You are on page 1of 38

HalamanPada
Persetujuan
Perilaku Pemilih Perempuan
Pemilu
SKRIPSI
Legislatif
Tahun
2009
Di
Kabupaten
Kolaka
PERILAKU PEMILIH PEREMPUAN PADA PEMILU
Utara
LEGISLATIF TAHUN 2009 DI KABUPATEN KOLAKA UTARA

oleh:
CICE VERAWATI R.L.
E 111 04 007
Telah dipertahankan didepan Panitia Ujian Skripsi
Pada tanggal, 28 Juli 2011 dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

Skripsi
Dr. GUSTIANA A. KAMBO , M.Si
Disusun Sebagai Salah Satu
NIP. 197308131998032001

SUKRI TAMMA , S.IP, M.Si
NIP. 197508182001 1 008

Syarat Untuk Memenuhi Gelar Sarjana Ilmu

Politik
Pada Jurusan Ilmu Politik Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Mengetahui,
Politik
Universitas Hasanuddin
Ketua Jurusan Politik Pemerintahan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Cice
VerawatiHasanuddin
R. L.

Ketua Program Studi Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin

Oleh:

E 111 04 007

Jurusan
Dr. MUHAMMAD
NIP.
197109171997031001
AL-HAMID , M.Si

Ilmu
Program
Politik
Universitas
Studi
dan
Ilmu
Makassar
Pemerintahan
Hasanuddin
2011
Politik
NIP.
197308131998032001
Dr.
GUSTIANA
A.
KAMBO , M.Si

Halaman Penerimaan
PERILAKU PEMILIH PEREMPUAN PADA PEMILU
LEGISLATIF TAHUN 2009 DI KABUPATEN KOLAKA UTARA
Nama

:

Cice Verawati R.L.

Nomor Pokok
Jurusan

:

:

E 111 04 007

Politik Pemerintahan

Program Studi :

Ilmu Politik

Telah diterima dan disetujui oleh Panitia Ujian Sarjana Ilmu
Politik
Program Studi Ilmu Politik Jurusan Politik
Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin

Makassar, 28 Juli 2011
Panitia Ujian Sarjana
Ketua : Drs. H.A. Yakub, M.Si.
Sekretaris
Anggota
A. Naharuddin,
: A.: Ali
SukriArmunanto,
Tamma,
S.IP,
Dr.M.Si.
S.IP,
Gustiana
S.IP,M.Si.
M.Si.
A. Kambo, M.Si.
(....................................)
(....................................)
(....................................)

dengan judul skripsi “Perilaku Pemilih Perempuan pada Pemilu Legislatif tahun 2009 di Kabupaten Kolaka Utara”. Terdapat perempuan yang menggunakan hak pilihnya berdasarkan informasi dan rasionalitas. Pada pemilihan legislatif di Kolaka Utara tahun 2009. kondisi tiap perempuan tidaklah sama. pilihan diterima perempuan dan menjadi landasan ketika menggunakan hak pilihnya.Si sebagai konsultan I dan Sukri Tamma. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran objektif tentang perilaku politik perempuan. S. terjadi penyerapan nilai-nilai dan informasi yang diterima.Si sebagai konsultan II.L. . Tiap perempuan memiliki lingkungan sosial dan proses sosialisasi yang berbeda-beda pula. perempuan sebagai warga negara biasa yang ikut dalam kegiatan pemilihanyaitu calon legislatif. Gustiana A. Kambo. Dalam hal ini.ABSTRAKSI CICE VERAWATI R. Nomor Pokok E 111 04 007. Perilaku politik dirumuskan sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik yang melibatkan warga negara biasa atau mengambil keputusan. proses Pilihan politik sosialisasi dan kepentingan juga mempengaruhi pilihan politik perempuan. Dalam pembahasan tentang perilaku politik perempuan dalam hal ini pilihan politik perempuan. Dasar penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Selain itu tingkat pendidikan sangat berkorelasi dengan akses informasi yang dipengaruhi bangunan pengetahuannya. Perempuan yang terlibat dalam hal ini memiliki pilihan-pilihan untuk menjatuhkanpolitik pilihan politiknya kepada kandidat. Dalam sosialisasi lingkungan sosial perempuan. M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemilihan legislatif tahun 2009 di Kabupaten Kolaka Utara. kerangka konseptual dimasukkan teori pilihan rasional serta pendekatan sosiologis dan psikologis dalam melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik perempuan. Tipe penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. M. dalam hal ini pilihan politik perempuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik tersebut. Selain itu terdapat pula perempuan yang menggunakan hak pilihnya tapi memiliki informasi yang sangat minim terhadap pemilihan ini. perempuan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial. Pilihan politik perempuan dimaksudkan sebagai pilihansuara terhadap pemilu legislatif tahun 2009 di Kabupaten Kolaka atau pemberian Utara. Selainpolitik mencakup informasi dan pengetahuan seputar pemilihan yang itu. yaitu penampakan secara jelas dan menganalisa pilihan politik perempuan.IP. Dr. pemilih perempuan memiliki konteks yang berbeda-beda. ataupun tidak menggunakan hak pilihnya sesuai dengan informasi dan pemahamannya.

Lenten atas segala bantuan kepada penulis selama ini. serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berbentuk skripsi ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. 2. ayahanda Ta’ba dan ibunda Hj. dan bantuan yang diberikan selama penulis menempuh pendidikan.Si yang penulis terjalin dapat seringkali menyelesaikan melakukan kesalahan studi.) Syarifuddin A. Penulis mohon maaf jikalau selama ini. Mida untuk segala cinta kasih dan perjuangannya selama ini mendukung penulis dalam kehidupan dan pendidikan. angkatan doa dalam Gustiana teman-teman penyelesaian 2004. Abdullah dan Dg. Kambo. Dukungan skripsi Politik penulis dan Dr. selama 3. Terima kasih ya Allah karena telah memberikan dua hal yang terindah dalam hidup penulis. Orangtua tercinta.telah atas M.IP. untuk dukungan. Mertua tercinta.persahabatan dan membuat Mohon Sukri maaf penulis Tamma. Anak tercinta Tasya Sakela Farsana yang selalu mendampingi penulis. memberikan hiburan di kala hati sedih dan susah. Penyusunan skripsi ini adalah merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. taufik. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang tiada hingganya kepada : 1.Si ini. telah M.IP. terima sekalian skripsi kasih S. apabila yangakhirnya S. Pembimbing Teman-teman membimbing ini.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan atas segala limpahan rahmat. . Suami tercinta (alm. cinta kasih. dalam pengerjaan skripsi ini. tentunya banyak pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil. Dalam penulisan skripsi ini. A. telah 4. penulis seringkali menyusahkan kalian semua.

amin. 22 Agustus 2011 Penulis . Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Makassar. K’Iccank yang sudah membantu dalam pengerjaan skripsi ini. Tante Imma yang sudah bersedia menampung penulis di kosan. Mala yang sudah meminjamkan laptopnya.5. Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua urusan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. semoga Allah SWT meridhoi dan dicatat sebagai ibadah disisi-Nya. Pak Abdi atas bantuannya selama ini. khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. maka saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya. K’Jan yang sudah membantu nge-print skripsi.

. iii ABSTRAKSI ………………………………………………………… iv KATA PENGANTAR ………………………………………………… v DAFTAR ISI ………………………………………………………… vii BAB. B...... E.. II KERANGKA KONSEPTUAL ………………………… 16 A. …………………………...... PENELITIAN ………………………………….... FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU DAN PILIHAN POLITIK PEREMPUAN … 26 D.... …………………………………………... C.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………… i LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………… ii LEMBAR PENERIMAAN ... PEMILIHAN UMUM ANGGOTA LEGISLATIF BAB. MANFAAT PENELITIAN ………………………………… 15 BAB.... LATAR BELAKANG ………………………………… 1 B. D.. PILIHAN POLITIK ………………………………………… 16 1.. IIILOKASI KERANGKA TIPE TEKNIK JENIS PENENTUAN DI METODE INDONESIA DAN DATA PENELITIAN PENGUMPULAN PENELITIAN PEMIKIRAN DASAR INFORMAN ………………………………………………….. I PENDAHULUAN ………………………………………… 1 A... 42 4137 44 41 31 42 43 .... RUMUSAN MASALAH ………………………………… 14 C..... DATA …………………………………...... ………………………………….. A. …………………………. ...... TEORI PILIHAN RASIONAL DALAM MELIHAT PILIHAN POLITIK ………………… 23 C. PENDEKATAN SOSIOLOGIS ………………………… 20 2......... TUJUAN PENELITIAN ………………………………… 14 D. PENDEKATAN PSIKOLOGIS ………………………… 22 B.

. METODE ANALISIS DATA…………………………………. 76 A. KEPENTINGAN …………………………………………. IV GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN ………… 46 A.F. KESIMPULAN …………………………………………. 45 BAB. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PILIHAN POLITIK PEREMPUAN …………………………………. 61 1. 48 BAB. 52 B.. 63 2. 76 B. GAMBARAN SINGKAT KECAMATAN KATOI KABUPATEN KOLAKA UTARA …………………………. PILIHAN POLITIK PEREMPUAN PADA PEMILIHAN UMUM 2009 …………………………... 50 A. 47 B.. KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA ………………………….VI PENUTUP …………………………………………………. 71 3.. KELOMPOK SOSIAL ………………………………….. 78 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 81 DAFTAR NAMA INFORMAN …………………………………… 83 . PROSES SOSIALISASI ………………………………….. 72 BAB. SARAN …………………………………………………. V PEMBAHASAN …………………………………………..

Partisipasi politik pada dasarnya adalah aspek penting dalam negara demokrasi dan juga menjadi penanda adanya modernisasi politik. dan kebaikan untuk terdapat adilmendukung adalah bersama beberapa suatu penentuan adalah hal keniscayaan yang kemestian. telah meniscayakan semangat persamaan dan kebersamaan demi pencapaian kebaikan bersama. Seperti halnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang merupakan suatu ruang politik politik demokrasi bagiyang paratelah calegdisebutkan untuk bertarung sebelumnya. nilai dan gagasan yang berlaku dan tersosialisasikan melalui proses yang panjang. terbentuknya norma atau aturan-aturan dalam kehidupan kemasyarakatan bebas oleh disebabkan Pada Putusan pemilu Mahkamah untuk legislatif pencapaian Konstitusi 2009. Dalam kelompok-kelompok sosial tersebut terdapat seperangkat norma. Pada kursi khas. pemenang menjadi pula. Bentuk keikutsertaan. menjadimaka sangat kehadiran terbuka. Hal inilah yang nantinya berpengaruh terhadap preferensi dan perilaku politik. merupakan proses yang melibatkan seluruh warga negara baik laki-laki maupun perempuan termasuk melibatkan pihak-pihak dari kelompok sosial manapun. sistem DPR yakni . pemilu Hal ini yang kelompok sosial yang besar. dibutuhkan suatu bentuk partisipasi sebagai wujud dari kebersamaan dan keikutsertaan dalam proses politik tersebut. Latar Belakang Demokrasi sebagai suatu sistem politik. Dalam suatu kehidupan bernegara dan juga bermasyarakat.BAB I PENDAHULUAN A.

Persaingan antara rekan caleg se-partai ini dapat mengurangi jumlah suara yang diterima partai secara keseluruhan jika kampanye menjadi terlalu negatif. Siapapun calegnya dan darimanapun partainya. Mengingat calon partai yang menerima suara terbanyak sendirilah yang akan menang kursi partai tersebut. jika ketat. UU Pemilu yang menyatakan bahwa kursi dimenangkan berdasarkan nomor urut (kecuali untuk calon yang berhasil meraih 0. Ketika ruang bertarung menjadi terbuka. calon banyak dari hingga pemilihnya. bukan lagi daftar urut partai. caleg kurangpemilih memperhatikan perempuan.secara banyakkuantitatif. Putusan ini juga mendorong sengitnya pertarungan antar calon legislatif. kita bandingkan perempuan faktor demografis sebagai target. maka bagaimana menarik perhatian dan mendapatkan suara pemilih menjadi sesuatu yang signifikan.dan DPRD berdasarkan suara terbanyak. Karenanya mengenal perilaku dan konstruk sosio kultur pemilih adalah hal yang pasti jika ingin memenangkan pertarungan. lebih Tidak isu.3 BPP sendiri) dengan maraknya “kontrak” yang ditandatangani para calon dari partai untuk mundur agar calonnya yang meraih suara terbanyak masuk ke DPR duluan. Untuk banyak kasus suara yang harus diraih adalah suara dari rekan se-partai sendiri. akan membidik segmen dimana jumlah pemilihnya banyak dengan segregasi kekuatan yang memperebutkan suara yang Padahal tidak begitu Sayangnya. konstituennya caleg janji maupun kampanye sehingga dalam partai pemilih. maka dengan meniadakan daftar urut setiap calon berdiri bersama untuk meraih suara. yang kebanyakan menentukan yang mumpuni memperhatikan mereka segmen untukkesulitan memperoleh mana segmen yanguntuk pemilih akan perhatian mereka memformulasi calon bidik .

konstitusional. Terdapat beberapa argumen mengapa hal tersebut menjadi signifikan. yang pernah dapat sama Kewargaan mengaburkan dapat dengan membalikkannya. 1) Argumen Keadilan. maka bukan hal yang mustahil suara itu akan mengantarkan salah seorang atau kandidat menuju kursi dewan. Kabupaten Kolaka Utara berdasarkan data DPT Pemilu Legislatif tahun 2009 terdapat 1931 (48. Argumen tersebut menyatakan bahwa sangatlah tidak adil jika kaum laki-laki memonopoli pewakilan. Anne Philips mengatakan : tidak ada argumen yang bertolak dari keadilan dapat mempertahankan keadaan seperti sekarang ini.besar dari pemilih laki-laki.78%) pemilih perempuan. sesorang dalam sistemantara politik. sistem tetapi keadilan hak. Lebih dari setengah dari total jumlah pemilih di kecamatan itu adalah pemilih perempuan. Kecamatan Katoi. argumen ini didasarkan pada prinsip-prinsip keadilan. besarnya jumlah pemilih perempuan seharusnya linier dengan keterwakilan perempuan di dewan legislatif. Jumlah tersebut adalah sebuah segmen pemilih yang signifikan yang jika dapat dipahami pola perilaku memilihnya. Ada anggapan bahwa. Argumen – kewajiban. tidak jarang perbandingan jumlah menjadi begitu jomplang ketika unit analisa kita turunkan menjadi unit pemilihan terendah. .21%) pemilih Laki-Laki dan 2074 (51. laki-laki merupakan inti pokok dalam sekumpulan Argumen itu. dan tidak ada argumen keadilan untuk kesamaan perempuan dan laki-laki. terutama suatu negara yang menganggap diri sebagai Negara Demokrasi Moderen. Seperti yang terjadi pada wilayah dimana penulis melakukan penelitian ini. Dalam istilah-istilah argumen tambahan argumen-argumen juga secara perempuan didukung formal mengenai oleh mempunyai tambahan kodrat klaim-klaim kewargaan perwakilan itu tidak kewargaan.

Joni dapat Lovendowski. Hal. Argumen ini memanfaatkan gagasan mengenai peran politisi rasional yang memaksimalkan jumlah suara. Hal ini didasarkan pada keuntungan-keuntungan partai-partai politik untuk meningkatkan jumlah wakil perempuan mereka. 2 mereka Hal. Seandainya kaum perempuan memilih dengan cara yang sama seperti kaum laki-laki tidak akan ada pemerintahan konservatif antara tahun 1945 dan 19792. akhir-akhir bahwa para gambaran pemilih daninitahu 149 akan perempuan. Namun demikian. cara tatanan-tatanan kelembagaan merumuskan kewargaan dapat memiliki pengaruh berbeda pada perempuan dan laki-laki1. Kemudian argumen ke 2) adalah argumen pragmatis. yang mendominasi pemerintahan selama abad ke 20. Perbedaan gender tradisional memberi sukses pemilihan yang tidak seimbang kepada partai konservatif.demokratis.49 . ketinggalan persaingan meningkatnya zaman penawaran dan perwakilan dan tidak bagi Ibid. Misalnya. Para pendukung menyoroti pentingnya pemilih perempuan terkait dengan suksesnya pemilihan. Para pendukung argumen pragmatis mengajukan klaim bahwa perempuan lebih cenderung memberikan suaranya pada partai-partai yang memilih kandidat perempuan. para pendukung kesetaraan seks Inggris menunjuk pada kesenjangan gender yang sudah lama terjadi dalam pemilihan dimana kaum perempuan lebih cenderung memberikan suaranya pada partai konservatif daripada laki-laki. 48berpendapat Mereka menarik perempuan bagi memiliki. Menurutke bersifat logika pengalaman-pengalaman proses ini. Politikdan Berparas Perempuan. partai mengarahkan maskulin memiliki. Mereka memanfaatkan argumen-argumen perbedaan untuk mempertahankan bahwa kepentingan khusus yang hanya dimengerti diwakili oleh perempuan.

50 4urut No. Argumen ini membuat keutamaan yang lain dengan berpendapat bahwa melalui keterlibatan perempuan. 2 Tahun 2008 tentang parpol. politik akan menjadi lebih konstruktif dan ramah. Meski telah berlaku kuota 30%. pemilu 2004. keterwakilan perempuan dalam bursa caleg tiap partai harus memenuhi kuota 30%5.2 Tahun 2008 . Ibid Lihat 5Undang-Undang Hal. Perbedaan gender dihubungkan dengan gaya komunikasi dan pembuatan keputusan yang berbeda4. dimana di Ibid. pada kerangka persamaan keterwakilan tersebut. meski terdapat peraturan tentang kuota akan tetapi aturan tersebut menjadi tidak berdampak signifikan dengan berarti 1 dari 3 Meski demikian. dalam Pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini calon legislatif dari sebuah partai adalah calon legislatif perempuan. Di Indonesia. argumen yang selalu mungkin terkait ini keterwakilan sepatu (nomorperempuan urutPada paling dalam bawah) daftar sehingga caleg partai kerja-kerja politik ditempatkan dandengan dukungan padahal nomor adalah keterwakilan urut (perempuan) pemilih dimana karenaterhadap berlakunya mereka figur 3sistem pastinya caleg nomor perempuan akan diserahkan hanya dalam akan penentuan pada menjadi pemilik caleg dukungan nomor terpilih. baik pada undang No. apalagi di lembaga-lembaga legislatif tingkat daerah/kabupaten. Ini tentu saja merupakan klaim kontroversial. tetapi memilki dasar tertentu.dukungan perempuan yang menyebabkan partai manapun tidak dapat tinggal diam kalau berharap sukses dalam pemilihan3. dengan asumsi dan argumen persamaan keterwakilan gender di lembaga legislatif. perempuan 30% masih berlakunya sistem nomor urut dalam penentuan calon legislatif yang terpilih. tetap hasil Pemilu 2009 memperlihatkan rendahnya tingkat keterwakilan perempuan. telah ditetapkan bahwa. urut kosong.

atasnya. Fenomena ini membawa kita pada sebuah pertanyaan substantif seperti ini – mengapa kesetaraan perwakilan perempuan penting. tetap saja keterpilihan calon legislatif perempuan untuk mewakili perempuan di legislatif tetap juga rendah jika kita berada pada asumsi mengenai argument-argumen keterwakilan tersebut diatas. khususnya pemilih perempuan sendiri. Namun. meski menunjukkan trend peningatan. calon legislatif perempuan hanya dimanfaatkan sebagai pengumpul suara (vote gathers) untuk mengakumulasi suara bagi partai. Hal ini berarti bahwa asumsi tentang nomor urut menjadi alasan terhadap rendahnya keterwakilan perempuan di legislatif menjadi tidak berlaku. di saat Pemilu 2009 berlangsung. namun pada pusat pertanyaan itu terdapat permasalahan mengenai apakah kaum perempuan membutuhkan perempuan untuk mewakili mereka. apalagi jika katikan juga hal ini dengan besarnya jumlah perempuan terutama di daerah kasus dimana penelitian ini dilakukan . hak- . Jawabannya tentunya bukan sekedar pada sejauhmana elektabilitas caleg-caleg (elit / politisi) perempuan dimata pemilih. dimana nomor-nomor urut awal didominasi oleh calon-calon legislatif laki-laki. mudahlah negara kepentingan-kepentingan sebagai untuk yangmenyepakati memberi kepaladengan Namun keluarga mereka bahwa yang pola-pola kemungkinan kaum dan berbeda pengertian perempuan sosial dari untuk keluarga yang bahwa mempunyai berpartisipasi telah perempuan mereka berubah. Belakangan ini terdapat anggapan bahwa kaum perempuan telah diwakili secara memadai mungkin umumnya menjadi hak sebagai olehwarga mempunyai tidak lebih laki-laki dipertimbangkan.

dimana kepentingan-kepentingan tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan. kita harus memilihatnya dalam kerangka kebersamaan dan kesetaraan dalam kesempatan politik yang disediakan oleh mekanisme demokratis pada pemilu 2009. Namun pula menjadi pertanyaan. terutama keterpinggiran kaum perempuan dalam keputusan maupun kebijakan publik terkait dalam berbagai hal terutama menyangkut perempuan sendiri tidak cukup dirasa hanya dengan keterwakilan perempuan oleh lakilaki di dewan legislatif. terutama mereka-mereka yang bertarung dalam pencalonan legislatif baik di daerah maupun pusat pada Pemilu 2009 lalu. keikutsertaan HasilTapi penelitian seseorang dalam hal pernah dibuat masih ini Perilaku disejumlah banyaknya politik negara hambatan dirumuskan 6untuk mengetahui sebagai kendala dikalangan faktor-faktor yanginternal berkenaan apa yang perempuan dengan mempengaruhi proses sendiri6. Mungkin juga benar asumsi yang menyatakan bahwa hanya perempuan yang mengerti perempuan. Azzadan Karam. 1999kegiatan . Ataukah para caleg perempuan yang tak mampu meyakinkan para pemilih perempuan tentang kepentingan perempuan. apakah pemilih perempuan mengerti apa yang diinginkan oleh caleg perempuan terhadap mereka. tengah berada pada dua arus utama pemikiran tentang keterwakilan perempuan. politik. untuk melihat bagaimana pilihan perempuan. Dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan tersebut. Pada satu sisi. Diakui atau tidak kaum perempuan di Indonesia. penelitian rendahnya dan pembuatan keterwakilan perempuan keputusan dalam politik. perubahan pola sosial. Tentunya. sebuahmenunjukkan. semestinya menjadikan kesempatan yangpelaksanaan sama baik laki-laki maupun perempuan.dalam pemerintahan.

Perempuan sebagai warga negara biasa dalam hal ini. Hal. 1992. dan politik juga masyarakat selain Dalamnantinya. seperti jenis kelamin.dapat sebagai warga negara biasa maupun sebagai pengambil keputusan7. faktor suatu komponen geografis. Hal inilah yang membuat kondisi masyarakat heterogen. perlu umumpolitik diperhatikan secara sosial langsung. 131 . penulis memfokuskan perilaku politik perempuan pada pilihan-pilihan politik perempuan dalam Pemilu Tahun 2009 di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara. perbedaan usia dan perbedaan pendidikan. Setiap individu dalam masyarakat. dan bervariasi. Keterlibatan tersebut berupa keikutsertaan dalam menjatuhkan pilihan politiknya. Hal-hal ini yang mempengaruhi perilaku pada momen maka kondisi suatu juga faktor kajian heterogenitas yang menarik. dan budaya. kemudian. Pada pemilihan yang demografi. ekonomi. pada Surbakti. konteks dan negara sebab hal-hal yang 7 Ramlan bangunan meniscayakan yang melatarbelakangi pengetahuan pemilihan dan umum preferensinya ini secara akan berimplikasi langsung. psikologi. Terdapat pula kelompok – kelompok kategorial dalam masyarakat. yaitu pada kandidat/caleg mana pemilih perempuan menjatuhkan pilihannya. masyarakat secara merupakan Terdapat kategorial. Perempuan sebagai warga negara berhak untuk ikut dan berpartisipasi dalam setiap pemilihan umum. Memahami Ilmu Politik. terlibat dalam proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik yaitu Pemilihan Anggota Legislatif pada Pemilu 2009 di Kecamatan Katoi. Selain itu. Pada penelitian ini. Mulai dari kondisi sosial. memiliki latar belakang dan konteks yang berbeda-beda. penelitian ini juga menelusuri hal-hal yang mendasari dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik perempuan tersebut.

Kehadiran persepsipersepsi dan bangunan pengetahuan seseorang baik laki-laki dan perempuan yang dibedakan secara kelompok kategorial yang besar – tidaklah berupa sesuatu yang jatuh dari langit. terdapat agama. pemerintah diperkuat sehingga dan oleh juga Adman Mansour Nursal. maka hal itu akan berujung pada pola perilaku yang disertai sikap-sikap terhadap objek-objek politik. munculnya sikap yang menempatkan Hal.dihadapkan oleh faktor sosial. tidak penting. Fakih. Kenyataannya. Sistem yang ada. bahwa tidak bisa Hal. Gender dan Strategi Transformasi Memenangkan Sosial. jumlah kaum wanita lebih dari lima puluh persen dari total populasi yang merupakan proporsi yang menentukan hasil pemilu8 Jika keikutsertaan dalam pemilihan umum secara langsung dapat berupa tindakantindakan dan juga hadirnya persepsi-persepsi. Studi tentang faktor jenis kelamin sebagai bentuk pengkategorian yang berpengaruh pada perilaku memilih. 1996. Seperti yang diungkapkan Mansor Fakih dalam buku analisis gender dan transformasi sosial9. Pada kajian-kajian tentang perempuan. Pemilu. Dalam kultur masyarakat Indonesia terdapat anggapan bahwa perempuan adalah mahluk nomor dua. itu sampai irrasional Hal pada ini kebijakan atau kemudian emosional. 2004. mensyaratkan perolehan suara terbanyak dari suatu proses pemilihan sebagai bentuk legitimasi masyarakat. sangat penting dilakukan. Political Analisis Marketing. 88 915 . perempuan terhadap anggapan pada posisi keyakinan bahwa yang perempuan tradisi. perempuan penafsiran asumsi tampil memimpin 8 – berakibat ilmu pengetahuan. terdapat konteks historis dan sosial yang cukup kompleks tentang posisi perempuan. tapi seperti yang disinggung sebelumnya bahwa terdapat konteks yang melatarbelakanginya. Jakarta. Yogyakarta. terdapat pula kondisi atau pengkategorian masyarakat yang sangat besar dalam hal kuantitas.

tidak seluruhnya perempuan dapat memberikan hak suaranya secara bebas dan konsisten terhadap pilihan-pilihan politiknya. sebelumnya. Dengan penjelasan tersebut. akses yang tak sama terhadap sumberdaya khususnya bidang pendidikan. 2 rumahsuami . sekaligus sebagai pihak yang terlibat dalam kehidupan politik baik secara langsung dan tidak langsung. Partisipasi atau proses keterlibatan dalam kehidupan politik dapat dilihat dari berbagai sisi. seorang Selain isteri itu atau Hal. hal ini dapat disebabkan Ibid. terdapat bentuk partisipasi yang aktif dan pasif10. banyak faktor. Seperti yang diungkapkan lebih lanjut oleh Surbakti terdapat cara dalam mendeskripsikan hasil kajian mengenai perempuan dalam politik yaitu pola khusus partisipasi politik perempuan yang pada umumnya berbentuk kendala. dan hal itu tidak terkecuali pada perempuan. seperti sosialisasi politik yang berbeda (dengan pria) karakteristik biologik. Bentuk partisipasi yang aktif dan pasif ini tergantung pada tingkat informasi yang diperoleh. profesi dan keuangan11. dan juga bagian kategorial yang besar dalam jumlah kuantitas. Tetapi realitas yang ada.142 dalam anakDengan harus perempuan fakta mengikuti dan realitas 1011 pilihan yang dalam politik diuraikan tangga.perempuan Misalnya kehidupan oleh keluarga.Inilah yang menjadi salah satu hal yang melatar belakangi sikap dan kondisi perempuan. atau ayahmengindikasikan mereka sebagai bahwa pemimpin Ibid. oleh perempuan dan dipengaruhi juga konstruk sosial yang menempatkan perempuan pada ketidakpahaman pilihan-pilihan posisi seperti politik itu. maka dalam suatu momen politik seperti pemilihan umum yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memberikan hak suaranya secara bebas. Hal.

Hal ini memunculkan ketertarikan penulis dalam menelaah lebih jauh pola perilaku politik perempuan pada pemilihan Umum Di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara. dengan berbagai variable sosial yang mempengaruhinya. . Hasil penelitian ini diarahkan untuk menemukan secara jelas faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik perempuan. Fokusnya diarahkan pada pengamatan perilaku politik dan pilihan politik perempuan pada pemilihan Anggota Legislatif Kabupaten (DPRD) Kabupaten Kolaka Utara di Kecamatan Katoi.masih memiliki hambatan dan kendala dikalangan internal perempuan.

selanjutnya yang akan melakukan perempuan. Tujuan Penelitian Berdasarkan pertanyaan penelitian yang di kemukakan di atas. D.B. literatur b. Penelitian Hasil penelitian ilmu ini politik diharapkan ini diharapkan yangdapat telahmemberikan bisa ada. Bagaimana pilihan politik perempuan pada Pemilihan Umum Tahun 2009 Di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara ? 2. Manfaat Teoritis a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik perempuan pada pemilihan umum tahun 2009. Untuk menggambarkan pilihan politik perempuan pada pemilihan umum tahun 2009. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain: 1. Maka peneliti membatasi pertanyaan yang akan dijawab yaitu: 1. dapat difokuskan dengan memperkecil wilayahnya. Rumusan Masalah Cakupan yang cukup luas dari penelitian ini. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pilihan politik perempuan pada Pemilihan Umum tahun 2009 di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara ? C. maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. 2. penelitian tentang perilaku politik .menjadi khususnya kontribusi literatur tentang dan yang perilaku memperkaya bermanfaat politik bagi literaturpeneliti penelitiperempuan.

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi acuan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah.2. seperti dalam menyusun suatu kebijaksanaan. Sebagai bahan rujukan kepada masyarakat. . b. dan juga partai politik. pelaku-pelaku politik dan tentunya para perempuan. Manfaat Praktis a. Diharapkan. dari penelitian ini semua elemen yang ada dalam masyarakat dapat mengetahui tentang perilaku politik perempuan dan adanya kesempatan yang sama sebagai warga negara. bagi pemerhati perempuan.

Setiap manusia dalam komunitas masyarakat memiliki karakter. dibahas konsep-konsep penting yang relevan dengan judul atau rumusan masalah yang diteliti. Pilihan politik Masyarakat adalah kumpulan individu-individu. Interaksi yang terjalin dengan berbagai pola-polanya yang didasarkan pada orientasi akan kepentingan dan juga tujuan akan melahirkan berbagai pola perilaku berdasarkan orientasi dan konteks masyarakat. Mulai dari cara mencapai tujuan. konsep perilaku. keinginan dan tujuan. inilah yang kemudian secara temporer membentuk itu dapat pilihan-pilihan didasarkan berlaku pada Sudijono S. Hal. tinggal dan menetap dalam satu wilayah yang sama dan saling berinteraksi. kesepakatan dan juga menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Pada bagian ini dibahas lebih dalam tentang pilihan politik perempuan yang merupakan cakupan dari perilaku politik. A. secara umum pola perilaku iniOrientasi dapat berupa perilaku ekonomi. Diantaranya. 12 keagamaan akan berinteraksi dan perilaku dan politik berada dalam 12. konsep Pemilu langsung. dan juga teori pilihan rasional dan teori feminis. politik tergantung Perempuan yang pada dalam suatu masyarakat budaya. konteks 3 . mencakup waktu yang orientasi-orientasinya. 1995.BAB II KERANGKA KONSEPTUAL Dalam Bab ini.ataupun Perilaku Politik. dan hal-hal yang mendasari pilihan politik perempuan. lingkungan karakter akan terpola dan yang dalam tujuan-tujuannya. dan juga faktorfaktor yang mempengaruhi perilaku politik perempuan. Berdasarkan hal tersebut. maka terdapat pola-pola interaksi dan bentuk pengorganisasian hubungan-hubungan antara anggota masyarakat. perilaku keinginan. lama.

proses Dasar Memaham pelaksanaan dan pembuatan iIlmu keputusan yang melibatkan perempuan. Surbakt negara juga ikut dalam pemilihan umum anggota legislatif. 1991. cara dan juga pilihanpilihan yang dihadapkan dalam suatu sistem politik. Sudijono 8 partisipasi S.atau Perilaku Politik. 1995. Perempuan yang dalam hal ini Miriam sebagai warga Budiard Ramlan jo. politik belum beberapa merupakan adalah hal Sikap keikutsertaan perlu suatu adalah untuk tindakan bentuk warga atau dari Hal. Pada umumnya. Sikap predisposisi15. politik. 1992. memiliki pilihan-pilihan politik yang didasarkan pada berbagai sikap perempuan tetapi pengetahuan politik baru merupakan Berbicara yang dan ada. baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat14.sejauh mana sesorang maupun lembaga politik mampu menerjemahkan menerima dan menerjemahkan kepentingan-kepentingan mereka. Sehingga dapat dikatakan bahwa. Dalam proses ini Ilmu Politik . diperhatikan. Pemilihan Umum tahun 2009 yang berlangsung di Kabupaten Kolaka Utara . pilihan politik merupakan faktor-faktor yang menentukan alternatif keputusan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan. terdapat berbagai keinginan. partisipasi kecenderungan Sedangkan tentang pilihan politik. Warga negara yang terlibat maupun ikut berpartisipasi pada dasarnya terlibat dalam suatu perilaku politik. yang pemahaman negara muncul biasaakan tentang seperti realitas halnya 134131 ada. hal. Hal. Dari bermacam-macam kegiatan dalam sistem politik. yang merupakan suatu Dasari. dapat dikatakan bahwa politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu13. terdapat tujuan-tujuan yang ingin dicapai. aktifitas. khususnya di Kecamatan Katoi merupakan rangkaian kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. dengan menggunakan preferensi dan bangunan 14 yang 15 .

keberadaan lebih Sekitar yang tokoh mempertimbangkan unik agama sepertiga dalam dalam menentukan responden suatu faktor Adman Nursal. Sebuah survey menjelang sikap keagamaan perempuan parpol Pemilu 16140 172009 dilakukan oleh Litbang Kompas. memperbanyak caleg perempuan. setiap orang memiliiki pertimbangan dan alasan untuk menjatuhkan sebuah pilihan politik terhadap objekobjek politik yang mereka hadapi. pengaruh sosial politik yang ada di sekitar termasuk peristiwa-peristiwa dan media massa. Diam dalam artian tidak ikut dalam suatu kegiatan politik atau tidak berpartisipasi.dalam menentukan segala keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi kehidupannya16. dalam menyatakan pilihan Berdasarkan bahwa politik bahwa pandangan perempuan survei. merupakan suatu sikap politik. Penggalangan kekuatan i. 2004. atau yang mudah. Sikap belum tentu adalah partisipasi. menjual Memaham prestasi dan kinerja bukanlah pertimbangan utama. Strategi Memenangkan Pemilu. Hal ini nantinya akan mempengaruhi sikap. perempuan. bagi partai politik ataupun para politisi dalam menjaring dukungan pemilih perempuan bukan hal Ramlan Surbakt massa. Hal. Hal. pengaruh keluarga merupakan dua hal yang paling memengaruhi pilihan politik memperlihatkan politik. tapi partisipasi adalah sikap politik. Survei 27 . 1992. Persepsi ini terbentuk dari hasil interaksi antara stimulus politik dengan kesadaran kognitif atau alam pikiran seseorang17. diawali oleh terbentuknya persepsi. pandangan keagamaan i Ilmu serta Politik . Mulai dari unsur kepentingan yang dimungkingkan dapat terakomodasi. dan juga orientasi primordialisme dan sebagainya. Pilihan politik seseorang dapat dilatarbelakangi oleh banyak hal. Sikap politik dan juga pilihan politik. Namun. daripada keagamaan responden responden memiliki atau perempuan pertimbangan laki-laki. perilaku politik dan juga pilihan politik. Political Marketing. Pada Pemilu 2009 sebagai Pemilu yang dianggap merupakan Pemilu paling deliberatif. aspirasi.

disamping itu. Dari uraian tersebut. Berdasarkan survei. Pendekatan Sosiologis Pendekatan ini biasa juga disebut dengan mazhab Columbia. 2004. 1. Cikal bakalnya berasal dari Eropa. 55 diri 18 akan mengindentifikasi seseorang sosialnya. pekerjaan. yaitu pendekatan sosiologis dan pendekatan psikologis. kita dapat mengambilnya dari beberapa pendekatan dalam perilaku politik yang biasa digunakan untuk melihat bagaimana pilihan-pilihan politik terbangun. agama. Strategi Memenangkan Pemilu. seseorang bangunan orang Halsosial konteks akan itupengetahuan hingga akan seperti kelompok membuat kemudian usia. model ini kemudian dikembangkan oleh para sosiolog Amerika Serikat yang mempunyai latar belakang Eropa. . setiap 10 responden perempuan. Alih-alih mandiri. latar belakang keluarga. kegiatan-kegiatan dalam kelompok formal dan informal dan lainnya – memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan pilihan-pilihan politik18. khususnya di Universitas Columbia. mempengaruhi sebagai pekerjaan anggota Interaksi pilihannya preferensi bentuk-bentuk dari danyang sebagainya kelompok berdasarkan terjadi politik pilihan sosial didalam akan danpolitiknya. yangHal. jenis kelamin. Wajah domestik pun masih membayangi sikap politik perempuan. jenis kelamin. pilihan politik perempuan masih dipengaruhi oleh pilihan politik keluarga. menurut mazhab ini pendekatan sosiologis pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial – usia. Adman Nursal. tiga di antaranya menyatakan informasi keluarga berpengaruh pada pilihan politiknya. orientasi perilaku menjadi dimana kelompok-kelompok dia susunan memilih berdasarkan Setiap berada. Dapat kita uraikan beberapa hal yang mempengaruhi pilihan politik perempuan.menjadi pertimbangannya dalam menentukan pilihan. Political Marketing. menjatuhkan agama.

Bonne dan Ranney membagi tiga tipe utama pengelompokan sosial19 a. Proses ini berlansung dalam waktu yang lama. perbedaan pendidikan. Pengelompokan kategorial terbentuk berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Kelompok-kelompok kategorial dapat diklasifikasikan seperti : pekerjaan. Sudijono. Kelompok Kategorial yang terdiri dari orang-orang yang memiliki satu atau beberapa karakter khas. kognisi Dalammemberikan memberikan masyarakat. Hal. 56 perilaku Politik. Pendekatan sosiologis melihat bahwabermuara dalam kelompok-kelompok sosial. status sosio ekonomi dan kelas sosial. Ibid. kelompok bermain. . perilaku dan dan Lingkungan norma pilihan dalam sosial tertentu. c. terdapat bentuk-bentuk sosial kelompok-kelompok tertentu sosialisasi yang sosial. orang tua dan anak-anak. pasanganpasangan suami isteri. Kelompok primer memiliki pengaruh yang paling kuat dan langsung terhadap prilaku politik seseorang. Yang termasuk dalam kelompok primer adalah. Kelompok sekunder mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan kelompok kategorial. 1995. agama dan daerah asal. b. Kelompok Sekunder yang terdiri dari orang-orang yang memiliki ciri yang sama yang menyadari tujuan dan identifikasi kelompoknya. pada akhirnya berlangsung dan internalisasi proses nilai-nilai pada sosialisasi. serta pengalaman1915 20hidup20. dan bahkan sebagian membentuk organisasi untuk memajukan kepentingan kelompoknya. perbedaan usia. Kelompok Primer Kelompok primer terdiri dari orang-orang yang sering dan secara teratur melakukan kontak dan interaksi langsung. tapi tidak mengorganisasikan aktifitas politik dan tidak menyadari identifikasi dan tujuan kelompoknya. Hal. dan kelompokkelompok etnis yang meliputi ras.

Pendekatan Psikologis Pendekatan ini biasa juga disebut sebagai mazhab Michigan dan pelopor utama mazhab ini adalah August Campbell. bahwa proses 2006. diungkapkan bahwa variabel-variabel sosiologis seperti kelompok primer dan sekunder. ini akan secara internalisasi yang Pemilih menjadi kuat umumperempuan dengan akan menjadi Adman Nursal. tidak jelasnya indikator kelas sosial. sikap tidaklah terjadi secara begitu M. Political Marketing. agama dan sebagainya merupakan suatu hal yang sulit diukur. Strategi Memenangkan Pemilu. dalam pendekatan ini. Menurut Asfar. Munculnya pendekatan ini merupakan reaksi atas ketidakpuasan terhadap pendekatan sosiolgis21 Pendekatan sosiologis dianggap sulit diukur. saja. oleh Nursal dan Asfar sebelumnya. memberi pengaruh pada perilaku memilih dan pilihan politik. seseorang pilihan-pilihan sosial tertentutersebut. sosialisasi yang panjang. Oleh sebab itu. melainkan melalui proses Asfar. Disamping itu secara materi. 2004.yang panjang. tingkat pendidikan. u Seperti yang diungkapkanPemili.2. kelompok sesuatu yang berdasarkan berkaitan berada yang dengan nilai21141 23 60 22 . Tidakkah variabel-variabel itu dapat dihubungkan dengan perilaku memilih dan pilihan politik jika ada proses sosialisasi. Hal. Hal. untuk akanSehingga membentuk politiknya menerima perilakunya halproses ikatan kelak. sosial sangat didalam nilai yang ataupun berpengaruh suatu adakelompok akan organisasi dalam membuat terhadap kelompok sosial kemasyarakatan. sikaplah yang paling menentukan dan hal itu berawal dari informasi-informasi yang diterima seseorang. sosialisasilah yang menentukan perilaku memilih dan orientasi pada pilihan-pilihan politik seseorang bukan karakteristik sosiologis22 Dalam pendekatan ini. yang dimulai dari kanak-kanak saat seseorang Pemilu dan pengaruh politik dari orang tua atau kerabat pertama kali mendapat Perilak dekat23 . Ibid.

2003. Sebagian pemilih mengubah pilihan politiknya dari satu Pemilu ke Pemilu lainnya dan peristiwaperistiwa politik tertentu bisa saja mengubah preferensi pilihan politik seseorang. dalam hal ini pilihan politik perempuan dan juga berbagai penjelasan tentang hal-hal yang dapat mempengaruhi pilihan politik perempuan. tampak jelassetiap pada merupakan manusia dalam yang lingkungan penjelasan pemilihan mempunyai yang umum. politik yang politik mempengaruhi artinya perempuan tertentu aktor yang yang pilihan mempunyai cenderung diuraikan politik George Ritzer & Douglas J. tujuan Nursal adaPeristiwa-peristiwa di atau tentang sekitar mempunyai pilihan maksud. yang dipandang sebagai 356 . Sosiologi Perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara pengaruh perilaku seorang aktor terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap perilaku aktor24. B. akan terjadi proses yang saling mempengaruhi satu sama lain.nilai dan kebiasaan yang secara psikologis sangat mempengaruhi perempuan. Teori pilihan rasional adalah penjelasan yang mendasar dalam melihat perilaku politik perempuan yang mencakup pilihan-pilihan politik dan berbagai hal yang mempengaruhinya. Dari penjelasan Ritzer dan Goodman tentang hubungan antara perilaku individu yang berkaitan dengan lingkungan. berubah-ubah oleh individu. tujuan TeoriNursal dan pilihan rasional memusatkan 24 perhatian pada aktor. Begitupun dengan pilihan politiknya yang secara psikologis akan berkaitan dengan preferensi politik anggota kelompoknya. Dalam penjelasan Ritzer & Goodman.aktor Goodman. Teori pilihan rasional dalam melihat pilihan politik Berbagai pendekatan sebelumnya telah menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan perilaku politik. antara perilaku aktor yakni individu dan lingkungannya. Teori Sosiologi Modern. Hal.

dan tindakannya tertuju pada tujuan untuk mencapai tujuan tersebut.tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu25. merupakan penjelasan tentang letak rasionalitas dalam menjatuhkan pilihan yang pada dasarnya bergantung pada tujuan yang yang ingin dicapai. 25 26 27Ibid. Teori pilihan rasional tak menghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa menjadi sumber pilihan aktor. Pilihan pilihan suatu pereferensi. Penjelasan tentang pilihan rasional seperti yang diungkapkan oleh Ritzer dan Goodman. Tidak dititikberatkan pada sumber pilihan tapi didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks pemilihan umum dalam hal ini pemilihan umum anggota legislatif perempuan sebagai warga negara dan sebagai individu dalam masyarakat tentunya memiliki tujuan dan maksud dalam momen politik pemilihan umum anggota legislatif. mengarah27. 394 357 . yang penting adalah kenyataan bahwa tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan sesuai dengan tindakan pilihan aktor26. Hal. Perempuan sebagai individu dalam proses pemilihan umum anggota legislatif memiliki pilihan rasional yang didasarkan pada upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan tidak menitikberatkan pada sumber-sumber pilihan. Tindakan-tindakan perempuan sebagai individu merupakan upaya untuk mencapai halhal yang dimaksudkan secara rasional dalam proses pelaksanaan pemilihan umum. Perempuan sebagai aktor atau individu juga memiliki tujuan dan maksud. Lebih lanjut diungkapkan oleh James dalam teori kepada Coleman tujuan tertentu suatu jugapilihan tujuan menitik yangdan rasional beratkan mengaitkan tujuan dengan pada itu nilai (dan tindakan gagasan dalam jugadasarnya perseorangan tindakan) hal ini adalah bahwa ditentukan yang tindakan pilihan jugaoleh mengarah perseorangan dan nilai juga pada atau Ibid S. Coleman.

Pilihan rasional perempuan juga didasarkan pada informasi yang dia terima dan dijadikan sebagai preferensi seperti yang di ungkapakan oleh Coleman sebelumnya. 358 29 . Mulai disiplin dari maka variabel banyak ilmu atau variabel ekonomi. yang kedua adalah bertambahnya pengertian tentang pentingnya informasi dalam membuat pilihan rasional28. menganalisis yang dan sebagainya. Friedmen dan Hechter mengemukakan dua gagasan lain yang menjadi dasar teori pilihan rasional. halBerbagai tersebut. berbagai yang psikologi variabel perlu diperhatikan sosial. Perilaku Politik. 1995.yang didasarkan pada preferensi akan melibatkan berbagai informasi dalam suatu lingkungan sosial. Sudijono S. pertama. C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku dan Pilihan politik Perempuan Perilaku politik dan pilihan merupakan adalah sebuah konstruksi sosial.. Rasionalitas dalam menjatuhkan pilihannya didasarkan pada maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemilih perempuan dan dikaitkan dengan informasi dan preferensi yang dimilikinya. sehingga untuk Ibid. Dalam pemilihan umum anggota legislatif. digunakan konsep secara dalam Hal. Hal. sangat diperlukan dinamis. adalah kumpulan mekanisme atau proses yang menggabungkan tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan akibat sosial. perempuan adalah sebagai individu yang memiliki pilihan yang didasarkan pada rasionalitas dalam memilih. Informasi yang dimiliki oleh individu akan dikaitkan dengan kualitas dan kuantitas dari informasi tersebut dan hal ini nantinya akan mempengaruhi pilihan rasionalnya. Dalam konteks sosial sosiologis menyeluruh dan geopolitik 2812 integral. memahaminya dukungan konsep dari berbagai berbagai disiplin ilmu29.

berlaku sebelumnya terdapat dapat bagi pula tentang di kelompok katakan nilai perilaku yang masyarakat bahwa dianut memilih.Sebagai manifestasi sikap politik. Dalam suatu masyarakat terdapat suatu nilai-nilai yang dianut sebagai suatu kesatuan pola bertindak. biasanya yang Daridiuraikan uraian tidak tapi diatas. Dia menyebut polapola orientasiorentasi ini sebagai kebudayaan politik31. sangat terbatas. pilihan politik tidak dapat dipisahkan dari budaya politik yang oleh Almond dan Verba diartikan sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya. 70. tiap sistem politik mewujudkan dirinya di dalam pola orientasi-orientasi dan tindakan-tindakan politik tertentu. hanya berlaku di kalangan anggota kelompok yang Ibid. Hal. terdapat lain. merupakan wujud dari kebudayaan politik suatu komunitas masyarakat. 32 . dalam artian inilah para ahli membedakan pengertian kebudayaan menyeluruh. 12 74 dari sub secara tertentu. pendekatan yang dan itu kebudayaan32 30 31Ibid. berpikir dan merasakan. meskipun dianggap memiliki salienasi yang tinggi oleh para penganutnya. dan seperti yang disebutkan oleh Almond. olehitu suatu kelompok Seperti bersumber nilai halnya masyarakat yang daripendekatanberlaku penelitian Hal. Inilah yang disebut sebagai budaya masyarakat secara keseluruhan. Almond menyebutkan bahwa. Hal inilah yang mempengaruhi pola perilaku seseorang beserta orientasi-orientasi terhadap objekobjek yang ada. sementara sejumlah elemen kebudayaan yang lain. bahwa pola-pola orientasi terhadap objek-objek politik. serta sikap terhadap peranan warga negara didalam sistem itu30. Seseorang dalam suatu komunitas masyarakat akan dihadapkan oleh nilai dan norma yang diterima sebagai suatu kemestian. Sejumlah elemen kebudayaan dianut dan mempengaruhi perilaku seluruh anggota masyarakat.

memungkinkan teori itu memiliki validitas tinggi untuk memprediksi perilaku pemilih untuk pemilu-pemilu berikutnya33. Tapi beberapa rujukan lain justru memperkuat bahwa agama menjadi variabel penting dalam membentuk perilaku memilih. Political Strategi Memenangkan Pemilu. primordial simbolbudaya sistem sendiri yang – simbol primordial yang identik dengan mereka. Tapi bukan berarti hasil kajian pada masa sebelumnya sama sekali tidak bisa digunakan. mengingat hasil penelitian pada masa reformasi masih sangat terbatas. Setiap orang yang mengaku beragama. sejumlah penelitian menunjukkan. Desember merupakan untuk pemilu Indonesia memilih 1998. Berikut ini diuraikan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap perilaku memilih yang merupakan hasil kajian dan penelitian pada masa silam yang diperkaya dengan kajian masa kini. Untuk konteks Indonesia. 2004. terkait pemilih apalagi daerahnya sebab dengan Adman Nursal. agama merupakan salah satu faktor penting pembentukan perilaku memilih di Indonesia. 33 77 . terdapat perbedaan antara masa orde baru dan pasca orde baru. Diantara beberapa jenis pengelompokkan sosial. suatu bahwa langsung sejak halEep mereka segmen yang dahulu. Hal. pemilu yang berulang-ulang dan praktek demokrasi yang relatif bersih. akan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kelompok agamanya dan pilihan politiknya biasanya disejalankan dengan agama yang dianutnya. kepala baru.diadakan di negara-negara maju. agama pemilih memiliki korelasi nyata dengan perilaku memilih. Saefullah Fatah mengungkapkan merupakan primordialisme memberikan Untuk konteks pemilih otonomi ditumbuh Indonesia. Studi tentang besarnya pengaruh agama. harian yang kepada subur cukup Kompas setiap haldalam besar ini pada daerah bukan masyarakat dalam 4 Marketing. seperti iklim sosial politik yang berbeda antara kedua masa tersebut. mendatang. bisa saja menjadi hal yang kurang relevan lagi untuk masa sekarang ini.

Ramlan Surbakti menjelaskan terdapat perbedaan perilaku politik perempuan dari pria baik pada peringkat warga negara maupun pada peringkat elit yang dijelaskan dengan perbedaan belajar mengenai sex roles dan sex role yang pantas dalam bidang politik pada masa kanak-kanak atau masa ini diartikan sebagai sosialisasi politik35. menjadikan posisi perempuan ini menjadi Ibid. jumlah kaum wanita yang lebih lima puluh persen dari total populasi merupakan proporsi yang menentukan hasil pemilu jika terdapat korelasi erat antara jenis kelamin dan pola pilihan34 . 34 perluSurbakti. 35Ramlan Memahami Ilmu orientasi Politik. masyarakat akan terkait dengan simbol-simbol primordial yang identik dengan mereka. diperhatikan yaitu kandidat. Studi-studi tentang faktor usia dan jenis kelamin terhadap perilaku pemilih sangat penting dilakukan. Hal. dan seperti yang dikatakan oleh Eep Saefullah Fatah bahwa. Adanya perbedaan perilaku politik perempuan. terdapat faktor sosial yang perlu mendapat perhatian yaitu usia dan jenis kelamin.semakin membuka peluang untuk masyarakat memilih sesuai dengan keinginannya. Selain orientasi agama. Populasi perempuan yang melebihi setengah dari keseluruhan jumlah populasi merupakan suatu kajian yang menarik. orientasi kandidat seperti yang diungkapkan pola oleh Ramlan dan pilihan Surbakti. 2002. pollitik menjadikan tidak antara faktor lakitampak pada Hal. 2 Pengaruh . apalagi mekanisme yang ada yaitu legitimasi pada hasil pemilihan umum yang mensyaratkan suara mayoritas. Berbicara tentang korelasi antara jenis kelamin dengan pola pilihan. 88 perilaku laki dan sosial pemilu-pemilu Faktorini sosial perlulainnya yang diperhatikan. hal yang patut untukterhadap diperhatikan.

sehingga faktor kandidat sangat berpengaruh terhadap pola pilihan pemilih. Pemilihan Umum Anggota Legislatif di Indonesia Ada anggapan bahwa perwakilan rakyat tidak dijalankan dengan baik selama ini. Banyak orang kemudian menyalahkan Sistem Pemilu atasRepresentasi keadaan tersebut. D. faktor kandidat legislatif akan memberi pengaruh besar terhadap perilaku memilih. Tapi pada masa yang lebih demokratis.pada zaman orde baru. dipengaruhi faktor kandidat. pada kepentingan untuk Sistem kenyataannya DPR penjaringan mencapai rakyat lokal. Perilaku pemilih pada pemilu 1999. Sistem yang ada pada masa orde baru. Hal ini membuktikan bahwa sistem yang lebih demokratis akan membuka seluas-luasnya ruang kontestasi untuk setiap orang untuk “berkompetisi” sesuai dengan aturan yang ada. walaupun masih sistem pencoblosan lambang partai. umumnya para pemilih tidak memperhatikan kandidat saat melakukan pencoblosan. dengan sistem pemilu yang memilih partai. maka hal ini dimungkinkan. faktor telah (caleg) berkontribusi sistemik memiliki Sistem secara tertutup yang jumlah terhadap berkaitan kursi yang problem sangat dengan meskipun perwakilan Dewan banyak Proporsional dikontrol Pimpinan – itu. terlebih-lebih pada pemilihan presiden dengan sistem pemilihan langsung. Pada pemilu 2009 dengan sistem pemilihan tanda gambar partai dan nama kandidat. Terdapat bangunan kognitif yang digunakan oleh pemilih untuk menilai seseorang yang akan maju sebagai calon atau kandidat. memang tidak menyediakan ruang untuk proses pencoblosan kandidat. terutama dikarenakan rakyat hanya memiliki sedikit kontrol atau hubungan dengan para wakil mereka. berikut suatu Daerah 82 calon dari kombinasi ini anggota pemilihan setiap dapat legislatif daerah dari dianggap yang tiga seringkali pemilihan. oleh Daftar Pusat partai politik (parpol) dengan hanya sedikit memperhitungkan .

jugamenggunakan mengikutsertakan sistem pemungutan yang dikenal suara sebagai untukSingle Dewan Non . Semakin besar jumlah konstituensi yang digunakan. yang Pemilih dari partai akan pilihan mereka suara yang hanya akan untuk terpilih satu calon untuk dimiliki mewakili Perwakilan saja. Sistem Representasi Proporsional Daftar Terbuka memberikan kendali pada pemilih atas kursi yang dimenangkan setiap partai di lembaga perwakilan dan calon anggota legislatif dari partai–partai tersebut yang akan mewakili pemilih dengan mengisi kursikursi tersebut. Meskipun demikian.Tertutup dimana parpol mengendalikan siapa dari caleg mereka yang akan mengisi kursi yang telah dimenangkan oleh parpol tersebut dalam setiap daerah pemilihan. semakin sedikit kemungkinan komposisi lembaga perwakilan akan sepenuhnya mencerminkan proporsi keseluruhan suara yang dimenangkan oleh setiap partai. Tujuan utama dari sistem Representasi Proporsional Daftar Terbuka adalah untuk menghasilkan lembaga perwakilan dimana proporsi kursi yang dimenangkan oleh tiap partai mencerminkan proporsi total suara yang didapatkan oleh tiap partai. karakteristik sistem sebagaimana yang diadopsi di Indonesia telah memberikan yangmana relatif besarmemberikan mengenai seberapa besar pengaruh yang pemilih ataskekuasaan Transferable calon Vote (SNTV). Sejak Pemilu Pemilu tahun 2004. mereka. untuk DPR dan DPRD dilaksanakan menggunakan format Representasi Proporsional Daftar Terbuka di daerah-daerah pemilihan yang baru. Pada Pemilu SemuaDaerah 2004 dan (DPD) 2009 baru. Dapat terjadi kasus dimana Negara secara keseluruhan merupakan daerah pemilihan (konstituensi) tunggal dari mana semua wakil rakyat dipilih atau mungkin ada beberapa konstituensi regional atau distrik –seperti di Indonesia– dari mana para wakil rakyat dipilih.

Dalam Pemilu 1999. Para ahli strategi calon anggota harus menentukan jumlah ideal calon anggota dalam sebuah aliansi dan menentukan cara ideal untuk menggerakkan pendukung mereka agar memberikan suara bagi calon-calon anggota yang berbeda-beda untuk memaksimalkan jumlah calon anggota dalam aliansi yang akan terpilih. bergantung pada faktor-faktor lainnya. KPU menentukan batas-batas daerah pemilihan dan jumlah kursi (yaitu jumlah wakil yang akan dipilih) dalam tiap daerah Guna mendapatkan proporsionalitas menspesifikasikan dan keseluruhan semakin Apakah DPRD. masing-masing. Dalam Pemilu 2004 ada daerah-daerah pemilihan khusus untuk DPR dan DPRD. dan Kabupaten/Kota adalah daerah pemilihan untuk Pemilu DPRD tingkat Kabupaten/ Kota. kecil 12. mendekati didari setiap dalam sejumlah semakin daerah 3daerah atau yang baik dalamhalpartai. kecil yang wakil pemilihan kursi terpilih rata-rata yangdalam dapat harus akan jumlah daerah dipilih berasal lebih kursi pemilihan. merupakan sebuah daerah pemilihan anggota DPD. Sistem SNTV mengandung isu-isu strategis yang menarik bagi aliansi calon-calon independen atau anggota partai politik. ia akan lebih sempit secara geografis. memberikan DPR kursi pada partai politik yang berhasil meraih kursi.provinsi. Ini mungkin (atau mungkin juga tidak) mendorong terciptanya hubungan yang lebih baik antara wakil dan rakyat. dan memilih wakil rakyat yang lebih sedikit dibandingkan Pemilu 1999. Setiap provinsi akan memilih empat perwakilan DPD –empat pemenang suara terbanyak di Provinsi tersebut. pemilihan proporsional pemilihan. provinsi merupakan daerah pemilihan untuk Pemilu DPR dan DPRD tingkat Provinsi. UU Pemilu . jumlah besar Semakin hasil kursi kemungkinan rentang besar Pemilunya. Secara umum. dalam rata-rata 3sebuah para sampai Semakin calon daerah jumlah 12pemilihan. seperti bagaimana cara calon anggota legislatif dijaring.

dan keputusan KPU tentang pelaksanaannya akan memiliki efek yang signifikan terhadap sifat dasar hubungan politik Indonesia di masa depan.tersebut tidak diatur lebih lanjut oleh UU. Untuk DPRD tingkat Provinsi. Populasi rata-rata per wakil dapat bervariasi antara 325. Bagi DPR. daerah pemilihan untuk memilih 550 anggota DPR akan berupa provinsi itu sendiri (bagi provinsi yang berpenduduk sedikit) atau bagian-bagian dari provinsi (untuk provinsi yang berpenduduk lebih banyak). untuk Berkelanjutan Menentukan dewandibentuk yangbatas (P4B) beranggotakan oleh daerah digunakan KPU dari pemilihan antara sebagai 20 Untuk DPRD dan kecamatan dasar akan Jumlah 45 populasi secara awal yang individual merupakanatau hasil gabungan pengumpulan dari beberapa data populasi kecamatan. (bergantung Pemilih alokasi populasi dan daerah Pendataan kursisuatu pemilihan DPR Penduduk dan kabupaten/kota) DPRD. Tidaklah mungkin untuk memenuhi ketiga ketentuan tersebut diatas di semua provinsi dan KPU harus menentukan ketentuan yang mana yang akan didahulukan. pertimbangan kondisi geografis.000 (di provinsi dengan penduduk yang sedikit) dan 425. daerah pemilihan untuk dewan yang beranggotakan antara 35 dan 100 anggota (bergantung populasi suatu provinsi) akan dibentuk oleh KPU dari kabupaten/kota secara individual atau gabungan dari beberapa kabupaten/kota. Undang-undang mengharuskan bahwa tidak ada provinsi yang boleh memiliki jumlah wakil di DPR lebih sedikit dari jumlah pada Pemilu 1999 dan provinsi yang dibentuk setelah Pemilu 1999 harus mempunyai minimal 3 wakil. Apapun keputusannya pasti akan menguntungkan atau merugikan berbagai kepentingan politik. dari program . tingkatmenentukan anggota Pendaftaran untuk Kabupaten/Kota.000 (bagi provinsi dengan penduduk yang lebih banyak). dan jalur transportasi/komunikasi. UU juga menyerahkan penentuan prinsip-prinsip lain dalam pembentukan daerah pemilihan kepada KPU –contohnya.

Bergantung pada jumlah rata-rata kursi per daerah pemilihan. Hal ini dirasa tidak memberikan rasa keadilan bagi caleg-caleg yang bekerja keras dalam satu partai memberikan ketentuan yang diperoleh nomor dampak oleh partai urut yang caleg calegnya. diperkirakan ada 1600–3200 daerah pemilihan yang harus dibentuk. Pada Pemilu 1999 dan 2004.terkait dengan hal tersebut . setiap batasnya akan menjadi subyek perdebatan politik yang intensif. Tidak ada jumlah minimum yang ditentukan untuk calon anggota dalam daftar calon anggota. suatu partai menyerahkan daftar caleg untuk setiap daerah pemilihan. provinsi dan kabupaten/kota. Partai-partai politik harus menyerahkan daftar caleg untuk kepentingan pencalonan pada Komisi Pemilu yang relevan (KPU) di tingkat nasional. suara 2009. Setiap partai bebas menentukan urutan nama calon dalam setiap daftar calegnya. politik. penentuan caleg terpilih dilakukan berdasarkan ketentuan nomor urut. Dibawah sistem Representasi Proporsional Daftar Terbuka. Caleg bagi DPR/DPRD harus merupakan anggota partai politik dan dicalonkan oleh partainya dalam proses yang „demokratis dan terbuka‟. setelah Penetuan kemudian Penentuan ditentukan caleg diesuaikan caleg terpilih akumulasi terpilih dengan dari suara berdasarkan sebuah perolehan partai. partai jumlah berdasarkan Dari tidak total suara akan tetapi dia mesti terbanyak akumulasi batas Pada pemilu dengan BPP. Partai politik didorong untuk mencalonkan paling tidak 30% calon anggota perempuan dalam daftar calon anggota mereka dalam setiap daerah pemilihan. luas. Sementara KPU secara independen menentukan batas-batas daerah pemilihan. keputusan berada Mahkamah pada urut Konstitusi sepatu.merupakan proses yang rumit. Setiap partai dapat mencalonkan sejumlah calon anggota hingga maksimum 120% dari jumlah perwakilan yang akan dipilih dalam tiap daerah pemilihan.