You are on page 1of 37

Beberapa Permasalahan Lingkungan Hidup di Indonesia

Dipublikasi pada 24 April 2013 oleh Ari Sudewa


Lingkungan hidup, sering disebut sebagai lingkungan, adalah

istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam
yang ada di Bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara alami tanpa campur
tangan manusia yang berlebihan. Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu
tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling
mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan
hidup.
Merujuk pada definisi di atas, maka lingkungan hidup Indonesia tidak lain merupakan
Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera
dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi
alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa
Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.
Indonesia dengan beragam bentuk fisik (relief) dan penduduknya memiliki beberapa
permasalahan yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan
hidup Indonesia terjadi di berbagai sektor beserta segala kompleksitas, penyebab, dan
akibat masing-masing. Di blog ini saya akan membahas mengenai permasalahan air,
permasalahan sampah, permasalahan hutan, dan permasalahan ekosistem pantai.

Permasalahan Air
Indonesia memiliki permasalahan air yang seringkali diakibatkan oleh
penduduknya sendiri. Berikut beberapa permasalahan air yang banyak terjadi di
Indonesia.
Permasalahan Sungai
Sungai-sungai di Indonesia memiliki peranan penting bagi kehidupan, yaitu sebagai
sarana irigasi, sumber air minum, keperluan industri, dan lain-lain. Tetapi dalam kurun
waktu lima tahun ini, kualitas air telah mengalami penurunan. Hal itu disebabkan
sebanyak 64 dari 470 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia dalam keadaan kritis.
Pendangkalan sungai terjadi di mana-mana. Selain itu, sungai di Indonesia banyak yang
tercemar oleh berbagai limbah di antaranya:
o Limbah domestik, yaitu limbah rumah tangga berupa detergen, tinja, dan
sampah yang sengaja dibuang ke sungai.
o Limbah Industri berupa berbagai zat kimia dan logam berat yang
berbahaya dan beracun.

Limbah pertanian seperti sisa pestisida dan pupuk.


o Racun dari kegiatan penangkapan ikan yang terlarang.
Pencemaran Air Tanah
Perumahan di kota-kota padat di Indonesia banyak yang menggunakan sumur tanah
sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari, menggantikan peran PAM. Akan tetapi,
air tanah dari sumur-sumur tersebut mengandung bakteri Fecal coli, coliform,
serta mineral-mineral seperti besi yang melebihi baku mutu. Sumber pencemaran tersebut
berasal dari tempat penampungan tinja penduduk (septic tank). Akibatnya, kondisi air
berwarna kuning dan berbau. Hal ini bisa saja tidak terjadi jika jarak antara septic tank
dengan sumur lebih dari 10 meter. Tapi karena kota merupakan kawasan padat, hal ini
menjadi sulit diimplementasikan dan terjadilah pencemaran air tanah.
Selain itu, pembuangan limbah industri yang berdekatan dengan sumur penduduk juga
menyebabkan air tanah tercemar. Air tanah di kota-kota besar yang dekat pantai (seperti
Jakarta) juga tercemar oleh air asin (air laut) karena penyedotan air tanah secara besarbesaran oleh industri dan berbagai bangunan besar. Karena air tanah sudah banyak
tersedot, akhirnya di rongga bekas air tanah tadi air laut merembes dan mengurangi
kualitas air tanah yang disedot oleh kota.
Pencemaran air memberikan dampak sebagai berikut.
1 Musnahnya berbagai jenis ikan dan terjadi kerusakan pada tumbuhan air. Dampak
lebih lanjut yang terjadi adalah terganggunya ekosistem yang pada saatnya pasti
akan merugikan manusia sendiri.
2 Air sungai yang terkontaminasi mengancam kesehatan penduduk di sepanjang
DAS karena menjadi sumber berbagai penyakit.
3 Terjadinya banjir di musim hujan.
4 Bau menyengat dari limbah pabrik.
5 Terjadinya kelangkaan air bersih.
6 Terjadinya blooming algae, suatu keadaan ketika air sungai dan danau ditutupi
oleh ganggang yang menyebabkan matinya biota bawah air. Blooming algae
disebabkan oleh banyaknya pupuk yang terlarut dalam air.
o

Limbah dari sungai yang terbawa ke laut akan mencemari biota laut, sehingga
turut membawa petaka bagi manusia yang mengonsumsinya. Sebgai contoh
penyakit Minamata di Jepang, suatu penyakit yang terjadi di daerah Minamata
yang disebabkan oleh menumpuknya logam berat dalam tubuh ikan laut yang
dikonsumsi orang-orang.
Upaya penganggulangan pencemaran air dapat dilakukan dengan langkah berikut.
1 Membatasi. Limbah harus diminimalisir dan kalau bisa didaur ulang. Jika tidak
bisa didaur ulang, limbah harus dinetralisir agar tidak mencemari lingkungan.
2 Mengawasi. Masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya harus turut mengawasi
dan menjaga pelestarian air.
3 Mengendalikan. Pelaksanaan undang-undang lingkungan hidup harus tegas, para
pelanggar harus diganjar dengan sanksi yang sesuai.

Permasalahan Sampah
Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat mengakibatkan tingkat konsumsi masyarakat
juga bertambah banyak. Hal ini memberi kontribusi langsung pada meningkatnya volume
sampah yang tidak diimbangi oleh upaya penanggulangannya. Hal ini menyebabkan
banyak terjadi permasalahan lingkungan hidup. Sebut saja linkungan menjadi kotor,
jorok, bau, dll. Itu baru contoh sekitar. Contoh lebih lanjut adalah gejala keracunan dan
merebaknya penyakit.
Beberapa langkah untuk menanggulangi permasalahan sampah di Indonesia di antaranya
berikut ini.
Pembuatan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengelola
sampah. Lokasinya harus jauh dari permukiman penduduk.
Penerapan prinsip 4R: replace (mengganti), reduce (mengurangi), reuse
(menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang).
Penempatan bak sampah yang terpisah antara oraganik dan anorganik sehingga
mempermudah pengelolaannya.
Memproduksi dan memasyarakatkan peralatan untuk mendaur ulang sampah.
Mengadakan kerja bakti secara berkala.

Permasalahan Hutan
Pola konsumsi masyarakat kian meningkat terutama yang berhubungan dengan hasil
hutan. Kebutuhan akan kertas, mebel, dan bahan bangunan telah meningkat tajam. Hal ini
dapat menguras keberadaan hutan produksi. Sebenarnya kita pun sering merusak hutan.
Dengan membuang-buang kertas atau memakainya secara berlebihan, kita turut andil
dalam mendorong para penebang hutan liar melaksanakan aksinya.
Berdasarkan data BPS tahun 2004, luas hutan yang telah rusak maupun kritis telah
mencapai 59 juta hektar. Rata-rata terjadi pengurangan luas hutan 1,6 juta hektar per

tahun. Bayangkan bagaimana kondisi hutan Indonesia 10 tahun ke depan.

Kerusakan hutan telah berakibat buruk pada kehidupan, seperti tanah longsor, banjir,
hilangnya banyak spesies hewan dan tumbuhan, tanah tandus dan tidak produktif,
kekeringan, pemanasan global, dll. Kelestarian hutan Indonesia perlu dilakukan dengan
langkah-langkah pelaksanaan sebagai berikut.
1 Melakukan reboisasi.
2 Jika ingin menebang kayu, lakukan sistem tebang pilih.
3 Masyarakat, lembaga swadaya, dan pemerintah harus mengawasi dan menjaga
hutan.
4 Memberikan sanksi berat bagi penebang hutan liar.

Permasalahan Ekosistem Pantai


Ekosistem pantai merupakan ekosistem yang memiliki kekayaan alam beragam karena
merupakan pertemuan antara wilayah darat dan wilayah laut. Berbagai jenis makhluk
hidup dapat ditemukan di pantai. Di daerah pantai dapat ditemukan hutan bakau, terumbu
karang, dan tentu saja pasir pantai
Hutan bakau dapat dijadikan bahan baku pembuatan mebel. Terumbu karang merupakan
kawasan yang indah, namun sayang sering ada tangan-tangan jahil yang mencopoti
terumbu karang untuk dijual. Adapun pasir pantai dapat dijadikan bahan bangunan.
Pengerukan sumber daya alam pantai secara berlebihan dapat membuat pantai menjadi
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ekosistem pantai akan hancur.
Untuk mengurangi dampak rusaknya ekosistem pantai, perlu dilakukan langkah berikut.
1 Reboisasi hutan bakau.
2 Dibuat peraturan yang membatasi penambangan pasir.

3
4

Masyarakat terutama nelayan ikut berperan aktif dalam menjaga daerah pesisir
pantai.
Pemberian tanggung jawab untuk konservasi hutan di sepanjang pantai bagi
pengusaha yang bergerak di bidang wisata bahari.

http://bicara.id/walhi-ekosistem-karst-maros-diambang-kehancuran/

PENCEGAHAN KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP


BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
2.
Masalah lingkungan Hidup pada hakekatnya merupakan ketidaknormalan kondisi
ekosistem. Hal ini terjadi karena tidak berfungsinya secara wajar salah satu atau beberapa
unsur ekosistem yang akibatnya dapat diraskan oleh manusia. Masalah lingkungan terjadi
oleh aktifitas manusia yang beranggapan bahwa manusia dapat memanfaatkan
lingkungan sesuai yang diinginkannya. Perubahan strategi pemanfaatan lingkungan yang
seharusnya hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia, bergeser menjadi untuk
memenuhi keinginan manusia berakibat manusia kehilangan kendali dan tidak ada usaha
untuk mengadakan penghematan akan cadangan sumber daya alam yang ada. Pada
dasarnya masalah lingkungan yang kita hadapi sekarang ini adalah masalah kepadatan
penduduk dan kemiskinan, serta masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup
oleh proses pembangunan. Penyebab terjadinya masalah lingkungan tersebut adalah
adanya pertambahan penduduk, sehingga penyediaan akan kebutuhan pun bertambah
banyak pula. Semakin besarnya jumlah penduduk mengakibatkan terjadinya persaingan
dalam mempertahankan eksistensinya, sehingga berkembang pola-pola kehidupan
persaingan yang mengakibatkan manusia tidak puas dengan terpenuhi kebutuhannya,

tetapi merasa perlu lebih dari pada yang lain sehingga manusia terdorong untuk
memenuhi kebutuhannya.
Masalah kerusakan lingkungan selalu menjadi sesuatu yang kasatmata jika berbicara
tentang isu-isu lingkungan hidup. Padahal, kerusakan lingkungan tidak serta merta terjadi
dan tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan banyak hal dan banyak kepentingan
yang saling berpengaruh. Seperti kasus dugaan pencemaran lingkungan Teluk Buyat oleh
PT Newmont Minahasa Raya yang akan menduduki peringkat teratas daftar kasus utama
lingkungan hidup yang belum diselesaikan.
Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)
Longgena Ginting mengemukakan bahwa masalah lingkungan yang sedang kita hadapi
jauh lebih buruk dan kompleks dari yang dapat dibayangkan. Degradasi lingkungan telah
mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan dan sudah pada tingkat mengancam
kehidupan kita sendiri. Masalah lingkungan tidak lagi dapat digambarkan dengan tingkat
deforestasi, polusi, degradasi lingkungan, banjir, atau fenomena lain yang secara fisik
dapat dilihat. Akan tetapi, di balik semua itu, kita sedang menghadapi destruksi yang
secara sistematis menempatkan manusia dalam risiko yang sangat besar di masa yang
akan datang.
Masalah lingkungan hidup bukan hanya persoalan salah satu negara saja, tetapi
sudah menjadi tanggung jawab seluruh bangsa dan negara (kehidupan global). Oleh
karena itulah berbagai upaya dilakukan orang untuk mencegah tambah rusaknya
lingkungan hidup. Seperti dengan diselenggarakannya KTT Bumi, Protocol Kiyoto, dan
sebagainya. Bahkan beberapa negara yang masih memanfaatkan bahan bakar fosil,
berusaha mengurangi efek rumah kaca dengan menggunakan bahan bakar gas alam yang
secara ekonomis sangat kompetitif bila dibandingkan dengan penggunaan minyak bumi
atau baatubara. Mengurangi pembakaran bahan bakar fosil bagi pemenuhan kebutuhan
energi ini tentu mempunyai manfaat yang besar, paling tidak sebagai langkah
penghematan cadangan sumber daya alam yang ada untuk dipergunakan oleh anak cucu
kita nanti.
Manusia di bumi ini menmpunyai tugas utama yaitu memanfaatkan dan memelihara
lingkungan hidup. Kedua tugas ini harus dapat berjalan seimbang, bukan hanya
memanfaatkan yang di nomer satukan. Oleh karena itu melakukan pencegahan dan

perbaikan kerusakan lingkungan hidup merupakan tugas kita sebagai manusia yang
merupakan subyek penyebab kerusakan lingkungan hidup dan sekaligus obyek yang
terkena dampak dari kerusakan tersebut.
1.
Rumusan Masalah
2.
1
Apa penyebab dari kerusakan lingkungan hidup?
2
3
Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan
lingkungan hidup?
4
5
Bagaimana kebijakan pemerintah Indonesia dan dunia untuk mengatasi kerusakan
lingkungan hidup?
6
7
Apa saja kelemahan strategis dalam pencegahan kerusakan lingkungan hidup di
Indonesia?
8
1.
Tujuan
2.
1
Untuk mengetahui penyebab dari kerusakan lingkungan hidup.
2
3
Untuk mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
kerusakan lingkungan hidup.
4
5
Untuk mengetahui kebijakan pemerintah Indonesia dan dunia untuk mengatasi
kerusakan lingkungan hidup.

6
7
Untuk mengetahui kelemahan strategis dalam pencegahan kerusakan lingkungan
hidup di Indonesia.
8

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penyebab Kerusakan Lingkungan Hidup


Penyebab utama kerusakan lingkungan hidup menurut Emil Salim ada dua yaitu:
1
Pertumbuhan penduduk
2
Akibat adanya pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan terjadinya
defersifikasi mata pencaharian penduduk dan pertambahan kebutuhan
penduduknya, maka hal ini berakibat semakin sulitnya pengontrolan terhadap
pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di dalam lingkungan. Salah satu
dampak langsung dari pertumbuhan penduduk ini adalah terjadinya kemiskinan.
Adanya kemiskinan ini secara tidak langsung juga memberi sumbangan terhadap
kerusakan lingkungan hidup. Beberapa masalah yang berkaitan antara tingkat
kemiskinan dan tingkat kerusakan lingkungan hidup antara lain:

Lahan tempat tinggal penduduk.

Penduduk miskin yang terdesak akan mencari lahan-lahan kritis atau


lahan-lahan konservasi sebagai tempat pemukiman. Lahan-lahan yang
seharusnya berfungsi sebagai kawasan penyangga atau mempunyai fungsi
konservasi tersebut akan kehilangan fungsi lingkungannya setelah
dimanfaatkan untuk kawasan pemukiman. Akibat berikutnya, maka akan
menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan lingkungan.

Lapangan pekerjaan

Penduduk miskin tanpa mata pencaharian akan memanfaatkan lingkungan


sekitar, sebagai usaha dalam memenuhi kebutuhannya tanpa
mempertimbangkan kaidah-kaidah ekologis yang berlaku. Karena desakan

ekonomi, banyak penduduk yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya


memasuki kawasan-kawasan yang sebenarnya dilindungi, apabila tidak
dicegah dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama menyebabkan kawasan
lindung akan berkurang bahkan hilang sama sekali, yang berdampak pada
hilangnya fungsi lingkungan (sebagai pemberi jasa lingkungan).

Rendahnya kesadaran lingkungan

Penduduk miskin yang mempunyai tingkat pendidikan rendah akan


cenderung mempunyai tingkat pengetahuan, kesadaran dan kepedulian
terhadap lingkungan hidup yang juga rendah. Ada kaitan yang erat dan
bersifat timbal-balik antara kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan
penduduk. Biasanya, kemiskinan disebabkan oleh rendahnya tingkat
pendidikan dan sebaliknya kemiskinan menyebabkan rendahnya tingkat
pendidikan penduduk yang dapat diraih.Bila pendidikan penduduk rendah
maka pemahaman terhadap masalah-masalah lingkungan juga rendah.
Dampak selanjutnya, bila pemahaman terhadap masalah-masalah yang
berkaitan dengan lingkungan rendah maka tingkat kesadaran dan kepedulian
terhadap lingkungan hidup yang sehat juga rendah bahkan tidak ada.

Pola hidup konsumtif yang telah banyak dipraktekkan oleh negara-negara maju,
telah mempercepat proses kerusakan lingkungan. Hal ini ditunjukkan dengan
pemakaian bahan bakar fosil yang mereka gunakan, yaitu sebesar 70% dari
penduduk dunia. Pembakaran fosil seperti minyak bumi dan batu bara secara besarbesaran ini mereka lakukan untuk keperluan pembangkit tenaga listrik,
industrialisasi, dan transportasi. Pembakaran bahan bakar menghasilkan gas yang
berbahaya seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), dan belerang
dioksida (SO2). Peningkatan jumlah gas ini secara tidak langsung mempunyai efek
terhadap manusia melalui perubahan iklim. Karbon dioksida (CO2) menyebabkan
efek rumah kaca (greenhouse) transparan terhadap radiasi gelombang pendek dan
meyerap radiasi gelombang panjang. Dengan demikian kenaikan konsentrasi CO2 di

atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi. Pembakaran bahan


bakar yang menghasilkan energi, merupaka n sumber utama pencemaran udara.
Sampai sekarang masalah pencemaran batu bara, yiatu jelaga, belerang dioksida, abu
yang beterbangan, dan zat yang dimuntahkan dari industri ke atmosfer. Pemakaian
bahan bakar minyak dan gas alam untuk tenaga listrik, gasolin, dan kerosin untuk
kapal jet, dan minyak diesel untuk transportasi menimbulkan pencemaran udara jenis
baru dalam hal ini reaksi fotokimia berperan penting. Dengan konsumsi energi yang
demikian tinggi dan pola hidup yang konsumtif, masyarakat negara maju telah
menjadi penghasil berbagai limbah dalam jumlah yang sangat besar.

1
Kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)
2
Kemajuan IPTEK merupakan prestasi gemilang yang dicapai manusia
yang sekaligus merupakan penyebab terbesar kerusakan lingkungan. Peradaban
manusia semakin maju, seiring dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi
yang canggih. Kemajuan di bidang teknologi ini mempengaruhi sikap dan
pandangan hidup manusia. Sikap dan pandangan hidup yang semula immanent
atau holistik berangsur menjadi pandangan yang bercorak transeden. Pandangan
ini memandang lingkungan hidup sebagai obyek bukan sebagai bagian dari
integral dirinya. Lingkungan tidak dipandang sejajar atau fungsional melainkan
sudah menjadi subordinasi dari kepentingan manusia, karena itu lingkungan dapat
dieksploitasi berdasarkan kehendak untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Alam harus ditundukkan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia.
Pesatnya kemajuan IPTEK turut menggesar pola pikir dan tingkah laku
manusia. Terjadi pergesaran nilai hubungan antar manusia dengan lingkungannya.
Tingkah laku yang dipengaruhi kemajuan IPTEK tersebut, memberikan tekanan
yang semakin berat pada daya dukung lingkungan.

2.2 Upaya Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup


Upaya pencegahan terhadap kerusakan lingkungan hidup penting untuk dilakukan, jika
melihat kerusakan yang ada sekarang. Ketusakan lingkungan di wilayah Indonesai sudah
masuk dalam kategori berat. Jika kita melihat kerusakan hutan yang ada di Indonesia,
maka kita akan tahu bahwa seluruh hutan di Indonesia sebagian besar sudah rusak.
Berdasarkan Statistik Kehutanan 1993, luas kawasan hutan diperkirakan sekitar 141,8
juta hektare. Pada 2001 luas itu telah menurun menjadi sekitar 108,6 juta hektare. Jadi,
selama kurun waktu 8 tahun itu luas hutan menyusut sebesar 32,2 juta hektare.
Penyusutan terbesar terjadi di Kalimatan, yakni 12,8 juta hektare per delapan tahun, sama
dengan 1,6 juta hektare setahun, disusul hutan Sumatera (hilang 11,6 juta hektare), dan
lain-lain. Dengan data-data ini, bisa dibayangkan begitu terancamnya bumi kita. Menurut

data ini juga, hutan taman nasional atau hutan lindung, yang luasnya 21 juta hektare,
cukup terlindungi. Namun, pantauan Ditjen Bangda Depdagri terhadap 11 hutan taman
nasional pada 2004 di Sumatera menunjukkan terjadi penjarahan di sana. Ini merupakan
data tentang kerusakan hutan, sedangkan masih banyak lagi terjadi kerusakan di wilayah
perairan, udara maupun tanah.
Melihat kerusakan lingkungan hidup yang terjadi begitu besar, maka sudah
sepantasnya jika perlu dilakukan upaya pencegahan pada terjadinya kerusakan yang
berkelanjutan, agar kerusakan yang terjadi tidak bertambah. Selain itu juga perlu
dilakukan upaya perbaikan pada kerusakan-kerusakan yang terjadi. Upaya pencegahan
kerusakan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat
luas tentang pentingnya menjaga linkungan. Pendidikan ini dapat diberikan pada sekolahsekolah formal yang ada, untuk mendidik anak-anak muda (siswa) sebagai generasi
penerus bangsa. Selain itu juga dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan atau
seminar-seminar kepada masyarakat umum melalui lembaga kemasyarakatan yang ada.
Pendidikan ini perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang
fakta kerusakan lingkungan yang sudah terjadi dan pentingnya menjaga lingkungan yang
ada agar atidak terjadi kerusakan yang serupa, karena kerusakan lingkungan ini juga akan
berdampak pada manusia itu sendiri. Kepada para pengusaha juga perlu diberikan
pengertian tentang lingkungan hidup, agar mereka tidak membuang limbah sisa industri
yang berbahaya di lingkungan. Limbah industri yang berbahaya dapat mencemari tanah,
air, bahkan udara jika industri tersebut menghasilkan asap. Untuk itu kepada para
pengusaha itu perlu diberikan pembinaan tentang cara mengolah atau menyaring limbah
sisa produksi mereka, sebelum dibuang ke lingkungan. Dalam pemilihan tempat industri
pun juga harus memperhatikan etika lingkungan agar tidak mencemari air tanah, udara
sekitar perkampungan, maupun tanah pertanian penduduk.
Upaya pendekatan melalui pendidikan ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk memperoleh pengertian dasar
tentang lingkungan hidup, permasalahannya serta peran dan tanggung jawab manusia
dalam upaya melestarikan fungsi-fungsi lingkungan hidup.

2. Membantu individu dan masyarakat mengembangkan ketrampilan yang dibutuhkan


dalam pengelolaan, menjaga kelestarian fungsi lingkungan dan memecahkan
permasalahan lingkungan.
3. Memupuk kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan hidup dan permasalahannya,
melalui penyuluhan terhadap individu atau masyarakat tentang sistem nilai yang sesuai,
kepekaan yang kuat atas keperdulian tentang lingkungan dan motivasi untuk secara aktif
berpartisipasi terhadap pelestarian fungsi-fungsi lingkungan dan pencegahan kerusakan
lingkungan.
Selain dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat, hal yang perlu
diperhatikan adalah masalah penegakan hukum. Seperti kasus ilegal logging (penebangan
hutan secara liar) yang memerlukan hukum yang tegas, agar para pelaku jera dan tidak
melakukan penebangan lagi. Penegakan hukum juga perlu dilakukan pada kasus-kasus
pembangunan yang menyalahi RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan AMDAL
(Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Di Indonesia masih banyak pembangunan
yang menyalahi aturan dalam AMDAL, seperti pembangunan mall-mall, kompleks
perumahan, maupun kawasan industri.
Untuk melakukan penanggulangan kerusakan lingkungan pemerintah harus
bekerja sama dengan masyarakat setempat, pengelolaan ini dikenal dengan Pengelolaan
Berbasis Masyarakat (PBM). PBM ini merupakan suatu sistem pengelolaan sumberdaya
alam dan lingkungan di suatu tempat dimana masyarakat lokal di tempat tersebut terlibat
secara aktif dalam proses pengelolaan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya.
Pengelolaan di sini meliputi berbagai dimensi seperti perencanaan, pelaksanaan, serta
pemanfaatan hasil-hasilnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan langkah sebagai
berikut:
(1) Persiapan
Dalam persiapan ini terdapat tiga kegiatan kunci yang harus dilaksanakan, yaitu (1)
sosialisasi rencana kegiatan dengan masyarakat dan kelembagaan lokal yang ada, (2)
pemilihan/pengangkatan motivator (key person) desa, dan (3) penguatan kelompok kerja
yang telah ada/pembentukan kelompok kerja baru.
(2) Perencanaan

Dalam melakukan perencanaan upaya penanggulangan pencemaran laut berbasis


masyarakat ini terdapat tujuh ciri perencanaan yang dinilai akan efektif, yaitu (1) proses
perencanaannya berasal dari dalam dan bukan dimulai dari luar, (2) merupakan
perencanaan partisipatif, termasuk keikutsertaan masyarakat lokal, (3) berorientasi pada
tindakan (aksi) berdasarkan tingkat kesiapannya, (4) memiliki tujuan dan luaran yang
jelas, (5) memiliki kerangka kerja yang fleksibel bagi pengambalian keputusan, (6)
bersifat terpadu, dan (7) meliputi proses-proses untuk pemantauan dan evaluasi.

(3) Persiapan Sosial


Untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi masyarakat secara penuh, maka
masyarakat harus dipersiapkan secara sosial agar dapat (1) mengutarakan aspirasi serta
pengetahuan tradisional dan kearifannya dalam menangani isu-isu lokal yang merupakan
aturan-aturan yang harus dipatuhi, (2) mengetahui keuntungan dan kerugian yang akan
didapat dari setiap pilihan intervensi yang diusulkan yang dianggap dapat berfungsi
sebagai jalan keluar untuk menanggulangi persoalan lingkungan yang dihadapi, dan (3)
berperanserta dalam perencanaan dan pengimplementasian rencana tersebut.
(4) Penyadaran Masyarakat
Dalam rangka menyadarkan masyarakat terdapat tiga kunci penyadaran, yaitu (1)
penyadaran tentang nilai-nilai ekologis ekosistem pesisir dan laut serta manfaat
penanggulangan kerusakan lingkungan, (2) penyadaran tentang konservasi, dan (3)
penyadaran tentang keberlanjutan ekonomi jika upaya penanggulangan kerusakan
lingkungan dapat dilaksanakan secara arif dan bijaksana.
(5) Analisis Kebutuhan
Untuk melakukan analisis kebutuhan terdapat tujuh langkah pelaksanaannya, yaitu: (1)
PRA dengan melibatkan masyarakat lokal, (2) identifikasi situasi yang dihadapi di lokasi
kegiatan, (3) analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, (4) identifikasi
masalah-masalah yang memerlukan tindak lanjut, (5) identifikasi pemanfaatan
kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan di masa depan, (6) identifikasi kendala-kendala
yang dapat menghalangi implementasi yang efektif dari rencana-rencana tersebut, dan (7)
identifikasi strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan kegitan.

(6) Pelatihan Keterampilan Dasar


Pelatihan keterampilan dasar perlu dilakukan untuk efektivitas upaya penanggulangan
kerusakan lingkungan, yaitu (1) pelatihan mengenai perencanaan upaya penanggulangan
kerusakan, (2) keterampilan tentang dasar-dasar manajemen organisasi, (3) peranserta
masyarakat dalam pemantauan dan pengawasan, (4) pelatihan dasar tentang pengamatan
sumberdaya, (5) pelatihan pemantauan kondisi sosial ekonomi dan ekologi, dan (6)
orientasi mengenai pengawasan dan pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang berkaitan
dengan upaya penanggulangan kerusakan lingkungan dan pelestarian sumberdaya.
(7) Penyusunan Rencana Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut
secara Terpadu dan Berkelanjutan
Terdapat lima langkah penyusunan rencana penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir
dan laut secara terpadu dan berkelanjutan, yaitu: (1) mengkaji permasalahan, strategi dan
kendala yang akan dihadapi dalam pelaksanaan upaya penanggulangan kerusakan
lingkungan, (2) menentukan sasaran dan tujuan penyusunan rencana penanggulangan, (3)
membantu pelaksanaan pemetaan oleh masyarakat, (4) mengidentifikasi aktivitas
penyebab kerusakan lingkungan, dan (5) melibatkan masyarakat dalam proses
perencanaan serta dalam pemantauan pelaksanaan rencana tersebut.
(8) Pengembangan Fasilitas Sosial
Terdapat dua kegiatan pokok dalam pengembangan fasilitas sosial ini, yaitu: (1)
melakukan perkiraan atau analisis tentang kebutuhan prasarana yang dibutuhkan dalam
upaya penanggulangan kerusakan lingkungan, penyusunan rencana penanggulangan dan
pelaksanaan penanggulangan berbasis masyarakat, serta (2) meningkatkan kemampuan
(keterampilan) lembaga-lembaga desa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
langkah-langkah penyelamatan dan penanggulangan kerusakan lingkungan dan
pembangunan prasarana.
(9) Pendanaan
Pendanaan merupakan bagian terpenting dalam proses implementasi upaya
penanggulangan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, peran pemerintah selaku
penyedia pelayanan diharapkan dapat memberikan alternatif pembiayaan sebagai dana
awal perencanaan dan implementasi upaya penanggulangan. Namun demikian, modal

terpenting dalam upaya ini adanya kesadaran masyarakat untuk melanjutkan upaya
penanggulangan dengan dana swadaya masyarakat setempat.

Upaya nyata yang dapat dilakukan sebagai tindakan untuk mencegah terjadinya
kerusakan lingkungan hidup ataupun meminimalisir dampak terhadap lingkungan hidup
adalah sebagai berikut:

Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (fossil fuel) dan mulai menggunakan
bahan bakar bio (biofuel).

Daur ulang limbah anorganik.

Penebangan hutan dengan sistem tebang pilih, dan sesuai kebutuhan.

Reboisasi atau penanaman hutan kembali.

Tidak membuang sampah pada tempat aliran air, seperti sungai, parit, dan
selokan.

Menggunakan kendaraan bermotor sesuai kebutuhan

Menghemat dalam penggunaan energi, misalnya listrik

Berusaha menggunakan barang yang ramah lingkungan, sehingga pemakaiannya


tidak hanya satu kali saja.

Menghemat air bersih

2.3 Kebijakan Pemerintah dalam Mengatasi Kerusakan Lingkungan Hidup

Pemerintah Dunia

Beberapa kebijakan pemerintah dunia untuk mengatasi masalah


lingkungan hidup diantaranya adalah:
a. Konferensi Stockholm, 1972
Kesadaran global untuk memperhitungkan aspek lingkungan selain aspek
ekonomi dan kelayakan teknik dalam pembangunan mencuat tahun 1972. Hal
tersebut ditandai dengan Konferensi Stockholm tahun 1972. Konferensi ini atas
prakarsa negara-negara maju dan diterima oleh Majelis Umum PBB. Hari
pembukaan konferensi akhirnya ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup
Sedunia yaitu 5 Juni. Dari Konferensi ini menghasilkan resolusi-2 yang pada
dasarnya merupakan kesepakatan untuk menanggulangi masalah lingkungan yang
sedang melanda dunia. Selain itu diusulkan berdirinya sebuah badan PBB khusus
untuk masalah lingkungan dengan nama : United Nations Environmental
Programame (UNEP). Dalam Konferensi juga berkembang konsep
ecodevelopment atau pembangunan berwawasan ekologi. Sejalan dengan hal
tersebut Indonesia mulai menggagas konsep Pembangunan Berwawasan
Lingkungan. Namun dalam perjalanan, ternyata kesepakatankesepakatan
Stockholm tidak bisa menghentikan masalah lingkungan yang dihadapi dunia.
Negara-negara maju masih meneruskan pola hidup yang mewah dan boros dalam
menggunakan energi. Laju pertumbuhan industri, pemakaian kendaraan bermotor,
konsumsi energi meningkat sehingga limbah yang dihasilkan juga meningkat
pula. Sementara negara-negara berkembang meningkatkan exploatasi Sumber
Daya Alamnya untuk meningkatkan pembangunan dan sekaligus untuk membayar

utang luar negerinya. Keterbatasan kemampuan ekonomi dan teknologi serta


kesadaran lingkungan yang masih rendah, menyebabkan peningkatan
pembangunan yang dilakukan tidak disertai dengan melindungi lingkungan yang
memadai. Maka kerusakan sumber daya alam dan Lingkungan Hidup di negara
berkembang juga semakin parah.
b. United Nations On Environment and Development (UNCED), 1992
Lingkungan hidup dunia yang semakin baik yang menjadi harapan
Konferensi
Stockholm ternyata tidak terwujud. Kerusakan lingkungan global semakin parah.
Penipisan lapisan ozon yang berakibat semakin meningkatnya penitrasi sinar ultra
violet ke bumi yang merugikan kehidupan manusia, semakin banyaknya spesies
flora
dan fauna yang punah, pemanasan global dan perubahan iklim semakin nyata dan
betul-betul sudah di depan mata. Oleh karena itu masyarakat global
memperbaharui
kembali tekadnya untuk menanggulangi kerusakan lingkungan global dengan
mengadakan KTT Bumi di Rio de Jeneiro pada bulan Juni 1992 dengan tema
Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). KTT ini kita kenal
dengan
United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Dalam
UNCED disegarkan kembali suatu pengertian bersama bahwa pembangunan
berkelanjutan harus memenuhi kebutuhan sekarang dan generasi mendatang.
Untuk
mencapai hal tersebut dalam setiap proses pembangunan harus memadukan 3
aspek
sekaligus yaitu : ekonomi, ekologi dan sosbud. Secara garis besar ada 5 hal pokok
yang dihasilkan oleh KTT Bumi di Rio de Jeneiro yaitu :
1. Deklarasi Rio , mengembangkan kemitraan global baru yang adil.
2. Konvensi tentang perubahan iklim, diperlukan payung hukum guna menangani
masalah pemanasan global dan perubahan iklim.

3. Konvensi tentang keanekaragaman hayati, diperlukan payung hukum untuk


mencegah merosotnya keanekaragaman hayati.
4. Prinsip pengelolaan hutan, hutan mempunyai multi fungsi : sosial, ekonomi,
ekologi, kultural dan spiritual untuk generasi.
5. Agenda 21, menyusun program untuk terwujudnya pembangunan berkelanjutan
: biogeofisik, sosekbud, kelembagaan, LSM.

c. World Summit On Sustainable Development (WSSD), 2002


Setelah 10 tahun KTT bumi, masyarakat global menilai bahwa
operasionalisasi prinsip-2 Rio dan agenda 21 masih jauh dari harapan. Masih
banyak kendala dalam pelaksanaan agenda 21. Sekalipun demikian masyarakat
global masih mengganggap bahwa prinsip-2 agenda 21 masih relevan. Kelemahan
terletak pada aspek implementasinya. Oleh karena itu Majelis Umum PBB
memutuskan adanya World Summit On Sustainable Development (WSSD). Ada 3
tujuan utama
diselenggarakannya WSSD yaitu :
1. Mengevaluasi 10 tahun pelaksanaan agenda 21 dan memperkuat komitmen
politik dalam pelaksanaan agenda 21 di masa datang
2. Menyusun program aksi pelaksanaan agenda 21 untuk 10 tahun ke depan
3. Mengembangkan kerjasama bilateral dan multilateral
Dokumen yang dihasilkan dalam WSSD adalah :
1. Program aksi tentang pelaksanaan Agenda 21 sepuluh tahun mendatang
2. Deklarasi Politik
3. Komitmen berupa inisiatip kemitraan untuk melaksanakan pembangunan
Berkelanjutan WSSD diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan pada bulan
September 2002

d. Millenium Development Goals, 2000

Konferensi Stockholm tahun 1972, konferensi Bumi (UNCED) di Rio de


Jeneiro tahun 1992, dan pertemuan puncak pembangunan berkelanjutan (WSSD)
tahun 2002 di Johannesburg merupakan upaya masyarakat global untuk
meletakkan landasan dan strategi yang bersifat mondial dalam mengatasi
kemerosotan kualitas lingkungan hidup yang semakin parah dan memprihatinkan.
Kesadaran global juga mengemuka karena ternyata upaya-upaya penanggulangan
kemerosotan lingkungan hidup tidak mudah dan bahkan semakin rumit dan saling
kait mengkait berbagai apek kehidupan seperti sosial, ekonomi, politik budaya,
kemiskinan, ketimpangan antar negara dlsb.Selain 3 konferensi/pertemuan puncak
para kepala negara/pemerintahan tersebut kiranya perlu dicatat pula suatu
komitmen global yang tidak secara khusus membahas dan merumuskan masalah
lingkungan hidup, namun kaitannya sangat erat dengan masalah lingkungan hidup
yaitu Millenium Development Goals (MDGs).
MDGs awalnya dikembangkan oleh OECD dan kemudian diadopsi dalam United
Nations Millenium Declaration yang ditandatangani September 2000 oleh 189
negara
maju dan berkembang. Komitmen yang mencakup 8 sasaran tersebut harus
dicapai
pada tahun 2015 dan sebagai angka dasar masing-masing sasaran adalah data
tahun
1999. Komitmen dalam MDGs yang dicetuskan dalam Sidang Umum PBB tahun
2000 mencakup :
1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan ,dengan mengurangi setengahnya
jumlah penduduk yang berpendapatan kurang US$ 1 per hari. Mengurangi
setengahnya jumlah penduduk yang menderita kelaparan.
2. Pemenuhan pendidikan dasar untuk semua, dengan menjamin semua anak dapat
menyelesaikan sekolah dasar. Hal tersebut disertai dengan upaya agar anak-2
tetap mengikuti pendidikan di sekolah dengan kulitas pendidikan yang baik.
3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, dengan
menghilangkan perbedaan gender baik pada tingkat sekolah dasar maupun

sekolah lanjutan tingkat pertama pada tahun 2005 dan tahun 2015 untuk semua
tingkat.
4. Menurunkan angka kematian anak usia di bawah 5 tahun, dengan sasaran
menjadi 2/3 nya.
5. Meningkatkan kesehatan ibu, dengan mengurangi ratio kematian ibu menjadi
3/4 nya.
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya, dengan
menghentikan dan mulai menurunkan peyebaran HIV/AIDS, malaria dan
penyakit menular lainnya.
7. Memberikan jaminan akan kelestarian lingkungan hidup, dengan memadukan
prinsip-2 pembangunan berkelanjutan ke dalam program dan kebijakan
masing-2 negara, menurunkan hilangnya sumber daya alam, mengurangi
hingga 1/2 nya penduduk yg selama ini tidak bisa mengakses air bersih secara
berkelanjutan, perbaikan secara signifikan terhadap tempat tinggal paling tidak
100 juta tempat tinggal kumuh (slum dwellers) sampai 2020.
8. Mengembangkan kerjasama global dalam pembangunan, antara lain dengan
pengembangan sistem perdagangan dan keuangan yang transparan,
kepemerintahan yang baik, memperhatikan kebutuhan-2 negara berkembang
seperti : memberikan kuota export, penghapusan/penundaan pembayaran
hutang , bantuan untuk pengentasan kemiskinan, bantuan untuk peningkatan
produktivitas kaum muda, akses untuk memperoleh obat-2 an yang penting
bagi negara berkembang. MDGs saat ini menjadi begitu penting karena
hampir 1/6 penduduk dunia atau sekitar 1,1 milyar, dalam kondisi miskin yang
akut dan ekstrim dengan pendapatan kurang dari US$ 1 per hari. Kemiskinan
menjadi peyebab utama dan akar dari ketidak adilan dan keamanan global.
Demikian juga kemiskinan menjadi salah satu sumber utama laju kerusakan
lingkungan hidup yang semakin sulit untuk ditanggulangi.Kewajiban masingmasing negara yang berkomitmen dengan MDGs untuk melaporkan
kemajuannya dalam melaksanakan program secara periodik dengan indikator

yang jelas dan terukur. Wajar jika kita berharap sasaran MDGs akan tercapai
pada tahun 2015.

Pemerintah Indonesia

Dalam mewujudkan Indonesia yang asri dan lestari sasaran dan arah
pembangunan Lingkungan Hidup yang digariskan dalam RPJP 2005-2025 adalah
sbb. :
a. Sasaran RPJP 2005-2025 khususnya Lingkungan Hidup
1. Membaiknya pengelolaan dan penggunaan SDA dan pelestarian fungsi LH
yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi daya dukung dan kemampuan
pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara
serasi, seimbang dan lestari.
2. Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan SDA untuk
mewujudkan nilai tambah, daya saing bangsa, serta modal pembangunan.
3. Meningkatnya kesadaran, sikap mental dan perilaku masyarakat dalam
pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi LH untuk menjaga kenyamanan dan
kualitas kehidupan.
b. Arah RPJP 2005-2025 khususnya Lingkungan Hidup
1. Mendayagunakan SDA yang terbarukan SDA terbarukan dimanfaatkan
secara rasional, optimal, efisien dan bertanggung jawab dengan
menggunakan seluruh fungsi dan manfaat secara seimbang.
2. Mengelola SDA yang tidak terbarukan pengelolaan SDA tak terbarukan,
seperti bahan tambang, mineral, dan sumber energi diarahkan untuk tidak
dikonsumsi secara langsung, melainkan diperlakukanan sebagai masukan,
baik bahan baku maupun bahan bakar, untuk proses produksi yang dapat
menghasilkan nilai tambah optimal di dalam negeri.
3. Menjaga keamanan ketersediaan energi menjaga keamanan ketersediaan
energi diarahkan untuk menyediakan energi dalam waktu yang terukur

antara tingkat ketersediaan sumber-2 energi dan tingkat kebutuhan


masyarakat.
4. Menjaga dan melestarikan sumber daya air pengelolaan diarahkan menjamin
keberlanjutan daya dukungnya dengan menjaga kelestarian fungsi daerah
tangkapan air dan keberadaan air tanah.
5. Mengembangkan sumber daya kelautan pembangunan ke depan perlu
memperhatikan pendayagunaan dan pengawasan wilayah laut yang sangat
luas.Pemanfaatan sumber daya tersebut melalui pendekatan multisektor,
integratif dan komprehensif untuk meminimalkan konflik dan tetap menjaga
kelestariannya.
6. Meningkatkan nilai tambah atas pemanfaatan SDA tropis yang unik dan khas
Deversifikasi produk dan inovasi pengolahan hasil SDA terus
dikembangkan agar mampu menghasilkan barang dan jasa yang memiliki
nilai tambah tinggi.
7. Memperhatikan dan mengelola keragaman jenis SDA yang ada di setiap
Wilayah Pengelolaan SDA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
lokal, mengembangkan wilayah strategis dan cepat tumbuh serta
memperkuat daerah dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
8. Mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi geologi Indonesia
mengembangkan kemampuan sistem deteksi dini, sosialisasi dan desiminasi
informasi terhadap ancaman kerawanan bencana alam kepada masyarakat.
9. Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan pembangunan
ekonomi diarahkan pada pemanfaatan jasa lingkungan yang ramah
lingkungan. Pemulihan kondisi lingkungan untuk meningkatkan daya
dukung lingkungan.
10. Meningkatkan kapasitas pengelolaan SDA dan LH meliputi : peningkatan
kelembagaan, penegakan hukum, SDM yang berkualitas, penerapan etika
lingkungan, internalisasi etika lingkungan dalam kegiatan produksi,
konsumsi, pendidikan formal dan kehidupan sehari-hari.
11. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan.

2.4 Kelemahan Strategis dalam Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup di


Indonesia.
Beberapa kelemahan yang sifatnya mendasar selama ini dalam mengelola
lingkungan hidup dan memerlukan tekad kuat untuk diperbaiki menurut kami adalah :
1. Energi nasional dalam kurun 10 tahun terakhir tercurah habis untuk pengembangan
proses demokrasi yang kurang sehat, sehingga hal-2 yang strategis dan berdampak
luas dan menjangkau llintas generasi kurang mendapat perhatian dan dukungan politis.
Sebagai contoh : masalah lingkungan hidup, pendidikan warga negara yang cinta tanah
air, dan peningkatan kualitas SDM sangat kurang mendapat perhatian.
2. Kebijakan dan regulasi tentang pengelolaan hidup yang sudah cukup baik dalam
formulasinya ternyata tidak dibarengi dengan implementasi yang baik. Sebagai contoh
: illegal logging tetap berlangsung, polusi udara,air dan tanah tidak teratasi dan bahkan
meningkat.
3. Penegakan hukum terhadap pelanggaran perusakkan dan pencemaran lingkungan
hampir tidak ada sangsinya. Hal ini mendorong usaha rehablitasi lingkungan dan
konservasinya tidak punya arti.
4. Otonomi daerah yang berorientasi menaikkan PAD menyebabkan exploatasi sumber
daya yang membabi buta. Seolah-2 Lingkungan Hidup dan SDA nya adalah sapi perah
yang tidaka akan habis susunya.
5. Anggaran sektor LH yang sangat kecil (kurang 1% dari APBN ?), sementara kontribusi
hasil SDA mencapai sekitar 25-30% APBN, sangatlah tidak seimbang.
6. Sementara SDM yang menyadari pentingnya peran Lingkungan Hidup sebagai modal
pembangunan dan sekaligus tabungan untuk anak cucu kita di masa depan tidak
banyak, sekalipun itu di tingkat pengambil keputusan baik di Pusat maupun Daerah.
7. Minimnya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan implementasi mengenai
Lingkungan Hidup antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Penyebab utama kerusakan lingkungan hidup menurut Emil Salim ada dua yaitu:

a.Pertumbuhan penduduk

Lahan tempat tinggal penduduk.

Lapangan pekerjaan

Rendahnya kesadaran lingkungan

b.Kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)

Upaya Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup

Upaya pendekatan melalui pendidikan, dapat dilakukan dengan langkah-langkah


sebagai berikut:

1. Memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk memperoleh


pengertian dasar tentang lingkungan hidup, permasalahannya serta peran
dan tanggung jawab manusia dalam upaya melestarikan fungsi-fungsi
lingkungan hidup.
2. Membantu individu dan masyarakat mengembangkan ketrampilan yang
dibutuhkan dalam pengelolaan, menjaga kelestarian fungsi lingkungan dan
memecahkan permasalahan lingkungan.

3. Memupuk kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan hidup dan


permasalahannya, melalui penyuluhan terhadap individu atau masyarakat
tentang sistem nilai yang sesuai, kepekaan yang kuat atas keperdulian
tentang lingkungan dan motivasi untuk secara aktif berpartisipasi terhadap
pelestarian fungsi-fungsi lingkungan dan pencegahan kerusakan lingkungan.

Selain dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat, hal yang perlu


diperhatikan adalah masalah penegakan hukum. Penegakan hukum perlu
dilakukan pada kasus-kasus pembangunan yang menyalahi RTRW (Rencana Tata
Ruang Wilayah) dan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Selain
itu, penanggulangan kerusakan lingkungan pemerintah harus bekerja sama dengan
masyarakat setempat, yaitu dengan melakukan program Pengelolaan Berbasis
Masyarakat (PBM).

Upaya nyata yang dapat dilakukan sebagai tindakan untuk mencegah terjadinya
kerusakan lingkungan hidup ataupun meminimalisir dampak terhadap lingkungan
hidup adalah sebagai berikut:

Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (fossil fuel) dan mulai menggunakan
bahan bakar bio (biofuel).

Daur ulang limbah anorganik.

Penebangan hutan dengan sistem tebang pilih, dan sesuai kebutuhan.

Reboisasi atau penanaman hutan kembali.

Tidak membuang sampah pada tempat aliran air, seperti sungai, parit, dan
selokan.

Menggunakan kendaraan bermotor sesuai kebutuhan

Menghemat dalam penggunaan energi, misalnya listrik

Berusaha menggunakan barang yang ramah lingkungan, sehingga pemakaiannya


tidak hanya satu kali saja.

Menghemat air bersih

Usaha Pemerintah dalam Masalah Lingkungan Hidup

1. Mendayagunakan SDA yang terbarukan SDA terbarukan dimanfaatkan


secara rasional, optimal, efisien dan bertanggung jawab dengan
menggunakan seluruh fungsi dan manfaat secara seimbang.
2. Mengelola SDA yang tidak terbarukan pengelolaan SDA tak terbarukan,
diarahkan untuk tidak dikonsumsi secara langsung, melainkan
diperlakukanan sebagai masukan, baik bahan baku maupun bahan bakar,
untuk proses produksi yang dapat menghasilkan nilai tambah optimal di
dalam negeri.
3. Menjaga keamanan ketersediaan energi menjaga keamanan ketersediaan
energi diarahkan untuk menyediakan energi dalam waktu yang terukur
antara tingkat ketersediaan sumber-2 energi dan tingkat kebutuhan
masyarakat.

4. Menjaga dan melestarikan sumber daya air pengelolaan diarahkan


menjamin keberlanjutan daya dukungnya dengan menjaga kelestarian
fungsi daerah tangkapan air dan keberadaan air tanah.
5. Mengembangkan sumber daya kelautan pembangunan ke depan perlu
memperhatikan pendayagunaan dan pengawasan wilayah laut yang sangat
luas.Pemanfaatan sumber daya tersebut melalui pendekatan multisektor,
integratif dan komprehensif untuk meminimalkan konflik dan tetap
menjaga kelestariannya.
6. Meningkatkan nilai tambah atas pemanfaatan SDA tropis yang unik dan
khas Deversifikasi produk dan inovasi pengolahan hasil SDA terus
dikembangkan agar mampu menghasilkan barang dan jasa yang memiliki
nilai tambah tinggi.
7. Memperhatikan dan mengelola keragaman jenis SDA yang ada di setiap
Wilayah Pengelolaan SDA untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
lokal, mengembangkan wilayah strategis dan cepat tumbuh serta
memperkuat daerah dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
8. Mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi geologi Indonesia
mengembangkan kemampuan sistem deteksi dini, sosialisasi dan
desiminasi informasi terhadap ancaman kerawanan bencana alam kepada
masyarakat.
9. Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan pembangunan
ekonomi diarahkan pada pemanfaatan jasa lingkungan yang ramah
lingkungan. Pemulihan kondisi lingkungan untuk meningkatkan daya
dukung lingkungan.
10. Meningkatkan kapasitas pengelolaan SDA dan LH
11. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan.

Kelemahan Strategis dalam Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup di


Indonesia.

1. Energi nasional dalam kurun 10 tahun terakhir tercurah habis untuk


pengembangan proses demokrasi yang kurang sehat, sehingga hal-2 yang
strategis dan berdampak luas dan menjangkau lintas generasi kurang
mendapat perhatian dan dukungan politis.
2. Kebijakan dan regulasi tentang pengelolaan hidup yang sudah cukup
baik dalam formulasinya ternyata tidak dibarengi dengan implementasi
yang baik. 3. Penegakan hukum terhadap pelanggaran perusakkan dan
pencemaran lingkungan hampir tidak ada sangsinya. Hal ini mendorong
usaha rehablitasi lingkungan dan konservasinya tidak punya arti.
4. Otonomi daerah yang berorientasi menaikkan PAD menyebabkan
exploatasi sumber daya yang membabi buta. Seolah-2 Lingkungan Hidup
dan SDA nya adalah sapi perah yang tidaka akan habis susunya.
5. Anggaran sektor LH yang sangat kecil (kurang 1% dari APBN ?),
sementara kontribusi hasil SDA mencapai sekitar 25-30% APBN,
sangatlah tidak seimbang.
6. Sementara SDM yang menyadari pentingnya peran Lingkungan Hidup
sebagai modal pembangunan dan sekaligus tabungan untuk anak cucu kita
di masa depan tidak banyak, sekalipun itu di tingkat pengambil keputusan
baik di Pusat maupun Daerah.
7. Minimnya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan implementasi
mengenai Lingkungan Hidup antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

3.2 Saran
Peran pemerintah dan masyarakat dalam pencegahan kerusakan lingkungan hidup
seoptimal mungkin harus seimbang, terkoordinasi, dan tersinkronisasi. Hal ini penting
dilakukan mengingat pemerintah mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan
terhadap masyarakat, termasuk mendukung pengelolaan sumberdaya dan lingkungan
demi sebesar-besarnya kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain,
masyarakat juga mempunyai tanggung jawab dan turut berperanserta untuk menjaga

kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan. Peran lembaga


pendidikan juga sangat penting dalam upaya pencegahan kerusakan lingkungan hidup.
Pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar dalam segala bidang, termasuk dalam
pendidikan lingkungan kepada masyarakat. Pendidikan ini diperlukan untuk menciptakan
masyarakat yang sadar lingkungan. Ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam
upaya pencegahan kerusakan lingkungan. Jika masyarakat sudah sadar akan lingkungan
maka upaya pencegahan maupun perbaikan lingkungan dapat dilakukan dengan baik. Hal
ini berarti untuk mencegah kerusakan lingkungan hidup diperlukan kerja sama yang baik
antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, LSM, dan semua pihak dalam
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Suwarna, Timotius. No Year. Geografi Lingkungan. Malang: UM


Tjasjono, Bayong. 2003. Klimatologi Umum. Bandung: ITB
No name. 2009. Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Mulung Raya.
(online).http://blhmura.wordpress.com/. Diakses 28 Oktober 2009.
Kadoet. 2006. Ekowisata Alternatif Pencegahan Kerusakan Lingkungan. (online).
http://www.acehforum.or.id/ekowisata-alternatif-pencegahan-t1057.html?
s=02d141180ae6782d9a4cbc32c4577837&amp. Diakses 28 Oktober 2009
No name. 2005. Kemiskinan Percepat Kerusakan Lingkungan Hidup. (online)

EMPO.CO , Makassar: Kerusakan ekosistem laut di perairan Kabupaten Pangkep,


Sulawesi Selatan, semakin mengkhawatirkan. Kondisi terumbu karang di perairan daerah
itu kebanyakan sudah tidak sehat. Hal tersebut dipicu aktivitas pencurian ikan (illegal
fishing) yang terus terjadi. Kepolisian telah berusaha melakukan penindakan, tapi tindak
pidana perusakan lingkungan itu masih terus terjadi.
Menurut Kepala Kepolisian Resort Pangkep, Ajun Komisaris Besar Moh Hidayat, tinggal
sekitar 20 persen terumbu karang yang masih bagus. Sisanya sudah rusak karena illegal
fishing.
"Aktivitas illegal fishing di Pangkep dengan berbagai cara sudah sangat
mengkhawatirkan. Itu tidak boleh dibiarkan terus terjadi," kata Hidayat di Markas
Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan dan Barat, Selasa, 14 Juli.
Hidayat menambahkan, dalam dua bulan terakhir, pihaknya berhasil mengungkap
sembilan kasus illegal fishing dan mengamankan puluhan orang yang diduga terlibat.
Modus para pelaku disebutnya amat beragam antara lain penggunaan bom ikan, pukat
harimau dan kompresor untuk menangkap ikan.

"Tapi semuanya bermuara pada perusakan ekosistem laut bila terus dibiarkan," ucapnya.
Dalam berbagai pengungkapan kasus illegal fishing, Hidayat menyatakan prihatin karena
banyak pelakunya yang merupakan anak di bawah umur. Karena itu, pihaknya hanya
memproses pelaku yang sudah dewasa. Namun, Kepolisian tetap memberikan pembinaan
bagi masyarakat, khususnya nelayan yang terus melakoni cara penangkapan ikan yang

ilegal.
Kepala Subdit Penegakan Hukum Direktorat Polair Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi
Selatan dan Barat, Ajun Komisaris Besar Aidin Makadomo, mengatakan pihaknya terus
mengintensifkan patroli dan operasi penegakan hukum atas penangkapan ikan secara
ilegal. Selain di Pangkep, aktivitas serupa kerap ditemui di Selayar dan Bone.
Kepolisian, menurut Aidin, tidak sekadar menggalakkan penegakan hukum, melainkan
juga sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat, khususnya nelayan. Ia mengatakan
selalu mengingatkan agar para nelayan menangkap ikan dengan cara yang ramah
lingkungan. "Jangan sampai malah merusak ekosistem maupun biota laut," ucap Aidin.

Kawasan TN Babul memiliki keunikan , terdiri atas hutan, gua dan sungai bawah tanah.
Diperkiarakan terdapat 80 gua di kawasan ini. Ia makin terancam kala tambang-tambang
marak bermunculan. Foto: Wahyu Chandra
Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) di Kabupaten Maros dan
Pangkeje Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), salah satu kawasan karst
terbesar di dunia. Sayangnya, kawasan ini mengalami degradasi parah dengan makin
banyak pembukaan tambang. Ekosistem kawasan inipun terancam.
Jumaedi, aktivis lingkungan dari Lingkar Intelektual Muda Simbang (LIMS), kepada
Mongabay mengatakan, di kawasan ini, sudah ada dua pabrik semen besar di Sulsel,
yaitu Semen Bosowa dan Tonasa.
Dalam waktu dekat, katanya, ada rencana investasi pembangunan semen baru di kawasan
yang terkenal sebagai endemik kupu-kupu ini. Padahal, katanya, masalah yang
ditimbulkan dua pabrik semen yang ada, belum selesai malah muncul masalah baru. Ini
rencana pabrik semen baru. Investornya PT Conch dari China dengan nilai investasi Rp5
triliun. Mereka sudah kajian kelayakan dan mematok lokasi, katanya di Makassar,
pertengahan November 2013.
Pabrik semen ini akan dibangun di Kecamatan Simbang dan Tompobulu. Luasan sekitar
500 hektar, 300 hektar dari hutan produksi, sisanya lahan warga. Jumaedi khawatir
kerusakan lingkungan di daerah itu makin parah, termasuk keberlangsungan kawasan
karst.Dari pabrik semen Bosowa dampak sudah terasa berupa polusi udara, kondisi jalan
rusak akibat endapan debu semen di kala musim hujan. Belum lagi ketersediaan air
makin berkurang.
Dia memperkirakan, penggunaan air dari Bosowa dan Tonasa bisa mencapai 12 persen
dari total air di kawasan itu. Jika pabrik dari China dibangun, jumlah ini bertambah dua
atau malah tiga kali lipat. Saya mendapat informasi data, pabrik semen ini memiliki

kapasitas cukup besar dan termasuk perusahaan terbesar di dunia. Produksi diperkirakan
mencapai setengah dari produksi semen nasional. Bisa dibayangkan dampak yang akan
ditimbulkan terhadap hutan dan karts serta ketersedian air.
Krisis air kini menjadi masalah tersendiri bagi warga Simbang sekitar. Kawasan yang
dulu tak pernah kering ini, kini mulai mengalami krisis air saat kemarau yang berdampak
pada pertanian warga. Jika dulu petani bisa panen hingga dua bahkan tiga kali, kini
hanya bisa sekali setahun. Hanya musim hujan.
Penyebab debit air tanah berkurang diduga penggunaan perusahaan dan tambang yang
makin massif. Masalah lain, satwa endemik di kawasan itu juga terancam hilang.
Kawasan ini dikenal sebagai endemik monyet putih, berbagi jenis burung dan kupu-kupu
Raja, kupu-kupu langka icon Bantimurung. Bisa diperkirakan dampak besar bakal
timbul bagi berbagai satwa ini jika proyek ini dilanjutkan, ujar dia.
Belum lagi, dua perusahaan inipun berencana memperbesar produksi. PT Semen Tonasa
dan PT Semen Bosowa juga berencana meningkatkan produksi mereka. Informasi yang
diperoleh, menyebutkan, PT Bosowa akan meningkatkan produksi pada 2014 dari 1,8
juta ton menjadi 3 juta ton pertahun, melalui pembangunan pabrik baru yang sedang
berjalan. PT Tonasa di tahun sama akan meningkatkan produksi dari 4,7 juta ton menjadi
6,7 juta pertahun.
Apalagi, eksploitasi karst di kawasan TN Babul tak hanya untuk semen. Aktivitas
tambang lain mulai marak seperti marmer. Sejumlah tambang marmer milik masyarakat
mulai bermunculan, termasuk rencana masuk perusahaan nasional. Ancaman lain,
aktivitas pengambilan bahan material untuk bahan bangunan dan pembuatan jalan.
Data dari Dinas Pertambangan dan Energi, terdapat 25 unit usaha yang beraktivitas di dua
daerah, masing-masing 16 unit di Kabupaten Pangkep dan sembilan di Kabupaten Maros.
Belum termasuk tambang-tambang tak berizin.
PT Semen Bosowa yang dikonfirmasi membantah jika pabrik mereka di Maros selama ini
mengganggu suplai air di kawasan itu. Bahkan Bosowa saat ini memiliki dua danau kecil,
tempat penampungan air sisa olahan pabrik, juga konsumsi karyawan dan warga
sekitar. Airnya sisa buangan pabrik yang disaring terlebih dahulu hingga bisa langsung
diminum tanpa dimasak, kata Nur Alang, Manajer Umum PT Semen Bosowa.
Nur mengatakan, sejak awal, pabrik Bosowa sudah menunjukkan komitmen ramah
lingkungan. Kami termasuk salah satu pabrik semen paling ramah lingkungan di Asia.
Bahkan kini sudah punya ISO lingkungan.
Begitu pun dengan pasca produksi, upaya-upaya reklamasi telah dilakukan melalui
penanaman pohon dan reklamasi lokasi galian tambang untuk pembuatan dua danau
sebagai tempat penampungan air. Mungkin saat ini air danau itu belum bisa untuk
pertanian karena volume masih kecil, tapi ada rencana ke depan untuk itu, katanya.
Mengenai polusi debu, kata Nur, sebenarnya dari awal sudah tak menjadi masalah.
Bosowa memiliki parameter tingkat pencemaran udara, sebagai prasyarat ISO. Salah satu
indikator polusi udara adalah membiakkan rusa di sekitar pabrik. Ini menjadi alat
kontrol tingkatan polusi udara dari pabrik.
Terkait rencana peningkatan produksi semen menjadi 4 juta ton tahun 2014, dilakukan
tanpa ada pembebasan lahan, namun tetap menggunakan konsesi sebelumnya. Kita
membangun pabrik kedua, tapi tetap pada kawasan sama. Jadi tidak ada pembebasan
lahan sama sekali.

Lokasi pembangunan pabrik semen PT Conch dari China di Kecamatan Simbang,


Kabupaten Maros, Sulsel, seluas 500 hektar, berada di kawasan karst, terdiri dari hutan
produksi dan lahan warga. Daerah ini dikenal memiliki keragaman hayati Sulawesi,
seperti monyet putih dan kupu-kupu raja. Foto: Wahyu Chandra
Rencana eksploitasi karst untuk industri semen di Sulsel mendapatkan sorotan dari
Amran Achmad, pakar karst dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Profesor yang kerab
meneliti karst ini belum mendapatkan informasi lengkap mengenai rencana pembangunan
pabrik semen itu, tetapi jika tetap direalisasikan dia berharap ada pertimbangan matang
demi keberlangsungan ekologis kawasan ini.
Pertimbangan ekologis yang harus diperhatikan, apakah lokasi tidak berada dalam
kawasan hutan, khusus kawasan lindung dan harus jauh dari titik air. Sedangkan
pertimbangan sosial, harus ada persetujuan dari seluruh warga di sekitar lokasi
pembangunan.
Menurut Amran, eksploitasi karst selama ini sebenarnya menimbulkan dampak serius,
dan mengancam keberlangsungan ekosistem. Dia mengatakan, ada dua ekosistem
terancam dengan aktivitas penambangan kars ini, yaitu ekosistem hutan di bagian atas
(eksokars) dan gua di bagian bawah (endokars).
Sejumlah dampak yang ditimbulkan dari perusakan ini, antara lain penghancuran
keragaman hayati serempak, baik pada ekosistem permukaan maupun gua. Ini akibat
peledakan, pemotongan dan pembongkaran habitat bukit kapur.
Dampak lain, perusakan gua yang menjadi habitat burung dan serangga, perusakan sistem
air pada dasar gua atau danau dalam tubuh batuan karst. Kondisi ini menghancurkan
keanekragaman hayati ekosistem gua, dan mengganggu kehidupan flora dan fauna di luar
gua, yang selama ini tergantung dari sumber air dari gua kars. Tidak hanya itu, limbah
dari pemotongan marmer kepada biota sungai kecil di sekitar pabrik marmer. Ini akan
mempengaruhi pakan burung pemakan ikan.
Amran menyarankan, perlu moratorium pertambangan dan penetapan areal karst
potensial untuk perlindungan.Perlindungan karst potensial untuk perlindungan tata air,

gua, dan keragamanhayati karst. Tidak cukup hanya kawasan konservasi, juga hutan lain,
dan bahkan di luar hutan.
Dia menyarankan, segera ada regulasi pengelolaan karts di luar kawasan konservasi.
Kalau tambang sudah berdiri baru UU lahir, sulit bagi kita untuk melakukan apa-apa,
katanya.
TN Babul diresmikan menjadi kawasan konservasi atau taman nasional berdasarkan
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober
2004 ini memiliki luas 43.750 hektar.
Selain kaya karst, keragamanhayati unik, kawasan ini bisa ditemukan gua alam dan gua
sejarah. Salah satu yang terkenal terdapat di kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros,
dimana ditemukan sejumlah jejak pra sejarah di lokasi ini.

Selain kaya karst, flora dan fauna unik, di kawasan ini juga bisa ditemukan gua alam dan
gua sejarah. Salah satu yang terkenal di kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, dimana
ditemukan jejak pra sejarah. Foto: Wahyu Chandra