You are on page 1of 6

Definisi

Asma bronkial adalah keradangan kronis saluran nafas dengan banyak sel dan
elemen sel yang berperan menyebabkan hambatan aliran udara dan peningkatana
airway hyperresponsiveness, yang menimbulkan episode berulang dari wheezing,
sesak nafas, dada terasa sesak, dan batuk terutama pada malam hari atau pada pagi
hari (Daniel, 2005).
Klasifikasi
Klasifikasi Berdasarkan Beratnya Asma Bronkial (GINA, 2007)
1. Asma Bronkial IntermitenGejala-gejala kurang dari satu kali perminggu,
kekambuhan (eksaserbasi) sebentar, gejala-gejala di malam hari tidak lebih
dari dua kali per bulan, APE (Arus Puncak Ekspirasi) ≥ 80% prediksi,
variabilitas APE < 20%.
2. Asma Bronkial Persisten Ringan Gejala-gejala lebih dari sekali per minggu
tetapi kurang dari satu kali per hari, eksaserbasi dapat mempengaruhi aktivitas
dan tidur, gejala-gejala di malam hari lebih dari dua kali per bulan, APE ≥
80% prediksi, variabilitas APE < 20-30 %.
3. Asma Bronkial Persisten Sedang Gejala-gejala setiap hari, eksaserbasi dapat
mempengaruhi aktivitas dan tidur, gejala-gejala di malam hari lebih dari dua
kali per bulan, APE ≥ 80% prediksi dan variabilitas APE > 30%.
4. Asma Bronkial Persisten Berat Gejala-gejala setiap hari, eksaserbasi sering
kali, gejala-gejala Asma Bronkialdi malam hari sering kali, keterbatasan
aktivitas fisik, APE < 60% prediksi, variabilitas APE > 30%
Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asma bronkhial ( Dudut, 2003 ).
a. Faktor predisposisi
Genetik Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya
mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat
alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar
dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa
diturunkan.

Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim. Inhalan. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. serbuk bunga. bakteri dan polusi 2. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan. pabrik asbes. spora jamur. Ingestan. polisi lalu lintas. industri tekstil. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Kontaktan. musim bunga. .yangmasukmelaluimulut ex: makanan dan obat-obatan 3.  Stres Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. seperti: musim hujan.yangmasukmelaluikontakdengankulit ex: perhiasan. Faktor presipitasi Alergen Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. musim kemarau. selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. logam dan jam tangan  Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya.b. bulu binatang. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. yaitu : 1.yangmasukmelaluisaluranpernapasan ex: debu.  Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.

atau paparan bahan kimia. Ujung sensoris vagus pada epitel jalan napas disebut rseptor batuk atau iritan. 2000) MANIFESTASI KLINIK Gejala-gejala yang lazim muncul pada Asma Bronkhial adalah batuk. dispnea. infeksi. endokrin dan psikologis dalam tingkat pada berbagai intdividu. Inflamasi kronis mengakibatkan dilepaskannya beberapa macam mediator yang dapat mengaktivasi sel target di saluran nafas dan mengakibatkan bronkokonstriksi. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi. Aktivitas bronkokonstriktor neural diperantarai oleh bagian kolinergik sistem atonom. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan dispnea. dan stimulasi refleks saraf . hipersekresi mukus. tergantung Patogenesis Asma merupakan penyakit inflamasi kronis yang melibatkan beberapa sel. Hiperresponsif bronkus adalah respon bronkus yang berlebihan akibat berbagai rangsangan dan menyebabkan penyempitan bronkus. Hiperesponsif bronkus dihubungkan dengan proses inflamasi saluran napas (Meiyanti. Menurut Daniel 2005 Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkan faktor autonom. Julius I. yang mendorong pasien unutk duduk tegak dan menggunakan setiap otot-otot aksesori pernapasan. kebocoran mikrovaskuler dan edema. dan mekanisme saraf. Serangan seringkali terjadi pada malam hari. kebocoran mikrovaskuler. kerusakan sel epitel.wheezing. . Peningkatan respons bronkus biasanya mengikuti paparan alergen. imunologis. Serangan Asma dapat berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. Pada asma terjadi mekanisme hiperresponsif bronkus dan inflamasi. Asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. disertai dengan pernapasan lambat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. infeksi virus pada saluran nafas atas. Mulia. dan wheezing.

Faktor Resiko Adapun faktor resiko asma bronkial menurut Gina. anti inflamasi : glucocorticosteroid . asap rokok tungau debu dumah jenis kelamin binatang pearaan jenis makanan perabot rumah tangga perubahan cuaca riwayat penyakit keluarga Komplikasi Menurut Vitahealt. e. d. yang disebut “status asmatikus”. c. h. d. c. 2006 komplikasi yang mungkin terjadi akibat penyakit asma bronkial antara lain : a. 2007 a. pneumothoraks pneumomediastinum dan emfisema subkutis ateletaksis gagal nafas bronkitis fraktur iga Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita asma bronkial menurut daniel. penilaian dan pemantauan derajat keparahan asma dengan menilai gejala dan faal paru 3. kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih berat. kondisi ini mengancam hidup (Smeltzer & Bare. menyusun rencana pengobatan untuk penatalaksanaan eksaserbasi 5. edukasi penderita dan keluarga agar timbul kerjasama yang baik dengan penanganan asma 2. b. menyusun rencana pengobatan untuk penatalaksanaan asma jangka panjang 4.Meskipun serangan asma jarang ada yang fatal. b. mengupayakan kontrol teratur Modalitas terapi farmakologis a. g. f. 2002). e. 2005 adalah sebagai berikut : 1. f.

Suzanne C. Vol 1. Jakarta Global Initiative For Asthma (GINA). Pedoman Diagnostik dan Terapi. dan Bare. metacholin. untuk mencari penyulit 3. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed. bronkodilator: ­ ­ ­ agonis beta 2 methylxantin antikolinergik Pemeriksaan Penunjang 1. 2007. Sumatra Utara.2). Bethesda: National Institutes of Health. Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Alih bahasa oleh Agung Waluyo (dkk).normal atau hiperinflasi. Brenda G. Global strategy for asthma management and prevention. EGC. Daniel. salin hipertonis atau latihan fosok dengan parameter PC 5. Karinna. 2005. Uji provokasi bronkus : untuk menilai airway hyperresponsiveness dengan bahan alergen histamin. Surabaya. . 2003. Edisi III. Jurnal Kesmadaska. Faal paru : untuk diagnosis dan monitor 4. sputum.8. dudut. Laboratorium : darah. Vol. 2010. RSU Dokter Soetomo.b. 1. Smeltzer. 2005) Maranatha. haq rosma. 2002. tinja 2. Uji kulit : untuk asma alergi (Daniel. Radiologis : . Tanjung. analisis gas darah.