You are on page 1of 5

The Crenshaw Crews

Pengarang : Rifki Fauzan


Di tengah rimbunnya pepohonan
dalam sebuah taman di belah barat kota
karawang, seorang anak SMA duduk di
bangku panjang. Mentari pagi menerpa
sebagian wajah kanannya. Dibawah
mentari
pagi
rambutnya
terlihat
keemasan. Matanya bersih dengan
retina hitam pekat di tengah-tengahnya.
Ia berbadan kurus dan pendek. Matanya
terlihat sangat fokus saat ia membaca
buku. Tangannya gesit sekali membalik
laman bukunya dan ia tampak sedang
asik berimajinasi dari buku perpustakaan
yang dipinjamnya.
Zidan, bantu gua bikin cerpen
atuh! 3 hari lagi dikumpulin. Teriak
seseorang dari gerbang taman.
Seseorang
berbadan
gendut,
rambutnya berdiri menjulang keatas
kepala, sebuah tahi lalat berada di
samping
kanan
matanya.
Ia
menghampiriku dengan tergesa gesa.
Dia bernama Genta, teman sekelas
Zidan yang terkenal pemalas. Jika
sedang dalam kesulitan pasti ia mencari
sahabatnya.
Dari
kemarin kemana
aja?
Sebentar lagi dikumpulin, masa belum
bikin sama sekali? Balasku dengan
sinis.
Namaku Zidane Bayu Putra.
Panggil aku Zidan. Aku sekolah di SMA 1.
Aku adalah teman sebangku Genta.
Ayo dong bantu gua zid. Sekali
aja deh, janji! Genta menarikku dengan
sedikit memaksa.
Halah, sekali aja darimana.
Semua tugas lu juga gua yang buat kan.
Ayo deh ke rumah gua aja biar gampang
ngerjainnya.
Akhirnya aku meladeni keinginan
Genta. Aku mengambil sepedaku yang
disandarkan di pohon dan mulai
mengendarainya. Jika ingin kerumahku
pasti kau akan melewati sungai dekat
tempat pembuangan sampah akhir. Aku
selalu melihat kakek pemulung itu. Ia
sudah renta tetapi masih mencari
sampah dan memberikannya ke juragan
sampah. Aku sering melihatnya di pukuli
oleh para penjaga juragan. Mungkin ia
ingin meminta tambahan uang atas
sampah yang ia setorkan setiap harinya.
Sungguh malang, tapi aku tidak bisa

melakukan
apa-apa
untuk
membantunya.
Sesampainya dirumahku Genta
segera membuka laptopnya. Tak lupa
juga joystick miliknya di keluarkan.
Eh, mau ngapain itu ngeluarin
stick? Mau main mah pulang aja sana
Tegurku dengan tegas.
Buset dah dan. Santai aja,
sebentar kok Jawab Genta dengan
tenang.
Dengan
segera
kuambil
laptopnya
dan
menyuruhnya
mengerjakan tugasnya di laptopku.
Sambil mengerjakan tugas kami berbasa
basi tentang masalah kebakaran rumah
di
daerah
tempat
tinggal
kami
belakangan ini. Rupanya Genta tahu
banyak soal lingkungan luar, padahal
kukira ia sama sekali tidak peduli
dengan lingkungan.
Eh, tau tukang kayu yang di
daerah bypass sana engga? Dia bikin
adonan semen pake tanah loh. Ucap
Genta dengan maksud membuka topik
pembicaraan baru.
Kok bisa sih? Bukannya rumah
yang pakai tanah liat gampang hancur
kalo kena hujan ya? Lain kali kesana yuk.
Jadi kepo gue. Sahutku.
Esok hari sepulang sekolah. Aku,
Genta, dan Paldi pergi ke tukang kayu
yang membuat kami penasaran. Untuk
sampai kerumah nya ternyata tidak
memakan waktu banyak dari sekolah ku.
Setibanya disana aku melihat sosok
kakak ku yang sedang menyuguhkan
makanan kepada tukang kayu dan anak
buahnya disana.
Loh, kak Sarah ngapain disini?
tanyaku.
Bantu-bantu dik, om Aldi sering
ngasih kakak papan sisa buat latihan
karate. Jawab kakakku yang bernama
Sarah yang selalu mengikuti latihan
karate di tempat kuliahnya. Meskipun ia
wanita tapi aku tak yakin ada orang
yang berani membahayakan nyawa
kakakku.
Om aldi? Ternyata ia tukang kayu
yang
sedang
ramai
dibicarakan
sekarang.
Setelah
menyelidikinya
ternyata tanah yang ia buat telah di
fermentasi dengan gandum dan lem.
Tetapi ada yang membuatku penasaran.

Mengapa bangunan yang ia buat bisa


kokoh padahal dibuat dengan campuran
lem?
Muka mu terlihat kebingungan?
Jika kau bingung om bisa jelaskan kok.
Rumah ini dibuat dengan bambu special
dari jepang yang dinamakan bambu
marutake dan ditutup kuat dengan tanah
itu, lalu bagian atasnya disempurnakan
dengan dilumuri plester yang tahan
hujan dan angin. Jika rumah dibuat
dengan tanah plester seperti ini mungkin
bisa bertahan hingga 100 tahun.
Jawabnya.
Kok om bisa jawab pertanyaan
saya? Saya kan belum nanya tanyaku.
Kamu berbicara sendiri saat
kamu berpikir loh jawab Om Aldi.
Aku pun tertunduk malu, aku
tidak tahu aku berbicara dengan diri
sendiri tadi. Rumah zaman sekarang
hanya tahan kurang lebih 30 tahun.
Akibatnya banyak pohon yang ditebang
hanya untuk membuat rumah. Jadi
menurutku
bangunan
yang
dibuat
seperti
ini
memang
efektif
jika
dipasarkan, sayangnya para tukang kayu
ini hanya bisa membuatnya terbatas
karena kayu spesial yang diapakai harus
di impor dari jepang. Rumah tanah yang
sudah hancur tidak akan menjadi
sampah tapi akan menjadi tanah biasa
lagi. Jadi tidak menimbulkan kerusakan
lingkungan.
Tapi menurutku kami akan
kesusahan
bila
tidak
ada
yang
membuang sampah. Ujar pak kaneo, ia
adalah juragan sampah di kota ini.
Kami
pengurus
sampah
mendapatkan uang dari pengurusan
sampah, jadi kami bisa membuat rumah
sebagus ini. Jadi saya berterima kasih
karena
kalian
membuang
sampah
selama
ini.
Rupanya
ia
adalah
pelanggan om aldi yang memesan
rumah ini.
Aku
tidak
setuju
dengan
perkataan pak kaneo barusan. Huh apa
apaan
ucap
Paldi
dengan
nada
nyerocos.
Pak Kaneo pun masuk kedalam
rumah nya yang baru dibuat. Ia
mengelilingi rumah nya, per sudut
ruangan ia telusuri. Sepertinya ia
menyukai masakan china atau jepang. Ia
memesan satu set kompor gas kuat di
dapur rumah nya.
Terimakasih telah memenuhi
keinginanku. Akan kubuatkan masakan

kebanggaanku bila rumah ini sudah jadi


nanti. Ujarnya dambil tertawa bahagia.
Rumah nya lumayan luas. 4
kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 ruang
tengah yang megah di hiasi dengan
jendela khas masa kini. Hiasan dindin
yang masih setengah jadi. Agak mustahil
sepertinya bila rumah ini dibuat dengan
tanah saja.
Tapi, kenapa bapak juragan
sampah seperti anda memilih untuk
membuat
rumah
yang
tidak
bersampah? tanyaku kepada pak kaneo
yang sedang sibuk meneliti kamar
tidurnya.
Mungkin karena murah dan
tahan lama jawabnya dengan singkat.
Cih,
ternyata
bukan
demi
lingkungan.
Dasar
babi
kubangan
sampah. Semua orang di daerah sini
mengenalya dan juga tak sedikit orang
yang membenci nya karena sifat nya
yang tamak dan serakah.
Beberapa minggu kemudian, aku
meronda tengah malam dengan temanteman ku. Sebenarnya kami memiliki
klub kecil, yaitu klub detektif SMA
bernama The Crenshaw Crews, namanya
diambil dari penyidik ke 2 di dalam
cerita fiksi Alfred Hitchcock and the
Three
Investigators.
Aku
sangat
menyukain hal-hal yang mengenai
misteri. Dalam beberapa bulan ini kami
sering beronda tengah malam untuk
menangkap si pembakar berantai yang
menggemparkan kota itu. Sudah 3
minggu sejak kebakaran terakhir yang
terjadi di seberang perumahan kami.
Tetapi memang wajar saja bila kita tidak
menemukan kebakaran duluan, sebab
pembakaran yang terjadi belakangan ini
mengincar
tempat
pengumpulan
sampah yang dilewati banyak orang.
Seolah kita harus waspada pada
pembakar. 3 minggu yang lalu, sasaran
pembakar adalah gudang dan rumah
kosong
yang
dapat
menyebabkan
kebakaran besar dengan mudah. Apa
yang sebanarnya diincar oleh pelaku?!
Kebakaran!! teriak Genta.
Sekitar kami melihat kearah yang
ditunjukkan oleh tangan Genta. Di
belakang sana terjadi kebakaran yang
sangat besar. Mungkin 4 blok dari
tempat kami sedang berjalan. Dengan
segera kami menuju ke sumber api.
Bwossshhh. Apinya sudah sangat besar,
hingga kami pengap meskipun berada
kurang lebih 20 meter dari rumah itu.

Inikann.
Ini
rumah
yang
dibangun Om Aldi.. Ucap Paldi dengan
sedikit gemetar.
Mustahil! Rumah ini sudah dibuat
dengan susah payah. Dengan sigap aku
berlari ke sekitar area kebakaran,
dengan
maksud
mencari
pelaku
pembakaran ini. Kenapa. Kenapa aku
tidak menemukan siapapun didekat sini,
seharusnya pelakunya belum pergi
terlalu jauh. Sial! Kenapa kami harus
kehilangan jejak seperti ini.
Esok harinya, keadaan lebih
buruk lagi. Mayat pak Kaneo ditemukan
diantara puing-puing kebakaran. Badan
gemuknya terlihat menghitam dibalik
kain putih yang menutupi tubuhnya.
Padahal ia begitu gembira karena tinggal
dirumah barunya. Perbuatan siapa ini.
Kejam sekali. Tanpa kusadari warga telah
mengerumuni sisa-sisa lalapan api tadi
malam. Au melihat om Aldi dan Kakakku
disana.
Perbuatan siapa ini kejamnya
ucap kakakku.
Entah kenapa tidak ada warga
yang
terbangun
dan
membantu
memadamkan api besar yang berkobar
tadi malam. Terlihat juga sudah ada 4
orang berseragam polisi menyelidik sisa
kebakaran dan mencari sumbernya. Huh,
memangnya
pak
kaneo
tidak
mempunyai kerabat atau keluarga yang
bisa berempati dengannya sekarang?
Sungguh malang sekali hidupnya.
Kami menemukan pelakunya!
teriak
seseorang
dari
belakang
kerumunan warga.
Seorang polisi keluar dari mobil
san membawa pria berawakan tinggi
dengan janggut dan kumis yang lebat.
Matanya sipit sehingga terlihat hanya
seperti garis. Rambutnya panjang dan
diikat kebelakang dengan gaya ponytail.
Kami menangkapnya ditengah
patrol. Ia bermaksud melakukan lagi
pembakaran didaerah sini. Ujar polisi
yang membawa pria tersebut.
Om
aldi
tiba-tiba
maju
kedepannya dengan rusuh. Ia menarik
kerah tersangka dengan cengkraman
tangan yang sangat kuat.
Ka kamu! Kurang Ajar! Dasar
bedebah, kau tidak tahu kan betapa
sulitnya membuat rumah seperti ini!
teriak
Om
Aldi
dengan
penuh
kemarahan.
Dua orang polisi yang berjaga
pun menarik om aldi kebelakang dengan

sigap dengan maksud menghentikan


perkelahian. Om aldi terlihat merontaronta. Tangannya berusaha memukul
tersangka.
Namanya Aji. Ia tinggal di rumah
depan supermarket. Tidak mempunyai
pekerjaan dan belum menikah. Ucap
polisi penyidik yang membawanya.
Bu.. bukan aku aku memang
melakukan pembakaran 3 minggu lalu
tetapi pembakaran yang baru-baru ini
terjadi bukan ulahku. PPercayalah
Ucap Aji dengan gemetar
Sudah
cukup!
Kami
akan
mendengar alibi mu nanti di kantor
polisi balas polisi
Mereka pun membawa Aji yang
terlihat masih tidak ditermina karena
dituduh melakukan pembakaran. Jika di
lihat dari modus yang dilakukan pelaku
mungkin saja ini memamng bukan ulah
Aji. Karena modus pembakaran yang
terjadi 3 minggu lalu dan sebelumnya itu
dengan membakar rumah kosong yang
berad ditempat sepi. Sedangkan rumah
pak kaneo ini baru dibangun dan
dibangun
ditempat
yang
ramai
penduduk.
Ckiiiittttt. Terlihat sebuah taksi
berhenti di depan ku. Keluarlah seorang
wanita muda dari dalam mobil itu.
Wajahnya cantk mungkin masih 20
tahunan. Rambutnya pirang dengan
lipstick berwarna pink yang mencolok.
Katamu rumah ini tahan api.
Kenapa semua ini bisa terjadi?! ucap
nya dengan tegas kepada om Aldi.
Semua orang disana melihat
kearahnya dengan kebingungan. Begitu
pun
Om
Aldi,
mukanya
seperti
memancarkan tanda tanya yang sangat
besar.
Maaf saya tidak mengenalimu
nyonya. Jawab Om Aldi
Saya Istri Kaneo. Jawab wanita
itu dengan singkat.
Bagaimana bisa orang setua Pak
Kaneo memiliki istri yang sengat muda
seperti ini.
Maaf, jika boleh tahu kemarin
malam anda sedang dimana? tanya
seorang polisi sambal menyiapkan
catatan.
Apa-apaan kau?! Bagaimana
bisa kau mencurigai aku yang sebagai
keluarga korban. Jawab wanita tersebut
dengan sedikit ketakutan.
Bukan begitu nyonya, menurut
peyelidikan
kami
suami
anda
di

asuransikan dengan jumlah yang sangat


besar. Jadi jika kau tidak mau menjawab
pertanyaan kami, andaterpaksa harus
ikut kami ke kantor polisi Polisi tadi
masih memaksakan wanita itu untuk
menjawab pertanyaannya.
Wanita tersebut pun terkaget
mendengar perkataan polisi tersebut.
Aku sedang liburan di Hawaii
selama 1 minggu bersama pacarku.
Setelah mendengar suamiku meninggal
dalam
kecelakaan
aku
langsung
mengambil tiket pesawat cepat untuk
pulang. Jawabnya dengan tertunduk
malu.
Dasar, bagaimana bisa ketika
suaminya sedang menderita ia malah
berhura-hura dengan pacar nya. Malang
sakali pak Kaneo.
Tetapi jika uang asuransi pak
kaneo bisa diambil oleh istrinya jika ia
meninggal mungkin saja wanita ini
memiliki motif untuk membunuh dengan
menciptakan kebakaran. Tapi menikmati
tinggal dirumah barunya merupakan
sebuah kesenangan, harusnya wanita itu
mencoba untuk tinggal disini sebelum
membunuhnya.
Begitu
juga
Aji,
pembakar yang tertangkap. Orang ini
hanya mengincar tumpukan sampah dan
rumah kosong. Modusnya jelas berbeda
dengan kebakaran kali ini. Sebenarnya
siapa yang melakukan pembakaran ini?
Pasti diantara dua orang itu. Atau
adakah orang lain?!
Menurutku kebakaran ini sangat
aneh. Bagian dalam rumah terlihat
sangat hangus tetapi bagian luar rumah
masih terlihat rapi
Rumah dari tanah itu tahan api
dari luar, jadi tidak mudah terbakar
seperti itu. Tetapi berbeda dengan
bagian dalam yang dipenuhi oleh
perabotan. Sekali ada api sedikit bagian
dalam rumah bisa langsung hangus.
Ucap Om Aldi yang membuatku kaget.
Mengapa om bisa tahu apa yang
kupikirkan? tanyaku.
Kamu bergumam sendiri tadi.
Maaf ya saya tidak sengaja mendengar
perkataan mu dik. Jawab Om Aldi.
Aku tidak memperdulikannya.
Ada
sesuatu
yang
membuatku
penasaran. Hanya bagian luar dinding
dapur yang terlihat hangus.
Pak,
apa
anda
sudah
menemukan sumber kebakarannya?
tanyaku kepada seorang
polisi yang
sepertinya ia dari bagian penyelidik.

Sumber apinya bisa jadi dari


kompor atau TV. Didalam rumah ini
ditemukan banyak kayu yang telah
terkarbonasi. Karena kompor zaman
sekarang apinya sangat kuat jadi jika
kayu ini terkena api pasti akan langsung
terbakar. Jelasnya.
Ia pun mengambil sebuah kayu
lalu membakarnya. Wooooshhhh. Tibatiba kayu itu terbakar dengan cepat,
padahal api dari koreknya belum
megenai kayunya. Tetapi rumah ini
masih baru dibuat, jadi tidak mungkin
kayu nya cepat terkarbonasi.
Oh ya, sebagai rasa terimakasih
ku karena telah membantu dalam
pembangunan rumah. Sarah akan kuberi
potongan kayu untuk latihan karate Om
Aldi berkata kepada Kak Sarah.
Kak sarah pun terlihat bahagia
mendengarnya. Kami pun diajak ke
rumah Om Aldi. Aku pun mengajak
Genta dan Paldi.
Wahhhh.. rumahnya bagus ya.
Apa ini rumah yang sama dengan pak
kaneo? Rumah ini terlihat lebih modern.
Ucap Genta yang tiba-tiba masuk dan
tiduran di sofa tengah.
Rumah nya terlihat bagus dan
rapi. Halamannya sangat luas dan
rindang. Bagian dalam nya terihat
modern dengan desain interior yang
tertata sangat unik. Di sudut ruangan
ada kanvas berisi peta daerah kota
Karawang.
Apa maksud dari tanda x yang
ada di dalam peta ini om? tanya Paldi
yang sedang melihat peta tersebut.
Itu rumah yang sudah kubuat,
banyak sekali kan. Jawab Om Aldi.
Huh, apa-apaan ini. Rumah yang
dberi tanda x dalam peta ini ada lokasi
kebakaran akhir-akhir ini!
Oh! tiba-tiba Paldi terlihat
seperti terkejut melihat peta itu.
Lu juga sadar? tanyaku sambil
berbisik.
Ia
pun
mengangguk
tanda
menjawab iya. Muka nya pun mendadak
serius.
Eh ada apaan? tanya Genta.
Semua tanda x disini tuh tempat
kejadian pembakaran berantai yang
terjadi akhir-akhir ini Paldi menjawab
pertanyaan Genta dengan pelan.
Apa mungkin Om Aldi pelaku dari
kebakaran yang terjadi? Tetapi masih
terlalu cepat untuk menuduhnya sebagai

pelaku. Aku pun mengelilingi rumah ini


untuk mencari bukti lain.
Mengapa hanya bagian dapur
yang warnanya beda. Lalu apa gunanya
kotak yang ada diatas kompor itu.
Tanya Genta.
Oh, aku tahu bagaimana pelaku
melakukan
pembakaran!
Aku
pun
memanggil teman-teman ku untuk
berdiskusi. Dan akhirnya kami siap untuk
mengungkap kejahatan busuk ini. Dan
kak Sarah pun yang akan menjadi saksi
atas semua ini.
Om Aldi! Kau adalah pelaku
pembunuhan Pak Kaneo kan?! Tanya ku.
Om Aldi dan kak Sarah pun
terkaget mendengar perkataan ku.
Kau juga pelaku pembakaran
akhir-akhir ini kan? Lokasi pembakaran
yang terjadi akhir-akhir ini sama persis
dengan lokasi rumah yang kau bangun!
Pungkas Paldi.
Hahaha. Menggelikan! Apa
buktinya aku melakukan semua ini?!
jawab Om Aldi. Ia terlihat pucat.
Modus pembakaran yang terjadi
dalam 3 minggu ini juga berbeda dengan
yang sebelumnya Timpal ku.
Modus? tanya kakakku yang
terlihat kebingungan.
Pembakaran sebelumnya hanya
mengincar rumah kosong yang berada
ditempat sepi. Sedangkan kebakaran
yang terjadi akhir ini berasal dari
tumpukan sampah yang dilewati banyak
orang sehingga terlihat memaksa orangorang untuk menyadarinya. Genta pun
ikut membantu.
Bagus. Teruslah memojokkan dia
seperti itu Bisikku kepada temantemanku.
Kau
menaruh
beberapa
potongan kayu di dalam kotak diatas
kompor mu agar terkarbonasi. Lalu kau
memasang kayu itu di dinding dapur
rumah
yang
kau bangun.
Sebab
kebakaran yang terjadi dalam dinding itu
akan menyebar dengan cepat dan
meghanguskan
segalanya.
Dinding

dapurmu pun menjadi bukti dari


pembunuhan yang kau lakukan Aku pun
bermaksud
untuk
menyelesaikan
perdebatan ini.
Om Aldi pun terdiam. Mukanya
terlihat sangat kesal. Ia tidak berkatakata lagi. Seketika ruangan ini menjadi
sunyi.
Apa
benar
semua
yang
dikatakan mereka? tanya Kak Sarah.
Benar. Jawab Om Aldi dengan
singkat.
Mengapa kau melakukan semua
ini? Mengapa kau membunuh Pak
Kaneo? Kak Sarah bertanya sambal
menangis. Aku dan teman-temanku pun
hanya diam.
Aku membunuhya sebab ia
mengotori tanah. Tanah yang bagus bisa
diambil dari tepian sungai. Bagi kami,
tukang kayu tanah tersebut adalah
nyawa bagi kami. Tapi selama bertahuntahun limbah industri membuang limbah
ke sungai. Begitu pun Pak Kaneo, ia
membuang
sampah-sampah
yang
ditampungnya
ke
sungai.
Tanpa
kusadari aku membangun rumah ku
dengan tanah yang diambil dari sana.
Akibatnya, istri dan anakku harus
meninggal karena kanker setahun lalu. Ia
mati terbakar hingga hangus sebagai
hukuman
dari
tanah!
Om
Aldi
menjelaskan semuanya kepada kami.
Mukanya terlihat sangat lega karena bisa
mengungkapkan semuanya. Kami pun
hanya terdam.
Esok nya ia menyerahkan diri
kepada
polisi
dengan
damai.
Ia
menerima
semua
hukuman
yang
diberikan kepadanya. Pada akhirnya,
tidak ada lagi peristiwa kebakaran di
daerah sini. Aku, Genta, dan Paldi pun
melanjutkan aktivitasku seperti biasa.
2 bulan kemudian, Om Aldi
meninggal
karena
kanker
seolah
meyusul istri dan anaknya di dunia sana.
Konon katanya mukanya terlihat sangat
damai saat meninggal seolah ia sangat
bahagia bisa meninggal dengan tenang.