang sangat terkenal adalah teori kebutuhan. Tahapantahapan kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut.

a

Fisiological needs: kebutuhan fisiologisadalah kebutuhan akan makan dan
minum, pakaian dan tempat tinggal, termasuk juga kebutuhan biologis.

b

Safety/security needs: kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan psikis.

c

Social needs : kebutuhan sosial dibutuhkan manusia agar ia dianggap sebagai
warga komunitas sosialnya. Bagi siswa agara dapat belajar dengan baik, ia
harus merasa diterima dengan baik oleh teman-temannya.

d

Esteem needs: kebutuhan ego termasuk keinginan untuk berprestasi dan
memiliki prestise.

e

Selfactualization needs: kebutuhan aktualisasi adalah kebutuhan untuk
membuktikan dan menunjukkan dirinya kepada orang lain.

3

Carl Rogers
Carl R. Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses
belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi. Mereka
berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila
tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh
karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motivasi belajar harus
bersumber pada diri peserta didik.
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar yang bermakna
dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika
dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta
didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran

melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta
didik.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi

menurut teori belajar

humanisme?. Orang belajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu
memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan
caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya
berhasil.
Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut
pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif
dalam : (1) membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa
bersikap positif terhadap belajar, (2) membantu siswa untuk memperjelas
tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar, (3)
membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai
kekuatan pendorong belajar, (4) menyediakan berbagai sumber belajar kepada
siswa, dan (5) menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari
berbagai siswa sebagaimana adanya.

3

Prinsip dalam teori humanistik
Menurut Soemanto (1998: 139-140) berikut ini beberapa prinsip Teori
belajar Humanistik:
1. Manusia mempunyai belajar alami
2. Belajar signifikan terjadi apabila materi plajaran dirasakan murid
mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4. Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan bila
ancaman itu kecil
5. Bila ancaman itu rendah terdapat pangalaman siswa dalam memperoleh
cara.

6. Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa melakukannya
7. Belajar lancar jika siswa dilibatkan dalam proses belajar
8. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang
mendalam
9. Kepercayaan diri pada siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk
mawas diri
10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan
beberapa prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Manusia itu memiliki
keinginan alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap
dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan asimilasi
pengalaman baru, (2). Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila bahan yang
dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa, (3) belajar dapat di tingkatkan
dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara partisipasif jauh
lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang belajar lebih banyak bila
belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar atas prakarsa sendiri yang
melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran maupun perasaan akan lebih baik
dan tahan lama, dan (6) kebebasan, kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam
belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri orang lain tidak begitu
penting.
4

Aplikasi teori belajar humanistic
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama
proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran
guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para
siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna
belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar
kepada

siswa

dan

mendampingi

pembelajaran (Prasetya, 1997: 89).

siswa

untuk

memperoleh

tujuan

Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai
proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi
diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan
potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil
belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat
jelas , jujur dan positif.
3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk
belajar atas inisiatif sendiri
4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses
pembelajaran secara mandiri
5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih
pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung
resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran
siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk
bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
Pembelajaran

berdasarkan

teori

humanistik

ini

cocok

untuk

diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah,
berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap
atas kemauan sendiri.

Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat
oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara
bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar
aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
5

Implikasi teori belajar humanistk
1. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan
berbagai kualitas fasilitator (Gulo, 2002: 220). Ini merupakan ikhtisar yang
sangat singkat dari beberapa (petunjuk) :
a) Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal,
situasi kelompok, atau pengalaman kelas
b) Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat
umum.
c) Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
d) Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar
yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu
mencapai tujuan mereka.
e) Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel
untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
f) Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan
menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan
mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual
ataupun bagi kelompok.
g) Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur
dapat berperan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang
anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang
individu, seperti siswa yang lain.
h) Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya
dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan,
tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau
ditolak oleh siswa

i) Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan
adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
j) Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba
untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
1. Merespon perasaan siswa
2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah
dirancang
3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4. Menghargai siswa
5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan
kebutuhan segera dari siswa)
7. Tersenyum pada siswa

6

Kelebihan dan kekurangan teori belajar humanistic
1
Kelebihan
a. Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis
terhadap fenomena social.
b. Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar.
c. Guru menerima siswa apa adanya, memahami jalan pikiran siswa.

2

Kekurangan
a. Bersifat individual

b. Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan
yang mendukung.
c. Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.
d. Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada
dalam diri mereka.

7

Teori belajar humanistic dalam matematika
Matematika humanistik bukanlah hal baru dalam matematika, sebab
para matematikawan terdahulu seperti Plato, Euclid, atau Mandelbrot telah
mengaitkan matematika dengan keindahan, kreativitas, atau imajinasi dalam
matematika. Pada dasarnya matematika humanistik melibatkan pengajaran
yang isinya humanistik (humanistic content) dengan menggunakan pendidikan
humanistik (humanistic pedagogy) dalam keyakinan bahwa kekurangan
motivasi siswa merupakan akar penyebab dari masalah-masalah sikap dan
literasi dalam pendidikan matematika. Gerakannya adalah mencari kembali
proses-proses pendidikan yang menyenangkan (excitement) dan menantang
(wonderment)

dengan

kegiatan-kegiatan

penemuan

(discovery)

dan

kreasi/karyacipta (Haglund, tanpa tahun). Dengan demikian matematika
humanistik mengarahkan pada pembelajaran yang memberikan keleluasaan
siswa untuk belajar secara aktif yang menyenangkan dan memberikan
kebebasan siswa untuk tertantang melakukan kreasi-kreasi sehingga
mendorong kreativitasnya.
White (dalam Susilo, 2004) menjelaskan bahwa matematika humanistik
mencakup dua aspek pembelajaran, yaitu pembelajaran matematika secara
manusiawi dan pembelajaran matematika yang manusiawi. Aspek pertama
berkaitan dengan proses pembelajaran matematika yang menempatkan siswa
sebagai subjek untuk membangun pengetahuannya dengan memahami
kondisi-kondisi, baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.
Pengetahuan matematika tidak terbentuk dengan menerima atau menghafal
rumus-rumus dan prosedur-prosedur, tetapi dengan membangun makna dari

apa yang sedang dipelajari. Siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan,
membuktikan, mengaplikasikan apa yang dipelajari. Siswa juga mungkin
melakukan kesalahan dan dapat belajar dari kesalahan tanpa takut untuk
berbuat salah dengan melakukan ujicoba atau eksperimen. Guru berperan
sebagai fasilitator dan motivator. Guru menumbuhkan motivasi dalam diri
siswa untuk mempelajari dan memahami matematika secara bermakna serta
memberikan dorongan dan fasilitas untuk belajar mandiri maupun kelompok.
Proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga
intuisi dan kreativitas siswa. Pembelajaran matematika secara manusiawi
akan membentuk nilai-nilai kemanusiaan dalam diri siswa. Selain memahami
dan menguasai konsep matematika, siswa akan terlatih bekerja mandiri
maupun bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten,
berpikir logis, sistematis, menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan
bertanggung jawab. Pada aspek ini kreativitas guru untuk memfasilitasi
kegiatan belajar siswa dengan berbagai metode dan kreativitas siswa untuk
menemukan atau membangun pengetahuannya sendiri saling terpadu dan
menunjang bagi keberhasilan tujuan belajar siswa.
Pembelajaran matematika yang manusiawi berkaitan dengan usaha
merekonstruksi kurikulum matematika sekolah, sehingga matematika dapat
dipelajari dan dialami sebagai bagian kehidupan manusia. Kaitan matematika
dan dunia nyata atau mata pelajaran lain perlu dijabarkan secara konkrit.
Brown (2002) menyebutkan beberapa topik yang dapat dikaitkan dengan
dunia nyata atau mata pelajaran lainnya, misalkan seni (simetri, perspektif,
representasi spasial, dan pola (termasuk fraktal) untuk menciptakan karyakarya artistik), biologi (penggunaan skala untuk mengidentifikasi faktor
pertumbuhan

bermacam

organisme),

bisnis

(optimasi

dari

jaringan

komunikasi), industri (penggunaan matematika untuk mendesain objek-objek
tiga dimensi seperti bangunan), pengobatan (pemodelan suntikan untuk
mengeliminasi

infeksi

penyakit),

fisika

(penggunaan

vektor

untuk

memodelkan gaya). Siswono & Lastiningsih (2007) juga menunjukkan
keterkaitan topik-topik matematika untuk siswa kelas VII yang sesuai dengan
Kurikulum 2006 (KTSP) dengan dunia nyata atau mata pelajaran lain, seperti

bilangan bulat (suhu planet, suhu kota), bilangan pecahan (kemasan obat,
kandungan bahan, dosis minum, resep, laporan survei di koran, iklan), aljabar
(masalah perdagangan, untung-rugi, pajak, sejarah), persamaan dan
pertidaksamaan (dosis minum obat, lalu lintas, fisika), perbandingan (skala,
denah, arsitektur, resep, frekuensi radio), himpunan (polling atau survei),
garis dan sudut (seni, arsitektur), segitiga dan segiempat (seni, arsitektur,
parkir, geografi).
Berdasar pandangan di atas, maka dapat dijabarkan beberapa ciri umum
dari pembelajaran matematika humanistik, seperti disebutkan oleh Haglund
yang dikutip oleh Siswono (2007:3) yaitu:
1. Menempatkan siswa sebagai penemu (inquirer) bukan hanya penerima
fakta-fakta dan prosedur-prosedur;
2. Memberi kesempatan siswa untuk saling membantu dalam memahami
masalah dan pemecahannya yang lebih mendalam;
3. Belajar berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya
dengan pendekatan aljabar;
4. Menunjukkan latar belakang sejarah bahwa matematika sebagai suatu
penemuan atau usaha keras (endeavor) dari seorang manusia;
5. Menggunakan masalah-masalah yang menarik dan pertanyaan terbuka
(open-ended) tidak hanya latihan-latihan;
6. Menggunakan berbagai teknik penilaian tidak hanya menilai siswa
berdasar pada kemampuan mengingat prosedur-prosedur saja;
7. Mengembangkan suatu pemahaman dan apresiasi terhadap ide-ide besar
matematika yang membentuk sejarah dan budaya;

8. Membantu siswa melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola,
termasuk aspek keindahan dan kreativitas;
9. Membantu siswa mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri, dan
penasaran (curiosity);
10. Mengajarkan materi-materi yang dapat digunakan dalam kehidupan seharihari, seperti dalam sains, bisnis, ekonomi, atau teknik.
Beberapa ciri yang diungkapkan Haglund tersebut sebenarnya
mengarah pada ciri-ciri pembelajaran yang menekankan pada aspek berpikir
kreatif atau kreativitas siswa. Berpikir kreatif sebagai proses mental dan
kreativitas sebagai sebuah produk dari berpikir kreatif.
Haylock (1997) mengatakan bahwa berpikir kreatif hampir dianggap
selalu melibatkan fleksibilitas. Bahkan Krutetskii (1976) mengidentifikasi
bahwa fleksibilitas dari proses mental sebagai suatu komponen kunci
kemampuan

kreatif

matematis

pada

siswa-siswa.

Haylock

(1997)

menunjukkan kriteria sesuai tipe Tes Torrance dalam kreativitas (produk
berpikir kreatif), yaitu kefasihan artinya banyaknya respons (tanggapan) yang
dapat diterima atau sesuai, fleksibilitas artinya banyaknya jenis respons yang
berbeda, dan keaslian artinya kejarangan tanggapan (respons) dalam kaitan
dengan sebuah kelompok pasangannya. Haylock (1997) mengatakan bahwa
dalam konteks matematika, kriteria kefasihan tampak kurang berguna
dibanding dengan fleksibilitas. Contoh, jika siswa diminta untuk membuat
soal yang nilainya 5, siswa mungkin memulai dengan 6-1, 7-2, 8-3, dan
seterusnya. Nilai siswa tersebut tinggi, tetapi tidak menunjukkan kreativitas.
Fleksibilitas menekankan juga pada banyaknya ide-ide berbeda yang
digunakan. Jadi dalam matematika untuk menilai produk divergensi dapat
menggunakan kriteria fleksibilitas dan keaslian. Kriteria lain adalah
kelayakan (appropriateness). Respons matematis mungkin menunjukkan
keaslian yang tinggi, tetapi tidak berguna jika tidak sesuai dalam kriteria
matematis umumnya. Contoh, untuk menjawab 8 , seorang siswa menjawab

4. Meskipun menunjukkan keaslian yang tinggi tetapi jawaban tersebut salah.
Jadi, berdasar beberapa pendapat itu kemampuan berpikir kreatif dapat
ditunjukkan dari fleksibilitas, kefasihan, keaslian, kelayakan atau kegunaan.
Indikator ini dapat disederhanakan atau dipadukan dengan melihat kesamaan
pengertiannya menjadi fleksibilitas, kefasihan, dan keaslian. Kelayakan atau
kegunaan tercakup dalam ketiga aspek tersebut.
2.8. Konsep dari CTL
Salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keaktifan
siswa dan mengkaitkan dengan situasi nyata sehari-hari adalah pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL). Berikut ini akan dijelaskan tentang
konsep CTL.
2.8.1.Pengertian CTL
Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
merupakan strategi pembelajaran yang menekankan padaproses keterlibatan
peserta didik secara penuhuntuk dapat menemukan hubungan antara materi
yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta
didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Suyadi, 2013:81).
Menurut

(Majid,

2013:

228)

strategi

pembelajaran

kontekstual

merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotiva
sisiswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengaitkan materi tersebut terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari
(konteks

pribadi,

sosial,

dan

kultural)

sehingga

siswa

memilki

pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer)
dari satu permasalahan/kontekske permasalahan/konteks lainnya.
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat (Majid,2014:180).

Dengan mengacu pada beberapa pendapat di atas, pembelajaran CTL
merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi
pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut
digunakan dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya
untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Materi pelajaran
akan bermakna bagi siswa jika mereka mempelajari materi tersebut melalui
konteks kehidupan mereka. Dengan demikian, belajar bukan sekedar tentang
menghafal teori teori melainkan menghubungkan teori dengan konteks
kehidupan, dimana kelas menjadi miniatur lingkungan mini yang didalamnya
terjadi dialog antara teori dan praktik.
Penerapan CTL dalam proses pembelajaran menekankan pada tiga hal.
Pertama, CTL menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk
menemukan materi pelajaran. Proses belajar dalam konteks CTL tidak
mengharapkan agar peserta didik hanya menerima pelajaran, tetapi proses
mencari dan menemukan sendiri materi pembelajaran tersebut. Kedua, CTL
mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi
yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata. Ketiga, CTL mendorong
peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, materi pelajaran yang diperoleh melaui CTL di dalam kelas
bukan untuk dihafal, melainkan dipahami, dipraktikkan dan dibiasakan.
Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Zahorik yang dikutip (Majid,
2013: 229) terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran
yang menggunakan pendekatan CTL yakni:
a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge).
b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara
mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yatu dengan cara
menyusun konsep sementara (hipotesis), melakukan sharing kepada orang
lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu,
konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
d. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman

tersebut

knowledge).
e. Melakukan

terhadap

refleksi

(reflecting

pengembangna pengetahuan tersebut.

knowledge)

(applying
strategi

2.8.2. Komponen-Komponen dari CTL
Menurut Elaine B. Johnson yang dikutip (Suyadi,2013), CTL (Contextual
Teaching and learning) mempunyai 7 (tujuh) asas yang menjadi landasan
filosofis. Asas-asas tersebut sering juga disebut sebagai komponen-komponen
CTL. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:
1

Konstruktivisme
Konstruktivisme

adalah

proses

membangun

atau

menyusun

pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan
pengalaman pribadinya. Menurut konstruktivisme, pengetahuan memang
berasal dari luar, tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang.
Piaget menyatakan bahwa hakikat pengetahuan adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi
selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
b. Subjek membentuk skema kognitif,kategori, konsep, dan struktur yang perlu
untukpengetahuan.
c. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang
Pada prinsipnya CTL mendorong peserta didik untuk mengkonstruksi
pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman (Suyadi, 2013:
83). Atas dasar ini, penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran CTL
mendorong peserta didik untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri
melalui pengalaman nyata. Pembelajaran dengan model ini pada dasarnya
menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka
2

melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.
Inkuiri
Inkuiri merupakan proses pembelajaran yang di dasarkan pada
pencaraian dan penemuan melalui berpikir secara sistematis.Pengetahuan
bukanlah sejuta fakta hasil dari mengingat, tetapi hasil dari proses
menemukan

sendiri.Dengan

demikian,

dalam

prosesperencanaan,guru

bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal dan dipahami,
tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat
menemukan sendiri materiyang harus dipahami tersebut.

Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah,
yaitu: a) merumuskan masalah, b) mengajukan hipotesa, c) mengumpulkan
data d) menguji hipotesa berdasarkan data yang ditemukan, dan e) membuat
kesimpulan.Proses tersebut disesuakan dengan tingkat atau gradasi maupun
jenjang pendidikan. Langkah-langkah tersebut hanya cocok untuk penerapan
CTL di perguruan tinggi (Suyadi,2013:84).
Pada prinsipnya, penerapan asas CTL harus berdasarkan pada kesadaran
peserta didik akan masalah yang ingin dipecahkan. Peserta didik harus
didorong untuk menemukan masalah terhadap materi yang dipelajari. Dengan
demikian, dalam proses pembelajaran guru hendaknya merancang kegiatan
yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus
dipahaminya.
3

Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya bukan berarti tidak tahu, demikian pula dengan menjawab bukan
berarti telah paham.Sebab bertanya dapat dipanang sebagai refleksi dari
keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertnyaan dapat
dipandang sebagai cerminan kemampuan seseorang dalam berpikir
(Suyadi,2013:85).
Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya dan menjawab

dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a) Menggali informasi, khususnya kemampuan dasar peserta didik dalam
b)
c)
d)
e)

penguasaan materi pelajaran yang akan maupun yang sedang dibahas.
Membangkitkan motivasi peserta didik untuk belajar lebih sungguh-sungguh.
Merangsang keinginantahuan peserta didik terhadap topik-topik terentu.
Memfokuskan peserta didik pada sesuatu yang diinginkannya.
Membimbing peserta didik untuk menemukan atau menyimpulkan materi
pembahasan.
Bertanya dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan: antara siswa
dengan siswa, antar guru dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara
siswa dengan orang lain yang datang di kelas, dan sebagainya. Dalam
kegiatan pembelajaran CTL ini, guru menjadi fasilitator agar siswa dapat

menggali rasa keingintahuannya dengan cara bertanya dan menjawab
pertanyaan. Guru harus dapat memancing dan mendorong agar siswa dapat
menemukan sendiri materi yang dipelajarinya melalui pertanyaan-pertanyaan.
4

Masyarakat Belajar ( Learning Community)
Masyarakat belajar dalam CTL adalah kerja sama atau belajar bersama
dalam sebuah masyarakat atau kelas-kelompok.Kerja sama atau belajar
bersama tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik dalam belajar
kelompok secara formal,maupun dalam lingkungan yang terjadi secara
ilmiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari sharing dengan orang lain, antar
teman dan antar kelompok (Suyadi,2013:85). Dengan adanya kelas-kelompok
diharapkan banyak ide-ide dan pengetahuan yang didapat dari kelompok
tersebut. Dalam pelaksanaan di kelas CTL diusahakan kegiatan pembelajaran
dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya hiterogen. Dari
kelompok-kelompok tersebut yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah
tahu memberitahu yang belum tahu, dan yang cepat mendorong yang lambat.

5

Pemodelan (Modelling)
Asas modelling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan
sesuatu sebagai contoh yang dapat itiru oleh setiap peserta didik
(Suyadi,2013:86). Sebagai contoh, untuk melukis suatu bangun geometri guru
dapat memberikan contoh cara melukis bangun geometri tersebut. Guru
mendemontrasikan cara menggunakan jangka, penggaris untuk melukis,
dengan demikian siswa tahu bagaimana cara yang efektif untuk menggunakan
jangka dan penggaris untuk melukis suatu bangun geometri. Dalam
pembelajaran dengan pendekatan CTL, guru bukanlah satu-satunya model,
seorang siswa yang sudah tahu tentang melukis bangun geometri dapat
ditunjuk untuk mendemonstrasikan kepada teman lain.

6

Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengetahuan dan pengalaman yang
dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa
pembelajaran yang telah diprosesnya. Dalam proses pembelajaran CTL,

setiap akhir pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya
(Suyadi,2013:86).
Agar siswa dapat melakukan refleksi, pada akhir pembelajaran guru
memberikan waktu kepada siswa untuk: menanyakan langsung tentang apaapa yang diperolehnya hari itu, membuat catatan atau jurnal, membuat kesan
dan saran mengenai pembelajaran hari itu, diskusi dan menampilkan hasil
karya.
7

Penilaian Nyata (Authentic Assessment)

Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik.
Penilaian autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran.
Penilaian ini dilakukan secara kontinu selama proses pembelajaran
berlangsung (Suyadi,2013:87). Karakteristik penilaian autentik (Depdiknas,
2002: 20) adalah: (a) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
berlangsung, (b) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, (c) yang
diukur adalah ketrampilan dan performance, bukan mengingat fakta, (d)
berkesinambungan, (e) terintegrasi, (f) dapat digunakan sebagai feed back.
Pada penilaian CTL ini, penilaian tidak difokuskan pada hasil belajar
tetapi pada proses belajar. Penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir
periode, tetapi dilakukan selama proses pembelajaran dan secara terintegrasi
dalam kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkan diperoleh dari kegiatan
nyata yang dikerjakan para siswa pada saat melakukan proses pembelajaran,
bukan dari hasil mengerjakan tes akhir. Penilaian authentik menilai
pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Penilai tidak harus guru,
tetapi bisa juga teman lain atau orang lain.

2.8.3. Nilai- nilai karakter dalam CTL

Menurut Suyadi (2013:89) Berikut ini dikemukakan nilai-nilai karakter
yang dapat ditransmisikan melalui strategi pebelajaran kontekstual.
Setidaknya, terdapat enam nilai karakter dari 18 nilai karakter yang
dicanangkan

kemendikbud,

diantaranya

adalah

nilai

kerja

keras,

toleransi,demokratis, mandiri, semangat kebangsaan maupun cinta tanah air,
peduli lingkungan, dan kepedulian sosial.
1. Kerja keras
Tidak diragukan lagibahwa strategi pembelajaran kontekstual menuntut
peserta didik belajar keras untuk menguasai materi pelajaran, kemudian
menghubunngkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari, selanjutnya
digunakan sebagai strategi pemecahan masalah sehari-hari. Tentu saja pola
pembelajaran seperti ini harus

dilakukan dengan sungguh-sungguh dan

memeras seluruh kemampuan, baik tenaga maupun pikiran.
2. Rasa ingin tahu
Bagi peserta didikyang belajar dengan strategi pembelajaran kontekstual,
menguasaimateri pelajaran yang diberikan guru dikelas saja tidak cukup.
secara alamiah peserta didik akan terus mencari tahu, apa dan bagaimana
materi tersebut berhubungan dan dapat digunakan sebagai pemecahan
masalah. Memang banyak ide maupun gagasan yang muncul, tetapi dalam
praktiknya tidak sedikit peserta didik yang gagal dan harus mencari ide
lainuntuk menghubungkan dan menggunakan materi yang telah dikuasai
tersebut sebagai problem solver. Namun kegagalan demi kegagalan tidak
akan menyurutkan peserta didik untuk memecahkan masalah, karena ia akan
terus berusaha mencari cara lain yang dapat ditempuh. Hal ini menunjukkan
bahwa strategi

pembelajaran kontekstual mampu menanamkan nilai

karakter,khususnya menumbuhkan rasa ingin tahu.
3. Kreatif
Masih berhubungan dengan nilai karakter rasa ingin tahu , nilai karakter
lain dari penggunaan strategi pembelajaran kontekstual adalah kreatif. Proses
menghubungkan materi pelajaran didalam kelas ke dalam pengalaman hidup
sehari-hari, terlebih lagi menggunakannya sebagaiproblem solver, dibutuhkan
kreatifitas yang tinggi, bukan sekedar intelektualitas. Cara-cara kreatif

biasanya lebih elegan dan tepat sasaran daripada cara-cara intelektualitas.
Mengapa demikian? Karena kreatifitas adalah kerja otak kanan yang sarat
dengan fleksibilitas, keindahan dan seni, sedangkan intelektualitas sarat
dengan linieritas, sistematisasi yang rumit, kaku, prosedural dan ketat.
Dengan demikian, strategi pemebelajaran kontekstual mempunyai kekayaan
kreatifitas yang tinggi.
4. Mandiri
Strategi pemebelajaran kontekstual menuntut kemandirian yang tinggi,
meskipun strategi ini dapat dilakukan secara kelompok. Hal ini karena
strategi pembelajaran kontekstual secara tidak langsung menyaksikan
kegagalan harus ditanggung sendiri jika ternyata cara mengatasi masalah
yang dipilih gagal. Konsekuensi ini menuntut kemandirian yang tinggi,
sehingga peserta didik terdorong untuk memilih cara-cara mengatasi masalah
dengan penuh kepercayaan diri, dan tidak terpikir sedikitpun untuk
menyalahkan orang lain atas kegagalan dirinya.
5. Tanggung jawab
Nilai karakter dalam strategi pembelajaran kontekstual yang lain adalah
nilai tanggung jawab. Nilai karakter ini sebenarnya hanyalah kelanjutan dari
nilai-nilai karakter lain, khususnya kreatifitas dan kemandirian.kretifitas
diperlukan keberanian untuk mengambil resiko kegagalan, sedangkan
kemadirian diperlukan sikap keberanian bertanggung jawab atas keputusan
yang diambil. Dengan demikian, nilai tanggung jawab yang terkandung
dalam strategi pembelajaran kontekstual merupan keniscyaan yang tidak
dapat diragukan lagi.
6. Peduli lingkungan sosial
Sebagaimana

disinggunng

diatas,

bahwa

strategi

pembelajaran

kontekstual dapat digunakan secara kelompok ataupun individu. Ketika
strategi ini digunakan secara kelompok, secara otomatis hal itu dapat
menanamkan nilai karakter kepedulian sosial. Sedangkan kemampuan peserta
didik dalam mengaitkan materi kelas dengan kehiudpan nyata serta
menggunakan sebagai problem solver, secara otomatis dapat menanamkan
nilai karakter kepedulian lingkungan.

2.9. Aplikasi dari CTL
Seperti diketahui bersama bahwa pada prinsipnya kegiatan pembelajaran
meliputi tiga tahap kegiatan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.
Demikian pula pada pembelajaran dengan menerapkan model CTL, terlebih
dahulu harus mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang tertuang dalam
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau satuan pelajaran (Satpel) yang
dikembangkan dari silabus pembelajaran. Komponen-komponen RPP model
CTL sama halnya dengan RPP pada umumnya, hanya pada langkah-langkah
kegiatan pembelajaran dikembangkan asas-asas CTL. Pada tahap ini,
dipersiapkan pula media atau alat bantu pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik materi pelajaran dan tahap perkembangan siswa. Tahap
selanjutnya adalah pelaksanaan atau proses pembelajaran yang merupakan
aplikasi dari rencana pembelajaran. Di sinilah dituntut peran guru yang
profesional dalam menerapkan seluruh isi pesan rencana pembelajaran. Peran
guru dalam CTL adalah sebagai manajer yang berperan menciptakan iklim
belajar yang kondusif, sebagai konselor yang senantiasa memberi bimbingan,
sebagai motivator yang selalu memberi semangat dan dorongan kepada siswa
untuk berkembang dalam belajar, mediator sebagai perantara atau
menjembatani untuk menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan
pengalaman sebelumnya, dan sebagai fasilitator yaitu memberikan fasilitas
atau kemudahan bagi siswa dalam mempelajari konsep-konsep yang sedang
dibahasnya.
Contoh Penerapan Model CTL pada Bahan Ajar Geometri
Kelas/ Semester
: VIII/2
Standar kompetensi
:4.Menentukan unsur, bagian lingkaran

serta

ukurannya.
Kompetensi Dasar
Indikator

: 4.2. Menghitung keliling dan luas lingkaran
: - Menghitung keliling lingkaran berdasarkan
unsur-unsurnya
Menghitung luas lingkaran berdasarkan unsurunsurnya

Tujuan Pembelajaran

: - Memperoleh keterampilan dan pengalaman
menghitung keliling lingkaran berdasarkan unsurunsurnya.
- Memperoleh keterampilan dan pengalaman
menghitung luas lingkaran berdasarkan unsur-

Media Pembelajaran

unsurnya
: - 5 buah benda berbentuk lingkaran dengan
berbagai ukuran, seperti kaleng susu, koin, tutup
botol, spidol, dan pengorek pensil.
- Gunting/ cutter
- Pena/pensil
- Karton
- Benang
- Penggaris
- Lembar Kerja Siswa

Prosedur Kegiatan :
a. Kegiatan Awal
1) Mengarahkan siswa pada situasi pembelajaran yang kondusif.
2) Mengadakan apersepsi dengan mengadakan tanya jawab tentang unsurunsur lingkaran luas-luas bangun datar yang telah dipelajari siswa dengan
memberikan contoh bagaimana cara menghitung keliling lingkaran
terhadap benda yang berbentuk lingkaran seperti gelas.
3) Menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menghitung keliling dan luas
lingkaran berdasarkan unsur-unsurnya
b. Kegiatan Inti :
1) Mengembangkan materi pelajaran melalui demonstrasi dengan meminta
siswa untuk menghitung keliling dan luas gelas. (pemodelan)
2) Siswa diminta untuk menjelaskan hasil pekerjaannya tersebut, sementara
siswa yang lainnya diminta untuk mengomentari hasil pekerjaan
temannya.

Dengan

bimbingan

guru,

siswa

mengkonstruksi

pengetahuannya berdasarkan pengalaman sebelumnya tentang unsur-unsur
lingkaran serta mengkonstruksi pengetahuan barunya berdasarkan
pengalamannya tersebut. (konstruktivisme)
3) Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari 3-4 orang. Guru
menjelaskan

kegiatan

yang

akan

dilakukan

siswa

yaitu

secara

berkelompok. siswa melakukan eksplorasi untuk menemukan dan

menghitung keliling dan luas lingkaran dari benda-benda yang berbentuk
lingkaran. (inkuiri dan masyarakat belajar)
4) Membagikan LKS kepada masing-masing kelompok siswa dan bendabenda berbentuk lingkaran yang berlainan sesuai jumlah kelompok.
5) Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menemukan dan menghitung
keliling serta luas bangun datar lingkaran dari benda-benda berbentuk
lingkaran

tersebut.

Selama

siswa

berdiskusi,

guru

berkeliling

membimbing, memotivasi, dan memfasilitasi siswa serta mengamati
aktivitas siswa selama diskusi. (inkuiri, bertanya dan masyarakat
belajar)
6) Siswa melaporkan hasil diskusi masing-masing kelompok dalam diskusi
kelas. Siswa diminta menjelaskan hasil temuannya kepada rekan-rekannya
dengan

memperagakan

kembali

di

depan

kelas.

Siswa

lainnya

mengomentari hasil pekerjaan rekannya.
7) Siswa melakukan tanya-jawab dalam diskusi kelas antar kelompok, antara
siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan guru sehingga diperoleh
kesimpulan diskusi. (bertanya dan masyarakat belajar)
8) Siswa melakukan refleksi dengan menuliskan kesan keberhasilannya atau
kekurangpahamannya tentang konsep yang telah dipelajarinya berupa
jurnal sehingga guru dapat melakukan tindak lanjut. (refleksi)
c. Kegiatan Akhir:
1) Melakukan pengamatan pada aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
2) Mengadakan penilaian berupa latihan. (penilaian nyata)
3) Mengadakan tindak lanjut.

BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan tentang teori humanistik dan pembelajaran
Contextual Teaching and Learning, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1 Teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang
mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik
mampu mengembangkan potensi dirinya.

2

Teori belajar humanistik menurut pandangan para ahli yaitu Arthur Combs
bahwa belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu, sedangkan teori
Maslow yang sangat terkenal adalah teori kebutuhan, dan teori belajar
humanisme menurut Carl Rogers bahwa motivasi belajar harus bersumber

3

pada diri peserta didik.
Roger sebagai ahli dari teori belajar humanisme mengemukakan beberapa
prinsip belajar yang penting yaitu: (1). Manusia itu memiliki keinginan
alamiah untuk belajar, memiliki rasa ingin tahu alamiah terhadap
dunianya, dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi dan
asimilasi pengalaman baru, (2). Belajar akan cepat dan lebih bermakna bila
bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan siswa, (3) belajar dapat
di tingkatkan dengan mengurangi ancaman dari luar, (4) belajar secara
partisipasif jauh lebih efektif dari pada belajar secara pasif dan orang
belajar lebih banyak bila belajar atas pengarahan diri sendiri, (5) belajar
atas prakarsa sendiri yang melibatkan keseluruhan pribadi, pikiran
maupun perasaan akan lebih baik dan tahan lama, dan (6) kebebasan,
kreatifitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan
evaluasi diri orang lain tidak begitu penting.

4

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit
selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode
yang diterapkan.

5
6

Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
Kelebihan teori humanistik yaitu:
a) Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap,
analisis terhadap fenomena social.
b) Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar.
c) Guru menerima siswa apa adanya, memahami jalan pikiran siswa.
Sedangkan Kekurangan teori humanistik yaitu:
a) Bersifat individual
b) Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan
lingkungan yang mendukung.
c) Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.
d) Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensipotensi yang ada dalam diri mereka.

7

Ciri umum dari pembelajaran matematika humanistik yaitu:

a) Menempatkan siswa sebagai penemu (inquirer) bukan hanya penerima
fakta-fakta dan prosedur-prosedur;
b) Memberi kesempatan siswa untuk saling membantu dalam memahami
masalah dan pemecahannya yang lebih mendalam;
c) Belajar berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah, tidak
hanya dengan pendekatan aljabar;
d) Menunjukkan latar belakang sejarah bahwa matematika sebagai suatu
penemuan atau usaha keras (endeavor) dari seorang manusia;
Menggunakan masalah-masalah yang menarik dan pertanyaan terbuka
(open-ended) tidak hanya latihan-latihan;
e) Menggunakan berbagai teknik penilaian tidak hanya menilai siswa
berdasar pada kemampuan mengingat prosedur-prosedur saja;
f) Mengembangkan suatu pemahaman dan apresiasi terhadap ide-ide besar
matematika yang membentuk sejarah dan budaya;
g) Membantu siswa melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola,
termasuk aspek keindahan dan kreativitas;
h) Membantu siswa mengembangkan sikap-sikap percaya diri, mandiri,
dan penasaran (curiosity);
i) Mengajarkan materi-materi yang dapat digunakan dalam kehidupan
8

sehari-hari, seperti dalam sains, bisnis, ekonomi, atau teknik.
Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu
konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran yang
dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan dengan
menggunakan

9

pengalaman

dan

pengetahuan

sebelumnya

untuk

menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri.
Nilai-nilai karakter yang terdapat dalam CTL yaitu kerja keras, rasa ingin

tahu, kreatif, mandiri, tanggung jawab, dan peduli lingkungan sosial.
10 Komponen-komponen dalam CTL yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya,
masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian nyata.
11 Aplikasi CTL dapat digunakan pada materi geometri.
3.2. Saran
Dengan adanya makalah ini, penulis berharap pembaca dapat memahami
apa

yang

telah

penulis

sampaikansehingga

pembaca

dapat

mengaplikasikannya pada kehidupan terutama pada calon guru. Penulis
berharap adanya kritik dan saran yang membangun agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.

Daftar Pustaka
Budiningsih, Asri. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Brown, Stephen I. 2002. Humanistic Mathematics: Personal Evolution and
Excavations. http://www2.hmc.edu/www_common/hmjn/brown.pdf
Dahyono, M. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Haylock, Derek. 1997. Recognising Mathematical Creativity in Schoolchildren.
http://www.fiz.karlsruhe.de/fiz/publications/zdm ZDM Volum 29 (June 1997)
Number 3. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Download 6 Agustus 2002
https://www.scribd.com/doc/109348358/Kekurangan-Dan-Kelebihan-TeoriHumanistik
https://www.journal.uin-suka.ac.id/media/artikel/BDY120401-22-26-1-PB.pdf
Prasetya Irawan.dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi dan Keterampilan Mengajar.
Jakarta: PAU-PPAI Dirjen Dikti Depdikbud.
Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Siswono, Tatag Y.E. & Lastiningsih, Netti. 2007. Matematika 1. SMP dan MTs
untuk Kelas VII. Jakarta: Esis Imprint Erlangga
Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi pendidikan, Landasan kerja Pemimpin
Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Susilo, Frans. 2004. Matematika Humanistik. Yogyakarta: Basis

Suyadi. 2013. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.