Pemeriksaan laboratorium untuk Diabetes Mellitus

:
1. Kadar glukosa darah atau plasma (puasa atau setelah makan)
Bila normal (euglikemia), bila tinggi (hiperglikemia) dan rendah (hipoglikemia).
Pemeriksaan terhadap kadar gula dalam darah vena pada saat pasien puasa 12 jam
sebelum pemeriksaan ( GDP/ gula darah puasa/nuchter) dan 2 jam setelah makan (
post prandial).
Nilai normal:
Dewasa

: 70-110 mg/dl

Wholeblood : 60-100 mg/dl
Bayi baru lahir : 30-80 mg/dl
Anak

: 60-100 mg/dl

Nilai normal kadar gula darah 2 jam setelah makan :
Dewasa

: < 140 mg/dl/2 jam

Wholeblood

: < 120 mg/dl/2 jam

Hasil pemeriksaan berulang di atas nilai normal kemungkinan menderita Diabetes
Melitus . Pemeriksaan glukosa darah toleransi adalah pemeriksaan kadar gula
dalam darah puasa ( sebelum diberi glukosa 75 gram oral) , 1 jam setelah diberi
glukosa dan 2 jam setelah diberi glukosa . Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat
toleransi tubuh terutama insulin terhadap pemberian glukosa dari waktu ke waktu.
2. Hemoglobin Glikosilat ( HbA1C)
Bisa normal atau tinggi.
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah , untuk memperoleh informasi
kadar gula darah yang sesungguhnya, karena pasien tidak dapat mengontrol hasil
tes, dalam kurun waktu 2-3 bulan. Tes ini berguna untuk mengukur tingkat ikatan
gula pada hemoglobin A(A1C) sepanjang umur sel darah merah (120 hari).

Semakin tinggi nilai A1C pada penderita DM semakin potensial beresiko terkena
komplikasi. Pada penderita DM tipe II akan menunjukkan resiko komplikasi
apabila A1C dapat dipertahankan di bawah 8% (hasil studi United Kingdom
prospektif diabetes ). Setiap penurunan 1% saja akan menurunkan resiko gangguan
pembuluh darah (mikrovaskuler) sebanyak 35%, kompikasi DM lain 21% dan
menurunnya resiko kematian 21%. Kenormalan A1C dapat diupayakan dengan
mempertahankan kadar gula darah tetap normal sepanjang waktu, tidak hanya pada
saat diperiksa kadar gulanya saja yang sudah dipersiapkan sebelumnya ( kadar gula
rekayasa penderita ). Olahraga teratur ,diet, dan taat obat adalah kuncinya.
3. Lipid serum
Bisa normal atau abnormal
4. Keton urine
Bisa negatif atau positif.
5. Glukosa sewaktu
Pemeriksaan glukosa darah tanpa persiapan persetujuan untuk melihat kadar gula
darah sesaat tanpa puasa dan tanpa pertimbangan waktu setelah makan . Dilakukan
untuk penjajagan awal pada penderita yang diduga DM sebelum dilakukan
pemeriksaan yang sungguh-sungguh dipersiapkan misalnya nucther, setelah makan
dan toleransi.
6. Fruktosamin
Merupakan gula jenis lain yaitu fruktosa selain galaktosa , sakarosa, dan lainlain.Fruktosa ( peningkatan kadar fruktosa dalam darah ) menggambarkan adanya
defisiensi enzim yang juga berpengaruh pada berkurangnya kemampuan tubuh
mensintesis glukosa dari gula jenis lain sehingga terjadi hipoglikemia
.Pemeriksaan fruktosamin menggunakan metode enzymatic seperti pada
pemeriksaan Glukosa.

Pemeriksaan
Untuk Dx DM: pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa, 2 jam setelah makan/post
prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa per-oral (TTGO).1,2,3,4,5,7
Antibodi untuk petanda (marker) adanya proses autoimun pada sel beta adalah islet cell
cytoplasmic antibodies (ICA), insulin autoantibodies (IAA), dan antibodi terhadap glutamic acid
decarboxylase (anti-GAD). ICA bereaksi dengan antigen yang ada di sitoplasma sel-sel endokrin
pada pulau-pulau pankreas. ICA ini menunjukkan adanya kerusakan sel. Adanya ICA dan IAA
menunjukkan risiko tinggi berkembangnya penyakit ke arah diabetes tipe 1. GAD adalah enzim
yang dibutuhkan untuk memproduksi neurotransmiter g-aminobutyric acid (GABA). Anti GAD
ini bisa teridentifikasi 10 tahun sebelum onset klinis terjadi. Jadi, 3 petanda ini bisa digunakan
sebagai uji saring sebelum gejala DM muncul.2
Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan pemeriksaan C-peptide. Konsentrasi Cpeptide merupakan indikator yang baik untuk fungsi sel beta, juga bisa digunakan untuk
memonitor respons individual setelah operasi pankreas. Konsentrasi C-peptida akan meningkat
pada transplantasi pankreas atau transplantasi sel-sel pulau pankreas.2
Sampling untuk Pemeriksaan Kadar Gula Darah
Untuk glukosa darah puasa, pasien harus berpuasa 6–12 jam sebelum diambil darahnya. Setelah
diambil darahnya, penderita diminta makan makanan seperti yang biasa dia makan/minum
glukosa per oral (75 gr ) untuk TTGO, dan harus dihabiskan dalam waktu 15–20 menit. Dua jam
kemudian diambil darahnya untuk pemeriksaan glukosa 2 jam PP.2,3,4
Darah disentrifugasi untuk mendapatkan serumnya, kemudian diperiksa kadar glukosanya. Bila
pemeriksaan tidak langsung dilakukan (ada penundaan waktu), darah dari penderita bisa
ditambah dengan antiglikolitik (gliseraldehida, fluoride, dan iodoasetat) untuk menghindari
terjadinya glukosa darah yang rendah palsu.2,8,9 Ini sangat penting untuk diketahui karena
kesalahan pada fase ini dapat menyebabkan hasil pemeriksaan gula darah tidak sesuai dengan
sebenarnya, dan akan menyebabkan kesalahan dalam penatalaksanaan penderita DM.
Metode Pemeriksaan Kadar Glukosa
Metode pemeriksaan gula darah meliputi metode reduksi, enzimatik, dan lainnya. Yang paling
sering dilakukan adalah metode enzimatik, yaitu metode glukosa oksidase (GOD) dan metode
heksokinase.1,2,8,9
Metode GOD banyak digunakan saat ini. Akurasi dan presisi yang baik (karena enzim GOD
spesifik untuk reaksi pertama), tapi reaksi kedua rawan interferen (tak spesifik). Interferen yang
bisa mengganggu antara lain bilirubin, asam urat, dan asam askorbat.2,8
Metode heksokinase juga banyak digunakan. Metode ini memiliki akurasi dan presisi yang
sangat baik dan merupakan metode referens, karena enzim yang digunakan spesifik untuk
glukosa.8 Untuk mendiagosa DM, digunakan kriteria dari konsensus Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia tahun 1998 (PERKENI 1998) 3,4,7
Pemeriksaan untuk Pemantauan Pengelolaan DM
Yang digunakan adalah kadar glukosa darah puasa, 2 jam PP, dan pemeriksaan glycated

hemoglobin, khususnya HbA1C, serta pemeriksaan fruktosamin.2,3,4,7,10 Pemeriksaan
fruktosamin saat ini jarang dilakukan karena pemeriksaan ini memerlukan prosedur yang
memakan waktu lama.7 Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan ialah urinalisa rutin. Pemeriksaan
ini bisa dilakukan sebagai self-assessment untuk memantau terkontrolnya glukosa melalui
reduksi urin.1,7
Pemeriksaan HbA1C
HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N
terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui
proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan ireversibel.7,10,11 Metode pemeriksaan
HbA1C: ion-exchange chromatography, HPLC (high performance liquid chromatography),
Electroforesis, Immunoassay, Affinity chromatography, dan analisis kimiawi dengan
kolorimetri.1,2,10,11
Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom,
kekuatan ion, dan pH dari bufer. Interferens yang mengganggu adalah adanya HbS dan HbC
yang bisa memberikan hasil negatif palsu.2,10
Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange chromatography, bisa diotomatisasi, serta
memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi
metode referensi.10
Metode agar gel elektroforesis: hasilnya berkorelasi baik dengan HPLC, tetapi presisinya kurang
dibanding HPLC. Hb F memberikan hasil positif palsu, tetapi kekuatan ion, pH, suhu, HbS, dan
HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini.2
Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C, tidak mengukur HbA1C yang labil
maupun HbA1A dan HbA1B, mempunyai presisi yang baik.2
Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1C tidak
mengganggu penentuan glycated hemoglobin, tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbF, HbS,
ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini, tetapi metode ini mengukur keseluruhan
glycated hemoglobin, sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode
HPLC.2,10
Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam), lebih spesifik karena tidak dipengaruhi nonglycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya waktu lama, sampel besar, dan satuan
pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi, yaitu m mol/L.10
Interpertasi Hasil Pemeriksaan HbA1C
HbA1C akan meningkat secara signifikan bila glukosa darah meningkat. Karena itu, HbA1C bisa
digunakan untuk melihat kualitas kontrol glukosa darah pada penderita DM (glukosa darah tak
terkontrol, terjadi peningkatan HbA1C-nya ) sejak 3 bulan lalu (umur eritrosit). HbA1C
meningkat: pemberian Tx lebih intensif untuk menghindari komplikasi 2,3,4,5,7,10,11
Nilai yang dianjurkan PERKENI untuk HbA1C (terkontrol): 4%-5,9%.4 Jadi, HbA1C penting
untuk melihat apakah penatalaksanaan sudah adekuat atau belum.1,18 Sebaiknya, penentuan
HbA1C ini dilakukan secara rutin tiap 3 bulan sekali.4

Pemeriksaan untuk Memantau Komplikasi DM
Komplikasi spesifik DM: aterosklerosis, nefropati, neuropati, dan retinopati. Pemeriksaan
laboratorium bisa dilakukan untuk memprediksi beberapa dari komplikasi spesifik tersebut,
misalnya untuk memprediksi nefropati dan gangguan aterosklerosis.2,3,4,6,7
Pemeriksaan Mikroalbuminuria
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi nefropati: mikroalbuminuria serta heparan sulfat urine
(pemeriksaan ini jarang dilakukan).1,2,3,4,5,6,7,12,13,1,15,16 Pemeriksaan lainnya yang rutin
adalah pemeriksaan serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.4
Mikroalbuminuria: ekskresi albumin di urin sebesar 30-300 mg/24 jam atau sebesar 20-200
mg/menit.2,3,6,14 Mikroalbuminuria ini dapat berkembang menjadi makroalbuminuria. Sekali
makroalbuminuria terjadi maka akan terjadi penurunan yang menetap dari fungsi ginjal. Kontrol
DM yang ketat dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada beberapa pasien, sehingga perjalanan
menuju ke nefropati bisa diperlambat.3,4,6 Pengukuran mikroalbuminuria secara semikuantitatif
dengan menggunakan strip atau tes latex agglutination inhibition, tetapi untuk memonitor pasien
tes-tes ini kurang akurat sehingga jarang digunakan. Yang sering adalah cara kuantitatif: metode
Radial Immunodiffusion (RID), Radio Immunoassay (RIA), Enzym-linked Immunosorbent assay
(ELISA), dan Immunoturbidimetry. Metode kuantitatif memiliki presisi, sensitivitas, dan range
yang mirip, serta semuanya menggunakan antibodi terhadap human albumin.2,6,12,14 Sampel
yang digunakan untuk pengukuran ini adalah sampel urine 24 jam.15
Interpretasi Hasil Pemeriksaan Mikroalbuminuria
Menurut Schrier et al (1996), ada 3 kategori albuminuria, yaitu albuminuria normal (200
mg/menit).2,17 Pemeriksaan albuminuria sebaiknya dilakukan minimal 1 X per tahun pada
semua penderita DM usia > 12 tahun.17
Pemeriksaan untuk Komplikasi Aterosklerosis
Pemeriksaan untuk memantau komplikasi aterosklerosis ini ialah profil lipid, yaitu kolesterol
total, low density lipoprotein cholesterol (LDL-C), high density lipoprotein cholesterol (HDL-C),
dan trigliserida serum, serta mikroalbuminuria.4,5,7,18 Pada pemeriksaan profil lipid ini,
penderita diminta berpuasa sedikitnya 12 jam (karena jika tidak puasa, trigliserida > 2 jam dan
mencapai puncaknya 6 jam setelah makan).21
Pemeriksaan untuk Komplikasi Lainnya
Pemeriksaan lainnya untuk melihat komplikasi darah dan analisa rutin. Pemeriksaan ini bisa
untuk melihat adanya infeksi yang mungkin timbul pada penderita DM.3
Untuk pemeriksaan laboratorium infeksi, sering dibutuhkan kultur (pembiakan), misalnya kultur
darah, kultur urine, atau lainnya. Pemeriksaan lain yang juga seringkali dibutuhkan adalah
pemeriksaan kadar insulin puasa dan 2 jam PP untuk melihat apakah ada kelainan insulin darah
atau tidak. Kadang-kadang juga dibutuhkan pemeriksaan lain untuk melihat gejala komplikasi
dari DM, misalnya adanya gangguan keseimbangan elektrolit dan asidosis/alkalosis metabolik
maka perlu dilakukan pemeriksaan elektrolit dan analisa gas darah. Pada keadaan ketoasidosis
juga dibutuhkan adanya pemeriksaan keton bodies, misalnya aceton/keton di urine, kadar asam

laktat darah, kadar beta hidroksi butarat dalam darah, dan lain-lainnya. Selain itu, mungkin untuk
penelitian masih dilakukan pemeriksaan biomolekuler, misalnya HLA (Human Lymphocyte
Antigen) serta pemeriksaan genetik lain.
Kesimpulan
DM adalah kelainan metabolisme karbohidrat yang merupakan kelainan endokrin terbanyak.. Di
Indonesia, prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% penduduk usia > 15 tahun, bahkan di Manado
didapatkan prevalensi DM sebesar 6,1%.
Penderita DM mempunyai risiko komplikasi yang spesifik, yaitu retinopati, gagal ginjal,
neuropati, aterosklerosis, stroke, gangren, ataupun penyakit arteria koronaria. Pemeriksaan
laboratorium DM: menegakkan Dx serta memonitor Tx dan timbulnya komplikasi. Pemeriksaan
Dx: kadar gula darah puasa dan 2 jam PP, TTGO (lihat konsensus PERKENI 1998 ).
Pemeriksaan monitor Tx: kadar glukosa puasa, 2 jam PP dan HbA1C, serta urinalisa rutin.
Pemeriksaan yang mendeteksi kelainan nefropati dini: mikroalbuminuria (masih reversibel), dan
yang rutin adalah serum ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal. Pemeriksaan untuk
memantau komplikasi aterosklerosis: profil lipid (kolesterol total, low density lipoprotein
cholesterol/LDL-C, high density lipoprotein cholesterol (HDL-C), dan trigliserida serum), serta
mikroalbuminuria.
Pemeriksaan adanya komplikasi lain: darah dan urinalisa rutin (adanya infeksi), kultur urine
maupun darah, elektrolit serta analisa gas darah, keton /aceton urine, asam laktat darah, insulin
darah, dan lain-lain.
Daftar Pustaka
1. Dods R.F, Diabetes Mellitus, In Clinical Chemistry: Theory, Analysis, Correlation, Eds,
Kaplan L.A, Pesce A.J, 3rd Edition, Mosby Inc, USA, 1996:613-640
2. Sacks D.B., Carbohydrates, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A,
Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:427-461
3. Foster D.W, Diabetes Mellitus, In Harrison’s Principles of Internal Medicine, Eds Fauci,
Braunwald, Isselbacher, et al, 14th Edition, McGraw-Hill Companies, USA, 1998:623-75
4. Hendromartono, Consensus on The Management of Diabetes Mellitus (Perkeni 1998), In
Surabaya Diabetes Update VI, Eds Tjokroprawiro A, Hendromartono, Sutjahjo A, Tandra H.,
Pranoto A., Surabaya, 1999:1-14
5. Kaplan, L.A., Laboratory Approaches, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J,
Kaplan L.A., 1987:94-96
6. Tabaei B.P., Al-Kassab A.S., Ilag L.L., et al, Does Microalbuminuria Predict Diabetic
Nephropathy?, Diabetes Care, 24:9, 2001:1560-1566
7. Alberti K.G.M.N., Zimmet P., DeFronzo R.A., International Textbook of Diabetes Mellitus,
Second Edition, John Wiley & Sons Ltd., England, 1997:1027-1074
8. Kaplan, L.A, Carbohydrates and Metabolites, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo
J, Kaplan L.A., 1989:850-856
9. Landt M., Glyceraldehide Preserves Glucose Concentrations in Whole Blood Specimens,

Clinical Chemistry, 46:8, 2000:1144-1149
10. King, M.E., Glycosylated Hemoglobin, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J,
Kaplan L.A., 1987:113-116
11. Peterson, K.P., Pavlovich J.G., Goldstein D., et al., What is Hemoglobin A1c? An Analysis of
Glycated Hemoglobins by Electrospray Ioni-zation Mass Spectrometry, Clinical Chemistry, 44:9,
1998:1951-1958
12. Gendler, S.M., Albumin, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A.,
1987:1066-1073
13. Larson, T.S., Santanello N., Shahinfar S., O’Brien P.C., et al, Trend in Persistent Proteinuria
in Adult-Onset Diebetes, Diabetes Care, 23:1, 2000:51-56
14. Mogensen C.E., Viberti G.C., Peheim E., Kutter D., et al, Multicenter Evaluation of MicralTest II Test Strip, an Immunologic Rapid Test for the Detection of Microalbuminuria, Diabetes
Care, 20:11, 1997:1642-1646
15. Newman D, Price C.P, Renal Function, In Tietz Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds
Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders Company, USA, 2001:698-722
16. Pedrinelli R., Glampletro O., Carmassi F., Melillo E., et al, Microalbuminuria and
Endothelial Dysfunction In Essential Hypertension, Lancet, 344, 1994:14-18
17. Yogiantoro M., Management of Diabetic Nephropathy, In Surabaya Diabetes Update VI, Eds
Tjokroprawiro A, Hendromartono, Sutjahjo A, Tandra H., Pranoto A., Surabaya, 1999:63-68
18. Rifai N, Albers J.J., Bachorik P.S, Lipids, Lipoproteins and Apolipoproteins, In Tietz
Fundamentals of Clinical Chemistry, Eds Burtis C.A, Ashwood E.R, 5th Edition, W.B. Saunders
Company, USA, 2001:462-493
19. Naito, H.K., Cholesterol, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A.,
1987:1156-1176
20. Naito, H.K., High-density Lipoprotein (HDL) Cholesterol, In Method’s in Clinical
Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A., 1987:1179-1192
21. Naito, H.K., Triglycerides, In Method’s in Clinical Chemistry, Eds Amadeo J, Kaplan L.A.,
1987:1215-1226

PEMERIKSAAN LAB
Jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk pemeriksaan laboratorium DM adalah
urin dan darah. Mekipun dengan menggunakan urin dapat dilakukan, namun hasil yang didapat
kurang efektif. Darah vena adalah spesimen pilihan yang tepat dianjurkan untuk pemeriksaan

gula darah. Apabila sampel yang digunakan adalah darah vena maka yang diperiksa adalah
plasma atau serum, sedangkan bila yang digunakan darah kapiler maka yang diperiksa adalah
darah utuh. Pada pengambilan darah kapiler, insisi yang dilakukan tidak boleh lebih dari 2,5 mm
karena dapat mengenai tulang. Pada pengambilan darah kapiler juga tidak boleh memeras jari
dan tetesan pertama sebaiknya dibuang.
Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium untuk Diabetes Melitus adalah sebagai berikut :
Gula darah puasa
Pada pemeriksaan ini pasien harus berpuasa 8-10 jam sebelum pemeriksaan dilakukan. Spesimen
darah yang digunakan dapat berupa serum atau plasma vena atau juga darah kapiler. Pemeriksaan
gula darah puasa dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaringan, memastikan diagnostik atau
memantau pengendalian DM. Nilai normal 70-110 mg/dl.
Gula darah sewaktu
Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pada pasien tanpa perlu diperhatikan waktu terakhir
pasien pasien. Spesimen darah dapat berupa serum atau plasma yang berasal dari darah vena.
Pemeriksaan gula darah sewaktu plasma vena dapat digunakan untuk pemeriksaan penyaringan
dan memastikan diagnosa Diabetes Melitus. Nilai normal <200 mg/dl.
Gula darah 2 jam PP (Post Prandial)
Pemeriksaan ini sukar di standarisasi, karena makanan yang dimakan baik jenis maupun jumlah
yang sukar disamakan dan juga sukar diawasi pasien selama 2 jam untuk tidak makan dan
minum lagi, juga selama menunggu pasien perlu duduk, istirahat yang tenang, dan tidak
melakukan kegiatan jasmani yang berat serta tidak merokok. Untuk pasien yang sama,
pemeriksaan ini bermanfaat untuk memantau DM. Nilai normal <140 mg/dl.
Glukosa jam ke-2 TTGO
TTGO tidak diperlukan lagi bagi pasien yang menunjukan gejala klinis khas DM dengan kadar
gula darah atau glukosa sewaktu yang tinggi melampaui nilai batas sehinggasudah memenuhi
kriteria diagnosa DM. (Gandasoebrata, 2007 : 90-92).
Nilai normal :
Puasa : 70 – 110 mg/dl
½ jam : 110 – 170 mg/dl
1 jam : 120 – 170 mg/dl
1½ jam : 100 – 140 mg/dl
2 jam : 70 – 120 mg/dl
Pemeriksaan HbA1c
HbA1c atau A1c merupakan senyawa yang terbentuk dari ikatan antar glukosa dan hemoglobin
(glycohemoglobin). Jumlah HbA1c yang terbentuk, tergantung pada kadar gula darah. Ikatan
A1c stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan usai sel darah merah), kadar
HbA1c mencerminkan kadar gula darah rata-rata 1 sampai 3 bulan. Uji digunakan terutama
sebagai alat ukur keefektifan terapi diabetik. Kadar gula darah puasa mencerminkan kadar gula
darah saat pertama puasa, sedangkn glikohemoglobin atau HbA1c merupakan indikator yang
lebih baik untuk pengendalian Diabetes Melitus.
Nilai normal HbA1c 4-6%, Peningkatan kadar HbA1c > 8 % mengindikasi hemoglobin A (HbA)
terdiri dari 91 sampai 95 % dari jumlah hemoglobin total.

Molekul glukosa berikatan dengan HbA yang merupakan bagian dari hemoglobin A.
Pembentukan HbA1c terjadi dengan lambat yaitu 120 hari yang merupakan rentang hidup
eritrosit, HbA1c terdiri atas tiga molekul hemoglobin HbA1c, HbA1b dan HbA1c. Sebesar 70 %
HbA1c dalam bentuk 70 % terglikosilasi pada jumlah gula darah yang tersedia. Jika kadar gula
darah meningkat selama waktu yang lama, sel darah merah akan tersaturasi dengan glukosa dan
menghasilkan glikohemoglobin.
Menurut Widman (1992:470), bila hemoglobin bercampur dengan larutan glukosa dengan kadar
yang tinggi, rantai beta hemoglobin mengikat glukosa secara reversible. Pada orang normal 3
sampai 6 persen hemoglobin merupakan hemoglobin glikosilat yang dinamakan kadar HbA1c.
Pada hiperglikemia kronik kadar HbA1c dapat meningkat 18-20 % . glikolisasi tidak
mempengaruhi kapasitas hemoglobin untuk mengikat dan melepaskan oksigen, tetapi kadar
HbA1c yang tinggi mencerminkan adanya diabetes yang tidak terkontrol selama 3-5 minggu
sebelumnya. Setelah keadaan normoglikemia dicapai, kadar HbA1c menjadi normal kembali
dalam waktu kira-kira 3 minggu.
Berdasarkan nilai normal kadar HbA1c pengendalian Diabetes Melitus dapt dikelompokan
menjadi 3 kriteria yaitu :
DM terkontrol baik / kriteria baik
: <6,5%
DM cukup terkontrol / kriteria sedang :6,5 % - 8,0 %
DM tidak terkontrol / kriteria buruk
: > 8,0 %
(Yullizar D, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium untuk Penyakit Diabetes Melitus ; 2005)
Pemeriksaan gula darah hanya mencerminkan kadar gula darah pada saat diabetes diperiksa,
tetapi tidak menggambarkan pengendalian diabetes jangka panjang (± 3 bulan). Meski demikian,
pemeriksaan gula darah tetap diperlukan dalam pengelolaan diabetes, terutama untuk mengatasi
permasalahan yang mungkin timbul akibat perubahan kadar gula darah yang timbul secara
mendadak. Jadi, pemeriksaan HbA1c tidak dapat menggantikan maupun digantikan oleh
pemeriksaan gula darah, tetapi pemeriksaan ini saling menunjang untuk memperoleh informasi
yang tepat mengenai kualitas pengendalian diabetes seseorang.

Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis dan pemantauan pengobatan diabetes
melitus adalah kadar glukosa darah, HbA1c (hemoglobin glikat) dan yang terbaru
albumin glikat. Untuk pemeriksaan penyaring (screening) terhadap diabetes melitus
dapat dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa, 2 jam postprandial
(setelahmakan) atau sewaktu, atau kadar HbA1c. Diagnosis ditegakkan dengan
pemeriksaan yang sama dimana apabila sudah ada gejala dan tanda klinis maka cukup
1x kelainan tetapi apabila tiada tanda klinis maka perlu sediktnya 2 x kelainan. Apabila
hasilnya masih meragukan maka dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam
setelah pembebanan dengan minum larutan 75 gram glukosa. .

HbA1c yang merupakan komponen utama dan terbanyak dari hemoglobin glikat
menggambarkan kadar glukosa selama masa 2-3 bulan sebelumnya sesuai masa
paruh eritrosit, dianjurkan untuk diperiksa setiap 3 bulan sekali pada diabetes melitus
yang stabil. Pemeriksaan HbA1c telah dibakukan (standardisasi) dan diharmonisasi.
Oleh karena itu selain untuk memantau pengobatan diabetes melitus, sekarang juga
diajukan untuk penyaring dan diagnosis diebetes melitus. Akan tetapi hasil pemeriksaan
kadar HbA1c dipengaruhi oleh perubahan eritrosit, dan Hb serta varian Hb sehingga
pada keadaan-keadaan dengan kelainan tersebut hasilnya dapat salah. Parameter
terbaru adalah albumin glikat (AG) yang menggambarkan kadar glukosa sesuai masa
paruh albumin yang jauh lebih pendek daripada eritrosit. Dengan demikian dokter dapat
memantau pengobatan dengan lebih cepat..Selain itu parameter AG jugamenunjukkan
beberapa kelebihan dibandingkan HbA1c, misalnya lebih tepat mencerminkan kontrol
glikemik, juga retinopati pada pasien DM tipe 2, dan perubahan glukosa postprandial
serta penyebab semua mortalitas pada pasien hemodialisis.. Akan ketapi parameter ini
juga dipengaruhi oleh perubahan kadar albumin sehingga harus dipertimbangkan bila
ada perubahan kadar albumin yang nyata. .

Daftar pustaka
1. Canadian Diabetes Association Clinical Practice Guidelines Expert Committee.
Definition, Classification and Diagnosis of Diabetes, Prediabetes and Metabolic
Syndrome. Can J Diabetes 2013; 37:S8-S11.
2. American Diabetes Association. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus.
Diabetes care 2012; 35, Supplement1:S64-S71.1
3. Consensus Committee. Consensus statement on the worldwide standardization of the
hemoglobin A1C measurement: the American Diabetes Association, European
Association for the Study of Diabetes, International Federation of Clinical Chemistry and
Laboratory Medicine, and the International Diabetes Federation. Diabetes Care 2007;
30: 2399-400.
4. Saisho Y.Glycated Albumin: A More Sensitive Predictor of Cardiovascular Disease than
Glycated Hemoglobin? Int J Diabetol & Vasc Dis Res2013, I (6): 1-3

5. Morita et al. Glycated Albumin, Rather than Hba1c, Reflects Diabetic Retinopathy in
Patients with Type 2 Diabetes Mellitus. J Diabetes Metab 2013,4:6

Prof. dr. Marzuki Suryaatmadja SpPK (K)