Menuju Desa Sejahtera

Salah satu unggulan kebijakan rezim Jokowi (dari program Nawacita) adalah
membangun Indonesia dari pinggir. Dalam konteks ini, membangun dari pinggir mengandung
dimensi juga membangun dari desa karena desa dalam mainstream pembangunan berada di
wilayah pinggir pembangunan. Proses pembangunan yang selama puluhan tahun dilaksanakan
di Indonesia memiliki pola berpusat pada pembangunan wilayah urban atau perkotaan daripada
wilayah desa.
Tulisan pendek ini menyoroti politik pembangunan desa dari sisi perspektif pilihan rasional
kelembagaan dan jaringan kelembagaan. Analisis pilihan rasional dilakukan dengan secara
kritis menyoroti pilihan-pilihan pengaturan, kelembagaan, serta kebijakan yang disusun oleh
Pemerintah Pusat maupun daerah. Sementara analisis jaringan kelembagaan difokuskan
mengenai bagaimana lembaga-lemnbaga pemerintah bekerja sama untuk mewujudkan desa
sejahtera. Artikel diakhiri dengan analisis tentang hubungan antara pilihan politik pembangunan
desa dengan upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat desa.

Pilihan Rasional
Keluarnya Undang-Undang Nomor 6/2014 tentang Pemerintahan Desa dapat dinilai
sebagai satu langkah maju dalam komitmen politik Pemerintah Pusat untuk menyediakan
kerangka dasar pengaturan pemerintahan desa. Dalam konteks Pusat, pembuatan undangundang ini dapat diasumsikan sebagai satu pilihan terbaik untuk memastikan pembangunan
desa, dan semestinya juga pembangunan kelembagaan pemerintahannya, memiliki kerangka
dasar hukum kuat. Meski demikian, keluarnya undang-undang ini tetap menyisakan pertanyaan
besar mengenai bagaimana kelembagaan pemerintahan desa akan dapat diperbaiki sesuai

dengan komitmen Pusat untuk pendanaan desa yang langsung. Bappeda. Kabupaten juga memiliki berbagai lembaga berkenaan dengan desa dan pemerintahan desa. Kemendagri. yang memiliki wewenang atas desa. masing-masing lembaga pemerintah (pusat maupun daerah) yang berhubungan . Seperti diketahui terdapat banyak lembaga pemerintah. Menjadi pertanyaan kemudian. melainkan membangun sub-sub lembaga yang bisa melaksanakan fungsi administrasi pemerintahan. Salah satu perubahan penting dalam administrasi pemerintahan desa adalah desa dipersyaratkan untuk dapat menyusun dokumen-dokumen administrasi maupun dokumen terkait rencana pembangunan di desa (RPJMDes dan APBDes). dan Kemen-PDT. provinsi. Biro Otonomi Daerah. yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki kewenangan atas pemerintahan desa. terdapat paling tidak Bappenas. Di tingkat Provinsi. fungsi pembangunan. dan Biro Tata Pemerintahan memiliki wewenang berbeda-beda atas pemerintahan desa. misalnya. Kenyataannya. Di pusat. lebih pasti serta lebih sesuai dengan kebutuhan. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD). apakah pengaturan kelembagan seperti dalam undangundang adalah pilihan rasional untuk kerangka kelembagaan pemerintahan desa. belum terlihat upaya sungguh-sungguh dan sistematis agar pemerintahan desa menjadi lebih mampu melaksanakan fungsi administrasi pemerintahan. maupun kabupaten/kota. baik pusat. terdapat berbagai lembaga yang masing-masing memiliki kewenangan berbeda berkenaan dengan desa. dan fungsi pemberdayaan masyarakat desa. Sampai dengan pertengahan 2015. Bagaimana masing-masing lembaga ini bisa berkoordinasi dan bekerja sama untuk melakukan pembangunan kelembagaan pemerintahan desa? Membangun kelembagaan pemerintahan desa bukan hanya berarti menyusun perangkat lembaga pemerintahan.

masyarakat desa perlu diajak untuk dapat memiliki lembaga masyarakat yang dapat melakukan upaya pemberdayaan secara mandiri atau menjadi masyarakat kreatif untuk memecahkan masalah mereka tanpa terlalu menggantungkan diri pada pihak pemerintah. Bagaimana lembaga-lembaga tersebut bisa membentuk jaringan kerja sama? Satu potensi yang bisa dimanfaatkan untuk membangun jaringan kerja sama lembaga adalah badan usaha milik desa (bumdes) yang pengurus dan anggotanya dapat merupakan gabungan unsur pemerintah maupun unsur masyarakat. Pengalaman penulis menunjukkan kerja sama erat antara unsur pemerintah (yang terbiasa bekerja dengan menggunakan aturan sebagai patokan . Untuk itu. Bahasa tupoksi menunjukkan lembaga pemerintah dan pilihan-pilihan kelembagan yang disusun lebih merupakan refleksi aturan dibanding pilihan rasional. Kerangka aturan sebenarnya sudah menjamin pembangunan desa dilaksanakan dengan jaringan kelembagaan desa yang kuat. Tidak ada desa yang bisa maju tanpa partisipasi masyarakat. serta paling tepat untuk munculnya pemerintahan (dari pusat sampai desa) yang juga bisa bertindak rasional. baik dari pemerintah maupun masyarakat.dengan pemerintahan desa lebih disibukkan dan sibuk dengan tupoksi masing-masing. Bagaimana undang-undang dan peraturan yang lebih rendah menjamin bahwa rasionalitas menjadi dasar bagi penyusunan struktur lembaga yang paling tepat bagi kebutuhan pembangunan desa. Jaringan Kelembagaan Keberhasilan pembangunan desa tidak dapat dicapai hanya dengan memperkuat kelembagaan pemerintahan desa. baik tentang struktur lembaga yang rasional maupun orientasi tindakan lembaga yang rasional. Kelihatannya perkembangan terbaru dalam politik pemerintahan masih belum mendorong munculnya kelembagaan rasional.

lembaga yang dibentuk dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Sebaliknya. Pertanyaan terakhir yang penulis kemukakan adalah bagaimana kita mengaitkan politik pembangunan pemerintahan desa dengan upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat desa? Kelihatannya tema pembangunan kelembagaan pemerintahan terpisah dari isu kesejahteraan. dan saat ini pembangunan desa pada umumnya belum dibangun dengan berdasarkan prinsip kerja sama atau memaksimalkan jaringan kelembagaan yang ada di desa. lembaga pun bisa menjadi sumber ketidaksejahteraan masyarakat (dari sisi sikap yang tidak senang). Beberapa kelompok wanita tani yang berhasil di tingkat nasional. Jaringan kerja sama lembaga adalah kunci keberhasilan pembangunan desa. Lembaga-lembaga di tingkat desa pada umumnya masih bekerja sendiri-sendiri. Jaringan yang ada pada umumnya bersifat individual dan bukan lembaga. jauh dari kata berjaringan. jaringanlah yang menjadi kunci sukses aktivitas.atau standar kerja) dan unsur masyarakat (yang biasanya bekerja berdasar prinsip-prinsip inisiatif dan kemandirian) lebih menjamin keberhasilan jangka panjang suatu kegiatan. misalnya. padahal keduanya berkaitan. dijamin akan menyebabkan munculnya . padahal pada masa globalisasi. apalagi kemudian terbukti bekerja untuk masyarakat. Lembaga yang dibangun dengan mengasingkan atau tidak melibatkan masyarakat pasti tidak akan disenangi masyarakat. Pertanyaan apakah masyarakat setuju dan senang dengan format aturan hukum serta lembaga yang dibentuk untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan desa adalah pertanyaan yang sekaligus memasukkan unsur kesejahteraan dalam pembangunan lembaga. biasanya sudah mendapat pengalaman bekerja dengan dukungan kebijakan pemerintah maupun petugas penyuluh lapangan dalam waktu yang cukup lama. Dengan demikian.

*Dosen FISIP Unila. Membangun lembaga dan melakukan pembangunan kesejahteraan masyarakat. Pengurus Kagama Lampung bersama masyarakat adalah kunci menuju .kesejahteraan masyarakat. dari prosesnya. Rasa memiliki terhadap lembaga pada umumnya akan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan mandiri tanpa perlu didorong-dorong.