You are on page 1of 32

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas
yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila
terangsang oleh faktor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan
aliran udara terhambat karena konstriksi bronkus,sumbatan mukus, dan
meningkatnya proses radang (Almazini, 2012)
Menurut WHO pada 2006 ada 300 juta orang di dunia yang menderita
penyakit asma dan ada 225 ribu penderita asma meninggal dunia. Delapan
puluh persen angka kejadian asma terdapat di negara berkembang akibat
kemiskinan, kurangnya tingkat pendidkan, pengetahuan dan fasilitas
kesehatan. Jika hal ini tidak terkontrol dengan baik angka kematian akibat
asma bisa meningkat sebanyak 20 persen untuk sepuluh tahun mendatang.
Maka dari itu pengetahuan tentang penyakit tersebut sangat diperlukan,
khususnya pengetahuan tentang usaha meminimalisir angka penderita asma
dengan cara menjauhi faktor faktor pencetusnya serta cara mengobatinya
dengan segera sesuai dengan acuan teori yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1.2.1 Bagaimanakah konsep penyakit penyakit asma?
1.2.2 Bagaimanakah pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan
penyakit asma?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Mahasiswa mampu menjelaskantentang konsep penyakit asma dan
pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit asma.
1.3.2

Tujuan khusus
1) Mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi, etiologi,
manifestasi klinis, patofisiologi, web of caution, pencegahan
dan penatalaksanaan penyakit asma,
2) Mahasiswa menjelaskan tentang pengkajian, diagnosa, intervensi,
dan implementasi pada pasien penyakit asma,
3) Mahasiswa melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien
penyakit asma.
1.4 Manfaat
Makalah ini dapat memberikan informasi tentang:
1.4.1 Konsep penyakit dengan hypersensitivitas pada sistem respirasi : asma
1.4.2 Asuhan keperawatan pada pasien dengan hypersensitivitas pada
sistem respirasi : asma

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Pengertian
Asma merupakan penyakit kronis yang umum dan berpotensi menjadi
penyakit yang serius yang menyebabkan beban besar pada pasien keluarga
dan masyarakat. ini menyebabkan gejala pada sistem pernapasan, aktivitas
terbatas, dan serangan yang kadang kadang memerlukan tindakan segera
dan mungkin berakibat fatal (GINA, 2015).
Asma adalah suatu penyakit dimana jalan nafas mengalami obstruktif
intermiten dan reversible, trakea dan bronki berespon hiperaktif terhadap
stimulus tertentu. Asma berbeda dari penyakit paru obstruktif karena asma
prosesnya reversible (Brunner& Suddarth, 2013).
Asma bisa menyerang sembarang golongan usia. Setengah dari kasus
terjadi pada anak-anak dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun.
Hampir 17% dari semua warga Ameerika mengalami asma suatu kurun waktu
dalam kehidupan mereka. Meskipun asma juga bisa berakibat fatal, tetapi
asma lebih sering ditakuti karena mengganggu, mempengaruhi kehadiran di
sekolah, pilihan pekerjaan, aktivitas fisik dan banyak aspek kehidupan
lainnya. (Brunner& Suddarth, 2013)
1.2 Etiologi
Penyebab terjadinya asma akibat faktor instrinsik dan ekstrensik :
1.2.1 faktor intrinsik
1) Stres Emosional
2) Stres Psikologik
3) Faktor genetik
1.2.2 faktor ekstrinsik
1) Serbuk / partikel
2) Kulit / bulu hewan
3) Debu / jamur rumah
4) Bantal kapuk / bulu
5) Penyedap / bumbu makanan yang mengandung sulfit dan bahan
sensitive lain.
6) Predisposisi herediter
7) Sensitivitas terhadap alergen atau iritasi seperti polutan
8) Infeksi virus
9) Obat, seperti aspirin, penyekat beta asrenergik, dan obat anti
inflamasi nonsteroid.
10) Tartrazin
11) Udara dingin
12) Olahraga

1.3 Manifestasi klinis


Tanda dan gejala asma bervariasi sesuai dengan derajat bronkospasme.
Klasifikasi keparahan eksaserbasi asma menurut Nurarif & Kusuma (2015)
Ringan
Sedang
Berat
Gagal nafas
yang mungkin
terjadi
Gejala
Dispnea
Saat
Saat
Pada saat
Saat istirahat
beraktifitas bicara
istirahat
Bicara
Dalam
Dalam
Dalam
Diam
kalimat
frasa
kata-kata
Tanda
Posisi
Mampu
Lebih
Tidak
Tidak mampu
tubuh
berbaring
suka
mampu
berbaring
duduk
berbaring
Frekuensi
Meningkat Meningka Seringkali
>30/menit
pernafasan
t
>30/menit
Penggunaa Biasanya
Umumnya Biasanya
Gerakan
n obat
tidak ada
ada
ada
torakoabdomina
bantu
l paradoksial
pernafasan
Suara nafas Mengi
Mengi
Mengi
Gerakan udara
sedang pd
keras
keras saat
sedikit tanpa
pertengaha selama
inspirasi
mengi
n sampai
ekspirasi
dan
akhir
ekspirasi
ekspirasi
Frek
<100
100-120
>120
Bradikardi
jantung
reaktif
(kali/menit)
Pulsus
<10
10-25
Sering <25 Seringkali tidak
paradoksus
ada
(mmHg)
Status
Mungkin
Biasanya
Biasanya
Bingung atau
mental
agitasi
agitasi
agitasi
mengantuk
Pengkajian fungsional
PEF (%
>80
50-80
<50
<50
yang
Respon
diprediksi
terhadap
atau terbaik
terapi
secara
berlangsun
personal)
g <2 jam
SaO2
>95
91-95
<91
<91
(%udara
ruangan)
PaO2
Normal
>60
<60
<60

(mmHg,
udara
ruangan)
PaCO2
(mmHg)

<42

<42

42

42

1.4 Patofisiologi

Gambar
1.
Phatofisiologi
asma,
adapted from materials
developed
for
the
Global Initiative for
Asthma (GINA). Global Strategy for Asthma Management and Prevention,
Global Initiative for Asthma (GINA) 2008.
Menurut Sudoyo, dkk (2009) obstruksi jalan nafas pada asma merupakan
kombinasi dari spasme otot bronkus sumbatan mucus edema dan inflamasi
dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara
fisiologis saluran nafas menyempit selama fase tersebut yang mengakibatkan
udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi.
Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional
(KRF) dan pasien pasien akan bernafas pada volume yang tinggi mendekati
kapasitas paru total. Keadaan hiper inflasi ini bertujuan agar saluran nafas
tetap tebuka dan pertukaran gas berjalan lancar. Untuk mempertahankan
hiperinflasi ini diperlukan otot-otot bantu nafas.
Gangguan yang berupa obstruksi saluran nafas dapat dinilai secara
obsjektif dengan VEP 1 (volume ekspirasi paksa detik pertama) atau APE
(arus puncak ekspirasi) sedangkan penurunan KVP (kapasitas vital paksa)
menggambarkan derajat hiper inflasi paru. Penyempitan saluran nafas dapat
terjadi baik pada saluran nafas sedang, besar maupun kecil. Di dalam mengi
menandakan ada penyempitan di saluran nafas besar, sedangkan pada saluran
nafas kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan dibading mengi.

Penyempitan saluran nafas ternyata tidak merata diseluruh bagian paru.


Ada daerah-daerah yang kurang mendapat ventilasi sehingga darah kapiler
yang melalui daerah tersebut mengalami hipoksia. Penurunan PAO2
kemungkinan merupakan kelainan pada asma subklinis. Untuk mengatasi
kekurangan oksigen tubuh melakukan hiperventilasi agar kebutuhan oksigen
terpenuhi. Tetapi akibatnya pengeluaran CO2 menjadi berlebihan. Sehingga
PACO2 menurun yang kemudian menimbulkan alkaliosisrespiratorik. Pada
asma berat banyak saluran nafas dan alveolus tertutup oleh mucus sehingga
tidak memungkinkan terjadinya pertukaran gas. Hal ini menyebabkan
hipoksemia dan kerja otot-otot pernafasan bertambah berat serta terjadi
peningkatan produksi CO2 yang disertai dengan penurunan ventilasi alveolus
menyebabkan retensi CO2 (hiperkapnie) dan terjadi asidosis respiratorik
(gagal nafas). Hipoksemia yang berlangsung lama menyebabkan asidosis
metabolic dan konstriksi pembuluh darah paru yang kemudian menyebabkan
shunting yaitu peredaran darah tanpa melalui unit pertukaran gas yang baik
sehingga memperburuh hiperkapnia. Penyempitan saluran nafas pada asma
menyebabkan hal-hal sebagai berikut:
1. Gangguan ventilasi berupa hipoventilasi
2. Ketidakseimbangan ventilasi perfusi dimana distrinusi ventilasi tidak
setara dengan sirkulasi darah paru
3. Gangguan difusi gas ditingkat alveoli
Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan hiperkapnia, hipoksemia,
asidosis respiratori pada tahap yang sangat lanjut.
1.5 Web of Causation (WOC) Asma
Faktor Ekstrinsik:
a. Serbuk/partikel
b. Kulit/buluhewan
c. Debu/jamurrumah
d. BantalKapuk/bulu
e. Penyedap / bumbu makanan yang
mengandung sulfit dan bahan sensitive lain
f. Obat-obatan
g. Infeksi virus
h. Olah raga
i. Udara dingin

Faktor Intrinsik :
a. Stres emosional
b. Faktor genetik

Antigen yg terikat IgE pada permukaan sel


mast atau basofil

Mengeluarkan mediator : histamine, platelet,


bradikinin dll

Permiabilitas kapiler
meningkat
Edema mukosa, sekresi produktif, kontriksi
otot polos meningkat

Spasme otot polos, sekresi kelenjar bronkus

Konsentrasi O2
dalam darah

Penyempitan / obstruksi proksimal dari bronkus pada tahap ekpirasi dan inspirasi

Tekanan partial oksigen di alveoli


Mukus berlebihan
Batuk
Wheezing
Sesak napas
Hiperkapnea

Ketidakefektifan bersihan jalan napas Gelis

Gangguan
pertukaran
gas
Asidosi

Aerob-

Ansietas
ATP menurun

Suplai O2 ke otak
Koma

Penyempitan
jalan
pernapasan

Suplai O2 ke jaringan

Peningkatan
kerja otot
pernapasan
Hiperventil
Retensi

Nafsu makan

Asam laktat
Perfusi
jaringan
perifer

Ketidakefektif
an pola nafas

Intoleransi
Aktifitas
Kelelahan

Asidosis
Respirato
rik

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

1.6 Penatalaksanaan
Perinsip umum penatalaksanaan asma menurut GINA 2015 :
1.6.1 Penanganan eksaserbasi dalam perawatan primer atau akut :
Menilai tingkat keparahan eksaserbasi sementara memulai
SABA dan oksigen. Menilaidyspnea (misalnya pasien dapat berbicara
kalimat penuh , atau hanya kata-kata),laju pernafasan, denyut nadi,
saturasi oksigen dan fungsi paru-paru (misalnya PEF).
1.6.2 Periksa anafilaksis.
Mempertimbangkan alternatif penyebab sesak napas akut
(misalnya gagal jantung,disfungsi saluran napas atas, mengirup
zat/partikel asing atau paru emboli).Mengatur untuk segera transfer ke
fasilitas perawatan akut jika ada tanda-tandaeksaserbasi parah, atau
untuk perawatan intensif jika pasien mengantuk, bingung,
ataumemiliki dada yang diam. Untuk pasien ini, segera berikan untuk
menghirup SABA,ipratropium bromida, oksigen dan kortikosteroid
sistemik.
Perawatan dimulai dengan berulang memberikan dosis
SABA (biasanya dengan pMDI dan spacer), oral kortikosteroid awal,
dan aliran oksigen yang dikontrol jika tersedia. Periksarespon gejala
dan saturasi sesering mungkin dan ukur fungsi paru-parusetelah 1
jam. Titrasi oksigen untuk mempertahankan saturasi 93-95% pada
orang dewasa danremaja (94-98% pada anak-anak 6-12 tahun).
Untuk eksaserbasi parah, tambahkan ipratropium bromida,
dan pertimbangkan untuk memberikanSABA oleh nebulizer. Di
fasilitas perawatan akut, intravena magnesium sulfatdapat
dipertimbangkan jika pasien tidak menanggapi pengobatan awal
intensif
.
Jangan secara rutin melakukan sinar-x atau gas darah, atau
meresepkan antibiotik,untuk asma yang mengalami eksaserbasi.
1.6.3

Meninjau respon
Memantau pasien dengan erat dan sesering mungkin selama
pengobatan, dan berikan perawatan titrasisesuai dengan respon.
Mentransfer pasien untuk tingkat perawatan yang lebih tinggi jika
keadaanmemburuk atau pasien gagal untuk merespon.
Memutuskan tentang perlunya rawat-inap yang didasarkan pada
status klinis,gejala dan fungsi paru-paru, respon terhadap pengobatan,
riwayat mengalami eksaserbasi, dan kemampuan untuk dirawat di
rumah.Sebelum pasien keluar,atur perawatan berkelanjutan. Untuk

sebagian besar pasien, resepreguler controller terapi (atau peningkatan


dosis) untuk mengurangi risikolebih lanjut mengalami eksaserbasi.
Terus tingkatkan dosis controller untuk 2-4 minggu,dan mengurangi
pereda yang dibutuhkan. Periksa inhalasi dan kepatuhan.Menyediakan
rencana aksi sementara untuk penanganan asma.Mengatur langkah
awal tindak lanjut setelah setiap eksaserbasi, sebaiknya dalam waktu 1
minggu.Pertimbangkan arahan untuk nasihat spesialis bagi pasien
asmarawat inap, atau masuk gawat darurat yang berulang-ulang.
1.7 Prognosis
Prognosis penyakit asma pada anak umumnya baik, biasanya akan hilang
atau berkurang seiring dengan bertambahnya umur. Sekitar 50% asma
episodik jarang akan hilang pada umur 10 -14 tahun dan 15% menjadi asma
kronik sampai umur 21 tahun. Secara keseluruhan asma pada anak 70%
sampai 80% akan hilang pada umur 21 tahun.
Faktor yang dapat mempengaruhi prognosis asma pada anak yaitu umur
ketika pertama kali serangan timbul,seringnya serangan asma,berat ringannya
serangan asma terutama 2 tahun sejak menderita asma ,banyak sedikitnya
faktor atopi pada diri anak dan keluarga, lamanya mendapatkan ASI,
penghindaran alergen selama hamil serta usaha menghindari polusi udara di
rumah,jenis kelamin serta pengaruh hormonal.
1.8 Komplikasi
Jika asma sudah berlangsung lama dan terus menerus, maka akan
mempengaruhi bentuk thorak, yaitu thorak menjadi membungkuk ke depan
dan memanjang. Selain itu juga akan terjadi komplikasi empisema. Pada foto
thorak akan tampak diafragma turun ke bawah, gambaran jantung menyempit
dan corak hilus kanan kiri bertambah. Pada asma yang berat dan berlangsung
lama akan terjadi bentuk dada seperti dada burung (pigeon chest). Bila secret
banyak dan kental dapat mengakibatkan bronkus tersumbat dan terjadi
atelektasis. jika atelektasis berlangsung lama akan terjadi bronkiaktasis
maupun bronkopneumoni. Asma yang berlangsung terus menerus dan tidak
bisa diatasi dengan obat-obatan disebut status asmatikus dan bisa berakibat
pada kematian, gagal nafas serta kegagalan jantung.
1.9 Pencegahan
Pasien dengan asma kambuhan harus menjalani pemeriksaan untuk
mengidentifikasi substansi yang mencetuskan terjadinya serangan asma.
Penyebabnya bisa saja bantal, kasur, pakaian jenis tertentu, hewan peliharaan,
detergen, sabun, makanan tertentu, jamur dan serbuk sari. Jika serangan
berkaitan dengan musim, maka dugaan terkuatnya adalah serbuk sari. Harus
dilakukan upaya untuk menghindari agen penyebab serangan.
Komplikasi asma dapat mencakup status asmatikus fraktur iga,
pneumonia dan atelektasis. Obstruksi jalan nafas, terutama selama periode
atelektasis. Obstruksi jalan nafas, terutama selama episode asmatik akut,
sering mengakibatkan hipoksemia dan membutuhkan pemberian oksigen dan
pemantauan gas darah arteri. Cairan diberikan bila individu dengan asma

mengalami dehidrasi akibat diaphoresis dan kehilangan cairan tidak kasat


mata dengan hiperventilasi. (Brunner& Suddarth, 2013).
Menurut Depkes RI tahun 2008 pencegahan penyakit asma dibagi
menjadi:
1.9.1 Pencegahan primer
1) Pencegahan primer ditunjukkan untuk mencegah sensitisasi
pada bayi dengan resiko asma (orang tua asma), dengan cara:
2) Menghindari asap rokok / polutan selama hamil atau
perkembangan anak
3) Diet hipoalergenik dengan syarat diet tersebut tidak
mengganggu asupan nutrisi janin
4) Pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan
5) Diet hipoalergenik bagi ibu menyusui
1.9.2 Pencegahan sekunder
Ditujukan untuk mencegah asma yang sudah tersensitisasi
untuk tidak berkembang menjadi asma. Caranya dengan pemberian
antihitamin H-1 dalam menurunkan onset mengi dan pada asma
kerja (menghentikan pajanan alergen sedini mungkin).
1.9.3 Pencegahan tersier
Ditujukkan untuk mencegah agar tidak terjadi serangan
atau bermanifestasi klinis asma pada penderita yang sudah
menderita asma. Contoh caranya yaitu dengan mengontrol
lingkungan rumah seperti membersihkan rumah dari debu dan
kotoran, mencuci sarung bantal, sprei 1 minggu sekali, jangan
membiarkan sampah terbuka, jangan membiarkan ruangan lembab,
hindari rokok, ventilasi rumah adekuat, hindari memasak dengan
kayu.
1.10 Pemeriksaan diagnosik
1.10.1 Laboratorium
Lekositosis dengan neutrofil yang meningkat menunjukkan adanya
infeksi. Eosinofil darah meningkat > 250/mm3, jumlah eosinofil ini
menurun dengan pemberian kortikosteroid.
1.10.2 Pada pemeriksaan AGD
Hanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma berat atau
status asmatikus. Pada keadaan ini dapat terjadi hipoksemia,
hiperkapnia dan asidosis respiratorik. Pada asma ringan sampai
sedang PaO2 normal sampai sedikit menurun, PaCO2 menurun dan
terjadi alkalosis respiratorik. Pada asma yang berat PaO2 jelas
menurun, PaCO2 normal atau meningkat dan terjadi asidosis
respiratorik.
1.10.3 Pemeriksaan Radiologi
Pada serangan asma yang ringan, gambaran radiologik paru
biasanya tidak menunjukkan adanya kelainan. Beberapa tanda yang
menunjukkan yang khas untuk asma adanya hiperinflasi, penebalan
dinding bronkus, vaskulasrisasi paru.
1.10.4 Tes kulit (asma ekstrinsik)

10

Untuk menunjukkan adanya alergi.


1.10.5 Uji fungsi paru
Volume paru normal atau meningkat, penurunan VEK, LAEP,
AMME VEK, dapat ditingkatkan dengan bronkodilator sebesar
12% atau lebih
1.10.6 Hitung darah lengkap dan pemeriksaan sputum
eosinofilia sputum dan darah umum ditemukan, kadar serum IgE
meningkat pada asma ekstrinsik
1.11 Asuhan keperawatan
1.11.1 Pengkajian
1 Pengumpulan data.
1 Identitas klien.
Jenis kelamin ( pada wanita dewasa memiliki tingkat asma
yang lebih tinggi dibandingkan pria), usia ( asma lebih sering
ditemukan dikalangan muda, pada anak biasanya terjadi
serangan pada usia < 5 tahun dan dewasa pada usia > 35
tahun),alamat (untuk mengetahui kondisi rumah).
2 Riwayat penyakit sekarang.
Keluhan utama sesak napas yang hebat dan mendadak
kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain yaitu : Wheezing,
Penggunaan otot bantu pernapasan, Kelelahan, gangguan
kesadaran, Sianosis serta perubahan tekanan darah. Perlu juga
dikaji kondisi awal terjadinya serangan.
3 Riwayat penyakit dahulu.
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti
infeksi saluran napas atas, sakit tenggorokan, amandel,
sinusitis, polip hidung. Riwayat serangan asma frekuensi,
waktu, alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus
serangan serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk
meringankan gejala.
4 Riwayat kesehatan keluarga.
Pada klien dengan serangan status asthmatikus perlu dikaji
tentang riwayat penyakit asthma atau penyakit alergi yang lain
pada anggota keluarganya karena hipersensitifitas pada
penyakit asma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik oleh
lingkungan.
5 Riwayat Psikososial
Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu
pencetus bagi serangan asma baik ganguan itu berasal dari
rumah tangga, lingkungan sekitar sampai lingkungan kerja.

11

Pola fungsi kesehatan


1 Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Gejala asthma dapat membatasi manusia untuk berprilaku
hidup normal sehingga klien dengan asthma harus merubah
gaya hidupnya sesuai kondisi yang memungkinkan tidak
terjadi serangan asthma.
2 Pola nutrisi dan metabolisme
Perlu dikaji tentang status nutrisi klien meliputi, jumlah,
frekuensi, dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi
kebutuhannya. Serta pada klien sesak, potensial sekali
terjadinya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, hal
ini karena dipsnea saat makan, laju metabolisme serta ansietas
yang dialami klien.
3 Pola tidur dan istirahat
Perlu dikaji tentang bagaimana tidur dan istirahat klien
meliputi berapa lama klien tidur dan istirahat. Serta berapa
besar akibat kelelahan yang dialami klien. Adanya wheezing,
sesak dan ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan
istirahat klien.
4 Pola aktifitas dan latihan
Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian klien seperti olah
raga, bekerja dan aktifitas lainnya. Aktifitas fisik dapat menjadi
faktor pencetus terjadinya asthma yang disebut dengan Exerase
Induced Asthma.

Pemeriksaan fisik
1 Status kesehatan umum
Klien tampak cemas, lelah, sulit bernafas, napas cepat, nadi
menigkat, respisari meningkat, tekanan darah meningkat.
2 Hidung
Adanya pernafasan menggunakan cuping hidung,rinitis alergi
dan fungsi olfaktori.
3 Leher
Penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, distensi vena
jugularis, pembengkakan stroma.
4 Thorak
a) Inspeksi
Dada diinspeksi terutama postur bentuk dan kesemetrisan
adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otototot Interkostalis, sifat dan irama pernafasan serta
frekwensi peranfasan.
b) Palpasi.
Pada palpasi di kaji tentang kosimetrisan, ekspansi dan
taktil fremitus.
c) Perkusi

12

Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor


sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.
d) Auskultasi.
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan
expirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari 3x inspirasi,
dengan bunyi pernafasan dan Wheezing.
5 Kardiovaskuler.
Jantung di kaji adanya pembesaran jantung atau tidak, bising
nafas dan hyperinflasi suara jantung melemah. Tekanan darah
dan nadi yang meningkat serta adanya pulsus paradoksus.
4 Pemeriksaan penunjang.
(1) Pemeriksaan spinometri.
(2) Tes provokasi brokial.
(3) Pemeriksan tes kulit.
(4) Laboratorium.
(5) Analisa gas darah.
(6) Sputum.
(7) Sel eosinofil
(8) Pemeriksaan darah rutin dan kimia
(9) Radiologi
(10) Elektrokardiogram
1.11.2 Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d mucus dalam jumlah
berlebihan, peningkatan produksi mucus, eksudat dalam
alveoli dan bronkospasme.
2) Ketidakefektifan pola napas b.d keletihan otot pernafasan dan
deformitas dinding dada.
3) Gangguan pertukaran gas b.d retensi karbon dioksida.
4) Penurunan curah jantung b.d perubahan kontakbilitas dan
volume sekuncup jantung.
5) Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen (hipoksia) kelemahan.
6) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
laju metabolic, dispnea saat makan, kelemahan otot
pengunyah.
7) Ansietas b.d keadaan penyakit yang diderita.

13

14

1.11.3 Intervensi Keperawatan


No Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan
napas b.d mucus dalam jumlah
berlebihan, peningkatan produksi
mucus, eksudat dalam alveoli dan
bronkospasme.
Definisi: Ketidakmampuan untuk
membersihkan sekresi atau obstruksi
dari saluran pernafasan untuk
mempertahankan kebersihan jalan
nafas.
Batasan Karakteristik:
Tidak ada batuk
Suara napas tambahan
Perubahan frekwensi napas
Perubahan irama napas
Siannosis
Kesulitan berbicara atau
mengeluarkan suara
Penurunan bunyi napas
Dispneu
Sputum dalam jumlah yang
berlebihan
Sputum dalam jumlah yang
berlebihan
Batuk yang tidak efektif

NOC
Respiratory status:
Ventilation
Respiratory status: Airway
patency
Kriteria Hasil:
Mendemonstrasikan batuk
efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pused lips)
Menunjukkan jalan nafas
yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama nafas,
frekuensi pernafasan dalam
rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
Mampu mengidentifikasi dan
mencegah factor yang dapat
menghambat jalan nafas.

NIC
Airway suction
- Pastikan kebutuhan oral/tracheal suctioning
- Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
suctioning.
- Informasikan pada klien dan keluarga tentang
suctioning.
- Minta klien nafas dalam sebelum suction
dilakukan.
- Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk
memfasilitasi suksion nasotrakeal
- Gunakan alat yang steril setiap melakukan
tindakan.
- Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas
dalam setelah kateter dikeluarkan dari
nasotrakeal.
- Monitor status oksigen pasien.
- Ajarkan keluarga sebagaimana cara melakukan
suksion.
- Hentikan suksion dan berikan oksigen oksigen
apabila pasien menunjukkan bradikardi,
peningkatan saturasi O2, dll.
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi.
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan.
- Pasang mayo bila perlu.

15

2.

Orthopneu
Gelisah
Mata terbuka lebar.
Faktor-faktor yang berhubungan:
Lingkungan:
Perokok pasif
Menghisap asap
merokok
Obstruksi jalan napas
Spasme jalan napas
Mukos dalam jumlah
berlebihan
Eksudat dalam jalan alveoli
Materi asing dalam jalan
napas
Adanya jalan napas buatan
Sekresi bertahan/sisa sekresi
Fisiologi
Jalan napas alergik
Asma
Penyakit paru obstruktif
kronik
Hiperplasi dinding bronkial
Infeksi
Disfungsi neuromuskular
Ketidakefektifan pola napas b.d

NOC

Lakukan fisioterapi dada jika perlu


Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
lembab
Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan
Monitor respirasi dan status O2.

NIC

16

keletihan otot pernafasan dan


deformitas dinding dada.
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi
yang tidak memberi ventilasi.
Batasan karakteristik:
Perubahan kedalaman pernapasan
Perubahan ekskursi dada
Mengambil posisi tiga titik
Bradipneu
Penurunan tekanan ekspirasi
Penurunan ventilasi semenit
Penurunan kapasitas vital
Dispneu
Peningkatan diameter anteriorposterior
Pernafasan cuping hidung
Ortopneu
Fase ekspirasi memanjang
Pernapasan bibir
Takipneu
Penggunaan otot aksesorius untuk
bernapas.
Faktor yang berhubungan:
Ansietas
Posisi tubuh
Deformitas tulang

Respiratory status:
Ventilation
Respiratory status: Airway
patency
Vital sign Status
Kriteria Hasil
Mendemonstrasikan batuk
efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips)
Menunjukkan jalan nafas
yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama nafas,
frekuensi pernafasan dalam
rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
Tanda-tanda vital dalam
rentang normal (tekanan
darah, nadi, pernafasan).

Airway Management
- Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau
jaw thrust bila perlu.
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan.
- Pasang mayo bila perlu
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
- Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
- Lakukan suction pada mayo
- Berikan bronkodilator bila perlu
- Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl
lembab
- Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
- Monitor respirasi dan status O2.
Oxygen Therapy
- Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
- Pertahankan jalan nafas yang paten
- Atur peralatan oksigenasi
- Monitor aliran oksigen
- Pertahankan posisi pasien
- Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
- Monitor adanya kecemasan pasien terhadap
oksigenasi

17

3.

Deformitas dinding dada


Keletihan
Hiperventilasi
Sindrom hipoventilasi
Gangguan muskuloskeletal
Kerusakan neurologis
Imaturitas neurologis
Disfungsi neuromuskular
Obesitas
Nyeri
Keletihan otot pernapasan cedera
medula spinalis.

Gangguan pertukaran gas b.d


retensi karbon dioksida.
Definisi: kelebihan atau defisit
oksigenasi dan/atau eliminasi karbon
dioksida pada membran alveolarkapiler.
Batasan karakteristik:
pH darah arteri abnormal
pH arteri abnormal
Pernapasan abnormal (mis.,

NOC
Respiratory status: Gas
exchange
Respiratory status:
ventilation
Vital sign Status
Kriteria Hasil:
Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi dan
oksigenasi yang adekuat

Vital Sign Monitoring


- Monitor TD, nadi, suhu dan RR
- Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Monitor VS saat pasien berbaring, duduk atau
berdiri
- Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama dan
setelah aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor frekuensi dan irama pernafasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola pernafasan normal
- Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign.
NIC
Airway Management
- Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau
jaw thrust bila perlu.
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan.
- Pasang mayo bila perlu
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu

18

kecepatan, irama, kedalaman)


Warna kulit abnormal (mis.,
pucat, kehitaman)
Konfusi
Sianosis (pada neonatus saja)
Penurunan karbondioksida
Diaforesis
Dispnea
Sakit kepala saat bangun
Hiperkapnia
Hipoksemia
Hipoksia
Iritabilitas
Napas cuping hidung
Gelisah
Somnolen
Takikardia
Gangguan penglihatan
Faktor-faktor yang berhubungan:
Perubahan membran alvolarkapiler
Ventilasi-perfusi

Memelihara kebersihan paruparu dan bebas dari tandatanda distress pernapasan.


Mendemonstrasikan batuk
efektif dan suara napas yang
bersih, tidak ada sianosis dan
dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips)
Tanda-tanda vital dalam
rentang normal.

Keluarkan sekret dengan batuk atau suction


Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tambahan
- Lakukan suction pada mayo
- Berikan bronkodilator bila perlu
- Berikan pelembab udara
- Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan.
- Monitor respirasi dan status O2.
Respiratory Monitoring
- Monitor rata-rata, kedalaman, irama dan usaha
respirasi.
- Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan,
penggunaan otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
- Monitor suara nafas, seperti dengkur
- Monitor pola nafas: bradipnea, takipnia,
kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
- Catat lokasi trakea
- Monitor kelelahan otot diafragma (gerakan
paradioksis)
- Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan/tidak adanya ventilasi dan suara
tambahan
- Tentukan kebutuhan suction dengan
mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan
napas utama
- Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk

19

mengetahui hasilnya
4.

Penurunan curah jantung b.d


NOC
perubahan kontakbilitas dan
Cardiac Pump effectiveness
bolume sekuncup jantung.
Circulation Status
Definisi: Ketidakadekuatan darah
Vital Sign Status
yang dipompa oleh jantung untuk
Kriteria Hasil:
memenuhi kebutuhan metabolik
Tanda Vital dalam rentang
tubuh.
normal (Tekanan darah, nadi,
Batasan Karakteristik:
respirasi)
Perubahan Frekuensi/Irama
Dapat mentoleransi aktivitas,
Jantung
tidak ada kelelahan
- Aritmia
Tidak ada edema paru,
- Bradikardi, Takikardi
perifer dan tidak ada asites
- Perubahan EKG
Tidak ada penurunan
- Palpitasi
kesadaran
Perubahan Preload
- Penurunan tekanan vena
central (central venous
pressure, CVP)
- Penurunan tekanan arteri paru
(pulmonary artery wedge
pressure, PAWP)
- Edema, keletihan
- Peningkatan CVP
- peningkatan PAWP
- distensi vena jugular
- murmur

NIC
Cardiac Care
- Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi,
durasi)
- Catat adanya disritmia jantung
- Catat adanya tanda dan gejala penurunan
cardiac output.
- Monitor status kardiovaskuler
- Monitor status pernafasan yang menandakan
gagal jantung
- Monitor abdomen sebagai indicator penurunan
perfusi
- Monitor balance cairan
- Monitor adanya perubahan tekanan darah
- Monitor respon pasien terhadap efek
pengobatan antiaritmia
- Atur periode latihan dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
- Monitor toleransi aktivitas pasien
- Monitor adanya dyspneu, fatigue, takipneu dan
ortopneu
- Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu dan RR
- Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Monitor VS saat pasien berbaring, duduk atau

20

- peningkatan berat badan


Perubahan Afterload
- Kulit lembab
- Penurunan nadi perifer
- Penurunan resistensi vascular
paru (pulmunary vascular
resistence, PVR)
- Penurunan resistensi vaskular
sistemik (sistemik vaskular
resistence, SVR)
- Dispnea
- Peningkatan PVR
- Peningkatan SVR
- Oliguria
- Pengisien kapiler memanjang
- Perubahan warna kulit
- Variasi pada pembacaan
tekanan darah
Perubahan kontraktilitas
- Batuk, Crackle
- Penurunan indeks jantung
- Penurunan fraksi ejeksi
- Ortopnea
- Dispnea paroksismal
nokturnal
- Penurunan LVSWI (left
ventricular stroke work
index)

berdiri
Auskultasi TD, nadi, RR, sebelum, selama dan
setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor adanya pulsus paradoksus
Monitor adanya pulsus alterans
Monitor jummlah dan irama jantung
Monitor bunyi jantung
Monitor frekuensi dan irama pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign.

21

5.

Penurunan stroke volume


index (SVI)
- Bunyi S3, Bunyi S4
Perilaku emosi
- Ansietas, Gelisah
Faktor Yang Berhubungan:
Perubahan afterload
Perubahan kontraktilitas
Perubahan frekuensi janutng
Perubahan preload
Perubahan irama
Perubahan volume sekuncup.
Intoleransi aktifitas b.d
ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen (hipoksia)
kelemahan.
Definisi: ketidakcukupan energi
psikologis atau fisiologis untuk
melanjutkan atau menyelesaikan
aktifitas kehidupan sehari-hari yang
harus atau yang ingin dilakukan.
Batasan karakteristik:
Respon tekanan darah abnormal
terhadap aktivitas
Perubahan EKG yang
mencerminkan aritmia
Perubahan EKG yang

NOC
Energy conservation
Activity tolerance
Self Care: ADLs
Kriteria Hasil:
Berpartisipasi dalam aktivitas
fisik tanpa disertai
peningkatan tekanan darah,
nadi dan RR
Mampu melakukan aktivitas
sehari-hari (ADLs) secara
mandiri
Tanda-tanda vital normal
Energy psikomotor

NIC
Activity Therapy
- Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi
Medik dalam merencanakan program terapi
yang tepat.
- Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan.
- Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang
sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
- Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang diperlukan untuk
aktivitas yang diinginkan
- Bantu untuk mendapatkan alat bantuan
aktivitas seperti kursi roda, krek

22

mencerminkan iskemia
Level kelemahan
Ketidaknyamanan setelah
Mampu berpindah: dengan
beraktivitas
atau tanpa bantuan alat
Status kardiopulmonari
Dispnea setelah beraktivitas
adekuat
Menyatakan merasa letih
Sirkulasi status baik
Menyatakan merasa lemah
Status respirasi: pertukaran
Faktor yang berhubungan:
gas dan ventilasi adekuat.
Tirah Baring atau imobilisasi
Kelemahan umum
Ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
Imobilitas
Gaya hidup monoton
Ketidakseimbangan nutrisi kurang NOC
dari kebutuhan tubuh b.d laju
Nutritional status: food and
metabolic, dispnea saat makan,
fluid intake
kelemahan otot pengunyah.
Nutritional Status: nutrient
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup
intake
untuk memenuhi kebutuhan
Weight control
metabolik
Kriteria Hasil:
Batasan karakteristik:
Adanya peningkatan berat
Kram abdomen
badan sesuai dengan tujuan
Nyeri abdomen
Berat badan ideal sesuai
Menghindari makanan
dengan tinggi badan

Mampu mengidentifikasi
Berat badan 20% atau lebih di
kebutuhan nutrisi
bawah berat badan ideal

6.

Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang


disukai
Bantu klien untuk membuat jadwal latihan di
waktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual

NIC
Nutrition Management
- Kaji adanya alergi makanan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
pasien
- Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
- Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein
dan vitamin C
- Berikan substansi gula
- Yakinkan diet yang dimakan mengandung
tinggi serat untuk mencegah konstipasi
- Berikan makanan yang terpilih (sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi)

23

Kerapuhan kapiler
Diare
Kehilangan rambut berlebihan
Bising usus hiperaktif
Kurang makanan
Kurang informasi
Kurang minat pada makanan
Penurunan berat badan dengan
asupan makanan adekuat
Kesalahan konsepsi
Kesalahan informasi
Membran mukosa pucat
Ketidakmampuan memakan
makanan
Tonus otot menurun
Mengeluh gangguan sensasi rasa
Mengeluh asupan makanan
kurang dari RDDA (recomended
daily allowance)
Cepat kenyang setelah makan
Sariawan rongga mulut
Steatorea
Kelemahan otot pengunyah
Kelemahan otot untuk menelan
Faktor-faktor yang berhubungan:

Tidak ada tanda-tanda


malnutrisi
Menunjukkan peningkatan
fungsi pengecapan dari
menelan
Tidak terjadi penurunan berat
badan yang berarti

Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan


makanan harian
- Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
- Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
- BB pasien dalam batas normal
- Monitor adanya penurunan berat badan
- Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa
dilakukan
- Monitor interaksi anak atau orangtua selama
makan
- Monitor lingkungan selama makan
- Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
selama jam makan
- Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
- Monitor turgor kulit
- Monitor kekeringan, rambut kusam dan mudah
patah
- Monitor mual dan muntah
- Monitor kadar albumin, total protein, Hb dan
kadar Ht
- Monitor pertumbuhan dan perkembangan
- Monitor pucat, kemerahan dan kekeringan
jaringan konjungtiva
- Monitor kalori dan intake nutrisi
- Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik

24

7.

Faktor biologis
Faktor ekonomi
Ketidakmampuan untuk
mengabsorbsi nutrien
Ketidakmampuan untuk
mencerna makanan
Ketidakmampuan menelan
makanan
Faktor psikologis
Ansietas b.d keadaan penyakit
NOC
yang diderita.
Anxiety self-control
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau Anxiety level
kekhawatiran yang samar disertai
Coping
respon autonom (sumber yang sering Kriteria Hasil:
kali tidak spesifik atau tidak
Klien mampu
diketahui oleh individu); perasaan
mengidentifikasi dan
takut yang disebabkan oleh antisipasi
mengungkapkan gejala
terhadap bahaya. Hal ini merupakan
cemas
isyarat kewaspadaan yang
Mengidentifikasi,
memperingatkan individu akan
mengungkapkan dan
adanya bahaya dan kemampuan
menunjukkan tehnik untuk
invididu untuk bertindak menghadapi
mengontrol cemas
ancaman.
Vital sign dalam batas normal
Batasan karakteristik:
Postur tubuh, ekspresi wajah,
Perilaku
bahasa tubuh dan tingkat
- Penurunan produktivitas
aktivitas menunjukkan
- Gerakan yang ireleven
berkurangnya kecemasan.

papila lidah dan cavitas oral


Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet.

NIC
Anxiety Reduction (Penurunan Kecemasan)
- Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
perilaku pasien
- Jelaskan semua prosedur dan apa yang
dirasakan selama prosedur
- Pahami perspektif pasien terhadap situasi stres
- Temani pasien untuk memberikan keamanan
dan mengurangi takut
- Dorong keluarga untuk menemani anak
- Lakukan back/neck rub
- Dengarkan dengan penuh perhatian
- Identifikasi tingkat kecemasan
- Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi

25

Gelisah
Melihat sepintas
Insomnia
Kontak mata yang buruk
Mengekspresikan
kekhawatiran karena
perubahan dalam peristiwa
hidup.
- Agitasi
- Mengintai
- Tampak waspada
Affektif:
- Gelisah, Distres
- Kesedihan yang mendalam
- Ketakutan
- Perasaan tidak adekuat
- Berfokus pada diri sendiri
- Peningkatan kewaspadaan
- Iritabilitas
- Gugup senang berlebihan
- Rasa nyeri yang
meningkatkan
ketidakberdayaan
- Iritabilitas
- Gugup senang berlebihan
- Rasa nyeri yang
meningkatkan ketidak
berdayaan

Instruksikan pasien menggunakan teknik


relaksasi
Berikan obat untuk mengurangi kecemasan

26

Peningkatan rasa ketidak


berdayaan yang persisten
- Bingung, menyesal
- Ragu/tidak percaya diri
- Khawatir
Fisiologis
- Wajah tegang, tremor tangan
- Peningkatan keringat
- Peningkatan ketegangan
- Gemetar, tremor
- Suara bergetar
Simpatik
- Anoreksia
- Eksitasi kardiovaskuler
- Diare, mulut kering
- Wajah merah
- Jantung berdebar-debar
- Peningkatan tekanan darah
- Peningkatan denyut nadi
- Peningkatan reflek
- Peningkatan frekuensi
pernapasan, pupil melebar
- Kesulitan bernapas
- Vasokontriksi superfisial
- Lemah, kedutan pada otot
Parasimpatik
- Nyeri abdomen

27

- Penurunan tekanan darah


- Penurunan denyut nadi
- Diare, mual, vertigo
- Lebih, gangguan tidur
- Kesemutan pada extremitas
- Sering berkemih
- Anyang-anyangan
- Dorongan segera berkemih
Kognitif
- Menyadari gejala fisiologis
- Bloking fikiran, konfusi
- Penurunan lapang persepsi
- Kesulitan berkonsentrasi
- Penurunan kemampuan
belajar
- Penurunan kemampuan untuk
memecahkan masalah
- Ketakutan terhadap
konsekuensi yang tidak
spesifik
- Lupa, gangguan perhatian
- Khawatir, melamun
- Cenderung menyalahkan
orang lain
Faktor Yang Berhubungan
- Perubahan dalam (status
ekonomi, lingkungan, status
kesehatan, pola interaksi,

28

fungsi peran, status peran)


Pemajanan toksin
Terkait keluarga
Herediter
Infeksi/kontaminan
interpersonal
Penularan penyakit
interpersonal
Krisis maturasi, krisis
situasional
Stres, ancaman kematian
Penyalahgunaan zatancaman
pada (status ekonomi,
lingkungan, status kesehatan,
pola interaksi, fungsi peran,
status peran, konsep diri)
Konflik tidak disadari
mengenai tujuan penting
hidup
Konflik tidak disadari
mengenai nilai yang
esensial/penting
Kebutuhan yang tidak
dipenuhi.

29

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1 Kesimpulan
Menurut WHO pada 2006 ada 300 juta orang di dunia yang
menderita penyakit asma dan ada 225 ribu penderita asma meninggal dunia.
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas.
BeberapafaktorresikopadapenyakitAsmayaitu,faktorpenjamudan
faktorlingkungan,yangmenyebabkanseseorangmengalamiseranganAsma
bahkanjikatidakditanganidenganseriusbisaterjadiperubahanirreversible
padastrukturdanfungsijalannafas,denganmanifestasiklinisbatuk,sesak
nafasyang
biasaterjaditerutamadimalamhari, mengi,penggunaanotot
pernafasantambahan,retraksidindingdada,dll.
Beberapadiagnosakeperawatanyangmungkinmunculdiantaranya:
1) Ketidakefifan bersihanjalannafasberhubungandengan mucus dalam jumlah
berlebihan, peningkatan produksi mukus, eksudat dalam alveoli dan
bronkospasme
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan
dan deformitas dinding dada
3) Gangguan pertukaran gas berhungan dengan retensi karbondioksida
4) Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontakbilitas
dan volume sekuncup jantung
5) intolerasi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen (hipoksia) kelemahan
6) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari b.d laju metabolic , dispnea saat
makan, kelemahan otot pengunyah
7) Ansietas b.d keadaan penyakit yang diderita
1.2 Saran
Pasien hendaknya memahami tentang kondisi penyakitnya dan
mampu menghindari faktor pencetus timbulnya Asma dan ketika sudah
terjadi serangan hendaknya pasien mampu melakukan penatalaksanaan
penyakit asma di rumah, ketika terjadi serangan asma berat hendak nya
langsung ke layanan kesehatan terdekat
Peran tenaga medis dan layanan
kesehatan sangat penting dalam menolong penderita Asma, harus selalu
meningkatkan pelayanan, salah satunya yang sering diabaikan adalah
memberikan edukasi atau pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan
kepada penderita dan keluarganya akan sangat berarti bagi penderita,
terutama bagaimana sikap dan tindakan yang bisa dikerjakan pada waktu
menghadapi serangan, dan bagaimana caranya mencegah terjadinya serangan
asma.

30

DAFTAR PUSTAKA
Depkes. ( 2008). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1023/MENKES/SK/XI/2008. Pedoman pengendalian penyakit asma.
Jakarta:Depkes RI.
Djojodibroto. (2009). Respirologi ( Respiratory Medicine). Jakarta : EGC
Geiger,M.&Wilson,B.D.J ( 2008).Respiratorynursing(acorecurriculum).
NewYork:SpringerPublishingCompany.
Nurarif & Kusuma. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction.
Sudoyo, dkk. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 edisi 5. Jakarta pusat :
Interna Publising
Williams,Lippincott&Wilkins.
(2002).Kapitaselektapenyakitdenganimplikasi
keperawatanedisi2.Jakarta:EGC
Global Initiative For Asthma.(2015). Pocket Guide For Asthma
Management and
Prevention. www.ginasthma.org. diakses tanggal 22 -09-15
Smeltzer, Suzanne C. Bare, Brenda G. Hinkle, Janice L. Cheever, Kerry
H.(2013).
Brunner & Suddarths Textbook of Medical-Surgical Nursing 12ed.
China.Lippincott Williams & Wilkins

31

LAMPIRAN

32