You are on page 1of 28

TUGAS GEOLOGI TEKNIK

SUSUNAN KULIT BUMI : BATUAN

KELOMPOK 1
Hasbur Rahmat

(1007121571)

Deny Wulandari

(1107114233)

Fauzan Usman

(1107111975)

Randy Fadhilah

(1107136586)

Alvon

(1207113643)

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU

2016
SUSUNAN KULIT BUMI : BATUAN
Hampir seluruh kulit Bumi (98,5%) hanya terdiri dari 8 unsur, diantaranya O, Si, Al,
Fe, Ca, Na, K, dan Mg. Semua unsur lainnya seperti C, S, P, H, Pb, Zn, Ni, Cu, Ti, Mn dan
lainnya, secara keseluruhan hanya membentuk 1,5% saja. Kedelapan unsur penting tersebut
dapat bersenyawa melalui berbagai cara menjadi sejumlah besar mineral dengan sifat-sifat
yang berlainan. Mineral-mineral penting pembentuk batuan atau kelompok-kelompok
mineral adalah kuarsa (SiO2), kelompok felspar, kelompok mika, amfibol (antara lain
hornblenda), piroksen (antara lain augit), dan olivin.

Mineral-mineral gelap, terutama Mg, Fe Mineral-mineral terang, terutama K, Na, Ca, Al

Tabel 1. Susunan beberapa mineral penting pembentuk batuan


kuarsa
felspar

mika

amfibol
piroksen

olivin

ortoklas
plagioklas
(kristal-kristal
pencampur albit
dan anortit)

SiO2
KAlSi3O8
NaAlSi3O8 CaAl2Si2O8

muskovit

Kal2(AlSi3O10) OH, F)

biotit
misalnya
hornblenda
misalnya
augit

K (Mg, Fe)3 (AlSi3O10)(OH, F)2


Ca2 (Mg, Fe)5 (OH)2 (Si4O11)2
seringkali dengan Al
Ca (Mg, Fe) Si2O6
terkadang juga Al dan Na

(Mg, Fe)2 SiO4

(Sumber : Verhoef, P.N.W, Geologi untuk Teknik Sipil, 1994)

1.
2.
3.
4.

Asal mula batuan yaitu :


Semua batuan pada mulanya dari magma
Magma adalah benda cair, panas, pijar yang bersuhu diatas 1000C
Lava adalah magma yang sudah muncul ke permukaan
Lahar adalah lava yang bercampur dengan gas, meterial piroklastik, air, tanah
tumbuhan

Gambar 1. Siklus Batuan


Seperti pada Gambar 1, magma keluar di permukaan bumi antara lain melalui puncak
gunung berapi. Gunung berapi ada di daratan ada pula yang di lautan. Magma yang sudah
mencapai permukaan bumi akan membeku. Magma yang membeku kemudian menjadi
batuan beku. Batuan beku muka bumi selama beribu-ribu tahun lamanya dapat hancur terurai
selama terkena panas, hujan, serta aktivitas tumbuhan dan hewan. Selanjutnya hancuran
batuan tersebut tersangkut oleh air, angin atau hewan ke tempat lain untuk diendapkan.
Hancuran batuan yang diendapkan disebut batuan endapan atau batuan sedimen. Baik batuan
sedimen atau beku dapat berubah bentuk dalam waktu yang sangat lama karena adanya
perubahan temperatur dan tekanan. Batuan yang berubah bentuk disebut batuan malihan atau
batuan metamorf.
Pada dasarnya, batuan merupakan kombinasi dari berbagai mineral. Batuan dapat
dibagi berdasarkan cara pembentukannya dan berdasarkan jenis material yang dikandung.
Berdasarkan cara pembentukannya, batuan dapat dibedakan menjadi batuan beku, batuan
sedimen, dan batuan metamorf.
a. Batuan Beku
Batuan beku terbentuk oleh bermacam-macam kristal, seringkali terjadi dari fase cair,
dan hampir selalu tidak berlapis. Berdasarkan cara pembentukannya, batuan beku dapat
dibagi menjadi :

Batuan dalam atau plutonit, yaitu kristal-kristal besar yang perlahan-lahan berkristalisasi,
misalnya ke dalam bentuk batolit dan lakolit, baru akan tampak di permukaan bumi

setelah terangkat ke atas dan setelah terjadi erosi.


Batuan gang, yaitu batuan yang membeku di dalam celah (gang) dalam perjalanannya
menuju permukaan, terkadang diselingi dengan yang lebih besar (fenokris atau pemula,
yang terbentuk jauh di kedalaman tetapi ikut terangkut ke atas). Strukturnya adalah

porfir, juga dalam bentuk pelat-pelat intrusi dan lakolit.


Batuan lelehan atau batuan afusif, vulkanit, ekstrusif, cepat mendingin, kristalin yang
sangat halus, bahkan ada kalanya kaca (obsidian).

Batuan beku dibedakan berdasarkan sifat kimiawinya, yaitu :


Batuan asam, mengandung banyak asam salisilat merupakan senyawa silikon dan oksida,

mengandung kwarsa berwarna keputih-putihan.


Batuan basa, kadar asam salisilatnya rendah banyak mengandung magnesium dan besi,
warnanya gelap/hitam.

Contoh batuan beku diantaranya adalah:


1. Basalt

Gambar 2. Basalt

Proses terbentuk
Berasal dari hasil pembekuan magma berkomposisi basa di permukaan atau dekat

permukaan bumi. Biasanya membentuk lempeng samudera di dunia. Mempunyai ukuran


butir yang sangat baik sehingga kehadiran mineral mineral tidak terlihat.
Massa jenis : 2,7 3 gram/cm3
Warna : gelap

Karakteristik lain

Batuan Basalt lazimnya bersifat masif dan keras, bertekstur afanitik, terdiri atas mineral
gelas vulkanik, plagioklas, piroksin. Amfibol dan mineral hitam. Kandungan mineral
vulkanik ini hanya dapat terlihat pada jenis batuan basalt yang berukuran butir kuarsa, yaitu
jenis dari batuan basalt yang bernama gabbro. Berdasarkan komposisi kimianya, basalt dapat
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu basalt alkali dan basalt tholeitik. Perbedaan di antara kedua
tipe basalt itu dapat dilihat dari kandungan Na2O dan K2O. Untuk konsentrasi SiO2 yang
sama, basalt alkali memiliki kandungan Na2O dan K2O lebih tinggi daripada basalt tholeitik.
Manfaat
Basalt kerap digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan bangunan atau
pondasi bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll) dan sebagai agregat.
2. Gabbro

Gambar 3. Gabbro

Proses terbentuknya yaitu terbentuk dari magma yang membeku di dalam gunung.

Gabbro termasuk batuan dalam.


Massa jenis : 2,9 3,21 gram/cm3
Warna : gelap kehijauan , coklat bercampur putih
Karakteristik lain
Batuan gabro berwarna gelap kehijauan, menunjukkan kandungan silika rendah sehingga

magma asal bersifat basa. Struktur batuan ini adalah massive, tidak terdapat rongga atau
lubang udara maupun retakan-retakan. Batuan ini masih segar dan tidak pernah terkena gaya
endogen yang dapat meninggalkan retakan pada batuan. Batuan ini memiliki tekstur fanerik
karena mineral-mineralnya dapat dilihat langsung secara kasat mata dan mineral yang besar
menunjukkan bahwa mineral tersebut terbentuk pada suhu pembekuan yang relatif lambat
sehingga bentuk mineralnya besar-besar. Derajat kristalisasi sempurna, bahwa batuan ini
secara keseluruhan tersusun atas kristal sehingga disebut holocrystalline. Tekstur seperti ini
menunjukkan proses pembentukan magma yang lambat. Ion-ion penyusun mineral pada
batuan, dalam lingkungan bertekanan tinggi dan temperatur yang luar biasa tinggi dapat
bergerak sangat cepat dan menyusun dirinya sedemikian rupa sehingga membentuk suatu
bentuk yang teratur dan semakin berukuran besar.

3. Granit

Gambar 4. Granit
Proses terbentuk
Batuan ini terbentuk dari hasil pembekuan magma berkomposisi asam yang membeku di

dalam dapur magma, sehingga batu ini merupakan jenis batu beku dalam. Batuan ini banyak
di temukan di daerah pinggiran pantai dan di pinggiran sungai besar ataupun di dasar sungai.
Massa jenis : sekitar 2,2 2,3 gram/cm3
Warna : putih, abu-abu, atau campuran keduanya.
Manfaat
Batu Granit dapat digunakan sebagai batu bahan bangunan, monumen, jembatan, sebagai
dekorasi, bahan tegel, dan lain-lain.

4. Andesit

Gambar 5. Andesit

Proses terbentuk

Batuan ini berasal dari lelehan lava gunung merapi yang meletus, batu Andesit terbentuk
(membeku) ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1.100
derajat Celsius. Merupakan jenis batuan beku luar.
Massa jenis : 2,8 3 gram/cm3
Warna : agak gelap (abu-abu tua)
Manfaat
Batu andesit sering digunakan sebagai nisan kuburan, cobek, lumping jamu, cungkup
(kap lampu taman), arca untuk hiasan, batu pembuat candi, sarkofagus, punden berundak, dan
meja batu. Pusat kerajinan dan pemotongan batu Andesit juga terdapat di daerah Cirebon dan
Majalengka, Jawa Barat. Karena di daerah ini banyak terdapat perbukitan yang merupakan
daerah tambang batu Andesit. Untuk batu Andesit di daerah Cirebon umumnya bewarna abuabu dan terdiri dari 2 jenis utama yaitu Andesit Bintik dan Andesit Polos.
5. Diabase

Gambar 6. Diabase
Diabase atau dolerit atau

mikrogabbro adalah batuan

mafik, holokristalin, dan

subvulkanik yang setara dengan basalt vulkanik atau gabro plutonik. Diabase pada dike dan
sill biasanya berwujud tubuh intrusif dangkal dan memperlihatkan butir-butir halus hingga
aphanitic chilled margin dan dapat mengandung takilit (gelas mafik gelap). Diabase adalah
nama yang digunakan di Amerika utara, dolerit adalah nama yang digunakan di hampir
seluruh dunia, walau kadang-kadang istilah diabase digunakan juga untuk menggantikan
dolerit dan basalt, namun banyak ahli petrologi lebih memilih menggunakan istilah
mikrogabro untuk menghindari kebingungan.
Diabase biasanya memiliki tekstur halus tapi terlihat, dengan kristal - kristal plagioklas
berbentuk bilah euhedral (62%) tertanam dalam matriks halus klinopiroksen, biasanya augit
(20-29%), dengan sedikit olivin (3% sampai dengan 12% di olivin diabas ), magnetit (2%),
dan ilmenit (2%). Aksesori dan alterasi mineral termasuk hornblende, biotit, apatit, pirhotit,

kalkopirit, serpentin, klorit, dan kalsit. Tekstur ini disebut bertekstur diabasik dan umum
ditemukan di diabase. Tekstur diabasik ini juga disebut interstitial. Feldspar dengan
kandungan tertinggi adalah anortit (sebagai lawan albit), selain itu terdapat pula labradorit.
Diabase digunakan sebagai batu pecah dan batu hias. Di Tazmania, menjadi salah satu
batu yang paling umum ditemukan, telah digunakan sebagai batu bangunan, untuk lansekap
dan untuk mendirikan dinding pertanian anti air.
6. Dacite

Gambar 7. Dacite
Dasit merupakan batuan beku yang termasuk dalam jenis vulkanik, karena dasit dalam
proses pembentukannya mengalami pendinginan magma yang cepat. Proses terbentuknya
dasit pada suhu sekitar 900C 1200C (Bishop & Hamilton, 1999). Kandungan silika yang
terdapat pada dasit berkisar diantara 52% 66%. Dalam proses pembentukannya dasit adalah
batuan ekstrusif felsik yang menengah dalam komposisi antara andesit dan riolit (Dietrich,
1924). Dalam pembentukannya sering ditemukan bergabung dengan andesit, dan membentuk
aliran lava, serta tanggul (Suharwanto, 2014).
Dasit ini termasuk dalam jenis batuan vulkanik karena permukaan batu tersebut halus.
Warna pada dasit ini adalah jenis felsik yaitu putih keabu-abuan. Struktur pada dasit ini
adalah masif karena tidak terdapat aliran atau jejak gas. Derajat kristalin pada dasit ini adalah
holokristalin karena dasit seluruhnya tersusun oleh massa kristal (Sukandarrumidi, 2009).
Granularitas pada dasit ini yaitu fanerik karena dapat terlihat dengan mata. Bentuk butir pada
dasit ini adalah subhedral karena bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian
bidang kristal yang sempurna (Gautama, 2012). Relasi pada dasit ini adalah inequigranular
karena ukuran butirnya tidak sama. Komposisi yang terdapat pada dasit ini adalah muskovit
dan kuarsa. Jika disamakan dengan petrogenesa dasit tersebut mempunyai banyak kesamaan
dan keterkaitan. Dasit memiliki fenokris kuarsa dan feldspar alkali bersama dengan
plagioklas asam dan sedikit biotit (Soedarmo, 1979).
Pada petrogenesa menjelaskan bahwa dasit dalam proses pembentukannya merupakan
batuan beku yang termasuk dalam jenis vulkanik, karena dasit dalam proses pembentukannya
mengalami pendinginan magma yang cepat. Proses terbentuknya dasit pada suhu sekitar

900C 1200C (Arindita, 2012). Kandungan silika yang terdapat pada dasit berkisar
diantara 52% 66%. Dalam proses pembentukannya dasit adalah batuan ekstrusi felsik yang
menengah dalam komposisi antara andesit dan riolit. Dalam pembentukannya sering
ditemukan bergabung dengan andesit, dan membentuk aliran lava, serta tanggul (James,
2009). Dasit banyak dipergunakan sebagai batu ornamen dinding maupun lantai bangunan
gedung atau untuk batu belah untuk pondasi bangunan. Persebaran dasit di Indonesia yaitu di
daerah Gorontalo, Lampung, dan daerah Tandung Kec. Pamboang (Majene) (Nouval, 2009).
b. Batuan Sedimen
Batuan sedimen atau batuan endapan, pada umumnya berupa butiran-butiran tersendiri
mulai dari sangat halus hingga kasar, seringkali terekat satu sama lain oleh massa antara
(matriks), pasir lepas (tidak merekat) disebut pula sebagai batuan dalam ilmu geologi, begitu
juga yang mengendap dalam air (subaquatik) atau di udara (eolik), karena biasanya butiranbutiran tersebut tidak berlapis-lapis.
Pada pembagian selanjutnya berdasarkan susunan dan cara pembentukannya (sukar
untuk dipisah), batuan sedimen dibagi menjadi:
Sedimen silika klastik, misalnya batu pasir (kuarsa) biasa, lempung, wake abu-abu (gay

woce), dan sebagainya.


Batuan karbonat, misalnya batu kapur (CaCO3) dari berbagai sifat yaitu batu karang,
batuan klasiklastik (terdiri dari pasir kapur), napal, dolomit CaMg (CO 3)2, dan

sebagainya.
Evaporit, yaitu batuan hasil penguapan, garam batu, anhidrit, gips, garam kali, dan

sebagainya.
Sedimen organik, misalnya sisa dari zat-zat hidup, gambut, arang coklat, arang batu,

minyak bumi, aspal.


Sedimen piroklastik atau sedimen vulkanik, misalnya debu vulkanik, tuf, dan sebagainya.
Sedimen lainnya, misalnya fosforit dan sebagainya.

1. Chert

Gambar 8. Chert (Rijang)

Chert disebut sebagai batuan sedimen laut dalam. Batuan ini terbentuk dari proses
pengendapan yang terjadi pada dasar samudera. Fosil renik Radiolaria yang dijumpai dalam
batu rijang di daerah Karangsambung, Kebumen menunjukkan umur 85 juta tahun hingga
140 juta tahun.

Dasar Penamaan (Klasifikasi) Chert


Chert adalah penamaan umum yang digunakan untuk batuan siliceous sebagai sebuah

kelompok (grup), namun ada yang mengaplikasikannya untuk tipe spesifik dari chert (Boggs,
1987). Batuan sedimen Siliceous dapat dibagi berdasarkan kenampakan secara kasar (gross
morphology) kedalam dua tipe mendasar yaitu Bedded cher dan Nodular chert. Bedded chert
lebih lanjut dibedakan oleh content dari organisme siliceous yang bermacam-macam
jenisnya. Mineralogi tidak dapat digunakan untuk menjadi dasar pengklasifikasian batuan
sedimen siliceous karena batuan jenis ini semua kandungan utamanya adalah kuarsa yang
berukuran halus (chert) (Boggs, 1987).
Menurut Boggs (1987), klasifikasi chert adalah sebagai berikut:
1. Bedded Chert
Diatomaceous Chert
Radiolarian Chert
Spicular Chert
Few or Non Fossiliferous Chert
2. Nodular chert
2. Konglomerat (Conglomerate)

Gambar 9. Conglomerate yang tersusun atas fragmen, matriks dan semen

Definisi Batu Konglomerat


Batu Konglomerat adalah batuan sedimen klastik yang mempunyai

bentuk fragmen membundar (rounded). Ukuran diameter fragmennya


>2mm, ruang antara fragmen umumnya diisi dengan partikel yang lebih
kecil dan/atau semen kimia yang mengikat batuan bersama-sama. Jadi

secara umum konglomerat tersusun atas bagian utama yang disebut


sebagai fragmen, matriks, dan semen.

Komposisi Batuan Konglomerat


Konglomerat dapat memiliki berbagai komposisi. Sebagai batuan sedimen klastik dapat

berisi fragmen dari bahan batuan atau produk pelapukan yang tercuci dan terbawa pada suatu
lingkungan pengendapan. Fragmen konglomerat tersebut dapat berupa partikel mineral
seperti kuarsa atau juga dapat berupa batuan sedimen, batuan metamorf, dan batuan beku.
Matriks yang mengikat fragmen besar dapat berupa campuran pasir, lumpur dan semen
kimia.
Proses Terbentuknya Batuan Konglomerat
Batuan konglomerat merupakan batuan sedimen klastik yang terakumulasi dari fragmenfragmen yang berukuran cukup besar. Dibutuhkan air yang kuat untuk mengangkut partikel
fragmen sebesar ini. Jadi lingkungan pengendapannya mungkin akan ada disepanjang aliran
yang mengalir cepat atau pantai dengan ombak yang kuat. Bentuk bulat dari fragmen
mengindikasikan bahwa terjadi proses perubahan bentuk fragmen (sortasi) oleh kecepatan
aliran air selama proses transportasi berlangsung.
Pada bulan September 2012, NASA "Mars Rover Curiosity" menemukan sebuah
singkapan konglomerat pada permukaan Mars. Fragmen bulat dalam konglomerat
memberikan bukti yang paling meyakinkan bahwa air pernah mengalir di permukaan Mars.
Pada tahap awal pembentukannya, konglomerat hanya merupakan sedimen yang tersusun
atas kerikil dan fragmen lepas koral. Selanjutnya pasir halus dan tanah liat (lanau - lempung)
akan mengisi ruang antara fragmen tersebut, kemudian terjadi proses lain yang menyaring
turun partikel untuk mengisi ruang interstitial. Pengendapan semen kimia kemudian mengikat
sedimen menjadi batuan utuh, yang akhirnya disebut sebagai Batu Konglomerat.

Kegunaan Batuan Konglomerat


Konglomerat tidak banyak digunakan secara komersial. Bentuk dan kekuatan fisiknya

yang sangat minimal sehingga tidak dapat diandalkan untuk menjadikannya sebagai batuan
yang bernilai ekonomis tinggi. Ini sudah tentu bekaitan dengan kekuatan ikatan antar
fragmen, matriks, dan semen yang ada dalam konglomerat tersebut. Konglomerat hanya
dapat dihancurkan untuk membuat agregat halus yang dapat digunakan sebagai pendukung
infrastruktur (bangunan) kelas sederhana. Walaupun banyak juga batuan konglomerat yang
berwarna-warni dan menarik, tetapi sangat jarang digunakan orang sebagai batu hias ataupun
untuk interior.
Konglomerat juga dapat digunakan sebagai alat prospeksi, contohnya butiran berlian
(dengan "host-rock" Kimberlite) biasanya berada dalam tubuh konglomerat. Jika konglomerat

mengandung fragmen dari kimberlite maka sumber kimberlite seharusnya berada di sekitar
konglomerat tersebut, entah dekat ataupun jauh, tinggal dilakukan prospeksi selanjutnya.

3. Batu Pasir (Sandstone)

Gambar 10. Batu Pasir (Sandstone)


Batu pasir adalah batuan sedimen klastik yang terdiri dari butiran mineral berukuran
pasir atau bahan organik. Di dalam batu pasir terdapat semen yang mengikat butiran-butiran
pasir dan biasanya terdiri dari partikel matriks (lanau atau lempung) yang menempati ruang
antar butiran pasir. Batu pasir adalah salah satu jenis batuan sedimen yang paling umum dan
banyak ditemukan dalam cekungan sedimen di seluruh dunia. Batu pasir sering ditambang
untuk digunakan sebagai bahan konstruksi. Di bawah permukaan, batu pasir sering berfungsi
sebagai akuifer air tanah untuk atau sebagai reservoir minyak dan gas alam.

Pelapukan dan Transportasi Pasir


Pasir biasanya tersusun atas partikel atau butiran mineral, batuan atau bahan organik

yang telah berubah menjadi ukuran pasir oleh proses pelapukan dan terangkut ke suatu
lingkungan pengendapan oleh media transportasi berupa air, angin atau es. Waktu dan jarak
transportasi mereka mungkin singkat atau signifikan. Selama perjalanan butiran ini, akan
selalu ditindaklanjuti oleh pelapukan kimia dan fisika.
Jika pasir diendapkan dekat dengan sumber batuannya, komposisinya akan menyerupai
batuan induknya. Namun, semakin lama waktu dan jarak yang memisahkan batuan sumber
dari endapan pasirnya, komposisi tersebut akan signifikan berubah selama proses
transportasi. Butiran yang terdiri dari bahan mudah lapuk akan diubah dan mineral atau
partikel yang secara fisik lemah akan hilang atau hancur.
Apabila batuan granit adalah sumber bahan asli dari pasir, maka batu pasir akan tersusun
atas butiran-butiran mineral dari hornblende, biotit, ortoklas dan kuarsa. Hornblende dan
biotit yang paling rentan mengalami perubahan kimia dan fisika sehingga mereka akan

tersingkir di tahap awal transportasi. Ortoklas dan kuarsa akan bertahan lama karena ikatan
kimia mereka lebih intens dan tidak rentan terhadap pembelahan (cleavege). Mineral kuarsa
biasanya paling banyak membentuk butiran pasir, butiran-butiran kuarsa inilah yang akan
membentuk batu pasir yang biasa kita sebut sebagai batu pasir kuarsa.

Jenis Butiran, Deskripsi, dan Penamaan Batu Pasir


Butiran dalam batu pasir dapat terdiri dari mineral, batuan atau bahan organik. Besaran

jumlah (persen) jenis butiran pasir tergantung pada sumber butirannya dan bagaimana mereka
mengalami proses transportasi. Butiran mineral dalam batupasir biasanya tersusun atas kuarsa
kadang-kadang bisa sangat tinggi jumlahnya (>90% SiO 2). Hal ini disebebabkan karena
butiran pasirnya telah mengalami transportasi yang berulang-ulang oleh media angin atau air,
atau biasa dikatakan sebagai mature. Butiran pasir lainnya dapat mengandung sejumlah besar
feldspar dan jika mereka berasal dari batuan induk dengan kandungan kuarsa yang signifikan
maka butiran pasir feldspar tersebut akan dikatakan immature.
Pendeskripsian batu pasir secara umum (untuk orang awam) biasanya mengacu kepada
jumlah persen bahan penyusun batu pasir (butiran mineral atau batuan, ataupun bahan
organik). Sebagai contoh apabila dalam suatu batu pasir dominan tersusun atas butiran
mineral kuarsa maka biasa disebut batu pasir kuarsa atau batu pasir silika. Apabila butiran
dari batu pasir ada mengandung emas biasa disebut batu pasir emas, jika mengandung intan
biasa disebut batu pasir intan. Sebenarnya istilah batu pasir emas dan batu pasir intan ini
muncul karena keterdapatan mineral emas atau intan dalam sebuah batu pasir, atau bisa saja
hanya sebagai pasir lepas yang mengandung butiran emas ataupun intan. Seperti yang kita
ketahui bahwa emas memiliki resistensi dan fleksibilitas yang tinggi, begitu juga intan. Inilah
yang memungkinkan kedua mineral berharga ini tahan terhadap proses pelapukan kimia dan
fisika selama proses transportasi berlangsung.
Secara spesifik deskripsi dan penamaan batu pasir akan mengacu atau berdasarkan
batuan asalnya, berdasarkan kehadiran matriks lempungnya, dan berdasarkan komposisi
butiran dalam batupasir tersebut. Penamaan batu pasir berdasarkan batuan asalnya sebagai
contoh batupasir silisiklastik (butiran terigen), batupasir epiklastik, dan batupasir
volkaniklasitik. Penamaan batu pasir berdasarkan kehadiran matriks lempungnya sebagai
contoh batupasir arenit dan batupasir wacke. Penamaan batu pasir berdasarkan komposisi
butiran penyusunnya sebagai contoh batupasir arkose dan batupasir litik. Banyak klasifikasi
batu pasir yang dibuat oleh para ahli, sebagai contoh klasifikasi pettijhon (1987), klasifikasi
folk (1974), dan klasifikasi gilbert (1982).
4. Nummulites Sandstone

Gambar 11. Batu Gamping Numulites


Batu gamping numulites adalah batuan sedimen bioklastik yang dipenuhi oleh fosil
Foraminifera Nummulites. Fosil Foraminifera Nummulites memberi petunjuk bahwa batuan
ini diendapkan di laut dangkal dan berumur hingga 55 juta tahun lalu.
Bongkah batu atau gamping numuliites merupakan "olistolit" hasil suatu pelongsoran
besar didasar laut dari tepian menuju tengah cekungan yang dalam. Fosil yang ada
menunjukkan bahwa pada kala Eosen kawasan sekitar Karangsambung merupakan laut
dangkal di mana pada tepi-tepi cekungan diendapkan batu gamping numulites.
Adapun deskripsi dari batugamping adalah sebagai berikut :

Warna
Kilap
Goresan
Bidang belahan
Pecahan
Kekerasan
Berat Jenis
Tenacity

5. Kalsilutite

: Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan


: Kaca, dan tanah
: Putih sampai putih keabuan
: Tidak teratur
: Uneven
: 2,7 3,4 skala mohs
: 2,387 ton/m3
: Keras

Gambar 12. Batu Gamping Merah (Kalsilutite)


Kalsilutite merupakan batugamping yang ukurannya (ukuran butir) lebih kecil dari
ukuran pasir. Batuan ini terbentuk di dasar laut dalam dimana batugamping masih bisa
terbentuk. Batu Gamping ini ditemukan di daerah Karang Sambung kabupaten Kebumen.
Batuan ini berselang-seling dengan batu rinjang.
Batugamping merah merupakan salah satu jenis batuan sedimen yangterbentuk dari hasil
reaksi kimia atau bisa juga dari hasil kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah
kristalisasi langsung atau reaksi organik (penggaraman unsur-unsur laut, pertumbuhan kristal
dari agregat kristal yangterpresipitasi dan replacement). Hal inilah yang menyebabkan batu gamping
merah masuk dalam klasifikasi batuan sedimen nonklastik.
Batuan ini berwarna merah, hal ini dipengaruhi oleh komposisi mineral yang terkandung dalam batu ini.
Komposisi mineral pada batu ini yakni terbentuk dari monomineralik karbonat. Monomineralik karbonat
merupakan hasil campuran dari dua mineral yakni mineral kalsit dandolomit. Mineral yang
paling dominan dalam batu ini adalah mineral dolomit. Karena mineral ini memiliki warna
yang khas yaitu merah. Batugamping foram ini memiliki struktur fosiliferus. Batu ini bertekstur
masif karena tidak memiliki struktur atau ketebalan lebih dari 120 cm. Batugamping merah
ternyata memiliki tekstur lanau. Batu ini masuk dalam golongan lanau karena ukuran butir batuan ini
1/16 - 1/256 mm atau dalam istilah petrologinya adalah (silt). Sedangkan dari segi pemilahannya
batu ini memiliki pemilahan yang baik sebab ukuran serta besar butirnya memiliki ukuran
yang seragam. Sedangkan dari segi kebundaran batu ini memiliki kebundaran

rounded

(membundar), karena pada umumnya permukaan- permukaannya bundar, ujung-ujung dan tepi-tepi
butiran bundar. Sedangkan darisegi kemasnya, batu ini memiliki kemas yang tertutup. Batu
ini memiliki kemas yang tertutup sebab batu ini memiliki butiran yang saling bersentuhan
satu sama lainnya sehingga tidak ada celah yang terbuka.
Gamping berwarna merah singkapan yang merupakan endapan laut dalam ini berlapis
hampir vertikal membentuk puncak-puncak punggungan yang sempit. Ditemukan di
karangsambung, Kebumen.

6. Calcarenite

Gambar 13. Kalkarenit


Calcarenite memiliki ukuran butir 1/16 hingga 2 milimeter, batuan ini terdiri dari 50%
atau lebih material carbonate detritus, yaitu material yang tersusun terutama atas fosil dan
oolit. Batuan ini ditemukan di Seling, Karangsambung, Kebumen. Batuan kalkarenit adalah
batuan sedimen yang terdiri dari fragmen batugamping dan fosil berukuran sedang berwarna
abu-abu kecoklatan, karena batuan ini mengandung unsur logam alkali. Kadang-kadang
memperlihatkan perlapisan, semen karbonat, oksida besi atau lempung.
Batu ini bertekstur arenit karena ukuran butir batuan ini 0,062 mm. Sedangkan
komposisimineralnya adalah allohem, interclas, mikrit, kalsit, sparit dan karbonat.
c. Batuan Metamorf
Batuan metamorf (atau batuan malihan) adalah salah satu kelompok utama batuan yang
merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang telah ada sebelumnya,
protolith, oleh suatu proses yang disebut metamorfisme, yang berarti perubahan bentuk.
Batuan asal atau protolith yang dikenai panas (lebih besar dari 150 Celsius) dan tekanan
ekstrem (1500 bar), akan mengalami perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith
dapat berupa batuan sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua.
Batuan metamorf membentuk bagian yang cukup besar dari kerak bumi dan
diklasifikasikan berdasarkan tekstur, selain juga oleh susunan mineral dan susunan kimianya
(fasies metamorfik). Batuan jenis ini dapat terbentuk secara mudah akibat berada dalam
kedalaman tinggi, mengalami suhu tinggi dan tekanan besar dari lapisan batuan di atasnya.
Mereka dapat terbentuk dari proses tektonik seperti tabrakan benua, yang menyebabkan
tekanan horisontal, gesekan dan distorsi. Mereka juga terbentuk ketika batuan terpanaskan
oleh intrusi dari batuan cair dan panas yang disebut magma dari interior bumi. Studi tentang
batuan metamorf ( yang sekarang tersingkap di permukaan bumi akibat erosi dan
pengangkatan) memberikan informasi tentang suhu dan tekanan yang terjadi pada kedalaman

yang besar dalam kerak bumi. Beberapa contoh batuan metamorf adalah slate, filit, sekis,
gneis, dan lain-lain.
Mineral metamorfik adalah mineral yang terbentuk hanya pada suhu dan tekanan tinggi
terkait dengan proses metamorfosis. Mineral ini, yang dikenal sebagai mineral - mineral
indeks, termasuk silimanit, kyanit, staurolit, andalusit, dan beberapa garnet. Mineral lainnya,
seperti olivin, piroksen, ampibol, mika, feldspar, dan kuarsa dapat ditemukan dalam batuan
metamorf, tapi belum tentu merupakan hasil dari proses metamorfisme. Mineral ini terbentuk
selama kristalisasi batuan beku. Mereka stabil pada suhu dan tekanan tinggi yang secara
kimia tidak berubah ketika selama terjadinya proses metamorfisme. Namun, semua mineral
stabil hanya dalam batas-batas tertentu, dan adanya beberapa mineral dalam batuan metamorf
menunjukkan perkiraan suhu dan tekanan di mana mereka terbentuk.
Perubahan ukuran partikel batuan selama proses metamorfisme disebut rekristalisasi.
Misalnya, kristal kalsit kecil pada batugamping berubah menjadi kristal yang lebih besar di
marmer pada batuan metamorf, atau dalam batupasir yang termetamorfosis, rekristalisasi dari
kuarsa asal butir-butir pasir menghasilkan kuarsit yang sangat kompak, atau biasa disebut
dengan metakuarsit, di mana kristal kuarsa yang lebih besar biasanya saling bertautan. Baik
suhu maupun tekanan yang tinggi berkontribusi terhadap rekristalisasi. Temperatur yang
tinggi memungkinkan atom dan ion dalam kristal padat untuk bermigrasi, sehingga
membentuk suatu susunan pada kristal, sementara tekanan tinggi menyebabkan pelarutan
kristal dalam batuan di titik kontak mereka.
Perlapisan dalam batuan metamorf disebut foliasi (berasal dari kata Latin folia, yang
berarti daun). Foliasi terbentuk ketika batuan memendek di salah satu sumbu pada
rekristalisasi. Hal ini menyebabkan platy atau kristal yang memanjang dari mineral, seperti
mika dan klorit, memutar agar sumbu panjang mereka tegak lurus terhadap orientasi sumbu
yang memendek. Hal ini menghasilkan batuan yang berpita-pita, atau berfoliasi, dengan pitapita yang menunjukkan warna mineral yang membentuk mereka.
Tekstur dipisahkan ke dalam kategori foliasi dan non foliasi. Batuan ber-foliasi adalah
produk stress diferential yang men-deformasi batuan dalam satu bidang, kadang-kadang
menciptakan sebuah bidang belahan. Misalnya, batu sabak adalah batuan metamorf berfoliasi, yang berasal dari serpih. Batuan non-foliasi tidak memiliki pola strain planar.
Batuan yang mengalami tekanan seragam dari semua sisi, atau mereka yang kekurangan
mineral dengan kebiasaan pertumbuhan yang khas, tidak akan ber-foliasi. Di mana batuan
telah dikenakan diferensial stress, jenis foliasi yang berkembang tergantung pada tingkatan
metamorfisme (grade). Misalnya, dimulai dengan sebuah batulumpur, urutan berikut
berkembang dengan meningkatnya suhu: batusabak adalah batuan metamorf yang sangat

halus dan berfoliasi, yang merupakan karakteristik tingkat metamorfisme yang sangat rendah,
sementara filit berbutir halus dan berada pada tingkatan metamorfisme rendah , sekis berbutir
sedang hingga kasar dan ditemukan di daerah dengan tingkat metamorfisme sedang dan
terakhir gneis berbutir kasar hingga sangat kasar, ditemukan di daerah dengan tingkat
metamorfisme yang tinggi. Marmer umumnya tidak berfoliasi, yang memungkinkan
penggunaannya sebagai bahan untuk patung dan arsitektur.
Mekanisme lain yang penting dari metamorfisme adalah bahwa reaksi kimia yang terjadi
antara mineral terjadi tanpa mencairnya mereka. Dalam proses ini, atom dipertukarkan antara
mineral, dan dengan demikian mineral baru terbentuk. Banyak reaksi suhu tinggi kompleks
mungkin terjadi, dan masing-masing kumpulan mineral yang diproduksi memberikan kita
petunjuk mengenai suhu dan tekanan pada saat terjadinya metamorfisme. Metasomatisme
adalah perubahan drastis komposisi kimia batuan yang sering terjadi selama proses
metamorfisme. Hal ini terjadi karena pengenalan bahan kimia pada batuan dari batuan
sekitarnya. Air dapat mengangkut bahan kimia ini dengan cepat melalui jarak yang jauh.
Karena peran yang dimainkan oleh air, batuan metamorf umumnya mengandung banyak
unsur yang awalnya tidak ada pada batuan asal, dan kekurangan beberapa unsur yang
awalnya hadir. Namun, pengenalan bahan kimia baru tidak diperlukan pada rekristalisasi.

1. Quartzite

Gambar 14. Kuarsit (Quartzite)


Kuarsit termasuk jenis batuan metamorfosa yang kaya akan mineral-mineral kuarsa.
Dapat terbentuk dari urat-urat kuarsa, batu pasir kuarsa atau batu pasir yang tersemen oleh
silika dan kemudian mengalami proses metamorfosa akibat tekanan dan temperatur yang

tinggi selama jangka waktu tertentu. Kuarsit bersifat sangat keras, kompak, masif dan
kristalin. Dapat juga mempunyai laminasi yang sangat halus sampai kasar dan bahkan dapat
berukuran kerikil. Warnanya bervariasi dari putih, kelabu, hijau, kemerahan sampai
kecoklatan atau campuran dari warna terang. Sifatnya transparan sampai opak. Pecahnya
tidak rata, konkoidal atau menyuban (splintery).
Kuarsit lebih populer sebagai batu dimensi dalam industri konstruksi. Kuarsit juga
digunakan, untuk tingkat kecil, seperti batu hancur digunakan dalam konstruksi jalan dan
perbaikan. Batu hias dapat berasal dari batuan beku seperti granit yang karena sifat-sifat
fisiknya dapat dipotong dan dipoles maupun diukir.

Asal Mula
Kuarsit adalah batuan metamorf yang terbentuk nonfoliated oleh metamorfosis dari batu

pasir kuarsa murni. Panas intens dan tekanan dari metamorfosis menyebabkan butir kuarsa
untuk kompak dan menjadi erat intergrown satu sama lain, sehingga kuarsit sangat keras dan
padat. Kuarsit biasanya putih atau abu-abu, tetapi dapat warna cahaya lain tergantung pada
kotoran di batu pasir tua. Ia memiliki kilau kaca, seperti yang diharapkan mempertimbangkan
dalam batu pasir kuarsa memiliki kilau vitreous atau kaca. Ketika cuaca kuarsit dapat
memiliki penampilan granular, tetapi permukaan yang baru patah bahkan istirahat di
permukaan karena melanggar melewati butir kuarsa intergrown, menunjukkan penampilan
granular pada permukaan yang baru saja patah. Terbentuk oleh proses panas dan tekanan
tinggi pada metamorfosis regional dan metamorfosis kontak di endapan batu pasir, sehingga
menjadi kuarsit. Kuarsit sangat tahan terhadap pelapukan dan erosi.

Kegunaan
Kuarsit secara geologis terjadi di daerah metamorfosis, tekanan tinggi. Kuarsit di

tambang karena begitu padat dan tahan terhadap pelapukan fisik dan kimiawi. Tanah lapukan
dari kuarsit biasanya sangat tipis akibatnya, kuarsit digali sangat dekat permukaan. Karena
begitu keras dan padat, kuarsit belum digali sebagai blok batuan sebelum diolah menjadi batu
dimensi Industri konstruksi memperkirakan permintaan kuarsit melebihi produksi tahunan.
Kuarsit menjadi lebih populer sebagai batu dimensi dalam industri konstruksi.
Penggunaan kuarsit sebagai batu hias di konstruksi bangunan tumbuh setiap tahunnya.
Kuarsit di poles salah satu permukaan datarnya digunakan untuk menutupi dinding, sebagai
alas lantai dan anak tangga. Kuarsit juga digunakan untuk tingkat kecil, seperti batu hancur
digunakan dalam konstruksi jalan dan perbaikan.
Popularitas kuarsit seperti batu dimensi dalam konstruksi tumbuh secara dramatis setiap
tahun. Ini adalah batu yang menarik dengan daya tahan yang besar dan tekstur yang unik

semakin banyak kontraktor dan pemilik rumah menggunakan kuarsit untuk menyelesaikan
dan menghias bangunan mereka. Bahan alternatif alam termasuk batu pasir, granit dan
marmer. Dibuat bahan termasuk batu bata, ubin keramik dan beton. Batu hias dapat berasal
dari batuan beku seperti granit yang karena sifat-sifat fisiknya dapat dipotong dan dipoles
maupun diukir. Jenis batuan tersebut digunakan pada konstruksi bangunan sebagai bahan
ekslusif sebagai pelapis dinding, lantai suatu gedung, monumen, dan keperluan lainnya.
Konsumen batuan tersebut dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu pihak pemerintah, swasta
dan perseorangan.

Penyebaran
Di Indonesia umumnya terdapat di daerah-daerah kompleks batuan metamorfik sebagai

lensa-lensa atau tabular. Endapan kuarsit yang cukup potensial untuk segera dikembangkan
dan telah diselidiki. Lokasi yang terdapat cadangan kuarsit adalah Poso (Pegunungan
Pompangeo), Sulawesi Tengah.

2. Serphentinite

Gambar 15. Batu Serpentinite


Batu Serpentine adalah Hydrated Magnesium Silicate, biasanya berwarna hijau, hijau
kekuningan, atau hijau kecoklatan. Namanya diduga berasal dari warnanya yang hijau seperti
ular. Serpentine bukan hanya batu permata, tapi juga merupakan sekelompok mineral yang
mencakup hingga 20 anggota terkait yang berbeda. Meskipun ada berbagai jenis Serpentine,
hanya ada dua struktur agregat dasar Serpentine, yang meliputi Antigorite dan Chrysotile.
Antigorite adalah varietas platy dari Serpentine, biasanya lebih padat daripada Chrysotile.
Chrysotile adalah kelompok berserat dari mineral Serpentine yang dapat dibagi menjadi

empat varietas yang berbeda berdasarkan kristalisasinya. Chrysotile berserat halus adalah
salah satu dari sekian banyak jenis Asbestos (Asbes). Asbestos diketahui menyebabkan
penyakit Asbestosis, suatu kondisi mematikan dari paru-paru yang disebabkan karena
menghirup serat halus Chrysotile. Sejak Asbestos dianggap berbahaya bagi kesehatan, hanya
bentuk Antigorite saja yang digunakan sebagai batu permata. Mineral Serpentine adalah
perubahan metamorf dari Peridotite dan Pyroxene, dan karena dalam banyak kasus
perubahannya mungkin tidak sempurna, sifat fisik masing-masing spesimen bisa sangat
bervariasi. Batu Serpentine (Antigorite) yang berkualitas permata sering disebut sebagai
Noble Serpentine atau Precious Serpentine.

Lokasi Penambangan Batu Serpentine


Varietas Serpentine ditemukan di banyak tempat di dunia, seperti Canada (Quebec),

Afghanistan, Britain, Cyprus, Greece, China, Russia (Pegunungan Ural), France, Korea,
Austria, India, Myanmar (Burma), New Zealand, Norway, Italy, dan United States.
Penggunaannya Sebagai Perhiasan
Serpentine tidak sering digunakan untuk perhiasan karena rendahnya tingkat
kekerasannya, meskipun ada beberapa bahan yang agak keras karena komposisinya yang
berbeda-beda. Serpentine bisa dipakai sebagai cincin, anting-anting, pin, liontin atau bros.
Namun penggunaannya sebagai cincin harus dibatasi hanya untuk sesekali pakai saja, tidak
dianjurkan untuk cincin sehari-hari. Serpentine bisa sering menunjukkan efek Chatoyancy
dan kemilau halus yang tidak ada batu permata lainnya yang bisa meniru. Kebanyakan
Serpentine hanya dibentuk menjadi batu permata dekoratif atau dibuat menjadi ukiran batu
hias, tetapi jika dikenakan dengan perawatan yang benar dan hati-hati, batu Serpentine bisa
dijadikan perhiasan unik baik untuk pria maupun wanita dan bertahan hingga beberapa
generasi.
3. Mica Schist

Gambar 16. Sekis Mika (Mica Schist)

Batuan metamorf berwarna putih keperakan karena hadirnya mineral mika. Umumnya
kepingan mika berukuran lebih dari 1 mm saling berangkai membentuk bidang-bidang yang
saling sejajar (schistosity).
Sekis adalah typical dari jenis batuan metamorf, batuan ini terbentuk pada saat batuan
sedimen atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan
temperatur yang tinggi. Hampir dari semua jejak-jejak asli batuan ( termasuk kandungan
fosil) dan bentuk bentuk struktur lapisan ( seperti layering dan ripple marks) menjadi hilang
akibat dari mineral-mineral mengalami proses migrasi dan rekristalisasi. Pada batuan ini
terbentuk goresan goresan yang tersusun dari mineral mineral seperti hornblende yang tidak
terdapat pada batuan batuan sedimen.
Pada batuan gneiss, kurang dari 50 persen dari mineral mempunyai bentuk penjajaran
yang tipis dan terlipat pada lapisan-lapisan. Kita dapat melihat bahwa tidak seperti pada
batuan sekis yang mempunyai pensejajaran mineral yang sangat kuat, batuan gneiss tidak
retak atau hancur sepanjang bidang dari pensejajaran mineral tersebut, dan terbentuk urat-urat
yang tebal yang terdiri dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut, hal ini tidak
seperti kebanyakan bentuk bentuk perlapisan yang terdapat pada batuan sekis. Dengan proses
metamorfosa lebih lanjut batuan gneiss dapat berubah menjadi magmatite dan akhirnya
terkristalisasi secara total menjadi batuan granit.
Meskipun batuan ini terubah secara alamiah, gneiss dapat mengekalkan bukti terjadinya
proses geokimia di dalam sejarah pembentukannya, khususnya pada mineral mineral seperti
zircon yang bertolak belakang dengan proses metamorfosa itu sendiri. Batuan batuan keras
yang berumur tua seperti pada batuan gneiss yang berasal dari bagian barat Greenland, Isotop
atom karbon dari batuan tersebut menunjukkan bahwasannya ada kehidupan pada masa
batuan tersebut terbentuk, yaitu sekitar 4 millyar tahun yang lalu.
4. Phyllite

Gambar 17. Phyllite

Phyllite adalah jenis batuan metamorf foliated terutama terdiri dari kuarsa, serisit mika,
dan klorit. batu ini merupakan gradasi dalam derajat metamorfosis antara batu tulis dan sekis
mika. Menit kristal grafit, serisit, klorit atau memberikan kemilau, halus kadang-kadang emas
pada permukaan belahan dada (atau schistosity).
Phyllite terbentuk dari metamorfosis lanjutan dari batu tulis. Para protolith (atau batuan
induk) untuk phyllite merupakan serpih atau pelite. Mineral penyusunnya plat lebih besar
daripada yang di batu tulis tetapi tidak terlihat dengan mata telanjang. Phyllites dikatakan
memiliki "tekstur phyllitic" dan biasanya diklasifikasikan sebagai memiliki nilai rendah
dalam fasies metamorf regional. Phyllite memiliki fissility baik (kecenderungan untuk
membagi ke dalam lembar) dan akan membentuk bawah rendah kondisi metamorf kelas.
Phyllites biasanya hitam ke abu-abu kehijauan atau abu-abu terang. Foliation ini biasanya
berkerut atau bergelombang dalam penampilan.
5. Marble

Gambar 18. Batu Marmer (Marble)


Batuan marmer ini merupakan salah satu jenis batuan metamorf atau malihan, dimana
proses terbentuknya batu marmer ini karena diakibatkan oleh proses metamorfosis batu kapur
atau batu gamping. Batu marmer seringkali kita temukan sebagai batu yang menghiasi rumah,
sebagai batu yang digunakan untuk lantai, dinding, bahkan furniture seperti meja, bangku,
dan lain sebagainya. Batu marmer ini seringkali dipilih sebagai batu penghias rumah adalah
karena batu ini mempunyai tampilan yang sangat indah. Marmer mempunyai corak atau pola
tertenu dan mempunyai beragam warna yang mengombinasinya, hal inilah yang membuat
marmer indah dan cocok digunakan sebagai bahan untuk dekorasi bagunan. Selain itu juga
karena batu marmer mempunyai sifat yang tanah lama dan juga mudah dipahat.

Ciri- ciri Batu Marmer


Sebagai salah satu jenis batu alam, dan salah satu jenis batuan metamorf atau malihan,

batu marmer ini mempunyai ciri khusus yang membedakannya dengan jenis batu lain.
Beberapa jenis dari batu marmer adalah sebagai berikut:
Mempunyai struktur batu yang kompak.
Gugusan kristal yang ada di batu marmer relatif sama dengan tekstur halur sampai yang
agak kasar.
Pada umumnya marmer tersusun atas mineral kalsit dengan mineral minor lainnya
seperti mika, klhorit, kuarsa, dan jenis silikat lainnya seperti graphit, hematit, dan juga
limorit.
Mempunyai nilai komersil atau ekonomi yang bergantung pada warna dan tekstur batu
tersebut.
Terpengaruh oleh porositas, kekuatan regangan, dan kekuatan terhadap cuaca.

Jenis- jenis Batuan Marmer

Jenis dari batu marmer ini biasanya dibedakan berdasarkan warna, tekstur, dan juga
komposisi mineral yang menyusun batuan tersebut. Jenis- jenis dari batuan marmer antara
lain sebagai berikut:
Statuary marble, yakni jenis batuan marmer yang putih bersih dan mempunyai teksture
yang bagus.
Architectural marble, yakni batuan marmer yang mempunyai warna teksur, mutu, dan
kekuatan yang bagus.
Ornamental marble, yakni batuan marmer yang memiliki warna yang indah.
Onix marble, yakni batuan marmer yang yang jernih dan terdiri dari materal- material
organik dan juga kalsit.
Cipolin marble, yakni batuan marmer yang banyak mengandung mika dan juga talk.
Ruin marble, merupakan batuan marmer yang bertekstur hakus dan juga kristal yang
tidak teratur.
Breccia marble, merupakan batuan marmer yang mempunyai tekstur asar dan juga
persegi.
Shell marble, merupakan batuan marmer yang terdiri dari fosil- fosil.
Carrara marble, yakni batu marmer yang mempunyai warna putih murni. Batu jenis ini
seringkali digunakan oleh bangsa Yunani dan Romawi sebagai bahan dasar pembuatan
patung dan juga air mancur.
Limestone, yakni marmer yang yang memiliki warna begie atau coklat. Batu marmer ini
bisa ditemukan dari danau ataupun bekas danau.
Breksi, yakni batu marmer yang terbentuk karena adanya bekas longsoran tanah.
Marmer budidaya, adalah marmer yang dibuat oleh manusia, yakni kombinasi antara
debu marmer dan juga semen.
Marmer hijau, yakni batuan pertama yang hanya sekedar terlihat seperti mamrmer namun
bukan marmer asli.

Proses Terbentuknya Batu Marmer


Batu marmer ini adalah batu yang dihasilkan dari proses metamorfosa batuan kapur atau

gamping selama kurun waktu yang lama.

Manfaat Batuan Marmer


Sebagai salah satu jenis batuan yang banyak diminati, marmer ternyata mempunyai

banyak manfaat. Marmer yang mempunyai visualisasi indah ini sering digunakan untuk
berbagai keperluan manusia. Berikut ini akan dijelaskan mengenai manfaat yang diperoleh
manusia dari batu marmer. Atau bisa juga dikatakan sebagai penggunaan batuan marmer oleh
manusia, yakni sebagai berikut:
Penghias rumah
Sebagai bahan dasar pembuatan berbagai macam furniture
Sebagai bahan pembuat batu nisan

Bahan dasar pembersih rumah


Sebagai pupuk
Untuk bahan pewarna
Penetral asam
Sumber kalsium tambahan untuk hewan ternak
Sebagai alat terapi penyembuh penyakit tertentu

6. Gneiss

Gambar 19. Gneiss


Batu Genes (Gneiss) adalah batuan metamorf berfoliasi yang terindikasi oleh bands
(garis-garis) dan lensa dari berbagai komposisi mineral. Band-band dalam batuan ini
biasanya mengandung mineral yang bertekstur granular, yang memperlihatkan orientasi
memanjang (penjajaran) dari mineral penyusunnya. Penampilan dan tekstur seperti inilah
yang menjadi penciri utama batuan genes. Dengan kata lain, suatu batuan yang terdefinisi
sebagai genes dilihat dari teksturnya, bukan dari komposisi mineral penyusunnya.

Proses Terbentuknya Batuan Genes (Gneiss)


Genes biasanya terbentuk oleh metamorfisme regional di batas lempeng konvergen.

Batuan ini merupakan salah satu jenis batuan metamorf berkualitas tinggi dimana butiran
mineral penyusunnya direkristalisasi oleh suhu dan tekanan yang tinggi. Rekristalisasi ini
meningkatkan ukuran butiran mineral yang dipisahkan menjadi bands sebagai indikasi
transformasi yang menghasilkan batuan dan mineral yang lebih stabil dalam lingkungan
pembentukannya.

Genes dapat terbentuk dalam beberapa cara. Terbentuknya genes yang paling umum
dimulai dengan batu serpih, yang merupakan batuan sedimen. Metamorfosis regional dapat
mengubah serpih (shale) menjadi batu sabak, lalu filit (phyllite), kemudian sekis, dan
akhirnya menjadi genes. Selama transformasi ini, partikel lempung di serpih berubah menjadi
mika dan tumbuh bertambah besar (growthing). Akhirnya, lembaran mika mulai mengkristal
menjadi mineral bertekstur granular. Munculnya mineral bertekstur granular sebagai tanda
proses transisi ke genes. Panas dan tekanan yang tinggi juga dapat membuat batu granit
termetamorfosa menjadi batuan dengan tekstur banded yang dikenal sebagai granit genes.
Perubahan pada batu granit ini biasanya lebih kepada perubahan struktural dibandingkan
perubahan mineralogi. Granit genes juga dapat terbentuk melalui metamorfosis batuan
sedimen. Produk akhir dari metamorfosisnya adalah batuan banded dengan komposisi
mineralogi seperti granit.

Tekstur dan Komposisi Batu Genes


Meskipun genes tidak dicirikan dari komposisinya, sebagian spesimen memiliki bands

butiran feldspar dan kuarsa dalam tekstur interlocking. Band-band ini biasanya dicirikan
dengan selang-seling perubahan warna mineral yang gelap dan terang dalam bentuk yang
memanjang

(orientasi/penjajaran

mineral).

Orientasi

mineral

gelap

kadang-kadang

menunjukkan tekanan dari proses metamorfosis yang dilewatinya.


Beberapa spesimen dari genes mengandung mineral khas karakteristik lingkungan
metamorf. Mineral ini antara lain adalah biotit, cordierite, sillimanite, kyanite, staurolite,
andalusite dan garnet. Batu genes kadang-kadang dinamai berdasarkan komposisi mineralmineral ini, contohnya garnet genes, korundum genes, dan biotit genes.

Kegunaan Batu Genes


Genes biasanya sulit pecah seperti kebanyakan batuan metamorf lainnya. Hal ini

memungkinkan genes dapat digunakan sebagai batu pecah pada konstruksi jalan, pondasi
bangunan, dan proyek-proyek lansekap. Beberapa jenis genes dapat dibuat menjadi menjadi
blok dan lempengan yang digunakan pada berbagai bangunan, paving, dan pagar. Beberapa
genes juga dapat dipoles dan menghasilkan batuan arsitektur seperti ubin lantai, dinding,
tapak tangga, kusen jendela, countertops, dan batu nisan.

DAFTAR PUSTAKA
Arindita, R. (2012). Asosiasi Mineral dalam Batuan. Jakarta: Balai Pustaka.
Bishop, A.R., & Hamilton, W.R. (1999). Minerals Rocks & Fossils. London: George Philip
Limited.
Dietrich, R. V. (1942). Rocks and Rocks Minerals. Canada: John Wiley & Sons, Inc.
Gautama, R. S. (2012). Pengelolaan Air Asam Tambang. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
James, S. M. (2009). The Changing Earth: Exploring Geology and Evolution. Canada:
Cengange Learning.
Nouval, N. (2009). Petrologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Soedarmo, A. S. (1979). Ilmu Bahan Galian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Suharwanto. (2014). Penuntun Praktikum Mineralogi Petrologi. Yogyakarta: PSTL UPN
Veteran.
Sukandarrumidi. (2009). Bahan Galian Industri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhoef, P. N. W. (1994). Geologi untuk Teknik Sipil. Jakarta: Erlangga.