You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Upaya kesehatan reproduksi salah satunya adalah menurunkan angka
kesakitan dan kematian ibu hamil dan bersalin. Adapun penyebab langsung dari
kematian ibu di Indonesia adalah trias klasik yaitu perdarahan, infeksi, toksemia
gravidarum. Perdarahan sebanyak 30% dari total kasus kematian, eklamsi
(keracunan kehamilan) 25%, infeksi 12%. Salah satu dari ketiga ketiga faktor
tersebut adalah perdarahan, perdarahan dapat terjadi pada saat kehamilan,
persalinan dan masa nifas. Perdarahan yang terjadi pada kehamilan, bisa terjadi
pada awal kehamilan maupun kehamilan lanjut, dengan besar angka kejadiannya
3% pada kehamilan lanjut dan 5% pada awal kehamilan. Perdarahan yang terjadi
pada awal kehamilan meliputi abortus, mola hidatidosa dan kehamilan ektopik.
Pada kehamilan lanjut antara lain meliputi Solutio Plasenta dan Plasenta Previa.
Dari kasus perdarahan diatas ternyata didapatkan besar kasus paling tinggi adalah
perdarahan pada awal kehamilan yang dari salah satu perdarahan awal kehamilan
tersebut terdapat kehamilan molahidatidosa. Molahidatidosa adalah Tumor jinak
dari trofoblast dan merupakan kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus
korialis langka, vaskularisasi dan edematous, janin biasanya meninggal akan
tetapi villus-villus yang membesar dan edematous itu hidup dan tumbuh terus
menerus, sehingga gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.
Penyebab pasti terjadinya kehamilan Mola hidatidosa belum diketahui
pasti, namun ada beberapa faktor yang memengaruhinya yaitu faktor ovum,
imunoselektif trofoblast, usia, keadaan sosio-ekonomi yang rendah, paritas tinggi,
defisiensi protein, infeksi virus dan faktor kromosom yang jelas, dan riwayat
kehamilan mola sebelumnya. Jenis pada molahidatidosa yaitu Molahidatidosa
Komplet (MHK) dan Molahidatidosa Parsial (MHP). Angka kematian yang
diakibatkan oleh kehamilan Molahidatidosa berkisar antara 2,2% - 5,7%. Pada
kehamilan Molahidatidosa jika tidak dilakukan penanganan secara komprehensif
maka masalah kompleks dapat timbul sebagai akibat adanya kehamilan dengan

dengan ciri-ciri tumor jinak (benigna) dari chorion penyebab embrio mati dalam uterus tetapi plasenta melanjutkan sel-sel trophoblastik terus tumbuh menjadi agresif dan membentuk tumor yang invasif. Apakah etiologi dari mola hidatidosa ? 3. banyak ditemukan di Negara Asia. kemudian edema dan membentuk seperti buah anggur. karakteristik mola hidatiosa bentuk komplet dan bentuk parsial. Sedangkan frekuensi kejadian Molahidatidosa di RSU dr. 1. dengan mengukur kadar β-HCG dan mencegah kehamilan selama 1 tahun. dan pemeriksaan tindak lanjut yaitu follow up selama 12 bulan. Mola Hidatidosa ialah kehamilan abnormal.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan makalah pada makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana patofisiologi dari mola hidatidosa ? . ginjal. sedangkan di Negara bagian Barat lebih jarang. Melihat fenomena diatas maka disini penulis tertarik untuk menulis makalah dengan judul “Molahidatidosa”. hati bahkan sampai ke otak. Dengan presentasi kejadian tersebut adalah 18-20% keganasan. Apa pengertian dari mola hidatidosa ? 2. yaitu tidak ada jaringan embrio dan ada jaringan embrio. Penatalaksanaan pada Molahidatidosa ada tiga tahap yaitu perbaikan keadaan umum ibu. Penyakit ini. Tindak lanjut serta penatalaksanaan saat ini berpusat pada pengukuran serial kadar β-HCG serum untuk mendeteksi Tumor Trofoblast Persisten. paru-paru. Angka ini jauh lebih tinggi disbanding Negara-negara barat dimana insidennya berkisar 1:1000 sampai 1:2500 kehamilan untuk kejadian Molahidatidosa. Slamet Garut tahun 2009 sebanyak 37 kasus dari jumlah kehamilan sebanyak 1730 dan ditemukan angka untuk Molahidatidosa 1:47 kehamilan pada tahun 2009.Molahidatidosa yaitu TTG (Tumor Trofoblast Gestasional) dimana TTG ini terbagi menjadi 2 macam yaitu: Choriocarcinoma non Villosum dan Choriocarcinoma Villosum yang bersifat hematogen dan dapat bermetastase ke vagina.Angka di Indonesia umumnya berupa angka Rumah Sakit yaitu RSCM. untuk Mola Hidatidosa berkisar 1:50 sampai 1:141 kehamilan. baik dalam bentuk jinak atau ganas. pengeluaran jaringan mola dengan cara Kuretase atau Histerektomi.

Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan mola hidatidosa ? 7. Untuk mengetahui gambaran diagnostik dari mola hidatidosa 6. Untuk mengetahui dan memahami tanda dan gejala dari mola hidatidosa 4.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana komplikasi yang terjadi pada pasien mola hidatidosa? 1.4. Untuk mengetahui komplikasi dari mola hidatidosa . Untuk mengetahui komplikasi dari mola hidatidosa 5. Bagaimana tanda dan gejala dari mola hidatidosa ? 5.Untuk mengetahui penatalaksanaan dari mola hidatidosa 7. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dari mola hidatidosa 3. Untuk mengetahui mengetahui dan memahami pengertian dari mola hidatidosa 2. Bagaimana gambaran diagnostik dari mola hidatidosa ? 6.

membesarnya uterus dan menghasilkan sejumlah besar human chorionic gonadotropin (hCG) (Hamilton. 2010). 1995 : 104). ( Sarwono Prawirohardjo. tidak dijumpai adanya janin. atau mata ikan karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Embrio mati dan mola tumbuh dengan cepat. C.BAB II PEMBAHASAN 2. Secara makroskopik. berisi cairan jernih. Dalam hal demikian disebut Mola Hidatidosa atau Complete mole sedangkan bila disertai janin atau bagian janin disebut sebagai Mola Parsialis atau Partial mole. dengan ukuran bervariasi dari beberapa milimeter sampai 1 atau 2 cm. tembus pandang. kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur. 2000). Mola hidatidosa adalah kehamilan yang berkembang tidak wajar (konsepsi yang patologis) dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalalami perubahan hidropik. Mola Hidatidosa adalah jonjot-jonjot korion (chorionic villi) yang tumbuh bergandang berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur. Mary. Hamil Mola adalah suatu kehamilan dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi poliferasi dan vili korialis disertai dengan degenerasi hidropik. mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung.1 Definisi Mola berasal dari bahasa latin yang berarti massa dan hidatidosa berasal dari kata Hydats yang berarti tetesan air. Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan. Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak ditemukan janin dan hampir seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenerasi hidropik. Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi. . Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang jinak (benigna) (Mochtar.gelembung putih.

3. Akibatnya vili mengalami distensi kaya nutrient. 2. Imunoselektif dari trofoblas Perkembangan molahidatidosa diperkirakan disebabkan oleh kesalahan respon imun ibu terhadap invasi oleh trofoblas. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Faktor ovum Pembuahan sel telur dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel sperma. 4. Usia Faktor usia yang dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat terjadi kehamilan mola. . Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada usia berapa pun dalam usia subur dapat terjadi kehamilan mola. dan diabsorpsi. namun ada faktorfaktor penyebabnya adalah : 1. Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin. Prekuensi molahidatidosa pada kehamilan yang terjadi pada awal atau akhir usia subur relatif tinggi. Namun juga tidak dapat dipungkiri pada primipara pun dapat terjadi kehamilan molahidatidosa. dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya.2. sedangkan trofoblas terus tumbuh dan pada keadaan tertentu mengadakan invasi kejaringan ibu. Pembuluh darah primitive di dalam vilus tidak terbentuk dengan baik sehingga embrio ‘ kelaparan’. cenderung beresiko terjadi kehamilan molahidatidosa karena trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara genetik yang dapat diidentifikasikan dengan penggunaan stimulandrulasi seperti klomifen atau menotropiris (pergonal). Paritas tinggi Pada ibu yang berparitas tinggi.2 Etiologi Penyebab molahidatidosa belum diketahui secara pasti. 5. mati.

Sebuah enukliasi telur dibuahi oleh sperma haploid (yang kemudian berduplikasi menjadi masing-masing kromosom). frekwensi mola adalah 1. Kromosom tersebut merupakan hasil dari pembuahan sel telur haploid dan duplikasi dari kromosom . Defisiensi protein Protein adalah zat untuk membangun jaringanjaringan bagian tubuh sehubungan dengan pertumbuhan janin. 90% merupakan kromosom 46.6. Semua kromosom berasal dari paternal. Dalam suatu ulasan tentang molahidatidosa berulang tapi pasangan yang berbeda bisa disimpulkan bahwa mungkin terdapat “ masalah oosit primer “. Dalam suatu kejadian terhadap 12 penelitian yang total mencangkup hampir 5000 Kelahiran. vili korion menyerupai anggur dan hiperplasia trofoblastik muncul. pertumbuhan rahim dan buah dada ibu.XXX atau 69 XXY. Pada Mola parsialis atau Partial mole jaringan fetus/janin dapat ditemukan. 7. Masuk atau adanya mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu menimbulkan penyakit ( desease ). keperluan akan zat protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan pertumbuhan pada janin tidak sempurna. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil.XX dan 10% merupakan kromosom 46. atau sel telur dibuahi oleh dua sperma. Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba ( kuman atau virus ) yang termasuk virulensinya seta daya tahan tubuh. 8. Riwayat kehamilan mola sebelumnya Kekambuhan molahidatidosa dijumpai pada sekitar 1-2% kasus.3 Patofisiologi Pada Mola Hidatidosa atau Complete mole tidak ada jaringan fetus/janin. XY. Pada mola hidatidosa.3%. Komplemen kromosom nya 69. 2. Eritrosit dan pembuluh darah janin pada vili dapat ditemukan.

gejala anemia agak sering dijumpai lebih jauh.haploid paternal. e. Hanya sepertiga pasien yang mengalami perdarahan hebat. 2. c. Perdarahan pervaginam berulang. Tiga perempat pasien mengalami gejala ini sebelum usia kehamilan 3 bulan. 2. d. Biasanya terjadi pada trisemester pertama dan merupakan gejala yang paling banyak muncul pada lebih dari 90% pasien mola. Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan. Gejala Klinik a. Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. Seperti pada Complete mole. jaringan hiperplasia trofoblastik dan vili korion yang lunak pun muncul pada mola ini. Mungkin timbul preeklampsia dan eklampsia. f. Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya DJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih. Hiperemesis lebih sering terjadi. hal ini . Kadar gonadotropin tinggi dalam darah serum pada hari ke 100 atau lebih sesudah periode menstruasi terakhir. Amenore dan tanda-tanda kehamilan b. lebih keras dan lebih lama. Sebagai akibat dari perdarahan tersebut. g. h. Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. Kadang-kadang terdapat perdarahan tersembunyi yang cukup banyak di dalam uterus. Terjadinya preeclampsia dan Eklampsia sebelum minggu kedau empat menuju kearah mola hidatidosa. Pembesaran uterus yang tumbuh sering lebih besar dan lebih cepat daripada kehamilan normal.4 Tanda Dan Gejala Tanda dan Gejala yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa” adalah sebagai berikut : a. Perdarahan vaginal Perdarahan vaginal merupakan gejala yang mencolok dan dapat bervariasi mulai spotting sampai perdarahan yang banyak.

ditemukan pada setengah kasus pasien mola. Hiperemesis gravidarum Pasien biasanya mengeluh mual muntah hebat. Pasien dengan konvulsi jarang. Terjadinya tirotoksikosis pada mola hidatidosa berhubungan erat dengan besarnya uterus. Hipertiroid Kadar tiroksin plasma pada wanita dengan kehamilan mola sering meningkat (10%). Walaupun hal ini sulit untuk dibedakan dengan kehamilan biasa. Pre-eklamsia Tanda tanda pre-eklamsia selama trisemester pertama atau awal trisemester kedua muncul pada 10-12%. Makin besar uterus makin besar kemungkinan terjadi tirotoksikosis. Aktifitas janin Meskipun uterus cukup besara untuk mencapai simfisis secara khas tidak ditemukan aktifitas janin sekalipun dideteksi dengan instrumen yang paling sensitif tidak teraba bagian janin dan tidak teraba gerakan janin. Ukuran uterus lebih besar dari usia kehamilan Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan tropoblastik yang berlebihan. baik dari segi kematian . Hal ini akibat dari proliferasi trofoblas yang berlebihan dan akibatnya memproduksi terus menerus B HCG yang menyebabkan peningkatan B HCG hiperemesis gravidarum tampak pada 15 -25 % pasien mola hidatidosa. d. Oleh karena kasus mola dengan uterus besar masih banyak ditemukan. Pada trisemester kedua sekitar 27 % pasien mola hidatidosa komplit berlanjut dengan toksemia yang dicirikan oleh tekanan darah > 140 /90 proteinuria > 300 mg/dl dan edema generalisata dengan hiperrefleksi. c. volume vesikuler vilii yang besar rasa tidak enak pada uterus akibat regangan miometrium yang berlebihan. maka dianjurkan agar pada setiap kasus mola hidatidosa dicari tanda-tanda tirotoksikosis secara aktif dan memerlukan evakuasi segera karena gejalagejala ini akan menghilang dengan menghilangnya mola. namun gejala hipertiroid jarang muncul. b. e. f. Mola yang disertai tirotoksikosis mempunyai prognosis yang lebih buruk. 10% pasien mola dengan mual dan muntah cukup berat sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit. Pada sebagian besar pasien ditemukan tanda ini tetapi pada sepertiga pasien uterus ditemukan lebih kecil dari yang diharapkan. Adapula kasus-kasus yang uterusnya lebih kecil atau sama dengan besarnya kehamilan normal walaupun jaringan belum dikeluarkan.

Tindakan bedah hanya dilakukan bila ada ruptur dan perdarahan atau pembesaran ovarium tadi mengalami infeksi. Sebetulnya pada setiap kehamilan selalu ada migrasi sel trofoblas ke peredaran darah kemudian ke paru tanpa memberi gejala apapun. Kasus mola dengan kista lutein mempunyai resiko 4 kali lebih besar untuk mendapatkan degenerasi keganasan di kemudian hari. kedua ovarium membesar dan involusi dari kista terjadi setelah beberapa minggu. Biasanya penderita meninggal karena krisis tiroid. Pada setengah jumlah kasus. h. Jumlah dan volume akan menentukan gejala dan tanda . Terdapat korelasi antara kadar hCG dan fungsi endogen tiroid tapi hanya kadar hCG yang melebihi 100. Kista ini biasanya tidak dapat dipalpasi dengan manual tetapi diidentifikasi dengan USG pasien dapat memberikan tekanan dan nyeri pada pelvik karena peningkatan ukuran ovarium dapat menyebabkan torsi ovarium.000 iu/L yang bersifat tirotoksis. hiperhidrosis. Embolisasi Sejumlah trofoblas dengan atau tanpa stroma vili keluar dari uterus ke vena pada saat evakuasi. Kista teka lutein Diameter kista ovarium lebih dari 6 cm dan menyertai pembesaran ovarium. tremor. Kista teka lutein multipel yang menyebabkan pembesaran satu atau kedua ovarium terjadi pada 15-30% penderita mola. biasanya seiring dengan penurunan kadar βHCG. Sekitar 7 % mola hidatidosa komplit datang dengan keluhan seperti hipertensi. Peningkatan tiroksin plasma mungkin karena efek dari estrogen seperti yang dijumpai pada kehamilan normal. Umumnya kista ini menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan tetapi ada juga kasus dimana kista lutein baru ditemukan pada saat follow up.maupun kemungkinan terjadinya keganasan. rangsangan elemen lutein yang berlebih oleh hormon korionik gonadotropin dalam jumlah besar yang disekresi oleh trofoblas yang berproliferasi. Serum bebas tiroksin yang meningkat sebagai akibat thyrotropin – like effect dari Chorionic Gonadotropin Hormon. takikardi. gelisah emosi labil dan warm skin g. Tetapi pada kasus mola kadang-kadang sel trofoblas ini sedemikian banyak sehingga dapat menimbulkan emboli paru akut yang dapat menyebabkan kematian. Kista ini terjadi akibat respon BHCG yang sangat meningkat dan secara spontan mengalami penurunan (regresi) setelah mola dievakuasi.

2. 5) 5) Keluar jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan ( tidak selalu ada). . inspeksi  muka dan kadang –kadang badan kelihatan pucat kekuning-kunigan yang disebut sebagai mola face  2. tidak teratur warna merah tua atau kecoklatan. 4) Pembesaran uterus tidak sesuai ( lebih besar ) dari usia kehamilan seharusnya. Anamnesa / keluhan 1) terdapat gejala hamil muda 2) kadang kala ada tanda toxemia gravidarum 3) terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak. 2. gelembung mola yang keluar palpasi  uterus lembek dan membesar tidak sesuai kehamilan  adanya fenomena harmonika kalau darah dan gelembung mola keluar maka tinggi fundus uteri akan turun lalu naik lagi karena terkumpulnya darah baru.hidramnion atau abortus. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan 1.dari emboli paru akut bahkan akibat yang fatal. walaupun kefatalan jarang terjadi. Pemeriksaan Diagnosis : a. Kehamilan dengan mioma.5 Gambaran Diagnostic Diagnosa banding dari kehamilan mola hidatidosa antara lain: kehamilan ganda. 1.

3. Laboratorium Karakteristik yang terpenting pada penyakit ini adalah kemampuan dalam memproduksi hCG. serta evaluasi keadaan serviks. rahim terasa lembek. Untuk pemeriksaan Gallli mainini 1/300 suspek mola hidatiosa dan jika 1/200 kemungkinan mola hidatidosa atau gemelli. terdapat perdarahan dan jaringan dalam kanalis servikalis dan vagina.  auskultasi Tidak terdengar bunyi denyut jantung janin (pada mola hidatidosa parsial mungkin dapat didengar BJJ)  4. Pemeriksaan penunjang a. Pemantauan secara hati-hati dari kadar β-hCG penting untuk diagnosis. Jumlah β-hCG yang ditemukan pada serum atau pada urin berhubungan dengan jumlah sel-sel tumor yang ada. sehingga jumlahnya meningkat lebih tinggi dibandingkan kadar β-hCG seharusnya pada usia kehamilan yang sama. Terdengar bising dan bunyi khas pemeriksaan dalam  Pastikan besarnya rahim. Hormon ini dapat dideteksi pada serum maupun urin penderita dan pemeriksaan yang lebih sering dipakai adalah β-hCG kuantitatif serum. Pengukuran β-hCG pada urin dengan kadar >100. penatalaksanaan dan tindak lanjut pada semua kasus penyakit trofoblastik. Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen yang gerak janin 3. .000 mIU /ml/24 jam dapat dianggap sebagai mola. tidak ada bagian-bagian janin.

bentuk karakteristik berupa gambaran seperti badai salju dengan atau tanpa kantong gestasi atau janin. Pada 20-50% kasus dijumpai adanya massa kistik di daerah adneksa. Foto rontgen abdomen Tidak tampaknya tulang janin pada kehamilan 3-4 bulan c. khas ditimbulkan oleh bahan kontras yang mengelilingi gelombang-gelombang korion. Amniografi Penggunaan bahan radiopak yang dimasukkan ke dalam uterus secara trans abdominal akan memberikan gambaran radiografik khas pada kasus mola hidatidosa kavum uteri ditembus dengan jarum untuk amniosentesis.b. Pada kelainan mola. Massa tersebut berasal dari kista teka lutein. d. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan pada setiap pasien yang pernah mengalami perdarahan pada trimester awal kehamilan dan memiliki uterus lebih besar dari usia kehamilan. USG dapat menjadi pemeriksaan yang spesifik untuk membedakan antara kehamilan normal dengan mola hidatidosa. 20 ml Hypaque disuntikkan segera dan 5-10 menit kemudian dibuat foto anteroposterior. Bahan radiopaq yang dimasukan ke dalam uterus akan memberikan gambaran seperti sarang tawon. . Pola sinar X seperti sarang tawon. USG Gambaran berupa badai salju tanpa disertai kantong gestasi atau janin USG ini merupakan pemeriksaan penunjang yang spesifik antar kehamilan dengan mola hidatiosa. Dengan semakin banyaknya sarana USG yang tersedia teknik pemeriksaan amniografi ini sudah jarang dipakai lagi.

c. juga untuk memperbaiki syok. Perbaikan Keadaan Umum Perbaikan keadaan umum pada pasien molahidatidosa. b. Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis dikonsul ke bagian penyakit dalam. b. 2. Transfusi darah bila ada anemia (Hb 8 gr% atau kurang). yaitu : a. Kuretase Dilakukan jika pemeriksaan DPL kadar β-hCG serta foto thorax selesai . yaitu : a. Uji sonde Hanifa Sonde dimasukan pelan-pelan dan hati-hati ke dalam kanalis servikalis dan cavum uteri . pada prinsipnya harus segera dikeluarkan . Pengeluaran jaringan mola 1.Terapi molahidatidosa terdiri dari tiga tahap. bila tidak ada tahanan sonde diputar setelah ditarik sedikit bila tetap tidak ada tahanan maka kemungkinan adalah mola. d.e.6 Penatalaksanaan 1. Koreksi dehidrasi. Bila ada gejala preeklamsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai protocol penanganannya. Foto thorax Untuk melihat metastase. f. Penanganan Mola Hidatidosa Karena molahidatidosa adalah suatu kehamilan patologi dan tidak jarang disertai penyulit yang membahayakan jiwa.

Tujuh sampai 10 hari sesudah kerokan itu dilakukan kerokan ulangan dengan kuret tajam. 2. makin perlu untuk waspada terhadap kemungkinan keganasan.bila kanalis servikalis belum terbuka maka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian. Sebelum kuretase dengan kuret tumpul terlebih dahulu siapkan darah 500 cc dan pasang infus dengan tetesan oxitocyn 10 mIU dalam 500 cc Dextrose 5 % dan seluruh jaringan hasil kerokan di PA. karena akan menjadi normal lagi setelah kadar β-HCG menurun. Terapi profilaksis dengan sitostatika . Histerektomi Untuk mengurangi frekuensi terjadinya penyakit tropoblas ganas sebaiknya histerektomi dilakukan pada – wanita diatas 35 tahun – anak hidup di atas 3 orang – wanita yang tidak menginginkan anak lagi Apabila ada kista teka lutein maka saat histerektomi. ovarium harus dalam keadaan baik. c. Histerotomi Tidak lagi menjadi metode pilihan. agar ada kepastian bahwa uterus betul-betul kosong dan untuk memeriksa tingkat proliferasi sisa-sisa trofoblas yang dapat ditemukan. Makin tinggi tingkat itu. 3.

riwayat kehamilan mola sebelumnya histerektomi.Biasanya diberikan methotrexat atau actinomycin D.000 IU/L praevakuasi dianggap sebagai resiko tinggi untuk perubahan ke arah ganas. dengan alasan jumlah kasus mola menjadi ganas tidak banyak dan sitostatika merupakan obat yang berbahaya. Kadar β-hCG di atas 100. Dapat juga diberikan actinomycin D 12 µg/kgBB/hari selama 5 hari. Goldstein berpendapat bahwa pemberian sitostatika profilaksis dapat menghindarkan keganasan dengan metastase. . Untuk tidak mengacaukan pemeriksaan selama periode ini pasien dianjurkan untuk tidak hamil dulu. pertimbangkan untuk memberikan methotrexate (MTX) 3×5 mg sehari selama 5 hari dengan interval 2 minggu sebanyak 3 kali pemberian. mengingat kemungkinan terjadi keganasan setelah mola hidatidosa (± 20%). serta mengurangi koriokarsinoma di uterus sebanyak 3 kali.Diberikan pada kasus mola dengan resiko tinggi akan terjadi keganasan. misalnya pada umur tua (35 tahun). d. Follow up Lama pengawasan berkisar antara satu atau dua tahun. dengan pemakaian alat kontrasepsi. dan paritas atau tinggi kasus yang dengan menolak hasil untuk dilakukan histopatologi yang mencurigakan. Tidak semua ahli setuju dengan cara ini.

Cara yang umum dipakai sekarang ini adalah dengan radioimmunoassay terhadap β-HCG sub unit. apabila ditemukan adanya metastase penderita harus dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi. . follow up dapat dihentikan dan ibu diperbolehkan hamil setelah 1 tahun. Pemeriksaan kadar β-HCG dilakukan setiap minggu atau setiap 2 minggu sampai kadar menjadi negatif lalu diperiksa ulang sebulan sekali selama 6 bulan. Apabila Pemeriksaan fisik. kadar β-hCG dan radiologi. Sekurang-kurangnya pemeriksaan diulang setiap 4 minggu. Bila selama masa observasi kadar β-HCG menetap atau bahkan cenderung meningkat atau pada pemeriksaan klinis. hal ini berarti masih ada sel-sel trofoblas yang aktif. kemudian 2 bulan selama 6 bulan. Seharusnya kadar β-HCG harus kembali normal dalam 14 minggu setelah evakuasi. secara berkala dilakukan pemeriksaan ginekologik. uretra dan cervix. vagina. foto toraks dan kadar β-HCG dalam batas normal. Jika masih meninggi. Cara yang paling peka saat ini adalah dengan pemeriksaan β-hCG yang menetap untuk beberapa lama. Pemeriksaan ginekologi dimulai satu minggu setelah pengeluaran jaringan mola. Pemeriksaan foto toraks dilakukan tiap 4 minggu. keadaan adneksa serta cari kemungkinan metastase ke vulva.Selama pengawasan. Pada pemeriksaan ini dinilai ukuran uterus.

kuretase harus dihentikan. Laparoskopi atau laparotomi harus dilakukan untuk mengetahui tempat terjadinya perforasi.Pemakaian IUD merupakan kontraindikasi. Pil KB kombinasi tidak hanya memperlambat penurunan titer β-HCG namun juga dapat menstimulasi neoplasia trofoblas dan pil KB kombinasi ini dapat digunakan bila β-HCG negatif. Anjuran sterilisasi biasa dilakukan pada penderita usia tua ataupun penderita yang telah memiliki cukup anak. Komplikasi non maligna  Perforasi uterus Selama kehamilan kadang-kadang terjadi dan jika terjadi perforasi uterus .  DIC Faktor yang dilepaskan jaringan mola mempunyai aktivitas fibinolitik. 2.7 Komplikasi 1.  Embolisme tropoblastik . Oleh karena itu oksitosin intravena dilakukan sebelum memulai tindakan kuretase sehingga mengurangi kejadian perdarahan ini. Semua pasien di-skreening untuk melihat adanya koagulopati.  Perdarahan Merupakan komplikasi yang terjadi sebelum selama dan bahkan setelah tindakan kuretase.

Keadaan ini bisa fatal.  Infeksi pada sevikal atau vaginal. Tidak terdapat kasus koriokarsinoma yang dilaporkan selah terjadi mola incomplete meskipun ada juga yang menjadi penyakit tropoblastik non metastase yang menetap yang membutuhkan kemoterapi. Prognosis Karena diagnosis yang dini dan pengobatan yang tepat mortalitas akibat mola hidatidosa pada dasarnya tidak terjadi. Sekitar 20 % mola komplet berkembang menjadi keganasan trofoblas. Ruptur uteri spontan bisa terjadi pada mola benigna dan mola maligna. Komplikasi maligna Mola invasif atau koriokarsinoma berkembang pada 20 % kasus mola dan identifikasi pasien penting untuk tindakan selanjutnya setelah mola komplit invasi uteri terjadi pada 15 % pasien dan metastase 4 pasien.  K. Perforasi pada dinding uterus yang tipis selama evakuasi mola dapat menyebabkan penyebaran infeksi. 2. Faktor resiko terbesar terjadi pada uterus yang lebih besar dari yang diharapkan pada usia gestasi 16 minggu.Dapat menyebabkan insufisiensi pernapasan akut. Anjuran untuk memberikan kemoterapi pada pasien pasca mola hidatidosa untuk 20 % belum dapat diterima semua pihak untuk mencegah BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan .

Keadaan sosioekonomi yang rendah. vitamin. Pada tenaga kesehatan khususnya bidan lebih mengetahui tentang komplikasi pada ibu hamil serta dapat memberi asuhan yang optimal kepada klien . resiko tinggi kehamilan dibawah 20 atau diatas 40 tahun. lemak hewani. Penyebab dari mola belum sepenuhnya diketahui dengan pasti tetapi ada beberapa dugaan yang bisa menyebabkan terjadinya mola diantaranya faktor ovum memang sudah patologik. karoten. Penanganan Mola Hidatidosa Karena molahidatidosa adalah suatu kehamilan patologi dan tidak jarang disertai penyulit yang membahayakan jiwa. yaitu : Perbaikan Keadaan Umum. 2. asam folat. dan Pengeluaran jaringan mola dengan cara kuretase dan histerektomi 3.Terapi molahidatidosa terdiri dari dua. Segera periksakan apabila terjadi kelainan pada saat kehamilan 3.2 Saran 1. Suku bangsa ( ras ) dan faktor geografi yang belum jelas. Untuk ibu hamil agar melakukan pemeriksaan ANC secara berkala untuk mendeteksi dini terjadinya molahidatidosa. Umur.Mola Hidatidosa (Hamil Anggur) adalah suatu massa atau pertumbuhan di dalam rahim yang terjadi pada awal kehamilan. tetapi terlambat untuk dikeluarkan. Malnutrisi. defisiensi protein. Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana seluruh villi korialisnya mengalami perubahan hidrofobik. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas. pada prinsipnya harus segera dikeluarkan . Paritas tinggi. Imunoselektif dari trofoblas.